You are on page 1of 13

FARMAKOLOGI

“ANASTESI”

KELOMPOK 2 :
1. Gita Hardianti
2. Ike Lestari Gultom
3. Monica
4. Nofita Setiorini Futri Purwanto
5. Nola Hermi
6. Trini Cipto Wati
7. Vita Mutiara Pratiwi
8. Widya Valentin
9. Yenny Imelva

Tingkat : IV
Prodi : D IV Kebidanan

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BENGKULU
JURUSAN KEBIDANAN
T.A 2016/2017

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “farmakologi”
yang berjudul “ anastesi “.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.
Kami semua berharap semoga makalah ini bisa diterima dengan baik dan dapat
bermanfaat bagi kita semua, baik pada masa sekarang hingga masa yang akan datang. Amin.

Bengkulu , Agustus 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................i

DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................1
C. Tujuan....................................................................................................................2

BAB II ISI

A. Pengertian Anastesi ...............................................................................................3


B. Obat – Obat Anastesi Yang Lazim Digunakan Dalam Pelayanan Kebidanan.......3
C. Cara Mengatasi Efek Samping..............................................................................4
D. Khasiat Masing – Masing Obat Yang Lazim Digunakan

Dalam Pelayanan Kebidanan.................................................................................8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan..........................................................................................................10
B. Saran....................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekarang ini usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan


rasa sakit dengan penggunaan obat dalam prosedur pembedahan telah dilakukan sejak zaman
kuno, termasuk dengan pemberian ethanol dan opium secara oral. Pembuktian ilmiah pertama
dari penggunaan obat anestesi untuk pembedahan dilakukan oleh William Morton di Boston
pada tahun 1846 dengan menggunakan diethyl eter. Sedangkan istilah anestesi dikemukakan
pertama kali oleh O.W. Holmes yang artinya tidak ada rasa sakit. Anestesi yang dilakukan
dahulu oleh orang Mesir menggunakan narkotik, orang Cina menggunakan cannabis Indica
dan pemukulan kepala dengan tongkat kayu untuk menghilangkan kesadaran. Sehingga
dengan perkembangan teknologi obat anestesi berkembang pesat saat ini. Obat anestesi
adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit dalam bermacam-macam
tindakan operasi (Kartika Sari, 2013).

Obat Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi umum dan anestesi lokal
Anestesi umum adalah hilang rasa sakit disertai hilangnya kesadaran. Anestesi umum ini
digunakan pada pembedahan dengan maksud mencapai keadaan pingsan, merintangi
rangsangan nyeri (analgesia), memblokir reaksi refleks terhadap manipulasi pembedahan
serta menimbulkan pelemasan otot (relaksasi). Anestesi umum yang kini tersedia tidak dapat
memenuhi tujuan ini secara keseluruhan, maka pada anestesi untuk pembedahan umumnya
digunakan kombinasi hipnotika, analgetika, dan relaksansia otot. Sedangkan anestesi lokal
adalah obat yang digunakan untuk mencegah rasa nyeri dengan memblok konduksi sepanjang
serabut saraf secara reversibel. Anestesi lokal umumnya digunakan dalam prosedur minor
pada tempat bedah sehari. Untuk menghilangkan rasa nyeri pasca-operasi maka dokter dapat
memberi anestesi lokal pada area pembedahan (Neal, 2006).

B. Rumusan Masalah
1. Sebutkan obat – obat yang lazim digunakan dalam pelayanan kebidanan?
2. Bagaimana cara mengatasi efek samping?

3. Jelaskan khasiat masing – masing obat yang lazim digunakan dalam pelayanan
kebidanan?

C. Tujuan
1. Sebutkan obat – obat yang lazim digunakan dalam pelayanan kebidanan?
2. Bagaimana cara mengatasi efek samping?
3. Jelaskan khasiat masing – masing obat yang lazim digunakan dalam pelayanan
kebidanan?
2

BAB II

PEMBAHASAN

E. PENGERTIAN ANASTESI

Anestesi lokal adalah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong
natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf,
jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestetik lokal setelah keluar dari saraf
diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh
kerusakan struktur saraf.
Obat bius lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya
terutama di selaput lendir. Disamping itu, anestesia lokal mengganggu fungsi semua
organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Artinya, anestesi lokal
mempunyai efek yang penting terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang
neuromuskular dan semua jaringan otot.

F. OBAT – OBAT ANASTESI YANG LAZIM DIGUNAKAN DALAM


PELAYANAN KEBIDANAN
1. Lidokain (Lignokain, Xylokain, Lidones)
Lidokain (xilokain) adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan
pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, dan lebih
ekstensif daripada yang ditunjukkan oleh prokain pada konsentrasi yang sebanding.
Lidokain merupakan aminoetilamid dan merupakan prototik dari anestetik lokal golongan
amida.

Larutan Lidokain 0,5% digunakan untuk anestesi infiltrasi, sedangkan larutan 1-2%
untuk anestesia blok dan topikal. Anestetik ini lebih efektif bila digunakan tanpa
vasokonstriktor, tetapi kecepatan absorbsi dan toksisitasnya bertambah dan masa
kerjanya lebih pendek. Lidokain merupakan obat terpilih bagi mereka yang hipersensitif
terhadap anestetik lokal golongan ester. Sediaan berupa larutan 0,5-5% dengan atau
tanpa epinefrin (1:50000 sampai 1:200000).

Konsentrasi efektif minimal 0,25%. Infiltrasi, mula kerja 10 menit, relaksasi otot
cukup baik. Kerja sekitar 1-1,5 jam tergantung konsentrasi larutan,
1-1,5% untuk blok perifer
0,25-0,5% + adrenalin 200.000 untuk infiltrasi
0,5% untuk blok sensorik tanpa blok motorik
1,0% untuk blok motorik dan sensorik
2,0% untuk blok motorik pasien berotot (muskular)
4,0% atau 10% untuk topikal semprot di faring-laring (pump spray)
5,0% bentuk jeli untuk dioleskan di pipa trakea
5,0% lidokain dicampur
5,0% prilokain untuk topikal kulit
5,0% hiperbarik untuk analgesia intratekal (subaraknoid, subdural,)

2. Prokain
Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal, epidural, merupakan
obat standart untuk perbandingan potensi dan toksisitas terhadap jenis obat-obat anestetik
local lain.
Sediaan suntik prokain terdapat dalam kadar 1-2% dengan atau tanpa epinefrin untuk
anesthesia infiltrasi dan blockade saraf dan 5-20% untuk anestesi spinal.sedangkan
larutan 0,1-0,2 % dalam garam faali disediakan untuk infuse IV. Untuk anestesi kaudal
yang terus menerus, dosis awal ialah 30 mlnlarutan prokain 1,5%.
Pemberian prokain dengan anestesi infiltrasi maximum dosis 400 mg dengan durasi
30-50, dosis 800 mg, durasi 30-45,Pemberian dengan anestesi epidural dosis 300-900,
durasi 30-90, onset 5-15 mnt,Pemberian dengan anestesi spinal : preparatic 10%, durasi
30-45 menit.
Dosisi :
 Dosis 15 mg/kgbb. Untuk infiltrasi : larutan 0,25-0,5 dosis maksimum 1000 mg. onset
: 2-5 menit, durasi 30-60 menit. Bisa ditambah adrenalin (1 : 100.000).
 Dosis untuk blok epidural (maksimum) 25 ml larutan 1,5%.
 Untuk kaudal : 25 ml larutan 1,5%.
 Spinal analgesia 50-200 mg tergantung efek yang di kehendaki, lamanya 1 jam.

4
3. Ketamin Hidroklorida
Ketamin hidroklorida adalah golongan fenil sikloheksamin, merupakan “rapid acting
nonn barbiturate general anastetic” yang popular disebut sebagai Ketalar sebagai nama
dagang pertama kali diperkenalkan oleh Domino dan Crsen, tahun 1965, yang digunakan
sebagai obat anastesi umum.

4. Bupivakain

Bupivakain berikatan dengan bagian intracellular dari kanal sodium dan menutup
sodium influk kedalam sel saraf. Merupakan anestetik lokal yang mempunyai masa kerja
yang panjang, dengan efek blockade terhadap sensorik lebih besar daripada motorik.
Karena efek ini bupivakain lebih popular digunakan untuk memperpanjang analgesia
selama persalinan dan masa pasca pembedahan.

G. CARA MENGATASI EFEK SAMPING


a. Lidokain (lignokain, xylokain, lidones)
Efek samping :
- lidokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP, misalnya
mengantuk, pusing, parastesia, kedutan otot, gangguan mental, koma, dan
bangkitan. Lidokain dosis berlebihan dapat menyebabkan kematian akibat
fibrilasi ventrikel, atau oleh henti jantung. Lidokain sering digunakan secara
suntikan untuk anestesia infiltrasi, blokade saraf, anestesia spinal, anestesia
epidural ataupun anestesia kaudal, dan secara setempat untuk anestesia
selaput lendir.
Cara mengatasi :
- Begitu gejala keracunan teridentifikasi, segera hentikan penggunaan lidocaine
baik topikal atau parenteral.
- Pastikan pasien mendapatkan pasokan oksigen yang memadai melalui masker
muka atau tabung yang dimasukkan ke dalam tubuh (intubasi).

- Sistem kardiovaskular pasien harus dipantau dengan cermat. Epinefrin bisa


diberikan kepada pasien. Pemberian cairan infus dan obat-obatan vasopresor
ditujukan untuk membuat penyempitan pembuluh darah yang digunakan
untuk mendukung kesehatan pasien.

- Kejang yang mungkin terjadi dikendalikan dengan penggunaan


benzodiazepine, yang merupakan obat pilihan untuk kondisi ini.
Succinylcholine, bersama dengan intubasi, digunakan dalam beberapa kasus
untuk mengontrol efek kejang.

- Dokter mungkin memberikan natrium bikarbonat kepada pasien untuk


menangani asidosis metabolik berat. Asidosis diketahui merupakan efek
racun lidocaine yang bisa mempengaruhi sistem kardiovaskular.
- Ketika overdosis lidocaine terjadi pada taraf yang parah, komplikasi seperti
serangan jantung bisa saja terjadi. Kondisi ini akan memerlukan
cardiopulmonary bypass.

b. Prokain
Efek samping :
- Efek samping yang serius adalah hipersensitasi,yang kadang-kadang pada

dosis rendah sudah dapat mengakibatkan kolaps dan kematian. Efek samping

yang harus dipertimbangkan pula adalah reaksi alergi terhadap kombinasi

prokain penisilin. Berlainan dengan kokain, zat ini tidak mengakibatkan

adikasi

Cara mengatasi :

 Jangan diberikan injeksi berdekatan dengan tempat injeksi atau adanya


kecenderungan perdarahan abnormal, Anemia berat, Penyakit jantung
 Anestesi lokal dan epidural jangan dilakukan pada pasien dehidrasi dan
hipovolemia
 Kadar bupivakain yang tinggi dalam darah harus dihindari pada pasien
dengan gangguan hepar

c. Ketamin Hidroklorida
Efek samping :
- Umum : halusinasi, mimpi buruk, kebingungan, agitasi, perilaku abnormal,

nistagmus, hipertonia, tonik-klonik (kejang), diplopia, peningkatan tekanan


darah dan denyut nadi, peningkatan laju pernapasan, mual, muntah,
eritema,ruam seperti campak.
- Tidak Umum : anoreksia, ansietas, bradikardi, aritmia, hipotensi, depresi
pernapasan, laringospasme, nyeri pada tempat penyuntikan, ruam pada
tempat penyuntikan.
- Jarang : reaksi anafilaksis, delirium, disforia, insomnia, flashback (bayangan
kejadian traumatis), disorientasi, obstruksi saluran napas, apnea, hipersekresi
saliva, sistitis, sistitis haemoragik.

Cara mengatasi
 Jangan diberikan injeksi berdekatan dengan tempat injeksi atau adanya
kecenderungan perdarahan abnormal, Anemia berat, Penyakit jantung
 Anestesi lokal dan epidural jangan dilakukan pada pasien dehidrasi dan
hipovolemia
 Kadar bupivakain yang tinggi dalam darah harus dihindari pada pasien
dengan gangguan hepar
d. Bupivakain
Efek samping :

- Efek sampingnya adalah akibat dari efek depresi terhadap SSP dan efek kardio-
depresifnya (menekan fungsi jantung) dengan gejala penghambatan pernapasan
dan sirkulasi darah. Anestetika local dapat pula mengakibatkan reaksi
hipersensitasi yang seringkali berupa exantema, urticaria dan bronchospasme
alergis sampai adakalanya shock anafilaktis yang dapat mematikan.

Yang terkenal dal;am hal ini adalah zat-zat kelompok ester prokain dan tetrakain,
yang karena itu tidak digunakan lagi dalam sediaan local.

Reaksi hipersensitasi tersebut diakibatkan oleh PABA (para amino benzoic acid),
yang terbentuk melalui hidrolisa. PABA ini dapat meniadakan efek antibakteriil
dari sulfonamide. Oleh karena itu, terapi dengan sulfa tidak boleh dikombinasi
dengan penggunaan ester-ester tersebut.

- Efek SSP : depresi, stimulasi, tergantung jalur saraf yang dipengaruhi anestesi
local
- Overdosis anestesi local dapat menyebabkan:

Penurunan transmisi impuls pada neuromuscular junction dan sinaps ganglion

Mengakibatkan kelemahan dan paralysis otot

Cara mengatasi:
 Jangan diberikan injeksi berdekatan dengan tempat injeksi atau adanya
kecenderungan perdarahan abnormal, Anemia berat, Penyakit jantung
 Anestesi lokal dan epidural jangan dilakukan pada pasien dehidrasi dan
hipovolemia
 Kadar bupivakain yang tinggi dalam darah harus dihindari pada pasien
dengan gangguan hepar

H. KHASIAT MASING – MASING OBAT YANG LAZIM DIGUNAKAN DALAM


PELAYANAN KEBIDANAN
a. Lidokain
- Anestesi perineum untuk pengobatan dan / atau melakukan episiotomi;
- Anestesi dari bidang bedah dalam operasi vagina atau operasi serviks;
- Anestesi untuk eksisi dan pengobatan pecahnya selaput dara;
- Anestesi untuk abses menjahit.

b. Prokain
- Mengakibatkan hilangnya rasa sakit di kulit, sekitar jaringan yang akan di anastesi
dan jaringan yang terletak lebih dalam.

c. Ketamin Hidroklorida
- Sebagai Obat bius lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf.

d. Bupivakain
- Anastesi yang berfungsi sebagai blokade yang bersifat revalsibel pada perambatan
impuls sepanjang serabut saraf, dengan cra mencegah pergerakan ion-ion natrium
melalui membran sel, kedalam sel.
9

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Lidokain (xilokain) adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan
pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, dan lebih ekstensif
daripada yang ditunjukkan oleh prokain pada konsentrasi yang sebanding. Lidokain
merupakan aminoetilamid dan merupakan prototik dari anestetik lokal golongan amida.

B. SARAN

Karena pembelajaran hanya dengan penjelasan kurang efektif terhadap proses belajar
mengajar maka bisa menjadi pendamping untuk teori sehingga teori dapat diterapkan secara
langsung. Pengalaman langsung tersebut dapat melatih keahlian mahasiswa menjadi lebih
baik.
10

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan S , dkk. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5 . Jakarta : Gaya Gon

Hoan TJ, Tan dan Irana Raharja. 2007. Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan
Efek-Efek Sampingnya. Edisi 6. Jakarta : Gramedia

Jordan, Sue. 2002 . Farmakologi Kebidanan. Jakarta: EGC

Purwanto H, dkk. 2008. Data obat di Indonesia. Edisi 11 . Jakarta : PT. Mulya Purna
Jaya Terbit