You are on page 1of 10

PENGAMATAN RESPIRASI BAKTERI

LAPORAN PRAKTIKUM

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH


MIKROBIOLOGI
Yang dibimbing oleh Dr. Endang Suarsini M.Ked

Disusun oleh :
Kelompok 4 / Offering A
1. AdekLarasati S (160341606007)
2. Agrintya Indah M (160341606041)
3. MamikRizkiatul L (160341606051)
4. NovelaMemiasih (160341606093)
5. Racy Rizki A (160341606056)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
FEBRUARI 2018
A. TUJUAN
1. Agar mahasiswa dapat mengamati sifat respirasi bakteri.
2. Agar mahasiswa dapat mengidentifikasi bakteri berdasarkan sifat respirasinya.

B. DASAR TEORI
Semua sel aktif senantiasa melakukan respirasi, menyerap O2 dan melepaskan CO2
dalam volume yang sama. Keseluruhanproses yang terjadi pada proses respirasi merupakan
reaksi oksidasi reduksi yaitu senyawa dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap
direduksi membentuk H2O. Pati, fruktan, sukrosa, lemak, asam organik, bahkan pada
keadaan tertentu protein dapat digunakan sebagai subtrat respirasi. Setiap organisme di alam
selalu melakukan aktivitas metabolisme dasar untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Begitu
pula dengan mikroba. Hal tersebut merupakan proses yang spontan yang dapat
mempertahankan tingkatan organisasi tertentu karena selalu mendapatkan suplai energi dari
lingkungan. Setiap jasad hidup memiliki sifat-sifat yang dapat digolongkan ke dalam dua
kelompok kegiatan, yaitu metabolisme dan pelestarian diri. Di dalam arti luas
metabolismediartikan dengan fungsi-fungsi nutrisi, sintesis, dan respirasi. Respirasi
didefenisikan sebagai penggunaan serangkaian transfor elektron untuk mentrasnfer elektron
menuju aseptor elektron terakhir. Energi diperoleh melalui fosporilasi oksidatif tetapi dalam
prosesnya bisa menggunakan oksigen sebagai aseptor elektron terakhir (respirasi aerob) atau
senyawa anorganik lain atau disebut dengan respirasi anaerob (Hidayah & Maya, 2012).
Respirasi juga diartikan sebagai proses yang hanya berlangsung didalam organisme
hidup. dalam proses itu, terjadi pembongkaran-pembongkaran zat makanan sehingga
menghasilkan energi yang diperlukan organisme tersebut. Jika oksigen yang dibutuhkan
dalam proses ini berasal dari udara bebas, maka peristiwa itu disebut dengan pernafasan
aerob. Ada banyak spesies bakteri yang mampu mengadakan pernafasan tanpa adanya
oksigen bebas, pernafasan yang demikian disebut dengan pernafasan anaerob (Priani, 2009)
Dalam pernafasan aerob, bakteri dapat menggunakan glukosa atau zat organik yang
lainsebagai substrat untuk dioksidasikan menjadi CO2 dan air, sedangkan bakteri sendiri
mendapatkan energi. Menurut penelitian, energi yang dilepaskan sebagai hasil pembakaran 1
grammol glukosa adalah 675 kcal. Jika pengoksidasian substrat itu tidak sempurna, maka
energi yang timbul tidak akan sebanyak jumlah tersebut. Salah satu contoh bakteri yang
melakukan respirasi aerob adalah Acetobacter.Respirasi yang satu ini diartikan sebagai
sebuah reaksi katabolisme yang memerlukan suasana aerobik dengan demikian dalam
prosesnya keberadaan oksigen sangat dibutuhkan (Wahyuni dkk, 2014).
Seperti telah disebutkan diatas bahwa ada bakteri yang dapat hidup dan melakukan
respirasi tanpa menggunakan oksigen bebas, bahkan ada beberapa jenis bakteri yang mati jika
mendapatkan oksigen bebas, ada pula bakteri yang tidak menggunakan oksigen bebas
meskipun oksigen tersedia baginya. Respirasi anaerob juga diartikan sebagai reaksi
pemecahan karbohidrat untuk mendapatkan energi tanpa menggunakan oksigen. Respirasi
anaerob menggunakan senyawa tertentu misalnya asam fosfoenol piruvat atau asetal dehida,
sehingga pengikat hidrogen dan membentuk asam laktat atau alkohol.Pada respirasi anaerob
merupakan serangkaian reaksi enzimatis yang memecah glukosa secara tidak sempurna
karena kekurangan oksigen.Contohnya adalah Streptococcus lactis, bakteri ini tidak dapat
memanfaatkan oksigen bebas. Pernafasan anaerob dapat terjadi secara antarmolekul atau
secara intramolekul. Pernafasan antarmolekul hampir serupa dengan pernafasan aerob,
bedanya adalah pada pernafasan antarmolekul oksigen yang diperlukan untuk
mengoksidasikan substrat tidak diperoleh dari udara bebas, melainkan dari suatu senyawa,
sedang yang dioksidasikan bukanlah oksigen tetapi senyawa lain pula. Penerimaan hidrogen
dapat berupa zat-zat seperti nitrat, nitrit, karbonat atau sulfat. Energi yang dihasilkan pada
proses ini tidak banyak (Hermanus dkk, 2012).
Didalam pernafasan intramolekul ini terjadi perubahan molekul tanpa adanya oksidasi
sama sekali, bagian dari suatu molekul kehilangan atom-atomnya, sedangkan bagian yang
lain dari molekul tersebut mendapatkan tambahan-tambahan atom H. Sebagai contohnya
adalah Saccaromyches yang menggunakan glukosa sebagai substratnya. Pernafasan
intramolekul biasa disebut dengan nama fermentasi. Contoh lain mengenai ini adalah laktasi
yang dilakukan oleh Lactobacillus. Bakteri ini mengubah glukosa menjadi asam susu dan
energi (Hermanus dkk, 2012).
Sebenarnya banyak spesies bakteri yang dapat hidup secara aerob atau secara anaerob,
namun hidup secara aerob lebih menguntungkan karena respirasi menggunakan oksigen
bebas menghasilkan energi yang jauh lebih banyak. Antara aerob dan anaerob terdapat
tingkatan-tingkatan antara lain repirasi yang semata-mata aerob, anaerob fakultatif,
mikroaerofil, dan anaerob. Jika diinokulasikan pada medium cair, bakteri anerob akan
tumbuh mengelompok pada dasar medium menjauhi oksigen yang tersedia banyak
dipermukaan, bakteri yang anaerob fakultatif akan tumbuh tersebar di seluruh medium cair,
bakteri mikroaerofil akan tumbuh mengelompok sedikit dibawah permukaan medium,
sedangkan bakteri aerop akan tumbuh dipermukaan medium cair karena membutuhkan
oksigen yang tersedia banyak dipermukaan (Dwidjoseputra, 2000).
C. ALAT DAN BAHAN
1. 2 biakan murni bakteri dalam media miring yang brumur 1x24 jam
2. Media nutrient cair

D. LANGKAH KERJA

Disiapkan dua media cair dalam tabung kultur yang sudah steril

Diambil biakan murni bakteri yang sudah dibuat

Diinokulasikan sebanyak 1 ose masing-masing biakan ke dalam media cair secara


aseptik

Diratakan suspensi inokulum tadi dengan cara diputar-putar tabung kultur diantara dua
telapak tangan, atau denngan vortex

Diinkubasikan biakan bakteri tersebut pada suhu 370C selama 2x24 jam

Akumulasi pertembuhuan bakteri tersebut diamati, kemudian ditentukan kelompok


bakterinya

E. DATA HASIL PENGAMATAN


No Letak Distribusi Sel Tipe Respirasi
Gambar
Koloni Bakteri Bakteri

1 Di permukaan Aerob
2 Di permukaan Aerob

F. ANALISIS DATA
Pada praktikum pengamatan respirasi bakteri ini menggunakan 2 tabung biakan bakteri
yang telah dibuat sebelumnya dan akan diamati proses respirasi serta diidentifikasi jenis
bakteri berdasarkan sifat respirasinya. Bakteri yang akan diamati proses respirasinya diambil
dari biakan bakteri pada media padat kemudian sebanyak 1 ose inokulum bakteri diletakkan
di dalam media cair yang telah dibuat secara aseptis. Selanjutnya meratakan suspensi
inokulum dengan cara memutar-mutar kultur diantara kedua telapak tangan. Setelah itu
dilakukan inkubasi terhadap biakan bakteri tersebut pada suhu 37OC selama 2x24 jam. Fungsi
proses inkubasi ini adalah untuk menyediakan suhu yang cocok untuk mendukung
pertumbuhan bakteri pada media cair. Hasilnya menunjukkan bahwa, dari dua sediaan yang
telah dibuat pada media cair diperoleh bakteri dengan sifat respirasi aerob, hal ini karena
terjadi akumulasi pertumbuhan bakteri yang banyak pada bagian permukaan air. Hal ini
menunjukkan bahwa kelompok bakteri tersebut berespirasi dengan membutuhkan atau
menggunakan oksigen sehingga masuk ke dalam kelompok bakteri aerob.

G. PEMBAHASAN
Bakteri adalah mikroorganisme bersel tunggal dengan komponen selular prokariot.
Ukuran bakteri sangat kecil,bentuk tubuh bakteri baru dapat dilihat dengan menggunakan
mikroskop dengan pembesaran 1.000X atau lebih (Waluyo, 2004). Bakteri dapat merubah zat
kimia dan energi radiasi kebentuk yang bergunauntuk kehidupannya melalui proses respirasi.
Menurut Darmawan (2010) dalam pemanfatan oksigen untuk respirasinya, bakteri dibagi
menjadi empat kelompok yaitu aerob, anaerob obligat, fakultatif aerob atau fakultatif anaerob
dan mikroaerofil.
Berdasarkan pada hasil praktikum, koloni A dan B memiliki sifat respirasi yang sama
yaitu respirasi aerob karena bakteri berada dipermukaan medium cair. Menurut Utami (2004),
bakteri aerob akan beradadipermukaan atas karena ia akan mengambil oksigen bebas dari
udara. Dalam media cair pertumbuhan bakteri tersebut dapat diamati lebih jelas
denganmengamati akumulasi dari sel-sel bakteri yang tumbuh. Menurut Dwidjoseputro
(2005) oksigen dari udara bebas sangat penting untuk pernapasan bakteri aerob, karena
proses pernapasan bertujuan untuk membongkar zat makanan untuk menjadi energi.
Bakteri aerob merupakan bakteri yang membutuhkan O2 untuk pertumbuhannya. Sistem
enzimnya membutuhkan O2 sebagai elektron aseptor pada proses fosforilasi oksidatifnya.
Contoh bakteri areob adalah Bacillus sp., Escherichia coli, dan Streptococcus (Fajar dkk,
2012).
Suatu bakteri dapat bersifat aerobik atau anaerobik karena setiap bakteri mempunyai
suatu enzim yang tergolong flavoprotein yang dapat bereaksi dengan oksigen membentuk
senyawa beracun yaitu H2O2 dan suatu radikal bebas yaitu O2-*, seperti ditunjukkan dalam
persamaan reaksi 1 (Unung dan Bintang, 2011).

Bakteri yang bersifat aerobik dan bersifat anaerobik tetapi tidak sensitif terhadap oksigen
(aerotoleran) mempunyai enzim superoksida dismutase yang memecah radikal bebas tersebut,
dan enzim katalase yang memecah H2O2 sehingga menghasilkan senyawa-senyawa akhir
yang tidak beracun. Persamaan reaksi tersebut ditunjukkan dalam persamaan (2) dan (3)
(Unung dan Bintang, 2011).

Selain bakteri bersifat aerob, terdapat tiga sifat yang lain yaitu anaerob obligat, fakultatif
aerob atau fakultatif anaerob dan mikroaerofil. Anaerob obligat merupakan kelompok bakteri
yang tidak membutuhkan O2 bebas, bahkan apabila kontak dengan oksigen akan mematikan
organisme tersebut. Desulfomaculum ruminis merupakan bakteri obligate anaerob (Puti dkk,
2012). Bakteri yang bersifat anaerobik tidak mempunyai enzim superoksida dismutase
maupun katalase, oleh karena itu oksigen merupakan racun bagi bakteri tersebut, karena
senyawa yang terbentuk dari reaksi flavoprotein dengan oksigen, yaitu H2O2 dan O2-* tidak
dapat dipecah oleh bakteri (Unung dan Bintang, 2011).

Fakultatif aerob atau fakultatif anaerob, dapat menggunkan O2 sebagai akseptor


elektron, atau sebagai penggantinya, diambil oksigen dari garamgaram seperti NaNO2
(Darmawan, 2010). Bakteri anaerob fakultatif adalah bakteri yang dapat hidup dengan
kondisi lingkungan terdapat oksigen maupun tidak.Bacterionema matruchotii, Bacillus
polimyxa, Enterobacter cloacea bersifat anaerob fakultatif (Puti dkk, 2012). Staphylococcus
epidermidis bersifat anaerob fakultatif (Ameliya dkk, 2016).Capnocytophaga sp. merupakan
bakteri anaerob fakultatif dan ekologis utama berada di daerah subgingiva gigi. Spesies
bakteri Streptococcus termasuk bakteri anaerob fakultatif (Sukma dkk, 2014). Genus
Lactobacillus sp. secara umum merupakan bakteri yang bersifat fakultatif anaerob. Bakteri
yang bersifat anaerobik fakultatif juga mempunyai enzim superoksida dismutase, tetapi tidak
mempunyai enzim katalase, melainkan mempunyai enzim peroksida yang mengkatalis reaksi
antara H2O2 dengansenyawa organik, sehingga menghasilkan senyawa yang tidak beracun.
Reaksinya adalah sebagai berikut (Unung dan Bintang, 2011).

Mikroaerofil, bakteri kelompok ini akan terhambat pertumbuhannya oleh oksigen


yang jenuh. Pertumbuhan terbaik bagi kelompok organisme ini adalah konsentrasi yang
memiliki oksigen terbatas (Darmawan, 2010). Untuk istilah mikroaerofilik artinya bahwa
bakteri jenis ini bisa tumbuh di lingkungan dengan konstentrasi oksigen yang rendah namun
akan mati jika konsentrasi oksigennya tinggi.Bakteri mikroaerofilik ialah bakteri yang
bersifat aerobik dan membutuhkan oksigen dengan konsentrasi yang relatif rendah yaitu jauh
di bawah konsentrasi oksigen di atmosfer. Bakteri ini mempunyai enzim, diantaranya
hidrogenase, yang menjadi tidak aktif jika konsentrasi oksigen di lingkungan sekitarnya
terlalu tinggi (Unung dan Bintang, 2011). Beberapa faktor dapat mempengaruhi kebutuhan
total oksigen mikroba, yang terpenting diantaranya jenis sel, fase pertumbuhan mikroba,
nutrisi karbon, dan pH (Unung dan Bintang, 2011).
Gambar 1. Perbedaan letak sel bakteri dalam menentukan sifat respirasi bakteri
(courses.lumenlearning.com)

H. KESIMPULAN
1. Pengamatan respirasi bakteri ini memberikan keterampilan membuat medium cair
yang berupa NA (Natrium Agar).
2. Pengamatan respirasi bakteri menunjukkan bahwa koloni bakteri I dan koloni bakteri
II menunjukkan bersifat aerob ditandai dengan bakteri tumbuh di permukaan medium
cair.
DAFTAR RUJUKAN
Ameliya, S, J, Standy, S, Fredine, E, S, R. 2016. Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Aerob Yang
Berpotensi Menyebabkan Infeksi Nosokomial Di Ruang Rawat Inap Mata Irina F
RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Jurnal e-Biomedik (eBm), Volume 4, Nomor
1.
Darmawan, E. 2010. Pertumbuhan Bakteri pada Medium Cair. Semarang: Universitas Negeri
Semarang.
Dwidjoseputra. 2000. Dasar-dasar Mikrobiologi. Malang: Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang.
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan.
Fajar, D, P, Maya, S, dan Nengah, D, K. 2012. Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Aerob
Proteolitik dari Tangki Septik. Jurnal sains dan seni ITS Vol. 1, No. 1. ISSN: 2301-
928X.
Hermanus, Muson., Bobby, P., Lucia C. 2012. Pengaruh Perlakuan Aerob Dan Anaerob
Terhadap Variabel Bod, Cod, Ph, Dan Bakteri Dominan Limbah Industri Desiccated
Coconut Pt. Global Coconut Radey, Minahasa Selatan. Jurnal Ilmu dan Teknologi
Pangan. Vol. 3 No. 2.
Hidayah, Nur., Maya, Shovitri. 2012. Adaptasi Isolat Bakteri Aerob Penghasil Gas Hidrogen
pada Medium Limbah Organik. Jurnal Sains Dan Seni ITS. Vol. 1. ISSN: 2301-928X
Priani, Nunuk. 2009. Metabolisme Bakteri. Sumatra Utara: Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
Puti, S, K, Denny, H, Detia, D. 2012. Identifikasi Mikroba Anaerob Dominan Pada
Pengolahan Limbah Cair Pabrik Karet Dengan Sistem Multi Soil Layering (MSL).
Jurnal Teknik Lingkungan UNAND 9 (1).
Sukma, A, W, Banun, K, Dwi, W, A, F. 2014. Identifikasi Bentuk Sel Bakteri Anaerob
Berdasarkan Warna Koloni pada Gingival Crevicular Fluid Pasien Gingivitis Kronis
dan Periodontitis Kronis. Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa.
Unung, L dan Bintang, I, M. 2011. Fermentasi Mikroaerofilik Lactobacillus acidophilus
untuk Produksi Probiotik. Industrial Research Workshop and National Seminar.
Utami, U. 2004. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: Universitas IslamNegeri Malang.
Wahyuni,Sri., Lianto.,Andi, K. Isolasi Dankarakterisasi Bakteri Manolitikasal Bonggol
Pohon Sagu.Jurnal Agroteknos. Vol. 4. No. 3. ISSN: 2087-7706.
Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press.
LAMPIRAN

Respirasi yang terjadi pada Respirasi yang terjadi pada


koloni I koloni II
Yaitu aerob Yaitu aerob