You are on page 1of 9

TEKNOLOGI PENGOLAHAN BIODIESEL DARI

MINYAK GORENG JAGUNG BEKAS DENGAN


VARISASI BENTONIT SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN
BAKAR MESIN DIESEL

Mulkan Hambali*, Aris Munandar, Randy Junedo Simanjuntak

*Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya


Jln. Raya Prabumulih Km 32 Inderalaya Ogan Ilir – 30662

ABSTRAK

Pengolahan Biodiesel sebagai alternatif bakan bakar mesin diesel dilakukan dengan metode
pemurnian dan transesterifikasi berbahan baku minyak goreng jagung bekas. Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui bahwa minyak goreng jagung bekas dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar
pembuatan biodiesel sesuai standar yang ditinjau dari viskositas dan nilai flash point. Pada penelitian ini,
minyak goreng jagung bekas dimurnikan terlebih dahulu menggunakan bentonit yang diaktivasi dengan
variasi massa 2 gram, 4 gram, 6 gram, 8 gram untuk menurunkan viskositas pada minyak goreng jagung
bekas. Hasil penelitian pada proses pemurnian minyak goreng jagung bekas menunjukkan bahwa variasi
bentonit pada massa 8 gram menghasilkan viskositas paling optimum yaitu 4,61 cSt. Biodiesel yang
dihasilkan setelah proses pemurnian minyak goreng jagung bekas menghasilkan viskositas dan nilai flash
point yang optimum yaitu 3,05 cSt dan 141,7 0C.

Kata kunci : Biodiesel, Transesterifikasi, Minyak Goreng Jagung Bekas, Bentonit, Viskositas

ABSTRACT

Processing of Biodiesel as an alternative diesel engine fuel was conducted by using purification
and transesterification method with waste corn oil as the raw. This study was conducted in order to
determine that the waste corn oil can be used as a basic ingredient of biodiesel according to the standards
in terms of viscosity and flash point value. In this study, the waste corn oil was purified first using
activated bentonite with the variation of the mass of 2 grams, 4 grams, 6 grams, 8 grams to reduce the
viscosity of the waste corn oil. The results of the research of waste corn oil purifying process showed that
the variations in the mass of 8 grams of bentonite produced the most optimum viscosity that was 4.61 cSt.
Biodiesel produced after refining process of former corn cooking oil yield the optimum value of viscosity
and flash point, they were 3.05 cSt and 141.7 0C.

Keywords: Biodiesel, Transesterification, Waste Corn Oil, Bentonite, Viscosity

1. PENDAHULUAN protein, residu, karbohidrat, air dan resin tanpa


Minyak diartikan sebagai trigliserida mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam
yang dalam suhu ruang berbentuk cair. Dalam minyak); netralisasi ( suatu proses untuk
proses pembentukannya, trigliserida merupakan memisahkan asam lemak bebas dari minyak
hasil proses kondensasi satu molekul gliserol atau lemak dengan cara mereaksikan asam
dengan tiga molekul asam-asam lemak lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya
(umumnya ketiga asam lemak berbeda-beda) sehingga membentuk sabun); pemucatan (proses
yang membentuk satu molekul trigliserida dan pemurnian untuk menghilangkan zat-zat warna
tiga molekul air. Minyak goreng adalah minyak yang tidak disukai dalam minyak); dan
yang telah mengalami proses pemurnian yang deodorisasi (proses pemurnian minyak yang
meliputi degumming (suatu proses pemisahan bertujuan untuk menghilangkan bau dan rasa
getah atau lendir yang terdiri dari fosfatida, yang tidak enak dalam minyak). Fungsinya

Jurnal Teknik Kimia No. 2, Vol. 22, April 2016 Page | 28


sebagai media penggoreng sangat vital dan 2. Suhu
kebutuhannya semakin meningkat. Minyak di Pengaruh suhu terhadap keruskan minyak
gunakan berulang-ulang untuk menekan biaya telah diselidiki dengan menggunakan
produksi, namun penggunaan kembali minyak minyak jagung yang dipanaskan selama 24
goreng bekas secara berulang-ulang akan jam pada suhu 120, 160 dan 200oC.
menurunkan mutu bahan pangan yang digoreng Minyak dialiri udara pada
akibat terjadinya kerusakan pada minyak yang 150ml/menit/kilo. Minyak yang
digunakan, dimana minyak menjadi berwarna dipanaskan pada suhu 160 dan 200oC
kecoklatan, lebih kental, berbusa, berasap serta menghasilkan bilangan peroksida lebih
dihasilkan rasa dan bau yang tidak disukai pada rendah dibandingkan dengan pemanasan
bahan pangan yang digoreng. pada suhu 120oC. Hal ini merupakan
Minyak goreng sangat mudah untuk indikasi bahwa persenyawan peroksida
mengalami oksidasi (Ketaren, 2005). Maka bersifat tidak stabil terhadap panas.
minyak jelantah telah mengalami penguraian Kenaikan nilai kekentalan dan indek
molekul-molekul, sehingga titik asapnya turun bias paling besar pada suhu 200oC,
drastis, dan bila disimpan dapat menyebabkan karena pada suhu tersebut jumlah senyawa
minyak menjadi berbau tengik. Bau tengik polimer yang terbentuk relative cukup
dapat terjadi karena penyimpanan yang salah besar.
dalam jangka waktu tertentu menyebabkan 3. Akselerator Oksidasi
pecahnya ikatan trigliserida menjadi gliserol Kecepatan aerasi juga memengang
dan free fatty acid (FFA) atau asam lemak peranan penting dalam menentukan
jenuh. Selain itu, minyak jelantah ini juga perubahan-perubahan selama oksidasi
sangat disukai oleh jamur aflatoksin. Jamur ini thermal. Nilai kekentalan naik secara
dapat menghasilkan racun aflatoksin yang proporsional dengan kecepatan aerasi,
dapat menyebabkan penyakit pada hati. Akibat sedangkan bilangan iod semakin menurun
dari penggunaan minyak jelantah dapat dengan bertambahnya kecepatan aerasi.
dijelaskan melalui penelitian yang dilakukan Konsentrasi persenyawaan karbonil akan
oleh Rukmini (2007) tentang regenerasi bertambahn dengan penurunan kecepatan
minyak jelantah dengan arang sekam menekan aerasi. Senyawa karbonil dalam lemak-
kerusakan organ tubuh. Hasil penelitian pada lemak yang telah dipanaskan dapat
tikus wistar yang diberi pakan mengandung berfungsi sebagai pro oksidan atau sebagai
minyak jelantah yang sudah tidak layak akselerator pada proses oksidasi.
pakai terjadi kerusakan pada sel hepar
(liver), jantung, pembuluh darah maupun Salah satu alternatif pemecahan masalah
ginjal. Penggunaan minyak goreng jelantah yang paling tepat adalah mengolah minyak
secara berulang-ulang dapat membahayakan goreng bekas menggunakan bentonit yang telah
kesehatan tubuh. Hal tersebut dikarenakan diaktifkan (bentonit aktif). Dengan pemakaian
pada saat pemanasan akan terjadi proses bentonit, minyak goreng bekas akan jernih
degradasi, oksidasi dan dehidrasi dari minyak karena asam lemak bebasnya akan terserap oleh
goreng. Proses tersebut dapat membentuk bentonit, sehingga minyak goreng bekas dapat
radikal bebas dan senyawa toksik yang bersifat digunakan kembali. Disamping itu, harga
racun. (Rukmini, 2007). bentonit cukup murah untuk dijadikan bahan
Faktor-faktor Pemasakan yang Dapat penyerap (adsorben). Bentonit adalah clay yang
Menyebabkan Kerusakan Minyak sebagian besar terdiri dari montmorillonit
1. Lamanya minyak kontak dengan panas dengan mineral-mineral minor seperti kwarsa,
Berdasarkan penelitian terhadap minyak kalsit, dolomit, feldspars, dan minor lainnya.
jagung, pada pemanasan 10-12 jam Montmorillonit merupakan bagian dari
pertama, bilangan iod berkurang dengan kelompok smectit dengan komposisi kimia
kecepatan konstan, sedangkan jumlah secara umum (Mg,Ca)O.Al2O3.5SiO2.nH2O.
oksigen dalam lemak bertambah dan Bentonit berbeda dari clay lainnya karena
selanjutnya menurun setelah pemanasan 4 hampir seluruhnya (75%) merupakan mineral
jam kedua berikutnya. Kandungan montmorillonit. Mineral montmorillonit terdiri
persenyawaan karbonil bertambah dalam dari partikel yang sangat kecil sehingga hanya
minyak selama proses pemanasan, dapat diketahui melalui studi menggunakan
kemudian berkurang sesuai dengan XRD (X-Ray Diffraction). Struktur
berkurangnya jumlah oksigen. montmorillonit memiliki konfigurasi 2:1 yang

Jurnal Teknik Kimia No. 2, Vol. 22, April 2016 Page | 29


terdiri dari dua silicon oksida tetrahedral dan organobentonit yang memiliki sifat tertentu
satu alumunium oksida octahedral. Pada (Walid, et al., 2003). Salah satu sifat yang
tetrahedral, 4 atom oksigen berikatan dengan merupakan suatu hal yang penting dalam
atom silicon di ujung struktur. Empat ikatan pembentukkan organobentonit adalah
silicon terkadang disubsitusi oleh tiga ikatan kestabilan termal yang dimiliki oleh garam
alumunium organic. Dengan kestabilan termal yang
Dalam keadaan kering bentonit dimiliki oleh garam organic yang selanjutnya
mempunyai sifat fisik berupa partikel butiran digunakan untuk memodifikasi sifat bentonit,
yang halus berbentuk rekahan-rekahan atau diharapkan akan terbentuk bentonit
serpihan yang khas seperti tekstur pecah kaca termodifikasi atau organobentonit yang
(concoidal fracture), kilap lilin, lunak, plastis, memiliki kestabilan termal yang tinggi. Salah
berwarna kuning muda hingga abu-abu, bila satu sufat yang menarik dari bentonit adalah
lapuk berwarna coklat kekuningan, kuning memiliki kemampuan menyerap kation tertentu
merah atau coklat, bila diraba terasa licin, dan yang selanjutnya diubah menjadi kation lain
ila dimasukkan ke dalam air akan mengisap air. dengan menggunakan suatu pereaksi ion
Sifat fisik lainnya berupa : tertentu. Reaksi pertukaran kation ini terjadi
massa jenis : 2,2 – 2,8 g/L pada bagian sisi dari unit struktur silica
indeks bias : 1,547 – 1,557 aluminiat sehingga tidak merubah struktur
titik lebur : 1330 – 1430 oC mineral dari bentonit.
Bentonit termasuk mineral yang Pertukaran kation adalah reaksi
memiliki gugus aluminosilikat. Unsur-unsur reversible dengan transfer energy rendah dari
kimia yang terkandung dalam bentonit ion antara fasa padat dan fasa cair. Metode
diperlihatkan pada Tabel 1 pertukaran kation banyak digunakan pada
proses-proses yang berkaitan dengan tanah,
Tabel 1. Komposisi Kimia Bentonit seperti pada pemisahan mineral tanah, adsorpsi
Na-Bentonit Ca-Bentonit nutrisi tanah, pemisahan senyawa eltrolit, dan
Senyawa
(%) (%) untuk mempertahankan pH tanah. Proses
SiO2 61,3-61,4 52,12 pertukaran kation menyebabkan terjadinya
Al2O3 19,8 17,33 netralisasi dari muatan negative koloid tanah
Fe2O3 3,9 5,30 melawan muatan kation. Kation berikatan
CaO 0,6 3,68 dengan permukaan koloid melalui ikatan Van-
MgO 1,3 3,30 der-Waals. Gerakan kation pada permukaan
Na2O 2,2 0,50 koloid tidak terlalu kaku, tetapi karena ada
K2O 0,4 0,55 energy panas yang mempengaruhi gerakan dan
H2O 7,2 7,22 menyebabkan lebih mudah bergerak dari
Sumber : Puslitbang Tekmira, 2002 permukaannya, seperti gerakan belahan yang
memberikan kombinasi khusus dari ion dan
permukaan koloid. Ada dua tipe permukaan,
Partikel bentonit bermuatan negative
pertama yang sukar terikat sehingga sulit
yang diimbangi dengan kation yang dapat
terjadi pertukaran atau fixed cation dan yang
dipertukaran dan terikat lemah (Na, Ca, Mg,
atau K). Adanya kation yang dapat kedua adalah tidak terlalu sukar untuk
dipertukarkan ini memungkinkan bentonit berikatan sehingga terjadi pertukaran kation.
Sebelum digunakan dalam berbagai
memisahkan logam berat dari air, dan juga
aplikasi, bentonit harus diaktifkan dan diolah
memisahkan senyawa organic kationik melalui
terlebih dahulu. ada dua cara yang dapat
mekanisme pertukaran ion.
dilakukan untuk aktivasi bentonit, yaitu :
Bentonit yang dimodifikasi (bentonit
termodifikasi) oleh senyawa organic disebut 1. Secara Pemanasan
sebagai organobentonit. Organobentonit adalah Pada proses ini, bentonit dipanaskan pada
temperature 300 – 350 oC untuk
bentonit yang menyerap molekul kation dari
memperluas permukaan buturan bentonit.
senyawa-senyawa organic. Ada banyak
2. Secara Kontak Asam
pemanfaatan yang diperoleh dengan
Tujuan dari aktivasi kontak asam adalah
disentesisnya organobentonit. Pestisida dan
makanan hewan merupakan sebagian kecil dari untuk menukar kation Ca+ yang ada dalam
Ca-bentonit menjadi ion H+ dan
pemanfaatan organobentonit (Othmer, 1964).
melepaskan ion Al, Fe, dan Mg dan
Penambahan kation organic yang berasal dari
pengotor-pengotor lainnya pada kisi-kisi
garam organic dapat pula menghasilkan

Jurnal Teknik Kimia No. 2, Vol. 22, April 2016 Page | 30


struktur, sehingga secara fisik bentonit standar. Biodiesel dapat dibuat dari minyak
tersebut menjadi aktif. Untuk keperluan nabati maupun lemak hewan, namun yang
tersebut asam sulfat dan asam klorida paling umum digunakan sebagai bahan baku
adalah zat kimia yang umu digunakan. pembuatan biodiesel adalah minyak nabati.
Selama proses bleaching tersebut, Al, Fe, Biodiesel biasa disebut juga sebagai fatty
dan Mg larut dalam larutan, kemudian acid methyl ester yaitu bentuk ester dari asam
terjadi penyerapan asam ke dalam struktur lemak. Biodiesel dibuat melalui suatu proses
bentonit, sehingga rangkaian struktur kimia yang disebut esterifikasi ataupun
mempunyai area yang lebih luas. transesterifikasi. Proses ini menghasilkan dua
produk yaitu metil ester dan gliserol yang
Menurut Thomas, Hickey, dan Stecker merupakan produk samping. Bahan baku utama
atom-atom Al yang tersisa masih terkoordinasi untuk pembuatan biodiesel antara lain
dalam rangkaian tetrahedral dengan empat atom minyak nabati, minyak hewani, lemak bekas,
oksigen tersisa. Perubahan dari gugus dan lain-lain. Nama biodiesel telah disetujui
octahedral menjadi tetrahedral membuat kisi oleh Department Of Energi (DOE),
Kristal bermuatan negative pada permukaan Enviromental Protection Agency (EPA) dan
Kristal, sehingga dapat dinetralisir oleh ion American Society of Testting Material (ASTM),
hydrogen (Supeno, M dan Sembiring, S.B. biodiesel merupakan bahan bakar alternatif
2007). yang menjanjikan yang dapat diperoleh dari
minyak tumbuhan, lemak binatang atau minyak
Tabel 2. Spesifikasi Biodiesel bekas melalui esterifikasi dengan alkohol dan
No. Parameter Satuan Nilai telah memenuhi spesifikasi ASTM D 6751-02.
1 Massa jenis pada 40 kg/m3 840 – Pada dasarnya semua minyak nabati atau
o
C 890 lemak hewan dapat digunakan sebagai bahan
2 Viskositas mm2/s 2,3 – baku pembuatan biodisel. Telah banyak
kinematika pada 40 6,0 penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan
o
C bahan baku alternatif yang dapat dikembangkan
3 Angka setana Min. secara luas sebagai bahan baku pembuatan
51 biodisel. Biodisel yang berasal dari minyak
4 Titik nyala (mangkok (cSt) Min. sawit, minyak jarak, dan minyak kedelai
tertutup) 100 merupakan salah satu bahan baku pembuatan
o
5 Titik kabut C Maks. biodisel yang telah diteliti oleh beberapa
18 peneliti di dunia. Namun terjadi perdebatan
o
6 Korosi lempeng C Maks. penggunakan bahan baku terutama bahan baku
tembaga ( 3 jam pada No 3 dari biji kedelai mengingat kedelai merupakan
50 oC ) salah satu bahan pangan sehingga tidak
7 Residu karbon seharusnya digunakan sebagai bahan baku
- Dalam %- Maks. alternatif yang akan dikembangkan secara luas
contoh asli massa 0,05 dan dalam produksi yang besar.
- Dalam (maks. B100 merupakan nama lain biodiesel
contoh 10% 0,3) yang menunjukkan bahwa biodiesel tersebut
ampas murni 100% monoalkil ester. “BXX”
distilasi merupakan tanda bahwa biodiesel tersebut
8 Air dan sedimen %-vol. Maks. merupakan biodiesel campuran, dimana “XX”
0,05 merupakan presentase komposisi biodiesel yang
0
9 Tempratur distilasi C Maks. terdapat dalam campuran biodiesel tersebut,
90% 360 seperti B35 berarti memiliki kandungan biodisel
10 Abu tersulfatkan %- Maks. sebesar 35% dan minyak soal 65%. Biodisel
massa 0,02 mendapat perhatian khusus dan dukungan oleh
11 Belerang ppm-m Maks. Undang-Undang Lingkungan Hidup, hal itu
100 dikarenakan bahan bakar ini terbaharui dan
bebas dari gas SO2 dan PbO sehingga ramah
Biodiesel didefinisikan secara sederhana lingkungan. Undang-Undang Lingkungan
sebagai bentuk bahan bakar diesel yang Hidup membatasi emisi gas buang dimana gas
menyebabkan lebih sedikit kerusakan SO2 sebesar 800 kg/m3, NOx 100 g/m3, H2S dan
lingkungan dibandingkan bahan bakar diesel NH3 masing-masing sebesar 0,5 mg/m3.

Jurnal Teknik Kimia No. 2, Vol. 22, April 2016 Page | 31


Transesterifikasi adalah reaksi ester A = Faktor frekuensi
untuk menghasilkan ester baru yang mengalami T = Temperatur absolut
posisi asam lemak (Swern, 1982). E = Energi aktivasi
Transesterifikasi dapat menghasilkan produksi 2) Waktu Reaksi
biodiesel yang lebih baik daripada dengan Semakin lama waktu reaksi maka
menggunakan proses mikroemulsifikasi, semakin banyak produk yang dihasilkan
pencampuran dengan petrodiesel atau pirolisis karena waktu reaksi tersebut memberikan
(Ma dan Hanna, 2001). Proses transesterifikasi waktu reaktan untuk bertumbukan satu sama
ini dimaksudkan untuk mengkonversikan lain lebih lama tetapi tambahan waktu reaksi
trigliserida yang tersisa pada minyak jarak tidak akan mempengaruhi reaksi jika telah
sehingga menghasilkan biodiesel. mencapai kesetimbangan.
Transesterifikasi adalah tahap konversi 3) Katalis
dari trigliserida menjadi alkil ester yang Katalis berfungsi untuk mempercepat
direaksikan dengan alkohol dan menghasilkan reaksi dengan cara menurunkan energi
produk samping yaitu gliserol. Reaksi aktivasi tetapi tidak menggeser letak
transesterifikasi ini bersifat reversible dan kesetimbangan. Jika tidak menggunakan
alkohol berlebih digunakan untuk memicu katalis, reaksi transesterifikasi baru dapat
reaksi pembentukan produk. Menurut Swern bereaksi pada suhu 250oC. Penambahan
(1982), jumlah alkohol yang disarankan sekitar katalis juga berfungsi untuk mempercepat
1,6 kali lebih banyak dari jumlah alkohol yang reaksi dan menurunkan kondisi operasi.
dibutuhkan secara teoritis. Jumlah alkohol yang Katalis yang biasanya digunakan pada reaksi
lebih dari 1,75 kali jumlah teoritis tidak akan transesterifikasi adalah katalis basa, asam,
mempercepat reaksi bahkan akan mempersulit dan penukar ion. Katalis basa bereaksi pada
pemisahan gliserol pada proses selanjutnya. suhu kamar sedangkan katalis asam bereaksi
Transesterifikasi dibagi kedalam tiga jenis pada suhu diatas 100oC.
reaksi, yaitu: Katalis yang biasanya digunakan berupa
a) Interesterifikasi yaitu pembentukan ester katalis homogen dan katalis heterogen.
dari ester dengan ester Katalis homogen adalah katalis yang fasenya
b) Alkoholis yaitu pembentukan ester dari sama dengan reaktan dan produk. Katalis
reaksi suatu ester dengan alkohol heterogen adalah katalis yang fasenya
c) Asidosis yaitu reaksi antara ester dengan berbeda dengan reaktan dan produknya.
asam karboksilat. Katalis homogen yang banyak digunkan
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam reaksi transesterifikasi adalah
kecepatan reaksi transesterifikasi adalah alkoksida logam seperti NaOH dan KOH.
1) Temperatur 4) Pengadukan
Temperatur reaksi sangat mepengaruhi Pada reaksi transesterifikasi, reaktan-
kecepatan reaksi. Pada umumnya reaksi ini reaktan awalnya membentuk sistem cairan
berlangsung pada temperatur yang dua fasa. Reaksi dikendalikan oleh difusi
mendekati titik didih metanol (60o-70oC) diantara fase-fase yang berlangsung lambat.
pada tekanan atmosfer. Kecepatan reaksi Seiring dengan terbentuknya metil ester
berbanding lurus dengan kenaikan maka ia bertindak sebagai pelarut tunggal
temperatur. Semakin tinggi temperatur maka yang dipakai secara bersamaan oleh reaktan-
semakin banyak energi yang digunakan reaktan dan sistem dengan fase tunggal akan
reaktan untuk mencapai reaksi aktivasi. Hal terbentuk. Dampak pengadukan ini sangat
ini akan menyebabkan tumbukan lebih berpengaruh besar selama reaksi. Jika sistem
sering terjadi antar molekul-molekul reaktan tunggal terbentuk maka pengadukan tidak
yang kemudian akan bereaksi sehingga berpengaruh lagi saat reaksi. Pengadukan
kecepatan reaksi meningkat (Rahayu, 2003). bertujuan agar reaksi tercampur secara
Arhenius mengatakan bahwa hubungan sempurna dan akan mengurangu hambatan
antara konstanta kecepatan reaksi dengan antar massa (Lusiana, 2007).
temperatur seperti persamaan berikut:
2. METODOLOGI PENELITIAN
𝐸
𝐾=𝐴 𝑒 (−𝑅𝑇 )
Bahan
Dimana :
Pada penelitian ini bahan baku yang digunakan
K = Konstanta kecepatan reaksi
antara lain minyak goreng jagung bekas,
R = Konstanta gas

Jurnal Teknik Kimia No. 2, Vol. 22, April 2016 Page | 32


bentonit, methanol teknis (CH3OH) dan katalis Analisa Viskositas
basa NaOH. 1. Viscometer diisi dengan biodiesel
secukupnya.
Peralatan 2. Minyak biodiesel dinaikkan lebih tinggi dari
Pada penelitian ini digunakan peralatan yaitu tanda paling atas.
Erlemenyer, Gelas Ukur, Beker gelas, Labu 3. Stopwatch dihidupkan saat melewati tanda
Leher Tiga, Hotplate, Pengaduk, Magnetic paling atas pada viscometer.
stirrer, Termometer, Kondensor. 4. Biarkan minyak biodiesel mengalir sampai
tanda paling bawah.
Proses Pemurnian 5. Saat minyak biodiesel sampai pada batas ini,
matikan stopwatch dan waktu alir dapat
1. Bentonit diaktivasi dengan pemanasan pada
ditentukan.
suhu 250 oC selama 2 jam. Proses ini
bertujuan untuk membuka poro-pori internal
Analisa Nilai Flash Point
bentonit.
1. Dimasukkan sampel kedalam wadah sampai
2. Dianalisa terlebih dahulu viskositas minyak
tanda batas dan memasukkan wadah tersebut
goreng jagung bekas.
ke dalam alat ukur
3. Minyak goreng jagung bekas diisikan
2. Alat dihidupkan, control arus dan tegangan
kedalam beker gelas 250 mL lalu secara
diatur, wadah ditutup dan dikunci.
perlahan masukkan bentonit yang telah
3. Pengaduk dihidupkan dan nyala api uji
diaktivasi 2 gr, 4 gr, 6 gr, 8 gr sambil diaduk
dengan mengatur bukaan tabung elpiji.
dengan suhu pemanasan 60 oC dengan
4. Termometer diamati dan sampel dipanaskan
waktu pemanasan 60 menit.
sampai suhu yang ditentukan serta menguji
4. Kemudian minyak disaring dengan kertas
nyala setiap kenaikan 10 0C dengan
penyaring. Setelah itu, dilakukan analisis
memutar tuas pada penutup wadah searah
terhadap minyak goreng jagung bekas, yaitu
dengan jarum jam. Diamati apakah api
uji viskositas.
menyala atau tidak pada bukaan diatas
penutup wadah.
Proses Transesterifikasi
5. Jika telah mendekati titik nyala, uji nyala
1. Siapkan larutan Sodium Metoksid dengan
setiap kenaikan 1 0C dan dicatat apakah api
cara mencampurkan 1 % NaOH dari berat
menyala atau tidak pada bukaan di atas
minyak goreng jagung bekas ke dalam 35 %
penutup wadah.
methanol dari volume minyak goreng jagung
6. Jika nyala api hidup, maka nyala pertama
bekas.
dalah titik nyala sampel yang dianalisa.
2. Minyak goreng jagung bekas dituang ke
dalam labu leher tiga, kemudian dipanaskan
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
sampai mencapai suhu 50 oC. Setelah suhu
tersebut tercapai maka larutan sodium
Analisa Hasil Viskositas
metoksid dituangkan ke dalam minyak
goreng jagung bekas sambil diaduk.
Dari hasil analisa minyak goreng jagung
Pemanasan dan pengadukan secara merata
bekas diketahui bahwa minyak yang dihasilkan
dilakukan pada suhu 60 - 65 oC dengan
kekentalannya berkurang disebabkan oleh
waktu 60 menit.
semakin besar konsentrasi absorben untuk
3. Setelah proses pemanasan dan pencampuran
proses penjernihan maka partikel pengotor yang
selesai kemudian campuran tersebut
terdapat dalam minyak banyak yang terserap
didiamkan selama 18 jam. Setelah terjadi
oleh absorben. Semakin besar massa bentonit
endapan kemudian proses pemisahan
maka daya serap adsorben semakin meningkat
dimulai yaitu dengan mengambil lapisan
karena jumlah partikelnya semakin banyak. Dari
bawah (gliserol) terlebih dahulu kemudian
Gambar 1 dapat dilihat bahwa penambahan
cairan yang diatasnya adalah metil ester.
massa bentonit sangat berpengaruh untuk
4. Metil ester kemudian dicuci dengan air
menurunkan viskositas atau kekentalan pada
panas 50 oC sampai metil esternya jernih.
minyak goreng jagung bekas. Nilai viskositas
Setelah proses pencucian kemudian larutan
dari sampel minyak goreng jagung bekas
metil ester dioven pada temperatur 120 oC
dengan massa bentonit 2 gram yang telah
selama 60 menit. Kemudian dilakukan
diaktivasi adalah 5,06 cSt, sedangkan untuk
analisa viskositas dan flash point.
massa bentonit 4 gram adalah 4,85 cSt, untuk

Jurnal Teknik Kimia No. 2, Vol. 22, April 2016 Page | 33


massa bentonit 6 gram adalah 4,69 cSt dan 4,61 spesifikasi minyak goreng jagung bekas dan
cSt untuk massa bentonit 8 gram. Bila sudah sesuai dengan syarat mutu biodiesel
dibandingkan dengan viskositas minyak goreng menurut SNI-04-7182-2006 yang mempunyai
jagung bekas sebelum dicampur dengan nilai viskositas sebesar 2,3 cSt – 6,0
bentonit yang telah diaktivasi yaitu 5,45 cSt. cSt.Viskositas yang terlalu tinggi dapat
Nilai viskositas dari keempat sampel dari memberatkan beban pompa dan menyebabkan
penelitian ini sudah menurun. Ini menunjukkan pengkabutan yang kurang baik (Soerawidjaja,
bahwa semakin meningkat massa bentonit maka 2003). Dapat disimpulkan bahwa proses
semakin besar penurunan viskositas pada pemurnian minyak goreng jagung bekas dengan
minyak goreng jagung bekas. penambahan bentonit sebelum proses
transesterifikasi sangat berpengaruh terhadap
6 viskositas biodiesel yang dihasilkan.
Viskositas (cSt)

5
4
3 Analisa Hasil Nilai Flash Point
2
1 Flash point adalah temperatur terendah
0 yang harus dicapai dalam pemanasan biodiesel
Minyak MGB – MGB – MGB – MGB – untuk menimbulkan uap yang dapat terbakar
Goreng S1 (MB S2 (MB S3 (MB S4 (MB
Bekas 2gr) 4gr) 6gr) 8gr)
dalam jumlah yang cukup, untuk nyala atau
terbakar sesaat ketika disinggungkan dengan
Massa Bentonit suatu nyala api. Apabila flash point bahan bakar
tinggi, akan memudahkan dalam penanganan
Gambar 1. Pengaruh Massa Bentonit Terhadap dan penyimpanan bahan bakar tersebut karena
Viskositas Bahan Baku Minyak Goreng Jagung bahan bakar tidak perlu disimpan pada
Bekas (MGB) temperatur rendah. Dapat dilihat pada gambar 3,
nilai flash point biodiesel dari minyak goreng
jagung bekas dengan penambahan massa
6 bentonit pada proses pemurnian sudah
memenuhi syarat mutu biodiesel.
5 Pada sampel I, massa bentonit 2 gram
Viskositas (cSt)

4 nilai flash point nya yaitu 136,8 0C, sedangkan


untuk sampel II massa bentonit 4 gram nilai
3 flash point nya adalah 138,9 0C, sampel III
2 dengan massa bentonit 6 gram adalah 135,4
0
C dan 141 0C untuk massa bentonit 8 gram
1
pada sampel IV. Nilai flash point pada
0 keempat sampel biodiesel ini sudah sangat
Minyak Goreng
Biodiesel –Biodiesel
BekasS1 (MB = –Biodiesel
S2
2gr)(MB =–Biodiesel
S3
4gr)(MB =– S4
6gr)(MB = 8gr) jauh perbedaannya dibandingkan dengan nilai
flash point pada minyak goreng jagung bekas
Massa Bentonit
sebelum diproses menjadi biodiesel yaitu
sebesar 245,5 0C. Pada gambar dibawah
Gambar 2. Pengaruh Massa Bentonit pada terlihat juga bahwa proses pemurnian minyak
Proses Pemurnian Terhadap Viskositas goreng bekas dengan penambahan bentonit
Biodiesel sebelum proses transesterifikasi tidak
menunjukkan perbedaan yang sangat berarti.
Dari gambar 2 dapat dilihat bahwa Hal ini dapat dilihat dari nilai flash point yang
setelah proses pemurnian dan dilakukan proses dihasilkan antara 135,4 – 141,7 0C. Nilai-nilai
transesterifikasi untuk membuat biodiesel, flash point dari keempat sampel biodiesel dari
viskositasnya sangat menurun seiring dengan penelitian ini telah memenuhi standar nilai
meningkatnya massa bentonit. Bila flash point biodiesel berdasarkan SNI-04-
dibandingkan dengan nilai viskositas dari 7182-2006 yaitu minimum 100 0C. Hal ini
spesifikasi minyak goreng jagung bekas menunjukkan bahwa biodiesel dari minyak
sebelum diproses menjadi biodiesel, nilai goreng jagung bekas pada penelitian ini
viskositas dari keempat sampel sangat menurun. memiliki kualitas yang bagus karena memliki
dapat dikatakan bahwa, keempat sampel titik nyala yang tinggi.
biodiesel sudah lebih encer dibandingkan

Jurnal Teknik Kimia No. 2, Vol. 22, April 2016 Page | 34


http://rheskyemhordiank.blogspot.com/ma
300 kalah-biologi
250 penelitianjagung.html.Diakses tanggal 13
Titik Nyala (0C)

februari 2015
200
Boyer, C.D., and J.C. Shannon. 2003.
150 Carbohydrates of The Kernel. In: White
100 PJ., Jhonson LA., editor. Corn: Chemistry
50 and Technology. 2nd Ed. Minnesota:
0 American Association Of Cereal Chemists
Inc. St. Paul, Minnesota, USA. 289-312
Biodiesel Biodiesel Biodiesel Biodiesel Biodiesel
– S1 (MB – S1 (MB – S2 (MB – S3 (MB – S4 (MB Buckle, K.A., dkk. 1987. Ilmu Pangan.
= 2gr) = 2gr) = 4gr) = 6gr) = 8gr) Penrjemah: Hari Purnomo, Adiono,
Massa Bentonit Cetakan ke-2, Universitas Indonesia (UI-
Press), Jakarta
Gambar 3. Pengaruh Massa Bentonit pada Fessenden, R.J and Joan S. Fessenden. 1986.
Proses Pemurnian Terhadap Nilai Organic Chemistry Third. University of
Flash Point Biodiesel Montana, Wadsworth, Inc. Belmont,
California USA
4. KESIMPULAN Gareso. P.L, dkk. 2010. Karateristik Sifat Fisis
Biodiesel Sebagai Sumber Energi
1. Bentonit dapat digunakan untuk Alternatif. Jurusan Fisika. Fakultas
menurunkan kekentalan atau viskositas pada Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
minyak goreng jagung bekas. Semakin Universitas Hasanuddin
banyak bentonit yang digunakan pada Geminasiti. 2012. Sifat Fisik dan Kimia Minyak
pemurnian minyak goreng jagung bekas, Jelantah.
semakin bagus nilai viskositas yang Hermana. 2001. Lemak Pada Tumbuh Kembang
dihasilkan. Variasi massa bentonit pada Bayi dan Anak. Nestle Nutrition
proses pemurnian juga berpengaruh pada Hutomo, Sri Gati. 2013. Pengaruh
viskositas biodiesel yang dihasilkan. Dari Pencampuran Minyak Tanah Dengan
data hasil penelitian yang diperoleh variasi Berbagai Persentase Pada Proses
massa bentonit 8 gram menghasilkan Pembakaran Jelantah. Jurusan Teknik
biodiesel yang paling optimum yang sesuai Mesin Fakultas Teknik Universitas
dengan SNI No. 04-7182-2006. Adapun Janabadra Yogyakarta
nilai spesifikasi dari produk biodiesel ini Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak
yaitu viskositas 3,05 cSt dan flash point dan Lemak Pangan. Edisi1, Cetakan ke-1,
141,7 0C. Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta
2. Variasi bentonit pada proses pemurnian Ketaren, S. 2005. Minyak dan Lemak Pangan.
minyak goreng jagung bekas tidak terlalu Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.
berpengaruh terhadap flash point pada Halaman 284
biodiesel yang dihasilkan pada penelitian Ketaren, S., 2008. Minyak dan Lemak Pangan.
ini. UI-Press, Indonesia.
Kirk RE, Othmer DF. 1964. Encyclopedia of
Chemical Technology. New York. The
DAFTAR PUSTAKA Interscience Inc.
Lawton J.W., and C.M. Wilson. 2003. Proteins
Alemdar, A et al. 2005. Effects of of the Kernel. In: White P.J., Jhonson LA.,
Polyethylemine Adsorption of Rheology editor. Corn: Chemistry and Technology.
ofBentonit Suspension. Indian Academy of 2nd Ed. Minnesota: American Association
Science. 28, 287-291 Of Cereal Chemists Inc. St. Paul,
Ayu Dewi Sartika, Ratu. 2007. Asam Lemak Minnesota, USA. 313-354
Trans Penyeba Timbulnya Lusiana, W. 2007. Reaksi Metanolisis Minyak
JantungKoroner. Diakses Tanggal 13 Biji Jarak Pagar Menjadi Metil Ester
Februari 2015, http://www.gizinet.com Sebagai Bahan Bakar Pengganti Minyak
Azra, S.R.M. 2012. Makalah Biologi Penelitian Diesel Dengan Menggunakan Katalis
Jagung. KOH. Skripsi Jurusan Kimia FMIPA
UNNES

Jurnal Teknik Kimia No. 2, Vol. 22, April 2016 Page | 35


Ma, Fangrui, Hanna, M.A. 2001. Biodiesel
production: a review. Bioesource
Technology, 70: 1-15
Moehyi, S. 1990. Penyelenggaraan Makanan
Institusi dan Jasa Boga. Bhratara, Jakarta
Rukmini, Ambar. 2007. Regenerasi Minyak
Goreng Bekas dengan Arang Sekam
Menekan Kerusakan Organ Tubuh.
Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT
2007)
Sharif Hossain, A.B.M., dkk. 2008. Biodiesel
Fuel Production from Algae as Renewable
Energy. American Journal of Biochemistry
and Biotechnology. 250-254.
Soerawidjaja, Tatang H. 2006. Fondasi-fondasi
Ilmiah dan Keteknisan dari Teknologi
Pembuatan Biodiesel. Handout Seminar
Nasional Biodiesel Sebagai energy
Alternatif Masa Depan. UGM Yogyakarta
Suarni dan S. Widowati. 2007. Struktur,
Kompisisi, dan Nutrisi Jagung. Pusat
Penelitian Tanaman Pangan, Bogor. hlm.
410-426
Subekti, N.A., Syafrudin, R. Effendi, dan S.
Sunarti. 2007. Morfologi Tanaman dan
Fase Pertumbuhan Jagung. Balai
Penelitian Tanaman Serealia, Maros.
Sudarmadji, S. 1989. Analisa Bahan Makanan
dan Pertanian. Yogyakarta : Liberti
SNI. 2006. Biodiesel (04-718-2006). Badan
Standarisasi Nasional, Jakarta
Supeno, M dan Sembiring, S.B. 2007. Bentonit
Alam Terpilar Sebagai Material
Katalis/Co-katalis Pembuatan Gas
Hidrogen Dan Oksigen dari Air. Disertasi.
Medan: USU
Swern, Daniel. 1982. Bailey’s Industrial Oil
and Fat Products. 4th Edition vol-2. New
York: John Willey and Sons Ltd.
Watson, S.A. 2003. Description, Development,
Structure, and Composition of The Corn
Kernel. In: White PJ., Jhonson LA., editor.
Corn: Chemistry and Technology. 2nd Ed.
Minnesota: American Association Of
Cereal Chemists Inc. St. Paul, Minnesota,
USA. 69-101
White, P. J. 2001. Properties of Corn Starch. Di
dalam: Hallquer A. R., editor. Specialty
Corns. Ed ke-2. Florida: CRC Press 33-62
Winarno, F.G. 1999. Minyak Goreng Dalam
Menu Masyarakat. Balai Pustaka. Jakarta

Jurnal Teknik Kimia No. 2, Vol. 22, April 2016 Page | 36