You are on page 1of 10

SAP 10

PERAN INVESTOR INSTITUSIONAL, INVESTOR ASING, DAN KREDITUR &


KASUS PT KALTIM PRIMA COAL

1. PERAN INVESTOR INSTITUSIONAL


Investor intitusional merupakan investor di suatu perusahaan yang berbentuk suatu
lembaga atau berbentuk perusahaan yang teridiri dari perusahaan asuransi, lembaga penyimpan
dana (bank dan lembaga simpan pinjam, lembaga dana pensiun, maupun lembaga investasi).
Cara investor institusional untuk berperan serta dalam mendorong penerapan GCG
adalah dengan melakukan investasi yang bertanggung jawab. Yang dimaksud dengan investasi
yang bertanggung jawab adalah dengan membuat kebijakan hanya akan melakukan
penempatan investasi pada perusahaan-perusahaan yang menerapkan GCG, dan tentu secara
konsisten menerapkan kebijakan tersebut dalam melakukan investasi. Dengan cara ini, institusi
tersebut bertanggung jawab terhadap masyarakat yang dana-nya mereka kelola, karena dana
tersebut hanya di investasikan pada perusahaan-perusahaan yang memang dapat dipercaya,
sehingga risiko hilangnya dana masyarakat karena penempatan yang salah menjadi lebih kecil,
dan di lain pihak, perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa juga menjadi lebih
memberi perhatian terhadap penerapan GCG karena dengan menerapkan GCG secara
konsisten, saham mereka menjadi lirikan investor dan masuk dalam daftar saham yang
desirable atau ingin dimiliki oleh investor, lebih jauh hal ini akan menaikan nilai saham yang
secara tidak langsung juga menaikan nilai perusahaan.
Tentu untuk bisa menerapkan investasi yang bertanggung jawab dibutuhkan usaha
tambahan oleh investor institusional, karena harus ada fungsi di dalam institusi tersebut yang
bertanggung jawab melakukan analisis secara berkesinambungan terhadap penerapan GCG
perusahaan-perusahaan target dengan menggunakan acuan yang benar sebagai dasar
penerapan GCG.
Hal ini bukan sesuatu yang mustahil jika memang sudah menjadi sebuah itikad dalam
melakukan investasi yang bertanggungjawab dan dalam mengelola dana masyarakat. Sebagai
contoh, CalPERS (California Public Employees Retirement System) adalah suatu organisasi
pengelola dana pensiun yang dibentuk pada tahun 1932 di Amerika untuk mengelola manfaat
pensiun dan kesehatan bagi pegawai negeri di negara bagian California (jika melihat fungsinya,

1
kurang lebih, bisa kita sejajarkan dengan Taspen atau Jamsostek di Indonesia), dan saat ini
memiliki lebih dari 1,3 juta anggota dengan total dana kelolaan senilai US$ 218 milyar per
Oktober 2010. CalPERS percaya bahwa penerapan GCG akan memberikan kinerja investasi
yang lebih baik, dan dalam upaya melindungi investornya (nasabah yang dikelola dananya oleh
CalPERS), maka institusi tersebut hanya mau melakukan penempatan investasi pada
perusahaan yang telah lulus seleksi penerapan GCG. CalPERS melakukan review terhadap
kinerja perusahaan tersebut, melihat indikator pengembalian (investment return) untuk periode
1, 3 dan 5 tahun terakhir dan melakukan pembandingan dengan indeks umum dan spesifik
untuk industri terkait; kemudian CalPERS juga melakukan review terhadap indikator
governance seperti antara lain independensi dewan, mekanisme pengangkatan anggota dewan,
kompensasi eksekutif, keragaman kemampuan anggota dewan, pelaksanaan manajemen risiko,
serta isu terkait tanggung jawab sosial dan lingkungan pada perusahaan. Perusahaan yang gagal
memenuhi standar penilaian, tidak akan dijadikan target investasi; dan bukan hanya itu,
CalPERS juga mengumumkan dalam websitenya nama-nama perusahaan yang masuk dalam
daftar yang lolos sensor penerapan GCG dan nama-nama perusahaan yang dikeluarkan dari
daftar tersebut karena dianggap sudah tidak lagi menerapkan GCG; daftar ini pun diperbaharui
secara berkala. Sehingga, hasil analisis mereka bisa dilihat oleh publik, dan dapat memiliki
dampak antara lain, menunjukkan pemenuhan tanggung jawab fidusia mereka kepada para
investor/nasabah yang dananya dikelola; dan daftar tersebut dapat digunakan sebagai acuan
oleh investor lain dalam memilih perusahaan target investasi. Jika daftar tersebut digunakan
sebagai acuan oleh pihak lain, tentunya perusahaan yang masuk daftar akan senang, tapi tidak
demikian dengan perusahaan yang tidak masuk daftar atau bahkan dikeluarkan dari daftar,
karena berarti publik dapat menilai ada sesuatu yang tidak baik dalam pengelolaan perusahaan
tersebut, serta bisa mengakibatkan menurunnya harga saham di pasar.
Jadi ini saatnya bagi investor untuk melakukan investasi yang bertanggung jawab, bukan
saja hal ini merupakan refleksi dari penerapan GCG, namun juga mendorong penerapan GCG
perusahan-perusahaan di Indonesia.

2. PERAN INVESTOR ASING


Sesuai dengan teori stakeholder, semakin banyak dan kuat posisi stakeholder, semakin
besar kecenderungan perusahaan untuk mengadaptasi diri terhadap keinginan stakeholdernya.

2
Hal tersebut diwujudkan dengan cara melakukan aktivitas pertanggungjaawaban
terhadap sosial dan lingkungan atas aktivitas yang dilakukan perusahaan tersebut. Perusahaan
yang berbasis asing kemungkinan memiliki stakeholder yang lebih banyak dibanding
perusahaan berbasis nasional sehingga permintaan informasi juga lebih besar dan dituntut
untuk melakukan pengungkapan yang lebih besar juga. Sehingga peran investor asing yaitu
sebagai berikut:
1) Investasi asing akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, memperluas pasar atau
merangsang penelitian dan pengembangan teknologi lokal yang baru.
2) Investasi asing akan meningkatkan daya saing industri ekspor, dan merangsang ekonomi
lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor jasa/pelayanan).
3) Investasi asing akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan
lokal/nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor.
4) Pembayaran utang adalah esensial untuk melindungi keberadaan barang-barang finansial
di pasar internasional dan mengelola integritas sistem keuangan. Kedua hal ini, sangat
krusial untuk kelangsungan pembangunan.
5) Sebagian besar negara-negara Dunia Ketia tergantung pada investasi asing untuk
menyediakan kebutuhan modal bagi pembangunan karena sumberdaya-sumberdaya lokal
tidak tersedia atau tidak mencukupi.
6) Para penganjur investasi asing berargumen bahwa sekali investasi asing masuk, maka hal
itu akan menjadi batu alas bagi masuknya investasi lebih banyak lagi, yang selanjutnya
menjadi tiang yang kokoh bagi pembangunan ekonomi keseluruhan.

3. KREDITUR
Kreditur adalah pihak (perorangan, organisasi, perusahaan atau pemerintah) yang
memiliki tagihan kepada pihak lain (pihak kedua) atas properti atau layanan jasa yang
diberikannya (biasanya dalam bentuk kontrak atau perjanjian) di mana diperjanjikan bahwa
pihak kedua tersebut akan mengembalikan properti yang nilainya sama atau jasa. Pihak kedua
ini disebut sebagai peminjam atau yang berhutang. Secara singkat kreditur dapat diartikan
pihak yang memberikan kredit atau pinjaman kepada pihak lainnya.
Perusahaan yang mempunyai leverage tinggi mempunyai kewajiban lebih untuk
memenuhi kebutuhan informasi kreditur jangka panjang. Dengan semakin tinggi leverage,

3
yang mana akan menambahbeban untuk program corporate social responsibility menjadi
terbatas atau semakin tinggi leverage, maka semakin rendah program CSR.
Kreditur dalam hal ini contohnya adalah bank, bank harus dapat menilai apakah
perusahaan yang mengajukan permintaan kredit mampu mengembalikan pinjaman atau tidak.
Kreditur akan menolak usulan kredit dari suatu perusahaan bila informasi akuntansi
perusahaan itu meragukan atau tidak menunjukkan perkembangan yang positif.

4. KASUS PT KALTIM PRIMA COAL

4.1 Profil PT Kaltim Prima Coal


PT Kaltim Prima Coal (KPC) adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang
pertambangan dan pemasaran batubara untuk pelanggan industri baik pasar ekspor maupun
domestik. Tahun 1982 PT Kaltim Prima Coal (KPC) didirikan di Indonesia dengan masing-
masing BP dan CRA 50% memegang saham. KPC lisensi untuk melakukan eksplorasi dan
pertambangan batubara berdasarkan Kontrak Karya Batubara (Kontrak Karya) dengan HPH
seluas 90.706 ha. Negara Indonesia Perusahaan Batubara (PTBA) untuk menerima hak 13,5%
dari produksi semua. Lokasi dari PT Kaltim Prima Coal terletak di sekitar Sangatta, Kabupaten
Kutai Timur (Kutim), Provinsi Kalimantan Timur Indonesia.

4.2 Latar Belakang PT Kaltim Prima Coal


Dalam kurun waktu enam tahun (sampai 2009) di keseluruhan kabupaten di Kalimantan
telah terbit 2.047 kuasa pertambangan dan diperkirakan mengokupasi lahan seluas 4,09 juta
hektar. Tentunya angka itu akan semakin besar jika ditambah dengan pertambangan ilegal.
Begitu pula dengan perusahaan Kaltim Prima Coal (KPC) yang bergerak di bidang
pertambangan batubara di beberapa daerah seperti Pinang, Melawan, dan Prima di Kalimantan
Timur. Dengan operasi yang bisa menjual 35.772.323 ton batubara hanya pada tahun 2008
saja, perusahaan ini merasa memiliki tanggung jawab pada stakeholders lainnya. Permasalahan
timbul saat masyarakat dan pemerintah kabupaten merasa belum merasakan hasil dari program
CSR yang dilakukan oleh KPC. Selama sekian puluh tahun beroperasi di bawah pemerintahan
kabupaten terkait, PT Bumi Resources membeli KPC pada tahun 2003.
Untuk mendapatkan kepercayaan pemerintah daerah yang menjadi investor pada saat
itu, PT Bumi Resources memberikan beberapa janji untuk tetap ikut membangun daerah Kutai

4
Timur. Janji yang dilontarkan pada tahun 2003 tersebut ada beberapa, yaitu pembangunan
rumah sakit, membangun kampus Stiper, dan jalan Soekarno-Hatta dua jalur yang semuanya
sampai sekarang belum terealisasi. BR juga berjanji mengucurkan CSR sekira Rp 50 miliar
per tahun. Namun, menurut pihak masyarakat dan pemerintah daerah setempat pengelolaannya
dinilai tidak transparan dan ditangani sendiri oleh KPC. Forum Multi Stakeholder Coorporate
Social Responsibility (Forum MSH- CSR) mengatakan bahwa dana yang mereka kelola belum
maksimal dan masih di bawah dana yang dijanjikan. Misalnya saja CSR tahun 2009 untuk
Kecamatan Bengalon. Data itu adalah data yang dirilis oleh Forum Multi Stakeholder (MSH)
CSR. Dari dana CSR sekira Rp 1,1 miliar yang sampai ke rakyat hanya sekira Rp 400 juta.
Dana sekira Rp 690 juta diberikan ke instansi vertikal.
Namun, di sisi lain pihak KPC menyanggah hal tersebut dengan berdalih bahwa dana
yang dikucurkan harus melalui prosedur yang sesuai dengan kelengkapan dokumen dan
progress report pada tiap-tiap proyek. Akhirnya, masyarakat dan pemerintah setempat
menuntut adanya transparansi dan pertemuan rutin antara pihak KPC dengan Forum MSH-
CSR agar permasalahannya bisa didiskusikan bersama untuk dicari solusinya. Selain itu,
masyarakat meminta agar dana CSR tersebut tidak semuanya dikelola oleh KPC tetapi juga
bekerja sama dengan Forum MSH-CSR dalam pengalokasiaannya. Tuntutan masyarakat ini
bahkan disertai dengan ancaman bahwa operasi KPC mungkin akan terhambat keamanan dan
ketertibannya jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Pihak pemerintah daerah pun juga setuju
dengan tuntutan akan transparansi dan pendelegasian pengelolaan dana CSR tersebut. Jika
tuntutan tersebut tidak dipenuhi, pihak pemerintah daerah akan meninjau ulang izin
pertambangan di daerah tersebut.

4.3 Analisis Masalah


Undang-Undang Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007 Pasal 66 Ayat 2 menunjukkan
tentang kewajiban tiap perusahaan perseroan terbatas untuk membuat laporan tahunan yang
salah satu poinnya merujuk pada laporan pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan. Pada beberapa laporan corporate social responsibility tahunan yang dinamakan
Laporan Pembangunan Berkelanjutan “Tak Hanya Menambang” milik KPC telah disebutkan
perkembangan apa saja yang telah mereka lakukan. Apalagi dengan berbagai penghargaan
yang telah mereka terima, seperti Millennium Development Goals (MDGs) Award dari Metro

5
TV dan perwakilan PBB dalam bidang pemberantasan HIV/Aids pada 2008. Namun, pada
kenyataannya, pada tahun 2010 awal ini masyarakat mulai kritis dan mempertanyakan
langkah-langkah CSR lainnya dari KPC. Dalam menganalisis masalah CSR KPC ini, ada
beberapa model implementasi CSR yang bisa diaplikasikan. Pada dasarnya, perusahaan harus
menyadari bahwa perusahaan memiliki beberapa aspek yang harus dipenuhi, bukan hanya
aspek etika.
Jika dianalisis satu per satu, pada aspek ekonomi maka KPC sudah memenuhi hal
tersebut dengan memperoleh pendapatan sebesar USD 1.741,93 juta. Hal ini merupakan
pendapatan yang cukup besar dengan pangsa pasar ekspor yang berada di beberapa negara di
belahan dunia. Walaupun begitu, aspek legal yang berada pada dimensi di atas ekonomi sudah
dibuat kontraknya. Namun, hal ini pun masih dipertanyakan implementasinya sejak pembuatan
kontrak ataupun pengucapan janji pembangunan pada tahun 2003 sampai pada 2010, walaupun
pada laporan terkait pada tahun 2008 sudah disebutkan community expenditure commitment
sebesar USD 5.000.000 dan biaya lingkungan sebesar USD 18.771,896. Pada dimensi ethical
sebenarnya KPC sudah mulai memberikan berbagai bantuan dengan kegiatan yang berfokus
pada tujuh pembangunan berkelanjutan, yakni pengembangan agribisnis, peningkatan
kesehatan dan sanitasi, pendidikan dan pelatihan, peningkatan infrastruktur masyarakat,
pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah (KUKM), pelestarian alam dan budaya,
penguatan kapasitas lembaga masyarakat dan pemerintah, dan pemberdayaan masyarakat.
Namun, pelaksanaan yang kurang terkoordinasi dari tahun ke tahun membuat pelaksanaannya
cukup baik pada tahun-tahun awal sampai ke 2008 akan tetapi agak terganggu pelaksanaannya
pada tahun 2009 dan 2010 sehingga muncul masalah dengan Forum MSH-CSR. Aspek terakhir
yang perlu diperhatikan adalah philanthropic yang sebenarnya baik untuk dilakukan meskipun
bukanlah sesuatu yang wajib untuk dilakukan. Menjadi sebuah corporate citizen yang
menguntungkan masyarakat sekitar dan memenuhi berbagai aspek lainnya untuk dapat hidup
berdampingan antara produsen ataupun pengusaha dan masyarakat sekitar serta stakeholders
lainnya.
KPC sudah memenuhi beberapa aspek yang disebutkan, misalnya untuk aspek
ecological environment dengan menutup tambang yang sudah tidak dipergunakan dan
melakukan kegiatan dengan pemberdayaan pertanian dan perikanan. Namun, masih timbul
permasalahan dengan public interest group di mana di dalamnya juga termasuk masyarakat

6
sekitar dan pemerintah daerah. Dalam hal ini, beberapa hal yang menyebabkan transfer
informasi kurang maksimal adalah penerapan dari prinsip good corporate governance seperti
fairness, transparency, accountability, dan responsibility yang pada saat ini telah mendorong
CSR semakin menjadi sesuatu hal yang krusial. Berdasarkan permasalahan tersebut,
komunikasi menjadi sesuatu yang penting antara perusahaan dengan pihak terkait.

4.4 Analisis berdasarkan prinsip Good Corporate Governance yang dilanggar PT Kaltim
Prima Coal
1. Transparency
Dalam kasus PT Kaltim Prima Coal dari dana CSR yang sudah ditentukan oleh
perusahaan batu bara ini yaitu Rp 1,1 miliar, sedangkan yang sampai ke rakyat hanya Rp
400 juta. Dana sejumlah Rp 690 juta diberikan ke instansi vertikal. Adapun informasi
pembagian dana untuk masyarakat, hanya diketahui oleh satu pihak yaitu PT Kaltim Prima
Coal, yang bebas menentukan besaran dana yang akan diturunkan ke masyarakat tanpa
memberitahu detail persentase dana untuk masyarakat disekitar lingkungan bisnis dan
perhitungan-perhitungan lainnya yang mendukung dana CSR untuk masyarakat.
2. Responsibility
PT Kaltim Prima Coal sejak tahun 2010 mulai melepas tanggung jawabnya kepada
lingkungan sekitar perusahaan, dimana seharusnya PT Kaltim Prima Coal membayar biaya
perawatan lingkungan perusahaan kepada kepala daerah setempat sesuai dengan kontrak
yang sudah dijanjikan, namun realisasinya justru dana yang seharusnya diberikan
sepenuhnya kepada masyarakat, hanya 40% saja yang sampai ke tangan masyarakat, tidak
sesuai dengan data yang disebarkan oleh Forum MSH-CSR.
3. Fairness
PT Kaltim Prima Coal harus memperlakukan secara adil seluruh golongan yang
memiliki andil dalam kesuksesan perusahaan, baik yang internal maupun eksternal, tanpa
mementingkan golongan tertentu. Walaupun masyarakat sekitar tidak berperan langsung
untuk kemajuan Kaltim Prima Coal, namun perusahaan memiliki tanggung jawab untuk
merawat lingkungan sekitar bisnis, karena tanpa persetujuan masyarakat daerah lokasi
perusahaan, perusahaan bisa saja ditutup karena dianggap merugikan masyarakat dan tidak
memelihara lingkungan perusahaan.

7
5. KESIMPULAN
Cara investor institusional untuk berperan serta dalam mendorong penerapan GCG
adalah dengan investasi yang bertanggung jawab dengan membuat kebijakan hanya akan
melakukan penempatan investasi pada perusahaan-perusahaan yang menerapkan GCG, dan
tentu secara konsisten menerapkan kebijakan tersebut dalam melakukan investasi. Perusahaan
yang berbasis asing kemungkinan memiliki stakeholder yang lebih banyak dibanding
perusahaan berbasis nasional sehingga permintaan informasi juga lebih besar dan dituntut
untuk melakukan pengungkapan yang lebih besar juga. Perusahaan yang memiliki leverage
tinggi, akan menambah beban untuk program corporate social responsibility menjadi terbatas
atau dapat dikatakan semakin tinggi leverage, maka semakin rendah program CSR.
PT Kaltim Prima Coal (KPC) memiliki proporsi untuk pemberian dana CSR pada
masyarakat dan pemerintah daerah di sekitar tempat produksinya. Strategi penyaluran CSR
yang dilakukan KPC masih disusun dari satu pihak, yakni dari pihak KPC sendiri sehingga ada
beberapa ketidaksesuaian antara apa yang dibutuhkan pemerintah daerah dan masyarakat
dengan kegiatan yang dilakukan dari realisasi anggaran. Masyarakat dan pemerintah daerah
merasa tidak puas dengan tidak terpenuhinya janji-janji yang dilontarkan stockholders, KPC
juga seringkali menggembar-gemborkan komunikasi publikasi di media luar sehingga
akhirnya mendapatkan banyak penghargaan, akan tetapi kurang meningkatkan keeratan
hubungan dan frekuensi komunikasi dengan pihak yang bersentuhan langsung dengan mereka,
yaitu masyarakat sekitar dan pemerintah daerah yang bersangkutan.
Lemahnya tata kelola perusahaan yang baik pada KPC ini menjadi salah satu penyebab
timbulnya masalah dengan investor institusional dalam hal ini pemerintah yaitu terjadi agency
problem antara manajer KPC dengan pemerintah. Seharusnya kepemilikian investor
institusional dapat mengurangi masalah-masalah keagenan melalui intensif-intensif yang
menyelaraskan kepentingan manajemen dengan investor tetapi dalam kasus ini malah menjadi
sebuah masalah mengenai dana CSR yan belum direalisasikan dengan tepat seperti yang
dijanjikan kepada pemerintah dan masyarakat. Kepentingan pemerintah dan masyarakat seolah
diabaikan demi kepentingan pribadi KPC yang menggunakan dana CSR tersebut untuk
kepentingan lain.
Sehingga beberapa hal yang dapat dilakukan oleh PT Kaltim Prima Coal sehubungan
dengan memperbaiki masalah yang terjadi dapat dijabarkan sebagai berikut:

8
a. Perumusan strategi pengalokasian dana CSR yang harus mengikutsertakan masyarakat
dan pemerintah daerah setempat.
b. Proses penjelasan bagaimana sistem penyaluran dana CSR dilakukan pada forum
bersama dan forum yang akhirnya dilaksanakan secara berkala untuk monitoring
pelaksanaan kegiatan yang dicanangkan pada perumusan jangka pendek maupun jangka
panjang alokasi dana CSR.
c. Proses evaluasi dan pertanggungjawaban yang tidak hanya dilakukan melalui media luar
dan berbentuk laporan semata, tetapi juga berbentuk forum yang mengundang
masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut mengevaluasi dan memberikan masukan
terhadap kinerja penggunaan dana CSR selama tahun berjalan.

9
DAFTAR PUSTAKA

http://fekool.blogspot.co.id/2016/05/corporate-governance-corporate-social.html. Diakses pada


30 November 2017

https://fotodeka.wordpress.com/2009/01/07/analisa-csr-pada-pt-kaltim-prima-coal/. Diakses pada


30 November 2017

Kotler, Philip dan Keller, Kevin Lane. 13th ed. 2009. Marketing Management. Pearson
International Edition.

Laporan Pembangunan Berkelanjutan 2007 PT. Kaltim Prima Coal, “Tidak Hanya Menambang”.

Laporan Tahunan corporate social responsibility KPC “Tak Hanya Menambang” tahun 2007 dan
2008.

Suharto, Edi (2007a), Pekerjaan Sosial di Dunia Industri: Memperkuat Tanggungjawab Sosial
Perusahaan (Corporate Social Responsibility), Bandung: Refika Aditama.

Sutojo, Siswanto dan Alridge, E. John. 2008. Good Corporate Governance. Jakarta: Damar Mulia
Pustaka

10