You are on page 1of 20

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA KLIEN DENGAN


DEMENSIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA UNIT
ABIYOSO
YOGYAKARTA

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktek Profesi Ners


Stase Keperawatan Gerontik

Disusun Oleh :

Andi Prayitno
3217012

PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN XII


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA
2017

LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA KLIEN DENGAN DEMENSIA
DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA UNIT ABIYOSO
YOGYAKARTA
Di Susun Oleh :
Andi Prayitno
3217012

Telah disetujui pada


Hari :
Tanggal :

Mahasiswa

( Andi Prayitno )

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

( Anastasia Suci S., MNg ) ( Usi Tety W.,A.md.Kep )

A. TEORI TENTANG LANSIA


1. Definisi dan batasan lansia
Lansia merupakan seseorang individu laki-laki maupun perempuan
yang berumur antara 60-69 tahun (Nugroho, 2008).
Menurut badan kesehatan dunia (WHO) dikutip dari Wahyunita dan
Fitrah (2010) menetapkan 65 tahun sebagai usia seseorang telah disebut
lanjut usia.
Menurut Maryam, dkk (2008), lansia diklasifikasikan menjadi:
a. Pra lansia: seseorang yang berusia 45-59 tahun.
b. Lansia: seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
c. Lansia resiko tinggi: seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/
seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
d. Lansia potensial: lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan
dan/atau kegiatan yang masih dapat menghasilkan barang/ jasa.
e. Lansia tidak potensial: lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain
Menurut WHO dalam Kushariyadi (2010), ada empat tahapan pada
lansia yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age): 45—59 tahun.
b. Lanjut usia (elderly): 60—74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old): 75—90 tahun.
d. Usia sangat tua (very old): usia >90 tahun.
2. Perubahan yang terjadi pada lansia
Menurut Wahyunita dan Fitrah (2010), perubahan yang terjadi pada
lansia antara lain:
1) Perubahan fisik
Menjelang lanjut usia, terjadi perubahan walaupun tidak nampak dari
luar karena terjadi penurunan pada produksi sekret dan proses
spermatogenesisnya. Rasa cemas dan ragu terhadap kemampuan
seksualnya merupakan gejala awal yang muncul umum pada laki-laki
yang akan menyebabkan ketidakidealan hidup laki-laki tersebut. Pada
perempuan seperti menopause sehingga menimbulkan gangguan
psikologis.
2) Perubahan psikologis dan hubungan sosial
Dilihat dari segi kejiwaan, lanjut usia biasanya labil bila mendapat
penolakan, penghinaan atau rasa kasih sayang yang tidak sesuai
dengan keadaannya. Hal inilah yang mendasari lansia untuk tidak
tergantung dengan orang lain melalui usahanya sendiri. Lansia akan
merasa diterima bila keluarganya menerima kekurangannya, lebih
diperhatikan dan dimengerti.
3) Segi agama
Lansia membutuhkan kasih sayang dan penerimaan sosial, tetapi juga
membutuhkan ketenangan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Hal ini menyebabkan bergesernya kebutuhan biologis menjadi
kebutuhan religius.
Menurut Azizah (2011), beberapa perubahan yang terjadi pada lanjut
usia antara lain, adalah:
1) Perubahan fisik
a. Sistem indra
Perubahan sistem penglihatan pada lansia erat kaitannya dengan
presbiopi. Otot penyangga lensa lemah, ketajaman penglihatan dan
daya akomodasi dari jarak jauh atau dekat berkurang, penggunaan
kacamata dan sistem penerangan yang baik dapat digunakan. Pada
sistem pendengaran terjadi hilangnya kemampuan pendengaran
telinga dalam, terutama terhadap bunyi yang tinggi, suara yang
tidak jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas
60 tahun. Sedangkan pada sistem integumen pada lansia
mengalami atrofi, kendur, tidak elastic, kering dan berkerut.
b. Sistem muskuloskletal
Jaringan penghubung (kolagen dan elastin) sebagai pendukung
utama pada kulit, tendon, tulang, kartilago, dan jaringan pengikat
mengalami perubahan menjadi bentangan yang tidak teratur.
Perubahan pada kolagen tersebut merupakan penyebab turunnya
fleksibilitas pada lansia sehingga menimbulkan dampak berupa
nyeri, penurunan kemampuan untuk meningkatkan kekuatan otot,
kesulitan bergerak dari duduk keberdiri, jongkok dan berjalan dan
hambatan melakukan kegiatan sehari-hari.
c. Sistem kardiovaskuler dan respirasi
Massa jantung bertambah, ventrikel kiri mengalami hipertrofi dan
kemampuan peregangan jantung berkurang karena perubahan pada
jaringan ikat dan penumpukan lipofusin. Komsumsi oksigen pada
tingkat maksimal berkurang sehingga kapasitas paru menurun.
Sedangkan pada respirasi terjadi perubahan jaringan ikat paru,
kapasitas total paru tetap, tetapi valome cadangan paru bertambah
untuk mengompensasi kanaikan ruang paru, udara yang mengalir
keparu berkurang. Sistem kardivaskuler mengalami perubahan
seperti arteri yang kehilangan elastisitasnya, hal ini dapat
menyebabkan peningkatan nadi dan tekanan sistolik darah.
d. Pencernaan dan metabolisme
Perubahan pada sistem percernaan, seperti penurunan sebagai
kemunduran fungsi yang nyata. Indera penegecap menurun, adanya
iritasi yang kronis, dari selaput lendir, atropi indera pengecap
(80%), hilangnya sensifitas dari saraf pengecap dilidah terutama
rasa tentang rasa asin, asam, dan pahit. Biasanya timbul konstipasi.
Fungsi absorbsi melemah sehingga daya absorbsi terganggu. Pada
usia lanjut obat-obatan dimetabolisme dalam jumlah yang sedikit.
e. Sistem perkemihan
Banyak fungsi yang mengalami kemunduran, contohnya laju
filtrasi, ekskresi, dan reabsorbsi oleh ginjal. Mereka kehilangan
kemampuan untuk mengekskresikan obat atau produk metabolisme
obat. Pola berkemih tidak normal, seperti banyak berkemih
dimalam hari.

f. Sistem saraf
Susunan saraf mengalami perubahan anatomi dan atrofi yang
progesif pada serabut saraf lansia.Lansia mengalami penurunan
koordinasi dan kemempuan dalam melakukakan aktifitas sehari-
hari. Penuaan menyebabkan penurunan persepsi sensori dan respon
motorik pada susunan saraf pusat dan penurunan reseptor
proprioseptif, perubahan tersebut mengakibatkan penurunan fungsi
kognitif.
g. Sistem reproduksi
Perubahan sistem reproduksi pada lansia ditandai dengan
menciutnya ovari dan uterus, dan terjadi atrofi payudara. Pada laki-
laki masih dapat memproduksi spermatosoa, meskipun adanya
penurunan secara berangsur-angsur. Dorongan seksual menetap
sampai usia 70 tahun (kondisi kesehatan baik). Selaput lendir
vagina menurun permukaannya menjadi halus, sekresi menjadi
berkurang, dan reaksi sifatnya menjadi alkali.
2) Perubahan fungsi kognitif
a. Memory (daya ingat, ingatan)
Pada usia lanjut, daya ingat (memory) merupakan salah satu fungsi
kognitif yang seringkali paling awal mengalami penurunan.
Ingatan jangka panjang (long term memory) kurang mengalami
perubahan,sedangkan ingatan jangka pendek (short term memory)
atau sekita 0-10 menit memburuk. Lansia akan mengalami
kesulitan untuk mengungkapkan kembali cerita atau kejadian yang
tidak begitu menarik perhatiannya dan informasi baru seperti TV
dan film.
b. Kemampuan Belajar
Lanjut usia yang sehat dan tidak mengalami demensia masih
memiliki kemampuan belajar yang baik. Implikasi praktis dalam
pelayanan kesehatan jiwa (mental health), lanjut usia baik yang
bersifat promotif-preventif, kuratif, dan rehabilitatif adalah untuk
memberikan kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar
yang sudah disesuaikan dengan kondisi masing-masing lanjut usia.
c. Kemampuan pemahaman
Kemampuan pemahan atau menangkap pengertian pada lansia
mengalami penurunan yang dipengaruhi oleh konsentrasi dan
fungsi pendengaran lansia mengalami penurunan. Pelayanan
terhadap lanjut usia agar tidak timbul salah paham sebaiknya
dalam berkomunikasi dilakukan kontak mata saling memandang.
Sikap yang hangat dalam berkomunikasi akan menimbulkan rasa
aman dan diterima, sehingga mereka akan lebih senang dan merasa
dihormati.
d. Pemecahan masalah
Banyak hal yang dahulunya dengan mudah dapat dipecahkan
menjadi terhambat karena terjadi penurunan fungsi indera pada
lanjut usia. Hambatan yang lain dapat berasal dari penurunan daya
ingat, pemahaman dan lain-lain, yang berakibat bahwa pemecahan
masalah menjadi lebih lama.
e. Pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan pada usia lanjut sering lambat atau seolah-
olah terjadi penundaan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan
petugas atau pendamping yang dengan sabar sering mengingatkan
mereka.
f. Kinerja
Pada lanjut usia memang akan terlihat penurunan kinerja baik
secara kuantitatif maupun kualitatif. Perubahan performance yang
membutuhkan kecepatan dan waktu mengalami penurunan yang
bersifat wajar sesuai dengan perubahan organ-organ biologis atau
pun perubahan yang bersifat patologi.
3. Penyakit yang umum terjadi pada lansia
Beberapa penyakit yang umum terjadi pada lansia, antara lain
(Stieglitz, 1945 cit Nugroho, 2000):
a. Gangguan sirkulasi darah: hipertensi, kelainan pembuluh darah,
gangguan pembekuan darah di otak, ginjal dan lain-lain.
b. Gangguan metabolism hormonal: diabetes mellitus,
ketidakseimbangan tiroid.
c. Gangguan pada persendian: osteoarthritis, gout arthritis, atau penyakit
kolagen.
Penyakit lanjut usia yang sering muncul di Indonesia, antara lain
rheumatic, osteoporosis, osteoarthritis, hipertensi, kolesterolemia, angina,
cardiac attack, stroke, trigliserida tinggi, anemia, gastritis, ulkus peptikum,
konstipasi, ISK, GGA, GGK, prostat hyperplasia, DM, obesitas, asma, TB
paru, dan karsinoma/kanker (Wahyunita dan Fitrah, 2010).

B. MASALAH KESEHATAN
1. Definisi
Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk
menggambarkan kerusakan fungsi kognitif global yang biasanya bersifat
progresif dan mempengaruhi aktivitas social dan okupasi yang normal
juga aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) (Mickey Stanley, 2006).
Demensia merupakan daya keadaan ketika seseorang mengalami
penurunan daya ingat dan daya piker lain yang secara nyata mengganggu
aktivitas kehidupan sehari-hari (Nugroho, 2008).
Sindrom demensia dapat didefinisikan sebagai deteriorasi kapasitas
intelektual dapat diakibatkan oleh pnyakit di otak. Sindrom ini ditandai
olah gangguan kognitif, emosional, dan psikomotor. (Lumbantobing,
2006). Demensia tipe alzhimer adalah proses degenerative yang terjadi
pertama-tama pada sel yang terletak pada dasar otak depan yang mengirim
informasi ke korteks serebral dan hipokampus. Sel yang terpengaruh
pertama kali kehilangan kemampuannya untuk mengeluarkan asetilkolin
lalu terjadi degenerasi. Jika degenerasi ini mulai berlangsung, dewasa ini
tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk menghidupkan kembali sel-
sel atau menggantikannya (Kushariyadi, 2010).
2. Etiologi
Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat
menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima.
Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak
dapat disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins, P.V. 2006).
Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab
utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, penyakit vascular
(pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan
sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain.
Tiap penyakit yang melibatkan otak dapat menyebabkan demensia,
misalnya : gangguan peredaran darah di otak, radang, neoplasma,
gangguan metabolic, penyakit degenerative. Semua hal ini harus ditelusuri.
Gejala atau kelainan yang menyertai demensia kita teliti. Sering diagnose
etiologi dapat ditegakkan melalui atau dengan bantuan kelainan yang
menyertai, seperti : hemiparese, gangguan sensibilitas, afasia, apraksia,
rigiditas, tremor. (Lumbantobing, 2006) Lima puluh sampai enam puluh
persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah
kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari
otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C.
2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan
membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.
1. Demensia Tipe Alzheimer
Dari semua pasien dengan demensia, 50 – 60 % memiliki demensia
tipe ini. Orang yang pertama kali mendefinisikan penyakit ini adalah
Alois Alzheimer sekitar tahun 1910. Demensia ini ditandai dengan
gejala :
a. Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif,
b. Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afasia, apraksia,
agnosia, gangguan fungsi eksekutif,
c. Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru,
d. Perubahan kepribadian (depresi, obsesitive, kecurigaan),
e. Kehilangan inisiatif.
Demensia pada penyakit Alzheimer belum diketahui secara pasti
penyebabnya, walaupun pemeriksaan neuropatologi dan biokimiawi post
mortem telah ditemukan lose selective neuron kolinergik yang strukturnya
dan bentuk fungsinya juga terjadi perubahan.
2. Demensia Vaskuler
Penyakit ini disebabkan adanya defisit kognitif yang sama dengan
Alzheimer tetapi terdapat gejala-gejala/tanda-tanda neurologis fokal
seperti:
a. Peningkatan reflek tendon dalam,
b. Respontar eksensor,
c. Palsi pseudobulbar,
d. Kelainan gaya berjalan,
e. Kelemahan anggota gerak.
Demensia vaskuler merupakan demensia kedua yang paling sering
pada lansia, sehingga perlu dibedakan dengan demensi Alzheimer.
Pencegahan pada demensia ini dapat dilakukan dengan menurunkan faktor
resiko misalnya ; hipertensi, DM, merokok, aritmia. Demensia dapat
ditegakkan juga dengan MRI dan aliran darah sentral.
Pedoman diagnostik penyakit demensia vaskuler :
a. Terdapat gejala demensia
b. Hendaya fungsi kognitif biasanya tidak merata
c. Onset mendadak dengan adanya gejala neurologis fokal
3. Tanda dan Gejala
Secara umum tanda dan gejala demensia adalah sebagai berikut:
1. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia,
“lupa” menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu,
bulan, tahun, tempat penderita demensia berada
3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang
benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi,
mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali
4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat
sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang
dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan.
Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan
tersebut muncul.
5. Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan
gelisah
6. Patofisiologi Dimensia
Demensia cukup sering dijumpai dalam lansia. Gangguan demensia
dimanifestasikan dengan defisit kognitif multipel seperti gangguan memori, afasia
( kehilangan kemampuan berbicara, kemampuan menulis atau pemahaman bahasa
akibat penyakit pada otak ). Gangguan memori mungkin pertama kali disadari ketika
kehilangan atau salah menempatkan barang-barang pribadi. Jika gangguan memori
memburuk, seseorang dapat melupakan namanya sendiri, hari ulang tahun, atau
nama-nama anggota keluarganya. Kemampuan dalam memahami pembicaraan atau
bahasa tertulis menjadi menurun. Pada demensia tahap lanjut, individu dapat menjadi
bisu atau membentuk pola pembicaraan, kesulitan dalam melaksanakan aktivitas
motorik. ( Lumbantobing, 2001).
Demensia ada beberapa macam diantaranya demensia Alzheimer dan
demensia multi infark. Pada demensia Alzheimer terdapat penurunan neurotransmiter
tertentu terutema acetilkolin. Area otak yang terkena adalah korteks cerebral dan
hipotalamus, keduanya merupakan bagian penting dalam fungsi kognitif dan memori.
Acetilkolin dan neurotransmiter merupakan zat kimia yang diperlukan untuk
mengirim pesan melalui sistem saraf. Defisit neurotransmiter menyebabkan
pemecahan proses komunikasi yang kompleks diantara sel-sel pada sistem saraf.
Sedangkan demensia multi infark terjadi pada pasien yang menderita penyakit
cerebrovaskuler ( Standley, 2006).
Gangguan fungsi luhur terlihat dalam bentuk kehilangan kemampuan untuk
berpikir abstrak. Terdapat ketidakmampuan dalam merencanakan, mengurutkan, dan
menghentikanperilaku yang kompleks. Individu demensia mengalami disorientasi
tempat, waktu, dan orang atau menunjukkan penurunan daya nilai dan keterbatasan
atau sama sekali tidak memiliki pemahaman sehingga dapat terjadi perubahan proses
pikir.
Pasien demensia seringkali terdapat gangguan berjalan yang menyebabkan
klien terjatuh. Dan hal ini dapat memunculkan masalah resiko trauma atau cedera.
Beberapa orang menunjukkan cemas, depresi, atau mengalami gangguan tidur.
Individu yang mengalami demensia sangat rentan terhadap stresor fisik dan stresor
psikososial yang memperburuk defisit kognitif serta masalah-masalah lain.
7. Pencegahan dan Perawatan
Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia
diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa
mengoptimalkan fungsi otak, seperti:
a. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti
alkohol dan zat adiktif yang berlebihan
b. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya
dilakukan setiap hari.
c. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif
dan mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap
relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap
sehat.
d. Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
e. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang
memiliki persamaan minat atau hobi.
8. PROSES KEPERAWATAN
a. Pengkajian
Tanda dan Gejala yang ditemukan pada saat melakukan pengkajian
pada pasien dengan demensia adalah sebagai berikut:
1) Kesukaran dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari
2) Pelupa

3) Sering mengulang kata-kata

4) Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan

5) Cepat marah dan sulit di atur.


6) Kehilangan daya ingat

7) Kesulitan belajar dan mengingat informasi baru

8) Kurang konsentrasi

9) Kurang kebersihan diri

10) Rentan terhadap kecelakaan: jatuh

11) Tremor
12) Kurang koordinasi gerakan.
b. Diagnosa keperawatan
1. Kerusakan memori berhubungan dengan neorologis
2. Resiko jatuh berhubungan dengan lingkungan
3. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada sensori
ditandai dengan keluhan verbal tentang kesulitan tidur, terus-menerus
terjaga, tidak mampu menentukan kebutuhan/ waktu tidur.
4. Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif,
frustasi atas kehilangan kemandiriannya ditandai dengan penurunan
kemampuan melakukan perawatan diri.
5. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan persepsi
ditandai dengan disorientasi tempat, orang dan waktu.
6. Risiko terhadap cedera berhubungan dengan kesulitan keseimbangan,
kelemahan, otot tidak terkoordinasi, aktivitas kejang.
3. Perencanaan

Diagnosa
No Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
keperawatan
1 Kerusakan memori NOC : Memori NIC : Pressure Management
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Diskusikan dengan keluarga beberapa masalah memori
neorologis 3x24jam diharapkan klien menunjukan orientasi yang dialami
kognitif ditandai dengan: 2. Rangsang daya ingat dengan mengulang pengungkapan
- Secara akurat menginggat informasi terkini,
pikiran pasien
saat ini, dan lampau
3. Kenang kembali pengalaman masa lalu
- Menyatakan dapat menginggat lebih baik
- Mengenal diri sendiri 4. Berikan pelatihan orientasi
- Mengenal orang atau hal-hal penting
5. Beri kesempatan untuk berkonsentrasi
- Mengenal tempatnya sekarang
6. Berikan gambaran pengginggat
7. Monitor prilaku selama terapiStimulasimemory dengan
mengulangi pembicaraan secara jelas diakhir pertemuan
dengan klien
2 Resiko jatuh NOC: Pengendalian resiko NIC : Pressure Management
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1. Diskusikan dengan keluarga beberapa masalah memori
3x24 jam pertemuan, klien dapat mengendalikan yang dialami
resiko dengan kriterian hasil 2. Rangsang daya ingat dengan mengulang pengungkapan
- Menghindari jatuh dan terpeleset di lantai
pikiran pasien
- Menggunakan tongkat bila perlu
- Menjauhkan bahaya yang dapat 3. Kenang kembali pengalaman masa lalu
menyebabkan jatuh 4. Berikan pelatihan orientasi
- Memakai alas kaki yang tidak longar dan
5. Beri kesempatan untuk berkonsentrasi
licin
6. Berikan gambaran pengginggat
- Mengatur tinggi tempat tidur
- Menggunakan alat bantu penglihatan 7. Monitor prilaku selama terapi
8. Stimulasimemory dengan mengulangi pembicaraan secara
jelas diakhir pertemuan dengan klien
3 Perubahan pola tidur Setelah dilakukan tindakan keperawatanNIC: Menejemen lingkungan
berhubungan dengan diharapkan tidak terjadi gangguan pola tidur 1. Orientasikan kembali pasien terhadap realita
perubahan lingkungan pada klien dengan KH : 2. Ciptakan lingkungan yang aman bagi pasien
ditandai dengan - Memahami factor penyebab gangguan pola 3. Identifikasi kebutuhan rasa aman bagi klien berdasarkan
keluhan verbal tidur tingkat fungsi fisik dan kognitif klien
tentang kesulitan - Mampu menentukan penyebab tidur 4. Jauhkan lingkungan yang mengancam
tidur, terus-menerus inadekuat 5. Jauhkan objek yang berbahaya dari lingkungan
terjaga, tidak mampu - Mampu memahami rencana khusus untuk 6. Berikan side rail di tempat tidur
menentukan menangani/mengoreksi penyebab tidur tidak 7. Periksa apakah pasien menggunakan pakaian yg ketat
kebutuhan/ waktu adekuat 8. Jauhkan pasien dari jangkauan tempat yang licin
tidur. - Mampu menciptakan pola tidur yang 9. Bantu klien beraktivitas jika diperlukan
adekuat dengan penurunan terhadap pikiran
yang melayang-layang (melamun)
- - Tampak atau melaporkan dapat beristirahat
yang cukup
4 Kurang perawatan diri Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24  Identifikasi kesulitan dalam berpakaian/ perawatan diri,
berhubungan dengan jam diharapkan klien dapat merawat dirinya seperti: keterbatasan gerak fisik, apatis/ depresi,
intoleransi aktivitas, sesuai dengan kemampuannya dengan KH : penurunan kognitif seperti apraksia.
menurunnya daya - Mampu melakukan aktivitas perawatan diri  Identifikasi kebutuhan kebersihan diri dan berikan
tahan dan kekuatan sesuai dengan tingkat kemampuan. bantuan sesuai kebutuhan dengan perawatan
ditandai dengan - Mampu mengidentifikasi dan menggunakan rambut/kuku/ kulit, bersihkan kaca mata, dan gosok
penurunan sumber pribadi/ komunitas yang dapat gigi.
kemampuan memberikan bantuan.  Perhatikan adanya tanda-tanda nonverbal yang
melakukan aktivitas fisiologis.
sehari-hari.  d. Beri banyak waktu untuk melakukan tugas.
 Bantu mengenakan pakaian yang rapi dan indah.

5. Hambatan komunikasiSetelah diberikan asuhan keperawatan 3x 24 jam,  Kaji kemampuan klien untuk berkomunikasi.
verbal berhubungandiharapkan klien tidak mengalami hambatan  Letakkan bel/lampu panggilan di tempat mudah
dengan perubahankomunikasi verbal dengan kriteria hasil : dijangkau dan berikan penjelasan cara
persepsi ditandai- Membuat teknik/metode komunikasi yang menggunakannya. Jawab panggilan tersebut dengan
dengan disorientasidapat dimengerti sesuai kebutuhan dan segera. Penuhi kebutuhan klien. Katakan kepada klien
tempat, orang danmeningkatkan kemampuan berkomunikasi bahwa perawat siap membantu jika dibutuhkan.
waktu.  Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa.

6. Risiko terhadap cedera Setelah dilakukan tindakan keperawatan  Kaji derajat gngguan kemampuan,tingkah laku
berhubungan dengan diharapkan Risiko cedera tidak terjadi dengan impulsive dan penurunan persepsi visual. Bantu
kesulitan KH : keluarga mengidentifikasi risiko terjadinya bahaya yang
keseimbangan, - Meningkatkan tingkat aktivitas mungkin timbul
kelemahan, otot tidak - Dapat beradaptasi dengan lingkungan untuk  Hilangkan sumber bahaya lingkungan
terkoordinasi, aktivitas mengurangi risiko trauma/cedera  Alihkan perhatian saat perilaku teragitasi
kejang. - Tidak mengalami trauma/cedera  Gunakan pakaian sesuai dengan lingkungan
- Keluarga mengenali potensial di lingkungan fisik/kebutuhan klien
dan mengidentifikasi tahap-tahap untuk  Kaji efek samping obat, tanda keracunan (tanda
memperbaikinya ekstrapiramidal,hipotensi ortostatik,gangguan
penglihatan, gangguan gastrointestinal)
 Hindari penggunaan restrain terus-menerus. Berikan
kesempatan keluarga tinggal bersama klien selama
periode agitasi akut
9. Evaluasi

a. Mampu memperlihatkan kemampuan kognitif untuk menjalani


konsekuensi.
b. Perubahan persepsi sensori tidak terjadi atau terkontrol.
c. Mampu beradaptasi pada perubahan lingkungan dan aktivitas.
d. Perubahan pola tidur tidak terjadi atau terkontrol.
e. Perawatan diri dapat terpenuhi.
f. Klien menyatakan penerimaan diri terhadap situasi
g. Teknik/metode klien komunikasi yang dapat dimengerti sesuai
kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi
h. Nutrisi klien seimbang
i. Risiko cedera tidak terjadi.
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, S. (2011). Keperawatan Lanjut Usia.Ed 1.Yogyakarta: Graha Ilmu.

Carpenito, L. (2008). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10.Jakarta: EGC.

Bimoariotejo. (2009). Keperawatan Usia Lanjut. Yogyakarta : EGC.

Ester M. (2010) .Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi NANDA 2009-


2011.Jakarta : EGC.

Kushariyadi. (2010). Askep pada Klien Lanjut Usia. Jakarta: Salemba Medika

Lumbantobing. (2006). Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Demensia. Jakarta:


FKUI

Lynda, J. (2008). Diagnosa Keperawatan.Jakarta : EGC.

Maryam, S., dkk (2008). Mengenal Usia Lanjut Dan Perawatannya. Jakarta:
Salemba Medika.
Nugroho,W. (2008). Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran. Jakarta:
EGC

North American Nursing Diagnosis Association., (2012). Nursing Diagnoses :


Definition & Classification 2012-2014. Philadelphia.

Stanley,M. (2006). Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. Jakarta: EGC

Hutapea, R. (2010). Sehat dan Ceria Diusia Senja.Jakarta: PT Rhineka Cipta

Pusva. (2009). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC.

Wahyunita, V dan Fitrah. (2010). Memahami Kesehatan Pada Lansia. CV Trans


Jakarta: Info Media