You are on page 1of 18

A.

DEFINISI TONSILITIS

Tonsil merupakan kumpulan besar jaringan limfoid di belakang faring yang memiliki
keaktifan munologik (Ganong, 1998). Tonsil berfungsi mencegah agar infeksi tidak
menyebar ke seluruh tubuh dengan cara menahan kuman memasuki tubuh melalui mulut,
hidung dan tenggorokan, oleh karena itu, tidak jarang tonsil mengalami peradangan.
Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A
Streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh
infeksi virus (Hembing, 2004).
Tonsilitis adalah suatu peradangan pada hasil tonsil (amandel), yang sangat sering
ditemukan, terutama pada anak-anak (Sriyono, 2006).
Tonsilitis adalah infeksi atau peradangan pada tonsil. Tonsilitis akut merupakan inveksi
tonsil yang sifatnya akut, sedangkan tonsillitis kronik merupakan tonsillitis yang terjadi
berulang kali (Sjamsuhidayat & Jong, 1997).
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Tonsilitis adalah suatu
peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok Streptococcus beta
hemolitik, Streptococcus viridons dan Streptococcus pyrogenes namun disebabkan juga oleh
bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus. Tonsilitis biasanya sering dialami anak-anak yang
disertai demam dan nyeri pada tenggorokan.
B. KLASIFIKASI TONSILITIS

1. Tonsilitis Akut
Tonsilitis Akut disebabkan oleh streptococcus pada hemoliticus, streptococcus viridians, dan
streptococcus pyogene, dapat juga disebabkan oleh virus.
2. Tonsilitis Falikularis
Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat diliputi bercak putih yang
mengisi kipti tonsil yang disebut detritus. Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang terlepas
akibat peradangan dan sisa-sisa makanan yang tersangkut.
3. Tonsilitis Lakunaris
Bercak yang berdekatan bersatu dan mengisi lacuna (lekuk-lekuk) permukaan tonsil.
4. Tonsilitis Membranosa (Septis Sore Throat)
Eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak tersebut menyerupai membran.
Membran ini biasanya mudah diangkat atau dibuang dan berwarna putih kekuning-kuningan.
5. Tonsilitis Kronik
Tonsilitis yang berluang, faktor predisposisi : rangsangan kronik (rokok, makanan) pengaruh
cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat dan hygiene mulut yang buruk.

C. ETIOLOGI TONSILITIS
Tonsilitis disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus beta hemolyticus,
Streptococcuc, viridans dan Streptococcuc pyrogen sebagai penyebab terbanyak, selain itu
dapat juga disesbabkan oleh Corybacterium diphteriae, namun dapat juga disebabkan oleh
virus (Mansyjoer, 2001).

D. MANIFESTASI KLINIS TONSILITIS


Pasien mengeluh ada penghalang di tenggorokan, terasa kering dan pernafasan
berbau, rasa sakit terus menerus pada kerongkongan dan sakit waktu menelan. Pada
pemeriksaan, terdapat 2 macam gambaran tonsil yang mungkin tampak:
1. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke jaringan
sekitar, kripte yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau seperti keju.
2. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang seperti terpendam
di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripte yang melebar dan ditutupi
eksudat yang purulen.
Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak
antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil,
maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi:
a. T0 : Tonsil masuk di dalam fossa
b. T1 : <25 % volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
c. T2 : 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
d. T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
e. T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
Manifestasi Klinis Menurut Smeltzer (2001)
1. Sistem Gastointestinal
a. Nyeri pada tenggorokan, adanya virus dan bakteri
b. Nyeri saat menelan, adanya pembengkakan pada tonsil
c. Anoreksia : mual dan muntah
d. Mulut berbau
e. Bibir kering
f. Nafsu makan berkurang
2. Sistem Pernafasan
a. Sesak nafas karena adanya pembesaran pada tonsil
b. Faring hiperimisis : terdapat detritus
c. Pernafasn bising.
d. Edema faring
e. Batuk
3. Sistem Imun
a. Pembengkakan kelenjar limpah leher
b. Pembesaran tonsil
c. Tonsil Hiperemia
d. Demam atau peningkatan seluruh tubuh
4. Sistem Muskuloskeletal
a. Kelemahan pada otot
b. Letargi
c. Nyeri pada otot
d. Malaise

E. PATOFISIOLOGI TONSILITIS
Tonsilitis menurut Nurbaiti (2001) terjadi karena bakteri dan virus masuk ke dalam
tubuh melalui saluran nafas bagian atas akan menyebabkan infeksi pada hidung atau faring
kemudian menyebar melalui sistem limpa ke tonsil. Adanya bakteri virus patogen pada tonsil
menyebabkan terjadinya proses inflamasi dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat
menghambat keluar masuknya udara. Infeksi juga dapat mengakibatkan kemerahan dan
edema pada faring serta ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga
menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan, nyeri menelan, demam tinggi, bau mulut serta
otalgia yaitu nyeri yang menjalar ke telinga.
Tonsilitis akan berdampak terhadap sistem tubuh lainnya dan kebutuhan dasar manusia
(Nurbaiti, 2001) meliputi :
1. Sistem Gastrointestinal
Klien sering merasa mual dan muntah, nyeri pada tenggorokan sulit untuk menelan sehingga
klien susah untuk makan dan sulit untuk tidur.
2. Sistem Pulmoner
Klien sering mengalami sesak nafas karena adanya pembengkakan pada tonsil dan faring,
klien sering batuk.
3. Sistem Imun
Tonsil terlihat bengkak dan kemerahan, daya tahan tubuh klien menurun, klien mudah
terserang demam.
4. Sistem Muskuloskeletal
Klien mengalami kelemahan pada otot, otot terasa nyeri keterbatasan gerak, klien susah untuk
melakukan aktivitas sehari-hari.
5. Sistem Endokrin
Adanya pembengkakan kelenjar getah bening, adanya pembesaran kelenjar tiroid.

F. DIAGNOSIS TONSILITIS
1. Anamnesa
Anamnesa ini merupakan hal yang sangat penting, karena hampir 50 % diagnosa
dapat ditegakkan dari anamnesa saja. Penderita sering datang dengan keluhan rasa sakit
pada tenggorok yang terus menerus, sakit waktu menelan, nafas bau busuk, malaise,
sakit pada sendi, kadang kadang ada demam dan nyeri pada leher.
2. Pemeriksaan Fisik
Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian
kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kripta-kripta
tersebut. Pada beberapa kasus, kripta membesar, dan suatu bahan seperti keju/dempul
amat banyak terlihat pada kripta. Gambaran klinis yang lain yang sering adalah dari tonsil
yang kecil, biasanya membuat lekukan dan seringkali dianggap sebagai “kuburan”
dimana tepinya hiperemis dan sejumlah kecil sekret purulen yang tipis terlihat pada kripta.
3. Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil. Biakan
swab sering menghasilkan beberapa macam kuman dengan derajat keganasan yang
rendah, seperti Streptokokus hemolitikus, Streptokokus viridans, Stafilokokus,
Pneumokokus.

H. KOMPLIKASI TONSILITIS
1. Komplikasi sekitar tonsil
a. Peritonsilitis
Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus dan abses.
b. Abses Peritonsilar (Quinsy)
Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi berasal dari
penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil dan penjalaran
dari infeksi gigi.
c. Abses Parafaringeal
Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening/pembuluh
darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus paranasal, adenoid, kelenjar limfe
faringeal, mastoid dan os petrosus.

d. Abses retrofaring
Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi pada anak usia
3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfe.
e. Krista Tonsil
Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan fibrosa dan ini
menimbulkan krista berupa tonjolan pada tonsil berwarna putih/berupa cekungan, biasanya
kecil dan multipel.
f. Tonsilolith (kalkulus dari tonsil)
Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan tonsil
membentuk bahan keras seperti kapur.
2. Komplikasi ke organ jauh
a. Demam rematik dan penyakit jantung rematik
b. Glomerulonefritis
c. Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis
d. Psoriasis, eritema multiforme, kronik urtikaria danpurpura
e. Artritis dan fibrositis

I. PENATALAKSANAAN TONSILITIS
Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil.
Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana penatalaksanaan medis atau yang
konservatif gagal untuk meringankan gejala-gejala. Penatalaksanaan medis termasuk
pemberian penisilin yang lama, irigasi tenggorokan sehari-hari dan usaha untuk
membersihkan kripta tonsillaris dengan alat irigasi gigi/oral. Ukuran jaringan tonsil
tidak mempunyai hubungan dengan infeksi kronis/berulang tonsilektomi merupakan suatu
prosedur pembedahan yang diusulkan oleh Celsus dalam De Medicina(10 Masehi), tindakan
ini juga merupakan tindakan pembedahan yang pertama kali didokumentasikan oleh
Lague dari Rheims (1757).

Indikasi untuk dilakukan tonsilektomi yaitu


1. Obstruksi:
a. Hiperplasia tonsil dengan obstruksi.
b. Sleep apnea atau gangguan tidur.
c. Kegagalan untuk bernafas.
d. Corpulmonale.
e. Gangguan menelan.
f. Gangguan bicara.
g. Kelainan orofacial / dental yang menyebabkan jalan nafas sempit.
2. Infeksi
a. Tonsilitis kronika / sering berulang.
b. Tonsilitis dengan :
1) Absces peritonsilar.
2) Absces kelenjar limfe leher.
3) Obstruksi Akut jalan nafas.
4) Penyakit gangguan klep jantung.
c. Tonsilitis yang persisten dengan : Sakit tenggorok yang persisten.
d. Tonsilolithiasis Carrier Streptococcus yang tidak respon terhadap terapi.
e. Otitis Media Kronika yang berulang.
3. Neoplasia atau suspek neoplasia benigna / maligna.
Indikasi tonsilektomi secara garis besar terbagi 2,yaitu :
1. Indikasi absolut
a. Tonsilitis akut/kronis berulang-ulang
b. Abses peritonsillar
c. Karier Difter
d. Hipertrofi tonsil yang menutup jalan nafas dan jalan makanan
e. Biopsi untuk menentukan kemungkinan keganasan
f. Cor Pulmonale
2. Indikasi relatif
a. Rinitis berulang-ulang
b. Ngorok (snoring) dan bernafas melalui mulut
c. Cervical adenopathy
d. Adenitis TBC
e. Penyakit-penyakit sistemik karena Streptokokus β hemolitikus: demam rematik.
Penyakit jantung rematik, nefritis, dll.
f. Radang saluran nafas atas berulang-ulang
g. Pertumbuhan badan kurang baik
h. Tonsil besar
i. Sakit tenggorokan berulang-ulang
j. Sakit telinga berulang-ulang

J. ASUHAN KEPERAWATAN TONSILITIS


Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek
keperawatan, proses keperawatan terdiri dari lima tahun yang sequensial dan berhubungan
yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Nursalam, 2001).
Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival pasien dan dalam aspek-
aspek pemeliharaan, rehabilitas, dan preventif perawatan kesehatan (Doenges, 2000).
1. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang
sistematis dalam mengumpulkan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001).
Pengkajian dalam sistem imun meliputi riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan
prosedur diagnostik yang merupakan data yang menunjang keadaan klinis dari pasien.
a. Identitas klien yang terdiri dari nama, umur, suku/bangsa, status perkawinan, agama,
pendidikan, alamat, nomor register, tanggal datang ke rumah sakit.
b. Riwayat kesehatan yang terdiri dari :
1) Keluhan utama adalah keluhan atau gejala apa yang menyebabkan pasien berobat atau
keluhan atau gejala saat awal dilakukan pengkajian pertama kali yang utama. Keluhan utama
klien tonsilitis biasanya nyeri pada tenggorokan dan pada saat menelan disertai demam.
2) Riwayat kesehatan sekarang adalah faktor yang melatarbelakangi atau mempengaruhi dan
mendahuli keluhan, bagaimana sifat terjadinya gejala (mendadak, perlahan-lahan, terus
menerus atau berupa serangan, hilang dan timbul atau berhubungan dengan waktu), lokalisasi
gejalanya dimana dan sifatnya bagaimana (menjalar, menyebar, berpindah-pindah atau
menetap). Bagaimana berat ringannya keluhan berkurang, lamanya keluhan berlangsung atau
mulai kapan serta upaya yang telah dilakukan apa saja.
3) Riwayat kesehatan masa lalu dapat ditanyakan seperti riwayat pemakaian jenis obat,
jumlah dosis dan pemakaiannya, riwayat atau pengalaman masa lalu tentang kesehatan atau
penyakit yang pernah dialami atau riwayat masuk rumah sakit atau riwayat kecelakaan.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Adakan keluarga yang menderita penyakit tonsilitis.
Penyakit kronik yang lain seperti diabetes melitus, batu ginjal, kardiovaskuler, hipertensi,
kelainan bawaan.

5) Status Sosial
Status sosial ekonomi atau mempengaruhi tingkat pendidikan, sedangkan tingkat pendidikan
akan mempengaruhi tingkat pengetahuan klien dan hal ini akan berpengaruh pada pola hidup
dan kebiasaan sehari-hari yang akan mencerminkan tingkat kesehatan klien.

6) Penampilan Umum
Kulit pucat kering.
Lemah
Tanda-tanda vital : pola pernafasan dan suhu tubuh meningkat.
Tingkat kesadaran : composmetis, somnolen, sofor, koma, delirium
Konsentrasi : mampu berkonsentrasi atau tidak.
Kemampuan bicara : mampu bicara atau tidak.
Gaya jalan : seimbang atau tidak
Koordinasi anggota gerak : mampu menggerakan anggota tubuh atau tidak.
c. Pola Fungsi Kesehatan
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan adanya tanda dan gejala yang menyebabkan
klien mencari pertolongan kesehatan seperti : nyeri pada tenggorokan, susah untuk menelan,
peningkatan suhu tubuh, kelemahan hebat, kehilangan perhatian pada lingkungan.
2) Riwayat penyakit tonsilitis akut atau kronik, menjalani tonsilektomi.
3) Pola nutrisi dan metabolik.
Anoreksia, mual, muntah, BB menurun karena intake kurang, nyeri untuk menelan, nafas
berbau, membran mukosa kering.
4) Pola eliminasi Warna urin kunin pekat, ureum meningkat.
5) Pola aktivitas dan latihan Kelelahan (fatique), kelemahan.
6) Pola tidur dan istirahat Gelisah tidur sering terganggu karena nyeri pada tenggorokan.
7) Pola persepsi sensor dan kognitif
Kurangnya pendengaran perhatian berkurang atau menyempit, kemampuan berfikir abstrak
menurun, kehilangan perhatian untuk lingkungan, sakit kepala.

8) Pola persepsi diri dan konsep diri.


Penurunan harga diri, perubahan konsep diri dan body image, menurunnya harga diri,
menurunnya tingkat kemandirian dan perawatan diri.
9) Pola peran dan hubungan sesama
Tidak dapat menjalankan sekolah, penurunan kontak sosial dan aktivitas.
10) Pola koping dan toleransi terhadap stress. Ketidak efektifan koping individu dan
keluarga, mekanisme pertahanan diri : denial proyeksi, rasionalisasi, displasmen
d. Pola nilai dan kepercayaan.
Kehilangan kepercayaan kepada pemberi pelayanan kesehatan.
1) Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum ini dapat meliputi kesan keadaan sakit termasuk ekspresi wajah dan posisi
pasien, kesadaran (GCS / Gaslow Coma Scale), yang dapat meliputi penilaian secara kualitas
seperti composmentis, apatis, somnolen, sofor, koma, delirium, dan status gizinya.
2) Pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi nadi, tekanan darah, pola pernafasan dan suhu
tubuh. Biasanya klien tonsilitis mengalami kesulitan bernafas karena ada pembesaran pada
tonsil dan mengalami peningkatan suhu tubuh
3) Pemeriksaan kulit, rambut dan kelenjar getah bening.
a) Kulit meliputi warna (meliputi pigmentasi, sianosis, ikterik, pucat, eritema), turgor,
kelembaban kulit dan atau ada tidaknya edema.
b) Rambut meliputi dapat dinilai dari warna, kelebatan, distribusi dan karakteristik.
c) Kelenjar getah bening meliputi dapat dinilai dari bentuknya serta tanda-tanda radang
yang dapat dinilai di daerah servikal anterior, inguinal oksiptil, dan retroavrikuler.
4) Pemeriksaan kepala dan leher
a) Kepala meliputi dapat dinilai bentuk dan ukuran kepala, ubun-ubun, wajahnya asimetris
atau ada tidaknya pembengkakan, mata dilihat dari visus palpebra, mata merah, alis, bulu
mata, konjungtiva, anemis karena Hb nya menurun, skelera, kornea, pupil, lensa. Pada bagian
telinga dapat dinilai pada daun telinga, lubang telinga, membran timpani, mastoid, ketajaman
pendengaran hidung dan mulut ada tidaknya stismus.
b) Leher meliputi kuku kuduk, ada tidaknya masa di leher, dengan ditentukan ukuran,
bentuk, posisi, konsistensi, dan ada tidaknya nyeri tekan.
5) Pemeriksaan dada meliputi organ paru dan jantung, secara umum bentuk dada,
keadaan paru yang meliputi simetris atau tidaknya, pergerakan nafas, ada tidaknya femitus
suara, krepitasi serta dapat dilihat batas ada saat perkuasi didapatkan (bunyi perkusinya
bagaimana apakah hipersenosor atau timpani). Pada pemeriksaan jantung dapat diperiksa
tentang denyut apeks atau dikenal dengan siklus kordis dan aktivitas artikel, getaran bsising,
bunyi jantung.
6) Pemeriksaan abdomen meliputi bentuk perut, dinding perut, bising usus, adanya
ketegangan dinding perut atau adanya nyeri tekan serta dilakukan palpasi pada organ hati,
limfa, ginjal, kandung kemih, yang ditentukan ada tidaknya nyeri pada pembesaran pada
organ tersebut, kemudian pada daerah anus, rectum, serta genitalia.
7) Pemeriksaan anggota gerak dan neurologi meliputi adanya rentang gerak
keseimbangan dan gaya berjalan, genggaman tangan, otot kaki dan lainnya.

e. Prosedur Diagnostik
Prosedur Diagnostik menurut Doenges (2000) prosedur diagnostik untuk tonsilitis adalah :
1) Tes Laboratorium
Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang ada dalam tubuh
pasien merupkan akteri gru A, karena grup ini disertai dengan demam reumatik,
glomerulnefritis.
2) Pemeriksaan Penunjang
Kultur dan uji resistensi bila diperlukan.
3) Terapi

Menggunakan antibiotic spectrum lebar dan sulfonamide, antipiretik, dan obat kumur yang
mengandung desinfektan.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN TONSILITIS
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status
kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara
akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga
status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Nursalam, 2006).
Diagnosa keperawatan menurut (Doenges, 2000), pada pasien tonsilitis adalah :
a. Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan tonsil.
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan: mual,
anoreksia, letargi.
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual,
muntah.
d. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme penyakit.
e. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai penyakit, prognosis
dan kebutuhan pengobatan.
f. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses infeksi atau imflamasi: rasa sakit
pada jaringan tonsil
3. INTERVENSI KEPERAWATAN TONSILITIS
Perencanaan keperawatan adalah deskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan oleh
pasien dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. Tindakan/perencanaan
keperawatan dipilih untuk membantu pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan dan
tujuan pemulangan (Doenges, 2000).
Perencanaan keperawatan menurut Doenges (2000) pasein tonsilitis adalah:
a. Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan tonsil
Tujuan : Dapat hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
1) Mengenal faktor penyebab
2) Mengenali serangan nyeri
3) Tindakan pertolongan non analgetik
4) Mengenali gejala nyeri
5) Menunjukan posisi/ekspresi wajah rileks
Intervensi Rasional
1) Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 1-10), frekuensi dan waktu.
Menandai non verbal, misal: gelisah, takikardi, meringis.
2) Mengindikasi kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda perkembangan/resolusi
komplikasi
3) Dorong pengungkapan perasaan - Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut, sehingga
mengurangi persepsi akan intensitas rasa takut
4) Berikan aktivitas hiburan, misal: membaca, nonton TV, bermain handphone
5) Meningkatkan kembali perhatian kemampuan untuk menanggulangi
6) Lakukan tindakan paliatif, misal: pengubahan posisi, masase - Meningkatkan
relaksasi/menurun ketegangannya
7) Instruksikan pasien untuk menggunakan visualisasi/ bimbingan imajinasi, relaksasi
progresif, teknik nafas dalam - Meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat. Dapat
menurunkan narkotik analgesic (depresan SSN) dimana telah terjadi proses degeneratif neuro
/motor. Mungkin tidak berhasil jika muncul demensia, meskipun minor
8) Berikan analgesik/antipiretik. Gunakan ADP (analgesik yang dikontrol pasien) untuk
memberikan analgesik 24 jam dengan dosis prn - Memberikan penutunan nyeri atau tidak
nyaman: mengurangi demam. Obat yang dikontrol pasien atau berdasarkan waktu 24 jam
mempertahankan kadar analgesia darah tetap stabil. Mencegah kekurangan ataupun kelebihan
obat-obatan
b. Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan: mual,
anoreksia, letargi
Tujuan : Tidak terjadinya dehidrasi
Kriteria hasil :
1) Mempertahankan dehidrasi
2) Membran mukosa lembab
3) Turgor kulit baik, tanda-tanda vital stabil
Intervensi Rasional
1) Catat peningkatan suhu dan durasi demam. Berikan kompres hangat sesuai indikasi.
Pertahankan pakaian tetap kering. Pertahankan kenyamanan suhu lingkungan - Meningkatkan
kebutuhan metabo-lisme dan diaforesis yang berlebihan yang dihubungkan dengan demam
dalam meningkatkan kehilangan cairan tak kasat mata
2) Kaji turgor kulit, membrane mukosa dan rasa haus - Indikator tidak langsung dan status
cairan
3) Timbang berat badan sesuai indikasi - Meskipun kehilangan berat badan dapat
menunjukkan penggunaan otot, fluktuasi tiba-tiba menunjukkan status hidrasi. Kehilangan
cairan berkenaan dengan diare dapat dengan cepat menyebabkan krisis dan mengancam
hidup.
4) Pantau pemasukan oral dan memasukkan cairan sedikitnya 2500 ml/hari
5) Mempertahankan keseimbangan cairan, mengurangi rasa haus dan melembabkan
membrane mukosa
6) Berikan cairan/elektrolit melalui selang pemberi makanan/IV Mungkin diperlukan untuk
mendukung/memperbesar volume sirkulasi, terutama jika pemasukan oral tak adekuat,
mual/muntah terus menerus
7) Pantau hasil pemeriksaan labora-torium sesuai indikasi, misal: HB/Ht
8) Elektrolit serum/urine : Bermanfaat dalam memperkirakan kebutuhan cairan.
9) Mewaspadakan kemungkinan adanya gangguan elektrolit dan menentukan kebutuhan
elektrolit tersebut
10) Berikan obat-obatan sesuai indikasi
Antimetik, misal: proklo-perazin maleat (Compazine); trimeto benzamid (Tigan); metoklo-
pramid (Reglan) Mengurangi insiden muntah untuk mengurangi kehilangan cairan/elektro-lit
lebih lanjut
Antidiarea, misal: difenik-silat (Lomotil), loperamid Imodium, paregoric atau
antipasmodik, misal: mepen-zolat, bromide (Cantil) - Menurunkan jumlah dan keenceran
feses; mungkin mengurangi kejang usus dan peristalis. Catatan : Antibiotik mungkin
digunakan untuk mengobati diare jika disebabkan oleh infeksi
Antipiretik, misal: asetaminofen (Tylenol) - Membantu mengurangi demam dan respons
hipermetabolisme, menurun-kan kehilangan cairan tak kasan mata
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual,
muntah
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria hasil :
1) Adanya peningkatan berat badan sesuai tujuan
2) Berat badan sesuai tinggi badan
3) Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
4) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Intervensi Rasional
1) Kaji kemampuan untuk mengunyah, merasakan dan menelan - Lesi mulut, tenggorokan
dan implamasi pada tonsil dapat menyebabkan disfagia, penurunan kemampuan pasien untuk
mengolah makanan dan mengurangi keinginan untuk makan
2) Timbang berat badan sesuai kebutuhan. Evaluasi berat badan dalam hal adanya berat
badan yang tidak sesuai. Gunakan serangkaian pengukuran berat badan dan antropometri -
Indikator kebutuhan nutrisi/pema-sukan yang adekuat
3) Hilangkan rangsangan lingku-ngan yang berbahaya atau kondisi yang membentuk reflek
gagal - Mengurangi stimulus pusat muntah di medulla
4) Berikan perawatan mulut terus menerus, awasi tindakan pencegahan sekresi. Hindari obat
kumur yang mengandung alkohol
5) Mengurangi ketidaknyamanan yang berhubungan dengan mual/muntah, lesi, oral,
pengeringan mukosa. Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan Rencanakan diit dengan
pasein/ orang terdekat: Jika memungkinkan, sarankan makanan dari rumah. Sediakan
makanan yang sedikit tapi sering berupa makanan pada nutrisi, tidak bersifat asam dan juga
minuman dengan pilihan yang disukai pasien. Mendorong konsumsi makanan berkalori
tinggi, yang dapat merangsang nafsu makan. Catat waktu, kapan nafsu makan menjadi baik
dan pada waktu itu usahakan untuk menyajikan porsi makan yang lebih
6) Melibatkan pasien dalam memberikan perasaan kontrol lingkungan dan mungkin
meningkatkan pemasukan. Memenuhi kebutuhan akan makanan non institusional mungkin
juga meningkatkan pemasukan
7) Berikan obat yang antiemetik misal: Ranitidin
8) Mengurangi insiden muntah, meningkatkan fungsi gaster
9) Berikan suplemen vitamin
10) Kekurangan vitamin terjadi akibat penurunan pemasukan makanan dan ataun
kegagalan menguyah dan absorpsi dalam sistem gastrointestinal
d. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme penyakit.
Tujuan : Suhu tubuh kembali normal
Kriteria hasil :
1) Suhu tubuh dalam rentang normal
2) Suhu kulit dalam batas normal
3) Nadi dan pernafasan dalam batas normal
Intervensi Rasional
1) Pantau suhu pasien (derajat dan pola); perhatikan menggigil/ diafpresis - Suhu 38,90C,
41,10C menunjukan proses penyakit infeksius akut. Pada demam dapat membantu dalam
diagnosis; misal kurun demam lanjut berkahir dari 24 jam.
2) Pantau suhu lingkungan, batasi/ tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi - Suhu
ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal
3) Berikan kompres mandi hangat : Dapat membantu mengurangi demam
4) Berikan antipiretik, misal: paracetamol, asetaminofen - Digunakan untuk mengurangi
demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus, meskipun demam mungkin dapat berguna
dalam membatasi pertumbuhan organisme dan meningkatkan autodestruksi dari sel-sel yang
terinfeksi
e. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai penyakit, prognosis
dan kebutuhan pengobatan
Tujuan : Ansietas berkurang atau hilang
Kriteria hasil :
1) Berkurang atau hilang
2) Ansietas berkurang
3) Menunjukan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis
4) Memanifestasi perilaku akibat kecemasan tidak ada
Intervensi Rasional
1) Berikan informasi mengenai terapi obat-obatan, interaksi efek samping dan pentingnya
ketaatan pada program - Meningkatkan pemahaman dan meni-ngkatkan kerjasama dalam
penyem-buhan/profilaksis dan mengurangi risiko kambuhnya komplikasi
2) Diskusikan kebutuhan untuk pemasukan nutrisional yang tepat/seimbang
3) Perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan umum
4) Dorong periode istirahat adekuat dengan aktivitas yang terjadwal
5) Mencegah kepenatan, penghematan energi dan meningkatkan penyembuhan
6) Tinjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan : Membantu mengontrol
pemajanan lingkungan dengan mengurangi jum-lah bakteri patogen yang ada
7) Identifikasi tanda-tanda/gejala-gejala yang membutuhkan evaluasi medis, misalnya
peningkatan suhu menetap, takikardia, sinkope, ruam yang tak diketahui asalnya, kepenatan
yang tidak dapat dijelaskan, anoreksia, peningkatan rasa haus dan perubahan pada fungsi
kandung kemih : Pengenalan dini dari perkembangan/ kambuhnya infeksi akan memung-
kinkan intervensi dan mengurangi risiko perkembangan ke arah situasi membahayakan jiwa
8) Tekankan pentingnya imunisasi profilaktik/terapi antibiotik sesuai kebutuhan :
Penggunaan pencegahan terhadap infeksi
f. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses infeksi atau imflamasi: rasa sakit
pada jaringan tonsil.
Tujuan : Mempertahankan pola nafas efektif
Kriteria hasil :
1) Tidak mengalami sesak nafas
2) Pernafasan dalam batas normal
3) Tidak terjadi batuk
Intervensi Rasional
1) Auskultasi bunyi nafas, tandai daerah paru yang mengalami penurunan atau kehilangan
ventilasi : Memperkirakan adanya perkem-bangan komplikasi/infeksi pernafasan yang terjadi
pada jaringan tonsil
2) Catat kecepatan/kedalaman pernafasan, sianosis, penggunaan otot aksesori/kerja
pernafasan munculnya dispnea, Takipnea, sianosis, tidak dapat beristirahat dan peningkatan
nafas menunjukkan kesulitan pernafasan dan adanya kebutuhan untuk meningkatkan
pengawasan/intervensi medis
3) Kaji perubahan tingkat kesadaran : Hipoksemia dapat terjadi akibat adanya perubahan
tingkat kesadaran mulai dari ansietas dan kekacauan mental dan mencegah komplikasi
pernafasan

4. IMPLEMENTASI TONSILITIS
Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.
Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah
diterapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit pemulihan
kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam: 2001).

5. EVALUASI TONSILITIS
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil
yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan
(Nursalam, 2001).
Adapun evaluasi dari tiap-tiap masalah di atas adalah :
a. Nyeri berkurang atau teratasi
Kriteria hasil : Reflek menelan baik, tidak ada masalah saat makan, tidak mengalami
batuk saat menelan, menelan secara normal, menelan dengan nyaman.
b. Keseimbangan cairan terpenuhi
Kriteria hasil : Mukosa bibir lembab, Turgor kulit baik, tanda-tanda vital stabil
c. Nutrisi tubuh terpenuhi
Kriteria hasil : Nafsu makan klien bertambah, mual dan muntah berkurang, peningkatan berat
badan.

d. Suhu tubuh dalam batas normal


Kriteria hasil : Suhu tubuh dalam rentang normal 36-370C, keadaan, kulit dalam batas
normal tidak mengalami turgor kulit yang jelek, nadi dan pernapasan dalam batas normal
yaitu 80 x/menit dan pernapasan 18 x/menit.

e. Cemas tidak terjadi, kenyamanan pasien meningkat


Kriteria hasil : Ansietas berkurang, klien bisa mengendalikan tingkat kecemasannya,
mengetahui penyebab mengalami kecemasan.

f. Pola nafas efektif


Kriteria hasil : Tidak mengalami sesak nafas, pernafasan dalam batas normal, tidak
terjadi batuk

DAFTAR PUSTAKA

1. Doengoes, Marilynn E (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Jakarta : EGC (2005).
2. Mansjoer, et all. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC
3. Sjamsuhidajat ; R & Jong, W.D. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta ; EGC
4. Smeltzer, Suzanne & Bare, B E. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,.
Jakarta ; EGC
5. Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume
2, Penerbit EGC.

jagling