You are on page 1of 13

1.

PENDAHULUAN

1.1. Tinjauan Pustaka

Reaksi pada sel dapat dikelompokkan menjadi dua kategori. Pertama, reaksi anabolisme
merupakan reaksi pembentukan, yaitu terjadi sintesis molekul besar dari molekul sederhana /
kecil. Pada proses anabolisme membutuhkan energi, dan prosesnya disebut reaksi endogenic.
Kedua, reaksi katabolisme merupakan reaksi pemecahan. Katabolisme merupakan
pemecahan molekul besar menjadi lebih sederhana yang disertai pelepasan energi yang
disebut reaksi exergonic. Total penjumlahan dari reaksi anabolisme dan katabolisme disebut
metabolisme (pembentukan dan pemecahan). Contoh proses katabolisme adalah respirasi,
sedangkan contoh proses anabolisme adalah fotosintesis (Green et al, 1988).
Anabolisme adalah sintesis dari makromolekul seperti protein, polisakarida, dan asam nukleat
dari bahan-bahan yang kecil. Proses sintesis demikian tidak dapat berlangsung tanpa adanya
masukkan energi. Secara langsung atau tidak langsung, ATP merupakan sumber energi bagi
semua aktivitas anabolik di dalam sel. Hasil-hasil anabolisme berguna dalam sejumlah fungsi
yang esensial. Glikogen, lemak, dan protein berguna sebagai bahan bakar cadangan untuk
katabolisme. Sintesis asam nukleat memungkinkan organisme untuk menyimpan dan
mengutarakan kopi tambahan dari perbendaharaan informasi genetiknya (Kimball, 1992).

Fotosintesis berasal dari kata foton (cahaya) dan sintesis (penyusunan), jadi fotosintesis
adalah proses penyusunan dengan menggunakan energi cahaya. Fotosintesis mengubah
carbon dan energi yang tersedia di alam dan menghasilkan oksigen. Reaksi fotosintesis:
6 CO2 + 6 H2O C6H12O6 + 6 O2
cahaya & klorofil
Proses yang terjadi pada fotosintesis, pertama daun pada tumbuhan membutuhkan sumber
CO2 dan air, kedua harus memiliki klorofil untuk menerima cahaya yang dapat berupa
cahaya matahari ataupun lampu, kemudian oksigen akan dibebaskan sebagai hasil reaksi
beserta produk berupa karbohidrat yang akan di kirimkan ke bagian lain tumbuhan untuk
disimpan (Green et al, 1988).
Proses fotosintesa adalah proses di mana CO2 di bawah pengaruh sinar matahari diubah ke
dalam persenyawaan organik yang berisi karbon dan kaya energi. Sedangkan proses respirasi
adalah proses untuk memperoleh energi dari bahan organik di mana berlangsung secara
efisien di dalam sel. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses fotosintesa dan respirasi
saling berkebalikan (Harjadi, 1979).

1
Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna
hijau dan berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun
merupakan organ terpenting dari tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena
tumbuhan adalah organisme autotrof obligat. Tumbuhan harus memasok kebutuhan
energinya sendiri melalui konversi cahaya menjadi energi kimia (Audesirk&Audesirk,1989).
Pada epidermis atas dan bawah dijumpai pori-pori kecil yang disebut dengan
stomata(tunggal:stoma). Pada tumbuhan darat, jumlah stomata pada epidermis bawah daun
lebih banyak dari epidermis atas yang merupakan adaptasi tumbuhan untuk meminimalisasi
hilangnya air dari daun. Stomata berperan dalam pertukaran gas (CO2 dan O2 ). Selain itu juga
berperan dalam pengaturan penghilangan air dari tumbuhan (Audesirk&Audesirk,1989).
Tumbuhan melepas banyak O2 pada saat fotosintesa, dan dapat digunakan kembali untuk
proses respirasi (aerob). Proses yang menjaga suhu tanaman tetap dingin pada siang hari
adalah transpirasi. Pengeluaran uap air banyak terjadi pada proses transpirasi. Proses
penyerapan air yang mengandung garam mineral dilakukan oleh akar yang nantinya akan
mengalir ke daun. Di daun akan dijadikan sebagai sumber makanan. Transpirasi ini tidak
lepas dari pengaruh adaptasi lingkungan. Air yang didapat sebagian diubah menjadi makanan
tetapi sebagian hilang dalam bentuk uap air melalui transpirasi ini. Air keluar melalui batang
dan bunga tetapi sebagian besar menguap melalui stomata (Joshua, 1996).
Tahun 1939 Robert Hill menemukan bahwa kloroplas yang diisolasi dapat membebaskan
oksigen dengan adanya agen pengoksidasi (elektron acceptor). Oleh karena itu reaksi ini
disebut reaksi Hill. Laju reaksi Hill dapat diukur dengan melihat perubahan warna dari
DCPIP. DCPIP (Dichlorophenolindophenol) adalah zat yang dapat menangkap atom
hidrogen dan dapat berubah warna. DCPIP akan berwarna biru jika mengalami oksidasi dan
akan kehilangan warnanya jika tereduksi. Reaksi Hill:
H2O +NADP NADPH + ½ O2 + H+
Cahaya dan kloroplas
DCPIP (Biru) + H2O DCPIP H2 (tidak berwarna) + ½ O2
Cahaya dan kloroplas ( Green, et al, 1988 ).

1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukannya praktikum ini untuk mengetahui proses fotosintesis pada tumbuhan,
mengetahui fungsi stomata, mengetahui cara perhitungan stomata, membandingkan jumlah
stomata pada berbagai daun, dan mengetahui pengaruh cahaya terhadap proses fotosintesis.

2
2. MATERI METODE
2.1. Pengamatan Fotosintesis
2.1.1. Materi
2.1.1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah 3 toples beserta tutupnya.

2.1.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 3 lilin menyala, 2 jangkrik, tumbuhan
hijau kecil.

2.1.2 Metode

Toples 1 diisi lilin menyala dan ditutup. Toples 2 diisi lilin menyala dan jangkrik kemudian
ditutup. Toples 3 diisi tumbuhan, lilin menyala, jangkrik, kemudian ditutup.
Tunggu beberapa menit dan amati perubahan yang terjadi.

2.2. Perhitungan Jumlah Stomata
2.2.1. Materi
2.2.1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah gunting, kaca preparat, hand counter dan
mikroskop.

2.2.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah kuteks bening, selotip dan beberapa
tanaman yakni :

Kelompok 1-2 : daun puring
Kelompok 3-4 : daun jarak
Kelompok 5-6 : daun pandan
Kelompok 7-8 : daun jeruk
Kelompok 9-10 : daun mangga
Kelompok 11-12 : daun pepaya

2.2.2 Metode
Mula-mula dipilih salah satu daun, lalu pada bagian bawah daun dicat dengan kuteks
berwarna bening ± 1 cm2. Kuteks dibiarkan mongering beberapa menit. Sepotong selotip
bening ditempelkan pada kuteks tersebut kemudian dikelupas secara hati-hati mulai dari
bagian pojok. Setelah itu potongan selotip tersebut diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 10x40. Dicari daerah yang bersih dan banyak mengandung stomata. Stomata
dihitung pada 2 tempat yang berbeda (atas dan bawah).

2.3. Reaksi Hill

3
2.3.1. Materi
2.3.1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah gunting, mortar, funnel (corong), nilon
sentrifuge dan glass rod (batang pengaduk).

2.3.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah beberapa daun, es, medium isolasi dingin
dan larutan DCPIP dingin.

2.3.2 Metode

Langkah awal, daun dipotong menjadi keciil-kecil, lalu ditumbuk dengan mortar dan alu
sampai halus. Daun tadi ditimbang sebanyak 2,5 gram. Lalu, dimasukkan ke dalam
erlenmayer, dan ditambahkan dengan 20 ml media isolasi. Larutan sampel tadi disaring
dengan kain mori, lalu cairan hasil saringan tadi dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge.
Lalu larutan tadi disentrifuge dengan kecepatan 1000 rpm selama 1-2 menit. Supernatan
tadi dimabil, lalu ditambahkan 2 ml media isolasi dan disentrifuge lagi dengan kecepatan
1000 rpm selama 5 menit. Untuk kelompok A1-A3 diambil 0,5 ml kloroplas, lalu
ditambahkan 5 ml blanko (aquades), ditunggu 15 menit. Untuk kelompok A4-A6 diambil 0,5
ml kloroplas, lalu ditambhakan 5 mk DCPIP, ditunggu 15 menit. Untuk kelompok A7-A9
diambil 0,5 ml kloroplas, lalu ditambahkan dengan DCPIP dan disimpan pada ruang terang
selama 15 menit. Untuk kelompok A10-A12 diambil 0,5 ml kloroplas, lalu ditambahkan
dengan DCPIP dan disimpan pada ruang gelap selama 15 menit. Dibaca nilai absorbansi
masing-masing tabung menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 600 nm.
Kemudian dicatat hasilnya.

4
3. HASIL PENGAMATAN

3.1 Pengamatan Fotosintesis
Hasil pengamatan pada praktikum fotosintesis dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel.1 Pengamatan Fotosintesis

Perlakuan Gambar Keterangan

Toples 1 diisi lilin menyala Lilin mati setelah
dan ditutup 4 menit 23 detik

Toples 2 diisi lilin menyala, Lilin mati setelah
jangkrik, dan ditutup. 3 menit 37 detik

Toples 3 diisi lilin menyala, Lilin mati setelah
jangkrik, tanaman, dan 3 menit 27 detik
ditutup.

Pada tabel 1 didapatkan data yaitu pada toples 1 yang berisi lilin dan ditutup, lilin mati
setelah 4 menit 23 detik. Toples 2 yang berisi lilin dan jangkrik kemudiaan ditutup, lilin mati
setelah 3 menit 37 detik. Toples 3 yang berisi lilin, jangkrik dan tanaman kemudiaan ditutup,
lilin mati setelah 3 menit 27 detik.

5
3.2 Perhitungan Jumlah Stomata
Hasil pengamatan jumlah stomata dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Perhitungan Jumlah Stomata
Nama Tanaman Daun jeruk

Gambar
Bagian atas daun

Jumlah stomata
0
Bagian atas

Gambar
Bagian bawah daun

Jumlah stomata
31
Bagian bawah
Pada tabel dapat kita lihat bahwa pada daun jeruk stomata terlihat dengan mikroskop
menggunakan perbesaran 10 x 40. Pada bagian atas tidak terlihat stomata, dan pada bagian
bawah diperoleh 31 stomata.

3.3. Reaksi Hill
Pengamatan reaksi Hill dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Nilai Absorbansi Reaksi Hill
Nilai Absorbansi
Perlakuan I Perlakuan II Perlakuan III Perlakuan IV
men
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
it
0,03 0,02 0,7
Blanko 15 - - - - - - - - -
2 6 4
Kloropl
0,36 0,36 0,36
as+ 15 - - - - - - - - -
3 3 3
DCPIP
R. 0,36 0,36 0,36
15 - - - - - - - - -
terang 3 3 4
1,99 0,36 0,36
R. gelap 15 - - - - - - - - -
9 4 4
Keterangan: Perlakuan I = 0,5 ml kloroplas + 5 ml aquadess (blanko).
Perlakuan II = 0,5 ml kloroplas + 5 ml DCPIP.
Perlakuan III = 0,5 ml kloroplas + 5 ml DCPIP, disimpan di ruang terang.
Perlakuan IV = 0,5 ml kloroplas + 5 ml DCPIP, disimpan di ruang gelap.

6
Tabel diatas dapat dilihat bahwa pada kelompok A1-A3 dengan ditambahkan blanko nilai
absorbansi maksimumnya adalah 0,074. Pada kelompok A4-A6 dengan perlakuan
ditambahkan DCPIP saja, nilai absorbansi maksimumnya 0,363. Kelompok A7-A9 sampel
dengan perlakuan ditambahkan dengan DCPIP lalu disimpan pada ruang terang, nilai
absorbansi maksimumnya adalah 0,364. Sedangkan kelompok A10-A12 sampel dengan
perlakuan ditambahkan DCPIP dan disimpan pada ruang gelap nilai absorbansi
maksimumnya adalah 1,999.

7
4. PEMBAHASAN
4.1 Pengamatan Fotosintesis
Pada pengamatan fotosintesis ini, dilakukan percobaan dengan menggunakan lilin, jangkrik,
dan tanaman hijau. Pada pengamatan ini, dilakukan tiga perlakuan. Perlakuan yang pertama
adalah toples yang hanya diisi dengan lilin menyala. Perlakuan yang kedua adalah toples
yang diisi dengan lilin menyala dan jangkrik. Perlakuan yang ketiga adalah toples yang diisi
lilin menyala, tanaman hijau kecil, dan jangkrik. Ketiga toples tersebut ditutup kemudian
diamati perubahan yang terjadi. Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada toples I yang
berisi lilin saja, lilin padam pada waktu 4 menit 23 detik. Pada toples II yang berisi lilin +
jangkrik, lilin padam dalam waktu 3 menit 37 detik dan jangkrik masih hidup. Pada toples III
yang berisi lilin + jangkrik + tanaman hijau, lilin padam dalam waktu 3 menit 27 detik dan
jangkrik masih hidup.
Lilin yang pertama kali mati adalah lilin yang berada pada toples ke-3, kemudian lilin pada
toples ke-2 yang mati, dan diikuti lilin pada toples ke-1. Matinya lilin baik pada toples
pertama, kedua, dan ketiga beberapa saat setelah toples ditutup ini menandakan bahwa di
dalam toples sudah tidak ada O2 lagi.
Dalam percobaan ini terjadi kesalahan, karena seharusnya lilin yang padam dahulu adalah
lilin yang ada pada toples kedua. Hal ini dapat terjadi karena jangkrik di dalam toples tersebut
bernafas. Ketika jangkrik bernafas, jangkrik akan membutuhkan O2 dan mengeluarkan CO2.
Padahal kita tahu bahwa pembakaran membutuhkan oksigen dan di dalam toples ini oksigen
yang tersedia digunakan untuk pembakaran yang terjadi pada lilin dan untuk bernapas
jangkrik. Sehingga dapat dikatakan bahwa oksigen yang tersedia digunakan untuk dua proses
sehingga lilinnya cepat padam. Dan lilin yang mati ke dua seharusnya toples ke tiga karena
terjadi 2 proses yang membutuhkan oksigen yaitu pembakaran lilin dan respirasi, meskipun
ada tanaman yang berfotosintesis di dalamnya,oksigen yang dihasilkan sangat sedikit
sehingga tidak berpengaruh pada reaksi tersebut.
Hal ini sesuai dengan teori dari Green et al, 1988, yaitu tumbuhan membutuhkan cahaya
matahari dan karbondioksida untuk melakukan fotosintesis yang hasil akhirnya berupa
C6H12O6 dan O2.
4.2 Perhitungan Jumlah Stomata
Pada pengamatan ini, tanaman yang digunakan kelompok kami adalah daun jeruk pecel. Pada
bagian atas dan bawah daun diberi kuteks bening ± 1 cm2. Tujuan dari pemberian kuteks
bening ini adalah agar stomata yang terletak pada epidermis atas dan epidermis bawah pada
daun dapat ikut terambil saat kuteks bening ditarik dengan menggunakan selotip, sehingga
8
stomata menjadi lebih mudah diamati di bawah mikroskop. Hal ini sesuai dengan pernyataan
dari Audesirk & Audesirk (1989) bahwa stomata terletak pada epidermis atas dan bawah
daun. Dari data yang didapatkan, secara keseluruhan stomata yang ditemukan di bagian
epidermis bawah jauh lebih banyak dibandingkan pada epidermis daun bagian atas. Pada
daun jeruk ini kami tidak mendapatkan satu pun stomata pada bagian atas, namun pada
bagian bawah epidermis kami mendapatkan 31 stomata. Hal ini sesuai dengan teori
Audesirk&Audesirk,1989 yaitu pada tumbuhan darat, jumlah stomata pada epidermis bawah
daun lebih banyak dari epidermis atas yang merupakan adaptasi tumbuhan untuk
meminimalisasi hilangnya air dari daun. Stomata berperan dalam pertukaran gas (CO2 dan
O2). Selain itu juga berperan dalam pengaturan penghilangan air dari tumbuhan. Teori ini
cocok karena tanaman jeruk adalah tanaman darat.
4.3 Reaksi Hill
Pada pengamatan kali ini, digunakan larutan buffer fosfat pH 7. Larutan buffer fosfat
berfungsi untuk mempertahankan pH disekitar daerah kapasitas buffer, pada larutan buffer
fosfat yang digunakan pada percobaan ini daerah kapasitas buffer berada disekitar pH 7.
Selain itu juga digunakan medium isolasi, yang terbuat dari sukrosa yang ditambah KCl, dan
dilarutkan dengan larutan buffer fosfat. Medium isolasi yang digunakan berfungsi sebagai
agen pengoksidasi. Dalam percobaan juga digunakan larutan DCPIP (2,6-
dichlorophenolindophenol) yang merupakan senyawa kimia berwarna biru yang digunakan
sebagai indikator reaksi redoks.

Pada tabel reaksi di atas kita bisa melihat perbedaan nilai absorbansi tiap-tiap perlakuan.
Pertama pada kelompok A1-A3 dengan perlakuan 0,5 ml kloroplas + 5 ml aquades ( blanko)
didapatkan nilai absorbansi yang berbeda-beda yaitu 0,032 untuk kelompok A1, 0,026 untuk
kelompok A2, dan 0,74 untuk kelompok A3. Ke-dua pada adalah pada kelompok A4-A6
perlakuan untuk kelompok ini adalah 0,5 ml kloroplas + 5 ml DCPIP di dapat nilai
absorbansi yang sama yaitu 0,363. Lalu pada kelompok A7-A9 dengan perlakuan 0,5
kloroplas + 5 ml DCPIP (disimpan di ruang terang) didapat nilai absorbansi masing-masing
0,363 pada kelompok A7 dan A8 dan untuk A9 0,364. Dan pada kelompok A10-A12 dengan
perlakuan 0,5 ml kloroplas + 5 ml DCPIP ditaruh ditempat gelap didapat nilai absorbansi
berturut-turut untuk A10,A11,A12 yaitu 1,999 , 0,364 , 0,364.
Pada kelompok A10 di dapat nilai absorbansi 1,999, hal ini tidak sesuai dengan teori , karena
seharusnya nilai absorbansi tidak boleh melebihi angka 1. Pada kali ini ketidak sesuaian nilai
absorbansi terjadi karena praktikan tidak melakukan spektrofotometri dengan benar.

9
5. KESIMPULAN
 Anabolisme adalah sintesis dari makromolekul seperti protein, polisakarida, dan asam
nukleat dari bahan-bahan yang kecil.
 Dalam proses pembakaran lilin dibutuhkan adanya oksigen (O2).
 Proses fotosintesis merupakan salah satu contoh anabolisme.
 Fotosintesis adalah proses penyusunan atau pembentukan dengan menggunakan energi
cahaya atau foton.
 Dalam fotosintesis dihasilkan karbohidrat (C6H12O6) dan oksigen.
 Faktor – faktor yang mempengaruhi fotosintesis adalah suhu laju, CO2, intensitas cahaya,
suplai air.
 Lubang – lubang kecil yang terdapat pada epidermis atas dan bawah tumbuhan disebut
stomata.
 Pada tumbuhan darat, jumlah stomata pada epidermis daun bagian bawah lebih banyak
daripada jumlah stomata pada epidermis daun bagian atas.
 Stomata berperan dalam pertukaran gas O2 dan CO2.

Semarang, 5 November 2014 Asisten Dosen:

Arief Nursetiyanto Donna Larissa
14.I1.0131

10
6. DAFTAR PUSTAKA

Joshua, I. (1996). Kehidupan Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.

Audesirk, G. & L. Audesirk. (1989). Biology of Earth. Macmillan Publishing Company Inc.
New York.

Kimball, J. W. (1992). Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Erlangga. Jakarta.

Green, N.P.O., G.W Stout & D.J Taylor. (1988). Biological Science 1. Cambridge University
Press. New York.

11
7. LAMPIRAN
7.1 Laporan Sementara

12
ANABOLISME

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
BIOLOGI DASAR I

Disusun oleh:
Arief Nursetiyanto
14.I1.0131
Kelompok: A8

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG

2014

13