You are on page 1of 27

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Bayi Baru Lahir

1. Definisi

a. Bayi baru lahir normal adalah neonatus yang lahir dari kehamilan

37 minggu sampai 42 minggu dari berat badan lahir 2500 gram

sampai dengan 4000 gram (Maryanti, 2011 : 2).

b. Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi

belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia

kehamilan genap 37- 42 minggu, dengan berat badan 2500-4000

gram, nilai apgar >7 dan tanpa cacat bawaan, (Rukiyah, 2010: 2)

c. Neonatus ialah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan

harus menyusuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan

ekstra uterin. Beralih dari ketergantungan mutlak pada ibu

menuju kemandirian fisiologi (Rukiyah, 2010 : 2)

2. Tanda-Tanda Bayi Baru Lahir Normal

Bayi baru lahir dikatakan normal jika mempunyai beberapa

tanda-tanda antara lain : Appearance color (warna kulit), seluruh

tubuh kemerah-merahan, pulse (heart rate) atau frekuensi jantung

>100x/menit, grimace (reaksi terhadap rangsangan), menangis,

batuk/bersin, activity (tonus otot), gerakan aktif, respiration,

(usaha nafas), bayi menangis kuat (Rukiyah, 2010 : 2)

11
12

3. Penampilan Bayi Baru Lahir

a. Kesadaran dan reaksi terhadap sekeliling, perlu dikurangi

rangsangan terhadap reaksi terhadap rayuan, rangsangan sakit

atau suara keras yang mengejutkan atau suara mainan.

b. Keaktifan bayi normal melakukan gerakan-gerakan tangan yang

simetris pada waktu bengun. Adanya temor pada bibir, kaki dan

tangan pada waktu menangis adalah normal, tetapi bila hal ini

terjadi pada waktu tidur, kemungkinan gejala suatu kelainan

yang perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

c. Simetris, apakah secara keseluruhan badan seimbang; kepala:

apakah terlihat simetris, benjolan seperti tumor yang lunak di

belakang atas yang menyebabkan kepala tampak lebih panjang

ini disebabkan akibat proses kelahiran, benjolan pada kepala

tersebut hanya terdapat dibelahan kiri atau kanan saja, atau

disisi kiri dan kanan tetapi tidak melampaui garis tengah bujur

kepala, pengukuran lingkaran kepala dapat ditunda sampai

kondisi benjolan (caput sucsedenaum) dikepal hilang dan jika

terjadi moulase, tunggu hingga kepala bayi kembali pada

bentuknya semula.

d. Muka wajah: bayi tampak ekspresi; mata: perhatikan

kesimetrisan antara mata kanan dan kiri, perhatikan adanya

tanda-tanda perdarahan berupa bercak merah yang akan

menghilang dalam waktu 6 minggu.


13

e. Mulut : penampilan harus simetris, mulut tidak mencucu seperti

mulut ikan, tidak ada tanda kebiruan pada mulut bayi, saliva tidak

terdapat pada bayi normal, bila terdapat secret yang berlebihan,

kemungkinan ada kelainan bawaan saluran cerna.

f. Leher, dada, abdomen: melihat adanya cedera akibat persalian;

perhatikan ada tidaknya kelainan pada pernapasan bayi, karena

bayi biasanya masih ada pernapasan perut.

g. Punggung: adanya benjolan atau tumor atau tulang punggung

dengan lekukan yang kurang sempurna, bahu, tangan, sendi,

tungkai: perlu diperhatikan bentuk, gerakannya, faktur (bila

ekstremitas lunglai/kurang gerak), farises.

h. Kulit dan kuku: dalam keadaan normal kulit berwarna

kemerahan, kadang-kadang didapatkan kulit yang mengelupas

ringan, pengelupasan yang berlebihan harus dipikirkan

kemungkinan adanya kelainan, waspada timbulnya kulit dengan

warna yang tak rata (cutis marmorata) ini dapat disebabkan

karena temperatur dingin, telapak tangan, telapak kaki, atau

kuku yang menjadi biru, kulit menjadi pucat dan kuning, bercak-

bercak besar biru yang sering terdapat disekitar bokong

(Mongolian spoot) akan menghilang pada umur 1-5 tahun.

i. Kelancaran menghisap dan pencernaan: harus diperhatikan: tinja

dan kemih: diharapkan keluar dalam 24 jam pertama.


14

j. Reflex: rileks rooting, bayi menoleh kearah benda yang

menyentuh pipi; reflex hisap, terjadi apabila terdapat benda

menyentuh bibr, yang di sertai reflex menelan; reflex morro ialah

timbulnya pergerakan tangan yang simetris seperti merangkul

apabila kepala tiba-tiba digerakan; reflex mengeluarkan lidah

terjadi apabila diletakan banda dalam mulut, yang sering

ditafsirkan bayi menolak makanan/minuman.

k. Berat badan: sebaiknya tiap hari dipantau penurunan berat

badan lebih dari 5 % berat badan waktu lahir menunjukkan

kekurangan cairan (Rukiyah, 2010 : 3-5).

4. SOAP Neonatus Normal

a. Subjektif

Neonatus menangis kuat

b. Objektif

1) Berat badan 2500 – 4000 gram

2) Panjang badan lahir 48 – 52 cm

3) Lingkar dada 30 -38 cm

4) Lingkar kepala 33 – 35 cm

5) Menagis kuat

6) Bunyi jantung dalam menit-menit pertama kira-kira

180x//menit kemudian menurun sampai 120-140 kali/menit.


15

7) Pernafasan pada menit-menit pertama capat kira-kira

80x/menit, kemudian menurun setelah tenang kira-kira 40

kali/menit

8) Kulit kemerah-merahan dan licin kerana jaringan subkutan

cukup terbentuk dan diliputi vernix caseosa.

9) Rambut lanugo telah tidak terlihat, rambut kepala biasanya

telah sempurna.

10) Genetalia : labia mayora menutupi labia minora (pada

perempuan), testis sudah turun (pada anak laki-laki).

11) Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik

12) Refleks moro sudah baik, bayi bila dikagetkan akan

memperlihatkan gerakan tangan seperti memeluk.

13) Eleminasi baik, urine dan mekoneum akan keluar dalam 24

jam pertama

c. Penatalaksanaan

1) Pencegahan infeksi

a) Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah

bersentuhan dengan bayi.

b) Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi

yang belum dimandikan

c) Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan

terutama klem, gunting, penghisap lendir delee dan


16

benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau

steril

d) Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang

digunakan untuk bayi sudah dalam keadaan bersih.

Demikian pula dengan timbangan, pita pengukur,

termometer dan stetoskop.

2) Melakukan penilaian

a) Apakah bayi menangis kuat atau bernafas tanpa kesulitan

b) Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas.

c) Jika bayi tidak bernafas atau bernafas megap-megap atau


lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru
lahir.
3) Mencegah kehilangan panas
a) Keringkan bayi dengan seksama

b) Mengeringkan dengan cara menyekap tubuh bayi, juga

merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi

memulai pernafasannya.

c) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat.

d) Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan

ketuban dengan selimut atau kain yang baru (hangat,

bersih dan kering

e) Selimuti bagian kepala bayi.


17

f) Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif

luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika

bagian tersebut tidak tertutup.

g) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya.

h) Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan

tubuh dan mencegah kehilangan panas. Sebaiknya

pemberian ASI harus dimulai dalam waktu (1) jam

pertama kelahiran.

i) Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru

lahir.

j) Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas

tubuhnya, sebelum melakukan penimbangan, terlebih

dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan

kering. Berat badan bayi dapat dinilai dari selisi berat bayi

pada saat berpakaian/ diselimuti, dikurangi dengan berat

pakain/selimut. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya 6

jam setelah lahir.

4) Praktek memandikan bayi yang dianjurkan adalah :

a) Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum

memandikan bayi (lebih lama jika bayi mengalami asfiksia

atau hipotermi).

b) Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh

stabil (suhu aksila antara 36,50C-37oC). Jika suhu tubuh


18

bayi masih dibawah 36,50C, selimuti kembali tubuh bayi

secara longgar, tutupi bagian kepala dan tempatkan

bersama ibunya ditempat tidur atau lakukan persentuhan

kulit ibu-bayi dan selimuti keduanya. Tunda memandikan

bayi hingga suhu tubuh bayi tetap stabil dalam waktu

(paling sedikit) sati (1) jam.

c) Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami

masalah pernafasan.

d) Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruangan mandinya

hangat dan tidak ada tiupan angin. Siapkan handuk bersih

dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan siapkan

beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering

untuk menyelimuti tubuh bayi setelah dimandikan.

e) Memandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan

hangat.

f) Segera keringkan bayi dengan menggunakan handuk

bersih dan kering.

g) Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan

kering, kemudian selimuti tubuh bayi secara longgar.

Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik.

h) Bayi dapat diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan

diselimuti dengan baik.


19

i) Ibu dan bayi disatukan ditempat dan anjurkan ibu untuk

menyusukan bayinya.

j) Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat. Idealnya bayi

baru lahir ditempatkan ditempatkan ditempat tidur yang

sama dengan ibunya, untuk menjaga bayi tetap hangat

dan mendorong ibu untuk segera memberikan ASI.

5) Membebaskan jalan nafas

a) Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi normal akan

menagis spontan segera setelah lahir, apabila bayi tidak

langsung menagis, penolong segera membersihkan jalan

nafas dengan cara sebagai berikut :

(1) Letakkan bayi pada posisi terlentang ditempat yang

keras dan hangat.

(2) Gulung sepotong kain dan letakkan dibawa bahu

sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak

menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah

kebelakang

(3) Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi

dengan jari tangan yang dibungkus kassa steril.

(4) Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2 -3 kali atau

gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar.


20

b) Alat penghisap lendir mulut atau alat penghisap lainnya

yang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus

sudah ditempat.

c) Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung

d) Memantau dan mencatat usaha bernafas yang pertama

(apgar skor).

e) Warna kulit, adanya cairan mekonium dalam hidung atau

mulut harus diperhatikan.

6) Merawat tali pusat

a) Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap

stabil, ikat dan jepitkan klem plastik tali pusat pada

puntung tali pusat.

b) Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung

tangan kedalam larutan klonin 0,5% untuk membersihkan

darah dan sekresi tubuh lainnya.

c) Bilas tangan dengan air matang atau disenfeksi tingkat

tinggi.

d) Keringkan tangan (bersarung tangan) tersebut dengn

handuk atau kain bersih dan kering.

e) Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi

menggunakan benang disenfeksi tingkat tinggi atau klem

plastik tali pusat (disenfeksi tingkat tinggi atau steril).


21

f) Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang

sekeliling ujung tali pusat dan dilakukan pengikatan kedua

dengan simpul kunci dibagian tali pusat pada sisi yang

berlawanan.

g) Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan dalam

larutan clorin 0,5%.

h) Selimuti ulang bayi dengan kain bersih dan kering,

pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup dengan baik.

7) Mempertahankan suhu tubuh bayi

a) Pada waktu lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu

badannya dan membutuhkan pengtauran dari luar untuk

membuatnya tetap hangat.

b) Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya

secara memadai dan dapat dengan cepat kedinginan jika

kehilangan panas tidah segera dicegah.

c) Pencegah terjadinya kehilangan panas yaitu dengan :

(1) Keringkan bayi secara seksama.

(2) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering

dan hangat.

(3) Tutup bagian kepala bayi.

(4) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusukan

bayinya.
22

(5) Lakukan penimbangan setelah bayi mengenakan

pakaian.

(6) Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat.

8) Identifikasi bayi

a) Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu di

pasang segera pasca persalinan. Alat pengenal yang

efektif harus diberikan kepada bayi setiap bayi baru lahir

dan harus di tempatnya samapi waktu bayi di pulangkan.

b) Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersediah

di tempat penerimaan pasien, di kamar bersalin dan di

ruang rawat bayi.

c) Alat yang di guanakan hendaknya kebal air, dengan tepi

yang harus tidak mudah melukai, tidak mudah sobek dan

lepas.

d) Pada alat atau gelang identifikasi harus tercantum nama

(bayi, nyonya), tanggal lahir, nomor bayi, jenis kelamin,

unit dan nama lengkap ibu.

e) Di setiap tempat tidur harus di beri tanda dengan

mencantumkan nama, tanggal lahir dan nomor identifikasi

(Maryanti, 2011 : 2-7)


23

A. Tinjauan Umum Tentang Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)


1. Pengertian

a. Bayi Berat Lahir Rendah adalah kelahiran bayi dengan berat

badan kurang dari 2500 gram yaitu karena usia kehamilan

kurang dari 37 minggu, berat badan lebih rendah dari

semestinya, sekalipun cukup bulan, atau karena kombinasi

keduanya (Manuaba, 2012 : 436)

b. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah : bayi baru lahir

yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari

2500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang

dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut

premature. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi baru lahir

dengan berat kurang dari 2500 disebut low birth weight Insfants

(BBLR) (Maryanti, 2011: 167)

2. Bayi berat lahir rendah (BBLR ) ialah bayi baru lahir yang berat

badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499).

Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature dengan

bayi berat lahir rendah (BBLR) hal ini dilakukukan karena tidak

semua bayi yang berat kurang dari 2500 gram pada lahir bayi

premature (Rukiyah, 2010: 242)

3. Klasifikasi

Bayi berat lahir rendah (BBLR) dapat dikelompokkan menjadi 2

yaitu:
24

a. Prematuritas murni, yaitu bayi dengan masa kehamilan kurang

dari 37 minggu dan berat badan sesuai berat badan untuk usia

kehamilan.

b. Dismaturitas, yaitu bayi dengan berat badan kurang, dari berat

badan yang seharusnya untuk usia kehamilan, ini menunjukkan

bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine (NKB-SMK)

(Maryunani, 2013 : 43)

4. Etiologi

Adapun etiologi dari BBLR diantaranya yaitu:

a. Prematuritas Murni

Penyebab prematuritas murni yaitu:

1. Faktor ibu

a. Penyakit yang diderita ibu ( hipertensi, jantung, diabetes

melitus).

b. Usia ibu saat hamil (kurang dari 16 tahun dan lebih dari

35 tahun).

c. Multigravida dan jarak kelahiran yang terlalu dekat.

d. Gizi saat ibu hamil.

e. Pekerjaan ibu yang terlalu berat.

f. Trauma fisik dan psikologis.

g. Kebiasaan ibu (merokok, minum alkohol, dan narkotika).

2. Faktor janin

a. Cacat bawaan.
25

b. Infeksi dalam rahim.

c. Kelainan kromosom.

3. Faktor kehamilan

a. Hamil dengan hidromion

b. Hamil ganda.

c. Perdarahan antepartum.

d. Komplikasi saat hamil (Preeklamsi/eklamsi, ketuban

pecah dini)

4. Faktor lingkungan dan sosial ekonomi.

a. Tempat tinggal.

b. Radiasi

c. Keadaan ekonomi keluarga

d. Zat-zat racun

b. Dismaturitas

Beberapa faktor yang dapat menimbulkan dismaturitas janin

yaitu:

1. Faktor ibu

a. Malnutrisi.

b. Penyakit ibu seperti hipertensi, penyakit paru, dan

penyakit gula.

c. Komplikasi kehamilan seperti preeklampsi/eklampsi dan

perdarahan antepartum.

d. Kebiasaan ibu seperti merokok dan minum alcohol.


26

2. Faktor uterus dan placenta

a. Gangguan pembuluh darah.

b. Gangguan insersi tali pusat.

c. Kelainan bentuk placenta.

d. Perkapuran placenta.

3. Faktor janin

a. Kelainan kromosom.

b. Hamil ganda atau gemeli.

c. Infeksi pada rahim.

d. Cacat bawaan
(Rukiyah, 2010 : 65)

5. Tanda dan Gejala


Adapun tanda dan gejala BBLR adalah:

a. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu

b. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram

c. Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm

d. Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm

e. Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm

f. Rambut lunugo masih banyak

g. Jaringan lemak subkutan tipis dan kurang

h. Tulang rawan dan telinga belum sempurna pertumbuhannya

i. Tumit mengkilap

j. Telapak kaki halus


27

k. Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh

labia mayora, klitoris menonjol pada bayi perempuan, testis

belum turum kedalam skrotum, pigmen dan rugue pada

skrotum kurang pada bayi laki-laki.

l. Tonus otot lemah sehingga syaraf yang belum atau tidak efektif

dan tangisnya lemah

m. Jaringan klenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan

otot dan jaringan lemak masih kurang

n. Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit bila ada

(Yeyeh, 2010 : 245)

6. Ciri - Ciri Bayi Berat Lahir Rendah

Aktivitas bayi dengan BBLR berbeda-beda sehingga perlu

diperhatikan gambaran umum kehamilan sebagai berikut :

a. Ingat hari pertama menstruasi

b. Denyut jantung terdengar pada minggu 18 sampai 22

c. Fetal quickening minggu 16 sampai 18

d. Pemeriksaan : tinggi fundus uteri, ultrasonografi (konsultasi)

e. Penilaian secara klinik : berat badan lahir, panjang badan,

lingkaran dada dan lingkaran kepala

(Sudarti, 2010 : 134)

7. Prognosis

Pada saat ini harapan hidup bayi dengan berat 1501 - 2500

gram adalah 95 %, tetapi berat bayi kurang dari 1500 gram masih
28

mempunyai angka kematian yang tinggi. Kematian diduga karena

displasia bronkhopulmonal, enterokolitis nekrotikans, atau infeksi

sekunder. BBLR yang tidak mempunyai cacat bawaan selama 2

tahun pertama akan mengalami pertumbuhan fisik yang mendekati

bayi cukup bulan dengan berat sesuai masa gestasi. Pada BBLR ,

makin imatur dan makin rendah berat lahir bayi, makin besar

kemungkinan terjadi kecerdasan berkurang dan gangguan

neurologik (Maryanti, 2011: 13)

8. Masalah – Masalah Yang Muncul Pada Bayi BBLR

Masalah-masalah yang muncul pada bayi BBLR adalah sebagai

berikut:

a. Suhu Tubuh

1) Pusat pengatur panas badan belum sempurna

2) Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapannya

bertambah

3) Otot bayi masih lemah

4) Lemak kulit dan lemak coklat kurang sehingga cepat

kehilangan panas badan

5) Kemampuan metabolisme panas masih rendah, sehingga

bayi dengan BBLR perlu diperhatikan agar tidak terlalu

banyak kehilangan panas badan dan dapat diperhatikan

sekitar 30 0C sampai 37 0C
29

b. Pernafasan

1) Pusat pengatur pernafasan belum sempuma

2) Surfaktan paru–paru masih kurang sehingga

perkembangannya tidak sempurna

3) Otot pernafasan dan tulang iga lemah

4) Dapat disertai penyakit-penyakit : penyakit hialin membran,

mudah infeksi paru-paru, gagal pernafasan.

c. Alat pencernaan makanan

1) Belum berfungsi sempurna, sehingga penyerapan makanan

kurang baik

2) Aktivitas otot pencernaan makanan masih belum sempurna

sehingga pengosongan lambung berkurang.

3) Mudah terjadinya regurtasi isi lambung dan dapat

menimbulkan aspirasipneumonia.

d. Hepar yang belum matang (immatur)

Mudah menimbulkan gangguan pemecahan bilirubin, sehingga

mudah terjadi hiperbilirubinemia (kuning) sampai keroikterus.

e. Ginjal masih belum matang

Kemampuan mengatur pembuangan sisa metabolisme dan air

masih belum sempurna sehingga mudah terjadi edema.

f. Perdarahan dalam otak

1) Pembuluh darah bayi prematur masih rapuh dan mudah

pecah
30

2) Sering mengalami gangguan pernafasan sehingga

memudahkan terjadi perdarahan dalam otak.

3) Perdarahan dalam otak memperburuk keadaan dan dapat

menyebabkan kematian.

4) Pemberian oksigen belum mampu diatur sehingga

memudahkan terjadi perdarahan dan nekrosis

(Manuaba, 2010: 326)

9. Penatalaksanaan

Dengan memperhatikan gambaran klinik dan berbagai

kemungkinan yang terjadi pada bayi prematur, maka perawatan

dan pengawasan bayi prematur ditujukan pada pengaturan nafas

pemberian makanan bayi dan menghindari infeksi.

a. Pengaturan suhu badan bayi prematur / BBLR

Bayi prematur harus dirawat pada incubator sehingga panas

badannya mendekati dalam rahim.

b. Makanan pada bayi prematur

Alat pencernaan bayi prematur belum sempurna sehingga

pemberian minum secara bertahap. Sekitar 3 jam setelah lahir

dengan didahului menghisap cairan lambung, ASI merupakan

makanan paling utama sehingga ASI lah yang paling dahulu

diberikan dengan diminumkan melalui sendok sedikit demi

sedikit atau dengan memasang sonde lambung.


31

Bayi mudah terjadi pneomonia aspirasi, maka pemberian

minum pada bayi BBLR dilakukan dengan :

1) Bayi diletakkan pada sisi kanan atau posisi setengah duduk

di pangkuan perawat/ ibu atau posisi tidur dengan kepala

dan bahu ditinggikan 300 untuk membantu pengosongan

lambung.

2) Sebelum susu diberikan, diteteskan dulu di punggung tangan

untuk merasakan apakah susu cukup hangat dan keluarnya

satu tetes setiap detik.

3) Pada waktu minum harus diperhatikan apakah ada tanda-

tanda gangguan pernafasan atau perut kembung

(Maryunani, 2013: 322)


32

10. Nilai Apgar

Tabel 2.1 : Nilai Apgar Skor

Skor 0 1 2

Appearance color Pucat Badan merah, Seluruh tubuh


ekstremitas biru kemerah- merahan

Pulse (heart rate ) Tidak ada <100 x / menit > 100 x / menit
atau frekuensi
jantung

Grimace ( reaksi Tidak ada Sedikit gerakan Menangis,


terhadap mimik batuk/bersin
rangsangan )

Activity (tonus otot) Lumpuh Ekstremitas Gerakan aktif


dalam fleksi
sedikit

Respiration ( usaha Tidak ada Lemah, tidak Menangis kuat


nafas ) teratur

Sumber : (Yeyeh, 2010 :7)


33

B. Tinjauan Umum Manejemen Asuhan Kebidanan


1. Pengertian Asuhan Kebidanan

Asuhan kebidanan adalah proses pemecahan masalah dengan

metode pengaturan pemikiran dan tindakan dalam suatu urutan

yang logis baik pasien maupun petugas kesehatan. Proses itu

digambarkan dalam arti kata perilaku yag diharapkan dari klinis

tersebut. Hal ini terlibat, tetapi juga tingkat perilaku dalam setiap

langkah yang akan dicapai dalam rangka memberikan

asuhan/pelayanan yang aman dan menyeluruh (Sudarti, 2010 :13).

Proses Asuhan Kebidanan ada tujuh langkah yang secara

periodic disaring ulang, itu mulai dimulai dengan pengumpulan data

dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah terdiri dari

kerangka yang menyeluruh dan dapat diterapkan dalam tiap situasi.

2. Standar Asuhan Kebidanan

a. Standar I : Pengkajian

Langkah pertama lakukan pengkajian data subjektif, data

didapatkan dari klien, suami, keluarga, atau yang mengantar bila

saat itu klien adalah rujukan dari bidan, dukun dan lainnya

(Yeyeh, 2010 : 246)

Dalam pengkajian, bidan mengumpulkan semua informasi

yang akurat, relevan dan lengkap dari semua sumber yang

berkaitan dengan kondisi klien. Data yang dikumpulkan harus

tepat, akurat dan lengkap. Terdiri dari data subjektif (hasil

anamnesa atau jawaban denagan yang diperiksa, biodata,


34

keluhan utama, riwayat kesehatan dan latar belakang sosial

budaya). Serta data objektif (hasil pemeriksaan fisik, psikologis

dan pemeriksaan penunjang) (Suryani, 2014 : 140).

b. Standar II : Perumusan Diagnosa atau Masalah Kebidanan

Langkah kedua : kaji data obyektif didapatkan melalui

pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, dan penunjang lain

misalnya Rontgen, ultrasonografi, Cardiotofograf

( Rukiyah, 2011 : 247 )

Dalam konteks ini bidan menganalisa data yang diperoleh

pada pengkajian, menginterpretasikannya secara akurat dan

logis untuk menegakkan diagnosa dan masalah kebidanan yang

tepat. Adapun kriteria perumusan yaitu : diagnosa atau masalah

diagnosa sesuai dengan nomenklatur kebidanan. Masalah

dirumuskan sesuai dengan kondisi klien serta dapat diselesaikan

dengan asuhan kebidanan secara mandiri, kolaborasi, dan

rujukan (Suryani, 2014 : 125).

c. Standar III : Perencanaan

Pada perencanaan, bidan merencanakan asuhan kebidanan

berdasarkan diagnosa dan masalah yang ditegakkan. Kriteria

perencanaan yaitu :

1) Rencana tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan

kondisi klien. Misalnya apakah perlu dilakukan tindakan

segera, tindakan antisipasi, dan asuhan secara komprehensif.


35

2) Melibatkan klien/pasien dan atau keluarga

3) Mempertimbangkan kondisi psikologi dan sosial budaya

klien/keluarga.

4) Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan

klien berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa

asuhan yang diberikan bermanfaat untuk klien.

5) Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku,

sumber daya serta fasilitas yang ada

(Suryani, 2014 : 125-126).

d. Standar IV : Implementasi

Dalam standar ini bidan melaksanakan rencana asuhan

kebidanan secara komprhensif, efektif, efesien dan aman

berdasarkan evidence based kepada klien/pasien dalam bentuk

upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang

dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan

(Suryani, 2014 : 126)

e. Standar V : Evaluasi

Bidan melakukan evaluasi secara sistematis dan

berkesinambungan untuk melihat efektifitas dari asuhan yang

sudah diberikan, sesuai dengan perubahan perkembangan

kondisi klien. Kriteria evaluasi :

1) Penilaian dilakukan segera setelah selesai melaksanakan

asuhan sesuai kondisi klien.


36

2) Hasil evaluasi segera dicatat dan dikemunikasikan pada klien

dan/keluarga

3) Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar hasil evaluasi

ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi klien/pasien

(Suryani, 2014 : 127)

f. Standar VI : Pencatatan Asuhan Kebidanan

Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat,

singkat dan jelas mengenai keadaan atau kejadian yang

ditemukan dan dilakukan dalam memberikan asuhan kebidanan.

Kriteria pencatatan asuhan kebidanan :

1) Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan

pada formulir yang tersedia (rekam medis / KMS / Status

psien / buku KIA).

2) Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan “SOAP”

3) “S” adalah data subjektif, mencatat hasil anamnesa.

4) “O” adalah data objektif, mencatat hasil pemeriksaan.

5) “A” adalah hasil analisa, mencatat diagnosa dan masalah

kebidanan

“P” adalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan

dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti

tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara

komprehensif, penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi

/ follow up dan rujukan (Suryani, 2014 : 128)


37