You are on page 1of 21

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PENDIDIKAN KESEHATAN

TENTANG DAMPAK PENYALAHGUNAAN NAPZA


PADA REMAJA DI DESA TEMPUREJO

oleh
Tim Kesehatan Jiwa
Puskesmas Tempurejo

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Jln. Kalimantan No. 37 Kampus Tegal Boto Jember
Phone/Fak: (0331) 323450
2016
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Analisis Situasi


NAPZA adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif
lainnya, meliputi zat alami atau sintetis yang bila dikonsumsi menimbulkan
perubahan fungsi fisik dan psikis, serta menimbulkan ketergantungan (BNN,
2004). NAPZA adalah zat yang memengaruhi struktur atau fungsi beberapa
bagian tubuh orang yang mengonsumsinya. Manfaat maupun risiko penggunaan
NAPZA bergantung pada seberapa banyak, seberapa sering, cara
menggunakannya, dan bersamaan dengan obat atau NAPZA lain yang dikonsumsi
(Kemenkes RI, 2010). Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang
dibedakan ke dalam golongan golongan (BNN P Jatim, 2013).
Menurut BNN (Badan Narkotika Nasional) 2013, ancaman bahaya
penyalahgunaan narkotika di Indonesia kian meningkat dan mengarah pada
generasi muda, bahkan sudah memasuki kalangan civitas akademika yakni
mahasiswa. Kelompok usia muda sangat rawan terhadap penyalahgunaan dan
peredaran gelap narkotika. Berdasarkan hasil survei Badan Narkotika Nasional
tahun 2009 diperoleh data bahwa rata- rata usia pertama kali menyalahgunakan
narkotika pada usia yang sangat muda yaitu 12 - 15 tahun. Angka penyalahgunaan
narkotika di kalangan pelajar untuk pernah pakai sebesar 7,5 persen dan setahun
pakai sebesar 4,7 persen.
Berdasarkan Laporan Narkoba Dunia (World Drug Report) dari UNODC
(2005) jumlah penyalahguna narkoba di dunia sebesar 200 juta orang (5% dari
populasi dunia) yang terdiri dari : 160,9 juta orang (penyalahguna ganja), 34,1
juta (ATS), 13,7 juta orang (kokain), 15,9 juta orang (opiat) dan 10,6 juta orang
(heroin). Bianchi (2004) melaporkan peningkatan jumlah penyalahguna narkoba,
dari 180 juta tahun 2000 menjadi 185 juta tahun 2002, atau 4,2% pendudukusia
15-64 tahun.
Hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional bekerja sama
dengan Universitas Indonesia tahun 2008 menunjukan bahwa ada peningkatan
jumlah pengguna narkoba/napza sebesar 22,7% dari jumlah 1,1 juta di tahun 2006
menjadi 1,35 juta di tahun 2008. Memang sangat sulit untuk melakukan
pencegahan penggunaan NAPZA dikalangan pelajar dan mahasiswa, karena
peredaran NAPZA juga semakin gencar bersamaan dengan perkembangan
teknologi produksi narkoba atau napza di Indonesia. Sebagaimana data Badan
Narkotika Nasional (BNN) 2008 menyebutkan bahwa ada 3,6 juta
penyalahgunaan NAPZA di Indonesia, dimana 41% diantara mereka pertama kali
mencoba NAPZA di usia 10-18 tahun (Ferli, 2011).
Kasus penyalahgunaan NAPZA di Jawa Timur pada tahun 2009 didapatkan
data sebanyak 2698 kasus dan jumlah pelaku kejahatan narkoba sebanyak 3458
orang, kemudian pada tahun 2010 yang menjadi 2874 kasus dan 3854 tersangka.
Dalam tingkat kerawanannya dari 2009-2010, Surabaya memiliki potensi terbesar
dengan 2196 kasus, kota Blitar menduduki urutan kedua dengan 336 kasus disusul
daerah Kediri 282 kasus dan Malang 240 kasus (BNP, JawaTimur). Dari hasil
penelitian Lendriyono (2005) berkaitan dengan kisaran usia korban
penyalahgunaan Narkoba yang tercatat di LP Kabupaten Blitar bahwa korban
yang berusia 8 - 13 tahun berjumlah 3 orang (6,12%), korban kelompok umur 14 -
18 tahun sebanyak 11 orang (22,44%). Dua kelompok usia ini masih tergolong
usia anak-anak yang menegaskan kisaran usianya di bawah 18 tahun.

1.2 Perumusan Masalah


Bagaimana meningkatkan pengetahuan dan motivasi remaja Desa
Tempurejo dalam mencegah penyalahgunaan NAPZA?
BAB II. TUJUAN DAN MANFAAT

2.1 Tujuan
2.1.1 Tujuan Umum
Setelah diberikan pendidikan kesehatan, diharapkan remaja Desa
Tempurejo mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang bahaya,
dampak dan cara menghindari penyalahgunaan penggunaan NAPZA.
2.1.2 Tujuan Khusus
a. Memberikan pengetahuan pada remaja Desa Tempurejo tentang
pengertian dari NAPZA.
b. Memberikan pengetahuan pada remaja Desa Tempurejo tentang
dampak dan bahaya penggunaan NAPZA bagi kalangan remaja.
c. Memberikan informasi pada remaja Desa Tempurejo tentang cara
bersikap dalam menolak penggunaan NAPZA bagi kalangan remaja.

2.2 Manfaat
2.1.2 Bagi Penulis
Mendapatkan pengetahuan, informasi, dan wawasan mengenai dampak
penggunaan NAPZA pada remaja Desa Tempurejo.
2.1.2 Bagi Masyarakat
Memberi infromasi kepada anak dan keluarga mengenai dampak
penggunaan NAPZA bagi kalangan remaja.
2.2.3 Bagi Praktik Keperawatan
Memberi informasi bagi praktik keperawatan khususnya keperawatan
anak untuk dapat memberikan pendidikan kesehatan mengenai dampak
dan sikap terhadap penyalahgunaan NAPZA dan kesehatan reproduki
bagi kalangan remaja.
2.2.4 Bagi Pendidikan Keperawatan
Memberi pengetahuan dan wawasan tentang dampak penggunaan napza
dan kesehatan reproduksi bagi kalangan remaja dan dapat menambah
studi kepustakaan dan menjadi masukan yang berarti dan bermanfaat
bagi mahasiswa keperawatan dan bidang kesehatan lainnya.
2.2.5 Bagi Penelitian Keperawatan
Sebagai bahan informasi dan referensi untuk melakukan penelitian.
2.2.6 Bagi Pemerintah
Pemerintah serta tenaga pendidikan dapat membantu dalam
memberikan pendidikan kesehatan mengenai dampak penggunaan
NAPZA bagi kalangan remaja.
BAB III. KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH

3.1 Dasar Pemikiran


Masalah yang sering muncul pada remaja adalah penyalahgunaan NAPZA.
Menurut BNN (Badan Narkotika Nasional) 2013, ancaman bahaya
penyalahgunaan narkotika di Indonesia kian meningkat dan mengarah pada
generasi muda, bahkan sudah memasuki kalangan civitas akademika. Kelompok
usia muda sangat rawan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Berdasarkan hasil survei Badan Narkotika Nasional tahun 2009 diperoleh data
bahwa rata- rata usia pertama kali menyalahgunakan narkotika pada usia yang
sangat muda yaitu 12 - 15 tahun. Angka penyalahgunaan narkotika di kalangan
pelajar dan mahasiswa untuk pernah pakai sebesar 7,5 persen dan setahun pakai
sebesar 4,7 persen. Faktor remaja yang meyalahgunakan NAPZA yaitu faktor
lingkungan, faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan,
baik pergaulan disekitar rumah maupun di tempat-tempat umum. Remaja tidak
hanya hidup di dalam lingkungan keluarga dan disekolah, melainkan juga dalam
masyarakat luas. Oleh karena itu, kondisi dalam masyarakat juga mempengaruhi
perilaku remaja, termasuk perilaku yang berkaitan dengan NAPZA. Faktor-faktor
itu antaranya: mudahnya memperoleh NAPZA, harga NAPZA makin murah,
kehidupan sosial, ekonomi, politik dan keamanan yang tidak menentu
menyebabkan terjadinya perubahan nilai dan norma, antara lain sikap yang
permisif (membolehkan). Dampak penyalahgunaan NAPZA sangat luas, tidak saja
terhadap kesehatan fisik dan mental, akan tetapi akan berdampak pada ketenangan
kehidupan dalam keluarga, meresahkan masyarakat, dan terjadi pelanggaran
hukum.
Undang-Undang Republik Indonesia No.4 tahun 1997, tentang Penyandang
Cacat, menyatakan bahwa penyandang cacat mempunyai hak dan kesempatan
yang sama dalam berbagai aspek kehidupan dan penghidupan. Hak tersebut
diperjelas dalam Undang – Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak, yang menegaskan bahwa semua anak termasuk anak penyandang cacat
mempunyai hak untuk kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang,
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi serta hak untuk didengar
pendapatnya.

3.2 Kerangka Penyelesaian Masalah

Pengetahuann
Pengetahuann sesudah
Pendidikan pendidikan
sebelum
kesehatan kesehatan
pendidikan
NAPZA NAPZA
kesehatan
NAPZA
BAB IV. RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Realisasi Penyelesaian Masalah


Penyelesaian masalah untuk remajaa Desa Tempurejo dengan melakukan
pendidikan kesehatan dan demonstrasi tentang dampak penggunaan NAPZA dan
kesehatan reproduksi bagi kalangan remaja. Sebelum demonstrasi tindakan,
terlebih dilakukan pengkajian dan pengukuran tingkat pengetahuan terhadap
remajaa Desa Tempurejo.

4.2 Khalayak Sasaran


Khalayak sasaran dalam kegiatan ini adalah remaja Desa Tempurejo dengan
harapan dapat membantu mereka dalam mengembangkan potensinya secara
optimal dengan penyuluhan kesehatan tentang dampak penggunaan napza dan
kesehatan reproduksi bagi kalangan remaja sehingga dapat membantu
pengembangan program pembelajaran anak luar biasa.

4.3 Metode yang Digunakan


Dalam kegiatan penyuluhan dan pelatihan ini pendekatan yang digunakan
bersifat ‘persuasif-edukatif’, dengan ini dimaksudkan untuk memberikan
pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan dalam penyuluhan tentang dampak
penggunaan napza bagi kalangan remaja dalam pembelajarann anak luar biasa.
Adapun metodenya: ceramah, diskusi dengan Think-pair share dan demonstrasi,
dan praktek/latihan, melalui tahapan sebagai berikut:
a) metode ceramah disampaikan pada waktu menjelaskan tentang dampak
penggunaan napza bagi kalangan remaja dalam pendidikan luar biasa
secara teoritis.
b) metode diskusi think pair share, siswa diberikan waktu untuk berpikir dan
berbagi hasil pemikiran pada waktu diskusi dengan pemateri sebagai
pemberi arahan.
c) metode demonstrasi dan praktek digunakan pada waktu latihan
mengenalkan macam-macam NAPZA dan kesehatan reproduksi
dikalangan remaja dengan menggunakan media gambar atau video serta
program pembelajarannya akan disesuaikan.
BAB V. HASIL KEGIATAN

5.1 Analisis Evaluasi dan Hasil-Hasilnya


5.1.1 Evaluasi Struktur
a. Mahasiswa telah melakukan pengkajian sebagai data dasar sebelum
memulai pendidikan kesehatan
b. Mahasiswa telah menyiapkan media pembelajaran dalam proses
pendidikan kesehatan
c. Anak-anak menyatakan bersedia mengikuti proses pendidikan
kesehatan
d. Mahasiswa dapat mengembangkan pola komunikasi interaktif dan
menarik
e. Materi yang akan disajikan sudah dalam bahasa dan istilah yang
mudah dipahami
f. Mahasiswa mampu meningkatkan antusiasme anak-anak
g. Mahasiswa mampu menjaga sikap selama pendidikan kesehatan dan
demonstrasi penolakan penyalahgunaan NAPZA
h. Mahasiswa mampu bersikap caring, empati dan mengutamakan
kebutuhan anak-anak selama pendidikan kesehatan dan demonstrasi
dilakukan.
i. Tersedia lingkungan yang nyaman, kondusif dan tenang selama
pendidikan kesehatan dan demonstrasi dilaksanakan.
5.1.2 Evaluasi Proses
a. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian NAPZA
b. Mahasiswa dapat menjelaskan manfaat Narkoba Psikotropika dan
Zat Adiktif Lainnya (NAPZA)
c. Mahasiswa dapat menjelaskan waktu penting Narkoba Psikotropika
dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA)
d. Mahasiswa mampu mengajarkan anak-anak Narkoba Psikotropika
dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA) dan menerapkan latihan Narkoba
Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA)
e. Anak-anak dapat mengikuti pendidikan kesehatan dan demonstrasi
Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA) dari awal
sampai selesai
f. Proses pendidikan kesehatan dan demonstrasi dapat berjalan
sistematis dan lancar
5.1.3 Evaluasi hasil
a. Anak-anak dapat menyebutkan pengertian NAPZA
b. Anak-anak dapat menyebutkan jenis Narkoba Psikotropika dan Zat
Adiktif Lainnya (NAPZA)
c. Anak-anak dapat menyebutkan dampak Narkoba Psikotropika dan
Zat Adiktif Lainnya (NAPZA)
g. Anak-anak mampu mendemonstrasikan Narkoba Psikotropika dan
Zat Adiktif Lainnya (NAPZA)
d. Anak-anak mampu merasakan manfaat dari latihan Narkoba
Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA)
5.2 Faktor Pendorong
5.2.1 Pengetahuan, sikap, keyakinan anak-anak akan pentingnya pengetahuan
tentang bahaya NAPZA
5.2.2 Peran serta dan dukungan aktif orang tua, keluarga, petugas kesehatan
untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA
5.2.3 Persediaan dana yang mencukupi untuk kebutuhan penyelenggaran
pendidikan kesehatan dan demonstrasi sehingga dapat berjalan dengan
lancar
5.2.4 Tingginya apresiasi dan motivasi anak-anak, orang tua, dan keluarga
akan kegiatan pendidikan kesehatan dan demonstrasi Narkoba
Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA)

5.3 Faktor Penghambat


5.3.1 Perasaan malu bertanya, sehingga anak-anak harus dibantu dan diberi
pancingan.
5.3.2 Metode yang digunakan adalah diskusi think pair share, sedikit sulit
diterapkan karena anak-anak malu mengungkapkan apa yang pernah
dirasakan dan dialaminya
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6. 1 Kesimpulan
NAPZA adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya,
meliputi zat alami atau sintetis yang bila dikonsumsi menimbulkan perubahan
fungsi fisik dan psikis, serta menimbulkan ketergantungan (BNN, 2004). Salah
sau bentuk peran perawat adalah melakukan pendidikan kesehatan. Hasil dari
pendidikan kesehtan adalah anak-anak mengikuti kegiatan hingga akhir dan
memahami konsep mengenai NAPZA dan kespro. Pendidikan Kesehatan
Tingginya apresiasi dan motivasi anak-anak, orang tua, dan keluarga akan
kegiatan pendidikan kesehatan dan demonstrasi Narkoba Psikotropika dan Zat
Adiktif Lainnya (NAPZA). Hambatan yang diemukan adalah diskusi think pair
share, sedikit sulit diterapkan karena anak-anak malu mengungkapkan apa yang
pernah dirasakan dan dialaminya.

6. 2 Saran
6.2.1 Bagi Anak-Anak
Anak-anak meningkatkan sikap dan pengetahuannya dalam penolakan
Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA) setiap hari
seperti yang telah diajarkan pada pendidikan kesehatan untuk
mengurangi penyalahgunaan NAPZA dan meningkatkan pencegahan
penyalahgunaan NAPZA
6.2.2 Bagi Keluarga
Meningkatkan peran serta dan dukungan aktif dari keluarga bagi anak
dalam mencegah penyalahgunaan Narkoba Psikotropika dan Zat
Adiktif Lainnya (NAPZA)
6.2.3 Bagi Masyarakat
Masyarakat turut berperan aktif dalam kegiatan pencegahan
penyalahgunaan NAPZA pada anak berkebutuhan khusus
6.2.4 Bagi Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan dapat memfasilitasi dan mengkoordinasi kegiatan
pencegahan penyalahgunaan NAPZA pada anak berkebutuhan khusus
6.2.5 Bagi Praktik Keperawatan Komunitas
Keperawatan komunitas dalam melaksanakan praktiknya dapat
menerapkan pemberian layanan asuhan keperawatan dalam mencegah
penyalahgunaan Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya
(NAPZA)
6.2.6 Bagi Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan
Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan dapat mendukung
kegiatan pencegahan penyalahgunaan NAPZA pada anak
berkebutuhan khusus
6.2.7 Bagi Pemerintah
Pemerintah dapat menyediakan dana dan kebijakan untuk mendukung
kegiatan pencegahan penyalahgunaan NAPZA pada anak
berkebutuhan khusus
DAFTAR PUSTAKA

Adi, Kusnoo. 2009. Kebijakan Kriminal Dalam Penanggulangan Tindak Pidana


Narkoba Oleh Anak . Malang: UMM Press.

Badan Narkotika Nasional. 2003. Bahan Pendidikan Pencegahan dan Kampanye


Penyadaran akan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba bagi Remaja Jakarta:
Badan Narkotika Nasional

Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur. 2013. Materi Pengenalan


Narkoba dan Bahaya Penyalahgunaannya. Surabaya: BNN P Jatim

Badan Narkotika Nasional. 2013. Buku Pedoman Kader Anti Narkoba. Jakarta:
Badan Narkotika Nasional

Dewi, Erti Ikhtiarini dkk. 2013. Buku Praktikum Keperawatan Klinik VIII.
Jember: Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.

Hurlock, E. 2004. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT Gramedia


Kementerian Kesehatan RI, 2010. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
Tahun 2010-2014. Jakarta.
Prijosaksono, Aribowo dan Sembel, Roy. 2002. Control Your Life: Aplikasi
Manajemen Diri dalam Kehidupan Sehari-hari. Jakarta: Gramedia.

Daftar Lampiran :
Lampiran 1: Berita Acara
Lampiran 2: Daftar Hadir
Lampiran 3: SAP
Lampiran 4: Materi
Lampiran 5: Media
Lampiran 6: Dokumentasi
Pemateri

…………………………………..
Lampiran 1

BERITA ACARA

Pada hari ini, ….. 15 Juli 2017 jam ….. s/d …..WIB bertempat di Aula SMK
Baitul Hikmah Desa Tempurejo Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur telah
dilaksanakan kegiatan Pendidikan Kesehatan tentang Dampak Penyalahgunaan
NAPZA pada remaja oleh Tim Kesehatan Jiwa Puskesmas Tempurejo, Jember.
Kegiatan ini diikuti oleh orang (daftar hadir terlampir)

Jember, …. November 2017

Mengetahui,
Ketua Program Kesehatan Jiwa
Puskesmas Tempurejo
Lampiran 2

DAFTAR HADIR

Kegiatan Pendidikan Kesehatan Tentang Dampak Penyalahgunaan NAPZA pada


remaja pada: Hari ….. … November 2017 jam ….. s/d ….. WIB di Aula SMK
Baitul Hikmah Desa Tempurejo Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur.

Jember, … November 2017

Mengetahui,
Ketua Program Kesehatan Jiwa
Puskesmas Tempurejo
Lampiran 3

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Pendidikan Kesehatan tentang Dampak Penyalahgunaan NAPZA


Sasaran : Remaja Desa Tempurejo Kabupaten Jember
Waktu : …. – …. WIB (1 x 60 menit)
Hari/Tanggal : ….. , … November 2017
Tempat : Aula SMK Baitul Hikmah Tempurejo

1. Standar Kompetensi
Setelah diberikan pendidikan kesehatan dan demonstrasi, diharapkan
orang tua dan remaja Desa Tempurejo Kabupaten Jember dapat mengetahui
tentang dampak penggunaan NAPZA pada remaja minimal 70% dan menerapkan
dalam kehidupan sehari-hari.

2. Kompetensi Dasar
Setelah diberikan pendidikan kesehatan dan demonstrasi, anak-anak
diharapkan dapat:
a. menjelaskan pengertian NAPZA;
b. menjelaskan jenis-jenis NAPZA menurut efeknya;
c. menjelaskan dampak penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja;
d. menjelaskan sikap menolak penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja.
e. menjelaskan pengertian kesehatan reproduksi remaja;
f. menjelaskan cara bersikap untuk menjaga kesehatan reproduksi remaja.

3. Pokok Bahasan
Dampak Penyalahgunaan NAPZA pada remaja

4. Subpokok Bahasan
a. Pengertian NAPZA
b. Jenis-Jenis NAPZA menurut efeknya
c. dampak penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja
d. sikap menolak penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja.
e. pengertian kesehatann reproduksi
f. cara bersikap terhapa kesehatan reproduksi remaja.

5. Waktu: 1 x 60 menit

6. Bahan/Alat yang Diperlukan


a. Gambar jenis NAPZA
b. Alat tulis
c. Video
d. LCD
e. Laptop
f. Leaflet
7. Model Pembelajaran
a. Jenis model penyuluhan: ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi
b. Landasan teori: Konstruktivisme
c. Langkah pokok:
1) Menciptakan suasana pendidikan kesehatan yang baik
2) Mengajukan masalah
3) Membuat keputusan nilai personal
4) Mengidentifikasi pilihan tindakan
5) Memberi komentar
6) Menetapkan tindak lanjut

8. Persiapan
Penyuluh mencari referensi (buku, jurnal, hasil penelitian, artikel, dan
lain-lain) membuat media penyuluhan mengenai dampak penyalahgunaan
NAPZA di kalangan remaja.

9. Kegiatan Pendidikan Kesehatan


Tindakan
Proses Waktu
Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta
Pendahuluan a. Memberikan salam, Memperhatikan dan 20 menit
memperkenalkan diri, dan menjawab salam
membuka penyuluhan
b. Mengajak anak-anak Memperhatikan
bernyanyi
c. Menjelaskan materi secara Memperhatikan
umum dan manfaat bagi
anak-anak
d. Menjelaskan tentang TIU dan
TIK
Penyajian a. Menjelaskan pengertian Memperhatikan 30 menit
NAPZA
b. Menjelaskan Jenis-jenis Memperhatikan
NAPZA
c. Menjelaskan dampak Memperhatikan
penggunaan NAPZA pada
remaja
d. Menjelaskan sikap menolak Memperhatikan
peyalahgunaan NAPZA

Mengikuti

Memberikan
pertanyaan

Memperhatikan dan
memberi tanggapan
Penutup a. Menutup pertemuan dengan Memperhatikan 10 menit
memberi kesimpulan dari
materi yang disampaikan
b. Mengajukan pertanyaan Memberi saran
kepada anak-anak
c. Mendiskusikan bersama Memberi komentar
jawaban dari pertanyaan dan menjawab
yang telah diberikan pertanyaan bersama
d. Menutup pertemuan dan Memperhatikan dan
memberi salam membalas salam

10. Evaluasi
a. Apa pengertian NAPZA?
b. Jenis-Jenis NAPZA menurut efeknya?
c. Bagaimana dampak penyalahgunaan NAPZA pada remaja?
d. Bagaimana sikap menolak penyalahgunaan NAPZA?
Lampiran 4

Dampak Penyalahgunaan NAPZA Pada Remaja

1. Pengertian
Narkotika dan psikotropika merupakan bagian dari Narkoba atau NAPZA.
NAPZA merupakan kependekan dari NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA DAN
ZAT ADIKTIF. Napza adalah bahan/zat/obat yang bila masuk ke dalam tubuh
manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak atau susunan saraf pusat,
kondisi kejiwaan atau psikologi seseorang baik dalam berpikir, perasaan dan
perilaku, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi
sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan
(dependensi) terhadap NAPZA.
2. Jenis-jenis NAPZA berdasarkan Undang-Undang
a. Narkotika (Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika)
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan.
Contohnya : ganja, kokain, heroin, morfin dll.
b. Psikotropika (Undang-Undang RI No 5 tahun 1997 tentang Psikotropika)
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun tidak alamiah
yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf
pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan
perilaku.
Contohnya : ekstasi, shabu dll.
c. Zat Adiktif
Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif
diluar yang disebut Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
1. Minuman beralkohol (keppres No, 3 tahun 1997) tantang
pengaewasan dan pengendalian minuman beralkohol.
Mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan
syaraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia
sehari-hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan sebagai
campuran dengan narkotika atau psikotropika, memperkuat pengaruh
obat/zat itu dalam tubuh manusia.
2. Inhalansia
Yaitu gas yang dihirup dan solven (zat pelarut) mudah menguap
berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang
keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang
sering disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku,
Bensin.
3. Tembakau
Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di
masyarakat.
Dalam upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian
rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari
upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu
masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.

3. Faktor yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkotika dan Psikotropika


(Napza/Narkoba)
Penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks akibat interaksi antara faktor
yang terkait dengan individu, faktor lingkungan dan faktor tersedianya zat
(NAPZA). Tidak terdapat adanya penyebab tunggal (single cause). Faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya penyalagunaan NAPZA adalah sebagian berikut :
1. Faktor individu
Kebanyakan penyalahgunaan NAPZA dimulai atau terdapat pada masa
remaja, sebab remaja yang sedang mengalami perubahan biologi,
psikologi maupun sosial yang pesat merupakan individu yang rentan untuk
menyalahgunakan NAPZA. Anak atau remaja dengan ciri-ciri tertentu
mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi penyalahguna NAPZA. Ciri-
ciri tersebut antara lain :
- Cenderung memberontak dan menolak otoritas.
- Cenderung memiliki gangguan jiwa lain (komorbiditas) seperti
depresi, cemas, psikotik, keperibadian sosial.
- Perilaku menyimpang dari aturan atau norma yang berlaku.
- Rasa kurang percaya diri (low selw-confidence), rendah diri dan
memiliki citra diri negative (low self-esteem).
- Sifat mudah kecewa, cenderung agresif dan destruktif.
- Mudah murung, pemalu, pendiam.
- Mudah mertsa bosan dan jenuh.
- Keingintahuan yang besar untuk mencoba atau penasaran.
- Keinginan untuk bersenang-senang (just for fun).
2. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik
disekitar rumah, sekolah, teman sebaya maupun masyarakat. Faktor
keluarga, terutama faktor orang tua yang ikut menjadi penyebab seorang
anak atau remaja menjadi penyalahguna NAPZA antara lain adalah :
- Kominikasi orang tua-anak kurang baik/efektif.
- Hubungan dalam keluarga kurang harmonis/disfungsi dalam
keluarga.
- Orang tua terlalu sibuk atau tidak acuh.
- Orang tua otoriter atau serba melarang
- Berteman dengan penyalahguna.
- Tekanan atau ancaman teman kelompok.

4. Pengaruh, Akibat, dan Dampak Penyalahgunaan Narkoba Dan Psikotropika


Pengaruh umum pada tubuh manusia dan lingkungannya :
1. Komplikasi Medik : biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup
lama. Pengaruhnya pada :
a. Otak dan susunan saraf pusat :
- Gangguan daya ingat.
- Gangguan perhatian / konsentrasi
- Gangguan bertindak rasional
- Gagguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi
- Gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja.
- Gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik
buruk.
b. Pada saluran napas : dapat terjadi radang paru (Bronchopnemonia)
pembengkakan paru ( Oedema Paru ).
c. Jantung : peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah
jantung.
d. Hati : terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik,
hubungan seksual.
e. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV / AIDS.
Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi,
mereka mau melakukan hubungan seksual demi mendapatkan zat atau
uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual yang terjadi adalah :
kencing nanah ( GO ), raja singa ( Siphilis ) dll. Dan juga pengguna
NAPZA yang mengunakan jarum suntik secara bersama – sama
membuat angka penularan HIV / AIDS semakin meningkat. Penyakit
HIV / AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual, selain
melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu ke janin.
f. Sistem Reproduksi : sering terjadi kemandulan.
g. Kulit : terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum
suntik, sehingga mereka sering menggunakan baju lengan panjang.
h. Komplikasi pada kehamilan :
- Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS.
- Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati.
- Janin : pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.
2. Dampak Sosial :
a. Di Lingkungan Keluarga :
- Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering
terjadi pertengkaran, mudah tersinggung.
- Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.
- Perilaku menyimpang / asosial anak (berbohong, mencuri, tidak
tertib, hidup bebas) dan menjadi aib keluarga.
- Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau
pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan
keuangan.
- Orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat
untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi.
b. Di Lingkungan Sekolah :
- Merusak disiplin dan motivasi belajar.
- Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar.
- Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara sesama teman
sebaya.
c. Di Lingkungan Masyarakat :
- Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari
pengguna/mangsanya.
- Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa
yang telah menjadi ketergantungan.
- Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian,
pembunuhan sehingga masyarkat menjadi resah.
- Meningkatnya kecelakaan.
5. Sikap yang Harus Dilakukan untuk Mencegah NAPZA
a. Percaya diri dan semangat
b. Berani menolak dan megatakan tidak pada penggunaan NAPZA
c. Rajin belajar dan berprestasi
Lampiran 5

Leaflat
Lampiran 6

Foto Kegiatan

Gambar 1. Kegiatan Pendidikan Kesehatan Dampak Penyalahgunaan NAPZA


pada Remaja pada …., …. November 2017 di Desa Tempurejo Kecamatan
Tempurejo Kabupaten Jember oleh Tim Kesehatan Jiwa Puskesmas Tempurejo,
Jember.

Gambar 2. Kegiatan Pendidikan Kesehatan Dampak Penyalahgunaan NAPZA


pada Remaja pada …., …. November 2017 di Desa Tempurejo Kecamatan
Tempurejo Kabupaten Jember oleh Tim Kesehatan Jiwa Puskesmas Tempurejo,
Jember.