You are on page 1of 18

LAPORAN PRAKTIKUM

KOMUNIKASI PERTANIAN

MENGENDALIKAN HAMA PENGEREK BATANG (Ostrinia fumacalis) PADA TANAMAN JAGUNG

AGROTEKNOLOGI-D

Disusun Oleh :

Nasra Mita

1406114828

LABORATORIUM KOMUNIKASI DAN SOSIOLOGI

JURUSAN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS RIAU

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat,
sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik kehidupan dialam
dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah KOMUNIKASI PERTANIAN yang berjudul ''Makalah Tanaman Jagung Dalam Mengendalikan
Hama penggerek Batang(Ostrinia fumacalis)'',dengan melakukan survei lapangan dan penyuluhan
terhadap petanijagung sebagai pokok pembahasan.

Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada teman-teman sekalian dan terkhusus
kepada Petani yang berlokasi di daerah Kartama kota Pekanbaru yang membentu memberi informasi
kepada penulis. Kepada asisten pratikum yang telah membantu , sehingga makalah ini
terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan. Laporan ini ditulis dengan berpedoman pada
literatur – literatur komoditi jagung .

Semoga laporan ini dapat memberikan informasi yang berguna kepada penulis maupun pembaca.
Walaupun makalah ini masih mempunyai banyak kekurangan.

Pekanbaru, Januari 2016

Nasra Mita

i
DAFTAR ISI

Kata pengantar................................................................................. i
Daftar isi........................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 1.1 Latar Belakang................................................................................... 1


1. 1.2 Tujuan.................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Tanaman Jagung......................................................................... 3


2.2 Morfologi Tanaman Jagung......................................................................... 3
2.3 Syarat Tumbuh ........................................................................................... 7
2.4 Hama dan Penyakit Tanaman Jagung......................................................... 8

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Hama Penganggu...................................................................................... 20


3.2 Pengendalian Terpadu............................................................................... 20

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulam.............................................................................................. 22
4.2 Saran......................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 23

ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman biji-bijian yang paling banyak di perdagangkan
dan paling penting setelah gandum dan padi. Jagung sebagai sumberkarbohidrat utama di Amerika
Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Beberapa
daerah di Indonesia (seperti di Maduradan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai
pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak
(hijauan maupuntongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal
dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung
tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku
pembuatan furfural. Saat ini jagung juga dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Lebih dari itu,
saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama
plastik. Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur polimer jagung dan plastik menjadi bahan
baku casing komputer yang siap dipasarkan.

Hasil tanaman jagung di Indonesia juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu masih belum
optimalnya penyebaran varietas unggul dimasyarakat, pemakaian pupuk yang belum tepat,
penerapan teknologi dan cara bercocok tanam yang belum diperbaiki. Usaha untuk meningkatkan
produksi tanaman jagung adalah peningkatan taraf hidup petani dan memenuhi kebutuhan pasar
maka perlu peningkatan produksi jagung yang memenuhi standar baik kualitas dan kuantitas jagung
yang dihasilkan. Untuk melakukan hal tersebut perlu dilakukan hal yaitu memahami dan mengetahui
karakteristik tanaman jagung tersebut seperti morfologi, fisiologi dan agroekologi yang diperlukan
oleh tanaman jagung sehingga dapat meningkatkan produksi jagung di Indonesia.
1.2 Tujuan

Tujuan dilakukan penulisan makalah ini agar mahasiswa/i dapat mengetahui bagaimana cara
budidaya tanaman jagung serta permasalahan-permasalahan yang dihadapi petani dalam
membudidayakan tanaman jagung. Mahasiswa diharapkan mampu memberi saran terhadap
masalah yang dihadapi petani tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Tanaman Jagung

Jagung adalah tanaman herba monokotil dan tanaman semusim iklim panas. Tanaman ini berumah
satu, dengan bunga jantan tumbuh sebagai perbungaan ujung (tassel) pada batang utama (poros
atau tangkai) dan bunga betina tumbuh terpisah sebagai pembungaan samping (tongkol) yang
berkembang pada ketiak daun. Tanaman ini menghasilkan satu atau beberapa tongkol (Rubatzky dan
Yamaguchi, 1998).

Klasifikasi tanaman jagung adalah :

Kerajaan : Plantae

Devisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Poales

Famil : Poaceae

Genus : Zea

Spesies : Z. Mays L

2.2 Morfologi Tanaman Jagung

1. Tinggi Jagung

Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara
1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari
permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat
menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.

2. Struktur Akar

Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar
berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-
buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman tersebut.

3. Struktur Batang
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi
atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk
roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung
cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.

4. Struktur Daun

Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun
terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada
yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae.
Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam
respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.

5. Struktur Bunga

Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman
(monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut
floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh
di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan
beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang
dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif
meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan
2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).

6. Struktur Buah

Buah jagung berwana kuning muda saat sebelum dewasa atau putih susu dalam keadaan
pembentukan. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan
disebut sebagai varietas prolifik. Adanya pembaharuan peningkatan mutu jagung jenis hibrida
namun umumnya setiap batang hanya satu tongkol saja, dan saat buah jagung dewasa akan berubah
bentuk menjadi kekuningan.

2.3 Syarat Tumbuh

Jagung di Indonesia kebanyakan ditanam di dataran rendah baik di tegalan, sawah tadah
hujan maupun sawah irigasi. Sebagian terdapat juga di daerah pegunungan pada ketinggian 1000-
1800 m di atas permukaan laut. Tanah yang dikehendaki adalah gembur dan subur, karena tanaman
jagung memerlukan aerasi dan drainase yang baik. Jagung dapat tumbuh baik pada berbagai macam
tanah. Tanah lempung berdebu adalah yang paling baik bagi pertumbuhannya. Tanah-tanah berat
masih dapat ditanami jagung dengan pengerjaan tanah lebih sering selama pertumbuhannya,
sehingga aerasi dalam tanah berlangsung dengan baik. Air tanah yang berlebihan dibuang melalui
saluran drainenase yang dibuat dinatar barisan jagung. Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untiik
jagung adalah sekittir 5,5 - 7,0. Tanah dengan kemiringan tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami
jagung dengan arah barisan tegak lurus terhadap miringnya tanah, derigan maksud untuk mencegah
keganasan erosi yang terjadi pada waktu turun hujan besar, b. Iklim Faktor-faktor iklim yang
terpenting adalah jumlah dan pembagian dari sinar matahari dan curah hujan, temperatur,
kelembaban dan angin. Tempat penanaman jagung harus mendapatkan sinar matahari cukup dan
jangan terlindung oleh pohon-Pohonan atau bangunan. Bila tidak terdapat penyinaran dari matahari,
hasilnya akan berkurang. Temperatur optimum untuk pertumbuhan jagung adalah antara 23 - 27
C. (Effendi,S. 1980).

2.4 Hama dan Penyakit Tanaman Jagung

Hama pada umumnya diartikan sebagai gangguan pada manusia,ternak dan tanaman. Secara
khusus hama di artikan sebagai semua aktivitas hidup hewan yang dapat merusak,merugikan secara
ekonomis sehingga dapat menurunkan hasil produksi tanaman tersebut. Penyakit adalah gangguan
terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Penyakit tidak memakan
tanaman melainkan merusak tanaman dengan mengganggu proses-proses di dalamnya. Tanaman
yang terserang penyakit umumnya memiliki bagian tubuh yang utuh,tetapi aktivitas hidupnya
terganggu sehingga dapat mengalami kematian. Penyakit juga dapat merugikan secara ekonomis
dan menurunkan produksi terhadap tanaman tersebut. Berikut beberapa hama dan penyakit yang
terdapat pada tanaman jagung. (Suharto. 2007).

Hama

1.Ulat Tanah (Agrotis sp.)

Hama jenis ini menyerang tanaman jagung muda pada malam hari, sedangkan pada siang harinya
bersembunyi di dalam tanah. Ulat tanah menyerang batang tanaman
jagung muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong.

Pengendalian hama ulat tanah dapat dilakukan menggunakan insektisida biologidari golongan
bakteri seperti Bacilius thuringiensis atau insektisida biologi dari golonganjamur seperti Beauvaria
bassiana. Secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotaninsektisida berbahan aktif profenofos,
klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan
petunjuk pada kemasan.

2.Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis)

Hama belalang pada tanaman jagung merupakan hama migran dimana tingkat kerusakannya
tergantung pada jumlah populasinya dan tipe tanaman yang diserang.Hama belalang menyerang
terutama pada bagian daun, daun terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika
populasinya banyak dan belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan
sekaligus dengan tulang – tulang daunnya.Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan
penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau
lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

3.Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch)

Kerusakan biji oleh kumbangn bubuk dapat mencapai 85% dengan penyusutan bobot biji
17%. Hama ini menyerang tongkol jagung sejak masih di areal pertanamansampai merusak biji
jagung dalam penyimpanan. Imago bisa bertahan dalam biji selamabeberapa hari
sebelum membuat lubang keluar. Serangan selama tanaman di lapangan dapat terjadi jika tongkol
terbuka. Tanaman yang kekeringan, dengan pemberian pupukyang rendah menyebabkan
tanaman mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Panen yang
tepat pada saat jagung mencapai masak fisiologis untuk mencegah sitophilus zeamais, karena panen
yang tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji di penyimpanan.

Pestisida nabati yang dapat digunakan yaitu daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana
camara, Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar Khaya senegelensis, Acorus calamus,
bunga Pyrethrum sp., Capsicum sp., dan tepung biji Annona sp. dan Melia sp.

Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan untuk menekan perkembangan kumbang bubuk,
seperti Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai
mortalitas 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae (Howard) juga mampu
menekan perkembangan kumbang bubuk.

4.Lalat Bibit (Atherigona sp.)

Lalat bibit hanya ditemukan di daerah Jawa dan Sumatera dan dapat merusakpertanaman
jagung hingga 80% dan bahkan puso. Lalat bibit menyerang tanaman jagungdengan cara
meletakkan telur di bawah permukaan daun. Larva yang baru menetas melubangi batang kemudian
membuat terowongan sampai dasar batang, sehinggatanaman jagung menjadi kuning dan akhirnya
mati. Pupa terdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah. Jika tanaman
terserang mengalami recovery (proses penyembuhan), maka pertumbuhannya akan kerdil.

Pemanfaatan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan parasitTrichogramma spp. yang
memarasit telur. Sedangkan Opius sp. Dan Tetrastichus sp. memarasit larva.Pengendalian kimiawi
dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing) yaitu menggunakan insektisida berbahan
aktif thiodikarb dengan dosis 7,5-15 g b.a./kg benih atau karbofuran dengan dosis 6 g b.a./kg benih.
Pada umur 7 hari dilakukanpenyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan.
Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

5.Ulat Grayak (Spodoptera sp.)

Larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok. dengan
meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja.
Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim
kemarau.Pengendalian secara fisik dapat dilakukan dengan memasang alat perangkap ngengat sex
feromonoid sebanyak 40 buah/Ha semenjaktanaman jagung berumur 2 minggu.

Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti :
Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, danMetarhizium
anisopliae. Dari golongan bakteri yaitu Bacillus thuringensis. Pemanfaatan patogen virus untuk ulat
ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan Sl-NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhedrosis
Virus). Parasit lain yang dapat dimanfaatkan adalah Parasitoid Apanteles sp.,
Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.

Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos,
klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan
petunjuk pada kemasan.

6.Penggerek Tongkol (Heliotis armigera, dan Helicoverpa armigera.)

Imago betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung. Rata-rata produksi telur imago betina
adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan. Sesaat setelah menetas larva
akan menginvasi masuk ke dalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami
perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung. Pada
lubang bekas gorokan hama ini terdapat kotoran hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu
menyerang pada tangkai bunga.

Pemanfaatan agensia hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah
Parasit, Trichogramma spp. merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae)
parasit pada larva muda. Cendwan Metarhizium anisopliae. menginfeksi larva dan aplikasi
bakteri Bacillus thuringensis

Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktifprofenofos,


klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan
petunjuk pada kemasan. Penyemprotan dilakukan setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol
hingga rambut jagung berwarna coklat.

7.Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)

Hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung pada seluruh fase pertumbuhan.
Kehilangan hasil akibat serangannya dapat mencapai 80%. Tingginya kerusakan hasil yang
ditimbulkan tersebut karena titik serangnya bukan hanya pada bagian tertentu saja, namun hampir
di semua bagian tanaman jagung bisa menjadi incarannya. Selain itu, hama ini juga menyerang pada
semua fase pertumbuhan tanaman jagung.

Ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi per tahun, umur imago/ngengat
dewasa 7-11 hari. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur padatanaman jagung yang tinggi
dan telur di letakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9, umur telur
3-4 hari.

Larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah, larva
muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-
30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa
6-9 hari. Larva Ostrinia furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman
jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal
tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak.

Penggunaan agensia hayati dengan memanfaatkan musuh alami seperti parasitoidTrichogramma


spp. dapat memarasit telur O. furnacalis. Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan
larva O. Furnacalis. Serta aplikasi cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae untuk
mengendalikan larva O. furnacalis.Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida
berbahan aktifmonokrotofos, triazofos, metomil, metamidophos, diklhrofos, dan karbofuran.
Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

8.Kutu Daun (Mysus persicae)

Hama kutu daun pada tanaman jagung adalah Mysus persicae. Hama ini mengisap cairan tanaman
jagung terutama pada daun muda, kotorannya berasa manis sehingga mengundang semut dan
berpotensi menimbulkan serangan sekunder yaitu cendawan jelaga. Serangan parah
menyebabkan daun tanaman jagung mengalami klorosis(kuning), dan menggulung. Kutu ini juga
menjadi serangga vektor penular virus mosaik.Pengendalian hama Mysus
persicae dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid,
klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada
kemasan.

PENYAKIT

1.Hawar Daun (Helmithosporium turcicum)

Pada awal terinfeksi maka gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin
memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik yang disebut hawar, warnanya
hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5-15 cm, bercak muncul dimulai pada daun yang
terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman
jagung cepat mati atau mengering, dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot.
Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau pada sisa
sisa tanaman di lapang.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara memusnahan seluruh bagian tanaman yang
terserang sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman). Secara kimiawi menggunakan fungisida
dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada
kemasan.

2.Busuk Pelepah (Rhizoctonia solani)

Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah
menjadi abu-abu, selanjutnya bercak meluas, seringkali diikuti pembentukan sklerotium dengan
bentuk tidak beraturan berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat.Serangan penyakit
dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat dengan permukaan tanah kemudian menjalar ke
bagian atas. Pada varietas yang tidak tahan penyakit ini (rentan) serangan cendawan dapat
mencapai pucuk atau tongkol. Cendawan bertahan hidup sebagai miselium dan
sklerotium pada biji, di tanah dan pada sisa-sisatanaman di lapang. Keadaan tanah yang basah,
lembab, dan drainase yang kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium dan sklerotia.

Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kelembaban areal pertanaman, yaitu
dengan pengaturan jarak tanam tidak terlalu rapat dan pengaturan drainase air agat tidak terjadi
genangan. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan sefamili. Pengendalian kimiawi dengan
menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb dan karbendazim. Dosis/konsentrasi sesuai
dengan petunjuk pada kemasan.

3.Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis)


Penyakit bulai merupakan penyakit utama tanaman jagung. Penyakit ini menyerang tanaman
jagung pada 1-2 minggu. Kegagalan budidaya jagung akibat serangan penyakit ini dapat mencapai
100%.Gejala khas bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas
yang jelas antara daun sehat. Pada permukaan atas dan bawah daun terdapat warna putih seperti
tepung dan ini sangat jelas pada pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan
terhambat, termasuk pembentukan tongkol, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun
menggulung dan terpuntir serta bunga jantan berubah menjadi massa daun yang
berlebihan.Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda umumnya tidak
menghasilkan buah, tetapi bila terinfeksi pada tanaman yang sudah tua namun masih terbentuk
buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil.

Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain penggiliran tanaman, penanaman jagung secara
serempak, pemusnahan seluruh bagian tanaman terserang sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman).
Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan cara perlakuan benih
menggunakan fungisida berbahan aktif metalaksil dengan dosis 2 gram (0,7 g bahan aktif) per kg
benih. Selain itu penyemprotan tanaman pada umur 5, 10, dan 15 hari menggunakan fungisida
berbahan aktif metalaksil, famoksadon, atau benomil. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk
pada kemasan.

4.Busuk Tongkol

a. Busuk tongkol Fusarium (Fusarium moniliforme)

Gejala penyakit ini permukaan biji pada tongkol berwarna merah jambu sampai coklat, kadang-
kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas yang berwarna merah jambu. Cendawan
berkembang pada sisa tanaman dan di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, dan
penyebarannya dapat melalui angin atau tanah.

b. Busuk tongkol Diplodia (Diplodia maydis)

Kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu
keluarnya rambut jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselium
berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai pada dasar tongkol
berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji dan menutupi kelobot. Cendawan
dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman
jagung di lapangan.

c. Busuk tongkol Gibberella (Gibberella roseum)

Tongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan ini dapat menjadi busuk dan kelobotnya saling
menempel erat pada tongkol, buah berwarna biru hitam di permukaan kelobot dan bongkol.

Pengendalian ketiga penyakit busuk tongkol di atas yaitu dengan cara tidak membiarkan tongkol
terlalu lama mengering di lapangan, jika musim hujan bagian batang dibawah tongkol dipotong agar
ujung tongkol tidak mengarah keatas. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan
termasuk padi-padian, karena patogen-patogen tersebut mempunyai banyak tanaman inang.
Secaraa kimiawi dapat dilakukan penyemprotan tanaman menggunakan fungisida berbahan
aktif metalaksil, famoksadon, atau benomil. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada
kemasan.

5.Busuk Batang
Penyakit busuk batang jagung disebabkan oleh delapan spesies/cendawan sepertiColletotrichum
graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme,Macrophomina
phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, danCephalosporium acremonium.
Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan hingga 65%. Tanaman jagung yang
terserang penyakit ini tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi
pada stadia generatif. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan,
bagian dalam batang busuk, sehingga mudah rebah, dan bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal
batang yang terinfeksi akan memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah pergiliran tanaman, pemupukan berimbang,
menghindari pemberian N tinggi dan K rendah, drainase yang baik,
pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan dengan
cendawan antagonis Trichoderma sp. Pengendalian secara kimiawi menggunakanfungisida berbahan
aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk
pada kemasan.

6.Karat Daun (Puccinia polysora)

Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di
bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan
berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan
sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan
infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau.Upaya pengendalian yang
dapat dilakukan yaitu dengan cara pemusnahan seluruh bagian tanaman terserang sampai ke
akarnya (Eradikasi tanaman). Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi
fungisida berbahan aktifbenomil, metil tiofanat, karbendazim, atau difenokonazole dengan
dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

7.Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn.)

Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya yaitu ras O
dan T. Ras O bercak berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 0,6 x (1,2-1,9) cm, sedangkan Ras T
bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6-1,2) x (0,6-2,7) cm. Ras T berbentuk kumparan dengan
bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan. Ras T lebih
berbahaya (virulen) dibanding ras O dan pada bibit jagung yang terserang menjadi layu atau mati
dalam waktu 3-4 minggu setelah tanam.Tongkol jagung yang terserang/terinfeksi dini, biji akan rusak
dan busuk, bahkan tongkol dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh
bagian tanaman(daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji, dan tongkol). Permukaan biji yang
terinfeksi ditutupi miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang
cukup besar.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pemusnahan seluruh
bagian tanaman terserang sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman). Pengendalian kimiawi dapat
dilakukan dengan aplikasi fungisida berbahan aktif benomil, metil tiofanat, karbendazim, atau
difenokonazole dengan dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

8.Virus Mosaik

Gejala penyakit ini tanaman menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-
garis kuning, dan dilihat secara keseluruhan tanaman jagungtampak berwarna agak
kekuningan mirip dengan gejala bulai namun permukaan daun bagian bawah dan atas dipegang
tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui
serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydissecara non persisten. Tanaman jagung yang
terinfeksi virus ini umumnya terjadi penurunan hasil.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu, mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin
agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang,
pergiliran tanaman atau tidak menanam jagungterus menerus di lahan yang sama, pengendalian
serangga vektor penular virus ini, terutama kutu Mysus persicae, serta tidak penggunakan benih
yang berasal dari tanamanyang terinfeksi virus.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Hama Pengganggu


Hasil dari survei pada beberapa petani di daerah Kartama,Pekanbaru. Pada hasil survei yang
dilakukan petani mengalami hasil produksi yang menurun seperti masalah-masalah yang dihadapi
petani indonesia lainnya. Pada petani jagung daerah ini yang menjadi permasalahan yang sama.
Permasalahan yang di hadapi yaitu adanya serangan hama Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis).

Gambar 8.
hama Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)

Hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung pada seluruh fase pertumbuhan. Kehilangan
hasil akibat serangannya dapat mencapai 80%. Hama ini juga sering di sebut ‘’ngengat’’.Ngengat
aktif malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi per tahun, umur imago / ngengat dewasa 7-
11 hari.
Yang menarik, ngengat betina hama ini lebih suka meletakkan telur-telurnya di bawah permukaan
daun, utamanya pada daun ke-5 hingga daun ke-9. Seekor ngengat betina mampu meletakkan
telurnya sebanyak 600 – 800 butir. Jumlah telur yang diletakkan pada daun pun beragam di antara
masing-masing kelompok, yaitu berkisar antara 30 hingga 50 butir, bahkan ada yang lebih dari 90
butir. Umur telurnya sendiri berkisar antara 3 hingga 4 hari.

Serangan serangga ini dimulai saat tanaman jagung berumur dua minggu, dimana imagonya mulai
meletakkan telur pada bagian-bagian tanaman. Puncak peletakan telur itu sendiri terjadi pada stadia
pembentukan bunga jantan hingga keluarnya bunga jantan.

3.1 Pengendalian Terpadu

Untuk mengendalikan hama Ostrinia furnacalis diperlukan langkah terpadu yang tepat,
karena serangannya berfluktuasi dari waktu ke waktu. Mengatur waktu tanam bisa menjadi salah
satu alternatif untuk menghindari serangan hama ini. Waktu tanam yang baik adalah pada awal
musim hujan dan paling lambat empat minggu sesudah mulai musim hujan. (Anonim. 1992)

Selain itu, pola tanam tumpang sari antara jagung dengan kedelai atau kacang tanah juga bisa
mengurangi serangan dan kerusakan yang ditimbulkan hama ini. Pemotongan sebagian bunga
jantan, yaitu empat baris dari enam baris tanaman, juga mampu mengurangi serangan. Pasalnya,
dari hasil sebuah penelitian yang dilakukan Nafus dan Schreiner menunjukkan bahwa 40 – 70% larva
berada pada bunga jantan.

Pemanfaatan musuh alami juga bisa dilakukan untuk mengendalikan seranganOstrinia


furnacalis Guenee. Beberapa musuh alami yang bisa digunakan adalah:
parasitoid Trichogramma spp. yang mampu memarasit telur, bakteri Bacillus thuringiensis
Kurstaki untuk mengendalikan larva, dan predator Euborellia annulata yang mampu memangsa larva
dan pupa Ostrinia furnacalis.

Sedangkan untuk pengendalian secara kimiawi, bisa menggunakan insektisida berbahan aktif
triazofos seperti Raydent 200EC, dan karbosulfan seperti Matrix 200EC yang cukup efektif untuk
menekan serangan hama ini.

Selain itu, menurut General Manager Market Development PT. Tanindo Intertraco Mudjahiddin,
penyemprotan dengan menggunakan insektisida Trisula 450SL yang berbahan aktif monosultap juga
bisa dilakukan. “Penyemprotan dilakukan sebelum memasuki masa berbunga, atau sekitar umur 40
hari setelah tanam,” .Sementara itu, Market Development Corn Seed Manager PT. Tanindo
Intertraco Doddy Wiratmoko mengatakan, penggunaan jagung hasil rekayasa genetika yang tahan
serangan hama juga bisa menjadi solusi yang lebih praktis dan ekonomis. Misalnya adalah
penggunaan jagung Bt yang telah disisipi oleh gen dari bakteri tanah Bacillus thuringiensis (Bt),
sehingga tanaman jagung lebih tahan dari serangan hama, termasuk dari serangan penggerek
batang.Di sejumlah negara produsen jagung dunia seperti Amerika Serikat, penggunaan jagung Bt
sudah sangat lazim diterapkan para petani. Pada tahun 2006, dari 54,6 juta ha areal tanaman
transgenik, 17,9 juta ha di antaranya ditanami jagung Bt.

Bahkan beberapa negara di kawasan Asia, seperti Filipina, penanaman jagung Bt oleh petani sudah
mulai banyak. Hingga tahun 2006 saja, luas penanamannya sekitar 200 ribu hektar.“Dengan
menggunakan jagung Bt, hasil yang diperoleh petani bisa tetap tinggi karena bisa menekan
kehilangan hasil akibat serangan hama, sekaligus bisa menghemat biaya produksi dan penggunaan
pestisida secara langsung pada tanaman,” ujar Doddy. (AT : Vol. 13 No. 1 Edisi XLIV, Januari - Maret
2012).

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari hasil yang telah di bahas dapat di simpulkan bahwa tanaman jagung juga merupakan tanaman
yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Untuk menghindari penurunan produksi pada
tanaman jagung perlu diperhatikan beberapa faktor yaitu pada pemilihan benih,diharapkan
mengunakan varietas ungul seperti varietasjagung Bt. Dan memperhatikan pemakaian pupuk yang
sesuai. Penerapan cara bercocok tanam yang baik untuk menghindari banyaknya serangan hama dan
penyakit pada tanaman budidaya.

Pada serangan hama Ostrinia furnacalis diperlukan langkah terpadu yang tepat, karena serangannya
berfluktuasi dari waktu ke waktu. Mengatur waktu tanam bisa menjadi salah satu alternatif untuk
menghindari serangan hama ini. Waktu tanam yang baik adalah pada awal musim hujan dan paling
lambat empat minggu sesudah mulai musim hujan.

4.2 Saran

Untuk petani jagung diharapkan untuk menerapkan cara bercocok tanaman yang baik agar
dapat mengurangi serangan hama dan penyakit. Petani diharapkan lebih memperhatikan perawatan
pada tanaman tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

-2004. http://www.wordcrops.org/baby-corn.cfm. Diakses tanggal 2 Januari 2015.

-2007. http://waintek.prosressio.or.id/-byrans. Diakses tanggal 2 Januari 2015.

Anonim. 1992. Bercocok Tanam Jagung. Puslitbang Tanaman Pangan dan Pengembangan Pertanian,
InstitutPertanian.Bogor.

Effendi,S. 1980. Bercocok Tanam Jagung. C.V. Yasaguna.Jakarta

Marlina V, enni.2004.pengaruh pemberian dosis kompos azzola terhadap pertumbuhan dan hasil
tanaman jagung.proposal skripsi progam studi agronomi jurusan budi daya pertanian fakultas
pertanian universitas jambi.jambi

Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi. 1998. World Vegetables :Principles, Production and Nutritive
Values (Sayuran Dunia I, Prinsip , Produksi dan Gizi, alih bahasa oleh C. Horison). Institut Teknologi
bandung, Bandung.

Said, M. Yasin, Soenartiningsih, A. Tenrirawe, A. M. Adnan, Wasmo,Wakman, A. Haris Talanca, dan


Syafruddin. 2008. Petunjuk Lapang,Hama, Penyakit Hara pada Jagung. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. C.V yasaguna. Jakarta

Suharto. 2007. Pengenalan dan Pengendalian Hama Tanaman Pangan.Yogyakarta.