You are on page 1of 18

Politik Luar Negeri Indonesia

Pengertian
Secara harfiah, politik Luar negri memiliki pengertian sebagai suatu taktik atau strategi yang
diterapkan oleh suatu negara terkait hubungannya dengan negara-negara lain di dunia. Dalam arti
yang lebih luas, definisi politik luar negri adalah sebagai pola perilaku dari suatu negara dalam
menjalin hubungan dengan dunia Internasional.
Menurut sebuah buku yang berjudul “Strategi Pelaksanaan Politik Luar Negeri Republik Indonesia
(tahun 1984-1988) menyatakan bahwa politik luar negeri adalah suatu kebijakan yang diambil oleh
pemerintah dalam rangka hubungannya dengan dunia internasional dalam usaha untuk mencapai
tujuan nasional.
Dari uraian diatas bisa diambil kesimpulan bahwa dengan menerapkan kebijakan politik luar negeri
maka berarti pemerintah telah memproyeksikan berbagai kepentingan nasional terhadap masyarakat
antar bangsa. Dengan kata lain, termuat gambaran terkait kondisi suatu negara di masa yang akan
datang dalam rumusan tujuan diterapkannya politik luar negri tersebut, dimana dalam pelaksanaannya
diawali dengan adanya penetapan kebijakan serta keputusan dengan bahan pertimbangannya adalah
hal-hal yang didasarkan pada faktor nasional sebagai faktor internal, dan faktor-faktor yang berasal
dari dunia internasional sebagai faktor eksternal.
Landasan hukum
Setiap negara memiliki kebijakan terkait politik luar negeri yang berbeda-beda. Hal ini tergantung
pada tujuan nasional yang ingin dicapai noleh negara. Indonesia merupakan salah satu negara yang
menerapkan politik luar negeri sebagai salah satu kebijakan dalam pemerintahan. Dimana yang
menjadi landasan atau dasar hukum terkuat bagi kebijakan tersebut adalah :
1. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alenia I dan IV
a. Alenia I : “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab
itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan.
b. Alenia IV : “… dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial, …”
2. Pasal 11 (ayat 1 sampai ayat 3)
3. Pasal 13 (ayat 1 sampai ayat 3)
Seperti yang telah kita tahu sebelumnya bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang
menerapkan politik luar negeri bebas aktif dengan tujuan untuk untuk menjalin kerjasama serta
menjaga hubungan baik dengan bangsa lain di dunia. Berikut adalah penjelasan mengenai sejarah
kelahiran politik luar negri di Indonesia :
A. Politik Luar Negeri Indonesia Masa Orde Lama
Sejak zaman proklamasi kemerdekaan, Indonesia telah menganut politik luar negri bebas aktif.
Hal tersebut dicetuskan pertama kali oleh Drs. Mohammad Hatta, dimana beliau telah memberikan
keterangan pada bulan September 1948 di depan Badan Pekerja KNIP tentang kedudukan serta politik
negara Indonesia kala itu, yaitu bebas dan aktif. Bebas memiliki artian bahwa Indonesia tidak
memihak kepada salah satu blok, serta akan menempuh caranya sendiri dalam penyelesaian masalah-
masalah internasional. Sedangkan aktif memiliki arti bahwa Indonesia akan berusaha dengan sekuat
tenaga untuk ikut serta dalam upaya memelihara perdamaian dunia serta ikut berpartisipasi dalam
upaya meredakan ketegangan internasional.
Pada saat terjadi perang Dunia ke II dimana terdapat 2 blok yang saling bersaing dan
bertentangan ideologi, yaitu Amerika Serikan dan Uni Sovyet yang semakin meruncing, maka
Indonesia pada saat itu lebih memilih untuk menerapkan politik luar negeri yang bebas.
Beberapa tokoh telah mendefinisikan arti dari politik luar negeri bebas aktif yang dianut oleh
Indonesia, diantaranya adalah :
1. Menurut A.W Wijaya
a. Bebas berarti : tidak terikat oleh suatu idologi, tidak terikat oleh suatu politik negara asing,
tidak terikat oleh blok negara-negara tertentu, atau tidak terikat pada negara-negara adikuasa
(super Power)
b. Aktif berarti : Dengan sumbangan realistis giat mengembangkan kebebasan persahabatan dan
kerjasama internasional dengan menghormati kedaulatan negara lain.
2. Menurut Moctar Kusumaatmaja
a. Bebas berarti : Indonesia tidak memihak pada kekuatan-kekuatan yang pada dasarnya tidak
sesuai dengan kepribadian bangsa sebagaimana dicerminkan dalam Pancasila.
b. Aktif berarti : dalam menjalankan kebijaksanaan luar negerinya, Indonesia tidak bersifat
pasif-reaktif atas kejadian-kejadian internasional, melainkan bersifat aktif.
3. Menurut B.A. Urbani
Kata bebas dari politik bebas aktif berasal dari suatu kalimat yang tercantum dalam pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945, yaitu : “supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas.” Hal tersebut
berarti bahwa “berkebebasan politik untuk menentukan dan menyatakan pendapat sendiri
terhadap tiap-tiap persoalan internasional sesuai dengan nilainya masing-masing tanpa apriori
memihak kepada suatu blok.” Politik luar negeri yang bebas dan aktif yang dianut oleh Indonesia
mengalami perkembangan yang cukup pesat kala itu. Dan politik tersebut masih terus dianut oleh
Indonesia hingga saat ini.

B. Politik Luar Negeri Indonesia Pada Masa Orde Baru


Pada masa orde baru telah terjadi sebuah peristiwa berdarah yang telah banyak memakan korban
jiwa, yaitu peristiwa G30SPKI. Akibat peristiwa pemberontakan tersebut, maka rakyat menyerukan
berbagai macam tuntutan yang dipelopori oleh Kesatuan aksi yang tergabung dalam front pancasila.
Tuntutan tersebut dikenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) yang isinya adalah :
a. Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya
b. Perombakan Kabinet Dwikora
c. Penurunan harga sembako
Tuntutan pertama dapat terpenuhi pada tanggal 12 Maret 1966, dan pada bulan Juli 1966 MPRS
(Majelis Permusyawaratan Rakyat sementara) yang anggotanya telah mengalami perombakan
mengadakan sidang umum. Dalam sidang tersebut menghasilkan 24 ketetapan yang salah satu
diantaranya berisi tentang penegasan kembali kebijakan politik luar negri Republik Indonesia, yaitu
Ketetapan MPRS No. XII/MPRS/1966. Hal-hal yang diatur dalam kebijakan yang dihasilkan tersebut
antara lain adalah :
a. Bebas-aktif, anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya.
b. Mengabdi kepada kepentingan nasional dan Amanat Penderitaan Rakyat.
Penerapan politik pada masa orde baru menitikberatkan pada masalah stabilitas regional yang akan
menjamin keberhasilan rencana pembangunan Indonesia, yaitu melalui upaya-upaya seperti :
a. Mempertahankan persahabatan yang telah terjalin dengan negara-negara barat
b. Menerapkan politik pintu terbuka bagi para infestor asing serta pinjaman luar negri
c. Indonesia kembali bergabung menjadi anggota PBB pada 28 Desember 1966
d. Memperbaiki hubungan dengan negara-negara yang sempat renggang pada masa orde lama
e. Turut serta dalam mendirikan ASEAN guna menjaga stabilitas kawasan
f. Bergabung dalam Gerakan Non Blok
g. Bergabung dalam APEC

C. Politik Luar Negeri Indonesia Pada Masa Reformasi


Masa reformasi merupakan masa setelah pemerintahan yang dipimpin oleh Soeharto runtuh
setelah selama 32 tahun memimpin negara ini. Pada masa itu kebijakan-kebijakan luar negeri yang
dikeluarkan dianggap cukup baik serta mampu menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan prinsip
dasar politik luar negri yang bebas dan aktif. Prinsip politik luar negri yang bebas dan aktif tersebut
masih diterapkan hingga pemerintahan sekarang ini.

Dalam ketetapan MPR No. IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara, huruf C angka 2
terkait hubungan luar negri, dirumuskan hal-hal sebagai berikut :
a. Menegaskan arah politik luar negri Indonesia yang bebas dan aktif
b. Dalam pelaksanaan perjanjian dan kerjasama internasional yang menyangkut hajat hidup
rakyat banyak harus dengan persetujuan lembaga perwakilan rakyat.
Selain ketetapan MPR tersebut, pada tanggal 14 September 1999 pemerintah juga telah mengesahkan
Undang-Undang Nomor 37 tahun 1999 tentang hubungan Luar Negri, dimana dalam menerapkan
politik luar negri, pemerintah selalu merujuk pada ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam undang-
undang tersebut.
Meskipun beberapa kalangan banyak yang mempertanyakan masih relevankah politik luar negri yang
bebas dan aktif tetap diterapkan oleh pemerintah mengingat kondisi internasioanl telah mengalami
perubahan dari zaman pertama kalinya sistem politi ini dicetuskan. Meskipun prinsip politik luar negri
Indonesia saat ini tidak jelas, akan tetapi sebenarnya politik luar negri yang bebas dan aktif masih
cukup relevan untuk diterapkan. Hanya saja harus ada penegasan terhadap berbagai macam formula
kebijakan yang menunjukkan sikap bangsa Indonesia bukanlah hanya sebagai yes man.
Saat ini, Indonesia masih aktif berpartisipasi dalam upaya mewujudkan serta menjaga perdamaian
dunia, yaitu dengan ikut serta sebagai anggota OPP (Operasi Pemeliharaan Perdamaian) PBB.

Ciri-Ciri Politik
Menteri luar negri Republik Indonesia pada tanggal 19 Mei 1983 dalam Dokumen Rencana Strategi
Politik Luar Negri Republik Indonesia menjelaskan bahwa politik luar negri indonesia memiliki sifat-
sifat seperti :
a. Bebas aktif
b. Anti kolonialisme
c. Mengabdi pada kepentingan Nasional
d. Demokratis

Tujuan Politik
Pemerintah Indonesa telah berhasil dalam menyususn dokumen tentang rencana dan strategi politik
luar negri Indonesia yang di dalamnya menyatakan bahwa pada hakekatnya politik luar negri suatu
negara adalah merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan nasional. Di Indonesia sendiri,
rumusan pokok-pokok kepentingan nasional tersebut dapat ditemukan dalam pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 tepatnya di alenia ke-IV, dimana bangsa Indonesia memiliki amanat-amanat
nasional dalam rangka membentuk suatu pemerintahan Negara Republik Indonesia serta menjalankan
4 fungsi utama, yaitu :
a. Fungsi HanKam
b. Fungsi Ekonomi
c. Fungsi Sosial
d. Fungsi Politik
Berdirinya PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)

A. Pengertian PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)


Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam bahasa Inggris: United Nations merupakan sebuah
organisasi internasional yang didirikan pada tanggal 24 Oktober 1945 untuk mendorong kerja sama
internasional. PBB merupakan pengganti Liga Bangsa-Bangsa dan didirikan setelah Perang Dunia II
untuk mencegah konflik serupa.

B. Awal Mula Berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)


Pada saat PBB didirikan, PBB memiliki 51 negara anggota; Saat ini ada 193 anggota. Selain
negara-negara anggota, organisasi internasional, dan organisasi, antar negara memiliki tempat sebagai
pengamat permanen yang memiliki kantor di Markas Besar PBB, dan beberapa hanya ada sebagai
pengamat. Palestina dan Vatikan bukan anggota negara (negara-negara non-anggota) dan termasuk
pengamat permanen (Holy See memiliki perwakilan yang tetap di bagian PBB, sementara itu
Palestina mempunyai kantor tetap di PBB).
Markas atau tempat besar PBB yakni Manhattan, New York City, dan mempunyai hak ekstrateritorial.
Kantor utama lain terletak di Nairobi, Wina dan Jenewa. PBB didanai dari sumbangan dan relawan
dari negara-negara anggotanya. Tujuan utama PBB ialah untuk menjaga keamanan dan perdamaian
dunia, mendorong dan mempromosikan penghormatan terhadap HAM (Hak Asasi Manusia), bencana
alam, pembangunan ekonomi, melindungi lingkungan, dan pembangunan sosial dan memberikan
bantuan kemanusiaan dalam kasus kelaparan dan konflik bersenjata. PBB mempunyai enam bahasa
resmi, yaitu bahasa Cina, Arab, Inggris, Rusia, Spanyol dan Perancis.
Selama Perang Dunia II, Presiden AS Franklin D. Roosevelt memulai pembicaraan pada
entitas penerus Liga Bangsa-Bangsa, dan Piagam PBB disusun pada konferensi pada bulan April-Juni
1945. Piagam mulai berlaku pada tanggal 24 Oktober 1945. Pertama Majelis Umum – dihadiri oleh
perwakilan dari 51 negara – tempat baru pada tanggal 10 Januari 1946 (di Church House, London).
Namun, misi PBB untuk menjaga perdamaian dunia awalnya cukup sulit untuk dicapai karena
Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. PBB memiliki berpartisipasi saat operasi
militer di Kongo dan Korea, dan menyetujui dalam pembentukan Israel pada tahun 1947.
Keanggotaan organisasi PBB berkembang dengan pesat setelah periode dekolonisasi di tahun 1960,
dan di tahun 1970 anggaran program pembangunan dan perekonomani, sosial dan jauh di atas
anggaran untuk pemeliharaan perdamaian. Setelah berakhirnya Perang Dingin, PBB meluncurkan
misi militer, dan pemeliharaan perdamaian di berbagai belahan dunia dengan hasil yang berbeda.
PBB memiliki enam organ yang utama: Majelis Umum (papan diskusi utama); Dewan Ekonomi dan
Sosial (ECOSOC) (dewan yang mendorong kerjasama dan pengembangan ekonomi, Dewan
Keamanan (dewan membuat beberapa resolusi yang mengikat perdamaian dan keamanan, sosial dan
internasional); Sekretariat (yang berfungsi untuk menyediakan penelitian, informasi, dan fasilitas
yang diperlukan PBB); Mahkamah Internasional (badan peradilan primer); dan Dewan Pengawas
PBB (tidak aktif sejak 1994).
PBB mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2001, dan beberapa petugas, dan tubuh
juga telah memperoleh hadiah. Namun, ada perbedaan pendapat mengenai efektivitas PBB. Beberapa
komentator percaya organisasi ini memainkan peran penting dalam menjaga perdamaian, dan
mendorong untuk pembangunan manusia, sementara itu komentator lain merasa organisasi ini tidak
efektif, korupsi, atau Bias.

C. Sejarah Berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)


Liga Bangsa-Bangsa gagal mencegah pecahnya Perang Dunia II (1939-1945). Untuk mencegah
pecahnya Perang Dunia Ketiga, yang tidak diinginkan oleh semua umat manusia di dunia,di tahun
1945 PBB didirikan sebagai pengganti Liga Bangsa-Bangsa yang gagal dalam rangka untuk
memelihara perdamaian internasional dan meningkatkan kerjasama dalam memecahkan ekonomi,
sosial, dan kemanusiaan. Rencana konkrit awal untuk organisasi dunia baru dimulai di bawah
naungan Departemen Luar Negeri AS pada tahun 1939. Franklin D. Roosevelt dipercaya menjadi
orang pertama yang menciptakan istilah “United Nations” atau Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai
istilah untuk menggambarkan Sekutu negara. Istilah ini pertama kali secara resmi digunakan pada
tanggal 1 Januari 1942, saat 26 pemerintah datang untuk mendatangi Piagam Atlantik, saat negara-
negara berjanji untuk melanjutkan usaha perang.

D. Konferensi PBB Tentang Organisasi Internasional


Pada tanggal 25 April 1945, Konferensi PBB tentang Organisasi Internasional dimulai di San
Francisco, yang pada saat itu dihadiri hinga 50 negara, dan sejumlah organisasi non-pemerintah yang
terlibat dalam penyusunan Piagam PBB. Organisasi ini resmi dibentuk pada 24 Oktober 1945 atas
ratifikasi Piagam oleh lima anggota tetap Dewan Uni Soviet, Republik Cina, Keamanan-Perancis,
Amerika Serikat, Inggris dan mayoritas dari 46 anggota lainnya. Majelis Umum pertama, dengan 51
wakil negara, dan Dewan Keamanan, diadakan di Westminster Central Hall di London pada Januari
1946.

E. Kedudukan Organisasi PBB


Posisi PBB pada awalnya memakai bangunan milik Sperry Gyroscope Corporation di Lake
Success, New York, dari tahun 1946 sampai 1952. Dan gedung Markas Besar PBB di Manhattan
sampai selesai dibangun. Sejak berdirinya, banyak kontroversi, dan kritik diarahkan pada PBB. Di
Amerika Serikat, PBB mulai menyaingi John Birch Society, yang memulai kampanye “get US out of
the UN” pada tahun 1959, dan menuduh PBB memiliki tujuan mendirikan “One World Government”
atau Pemerintah Seluruh Dunia. Setelah Perang Dunia Ke-2 berakhir, akhir dari Komite Pembebasan
Perancis diakui oleh AS sebagai pemerintah resmi Perancis, sehingga Perancis awalnya tidak
termasuk dalam konferensi untuk membahas pembentukan PBB. Charles de Gaulle menyindir PBB
dengan memanggil le Machin (dalam bahasa Indonesia: “Si Itu”), dan tidak yakin bahwa aliansi
keamanan global akan membantu menjaga perdamaian dunia, dia lebih percaya diri dalam perjanjian /
pertahanan antara negara-negara secara langsung.
Gerakan Non Blok

A. Pengertian Gerakan Non Blok

1. Sejarah Gerakan Non Blok


Konverensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955 merupakan proses awal
terbentuknya Gerakan Non-Blok (GNB). KAA diselenggarakan pada tanggal 1824 April 1955 dan
dihadiri oleh 29 kepala negara dan kepala pemerintah dari benua Asia dan Afrika yang baru saja
menapai kemerdekaannya. KAA ditujukan untuk mengidentifikasi dan medalami masalah-masalah
dunia waktu itu dan berupaya untuk menformulasikan kebijakan bersama negara-negara baru tersebut
pada tataran hubungan internasional.
KAA menyepakatu “Dasa Sila Bandung”yang dirumuskan sebagai prinsip-prinsip dasar bagi
penyelanggaraan hubungan dan kerjasama antar bangsa-bangsa. Sejak saat itu proses pendirian GNB
semakin mendekati kenyataan, dan dalam proses ini tokoh-tokoh yang memegang peran kunci sejak
awal adalah presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Presiden Indonesia Soekarno, dan Presiden
Yugoslavia Josip Broz Tito. Kelima tokoh dunia ini kemudian dikenal sebagai pendiri GNB.
GNB berdiri saat diselenggarakannya konferensi Tingkat Tinggi (KTT) I GNB di Beograd,
Yugoslavia 1-6 September 1961. KTT I GNB dihadiri oleh 25 negara yakni Afghanistan, Algeria,
Yeman, Myanmar, Cambodia, Srilanka, Cango, Cuba, Cyprus, Mesir, Ethiopia, Ghana, Guinea, India,
Indonesia, Iraq, Lebanon, Mali, Maroco, Nepal, Arab Saudi, Somalia, Sudan, Suriah, Tunisia,
Yugoslavia.
Dalam KTT I tersebut, negara-negara pendiri GNB ini berketepatan untuk mendirikan suatu
gerakan dan bukan suatu organisasi untuk menghindarkan diri dari implikasi birokratik dalam
membangun upaya bersama di antara mereka. Pada KTT I juga dijelaskan bahwa di GNB tidak
diarahkan pada suatu saran pasif dalam politik Internasional, tetapi untuk memformulasikan posisi
sendiri secara independen yang merefleksikan kepentingan negara-negara anggotanya.
GNB menepati posisi khusus dalam politik luar negeri Indonesia,karena Indonesia sejak awal
memiliki peran sentral dalam pendirian GNB. KAA tahun 1955 yang diselenggarakan di Bandung dan
menghasilkan Dasa Sila Bandung yang menjadi prinsip-prinsip utama GNB, merupakan bukti peran
dan kontribusi penting Indonesia dalam mengawali pendirian GNB. Secara khusus, Presiden Soekarno
juga diketahui sebagai tokoh penggagas dan pendiri GNB. Indonesia menilai penting GNB tidak
sekedar dari peran yang selama ini dikontribusikan, tetapi lebih-lebih mengingat prinsip dan tujuan
GNB merupakan refleksi dari perjuangan dan tujuan kebangsaan Indonesi sebagaimana tertuang
dalam UUD 1945.
2. Tujuan GNB
Tujuan GNB yaitu sebagai berikut :
a. Mengembangkan rasa solidaritas di antara negara anggota dengan jalan membantu perjuangan
negara berkembang dalam mencapai kebersamaan, kemerdekaan, dan kemakmuran.
b. Turut serta meredakan ketegangan dunia akibat perebutan pengaruh Amerika Serikat
melawan Uni Soviet dalam perang dingin.
c. Berusaha membendung pengaruh negatif baik blok barat maupun blok timur ke negara-negara
anggota GNB.
d. Berusaha memajukan pembangunan ekonomi, sosial, budaya, dan politik agar tidak tertinggal
dari negara maju.
3. Prinsip-prinsip Gerakan Non Blok
Adapun prinsip-prinsip GNB yaitu :
a. Berpihak terhadap perjuangan anti kolonialisme;
b. Menolak untuk ikut serta dalam berbagai aliansi militer;
c. Menolak aliansi bilateral terhadap negara berkekuatan suore (super power country);
d. Tidak memihak terhadap blok barat maupun blok timur;
e. Menolak pembangunan pangkalan militer oleh negara adidaya di wilayahnya masing-masing.
Pelaksanaan KAA I Bandung dipandang sebagai pendahulu untuk berdirinya GNB. Konferensi itu
telah mampu menghasilkan prinsip-prinsip Perdamaian dalam bentuk kerjasama internasional,
kebebasan atau kemerdekaan, serta hubungan antar bangsa dan negara yang diperlukan untuk
kesejahteraan hidup manusia.
GNB didirikan berdasarkan prinsip-prinsip dasar Dasa Sila Bandung. Substansi Dasa Sila
Bandung berisi tentang “pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerjasama dunia”. Dasa
Sila Bandung memasukkan prinsip-prinsip dalam piagam PBB dan prinsip Nehru, yaitu sebagai
berikut:
a. Menghormati hak-hak dasar manusia (HAM) dan tujuan serta asas-asas dalam piagam PBB.
b. Menghargai kedaulatan dan integritas territorial semua bangsa.
c. Mengakui persamaan ras dan semua suku bangsa.
d. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan masalah pribadi negara lain.
e. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara individual atau kolektif sesuai
dengan piagam PBB.
f. Tidak menggunakan peraturan diri pertahanan kolektif untuk bertidak dalam kepentingan salah
satu negara besar.
g. Tidak melakukan tekanan terhadap orang lain.
h. Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi atau penggunaan kekerasan terhadap integritas
territorial atas kemerdekaan politik suatu Negara.
i. Menyelesaikan segala konflik internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan,
arbitrase atau penyelesaian hukum dengan cara damai lain menurut pilihan pihak-pihak yang
bersangkutan sesuai dengan piagam PBB.
j. Memajukan kepentingan bersama dengan kerjasama Internasional.
k. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban Internasional.
4. Tokoh Pemrakarsa Pendiri GNB
Tokoh yang dianggap sebagai pendiri GNB lebih dikenal dengan The Initiative Of Five yaitu:
a. Presiden Soekarno (Indonesia);
b. Presiden Yosep Broz Tito (Yugoslavia);
c. Presiden Gamal Abdul Nasser (Mesir);
d. Perdana Mentri Pandit Jawaharlal Nehru (India); dan
e. Perdana Menteri Kwame Nkrumah (Ghana)
5. Kegiatan GNB dan KTT
Kegiatan GNB dan KTT yaitu :
a. KTT I GNB (1-6 September 1961) di Beograd, Yugoslavia, pelaksanaan KTT I ini didorong oleh
keadaan krisis Kuba. Konferensi ini dihadiri oleh 25 negara dan menghasilkan deklarasi Beograd
yang intinya menyerukan untuk menghentikan perang dingin dan mendamaikan antara Amerika
Serikat dan Uni Soviet. Keputusan KTT I GNB melalui Presiden Soekarno dan Presiden Menibo
Keita (Mali) disampaikan kepada Presiden F.Kennedy (Amerika Serikat) sedangkan PM Nehru
(India) dan Presiden Kuame Nkrumah (Ghana) menyampaikan kepada PM Kruschev (Perdana
Menteri Uni Soviet).
b. KTT II GNB (5-10 Oktober 1964) di Kairo, Mesir. Pada KTT II GNB ini diikuti oleh 47 negara
serta 10 peninjau lainnya antara lain sekretaris jendral organisasi persatuan Afrika dan Liga Arab.
Masalah perkembangan dan masalah ekonomi juga mendapat perhatian pada KTT II GNB.
c. KTT III GNB (8-10 September 1970) di Lusaka, Zambia. Negara peserta yang hadir adalah 53
negara. Hasil terpenting KTT kali ini adalah perlunya upaya meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran negara berkembang.
d. KTT IV GNB (5-9 September 1973) di Algiers, Aljazair. KTT IV GNB ini membahas tentang
peningkatan kerjasama dan saling pengertian antara negara-negara yang sedang berkembang serta
berusaha meredakan ketegangan di Timur Tengah pergolakkan di Rhodesia, dan bagian-bagian
afrika lainnya.
e. KTT V GNB (16-19 September 1976) di Kolombo, Srilanka pada KTT V GNB ini membahas
tentang penyelamatan dunia dari ancaman perang nuklir dan berusaha memajukan negara-negara
non blok.
f. KTT VI GNB (3-9 September 1979) di Havana, Kuba. KTT ini bertujuan untuk memperjuangkan
bantuan ekonomi bagi negara-negara non blok dan menggiatkan perang PBB dalam tata ekonomi
dunia baru.
g. KTT VII GNB (7-12 Maret 1983) di New Delhi, India. KTT ini menghasilkan seruan
dilaksanaknnya demokrasi tahta ekonomi yakni dihapuskan proteksonisme oleh negara maju.
h. KTT VIII GNB (1-6 September 1968) di Harane, Zimbabwe. KTT kali ini menghasilkan seruan
dihapuskannya politik Apartheid di Afrika Selatan serta membahas sengketa Irak Iran.
i. KTT IX GNB (1-6 September 1989) di Beograd, Yugoslavia. KTT yang dihadiri oleh 102 negara
ini berhasil membahas kerjasama Selatan-selatan (antar negara berkembang).
j. KTT X GNB (1-6 September 1992) di Jakarta, Indonesia. KTT yang dihadiri oleh 108 negara ini
berhasil merumuskan “Pesan Jakarta” (Jakarta Messege) antara lain berhasil menggalang
kerjasama Selatan-Selatan dan Utara Selatan.
k. KTT XI GNB (16-22 Oktober 1995) di Cartagena, Kolombia. KTT ini dihadiri oleh 113 negara
yang bertujuan memperjuangkan demokratisasi di PBB.
l. KTT XII GNB (1-6 September 1998) di Durban, Afrika Selatan. KTT XII GNB ini dihadiri oleh
113 negara yang bertujuan memperjuangkan demokratisasi di dalam hubungan Internasional.
m. KTT XIII GNB (20-25 Pebruari 2003) di Kuala Lumpur, Malaysia. Resolusi KTT GNB Kuala
Lumpur antara lain berisi penolakan tiga negara Iran, Irak, dan Korea Utara, atas sebutan sebagai
proses kejahatan oleh Washington.
n. KTT XIV (11-16 September 2006) di Havana, Kuba. Menghasilkan deklarasi yang mengutuk
serangan Israel atas Lebanon, mendukung program nuklir Iran, mengkritik kebijakan Negara
Amerika Serikat, dan menyerukan kepada PBB agar lebih berpihak kepada negara kecil dan
brkembang.
o. KTT GNB XV (11-16 Juli 2009) di Sharm El-Sheikh, Mesir. Menghadirkan sebuah final
dokumen yang merupakan sikap, pandangan dan posisi GNB tentang semua isu dan permasalahan
Internasional dewasa ini. KTT ini menegaskan oerhatian GNB atas krisis ekonomi dan moneter
global, perlunya komunitas Internasional kembali pada komitmen menjunjung prinsip-prinsip
pada piagam PBB, hukum Internasional, peningkatan kerjasama antar negara maju dan
berkembang untuk mengatasi berbagai krisis.
p. KTT GNB XVI berakhir pada 31 Agustus 2012 dan menghasilkan berbagai kesepakatan dalam
sebuah deklarasi final, diantaranya : dukungan terhadap program nuklir sipil Iran, penolakan
sanksi sepihak Amerika Serikat anti Iran, dukungan terhadap perjuangan bangsa Palestina,
memerangi Islamphobia, rasisme, dan permusuhan senjata nuklir.

B. Dampak GNB terhadap Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Politik Negara Berkembang
Dalam KTT GNB mencari perdamaian yang berkelanjutan melalui pemerintah global dan
mewujudkan adanya rasa optimisme bahwa GNB dapat memainkan peran yang sangat penting dalam
mempromosikan perdamaian dan stabilitas. Pentingnya GNB terletak pada kenyataan bahwa GNB
merupakan gerakan Internasional terbesar kedua, setelah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)
1. Dampak GNB terhadap Kehidupan Sosial Negara Berkembang
GNB dapat mewujudkan eratnya hubungan kerjasama antara negara satu dengan negara yang lain.
GNB juga berupaya untuk melestarikan lingkungan hidup, yaitu mengurangi pencemaran
terhadap air, udara dan tanah dan perusakan hutan. Sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi
negara berkembang.
2. Dampak GNB terhadap Kehidupan Ekonomi Negara Berkembang
Kerjasama antara anggota-anggota GNB dapat memiliki dampak positif pada situasi ekonomi
dunia. Dengan menciptakan tata hubungan ekonomi Internasional yang masih seimbang, dan
memperluas partisipasi negara-negara berkembang dalam proses pengambilan keputusan
mengenai masalah-masalah ekonomi dunia. GNB membuat negara-negara anggota Non-Blok
berjalan lancar tanpa hambatan. Jadi GNB ini meningkatkan program kearah tata ekonomi dunia.
3. Dampak GNB terhadap Kehidupan Politik Negara Berkembang
KTT GNB I mencetuskan prinsip politik bersama, yaitu bahwa politik berdasarkan koeksistensi
damai, bebas blok, tidak menjadi anggota pasukan militer dan bercita-cita melenyapkan
kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasi. GNB juga membantu Afrika Selatan dalam
menghapus politik Apartheid.
C. Peran Indonesia dalam GNB
Indonesia sangat berperan penting dalam GNB, beberapa peran penting yang dilakukan
Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Presiden Soekarno adalah satu dari lima pemimpin dunia yang mendirikan GNB;
2. Indonesia menjadi pemimpin GNB pada tahun 1991. Saat itu, Presiden Soeharto terpilih menjadi
ketua GNB. Sebagai pemimpin GNB, Indonesia sukses menggelar KTT X GNB di Jakarta;
3. Indonesia juga berperan penting dalam meredakan ketegangan di kawasan bekas Yugoslavia pada
tahun 1991.
GNB mempunyai arti yang khusus bagi bangsa Indonesia yang dapat dikatakan lahir sebagai
negara netral yang tidak memihak. Hal tersebut tercermin dalam pembukaan UUD 1945 yang
menyatakan bahwa “kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan
diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Selain
itu, diamanatkan pula bahwa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sesuai dengan politik luar negeri yang bebas aktif, Indonesia
memilih untuk menentukan jalannya sendiri dalam upaya membantu tercapainya perdamaian dunia
dengan mengadakan persahabatan dengan seluruh bangsa. Sebagai implementasi dari politik luar
negeri yang bebas aktif itu, selain sebagai salah satu negara pendiri GNB, Indonesia juga senantiasa
setia dan komitmen pada prinsip-prinsip dan aspirasi GNB. Pada masa itu, Indonesia telah berhasil
membawa GNB untuk mampu menentukan arah dan secara dinamis menyesuaikan diri pada setiap
perubahan yang terjadi.
D. Upaya Mengatasi Masalah pada Negara Berkembang
Meskipun negara-negara anggota GNB sendiri berupaya memegang teguh prinsip-prinsip dan
cita-cita yang dianut oleh GNB sebagaimana tertuang dalam Dasa Sila Bandung, namun bukan berarti
bahwa selama ini tidak ada masalah-masalah internal dalam GNB.Masalah-masalah yang menonjol
adalah adanya berbagai perselisihan yang terjadi diantara negara-negara anggota GNB sendiri.
Perselisihan itu, selain mengganggu suasana kerjasama internal GNB, adakalanya menghambat
jalannya sidang-sidang GNB. Disadari pula adanya kesulitan dalam mencapai kesepakatan untuk hal-
hal tertentu yang disebabkan oleh penerapan prinsip konsensus secar kaku.
Visi GNB untuk berperan dalam mendorong dunia yang lebih damai, stabil dan makmur
sebagaimana telah ditetapkan di Bali. Peran GNB dalam menciptakan tata kelola global yang efektif
dalam menciptakan perdamaian dan keamanan dunia. GNB harus mendukung peran dan kapasitas
Dewan Keamanan PBB dalam menyelesaikan konflik, menciptakan perdamaian dan mencegah
potensi konflik. GNB harus dapat mendorong terbangunnya institusi demokrasi, kebebasan,
perdamaian, moderasi serta kemakmuran dapat berjalan dan tumbuh berkembang secara bersama.
Pentingnya GNB untuk membangun institusi demokrasi yang memungkinkan dibangunnya
pembangunan politik yang sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat. Pembangunan global harus
adil, tidak boleh ada satu negarapun yang tertinggal. Kemakmuran harus menjadi milik semua negara
dan masyarakat di seluruh penjuru dunia. Dalam bidang ekonomi, selama menjadi ketua GNB,
Indonesia juga secara konsisten telah mengupayakan pemecahan masalah hutang luar negeri negara-
negara miskin dan pembangunan mengenai penyelesaian hutang luar negeri.
Konferensi Asia-Afrika (KAA)

Berakhirnya Perang Dunia I membawa pengaruh terhadap bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk
memperoleh kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Di samping itu juga ditandai dengan
munculnya dua kekuatan ideologis, politis, dan militer termasuk pengembangan senjata nuklir.
Negara Republik Indonesia dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat dan bernegara selalu
berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.
Salah satu bentuk penyelenggaraan kehidupan bernegara adalah menjalin kerja sama dengan negara
lain. Kebijakan yang menyangkut hubungan dengan negara lain terangkum dalam kebijakan politik
luar negeri. Oleh karena itu, pelaksanaan politik luar negeri Indonesia juga harus berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945. Indonesia mencetuskan gagasannya untuk menggalang kerja sama dan
solidaritas antarbangsa dengan menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika (KAA).

a. Latar Belakang Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika

Pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika

Politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif. Bebas, artinya bangsa Indonesia tidak
memihak pada salah satu blok yang ada di dunia. Jadi, bangsa Indonesia berhak bersahabat dengan
negara mana pun asal tanpa ada unsur ikatan tertentu. Bebas juga berarti bahwa bangsa Indonesia
mempunyai cara sendiri dalam menanggapi masalah internasional. Aktif berarti bahwa bangsa
Indonesia secara aktif ikut mengusahakan terwujudnya perdamaian dunia. Negara Indonesia memilih
sifat politik luar negerinya bebas aktif sebab setelah Perang Dunia II berakhir di dunia telah muncul
dua kekuatan adidaya baru yang saling berhadapan, yaitu negara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Amerika Serikat memelopori berdirinya Blok Barat atau Blok kapitalis (liberal), sedangkan Uni
Soviet memelopori kemunculan Blok Timur atau blok sosialis (komunis).
Dalam upaya meredakan ketegangan dan untuk mewujudkan perdamaian dunia, pemerintah
Indonesia memprakarsai dan menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika. Usaha ini mendapat
dukungan dari negara-negara di Asia dan Afrika. Bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada umumnya
pernah menderita karena penindasan imperialis Barat. Persamaan nasib itu menimbulkan rasa setia
kawan.
Setelah Perang Dunia II berakhir, banyak negara di Asia dan Afrika yang berhasil mencapai
kemerdekaan, di antaranya adalah India, Indonesia, Filipina, Pakistan, Burma (Myanmar), Sri Lanka,
Vietnam, dan Libia. Sementara itu, masih banyak pula negara yang berada di kawasan Asia dan
Afrika belum dapat mencapai kemerdekaan. Bangsa-bangsa di Asia dan Afrika yang telah merdeka
tidak melupakan masa lampaunya. Mereka tetap merasa senasib dan sependeritaan.
Lebih-lebih apabila mengingat masih banyak negara di Asia dan Afrika yang belum merdeka.
Rasa setia kawan itu dicetuskan dalam Konferensi Asia Afrika. Sebagai cetusan rasa setia kawan dan
sebagai usaha untuk menjaga perdamaian dunia, pelaksanaan Konferensi Asia Afrika mempunyai arti
penting, baik bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada khususnya maupun dunia pada umumnya.
Prakarsa untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika dikemukakan pertama kali oleh Perdana
Menteri RI Ali Sastroamijoyo yang kemudian mendapat dukungan dari negara India, Pakistan, Sri
Lanka, dan Burma (Myanmar) dalam Konferensi Colombo.

b. Konferensi Pendahuluan
Sebelum Konferensi Asia Afrika dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan konferensi pendahuluan
sebagai persiapan. Konferensi pendahuluan tersebut, antara lain sebagai berikut.

1) Konferensi Kolombo (Konferensi Pancanegara I)


Konferensi pendahuluan yang pertama diselenggarakan di Kolombo, ibu kota negara Sri Lanka pada
tanggal 28 April–2 Mei 1954. Konferensi dihadiri oleh lima orang perdana menteri dari negara
sebagai berikut.
a) Perdana Menteri Pakistan : Muhammad Ali Jinnah
b) Perdana Menteri Sri Lanka : Sir John Kotelawala
c) Perdana Menteri Burma (Myanmar) : U Nu
d) Perdana Menteri Indonesia : Ali Sastroamijoyo
e) Perdana Menteri India : Jawaharlal Nehru

Konferensi Kolombo membahas masalah Vietnam, sebagai persiapan untuk menghadapi Konferensi
di Jenewa. Di samping itu Konferensi Kolombo secara aklamasi memutuskan akan mengadakan
Konferensi Asia Afrika dan pemerintah Indonesia ditunjuk sebagai penyelenggaranya. Kelima negara
yang wakilnya hadir dalam Konferensi Kolombo kemudian dikenal dengan nama Pancanegara.
Kelima negara itu disebut sebagai negara sponsor. Konferensi Kolombo juga terkenal dengan nama
Konferensi Pancanegara I.
2) Konferensi Bogor (Konferensi Pancanegara II)
Konferensi pendahuluan yang kedua diselenggarakan di Bogor pada tanggal 22–29 Desember 1954.
Konferensi itu dihadiri pula oleh perdana menteri negara-negara peserta Konferensi Kolombo.
Konferensi Bogor memutuskan hal-hal sebagai berikut.
a) Konferensi Asia Afrika akan diselenggarakan di Bandung pada bulan 18-24 April 1955.
b) Penetapan tujuan KAA dan menetapkan negara-negara yang akan diundang sebagai peserta
Konferensi Asia Afrika.
c) Hal-hal yang akan dibicarakan dalam Konferensi Asia Afrika.
d) Pemberian dukungan terhadap tuntutan Indonesia mengenai Irian Barat. Konferensi Bogor juga
terkenal dengan nama Konferensi Pancanegara II.

c. Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika


Sesuai dengan rencana, Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18–24
April 1955. Konferensi Asia Afrika dihadiri oleh wakil-wakil dari 29 negara yang terdiri atas negara
pengundang dan negara yang diundang.
1) Negara pengundang meliputi Indonesia, India, Pakistan, Sri Langka, dan Burma (Myanmar).
2) Negara yang diundang 24 negara terdiri atas 6 negara Afrika dan 18 negara meliputi Asia
(Filipina, Thailand, Kampuchea, Laos, RRC, Jepang, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, Nepal,
Afghanistan, Iran, Irak, Saudi Arabia, Syria (Suriah), Yordania, Lebanon, Turki, Yaman), dan
Afrika (Mesir, Sudan, Etiopia, Liberia, Libia, dan Pantai Emas/Gold Coast).
Negara yang diundang, tetapi tidak hadir pada Konferensi Asia Afrika adalah Rhodesia/Federasi
Afrika Tengah. Ketidakhadiran itu disebabkan Federasi Afrika Tengah masih dilanda pertikaian
dalam negara/dikuasai oleh orang-orang Inggris. Semua persidangan Konferensi Asia Afrika
diselenggarakan di Gedung Merdeka, Bandung.
ASEAN

A. Pengertian dan Terbentuknya ASEAN


ASEAN (Association Of South East Asian Nations) adalah organisasi kerjasama negara-
negara Asia Tenggara. ASEAN didirikan berdasarkan kesepakatan lima menteri luar negeri Indonesia,
Thailand, Singapura, Malaysia, dan Filiphina pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok. Sebab-sebab
terbentuknya ASEAN adalah karena kelima negara tesebut mengalami nasib yang sama, yaitu pernah
dijajah oleh negara lain kecuali Thailand. Persetujuan Bangkok pada tanggal 8 Agustus 1967 tersebut
ditanda tangani oleh kelima menteri luar negeri negara peserta konferensi, yaitu oleh :
1. Adam Malik, menteri luar negeri Indonesia
2. Tun Abdul Rajak, menteri luar negeri Malaysia
3. Thanat Khoman, menteri luar negeri Thailand
4. Narisco Ramos, menteri luar negeri Filiphina
5. S. Rajaratnam, menteri luar negeri Singapura
Pada tanggal 7 Januari 1984. Brunai Darussalam masuk sebagai anggota baru ASEAN. Pada
tanggal 28 Juli 1995 Vietnam masuk sebagai anggota ASEAN. Myanmar dan Laos menjadi anggota
ASEAN pada tanggal 28 Juli 1997 dan Kampuchea pada tanggal 16 Desember 1998 dengan demikian
sampai sekarang ASEAN beranggotakan 10 negara.

B. Negara-Negara Anggota ASEAN


Hampir seluruh negara-negara di kawasan Asia Tenggara termasuk wilayah budaya timur.
Sebagian besar negara-negara di kawasan Asia Tenggara termasuk dalam kelompok negara-negara
berkembang. Pertambahan penduduknya rata-rata 1,5 % per tahun. Sebagian besar mata pencaharian
penduduk Asia Tenggara di bidang pertanian. Penduduknya banyak tinggal di pedesaan daripada di
perkotaan. Negara-negara yang terdapat di kawasan Asia Tenggara adalah Brunei Darussalam,
Filiphina, Indonesia, Kampuchea, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapura, dan Vietnam.
Adapun negara Anggota ASEAN yaitu:
1. Indonesia
2. Malaysia
3. Singapura
4. Thailand
5. Filipina
6. Brunai Darussalam
7. Vietnam
8. Kamboja
9. Laos
10. Myanmar
C. Letak-Letak Negara Asia Tenggara
Secara Astronomis kawasan ASEAN terletak antara 280 30’ 110 LS dan 920 BT – 1410 BT.
Batas utara berbatasan dengan negara RRC dan Samudra Pasifik dan sebelah timur dengan Samudra
Pasifik dan Papua Nugini, sedangkan sebelah selatan dengan Samudra Hindia, Laut Timor dan Laut
Arafuru dan sebelah barat dengan Samudra Hindia, Teluk Benggala, Bangladesh dan India.
Secara geografis terletak diantara Benua Asia dan Benua Australia, serta Antara Samudra
Hindia dan Samudra Pasifik. Luas ASEAN ± 3.983.256 Km2. Berdasarkan letak geografisnya
ASEAN beriklim muson, sedangkan berdasarkan letak astronomisnya ASEAN beriklim tropis, karena
wilayahnya dekat dengan laut, maka negara-negara ASEAN beriklim laut. Jadi dapat disimpulkan
ASEAN memiliki iklim muson, laut, tropis.

D. Bentuk-Bentuk Kerjasama ASEAN


a. Bidang Energi : didirikan Komite Dewan Perminyakan ASEAN yang disebut ASCOPE (Asean
Council On Petroleum) yang didirikan di Jakarta tanggal 15 Oktober 1975 dengan tujuan untuk
mengembangkan sumber-sumber minyak dan gas di kawasan ASEAN.
b. Bidang Penerangan : dibentuk FAPRO (Federation Of Asean Public Relation) yaitu kerja sama di
bidang pers, televisi film dan sarana penunjang lainnya.
c. Bidang Transportasi dan Telekomunikasi : dibentuk Federasi Dewan Pemilik Kapal Asean
(FASA) untuk telekomunikasi telah dibuat kabel telepon dasar laut yang menghubungkan kota
Medan dan Penang. Satelit Palapa juga disewa oleh beberapa negara ASEAN.
d. Bidang Pendidikan dan Kebudayaan : telah dibentuk SEAMEO (South East Asian Menisters Of
Education Organization) yaitu suatu organisasi menteri-menteri se Asia Tenggara. Lembaga
SAMEO ini memiliki garis-garis kebijaksanaan tertinggi yaitu SEAMEC (South East Asian
Ministers Education Council). Lembaga ini bertujuan menumbuhkan studi-studi ilmu
pengetahuan bangsa di Asia Tenggara.
e. Bidang Ekonomi : telah didirikan beberapa proyek industri ASEAN antara lain :
1) Pabrik pupuk amonia – urea terdiri dari :
ASEAN Aceh Fertilizer Project di Indonesia dan SEAN Urea Project di Malaysia
2) Pabrik vaksin hepatitis B (ASEAN Vaksin Project) dan pabrik mesin diesel di Singapura
3) Pabrik Abu Soda (Rock Satt Soda Ash Project) di Thailand
4) Pabrik tembaga (ASEAN Cooper Febrecation Project) dan pabrik super fosfat di Filipina
f. Bidang Keamanan : pada KTT III di Manila, Desember 1987 telah disepakati bahwa Asia
Tenggara merupakan kawasan damai bebas dari senjata nuklir yang disebut dengan ZAPFAN
(Zone Of Peace, Freedom and Neutrality)