You are on page 1of 20

MAKALAH

ALGAE MERAH (RHODOPYTHA)

Dosen Pengampu:
1. Sulton Nawawi, M.Pd.
2. Erie Agusta, M.Pd.

Disusun Oleh Kelompok 11 :

1. Rusdi Ahmad 342017011


2. Erri Ismayanti 342017028

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2017/2018

i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, Wb.


Syukur alhamdulillah sama-sama kita panjatkan kehadiran Allah SWT yang
telah memberikan nikmat dan hidayah nya, sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah kami yang berjudul “Algae Merah (Rhodophyta)”. Sholawat dan salam
kita sanjungkan kepangkuan Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita
dari alam kegelapan sampai ke alam terang-benderang seperti yang kita rasakan
saat ini, dan kepada seluruh sahabat dan keluarga beliau sekalian.
Makalah ini berisi tentang pengertian alga merah, ciri-ciri alga merah,
klasifikasi alga merah, perkembangbiakan alga merah, manfaat alga merah dan
faktor yang mempengaruhi kehidupan alga merah. Dengan bahasa yang singkat,
padat, dan mudah dimengerti. Makalah ini kami lengkapi dengan pendahuluan
sebagai pembuka yang menjelaskan latar belakang dan tujuan pembuatan makalah.
Penjelasan yang berisi tentang pengertian alga merah, ciri-ciri alga merah,
klasifikasi alga merah, perkembangbiakan alga merah, manfaat alga merah dan
faktor yang mempengaruhi kehidupan alga merah. Penutup yang berisi tentang
simpulan yang menjelaskan secara singkat isi dari makalah kami. Makalah ini juga
kami lengkapi dengan daftar pustaka yang menjelaskan sumber dan referensi bahan
dalam penyusunan. Terima kasih kepada dosen pangampu dan teman-teman yang
telah membantu penyelesaian makalah ini hingga selesai. Dalam menyusun
makalah ini, saya sadari masih banyak terdapat kekurangan, maka dari itu kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat saya harapkan demi penyempurnaan
makalah ini.
Wassalamualikum Wr, Wb.

Palembang, November 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah. .................................................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan Makalah. ..................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... 4
A. Pengertian Algae Merah (Rhodophyta) .................................................................. 4
B. Ciri-Ciri Algae Merah (Rhodophyta) ...................................................................... 5
C. Klasifikasi Algae Merah (Rhodophyta) .................................................................. 6
D. Perkembangbiakan Algae Merah (Rhodophyta) ..................................................... 6
E. Manfaat Algae Merah (Rhodophyta) ...................................................................... 8
F. Faktor Yang Mempengaruhi Kehidupan Algae Merah (Rhodophyta).................. 10
BAB III SIMPULAN ........................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 16

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Alga Merah (Rhodophyta)............................................................ 5


Gambar 2.2 Life Cyle of Red Algae.................................................................. 7
Gambar 2.3 Radiance ....................................................................................... 8
Gambar 2.4 Sari Ayu........................................................................................ 9
Gambar 2.5 Agar-Agar..................................................................................... 9
Gambar 2.6 Glucola ......................................................................................... 9
Gambar 2.7 Natur-e.......................................................................................... 10

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara umum, Pengertian Ganggang (alga/algae) adalah protista yang bersifat
fotoautotrof yang dapat membuat makanannya sendiri dengan cara fotositentis
(Artikelsiana, 2015). Ganggang/Alga memiliki kloroplas dengan mengandung
klorofil atau plastida yang berisi pigmen fotosintetik lainnya (Artikelsiana, 2015).
Ganggang (Alga) mudah ditemukan di air tawar maupun air laut. Ada yang hidup
dengan menempel di suatu karang atau melayang-layang di air laut. Ganggang
(Alga) merupakan protista mirip tumbuhan (Artikelsiana, 2015). Ganggang (Alga)
dapat membuat air sawah, air kolam, air danau, atau akuarium tampak berwarna
hijau. Tetapi, masyarakat mengira bahwa ganggang itu adalah lumut. Padahal
ganggang berbeda dengan lumut (Artikelsiana, 2015). Lumut tidak terendam di air,
sedangkan ganggang hidup dalam air itulah yang membuat mereka berbeda. Jika di
pegang, lumut akan terasa seperti bulu-bulu halus dan terasa lebih kering,
sedangkan ganggang akan terasa basah, licin atau berlendir. Di laut, ganggang
(Alga) sangat mudah ditemukan, dan biasanya terdampar di pantai, berbentuk
menyerupai tumbuhan yang berwarna-warni (hijau, kuning, merah atau cokelat).
Biasanya masyarakat sekitar pantai menyebutnya dengan sebutan rumput laut.
Ganggang (alga) memiliki karakteristik/ciri-ciri umum antara lain sebagai
berikut : Organisme eukariotik, bersifat fotoautotrof (berfotosintetis), mempunyai
klorofil dan pigmen fotosintetik lainnya, mempunyai pirenoid, menyimpan
cadangan makanan sendiri, bersifat uniseluler/multiseluler, memiliki dinding
sel/tidak, Soliter/berkoloni, bergerak/tidak bergerak, bereproduksi secara aseksual
yaitu membelah diri/fragmentasi/spora vegetatif, dan seksual yaitu
konjugasi/singami/anisogami, metagenesis atau tidak hidup dengan bebas atau
bersimbiosis dengan jamur membentuk lichen, tubuh Ganggang (Alga) sulit
dibedakan antara akar, batang, dan daun. Tubuh berupa talus, sehingga termasuk
dalam golongan thalophyta, habitatnya di perairan baik itu di air tawar maupun di
air laut, menempel di bebatuan (epilitik), tanah/lumpur/pasir (epipalik), menempel
pada tumbuhan sebagai (epifik), dan menempel pada tubuh hewan (epizoik)
(Artikelsiana, 2015).

1
Ganggang (Alga) diklasifikasikan berdasarkan pigmen dominan, yang
dibedakan menjadi enam filum antara lain sebagai berikut Euglenoid
(Euglenophyta) (Alga Hijau Terang), Chrysophyta (Ganggang Pirang), Pyrrophyta
(Dinoflagellata atau Ganggang Api), Chlorophyta Ganggang/Alga Hijau),
Phaeophyta (Ganggang/Alga Cokelat), Rhodophyta (Ganggang Merah/Alga
Merah).
Ganggang (Alga) bereproduksi dengan dua cara yakni seksual dan aseksual.
Reproduksi secara aseksual melalui pembelahan sel, fragmentasi, dan pembentukan
zoospora. Sedangkan secara seksual melalui isogami dan oogami.
Ganggang/alga yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia di
antaranya Ganggang (alga) hijau merupakan sumber dari fitoplanton yang
difungsikan sebagai pakan ikan dan hewan air lainnya, Ganggang (alga) cokelat
(Macrocrytis pyrifera) mengandung yodium dengan mengandung Na, P, N dan Ca
yang dimanfaatkan sebagai suplemen untuk hewan ternak, Mengandung asam
alginat, sebagai pengental produk makanan, industri, dan alat-alat kecantikan
(Laminaria, Macrocytis, Acophylum, dan Fucus), Ganggang (alga) merah
dimanfaatkan untuk makanan suplemen kesehatan (Porphyra), sumber makanan
(Rhodymenia Palmata), pembuatan agar (Gellidium), dan penghasil karagenan
(pengental es krim), Dinding sel diatom mengandung zat kresik pada ganggang
keemasan yang berguna untuk industri, misalnya bahan penggosok, penyaring,
bahansa isolasi, dan industri kaca. Tetapi, dari topik di atas saya hanya akan
menjelaskan tentang alga merah yaitu pengertian alga merah, manfaat alga merah
dan klasifikasi alga merah, ciri-ciri alga merah, perkembangbiakan alga merah, dan
faktor yang mempengaruhi kehidupan alga merah.
B. Rumusan Masalah.
Adapun rumusan masalah makalah ini sebagai berikut:

1. Apa pengertian Alga merah?


2. Apa saja ciri-ciri Alga merah?
3. Bagaimana klasifikasi Alga merah?
4. Bagaimana perkembangbiakan Alga merah?
5. Apa saja manfaat Alga merah?
6. Apa saja faktor yang mempengaruhi kehidupan Alga merah?

2
C. Tujuan Penulisan Makalah.
1. Untuk mengetahui pengertian Alga merah.
2. Untuk mengetahui ciri-ciri Alga merah.
3. Untuk mengetahui klasifikasi Alga merah.
4. Untuk mengetahui perkembangbiakan Alga merah.
5. Untuk mengetahui manfaat dari Alga merah.
6. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kehidupan Alga merah.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Algae Merah (Rhodophyta)


Rhodophyta (Yunani, rhodos = merah) adalah ganggang yang berwarna merah
karena mengandung pigmen dominan fikobilin yang terdiri atas fikoeritrin (merah,
dan fikosianin (biru), serta pigmen lain yaitu klorofil a, klorofil d, dan karoten
beragam (Campbell dkk, 2012). Pigmen fikoeritrin dan fikosianin membantu
ganggang yang hidup di perairan dalam untuk dapat menangkap gelombang cahaya
matahari yang tidak dapat ditangkap oleh klorofil. Ganggang merah adalah alga
yang paling banyak di temukan di perairan yang hangat seperti, pantai, dan samudra
tropis. Beberapa fotosintesis mereka mempunyai pigmen, termasuk phycoerythrin,
yang memungkinkan mereka untuk menyerap lampu biru dan hijau, yang mampu
menembus ke dalamnya air. Spesies alga merah telah ditemukan di dekat sungai
Bahama pada kedalaman lebih dari 260 m dan ada juga sebagian kecil spesies air
tawar dan terestrial. Kebanyakan alga merah bersifat multiseluler, meski pun tidak
besar seperti kore merah raksasa, alga merah adalah alga multiseluler terbesar yang
termasuk dalam sebutan informal "rumput laut". Anda mungkin telah memakan
salah satu alga merah multiseluler ini, seperti Porphyra dalam bahasa Jepang "nori"
yang artinya lembaran yang renyah atau bungkusan sushi. Ganggang merah
bereproduksi secara seksual dan Memiliki siklus hidup yang beragam (Campbell
dkk, 2012). Alga Merah (Rhodopyhta) adalah salah satu filum dari alga berdasarkan
zat warna atau pigmentasinya. Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen
fikoeritrin dalam jumlah banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan
xantofil (Nizkon, 2017).

4
Gambar 2.1 Algae Merah (Rhodophyta)
(Dianti, 2014)

B. Ciri-Ciri Algae Merah (Rhodophyta)


Menurut Nikzon (2017), adapun ciri-ciri dari algae merah (Rhodophyta) sebagai
berikut:
1. Tubuhnya dilapisi kalsium karbonat.
2. Tidak berfllagel.
3. Dinding selnya terdiri dari komponen yang berlapis-lapis.
4. Mempunyai pigmen fotosintetik fikobilin dan memiliki pirenoid yang terletak
di dalam kloroplas.
5. Dalam reproduksinya tidak mempunyai stadia gamet berbulu cambuk.
6. Reproduksi seksualnya dengan karpogonia dan spermatia.
7. Pertumbuhannya bersifat uniaksial (satu sel di ujung thallus) dan multi aksial
(banyak sel diujung thallus).
8. Alat pelekatnya (Holdfast) terdiri dari perakaran sel tunggal atau sel banyak.
9. Memiliki pigmen fikobilin, yang terdiri dari fikoeritrin (berwarna merah) dan
fikosianin (berwarna biru).
10. Bersifat adaptasi kromatik, yaitu memiliki penyesuaian antara proporsi pigmen
dengan berbagai kualitas pencahayaan dan dapat menimbulkkan berbagai

5
warna pada thalli, seperti merah tua, merah muda, pirang, coklat, kuning, dan
hijau.
11. Mempunyai persediaan makanan berupa kanji (floridean starch).
12. Dalam dinding selnya terdapat selulosa, agar, carrageenan, porpiran, dan
furselaran.

C. Klasifikasi Algae Merah (Rhodophyta)

Menurut Nikzon (2017), adapun klasifikasi dari alga merah (Rhodophyta) sebagai
berikut:

Domain : Eukariota
Tidak termasuk : Archaeplastida
Fillum : Rhodophyta Wettstein, 1992
Kemungkinan kelas : Florideophyceae
Bangiophyceae
Cyanidiophyceae

D. Perkembangbiakan Algae Merah (Rhodophyta)


Menurut Nizkon (2017), perkembangbiakan alga merah sebagai berikut:
1. Algae merah berkembangbiak secara vegetatif (aseksual) dan generatif
(seksual).
2. Perkembangbiakan vegetatif alga merah berlangsung dengan pembentukan
spora haploid yang dihasilkan oleh sporangium atau talus alga yang haploid.
Spora ini selanjutnya tumbuh menjadi alga jantan atau betina yang sel-selnya
haploid.
3. Perkembangbiakan generatif alga merah dengan oogami, pembuahan sel
kelamin betina (ovum) oleh sel kelamin jantan (spermatium). Alat
perkembangbiakan jantan disebut spermatogonium yang menghasilkan
spermatium yang tak berflagel. Sedangkan alat kelamin betina disebut
karpogonium, yang menghasilkan ovum. Hasil pembuahan sel ovum oleh
spermatium adalah zigot yang diploid. Selanjutnya, zigot itu akan tumbuh
menjadi alga baru yang menghasilkan aplanospora dengan pembelahan meiosis.

6
Spora haploid akan tumbuh menjadi alga penghasil gamet. Jadi pada alga merah
(Rhodophyta) terjadi pergiliran keturunan antara sporofit dan gametofit.

Berikut ini adalah Gambar 2.2 tentang siklus hidup alga merah yang dikutip dari
sumber yang lain.

Gambar 2.2 Life Cyle of Red Algae


(Britannica, 2012)

Berdasarkan Gambar 2.2 dapat dijelaskan bahwa:

1. Tetraspora membentuk mejadi 2 sel gamet yaitu sel gamet jantan dan sel gamet
betina.
2. Alat kelamin jantan disebut spermatangia di dalam spermatangia terdapat
spermatia atau sekumpulan spermatia disebut spermatangium.
3. Alat kelamin betina disebut karpogonium dan di dalam karpogonium terdapat
sel telur (ovum).

7
4. Kemudian sel gamet jantan dan sel gamet betina bertemu dan masuk ke fase
fertilisasi.
5. Kemudian setelah proses fertilisasi masuk ke fase pembentukan sporophyte
yang pertama yang terjadi di dalam dinding sel yang di sebut cystocrap fase ini
disebut dengan fase carposporophyte yang menghasilkan carpospore.
6. Kemudian setelah proses carposporophyte yang menghasilkan carpospore
masuk ke fase pembentukan sporophyte yang kedua yang disebut
tetrasporophyte pada fase ini menghasilkan tetraspore yang nantinya
membentuk alga merah yang baru.

E. Manfaat Algae Merah (Rhodophyta)


Menurut Nizkon (2017), alga merah (Rhodophyta) dapat menyediakan makanan
dalam jumlah banyak bagi ikan dan hewan lainnya yang hidup di laut. Jenis ini juga
menjadi bahan makanan bagi manusia seperti Chondrus crispus (lumut irlandia)
dan beberapa genus Porphyra. Chondrus crispus dan Gigortina mamilosa
menghasilkan karagen yang dimanfaatkan untuk penyamak kulit, bahan pembuat
krem, dan obat pencuci rambut. Alga merah lain seperti Gracilaria lichenoides,
Euchema spinosum, Gelidium, dan Agardhiella dibudidayakan karena
menghasilkan bahan serupa gelatin yang dikenal sebagai agar-agar. Gel ini
digunakan oleh para peneliti sebagai medium biakan bakteri dan fase padat pada
elektroforesis gel, untuk pengentalan dalam banyak makanan, perekat tekstil,
sebagai obat pencahar (laksatif), atau sebagai makanan penutup. Adapun gambar
yang menjelaskan tentang manfaat alga merah diantaranya.

Gambar 2.3 Radiance


(Anonim, 2011)

8
Gambar 2.4 Sari Ayu
(Diah, 2015)

Gambar 2.5 Agar-Agar


(Rochimanok, 2014)

Gambar 2.6 Glucola


(Anonim, 2017)

9
Gambar 2.7 Natur-e
(Anonim, 2017)

F. Faktor Yang Mempengaruhi Kehidupan Algae Merah (Rhodophyta)


1. Substrat dasar perairan
Semua mahluk hidup memerlukan tempat tumbuh untuk menunjang
kehidupannya. Secara ekologis, alga merupakan pytobenthos berukuran makro
yang memerlukan substrat sebagai tempat melekatnya. Substrat yang dapat
digunakan sebagai tempat melekat adalah pasir, batuan karang, coral mati,
tanaman lain, dan mungkin benda-benda padat yang kebetulan tenggelam di
dasar laut. Alga merah melekatkan dirinya pada substrat dengan perantara
organnya yang disebut holdfast. Berbeda dengan tumbuhan darat, alga merah
tidak memerlukan jaringan untuk menyokong tegaknya tubuh dalam air. Hal
ini memungkinkan karena air telah menyediakan daya apung yang membuat
bagian-bagian tubuh alga merah dapat terangkat ke atas di dalam kolom air.
Disamping itu, pada spesies alga tertentu ditemukan struktur organ yang
menyerupai bola-bola kecil yang dapat menyerap udara dan berperan sebagai
pelampung, sehingga bagian-bagian tubuh alga tersebut dapat terangkat ke atas
untuk memaksimalkan penyerapan cahayanya. Dasar perairan biasanya terkait
dengan tingkat kecerahan perairan. Perairan dengan dasar karang atau karang
mati biasanya memiliki kejernihan air yang relatif baik. Hal ini cukup penting
bagi berlangsunya fotosintetis alga merah atau alga yang lainnya (Nizkon,
2017).

10
2. Cahaya
Cahaya matahari sebagai sumber energi yang sangat berpengaruh dalam
kehidupan alga karena cahaya sangat diperlukan untuk melangsungkan proses
fotosintetis dan berperan sebagai sinyal lingkungan yang dapat merangsang
proses pertumbuhan dan perkembangan alga merah. Cahaya merupakan faktor
yang dominan dalam menentukan distribusi vegetasi tumbuhan akuatik.
Transparansi air laut lebih besar dibandingkan air tawar, sehingga cahaya lebih
dalam menembus air laut dibandingkan air laut. Kegiatan fotosintetis air laut
dapat berlangsung sampai kedalaman yang cukup besar yaitu sampai
kedalaman 200 meter. Alga merah atau alga lainnya hanya tumbuh di perairan
dengan kedalaman tertentu dimana sinar matahari sampai ke dasar perairan.
Mutu dan kualitas cahaya berpengaruh terhadap produksi spora dan
pertumbuhannya. Cahaya memiliki spektrum warna berbeda sesuai dengan
panjang gelombang. Air laut dapat mengurangi intensitas cahaya, serta dapat
menyerap warna yang berbeda dengan panjang gelombang lebih pendek seperti
warna biru, hijau, dan kuning tidak begitu banyak diserap seperti halnnya warna
merah. Pembentukan spora dan pembelahan sel dapat dirangsang oleh cahaya
merah yang berintensitas tinggi. Alga yang berwarna hijau akan tumbuh subur
di dekat permukaan dengan intensitas cahaya yang tinggi dengan cahaya merah
yang melimpah, sedangkan alga merah dapat hidup pada perairan yang lebih
dalam dengan kondisi intensitas cahaya yang lebih rendah yang mampu
menggunakan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek untuk
melakukan fotosintetis (Nizkon, 2017).
3. Suhu
Secara prinsip suhu yang tinggi dapat menyebabkan protein mengalami
denaturasi, serta dapat merusak enzim dan membran sel yang bersifat labil
terhadap suhu yang tinggi. Pada suhu yang rendah, protein, lemak dan
membran dapat mengalami kerusakkan karena terbentuknya kristal es dalam
sel. Terkait dengan itu, maka suhu sangat mempengaruhi beberapa hal yang
terkait dengan kehidupan alga merah maupun alga lainnya seperti
kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, fotosintetis,
dan respirasi. Berbeda dengan yang di daratan, variasi suhu di air tidak begitu

11
besar. Suhu air di permukaan jarang sampai melebihi 30 ℃ dan tidak pernah di
bawah titik beku -3,6 ℃, di laut yang dalam suhunya rendah. Dalam hal
kelangsungan hidup, maka alga-alga yang bersifat Eurythermal dapat bertahan
hidup pada perairan yang suhunya sangat berfluktasi, sedangkan alga-alga
yang bersifat Stenothermal tidak dapat hidup pada lingkungan yang berfluktasi.
Alga-alga yang bersifat Eurythermal dapat menyebar secara luas dan
cenderung generalis, sedangkan alga yang bersifat Stenothermal memiliki
wilayah sebaran yang sempit dan cenderung bersifat spesialis dalam batas
kaitannya dengan batas toleransi terhadap suhu (Nizkon, 2017).
4. Salinitas
Salinitas didefinisikan sebagai berat dalam gram dari garam anorganik yang
terlarut di dalam 1 kg air laut sesudah semua bromin dan iodin digantikan
dengan jumlah yang sama oleh klorin, semua karbonat di konversi menjadi
oksida dalam jumlah yang sama, dan semua bahan-bahan organik teroksidasi
pada suhu 480 ℃. Salinitas merupakan salah satu parameter kualitas air yang
cukup berpengaruh pada organisme dan tumbuhan yang hidup di perairan.
Salinitas yang ideal bagi lahan budidaya alga berkisar antara 28-34 permil,
dimana salinitas optimunya adalah 32 permil. Agar dapat tumbuh dengan baik,
tekanan osmosis di dalam sel-sel alga harus sesuai dengan tekanan osmosis
lingkungan perairan tempat hidupnya. Terkait dengan pertumbuhan, maka
salinitas yang ekstrim dapat menurunkan laju pertumbuhan alga secara derastis.
Tingkat penurunan laju pertumbuhan ini bergantung juga kepada daya toleransi
alga terhadap fluktasi salinitas. Beberapa daerah yang perlu dihindari sebagai
lahan budidaya alga adalah muara sungai karena di daerah ini memiliki
salinitas yang rendah dibandingkan dengan perairan air laut yang tidak
mendapat suplai air tawar. Bahkan pada musim hujan, pasokan air tawar yang
masuk akan semakin banyak dan menurunkan nilai salinitas secara drastis hal
ini bedampak pada pemeliharaan alga (Nizkon, 2017).
5. Kekeringan
Suatu alasan yang unik menyatakan bahwa rendahnya keanekaragaman alga
mungkin disebabkan karena hampir semua alga mengalami tekanan
kekeringan. Tingginya keaneragaman tumbuhan darat adalah secara periodik

12
mereka mengalami tekanan kekeringan. Daya toleransi alga terhadap
kekeringan dapat dipengaruhi oleh morfologi dan bentuk pertumbuhan alga
tersebut. Semakin luas permukaan spesifik alga tersebut, maka semakin tidak
tahan pula alga tersebut terhadap kekeringan. Untuk mengurangi jumlah
penguapan air. Beberapa jenis alga bertalus ramping dan memiliki bentuk
pertumbuhan talus yang rapat dan saling tumpang tindih dengan maksud agar
luas permukaan spesifik yang bersentuhan dengan udara dapat berkurang
(Nizkon, 2017).
6. Nutrisi
Nutrisi merupakan faktor ekologis yang penting bagi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup setiap organisme. Tidak seperti tumbuhan pada umumnya
yang zat haranya tersedia dalam tanah, zat hara alga di peroleh dari air yang
ada disekelilingnya. Pertumbuhan dan reproduksi alga di pengaruhi oleh
kandungan nutrein di dalam perariran. Kebutuhan akan besarnya kandungan
dan jenis nutrein oleh alga sangat tergantung pada kelas atau jenis alga itu
sendiri disamping jenis perairan dimana alga itu hidup. Nutrein yang paling
penting untuk pertumbuhan alga adalah nitrogen dan fosfor. Nitrogen berperan
dalam pembentukan sel, jaringan, dan organ tanaman. Sedangkan fosfor,
merupakan komponen penyusun enzim, protein, ATP, RNA, DNA (Nizkon,
2017).

7. Gerakan air
Gerakan-gerakan air laut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti angin
yang menghembus di atas permukaan air laut. Gerakan air diperlukan untuk
mempercepat difusi gas dan ion-ion di dalam air. Dengan lancarnya difusi gas
dan ion-ion yang di perlukan oleh alga maka pertumbuhan alga akan menjadi
lebih cepat. Gerakan air juga berfungsi dalam membantu mensuplai zat hara
dan membersihkan kotoran yang menempel pada alga. Gerakan air juga dapat
mempengaruhi bentuk pertumbuhan rumput laut atau alga. Gerakan air juga
mempengaruhi gerakan dan sebaran spora alga yang kebanyakan bersifat
planktonis. Kekuatan gerakan air akan mempengaruhi melekatnya spora pada
substratnya. Alga yang tumbuh di perairan berombak dan berarus kuat akan

13
memiliki karakteristik spora yang berbeda dengan alga yang tumbuh di
perairan tenang. Gerakan air mengalir yang bagus untuk pertumbuhan alga
adalah sekitar 20-40 cm/detik. Sedangkan gerakan air yang bergelombang
harus tidak lebih dari 30 cm. Bila arus lebih cepat maupun ombak lebih tinggi,
maka akan menyebabkan alga robek, rusak dan terlepas dari substratnya
(Nizkon, 2017).

14
BAB III
SIMPULAN

Adapun simpulan dari makalah kami adalah sebagai berikut:

1. Alga merah (Rhodophyta) adalah ganggang yang berwarna merah karena


mengandung pigmen dominan fikobilin yang terdiri atas fikoeritrin (merah, dan
fikosianin (biru), serta pigmen lain yaitu klorofil a, klorofil d, dan karoten.
2. Tubuhnya dilapisi kalsium karbonat, tidak berfllagel, dinding selnya terdiri dari
komponen yang berlapis-lapis, mempunyai pigmen fotosintetik fikobilin dan
memiliki pirenoid yang terletak di dalam kloroplas, dalam reproduksinya tidak
mempunyai stadia gamet berbulu cambuk, reproduksi seksualnya dengan
karpogonia dan spermatia, pertumbuhannya bersifat uniaksial (satu sel di ujung
thallus) dan multi aksial (banyak sel diujung thallus), alat pelekatnya (Holdfast)
terdiri dari perakaran sel tunggal atau sel banyak, memiliki pigmen fikobilin,
yang terdiri dari fikoeritrin (berwarna merah) dan fikosianin (berwarna biru),
bersifat adaptasi kromatik, yaitu memiliki penyesuaian antara proporsi pigmen
dengan berbagai kualitas pencahayaan dan dapat menimbulkkan berbagai warna
pada thalli, seperti merah tua, merah muda, pirang, coklat, kuning, dan hijau,
mempunyai persediaan makanan berupa kanji (floridean starch), dalam dinding
selnya terdapat selulosa, agar, carrageenan, porpiran, dan furselaran.
3. Klasifikasi berasal dari domain Eukariota.
4. Algae merah berkembangbiak secara vegetatif (aseksual) dan generatif
(seksual).
5. Kebanyakan alga merah bermanfaat sebagai alat kecantikan dan makanan
seperti agar-agar dan Natur-e.
6. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan alga merah adalah
Substrat dasar perairan, cahaya, suhu, salinitas, kekeringan, nutrisi, dan gerakan
air.

15
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2011). Manfaat Radiance Synergy. Diakses dari:


http://www.franchisetokoonline.com/tag/manfaat-radiance-synergy/2011.
_______. (2017). Product Natur-e. Diakses dari: http://www.natur-
e.co.id/product/nature_advanced2017.
_______. (2017). Serum Glucola Red Alga-Alga Merah. Diakses dari:
http://agennanospray3mci.com/index.php/2017/02/04/serum-glucola-red-
alga-alga-merah-mci-2017/.
Britannica. (2012). Red Algae. Diakses dari:
https://www.britannica.com/science/red-algae2012.
Campbell, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A.,
Minorsky, P. V., Jackson, R. B. (2012). Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2
(D. T. Wulandari, Terjemahan). Jakarta: Erlangga. (Terbitan Asli 2008).
Diah. (2015). Review Sari Ayu Body Scrub. Diakses dari:
https://diahcerita.blogspot.co.id/2015/01/review-sari-ayu-body-scrub.html.
Dianti, S. (2014). Perbedaan Antara Alga Merah dan Alga Hijau. Diakses dari:
http://www.sridianti.com/2014/perbedaan-antara-alga-merah-dan-alga-
hijau.htm.
Nizkon. (2017). Kajian Biologi SMA 1. Palembang: UMP Press.
Rochimanok. (2014). Manfaat Agar-Agar Bagi Kesehatan. Diakses dari:
http://rochimanok.blogspot.co.id/2014/12/10-manfaat-agar-agar-bagi-
kesehatan.html.

16