You are on page 1of 17

MAKALAH

ANASTESI TOPIKAL DAN ANASTESI INFILTRASI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Bedah Mulut

Oleh :

KETUA : Penny Maharani (15-045)
PENYAJI : Iga Oktawisdo (15-049)
MODERATOR : Bunga Rika Audilla(15-051)
SEKRETARIS : Ivori Aulia Jufemi (15-048)
ANGGOTA : Vanny Fergiana M (15-043)
Yolanda Novera (15-044)
Mery Rahayu (15-046)
M. Hasbi Asidiqi (15-047)
Rifqi Aris Pranata (15-050)
Fadlurrahman (15-052)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG
2017

i

kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan–perbaikan di masa mendatang demi kesempurnaan laporan ini. Penulisan laporan ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Padang . Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat memenuhi tugas mata kuliah Bedah Mulut . Oleh karena itu. ii KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan ini. Desember 2017 Kelompok 1 ii . Semogalaporan ini dapat berguna bagi kita semua. oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada dosen selaku pembimbing yang telah membimbing jalannya pembelajaran dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. tentang Anastesi Infiltrasi dan Anastesi Topikal.

. 10 2........................................................... iii BAB I PENDAHULUAAN 1....................................3 Tujuan ................................................................3 Teknik Anastesi Infiltrasi ...........................................................1 Latar Belakang ..................... ii DAFTAR ISI ..........................................2 Indikasi dan Kontra Indikasi Anastesi Infiltrasi . 1 1..................................................... 3 2....... iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ...........................2 Rumusan Masalah ...............................................1 Kesimpulan ........................................... 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2........................................1 Anastesi Infiltrasi ................5 Indikasi dan Kontra Indikasi Anastesi Topikal ....................... 13 DAFTAR PUSTAKA iii ............ 10 2........................................................................................................... 6 2....................................................................................................... 2 1.........6 Teknik Anastesi Topikal.................................4 Anastesi Topikal....................... 10 BAB III PENUTUP 3.............................................. 4 2............

Penggunaan bahan anestesi lokal yang spesifik diharapkan dapat memberikan kenyamanan selama pasien menjalani perawatan dalam bidang kedokteran gigi. BAB I PENDAHULUAN 1. Menurut Malamed SF. anestesi lokal dapat mengkontrol rasa nyeri dalam bidang kedokteran gigi. sedangkan Aesthētos yang berarti persepsi atau kemampuan untuk merasa. Suatu tindakan operatif akan terlaksana dengan baik jika ditunjang oleh teknik anestesi yang baik. misalnya reaksi-reaksi yang 1 .1 Latar Belakang Anestesi berasal dari kata yunanian yang An berarti tidak atau tanpa. karena anestesi adalah pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. selain itu juga diperlukan pemahaman operator mengenai hal- hal penting yang berhubungan dengan anestesi. Dalam bidang kedokteran gigi umumnya pada kasus-kasus operatif memerlukan anestesi sebagai pengontrol rasa sakit selama dilakukan perawatan. Anestesi lokal dilakukan untuk menghilangkan rasa nyeri secara lokal pada daerah yang diberikan anestetikum untuk periode yang singkat. Secara umum berarti suatu tindakan yang menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Anestesi lokal merupakan salah satu tindakan medis yang sering dilakukan dalam kedokteran gigi. Penggunaan istilah anestesi untuk pertama kali digunakan oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1948 yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara.

dosis maksimum suatu obat anestesi. Berdasarkan basis anatominya. Bagiamana teknik anastesi infiltrasi ? 1.persarafan gigi dan jaringan pendukungnya serta teknik anastesi. Bagaimana teknik anastesi topical ? 3. anestesi lokal dapat dibedakan menjadi tiga yaitu anestesi topikal. Untuk mengetahui teknik anastesi topical. Untuk mengetahui teknik anastesi infiltrasi. 4.3 Tujuan 1. Untuk defenisi anastesi infiltrasi. Apa defenisi anastesi infiltrasi ? 4.2 Rumusan Masalah 1. dan anestesi regional atau sering disebut dengan anestesi blok. 2 . 2.mungkin terjadi dan penanganannya. 1. 3. Apa defenisi anastesi topical ? 2. Untuk defenisi anastesi topical. anestesi infiltrasi.

5 – 1. Infiltrasi 0. BAB II PEMBAHASAN 2. maka teknik infiltrasi ini dapat digunakan dengan efektif untuk mendapat efek anestesi pada gigi-gigi susu atas dan bawah. Anestesi infiltrasi digunakan untuk menunjukkan tempat dalam jaringan dimana larutan anestesi didepositkan di dekat serabut terminal dari saraf yang berhubungan dengan periosteum bukal dan labial. Pada anak. teknik ini mudah dikerjakan dan efektif. Teknik ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kesalahan insersi jarum yang terlalu dalam kejaringan. bidang alveolar labio-bukal yang tipis umumnya banyak terdapat saluran vascular dari pembuluh darah.0 ml larutan anestesi lokal cukup untuk menganestesi pulpa dari kebanyakan gigi anak.1 Anastesi Infiltrasi Anestesi infiltrasi adalah anestesi yang bertujuan untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui injeksi pada atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan hilangnya rasa dikulit dan jaringan yang terletak lebih dalam misalnya daerah kecil dikulit atau gusi (pencabutan gigi). Larutan anestesi didepositkan di dekat serabut terminal dari saraf dan akan terinfiltrasi di sepanjang jaringan untuk mencapai serabut saraf dan akan menimbulkan efek anestesi dari daerah terlokalisir yang disuplai oleh saraf tersebut 3 . Anestesi ini sering digunakan pada anak-anak untuk rahang atas ataupun rahang bawah. Daya penetrasinya pada anak cukup dalam karena komposisi tulang dan jaringan belum begitu kompak.

4. Gigi sulung yang mengalami impacted. Gigi yang sudah waktunya tanggal dengan catatan bahwa penggantinya sudah mau erupsi. Infeksi di periapikal atau di interradikular dan tidak dapat disembuhkan kecuali dengan pencabutan. Kemudian dibuatkan space maintainer. karena dapat menghalangi pertumbuhan gigi tetap. Jika penderita atau ahli bedah atau ahli anestesi lebih menyukai anestesi lokal serta dapat meyakinkan para pihak lainnya bahwa anestesi lokal saja sudah cukup 4 . Supernumerary tooth. 10. Gigi dengan karies luas. Gigi yang mengalami ulkus decubitus 8. 7. Indikasi anastesi infiltrasi Ada beberapa indikasi yang ditujukan untuk pemakaian anestesi infiltrasi.2 Indikasi dan kontra indikasi anastesi infiltrasi A. Gigi sulung yang persistensi 6. karies mencapai bifurkasi dan tidak dapat direstorasi sebaiknya dilakukan pencabutan. antara lain: 1. Untuk perawatan ortodonsi 9. Natal tooth/neonatal tooth 2.2. Gigi penyebab abses dentoalveolar 11. 5. 3.

kondisi ini mengakibatkan terjadinya perdarahan dan infeksi setelah pencabutan. Anestesi lokal dengan memblok saraf atau anestesi infiltrasi sebaiknya diberikan lebih dahulu sebelum prosedur operatif dilakukan dimana rasa sakit akan muncul B. rheumatic heart disease yang akut. Adanya tumor yang ganas. 5. 6. Kontra indikasi antara lain : 1. 3. penyakit ginjal/kidney disease. Pada penderita Diabetes Mellitus (DM). tidaklah mutlak kontra indikasi. Misalnya : Congenital heart disease. 12.kronis. 5 . Kurangnya kerjasama atau tidak adanya persetujuan dari pihak penderita. 2. 7. Kontra indikasi anastesi infiltrasi Ada beberapa kasus dimanana penggunaan anestesi infiltrasi tidak di perbolehkan. 4. Anak yang sedang menderita infeksi akut di mulutnya. Infeksi ini disembuhkan dahulu baru dilakukan pencabutan. herpetik stomatitis. Pada penyakit sistemik yang akut pada saat tersebut resistensi tubuh lebih rendah dan dapat menyebabkan infeksi sekunder. kasus-kasus ini perlu diketahui sehingga gejala-gejala yang tidak menyenangkan dan akibat yang tidak diinginkan bisa dihindari. karena dengan pencabutan tersebut dapat menyebabkan metastase. Misalnya akut infektions stomatitis. Blood dyscrasia atau kelainan darah. Pada penderita penyakit jantung.

3 Teknik anastesi infiltrasi Kasa atau kapas kecil diletakkan diantara jari dan membran mukosa mulut. B. Anestesi supraperiosteal Anestesi ini digunakann pada beberapa daerah seperti maksila. Anestesi submukosa Anestesi ini diterapkan bila larutan didepositkan tepat dibalik membran mukosa. Suntik jaringan pada lipatan mukosa dengan bevel jarum mengarah ketulang dan sejajar bidang tulang. teknik ini sering digunakan baik untuk menganestesi saraf bukal yang panjang sebelum pencabutan molar bawah. tarik pipi atau bibir serta membran mukosa yang bergerak kearah bawah untuk rahan atas dan kearah atas untuk rahang bawah sehingga membran mukosa menjadi tegang. walaupun cenderung tidak menimbulkan anestesi pada pulpa gigi. Adapun macam-macam teknik anastesi infiltrasi yaitu : A. untuk memperjelas daerah lipatan mukobukal atau mukolingual. setelah posisi jarum tepat lanjutkan insersi jarum menyelusuri periosteum sampai ujungnya mencapai setinggi akar gigi lalu larutan dideposit. Aplikasikan terlebih dahulu anestesi topikal jika diperlukan sebelum insersi jarum.2. bidang 6 . Suntikan dengan perlahan-lahan agar memperkecil atau mengurangi rasa sakit.

Pada daerah-daerah ini bila larutan anestesi didepositkan di luar periosteum.kortikal bagian luar dari tulang alveolar biasanya tipis dan dapat terperforasi oleh saluran vaskular yang kecil. anestesi pulpa gigi dapat diperoleh melalui penyuntikan di sepanjang apeks gigi. Dengan cara ini. walaupun biasanya pada situasi ini lebih sering digunakan anestesi intraligament. Anestesi subperiosteal Pada teknik ini. larutan anestesi didepositkan antara periosteum dibidang kortikal.tulang dan medularis keserabut saraf. Karena struktur ini terikat dan terasa sangat sakit. C. larutan akan terinfiltrasi melalui periosteum.bidang kortikal. karena itu teknik ini hanya digunakan bila tidak ada alternative lain atau bila anestesi superficial dapat diperoleh dari suntikan supraperiosteal. Teknik ini biasa digunakan pada palatum dan bermanfaat bila suntikan subperosteal gagal untuk memberikan efek anestesi. 7 .

Anestesi intraoseus Seperti terlihat dari namanya. Jumlah larutan tersebut biasanya cukup untuk sebagian besar prosedur perawatan gigi. pada teknik ini larutan didepositkan pada tulang medularis.D. Larutan anestesi 0. 8 . Teknik ini akan memberikan efek anestesi yang baik disertai dengan gangguan sensasi jaringan lunak yang minimal.25 ml didepositkan perlahan ke ruang medularis dari tulang.

Larutan didepositkan dengan tekanan dan berjalan melalui tulang medularis serta jaringan periodontal untuk memberi efek anestesi. Anestesi intraseptal Teknik ini merupakan versi modifikasi dari teknik intraoseus yang kadang- kadang digunakan bila anestesi yang menyeluruh sulit diperoleh. Teknik ini hanya dapat digunakan setelah diperoleh anestesi superfisial. 9 .E.

Kontraindikasi anastesi topical 1. Juga biasanya dipakai untuk mencabut gigi susu yang sudah goyah. Insisi abses 3.4 Anastesi Topikal Anastesi topikal yaitu pengolesan analgetik lokal diatas selaput mukosa. Anastesi topical digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit ketika injeksi atau tindakan yang tidak terlalu invasif yaitu pada permukaan jaringan kulit atau mukosa mulut saja. Jika dibutuhkan anastesi segera atau tidak cukup waktu untuk anastesi topical untuk bekerja sempurna.Anestesi topikal diperoleh melalui aplikasi agen anestesi tertentu pada daerah kulit maupun membran mukosa yang dapat dipenetrasi untuk memblok ujung-ujung saraf superfisial. 2. Pambedahan luas yang membutuhkan dosis toksisi anastesi local. Adapun macam-macam teknik anastesi topical yaitu : 10 .6 Teknik anastesi topical Disini anastesi hanya menghilangkan rasa sakit di permukaan saja. karena hanya mengenai ujung-ujung serabut-serabut syaraf dan berlaku untuk beberapa menit saja. 3.5 Indikasi dan kontra indikasi anastesi topical A. 2. 2. 2. Mencabut gigi permanen yang amat goyah. Bila terdapat infeksi mulut yang luas. Indikasi anastesi topical 1. 2. B.

Secara Phisis Yakni mendapatkan anastesi dengan pembekuan. kemudian jarak diperbesar seperti air mancur supaya tempat disekitar itu menjadi beku dengan tanda kelihatan memutih dan ini tandanya untuk memulai pencabutan atau insisi. Juga tidak boleh diberikan terlalu banyak karena memungkinkan pembiusan umum. Kita harus bertindak cepat karena anestesi ini tidak berlangsung lama. Dalam hal ini khloretil yang berwujud zat cair. Kalau hendak melakukan insisi. Waktu menguap zat ini mengambil panas dari sel-sel jaringan di sekitarnya dan syaraf- syaraf. Cara mempergunakannya : Kloretil yang terdapat dalam botol disebut kloretil spray. Setelah itu kloretil disemprotkan dari dekat dulu. tempat yang akan diberi anestetikum dikeringkan dengn kapas kemudian diberi jodium tincture 3- 5%. jadi pasien disuruh menutup matanya. A. Harus diingat ketika menyemprotkan kloretil ini jangan sampai mengenai mata karena dapat merusaknya. sehingga sel-sel syaraf itu membeku. Hasil dari anastesi ini tidak dalam. hanya kira-kira 5mm dan lekas hilang. B. Akibatnya syaraf tidak lagi dapat menerima rangsangan sakit sehingga rasa sakit tidak diteruskan ke pusat (sentrum) dari permukaan. Obat-obat yang lain dipergunakan ialah pantocain dan benzocaine. mempunyai titik didih sangat rendah dan lekas menguap. Pemakaian cocain ini dalam kedokteran gigi sebagian dipakai secara anastesi 11 . maka sebaiknya disemprot disekeliling tempat yang akan di insisi tersebut. Secara Khemis Biasanya dipergunakan cocain 2% yang umum dilakukan oleh dokter untuk operasi mata.

Cocain itu mempunyai sifat melumpuhkan ujung-ujung syaraf tertentu. maka untuk menghindarkan rasa sakit itu ditambah dengan anastesi tekanan (pulpa druk anaesthesi). Misalnya kalau kita akan melakukan pengambilan urat syaraf (ekstirpasi) seacra vital yaitu dengan tidak mematikan infiltrasi anastesi atau blok anastesi tidak dapat melumpuhkan sampai ke ujung-ujung syaraf. Diambil sedikit kapas yang telah dibulatkan. Sekarang tidak dipakai lagi. Anastesi ini dipergunakan kalau infiltrasi anastesi atau blok anastesi masih menimbulkan rasa sakit pada pulpa. jadi kapas yang kita tekankan tadi akan langsung mengenai ujung syaraf yang menyebabkan ia lumpuh. tidak dapat menerima rangsangan saki 12 . dimasukkan ke dalam cocain 2%. kemudian ditekankan kedalam kavitas gigi yang telah dibersihkan tadi. Cara mempergunakannya : Kavitas gigi yang karies dibersihkan dari sisa-sisa makanan dan kemudian dibersihkan dengan alcohol.tekanan (pressure anaesthesi).

Anastesi topical digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit ketika injeksi atau tindakan yang tidak terlalu invasif yaitu pada permukaan jaringan kulit atau mukosa mulut saja. syaraf dan pembuluh darah sekitar daerah operasi yang telah terinfiltrasi obat anastesi. Sedangkan anastesi topical adalah pengolesan analgetik lokal diatas selaput mukosa. BAB III PENUTUP 4.Anestesi topikal diperoleh melalui aplikasi agen anestesi tertentu pada daerah kulit maupun membran mukosa yang dapat dipenetrasi untuk memblok ujung-ujung saraf superfisial.1 Kesimpulan Anestesi infiltrasi adalah anestesi yang bertujuan untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui injeksi pada atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan hilangnya rasa dikulit dan jaringan yang terletak lebih dalam misalnya daerah kecil dikulit atau gusi (pencabutan gigi). Anastesi infiltrasi digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit pada kulit atau mukosa yang lebih dalam termasuk jaringan otot. 13 .

Yogyakarta : FKG UGM Steven Schwartz. Manual of Local Anesthesia in Dentistry 2nd Edition. 2010. Jakarta : EGC. Anestesia Lokal dalam Perawatan Konservasi Gigi. Panama : Jaypee Brothers Medical Publishers H. 2013.Buku Kuliah Bedah Mulut. DAFTAR PUSTAKA Narlan Sumawinata. ADA CERP. 1979. Dental care. Handogo. Chitre. 2012 13 . AP. Local anesthesia in pediatric dentistry.