You are on page 1of 3

Serat poliester atau Poly Etilen Tereftalat (PET) termasuk serat sintetik yang sangat

pesat perkembangannya dan banyak digunakan untuk tekstil. Serat poliester sangat
kompak, hidrofob, dan mudah timbul listrik statik. Karena sifat yang sangat hidrofob ini
poliester mudah menarik minyak, lemak dan kotoran berlemak lainnya. Karena lemak tidak
larut dalam air maka kotoran tersebut sulit dibersihkan. Poliester yang dikerjakan pada
larutan alkali akan menghasilkan kain yang ringan, halus, dan lembut.
Proses pre treatment pada kain poliester dilakukan mulai dari penghilangan kanji.
Pada kain poliester yang masih grey tetap dilakukan penghilangan kanji karena walaupun
kanji pada serat sintetik mudah larut dalam air tetapi masih terdapat kotoran luar yang
berasal dari mesin-mesin pertenunan. Kotoran-kotoran tersebut bisa berupa oli, minyak, dan
debu-debu yang sukar larut. Proses penghilangan kanji, pemasakan dilakukan secara
simultan dengan proses relaksasi agar lebih efisien tetapi masih memberikan hasil yang
bagus. Pada proses penghilangan kanji terjadi proses degradasi kanji yaitu pemotongan
molekul-molekul kanji menjadi bagian-bagian yang lebih kecil tanpa merusak serat
polyester. Sedangkan pada proses pemasakan terjadi proses penyabunan pada kain
poliester. Sabun atau scouring agent yang digunakan berfungsi untuk memudahkan bahan
terbasahi, mendispersikan kotoran-kotoran padat yang tidak larut seperti debu-debu serta
mengemulsikan kotoran-kotoran cair seperti minyak dan lemak yang tidak larut. Proses
penyabunan ini dibantu oleh zat alkali lemah yaitu NaOH yang berfungsi untuk mengaktifkan
kerja sabun dan membantu proses saponifikasi agar lebih sempurna. Proses penghilangan
kanji, pemasakan dan relaksasi secara simultan ini dilakukan pada suhu stabil antara 100 -
130 o C selama 20 menit.
Kain yang terbuat dari serat sintetik mengalami twisting selama proses pemintalan,
sedangkan pada proses penyempurnaan kain ini akan mengalami proses perendaman
dengan air pada suhu tinggi sehingga apabila regangan ini tidak dikendorkan dapat
menyebabkan sifat fisika kain berubah secara acak, diantaranya timbul efek crease mark
berupa lipatan-lipatan acak yang membekas pada permukaan kain, mengkeret kain yang
tidak homogen sehingga dimensi kain menjadi tidak stabil. Pada proses relaksasi ini bahan
dibiarkan melepaskan tegangan alaminya secara perlahan melalui perendaman dengan
pemanasan. Pada suhu pemanasan yang tinggi maka serat-serat poliester akan
menggembung sehingga kotoran-kotoran akan terpisah dari seratnya. Penambahan NaOH
pada larutan simultan ini akan membantu agar proses saponifikasi lebih sempurna.
Proses selanjutnya adalah pemantapan panas / heat setting yang dilakukan pada
o
mesin stenter bersuhu 180 C selama 1 menit. Pada proses ini, kain yang telah melalui
proses penghilangan kanji, pemasakan dan relaksasi akan dimasukkan pada mesin stenter
dengan cara memberikan penarikan arah lusi dan pakan kemudian memasangkan pada
gerigi yang terdapat pada mesin stenter. Serat sintetik mudah melunak pada suhu mendekat

Dan pemengkeretan terbesar terjadi pada kain dengan resep 4 yaitu pakan sebesar 10% lusi sebesar 9%. Faktor yang berpengaruh terutama konsentrasi soda kostik ( NaOH ) dalam proses digunakan soda kostik.. Pada suhu ini akan terjadi peregangan rantai molekul serat sehingga rantai molekul yang semula dalam keadaan tegang menjadi kendur karena banyak ikatan hidrogen yang putus dan membentuk suatu struktur rantai baru. Sehingga berat kain berkurang. Serat polyester memiliki sifat ketahanan yang jelek tehadap alkali kuat pada suhu dan tekanan tinggi. Besarnya pengenduran dan perubahan struktur serat tergantung dari suhu dan lamanya proses pemantapan panas serta tegangan yang diberikan. Alkali kuat seperti soda kostik (NaOH) akan menghidrolisa serat polyester membentuk Natrium Tereftalat yang larut dalam air. Proses hidrolisa ini terjadi pada permukaan serat terutama menyerang bagian amorf dan perlahan menuju inti serat menyerang bagian kristalin.. 130 0 C) lama proses. Dengan adanya hidrolisa ini mengakibatkan terjadinya pengikisan permukaan bahan. Karena pada saat pengertesan dengan larutan iodium tidak menghasilkan tanda pada kain. Selanjutnya dilakukan proses pengurangan berat yang tujuan utamanya adalah untuk memperoleh kain yang lebih lembut dan lebih langsai.. Karena. Sehingga hasil yang didapatkan adalah kain yang bersih dan terbebas dari kanji. dan pegangannya menjadi lebih lembut. Karena …(diisi) Proses simultan pada kain polyester menghasilkan kanji atau kotoran-kotoran yang ada dalam serat larut dalam larutan simultan. Selanjutnya dilakukan evaluasi uji pemengkeretan kain hasil yang didapatkan adalah pemengkeretan pakan lebih besar dibandingkan pemengkeretan lusi. lusi dengan lusi yang lainnya. Setelah dibandingkan hasil pengurangan berat yang paling baik adalah pada resep 4. 110.titik lelehnya. daya serap kain yg lebih baik adalah pada resep …(diisi).(diisi) . semakin tinggi suhu larutan pada saat percobaan maka semakin banyak pemengkeretan yang terjadi pada kain tersebut. suhu (90. Pada resep 4 ini menggunakan suhu yang lebih tinggi yaitu 130 0C. Karena pada resep 4 menggunakan suhu yang paling tinggi 130 0C mesikpun menggunakan NaOH yang lebih sedikit dibandingkan dengn resep 1 akan tetapi suhu yang lebih berpengaruh pada pengurangan berat kain polyester. Hasil pemengkeretan dengan menggunakan proses exhaust ini sangat rata antara pakan dengan pakan yang lainnya. Sifat inilah yang dimanfaatkan dalam proses pengurangan berat. kain menjadi lebih tipis. Hal tersebut diakibatkan karena alat yang digunakan lebih stabil sehingga hasil yang didapatkan pun lebih baik. Hal itu menandakan bahwa kanji telah hilang secara sempurna. Setelah dingin. ikatan hidrogen akan terbentuk kembali sehingga bentuk struktur yang baru akan lebih stabil. Handling kain ……. Evaluasi selanjutnya yaitu. perbandingan larutan dan jenis serat polyester yang diproses.