You are on page 1of 4

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Andropause secara medis disebut juga Androgen Deficiency Among Men

(ADAM) yang sering disebut dengan istilah lain Male Menopause, Male

Climacteric dan veropaeus (Bansal, 2013). Andropause sendiri merupakan

sindrom penurunan kemampuan fisik, seksual, dan psikologi yang

dihubungkan dengan berkurangnya hormon testosteron dalam darah.

Andropause terjadi pada laki-laki di atas usia tengah baya yang mempunyai

kumpulan gejala, tanda dan keluhan yang mirip dengan menopause pada

wanita. Pada laki-laki penurunan produk sel sperma, hormon testosteron dan

hormon-hormon lainnya terjadi secara perlahan dan bertahap (Soewondo,

2007).

Beberapa dekade terakhir ini kemajuan dalam bidang kesehatan serta

diikuti meningkatnya kondisi sosial menyebabkan semakin banyak orang

mencapai umur panjang. Di Amerika Serikat, tercatat 3 juta orang berusia di

atas 85 tahun dan diperkirakan jumlah ini meningkat dua kali lipat pada tahun

2020. Anita dan Moeloek (2002) mengungkapkan bahwa pada tahun 1990, di

Indonesia orang berusia di atas 64 tahun berjumlah 7.099.358 orang.

Diperkirakan pada tahun 2020 angka tersebut akan meningkat hampir tiga kali

lipat.

Angka kejadian tersebut di atas menunjukkan bahwa pria akan mengalami andropause. 2007). 2 Dengan adanya peningkatan populasi usia lanjut. hanya saja berbeda pada usia awal terjadinya andropause tersebut..6 % setiap tahunnya (Muller et al. Laki-laki usia lanjut akan mengalami andropause seperti halnya wanita mengalami menopause.94 % responden mengalami andropause. 2005). dimana akan terjadi penurunan kadar testosteron dalam darah. namun dengan jumlah penderita yang relatif kecil yaitu kurang dari 5%.. Allan et al. Angka kejadian andropause pada pria di Amerika Serikat mencapai 15% pada usia 40-60 tahun (Pangkahila. 2003. sedangkan di Kota Surakarta prevalensi andropause pada pria berusia di atas 30 tahun adalah sebesar 51. sedangkan penurunan produksi hormon testosteron terjadi perlahan-lahan (Anita dan Moeloek. 2006).67 % (Gunadarma. Taher (2005) mengatakan angka kejadian andropause di Kota Jakarta cukup besar yaitu sebesar 70. maka laki-laki usia lanjut pun akan semakin meningkat. Soewondo. Sejak masa pubertas hormon testosteron pada laki-laki mulai diproduksi dan tetap stabil produksinya hingga usia sekitar 40 tahun.8-1. . Di Kabupaten Sukoharjo berdasarkan penelusuran belum ada data mengenai prevalensi andropause. 2002. 2007). Menurut wibowo (2002) sebagian pria saat berusia 30 tahun telah mengalami sindroma andropause. namun pada wanita menopause produksi hormon estrogen dan siklus menstruasi berhenti dengan cara relatif mendadak. Produksinya akan berangsur menurun sekitar 0.

3 Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Liu Te-Chi et al. Peningkatan pelepasan jumlah testosteron dipengaruhi oleh durasi.(2009) salah satu cara untuk meningkatkan pelepasan testosteron dari sel-sel Leydig yang berada di testis menuju ke sirkulasi adalah dengan aktivitas fisik atau latihan fisik. di antaranya jantung. darah.(2012) dengan melakukan latihan fisik telah menunjukkan peningkatan respon seksual dan dampak positif dari latihan fisik adalah meningkatkan sensitivitas insulin. dan sebagian di antaranya terkait dengan pelepasan testosteron yang merupakan faktor yang memengaruhi libido seksual. Terdapat banyak informasi yang beredar di masyarakat melalui media elektronik ataupun media cetak yang menyebutkan bahwa salah satu cara mencegah andropause dini adalah dengan melakukan aktivitas fisik olahraga. Menurut Vignera et al. Andropause dini yang terjadi pada laki-laki dapat berakibat menurunnya gairah seksual dan aktivitas seksual.. Terdapat berbagai keuntungan dari aktivitas fisik terhadap tubuh. Aktivitas fisik mempunyai peranan penting dalam menjamin kesehatan dan telah ada penelitian luas mengenai manfaat latihan fisik. intensitas dan jenis aktivitas fisik yang dilakukan. sistem imun. Berdasarkan uraian tersebut di atas. sehingga dapat mengganggu keharmonisan dengan istri. otot. skelet. tulang. peneliti tertarik melakukan penelitian untuk membuktikan apakah ada hubungan antara aktivitas fisik olahraga dengan andropause khususnya di Kecamatan Mojolaban. sehingga . 2011).. dan sistem saraf (Cooper dan Hancock. Sukoharjo.

Tujuan Penelitian Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik olahraga dengan andropause. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat. B. . D. sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam mencegah andropause dini. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hubungan antara aktivitas fisik olahraga dengan andropause untuk pengembangan ilmu kedokteran dan penelitian selanjutnya. Perumusan Masalah Apakah ada hubungan antara aktivitas fisik olahraga dengan andropause? C. terutama laki-laki tentang aktivitas fisik olahraga dan andropause. 2. 4 dapat menjawab pertanyaan apakah ada hubungan antara aktivitas fisik olahraga dengan andropause dalam penelitian ini.