You are on page 1of 3

ASPEK HUKUM DALAM PELAKSANAAN

PERLINDUNGAN KONSUMEN
Sabtu, 12 Desember 2009 , Posted by LPK Jawa Timur at 12/12/2009 12:21:00 PM

ASPEK HUKUM DALAM
PELAKSANAAN PERLINDUNGAN KONSUMEN
Oleh Kolonel CHK Kusbandi., SH., M. Hum (Kakumdam V/Brawijaya)
Salah satu tujuan pembangunan nasional Indonesia adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan bangsa Indonesia, 1) baik materiel maupun spiritual yaitu dengan
ketersedianya kebutuhan pokok; sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan
(perumahan) yang layak. Negara dengan segenap perangkatnya berkewajiban
menyelenggarakan tercapainya kehidupan rakyatnya dengan Iayak atau sejahtera lahir
dan batin. Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 menegaskan bahwa “tiap-tiap warna Negara
berhak untuk memperoleh hidup yang Iayak bagi kemanusiaan”. Untuk memperoleh
hidup yang layak bagi kemanusiaan itu dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan
kecerdasan, perlu penyediaan barang dan jasa dalam jumlah yang cukup, kualitas
sesuai standar dengan harga yang terjangkau masyarakat sebagai pihak konsumen
pada umumnya.
Kenyataan menunjukkan bahwa di Indonesia telah tumbuh dan berkembang banyak
industri barang dan jasa, baik yang berskala besar, menengah maupun kecil, di satu
pihak, laju pertumbuhan dan perkembangan industri barang dan jasa membawa
dampak positif, antara lain tersedianya kebutuhan dalam jumlah yang mencukupi,
mutunya Iebih baik serta adanya alternatif pilihan bagi konsumen.
1 Lihat tujuan pembangunan Nasional sebagaimana tercantum di dalam UUD 1945
alinea keempat.
Akan tetapi, di lain pihak juga terdapat dampak negatif, yaitu dampak dan
perkembangan teknologi, informasi dan informatika pada penyelahgunaan teknologi itu
sendiri serta pelaku bisnis/pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab karena makin
ketatnya persaingan, sehingga menjadi beban bagi masyarakat konsumen bahkan alam
atau lingkungan yang tidak menguntungkan.
Ketatnya persaingan dapat mengubah perilaku kearah persaingan yang tidak sehat
karena para pelaku usaha memiliki kepentingan yang saling berbenturan diantara
mereka. Persaingan yang tidak sehat ini pada gilirannya dapat merugikan konsumen.
Prasasto Sudjatmiko menegaskan (4) empat contoh yang mempengaruhi perilaku
bisnis menjadi tidak sehat yaitu, Konglomerasi, Kartel/Trust, Insider Trading dan
persaingan tidak sehat/curang. 2) Sekurang-kurangnya ada (4) empat bentuk perbuatan
yang lahir sebagai akibat dan tidak sehatnya praktek bisnis seperti diatas, yaitu
menaikkan harga, menurunkan harga, menurunkan mutu, dumping, memalsukan
produk dan lain sebagainya.

Undang-undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang Ketetapan Peraturan Perundang- undangan Nomor 1 Tahun 1931 tentang barang. Jakarta. Arus globalisasi dan perdagangan bebas karena kemajuan teknologi dan informasi telah mendorong ruang gerak arus transaksi barang/jasa melintasi wilayah negara (barang dan dalam negeri dan atau luar negeri) konsumen mempunyai kebebasan memilih. Adapun kelemahan-kelemahan konsumen adalah karena beberapa faktor antara lain : kesadaran akan haknya masih relatif rendah pendidikannya. maka bagaimanakah aspek penlindungan hukum dalam pelaksanaan perlindungan konsumen yang tertuang dalam Undang- undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. sehingga dapat melahirkan manusia-manusia yang sehat rohani dan jasmani sebagai pelaku- pelaku pembangunan. untuk menghindarkan konsumen dan dampak negatif penggunaan teknologi. Sinar Harapan. maka perlindungan konsumen menjadi penting dengan demikian sekurang-kurangnya ada (4) empat alasan pokok mengapa konsumen perlu dilindungi. Pada saat tertentu dalam posisi yang lemah dan tidak aman seorang konsumen dapat menjadi korban sebagai akibat baik dan unsur kelalaian atau bahkan kesengajaan dan pihak pelaku usaha untuk berkompetitif namun tidak sehat. yang berarti juga untuk menjaga keseimbangan pembangunan nasional dan guna menjamin sumber daya pembangunan yang bersumber dan masyarakat konsumen. sesuai dengan amanat Alinea IV Pembukaan UUD 1945.besarnya dengan segala cara bahkan dengan cara-cara yang bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Maka diperlukan suatu perangkat perlindungan hukum yang bersifat universal sehingga mendapatkan kedudukan hukum yang proporsional atau hak dan kewajibannya antara konsumen dengan pelaku usaha. misalnya: kiat-kiat dalam promosi. sehingga undang-undang dijadikan sebagai landasan hukum bagi swadaya masyarakat untuk melakukan pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan pendidikan konsumen. cara penjualan dan dengan tidak menerapkan perjanjian standar. bahkan menjadi objek aktifitas bisnis guna meraup keuntungan yang sebesar . dimana hal tersebut didasari atau tidak akan merugikan konsumen pada beberapa aspek. Dengan timbulnya berbagai permasalahan dan hubungan antara pelaku usaha dengan warga masyarakat selaku konsumen. Praktik Bisnis Curang. Sebagai person atau kelompok dalam keadaan apapun pasti menjadi konsumen secara universal. konsumen pada posisi lemah. Beberapa aspek hukum yang etrkait dengan perlindungan konsumen antara lain: a. Oleh karena itu.Dengan pemahaman bahwa semua masyarakat adalah konsumen. Melindungi konsumen sama artinya dengan melindungi seluruh bangsa sebagaimana yang diamanatkan oleh tujuan pembangunan nasional menurut Pembukaan UUD 1945. maka melindungi konsumen berarti juga melindungi seluruh masyarakat. 2. yaitu: 2 AdrianusMeliala. . Permasalahan. hal 140. Pembahasan. Fenomena tersebut dapat berakibat kepada pelaku usaha dan konsumen tidak porpasional/tidak seimbang. 3. menggunakan kualitas barang/jasa sebagaimana yang diinginkan.

sesuai kerangka sebagai berikut: Bab I Ketentuan Umum (Pasal 1). Bab IX Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (Pasal 44). Bab IV Perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha (Pasal 8 s. Bab XI Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (Pasal 49 s. Bab XV Ketentuan penutup (Pasal 65 . Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen terdiri dan 15 bab dan 65 Pasal.d 58).b. f. g. Bandung. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1993 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Ag. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1966 tentang Hygiene. k. Bab VI Tanggung jawab pelaku usaha (Pasal 19 s.d 17). Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen. 3 Dr. S. Bab II Asas dan Tujuan (Pasal 2 dan 3). Bab XIII Sanksi (Pasal 60 s. c. hal 19-20. e.d28).d 48). Bab VII Pembinaan dan Pengawasan (Pasal 29 dan 30). Bab III Hak dan Kewajiban (Pasal 4 s.d 43). M. Bab XII Penyidikan (Pasal 59). Hukum Perlindungan Konsumen kajian teoritis dan perkembangan pemikiran. 3) Kebijakan perlindungan konsumen baik menyangkut hukum materiil dan hukum formil tentang penyelesaian sengketa konsumen. Bab XIV Ketentuan peralihan (Pasal 64). h. Bab X Penyelesaian sengketa (Pasal 45 s. d. Abdul Halim Barkatulah. j. Bab VIII Badan Perlindungan Konsumen Nasional (Pasal 31 s.d 63). SH.d 7). Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Perasuransian. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.Hum. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan hidup. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1982 tentang Perindustrian. Bab V Ketentuan pencantuman klausa baku (Pasal 18). i. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1982 tentang Metrologi Legal. Nusa Media. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang wajib daftar perusahaan.