You are on page 1of 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENDAHULUAN

Tumor otak atau tumor intrakranial merupakan neoplasma atau proses
desak ruang (space occupying lession atau space taking lession) yang timbul
di dalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen supratentorial maupun
infratentorial. 1,2

Di Amerika Serikat, berdasarkan data statistik dari Central Brain Tumor
Registry of United State angka kejadian tumor otak adalah 14,8 per 100.000
populasi per tahun, dimana wanita lebih banyak (15,1) dibandingkan dengan
pria (14,5). Sedangkan di negara-negara lainnya angka kejadian tumor otak
berkisar antara 7-13 per 100.000 populasi per tahun (Jepang 9 per 100.000
populasi per tahun, Swedia 4 per 100.000 per tahun). Di Indonesia dijumpai
frekuensi tumor otak sebanyak 200-220 kasus/tahun dimana 10% darinya
adalah lesi metastasis. Insidensi tumor otak primer bervariasi sehubungan
dengan kelompok umur penderita. Angka insidens ini mulai cenderung
meningkat sejak kelompok usia dekade pertama yaitu dari 2/100.000
populasi/tahun pada kelompok umur 10 tahun menjadi 8/100.000
populasi/tahun pada kelompok usia 40 tahun; dan kemudian meningkat tajam
menjadi 20/100.000 populasi/tahun pada kelompok usia 70 tahun untuk
selanjutnya menurun lagi. Insiden per tahun tumor primer intra¬kranial adalah
7,8-12,5/100.000 penduduk, yakni dari 10.000 penduduk, setiap tahun terdapat
kurang lehih satu penderita baru tumor primer intrakranial. Tumor primer
intrakranial terbanyak adalah glioma, yakni sekitar 35-60%; meningioma
sekitar 9-22%; hipofisoma 5-16%; neurilemoma 7-9%. Data terdahulu dari
bagian bedah saraf, tumor sekunder otak menempati 10-15% dari pasien

infasi dan destruksi dari jaringan otak. serta tumor metastasis dari bagian tubuh lainnya. Walaupun demikian ada beberapa jenis tumor yang mempunyai predileksi lokasi sehingga memberikan gejala yang spesifik dari tumor otak.2 C.3 Diagnosa tumor otak ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi. Tumor otak dapat menekan jaringan otak normal ke daerah kranium: menyebabkan kerusakan pada jaringan otak. Di dalam hal ini mencakup tumor-tumor primer pada korteks. namun bagian terbesar pasien tumor metastatik otak tidak ditangani bagian bedah saraf. 1. Tumor otak dapat bersifat maligna ataupun benigna. Dengan pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi hampir pasti dapat dibedakan tumor benigna dan maligna. meningens. epifisis. tumor otak. kelenjar hipofise.1. kemampuan adaptif atau plasitisitas pada otak dalam situasi tertentu bagian-bagian otak dapat mengambil alih fungsi dari bagian-bagian yang rusak. Otak merupakan bagian utama dari system saraf. saraf otak. DEFINISI Tumor otak atau tumor intrakranial merupakan neoplasma atau proses desak ruang (space occupying lession atau space taking lession) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen supratentorial maupun infratentorial. vascular.1 B.. Cerebrum . Dengan pemeriksaan klinis kadang sulit menegakkan diagnosa tumor otak apalagi membedakan yang benigna dan yang maligna. ANATOMI Otak merupakan organ yang sangat mudah beradaptasi meskipun neuron- neuron di otak mati tidak mengalami regenerasi. kecepatan pertumbuhan masa tumor dan cepatnya timbul gejala tekanan tinggi intrakranial serta efek dari masa tumor kejaringan otak yang dapat menyebabkan kompresi. dengan komponen bagiannya sebagai berikut a. karena gejala klinis yang ditemukan tergantung dari lokasi tumor. jaringan penyangga.

Setiap hemisfer terdiri dari : 1) Korteks serebrum (substansia grisea) 2) Mempumyai fisura dan sulkus. 8 c) Lobus parietalis Lobus parietalis merupakan daerah pusat kesadaran sensorik di gyrus postsentralis (area sensorik primer) untuk rasa raba dan pendengaran. Hemisfer kiri dan kanan dihubungkan oleh massa substansia alba yang disebut corpus callosum. menginterpretasikan dan memproses rangsang penglihatan dari nervus optikus dan mengasosiasikan rangsang ini dengan informasi saraf lain dan memori. seperti kemampuan berpikir anstrak dan nalar. bicara (area broca di hemisfer kiri). 8 b) Lobus temporalis Lobus temporalis mencakup bagian korteks cerebrum yang berjalan ke bawah dari fissure lateral dan sebelah posterior dari fisura parieto-oksipitalis. temporal) : a) Lobus frontalis Lobus frontalis berperan sebagai pusat fungsi intelektual yang lebih tinggi. parietalis. occipitalis.8 d) Lobus occipitalis Lobus occipitalis berfungsi untuk pusat penglihatan dan area asosiasi penglihatan. pusat penciuman dan emosi. berbicara. visual. motivasi dan inisiatif. Setiap hemisfer di bagi oleh fisura dan sulkus yang membagi 4 lobus (frontalis.8 . Lobus ini berfungsi untuk mengatur daya ingat verbal. Pada lobus ini terdapat daerah broca yang mengatur ekspresi bicara. perilaku social. pendengaran dan berperan dalam pembentukan dan perkembangan emosi. Bagian ini mengandung pusat pengontrolan gerakan volunteer di gyrus presentralis (area motoric primer) dan terdapat area asosiasi motoric (area premotor). Cerebrum merupakan bagian otak terbesar yang terletak di fossa cranii anterior yang terdiri atas dua hemisfer yaitu hemisfer kiri dan kanan. lobus ini juga mengatur gerakan sadar.

Cerebrum tampak lateral (dikutip dari kepustakaan 9) b. dan claustrum. c) Ganglia basalis atau nukleus basalis. Bagian – bagian otak (dikutip dari kepustakaan 9) 3) Gyrus dimana permukaan hemisfer serebral yang memiliki konfolusi. Gambar 1. nukleus amigdala. raba. diantaranya : a) Gyrus pracentralis di anterior terhadap sulkus sentralis. 8 Gambar 2. Dimana area ini disebut area sensoris yang menerima dan menginterprestasikan sensasi nyeri. merupakan sekelompok masa substansia grissea yang terletak di hemisfer serebri. Diencephalon Diencephalon adalah bagian dalam dari cerebrum yang menghubungkan otak tengah dengan hemisfer cerebrum. Tersusun atas : . Ganglia basalis berfungsi mengatur postur dan gerakan volunter. tekan pada sisi kontralateral. Terdiri dari korpus striatum. Yang memiliki fungsi mengatur volunter sisi tubuh yang berlawanan. b) Gyrus postsentralis terletak posterior terhadap sulkus sentralis.

8 c. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk pernapasan. integrasi sirkuit siklus bangun tidur. 8 Cerebellum merupakan pusat koordinasi untuk keseimbangan dan tonus otot. integrasi. keseimbangan cairan dan elektrolit. Cerebellum terletak di fossa cranii posterior dan berada pada posterior pons dan medulla oblongata. 1) Thalamus : tempat penyampaian semua impuls yang masuk sebelum mencapai korteks serebri. Cerebellum terdiri dari tiga bagian fungsional yang berbeda yang menerima dan menyampaikan informasi ke bagian lain dari system saraf pusat. reflek- refleks system optic dan menghasilkan hormone melatonin yang mempengaruhi modulasi pola bangun tidur 4) Subthalamus : meregulasi pergerakan yang dilakukan oleh otot rangka. dan pewarnaan efek terhadap impuls. mengontrol intake makanan. regulasi temperature. Cerebellum Cerebellum adalah struktur kompleks yang mengandung lebih banyak neuron dibandingkan otak secara keseluruhan. respon tingkah laku terhadap emosi. Thalamus melakukan koordinasi. Cerebellum memiliki peran koordinasi yang penting dalam fungsi motoric yang didasarkan pada informasi somatosensory yang diterima. mengatur proses pencernaan. denyut jantung. lobus medialis dan lobus fluccolonodularis. 3) Epithalamus : berhubungan dengan fungsi system limbic. dan merupakan sumber insting dasar manusia. Mengendalikan kontraksi otot-otot volunteer secara optimal. Berhubungan dengan dienchephalon diatasnya dan medulla spinalis dibawahnya. Bagian-bagian dari cerebellum adalah lobus anterior. Brainstem Brainstem adalah batang otak berfungsi untuk mengatur seluruh proses kehidupan yang mendasar. 8 d. pengaturan endokrin dan respon seksual. Struktur fungsional batang otak yang penting adalah jaras ascenden dan . inputnya 40 kali lebih banyak dibandingkan output. 2) Hypothalamus : pusat integrasi susunan saraf otonom.

walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. descenden traktur longitudinalis antara medulla spinalis dan bagian- bagian otak. Medulla mengontrol fungsi otomatis otak seperti detak jantung. Adapun faktor- faktor yang perlu ditinjau sebagai penyebab tumor otak. 8 Gambar 3. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge- Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru. 2) Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri badan menuju bagian kanan badan. . sirkulasi darah. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO Penyebab tumor otak hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. anyaman sel saraf dan 12 pasang saraf cranial. mengatur gerakan tubuh dan pendengaran. 3) Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak bersama dengan formasi reticular. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan. sebagai berikut:4 1. 8 Secara garis besar brainstem terdiri dari tiga bagian yaitu : 1) Mesencephalon atau otak tengah disebut juga mid brain adalah bagian teratas dari batang otak yang menghubungkan otak besar dan otak kecil. pembesaran pupil mata. Potongan sagital cerebrum (dikutip dari kepustakaan 9) D. dan pencernaan. astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga. pernafasan. begitu pula sebaliknya. Herediter Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada meningioma. Pons yang menentukan apakah kita terjaga atau tertidur. gerakan mata.

Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-bukti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor- faktor herediter yang kuat pada neoplasma. protein . tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest) Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan. memperlihatkan faktor familial yang jelas. Radiasi Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan degenerasi. Glioma.4 3. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone. mis. PATOGENESIS Patogenesis tumor system saraf pusat. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi. papovavirus. nitroso-ethyl-urea.4 2. diferensiasi.4 4. Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh. EBV. Virus Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma. adenovirus tipe 12. teratoma intrakranial dan kordoma. dan proliferasi sel-sel tumor. pada dasarnya melibatkan gen-gen yang menyebabkan inisiasi.4 5. dan retrovirus. Gen ini mengkode factor pertumbuhan dan reseptornya.4 E. Substansi-substansi Karsinogenik Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma. menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya. namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma.

second messenger. Deskripsi genetic molekuler pathogenesis kanker (dikuti dari kepustakaan 5) F. factor transkripsi dan protein memediasi angiogenesis dan interaksi antara tumor dan matriks ekstraseluler. KLASIFIKASI .5 Gambar 4. Keterlibatan onkogen (overekspresi) dan inaktivasi tumor suppressor genes berperan dalam pathogenesis pasien ini. yang mempengaruhi control siklus sel. apoptosis dan nekrosis.

Ganglisitoma b. Astrositoma Anaplastik iv. Oligoastrositoma Anaplastik d. Astrositoma Difus iii. Ependimoma iv. Oligoastrositoma ii. Tumor Neuroepithelial lainnya i. Glioma Koroid dan ventrikel III iii. Tumor Oligodendroglial i. Liponeurositoma Serebelar g. Tumor Non-glial a. Glioma campuran (Mixed Glioma) i. Tumor Ependimal i. Oligodendroglioma ii. Astrositoma i. Neurositoma operasi f. Klasifikasi tumor otak berdasarkan World Health Organization (WHO):5 1. Tumor Glial a. Gliomatomosis serebri B. TUMOR NEUROEPITHELIAL A. Astroblastoma ii. Ependimoma Myxopapilari ii. Subependimoma iii. Tumor Embrional . Astrositoma Pilositik ii. Ependimoma Anaplastik e. Oligodendroglioma Anaplastik c. Gangliglioma c. Astrositoma Subependimal Sel Raksasa b. Xantoastrositoma Pleomorfik vi. Astrositoma desoplastik Infantile d. Glioblastoma v. Paraganglioma C. Tumor Neuronal dan campuran neuronal – glial a. Tumor Disembrioplastik Neuroepithelial (BNET) e.

gangguan mental. i. namun sebaliknya gejala . TUMOR MENINGEAL a. Germinoma b. Tumor Parenkim Pineal i. gangguan endokrin. TUMOR GERM CELL a. Tumor Germ cell campuran 4. Kraningofaringoma 5. Pineoblastoma ii. Meduloblastoma iii. Tumor Sinus Endodermal (Yolk sac) d. Persentasi klinis sering kali dapat mengarahkan perkiraan kemungkinan lokasi tumor otak. Pineositoma iii. Hemangoperisitoma c. TUMOR METASTASIS G. Secara umum persentasi klinis pada kebanyakan kasus tumor otak merupakan manifestasi dari peninggian tekanan intrakranial. Lesi Melanositik 3. MANIFESTASI KLINIS Perubahan pada parenkim intrakranial baik difus maupun regional akan menampilkan gejala dan tanda gangguan neurologis sehubungan dengan gangguan pada nukleus spesifik tertentu atau serabut traktus pada tingkat neurofisiologi dan neuroanatomi tertentu seperti gejala-gejala: kelumpuhan. Karsinoma Prostat c. TUMOR DENGAN HISTOGENESIS YANG TIDAK JELAS a. Karsinoma Embrional c. TUMOR NERVUS PERIFER YANG MEMPENGARUHI SSP 8. Meningioma b. Tumor Pleksus Khoroideus a) Papiloma Pleksus Khoroideus b) Karsinoma Pleksus Khoroideus c. dan sebagainya. Adenoma hipofise b. Tumor Parenkim Pineal dengan Diferensiasi Intermediet 2. Tumor Primitif Neuroektodermal Supratentorial (PNET) b. LIMFOMA SISTEM SARAF PUSAT PRIMER 7. Khoriokarsinoma e. Hemangioblastoma Kapiler 6. Ependimoblastoma ii. TUMOR SELLA a. Teratoma f.

Karena tumor sendiri merupakan stimulasi produksi liquor cerebrospinalis. Papiledema dapat timbul pada tekanan intrakranial yang meninggi atau akibat penekanan pada nervus optikus oleh tumor secara langsung. Juga lonjakan sejenak seperti karena batuk. 3. 2. Keluhan nyeri kepala cenderung bersifat intermittent. biasanya gejala papiledema terjadi lebih menonjol. Karena adanya obstruksi pada system ventrikel sehingga menghalangi liquor cerebrospinalis. perlu dicurigai adanya tumor otak. muntah proyekil. seperti pada “papiloma plexus”. walaupun tidak jelas ada tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial. Tenaga penyerapan terhadap liquor cerebrospinal terganggu. berdenyut dan tidak begitu hebat terutama di pagi hari karena selama tidur malam PCO2 serebral meningkat sehingga mengakibatkan peningkatan CBF (Cerebral Blood Flow) dan dengan demikian mempertinggi tekanan intrakranial. pada tumor otak: 1.7 Tekanan Tinggi Intrakranial Trias gejala klasik dari sindroma tekanan tinggi intrakranial adalah: nyeri kepala. sedangkan pada anak-anak yang lebih besar di mana suturanya relative sudah merapat. Tumor otak pada bayi yang menyumbat aliran likuor serebrospinal sering kali ditampilkan dengan pembesaran lingkar kepala yang progresif dan ubun-ubun besar yang menonjol. . 5. dan papiledema. padahal kapasitas tengkorak terbatas untuk otak dan liquor saja. 1. sehingga terjadi produksi yang berlebihan. Adanya massa tumor yang membesar. 1.6.4. tumpul. Hal ini terjadi oleh karena tekanan Intrakranial yang menjadi lebih tinggi selama tidur malam. akibat PCO2 serebral meningkat.4 Teori mekanisme peninggian tekanan intrakranial. sehingga aliran darah yang kembali ke vena terhalang. 4.neurologis yang bersifat progresif. Karena adanya obstruksi pada system vena. mengejan atau berbangkis memperberat nyeri kepala. Penderita sering kali disertai muntah yang “menyemprot” (proyektil) dan tidak didahului oleh mual. dengan papil yang berwarna merah tua dan perdarahan-perdarahan di sekitarnya. Papiledema memperlihatkan kongesti venosa yang jelas. Nyeri dirasa berlokasi di sekitar daerah frontal atau oksipital.

Kelumpuhan saraf okulomotorius merupakan tampilan khas dari tumor-tumor paraselar. terutama pada tumor yang berada di hemisfer kiri (dominan). Gejala afasia agak jarang dijumpai.4 Perlu dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak bila: 1. dan dengan adanya tekanan intracranial yang meninggi kerap disertai dengan kelumpuhan saraf abdusens. dan 25% pada glioblastoma. 1. Nistagmus biasanya timbul pada tumor-tumor fosa posterior. sehingga sering kali penderiita-penderita tersebut diduga sebagai penyakit nonorganik atau fungsionil. 40% pada pasen meningioma. Resisten terhadap obat-obat epilepsi 5. Tumor-tumor daerah supraselar. Perdarahan Intrakranial Bukanlah suatu hal yang jarang bahwa tumor otak diawali dengan perdarahan intrakranial-subarakhnoid. Bangkitan disertai dengan gejala TTIK lain 6.4 Gejala Neurologis Fokal Perubahan personalitas atau gangguan mental biasanya menyertai tumor-tumor yang terletak di daerah frontal. intraventrikuler atau intraserebral. Bangkitan kejang ditemui pada 70% tumor otak di korteks. Mengalami status epilepsi 4.4 Gejala Disfungsi Umum Abnormalitas umum dari fungsi serebrum bervariasi mulai dari gangguan fungsi intelektual yang tak begitu hebat sampai dengan koma. 1. 50% pasien dengan astrositoma. sedangkan tumor-tumor supraselar atau paraselar . Kejang dapat merupakan gejala awal yang tunggal dari neoplasma hemisfer otak dan menetap untuk beberapa lama sampai gejala lainnya timbul. nervus optikus dan hpotalamus dapat mengganggu akuitas visus. Mengalami post iktal paralisis 3.Kejang Gejala kejang pada tumor otak khususnya di daerah supratentorial dapat berupa kejang umum. dan hipotalamus. Penyebab umum dari disfungsi serebral ini adalah tekanan intrakranial yang meninggi dan pergeseran otak akibat gumpalan tumor dan edema perifokal di sekitarnya atau hidrosefalus sekunder yang terjadi. Bangkitan kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun 2. temporal. 1. psikomotor ataupun kejang fokal.

gerakan mata diskonjugat. Dalam hal ini dapat diketahui secara terperinci letak lokasi tumor dan pengaruhnya terhadap jaringan sekitarnya. Teknik pencitraan CT scan dan MRI konvensional memberikan informasi tentang lokasi anatomis dan struktur tumor makroskopis. . Beberapa efek samping yang dapat timbul adalah berkaitan dengan penggunaan steroid lama seperti: penurunan kekebalan. dan pemeriksaan penunjang diagnostic yang invasive seperti: angiografi serebral. ekhoensefalografi. bahkan pada kasus-kasus tertentu dapat pula diduga jenisnya dengan akurasi yang hamper tepat.4 H. Peranan nya masih kontroversial dalam terapi TTIK. Pemeriksaan konvensional seperti: foto polos kepala. ventrikal dan rotasional di mana masing-masing mata geraknya saling berlawanan. 1. PENATALAKSANAAN Modalitas penanganan terhadap tumor otak mencakup tindakan-tindakan:1 1. Ataksia trukal adalah pertanda suatu tumor fosa posterior yang terletak di garis tengah. 1. Kelemahan wajah dan hemiparesis yang berkaitan dengan gangguan sensorik serta kadang ada efek visual merupakan refleksi kerusakan yang melibatkan kapsula interna atau korteks yang terkait. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan sken magnet (MRI) dan sken tomografi computer merupakan pemeriksaan terpilih untuk mendeteksi adanya tumor-tumor intrakranial. kadang (jarang sekali) menyebabkan gejalapatognomonik berupa nistagmus ‘gergaji’ (seesaw nystagmus). kecuali pada keadaan-keadaan darurat dengan Kendala fasilitas pemeriksaan mutakhir di atas tidak ada atau sebagai pembantu perencanaan teknik pembedahan otak. Gangguan endokrin menunjukkan adanya kelainan pada hipotalamus-hipofise. pneumoensefalografi sudah jarang diterapkan. Terapi Kortikosteroid Biasanya deksametason diberikan 4 – 20 mg intravena setiap 6 jam untuk mengatasi edema vasogenik (akibat tumor) yang menyebabkan TTIK.4 I. hiperglikemia. supresi adrenal. EEG.

radiografik. retensi cairan. vaskularitas. Ada berbagai jenis insisi kulit yang dilakukan dimana hal ini disesuaikan dengan lokasi tumornya dan perlu dipertimbangkan untuk memelihara salah satu arteri tetap intak untuk pemilihan luka operasi pada kulit. penanganan pembiusan. status neurologis dan performance state dan penyakit komorbid lainnya. Ketika keputusan untuk melakukan pembedahan sudah ditetapkan. hipokalemia. Hal ini termasuk evaluasi studi pencitraan dan penilaian status medis keseluruhan.5 . dan hipertensi. penyembuhan luka yang terlambat. dan diskusi mendetail dengan pasien.1 2. Penggunaan kauuter bipolar sangat bermanfaat untuk mengatasi perdarahan pada jaringan otak maupun duramater. keuntungan dan risiko opsi penanganan. ulserasi lambung. Hidrosefalus yang terkait dengan tumor perlu untuk ditangani. perencanaan yang hati-hati harus dilakukan. miopatia.1 Keputusan untuk mengeluarkan tumor otak harus didasarkan pada evaluasi riwayat klinis dan temuan pada pemeriksaan. alkalosis metabolic. ahli bedah harus waspada terhadap kemungkinan terjadinya herniasi otak pada waktu mulai dilakukan induksi anestesi. Kadangkala diperlukan pemberian steroid maupun mannitol 15-30 menit sebelum tindakan operasi. psikosis. Persiapan prabedah. Khusus pada kasus-kasus dengan gejala peninggian tekanan intracranial. Terapi operatif Tindakan operasi pada tumor otak bertujuan untuk mendapatkan diagnose pasti dan dekompresi internal mengingat bahwa obat-obatan antiedema otak tidak dapat diberikan secara terus-menerus. Prinsip penanganan tumor jinak adalah pengambilan total sementara tumor ganas tujuannya selain dekompresi juga memudahkan untuk pengobatan selanjutnya Hingga mendapatkan outcome yang lebih baik. Pembedahan direkomendasikan berdasarkan factor tumor dan pasien itu sendiri. jumlah. Kranioplasti osteoplastic tampaknya lebih terpilih disbanding free bone flap. termasuk lokasi. ukuran. teknik operasi dan penanganan paska bedah sangat berperan penting dalam menentukan keberhasilan penanganan operatif terhadap tumor otak.

CCNU/lomustin. BCNU/karmustin.1 c. Tujuan dari terapi ini adalah menghancurkan tumor dengan dosis yang masih dapat ditoleransi oleh jaringan yang ditembusnya. Basis biologis terapi radiasi merupakan hal yang cukup rumit. Vincristine). Ada beberapa kemoterapi untuk tumor ganas otak yang saat ini beredar di kalangan medis yaitu:HU (hidroksiurea). PCV (prokarbazin. Terapi konservatif a. DAG (dianhidrogalaktitol) dan sebagainya. neutron. CCNU. Saat ini yang menjadi titik pusat perhatian modalitas terapi ini adalah tumor-tumor otak jenis astrocytoma (grade III dan IV) glioblastoma dan astrocytoma anaplastic beserta variannya. nitrous urea (PCNU. dan jaringan subkutan yang lebih minimal. Kemoterapi Peranan kemterapi tunggal untuk tumor ganas otak masih belum mempunyai nilai keberhasilan yang bermakna sekali. MTX (metrotrexat).3. 5-FU (5-fluorourasil). Keberhasilan terapi radiasi diperankan oleh beberapa factor:1 b. kulit. Immunoterapi Yang mendasari modalitas terapi ini adalah anggapan bahwa tumbuhnya suatu tumor disebabkan oleh adanya gangguan fungsi . Kedua sinar atas (sinar X dan gamma) merupakan bagian dari spectrum elektromagnetik yang mempunyai sifat-sifat fisik yang sama dan dapat menimbulkan efek biologis yang dihantarkan melalui produksi bangkitan ion dan radikal bebas pada target. dan pimeson. Radioterapi Radioterapi untuk tumor-tumor susunan saraf pusat kebanyakan menggunakan sinar x dan sinar gamma disamping juga radiasi lainnya seperti: proton. partikel alfa. Terapi radiasi modern terbatas pada radiasi megavoltase yang mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan dengan kilovoltase seperti penetrasi yang lebih dalam dan absorbs pada tulang.

Visivanil. tumor jinak dioperasi umumnya dapat sembuh. Adapun jenis-jenis obat yang sering digunakan sebagai immunomodulator antara lain adalah: BCG/Levamizole. Sebagian pasien bahkan dapat sembuh. imunologi tubuh sehingga diharapkan dengan melakukan restorasi system imun dapat menekan pertumbuhan tumor. pemberian imunoterapi secara terapi ajuvan/alternative tambahan banyak diterapkan untuk kasus-kasus tumor jenis glioma (dimana system imunnya menurun) yang mempunyai survival yang panjang atau tidak menjalani tindakan terapi lainnya. terapi dini dan pemakaian metode terapi yang rasional merupakan kunci meningkatkan angka kuratif. 3 . Diagnosis dini. tumor ganas melalui operasi dan terapi gabungan dapat memperpanjang survival.1 J. Walaupun peranannya secara bermakna masih belum seluruhnya terbukti. PROGNOSIS Prognosis tumor otak berkaitan erat dengan jenis patologiknya. dan PS/K.