You are on page 1of 5

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Penyakit Ca Mammae


Sub Pokok Bahasan : Penyakit Ca Mammae
Sasaran : Masyarakat.
Pemberi Materi : Siti Sahyanah
Pelaksanaan Kegiatan
Hari/Tanggal : Menyesuaikan
Tempat : Menyusuaikan
Waktu : 13.00 WIB – 13.20 WIB

I. Tujuan Instruksional Umum ( TIU )


Setelah mendapatkan penyuluhan selama 20 menit diharapkan peserta dapat
memahami tentang penyakit Ca Mammae

II. Tujuan Instruksional Khusus ( TIK )


Setelah mendapatkan penyuluhan, peserta diharapkan dapat :
1. Menyebutkan kembali pengertian Ca Mammae
2. Menyebutkan kembali penyebab dari penyakit Ca Mammae
3. Menyebutkan kembali gejala penyakit Ca Mammae
4. Menyebutkan kembali pencegahan dan pengobatan Ca Mammae

III. Metode
Metode yang digunakan adalah Ceramah dan Tanya jawab/Diskusi

IV. Media Penyuluhan


Powerpoint/leaflet

V. Materi Penyuluhan
Terlampir
VI. Proses Belajar:
N Kegiatan Uraian Kegiatan
o Penyuluh Masyarakat
1 Pembukaan a. Mengucapkan salam a. Menjawab salam
(2 Menit) b. Menyampaikan tujuan penyuluhan b. Menyetujui tujuan
penyuluhan
c. Melakukan apresiasi c. Mengikuti apresiasi
2 Penyampaian a. Menanyakan kepada peserta tentang a. Bercerita
Materi pengalamannnya tentang penyakit pengalamannya
Diaper rash atau ruam popok yang tentang Diaper rash
(15 menit)
dideritannya atau ruam popok
b. Memberi reinforcement atas kemauan b.-
masyarakat berbagi pengalaman c. Menyimak penjelasan
c. Memberikan penyuluhan dan yang diberikan dan
berdiskusi bersama masyarakat berdiskusi.
tentang penyakit Diaper rash atau d. Bertanya
ruam popok dan cara penanganannya
d. Memberikan kesempatan pada
masyarakat untuk bertanya tentang
hal yang belum dipahaminya. e. Menyimak
e. Menjawab pertanyaan masyarakat
3 Penutup a. Melakukan evaluasi a. Menjawab pertanyaan
(3 menit) b. Menyimpulkan materi penyuluhan b. Menyimak
dan hasil diskusi kesimpulan
c. Mengucapkan salam c. Menjawab salam

VII. Evaluasi
Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman masyarakat setelah diberikan penyuluhan
selama 20 menit, diberikan pertanyaan :
1. Sebutkan pengertian dari penyakit Diaper rash atau ruam popok
2. Sebutkan penyebab dari penyakit Diaper rash atau ruam popok
3. Menyebutkan kembali gejala penyakit Diaper rash atau ruam popok
4. Menyebutkan kembali cara pencegahan dan pengobatan Diaper rash atau ruam
popok
MATERI

A. Pengertian
Diaper rash adalah adanya keluhan bintik merah pada kelamin dan bokong pada bayi
dengan pampers diakibatkan oleh gesekan- gesekan kulit dengan pampers (Marmi dan
Rahardjo, 2012).
Diaper rash adalah kelainan kulit pada bayi yang terjadi karena pemakaian popok
dan diakibatkan dari kontak secara terus-menerus dengan lingkungan yang tidak baik
(Putra, 2012).
Diaper rash atau ruam popok adalah ruam merah terang disebabkan oleh iritasi dari
kulit terkena urin atau kotoran yang berlangsung lama di bagian mana saja di bawah
popok anak (Muslihatun, 2010).

B. Etiologi
1. Menurut Putra (2012), penyebab diaper rush adalah sebagai berikut :
a. Pemakaian popok yang salah, yaitu tidak segara menggantipopok setelah bayi/
balita buang air besar
b. Menggunakan popok sekali pakai melebihi daya tampung, kulit menjadi lembab
2. Menurut Marmi dan Rahordjo (2012), penyebab diaper rushadalah sebagai berikut :
a. Kebersihan kulit yang tidak terjaga
b. Udara atau suhu lingkungan yang terlalu panas atau lembab akibat diare
c. kontak terhadap karet, plastik, deterjen
d. Kemudian dibersihkan dan tidak boleh menggunakan sabun cuci tangan dan
dibilas sampai bersih dan dikeringkan

C. Tanda dan Gejala


Menurut Dewi (2010), adapun tanda dan gejala dari diaperrush, yaitu :
1. Iritasi pada kulit yang terkena muncul sebagai crytaema
2. Erupsi pada daerah kontak yang menonjol, seperti pantat, alat kemaluan, perut
bawah paha atas
3. Pada keadaan yang lebih parah dapat terjadi papilla eritematosa, vesikula dan
uleerasi
D. Pencegahan
Saat ini, sekitar 50% bayi dan balita yang menggunakan popok sering mengalami
diaper rush. Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya diaper rush pada bayi, antara
lain sebagai berikut :
1. Menggunakan popok sekali pakai sesuai daya tampung.
2. Membersihkan kulit dengan air hangat setelah buang air besar. Mengunakan sabun,
kemudian membilas sampai bersih, lalu keringkan. Mengangin-anginkan sebentar,
kemudian dipakaikan popok yang baru
3. Agar kulit bayi atau balita tidak lembab, setiap hari paling sedikit 2-3 jam bayi atau
balita tidak memakai popok
4. Memilih popok yang sesuai ukurannya dan membuat bahan yang menyerap air (Putra,
2012).
5. Mengganti popok segera setelah anak kencing atau berak. Hal ini mencegah lembab
pada kulit, jadi janganlah memakai popok dengan ketat khususnya sepanjang malam
hari. Gunakan popok dengan longgar sehingga bagian yang basah dan terkena tinja
tidak menggesek kulit lebih luas
6. Jangan menggunakan bedak bayi atau talk karena dapat menyebabkan pori-pori
tertutup oleh bedak. Hindari terjadinya kelembaban agar tidak menimbulkan ruam
popok (Rukiyah dan Yulianti, 2010).

E. Pengobatan
1. Anjurkan pemakaian popok sekali pakai
2. Agar kulit bayi tidak lembab, setiap hari paling sedikit 2-3 jam mengganti popok
3. Membersihkan kulit dengan air hangat setelah buang air besar
4. Keringkan pantat dan ganti popok
5. Oleskan ASI tiga kali sehari didaerah yang terkena diaper rash
6. Biarkan mengering sebelum meletakan popok kembali
DAFTAR PUSTAKA

Marni, Rahardjo. K. 2012. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Prasekolah.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Putra, S.R. 2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Jogjakarta : D-Medika.

Dewi, V.N.L 2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta : Salemba Medika.