You are on page 1of 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks yang dapat
meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara
langsung. Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa
keadaan yang mengancam kehidupan. Dua puluh tahun lalu, seorang dengan luka
bakar 50% dari luas permukaan tubuh dan mengalami komplikasi dari luka dan
pengobatan dapat terjadi gangguan fungsional, hal ini mempunyai harapan hidup
kurang dari 50%. Sekarang, seorang dewasa dengan luas luka bakar 75%
mempunyai harapan hidup 50%. dan bukan merupakan hal yang luar biasa untuk
memulangkan pasien dengan luka bakar 95% yang diselamatkan.
Pengurangan waktu penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini
untuk mencegah komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam perawatan luka
dan tehnik rehabilitasi yang lebih efektif semuanya dapat meningkatkan rata-rata
harapan hidup pada sejumlah klien dengan luka bakar serius.
Beberapa karakteristik luka bakar yang terjadi membutuhkan tindakan
khusus yang berbeda. Karakteristik ini meliputi luasnya, penyebab (etiologi) dan
anatomi luka bakar. Luka bakar yang melibatkan permukaan tubuh yang besar
atau yang meluas ke jaringan yang lebih dalam, memerlukan tindakan yang lebih
intensif daripada luka bakar yang lebih kecil dan superficial. Luka bakar yang
disebabkan oleh cairan yang panas (scald burn) mempunyai perbedaan prognosis
dan komplikasi dari pada luka bakar yang sama yang disebabkan oleh api atau
paparan radiasi ionisasi.
Luka bakar karena bahan kimia memerlukan pengobatan yang berbeda
dibandingkan karena sengatan listrik (elektrik) atau persikan api. Luka bakar yang
mengenai genetalia menyebabkan resiko nifeksi yang lebih besar daripada di
tempat lain dengan ukuran yang sama. Luka bakar pada kaki atau tangan dapat
mempengaruhi kemampuan fungsi kerja klien dan memerlukan tehnik pengobatan
yang berbeda dari lokasi pada tubuh yang lain. Pengetahuan umum perawat
tentang anatomi fisiologi kulit, patofisiologi luka bakar sangat diperlukan untuk

1

mengenal perbedaan dan derajat luka bakar tertentu dan berguna untuk
mengantisipasi harapan hidup serta terjadinya komplikasi multi organ yang
menyertai.
1.2 Rumusan Masalah
a) Apa yang dimaksud dengan combutsio?
b) Bagaimana etiologi dari combutsio?
c) Bagaimana patofisiologi dari combutsio?
d) Bagaimana manifestasi klinik dari combutsio?
e) Bagaimana pemeriksaan penunjang dari combutsio?
f) Bagaimana penatalaksanaan medis dari combutsio?
g) Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari combutsio?
1.3 Tujuan
a) Tujuan Umum
Untuk pemenuhan tugas Keperawatan Medical Bedah II mengenai Luka
Bakar (combutsio) serta Mahasiswa/i dapat mengetahui dan mencegah
terjadinya Combutsio
b) Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Definisi dari combutsio.
2. Untuk mengetahui etiologi dari combutsio .
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari combutsio.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari combutsio.
5. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari combutsio.
6. Untuk mengeatahui penatalaksanaan medis dari combutsio.
7. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan dari combutsio.
1.4 Manfaat
a) Untuk Mahasiswa
Makalah ini bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan tentang
penyakit luka bakar untuk mahasiswa.
b) Untuk Kampus
Makalah ini dapat menjadi tambahan bahan bacaan di perpustakaan.
Dan dapat di gunakan juga sebagai bahan acuan untuk mencari referensi
tentang luka bakar.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Combutsio/Luka Bakar
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik,
bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih
dalam Luka bakar adalah luka yang disebabkan kontak dengan suhu tinggi seperti

2

api, air panas, bahkan kimia dan radiasi, juga sebab kontak dengan suhu rendah
(frosh bite). (Mansjoer 2000 : 365)
Luka bakar (combustio/burn) adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak
langsung atau terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict),
zat kimia (chemycal), atau radiasi (radiation) .
Luka bakar adalah rusak atau hilangnya jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber panas seperti kobaran api ditubuh (flame), jilatan api ketubuh
(flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda panas (kontak panas), akibat
sengatan listrik, akibat bahan-bahan kimia, serta sengatan matahari (sunburn)
2.2 Etiologi Combutsio/Luka Bakar
Luka bakar atau Combutsio banyak disebabkan karena suatu hal,
diantaranya adalah:
a. Luka bakar suhu tinggi (Thermal Burn): gas, cairan, bahan padat
Luka bakar thermal burn biasanya disebabkan oleh air panas (scald),
jilatan api ketubuh (flash), kobaran api di tubuh (flam), dan akibat
terpapar atau kontak dengan objek-objek panas lainnya (logam panas,
dan lain-lain) (Moenadjat, 2005).
b. Luka bakar bahan kimia (Chemical Burn)a
Luka bakar bahan kimia biasanya disebabkan oleh asam kuat atau alkali
yang biasa digunakan dalam bidang industri militer ataupun bahan
pembersih yang sering digunakan untuk keperluan rumah tangga
(Moenadjat, 2005).
c. Luka bakar sengatan listrik (Electrical Burn)
Listrik menyebabkan kerusakan yang disebabkan karena arus, api dan
ledakan. Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki
resistensi paling rendah. Kerusakan terutama pada pembuluh darah,
khususnya tunika intima, sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke
distal. Sering kali kerusakan berada jauh dari lokasi kontak,baik kontak
dengan sumber arus maupun grown (Moenadjat, 2005).
d. Luka bakar radiasi (Radiasi Injury)
Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radioaktif.
Tipe injury ini sering disebabkan oleh penggunaan radio aktif untuk
keperluan terapeutik dalam dunia kedokteran dan industry. Akibat
terpapar sinar matahari yang terlalu lama juga dapat menyebabkan luka
bakar radiasi (Moenadjat, 2005).

3

derajat luka bakar yang berhubungan dengan beberapa faktor penyebab. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia.3 Patofisiologi Combutsio/Luka Bakar Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energy dari sumber panas ke tubuh. Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. maupun jaringan subkutan tergantung pada penyebabnya. masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat dua. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Panas tersebut dapat dipindahkan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan. Kulit dengan luka bakar mengalami keruskan pada epidermis.2. 4 . konduksi jaringan yang terkena dan lamanya kulit kontak dengan sumber panas. dermis. dan pengeluaran cairan ke luka bakar derajat tiga. Menigkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula yang mengandung banyak elektrolit.

pada luka yang lebih luas (misalnya. Namun. dan produksi urin berkurang. beratnya luka bergantung pada dalam. seperti gelisah. (Black & Hawk. Tanggapan sistemik terhadap cedera luka bakar biasanya bifasik. dingin. (Wim De Jong. tanggapan tubuh terhadap cedera terlokalisasi pada area yang terbakar. walaupun demikian. 2004) Untuk luka bakar yang lebih kecil. 2004) Pada awalnya tubuh menanggapi dengan memirau (shunting) darah ke otak dan jantung menjauh dari organ-organ tubuh lainnya. 2009) 1. meliputi 25% atau lebih total area permukaan tubuh [total body surface area-TBSA]). pucat. maksimal terjadi setelah delapan jam. tekanan darah menurun. Kekurangan aliran darah yang berkepanjangan ke organ-organ tersebut bersifat merugikan. tanggapan tubuh terhadap cedera bersifat sistemik dan sebanding dengan luasnya cedera. Kerusakan yang dihasilkan bergantung pada kebutuhan dasar organ tubuh. Ketidakstabilan 5 . dan letak luka. Bila luas bakar kurang dari 20%. ditandai oleh penurunan fungsi (hipofungsi) yang diikuti dengan peningkatan fungsi (hiperfungsi) setiap sistem organ. Setelah resusitasi. luas. Respons Sistemik Perubahan patofisiologi yang disebabkan oleh luka bakar yang berat selama awal periode syok luka bakar mencangkup hipoperfusi jaringan dan hipofungsi organ yang terjadi sekunder akibat penurunan curah jantung dengan diikuti oleh fase hiperdinamik serta hipermetabolik. Kejadian sistemik awal sesudah luka bakar yang berat adalah ketidakstabilan hemodinamika akibat hilangnya integritas kapiler dan kemudian terjadinya perpindahan cairan natrium serta protein dari ruang intravaskuler ke dalam ruang interstisial. Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat memengaruhi prognosis. (Wim De Jong. akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala khas. Beberapa organ dapat bertahan hanya untuk beberapa jam tanpa pasokan darah yang menyediakan sumber gizi. Pembengkakan terjadi pelan-pelan. 2009) Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar. tetapi bila lebih dari 20%. nadi kecil dan cepat. tubuh mulai menyerap kembali cairan edema dan membuangnya lewat pembentukan urine (diuresis). biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya. berkeringat. (Black & Hawk.

Hiperventilasi ini adalah hasil peningkatan baik laju respirasi dan volume tidal dan muncul sebagai hasil hipermetabolisme yang terlihat setelah cedera luka bakar. maka curah jantung akan terus menurun dan terjadi penurunan tekanan darah. Umumnya jumlah kebocoran cairan yang terbesar terjadi dalam 24-36 jam pertama sesudah luka bakar dan mencapai puncaknya dalam tempo 6 hingga 8 jam. terutama bila klien ketakutan. Pada luka bakar yang kurang dari 30% luas total permukaan tubuh. Respons Pulmonal Volume pernapasan sering kali normal atau hanya menurun sedikit setelah cedera luka bakar yang luas. Resusitasi cairan yang segera dilakukan memungkinkan dipertahankannya tekanan darah dalam kisaran normal yang rendah sehingga curah jantung membaik. Setelah resusitasi cairan. Selanjutnya vasokontriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah jantung. atau merasa nyeri. Biasanya hal tersebut memuncak pada minggu kedua pasca cedera dan kemudian secara bertahap kembali ke 6 . Karena berkelanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume vaskuler. mekanisme pulmoner dan mekanisme lainnya. system saraf simpatik akan melepaskan katekolamin yang meningkatkan resistensi perifer dan frekuensi denyut nadi. Respons Kardiovaskuler Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah terlihat dengan jelas. hemodinamika bukan hanya melibatkan mekanisme kardiovaskuler tetapi juga keseimbangan cairan serta elektrolit. karena edema akan bertambah berat pada luka bakar yang melingkar (sirkumferensial). maka gangguan integritas kapiler dan perpindahan cairan akan terbatas pada luka bakar itu sendiri sehingga pembentukkan lepuh dan edema hanya terjadi di daerah luka bakar. 3. Sebagai respon. 2. peningkatan volume pernapasan dimanifestasikan sebagai hiperventilasi dapat terjadi. tekanan terhadap pembuluh darah kecil dan saraf pada ekstermitas distal menyebabkan obstruksi aliran darah sehingga terjadi iskemia. volume darah. Pasien luka bakar yang lebih parah akan mengalami edema sistemik yang masif. cemas.

Kulit yang utuh dalam keadaan normal menjaga agar bakteri tidak memasuki tubuh dan agar cairan tubuh tidak merembes keluar. asfiksian yang paling sering ditemui. Depresi pada curah jantung yang signifikan dan serta-merta terjadi. 6. Ia adalah gas yang tidak berwarna. 4. Penurunan curah jantung ini sering berlanjut dalam beberapa hari bahkan setelah volume plasma telah kembali dan keluaran urine kembali normal. Hal yang terpenting. kelenjar keringat. dihasilkan ketika zat organik (misalnya: kayu atau batu bara) terbakar. dan CO berikatan dengan hemoglobin untuk membentuk karboksihemoglobin (COHb). Depresi Miokardium Beberapa investigator penelitian telah mengemukakan bahwa factor depresi miokardium terjadi pada cedera yang lebih luas dan bersirkulasi pada periode pascacedera dini. Kulit. bahkan sebelum volume plasma yang beredar berkurang. dan folikel rambut yang cedera akibat terbakar kehilangan fungsi normalnya. molekul oksigen tergeser. ujung saraf. dan tidak berasa yang memiliki afinitas terhadap hemoglobin tubuh 200 kali lebih kuat dibandingkan dengan oksigen. mengendalikan penguapan. dan menjaga kehangatan tubuh. Karbon monoksida (CO). kombinasi mediator inflamasi dan hormone disebutkan sebagai penyebab depresi miokardium yang terjadi setelah cedera. Berubahnya Integritas Kulit Luka bakar itu sendiri menampilkan perubahan patofisiologi yang disebabkan akibat gangguan kulit dan perubahan jaringan di bawah permukaannya. normal seiring menyembuhnya luka bakar atau ditutupnya luka dengan tandur kulit. Dengan menghirup gas CO. 5. Cedera Inhalasi Paparan terhadap gas merupakan penyebab paling sering mortalitas dini akibat cedera inhalasi. menunjukkan respons neurogenic terhadap beberapa zat yang beredar. Hipoksia jaringan terjadi akibat penurunan kemampuan pengantaran oksigen oleh darah secara keseluruhan. Baru-baru ini. tidak berbau. fungsi barrier kulit hilang. Dengan rusaknya kulit mekanisme untuk menjaga 7 .

latar belakang budaya dan etnik. Istilah deskriptif yang sesuai adalah luka bakar derajat-satu. Penurunan aktivitas limfosit. Memerah. suhu normal tubuh dapat terganggu. dan risiko infeksi akibat invasi bakteri meningkat. Respons Psikologis Berbagai respons psikologis dan emosional terhadap cedera luka bakar telah dikenali. dan kemampuan koping pracedera. perubahan-perubahan ini menghasilkan peningkatan risiko infeksi dan sepsis yang mengancam nyawa. menjadi Kesembuhan (superfisial): hiperestesia putih ketika ditekan lengkap dalam tersengat (supersensivitas). Respons korban dipengaruhi usia. deep partial thickness dan full thickness. -dua. dan penurunan pembentukan immunoglobulin. pemisahan dari keluarga dan teman-teman selama perawatan di rumah sakit dan perubahan pada peran normal dan tanggung jawab klien memengaruhi reaksi terhadap trauma luka bakar. terkena api jika didinginkan terjadi dengan pengelupasan intensitas kulit 8 . sebagai tambahan. Sebagai tambahan. rasa nyeri mereda edema minggu. berkisar mulai dari ketakutan hingga psikosis. Kedalaman dan Bagian Gejala Penampilan luka Perjalanan penyebab luka kulit yang kesembuhan bakar terkena Derajat satu Epidermis Kesemutan. Imunosupresi Fungsi sistem imun tertekan setelah cedera luka bakar. dampak pada citra tubuh. 7. cedera luka bakar mengganggu barrier primer terhadap infeksi-kulit.4 Manifestasi Klinik Combutsio/ Luka Bakar Luka bakar dapat diklasifikasikan menurut dalamnya jaringan yang rusak dan disebut sebagai luka bakar superfisial partial thickness. serta perubahan fungsi neutrofil dan makrofag terjadi secara nyata setelah cedera luka bakar luas terjadi. minimal atau tanpa waktu satu matahari. -tiga. 2. 8. luas dan lokasi cedera. serta kehilangan air akibat penguapan meningkat. kepribadian. Secara bersama.

Zona statis : area pertengahan. Zona koagulasi : area yang paling dalam. dan hiperestesia. dasar luka Kesembuhan (partial. berbintik-bintik dalam waktu thickness): bagian sensitif terhadap merah. listrik kemungkinan hilangnya jari terdapat luka tangan atau masuk dan keluar ekstrenitas (pada luka bakar dapat terjadi listrik)  Setiap area luka bakar mempunyai tiga zona cedera. tersiram air dermis udara yang dingin retak. terdapat parut dan terbakar oleh edema depigmentasi. Zona hiperemia : area yang terluar. nyeri. syok.Inflasi. luka basah. 3. yaitu : 1.rendah Derajat-dua Epidermis Nyeri. luka bakar Pembentukan (full. thickness): keseluruh hematuria seperti bahan kulit diperlukan terbakar nyala an dermis (adanya darah atau gosong. parut dan dalam waktu kadang pula hemolisis terdapat edema hilangnya yang lama. dimana terjadi kematian seluler. 2. tempat terjadinya gangguan suplai darah. permukaan pembentukan mendidih. epidermis 2-3 minggu. fungsi kulit. . dan cedera jaringan. pembentukan cairan mendidih kadang. berwarna putih eskar. jaringan (destruksi sel kontur serta tersengat arus subkutan darah merah). kemungkinan lemak yang tampak. biasanya berhubungan dengan luka bakar 9 . terkena dan dalam urin) dan retak dengan bagian . kulit pencangkokan api. Melepuh. nyala api infeksi dapat mengubahnya menjadi derajat-tiga Derajat-tiga Epidermis Tidak terasa Kering.

Riwayat terjadinya luka bakar 2. Dalam menetukan dalamnya luka bakar kita harus memperhatikan faktor-faktor berikut : 1. Penyebab luka bakar 3. Suhu agen yang menyebabkan luka bakar 4. Lamanya kontak dengan agen 5. derajat 1 dan seharusnya sembuh dalam seminggu. Tebalnya kulit Gambar luka bakar derajat I (superfisial) Gambar luka bakar derajat II (partial-thickness) 10 .

Rumus Sembilan (Rule of Nines) Estimasi luas permukaan tubuh yang terbakar disederhanakan dengan menggunakan Rumus Sembilan. 11 . Sistem tersebut menggunakan persentase dalam kelipatan sembilan terhadap permukaan tubuh yang luas. Gambar luka bakar derajat III (full-thickness) gambar klasifikasi luka bakar  Luas Luka Bakar Berbagai metode dalam menentukan luas luka bakar : a. Rumus Sembilan merupakan cara yang cepat untuk menghitung luas daerah yang terbakar.

akan berubah menurut pertumbuhan. Dengan membagi tubuh menjadi daerah-daerah yang sangat kecil dan memberikan estimasi proporsi luas permukaan tubuh untuk bagian- bagian tubuh tersebut. 12 . kita bisa memperoleh estimasi tentang luas permukaan tubuh yang terbakar. khususnya kepala dan tungkai. Metode Lund and Browder Metode yang lebih tepat untuk memperkirakan luas permukaan tubuh yang terbakar adalah metode Lund dan Browder yang mengakui bahwa persentase luas luka bakar pada berbagai bagian anatomik. Evaluasi pendahuluan dibuat ketika pasien tiba di rumah sakit dan kemudian direvisi pada hari kedua serta ketiga paska luka bakar karena garis demarkasi biasanya baru tampak jelas sesudah periode tersebut. gambar rumus sembilan (rule of nines) pada anak-anak b.

Hitung darah lengkap: Hb (Hemoglobin) turun menunjukkan adanya pengeluaran darah yang banyak sedangkan peningkatan lebih dari 15% mengindikasikan adanya cedera. Metode Lund and Browder c. GDA (Gas Darah Arteri): Untuk mengetahui adanya kecurigaaan cedera inhalasi. 2. Penurunan tekanan oksigen (PaO2) atau peningkatan 13 . metode yang dipakai untuk memperkirakan persentase luka bakar adalah metode telapak tangan (palm method). Lebar telapak tangan dapat digunakan untuk menilai luas luka bakar. pada Ht (Hematokrit) yang meningkat menunjukkan adanya kehilangan cairan sedangkan Ht turun dapat terjadi sehubungan dengan kerusakan yang diakibatkan oleh panas terhadap pembuluh darah. 2. Lebar telapak tangan pasien kurang lebih sebesar 1% luas permukaan tubuhnya.5 Pemeriksaan Penunjang 1. Metode Telapak Tangan Pada banyak pasien dengan luka bakar yang menyebar. Leukosit: Leukositosis dapat terjadi sehubungan dengan adanya infeksi atau inflamasi. 3.

natrium. 6. 2. 11. segera gunakan air atau bahan kain basah untuk memadamkan apinya. 5.6 Penatalaksanaan Combutsio/Luka Bakar a. BUN atau Kreatinin: Peninggian menunjukkan penurunan perfusi atau fungsi ginjal. 7. hipertermi dapat terjadi saat konservasi ginjal dan hipokalemi dapat terjadi bila mulai diuresis. dan gulingkan (roll) orang itu agar api segera padam. Fotografi luka bakar: Memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar. 4. tekanan karbon dioksida (PaCO2) mungkin terlihat pada retensi karbon monoksida. segera basuh dan jauhkan bahan kimia atau benda dingin. Bila memiliki karung basah. natrium pada awal mungkin menurun karena kehilangan cairan. kurang dari 10 mEqAL menduga ketidakadekuatan cairan. 9. Orang dengan luka bakar biasanya 14 . jatuhkan (drop). Matikan sumber listrik dan bawa orang yang mengalami luka bakar dengan menggunakan selimut basah pada daerah luka bakar. Albumin Serum: Untuk mengetahui adanya kehilangan protein pada edema cairan. Jangan membawa orang dengan luka bakar dalam keadaan terbuka karena dapat menyebabkan evaporasi cairan tubuh yang terekspose udara luar dan menyebabkan dehidrasi. Oleh karena itu. Elektrolit Serum: Kalium dapat meningkat pada awal sehubungan dengan cedera jaringan dan penurunan fungsi ginjal. Hal ini akan sebaliknya akan memperbesar kobaran api karena tertiup oleh angin. Pre Hospital Seorang yang sedang terbakar akan merasa panik. Alkali Fosfat: Peningkatan Alkali Fosfat sehubungan dengan perpindahan cairan interstisial atau gangguan pompa. dan akan belari untuk mencari air. EKG: Untuk mengetahui adanya tanda iskemia miokardial atau distritmia. segeralah hentikan (stop). tetapi kreatinin dapat meningkat karena cedera jaringan. 10. Sedang untuk kasus luka bakar karena bahan kimia atau benda dingin. Natrium Urin: Lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan cairan. 8. Glukosa Serum: Peninggian Glukosa Serum menunjukkan respon stress.

Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai kultur. 15 . Monitor urine dan CVP. Analgetik : kuat (morfin. CVP. kultur luka. pada luka bakar yang luas dapat terjadi syok hipovolumik karena kebocoran plasma yang luas. Hal ini dilakukan untuk sirkulasi bagian distal akibat pengerutan dan penjepitan dari eskar.luka bakar menimbulkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan edema. maka segera pasang Endotracheal Tube (ET).eschar yang melingkari dada dapat menghambat gerakan dada untuk bernapas. B. Airway . Resusitasi A. Hospital 1. hematothorax. Topikal dan tutup luka 5. 3.9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik 6. Penatalaksanaan Pembedahan 8. Breathing . b. dan fraktur costae c. ada 2 cara yang lazim dapat diberikan yaitu dengan Formula Baxter dan Evans 2. oksigen. diberikan obat-obatan penahan rasa sakit jenis analgetik : Antalgin. C. breathing dan circulation-nya terlebih dahulu. Tanda- tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah: riwayat terkurung dalam api. asam mefenamat samapai penggunaan morfin oleh tenaga medis b. 4. segera lakukan escharotomi. c. Antasida : kalau perlu 7. petidine) d. Cuci luka dengan savlon : NaCl 0. Eskaratomi dilakukan juga pada luka bakar derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh. bulu hidung yang terbakar. Antibiotika : tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian. Manajemen cairan pada pasien luka bakar. misalnya pneumothorax. Laboratorium. Setiap pasien luka bakar harus dianggap sebagai pasien trauma. Periksa juga apakah ada trauma-trauma lain yang dapat menghambat gerakan pernapasan. dan sputum yang hitam.apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi. aspirin. karenanya harus dicek Airway. Circulation . luka bakar pada wajah. kateter. b. Obat – obatan a. a. Infus.

 Fase Resusitatif Fase resusitatif cedera luka bakar terdiri atas waktu antara cedera awal sampai 36 hingga 48 jam setelah cedera. Fase ini berakhir ketika resusitasi cairan selesai. dan fase rehabilitasi.  Fase Rehabilitasi 16 .  Fase Akut Fase pemulihan akut setelah luka bakar mayor dimulai ketika hemodinamik klien sudah stabil. kemudian perawatannya dilakukan melalui tiga fase luka bakar. masalah saluran napas dan pernapasan yang mengancam nyawa adalah perhatian utama. cairan tersebut tidak mungkin berperan dalam menjaga sirkulasi yang memadai. Tanda dini penjepitan berupa nyeri. Selama fase ini. Tindakan yang dilakukan yaitu membuat irisan memanjang yang membuka eskar sampai penjepitan bebas. Debirdemen diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi tangensial. dan diuresis sudah mulai muncul. menyebabkan edema. kemudian kehilangan daya rasa menjadi kebal pada ujung-ujung distal. Fase akut berlanjut hingga penutupan luka tercapai. fase akut pada dasarnya dimulai pada waktu cedera. a. fase akut atau intermediet. yaitu: fase darurat/resusitasi. Fase ini juga ditandai dengan terjadinya hypovolemia. Perawatan Luka Bakar Perawatan luka bakar harus direncanakan menurut luas dan dalamnya luka bakar. Waktu tersebut dimulai kira-kira pada 48 hingga 72 jam setelah waktu cedera. integritas kapiler sudah kembali. Untuk klien baik dengan luka bakar moderat atau minor. karena tidak berada di ruang vaskuler lagi. yang menyebabkan kebocoran cairan kapiler dari ruang intravaskuler ke ruang interstisial. Walaupun cairan tetap berada dalam tubuh.

meningkatkan fungsi dan kekuatan fisik. dan penanganan rehabilitasi harus dimulai sejak hari saat cedera terjadi. program rehabilitasi luka bakar dirancang untuk pemulihan fungsional dan emosional maksimal. Pada akhirnya. mencegah dan meminimalkan deformitas dan parut hipertrofik. Fase Durasi Prioritas Fase resusitasi yang Dari awitan  cedera Pertolongan pertama darurat atau segera hingga  selesainya Pencegahan syok resusitasi cairan  Pencegahan gangguan pernapasan  Deteksi dan penanganan cedera yang menyertai  Penilaian luka dan perawatan pendahuluan Fase akut  Dari dimulainya diuresis Perawatan dan penutupan hingga hampir luka selesainya  proses Pencegahan atau penutupan luka penanganan komplikasi. pemberi perawatan harus mengerti konsekuensi cedera luka bakar. serta memberikan pengajaran adalah bagian dari fase rehabilitasi yang berlangsung. tingkat penyesuaian fisik oksupasional dan dan psikososial yang vokasional optimal  Rekonstruksi fungsional 17 . Fase rehabilitasi dalam pemulihan mewakili fase terakhir dalam pemulihan luka bakar dan mencakup waktu sejak penutupan luka sampai pemulangan dan setelahnya. termasuk infeksi  Dukungan nutrisi Fase rehabilitasi Dari penutupan  luka Pencegahan parut dan yang besar hingga kontraktur kembalinya  kepada Rehabilitasi fisik. meningkatkan dukungan emosional. Dalam rangka mencapai hasil terbaik. Cara-cara untuk meningkatkan penyembuhan luka.

gangguan massa otot. menangis. paralisis (cedera listrik pada aliran saraf). Integritas ego: Gejala : masalah tentang keluarga. Makanan/cairan: Tanda: oedema jaringan umum. penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera. menyangkal. e. penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas. laserasi korneal. menarik diri. c. Sirkulasi: Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok). anoreksia. perilaku. penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik). Pengkajian a. mual/muntah. perubahan tonus. g. Neurosensori: Gejala: area batas. pekerjaan. aktifitas kejang (syok listrik). vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi.7 Konsep Asuhan Keperawatan Combutsio/ Luka Bakar 1. Aktifitas/istirahat: Tanda: Penurunan kekuatan. ketergantungan. ruptur membran timpanik (syok listrik). takikardia (syok/ansietas/nyeri). keuangan. kecacatan. kulit putih dan dingin (syok listrik). f. khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik. penurunan bising usus/tak ada. warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin. Eliminasi: Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat. keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit. kesemutan. tahanan. Nyeri/kenyamanan: 18 . b. afek. mengindikasikan kerusakan otot dalam. dan kosmetik  Konseling psikososial 2. Tanda: perubahan orientasi. Tanda : ansietas. d. pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar). disritmia (syok listrik). kerusakan retinal. diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi). marah.

gerakan udara dan perubahan suhu. terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi). nekrosis. ulkus. sekret jalan nafas dalam (ronkhi).oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal. contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk disentuh. oedema laringeal). Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab. bunyi nafas: gemericik (oedema paru). lepuh pada faring posterior. Bulu hidung gosong. ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis. jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme. mukosa hidung dan mulut kering. lepuh. luka bakar derajat tiga tidak nyeri. stridor (oedema laringeal). pucat. Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada. indikasi cedera inhalasi. Keamanan: Tanda: Kulit umum: destruksi jarinagn dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka. merah. i. Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab. Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis. atau jarinagn parut tebal. Gejala: Berbagai nyeri. batuk mengii. Tanda: serak. partikel karbon dalam sputum. Cedera secara mum ebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera. Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar. luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan 19 . smentara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf. Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seprti kulit samak halus. luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri. h. dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok. Pernafasan: Gejala: terkurung dalam ruang tertutup. ditekan. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif).

khususnya pada cedera inhalasi asap. 4. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan sebagai berikut : 1. cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher. ketidak cukupan pemasukan. Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. penekanan respons inflamasi. Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas. Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif dan perfusi jaringan berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial. j. Luka bakar daerah leher.edema mukosa dan hilangnya kerja silia. kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada. kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok listrik). 2. Adanya fraktur/dislokasi (jatuh. perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan statushipermetabolik 'sebanyak 50 % $ 20% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat( atau katabolisme protein) 20 . Pemeriksaan diagnostik: LED: mengkaji hemokonsentrasi. kecelakaan sepeda motor. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui rute abnormal. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap. kehilangan perdarahan. penurunan Hb. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung. 2. Pertahanan sekunder tidak adekuat. jaringan traumatik. 3. BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal. Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal. peningkatan kebutuhan status hypermetabolik. Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka bakar masif. pakaian terbakar. kerusakan perlinduingan kulit. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat.

otot bantu. 3. oedema batas perhatikan adanya perubahan sputum mukosa. sianosis dan hial. perhatikan pengaliran air tidak efektif Kriteria liur. serak. 8. normal. 5. 6. dispnoe/cya karbon atau merah muda. nafas/distres pernafasan 21 . Rencana Intervensi Rencana Keperawatan Diagnosa Tujuan dan Keperawata Kriteria Intervensi Rasional n Hasil Resiko Bersihan Kaji refleks Dugaan cedera inhalasi bersihan jalan nafas gangguan/menelan. 7. irama. ketidakmampuan berhubungan Hasil : menelan. Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi. Obstruksi jalan perhatikan stridor. pucat/sianosis dan menunjukkan terjadi kompressi bebas sputum mengandung gangguan pernafasan/ jalan nafas . Kurang pengetahuan tentang kondisi. penggunaan trakheobronk RR dalam kedalaman pernafasan . kejadian traumatik peran klien tergantung. Takipnea. Awasi frekuensi. Auskultasi paru. kebutuhan intervensi medik. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan Salah interpretasi informasi Tidak mengenal sumber informasi. jalan nafas tetap efektif. obstruksi vesikuler. penurunan kekuatan dan tahanan. kecacatan dan nyeri. batuk dengan Bunyi nafas mengi. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam). Gangguan Mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler. nyeri/tak nyaman. edema paru dan nosis.

memobilisasi dan perubahan posisi sering. Perhatikan adanya pucat Dugaan adanya atau warna buah ceri hipoksemia atau karbon merah pada kulit yang monoksida. tetapi harus dilakukan kewaspadaan karena edema mukosa dan inflamasi. Tingkatkan istirahat Peningkatan suara tetapi kaji sekret/penurunan kemampuan untuk bicara kemampuan untuk dan/atau menelan sekret menelan menunjukkan 22 . Dorong batuk/latihan Meningkatkan ekspansi nafas dalam dan paru. Tinggikan kepala tempat Meningkatkan ekspansi tidur. dapat terjadi sangat penurunan bunyi nafas. menyebabkan nekrosis pada kartilago telinga yang terbakar dan meningkatkan konstriktur leher. Bila kepala/ bawah kepala. Hindari paru optimal/fungsi penggunaan bantal di pernafasan. sampai 48 jam setelah terbakar. sesuai leher terbakar. cidera. bantal indikasi dapat menghambat pernafasan. cepat atau lambat contoh batuk rejan. mengi/gemericik. drainase sekret. Membantu mempertahankan jalan nafas bersih.

O2 memperbaiki hipoksemia/asidosis. Meskipun sering berhubungan dengan Awasi 24 jam nyeri. Pelembaban menurunkan Kaji ulang seri rontgen pengeringan saluran pernafasan dan menurunkan viskositas Berikan/bantu fisioterapi sputum. Berikan pelembab O2 Catatan : Cedera melalui cara yang tepat. agitasi. dada/spirometri intensif. peningkatan edema trakeal dan dapat Selidiki perubahan mengindikasikan perilaku/mental contoh kebutuhan untuk gelisah. mental. kesadaran dapat perhatikan menunjukkan variasi/perubahan. Data dasar penting untuk pengkajian lanjut status pernafasan dan 23 . kacau intubasi. Perpindahan cairan atau kelebihan penggantian Lakukan program cairan meningkatkan kolaborasi meliputi : risiko edema paru. perubahan keseimbngan cairan. terjadinya/memburukny a hipoksia. oral secara periodik. inhalasi meningkatkan contoh masker wajah kebutuhan cairan Awasi/gambaran seri sebanyak 35% atau lebih GDA karena edema.

PaO2 atau trakeostomi sesuai kurang dari 50. penyimpangan dari hasil gas oksigenasi yang diharapkan. Intubasi/dukungan mekanikal dibutuhkan bila jalan nafas edema atau luka bakar mempengaruhi fungsi paru/oksegenasi. PaCO2lebih besar dari 50 dan penurunan pH menunjukkan inhalasi asap dan terjadinya pneumonia/SDPD. Perubahan menunjukkan atelektasis/edema paru tak dapat terjadi selama 2 – 3 hari setelah terbakar Fisioterapi dada mengalirkan area dependen paru. indikasi. sehingga meningkatkan fungsi pernafasan dan menurunkan atelektasis. sementara spirometri intensif dilakukan untuk memperbaiki ekspansi paru. 24 . Resiko Pasien dapat Pantau laporan GDA dan Mengidentifikasi kerusakan mendemonst kadar karbon monoksida kemajuan dan pertukaran rasikan serum. pedoman untuk Siapkan/bantu intubasi pengobatan.

Ventilasi sirkumfisial bersih. n torakal GDA dalam temaptkan pasien pada Suplemen oksigen sekunder renatng ventilator mekanis sesuai meningkatkan jumlah terhadap luka normal. ada.berhubungan adekuat. disertai dengan takipnea. pesanan bila terjadi oksigen yang tersedia bakar bunyi nafas insufisiensi pernafasan untuk jaringan. Pasang pertukaran gas pada atau sindrom warna kulit atau bantu dengan selang membran kapiler komparteme normal. ekspansi adda. menurunkan fowler. Siapkan pasien untuk Luka bakar sekitar pembedahan eskarotomi torakal dapat membatasi sesuai pesanan. hiperkapnia. dalam dengan penggunaan spirometri insentif setiap 2 jam Pernafasan dalam selama tirah baring. bila hipotensi tak resiko atelektasis. kesulitan rales. takipnea dan dukungan sampai pasie bernafas. Memudahkan ventilasi Untuk luka bakar sekitar dengan menurunkan torakal. beritahu dokter tekanan abdomen bila terjadi dispnea terhadap diafragma. perubahan sensorium). tak (dibuktikan dnegna mekanik diperlukan dari dada ada hipoksia. endotrakeal dan alveoli. untuk pernafasan atau leher. dapat dilakukan secara Anjurkan pernafasan mandiri. Inhalasi asap dapat dengan Kriteroia Beriakan suplemen merusak alveoli. Mengupas kulit (eskarotomi) 25 . cedera evaluasi: RR oksigen pada tingkat mempengaruhi inhalasi asap 12-24 x/mnt. yang ditentukan. mengembangkan Pertahankan posisi semi alveoli.

n jaringan setiap 8 jam. dikonsumsi setiap kali jaringan makan. Kulit yang luka sebelum pemberian gundul menjadi media krim baru. sisi indikasi-indikasi dengan evaluasi: tak donor dan status balutan kemajuan atau Pertahanan ada demam. kerusakan granulasi Suhu setiap 4 jam. perlinduinga baik. Berikan penurunan mandi kolam sesuai Hb. Gunakan yang baik untuk kultur sarung tangan steril dan pertumbuhan baketri. sesuai pesanan. Bersihkan area luka Pembersihan dan Pertahanan bakar setiap hari dan pelepasan jaringan sekunder lepaskan jarinagn nekrotik meningkatkan tidak nekrotik (debridemen) pembentukan granulasi. penekanan implementasikan respons perawatan yang Antimikroba topikal inflamasi ditentukan untuk sisi membantu mencegah donor. adekuat. Jumlah makanan yang n kulit. yang dapat ditutup infeksi. di atas sisi tandur bial penyimapngan dari hasil primer tidak pembentuka tandur kulit dilakukan) yang diharapkan. pesanan. Mengikuti dengan balutan vaseline prinsip aseptik atau op site. Penampilan luka bakar Mengidentifikasi berhubungan Kriteria (area luka bakar. adekuat. beriakn krim antibiotika topikal yang diresepkan Temuan-temuan ini pada area luka bakar mennadakan infeksi. Resiko tinggi Pasien bebas Pantau: infeksi dari infeksi. melindungi pasien dari Lepaskan krim lama dari infeksi. memungkinkan ekspansi dada. 26 . traumatik.

Teknik steril dan yang mengenai area luas tindakan perawatan tubuh. Gunakan skort Kurangnya berbagai steril. sisi donor Karena balutan siis atau balutan sisi tandur. patogen penyebab Beritahu dokter bila sehingga terapi demam drainase purulen antibiotika yang tepat atau bau busuk dari area dapat diresepkan. kultur untuk pertumbuhan bakteri. pada kebosanan. pasien. berikan Ahli diet adalah 27 . kebosanan. Tempatkan pasien pada Kulit adalah lapisan ruangan khusus dan pertama tubuh untuk lakukan kewaspadaan pertahanan terhadap untuk luka bakar luas infeksi. dengan ujung jari. Kultur membantu Berikan krim secara mengidentifikasi menyeluruh di atas luka. Gunakan linen perlindungan tempat tidur steril. lainmelindungi pasien handuk dan skort untuk terhadap infeksi. sarung tangan dan rangsang ekstrenal dan penutup kepala dengan kebebasan bergerak masker bila memberikan mencetuskan pasien perawatan pada pasien. Tempatkan radio atau televisis pada ruangan pasien untuk Melindungi terhadap menghilangkan tetanus. Bila riwayat imunisasi tak adekuat. tandur hanya diganti Dapatkan kultur luka dan setiap 5-10 hari. sisi ini berikan antibiotika IV memberiakn media sesuai ketentuan. luka bakar.

luka. Nutrisi sustacal dengan atau adekuat memabntu antara makan bila penyembuhan luka dan masukan makanan memenuhi kebutuhan kurang dari 50%. menyebabkan postur tubuh Berikan ayunan di atas hipoetrmia. evaluasi: bakar luas. anan. paling baik status nutrisi Mulai rujukan pada ahli pasien dan diet. Anjurkan NPT atau makanan enteral bial pasien tak dapat makan per oral. melalui jaringan luka wajah dan bakar. selimut ekstra untuk Panas dan air hilang ekspresi memberikan kehangatan. nyaman. keefektifannya. Anjurkan pada pasien dengan luka pembentukan Kriteria analgesik IV bila luka bakar luas yang edema. untuk emmenuhi Berikan suplemen nutrisi kebuuthan nutrisi seperti ensure atau penderita. energi. Tindakan rileks. globulin imun tetanus spesialis nutrisi yang manusia (hyper-tet) dapat mengevaluasi sesuai pesanan. diet tinggi kalori. Evaluasi Absorpsi obat IM buruk . Nyeri Pasien dapat Berikan anlgesik narkotik Analgesik narkotik berhubungan mendemonst yang diresepkan prn dan diperlukan utnuk dengan rasikan sedikitnya 30 menit memblok jaras nyeri Kerusakan hilang dari sebelum prosedur dengan nyeri berat. beriakn protein merencanakan diet tinggi. Pertahankan pintu kamar berkenaan dnegan cidera contoh melaporkan tertutup. tingkatkan suhu peningkatan debridemen perasaan ruangan dan berikan permeabilitas kapiler. temapt tidur bila eksternal ini membantu 28 . kulit/jaringan ketidaknyam perawatan luka. disebabkan oleh Manipulasi menyangkal perpindahan interstitial jaringan nyeri.

Kerusakan Memumjukk Kaji/catat ukuran. diperlukan. pada tonjolan tulang dependen. Menururnkan neyri Bantu dengan dengan pengubahan posisi setiap mempertahankan berat 2 jam bila diperlukan. badan jauh dari linen Dapatkan bantuan temapat tidur terhadap tambahan sesuai luka dan menuurnkan kebutuhan. Dukungan adekuat pada luka bakar selama gerakan membantu meinimalkan ketidaknyamanan. khususnya pemajanan ujung saraf bila pasien tak dapat pada aliran udara. n tepat tindakan kontrol infeksi. bakar. Memberikan informasi integritas an kedalaman luka. membantu membalikkan Menghilangkan tekanan badan sendiri. tentang sirkulasi pada kulit hasil: aera graft. dasar tentang kebutuhan kulit b/d regenerasi perhatikan jaringan penanaman kulit dan kerusakan jaringan nekrotik dan kondisi kemungkinan petunjuk permukaan Kriteria sekitar luka. untuk penanaman dan waktu pada menurunkan resiko area luka Pertahankan penutupan infeksi/kegagalan kulit. sekunder Mencapai Lakukan perawatan luka destruksi penyembuha bakar yang tepat dan Menyiapkan jaringan lapisan kulit. luka sesuai indikasi. Kain nilon/membran silikon mengandung kolagen porcine peptida Tinggikan area graft bila yang melekat pada 29 . warna. menghemat kehilangan panas.

Lakukan program kolaborasi : Kulit graft baru dan sisi . Graft kulit diambil dari kulit orang itu sendiri/orang lain untuk penutupan sementara pada luka bakar luas sampai kulit orang itu 30 . pandang tak reaktif. cuci. khusus untuk mempertahankan kelenturan. indikasi. Siapkan / bantu donor yang sembuh prosedur bedah/balutan memerlukan perawatan biologis. mungkin/tepat. beberapa penyembuhan optimal. repitelisasi. permukaan luka sampai Pertahankan posisi yang lepasnya atau diinginkan dan mengelupas secara imobilisasi area bila spontan kulit diindikasikan. Gerakan jaringan dibawah graft dapat Cuci sisi dengan sabun mengubah posisi yang ringan. Area mungkin ditutupi setelah balutan dilepas oleh bahan dengan dan penyembuhan permukaan tembus selesai. dan minyaki mempengaruhi dengan krim. Menurunkan Pertahankan balutan pembengkakan diatas area graft baru /membatasi resiko dan/atau sisi donor sesuai pemisahan graft. waktu dalam sehari.

siap ditanam. 31 .

BAB III PENUTUP 3. Dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. psikis dan sosial bagi pasien dan juga keluarga. Penderita luka bakar memerlukan penanganan secara holistik dari berbagai aspek dan disiplin ilmu. Dampak luka bakar yang dialami penderita dapat menimbulkan berbagai masalah fisik. meskipun terdapat luka kecil penanganan harus cepat diusahakan. Setiap individu baik tua. 32 . tidak boleh dilakukan sembarangan karena bisa mempengaruhi waktu kesembuhan luka bakar. maupun anak-anak diharapkan selalu waspada dan berhati-hati setiap kali melakukan kegiatan/aktivitas terutama pada hal-hal yang dapat memicu luka bakar. maka makin berkembang pula teknik/cara penanganan luka bakar sehingga makin meningkatkan kesempatan untuk sembuh bagi penderita luka bakar. Pada luka bakar yang luas dan dalam akan memerlukan perawatan yang lama dan mahal.1 Kesimpulan Luka bakar tak boleh dianggap sepele.2 Saran Dalam menangani korban luka bakar harus tetap memegang prinsip steril dan sesuai medis. muda. 3. Perawatan luka bakar didasarkan pada luas luka bakar. faktor penyebab timbulnya luka dan lain-lain. kedalaman luka bakar.

DAFTAR PUSTAKA Black & Hawk. Rencana asuhan Keperawatan: pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian https://www. 8 Buku 2. 1999. Marilyn E. Jakarta: EGC Doengoes. 2009. Keperawatan Medikal Bedah Ed.academia.dictio. 8 Vol.id/t/bagaimana-cara-melakukan-pemeriksaan-penunjang- pada-korban-luka-bakar/6383 33 . Singapore: Elsevier Brunner & Suddarth.edu/29950808/Makalah_Luka_Bakar https://www. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed. 2001. 3.