You are on page 1of 23

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN :
DIABETES MELITUS

Disusun Oleh :

ADELIA WIDORA (20151747)

YAYASAN PENDIDKAN SANTO HIERONYMUS
AKADEMIK KEPERAWATAN DHARMA INSAN

PONTIANAK 2017

A. Konsep Dasar Medis
1. Definisi
Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang di tandai dengan
hiperglikemi yang berhubungan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak,
dan protein yang di sebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan
sensitivitas insulin atau keduanya ( Hardhi, 2015 : Hal. 78 )
Diabetes mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
yang di sebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula ( glukosa ) darah
akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif ( Padila, 2012 : Hal. 01 ).
Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang di tandai dengan
hiperglikemi yang berhubungan dengan abnormalitas metabolism karbohidrat,
lemak, dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau
penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis
mikrovaskular, makrovaskular dan neuropati ( Yuliana elin, 2009 ).
Jadi dapat disimpulkan diabetes mellitus adalah suatu penyakit yang ditandai
dengan kadar gula yang tinggi yang disebabkan oleh gangguan pada sekresi
insulin atau gangguan kerja insulin.

2. Klasifikasi
Menurut Nurarif & Kusuma (2015) diabetes mellitus dapat diklasifikan, sebagai
berikut :
a. Klasifikasi Klinis
1) Diabetes mellitus
a) Tipe 1 IDDM ( Insulin Dependent Diabetes Mellitus )
Yaitu diabetes mellitus tergantung insulin, dimana sel beta
pangkreas yang memproduksi insulin yang dalam keadaan normal
dihancurkan oleh suatu proses autoimun, sehingga glukosa yang
seharusnya ditangkap oleh sel untuk dimetabolisme tidak dapat masuk
karena tidak ada insulin.
b) Tipe II NIDDM ( Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus )
Yaitu diabetes mellitus tidak tergantung insulin, disebabkan
oleh kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin
adalah turunnya kemampuan insulin untuk meransang pengambilan

Diabetes mellitus tipe I di tandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun. karena terjadi peningkatan sekresi berbagai hormone disertai penuh metaboliknya terhadap toleransi glukosa. 2) Gangguan Toleransi Glukosa Yaitu Kadar glukosa darah lebih tinggi dari pada normal tetapi bukan untuk menegakan diagnose DM. perubahan diagnose dalam 2 hari gula darah > 140mg/dl dan < 200 mg/dl. Klasifikasi resiko statistik 1) Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa. 2) Berpontensi menderita kelainan glukosa. Pasien – pasien yang mempunyai predisposisi diabetes mungkin akan memperlihatkan intoleransi glukosa atau manifestasi klinis diabetes pada kehamilan. sebagai akibatnya penyuntikan insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Diabetes mellitus tipe II terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin ( resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah produksi insulin. 3) Diabetes Kehamilan (Gestational) Yaitu Merupakan intoleransi glukosa yang mulai timbul / diketahui sewaktu pasien hamil. b. Pada diabetes mellitus 1 sel-sel β pankreas yang secara normal menghasilkan hormon insulin dihancurkan oleh proses autoimun. glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. .

lemak.co. Anatomi dan Fisiologi Gambar 1. Fungsi pankreas yaitu : a.google. memproduksi dan mensekresi hormone insulin dan glukagon langsung ke dalam darah. b. 2015) bentuk pankreas panjang dan terletak melintang di rongga abdomen diantara ginjal dan duodenum. yang diberikan dengan suatu reseptor tertentu pada . 2) Sel  ( beta ) : mensekresi insulin yakni hormon insulin untuk mengatur metabolisme protein. Fungsi endokrin mempunyai 3 jenis sel antara lain: 1) Sel  ( alpha ) : mensekresi glukagon untuk meningkatkan glukosa darah. Yang memproduksi dan mensekresi enzim-enzim pencernaan yang dialirkan lewat saluran (duktus) ke usus kecil. Pancreatic Islets Langerhans. Kelanjar ini terdiri dari dua tipe jaringan : a. b.id/search?q=gambar+pankreas&source=lnms&tbm=isch&sa=X& ved=0ahUKEwj07q6qra3UAhVKNI8KHYQ5BFQQ_AUICigB&biw=1366&bih=630#imgrc=Vt cTiYRGHxPfCM:/ diperoleh tanggal 25 Mei 2017 pada pukul 13:00 WIB) Menurut (Sarpini.1 Anatomi Pankreas ( Sumber : https://www.3. Fungsi eksokrin yang mensekresi enzim pancreatin untuk pencernaan. Insulin di hasilkan oleh sel beta dan glukagon oleh sel alpha. karbohidrat dengan cara meningkatkan permeabilitas sel.

3) Faktor lingkungan : virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat destuksi sel β pankreas. protein. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. khususnya sel lemak. 4. Secara umum kerja insulin yaitu menurunkan kadar gula darah. b. Diabetes mellitus tipe II (NIDDM) Disebabkan oleh kegagalan relative sel beta dan resistensi insulin. Merangsang hati dan otot untuk menyimpan glukosa sebagai glikogen. membran sel. hepar dan sel-sel otot untuk mengabrsorpsi dan memetabolisme glukosa. Glukagon : dikeluarkan dari pankreas dan efeknya berlawanan dengan insulin. Insulin mempunyai 3 efek berbeda : a. Diabetes mellitus tipe I (IDDM) Diabetes yang tergantung insulin ditandai dengan penghancuran sel-sel beta pankreas yang disebabkan oleh : 1) Factor genetik. Etiologi Menurut Nurarif & Kusuma (2015) etiologi dari diabetes mellitus. pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Glukagon merangsang pemecahan glikogen sehingga kadar gula darah meningkat. . Merangsang seluruh sel. riwayat dan keluarga. yaitu : a. tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes Tipe I. Insulin : hormon ini dikeluarkan bila kadar glokusa darah meningkat yang biasanya terjadi segera setelah makan. Obesitas. c. misalnya saat sakit dan nafsu makan berkurang. penderita tidak mewarisi diabetes tipe itu sendiri. Faktor resiko yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe II : usia. sehingga karbohidrat. dan lemak dapat masuk ke dalam sel. 2) Faktor imonologi (autoimun). 3) Sel  ( delta ) : mensekresi somastatin dan gastrin. b. sehingga baru digunakan pada saatnya. Meningkatkan pembentukan lemak dan protein dan menghambat penggunaannya sebagai sumber energy.

5. Bersamaan dengan keadaan glukosuria maka sejumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria yang mengakibtkan dehidrasi intra selluler. Penyerapan glukosa ke dalam sel macet dan metabolismenya terganggu. Karena digunakan untuk melakukan pembakaran dalam tubuh. Penyakit diabetes mellitus disebabkan oleh karena gagalnya hormone insulin. Patofisiologi Pada keadaan normal kurang dari 50% glukosa yang dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air. maka klien akn merasa lapar sehingga menyebabkan banyak makan yang disebut poliphagia. Pada diabetes mellitus semua proses tersebut terganggu karena terdapat defisiensi insulin. 10% menjadi glikogen dan 20% sampai 40% diubah menjadi lemak. Terlalu banyak lemak yang dibakar maka akan terjadi penumpukan asetat dalam darah yang menyebabkan keasaman darah meningkat atau asidosis. Tanda dan Gejala (Rendi & Margareth. hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien akan merasakan haus terus menerus sehingga pasien akan minum terus yang disebut polidipsi. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak hingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernapasan. Produksi urine yang kurang akan menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini. Sehubung dengan sifat gula yang menyerap air maka semia kelebihan di keluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. akibatnya bau urine dan napas penderita berbau aseton atau bau buah-buahan. 2012) Tanda dan gejala dari diabetes mellitus menurut Rendi & Margareth (2012) yaitu : seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes Mellitus apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu : . Keadaan ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi darah sehingga terjadi hiperglikemia. 6. lemal dan protein menjadi menipis. karena ambang batas untuk gula darah adalah 180mg% sehingga apabila terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak bisa menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Keadaan asidosis ini apabila tidak segera diobati akan terjadi koma yang disebut koma diabetic (Rendi & Margareth. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemi. 2012).

keputihan. lemah. banyak kencing (poliuria) dan penurunan berat badan. Kriteria diagnostic WHO untuk diabetes mellitus pada dua kali pemeriksaan : 1) Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl 2) Glukosa plasma puasa >140 mg/dl 3) Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat ( 2 jam post prandial (pp)>200mg/dl ) c. Keluhan yang sering terjadi pada penderita diabetes mellitus adalah : poliuria. gatal. polifagia. bisul/luka.120 Darah kapiler >110 90-110 b. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120mg/dl c. diagnostic. pemantauan terapi dan untuk mendeteksi komplikasi . Pemeriksaan diagnostik Menurut Nurafin & Kusuma (2015) Pemeriksaan yang dapat di lakukan pada pasien dengan diabetes mellitus yaitu : a. a. b. Kadar glukosa darah Tabel : kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode enzim sebagai patokan penyaring. Kadar Glukosa Darah sewaktu ( mg/dl ) Kadar glukosa darah DM Belum pasti Sewaktu DM Plasma vena >200 100-200 Darah kapiler >200 80-100 Kadar Glukosa Darah Puasa (mg/dl ) Kadar glukosa darah DM Belum pasti Puasa DM Plasma vena >200 110 . Tes laboratorium DM Jenis tes pada pasien DM dapat berupa tes saring . kesemutan. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl. 7. Keluhan TRIAS : banyak minum. visus menurun. berat badan menurun.

Pemeriksaan HbA1c Pemeriksaan HbA1c adalah pemeriksaan darah yang penting untuk melihat seberapa baik pengobatan terhadap diabetes. Tes saring 1) GDP. Edukasi Memberikan edukasi yang komprehensif dengan upaya peningkatan motivasi seperti perubahan perilaku yang bertujuan agar penyandang diabetes dapat . GDS. kreatinin. d. Glukosa jam ke -2 TTGO f. Tes untuk mendeteksi komplikasi 1) Mikroalbuminuria : urin 2) Ureum. Tes diagnostic Tes-tes diagnostik pada DM adalah GDP.GDS 2) Tes glukosa urin a) Tes konvensional ( metode reduksi / benefict ) b) Tes carik celup ( metode glucose oxidase / hexokinase ) e. darah kapiler 2) GD2PP : Plasma vena 3) A1c : darah vena . Artinya pemeriksaan hemoglobin A1C ini akan menggambarkan rat-rata gula darah selama 2 sampai 3 bulan terakhir dan digunakan bersama dengan pemeeriksaan gula darah biasa untuk membuat penyesuaian dalam pengendalian diabetes mellitus. GD2PP ( Glukosa Darah 2 jam Post Prandial ). 8. Penatalaksanaan Medik Ada 4 pilar dalam penatalaksanaan DM. asam urat 3) Kolesterol total : plasma vena ( puasa ) 4) Kolesterol LDL : Plasma vena ( puasa ) 5) Kolesterol HDL : Plasma vena ( puasa ) 6) Trigliserida : plasma vena ( puasa ) h. Tes monitoring terapi 1) GDP: Plasma Vena. yaitu : a. darah kapiler g.

2016). . b. dan jadwal. Terapi Gizi Medis Pada umumnya. 2) Lemak a) Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori. dan berat badan. diet untuk penderita diabetes diatur berdasarkan 3J yaitu jumlah (kalori). e) Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam sehari. melakukan perawatan kaki secara berkala. aktivitas fisik atau pekerjaan. serta memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada (Aini & Aridiana. Beberapa perubahan perilaku yang diharapkan seperti mengikuti pola makan sehat. menjalani pola hidup sehat. c) Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat tinggi. Penyandang diabetes yang juga mengidap penyakit lain. Menurut perkini (2006). memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akit dengan tepat. menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusus secara aman dan teratur. b) Pembatasan karbohidrat total <30 g/hari tidak dianjurkan. mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan penyandang diabetes. d) Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energy. jenis. tidak diperkenankan melebih 30% total asupan energy. melakukan Pemantauan Glukosa darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan data yang ada. Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain jenis kelamin. maka pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit penyertanya. kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan buah dan makanan lain sebaagai bagaian dari kebutuhan kalori sehari. komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari bebrapa unsur gizi penting berikut : 1) Karbohidrat a) Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energy. mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana dan mau bergabung dengan kelompok penyandang diabetes. umur. Hal yang terpenting adalah jangan terlalu mengurangi jumlah makanan karena akan mengakibatkan kadar gula darah yang sangat rendah (hipoglikemia) dan juga jangan terlalu banyak mengonsumsi makanan yang memperparah penyakit diabetes mellitus. meningkatkan kegiatan jasmani.

soda. mannitol. 6) Pemanisan alternatif a) Pemanis dikelompokan menjadi pemanis bergizi dan tak bergizi. buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat. Termasuk pemanis bergizi adalah gula alcohol dan fruktosa. c) Pasien dengan nefropati perlu penuruna asupan protein menjadi 0. b) Gula alcohol anatara lain isomalt. b) Mereka yang hipertensi.8g/kg BB per hari atau 10% dari kebutuhan energy dan 65% hendaknya bernilai biologis tinggi. 4) Natrium a) Anjurkan asupan natrium untuk penyandang diabetes mellitus sama dengan anjuran untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan 6-7 g (1sendok the) garam dapur. 5) Serat a) Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan. dan bahan pengawet seperti natrium benzoate dan natrium nitrit. 3) Protein a) Dibutuhkan sebesar 10-20% total asupan energy. dan xylitol. d) Bahan makan yang perlu di batasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak anatara lain daging berlemak dan penuh ( whole milk). pembatasan natrium sampai 2400 mg garam dapur. b) Anjuran konsumsi serat adalah ± 25g/1000 kkal/ hari. b) Lemak jenuh <7% kebutuhan kalori. lactitol. sorbitol. vetsin. e) Anjurkan konsumsi kolestrol < 300 mg/hari. c) Sumber natrium anatara lin adalah garam dapur. . c) Lemak tidak jenuh ganda <10% selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. b) Sumber protein yang baik adalah seafood. maltitol.

. d) Fruktosa tidak dianjutkan penggunaannya bagi penyandang diabetes akrena efek samping pada lemak darah. a. sukralose dan neotame. 1. 1) Continous (terus menerus) 2) Rhythmical (berirama) 3) Interval (berselang) 4) Progressive (meningkat) 5) Endurance (daya tahan) d. Berdasarkan cara kerjanya. Olahraga Olahraga selain untuk menjaga kebugaran jug dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensivitas insulin. bersepeda santai. sakarin. Penggunaan sulfonilurea jangka panjang tidak dianjurkan untuk orang tua. sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. OHO dibagi menjadi empat golongan berikut (Perkeni. dan berenang. Intervensi farmakologis terdiri atas pemberian Obat Hipoglikemik Oral (OHO) dan injeksi insulin. e) Pemanis tak bergizi termasuk aspartum. Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue). jogging. c) Penggunaan pemanis bergizi perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan kaki. c. Obat Hipoglikemik Oral (OHO). Intervensi Farmakologis Intervensi Farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. 1) Sulfonilurea. Latihan jasmani disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang. namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. f) Pemanis alternatif penggunaannya tidak akan mengganggu kesehatan sepenjang tidak melebih batas aman. 2006). acesulfame potassium.

hal ini bertujuan untuk mencegah hipoglikemia. sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer dan Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung kelas I-IV karena dapat memperberat edema atau retensi cairan dan juga pada gangguan fungsi hati. dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. d. Penghambat glukosidase alfa (Acarbose). Golongan ini terdiri atas dua macam obat yaitu Repaglinid (derivate asam benzoat ) dan Nateglinid (derivate fenilalanin). Penambah sensitivitas terhadap insulin Terdiri dari Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) yang mempunyai efek menurunkan resistansi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa. Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus. Obat ini utamanya dipakai pada penyandang diabetes yang bertubuh gemuk. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens. gangguan fungsi ginjal dan hati. Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. Penghambat glukoneogenesis (Metformin) Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis). Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati. sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan. Pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan fungsi hati secara berkala. kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular. . Metformin dapat memberikan efek samping mual. c. 2) Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea. b.

terapi insulin dapat diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan. Penyebab adalah pemberian dosis insulin yang berlebih sehingga terjadi penurunan glukosa dalam darah. IMA. Komplikasi Menurut Rendi & Margareth (2012) komplikasi yang dapat terjadi pada diabetes mellitus yaitu . Stres berat (infeksi sistemik. Gangguan fungsi ginjal atau 9. hiperglikemia hiperosmolar non-ketokik. dan hiperglikemia dengan asidosis laktat.5 % atau kadar glukosa darah puasa > 250 mg/dL). Kehamilan dengan DM (diabetes mellitus gestasional) yang tidak terkendali dengan perencanaan makan. Beberapa komplikasi dari diabetes mellitus adalah : a. retinopati. c. Terjadi dalam bentuk ketoasidosis dan koma hiperosmolar non-ketotik. Hipoglekemia lebih sering terjadi pada DM tipe 1. penyakit pembuluh darah kapiler) 4) Penyakit mikrovaskuler. e. g. Insulin diperlukan pada keadaan-keadaan berikut : a. f. antara lain perbaikan inflamasi. 5) Neuropati saraf sensorik (berpengaruh pada ekstermitas). insulin selain dapat memperbaiki status metabolik dengan cepat (terutama kadar glukosa darah). Akut 1) Hipoglikemia. kardiovaskuler). 3) Penyakit makrovaskuler : mengenai pembuluh darah besar. mengenai pembuluh darah kecil. dan stroke). b. juga memiliki efek lain yang bermanfaat. kondisi setius pada DM. DM lebih dari 10 tahun. kondisi ditandai dengan adanya penurunan glukosa darah kurang dari 60mg/dL. baik tipe 1 mau tipe 2. h. saraf otonom berpengaruh pada gastrointestinal. Kendali kadar glukosa darah yang buruk (A1C > 6. penyakit jantung koroner ( cerebrovaskuler. . Pada pasien DMT-1 (DM Tipe 1). Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal. operasi besar. 2) Hiperglikemia. nefropati. 2. Penurunan berat badan yang cepat. Insulin Berdasarkan berbagai penelitian klinis. Hiperglikemia berat disertai ketosis. d.

infeksi kulit . nausea 2) Perut tegang. (perubahan dalam retina) terjadi karena penurunan protein dalm retina dan kerusakan endotel pembulih darah. 2) Retinopati diabetik. Konsep Dasar Keperawatan 1. bising usus berkurangBB menurun Tipe II: 1) Polidipsi. terjadi karena perubahan metabolik pada diabetes mengakibatkan fungsi sensorik dan motorik saraf menurun. polipagia 2) Riwayat diet TKTP 3) Luka sulit sembuh. yang selanjutnya akan menyebabkan penurunan persepsi nyeri. polipagia. B. 4) Proteinuria. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan. Komplikasi yang bersifat kronis diabetes mellitus 1) Neuropati diabetik. b. Pengkajian a. Pola nutrisi metabolik Tipe I : 1) Polidipsi. Tipe I : 1) Riwayat keluarga penderita DM 2) BB menurun 3) Gejala pertama kali muncul 4) Biasanya terjadi pada usia < 30 tahun Tipe II: 1) Riwayat keluarga penderita DM 2) Kemungkinan obesitas 3) Gejala yang muncul secara bertahapTerjadi pada usia > 30 tahun b. terjadi karena perubahan mikrovaskuler pada struktur dan fungsi ginjal yang menyebabkan komplikaso pada pelpis ginjal. 3) Nefropati diabetik. suatu kondisi dimana terlalu banyak protein dalam urin yang dihasilkan dari adanya kerusakan ginjal.

infeksi vagina . Pola tidur dan istirahat Tipe I dan tipe II: Gangguan tidur karena nokturia. Pola peran dan hubungan dengan sesama Menjalin hubungan dengan sesama di lignkungan. cepat lelah 2) Riwayat latihan fisik tidak teratur 3) Tachicardia. Pola persepsi dan kognitif Tipe I : Pusing. nyeri abdomen g. Pola persepsi dan konsep diri Tipe I dan II: 1) Gangguan harga diri 2) Gangguan peran h. f. Pola aktivitas dan latihan Tipe I : 1) Keluhan lemas. infeksi kulit d. i.c. Pola reproduksi dan seksualitas 1) Impotensi. akut UTI berulang. pingsan Tipe II: 1) Keluhan lemas bertahap dan cepat lelah 2) Riwayat latihan fisik tidak teratur e. kesemutan. hipotensi Tipe II: 1) Mengeluh gatal. vaginitis berulang 2) Penglihatan kabur 3) Kram otot. Pola eliminasi Tipe I : 1) Poliuria 2) Dapat terjadi konstipasi/diare 3) Iritasi perineuria Tipe II: 1) Poliuria 2) Konstipasi/diare 3) Riwayat penggunaan obat diuretic 4) Infeksi vagina.

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan nekrosis kerusakan jaringan (nekrosis luka gangrene). Hasil yang diharapkan : 1) Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin. f. 2) Libido menurun j. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin. Pola nilai dan kepercayaan Ketekunan dalam beragama 2. Rencana Keperawatan a. makanan dan aktivitas jasmani. 2) Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan. d.gaya hidup). kurang pengetahuan penyakit. b. Diagnosa keperawatan (Nurafin & Kusuma. e. Pola mekanisme 1) Depresi 2) Stres k. 2015 ) a. Intervensi : . 4) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti. kurang pengetahuan tentang faktor pemberat (merokok. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma pada jaringan. c. kebutuhan kalori terpenuhi. 3) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi . 3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah keperifer. Tujuan : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan. makanan dan aktivitas jasmani. proses penyakit (diabetes Mellitus). Resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan gejala poliuria dan dehidrasi. hasil gula darah dalam batas normal.

b. Rasional: Mengetahui jumlah nutrisi yang baik. 4) Kaji dan catat keluhan mual klien. Intervensi: 1) Kaji pola makan (program diet yang dijalankan). Rasional: Melancarkan sirkulasi dan mematikan kuman yang ada di pada luka. Rasional: Mencegah terjadinya kekeringan di kulit. . Rasional: Untuk menurunkan kadar gula darah. 2) Timbang BB setiap 1 minggu sekali. 4) Letakkan bantal di bawah betis sehingga kedua tumit dapat terangkat. 3) Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada daerah yang tertekan. 2) Bersihkan luka dengan air hangat dan sabun yang bersih. 3) Menunjukan terjadinya proses penyembuhan luka. Intervensi : 1) Kaji kondisi kulit setiap hari. 6) Kolaborasi dengan ahli gizi. Tujuan : Kerusakan integritas kulit tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan. 3) Pantau kadar gula darah. ketebalan dan tekstur jaringan normal. Rasional: Untuk mengetahui apakah terdapat kerusakan kulit (kering/pecah). Rasional: Menentukan tindakan selanjutnya. Rasional: Bermanfaat dalam penghitungan dan penyesuaian diit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Rasional: Mengetahui tanda dini dan menghindari hipo/ hiperglikemi. 5) Kolabroasi dengan dokter untuk pemberian terapi insulin. Rasional: Untuk mengetahui tingkat nafsu makan klien. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan nekrosis kerusakan jaringan (nekrosis luka gangrene). Hasil yang diharapkan : 1) Perfusi jaringan. 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi.

catat ukuran. Respon terhadap refleks cahaya mengkoordinasikan fungsi dan kranial optikus dan okulomatorius. pernafasn. kesamaan dan reaksi terhadap cahaya. Rasional: Aktivitas yang kontinu dapat meningkatkan TIK. 4) Catat perubahan dalam penglihatan seperti adanya gangguan lapang pandang. Intervensi : 1) Observasi tanda-tanda vital : tekanan darah. 2) Kaji peningkatan tekanan intrakranial dan kepatenan jalan nafas. Rasional: Ukuran dan kecemasan pupil ditentukan oleh keseimbangan antara persyarafan simpatis dan parasimpatis. 5) Cegah adanya/terjadinya mengejan. 5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat luka bila ada. Rasional: Mengidentifikasi kondisi pasien dan menunjukkan perubahan. ciptakan lingkungan tenang. 6) Pertahankan tirah baring. 3) Evaluasi pupil. 2) Perfusi jaringan serebral adekuat. . kurang pengetahuan tentang faktor pemberat (merokok. Rasional: Mencegah terjadinya penekanan pada tumit. Tujuan : Perubahan perfusi jaringan serebral tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan. bentuk. Rasional: Valsava manuver dapat meningkatkan TIK dan memperberat risiko perdarahan. suhu. Rasional: Gangguan lapang pandang yang spesifik mencerminkan daerah otak yang terkena. c. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah keperifer.gaya hidup). nadi. Hasil yang diharapkan : 1) Tekanan darah dalam batas normal 120/80 mmHg. kurang pengetahuan penyakit. Rasional: Mempercepat penyembuhan. Rasional: Hipertensi dapat menjadi faktor pencetus dan perubahan tekanan darah.

2) Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi. kemerahan dan nyeri. 4) Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh. Intervensi : 1) Observasi tanda-tanda infeksi dan inflamasi seperti demam. Tujuan : Resiko infeksi dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam. d. jaga kulit tetap kering. 3) Menunjukan perilaku hidup sehat. Rasional : kadar glukosa yang tinggi akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman. Hasil yang di harapkan : 1) Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Rasional : Penanganan awal dapat membantu mencegah terjadinya sepsis. Rasional : menurunkan resiko terjadinya penyakit mulut. Rasional: Meningkatkan aliran darah serebral yang selanjutnya dapat mencegah emboli dan trombus. antihipertensi. . 2) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma pada jaringan. proses penyakit (diabetes Mellitus). 3) Pertahankan tekhnik aseptic pada pemasangan infuse dan pemberian injeksi. Rasional : Sirkulasi perifer yang buruk dapat mengakibatkan infeksi pada kulit. Rasional : mencegah timbulnya infeksi nasokomial. 5) Ajarkan pasien dalam melakukan oral hygiene. 7) Berikan obat/terapi sesuai program medik: antikoagulan. Rasional : infeksi akan mempercepat terjadinya ketoasidosis atau infeksi nasokomial. massage daerah yang tertekan. 6) Kolaborasi tentang pemberian antibiotic yang sesuai. vasodilator.

Rasional: Mengetahui hidrasi dan sirkulasi tubuh yang adekuat. Resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan gejala poliuria dan dehidrasi. elastisitas turgor kulit baik. Rasional: Menilai seluruh kekurangan volume dan gejala. perhatikan perubahan tekanan darah ostostatik. 4. Rasional: Hipovolemik dapat diajukan dengan hipotensi dan takikardia. BJ urine normal. 2) Tekanan darah. Intervensi : 1) Monitor tanda-tanda vital. mencegah terjadinya dehidrasi. cek keton dalam urine.5-3 liter/hari. tergantung individu dan masalah yang spesifik. Tujuan : Resiko ketidakseimbangan elektrolit dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan. Rasional: Untuk mengetahui ketidakseimbangan cairan di dalam tubuh. nadi. focus pelaksanaan tindakan keperawatan adalah kegiatan pelaksanaan tindakan dan perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional.Tindakan keperawatan dibedakan berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab . pemeriksaan serum elektrolit dan terapi cairan intravena. 5) Pertahankan pemasukan cairan 2. Pelaksanaan Keperawatan Menurut handayani (2009). Hasil yang di harapkan : 1) Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB. Pemenuhan kebutuhan fisik dan emosional adalah variasi. membrane mukosa lembab daan tidak ada rasa haus yng berlebihan. 4) Monitor dan catat intake dan output. 3) Kaji riwayat yang berhubungan dengan urine yang berlebihan. 6) Kolaborasi dengan tim medik. Rasional: Memenuhi status cairan dalam tubuh. Rasional: Mengidentifikasi adanya kekurangan elektrolit dan sebagai pemenuhan cairan yang keluar. suhu tubuh dalam batas normal. 2) Kaji membran kulit/membran mukosa dan pengisian kapiler. e. HT normal. 3) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.

c. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien tidak mencapai tujuan yang ditetapkan). Evaluasi Keperawatan Menurut handayaningsih (2009). b. Hal ini bisa dilaksanakan dengan mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan sehingga perawat dapat mengambil keputusan : a. perawat secara professionalisme sebagaimana terdapat dalam standar praktik keperawatan. . 5. tujuan evaluasi adalah melihat kemampuan klien dalam mencapai tujian. Merumuskan rencana tindakan keperawatan (klien mengalami waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan). Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan).

Patoflowdiagram (Nurafin & Kusuma.retensi Aliran darah Koma diabetik urin lambat Iskemik jaringan Resiko infeksi Neuropati sensori Kehilangan perifer elektrolit dalam sel Ketidakektifan Nekrosis luka Klien tidak merasa perfusi dehidrasi jaringan sakit ganggren Kerusakan Resiko syok Kehilangan kalori integritas jaringan Meransang Sel kekurangan hipotalamus bahan untuk Protein dan BB menurun metabolisme lemak dibakar Pusat lapar dan haus keletihan Katabolisme Pemecahan lemak protein Polidipsia . PATOFLOWDIAGRAM . 2015 ) 8.Pngerusakan Sel beta Produksi insulin masuk dalam sel imunologik glukosuria Batas melebihi hiperglikemia Anabolisme ambang ginjal protein menurun Kerusakan pada antibodi Diuresis osmotik Vikositas darah Syok meningkat hiperglikemik Kekebalan tubuh menurun Poliuri.Infeksi virus tidak dapat dibawa .C. poliphagia Asam lemak keton ureum Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ketoasidosis .Factor genetic Kerusakan Ketidakseimbangan Gula dalam darah .

DAFTAR PUSTAKA Aini.google. N. & Kusuma. In A.. Noc Dalam Berbagai Kasus . C. Sarpini. Jakarta : IN MEDIA. jogjakarta : Mediaction Jogja. (2015 ).. (2015). Nic.id/search?q=gambar+pankreas&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved =0ahUKEwj07q6qra3UAhVKNI8KHYQ5BFQQ_AUICigB&biw=1366&bih=630#imgrc=Vt cTiYRGHxPfCM:/ Nurafin. H. & Kusuma.. Asuhan Keperawatan pada kasus GE . Rendi. (2012). . L. dalam. H. M. & Margareth. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc Edisi Revisi jilid 1 . Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia .. M. (2016). R. https://www. A. & Aridiana. Yogjakarta: Mediaction Jogja. (2013).co. Nurarif. Asuhan Keperawatan Praktis Nanda. (2016). Asuhan Keperawatan pada Sistem Endokrin dengan Pendekatan NANDA NIC NOC. d. Jakarta Selatan: Salemba Medika. H. Yogyakarta: Nuha Medika . Yogyakarta: Nuha Medika . H. Padila. K. A. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah dan Penyakit Dalam .