You are on page 1of 11

PEWARNAAN KAPSULA BAKTERI

LAPORAN PRAKTIKUM

disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Mikrobiologi


yang dibimbing oleh Dr. Endang Suarsini, M.Ked

Disusun oleh :
Kelompok 4 / Offering A
1. Adek Larasati S. (160341606007)
2. Agrintya Indah M. (160341606041)
3. Mamik Rizkiatul L. (160341606051)
4. Novela Memiasih (160341606093)
5. Racy Rizki A. (160341606056)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2018
A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Agar mahasiswa dapat melakukan pewarnaan terhadap kapsula bakteri,
2. Agar mahasiswa dapat mengidentifikasi bakteri biakan berdasarkan ada
atau tidaknya kapsula.

B. DASAR TEORI
Pada sebagian besar bakteri, terutama yang hidup di lingkungan alami,
tubuhnya dikelilingi oleh suatu lapisan gelatin yang disebut kapsula. Kapsula
tersusun atas senyawa polisakarida yang sebagian besar dimiliki oleh bakteri
yang bersifat pathogen. Kapsul adalah lapisan luar mirip agar-agar yang
disekresikan oleh sel bakteri dan sekitarnya yang melekat pada dinding sel.
Sebagian besar kapsul terdiri atas polisakarida, namun beberapa terdiri dari
polipeptida. Kapsul memiliki struktur yang berbeda dengan lapisan lendir
yang dihasilkan oleh sel bakteri karena lapisan kapsul ini tebal, dapat
dideteksi, dan diskrit di luar dinding sel. Kapsul melindungi sel bakteri dari
gangguan kekebalan dan dapat bersifat membunuh ketika menginfeksi sel
inangnya (Zhensong, 2015).
Kapsul pada umumnya dimiliki oleh bakteri yang bersifat pathogen.
Adanya kapsul yang tebal pada berbagai bakteri pathogen merupakan indikasi
umum tingginya virulensi mikroorganisme. Berbagai penyakit terbukti
disebabkan oleh bakteri yang mempunyai kapsul seperti Bacillus antrachis
(penyebab antraks), Clostridium pefringens (penyebab geng-rene), dan
Streptococcus pneumonia (penyebab pneumonia). Kapsul pada bakteri
pathogen meningkatkan virulensi dan infektifitas bakteri tersebut. Hal ini
disebabkan karena kapsul mampu melindungi bakteri pathogen dari
fagositosis oleh makrofag dan leukosit. Keberadaan kapsul pada suatu bakteri
dapat membantu sel bakteri untuk dapat berkompetisi dalam lingkungan dan
memudahkan bateri untuk melekat pada substrat. Virulensi berbagai bakteri
berkapsul berkaitan erat dengan adanya bakteri itu sendiri, bila kapsul suatu
bakteri hilang, maka sifat virulensinya juga akan ikut hilang (Yoon Dong,
2015).
Bakteri ada yang memiliki kapsul dan ada yang tidak berkapsul. Di dalam
saluran pernafasan dan rongga mulut ada beberapa spesies bakteri yang tidak
memiliki kapsul di permukaan tubuhnya, contohnya adalah Haemophilus
influenza yang merupakan bakteri gram-negatif. Dimana bakteri gram
negative ini kebanyakan tidak terenkapsulasi. Keuntungannya yang diperoleh
bakteri yang tidak memiliki kapsul adalah mereka tidak membutuhkan
banyak energi untuk menghasilkan kapsul dan dapat menggunakan energi itu
untuk hal lain. Sebagai gantinya, untuk melindungi dirinya dari serangan
fagosit mereka akan menghasilkan protein antifagositik di permukaan
tubuhnya sehingga meskipun tubuhnya tidak berkapsul, bakteri itu masih
dapat melindungi dirinya (Nanra dkk, 2013).

C. ALAT DAN BAHAN


Alat:
1. Mikroskop cahaya 5. Kawat inokulasi kolong
2. Kaca benda 6. Lampu spiritus
3. Kaca penutup 7. Lap
4. Kawat inokulasi lurus 8. Pipet tetes

Bahan:
1. Akuades steril 4. Larutan ungu kristal
2. Biakan murni bakteri 5. Larutan tembaga sulfat
3. Tinta bak 6. Kertas hisap
D. PROSEDUR KERJA
1. Pewarnaan tak langsung

Satu tetes tinta bak diletakkan di atas kaca benda dan dicampurkan kedalamnya
satu ose biakan bakteri

Sebuah kaca peutup diletakkan di atas kaca benda sedemikian rupa sehingga
hanya sebagian dari campuran itu menjadi tertutupi

Kaca penutup ditekan dengan mantap kearah bawah dengan menggunakan


setumpuk kertas hisap sampai tak adanya cairan encer berwarna kecoklatan

Mikroskop diperiksa dengan perbesaran kuat.

Kapsula tampak sebagai zona bersih disekeliling mikroorganisme yang


memunculkan cahaya dengan latar belakang hitam kecoklatan

2. Pewarnaan langsung

Sediaan bakteri dibuat secara olesan kering udara

sediaan bakteri diwarnai dengan larutan ungu kristal dalam air 1% selama 2
menit

larutan tersebut dibilas dengan larutan tembaga sulfat dalam air 20%

kemudian ditiriskan dan dihisap menggunakan kertas hisap sampai kering

Diamati dibawah mikroskop, kapsula tampak biru muda dan bakteri tampak biru
gelap
E. HASIL PENGAMATAN
Koloni Macam Metode Warna Sel Vegetatif Warna Kapsula

Langsung Ungu -
A
Tak langsung Transparan -
Langsung Ungu -
B
Tak langsung Transparan -

F. ANALISIS DATA
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pewarnaan langsung/ positif,
melalui proses fiksasi untuk merekatkan sel mikroba pada gelas objek, lalu
diberi larutan ungu kristal untuk memberi warna kapsul bakteri, selanjutnya
diberi larutan tembaga sulfat untuk mengahsilkan kontras yang baik pada
bayangan mikroskop dapat diketahui bahwa bakteri koloni A dan B
merupakan bakteri tidak berkapsul karena ketika diamati sel vegetatifnya
berwarna ungu. Jika bakteri tersebut memiliki kapsula maka di sekeliling sel
vegetatif yang berwarna ungu akan dilapisi oleh warna biru hasil pewarnaan
dari CuSO4.
Berdasarkan pewarnaan tidak langsung/ negatif, melalui proses
pencampuran sel bakteri dengan tinta bak guna pewarnaan latar belakang
pada sediaan dapat diketahui bahwa bakteri koloni A dan B merupakan
bakteri tidak berkapsul karena ketika dia mati di bawah mikroskop nampak
sel vegetatif yang transparan. Jika bakteri tersebut memiliki kapsul, maka di
sekeliling sel vegetatif yang transparan akan dilapisi oleh warna coklat.
Sehingga berdasarkan dua tes pewarnaan yaitu pewarnaan langsung/positif
dan tidak langsung/negatif, menunjukkan hasil yang sama yaitu bakteri koloni
A dan B merupakan bakteri tidak berkapsul.

G. PEMBAHASAN
Pewarnaan kapul adalah teknik yang digunakan untuk mengetahui suatu
bakteri memilik kapsul pada tubuhnya. Kapsul adalah lapisan polimer yang
terdapat diluar dinding sel (Susi dan Muhammad, 2017). Kapsul pada bakteri
dapat diamati dengan mikroskop dengan teknik pewarnaan, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Jika lapisan polimer ini terletak berlekatan
dengan dinding sel maka lapisan ini disebut kapsula. Tetapi jika polimer atau
polisakarida ini tidak berlekatan dengan dinding sel maka lapisan ini disebut
lendir (Darkuni, 2001).
Sel bakteri pada umumnya tidak bewarna, sebagian besar bagiannya
adalah transparan. Pewarna adalah cairan terlarut yang mengandung
kromofor. Kromofor adalah pewarna yang terlarut dalam bahan pewarna dan
bertanggung jawab dalam proses pewarnaan (Sumarsih, 2003).
Pewarnaan langsung
Pada kegiatan praktikum ini, pewarnaan secara langsung dilakukan dengan
menggunakan kristal violet dan CuSO4.5H2O. Pewarnaan secara langsung ini
dimaksudkan untuk mewarnai sel-sel bakteri yang diamati. Apabila bakteri
mempunyai kapsul, maka dalam pengamatan sel bakteri akan tampak
berwarna ungu dan diselubungi oleh kapsul yang berwarna biru muda. Sel
bakteri pada umumnya memiliki permukaan ion negatif yang disebabkan
karena adanya molekul seperti polisakarida, protein, dan asam nukleat,
sehinggadibutuhkan pewarna positif untuk mewarnai permukaan sel. Kristal
violet merupakan larutan yang yang mempunyai kromofor atau butir
pembawa warna yang bermuatan positif (memiliki kation) sedangkan muatan
yang berada di sekeliling bakteri bermuatan negatif (memiliki anion),
sehingga terjadi adanya tarik menarik antara kedua ion tersebut. Hal inilah
yang menyebabkan bakteri berwarna ungu. Terbentuknya warna biru muda
pada kapsula disebabkan karena kapsula menyerap CuSO4.5H2O. Contoh zat
pewarna basa misalnya metilen blue, Kristal violet, dengan anionnya Cl-,
SO42-, dan sebagainya (Kusnadi, 2003).
Pewarnaan tidak langsung/negatif
Pewarnaan negatif yaitu pewarnaan yang ditujukan terhadap bakteri yang
sulit diwarnai, dimana bakterinya tidak diwarnai melainkan latar
belakangnya. Metode pewarnaan negatif merupakan suatu metode
perwarnaan umum, dimana digunakan larutan zat warna yang tidak meresap
kedalam sel-sel bakteri melainkan melatarbelakangi sehingga kelihatan atau
nampak sebagai bentuk-bentuk kosong tak berwarna (negatif). Pengecatan
negatif bertujuan untuk mewarnai latar belakang atau bidang pandang di
bawah mikroskop dan bukan untuk mewarnai sel-sel mikroba yang diperiksa.
Pengecatan negatif dapat digunakan untuk melihat kapsul yang menyelubungi
tubuh bakteri dengan hanya menggunakan satu macam cat saja (Brooks,
2005).
Tinta cina merupakan larutan yang mempunyai kromofor atau butir
pembawa warna yang bermuatan negatif (memiliki anion), sedangkan muatan
yang ada di sekeliling bakteri juga bermuatan negatif (memiliki anion),
sehingga terjadi adanya tolak menolak antara kedua ion tersebut. Hal inilah
yang menyebabkan bakteri berwarna transparan dan nampak hanya warna
latar belakangnnya yaitu hitam. Terbentuknya warna transparan ini
dikarenakan sel bakteri tidak mampu menyerap warna (Sumarsih, 2003).
Kapsula bakteri-bakteri penyebab penyakit (patogen) berfungsi untuk
menambah kemampuan bakteri untuk menginfeksi (Pelczar, 2007). Jenis
patogen (penyebab penyakit) misalnya, akan turun keganasanya jika
kapsulnya dihilangkan. Hal ini erat kaitannya dengan kehadiran bahan-bahan
pembentuk kapsul dengan sifat fagositik bakteri. Ukuran kapsula sangat
dipengaruhi oleh medium tempat ditumbuhkannya bakteri tersebut. Pada
beberapa kejadian tebalnya kapsula hanya satu per sekian diameter selnya,
namun dalam kasus-kasus lainya ukuran kapsula jauh lebih besar daripada
diameter selnya. Kebanyakan kapsul terdiri dari senyawa polisakaraida.
Selain glukosa, polisakarida kapsul juga mengandung gula amino, ramnosa,
asam uronat, dan asam organik seperti asam tartarat dan asam asetat (Brooks,
2005).
Kapsula bukan organ yang penting untuk kehidupan sel bakteri. Hal ini
terbukti bahwa sel bakteri yang tidak dapat membentuk kapsula mampu
tumbuh dengan normal dalam medium. Kapsula berfungsi dalam penyesuaian
diri dengan lingkungannya. Misalnya berperan dalam mencegah terhadap
kekeringan, mencegah atau menghambat terjadinya pencantelan bakteriofag,
bersifat antifagosit sehingga kapsul memberikan sifat virulen bagi bakteri.
Kapsula juga berfungsi untuk alat menempelkan diri pada permukaan seperti
yang dilakukan oleh Streptococcus muans (Darkuni, 2001).
Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis
bakteri tertentu. Kapsul tersusun atas polisakarida dan air. Kapsula berfungsi
sebagai pelindung sel terhadap faktor lingkungan (kekeringan) dan sebagai
pengikat antar sel. Kapsula memiliki arti penting, karena erat hubungannya
dengan faktor virulensi/ keganasan bakteri-bakteri patogen. Suatu bakteri
patogen apabila kehilangan kapsulnya, maka akan turun virulensinya.
Hilangnya kemampuan untuk membentuk kapsul melalui mutasi
berhubungan dengan kehilangan virulensi dan kerusakan oleh fagosit namun
tidak mempengaruhi kelangsungan hidup bakteri. Tidak semua bakteri
memiliki kapsula. Jika bakteri tersebut kehilangan kapsulnya sama sekali
maka ia akan dapat kehilangan virulensinya dan dengan demikian akan
kehilangan kemampuannya untuk menyebabkan infeksi (Meganda dkk, 2017)
Sifat koloni berkapsula ialah umumnya patogenik. Pada Klebsiella
pneumoniae, kapsul polisakarida yang mengelilingi bakteri berfungsi untuk
melindungi terhadap aksi fagositosis dan bakterisidal serum dan dapat
dianggap sebagai faktor virulensi terpenting (Nimas dan Sri, 2016). Bakteri
yang memiliki kapsula akan memiliki susunan koloni yang halus (S)
sedangkan bakteri yang tidak memiliki kapsula akan memiliki susunan koloni
yang kasar (R). Pada beberapa spesies dapat mengalami suatu fenomena yang
disebut variasi S-R, dimana sel tersebut kehilangan kemampuannya untuk
dapat membentuk kapsula. Beberapa kapsula memiliki ukuran yang besar dan
dapat menyerap air sehingga membentuk koloni yang mukoid (M), misalnya
pada bakteri Klebsiella pneumoinae (Zhensong, 2015).
Pengamatan kapsula tidak dapat menggunakan pewarnaan sederhana
karena kapsul bersifat non-ionik. Masalah utama dalam pewarnaan kapsul
ialah bila olesan bakteri yang telah disiapkan difiksasi dengan panas menurut
metode yang biasa. Masalah utama dalam pewarnaan kapsul ialah bila olesan
bakteri yang telah disiapkan itu difiksasi dengan panas menurut metode yang
biasa, maka kapsul tersebut akan rusak, namun apabila tidak difikasi dengan
panas, maka organisme tersebut akan meluncur pada waktu pencucian. Selain
itu, prinsip pewarnaan sederhana didasarkan pada zat warna yang digunakan
hanya terdiri dari satu zat yang dilarutkan dalam bahan pelarut yang
merupakan suatu cara yang cepat untuk melihat morfologi bakteri secara
umum (Dwidjoseputro, 1998). Pada pewarnaan sederhana hanya digunakan
satu macam zat warna untuk meningkatkan kontras antara mikroorganisme
dan sekelilingnya. Lazim, prosedur pewarnaan ini menggunakan zat warna
basa seperti seperti crystal violet, biru metilen, karbol fuchsin basa, safranin
atau hijau malakit. Kadang kala digunakan zat warna negatif untuk
pewarnaan sederhana : zat warna asam yang sering digunakan adalah nigrosin
dan merah kongo (Lay, 1994).

H. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum pewarnaan kapsula bakteri
ialah sebagai berikut.
1. Pewarnaan kapsula bakteri dapat dilakukan dengan dua metode yaitu
pewarnaan langsung yang menggunakan reagen larutan ungu kristal
dan larutan tembaga sulfat dan pewarnaan tidak langsung yang
menggunakan reagen tinta bak.
2. Pewarnaan langsung bakteri koloni A dan B mengindikasikan bahwa
bakteri A dan B tidak berkapsul karena ketika diamati sel vegetatifnya
berwarna ungu sedangkan pada pewarnaan tidak langsung, bakteri
koloni A dan B mengindikasikan bakteri tidak berkapsul karena ketika
dia mati di bawah mikroskop dan nampak sel vegetatif yang
transparan.
I. LAMPIRAN
Pewarnaan Langsung (tidak berkapsul)
Bakteri A Bakteri B

Pewarnaan Tidak Langsung (tidak berkapsul)


Bakteri A Bakteri B
DAFTAR RUJUKAN

Brooks, G, Butel, J, dan Morse. S. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta:


Salemba Medika.
Darkuni, M, Noviar. 2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi, dan Mikologi).
Malang: Universitas Negeri Malang.
Dwidjoseputro, D. 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang: Djambatan.
Kusnadi. 2003. Identifikasi Bakteri. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Lay, Bibiana, W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: Rajawali.
Meganda, H, P, Sukini, Yodong. 2017. Bahan Ajar Keperawatan Gigi:
Mikrobiologi. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya
Manusia Kesehatan.
Nanra, J. S., Buitrago, S. M., Crawford, S., Ng, J., Fink, P. S., Hawkins, J.,
Anderson, A. S. 2013. Capsular polysaccharides are an important immune
evasion mechanism for Staphylococcus aureus. Human Vaccines &
Immunotherapeutics, 9(3), 480–487.
Nimas, T, I, T dan Sri A, F, K. 2016. Deteksi Bakteri Klebsiella pneumonia.
Farmaka Suplemen Volume 15 Nomor 2.
Pelczar, Michael J. 2007. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.
Susi, A, R, dan Muhammad, G, H. 2017. Uji Cemaran Air Minum Masyarakat
Sekitar Margahayu Raya Bandung Dengan Identifikasi Bakteri
Escherichia coli. IJPST Volume 4, Nomor 2.
Sumarsih, Sri. 2003. Buku Dasar Mikrobiologi. Yogyakarta: Fakutas Pertanian
UPN “Veteran”.
Yoon-Dong Park and Peter R. Williamson. 2015. Masking the Pathogen:
Evolutionary Strategies of Fungi and Their Bacterial Counterparts. Journal
of Fungi (1):397-421, doi:10.3390/jof1030397, ISSN 2309-608X.
Zhensong, Wen & Zhang, Jing-Ren. 2015. Molecular Medical Microbiology:
Bacterial Capsules. DOI: 10.1016/B978-0-12-397169-2.00003-2.