You are on page 1of 5

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus ini, Seorang perempuan dengan usia 20 tahun didiagnosis

SLE, Lupus nefritis, hipoalbumin, Hipertensi St II, dan Hidronefrosis bilateral.

Pasien datang dengan dengan keluhan bengkak pada seluruh tubuh bengkak

disertai nyeri perut bagian bawah, mual muntah, batuk kering, demam yang hilang

timbul. Pasien juga mengeluhkan nyeri sendi, dan kerontokan rambut.

Kriteria diagnosisi untuk SLE adalah memenuhi 4 dari 11 kriteria yaitu :7

37
Pada kasus ini telah didapatkan 4 dari 11 kriteria diatas dilihat dari gejala,

pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang, yaitu :

1. Fotosensitivitas : dapat dilihat dari keluhan pasien saat datang pasien

mengatakan bahwa setelah pasien melakukan akivitas di bawah sinar matahari

dengan waktu yang lama, muncul bercak-bercak kemerahan atau ruam yang

timbul. Hal ini sesuai dengan kriteria diagnosis SLE yang termasuk bagian dari

fotosensitivitas.

2. Serositis : pada anamnesa diketahui sejak 2 minggu yang lalu pasien

mengeluhkan sesak nafas yang disertai dengan demam. Saat dilakukan

pemeriksaan auskultasi terdapat penurunan suara nafas pada bagian basal paru

kanan. Kemudian hal ini ditunjang lagi dengan dilakukannya pemeriksaan foto

thoraks pada pasien tanggal 3 Juni 2017 didapatkan hasil Efusi pleura dextra.

3. Gangguan ginjal : kriteria ini dipenuhi dengan dilakukannya pemeriksaan USG

abdomen ditemukan hasil: Inflamasi kronis ren dextra disertai mild hydronefrosis

38
dextra dan inflamasi akut ren sinistra disertai mild hydronefrosis sinistra. Hal ini

jelas menunjukkan adanya gangguan ginjal pada pasien.

4. Kelainan Darah : hasil pada pemeriksaan darah pada pasien ini didapatkan

abnormalitas dimana nilai Hb yang selalu rendah sejak awal datang yaitu Hb = 6,8

g/dl dengan MCV 26,7 dan MCHC 33,8 sehingga pasien dapat dikatakan

menderita anemia normositik normokromik yang sering terjadi pada penderita

SLE. Pada kasus ini belum di uji pemeriksaan Coomb’s test sehingga belum bisa

dikatakan anemia hemolitik.

5. Arthritis: pada anamnesa diketahui sejak 4 bulan sebelum masuk rumah sakit,

pasien mengeluhkan nyeri sendi pada seluruh sendi di tubuhnya dan terjadi

pembengkakan di seluruh tubuhnya termasuk persendian perifer sehingga pasien

dapat dikatakan menderita arthritis.

6. Test ANA

Pada pemeriksaan test ANA yang dilakukan pada tanggal 5 Juni 2017,

didapatkan hasil ANA positif dengan titer > 1/1000.

Dari tabel tersebut, jika ditemukan 4 atau lebih kriteria, maka diagnosis

SLE mempunyai spesifisitas 95% dapat ditegakkan. Sedangkan pada kasus in

ditemukan 5 kriteria diagnosis SLE dengan hasil tes ANA yang positif sehingga

pasien ini dapat disimpulkan pasien di diagnosa dengan SLE7

Selama sakit, sebagian besar pasiendengan SLE menunjukkan gejala pada

paru-paru, pembuluh darah, pleura dan atau diafragma. Radang pleura, batuk, dan

atau dyspnoe sering menjadi petunjuk pertama adanya manifestasi di paru atau

adanya SLE itu sendiri. Pada beberapa kasus, tes fungsi paru yang abnormal,

39
termasuk diffusing capacity for carbon monoxide (DLCO) dan atau foto thorax

yang abnormal bisa terlihatpada pasien yang asimtomatis. Abnormalitas paru

tidak ada hubungannya dengan derajat imunitas.9

Pada pasien juga ditemukan efusi pleura dapat terlihat dari gejala sesak

nafas pada pasien serta dari pemeriksaan fisik didapatkan suara nafas yang

menjauh pada bagian basal paru serta didukung dengan pemeriksaan foto thoraks

adanya efusi pleura dextra. Peradangan pada paru dan pleura biasanya

menyebabkan pleuritis, efusi pleura, lupus pneumoni, chronic diffuse interstitial

lungdisease, hipertensi pulmonal, emboli paru, dan perdarahan paru.10

Tujuan penatalaksaan LES adalah untuk mengurangi gejala dan melindungi

organ. Pasien LES dengan keterlibatan organ biasanya diberikan kortikosteroid

untuk menekan inflamasi sehingga tidak terdapat kerusakan organ lebih lanjut.

Kortikosteroid lebih baik dari NSAID dalam mengurangkan peradangan terutama

jika melibatkan organ dalam. Kortikosteroid dapat diberikan peroral, injeksi

langsung ke persendian atau intravena. Pada pasien diberikan kortokosteroid dosis

Inj. Metilprednisolone 125 mg 2x1 Pada pasien diberikan Paracetamol 4x500mg

bertujuan sebagai analgesik secara spesifik untuk nyeri pada pasien. Penggunaan

kortikosteroid dosis tinggi menyebabkan perlunya monitoring pasien karena efek

samping yang ditimbulkan akibat penggunaan obat ini. Pasien perlu dilakukan KIE

agar melindungi diri dari paparan sinar matahari dan menghindari aktivitas kerja yang

berat.3

Diuretik kuat diindikasikan untuk edema, hiperkalsemia akut, hiperkalemia,

GGA, dan hipertensi. Diuretik kuat terabsorpsi cepat, tereliminasi melalui ginjal

dengan filtrasi glomerular dan sekresi tubular. Diuretik kuat selektif menghambat

40
reabsorpsi NaCl di thick ascending limb (TAL) dan menginduksi sintesis

prostaglandin renal sehingga terjadi vasodilatasi pada arteriola aferen (pembuluh

darah yang masuk ke glomerulus. Pasien ini memiliki keluhan edema seluruh tubuh

dengan hipertensi, sehingga diberikan obat diuretik berupa loop diuretik yaitu Inj.

Furosemide 3x40mg.10

Pada penderita hipertensi dengan usia >18 tahun dengan penyakit ginjal

kronik, terapi antihipertensi awal (atau tambahan) sebaiknya mencakup ACE

Inhibitor atau ARB untuk meninngkatkan outcome ginjal. Hal ini berlaku untuk

semua pasien penyakit ginjal kronik dengan hipertensi terlepas dari ras atau status

diabetes. Pada pasien ini, ditemukan hipertensi stage II dengan inflamasi kronik

pada ginjal sehingga diberikan obat oral ARB berupa candesartan dengan dosis

minimal yaitu 8mg 1x1.11

41