TEORI-TEORI DAN PARADIGMA PEMBANGUNAN: KLASIK DAN NEO-KLASIK

Secara umum disepakati bahwa pembangunan adalah suatu proses perubahan yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan manusia yang meliputi perbaikan tingkat hidup, kesehatan, pendidikan, serta keadilan. Karena tumpuan dari proses perubahan tersebut adalah bidang ekonomi, maka definisi dari pembangunan sering terfokus kepada definisi pembangunan ekonomi, yaitu: (1) pemenuhan kesejahteraan individu yang sering diukur dalam bentuk pendapatan per kapita, (2) pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup secara umum, dan (3) pemenuhan akan adanya harga diri (self-esteem dan self-respect). (Goulet, 1971; Pearce and Warford, 1993). Praktek-praktek perencanaan pembangunan sangat dipengaruhi oleh cara pandang, mazhab atau paradigma pembangunan yang dianut oleh para elit dari masing-masing negara. Teori atau paradigma tersebut dapat diklasifikasikan dan dirangkum sebagai berikut: KLASIK Teori Pembangunan Klasik. Teori Pembangunan Klasik memiliki tiga aliran, yaitu aliran-aliran Emile Durkheim, Max Weber, dan Karl Marx. 1. Aliran Durkheim. Menurut Durkheim pembangunan adalah proses perubahan masyarakat dalam dimensi kuantitatif dan kualitatif, yaitu adanya perubahan orientasi masyarakat dari berfikir tradisional menjadi modern. Karena itu akan terjadi perubahan tata nilai masyarakat dari yang berbasiskan solidaritas mekanik menjadi solidaritas organik. Indikator yang bisa dilihat adalah tumbuh dan berkembangnya organisasi-organisasi sosial ekonomi modern. Implikasi dari konsep pembangunan ini, masyarakat berkembang secara bertahap sebagai berikut: ‡ Tahap Pra Industri: pada tahap ini hubungan sosial yang berkembang pada umumnya hanya terjadi dalam kelompok masyarakat (isolasi fungsional); ‡ Tahap Industrialisasi: sebagai akibat dari proses industrialisasi maka terjadi perembesan (spill over) struktur budaya modern dari pusat yang berada di kota ke daerah pinggiran yang berada di pedesaan; ‡ Tahap Perkembangan: pusat secara terus menerus menyebarkan modernisasi sehingga tercapai keseimbangan hubungan fungsional antara pusat dan pinggiran. 2. Aliran Weber. Weber berpendapat bahwa pembangunan adalah perubahan orientasi masyarakat dari tradisionalirasional menuju modern-rasional. Indikatornya adalah munculnya birokratisasi dalam setiap unsur kehidupan yang dicapai melalui distribusi kekuasaan serta munculnya budaya oposisi di wilayah pinggiran sebagai respon terhadap dominasi pusat yang berkepanjangan. 3. Aliran Marx.

Esensi dari teori ini adalah pembangunan akan mewujudkan masyarakat tanpa kelas (classless society) dan materialisme sebagai hirarkinya. Model ini menyatakan bahwa peningkatan tabungan dan investasi perlu tetapi tidak harus cukup (necessary but not sufficient condition) untuk memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi. dengan ciri-ciri di perkotaan. produktivitasnya tinggi.Sedangkan menurut Karl Marx. yang secara bertahap akan merubah kehidupan masyarakat. (2) masyarakat feodal. yaitu pergeseran dari produksi barang pertanian ke produksi barang industri pada saat pendapatan per kapita meningkat. bahkan keduanya cendrung menguat untuk menjadi kekal. NEO-KLASIK 1. subsisten. diperlukan pula himpunan perubahan yang saling berkaitan dalam struktur perekonomian suatu negara untuk terselenggaranya perubahan dari sistem . Model ini dikembangkan oleh Hollis Chenery yang menyarankan adanya perubahan struktur produksi. pembangunan adalah perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat konflik sosial antar kelas. (3) masyarakat kapitalis. industri. ‡ Ko-eksistensi superior dan inferior bukan sesuatu yang bersifat transisional tetapi sesuatu yang bersifar kronis. yaitu Model Pembangunan Lewis dan Model Perubahan Struktur dan Pola Pembangunan. dan (5) masyarakat komunis. Teori Perubahan Struktural ini mempunyai dua model. Tesis Pembangunan Dualistik. yang dimungkinkan dengan adanya perluasan lapangan kerja di Sektor Modern. kelebihan tenaga kerja dan produktivitas marjinalnya sama dengan nol. a. yaitu adanya masyarakat yang kaya (superior) dan adanya masyarakat yang miskin (inferior). Model Pembangunan Lewis. Model Perubahan Struktur dan Pola Pembangunan Hollis Chenery . perekonomian dianggap terdiri dari dua sektor: (1) Sektor Tradisional. dengan ciri-ciri di pedesaan. b. Tesis ini berlandaskan fenomena eksistensi ganda. sebagai tempat penampungan tenaga kerja yang ditranfer sedikit demi sedikit dari Sektor Tradisional. (4) masyarakat sosialis. ‡ Superioritas dan inferioritas tidak menunjukan tanda-tanda melemah. Berdasarkan teori Marx. 2. Tesis ini memeiliki empat syarat: ‡ Dualisme merupakan prasyarat yang memungkinkan pihak yang superior dan inferior hidup berdampingan pada suatu tempat dan waktu yang sama. Pola ini juga menyaratkan bahwa selain akumulasi modal fisik dan manusia. Model ini memfokuskan pada terjadinya proses pengalihan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi serta kesempatan kerja di Sektor Modern. ‡ Saling keterkaitan antara unsur superioritas dan unsur inferioritas sehingga keberadaan unsur superioritas sedikit atau sama sekali tidak meningkatkan unsur inferioritas. masyarakat terbagi atas: (1) masyarakat primitif. Dalam Model Pembangunan Lewis. Teori Perubahan Struktural. (2) Sektor Modern.

Harrod-Domar mengemukakan bahwa Pertumbuhan Pendapatan Nasional Kotor (Gross National Product/GNP) secara langsung bertalian erat dengan rasio tabungan. industri. dan perdaganganya sehingga mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. yaitu Model Ketergantungan Kolonial dan Model Paradigma Palsu. a. Praktek dan kondisi tersebut menggoda . pertumbuhan dan distribusi penduduk. Prasyarat penting lainnya adalah harus ada mobilisasi tabungan dengan maksud untuk menciptakan investasi yang cukup untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. 3. perdagangan internasional serta perubahan-perubahan sosial-ekonomi seperti urbanisasi. Teori Revolusi Ketergantungan Internasional. Perubahan struktur ini melibatkan seluruh fungsi ekonomi termasuk tranformasi produksi dan perubahan dalam komposisi permintaan konsumen. Teori Ketergantungan ini muncul sebagai antitesi terhadap Teori Modernisasi dan merupakan variasi dari teori yang dikembangkan oleh Karl Marx (Marxian). yaitu lebih banyak bagian GNP yang ditabung dan diinvestasikan maka akan lebih besar lagi pertumbuhan GNP tersebut. Negara-negara Dunia Ketiga telah terjebak dalam hubungan ketergantungan dan dominasi oleh negara-negara kaya. Teori Tahapan Linear (Tahapan Pertumbuhan Ekonomi Rostow). teori dan model-model ketergantungan internasional kian mendapat dukungan di Dunia Ketiga. Dari model yang dikemukakan oleh Harrod-Domar tersebut Rostow menyimpulkan bahwa negara-negara yang dapat menabung 10-20% dari GNP-nya dapat tumbuh dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dibanding dengan negara-negara yang tabungannya kurang dari kisaran tersebut. Model Ketergantungan Kolonial. perubahan dari terbelakang (underdeveloped) menjadi maju (developed) dapat dijelas dalam seri tahapan yang harus dilalui oleh semua negara. Di negara-negara berkembang pembentukan modal relatif rendah sehingga untuk memperoleh pertumbuhan yang diinginkan dibutuhkan pinjaman luar negeri. Teori ini mempunyai dua aliran. 4. Teori ini memadang bahwa negara-negara Dunia Ketiga telah menjadi korban dari berbagai kelakuan kelembagaan politik dan ekonomi internasional maupun domestik. suatu negara harus mampu membangun pertanian. Prasyarat penting untuk dapat tinggal landas. Teori ini menyarankan agar negara-negara sedang berkembang (developing country) tinggal mengikuti saja seperangkat aturan pembangunan tertentu untuk tinggal landas. Ketergantungan itu sendiri berarti berarti situasi di mana ekonomi suatu negara dikondisikan oleh perkembangan dan ekspansi ekonomi negara lain dan ekonomi negara tersebut tunduk padanya. harus dilalui suatu tahap yang disebut tahap tinggal landas (take off). Pada dasawarsa 1970-an. Menurut Rostow. sehingga pada gilirannya akan berkembang menjadi negara maju.ekonomi tradisional ke sistem ekonomi modern. Secara sengaja negara-negara kaya mengeksploitasi dan menelantarkan ko-eksistensi negaranegara miskin negara miskin dalam sistem internasional yang didominasi oleh hubungan kekuasaan yang sangat tidak seimbang antara pusat atau centre (negara-negara maju) dan pinggiran atau periphery (negara-negara berkembang). Sebelum suatu negara berkembang menjadi negara maju.

M. Teori ini menegaskan bahwa keterbelakangan negara-negara berkembang bersumber dari buruknya alokasi sumberdaya yang bertumpu pada kebijakan-kebijakan harga yang tidak tepat dan campur tangan pemerintah yang berlebihan. Economics. Teori ini muncul pada dasawarsa 1980-an yang berhaluan konservatif yaitu politik yang dianut Amerika. Kepentingannya. Environment and Sustainable Development. Foutrh Edition. and J. (1989) Economic Development in the Third World. 5. dan Jerman Barat. militer) yang menikmati penghasilan tinggi. Teori Kontra-Revolusi Neoklasik. dan kekuasaan politik merupakan kaum elit dalam masyarakat.P. Model Paradigma Palsu.negara-negara miskin untuk mandiri dan bebas dalam upaya-upaya pembangunan mereka yang sulit dan bahkan kadang-kadang serba tidak mungkin. Wardford (1993) World Without End. Longman Group Limited.W. status sosial. pejabat. Keterbelakangan negara-negara Dunia Ketiga disebabkan oleh kesalahan atau ketidaktepatan nasihat/saran yang diberikan oleh para penasihat dan para pakar internasional dari lembagalembaga bantuan negara maju dan donor-donor multinasional. Teori ini menyerukan agar diadakan swastanisasi perusahaan-perusahaan milik pemerintah di negara-negara maju serta munculnya himbauan untuk meninggalkan campur tangan pemerintah dalam perekonomian serta deregulasi di negaranegara berkembang. pengusaha. REFERENSI: Pearce. Inggeris.J. Oxford University Press. Kelompok-kelompok tertentu di negara-negara sedang berkembang (tuan tanah. Nasihat atau saran tersebut mungkin bermaksud baik tapi sering tidak mempunyai informasi yang cukup tentang negara yang akan dibantu terutama negara-negara sedang berkembang. PARADIGMA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE DEVELOPMENT PARADIGM) LATAR BELAKANG Hingga dekade 1980-an teori dan praktek pembangunan sangat didominasi oleh paradigma NeoKlasik yang mengejar pertumbuhan ekonomi (economic groth) yang dikotomis. karena di satu . sengaja atau tidak sengaja melestarikan ketidakmerataan dan eksploitasi ekonomi oleh negara-negara maju terhadap negara-negara miskin karena secara langsung atau tidak langsung mereka mengabdi kepada kekuasaan kapitalis internasional. b. Kanada. D. TODARO.

Itupun hanya mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tidak lebih dari 7 persen dan sulit dipertahankan. Dampak dari penerapan filosofi tersebut telah menimbulkan kemiskinan yang merajalela. Perubahan persepsi tersebut dikenal dengan istilah Sustainable Development atau Pembangunan Berkelanjutan. Sejak tahun 1987 beberapa definisi dari Pembangunan Berkelanjutan disepakati dan penerapan teori dan prinsipnya pun ditetapkan. Empat puluh tahun terakhir Indonesia menganut paradigma pembangunan yang tipikal mengeksploitasi sumberdaya alam dengan segala dampak negatifnya terhadap lingkungan. LAHIRNYA PARADIGMA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Sampai dengan dekade 1980-an perencanaan dan strategi pembangunan masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi (economic growth). Tapi semua definisi berfokus pada bagaimana agar perekonomian dapat tetap berlanjut dalam jangka panjang. sosial. Pengalaman hingga tahun 1980-an memperlihatkan bahwa hambatan pertumbuhan ekonomi terjadi apabila faktor sumberdaya alam dan lingkungan tidak dikelola dengan baik. Filosofi tersebut telah melahirkan berbagai ekses terhadap lingkungan. rusaknya ekosistem. Kemudian kenyataan empirik membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi sesungguhnya bersifat semu bahkan dalam jangka panjang menghasilkan kalkulasi yang negatif. KONSEP DAN DEFINISI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Ada berbagai definisi dari Pembangunan Berkelanjutan. baik pada negara-negara sosialis yang menerapkan perencanaan yang terpusat maupun pada negara-negara kapitalis yang menerapkan perencanaan yang liberal. gandrung pada efisiensi teknologi namun di sisi lain susutnya sumberdaya alam dan rusaknya lingkungan tidak diperhitungkan dalam akuntansi pembangunan (Development Accounting Matrix). hutan nyaris bagi Indonesia untuk tidak dapat melanjutkan pembangunan. Karena itu para pakar perencanaan pembangunan yang menganut faham environmentalist mulai memikirkan konsep dan strategi baru dari pembangunan yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi namun konservasi lingkungan tetap terpelihara dengan baik. maupun hak azazi manusia. tenaga kerja. Susutnya sumberdaya alam seperti minyak.). Paradigma baru yang lebih sustainable harus mulai dirintis dan diimplementasikan sehingga mampu menciptakan modus-modus ekonomi baru yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dengan dampak negatif yang seminimal mungkin terhadap destruksi lingkungan. Karena itu mau tidak mau paradigma lama harus mulai ditinggalkan sebelum mencapai titik dead-lock. bahan tambang. Jika ekonomi dan lingkungan dikelola dengan baik maka pertumbuhan ekonomi akan terjadi dalam lingkungan yang terpelihara kelestariannya. Filosofi pertumbuhan ekonomi dilatarbelakangi oleh Teori Neo-Klasik dimana pertumbuhan merupakan fungsi dari modal dan teknologi sedangkan sumberdaya alam sama sekali tidak diperhitungkan karena dianggap pemberian alam yang melimpah.sisi memperhitungkan efisiensi penggunaan modal. Perubahan persepsi di atas dikenal dengan istilah Sustainable Development sebagai babak baru dari teori pembangunan dan sekaligus mengakhiri perdebatan antara pertumbuhan ekonomi dan penyelamatan lingkungan (Ibid. 1993). pencemaran. bahkan ancaman terhadap eksistensi manusia dan kemanusiaan (Pearce and Warford. terutama untuk . Manakala telah sampai pada deplesi sumberdaya alam disertai parahnya destruksi lingkungan pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat bahkan menjadi negatif. budaya.

terutama menggunakan sepenuhnya teknik pertanian organik dan pengetahuan-pengetahuan lokal dan tradisional).human capital. Second.) PENERAPAN TEORI DAN PRINSIP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Secara teoritis prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan pada berbagai sektor pembangunan. it must be sustainable. Definisi lain dari Pembangunan yang berkelanjutan: ³The economic development in a specified area (region. by insuring the conservation and proper use of renewable resources (Pertama. exhaustible resources does not decrease over time´ (Pembangunan ekonomi di suatu daerah tertentu (wilayah. in particular making full use of the techniques of organic farming and indigenous traditional knowledge (Menggunakan sarana produksi yang rendah dan murah. Untuk pembangunan pertanian yang berhasil. · Help for the poorest and disadvantaged: in particular those on marginal land. efficient and stable production (Produksinya tinggi. Bank Dunia (di dalam Conway and Barbier 1990: 23) menyarankan agar tiga kriteria berikut dapat dipenuhi: First. sumberdaya alam. dunia) dikatakan berkelanjutan bila jumlah total sumberdaya . · Low and inexpensive inputs. konsep dan definisi dari pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture) antara lain dijabarkan oleh Conway dan Barbier (1990: 10) sebagai pertanian yang: · High. barang modal yang dapat diproduksi kembali. . sumberdaya yang habis pakai tidak berkurang dari waktu ke waktu) (Ibid. dengan menjamin pelestarian dan penggunaan yang wajar dari sumberdaya yang terbarukan). sejak tahun 1987 memberikan deskripsi dari Pembangunan Berkelanjutan sebagai berikut: ³Sustainable development is development that meets the needs of present generations without compromising the ability of future generations to meet their own needs³ (Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka). the globe) is sustainable if the total stock of resources . Untuk kasus pembangunan pertanian. · Preservation of traditional values and the small family farm (Melestarikan nilai-nilai tradisional dan pertanian keluarga berskala kecil). nation. the landless. · Conservation of wildlife and biological diversity (Melestarikan ³kehidupan liar´ dan keanekaragaman hayati). physical reproducible capital. it must promote economic efficiency (Kedua. environmental resources. harus meningkatkan efisiensi ekonomi).tenaga kerja. World Commission on Environment and Development (WECD). efisien dan stabil).memberi kesempatan pada generasi yang akan datang memperoleh kehidupan yang lebih baik. Third. · Food security and self-sufficiency (³Keamanan pangan´ dan swasembada pangan). harus berkelanjutan. Sebagai contoh diambil pada Sektor Pertanian. its benefits must be distributed equitably (Manfaatnya harus terdistribusi secara merata). negara.

kaum perempuan. Perspektif jangka panjang merupakan visi dari pembangunan berkelanjutan sedangkan saat ini visi jangka pendek masih mendominasi dalam pengambilan keputusan. Karena itu strategi dan perencanaan pembangunan harus dilandasi premis seperti: distribusi penguasaan lahan. Penerapan Konsep. Pembangunan berkelanjutan mesyaratkan dilaksanakan penilaian yang berbeda dengan asumsi normal dalam prosedur pengenaan disconting. 1993): Pemerataan dan Keadilan (Equity and Justice). 1992. dan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources). Pemerataan dan Keadilan di sini menyangkut dimensi etika. Pembangunan berkelanjutan mengutamakan keterkaitan antara manusia dengan alam. Keberlanjutan Ekologis (Ecological Sustainability). Menjamin kemajuan ekonomi secara berkelanjutan dan mendorong efisiensi ekonomi. pemerataan peran dan kesempatan kaum wanita. Keberlanjutan masa depan hanya dimungkinkan bila pengertian tentang kompleknya keterkaitan antara sistem alam dan sosial dapat difahami dan cara-cara yang integratif (terpadu) diterapkan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Tiga unsur utama untuk mencapai keberlanjutan ekonomi makro yaitu efisiensi ekonomi. · A high level of participation in development decision by the farmers themselves (Partisipasi yang tinggi dari para petani sendiri dalam proses pengambilan keputusan-keputusan pembangunan). Keberlanjutan ekologis menjamin keberlanjutan eksistensi bumi. . Pearce and Warford. buruh tani. Pendekatan Integratif (Integrative Approach). dan lain sebagainya. Perspektif Jangka Panjang (Long Term Perspctive). Manusia mempengaruhi alam dengan cara-cara yang bermanfaat atau merusak.women. yakni adanya kesenjangan antara negara ataupun daerah yang kaya dan miskin serta masa depan generasi mendatang yang tidak dapat dikompromikan dengan kegiatan generasi masa kini. kelompok marjinal. Keberlanjutan Ekonomi (Economic Sustainability). anak-anak dan kaum suku minoritas). Prinsip dan Tujuan Pembangunan Bekelanjutan dalam Perencanaan Pembangunan secara luas dapat dilakukan dengan menetapkan kaidah-kaidahnya (Djajadiningrat. daya asimilasi. children and tribal minorities (Menolong kaum termiskin dan terpojokan: terutama petani yang berlahan sempit. Karena itu aspek Pemerataan dan Keadilan ini harus dijawab baik untuk generasi masa kini maupun untuk generasi mendatang. distribusi faktor-faktor produksi. Untuk menjamin keberlanjutan ekologis integritas tatanan lingkungan harus dipelihara melalui upaya-upaya peningkatan daya dukung.

Keberlanjutan segi sosial budaya mempunyai sasaran: stabilitas penduduk. analisa biaya lingkungan (environmental cost analysis). serta mendorong partisipasi masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan. proyek-proyek pembangunan tersebut dikatakan tidak berkelanjutan. dan peningkatan kualitas hidup seluruh manusia. tingkat pengangguran yang tinggi dan meningkat terus serta kekurangan pekerjaan. sangat tergantung pada produksi pertanian dan barang ekspor primer. Keberlanjutan politik dicirikan dengan adanya penghormatan terhadap hak azazi manusia. Keberlanjutan Sosial Budaya (Social . Secara menyeluruh keberlanjutan sosial dan budaya dinyatakan dalam keadilan sosial. harga diri manusia. TODARO (1989) mengemukakan beberapa ciri umum Negara-negara Berkembang (Developing Countries) yang umumnya masih memiliki standar hidup yang rendah dibandingkan dengan Negara-negara Maju (Developed Countries). tingkat pertumbuhan penduduk dan beban ketergantungan yang tinggi. air dan pemukiman. keberlangsungan negara dan bangsa. identitas.Cultural Sustainability). Keberlanjutan Pertahanan dan Keamanan (Defense and Security Sustainability). ancaman. Keberlanjutan kemampuan menghadapi dan mengatasi tantangan. dan analisa biaya sosial (sosial cost analysis). Keberlanjutan Politik (Political Sustainability). ganguan baik dari dalam maupun dari luar yang langsung dan tidak langsung dapat membahayakan integritas. serta meningkatkan kemakmuran dan distribusi kemakmuran. bahwa manfaat atau benefit lebih besar dari cost (economic cost + environmental cost + sosial cost). demokrasi. pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Sesuai dengan teknik dan jenis perencanaannya. INDIKATOR PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Untuk mengetahui keberhasilan rencana pembangunan dan implementasinya perlu dilakukan evaluasi. baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Implementasi dari kedelapan kaidah di atas sejauh ini dapat dikelompokan ke dalam tiga kelompok analisa. ketergantungan dan kepekaan yang besar dalam hubungan internasional. memelihara keanekaragaman budaya. evaluasi sektoral (sectoral evaluation) ataupun dengan pendekatan makro seperti evaluasi komprehensif (comprehensive evaluation). atau bila sebaliknya. produktivitas yang rendah. evaluasi dapat dilakukan dengan pendekatan mikro seperti evaluasi proyek (project evaluation). Ciri-ciri tersebut adalah: standar hidup yang rendah.kesejahteraan ekonomi yang berkesinambungan. Suatu perencanaan proyek-proyek pembangunan yang dikatakan berkelanjutan (sustainable) harus dibuktikan dengan analisa. yaitu analisa biaya ekonomi (economic cost analysis). Ciri-ciri di atas sekaligus dapat diturunkan menjadi indikator keberhasilan pembangunan dari . serta kepastian kesediaan pangan. Selanjutnya dalam mengevaluasi perlu ditetapkan indikator-indikator yang tepat. dominasi.

3. Bagi Negara-negara Berkembang yang umumnya pendapatannya hanya berasal dari dalam negeri (domestic) GNP lebih dikenal dengan istilah Gross Domestic Product (GDP) atau Pendapatan Domestik Bruto (PDB). 10.3% per tahun antara tahun 1965 sampai 1985. Distribusi Pendapatan Nasional. menurut sistem klasifikasi PBB. Dengan kata lain. Pertumbuhan Penduduk. 6. Kemiskinan. Pendapatan Rata-rata per Kapita diukur dari GDP pada tahun tertentu dibagi Jumlah Penduduk pada tahun yang sama: GDPt/JPt biasanya dikalkulasi dalam Dollar Amerika Serikat (US $). Pendapatan Nasional Bruto per Kapita sering digunakan sebagai tolok ukur tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk di suatu negara. yaitu: 1. Sebagai contoh. atau 20 tahun sesuai dengan kebutuhan analisa. 8. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi diukur dengan prosentase peningkatan GNP atau GDP dari tahun ke tahun: (GDPt ± GDPt-1)/GDPt x 100%. Pendapatan Rata-rata per Kapita. Pendapatan Nasional. Sedangkan pada negara-negara yang tergolong ³berkembang´ (developing) mempunyai rata-rata pertumbuhan GNP sebesar 3. 4. 2. Pertumbuhan Ekonomi. Kesehatan Masyarakat. Sering pula diukur dalam bentuk rata-rata per periode tertentu misalnya per 5 tahun. 9. Pendidikan Masyarakat. 5. negara-negara yang tergolong ³paling tidak berkembang´ (underdeveloped) hanya mempunyai rata-rata pertumbuhan GNP minus 0. belum bisa menunjukan tingkat pemerataan kesejahteraan ekonomi yang sesungguhnya. Pendapatan per Kapita. Pendapatan Nasional Bruto (Gross National Product/GNP) suatu negara adalah hasil dari aktivitas perekonomian secara keseluruhan dari negara tersebut. pada suatu negara yang Pendapatan Rata-rata per Kapita-nya tinggi mungkin saja sebagian besar rakyatnya masih hidup dalam kemiskinan. Pertumbuhan Ekonomi. Pendapatan Nasional. Distribusi Pendapatan Nasional. 10 tahun. Pengangguran dan Setengah Menganggur.7% per tahun pada periode yang sama. Produktivitas Masyarakat.Negara-negara Berkembang tersebut. . Konsep pendapatan ini dapat diturunkan ke tingkat regional menjadi pendapatan regional bahkan sampai ke tingkat lokal seperti misalnya Pendapatan Asli Daerah (PAD). 7. Ukuran ini baru menunjukan potensi tingkat kesejahteraan ekonomi secara umum.

Koefisien Gini pada negara-negara yang dikenal begitu tajam ketimpangan kesejahteraan di kalangan penduduknya berkisar antara 0. serta berubah dari waktu ke waktu. Tingkat kesehatan masyarakat dapat terukur dari ³Harapan Hidup Rata-rata´(Life Expectancy Rate) dan ³Tingkat Kematian Bayi Rata-rata´ (Infant Mortality Rate) yaitu jumlah bayi yang mati sebelum usia 1 tahun setiap 1000 kelahiran. Itu berarti seseorang yang konsumsinya kurang dari US $ 125. Koefisien Gini berkisar antara 0. Distribusi pendapatan sering diukur dengan membagi penduduk menjadi 5 atau 10 kelompok (quintiles atau deciles) sesuai dengan tingkat pendapatannya.-/orang/tahun (atas dasar harga konstan 1980). Angka Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) di atas akan berbeda dari satu negara ke negara lainnya.50 hingga 0. kesejahteraan) agregat (keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). bahkan dari satu daerah ke daerah lainnya. Cara lain yang lazim digunakan untuk melihat distribusi pendapatan adalah dengan menggunakan Kurva Lorenz. yaitu: ³tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum terhadap makanan. Kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok pendapatan. Pendidikan Masyarakat. Harapan Hidup Rata-rata di negara-negara paling terbelakang di dunia pada tahun 1988 misalnya hanya mencapai 49 tahun.20 sampai 0.35. Koefisien Gini adalah ukuran ketidakseimbangan/ketimpangan (pendapatan. Dalam prakteknya. Tingkat kemiskinan diukur dengan menentukan konsep ³Kemiskinan Absolut´ (Absolute Poverty) atau ³Garis Kemiskinan´ (Poverty Line). Sedangkan Tingkat Kematian Bayi Rata-rata mencapai 124 di negara-negara yang terbelakang dibanding 96 di negara-negara berkembang dan 15 di negara-negara maju. . Semakin besar cekungan kurva semakin tinggi tingkat ketidakmerataan. pakaian dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup´. Besarkecilnya prosentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan/berada dalam kemiskinan absolut menunjukan tingkat kesejahteraan ekonomi rakyat dari suatu negara.. Kemiskinan. Selanjutnya ukuran distribusi pendapatan dapat diukur dengan ³Rasio Konsentrasi Gini´ (Gini Consentration Ratio) atau lebih sederhana disebut dengan Koefisien Gini.per tahun dapat digolongkan berada di bawah garis kemiskinan atau berada dalam kemiskinan absolut.Untuk lebih memperoleh gambaran yang sesungguhnya tentang pemerataan kesejahteraan ekonomi perlu diketahui distribusi pendapatan. dibanding dengan 57 tahun di negara-negara Dunia Ketiga dan 73 tahun di negara-negara maju.70. Pernah ditetapkan ³Garis Kemiskinan Internasional´ sebesar US $ 125. Kesehatan Masyarakat. Sedangkan untuk negara-negara yang distribusi pendapatannya dikenal paling merata.

meliputi juga mereka yang berkerja secara normal dengan waktu penuh tapi produktivitasnya rendah.Salah satu indikator penting untuk mengukur tingkat pendidikan masyarakat adalah ³Tingkat Melek Huruf´ (Literacy) atau sebaliknya ³Tingkat Buta Huruf´ (Iliteracy). . daya kreasi. Tingkat pengangguran terbuka di Dunia Ketiga saat ini kira-kira 10% hingga 15% dari angkatan kerja perkotaan. Pertumbuhan Penduduk (Population Growth) dihitung dari ³Tingkat Kelahiran´ (Birth Rate) dikurangi ³Tingkat Kematian´ (Mortality Rate). sedangkan di negara-negara maju hanya kurang dari setengahnya. tingkat kematian juga menjadi relatif rendah. Pendapatan yang diukur dari Produk Domestik Bruto. Tingkat kelahiran di negara-negara berkembang pada umumnya sangat tinggi yaitu berkisar antara 30-40 setiap 1000 penduduk per tahun. Karena adanya usahausaha perbaikan kesehatan di negara-negara berkembang. Akibatnya ³Rata-rata Pertumbuhan Penduduk´ di negara-negara berkembang menjadi sekitar 2. Produktivitas yang rendah tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh kelesuan fisik dan ketidakmampuan fisik maupun mental untuk menahan tekanan pekerjaan sehari-hari. Sebagai contoh. mingguan. Tingkat produktivitas tenaga kerja di negaranegara sedang berkembang lebih rendah dibanding negara-negara maju. Hal itu meliputi keterampilan. Sedangkan ³Pengangguran Terbuka´ (unemployed) adalah penduduk yang mampu dan ingin berkerja tetapi tidak tersedia lapangan pekerjaan. Panjang Usia yang diukur dari harapan hidup sejak lahir. Produktivitas Masyarakat. Tingkat pengetahuan atau pendidikan yang diukur dari tingkat melek huruf dewasa serta lamanya bersekolah. United Nations Development Program (UNDP) menggunakan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI). Tingkat Pengangguran dan Setengah Menganggur. serta emosi dan ambisi untuk hidup lebih sejahtera. Pada dasarnya produktivitas masyarakat adalah kemampuan individu-individu dalam masyarakat tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya. Konsep produktivitas masyarakat sangatlah kompleks. 2. Sementara itu ³Tingkat Kematian´(jumlah orang yang meninggal setiap 1000 penduduk per tahun) di negara-negara berkembang juga relatif tinggi dibanding dengan negara-negara maju. Untuk mengukur pembangunan manusia dan mutu kehidupan manusia. kemampuan manajerial. di antara negara-negara yang paling terbelakang Tingkat Melek Huruf Rata-rata hanya mencapai 34% dari jumlah penduduk dibanding dengan di negara-negara berkembang dan negara-negara maju yang mencapai masing-masing 65% dan 99%. 3.1% dibandingkan dengan 0. atau musiman). Pengertian dari ³Setengah Menganggur´(underemployment) adalah penduduk kota atau desa yang berkerja di bawah jam kerja normal (harian. HDI mempunyai tiga komponen sebagai berikut: 1.6% di negara-negara maju. Pertumbuhan Penduduk. Angka dari mereka yang setengah menganggur di perkotaan maupun pedesaan diperkirakan jauh lebih besar.

air.2 persen per tahun. Selama periode REPELITA IV kecendrungan perkembangan perekonomian global yang menguntungkan ditambah dengan turunnya harga minyak secara drastis di pasaran internasional memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah penyesuaian (readjustment and reform) di berbagai bidang seraya mencoba menggalakan ekspor non-migas (Department of Information Republic of Indonesia 1991). kayu. Anggaran pembangunan selama REPELITA III meningkat 274 persen. Memasuki awal REPELITA VI agaknya Indonesia tidak berhasil menemukan jalan keluar dalam menghadapi krisis ekonomi global. Hal itu diperberat pula dengan masalah-masalah micro economy yang tidak terselesaikan dan berbagai miss management di dalam bidang pemerintahan. Ini dikarenakan meningkatnya penerimaan negara dari ekspor minyak mentah. Pada periode REPELITA VI pun format keunggulan komparatif (comparative advantages) dari Ekonomi Indonesia belum tampak. Sejalan dengan itu terjadi perkembangan yang memuaskan dalam neraca pembayaran.Sejalan dengan mulai diterapkannya paradigma Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). Sejak PELITA II anggaran pembangunan dapat melampaui budget. B. Akibatnya pemerintah mengalami kesulitan neraca pembayaran dan sangat mengandalkan hutang luar negeri yang sudah sangat spektakuler jumlahnya. mineral per kapita · Pola pertumbuhan penduduk · Laju fertilitas total · Kerapatan penduduk RELEVANSINYA UNTUK INDONESIA Catatan yang perlu dikemukan mengenai Indonesia dengan rangkaian Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA)-nya.H. dikembangkan pula indikator-indikator pembangunan yang memiliki kriteria sebagai berikut (IUCN. Sumbangan dari ekspor minyak dan gas bumi pada nilai ekspor pada periode PELITA III meningkat rata-rata 75. 1993): 1. oil boom yang dimulai tahun 1973 memberikan sumbangan yang sangat menentukan pada Perekonomian Indonesia. Berusaha tidak melampaui daya dukung ekosistem: · Konsumsi pangan. Hal itu diindikasikan dengan tidak mampu bersaingnya harga-harga sebagian besar produk pertanian maupun industri Indonesia di pasaran internasional. Habibie dan K. Akhirnya semuanya bermuara pula pada krisis politik sehingga Suharto.J. UNEP dan WWF. Melestarikan sistem-sistem pendukung kehidupan dan keanekaragaman hayati: · Kemajuan dalam pencegahan pencemaran · Kemajuan dalam memulihkan dan memepertahankan integritas ekosistem · Kemajuan dalam mengembangkan sistem daerah suaka yang komprehensif · Kemajuan dalam memulihkan dan mempertahankan spesies dan sediaan genetik 2. Menjamin keberlanjutan penggunaan sumberdaya yang dapat diperbarui dan meminimkan penipisan sumberdaya yang tak dapat diperbarui: · Status atau kondisi sumberdaya suatu sektor · Status atau kondisi infrasruktur ekologi suatu sektor · Kesesuaian dan pertentangan antara suatu sektor dengan keberlanjutan sektor-sektor lainnya 3. Abdurahman Wahid harus turun dari .

Gejala dan ekses di atas tidak lepas dari paradigma pembangunan yang diyakini sejak awal. Directorate of Foreign Information Services. Foutrh Edition. Washington D. W. Todaro. Conway.T. TEORI DAN PARADIGMA PEMBANGUNAN: ANALISA KRITIS TERHADAP MODEL PEMBANGUNAN DI INDONESIA 1947-1995 . (1971) The Stage of Economic Growth. Earthscan Publication Ltd. (1989) Economic Development in the Third World. yaitu fikiran Rostow (1971) dengan teori The Stage of Economic Growth-nya yang merupakan salah satu turunan dari teori Neo-Klasik. REFERENSI: Anonim (1990) The Interparliamentary Conference on the Global Environment. Barbier (1990) After the Green Revolution: Sustainable Agriculture for Development. Arief. G. Djajadiningrat. Kuala Lumpur. UNEP dan WWF (1993) Bumi. Meta. Rostow. Department of Information. S.W. Department of Information Republic of Indonesia (1991) Indonesia 1991: An Official Handbook. Longman Group Limited.C. and J. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. (1992) Konsep Pembangunan Berkelanjutan dalam Membangun Tanpa Merusak Lingkungan. Cambridge University Press.kursi kepresidenan hanya dalam kurun 1998-2001.W. Wardford (1993) World Without End. Environment and Sustainable Development. 1990. Karena itu dalam suasana yang terjepit seperti di atas harus dicari jalan ketiga (the third way) dan paradigma Sustainable Development dapat memenuhi jawaban dari permasalahannya: pertumbuhan ekonomi yang disyarati dengan konservasi alam tanpa terikat dengan pola ketergantungan. Jakarta. Sritua and Adi Sasono (1980) Indonesia: Dependency and Underdevelopment.J. Wahana Strategi Menuju Kehidupan yang Berkelanjutan. London.R. Pearce. IUCN. and E. Agaknya memang tidak mudah keluar dari kungkungan paradigma tersebut bahkan nyaris terikat dalam pola ketergantungan seperti diterangkan oleh Arief dan Sasono (1980). M.P. April 29-May 2. Economics. D. Oxford University Press.B. PT Gramedia Pustaka Utama.

Teori Perubahan Struktural. PEMBANGUNAN DI INDONESIA 1947 . hashab atau paradigma pembangunan yang dianut oleh para elit pada masing-masing negara. Selanjutnya berkembang pula teori-teori turunan seperti Tesis Pembangunan Dualistik. berbagai upaya perencanaan pembangunan telah dilakukan di Indonesia. Panitia ini menghasilkan rencana sementara berjudul ³Dasar Pokok Dari Pada Plan Mengatur Ekonomi Indonesia´. Kasimo dirumuskan ³Plan Produksi Tiga Tahun RI´. yaitu (Tjokroamidjoyo 1982): · Pada tanggal 12 April 1947 dibentuk Panitia Pemikir Siasat Ekonomi yang diketuai oleh Mohammad Hatta. dan yang terakhir Paradigma Pembangunan Berkelanjutan. kebutuhan pendidikan. Tapi karena clash I dan II dengan penjajah rencana ini juga tidak sempat dilaksanakan.LATAR BELAKANG Pembangunan secara umum diartikan sebagai pemenuhan kesejahteraan individu yang meliputi pendapatan per kapita. kualitas hidup termasuk kebutuhan akan adanya harga diri.J. Namun pelaksanaannya tertunda hingga tahun 1958 dan pada tahun 1959 sudah diganti dengan rencana . Hal yang perlu dicatat. Namun ada satu ciri yang khas. tidak satu pun Negara Sedang Berkembang bisa menyelesaikan masalah pembangunannya dengan hanya mengadapsi satu teori secara bulat dan utuh. Karena teori-teori pembangunan yang ada berkembang secara local spesific sehingga tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada situasi yang berbeda. Teori Kontra Revolusi Neoklasik. Rencana-rencana ini tidak berjalan dengan baik. Namun tidak satupun dari rencana-rencana tersebut mencapai tahap yang matang dan membuahkan hasil yang memuaskan. · Pada bulan Juli tahun 1947 itu juga. Negara-negara Sedang Berkembang (Developing Countries) banyak bereksperimentasi dengan campuran dari teori-teori di atas mulai dari yang sentralistik sampai kepada yang liberal tergantung faham idiologi yang di anut. · Selanjutnya ada pula yang dinamakan ³Rencana Pembangunan Lima Tahun 1956-1960´ yang disusun oleh Biro Perancang Negara yang diprakarsai oleh Sumitro Djojohadikusumo. · Kemudian disusun ³Rencana Kesejahteraan Istimewa 1950-1951´ (untuk bidang pertanian pangan) yang disusul dengan ³Rencana Urgensi Untuk Perkembangan Industri 1951-1952´ di bawah pimpinan Sumitro Djojohadikusumo. Teori Revolusi Ketergantungan Internasional.1965 Sejak kemerdekaan hingga tahun 1960-an. Tapi rencana tersebut tidak sempat dilaksanakan karena perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan. selalu dihadapkan kepada keadaan dead lock baik di masa Orde Lama maupun di masa Orde Baru. kesehatan. di bawah pimpinan I. Dalam prakteknya perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan sangat dipengaruhi oleh cara pandang. Paradigma yang berkembang dimulai dengan Teori Pembangunan Klasik yang terpecah menjadi berbagai aliran dan menurunkan faham-faham kapitalisme dan sosialisme. yaitu menerapkan teori-teori yang liberal namun dalam situasi yang sangat sentralistik dan peranan pemerintah sangat dominan. Sejak kemerdekaan tahun 1945 pembangunan di Indonesia sendiri dapat dikatakan telah berganti-ganti faham. Teori Tahapan Linear. Namun karena situasi local spesific tidak terlalu dikenali dan didalami.

Pemerintah meneruskan proses pembangunan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) dengan tiga tujuan utama (Trilogi Pembangunan) yaitu Stabilisasi. pakaian. Demikian juga dengan anggaran pembangunan untuk bidang industri dan pertambangan. dan rehabilitasi basis-basis ekonomi yang produktif. Pemerintahan Suharto menetapkan prioritas pada stabilisasi ekonomi.) Juga perlu dicatat bahwa pembangunan pertanian dan pedesaan menjadi titik tolak pembangunan dengan tujuan ganda. Rencana ini tidak pernah terselenggara dengan baik dan tidak mampu menolong parahnya situasi ekonomi. Sementara itu prioritas pembangunan ditujukan pada Sektor Pertanian untuk mencapai swasembada pangan serta industri pengolahan bahan baku menjadi barang jadi. dan bantuan (pinjaman) luar negeri dicari secara aktif. menjaga pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. perbaikan keuangan pemerintah. terutama penurunan tingkat inflasi yang telah mencapai 600 persen pada tahun 1965 dan 1966.baru. Namun dalam kenyataannya rencana ini lebih berupa ³dokumen politik´ dari pada rencana pembangunan dalam arti yang sesungguhnya. dan menjaga stabilitas nasional. sandang. menyebarkan dan memeratakan distribusi hasil-hasil pembangunan. Akibat tidak satupun rencana pembangunan mendatangkan hasil. investasi modal asing diundang masuk. serta menyediakan lapangan kerja baru. sehingga rencana kurang berjalan baik dan keadaan ekonomi bertambah parah. · REPELITA III (tahun fiskal 1978/1979 ± 1983/1984) diarahkan kepada tiga tujuan pokok. RENCANA PEMBANGUNAN LIMA TAHUN (REPELITA) 1966-1994 Belajar dari pengalaman sebelumnya. Pembangunan pertanian dan pedesaan tetap memperoleh anggaran terbesar. kebutuhan untuk menjamin ketersediaan pangan di perkotaan dengan harga yang relatif stabil. dan Pemerataan. · Pada tahun 1960 berhasil disusun lagi ³Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana 1961-1969´. kesehatan dan keluarga berencana lebih besar dibanding dengan pada REPELITA I. Pertama. Tujuan spesifik dari REPELITA II adalah memenuhi kecukupan pangan. dan perumahan (pangan. Anggaran pembangunan untuk bidang kesejahteraan sosial seperti pendidikan. yaitu: memperoleh distribusi yang lebih merata dari hasil-hasil pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. · REPELITA IV (tahun fiskal 1984/1985-1988/1989) meletakan penekanan pada Sektor . memperbaiki dan mengembangkan infrastruktur. kebutuhan untuk menjaga kendali politik di daerah pedesaan (White 1989). Pertumbuhan. Pengoperasian kekuatan-kekuatan pasar digalakan dari sebelumnya. papan). Gambaran mengenai kebijaksanaan dan strategi dari REPELITA adalah sebagai berikut (Department of Information Republic of Indonesia 1991): · REPELITA I (tahun fiskal 1969/1970 sampai 1973/1974) menekankan pada rehabilitasi perekonomian terutama peningkatan produksi pertanian serta perbaikan irigasi dan sistem transportasi. tidak realistis. · Dalam keadaan ekonomi yang cukup kritis disusun pula ³Perencanaan Ekonomi Perjuangan Tiga Tahun´ yang disebut juga ³Rencana Banting Stir´. keadaan ekonomi Indonesia kian bertambah parah hingga jatuhnya Pemerintahan Soekarno oleh kudeta Gerakan 30 September PKI pada tahun 1965. kedua. · REPELITA II (tahun fiskal 1973/1974 ± 1978/1979) difokuskan pada peningkatan standar kehidupan rakyat.

and J. Department of Information.). (1989) Economic Development in the Third World. Tjokroamidjoyo. Ini dikarenakan meningkatnya penerimaan negara dari ekspor minyak mentah. PT Gunung Agung Department of Information Republic of Indonesia (1991) Indonesia 1991: An Official Handbook. Economics. Akibatnya pemerintah mengalami kesulitan neraca pembayaran dan sangat mengandalkan hutang luar negeri yang sudah sangat spektakuler jumlahnya. B. Oxford University Press. Wardford (1993) World Without End. Foutrh Edition. Selama periode REPELITA IV kecendrungan perkembangan perekonomian global yang menguntungkan ditambah dengan turunnya harga minyak secara drastis di pasaran internasional memaksa pemerintah untuk mengambil langkah-langkah penyesuaian (readjustment and reform) di berbagai bidang seraya mencoba menggalakan ekspor non-migas (Ibid. Akhirnya semuanya bermuara pada krisis politik sehingga Suharto harus turun dari kursi kepresidenan. (1982) Perencanaan Pembangunan. Sejak PELITA II anggaran pembangunan dapat melampaui budget. TODARO.P. Pada periode REPELITA VI pun format keunggulan komparatif (comparative advantages) dari Ekonomi Indonesia belum tampak. Pengembangan industri diprioritaskan pada industri-industri yang bisa menghasil mesin-mesin ringan maupun berat. Environment and Sustainable Development. M. D. Hal itu diperberat pula dengan masalah-masalah micro economy yang tidak terselesaikan dan berbagai miss management di dalam bidang pemerintahan. Anggaran pembangunan selama REPELITA III meningkat 274 persen. Catatan yang perlu dikemukan pada rangkaian REPELITA di atas oil boom yang dimulai tahun 1973 memberikan sumbangan yang sangat menentukan pada Perekonomian Indonesia.Pertanian untuk mempertahankan swasembada pangan terutama swasembada beras. Jakarta. Memasuki awal REPELITA VI agaknya Indonesia tidak berhasil menemukan jalan keluar dalam menghadapi krisis ekonomi global. . REFERENSI: Pearce.J. Sumbangan dari ekspor minyak dan gas bumi pada nilai ekspor pada periode PELITA III meningkat rata-rata 75. Hal itu diindikasikan dengan tidak mampu bersaingnya harga-harga sebagian besar produk pertanian maupun industri Indonesia di pasaran internasional. Sejalan dengan itu terjadi perkembangan yang memuaskan dalam neraca pembayaran. Directorate of Foreign Information Services. Longman Group Limited. · REPELITA V (tahun fiskal 1989/1990 ± 1993/1994) dinilai sangat menentukan karena merupakan tahap akhir untuk persiapan menuju era tinggal landas (take off) pada periode REPELITA VI. Pada masa REPELITA V ini pembangunan pada bidang ekonomi diberikan prioritas dengan penekanan pada pembangunan pada Sektor Industri dengan didukung oleh pertumbuhan yang cukup tinggi dari Sektor Pertanian.2 persen per tahun.W.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful