You are on page 1of 13

58

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengawasan Mutu Departemen
Teknologi Industri Pertanian, Fateta, IPB; Laboratorium Teknik Kimia
Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fateta, IPB; Laboratorium Rekayasa
Proses Pangan, PPSDH (Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati), IPB; Makmal
Pemisahan di Jabatan Kejuruteraan Kimia dan Proses, Fakulti Kejuruteraan,
Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM); Institut Bahan Api UKM; Makmal FT
NMR Pusat Pengajian Sains dan Makanan, Fakulti Sains dan Teknologi,
Universiti Kebangsaan Malaysia. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2006
sampai bulan Juni 2007.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan Penelitian

Bahan baku yang digunakan adalah teripang pasir (Holothuturia scabra)
dewasa, yang diperoleh dari hasil tangkapan nelayan di Propinsi Bengkulu,
dengan bobot 200-500 g/ekor. Bahan kimia yang digunakan adalah bahan kimia
untuk analisis proksimat, bahan kimia untuk ekstraksi testosteron dari teripang
dan bahan kimia untuk analisis kualitatif dan kuantitatif testosteron.
Bahan kimia yang digunakan untuk analisis proksimat bahan baku adalah
eter, NaOH, H2SO4 dan alkohol. Bahan kimia yang digunakan untuk ekstraksi
teripang secara konvensional adalah metanol, aseton, campuran metanol
kloroform (1:2 v/v), kloroform dan bahan kimia untuk penyabunan kalium
hidroksida (KOH), akuades, dietil eter, indikator pp. Bahan kimia pada ekstraksi
secara SFE adalah CO2 dan co-solvent campuran metanol kloroform. Bahan
kimia untuk analisis kualitatif steroid, pada uji warna (asetat anhidrat, H2SO4
pekat), pada Kromatografi Lapis Tipis (KLT) fraksi standar, lempeng lapis tipis
silica gel 60 F254 katalog Art 5554.

spektrofotometer (UV- Visible 1601 PC. sentrifugasi (high speed refrigerated sentrifuge/Himac CR 216). Peralatan ekstraksi secara konvensional (peralatan ekstraksi maserasi. analisis kualitatif dan kuantitatif testosteron menggunakan KLT. yaitu 1) karakterisasi dan analisis kimia teripang pasir sebagai bahan baku. peralatan ekstraksi soxhlet. Teripang Segar Karakterisasi teripang Jeroan Pemisahan bagian teripang . kompresor co-solvent (Series III. evaporasi (rotary vacuum evaporator). Agilent 1100 Series). peralatan ekstraksi secara reflux). timbangan digital (Mettler Toledo AB 204 S). FTIR- LX 20-00B (Perkin Elmer). 59 Alat Penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peralatan preparasi bahan baku. 2) ekstraksi secara konvensional (maserasi. Jasco BP-1580- 81 Tokyo Japan). 4) ekstraksi secara SFE pada berbagai suhu dan tekanan. menggunakan soxhlet dan reflux) skala 300 ml. HPLC (Model C1313A. PU-2080 Tokyo Japan). Tahapan Penelitian Penelitian dibagi atas enam tahap. manufactur S/B). kompresor CO2 (Jasco. Peralatan yang digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif steroid dengan timbangan dan uji warna pada hasil ekstrak. 5) ekstraksi SFE pada suhu dan tekanan yang menghasilkan testosteron tertinggi menggunakan berbagai rasio laju alir co-solvent 6) analisis kualitatif dan kuantitatif testosteron pada hasil ekstrak. Lab Alliance. yakni alat penggiling. Japan). Shimadzu). murex UK). cooler (Tech-Lab. Diagram alir tahapan penelitian secara lengkap disajikan pada Gambar 6. Peralatan pada SFE menggunakan tabung gas CO2 dan meteran gas (Saffire 230 series. alat pengering. 3) ekstraksi pada skala 3000 ml secara reflux. back pressure regulator (BPR.

FT-IR Analisis kuantitatif ekstrak Analisis kuantitatif testosteron penimbangan Spektrofotometer UV-Vis dan HPLC Gambar 6 Diagram alir tahapan penelitian Karakterisasi dan Analisis Proksimat Teripang Pasir Tahapan awal penelitian ini adalah melakukan karakterisasi dan analisis proksimat bahan baku. Testosteron terdapat pada teripang yang sudah dewasa atau matang gonad yang . Presipitat 10. tekanan Tekanan dan rasio terbaik terbaik • Jenis Pelarut Suhu • Ratio bahan Ekstraksi skala 3000 ml Ekstraksi secara SFE • Suhu • Rasio laju alir co-solvent • Waktu • Waktu Sentrifugasi. 60 Daging Analisis Proksimat Penggilingan Pengeringan/Penepungan Ekstraksi konvensional Pelarut terbaik SFE (maserasi. refluks) metode. pelarut Suhu.000 rpm. 15 menit. 4oC Supernatan Evaporasi Pelarut (Rotary vacuum evaporator) Hasil ekstrak Penyabunan Bagian tersabunkan Bagian tak tersabunkan Testosteron Analisis kualitatif ekstrak Analisis kualitatif testosteron uji warna KLT. Hal ini sangat penting karena bobot dan panjang teripang menggambarkan umur teripang yang menentukan kandungan testosteron. soxhlet. Teripang yang akan diekstrak terlebih dahulu dikarakterisasi jenis dan umurnya berdasarkan kriteria bobot dan panjang teripang.

selanjutnya dilakukan analisis proksimat (Lampiran 1). dimasukkan ke dalam erlemeyer dan ditambahkan pelarut dengan berbagai rasio sesuai dengan perlakuan. bahan dan pelarut secara bersamaan dimana di atas campuran bahan dan pelarut diletakkan kondensor balik. Selanjutnya dilakukan pemanasan sampai suhu 50oC selama selama 4 jam (Gambar 7 c). Ekstraksi dengan reflux merupakan ekstraksi dengan merefluks bahan dengan pemanasan. Teripang segar yang telah digiling ditimbang sebanyak 100 g. direndam dalam pelarut dengan berbagai jenis pelarut dan berbagai rasio bahan pelarut. Ekstraksi dengan maserasi dilakukan dengan cara perendaman bahan yang akan diekstrak pada lemari pendingin (suhu ± 4oC) menggunakan bahan pelarut selama 24 jam. Teripang segar yang telah digiling ditimbang sebanyak 100 g. dicuci dan digiling. yang selanjutnya dimasukkan ke dalam lemari pendingin selama 24 jam (Gambar 7 a) Ekstraksi menggunakan soxhlet. . Teripang segar yang telah digiling ditimbang sebanyak 100 g. Alat pemanas peralatan soxhlet dinyalakan pada suhu 60oC selama 4 jam sehingga pelarut akan menguap melalui kondensor dan turun pada kolom tempat sampel. dibersihkan dan dipisahkan antara daging teripang dan jeroan. Jika akumulasi pelarut pada kolom sampel telah penuh maka pelarut akan turun ke bagian tempat pelarut yang dipanaskan. dibungkus dengan kertas saring kemudian diletakkan pada tempat sampel pada perangkat alat soxhlet. 61 dapat diamati dari bobot (200-500 g) dan panjangnya (25-35 cm). Ekstraksi Teripang secara Konvensional Ekstraksi secara maserasi. Kondisi ini menjadikan pelarut yang menguap akan terkondensasi kembali (reflux) ke dalam campuran bahan dan pelarut. Proses ekstraksi berjalan efektif karena pemanasan dapat mempercepat kelarutan dan pengadukan meningkatkan kontak bahan dengan pelarut. Ekstraksi secara reflux. Siklus pelarut berulang kembali (merefluks) selama ekstraksi berlangsung ± 4 jam (Gambar 7 b). dimasukkan ke dalam erlemeyer. Teripang yang telah memenuhi kriteria.

62 (a) (b) (c) Gambar 7 Ekstraksi secara konvensional dengan menggunakan cara (a) maserasi (b) soxhlet dan (c) reflux Pemilihan Pelarut dan Ratio Bahan dan Pelarut Pemilihan pelarut untuk proses ekstraksi tergantung dari sifat komponen yang akan diisolasi. selanjutnya ditimbang dan dilakukan analisis kualitatif steroid dengan uji warna. salah satunya adalah polaritas suatu senyawa. dilanjutkan dengan pemisahan supernatan/fasa cair dari presipitan/residu menggunakan sentrifugasi (10. Supernatan yang diperoleh. Rasio bahan pelarut yang digunakan adalah 1:1. Hasil penyabunan ditambahkan etanol sebanyak 10 mL.000 rpm. Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas empat macam pelarut. campuran metanol kloroform (1:2 v/v) dan kloroform. dilakukan dengan penyabunan (Lampiran 2). aseton. 1:2 dan 1:3 b/v. yakni metanol. Pemisahan steroid yang merupakan lemak tak tersabunkan dari hasil ekstrak. Derajat polaritas senyawa bergantung pada besarnya tetapan dielektrik. selama 15 menit pada suhu 4oC). diekstrak dengan berbagai pelarut serta berbagai rasio bahan dan pelarut sesuai dengan perlakuan. dievaporasi dengan menggunakan rotary vacuum evaporator sampai semua pelarut menguap. Hasil evaporasi yang diperoleh pada tahap ini merupakan hasil ekstrak teripang. Setelah ekstraksi selesai. Bahan yang akan diekstrak ditimbang sebanyak 100 g. lalu dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif kadar testosteron dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 240 nm. .

90. 50 dan 60oC) dan lama ekstraksi (30. Pemisahan testosteron yang merupakan lemak tak tersabunkan dari hasil ekstrak. dilakukan pengadukan untuk meningkatkan kontak bahan dan pelarut. Hasil ekstraksi diambil setiap 30 menit sebanyak 10 ml. 120. Skema alat ekstraksi pada skala 3000 ml dapat dilihat pada Gambar 8. disentrifugasi. ditambahkan pelarut sebanyak 2000 ml. 150. Supernatan dievaporasi dengan menggunakan rotary vacuum evaporator sampai semua pelarut menguap dan ditimbang. 63 Ekstraksi skala 3000 ml secara reflux Ekstraksi secara reflux dengan pelarut metanol kloroform 1:2 v/v dan rasio bahan pelarut 1:2 b/v digunakan pada tahap ini. dilakukan analisis kualitatif steroid dengan uji warna metode Lieberman Burchad. 60. Daging teripang segar yang telah digiling ditimbang sebanyak 1000 g. 180. dimasukkan ke dalam ekstraktor. Tahapan kali ini bertujuan untuk menentukan suhu dan lama ekstraksi yang menghasilkan testosteron tertinggi. Ekstraksi dilakukan pada berbagai suhu ekstraksi (40. . selanjutnya dipisahkan antara supernatan/fasa cair dan presipitan/residu. Selama ekstraksi secara reflux berlangsung. Pengambilan sampel Motor Pengaduk Termometer Kondensor Air masuk Pengaduk Air keluar Gambar 8 Skema alat ekstraksi skala 3000 ml Pada hasil penimbangan yang merupakan bobot hasil ekstrak. karena pada tahap sebelumnya kondisi ekstraksi ini menghasilkan testosteron tertinggi. 210 dan 240 menit).

sedangkan peralatan SFE yang digunakan terlihat pada Gambar 9. 90. lalu dianalisis kualitatif testosteron dengan uji warna metode Lieberman Burchad dan analisis kuantitatif testosteron dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 240 nm. Pendeteksi tekanan Penampung ekstrak Pompa co-solvent Oven multi fungsi Pompa CO2 Regulator Tekanan Pendingin Gambar 9 Peralatan secara SFE (Supercritical Fluids Extraction) Penentuan Suhu dan Tekanan Ekstraksi SFE dilakukan pada variasi perlakuan suhu (40. 64 dilakukan dengan penyabunan hasil ekstrak. Sebanyak 5 g tepung teripang dimasukkan ke dalam tabung ekstrakstor. 210 dan 240 menit. Hasil ekstraksi ditimbang dan dilakukan analisis kualitatif steroid dengan uji warna metode Lieberman Burchad. 60oC) dan tekanan (23. Pengambilan hasil ekstraksi pada menit ke 30. 25 dan 27 MPa) selama 4 jam. Ekstraksi secara Supercritical Fluids Extraction (SFE) Teripang segar dikeringkan dengan oven pada suhu 40oC selama 3 hari. digiling dan disaring lolos saringan Sieve 40 mesh. Tahapan penyabunan dapat dilihat pada Lampiran 2. ditutup hingga tabung ekstraktor tertutup secara sempurna kemudian alat ekstraksi SFE dioperasikan pada berbagai suhu dan tekanan. Hasil penyabunan ditambahkan etanol sebanyak 10 ml. 50. 150. Prosedur penggunaan alat SFE secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 9. 120. 60. .

selanjutnya dilakukan penyabunan untuk mendapatkan testosteron (Lampiran 2).7:0. Penentuan Rasio Laju Alir CO2 dan co-solvent CO2 Pada tahap ini ekstraksi SFE dilakukan dengan penambahan co-solvent. diawali dengan analisis steroid dengan uji warna (Lieberman Burchad-Fitokimia. dilanjutkan dengan analisis kuantitatif yang menunjukkan seberapa banyak jumlah testosteron pada hasil ekstrak. 90. Tahap terakhir. dengan pengambilan hasil ekstrak pada menit ke 15. 60. Hasil yang diperoleh merupakan bobot hasil ekstrak. ditimbang dan selanjutnya dilakukan analisis kualitatif testosteron dengan uji warna metode Lieberman Burchad. 120. Ekstraksi dilakukan selama 4 jam. Hasil ekstraksi dievaporasi dengan rotary vacuum evaporator. 2.5:0. 180. 30. Lampiran 3). Setelah diketahui ada atau tidaknya testosteron. 210 dan 240 menit. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 240 nm (Lampiran 6) dan menggunakan HPLC (Lampiran 7).3. Hasil penyabunan ditambahkan etanol sebanyak 10 mL. 45. dilakukan dengan penyabunan (Lampiran 2). Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Testosteron Analisis kualitatif dan kuantitatif testosteron dilakukan untuk mengidentifikasi testosteron pada hasil ekstrak. dilakukan pengamatan gugus-gugus penciri testosteron menggunakan FT-IR (Lampiran 8) Metode Penelitian . Rasio laju alir CO2 dan co- solvent yang digunakan adalah 2. dilanjutkan dengan analisis testosteron menggunakan KLT (Lampiran 4). 150.5 dan 2:1 ml/menit dengan laju alir total pelarut 3 ml/menit. 65 Pemisahan steroid yang merupakan lemak tak tersabunkan dari hasil ekstrak. yakni pelarut yang menghasilkan testosteron tertinggi pada ekstraksi secara konvensional (campuran metanol kloroform 1:2 v/v). lalu dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif kadar testosteron dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 240 nm. Analisis kualitatif dilakukan secara bertahap.

soxhlet dan reflux) Tujuan : Untuk mendapatkan pelarut dan rasio bahan dengan pelarut yang menghasilkan testosteron tertinggi pada setiap metode ekstraksi (maserasi. diduga aseton merupakan pelarut terbaik bagi testosteron karena adanya kesesuaian polaritas dengan testosteron. metanol kloroform dan kloroform). 1:2. Ekstraksi secara secara konvensional (metode maserasi. menggunakan soxhlet dan reflux). Parameter : Bobot testosteron yang dihasilkan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hipotesis : Teripang pasir telah dewasa kelamin mempunyai karakteristik bobot 200-500 g/ekor panjang rata-rata 19 cm merupakan teripang yang telah dewasa kelamin. menggunakan soxhlet dan reflux Pelarut : metanol. membandingkan dengan karakteristik teripang sebagai sumber testosteron. Karakterisasi dan analisis proksimat teripang pasir Tujuan : Untuk mendapatkan teripang sebagai bahan baku yang mengandung testosteron. mengandung testosteron jika diekstrak. Hipotesis : Dari keempat pelarut yang dikaji (metanol. 1:3 b/v. Perlakuan : Pengamatan visual dan penimbangan. Percobaan Yij = μ + αi + βj + αβij + εij Y ij = nilai respon dari ulangan ke-j faktor ke-i μ = rata-rata sebenarnya αi = pengaruh faktor ke-i . kloroform Rasio bahan dan pelarut : 1:1. 2. kloroform:metanol. aseton. 66 Metode yang digunakan pada penelitian ini dijelaskan sesuai dengan tahapan-tahapan yang dilakukan 1. Perlakuan : Metode ekstraksi : maserasi. Rancangan : Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 3 kali ulangan. Parameter : Bobot dan ukuran panjang teripang. aseton.

180.50 dan 60oC Lama ekstraksi : 0. μ = rata-rata sebenarnya/rataan umum αi = pengaruh faktor A taraf ke-i δijk = komponen acak perlakuan γkl = komponen acak waktu pengamatan ωl = pengaruh waktu pengamatan ke-l αωil= pengaruh interaksi waktu pengamatan dan faktor εijkl = komponen acak dari interaksi waktu dan perlakuan 4. 120. Ekstraksi Pengaruh suhu dan tekanan pada ekstraksi teripang dengan SFE Tujuan : Untuk mendapatkan temperatur dan tekanan yang menghasilkan testosteron tertinggi. Ekstraksi secara reflux skala 3000 ml Tujuan : Untuk mendapatkan suhu dan waktu ekstraksi teripang Hipotesis : Pada ekstraksi dengan metode reflux terdapat kombinasi suhu dan lama ekstraksi yang diduga dapat memberikan hasil testosteron tertinggi. ulangan ke-k dan waktu pengamatan ke-l. 210 dan 240 menit Parameter : Bobot hasil ekstrak yang dihasilkan dengan penimbangan Bobot testosteron yang dihasilkan dengan UV-Vis Persentase testosteron terhadap hasil ekstrak (%) Rancangan : Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Percobaan Acak Lengkap (RAL) Faktorial in time dengan 3 kali ulangan. 90. 60. 150. Hipotesis : Pada ekstraksi secara SFE terdapat kombinasi suhu dan tekanan terbaik yang dapat menghasilkan ekstrak tertinggi. 67 βi = pengaruh faktor ke-j αβij = pengaruh faktor interaksi ke-ij εij = nilai galat 3. 30. Perlakuan : Suhu ekstraksi : 40. Yij = μ + αi + δijk + γkl+ ωl +αωil+βω jl + αβωij+ εijkl Keterangan : Y ijkl = nilai respon pada faktor A taraf ke-i. Hal ini berkaitan dengan adanya pengaruh kombinasi .

viskositas dan volatilitas dari sistim yang dapat memberikan hasil testosteron tertinggi. Bobot testosteron dengan UV-Vis. Perlakuan : Penggunaan co-solvent dapat meningkatkan testosteron yang dihasilkan dibandingkan tanpa co-solvent. Rancangan : Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Percobaan Acak Lengkap (RAL) Faktorial in time dengan 3 kali . 68 densitas. μ = rata-rata sebenarnya/rataan umum αi = pengaruh faktor A taraf ke-i δijk = komponen acak perlakuan γkl = komponen acak waktu pengamatan ωl = pengaruh waktu pengamatan ke-l αωil= pengaruh interaksi waktu pengamatan dan faktor εijkl = komponen acak dari interaksi waktu dan perlakuan 5. Tekanan ekstraksi SFE : 23. Rancangan : Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Percobaan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dalam waktu (RAL Factorial in time) dengan 3 kali ulangan untuk bobot ekstrak. Kemurnian testosteron (%) terhadap hasil ekstrak. Perlakuan : Suhu ekstraksi SFE : 40. Pengaruh rasio laju alir CO2 dan co-solvent pada SFE Tujuan : Untuk mendapatkan rasio laju alir CO2 dan co-solvent pada SFE yang menghasilkan testosteron tertinggi. Yij = μ + αi + δijk + γkl+ ωl +αωil+βω jl + αβωij+ εijkl Keterangan : Y ijkl = nilai respon pada faktor A taraf ke-i. 50 dan 60 oC. Parameter : Bobot hasil ekstrak dengan penimbangan. Parameter : Bobot hasil ekstrak yang dihasilkan dengan penimbangan. Hipotesis : Pada ekstraksi secara SFE terdapat rasio laju alir CO2 dan co-solvent tertentu yang dapat memberikan testosteron tertinggi dan kemurnian produk tertinggi. ulangan ke-k dan waktu pengamatan ke-l. Bobot testosteron yang dihasilkan dengan UV-Vis. 25 dan 27 MPa.

Perlakuan : Pengamatan kualitatif testosteron (uji warna. KLT. Hipotesis : Analisis kualitatif (uji warna. Absorbansi pada spektrofotometer UV-Vis. FT-IR) dan analisis kuantitatif (spektrofotometer UV-Vis dan HPLC) mampu mengidentifikasi testosteron pada hasil ekstrak teripang. FTIR). KLT. Spektrum pada FT-IR. ulangan ke-k dan waktu pengamatan ke-l. Parameter : Warna hijau pada uji warna. Analisis kualitatif dan kuantitatif testosteron pada hasil ekstrak teripang Tujuan : Untuk mengidentifikasi testosteron pada hasil ekstraksi teripang. Panjang spot/noda pada KLT. 69 ulangan. μ = rata-rata sebenarnya/rataan umum αi = pengaruh faktor A taraf ke-i δijk = komponen acak perlakuan γkl = komponen acak waktu pengamatan ωl = pengaruh waktu pengamatan ke-l αωil= pengaruh interaksi waktu pengamatan dan faktor εijkl = komponen acak dari interaksi waktu dan perlakuan 6. Yij = μ + αi + δijk + γkl+ ωl +αωil+βω jl + αβωij+ εijkl Keterangan : Y ijkl = nilai respon pada faktor A taraf ke-i. Waktu retensi pada HPLC. . Pengamatan kuantitatif testosteron (UV-Vis dan HPLC).

Hasil yang diharapkan pada setiap tahapan penelitian . rasio oleh : metode. 70 Teripang mengandung KAJIAN EKSTRAKSI TERIPANG Mendapatkan metode steroid sangat potensial ekstraksi konvensional dan non ekstraksi dsn kondisi dikembangkan sebagai ekstraksi yang sumber testosteron alami konvensional (SFE) serta faktor- menghasilkan testosteron faktor yang mempengaruhinya tertinggi Bahan baku adalah Karakterisasi teripang pasir Teripang dengan bobot teripang pasir yang berdasarkan bobot dan panjang 300-500 g/ekor dewasa kelamin Panjang lebih 20 cm Rendemen ekstraksi konvensional dipengaruhi Ekstraksi konvensional pada Metode. pelarut. menghasilkan rendemen terhadap hasil testosteron solvent pada SFE tertinggi Hasil ekstrak teripang Pembuktian hasil mengandung testosteron ekstraksi teripang Analisis kualitatif dan kuantitatif secara kualitatif dan mengandung testosteron hasil ekstrak teripang kuantitatif Gambar 10. pelarut dan yang menghasilkan rasio bahan pelarut testosteron tertinggi rasio bahan pelarut Suhu dan lama ekstraksi Suhu dan lama ekstraksi Ekstraksi dengan berbagai suhu yang menghasilkan berpengaruh terhadap hasil rendemen tertinggi pada ekstraksi suhu dan lama ekstraks (3000 ml) ekstraksi konvensional Suhu dan tekanan yang Rendemen testosteron Ekstraksi pada berbagai suhu dan menghasilkan ekstraksi SFE dipengaruhi tekanan secara SFE testosteron tertinggi oleh suhu dan rekanan Rasio laju alir CO2 dan Rasio laju alir alir yang co-solvent berpengaruh Ekstraksi pada berbagai rasio co. pelarut dan berbagai metode.