You are on page 1of 167

KONSEP NEGARA HUKUM

PERTEMUAN KE-1

DISUSUN OLEH :
FITRI SERTIANA
NIM. 16102028

DOSEN PENGAJAR :
DRS. EDWARD MANDALA, M.SI

SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
RAJA HAJI TANJUNGPINANG
2017/2018

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Ide negara hukum telah lama dikembangkan oleh para filsuf dari
zaman Yunani Kuno. Plato, pada awalnya dalam “the Republic”
berpendapat bahwa adalah mungkin mewujudkan negara ideal untuk
mencapai kebaikan, yang berintikan kebaikan. Untuk itu kekuasaan harus
dipegang oleh orang yang mengetahui kebaikan, yaitu seorang filosof (the
philosopher king). Namun dalam bukunya “the Statesmen” dan ”the Law”,
Plato menyatakan bahwa yang dapat diwujudkan adalah bentuk paling baik
kedua (the second best) yang menempatkan supremasi hukum.
Pemerintahan yang mampu mencegah kemerosotan kekuasaan seseorang
adalah pemerintahan oleh hukum. Senada dengan Plato, tujuan Negara
menurut Aristoteles adalah untuk mencapai kehidupan yang paling baik (the
best life possible) yang dapat dicapai dengan supremasi hukum. Hukum
adalah wujud kebijaksanaan kolektif warga Negara (collective wisdom),
sehingga peran warga Negara diperlukan dalam pembentukannya.
Pada abad 19 muncul gagasan tentang pembatasan kekuasaan
pemerintah melalui pembuatan konstitusi, baik secara tertulis maupun tidak
tertulis, selanjutnya diketahui tertuang dalam apa yang disebut konstitusi.
Konstitusi tersebut memuat batas-batas kekuasaan pemerintah dan jaminan
atas hak-hak politik rakyat, serta prinsip check and balances antar
kekuasaan yang ada. Pembatasan konstitusi atas kekuasaan negara ini
selanjutnya dikenal dengan istilah konstitusionalisme. Konstitusionalisme
kemudian memunculkan konsep rechstaat (dari kalangan ahli hukum Eropa
Kontinental) atau rule of law (dari kalangan ahli hukum Anglo Saxon) yang
di Indonesia diterjemahkan dengan Negara Hukum. Negara yang memiliki
peran terbatas tersebut juga acap kali dijuluki sebagai nachtwachterstaat
(negara penjaga malam).

2

Menjelang pertengahan abad ke-20, konsep Negara hukum formal
(klasik) yang dicirikan dengan peran negara yang terbatas digeser kearah
gagasan baru bahwa pemerintah tidak hanya menjadi nachtwachterstaat,
namun harus aktif melakukan upaya-upaya untuk membangun kesejahteraan
rakyatnya. Tugas dan peranan Negara kemudian menjadi dinamis dan
meluas jauh melewati batas-batas yang pernah diatur dalam demokrasi
konstitusional abad ke-19. Gagasan demokrasi abad 20 ini lazim disebut
welvaarstaat/ welfare state (negara kesejahteraan) atau “negara hukum
material” (negara hukum modern). Indonesia sebagai sebuah negara yang
lahir pada abad ke-20, mengadopsi konsep bernegara hukum sesuai prinsip
konstitusionalisme. Hal ini dapat dilihat dari kesepakatan (consensus)
bangsa Indonesia sejak UUD 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia
ditetapkan. Kesepakatan inilah yang pada perkembangannya menjelma
menjadi cita-cita bersama yang biasa juga disebut falsafah kenegaraan atau
staatsidee (cita negara) yang berfungsi sebagai filosofische grondslag dan
common platforms atau kalimatun sawa diantara sesama warga masyarakat
dalam konteks kehidupan bernegara.

3

Sementara itu sejarah dan perkembangan masyarakat setiap negara tidaklah sama. Negara Hukum Eropa Kontinenantal. sehingga pemaknaan dan unsur-unsur negara hukumnya juga berbeda. yang merupakan terjemahan dari rechsstaat. Negara Hukum Sosialis. Cita-cita dan upaya untuk membebaskan dari kekuasaan absolut para raja tersebut banyak dipengaruhi oleh faham individualisme yang diyakini telah membawa bangsa Eropa ke arah pencerahan.1 KONSEP NEGARA HUKUM Negara Hukum adalah konsep yang merupakan produk sejarah. yaitu rechsstaat dan rule of law. mulai dari Negara Hukum Anglo Saxon. Hal ini melahirkan adanya berbagai tipe negara hukum. renaissance. seorang ahli ketatanegaraan dan guru besar pada Universitas Berlin. tetapi pemikiran dan konsepsi negara hukum sudah dicetuskan sejak abad ke-17 di Eropa Barat bersamaan dengan munculnya usaha untuk menggulingkan kekuasaan absolut para raja saat itu. atau kedaulatan. Istilah negara hukum pertama kali digunakan oleh Rudolf von Gneist (1816-1895). dan mengalami reformasi. Meskipun secara historis istilah negara hukum baru populer abad ke-19. adalah istilah baru dalam khasanah ketatanegaraan yang muncul pada sekitar abad ke-19. BAB II PEMBAHASAN 2. Karena itu unsur-unsur negara hukum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan sejarah dan perkembangan masyarakat dari suatu negara. Negara Hukum Islam (Nomokrasi Islam) sampai Negara Hukum Pancasila yang masing-masing mempunyai dasar pemikiran dan ciri karakteristik sendiri-sendiri. Sampai saat ini. Kedua istilah tersebut memang mempunyai perbedaan arti materiil yang disebabkan oleh perbedaan latar 4 . Secara historis ada dua istilah yang terkait dengan konsep negara hukum. konsepsi tentang Negara Hukum masih terus berkembang. Jerman. konstitusi. dibandingklan dengan istilah demokrasi. Istilah “negara hukum”. untuk menyebut pemerintahan Inggris Raya pada waktu itu.

Negara hukum ialah negara yang diperintah bukan oleh orang-orang tetapi oleh hukum. Menurut Joeniarto. yaitu mencegah kekuasaan absolut demi pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia. tidak bertindak sewenang-wenang. Konsep rechsstaat bertumpu pada sistem hukum civil law. Begitu pula rakyat tidak bisa bertindak sekehendaknya yang bertentangan dengan hukum. Namun keduanya mempunyai arah dan tujuan yang sama. Dengan demikian. Setiap tindakan penguasa. Secara umum dapat diartikan bahwa negara hukum atau rechsstaat atau rule of law adalah negara yang susunannya diatur dengan sebaik- baiknya dalam peraturan perundang-undangan (hukum) sehingga segala kekuasaan dari alat-alat pemerintahannya didasarkan atas hukum. asas negara hukum mengandung arti bahwa dalam penyelenggaraan negara tindakan penguasa harus didasarkan hukum bukan didasarkan kekuasaan atau kemauan penguasa belaka dengan maksud untuk membatasi kekuasaan penguasa serta melindungi kepentingan masyarakat. 5 . Sedang konsep rule of law bertumpu pada sistem hukum common law yang menekankan pada proses pemutusan perkara di pengadilan secara bebas tanpa pengaruh dan tekanan dari pihak mana pun. Negara tidak maha kuasa. bahwa dalam suatu negara hukum terdapat pembatasan kekuasaan negara terhadap perseorangan. dengan latar belakang kelahirannya sebagai perjuangan untuk menentang absolutisme kekuasaan atau machsstaat. pemaknaan negara hukum memang selalu dikaitkan dengan organisasi internal atau struktur negara yang harus diatur menurut hukum. dan juga rakyat. yaitu sistem hukum Romawi Jerman. yaitu perlindungan terhadap hak asasi anggota masyarakatnya dari tindakan sewenang-wenang.belakang sejarah dan pandangan hidup bangsa di mana kedua istilah tersebut lahir dan berkembang. Dalam negara hukum hak-hak rakyat dijamin sepenuhnya oleh negara dan sebaliknya kewajiban-kewajiban rakyat terhadap negara harus dilaksanakan sepenuhnya dengan tunduk dan taat pada segala peratuan perundang-undangan negara. Begitu pula menurut Sudargo Gautama. harus didasarkan atas hukum.

dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam undang-undang 6 . Kebebasan berserikat/ berorganisasi dan beroposisi. Konsep Negara Hukum. penguasa atau pemerintah yang bersangkutan. suatu negara dapat dikategorikan sebagai negara hukum apabila tindakan dari pihak yang berwajib. yaitu Perlindungan Konstitusional. penguasa atau pemerintah secara jelas ada dasar hukumnya sebagai dasar dari tindakan yang berwajib. Sebagaimana disebutkan dalam naskah perubahan UUD 1945 yang menyebutkan bahwa paham negara hukum sebagaimana tercantum dalam ketentuan Pasal 1 Ayat (3) berkaitan erat dengan paham negara kesejahteraan (welfare state) atau paham negara hukum materiil sesuai dengan bunyi alenia keempat Pembukaan dan Ketentuan Pasal 34 UUD 1945. dan Pendidikan kewarganegaraan. Dengan demikian. Dikatakan bahwa ada 6 (enam) syarat-syarat dasar untuk terselenggaranya pemerintah yang demokratis dibawah Rule of Law. Pelaksanaan paham negara hukum materiil akan mendukung dan mempercepat terwujudnya negara kesejahteraan di Indonesia. Pemerintah yang demokratis di bawah Rule of Law merupakan pemikiran mengenai Negara Hukum modern yang pernah di cetuskan dalam konferensi oleh International Commission of Jurists di Bangkok pada tahun 1965 yang menekankan pemahaman "the dynamic aspects of the Rule of Law in the modern age" (aspek-aspek dinamika Rule of Law dalam abad modern). selain bermakna bukan Negara Kekuasaan (Machtstaat) juga mengandung pengertian adanya pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi. Peradilan atau badan-badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia menyebutkan bahwa Negara Republik Indonesia itu adalah Negara Hukum yang demokrasi (democratische rechtstaat) dan sekaligus adalah Negara Demokrasi yang berdasarkan atau hukum (constitutional democracy) yang tidak terpisahkan satu sama lain. Kebebasan menyatakan pendapat.Tindakan-tindakan negara terhadap warganya dibatasi oleh hukum. Pemilihan Umum yang bebas.

pada hakikatnya hukum itu sendirilah yang menjadi penentu segalanya sesuai dengan prinsip nomokrasi dan doktrin ‘the rule of Law. serta menjamin keadilan bagi setiap orang termasuk terhadap penyalahgunaan wewenang oleh pihak yang berkuasa. Dengan kata lain demokrasi yang berada dibawah Rule of Law. Dalam paham negara hukum yang demikian itu. Dalam kerangka ‘the rule of law’ itu. 7 . dan berlakunya asas legalitas dalam segala bentuknya dalam kenyataan praktek (due process of law). selain menjamin hak-hak individu. ditafsirkan dan ditegakkan dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka. Prinsip negara hukum idealnya dibangun dan dikembangkan bersama prinsip-prinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat (democratische rechtsstaat). ditetapkan. Hubungan antara demokrasi dan negara hukum dapat tercermin dalam penjabaran bahwa yang dapat menjamin secara konstitusional terselenggaranya pemerintah yang demokratis adalah adanya hukum yang menaunginya. Sehingga hukum yang dimaksud tidak dibuat. and not of Man’. Puncak kekuasaan hukum itu diletakkan pada konstitusi yang pada hakikatnya merupakan dokumen kesepakatan tentang sistem kenegaraan tertinggi. adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum. Sedangkan syarat-syarat dasar untuk terselenggaranya pemerintahan yang demokratis di bawah Rule of Law ialah: 1. Maka prinsip negara hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar. Perlindungan konstitusional. harus menentukan pula cara procedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin.dasar. dalam arti bahwa konstitusi. adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia dalam undang-undang dasar. diyakini adanya pengakuan bahwa hukum itu mempunyai kedudukan tertinggi (supremacy of law). adanya persamaan dalam hukum dan pemerintah (equality before the law).

maka dapat dikatakan bahwa Indonesia telah memenuhi syarat sebagai negara hukum yang melaksanakan demokrasi yang berdasarkan konstitusi. Pemilihan umum yang bebas. sedangkan untuk kesejahteraan atau kepentingan pribadi diserahkan kepada pribadi masing-masing anggota masyarakat tanpa campur tangan negara. 4. Indonesia punya pengalaman dalam pergantian dan perubahan konstitusi. Setelah UUD 1945 kembali diberlakukan. 8 . Apakah Indonesia menganut negara hukum aktif/ dinamis (dalam hal ini peran pemerintah sangat besar dalam penyelenggaraan negara). Konsep nachtwachterstaat dalam hal ini pada prakteknya hanya memberikan ruang kewenangan bagi negara untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut kepentingan umum. UUD 1945 sebagai konstitusi negara. belumlah terjabarkan secara eksplisit dalam UUD 1945. Kebebasan untuk menyatakan pendapat. hingga saat ini telah berubah sebanyak empat kali dalam rentang waktu 1999-2002. Kebebasan untuk berserikat/ berorganisasi dan beroposisi. Sejak kemerdekaannya. Namun negara hukum seperti apakah yang dianut oleh Indonesia. Pergantian dan Perubahan konstitusi ini pada kenyataannya tidak pernah menghilangkan klausul tujuan bernegara dan cita negara hukum yang dicantumkan dalam Mukaddimah/ Preambule/ Pembukaan dan Batang Tubuh (Pasal-Pasal) Konstitusi. Ataukah menganut negara hukum formil dalam artian klasik. Jika merujuk pada ke enam hal tersebut dengan mengidentifikasi keberadaan dan prakteknya dalam negara Indonesia. 3. 5. yang mengandung konsep bahwa semakin kecil peran pemerintah semakin baik. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak (independent and impartial tribunals). atau bahkan secara ekstrim hanya menjadi negara penjaga malam (nachtwachterstaat). di tahun 1949 pernah digantikan Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS) yang kemudian dilanjutkan dengan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950 hingga 1959.2. 6. Pendidikan kewarganegaraan (civic education).

Kemanoesiaan Jang Adil dan Beradab. serta dengan mewoedjoedkan soeatoe Keadilan sosial bagi seloeroeh rakjat Indonesia”. maka disoesoenlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itoe dalam soeatoe Oendang-Oendang Dasar Negara Indonesia. agar tidak terjebak pada dominasi otoritas 9 . perdamaian abadi dan keadilan sosial.2 Konsep Negara Hukum Indonesia dalam UUD 1945 (kurun waktu pertama) Pada Pembukaan UUD 1945 yang ditetapkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 memuat Paragraf yang mengatur konsep bernegara yang berbunyi: “Kemoedian dari pada itoe oentoek membentoek suatoe Pemerintah negara Indonesia jang melindoengi segenap bangsa Indonesia dan seloeroeh toempah darah Indonesia dan oentoek memadjoekan kesedjahteraan oemoem. Hal ini menjelaskan bahwa pemikiran awal pembentukan pemerintahan negara Indonesia diarahkan kepada penyelenggaraan pemerintahan yang mengedepankan hukum sebagai panglima. UUD 1945 (kurun waktu pertama) tidak menyebutkannya dalam Pasal-Pasal. Adapun mengenai ketentuan bernegara Indonesia yang berdasarkan hukum.2. mencerdaskan kehidoepan bangsa. Aturan mengenai hal ini diatur dalam Penjelasan Otentik UUD 1945 yang berbunyi: “Negara Indonesia berdasar atas Hoekoem (Rechstaat). Persatoean Indonesia dan Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam Permoesyawaratan/ Perwakilan. Dengan demikian. Ketentuan dalam Penjelasan tersebut bersifat perbandingan. jang terbentoek dalam soeatoe soesoenan Negara Republik Indonesia jang berkedaoelatan rakjat dengan berdasarkan kepada Ketoehanan Jang Maha Esa. bahwa penyelenggaraan negara Indonesia yang dicita-citakan para founding fathers adalah rechstaat bukan machstaat. dan ikoet melaksanakan ketertiban doenia jang berdasarkan kemerdekaan. meski letak substansinya hanya ada dalam Penjelasan Otentik. tidak berdasarkan atas kekoesaan belaka (Machstaat). cita negara hukum sudah terkonsepkan dalam Konstitusi Pertama yang berlaku di Indonesia.

.. dengan senantiasa berhati-teguh berniat menduduki hak-hidup sebagai bangsa jang merdeka-berdaulat. 2. perikemanusiaan. kebangsaan. penyelenggaraan negara diarahkan pada cita negara hukum dengan klausa “. Dengan demikian. harapan terwujudnya supremasi hukum diatas yang realitas sosial yang lain menjadi ruh perdana yang disematkan pada penyelenggara pemerintahan Negara Republik Indonesia. Klausa tersebut selanjutnya ditegaskan dalam penjabaran mengenai Bentuk Negara dan Kedaulatan. kerakjatan dan keadilan sosial. negara hukum Indonesia Merdeka jang berdaulat sempurna”. pada Pasal 1 ayat (1) yang berbunyi: “Republik Indonesia Serikat jang merdeka dan berdaulat jalah suatu negara-hukum jang demokrasi dan berbentuk federasi. Kini dengan berkat dan rahmat Tuhan telah sampai kepada tingkatan sedjarah jang berbahagia dan luhur..” Ketentuan di atas menjelaskan bahwa dalam konsepsi negara Republik Indonesia Serikatpun. pemerintah sebagai ribadi yang menjalankan kekuasaan bernegara tanpa mendasarkan pada hukum. berdasarkan pengakuan ke-Tuhanan Jang Maha-Esa. Fakta ini juga menjelaskan bahwa pendapat umum tentang keadaan terbalik yang terjadi pada masa Orde Lama dan Orde Baru yang lebih mengedepankan dominasi pribadi Presiden sebagai “Penguasa Tunggal” penyelenggaraan negara adalah personal fault dari Presiden itu sendiri yang tidak menjalankan amanat konstitusi. Maka demi ini kami menjusun kemerdekaan kami itu dalam suatu Piagam negara jang berbentuk republik-federasi..Untuk mewujudkan . Untuk mewudjudkan kebahagiaan kesedjahteraan perdamaian dan kemerdekaan dalam masjarakat dan negara- hukum Indonesia Merdeka jang berdaulat sempurna.3 Konsep Negara Hukum Indonesia dalam KRIS 1945 Pada Mukaddimah KRIS 1949 memuat Paragraf yang mengatur konsep penyelenggaraan negara berdasarkan hukum yang berbunyi: “Kami bangsa Indonesia semendjak berpuluh-puluh tahun lamanja bersatu-padu dalam perdjuangan kemerdekaan.” Pasal ini menjelaskan bahwa bentuk negara hukum 10 .

sebagaimana diatur dalam KRIS 1949 tetap dijiwai UUDS 1950 dengan Pasal 32 “Setiap orang jang di daerah Negara harus 11 . Lebih lanjut dalam tataran implementasinya. Namun dalam penjabaran Pasalnya disebutkan sebuah bentuk konsepsi bernegara yang berbeda sesuai dengan semangat zaman untuk mengembalikan bentuk negara kepada kesatuan. termasuk aturan2 hukum jang tak tertulis. dan kepada penguasa2 jang sah dan jang bertindak sah”. 2. kebangsaan. Secara redaksional klausul cita negara hukum dalam UUDS 1950 masih sama dengan KRIS 1949 yakni “Negara-hukum Indonesia Merdeka jang berdaulat sempurna”. kerakjatan dan keadilan sosial. Namun demikian. diatur bahwa “Setiap orang jang ada didaerah Negara harus patuh kepada Undang-undang. konsep negara hukum pada masa ini adalah Negara Hukum Demokratis.4 Konsep Negara Hukum Indonesia dalam UUD 1950 Pada Mukaddimah UUDS 1950 yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada 15 Agustus 1950 memuat Paragraf yang mengatur konsep bernegara hukum yang berbunyi: “Maka demi ini kami menjusun kemerdekaan kami itu dalam suatu piagam Negara jang berbentuk republik- kesatuan. untuk mewudjudkan kebahagiaan. Klausa ini berubah seiring perubahan bentuk negara dari federasi kepada kesatuan. Dengan kata lain. kesedjahteraan. yang dicita-citakan pada masa berlakunya KRIS adalah negara hukum yang menganut dan mempraktekkan demokrasi sebagai pilihan penyelenggaraan negara. peri-kemanusiaan. perdamaian dan kemerdekaan dalam masjarakat dan negara-hukum Indonesia Merdeka jang berdaulat sempurna”. cita supremas hukum dalam tataran implementasinya. KRIS bahkan memberi penegasan bahwa dalam rangka membentuk supremasi hukum. hal ini sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 ayat (1) “Republik Indonesia jang merdeka dan berdaulat ialah suatu negara-hukum jang demokratis dan berbentuk kesatuan”. berdasarkan ke-Tuhanan Jang Maha Esa.

diantaranya adalah Pembukaan/ Preambule yang tetap dipelihara sesuai dengan teks asli. Sehingga dapat diartikan bahwa meski Undang-Undang tidak dapat dikatakan mewakili hukum sebagai ruh cita mewujudkan negara hukum.5 Konsep Negara Hukum Indonesia dalam UUD 1945 Pasca Perubahan Perubahan UUD 1945 pada 1999-2002 diawali dengan konsensus tentang hal-hal yang tidak akan diubah dari UUD. Dengan kata lain tidak ada kepatuhan kepada selain hukum. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. patuh kepada undang-undang termasuk aturan-aturan hukum jang tak tertulis. namun kepatuhan terhadapnya menjadi salah satu tolok ukur perwujudan semangat negara hukum. 2. namun dalam pengaturan konsepsi implementasinya masih menunjuk kepatuhan yang dilakukan oleh ‘setiap orang dalam Negara Indonesia’ disamping kepada Undang-Undang sebagai suatu produk hukum juga kepada penguasa. Sehingga cita bernegara yang dituangkan dalam Alenia IV Pembukaan UUD tidak diubah dengan tetap berbunyi: “Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. kecuali kepatuhan tersebut atas dasar kepatuhan pada ketentuan hukum. dengan penguasa disisi lain tidak dapat berlaku disuatu negara hukum kecuali kepatuhan kepada penguasa tersebut berlandaskan pada ketentuan hukum. Dualisme kepatuhan yang cenderung bertolak belakang antara undang-undang disatu sisi. Penyandingan antara kepatuhan kepada Undang-Undang dan kepatuhan kepada Penguasa mengaburkan supremasi hukum yang merupakan salah satu unsur penting guna berjalannya konsep negara hukum. mencerdaskan kehidupan bangsa. perdamaian 12 .” Kesamaan yang dimiliki ketentuan dalam KRIS 1949 dan UUDS 1950 yaitu bahwa meski memiliki kesamaan cita untuk membentuk negara hukum yang demokratis. dalam hal ini pemerintah. dan kepada penguasa-penguasa.

serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dapat dilihat bekerjanya tiga prinsip dasar. dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum (due process of law).abadi dan keadilan sosial. Konsep negara hukum Indonesia yang sebelum Perubahan hanya disebutkan dalam Penjelasan UUD. yang berbunyi ”sepakat menempatkan Indonesia sebagai negara hukum (rechtstaat)”. yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Penempatan klausul tersebut dalam Pasal/Batang Tubuh UUD sesuai dengan salah satu kesimpulan rapat PAD (Panitia Ad Hoc) I yang membahas perubahan bab I UUD 1945 tentang bentuk dan kedaulatan. kesejahteraan. kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law). pencerdasan. dalam setiap negara yang menganut paham negara hukum. cita bernegara tetap mengandung empat tujuan yang meliputi. diletakkan dalam Pasal 1 Ayat yang berbunyi “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. ditambah dengan ketertiban dunia yang berdasar pada prinsip kemerdekaan. maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia. Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Secara umum. yaitu supremasi hukum (supremacy of law). Istilah rechtstaat dalam hal ini merupakan lawan kata dari machstaat. suatu istilah yang menggambarkan pengelolaan negara berdasarkan kekuasaan. perdamaian abadi dan keadilan sosial (sebagai bingkai politik luar negeri Indonesia). perlindungan. Dengan demikian. Penggunaan istilah rechtstaat tidak diartikan bahwa konsep negara hukum yang dijalankan Indonesia merupakan penyesuaian terhadap ciri negara hukum yang terkandung dalam istilah tersebut. 13 .

Juga ditemukan bahwa, pada setiap negara hukum akan terlihat ciri-
ciri adanya :
1) Jaminan perlindungan HAM;
2) Kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka;
3) Legalitas dalam arti hukum, yaitu bahwa baik pemerintah/negara maupun
warga negara dalam bertindak harus berdasar atas dan melalui hukum.
Adapun konsep negara hukum Indonesia memiliki ciri tersendiri.
Ciri tersebut sejalan dengan tujuan berdirinya negara Indonesia, yang
mencakup :
1. Perlindungan terhadap segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia;
2. Pemajuan kesejahteraan umum;
3. Pencerdasan kehidupan bangsa; dan
4. Keikutsertaan dalam memelihara Ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Disamping itu, konsep negara hukum Indonesia juga dipengaruhi oleh
Pancasila sebagai kumpulan nilai-nilai dasar yang diakui bersama bangsa
Indonesia, dan menjadi landasan praktek kedaulatan rakyat, yakni
Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab;
Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; serta Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, negara hukum Indonesia
yang dijalankan haruslah senantiasa memperhatikan aspek ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan. Penegasan konsep
negara hukum Indonesia menjadi penting agar ciri khas yang dimiliki
bangsa ini tetap terpelihara.
Hal ini sejalan dengan pendapat seorang founding father, Soepomo,
bahwa konsep negara hukum dilandasi oleh suatu Cita Negara Integralistik.
Dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI) tanggal 31 Mei 1945, Soepomo mengatakan: Jikalau
kita hendak membicarakan tentang dasar sistem pemerintahan yang hendak

14

kita pakai untuk Negara Indonesia, maka dasar sistem pemerintahan yang
hendak kita pakai untuk Negara Indonesia, maka dasar sistem pemerintahan
itu tergantung pada Staatsidee yang hendak kita pakai untuk pembangunan
Negara Indonesia. Menurut dasar apa Negara Indonesia akan didirikan.
Pendapat Soepomo tentang Cita Negara Integralistik tersebut disetujui
oleh rapat BPUPKI, yang kemudian dituangkan dalam pokok pikiran
pertama Pembukaan UUD1945. Berdasarkan pendapat Soepomo tersebut,
dapat diketahui bahwa latar belakang penentuan konsep negara hukum
didahului dengan penentuan cita bernegara, yaitu cita negara integralistik,
atau dalam istilah A. Hamid S. Attamimi diganti dengan ‘cita negara
kekeluargaan’/cita negara persatuan’.
Maka dapatlah disimpulkan bahwa konsep negara hukum
sebagaimana tercantum dalam ketentuan Pasal 1 ayat (3) terkait erat dengan
negara kesejahteran (welvaarstaat) atau paham negara hukum materiil
sesuai dengan bunyi alenia keempat. Dalam hal ini, paham negara hukum
tidak hanya mencakup penyelenggaraan negara saja, melainkan juga
menyentuh kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Oleh karena itu dalam
tataran implementasinya, semakin aktif negara dalam melaksanaan konsep
negara hukum akan mendukung dan mempercepat terwujudnya negara
kesejahteraan di Indonesia. Sebaliknya, implementasi konsep negara hukum
yang tidak sempurna atau setengah-setengah dapat menjauhkan Indonesia
dari cita-cita pembentukannya sebagai sebuah negara.

15

BAB III
PENUTUP

Konsep negara hukum yang dianut dalam UUD 1945 adalah negara hukum
yang aktif/dinamis. Model negara hukum seperti ini menjadikan negara sebagai
pihak yang aktif berorientasi pada pemenuhan dan perwujudan kesejahteraan
rakyat sesuai dengan prinsip welvaarstaat¸yang merupakan kebalikan konsp dan
prinsip dari nachtwachternstaat atau negara penjaga malam. Sebab ciri yang
melekat pada negara hukum Indonesia sejalan dengan tujuan berdirinya negara
Indonesia, yaitu Perlindungan terhadap segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia; Pemajuan kesejahteraan umum; Pencerdasan kehidupan
bangsa; dan Keikutsertaan dalam memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Disamping itu, konsep
negara hukum Indonesia juga dipengaruhi oleh Pancasila sebagai kumpulan nilai-
nilai dasar yang diakui bersama bangsa Indonesia, dan menjadi landasan praktek
kedaulatan rakyat, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan Yang Adil
dan Beradab; Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; serta Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, negara hukum Indonesia yang
dijalankan haruslah senantiasa memperhatikan aspek ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, permusyawaratan dan keadilan.

16

Negara Hukum Indonesia. Jakarta: UI Press. 1995. Negara Hukum Indonesia Kebalikan Nachtwachterstaat. Al Atok. (2014). 5(2). DAFTAR PUSTAKA Buku : Azhary. NEGARA HUKUM INDONESIA. Analisis Yuridis Normatif tentang Unsur-unsurnya. 17 . Jurnal : Ridlwan. R. A. Z. Fiat Justisia.

EDWARD MANDALA. PAHAM KONSTITUSIONALISME PERTEMUAN KE-2 DISUSUN OLEH : FITRI SERTIANA NIM.SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 18 . 16102028 DOSEN PENGAJAR : DRS. M.

Hal dimaksud menggagas diadopsinya paham konstitusionalisme atau constitutionalism dalam perubahan konstitusi (constitution amandement) beberapa negara di abad 20 dan 21. yang pada hakikatnya mewujudkan hal pembatasan pemerintahan atau limited government. yang bertujuan to keep government in order. 19 . Muncul gagasan agar dalam konstitusi diatur semacam constitutional government.1 LATAR BELAKANG Dalam perkembangannya beberapa constitutional state menyadari bahwa konstitusi negara – negara dimaksud kurang memuat pengaturan hal pembatasan penguasa dan pengakuan hak – hak sipil rakyat banyak di dalamnya. BAB I PENDAHULUAN 1.

negara nan tiada berdaulat. dekrit. Istilah kedaulatan merupakan terjemahan dari souvereignty. Undang-Undang Dasar menempati tata urutan peraturan perundang-undangan tertinggi dalam negara. Konstitusi dalam sejarah perkembangannya membawa pengakuan akan keberadaan pemerintahan rakyat (= demos + cratein). kekuasaan peradilan dan pelbagai lembaga negara serta hak – hak rakyat. Constitutie is de hoogste wet. turut mereduksi puissance absolue negara-negara. bentuk negara.1 KONSTITUSI Konstitusi atau Grondwet. Revolutie Perancis turut menumbuh kembangkan kedaulatan rakyat dalam sistem la republique di abad XVII. konstitusi bermakna permakluman tertinggi yang menetapkan a.l. pemegang kedaulatan tertinggi. dengan menyerahkan kedaulatan (souvereignty) di tangan rakyat. Pemunculan konstitusi di USA di kala tahun 1787 meredam maeistatum dari kedaulatan. kekuasaan legislatif. bermakna de hoogste bevoegdheid. souvereinitas. BAB II PEMBAHASAN 2. yang dipadu dengan checks and balances. permakluman. Istilah Constitution berasal dari kata bahasa latin: constitutio bermakna a degree. Grundgesetz. Kewenangan (de bevoegdheden) secara formal melekatkan kekuasaan pada kedaulatan. Negara tanpa kedaulatan bermakna staat onbevoegdheid. Masalah kedaulatan menjadi demikian penting karena secara formal merupakan sentrum kekuasaan yang membagi-bagi sub-sub kekuasaan ke bawah. Dalam konteks institusi negara. 20 . bentuk pemerintahan. Kedaulatan dan kekuasaan bagai dua sisi sekeping mata uang. keduanya berasal dari kata bahasa latin: superanus atau supernitas. kewenangan yang sempurna dan tertinggi. Kedaulatan memuat pengakuan akan suatu kekuasaan karena di balik kedaulatan melekat kekuasaan. struktur negara. lebih rendah derajatnya dari the puppet state. Paham pemisahan kekuasaan di berbagai negara.

yaitu dititikberatkan pada isi konstitusi yang memuat dasar (grondslagen) dari struktur (inrichting) dan fungsi (administratie) negara. berpaut dengan gekwalificeerde naar de inhoud. Konstitusi merupakan naskah legitimasi paham kedaulatan rakyat. het Koninkrijk der Nederlander merupakan staat yang berdaulat. Djokosoetono mengingatkan agar makna konstektual ketiga pemahaman konstitusi tidak dibaurkan. Suriname dan Curacao yang bersifat mandiri (otonom). 21 . misalnya kadangkala konstitusi dalam makna formal tidak dibedakan dengan konstitusi dalam wujud naskah UUD atau Grondwet. agar menciptakan stabilitas (voor stabiliteit) perlu dinaskahkan dalam wujud UUD atau Grondwet. Dalam kenyataan. struktur kenegaraan Het Koninkrijk der Nederlander masih merupakan hubungan negeri pertuanan (oppergezag. Pasal 1 Grondwet voor het Koninkrijk der Nederlander menetapkan bahwasanya Het Koninkrijk der Nederlander omvak het grondgebried van Nederland. pemberlakuan konstitusi dengan sendirinya mengandung esensi pemerintahan rakyat. Tidak berarti. Nederlandsich Indie. negeri Hindia Belanda tidak lagi disebut kolonien en bezittingen dari het Koninkrijk der Nederlander. • Konstitusi dalam makna formal (constitutie in formele zin). Naskah dimaksud merupakan kontrak sosial yang mengikat setiap warga dalam membangun paham kedaulatan rakyat. berpaut dengan gekwalificeerde naar de maker. • Konstitusi dalam makna UUD (grondwet) selaku pembuktian (constitutie als bewijsbaar). Suriname en Curacao. Sejak pembaharuan Grondwet voor het Koninkrijk der Nederlander di tahun 1922 (dan kelak di tahun 1938). Djokosoetono memintakan perhatian atas beberapa makna konstekstual pemahaman konstitusi sebagai berikut: • Konstitusi dalam makna materil (constitutie in materiele zin). Nederlansich Indie. meliputi wilayah-wilayah (grongelieden): het Rijk in Europa. yaitu dititikberatkan pada cara dan prosedur tertentu dari pembuatannya. Dikatakan.

Constitutionalism implements the rule of laws. 2. ”Constitutional Government and Democracy”. ditugaskan kepada Gouverneur General . konstitusionalisme mengandung gagasan bahwa pemerintahan yang diselenggarakan oleh dan atas nama rakyat dikenakan beberapa pembatasan yang diharapkan akan menjamin bahwasanya kekuasaan yang diselenggarakan tidak disalahgunakan oleh 22 . Gouverneur General bertanggung jawab kepada Raja selaku oppergezag. Menurut Carl J Friedrich dalam buku beliau.2 KONSTITUSIONALISME MEMUAT ESENSI PEMBATASAN KEKUASAAN Walaupun paham konstitusionalisme diturunkan (derive) dari konstitusi. Konstitusionalisme menghadirkan situasi yang dapat memupuk rasa aman. Pelaksanaan pemerintahan di wilayah Hindia Belanda adalah atas dasar in naam der Konings. kata Richard Kay (Miriam Budiarjo. agar penyelenggaraan negara dan pemerintahan tidak sewenang- wenang dan hal dimaksud dinyatakan serta diatur secara tegas dalam pasal- pasal konstitusi.). dan dalam perkembangannya bahkan mendorong keberadaan constitutional state namun esensi konstitusionalisme mengagas pembatasan kekuasaan dalam negara. Constitutionalism atau Konstitusionalisme mengemban the limited state. it brings about predictability and security in the relations of individuals and the government by defining in the power and limit of that government (Konstitusionalisme mengatur pelaksanaan rule of law dalam hubungan individu dengan pemerintah. opperbestuur) antara Kerajaan Belanda dengan Hindia Belanda. berdasarkan wet op Staatsinrichting van Nederlands Indie atau Indische Staatsregeling (I. lazim disebut Menteri Jajahan. Suriname dan Curacao.S. 2008:170). karena adanya pembatasan terhadap wewenang pemerintah yang telah ditentukan terlebih dahulu). dengan menyampaikan laporan-laporan berkala serta segala keterangan yang diperlukan kepada Minister van Kolonien.

two types of limitations impinge on government. Kekuasaan nan melarang dan prosedur yang ditetapkan lebih dahulu. Penjelasan UUD 1945. Kekuasaan dibutuhkan oleh negara karena memberi kekuatan vital bagi penyelenggaraan pemerintahan namun harus diwaspadai tatkala kekuasaan itu terakumulasi di tangan penguasa tanpa dibatasi konstitusi. beberapa pasal UUD (redaksi lama) tidak mendukung paham konstitusionalisme itu. Manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung menyalahgunakannya. Pasal konstitusi dimaksud memuat paham konstitusionalisme. Rakyat pemegang kedaulatan tertinggi terikat pada konsititusi. Dikatakan pada butir (2): ”Pemerintahan berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar). under constitutionalism. UUD 1945 (redaksi lama) yang disahkan dalam Rapat PPKI di kala tanggal 18 Agustus 1945 nyaris tidak mengindahkan paham konstitusionalisme. Andrews (1968:13). Power is proscribed and procedures prescribed. tidak boleh dijalankan atas dasar the ruling of the mob. “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang – Undang Dasar”. akan tetapi manusia yang mempunyai kekuasaan sudah pasti akan menyalahgunakannya.mereka yang mendapat tugas untuk memerintah (Miriam Budiarjo. mengemukakan. ”Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolute”. tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas) . Kedaulatan rakyat dilaksanakan menurut UUD. Lord Acton (1838:1902) dalam suratnya bertanggal 5 April 1887 kepada Bishop Mandell Creighton. 2008:171). walaupun di dalamnya telah memberlakukan distribution of power di antara bidang -bidang kekuasaan negara. Angka II bahkan dengan jelas mencantumkan nomenklatur: Sistem Konstitusional. di bawah judul Sistem Pemerintahan Negara. Menurut William G. Pada Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 (redaksi baru) ditetapkan. 23 . Namun.

• Pengakuan hak-hak sipil dan politik warga. Salah satu pasal konstitusi yang sifatnya tiranis. termaktub dalam Pasal 7 UUD 1945 (redaksi lama). 24 . Pasal konstitusi tersebut tidak menetapkan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden secara tegas dan rinci. utamanya yang berkaitan dengan pemilihan umum dan pemilukada. Soekarno dan Soeharto memerintah dalam waktu yang cukup lama. antara lain dipandang perlu mengadopsi: • Sistem Separation of Power atau Distribution of Power yang disertai checks and balances. Pemberlakuan paham konstitusionalisme dalam UUD. berbunyi: ”Presiden dan Wakil Presiden memegang masa jabatannya selama masa lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali”. • Sistem Kekuasaan Peradilan yang merdeka dan mandiri. • Pembatasan masa jabatan-jabatan publik dalam negara. Di masa lalu. utamanya lebih memberdayakan peradilan adminstrasi. Soekarno sejak tahun 1945 sampai dengan tahun 1967 (22 tahun) saat diangkatnya Soeharto menjadi Pejabat Presiden RI pada Sidang MPRS tahun 1967 dan baru berhenti tahun 1998 (31 tahun). • Memberikan kewenangan pengaduan konstitusional (constitutional complaint) bagi Mahkamah Konstitusi. Keduanya dipilih selama masa jabatan lima tahun dan dapat dipilih lagi selama lima tahun berikutnya secara terus menerus.

Kewenangan (de bevoegdheden) secara formal melekatkan kekuasaan pada kedaulatan. 25 . BAB III PENUTUP Konstitusi merupakan naskah legitimasi paham kedaulatan rakyat. Naskah dimaksud merupakan kontrak sosial yang mengikat setiap warga dalam membangun paham kedaulatan rakyat. Kedaulatan memuat pengakuan akan suatu kekuasaan karena di balik kedaulatan melekat kekuasaan. Kedaulatan dan kekuasaan bagai dua sisi sekeping mata uang.

Modern Democracy In China. Konstitusi dan Konstitusionalisme. Marzuki. Bab VIII. Mingchen. Jurnal Legislasi Indonesia. Paris. Joshua Bau. Les Six Livres de La Republique I. Gramedia Pustaka Utama. Paradigma Kedaulatan Rakyat Dalam Perubahan Undang – Undang Dasar 1945. Jakarta. Shanghai 1923 Miriam Budiarjo. M. 1-8. L. Maret 2010. Harun Alrasid. 7. Jurnal Konstitusi. DAFTAR PUSTAKA Bodin. 2008. Kuliah Hukum Tata Negara Prof. No. 1982. 26 . Laica Marzuki. Jakarta. Penerbit PT. 7(4). Jakarta. HM. Jean. Commercial Press Ltd. Mr. Djokosoetono. Vol. Penerbit Ghalia Indonesia. 1576. 1. Dasar-Dasar Ilmu Politik.

M.SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 27 . 16102028 DOSEN PENGAJAR : DRS. DEMOKRASI INDONESIA PERTEMUAN KE-3 DISUSUN OLEH : FITRI SERTIANA NIM. EDWARD MANDALA.

semaraknya perbincangan tentang sistem demokrasi di Indonesia bukan karena bangsa atau pemerintahan di negeri ini tidak mengenal sistem demokrasi. 28 . setelah hampir lima tahun berjalan. Demokrasi pun kemudian dipertanyakan dan digugat ketika sejumlah praktik politik yang mengatasnamakan demokrasi seringkali justru menunjukkan paradoks dan ironi. Justru sebaliknya. artikel pidato para pakar dan politisi.2 LATAR BELAKANG "Demokrasi" adalah sebuah kata yang begitu sering diucapkan. Beberapa di antaranya bahkan telah diujicobakan di negeri ini: demokrasi liberal. Sementara itu. Dalam aras akademik. BAB I PENDAHULUAN 1. koran dan majalah. makin banyak ia dibahas makin terasa betapa sulit mencari contoh tentang negara yang memenuhi tatanan demokrasi secara sempurna. sebagian besar masyarakat berharap akan lahirnya tatanan dan sistem perpolitikan yang benar-benar demokratis. Ketika era reformasi berkembang menyeruak dalam tatanan kehidupan politik Indonesia. sejumlah makalah dikupas habis-habisan dalam berbagai seminar. Di Indonesia. demokrasi parlementer. Namun. telah pula diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Namun berbagai varian demokrasi ini gagal memberikan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang benar-benar berbasis pada nilai-nilai dan kaidah demokrasi dalam arti yang sebenar-benarnya. Tetapi. Namun. berbeda dengan di negara-negara berkembang lainnya. sejumlah buku. dan demokrasi Pancasila. baik pada aras praktik sistem politik maupun kajian akademik. bangsa Indonesia pada aras implementasi sistem politik telah banyak memahami varian-varian demokrasi di dunia. praktik-praktik politik dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis belum menampakkan arah yang sesuai dengan kehendak reformasi. pencarian terhadap sosok demokrasi pun terus digelar.

Gugatan terhadap demokrasi ini sesungguhnya memiliki relevansi yang kuat dalam akar sejarah dan sosiologi politik bangsa Indonesia. 29 . tulisan ini hendak melihat bagaimana perjalanan demokrasi di negeri ini. yang kemudian akan dianalisis guna membaca prospek demokrasi Indonesia di masa depan dengan mengambil contoh kasus Pemilu dan Pilkada. Dalam konteks itulah.

angan masyarakat menjadi sirna. Namun sayangnya. (Feith. maka melumernya corak demokratik dan egaliter sebagai cita-cita sesungguhnya budaya Indonesia sangatlah dipengaruhi oleh perkembangan sosial. tidak ditemukan. yang di satu sisi mencerminkan keterbatasan dan keharmonisan obyektif di luar diri manusia. persoalan demokrasi adalah semata-mata merupakan penciptaan manusia. Akan tetapi seperti dikatakan Apter (1963).1 PARADOKS MASA ORLA Persoalan di seputar demokrasi bukanlah sesuatu yang bersifat alamiah dan dapat tumbuh dengan sendirinya dalam kehidupan bangsa. akibat tidak adanya dukungan struktur politik yang mapan dan 30 . Pembangunan semesta yang dicanangkan Presiden Soekarno untuk mengubah perekonomian kolonial menjadi perekonomian nasional yang bercorak lebih sosialis terbukti gagal total. persyaratan yang hendak diwujudkan tersebut. ekonomi dan politik di Indonesia. Perubahan-perubahan yang terjadi lebih banyak bergerak pada peringkat estesis-simbolik ketimbang etis-substantif. ternyata justru tidak membawa perubahan yang berarti. Dapat diambil contoh kasus ketika terjadinya proses pemindah-alihan kekuasaan beamtenstaal Belanda ke tangan Republik. Semangat egaliterian budaya demokratik yang terpatri dalam angan. 1984). Obsesi dari pilihan politik dan ekonomi semacam ini adalah terbentuknya sistem ekonomi kapitalis yang mampu menopang tegaknya masyarakat berdaya (civil society). dan secara ekonomis dalam bentuk pilihan terhadap penciptaan kelas menengah pribumi yang kukuh (Bulkin. setelah pernyataan kemerdekaan dicoba untuk diwujudkan secara politik dalam bentuk pilihan pada demokrasi liberal dan parlementer. BAB II PEMBAHASAN 2. 1971). terutama adanya kelas menengah yang kuat sebagai aktor sentral untuk menopang demokrasi. Beranjak dari semangat dan kerangka proposisi di atas. Jika hal ini dapat terwujud diharapkan demokrasi akan menampakkan dirinya secara nyata.

Kegagalan praktek pembumian demokrasi liberal dan parlementer lalu direduksi sebagai kegagalan penerapan demokrasi ala Barat yang bertentangan dengan jati diri dan budaya bangsa Indoesia. demokratis. diinterpretasikan bahwa budaya politik dijabarkan sedemikian rupa sehingga negara bertindak sebagai aktor tunggal dan sentral. PSI. dan Masyumi serta meminggirkan lawanlawan politiknya yang kritis.2 MASA ORBA Seiring dengan kegagalan pembumian demokrasi pada masa Orde Lama tersebut. 2. Bung Karno selaku Presiden bahkan memperagakan pemerintahan diktator dengan membubarkan Konstituante. Maka kemudian. Di sinilah kemudian terjadi proses penyingkiran corak egaliter dan demokratik dari budaya bangsa Indonesia dan kemudian digantikan oleh 31 . Kekuasaan otoriter yang anti demokrasi pada masa Orde Lama itu akhirnya tumbang pada tahun 1965. Logika penempatan negara sebagai aktor tunggal ini terartikulasi melalui pengesahan secara tegas dan mutlak bagi sentralitas negara dengan seluruh perangkat birokrasi dan militernya demi kepentingan pembangunan ekonomi dan politik. namun praktik yang meluas dalam kehidupan bangsa dan negara justru adalah kekuasaan yang serba terpusat (sentralistik) pada diri Soekarno. Kelas menengah yang diharapkan akan lahir pun sulit diketemukan. Nampaknya sengaja diabaikan kenyataan bahwa kegagalan penerapan demokrasi ala Barat tersebut sesungguhnya lebih disebabkan oleh rapuhnya bangunan sistem politik yang berpijak pada ideologi-kultural dan keroposnya sistem ekonomi saat itu. unsur-unsur "di luar" masyarakat secara perlahan-lahan tumbuh dan berkembang menjadi wahana tumbuhnya logika dan penjabaran baru budaya bangsa Indonesia. Pada masa Orde Baru. Sekalipun Soekarno mengatakan bahwa pemerintahannya menganut sistem demokrasi. yang katanya menjadi demokrasi khas Indonesia. Soekarno mencoba sistem Demokrasi Terpimpin.

pembersihan dan penyatuan birokrasi negara dan militer di bawah satu komando. yang dimungkinkan karena dua hal pokok (Suharso. Oleh karena itu. stabilitas nasional dikaitkan dengan masalah legitimasi dan banyak berfungsi untuk mendukung seni mengelola otoritas kekuasaan negara (Geertz. melalui integrasi. dan obsesi negara untuk membangun pertumbuhan ekonomi sebagai peletak dasar penghapusan kemiskinan di lain pihak. pengukuhan negara qua negara juga dilakukan melalui upaya penyingkiran politik massa. Partai Politik. Perlahan-lahan konsep stabilitas nasional diperluas menjadi logika anti-kritik dan anti konsep. Kedua. Yang lahir dalam situasi seperti itu adalah demokrasi semu. "demokrasi jadi- jadian". keterlibatan negara melalui aparat birokrasi dan militer diabsahkan hingga menjangkau ke seluruh aspek kehidupan masyarakat. Upaya ini membuka jalan bagi penjabaran dan pemberian logika baru dalam feodalisme budaya bangsa Indonesia secara nyata dan operasional. 32 . Pers. Pertama.corak feodalistik. Sebagai logika anti-kritik. Sebagai logika anti konsep. Stabilitas pembangunan ekonomi lantas diidentikkan dengan stabilitas nasional. MPR. Partisipasi politik yang terlalu luas dan tidak terkontrol. Yang terjadi kemudian adalah sentralisasi peran negara yang dipersonifikasikan lewat Soeharto. DPR. 1980). Paradoks demokrasi ini pada akhirnya juga runtuh pada tanggal 21 Mei 1998. Ormas dan hampir seluruh institusi sosial politik kenegaraan yang "dipasung" secara sistematik di bawah kendali negara oleh Soeharto. 2002). dianggap dapat membahayakan stabilitas politik yang merupakan conditio sine qua non bagi berlangsungnya pembangunan ekonomi. Jabaran dan logika baru ini semakin menemukan momentumnya berkaitan dengan kenyataan di masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan ekonomi yang sangat parah di satu pihak. stabilitas nasional dikaitkan dengan masalah-masalah security dan banyak berfungsi untuk membantu penyelenggaraan mekanisme kekuasaan negara.

kebebasan berserikat.3 ERA REFORMASI Pada masa reformasi. (3) Perpecahan di kalangan elite politik yang berkuasa. (2) Kedalaman krisis ekonomi yang dipercaya berakar pada korupsi dan kurangnya pertanggung jawaban yang meresapi sistem politik. sehingga reformasi demokratis diyakini merupakan solusi.2. yang ditandai dengan booming munculnya banyak parpol baru. 2004). nampaknya masih belum banyak kekuatan-kekuatan sosial politik yang benar-benar memiliki kesungguhan untuk menggelindingkan demokrasi. Berbagai paradoks yang masih berkembang di era reformasi sering membuat kita untuk berpikir ulang dan mengedepankan pertanyaan kritis: Apakah masa transisi ini akan bisa dilewati dengan baik sehingga terbentuk consolidated democracy. namun di sana sini paradoks demokrasi masih banyak dijumpai. Namun. yaitu: (1) Meluasnya antusiasme terhadap reformasi. atau kita gagal melaluinya sehingga yang muncul adalah consolidated anarchy. Demokrasi yang dibangun dan dipahami lebih mengacu pada demokrasi yang bersifat prosedural kelembagaan ketimbang demokrasi yang mengacu pada tata nilai. di balik dinamika reformasi yang penuh akselerasi tinggi. 33 . kemerdekaan berpendapat. Ada tiga alasan munculnya optimisme semacam ini (Aspinall. Aspinall (2004) mengatakan bahwa Indonesia sedang mengalami saat yang demokratis. Muncul tuntutan-tuntutan terhadap reformasi politik karena adanya optimisme perbaikan implementasi demokrasi. kebebasan pers. yang merupakan ciri-ciri demokrasi. Inisiatif politik yang dimotori oleh Amien Rais mendorong reformasi terus bergulir. Reformasi yang gegap gempita tersebut memberikan secercah harapan akan munculnya tata kehidupan yang benar-benar demokratis. dan sebagainya. Sekalipun berbagai pranata bangunan demokrasi kini telah terbentuk.

Ketika keseragaman pada Orde Baru dihujat habis-habisan. Ketiga. Keempat. pemaksaan kehendak. Ketika pilihan tunggal ala Orde Lama digugat. bahkan sampai ke bentuk fisik. Gejala monopoli untuk menang sendiri mulai marak. tetapi lebih sebagai alat dan isu untuk meraih kekuasaan. Kedua. yang diwarnai dengan semangat kental hanya sekedar demi meraih kemenangan Pemilu tanpa menunjukkan komitmen serius dalam mengagendakan demokrasi. kini juga tumbuh retorika bahwa pilihan tunggal itu juga demokratik. dengan menggunakan simbul-simbul milik partai. hanya karena merasa berbeda dengan kekuatan politik yang ada. Tumbuh ketakutan politik diam- diam di berbagai kalangan masyarakat. kendati harus memakai berbagai fasilitas publik. Menurut Suharso (2002) setidaknya tercatat berbagai paradoks demokrasi yang patut dikritisi saat ini. dan berbagai perilaku menyimpang lainnya yang justru mencerminkan perilaku anti demokrasi. Politik zero sum game (dan bukan win-win) dalam rangka menenggelamkan lawan politik menjadi praktek-praktek lazim yang menumbuhkan rasa takut untuk berbeda. Demokrasi nyaris tidak menjadi sebuah alam pikiran dan kearifan untuk toleran terhadap perbedaan. berkembangnya konspirasi politik yang sangat pragmatis dengan mereka yang dulu anti demokrasi. Pertama. percekcokan massal yang sering dilanjutkan dengan adu fisik secara kolektif. anarki. demokrasi mulai dimasukkan hanya sekedar sebagai retorika politik ketimbang sebagai sebuah agenda politik. ketika kultus individu yang diperagakan oleh rezim Soeharto dengan berbagai simbolnya dihujat keras untuk dihabisi. Kesan yang tumbuh ialah bahwa demokrasi bukan lagi sebagai idealisme dan agenda yang harus diperjuangkan untuk mencerahkan kehidupan berbangsa dan bernegara. radikalisme. termasuk mereka yang kritis. kini sebagian masyarakat politik malahan memperagakan simbolisasi- simbolisasi figur kepemimpinan yang membawa warna kultus individu 34 . kini sebagian kekuatan demokratik berargumentasi bahwa demokrasi tidak harus selalu berisi perbedaan tetapi juga kesamaan. berkembangnya kekerasan politik.

betapa terjal jalan yang harus ditempuh oleh bangsa ini menuju demokrasi yang sesungguhnya. Bahwa. 35 . Simbol-simbol budaya politik Orde Baru bahkan mulai dibangkitkan kembali. Tidak jadi soal apakah kharisma politik itu nyata atau semu. ternyata tidak mudah untuk mewujudkan demokrasi secara jujur. terutama yang baru saja dilaksanakan pada tahun 2004. seakan merupakan potret kehidupan politik yang benar. tidak saja karena sifatnya yang berbeda dengan pilkada-pilkada sebelumnya. Pemilu. Untuk memahami dengan baik kompetisi dan konflik politik sejak runtuhnya rezim Soeharto. dalam rangka memberikan kesan bahwa telah lahir sebuah potensi kepemimpinan baru yang sangat layak untuk memimpin Indonesia ke depan. dan pilkada langsung yang akan dimulai pada tahun 2005 untuk memilih gubernur. jernih dan bertanggung jawab. yang penting ada pesona yang ditawarkan sebagai sebuah komoditas politik. Hampir dapat dipastikan bahwa dalam setiap periode menjelang pemilu dan pilkada situasi dan kondisi politik seringkali diwarnai dengan berbagai persaingan dan konflik antar kekuatan politik. Sejumlah ironi atau paradoks demokrasi yang muncul di permukaan era reformasi ini menunjukkan. namun yang lebih penting adalah bahwa dengan Pemilu 2004 dan Pilkada secara langsung itulah masa depan politik Indonesia dipertaruhkan. bupati atau walikota mempunyai makna strategis. 2. Berbagai upaya untuk membangun sentralisasi otoritas dengan mobilisasi simbolsimbol kharisma politik mulai dilakukan. baik pada tingkat alam pikiran maupun lebih-lebih sebagai politik yang tersistem. dalam bentuk lain. Perjuangan demokrasi akhirnya harus berhadapan dengan godaan-godaan kekuasaan di tengah sejumlah jerat politik yang sebenarnya adalah anti demokrasi.4 FENOMENA PILKADA Dalam konteks kehidupan politik demokrasi di Indonesia. pemilu dan pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan kehidupan politik yang demokratis.

Berkembangnya kebudayaan masyarakat sebagai hasil aplikasi ideologi pembangunanisme yang melahirkan sikap apolitik. Masa transisi demokrasi menjadi titik krusial yang membuat kita semua menjadi masyarakat yang oleh Turner dinamakan sebagai liminality. Atau dengan bahasa sosiologis sebagai masyarakat yang anomali. atau pengamanan- pengalaman baik pada struktur politik maupun perilaku elite politik yang pantas dijadikan model dan acuan dalam kehidupan mereka sehari-hari. permisif. yaitu suatu masyarakat yang tidak lagi mempunyai pegangan nilai- nilai. ekspresif dan hedonistic. Dinamika proses politik yang terjadi menyusul jatuhnya Soeharto. 2. 3. Setelah melewati Pemilu 1999 yang oleh sebagian besar masyarakat. panutan. Lebih-lebih masyarakat banyak 36 . diakui sebagai pemilu yang paling demokratis di Indonesia. dan di sisi lain masyarakat tidak lagi dapat melihat dan menemukan keteladanan. Konfigurasi konflik politik di antara berbagai kekuatan politik yang dihasilkan oleh praktik politik Orba. yaitu: 1.Pemahaman itu pada gilirannya paling sedikit menuntut pemahaman lebih khusus terhadap tiga hal yang sangat penting. Berkembangnya masyarakat liminalitas atau anomali di satu sisi adalah karena mereka menjadi anti struktur. maraknya kekerasan politik secara kolektif. Dalam kondisi demikian kesediaan kita untuk menyerahkan semua proses politik pada serangkaian prosedur dan aturan main yang disepakati bersama menjadi cukup merepotkan. Yang terjadi adalah bukannya konsolidasi demokrasi tetapi justru perkembangan ke arah apa yang disebut frozen democracy yang antara lain ditandai dengan berkembangnya konflik etnis. yang kemudian disusul dengan sistem politik yang benar-benar demokratis. di kalangan sebagian dari kita seakan berkembang harapan baru bahwa di negeri kita ini akan segera terbangun konsolidasi demokrasi. tidak saja nasional tetapi juga internasional. suatu masyarakat yang digambarkan "tidak berada di sana dan tidak pula berada di sini". dan lokalitas politik yang berlebihan.

dan pada front kedua antara kekuatan-kekuatan proto demokratik yang saling memperebutkan posisi terbaik dalam kompetisi memperoleh the allocation of authoritative value di bawah sistem demokrasi. dan ketika satu-satunya tindakan yang akan diambil oleh semua kekuatan yang menderita kekalahan di dalam kompetisi politik adalah menyiapkan diri untuk memperoleh kemenangan di dalam putaran persaingan politik yang akan datang. 37 .menyaksikan para elit politik melakukan berbagai pelanggaran terhadap aturan-aturan main dan prosedur yang disepakati bersama. baik dalam aras politik maupun ekonomi. Dalam masa transisi ini pula kita saksikan konflik-konflik yang inheren terjadi secara bersamaan di dua front sekaligus: Di front pertama antara opponents dan defenders dari kekuatan otoritarian. when no one can imagine acting outside the democratic institutions. ketika persaingan politik yang sangat keras di antara kekuatan-kekuatan proto demokratik dan elit-elit politik dilakukan nyaris secara all out tanpa landasan etika dan kesantunan politik yang kuat. Kegagalan untuk membangun instusi-instusi yang diperlukan sebagai landasan bagi suatu proses transisi demokrasi yang demikian itulah yang telah menjadi sumber dari carut marutnya kehidupan politik nasional saat ini. "Democracy is consolidated when under given political and economic conditions a particular system of institution becomes the only game in town. ketika tidak ada satu aktor politik pun yang memiliki kesempatan untuk bertindak di luar institusi-institusi demokrasi. 1991). Padahal sebagaimana dikatakan oleh Przeworkski (1991) konsolidasi demokrasi idealnya terjadi ketika konflik yang terjadi pada front yang pertama telah berhasil membangun kelembagaan demokrasi sebagai satu- satunya landasan atau arena bagi konflik politik yang terjadi pada front yang kedua. when all the loosers want to do is to try again within the same institutions under which they have lost"(Przeworski. Yang kita saksikan kemudian adalah berbagai penyimpangan yang dilakukan secara kolektif.

5 MEMBANGUN DEMOKRASI Membangun institusi-institusi demokratik adalah prasyarat penting bagi peletakan sistem politik demokratis. Akibatnya. yang sebangun dengan tuntutan sistem politik demokratik. Inilah situasi dan realitas politik yang tengah kita hadapi saat ini. dan wilayah konflik antara kekuatan-kekuatan proto demokratik satu sama lain di front kedua. realitas yang bukan tidak mungkin akan mendorong terciptanya alienasi politik masyarakat dan kehidupan politik yang liar. 2. bukan bagi kepentingan rakyat yang mereka wakili. Prasyarat penting yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan itu adalah terbangunnya 38 . khususnya di kalangan para elit dan tokoh politik. adalah juga karena ketiadaan dan makin tipisnya etika serta kesantunan politik yang diperlihatkan oleh elit-elit politik dalam melakukan kompetisi politik demi memperjuangkan kepentingan politik masing-masing. sangat subur bagi persemaian anarkhi dan kekerasan politik apabila para elit dan tokoh politik gagal untuk mengelola itu semua. perilaku para elit politik khususnya mengaburkan batasbatas wilayah konflik antara kekuatan-kekuatan proto demokratik dan kekuatan-kekuatan pro status quo di front yang pertama. Demikian pula Pilkada langsung yang akan dimulai tahun 2005 mendatang merupakan proses politik strategis menuju kehidupan politik demokratis. Hal yang tak kalah penting adalah upaya kita agar terbangunnya etika dan moralitas politik baru. Yang terjadi semakin transparan di hadapan mata publik bahwa "seni memerintah" (the art of governing) semakin berkembang menjadi "seni untuk menipu"(the art of deceiving) rakyat di dalam skala yang makin besar. Sumbernya selain karena ketidakmampuan kekuatan-kekuatan proto demokratik untuk membangun lembaga-lembaga demokrasi. Dalam kondisi masa transisi yang demikian muncul keyakinan publik bahwa satu kesalahan yang sangat serius telah terjadi di dalam pemerintahan dan masyarakat kita. bahwa semakin banyak elit dan tokoh politik bertindak hanya bagi kepentingan pribadi mereka sendiri.

terbangunnya etika dan moralitas politik yang berkeadaban demokratik merupakan prasyarat yang tidak dapat ditawar lagi. Budaya politik seperti ini akan dapat membuat dan mendorong terbangunnya etika dan moralitas politik yang santun. yet both too involved. kritis. Sayangnya perilaku politik para tokoh dan elit politik saat ini nampaknya masih jauh dari apa yang dijelaskan oleh Gould. 1963). Dalam implementasinya perilaku santun. dan berkeadaban para elit dan tokoh politik akan dapat dilihat dari terbangunnya komunitas politik yang disebut Suharso (2000) sebagai followership. Dalam sosiologi masyarakat Indonesia yang kental diwarnai dengan budaya paternalistik dan feodalisme. he must be active. yet passive involved. Tanpa followership. kemampuan untuk mengendalikan egonya. influential yet differential (Almond-Ferba. komitmen. partisipatif. suasana bebas dalam demokrasi cuma sekedar jadi ajang bebas saling menjatuhkan dan bebas saling menjegal. Jika konfigurasi perilaku elit dan tokoh politik mampu 39 . terbuka. toleran. Kebebasan dalam demokrasi lalu diartikan sebagai bebas untuk terus-menerus berebut kursi kekuasaan. kesantunan politik. Terlalu sulit untuk menemukan elit politik yang mempunyai moralitas dan etika politik yang mencerminkan kesantunan. kejujuran.kebudayaan dan kepribadian politik demokratik yang menurut Gould (1998) meliputi elemen-elemen: inisiatif rasional politik. toleran dan tetap patuh pada aturan main. fleksibilitas dan open mindness. Followership disini dijelaskannya sebagai gambaran karakter yang mempunyai kesediaan untuk bekerjasama. Pada tingkat budaya politik perlu dibangun civic culture dimana the citizen is called on to pursue contradictore. dan akhirnya keterbukaan. jujur. Dengan demikian berarti. toleran dan berkeadaban. disposisi resiprositas toleransi. kejujuran. serta politicall efficacy dengan corak komunitas politik yang aktif. tugas untuk mewujudkan semua tuntutan di atas tentulah akan kembali menjadi tugas bagi para elit dan tokoh politik untuk mengartikulasikannya. keadilan dan toleran dalam kehidupan politik sehari-hari.

untuk memasuki iklim demokrasi yang benar dan baik perlu pendewasaan. di balik semua perdebatan teoretik tentang demokrasi. baik elite maupun awam menunjukkan mentalitas yang mandiri sebagaimana dikenal dalam civil society adalah agenda mendesak yang perlu dipikirkan. maka pemberdayaan berpolitik menjadi salah satu prasyarat penting pula dalam membangun demokrasi. Bukan hanya kebebasan mimbar atau kebebasan berbicara semata. Bukan pula hanya kualitas pers yang bebas. juga di balik semua tuntunan bagi demokratisasi negeri ini yang datang dari segenap penjuru.mewujudkan tuntutan di atas sekaligus dapat menciptakan public opinion yang positif bahwa dalam perebutan the allocation of authoritative value dilakukan di atas prinsip etika dan moralitas politik demokratik. dan bukan semata-mata sebuah proses besar kelembagaan yang kasat mata. Bagaimana agar masyarakat. Kemudian pada arus budaya politik pula diperlukan upaya membangun otonomi masyarakat. tetapi juga kualitas eksekutif agar bisa menangkap suara hati nurani rakyat. tapi juga kedewasaan pembicaraannya. 40 . tampaknya tak cukup muncul suatu kesadaran mendasar bahwa demokrasi sebenarnya adalah sebuah proses yang seharusnya berjalan sejak tingkat individual. Semboyan seorang demokrat adalah "aku mungkin tak setuju dengan pendapatmu. tapi aku akan mati- matian berjuang agar kau bisa menyuarakan pendapat itu". Dengan kata lain. sebab untuk mendirikan (sistem) demokrasi bukan hanya perlu kebebasan berserikat. Jangan hanya muncul tuntutan terhadap perbaikan kualitas legislatif yang bisa menyuarakan hati nurani rakyat. Semboyan inilah yang tak pernah bisa hadir dalam masyarakat kita. tetapi juga kualitas ketanggapan pembacanya. Last but not least. Jika demokrasi juga mencakup sikap budaya dan tidak sekedar tatanan politik yang hanya diimplementasikan dalam teks-teks politik.

BAB III PENUTUP Makna dan pemahaman demokrasi sepanjang sejarah pemerintahan Indonesia memberi arti khusus bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Ada banyak paradoks demokrasi atau ironi demokrasi yang terjadi di era orde lama. Proses dan perkembangan demokrasi. akhirnya bertatap muka dengan kepentingan kekuasaan dalam konteks perangkap politik yang benar tidak demokratis. orde era baru dan era reformasi. 41 .

Gramedia. Jurnal : Przeworski. Gould. Jakarta: PT. 3(2). Wacana Politik. Demokrasi Ditinjau Kembali. "Quo Vadis Demokrasi Indonesia" dalam Mahfud MD (eds). 1980. Negara dan Penjaja. Clifford. 1991. 2000. Suharso. Hukum dan Demokrasi. 42 . 1998.Gramedia. London: McMillan. Charles. H. DAFTAR PUSTAKA Buku : Purnaweni. Demokrasi Indonesia: Dari masa ke masa. (2004). Geertz. Jakarta: PT. Yogyakarta: LkiS. The Democracy and Organization of Political Parties. Jurnal Administrasi Publik.

M. PARTAI POLITIK SEBAGAI BASIS KETATANEGARAAN INDONESIA PERTEMUAN KE-4 DISUSUN OLEH : FANDY IRAWAN NIM. EDWARD MANDALA.16102098 DOSEN PENGAJAR : DRS.SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 43 .

dah nua dapat dipilih MPR hingga tujuh kali masa jabatan. dalam realitasnya. pertama. atau tepatnya secara formal sebagai pejabat Presiden pada 1967. Selama lebih dari tiga dekade rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto. 44 . BAB I PENDAHULUAN 1. yang berlangsung adalah sistem otoriter yang berselubung "demokrasi". Meskipun UUD 1945 sebelum amandemen secara substansial membatasi kekuasaan presiden hingga dua periode. Meskipun pemerintahan Soeharto sendiri menamakan sistem politik yang dipertahankannya s tiga dekade sebagai "Demokrasi Pancasila". yang meskipun diangkat oleh MPRS sebagai "presiden seumur hidup" -dan karena itu dianggap sebagai penyelewengan terhadap UUD 1945. rezim Orde Baru melakukan penafsiran subyektif atas anak kalimat in. bangsa Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang menganut sistem politik otoriter. sistem politik Indonesia berubah drastis. hanya memerintah secara efektif selama enam tahun (1959-1965).2 LATAR BELAKANG Sejak gerakan reformasi bergulir pada 1997-1998 dan berhasil "memaksa" Presiden Soeharto lengser atau mundur dari kekuasaannya selama lebih dari 30 tahun. kepemimpinan presiden yang berlangsung selama 7 tujuh) periode sejak 1966. Kekuasaan Soeharto hingga tujuh periode ini bahkan jauh melampaui kekuasaan Sukarno. Sejumlah elemen otoritarianisme rezim Orde Baru di antaranya adalah.

Hugopian. Sebagai suatu organisasi. sehingga dapat mengatasi atau memengaruhi tindakan-tindakan pemerintah”. BAB II PEMBAHASAN 2. memberikan jalan kompromi bagi pendapat yang saling bersaing. mewakili kepentingan tertentu. Sedangakn menurut pandangan Neumann (Budiardjo. “Partai politik adalah suatu organisasi yang dibentuk untuk mempengaruhi bentuk dan karakter kebijaksanaan publik dalam kerangka prinsip-prinsip dan kepentingan ideologis tertentu melalui praktek kekuasaan secara langsung atau partisipasi rakyat dalam pemilihan”. yaitu mereka yang memusatkan perhatiannya pada pengendalian kekuasaan pemerintahan dan yang bersaing untuk memperoleh dukungan rakyat. Dalam pengertian modern. serta menyediakan secara maksimal kepemimpinan politik secara sah (legitimate) dan damai (Amal. parpol adalah “suatu kelompok yang mengajukan calon-calon bagi jabatan publik untuk dipilih oleh rakyat. 1988: xi). 1981: 14). dengan beberapa kelompok lain yang mempunyai pandangan berbeda-beda. parpol secara ideal dimaksudkan untuk mengaktifka dan memobilisasi rakyat. Dengan demikian parpol merupakan perantara yang besar yang menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi-ideologi sosial dengan lembaga-lembaga pemerintahan yang resmi dan yang mengkaitkannya dengan aksi politik di dalam masyarakat yang lebih luas”. 45 . “Partai politik adalah organisasi artikulatif yang terdiri dari pelaku-pelaku politik yang aktif dalam masyarakat. Menurut pandangan Mark N.2 PENGERTIAN PARTAI POLITIK Partai politik (parpol) merupakan keharusan dalam kehidupan politik modern yang demokratis.

orientasi dan nilai-nilai dari masyarakat di mana dia berada. dan sekaligus merupakan salah satu cara untuk menyeleksi para calon pimpinan partai atau pemimpin bangsa. Sebagai sarana komunikasi politik. Sebagai “reactive linkage”. sedangkan di pihak lain juga berfungsi menjelaskan dan menyebarluaskan kebijaksanaan pemerintah kepada masyarakat (khususnya anggota parpol yang bersangkutan. Rekrutmen politik akan menjamin kontinuitas dan kelestarian partai. Sebagai sarana rekrutmen politik (instrument of political recruitment). Sebagai institusi yang berfungsi penetratif (penetrative linkage). dalam arti sebagai lembaga yang ikut memainkan peranan dalam proses pembentukan kebijakan negara. yaitu lembaga yang melakukan reaksi atas kebijakan yang dikeluarkan oleh negara. dalam negara demokrasi modern fungsi parpol secara umum adalah : 1.2 FUNGSI DAN PERANAN PARTAI POLITIK Setelah memahami definisi-definisi partai politik dapat dihubungkan dengan peran dan fungsi partai politik (parpol). yaitu proses dimana seseorang memperoleh pandangan. b. 3.2. 46 . 2. yakni: a. yakni proses melalui mana partai mencari anggota baru dan mengajak orang yang berbakat untuk berpartisipasi dalam proses politik. Dengan demikian. Proses tersebut juga mencakup proses di mana masyarakat mewariskan norma-norma dan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam hal ini menurutnya ada dua peranan penting parpol dalam linkage politik. Menurut James Rosnau (1969) lebih menekankan kepada fungsi parpol sebagai sarana penghubung antara berbagai macam kepentingan dalam suatu sistem politik. yaitu di satu pihak merumuskan kepentingan (interest articulation) dan menggabungkan atau menyalurkan kepentingan (interet aggregation) masyarakat untuk disampaikan dan diperjuangkan kepada pemerintah. Sebagai sarana sosialisasi politik.

2. Definisi MPR :  Sebagai Lembaga Tertinggi Negara diberi kekuasaan tak terbatas (super power) karena “kekuasaan ada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR” dan MPR adalah “penjelmaan dari seluruh rakyat Indonesia” yang berwenang menetapkan UUD. Deskripsi Singkat Struktur Ketatanegaraan RI Sebelum Amandemen UUD 1945 Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi. Dalam hal ini. konflik harus bisa dikendalikan atau dijinakan agar tidak berlarut-larut yang bisa menggoyahkan dan membahayakan eksistensi bangsa. yakni bahwa dalam negara demokratis yang masyarakatnya terbuka dan plural. 4. GBHN. yaitu Mahkamah Agung (MA).3 KETATANEGARAAN INDONESIA A. Oleh karena itu.  Presiden yang dipilih secara terus menerus sampai 7 (tujuh) kali berturut turut. perbedaan dan persaingan pendapat sangatlah wajar. MPR pernah menetapkan antara lain:  Presiden. Dalam praktek ketatanegaraan. parpol dapat berperan menekan konflik seminimal mungkin. 47 . MPR mendistribusikan kekuasaannya (distribution of power) kepada 5 Lembaga Tinggi yang sejajar kedudukannya. akan tetapi sering menimbulkan konflik sosial yang sangat luas.  Susunan keanggotaannya terdiri dari anggota DPR dan utusan daerah serta utusan golongan yang diangkat. mengangkat presiden dan wakil presiden. Presiden. sebagai presiden seumur hidup. kemudian kedaulatan rakyat diberikan seluruhnya kepada MPR (Lembaga Tertinggi). Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sebagai sarana pengatur konflik.

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).  Mengatur mekanisme pengangkatan dan pemberhentian para pejabat negara. yaitu dengan memanfaatkan kekuatan partai politik yang paling banyak menduduki kursi di MPR.  Memberhentikan sebagai pejabat presiden.  Menata kembali lembaga-lembaga negara yang ada serta membentuk beberapa lembaga negara baru agar sesuai dengan sistem konstitusional dan prinsip negara berdasarkan hukum.  Tidak memperpanjang masa jabatan sebagai presiden. 48 . seperti Hakim.  Setiap lembaga negara sejajar kedudukannya di bawah UUD 1945.  Lembaga Negara yang paling mungkin menandingi MPR adalah Presiden. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). yaitu Presiden.  Sistem konstitusional berdasarkan perimbangan kekuasaan (check and balances) yaitu setiap kekuasaan dibatasi oleh Undang-undang berdasarkan fungsi masing-masing. Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Mahkamah Agung (MA). Perubahan (Amandemen) UUD 1945:  Mempertegas prinsip negara berdasarkan atas hukum [Pasal 1 ayat (3)] dengan menempatkan kekuasaan kehakiman sebagai kekuasaan yang merdeka. penghormatan kepada hak asasi manusia serta kekuasaan yang dijalankan atas prinsip due process of law. Deskripsi Struktur Ketatanegaraan RI “Setelah” Amandemen UUD 1945 Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi dimana kedaulatan berada di tangan rakyat dan dijalankan sepenuhnya menurut UUD. B.  Meminta presiden untuk mundur dari jabatannya. UUD memberikan pembagian kekuasaan (separation of power) kepada 6 Lembaga Negara dengan kedudukan yang sama dan sejajar. dan Mahkamah Konstitusi (MK). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Definisi MPR :  Lembaga tinggi negara sejajar kedudukannya dengan lembaga tinggi negara lainnya seperti Presiden. MA.  Tetap berwenang menetapkan dan mengubah UUD. DPR.  Menghilangkan kewenangannya menetapkan GBHN.  Menghilangkan supremasi kewenangannya. BPK. DPD. MK. Penyempurnaan pada sisi kedudukan dan kewenangan maing-masing lembaga negara disesuaikan dengan perkembangan negara demokrasi modern. yaitu terdiri dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan angota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih secara langsung melalui pemilu.  Menghilangkan kewenangannya mengangkat Presiden (karena presiden dipilih secara langsung melalui pemilu). 49 .  Susunan keanggotaanya berubah.

50 . maka basis sosiologis parpol adalah Ideologi dan kepentingan yang diarahkan sebagai usaha-usaha untuk memperoleh kekuasaan. Dengan demikian menunjukkan kedudukan parpol sebagai salah satu wadah atau sarana partisipasi politik rakyat dan perantara antara kekuatan-kekuatan sosial dengan pemetintah. BAB III PENUTUP Berdasarkan definisi-definisi di atas. Tanpa kedua elemen tersebut parpol tidak akan mampu mengidentifikasikan dirinya dengan para pendukungnya.

Surbakti. Memahami Ilmu Politik.Jakarta: Grasindo. Abdul Mukthie. 2012. Partai Politik Dalam Perkembangan Ketatanegaraan Indonesia. 2010. DAFTAR PUSTAKA Fadjar. 51 . Ramlan. Malang: Setara Press.

SISTEM PEMILIHAN UMUM DISTRIK DAN PROPOSIONAL PERTEMUAN KE.5 DISUSUN OLEH : FANDY IRAWAN NIM. 16102098 DOSEN PENGAJAR : DRS. M. EDWARD MANDALA.SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 52 .

Meskipun begitu. Pada saat berbicara demokrasi perwakilan. Sementara Pemilu merupakan sarana demokrasi langsung dalam menyalurkan kepentingan publik. Sikap antusias yang terlihat pada saat proses pemilihan menjadi ciri bagaimana masyarakat sudah mencita-citakan dan menunggu sosok pemimpin yang mampu membawa kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia. 53 . Dengan melaksanakan pemilihan umum. BAB I PENDAHULUAN 1. Sejak pemilihan umum yang pertama diselenggarakan. sistem pemilihan umum yang selalu digunakan di Indonesia adalah sistem proporsional. negara akan terbebas dari satu masa rezim otoriter karena kepala negara dan/atau kepala pemerintahannya akan dipilih sendiri oleh rakyat. masyarakat Indonesia telah mengenal demokrasi. Di dalam perkembanganya. partai politik merupakan organisasi kepentingan yang terlembagakan dan permanen dalam memperjuangkan aspirasi rakyat.1 LATAR BELAKANG Setiap negara yang menganut prinsip demokrasi akan selalu menempuh proses pemilihan umum untuk menentukan pemimpinnya. maka perihal kehadiran partai politik dan sistem pemilu menjadi penting untuk dibicarakan. Sebagaimana dipahami bersama. pemilihan umum bukanlah satu-satunya tolak ukur dan perlu dilengkapi dengan pengukuran beberapa kegiatan lain. Sistem ini memperbolehkan suatu negara untuk memiliki banyak partai yang diakui keberadaannya.

Dalam sistem distrik. 54 . satu distrik menjadi bagian dari suatu wilayah. dan kontestan yang memperoleh suara terbanyak menjadi pemenang tunggal. Sistem distrik adalah sistem pemilihan yang paling tua dan didasarkan atas kesatuan geografis. Hal ini disebabkan karena banyak suara dari partai kecil bisa dinyatakan hilang atas wasted. Selain itu. Suara yang tadinya mendukung kontesstan lain dianggap hilang (wasted) dan tidak dapat membantu partainya untuk menambah jumlah suara partainya di distrik lain. satu wilayah kecil (yaitu distrik pemilihan) memilih satu wakil tunggal atas dasar pluralitas. Pemenang tunggal meraih satu kursi itu. yaitu lantaran tidak berhasil menjadi juara pertama di suatu distrik.1 SISTEM DISTRIK Dalam sistem distrik. BAB II PEMBAHASAN 2. Sistem distrik sering dipakai di negara yang mempunyai sistem dwi partai seperti Inggris serta bekas jajahannya seperti India dan Malaysia dan Amerika. Dalam sistem distrik dapat terjadi bahwa partai yang menang dengan hanya memperoleh pluralitas suara dapat membentuk kabinet. ada ciri khas yang melekat pada sistem distrik. Hal ini dinamakan the first past the post (FPTP). yaitu pelaksanaan sistem distrik mengakibatkan “distorsi” atau kesenjangan antara jumlah suara yang diperoleh suatu partai secara nasional dan jumlah kursi yang diperoleh partai tersebut. Pemerintahan semacan ini dinamakan minority government. Akibat dari distorsi menguntungkan partai besar melalui over-representation. Hal ini terjadi sekalipun selisihnya tidak jauh berbeda dengan partai lain. Setiap kesatuan geografis (biasanya disebut distrik) memperoleh satu kursi dalam parlemen. Untuk keperluan itu negara dibagi dalam sejumlah besar distrik pemilihan yang kira-kira sama jumlah penduduknya. satu distrik hanya berhak atas satu kursi.

maka wakil yang terpilih dapat dikenal oleh komunitasnya. Hal ini akan mendorong partai-partai untuk menyisihkan perbedaan- perbedaan yang ada dan mengadakan kerja sama. Setiap kesatuan geografis (yang biasa disebut “distrik” karena kecilnya daerah yang tercakup) memperoleh satu kursi dalam parlemen. Menurut Budiardjo (2008:462) menyatakan bahwa : Sistem Distrik adalah sistem pemilihan umum yang paling tua dan didasarkan atas kesatuan geografis. Dengan demikian si wakil akan lebih cenderung untuk memperjuangkan kepentingan distriknya. 4) Bagi partai besar sistem ini menguntungkan karena melalui distortion effect dapat meraih suara dari pemilih-pemilih lain. sekurang-kurangnya menjelang pemilihan umum. sehingga memperoleh kedudukan mayoritas. 3) Karena kecilnya distrik. 2. 55 . malahan sistem ini bisa mendorong ke arah penyederhanaan partai secara alami tanpa paksaan. Untuk keperluan itu negara dibagi dalam sejumlah besar distrik pemilihan (kecil) yang kira-kira sama jumlah penduduknya. sehingga tidak perlu diadakan koalisi dengan partai lain. 5) Lebih mudah bagi suatu partai untuk mencapai kedudukan mayoritas dalam parlemen.2 KEUNTUNGAN SISTEM DISTRIK 1) Sistem ini lebih mendorong ke arah integrasi partai-partai olitik karena kursi yang diperebutkan dalam setiap distrik pemilihan hanya satu. karena faktor kepribadian seseorang merupakan faktor penting dalam kemenangannya dan kemenangan partai. 2) Fragmentasi partai dan kecenderungan membentuk partai baru dapat dibendung. 6) Sistem ini sederhana dan murah untuk diselenggarakan. Lagi pula kedudukannya terhadap pimpinan partainya akan lebih independen. sehingga hubungan dengan konstituen lebih erat.

3 KELEMAHAN SISTEM DISTRIK 1) Sistem ini kurang memperhatikan kepentingan partai-partai kecil dan golongan minoritas. daripada kepentingan nasional. 3) Sistem distrik dianggap kurang efektif dalam masyarakat yang plural karena terbagi dalam kelompok etnis. secara nasional tanpa menghiraukan distribusi suara itu. 4) Ada kemungkinan si wakil cenderung untuk lebih memerhatikan kepentingan distrik serta warga distriknya. 2) Sistem proporsional dianggap lebih demokratis karena tidak ada distorsi. memperoleh 56 . Hal ini berarti ada sejumlah suara yang tidak diperhitungkan atau terbuang sia-sia. 2.5 KEUNTUNGAN SISTEM PROPOSIONAL 1) Sistem proporsional dianggap representatif. Akibatnya. satu wilayah dianggap sebagai satu kesatuan. semua golongan dalam masyarakat. 2) Sistem ini kurang representatif dalam arti bahwa partai yang calonnya kalah dalam suatu distrik kehilangan suara yang telah mendukungnya. dan dalam wilayah itu jumlah kursi dibagi sesuai jumlah suara yang diperoleh oleh para kontestan. 2. karena jumlah kursi partai dalam parlemen sesuai dengan jumlah suara masyarakat yang diperoleh dalam pemilihan umum.2. religius. apalagi jika golongan-golongan ini terpencar dalam berbagai distrik. yaitu kesenjangan antara suara nasional dan jumlah kursi dalam parlemen. tanpa suara yang hilang atau wasted. sehingga menimbulkan anggapan bahwa suatu kebudayaan nasional yang terpadu secara ideologis dan etnis mungkin merupakan prasyarat bagi suksesnya sistem.4 SISTEM PROPOSIONAL Dalam sistem proporsional. dan tribal. termasuk yang kecil pun.

3) Sistem proporsional memberikan kedudukan yang kuat pada pimpinan partai melalui sistem daftar karena pimpinan partai menentukan daftar calon. karena peran partai dalam meraih kemenangan lebih besar ketimbang kepribadian seseorang. tetapi sebaliknya cenderung mempertajam perbedaan-perbedaan. Jadi. Rasa keadilan masyarakat banyak terpenuhi. kurang menggalang kekompakan dalam tubuh partai. sulit bagi suatu partai untuk meraih mayoritas dalam parlemen. Pertama. jika timbul konflik dalam suatu partai. 2) Sistem ini mempermudah fragmentasi partai. yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan. 2. dengan perhitungan bahwa ada peluang bagi partai baru itu untuk memperoleh beberapa kursi dalam parlemen melalui pemilihan umum.6 KELEMAHAN SISTEM PROPOSIONAL 1) Sistem ini kurang mendorong partai-partai untuk berintegrasi atau bekerja sama satu sama lain dan memanfaatkan persamaan-persamaan yang ada. karena wilayahnya lebih besar sehingga sukar untuk dikenal orang banyak. Kedua. 4) Wakil yang terpilih kemungkinan renggang ikatannya dengan konstituennya. Partai yang terbesar terpaksa berkoalisi dengan beberapa partai lain untuk memperoleh suara mayoritas. anggotanya cenderung memisahkan diri dan mendirikan partai baru. 57 . Sistem ini umumnya dianggap berakibat menambah jumlah partai. Dengan demikian si wakil akan lebih terdorong untk memerhatikan kepentingan partai serta masalah-masalah umum ketimbang kepentingan distrik serta warganya. peluang untuuk menampilkan wakilnya dalam parlemen. 5) Karena banyaknya partai yang bersaing.

dilaksanakan melalui kebijakan memberlakukan rumus lima-tiga. dan Indonesia (mulai 2004) untuk pemilihan badan legislatif 3% dari jumlah kursi di DPR dan untuk pemilihan Presiden dan Wapres 3% dari jumlah kursi di DPR atau 5% dari perolehan suara sah secara nasional.7 SISTEM DISTRIK DAN SISTEM PROPOSIONAL Dari uraian tentang sistem distrik dan sistem proporsional tadi. Berdasarkan rumusan ini sebuah partai memperoleh kursi dalam parlemen jika meraih minimal 5% dari jumlah suara secara nasional atau memenangkan sekurang-kurangnya 3% distrik pemilihan. pemilih memilih calon atas dasar sistem distrik (sebagai suara pertama) dan pemilih itu memilih partai atas dasar sistem proporsional (sebagai suara kedua). Kasus yang paling terlihat adalah proses pemilihan umum di negara Jerman. 58 . Italia. dewasa ini menggabung kedua sistem dalam pemilihan umum. Selain itu. Maka dari itu beberapa negara mencoba mengambil alih beberapa ciri dari sistem pemilihan umum yang lain. Ini yang dinamakan electoral thresold. menjelaskan bahwa kedua sistem pemilihan umum memiliki segi yang positif dan negatif. di Jerman dan dibeberapa negara dengan banyak partai ada usaha untuk mengurangi jumlah partai yang akan memperoleh kursi dalam parlemen melalui kebijakan electroral thresold. Setiap pemilihan mempunyai dua suara. Jerman mempunyai partai politik yang banyak dan memakai sistem proporsional murni.2. Negara-negara lain yang menentukan electoral thresold adalah Swedia. Konsep ini menentukan jumlah suara minimal yang diperlukan oleh suatu partai untuk memperoleh kursi dalam parlemen misalnya 5%. Dengan penggabungan ini diharapkan distorsi tidak terlalu besar efeknya. Seperti Singapura dan Jepang yang menggunakan sistem distrik dengan beberapa pengecualian yang dipakai pada sistem proporsional. Ternyata kebanyakan partai kecil cenderung memanfaatkan ketentuan suara minimal 5% sebab memenangkan distrik lebih sukar. Pada masa lampau. Di Jerman. Setengah dari parlemen dipilih dengan sistem distrik dan setengah lagi dengan sistem proporsional.

satu distrik hanya berhak atas satu kursi. Pemerintahan semacan ini dinamakan minority government. Indonesia menggunakan Sistem Proporsional dengan Stelsel Daftar Tertutup. Tiap 300. Pemenang tunggal meraih satu kursi itu. Sedangkan pada zaman Orde Baru. Dengan penggabungan ini diharapkan distorsi tidak terlalu besar efeknya. Suara yang tadinya mendukung kontesstan lain dianggap hilang (wasted) dan tidak dapat membantu partainya untuk menambah jumlah suara partainya di distrik lain. Indonesia menggunakan Sistem Proporsional. Dalam sistem distrik dapat terjadi bahwa partai yang menang dengan hanya memperoleh pluralitas suara dapat membentuk kabinet.000 penduduk diwakili 1 anggota DPR. Hal ini dinamakan the first past the post (FPTP). dan kontestan yang memperoleh suara terbanyak menjadi pemenang tunggal. 59 . Italia. Negara-negara lain yang menentukan electoral thresold adalah Swedia. Sistem distrik sering dipakai di negara yang mempunyai sistem dwi partai seperti Inggris serta bekas jajahannya seperti India dan Malaysia dan Amerika. Jumlah anggota DPR ditetapkan berdasarkan imbangan jumlah penduduk. Setengah dari parlemen dipilih dengan sistem distrik dan setengah lagi dengan sistem proporsional. BAB III PENUTUP Dalam sistem distrik. satu distrik menjadi bagian dari suatu wilayah. Menggunakan Stelsel Daftar Mengikat dan Stelsel Daftar Bebas. dan Indonesia (mulai 2004) untuk pemilihan badan legislatif 3% dari jumlah kursi di DPR dan untuk pemilihan Presiden dan Wapres 3% dari jumlah kursi di DPR atau 5% dari perolehan suara sah secara nasional. pemilih memilih calon atas dasar sistem distrik (sebagai suara pertama) dan pemilih itu memilih partai atas dasar sistem proporsional (sebagai suara kedua). Hal ini terjadi sekalipun selisihnya tidak jauh berbeda dengan partai lain. Pada zaman Orde Lama. Setiap pemilihan mempunyai dua suara.

60 . DAFTAR PUSTAKA Budiardjo. Jakarta: Balai Pustaka. Dasar-dasar Ilmu Politik. Sejarah Nasional Indonesia. Miriam. Djoened Poesponegoro. Gramedia Pustaka Utama. 2008. Jakarta: PT. 1993. Marwati dan Nugroho Notosusanto.

6 DISUSUN OLEH : FANDY IRAWAN NIM. EDWARD MANDALA.SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 61 . M. PELAKSANAAN PEMILIHAN UMUM DI INDONESIA PERTEMUAN KE. 16102098 DOSEN PENGAJAR : DRS.

62 .1 LATAR BELAKANG Masa reformasi membawa perubahan politik di Indonesia. Proses konsolidasi demokrasi tersebut memang sebuah proses yang sulit bahkan rumit. Dengan berakhirnya rezim Orde Baru tersebut kemudian didesakkan untuk konsolidasi demokrasi. kemudian ditekan untuk melakukan pelembagaan demokrasi. Masa ini ditandai dengan turunnya Soeharto dari kursi presiden pada pertengahan tahun 1998. Bahkan mungkin perlu waktu lama untuk merajut sebuah jalan menuju demokrasi. Di masa ini demokrasi menjadi hal yang dipertaruhkan. Indonesia memulai dengan harapan baru menuju alam demokrasi. perlu kejelian dan kesabaran dalam proses tersebut. yang menggantikan Suharto. Pengkondisian dan institusionalisasi demokrasi merupakan suatu keniscayaan bagi masa depan demokrasi itu sendiri. Pemerintahan Habibie. Oleh karena itu. Setelah lebih 30 tahun di bawah bayang-bayang Orde Baru. BAB I PENDAHULUAN 1.

Electoral Threshold. reliabel. Syarat-syarat tersebut dipergunakan untuk mendapatkan pemilu yang berkualitas sehingga mendapatkan pejabat publik yang legitimate. keterwakilan (representativeness). St. lokalitas. dan Parliamentary Threshold. Electoral process ini meliputi D’Hont. numerikal. Pemilu harus dilakukan secara jujur. persamaan hak tiap pemilih (equality). Electoral Law yaitu aturan main berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi yang harus ditaati setiap kontestan pemilu. Dalam menggunakan suaranya tersebut tentu saja haruslah didukung kondisi yang memungkinkan warga negara memilih secara bebas tanpa adanya tekanan dari pihak lain. Elemen pemilu tersebut adalah : a. Indikator tersebut adalah: akuntabilitas (accountability). Setelah beberapa syarat pemilu terpenuhi. Syarat minimal dari pemilu adalah free dan fair. keadilan (fairness). 63 . League. Untuk mengukur derajat kualitas pemilu diperlukan beberapa indikator sebagai tolok ukurnya. b. Indikator tersebut digunakan untuk menilai apakah sistem pemilu tersebut cocok bagi sebuah negara atau tidak. Agar pemilu dapat mencapai derajat tersebut maka diperlukan beberapa syarat atau prakondisi yang mendukungnya. maka diharapkan pemilu dapat terlaksana secara demokratis sehingga mendapatkan pejabat publik yang legitimate. Pemilu sendiri sebenarnya terdiri dari dua elemen. Electoral Process yaitu metode atau aturan untuk mentransfer suara pemilih menjadi kursi di lembaga perwakilan. BAB II PEMBAHASAN 2. Electoral law ini ada dua macam yaitu Plural Majority dan Proportional Representation. adil dan demokratis.1 PELAKSANAAN PEMILU DI INDONESIA Dalam pemilu tersebut warga negara berhak untuk memilih wakil- wakilnya yang akan duduk di jabatan publik.

• Formula pemilihan (electoral formula). Sistem pemilu memiliki dimensi yang sangat kompleks. Penyuaraan adalah tata cara yang harus diikuti pemilih yang berhak menentukan suara. Cara penentuan distrik merupakan hal yang krusial di dalam pemilu. • Ambang batas (threshold). Besaran distrik adalah berapa banyak anggota lembaga perwakilan yang akan dipilih dalam satu distrik pemilihan. Beberapa dimensi tersebut antara lain : • Penyuaraan (balloting). Sebaliknya. Besar distrik dapat dibagi menjadi dua. Secara umum formula pemilihan dibedakan menjadi tiga. Semakin besar magnitude sebuah distrik maka semakin rendah kompetisi partai untuk memperebutkan kursi. • Besaran distrik (district magnitude). formula mayoritas. Formula pemilihan adalah membicarakan penerjemahan suara menjadi kursi. yaitu masalah keterwakilan dan kesetaraan kekuatan suara. Besaran distrik berpengaruh terhadap tingkat kompetisi partai dalam memperebutkan kursi. semakin kecil magnitude sebuah distrik maka semakin ketat kompetisi partai untuk memperebutkan kursi. 64 . Jenis penyuaraan dibedakan menjadi dua tipe. Ada dua hal penting yang harus dipertimbangkan dalam menentukan batas-batas pendistrikan. yaitu distrik beranggota tunggal dan distrik beranggota jamak. yaitu kategorikal (pemilih hanya memilih satu partai atau calon) dan ordinal (pemilih memiliki kebebasan lebih dan dapat menentukan preferensi atau urutan dari partai atau calon yang diinginkannya. dan formula perwakilan berimbang. Threshold yaitu tingkat minimal dukungan yang harus diperoleh sebuah partai untuk mendapatkan perwakilan. Batas minimal itu biasanya diwujudkan dalam prosentase dari hasil pemilu. • Pembuatan batas-batas representasi (pendistrikan). yaitu formula pluralitas.

Berapakah jumlah kursi legislatif yang ideal adalah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bagaimana sistem pemilu akan digunakan serta untuk tujuan atau kepentingan apa sistem pemilu harus didasarkan pada keenam unsur tersebut. Diperlukan beberapa kriteria untuk memilih sebuah sistem pemilu untuk diterapkan di sebuah negara.• Jumlah kursi legislatif. Keseimbangan • Pengaruh pemilih dengan perkokoh parpol • Kesederhanaan sistem dengan peluang berinovasi • Solusi jangka pendek dengan stabilitas jangka panjang • Bangun system pemilu berdasar system yang pernah ada tanpa terpenjara dimensi historis sistem tersebut • Sistem pemilu bukan solusi untuk semua permasalahan politik 65 . Dengan demikian. Keenam unsur tersebut di atas yang membentuk sistem pemilu. Pemilihan sistem pemilu di suatu negara memang bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Elemen Demokrasi • Menciptakan parlemen yang representatif • Membuat pemilu yang mudah diakses dan bermakna • Memberi peluang untuk konsiliasi • Memfasilitasi terciptanya pemerintahan yang stabil dan efisien • Menciptakan pemerintah dan yang representative dan akuntabel • Mendorong ‘cross-cutting’ partai politik • Memberi peluang oposisi • Biaya dan kapasitas administratif b. Belum diketahui mengapa suatu negara menetapkan jumlah kursi di parlemen beserta alasannya. Kriteria untuk memilih sistem pemilu tersebut adalah: a. unsur tersebut merupakan bagian penting dalam upaya rekayasa sistem pemilu dalam mencapai tujuan atau kepentingan tertentu.

Pemilu ini diharapkan akan menghasilkan pemerintahan yang legitimate. pemilu sendiri diyakini merupakan sebuah instrumen manajemen konflik. 66 . Dengan pemilu tersebut maka proses pergantian elit politik akan lebih aman dan demokratis tanpa adanya gejolak yang berdarah dan membawa korban. yang dapat membawa alam perubahan ke alam demokrasi. Selain itu. BAB III PENUTUP Salah satu hal terpenting dalam pelembagaan demokrasi adalah dengan dilakukan pemilihan umum.

dalam Sigit Pamungkas. Kuskridho. Jakarta. Mengungkap Politik Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di Indonesia Era Reformasi. Perihal Pemilu. Abdul Gaffar. Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM. 2009 Ambardi. DAFTAR PUSTAKA Karim. Yogyakarta. 2008 67 . LSI-Kepustakaan Populer Gramedia.

SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 68 . DOSEN PENGAJAR : DRS. KEBEBASAN BERSERIKAT DAN BERKUMPUL PERTEMUAN KE. EDWARD MANDALA.9 DISUSUN OLEH : YUDI PRATAMA ERLANTO NIM. M.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Hak Asasi Manusia adalah hak dasar atau pokok manusia yang dibawa
sejak lahir sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa, bukan pemberian penguasa.
Hak ini sifatnya sangat mendasar atau fundamental bagi hidup dan kehidupan
manusia yang merupakan hak kodrati yang tidak bisa terlepas dari kehidupan
manusia.6 Sehingga HAM dirumuskan sebagai hak dasar yang melekat pada jati
diri manusia secara kodrati, dan berfungsi menjaga integritas keberadaannya,
selain hak atas hidup dan kehidupan, prinsip ini juga memberikan keselamatan,
keamanan, kemerdekaan, keadilan, kebersamaan dan kesejahteraan sebagai
karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Sehingga dalam kebebasan berserikat dan berkumpul terdapat dua macam
hak yang berbeda dan tidak dapat dipisahkan, yaitu “kemerdekaan berserikat” dan
“kemerdekaan berkumpul”. Kemerdekaan berserikat ialah hak manusia untuk
menyatukan diri dengan sesama manusia untuk waktu panjang guna mencapai
sesuatu maksud, sedangkan Kemerdekaan Berkumpul adalah hak manusia untuk
membicarakan bersama sesuatu persoalan. Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi
manusia, setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan
kehendaknya sendiri sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak-hak orang
lain. Kebanyakan HAM saling berhubungan dan menjangkau aspek-aspek yang
berbeda-beda dari tiga kepedulian utama, yaitu integritas, kebebasan dan
kesetaraan status semua umat manusia. Oleh karena itu, setiap kebebasan harus
diikuti dengan tanggung jawab sehingga manusia tidak melakukan tindakan yang
semena-mena kepada orang lain
Organisasi kemasyarakatan selanjutnya disebut Ormas dengan segala
bentuknya hadir, tumbuh dan berkembang sejalan dengan sejarah perkembangan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hingga dalam sejarah
perjuangan kemerdekaan negara Republik Indonesia, Ormas merupakan wadah

69

utama dalam pergerakan kemerdekaan. Peran masyarakat sipil dalam konteks
pembangunan bangsa sangatlah vital. Termasuk di Indonesia dalam proses
pembangunan, baik secara fisik maupun pembangunan sumber daya manusia.
Partai Politik adalah organisasi politik yang menjalankan ideologi tertentu
atau dibentuk dengan tujuan khusus. Definisi partai politik yang lain yaitu, Partai
politik adalah kelompok yang terorganisir dengan anggota-anggotanya memiliki
orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Kelompok politik ini bertujuan untuk
memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dengan cara
konstitusionil guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.

70

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. KEBEBASAN BERSERIKAT DAN BERKUMPUL
Kebebasan dalam bahasa Inggris disebut “freedom” dan dalam bahasa
Arab disebut “al hurriyah”. Ia merupakan sunnatullah, yaitu peraturan , sistem
atau ketentuan Tuhan untuk hambaNya di dunia ini, baik hamba-Nya yang
bernyawa maupun hambaNya yang tidak bernyawa. Kebebasan kata lain dari
kemerdekaan, yaitu tak ada tekanan, paksaan, ketakutan, sebuah kondisi yang
memungkinkan setiap orang untuk menjadi diri sendiri dan membuat pilihan tanpa
ada intervensi apapun dari pihak manapun. Kebebasan bukan berarti tanpa sebuah
keterikatan, namun keterikatan terjadi saat dengan sadar diri rela untuk
mengikatkan diri.
Salah satu bagian penting dari kebebaasan ialah kebebasan berkumpul
(freedom of assembly) dan kerbebasan berserikat (freedom of association).
Kebebasan berkumpul dan berserikat telah dicantumkan secara tersirat dalam sila
keempat dari Pancasila yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.
Kata “permusyawaratan” dan “perwakilan” mengandung makna adanya
orang-orang yang berkumpul untuk melaksanakan permusyawaratan. Sedangkan
“perwakilan” secara tersirat mengandung makna adanya orang-orang yang
berserikat sebagai perwakilan dari mayoritas bangsa Indonesia. Kebebasan
berkumpul dan berserikat ini telah dijamin oleh UUD 1945 yang tercantum dalam
pasal 28 UUD 1945 yaitu “kemerdekaan berserikat dan berkumpul mengeluarkan
pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-
undang”.

71

tetapi jarus diakui bahwa Orde Reformasi telah mengadirkan kebebasan berkumpul dan berserikat. mereka merumuskan tentang kemerdekaan dalam pembukaan UUD 1945. Pancasila dan UUD 1945 secara tersurat dam tersirat yang mencantumkan tentang kebebasan berkumpul dan berserikat. Apalagi dalam pelaksanaan. 4. Tujuan Berkumpul dan Berserikat Masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia ialah tidak paham dan tidak menghayati tujuan daripada kebebasan berkumpul dan berserikat. sehingga sering disalah-gunakan. Pemerintahan Orde Lama terutama di masa demokrasi terpimpin dan Orde Baru yang sangat membatasi kebebasan berkumpul dan berserikat. 2. banyak menjurus ke hal-hal yang merugikan masyarakat dan pemerintah. Tingkat kedewasaan dan kematangan rakyat dalam berkumpul dan berserikat. 1. 3.Tantangan dan Hambatan Kebebasan berkumpul dan berserikat belum menjadi budaya bagi Indonesia. yang tidak membolehkan adanya kebebasan berkumpul dan berserikat. 5. Para pendiri (founding fathers) bangsa Indonesia meyakini pentingnya kemerdekaan Indonesia sama persis pentingnya kebebasan berkumpul dan berserikat. Walaupun dalam pelaksanaan kebebasan berkumpul dan bersrikat masih menghadapi tantangan dan hambatan. Oleh karena itu. Faktor penjajahan yang lama sekali mencengkeram bangsa Indonesia. Kebebasan berkumpul dan berserikat telah cap “negatif” sehingga dianggap “momok” oleh pemerintah. Kebebasan berkumpul dan berserikat harus bertujuan merealisasikan “welfare state (negara kesejahteraan) sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 bahwa “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah 72 . kebebasan berkumpul dan berserikat masih menghadapi tantangan. Setidaknya terdapat lima penyebab. masih jauh dari yang diharapkan. Kebebasan berkumpul dan berserikat sering disalahgunakan untuk “merongrong” dan bahkan untuk berupaya “menjatuhkan” pemerintah.

Dimana dalam kebebasan tersebut juga harus disertai dengan tanggung jawab. mau tidak mau dan suka tidak suka. energi. yang salah satu pilarnya adalah kebebasan berpendapat (freedom of speech) harus membincangkan strategi dan taktik untuk mewujudkan “welfare state”.2 KEBEBASAN BERPENDAAT Kemerdekaan (kebebasan) mengemukakan pendapat adalah suatu kebebasan yang berkaitan hak rakyat untuk mengemukakan hasil pemikirannya tanpa ada tekanan dari pihak lain. dana dan sebagainya. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. 2. Maksud dari kebebasan yang bertanggung jawab adalah sebagai berikut:  Kebebasan yang memperhatikan batas-batas penghargaan kepada orang lain. hanya menghabiskan waktu. tulisan dan sebagainya secara bebas bertanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. harus diperjuangkan dan diwujudkan dalam realitas. perdamaian abadi. Kebebasan tersebut juga diatur oleh Undang- Undang sehingga dalam melakukannya harus sesuai dengan yang terdapat dalam Undang-undang. Hal ini berarti bahwa kebebasan yang dimaksud bukan dalam arti bebas yang sebebas-bebasnya namun ada tanggung jawab dan hukum yang mengaturnya. kebebasan berkumpul dan berserikat tidak ada arahnya (mubazir). Kesalahan selama ini. umur. dan keadilan sosial”. mencerdaskan kehidupan bangsa. Welfare state yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945. Akibatnya. 73 . 9 Tahun1998 “Kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran secara dengan lisan.Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 1 ayat 1 UU No. Kebebasan atau kemerdekaan mengemukakan pendapat yang dianut di Indonesia merupakan kebebasan yang sesuai dengan Pancasila. yang terjadi dan menjadi kenyataanadalah “capitalist state” (negara kapitalis). tujuan negara Indonesia didirikan adalah untuk membangun “welfare state”. Kebebasan berkumpul dan berserikat.

Bebas dan bertanggung jawab merupakan dua prinsip penting dalam menggunakan hak mengemukakan pendapat. Bebas berarti bahwa segala hal yang berkaitan dengan pemikira. ketertiban serta kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis. Dalam pelaksanaan hak kebebasan. pemikiran atau pendapat harus landasi dengan norma-norma yang berlaku. masukan atau perasaan yang bebas tanpa ada tekanan baik tekanan fisik maupun psikis. Tapi pembatasan yang berupa pengaturan resmi yang ditujukan agar proses mengemukakan pendapat dapat terlaksana tanpa adanya perselisihan yang mengakibatkan hal tidak diinginkan. yang isisnya menetapkan hal-hal berikut ini: Setiap orang memiliki kewajiban terhadap masyarakat yang memungkinkan pengembangan keperibadian secara bebas dan penuh. Pembatasan yang terdapat dalam kebebasan mengemukakan pendapat bukan merupakan pembatasan yang bertentangan dengan tujuan pengaturan tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Bertanggung jawab berarti bahwa dalam mengunakan hak mengemukakan ide. niat baik dan pimikiran yang tidak merugikan (menggunakan akal sehat). 74 . setiap orang harus tunduk semata-mata pada pembatasan yang ditentukan oleh-Undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan dan penghargaan terhadap hak serta kebebasan orang lain. untuk memenuhi syarat-syarat adil bagi moralitas. kehendak. Pelaksanaan kemerdekaan menyampikan pendapat dimuka umum harus penuh tanggung jawab dan sesuai debngan peraturan yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan dan prinsip hukum internasional yang berlaku. ide atau pendapat yang dimiliki dapat dikemukakan dengan bebas tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Hal ini tercantum dalam Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia. Penggunaan hak mengemukakan pendapat harus dilakukan dengan cara bebas dan bertanggung jawab. pandangan. Kebebasan yang dibatasi oleh nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat bangsa dan negara  Mengeluarkan isi fikiran secara bebas berarti bahwa mengeluarkan pendapat. anggapan.

 Mewujudkan iklim yang kondusif dengan tujuan untuk mengembangkan partisipasi dan kreativitas setiap warga negara sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan berdemokrasi. Berikut merupakan penjelasan hak dan kewajiban dalam mengemukakan pendapat. kemerdekaan mengemukakan pendapat di muka umum dalam pelaksanaan dalam mencapai tujuan berikut ini:  Mewujudkan kebebasan yang bertanggung jawab sebagai salah satu hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila dan Undand-Undang Dasar 1945  Mewujudkan perlindungan hukum yang konsisten dan berkesinambungan dam menjamin kemerdekaan mengemukakan pendapat di muka umum.  Asas manfaat Dengan adanya lima asas di atas. 9 tahun 1998 menjelaskan tentang “Asas-asas kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum”. berbangsa dan bernegara tanpa mengabaikan kepentingan perorang atau kelompok.  Menempatkan tanggung jawab social dalam kehidupan bermasyarakat. Hak dan kebebasan ini sama sekali tidak boleh dijalankan secara bertentangan dengan tujuan dan asas perserikatan bangsa-bangsa (PBB).  Asas musyarah dan mufakat. Hak Mengemukakan Pendapat Hak warga negara dalam menyampaikan pendapat di muka umum yaitu:  Mengeluarkan pemikiran secara bebas. Dalam Pasal 3 UU No. 1. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut:  Asas keseimbangan antara hak dan kewajiban. HAK DAN KEWAJIBAN DALAM MENGEMUKAKAN PENDAPAT Setiap lapisan masyarakat dan seluruh warga negara diharapkan memahami hak dan kewajiban untuk mengemukakan pendapat. 75 .  Asas proporsionalitas.  Asas kepastian hukum dan keadilan.

2. Kewajiban Dalam Mengemukakan Pendapat Kewajiban dan tanggung jawab warga negara dalam hal meyampaikan pendapat di muka umum yaitu:  Menghormati hak dan kebebasan orang lain. 2.  Menghormati aturan-aturan moralitas.  Penyampaian pendapat harusnya dilandasi oleh keinginan untuk mengembangkan nilai-nilai keadilan. Kelompok politik ini bertujuan untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dengan cara konstitusionil guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.3 PENDAFTARAN PARPOL Partai Politik adalah organisasi politik yang menjalankan ideologi tertentu atau dibentuk dengan tujuan khusus. Partai politik adalah sarana politik yang menjembatani elit politik dalam upaya mencapai kekuasaan politik dalam suatu negara yang bercirikan mandiri 76 .  Menaati hukum dan dan ketentuan yang berlaku dalam perundang-undangan.  Penyampaian pendapat dikemukakan dalam kerangka yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.  Orang yang menyampaikan pendapat hendaknya dapat terbuka dalam menerima tanggapan. demokrasi dan kesejahteraan.  Menjaga dan menghormati ketertiban umum.  Pendapat yang disampaikan diharap dapat mewakili kepentingan orang banyak. Memperoleh perlindungan hukum. nilai-nilai dan cita-cita yang sama. sehingga didalam tidak terdapat pelanggaran hukum. Partai politik adalah kelompok yang terorganisir dengan anggota-anggotanya memiliki orientasi. Dalam meyampaikan pendapat di muka umum perlu memperhatikan hal- hal berikut ini:  Pendapat yang akan disampaikan harus disertai dengan argumentasi yamng kuat dan masuk akal. sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.  Menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. Definisi partai politik yang lain yaitu. serta bukan merupakan sembarang pendapat. sehingga terciptalah komunikasi yangbaik.

dan – Pengurus Partai Politik tingkat kabupaten/kota 77 .000 dari jumlah Penduduk pada kepengurusan parpol kabupaten/kota dibuktikan dengan kepemilikan KTA dan KTP Elektronik/surat keterangan. Pengurus parpol tingkat Kabupaten/Kota menyerahkan dokumen data anggota kepada KPU Kabupaten/Kota. – Pengurus Partai Politik tingkat provinsi. 75% jumlah kabupaten/kota di provinsi ybs. 50% jumlah kecamatan di kabupaten/kota ybs.000 orang atau 1/1.  Memiliki kepengurusan di: Seluruh Provinsi.  Menyertakan sekurang-kurangnya 30% keterwakilan perempuan pada kepengurusan parpol tingkat pusat dan memperhatikan keterwakilan perempuan di tingkat provinsi & kabupaten/kota.  Surat keterangan yang menyatakan Partai Politik tingkat pusat telah terdaftar sebagai badan hukum. tingkat kabupaten/kota dan tingkat kecamatan  Salinan keputusan kepengurusan Partai Politik tentang: – Pengurus Partai Politik tingkat pusat. Pengurus parpol tingkat pusat menyerahkan dokumen persyaratan sebagai peserta Pemilu kepada KPU. Persyaratan Parpol sebagai peserta pemilu meliputi :  Berstatus badan hukum sesuai UU Partai Politik. memiliki haluan politik. Dokumen Persyaratan Sebagai Peserta Pemilu :  Surat pendaftaran yang ditandatangani oleh Pimpinan Partai Politik tingkat pusat 1 (satu) rangkap asli yang dibubuhi cap basah. yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sebanyak 1 (satu) rangkap.  Surat pernyataan memiliki kepengurusan partai politik di seluruh provinsi.  Memiliki anggota sekurang-kurangnya 1.dalam hal finansial. mengusung kepentingan-kepentingan kelompok dalam urusan politik dan turut menyumbang pengembangan politik sebagai suprastruktur politik Pendaftaran Partai Politik Peserta Pemilu itu dilakukan secara sentralistik.

 Mengajukan nama. lambang. provinsi dan kabupaten/kota dari Camat atau Lurah/Kepala Desa atau sebutan lain  Surat keterangan tentang pendaftaran nama. dalam 1 (satu) rangkap asli yang dibubuhi cap basah  Salinan bukti kepemilikan nomor rekening atas nama Partai Politik tingkat pusat. Persyaratan Parpol Sebagai Peserta Pemilu adalah sbb :  Mempunyai kantor tetap kepengurusan tingkat pusat.000 (seribu) orang atau 1/1. provinsi. dan  Menyerahkan nomor rekening atas nama Partai Politik tingkat pusat.  Surat pernyataan memiliki anggota Partai Politik paling sedikit 1. dan kabupaten/kota sebanyak 1 (satu) rangkap  alinan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Politik sebanyak 1 (satu) rangkap  Nama dan tanda gambar Partai Politik yang akan digunakan dalam Pemilu dengan ukuran 10 x 10 cm (sepuluh dikali sepuluh sentimeter). dan memperhatikan 30% (tiga puluh persen) keterwakilan perempuan pada kepengurusan Partai Politik tingkat provinsi dan kabupaten/kota. dan/atau tanda gambar Partai Politik dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. provinsi & kab/kota sampai tahapan terakhir Pemilu. berwarna. lambang & tanda gambar partai politik kepada KPU. dan kabupaten/kota kepada KPU. 78 . sebanyak 2 (dua) lembar. surat pernyataan dari Pimpinan Partai Politik tingkat pusat tentang penyertaan keterwakilan perempuan paling sedikit 30% (tiga puluh persen) kepengurusan Partai Politik tingkat pusat. provinsi.000 (satu perseribu) dari jumlah Penduduk pada kepengurusan Partai Politik tingkat kabupaten/kota yang dibuat dalam 1 (satu) rangkap asli yang dibubuhi cap basah  Rekapitulasi jumlah anggota partai politik setiap kabupaten/kota  Surat keterangan domisili Kantor Tetap kepengurusan partai politik tingkat pusat.

Bandung.com. “Pengaturan dan batas implementasi Kemerdekaan Berserikat dan Berkumpul dalam Pasal 28 UUD 1945” Disertasi. Perlindungan HAM dan Pembangunan Demokrasi Di Indonesia. Http://masrizalmahmud. Masrizal Mahmud.multiply. Pekanbaru:2012. 1996 Yusuf Daeng. 2002. Jakarta:Ghalia Indonesia. HAM dan Keadilan. terakhir dikunjungi tanggal 20 Februari 2015 Mukhlis R.kpu.III. Rozali Abdullah dan Syamsir.2007 http://kab-pangandaran. Pekanbaru. Alfa Riau.No. DAFTAR PUSTAKA Erdiansyah. Rukmana Amanwinata. BKK Fakultas Hukum Universitas Riau Kerjasama dengan Mahkamah Konstitusi. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Perkembangan Hak Asasi Manusia dan Keberadaan Peradilan Hak Asasi Manusia di Indonesia.2 November 2010. Universitas Padjajaran.go.id/2017/10/04/bimbingan-teknis-tata-cara- pendaftaran-partai-politik-peserta-pemilu-melalui-aplikasi-sipol-dan- verifikasi-partai-politik-tahun-2019/ 79 . Artikel Pada Jurmal Konstitusi. UR Press. Teori kebebasan Jhon Locke.Vol.

SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 80 . EDWARD MANDALA.10 DISUSUN OLEH : LABORIS HUTASOIT NIM. M. VERIFIKASI PARTAI POLITIK PERTEMUAN KE. 16102039 DOSEN PENGAJAR : DRS.

81 . tetapi juga antara partai yang lama itu sendiri. Konstruksi perdebatan menyebabkan terjadi persaingan perlakuan antara bagi partai baru dengan partai yang telah eksis dan memiliki kursi di parlemen. Perhitungan ini tidak saja meluas pada perlakuan bagi partai-partai yang memiliki kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Persoalan verifikasi menjadi isu sensitif antar partai. tidak saja antara partai lama dan partai baru. namun mempunyai kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Salah satu materi yang diperdebatkan oleh Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Penyelenggaraan Pemilu adalah persyaratan partai politik peserta pemilu. Konstruksi perdebatan bergerak pada substansi antara keharusan bagi setiap partai politik diverifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebelum mengikuti pemilu dengan kebutuhan bagi adanya ruang yang dianggap proporsional untuk keterlibatan partai-partai dimaksud. Konteks substansi isu di antara partai lama terkait dengan kasus dualisme kepengurusan yang mengganjal internal organisasinya. tetapi juga terhadap partai-partai yang tidak memiliki kursi di DPR.

yang diakui di dalam demokrasi dibandingkan kewajiban memenuhi prasyarat membangun pondasi infrastruktur penunjangnya terlebih dahulu. DPD. BAB II PEMBAHASAN 2. yaitu beranjak dari political market Partai politik lebih ditempatkan sebagai bentuk kebebasan berserikat dan penyelenggara pemilu berpedoman kepada asas : mandiri. Perlakuan ini diatur lebih lanjut dalam Peraturan KPU Nomor 8 Tahun 2012 yang kemudian diubah melalui Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendaftaran. dan Penetapan Partai Politik Peserta Pemilu Anggota DPR. 22 Tahun 2007. Pertanyaan ini didukung suasana saat itu ketika paradigma partai yang masih kuat digunakan adalah Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik. Dari kelengkapan syarat pendaftaran yang sudah dipenuhi partai. dan DPRD. dan DPRD. profesionalitas. Dalam Pasal 16 UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR. Verifikasi. Dalam rangka ditetapkan sebagai peserta pemilu. baik partai lama maupun partai baru diwajibkan untuk diverifikasi oleh KPU. jujur. maka partai bersangkutan baru dapat mengikuti tahapan verifikasi administrasi dan selanjutnya verifikasi faktual oleh KPU. DPD. Baik KPU provinsi maupun KPU kabupaten/kota 82 . dll. sesuai Undang- undang No. setiap partai calon peserta pemilu diwajibkan mengikuti persyaratan pendaftaran. kepastian hukum. diterapkan perlakuan yang sama antara partai lama dan partai baru terkait syarat kepesertaan pemilunya. kepentingan umum. Bagaimanakah perlakuan yang adil antara partai lama dan partai baru dalam tahapan verifikasi? Terdapat kekhawatiran bagi partai baru terkait kapasitasnya dalam memenuhi persyaratan sebaran organisasi dan kepengurusan di seluruh Indonesia. Artinya.1 Verifikasi Partai Peserta Pemilu Perlakuan verifikasi partai lama dan partai baru sudah menjadi objek perdebatan dalam sejarah politik pembahasan RUU Pemilu. yang nantinya ditetapkan sebagai peserta atau sebaliknya ditetapkan tidak memenuhi persyaratan. adil.

Verifikasi terhadap ketentuan syarat keanggotaan sekurang-kurangnya 1. Untuk menjadi badan hukum. Sebelum disahkan mengikuti pemilu.000 atau 1/1.000 orang. Pansus RUU tentang Penyelenggaraan Pemilu saat ini tampaknya lebih berkeinginan membedakan perlakuan verifikasi antara partai baru dengan partai lama. metode sampel acak sederhana digunakan apabila jumlah anggota partai politik pada kepengurusan di kabupaten/kota mencapai lebih dari 1. Di samping itu ada kecenderungan untuk lebih menerapkan metode sensus verifikasi di setiap tingkat kepengurusan partai dibandingkan sampel. Metode sensus digunakan apabila jumlah anggota partai politik pada kepengurusan di kabupaten/kota sampai dengan 100 orang. Khusus bagi pelaksanaan verifikasi faktual terhadap keanggotaan partai. Ini berkenaan dengan persyaratan infrastruktur guna memfasilitasinya sebagai instrumen demokrasi untuk menjadi peserta pemilu. ini terkait dengan status badan hukumnya. Sebaliknya. juga karena kepesertaannya dalam pemilu legislatif maupun sebagai pengusung paslon secara paket pada pemilu presiden dan wakil presiden. Verifikasi partai sebagai peserta pemilu dalam pandangan Ilmu Politik merupakan bagian yang penting dari regulasi tentang pemilu. anggota Pokja dibagi dalam Tim Verifikasi Faktual berdasarkan wilayah administrasi untuk meneliti seluruh partai politik calon peserta pemilu. seperti halnya sarana kantor di setiap level. Tidak saja kepemilikan perangkat keras guna mendukung kerja- kerja di lapangan.000 dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan partai di tingkat kabupaten/kota dengan cara antara lain: menggunakan metode sensus atau sampel acak sederhana. partai harus mendaftarkan pada Kementerian Hukum dan HAM dan wajib memenuhi persyaratan pendiriannya. karena partai politik merupakan salah satu aktor utama peserta pemilu. Hal ini. tetapi juga 83 . Kewajiban sebagai badan hukum adalah penting. partai politik harus memenuhi syarat-syarat pendiriannya.membentuk Kelompok Kerja (Pokja) yang selanjutnya disebar ke dalam beberapa Tim Verifikasi Faktual. di samping pengusung pasangan calon (paslon) pilkada.

Sebaliknya dari sudut opsi pertama. yaitu yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM. disadari memang ada risiko dinamika internal partai yang mempengaruhi kemapanan posisinya tidak saja sebagai calon peserta. jaringan untuk memperoleh akses hingga pemilih di tingkat bawah.” Artinya. bagi partai lama justru tidak dikenakan kebijakan verifikasi sebagai peserta pemilu atau berbeda perlakuannya dibandingkan terhadap partai-partai yang baru lahir. dituntut untuk menempatkan kontribusi bagi pelaksanaan pemilu yang tidak lagi sekedar prosedur fomal. Opsi kedua adalah syarat-syaratnya diubah. yaitu berdasarkan kepengurusan di 100% provinsi. 75% kecamatan ditambah keterwakilan perempuan 30% di kepengurusan sampai tingkat Kabupaten/Kota.2 Perbedaan Perlakuan Partai Lama dan Baru Rapat Pansus tanggal 22-23 Maret 2017 memutuskan adanya dua alternatif atau opsi mengenai verifikasi untuk kepesertaan partai dalam pemilu. perbedaan perlakuan verifikasi antara partai yang lama dan baru benar-benar signifikan bagi kematangan kelembagaan partai sebagai peserta pemilu secara substantif dalam pemilu yang demokratis. Keberpihakan seleksi bagi partai lama dibandingkan partai baru. Di sini KPU biasanya berpegang pada ketentuan legal. ada pemberatan bagi setiap partai politik terkait dengan persyaratan kepengurusannya di setiap tatanan struktur organisasinya. seperti halnya kelengkapan dewan pengurus dan administrasi keanggotaannya. Di antara 12 partai lama. 2. ada 2 84 . Tetapi. Perlakuan berbeda pada tahap verifikasi dapat diletakkan sebagai bagian dari apa yang disebut Harold Crouch sebagai: “The electoral laws sought to discourage party fragmentation in the legislature”. Perbedaan perlakuan yang dikenakan kepada partai yang lama dan baru terkait keberadaan wakilnya di parlemen. 100% kabupaten/kota. tetapi juga bagi tugas verifikasi oleh KPU. yaitu didasarkan pengalaman kepesertaannya di pemilu 2014 misalnya. Opsi pertama adalah membebaskan partai politik yang telah lulus verifikasi tidak diverifikasi ulang dan ditetapkan sebagai Partai Politik Peserta Pemilu.

partai ditantang untuk tampil sebagai organisasi politik yang benar-benar profesional. Inilah saatnya melalui momentum verifikasi terhadap lembaga ini. sebagian besar menganggap bahwa Sipol memberatkan dan menyebabkan karut marut proses pendaftaran dan pemenuhan syarat kualifikasi peserta Pemilu Legislatif. Awalnya menjelang pemilu 2014 Sipol menuai kritik dari partai politik. beberapa partai politik mengajukan judicial review terhadap Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 ke Mahkamah Konstitusi. termasuk anggaran yang dihabiskan nantinya. Peringatan akan perlunya penghematan menjadi logis di tengah kerja KPU menghadapi Pemilu 2019. Verifikasi partai menjadi penting di tengah kepercayaan publik terhadap partai sebagai instrumen demokrasi justru masih lemah. Jumlah yang sangat besar ini dianggap terlalu berlebihan dan dihimbau agar direvisi ulang. Angka tersebut melonjak lebih dari 100 persen jika dibandingkan dengan anggaran verifikasi parpol pada tahun 2012 sebesar Rp224 miliar. KPU telah menganggarkan dana hingga Rp452 miliar untuk kegiatan verifikasi partai calon peserta pemilu 2019. Pada titik inilah penting bagi partai melakukan persiapan serius menjelang proses verifikasi dan sekaligus konsolidasi internal organisasinya menghadapi pemilu. Pokok persoalannya adalah proses pengisian data dan dokumennya yang dinilai memberatkan dan menguras energi partai untuk mengisinya sebelum memasuki tahap pendaftaran dan verifikasi.partai yang belum menyelesaikan persoalan internalnya. Sipol muncul dalam bentuk online dan partai politik didorong dapat melakukan persiapan inputdata 85 . dengan segala dukungan sumber daya dimilikinya sekaligus kredibel. Bahkan. Perbedaan perlakuan verifikasi yang dijalankan diharapkan dapat tidak terlalu memboroskan sumber daya dan waktu. KPU saat ini menggunakan aplikasi Sistem Informasi Partai Politik (Sipol) sebelum memasuki tahapan pendaftaran dan verifikasi pemilu. Hitungan beban verifikasi partai oleh KPU juga sangat potensial terhadap partai-partai baru yang di antaranya bisa mengalami persoalan internal. Kedua partai tersebut adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

pemenuhan syarat awal pra-pendaftaran partai politik sebagai calon peserta pemilu. Sipol diharapkan mempercepat dan meningkatkan proses pendaftaran dan verifikasi berkasnya. Kedua. 86 . Dalam panduan yang diterbitkan KPU. tetapi juga terhadap ketentuan pemenuhan persyaratan kepengurusan dan rekening dana kampanye. Verifikasi KPU menjadi taruhan bagi pembentukan kualitas kompetisi pemilu yang signifikan. Pertama. konsekuensi yang harus ditanggung secara politik saat KPU membatalkan kepesertaan partai dalam pemilu. Partai politik juga dapat mengelola data secara internal bersama- sama dengan kepengurusan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. KPU memfasilitasi partai politik memperoleh informasi awal terkait Sipol melalui kegiatan sosialisasi dan uji coba pada tanggal 7 Maret 2017 di kantor KPU yang dihadiri oleh 31 dari 73 partai politik yang berbadan hukum sesuai Keputusan Menteri Hukum dan HAM. pengecekan dan perbaikan data yang sudah dimasukkan ke dalam server dapat dilakukan sebelum memasuki tahap pendaftaran. Sipol sengaja dibangun KPU dengan 2 (dua) tujuan. ketika partai bersangkutan tidak mampu memenuhi persyaratan dimaksud. Selanjutnya. Menjadi pertanyaan. Tidak saja dalam hal kepemilikan fisik kantor di daerah. Sipol dapat membantu KPU dan partai politik ketika nantinya memasuki tahap pendaftaran dan verifikasi. Catatan di atas penting karena pada saat memasuki tahapan verifikasi. kritik masih menyertai kerja KPU dalam menilai pemenuhan partai terhadap persyaratannya sebagai peserta pemilu.

baik verifikasi secara administrasi maupun faktual. BAB III PENUTUP Basis verifikasi KPU saat ini sudah didukung Sipol secara online. yaitu di tingkat konsolidasi data untuk nantinya dapat digunakan sebagai instrumen bagi pendaftaran atau sebelum memasuki tahapan verifikasi. Hal ini tidak saja terjadi di kalangan partai yang sudah berpengalaman dalam kepesertaan pemilu. dan sebaliknya diberlakukan proses verifikasi terhadap partai-partai baru. tetapi juga bagi partai-partai yang baru saja dilahirkan. Penggunaan Sipol membutuhkan dukungan teknis bagi sumber daya partai guna mengisi input datanya. sehingga bagi partai lama tidak perlu dilakukan verifikasi ulang. Kesetaraan perlakuan sebaiknya lebih diletakkan pada tahap pendaftaran dan bukan pada tahap verifikasi. 87 .

Pudji. DUTA NUSINDO-SEMARANG Pers: “Verifikasi Sulit. Bastian. 8 April 2017.Gramedia Jakarta Nainggolan. Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan KPU No. Partai politik Indonesia 1999-2019 Konsentrasi Dan Dekonsentrasi Kuasa. Gramedia Jakarta Nainggolan.Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999. CV. 2016. KPU Mengacu pada Kemenkum HAM”. Partai politik Indonesia 1999-2019 Konsentrasi Dan Dekonsentrasi Kuasa. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007. Peraturan KPU No. 88 . 2 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008. 8 Tahun 2012. Bastian. Gramedia Jakarta Rahardjo. Partai politik Indonesia 1999-2019 Konsentrasi Dan Dekonsentrasi Kuasa. 2016. 2016. Bastian. Kendari Pos. DAFTAR PUSTAKA BUKU: Nainggolan. 2008.

EDWARD MANDALA. 16102039 DOSEN PENGAJAR : DRS.11 DISUSUN OLEH : LABORIS HUTASOIT NIM.SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK 89 . PARLIAMENTARI TRESHOLD PERTEMUAN KE. M.

Ketentuan ini pertama kali diterapkan pada Pemilu 2009.1 LATAR BELAKANG Ambang batas parlemen (bahasa Inggris: parliamentary threshold) adalah ambang batas perolehan suara minimal partai politik dalam pemilihan umum untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR”. mulai diterapkan sejak disahkannya Undang-undangNomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat. pengertian ini dapat kita lihat dari Pasal 202 ayat (1) yang menyatakan bahwa : “Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang- kurangnya 2. Dewan Perwakilan Daerah. 90 . RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 BAB I PENDAHULUAN 1. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

2 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam penentuan perolehan kursi DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Dewan Perwakilan Daerah. Beberapa referensi mengenai parliamentary threshold dibeberapa negara menunjukkan variable yang berbeda. Batas mutlak ini tidak membubuhkan adanya suatu keharusan bagi setiap negara untuk menerapkannya. Negaranegara di dunia yang menerapkan parliamentary threshold. Ketentuan tersebut diterapkan dalam Pemilihan Umum 2009. Di Indonesia Parliamentary threshold merupakan syarat ambang batas perolehan suara partai politik untuk bisa masuk di parlemen. Jadi. setelah hasil jumlah suara masing-masing partai politik diketahui seluruhnya. tidak ada batas mutlak bagi setiap negara. ketentuan tersebut dirumuskan secara implisit dalam Pasal 202 Undang-undang No.5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR. 91 . 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Hal yang lazim ada adalah terdapat pengecualian dari mekanisme parliamentary threshold. lalu dibagi dengan jumlah suara secara nasional.1 Konsep Parliamentari Treshold Ketentuan parliamentary treshold di masing-masing Negara memiliki konsep yang berbeda yang pada umumnya di pengaruhi oleh konsep historis dan Culture Negara tersebut. Tidak ada besaran resmi bagi suatu negara mengenai penerapan parliamentary threshold. Adapun bunyi dari pasal tersebut adalah: 1 Partai Politik Peserta Pemilihan Umum harus memenuhi ambang batasperolehan suara sekurang-kurangnya 2. BAB II PEMBAHASAN 2.

Hal ini berkaitan dengan sistem pemerintahan presidensial dan sistem multipartai di Indonesia yang dianggap tidak cocok bila disandingkan bersama. Pihak yang pro menyatakan bahwa konsep ini merupakan konsep yang bagus untuk menyederhanakan partai politik di Indonesia. dan Partai Merdeka. Dengan ketentuan ini. Partai Perjuangan Indonesia Baru (PPIB). Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI). parliamentary threshold menuai banyak pro dan kontra.5 % tersebut dinilai oleh beberapa pihak dalam hal ini anggota partai politik adalah inkonstitusional (tidak sesuai dengan konstitusi). Kombinasi kedua sistem 92 . DPD dan DPRD. Parpol yang tak beroleh suara minimal 2. Partai Karya Perjuangan (Pakar Pangan). Kemudian. Partai Nasional Banteng Kerakyatan (PNBK) Indonesia. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). serta calon anggota DPR peserta Pemilu 2009 dan anggota Parpol peserta Pemilu 2009. Partai Patriot (PP). 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR. Pasal 202 ayat (2) UU No 10 Tahun 2008 menyatakan bahwa konsep parliamentary threshold tidak berlaku dalam penentuan perolehan kursi DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. yaitu Partai Demokrasi Pembaruan (PDP). Sedangakan di beberapa negara menerapkan ambang batas penempatan anggota parlement oleh partai politik sangat bervariasi dimulai dari angka 2 % sampai dengan 5 % angka angka tersebut tidak dapat di jelaskan dari mana perolehannya yang pasti angka tersebut telah disepakati oleh parlemen yang merupakan perwujudan dari kehendak rakyat Di Indonesia penetapan angka 2. Mereka adalah partai-partai politik peserta Pemilu 2009. Parliamentary Threshold diatur dalam Pasal 202 ayat (1) UU No. Sehingga suara yang telah diperoleh oleh parpol tersebut dianggap hangus. Partai Persatuan Daerah (PPD). Partai Indonesia Sejahtera (PIS). Sebagai suatu konsep yang baru dalam pemilihan umum anggota DPR.5 persen tak berhak mempunyai perwakilan di DPR. Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN).

ekonomi.5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah secara nasional. Parliamentary Threshold di Indonesia. lebih cocok disandingkan dengan sistem multi-partai yang sederhana. yaitu sulitnya Presiden untuk membuat “Decision Making” berkaitan dengan masalah kehidupan berbangsa dan negara yang strategis meliputi aspek. politik. khususnya pada Pemilu 2009. 2. kabupaten/kota. Wacana penyederhanaan partai politik semakin mengemuka terutama ketika membahas Undang-Undang No.ini mengakibatkan sulitnya membangun koalisi antarpartai politik dan hal ini tentu saja dapat mengganggu stabilitas pemerintahan. Ada banyak cara yang dapat digunakan untuk membatasi jumlah partai yang politik yang duduk di parlemen. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam penentuan perolehan kursi Dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) provinsi dan. Sedangkan pihak yang kontra melihat aturan parliamentary threshold tidak adil bagi partai politik baru dan hanya menguntungkan partai politik besar. dalam sistem Presidensiil yang dianut oleh Indonesia. yaitu : 1. Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 2. DPD dan DPRD. Hal ini bisa dilihat menjelang pemilihan umum tahun 2009 dimana koalisi 10 partai politik peserta pemilu mengajukan uji materi Pasal 202 ayat (1) UU No 10 Tahun 2008 kepada Mahkamah Konstitusi. antara lain melalui Electoral Threshold atau melalui Parliamentary Threshold. 93 . Secara teoritis. yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tersebut menjelaskan ketentuan yang berlaku dalam pasal 202. Dampak multipartai di Indonesia dapat kita rasakan bersama. diplomasi dan militer. Sedangkan sistem multipartai yang digunakan Indonesia selama ini lebih cocok untuk digunakan dalam sistem parlementer. 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR.

Adapun bunyi dari pasal tersebut adalah: 1. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam penentuan perolehan kursi DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota 94 . Partai Politik Peserta Pemilihan Umum harus memenuhi ambang batasperolehan suara sekurang-kurangnya 2. 2.5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR. Ketentuan ini pertama kali diterapkan pada Pemilu 2009. Dewan Perwakilan Daerah. BAB III PENUTUP Parliamentary Treshold adalah ambang batas perolehan suara minimal partai politik dalam pemilihan umum untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Ketentuan mengenai parliamentary threshold dirumuskan secara implisit dalam Pasal 202 Undang-undang No.

10 Tahun 2008 http://www.com/berita/baca/hol18498/iparliamentary-thresholdi- lebih-efektif-menjaring-parpol-berkualitas- 95 . DAFTAR PUSTAKA Undang-undang No.hukumonline.

SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 96 .12 DISUSUN OLEH : YOGA IRWANDA NIM. 16102085 DOSEN PENGAJAR : DRS. M. PARTAI POLITIK SEBAGAI ASPIRASI RAKYAT PERTEMUAN KE. EDWARD MANDALA.

Selama demokrasi perwakilan masih dipandang sebagai cara yang paling masuk akal untuk mewujudkan kedaulatan rakyat maka kehadiran partai politik tidak akan terhindarkan. partai politik lahir dari berbagai aspirasi masyarakat yang berkeinginan bersatu dalam wadah kesatuan republik Indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1. terbentuknya negara negara boneka yang bernuansa kedaerahan. Partai politik merupakan institusi yang menjadi penyangga bekerjanya demokrasi perwakilan. Partai politik merupakan gambaran wajah percaturan politik nasional atau bisa dikatakan sebagai tolak ukur partisipasi politik masyarakat.Hal ini terlihat dari timbulnya berbagai gejolak dan ketidakpuasan di sekelompok masyarakat yang merasa aspirasinya tidak terwadahi dalam bentuk gerakan-gerakan separatis seperti proklamasi Negara Islam oleh Kartosuwiryo tahun 1949. Sebagai bentuk menuju perkembangan demokrasi. partai politik belum berperan secara optimal sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi politik rakyat. Untuk melihat seberapa jauh peran partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat. sekali lagi harus dilihat dalam konteks perspektif sejarah perkembangan bangsa Indonesia itu sendiri. 97 .Pada awal kemerdekaan. Partai politik telah mengubah relasi antara rakyat dengan penguasa.1 LATAR BELAKANG Perkembangan partai politik di Indonesia menjadi warna dalam perkembangan demokrasi di Indonesia.

Pada fase berikutnya dalam sejarah perjalanan bangsa yaitu masa Orde Lama. demokrasi hanya dijadikan jargon politik. Namun penataan partai politik tersebut ternyata tidak membuat semakin berperannya partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat. peran partai politik dalam kehidupan berbangsa ditata melalui UU No. Di zaman pemerintahan Orde Baru.Partai politik yang diharapkan dapat mewadahi aspirasi politik rakyat yang terkristal menjadi kebijakan publik yang populis tidak terwujud. tapi tidak disertaidengan upaya memberdayakan pendidikan politik rakyat. berbangsa dan bernegara.peran partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat juga belum terlaksana sesuai dengan yang diharapkan. Sebagai akibat terjadinya ketidak stabilan system kehidupan politik dan kemasyarakatan yang ditandai dengan berganti-gantinya kabinet. 2 Partai politik cenderung terperangkap oleh kepentingan partai atau kelompoknya masing-masing dan bukan kepentingan rakyat secara keseluruhan. partai politik yang jumlahnya cukup banyak ditata menjadi 3 kekuatan sosial politikyang terdiri dari 2 partai politik yaitu PPP dan PDI serta Golkar.partai politik tidak berfungsi dan politik dijadikan panglima. rasa keadilan terusik dan ketidakpuasan semakin mengental. aspirasi rakyat tidak tersalurkan akibatnya kebijaksanaan politik yang dikeluarkan saat itu lebih bernuansa kepentingan politik dari pada kepentingan ekonomi. 3 Tahun 1973.Akibatnya peran partai politik sebagai wadah 98 .Hal ini terlihat dari kebijaksanaan publik yang dihasilkan pada pemerintahan Orde Baru ternyata kurang memperhatikan aspirasi politik rakyat dan cenderung merupakan sarana legitimasi kepentingan penguasa dan kelompok tertentu. 4 Akibatnya pembangunan nasional bukan melakukan pemerataan dan kesejahteraan namun menimbulkan ketimpangan dan kesenjangan sosial di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.Hal ini dikarenakan peran partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi politik rakyat oleh pemerintahan orde baru tidak ditempatkan sebagai kekuatan politik bangsa tetapi hanya ditempatkan sebagai mesin politik penguasa dan aksesoris demokrasi untuk legitimasi kekuasaan semata.

terartikulasi. dan teragregasikan secara transparan dan konsisten. 5Harapan peran partai sebagai wadah penyalur aspirasi politik akansemakin baik. penyelenggara negara. Dari hasil diatas setelah kita semua melihat sejarah perjalanan adanya partai politik di Indonesia. maupun kelompok-kelompok kepentingan.O. kepentingan. bahwa partai politik sebenarnya memiliki posisi yang sangat strategis dalam proses Demokratisasi bangsa ini. Mirip dengan fenomena lama dimana yang ada hanya janji dan slogan-slogankepentingan politik sesaat. dan kekuasaan rakyat masih sangat terasa dalam kehidupan politik.Key6 berpendapat tentang tiga bagian bagian partai.partai politik adalah edukator bagi masyarakat untuk mendidik warga Negara mengapa mereka harus mengambil posisi kebijakan tertentu. Hal ini terlihatdari kampanye Pemilu yang masih diwarnai banyaknya partai politik yang tidakmengaktualisasikan aspirasi rakyat dalam wujud program partai yang akandiperjuangkan.Distorsi atas aspirasi. namun perkembangan demokrasi belum terarah secara baik dan aspirasi masyarakat belum terpenuhi secara maksimal. Meskipun rezim otoriter telah berakhir dan kerandemokrasi telah dibuka secara luas sejalan dengan bergulirnya proses reformasi. 3Tahun 1999 tentang partai politik memungkinkan sistem multipartai kembalibermunculan. Di lain pihak. Gerakan reformasi yang melahirkanproses perubahan dan melengserkan pemerintahan orde baru dan melahirkan UU No. institusi pemerintah dan negara tidak jarangberada pada posisi yang seolah tidak berdaya menghadapi kebebasan yang terkadang melebihi batas kepatutan dan bahkan muncul kecenderungan yang mengarah anarkhis walaupun polanya tidak melembaga dan lebih banyak bersifat kontekstual. Aspirasi rakyat belum tertangkap.penyalur betul-betul terbukti nyaris bersifat mandul dan hampir-hampir tak berfungsi. Sesuai dengan konseptualisasi V.yaitu partai di pemilih (party in 99 . Era reformasi muncul sebagai gerakan korektif dan pelopor perubahan- perubahanmendasar di berbagai aspek kehidupan. pemerintah. meskipun hingga saat ini belum menunjukkan kenyataan. baik distorsi yang datangnya dari elit politik.

Dewan Perwakilan Daerah (DPD).Partai politik yang seharusnya memberikan pendidikan politik pada masyarakat apakah sudah menjalankan perannya dengan baik untuk menarik masyarakat menjadi seorang pemilih yang cerdas (smart voters).electorate). Sesuai dengan konstalasi politik saat ini bahwa Kota Malang sendiri dalam waktu dekat akanmelakukan pesta demokrasi. dan partai di institusi pemerintah (party in the government).ataupun dalam pemilihan bupati.pada bagian ini fungsi partai menunjuk pada penampilan partai politik dalam menghubungkan individu dalam proses demokrasi.atau proses organisasi di dalam partai itu sendiri. Wujud dari hak-hak politik ini adalah 100 . Semua itu distribusi yang seharusnya dijalankan oleh partai politik sudah nampak jelas. Label partai menyediakan kunci informasisingkat tentang bagaimana “orang-orang seperti saya seharusnya memilih”agar hal ini mampu membantu masyarakat untuk melihat sebuah persoalan dan berprilaku ketika pemilihan.Program kerja apa saja yang dilakukan partai politik khusunya di Kota Malang apakah partai-partai di Kota Malang hanya memberikan pendidikan politik pada saat menjelang pesta demokrasi. Partisipasi anggota masyarakat dalam memilih pemimpin mereka dalam pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Partai sebagai sebuah organisasi (party organization).Pada fungsi ini. Banyak kalangan menyatakan bahwa pemilu tersebut cukup memenuhi norma–norma pemilihan umum yang demokratis.partai bermain pada pengelolaan dan penstrukturan persoalan-persoalan pemerintahan.akan tetapi secara implementasiapakah hal itu suda terlaksana dengan baik.pada fungsi ini menunjuk pada fungsi-fungsi yang melibatkan partai politik sebagai organisasi politik.walikota adalah gejala yang masih langka dan semua lapiasan masyarakat belum tentu untuk mengikuti sebuah pesta Demokrasi. Dimana setiap warga Negara diakui dan dilindungi hak-hak politiknyasepertihak- hakuntukberpendapat dan berserikat. Disaat itulah kita akan melihat berjalannya pesta demokrasi diaras local serta fungsi partai politik di aras local apakah sudah berjalan sesuai dengan fungsinya.

Meskipun didalam peran partai politik dalam memberikan pendidikan politik juga terdapat kompetisi sejauhmana pendidikan politik itu mampu mempengarui masyarakat untuk mengenal partaipolitikitu sendiri. Kalangan ini meyakini pembangunan 101 .”Dukungan warga“ tersebut diterjemahkan ke dalam keikutsertaan dalam pemilihan umum guna memilih orang atau partai untuk mengisi jabatan-jabatan publik tersebut. Tentu untuk menuju sebuah kematangan perilaku politik itu tidak hanya menjadi tugas partai politik tetapi juga semua lapisan element masyarakat.pemilihan umum dan pemilihan gubernur ataupun.dan kebebasan untuk mendukung atau menolak partai politik tertentu sesuai dengan keinginan mereka. Pembangunan politik adalah syarat politik berlangsungnya pertumbuhan ekonomi.karena partisipasi politik yang rendah juga memberi pengaruh terhadap stabilisasi demokrasi. Ketika para ahli diminta mengidentifikasi apa persoalan yang dihadapi oleh pertumbuhan ekonomi.karena itu adalah bagian dari ”perilaku pemilih”(voting behavior). Dengan kata lain.karena keikutsertaan warga dalam pemilu demokratis (voter turnout)merupakan elemen dasar dari sebuah rezim demokrasi. Partisipasi dalam pemillihan umum(voter turnout) adalah salah bentuk dari partisipasi yang paling elementer dalam demokrasi. harus dibarengi dengan meningkatnya kemampuan pemerintah untuk merespon tuntutan itu. jawaban mereka adalah bahwa kondisi sosial dan politik yang harus bisa lebih berperan.walikota tersebut memiliki makna untuk dianalisis lebih lanjut dalam menjawab pertanyaansudah mapankah pendidikan politik yang diberikan oleh partai politik sehingga itu mampu mempengarui prilaku pemilih.Bersamaan dengan itu.Wujud dari kebebasan berkumpul dan berserikat ini adalah kebebasan untuk mendirikan partai politik.Di sini diharapkan partai politik mampu memerankan perannya untuk memberikan pendidikan politik.adanya kebebasan bagi setiap warga Negara untuk menyatakan pendapat dan berkumpul.

Pandangan ini mirip dengan konsep sebelumnya yakni masih berkaitan dengan prestasi ekonomi.politik sebagai kondisi kepolitikan yang harus memfasilitasi pertumbuhan ekonomi. Cara pandang seperti ini memiliki persoalan karena lebih mudah memprediksi kemungkinan sistem politik melindungi pembangunan ekonomi yang sudah dicapai (misalnya dengan mempertahankan stabilitas) daripada memfasilitasi (merintis) pertumbuhan ekonomi itu sendiri. dengan maksud memberikan kebutuhan politik yang sesuai dengan aras lokal. 8 memiliki anggota DPRD sebanyak 45 orang anggota. Mewujudkan Peraturan Daerah (Perda) yang partisipatif. dan harapan yang sama dibebankan pada pembangunan politik. Ketiganya saling mengontrol dan melengkapi dalam kerja sama dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan. Prestasi ekonomi terutama dalam hal industrialisasi-isme dianggap sebagai kondisi puncak yang menyelesaikan semua masalah.243 di tahun 2010 dengan tingkat pertumbuhan 3. perluasan kesejahteraan dengan derajat partisipatif masyarakat yang tinggi adalah generalisasi dari semuanya. pemerintah dan swasta terletak dalam garis keseimbangan yang stabil.Harapan tersebut harusnya menjadi pelecut semangat para partai politik ataupun anggota DPRD Kota Malang untuk maksimal dalam kinerja. Pertanyaan yang 102 . Dimensi pembangunan politik lokal ialah kesejahteraan masyarakat dimana garis triangulasi antara 3 aktor penting yakni masyarakat. Pembangunan politik lokal adalah modernisasi politik wilayah lokal. mendorong anggaran yang berbasis sektor publik serta melakukan pendidikan politik untuk mewujudkan pemilih cerdas (smart footers). Konsep seperti ini sudah dikritik oleh penganut relativisme kultural yang mempertanyakan Barat sebagai ukuran standar dan universal untuk semua sistem politik di dunia ini. Kota Malang yang dikenal sebagai kota Pendidikan.9% per tahun. Dengan melihat kondisi Kota Malang yang mulai terus tumbuh. Kota Malang memiliki jumlah penduduk 820.ini semakin membuat partai politik untuk terus tumbuh dalam memberikan pendidikan politiknya. Dari semua kisaran diatas.

dan para pengambil keputusan adalah lembaga-lembaga impoten untuk mampu mencapai tujuan-tujuan politik. Mereka yang berpendapat bahwa demokrasi tidak konsisten dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Namun yang harus juga dipikirkan adalah bahaya adanya emosionalisme warganegara yang diolah oleh demagog. sentimen warganegara dengan tertib politik. Kalau jawabannya hanya sebatas tercapainya tujuan-tujuan dari elemen politik tersebut. Pembangunan politik sebagai bentuk stabilitas dan perubahan sosial.pertama kali perlu dijawab adalah apakah pembangunan politik ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sebuah negara dalam kepolitikannya seperti parpol. Pembangunan politik memang menyangkut partisipasi warganegara. karenanya konsep kapasitas untuk perubahan yang teratur menjadi penting dalam pandangan ini. Inilah proses demokrasi yang sesungguhnya. Pembangunan politik adalah mobilisasi dan kekuasaan. Artinya lagi. Sistem yang tidak stabil akan beroperasi dengan margin kekuasaan yang rendah. sistem politik dapat dievaluasi dari bagaimana kekuasaan absolute bekerja memobilisasi. memahami pembangunan semata-mata soal ketertiban ekonomi dan sosial. maka muncul persoalan etnosentrisme Barat di sini. maka akan banyak persoalan lokal yang muncul. karena semua unsur itu memang menjadi karakter Barat. Pengakuan bahwa sistem politik harus bermanfaat bagi masyarakat membawa kita pada pemahaman soal kapabilitas sistem politik. Pembangunan Politik lokal sebagai salah satu bentuk dari mobilisasi massa dan partisipasi politik masyarakat lokal. administrasi sipil yang rasional. Kalau ada argumen bahwa demokrasi akan mengurangi efisiensi. Pemimpin dan pengikut merasa pembangunan politik makin berkualitas dilihat dari tingkat demonstrasi di seluruh negeri. 103 . karena pembangunan politik adalah menyangkut peran warganegara lokal dalam bentuk kesetiaan barunya terhadap daerah. dan badan legislatif? Kalau jawabannya adalah iya. Karenanya penting menyeimbangkan gelora. berarti tingkat efisiensi politik bisa diukur.

mengalir dari deskripsi singkat di atas. Persamaan juga berarti terbukanya kesempatan bagi warga negara dalam proses rekrutmen jabatan- jabatan publik dengan menggunakan standar obyektif.Pendidikan politik dalam hal ini dipahami sebagai perbuatan untuk memberi ajaran. yang dimulai dari pendekatan ekonomi sebagai pondasi awal dari syarat menuju terciptanya stabilitas politik lokal dengan peran partisipatif masyarakat untuk menghidupkan demokrasi di aras lokal. Alhasil. semangat persamaan. Persamaan adalah prinsip universal. kapasitas berkaitan dengan output dalam proses politik.melalui proses dialogic. akan ada gunanya melihat secara sekilas berbagai pemaknaan pembangunan politik demi mengisolasi mana yang paling penting dari kesemuanya. di semua pengertian pembangunan politik selalu ada semangat menyertakan warganegara dalam proses politik.yang dilakukan dengan sukarela antara pemberi dan penerima 104 . ada dua karakter dari semuanya tentang pembangunan politik. Jadi. dan kapasitas yang berkaitan dengan rasionalitas dalam proses administrasi dan orientasi kebijakan.maka pelaksanaan pendidikan politik yang baik danbenar mutlak diperlukan. Dari lima itu.juga dilaksanakan non formal melaui organisasi-organisasi masyarakat sipil. baik yang populis maupun yang tidak populis. pembangunan politik lokal dapat dirumuskan sebagai proses linear. dapat diterapkan di semua proses impersonal. efektifitas dan efisiensi dalam penerapan kebijakan publik.serta bimbingan untuk mengembangkan kapasitas dari diri manusia. Konklusi untuk mengambil satu kerangka filosofis dari tebaran pendekatan ini. Kapasitas Sistem Politik. Kapasitas juga berartikondisi yang mempengaruhi performa dan kondisi proses pemerintahan. upaya menciptakan stabilitas dan pencapaian prestasi ekonomi yang signifikan dalam mensejahterahkan masyarakat adalah dua kata kunci yang menjadi ambisi kajian pembangunan politik. dan bukan subyektif.Pendidikan politik ini selain diberikan pemerintah melaui lembaga-lembaga formal. Untuk menumbuhkan partisipasi yang otonom dari setiap warga negara.

peneliti ingin mengetahui secara mendalam program kerja apa saja yang dilakukan partai politik dalam memberikan pendidikan politik masyarakat.Pelaksanaan atas hak pendidikan sangat penting dalam memenuhi hak asasi manusia. serta hasil pemilu yang tidak sesuai dengan masyarakat. kerusuhan.sehingga para penerimapesan dapat memiliki kesadaran berdemokrasi dalam kehidupan bernegara. Alur pemikiran penelitian ini adalah adanya permasalahan dalam pemilu yang sering terjadi money politik. Kondisi tersebut menunjukan pendidikan politik masyarakat yang masih rendah.pesan secara rutin.seperti hak atas pekerjaaan.Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran tentang perlunya partai politik untuk menjalankan perannya dalam memberikan pendidikan politik demi terwujudnya sebuah demokratisasi yang baik di aras lokal.Selain itu.Dengan adanya pilkada menjadi bagian yang sangat penting untuk memperkenalkan figur dari partai politik. Pilkada langsung yang dilakukan sebagian besar kabupaten/kota dan provinsi merupakan salah satu bentuk dari proses demokratisasi di Indonesia.dan partisipasi politik.maupun non partai dalam memberikan pendidikan politik. Seharusnya sesuai dengan undang-undang partai politik pasal 11 ayat (1) undang-undang no 2 tahun 2008 yang kemudian direvisi menjadi undang-undang no 2 tahun 2011tentang partai politik merupakan sarana 105 . peneliti juga ingin mengetahui faktor pendorong dan penghambat apa yang dialami partai politik dalam memberikan pendidikan politik masyarakat.Hak atas pendidikan dilandasi kenyataan bahwa pendidikan universal adalah salah satu tujuan pembangunan milleniumyang harus dicapai pada tahun 2015. serta untuk melihat apakah pendidikan yang diberikan oleh partai PDIP dan Hanura mampu meningkatkan popularitas partai politik mereka sehingga untuk membangun politik local yang sesuai dengan peran dan fungsinya. Dalam penelitian ini.kesehatan. Maka untuk itu saya selaku peneliti mengangkat judul “Peran Partai Politik dalam Memberikan Pendidikan Politik (Studi Partai PDIP dan Hanura di Kota Malang)”. termasuk pelaksanaan pilkada di Kota Malang.

bagaimana bentuk kegiatan partai politik kepada masyarakat serta faktor pendorong dan penghambatnya.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana program-program partai politik dalam memberikan pendidikan politik serta dapat menjadi bahan acuan partai politik sebagai perbaikan partai politik kedepan. yakni : 1. 1. berbangsa dan bernegara.Apakah adapembedapendidikan politik partai PDIP dan Hanura? 1. Pendidikan politik bertujuan agar masyarakat dapat menentukan pilihan politiknya secara cerdas dan untuk menjamin kualitas hasil pemilu.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas. 106 .4 Manfaat Penelitian 1. peneliti menarik rumusan masalah penelitian. selain itu partai politik berfungsi sebagai sarana penciptaan iklim yanng kondusif bagi kesejahteraan masyarakat.Untuk mengetahui sejauh mana partai politik dalam memberikan pendidikan politik masyarakat. Dengan begitu akan mampu membuat bentuk pendidikan politik yang dapat diaplikasikan pada masyarakat.Apa saja faktor pendorong dan penghambat partai politik dalam memberikan pendidikan politik masyarakat? 3. Dengan aturan konstitusi yang menjadi dasar acuan untuk melihat sejauh mana pendidikan politik yang dilakukan partai politik.Manfaat praktis a.Bagaimana kegiatan partai PDIP dan Hanuradalam memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat? 2. 1.pendidikan politik bagi masyarakat luas agar WNI sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat.

diteliti. Untuk itu dalam rangka memperjelas penguraian lebih lanjut dalam penulisan ini.1 Definisi Konseptual Definisi konseptual adalah untuk menguraikan tentang beberapa istilah atau konsep yang terkait pada peneliti yang dilakukan.b.10 Dengan demikian.Manfaat teoritis a.maka perlu di lakukan penjelasan mengenai beberapa pengertian atau istilah yang berkaitan dengan upaya untuk menyeragamkan pemahaman terhadap pokok pembahasan dengan maksud untuk menciptakan keseragaman atau kesamaan pemahaman terhadapn pengertian masing-masing konsep yang terkandung dalam pengertian tersebut.Partai politik juga memiliki kedudukan yang pertama salah satu wadah atau sarana 107 .Dapat menambah wawasan penulis khususnya dan mahasiswa lain pada umumnya pada kajian partai politik dalam memberikan pendidikan politik masyarakat. 1. b.Dapat dijadikan rujukan empirik terhadap pengembangan ilmu social khususnya dalam peran partai politik. serta dapat memperoleh kejelasan tentang arti dari peneliti ini sehingga mempermudah dalam peneliti terhadap variable-variabel (konsep) yang hendak diukur. 2.Dapat di jadikan bahan evaluasi dan penyusunan program perbaikan partai politik dalam memberikan pendidikan politik masyarakat. 2. dan digali datanya.partai politik merupakan perantara yang besar yang menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi- ideologi sosial dengan lembaga-lembaga pemerintah yang resmi dan mengkaitkannya dengan aksi politik di dalam masyarakat yang lebih luas.Partai Politik Partai politik adalah suatu organisasi yang dibentuk untuk mempengaruhi bentuk dan karakter kebijaksanaan publik dalam kerangka prinsip-prinsip dan kepentingan ideologi tertentu melalui praktek kekuasaan secara langsung atau partisipasi rakyat dalam pemilihan.

partai bekerja melalui mekanisme pemerintahan yang mencerminkan pilihan rakyat dan yang kelima.kedua perantara antara kekuatan–kekuatan sosial dengan pemerintah. kedua. yang dengan sengaja bertindak bersama-sama untuk mencapai tujuan.Oleh karena itu. Peran partai politik dalam sistem perpolitikan nasional merupakan wadah seleksi kepemimpinan nasional dan daerah.partisipasi politik rakyat. partai politik sebagai organisasi publik yang bertujuan untuk membawa pemimpinnya berkuasa dan memungkinkan para pendukungnya (politisi) untuk mendapat keuntungan dari dukungan tersebut. Pengalaman dalam rangkaian penyelenggaraan seleksi kepemimpinan nasional dan daerah melalui pemilu membuktikan keberhasilan partai politik sebagai pilar demokrasi. partai politik menjadi alat atau sarana untuk mendapatkan kekuasaan di parlemen maupun di pemerintahan dengan cara menarik simpati dari rakyat untuk memilih partai tersebut guna memenangkan pemilu. Sedangkan menurut Ranney (1990). mendefinisikan partai politik berdasarkan karakteristik- karakteristik dasar yang dimiliki oleh partai politik. Dari pendapat para ahli diatas. Dengan semakin matangnya partai politik ini diharapkan mampu membawa sistem perpolitikan nasional untuk mulai sejalan dengan penataan kehidupan berbangsa dan bernegara yang di dalamnya mencakup penataan partai politik. 1) berwujud kelompok-kelompok masyarakat yangberidentitas. Dengan banyaknya simpati dan dukungan rakyatmaka semakin besar pula kesempatan partai politik atau parlemen mampu menguasai parlemen atau pemerintahan. 2) terdiri dari beberapa orang yang terorganisir. aktivitas ini partai politik adalah menyeleksi kandidat untuk jabatan publik. 3) masyarakat mengakui partai politik memiliki legitimasi berupa hak-hak untuk mengorganisasikan dan mengembangkan diri mereka. beberapa tujuannya yaitu mengembangkan aktivitas-aktivitas. Menurut Max Weber. partai politik harus punya komitmen dan tetap 108 . keempat.Partai politik memiliki peran yang sangat penting bagi bangsa inikarena partai politik merupakan tempat penghasil para pemimpin-pemimpin bangsa.

b. 3.menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik dan benar sesuai dengan garis haluan partai.Partisipasi Politik Partisispasi poltik bukanlah hal yang abstrak seperti banyak kalangan selama ini yakini. Dalam penelitian ini peneliti mengasumsikan bahwa pendidikan politik yang bersandar pada pengayaan pengetahuan akan hak dan kewajibanwarganegaradalam berpolitik akan mempengarui perilaku politik masyarakat.Konstitusi Negara mewajibkan seseorang atatu kelompok untuk melakukan kewajibannyasebagai manifesatasi perilaku politiknya.mengikuti ormas atau lembaga swadaya masyarakat. 2.akan tetapi perilaku politisi.Ikut serta dalam pesta politik d.Mengikuti dan berhak menjadi insane politikyang mengikuti suatu partai politik. 109 . a.Melakukan pemilihan untuk wakil rakyat atau pemimpin. Tentu banyak faktor lainnya sebagai pendorong partisipasi politik masyarakat.Berhak untuk menjadi pimpinan politik f. Misalnya dalam mengikuti pemilihan umum. maka dianggap penting untuk menggali bagaimana pendidikan politik itu dilakukan oleh lembagai politik seperti partai politik.Ikut mengkritik atau menurunkan pelaku politik yang berotoritas e.perilaku partai politikitu sendiri merupakan bahan ajaran pada rakyat untuk melihat politik secara nyata.sebagai contoh adalah sebagai berikut. karena partai partai yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik maka partai tersebut akan ditinggalkan oleh pendukung dan konstituennya. c. Wujud partisipasi politik bisa dengan mudah kita lihat dan rasakan.Perilaku Politik Perilaku politik atau political behavior dapat didefinisikan sebagai perilaku yang dilakukan oleh seorang atau kelompok untuk memenui hak dan kewajibannya sebagai insan politik.Berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan politik guna melakukan perilaku politik yang telah di susun secara baik oleh undang- undang dasar dan perundangan hukum yang berlaku. melakukan demonstrasi.

yaitu alasan yang didasarkan atas penerimaan secara rasional akan nilai-nilai suatu kelompok. partai atau individu. yaitu alasan yang didasarkan atas kalkulasi untung rugi secara ekonomi. Kevin R. Menurut Max Weber. yaitu alasan didasarkan atas kebencian atau sukarela terhadap suatu ide. alasan tradisional. Indikatornya ialah berupa kegiatan individu atau kelompok dan bertujuan ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik. dengan jalan memilih pimpinan negara.dan sebagainya. yaitu alasan yang didasarkan atas penerimaan norma tingkah laku individu atau tradisi tertentu dari suatu kelompok sosial. organisasi. alasan rasional instrumental. alasan emosional afektif. Sedangkan menurut menurut Herbet McClosky yang dikutip oleh Damsar di dalam “Pengantar Sosiologi Politik” partisipasi politik diartikan sebagaikegiatan kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa dan secara langsung atau tidak langsung dalam proses pembentukan kebijakan umum. Sedangkan Miriam Budiarjo mengatakan bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik. memilih pimpinan publik atau mempengaruhi kebijakan publik. dan secara langsung mempengaruhi kebijakan pemerintah. 110 . dimana warga Negara berupaya menyampaikan kepentingan-kepentingan mereka terhadap pejabat-pejabat publik agar kepentingan tersebut bisa terwujud. Keempat. Indikatornya ialah terdapat interaksi antara warga negara dengan pemerintah serta terdapat usaha warga Negara untuk mempengaruhi pejabat publik. Hardwick dalam Deden Faturohman & Wawan Sobari (2003)13 menjelaskan partisipasi politik sebagai upaya member perhatian pada cara-cara warga negara dalam berinteraksi dengan pemerintah. 3) Ketiga. 1) alasan rasional nilai. 2) Kedua. masyarakat melakukan aktivitas politik karena.

membentuk kepribadian politik. Dengan demikian. Pertama. pendidikan politik bertujuan agar setiap individu mampu memberikan partisipasi politik yang aktif di masyarakatnya. 2.Pendidikan Politik Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia dengan upaya pengajaran dan pelatihan. Ramlan Surbakti 16 mengemukakan batasan-batasan konsep partisipasi politik.Kedua. Pendidikan politik merupakan aktivitas manusia dan itu tidak mungkin terwujud secara utuh kecuali dalam sebuah masyarakat yang bebas. loyalitas.Keempat. partisipasi politik ialah kegiatan-kegiatan luar individu warga negara yang bisadiamati. kesadaran politik. partisipasi politik bisa dilakukan secara langsung mapun tidak. partisispasi politik dilakukan dalam prosedur yang wajar. 4. pendidikan politik adalah aktivitas yang bertujuan untuk membentuk dan meumbuhkan orientasi-orientasi politik pada setiap individu yang meliputi keyakinan konsep yang memiliki muatan politis.2 Definisi Operasional Secara umum operasional dipahami sebagai batasan jangkauan atau ruang lingkup kaitannya dengan penelitian.Kelima.sehingga tidak menimbulkan salah tafsir. dan perasaan politik.Selanjutnya istilah politik berasal dari bahasa Yunani polis yang artinya kota atau Negara yang kemudian muncul kata-kata politiesyang artinya warga Negara dan kata politiko’s yang artinya kewarganegaraan.bukanlah keperluan mengkomunikasikan semata-mata kepada pihak lain. Menurut Sanapiah Faisal.Disamping itu. dan partisipasi politik.tetapi juga menuntun penelitian itu sendiri di dalam 111 .18 Berangkat dari pengertian diatas. pendidikan politik memiliki tiga tujuan yakni. kegiatan itu diarahkan untuk mempengaruhi proses perumusan sampai pelaksanaan kebijakan oleh pemerintah. konsep partisipasi politik juga termsuk kegiatan yang berhasil atau gagal.17Tingkat pendidikan sangat berperan dalam daya penyerapan serta kemampuan komunikasi.Ketiga. serta pengetahuan dan wawasan politik yang membuat seseorang memiliki kesadaran terhadap persoalan dan sikap politik.

sehingga nantinya dapat diperoleh gambaran yang jelas.Pemantapan berorganisasi 3.20 Dengan demikian.Penguatan ideologi ( party identification) b.Loyalitas a.Penelitian ini membahas tentang sejauhmana peran partai politik dalam memberikan pendidikan politik.Jenis Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitiaan deskriptif dengan pendekatan kualitatif.menangani rangkaian proses penelitian.1 Metode penelitian Metode ialah prosedur untuk mengetahui sesuatu yag mempunyai langkah- langkah sistemetis.program-program apa saja yang dilakukan partai politik dalam melakukan pendidikan politik diukur dengan kriteria di antaranya sebagai berikut 21: a.sampel. Gambaran tersebut dielaborasi dengan teori-teori yang memadai agar diperoleh analisas kritis yang seilmiah mungkin tanpa bermaksud mengklaim ini sebagai kebenaran tunggal. Pendekatan kualitatif menurut Bogdandan Taylor (1975: 5) dalam buku Moleong adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.Sedangkan menurut Denzim dan Lincoln (1987) dalam buku Moleong juga menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah.dan juga dalam menetapkan populasi. 112 .misalnya dalam menyusun instrumenatau pengaturan variable-variabel yang hendak diteliti. 1.dalam hal ini metode penelitian ialah suatu pengkajian tentang peraturan-peraturan suatu metode dalam penelitian. dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. definisi operasional merupakan penetapan dari indikator-indikator yang akan dipelajari dan dianalisa.serta di dalam menginterpretasikan hasil penelitian. Metode penelitian deskriptif dengan maksud berusaha untuk memberikan gambaran keadaan obyek atau permasalahan tanpa ada maksud membuat kesimpulan atau generalisasi.

DPC Partai HANURA(khususnya yang menangani pendidikan perkaderan) 4.DPC Partai PDIP (khususnya yang menangani pendidikan perkaderan) 3.2 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. b.Untuk 113 .yang ada hubungan antara metode pengumpulan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan.2.wilayah basis masa partai PDIP dan Hanura untuk mengetahui seberapa berpengaruhnya pendidikan politik yang dilakukan partai PDIP dan Hanura.1 Sumber Data Dalam penelitian ini penulis memperoleh sumber data yang digunakan adalah: a.buku literatur.Konstituen yang menjadi basis masa masing-masing partai 4.Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen–dokumen atau arsip- arsip.Anggota KPUD kota Malang 2. 4.Data primer yaitu data yang diperoleh peneliti atau didapatkan langsung dari obyek yang diteliti adalah program kerja Partai PDIP dan Hanura dalam memberikan pendidikan politik sehingga memberikan pengaruh pada perilaku pemilihKota Malang. DPC Partai PDIP dan Hanura untuk mengetahui program kerja apa saja yang di akukan partai tersebut dalam memberikan pendidikan politik.Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di KPUD Kota Malang untuk memperoleh data pemilih.Maka dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah : 1.2 Subyek Penelitian Subyek penelitian yang nantinya akan memberikan informasi dalam penelitian ini adalah merupakan orang-orang yang bersangkutan dengan partai politik yang menjadi bahan studi kasus penelitian ini.internet berkaitan dengan judul penelitian. 3.

peneliti memperoleh data langsung pada sumber informasi atau responden yang bersangkutan untuk memperoleh kejelasan mengenai bagaimana sebenarnya peran partai politik dalam memberikan pendidikan politik. wawancara.peraturan-peraturan. 26 Dalam arti yang lebih luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. peneliti menggunakan teknik atau metode pengumpulan data dengan observasi.koran. Observasi Observasi adalah pengamatandan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang di selidiki. dan dokumnetasi yang akan diuraikan sebagai berikut: a. Interview / Wawancara Interview atau yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuisioner lisan merupakan teknik dengan melakukan tanya jawab secara langsung terkait pokok permasalahan terhadap objek penelitian. Dokumentasi sebagaimana laporan tertulis dari suatu perisriwa yang isinya terdiri dari penjelasan dan pemikiranterhadap peristiwa itu dan tertulis dengan sengaja untuk menyimpan atau meneruskan keterangan-keterangan mengenai peristiwa- 114 .mengumplkan data diperlukan instrumen atau alat. b.Dalam penelitian ini. seperti catatan. Wawancara dipergunakan agar memudahkan peneliti dalam mendapatkan data atau informasi yang akuratdengan didasarkan pada permasalahan yang sedang diteliti. Dokumentasi Teknik atau cara dengan dokumentasi adalah yang diperoleh dari dokumen-dokumen seperti buku. d.dan arsip arsip yang tentunya masih sangat erat kaitannya dengan topikpenelitian. c. Teknik dokumentasi Teknik dokumentasi merupakan pengumpulan data-data yang tertulis.Dengan menggunakan metode ini dapat memberi informasi kepada peneliti mengenai fakta yang terjadi pada sebuah instansi atau organisasi dalam menjalankan aktifitasnya atau kinerjanya yang kemudian melakukan pencatatan mengenai fakta tersebut.arsip-arsip atau dokumen dan bahan-bahan yang ada kaitannya dengan obyek penelitian seperti yang dikemukakan oleh WinarnoSurachman.Dalam hal ini.

sehingga data-data yang ada dapat di simpulkan setelah analisa. b. e. d. c. maka data akan dianalisa dengan menggambarkan keadaan obyek berdasarkan data obyektif.28Analisa data yang dipergunakan dalam penelitian kali ini adalah deskriptif kualitatif. Pengembangan dan pengambilan alternatif Pengembangan dan pengambilan alternatif yaitu setelah data diolah maka diambil alternatif yang terbaik untuk dijadikan bahan penyampaian informasi pengambilan keputusan.yaitu mengadakan seleksi data yang terkumpul sesuai dengan sumber dan masing- masing.Dengan demikian. Adapun tahapan dalam menganalisa data sebagai berikut : a.yaitu data yang terkumpul diberi kode tertentu dan dikelompokkan serta klasifikasi data.1 Teknik Analisa Data Analisa data adalah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. 5. proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yang kemudian dilakukan reduksi data (memformulasikan teori ke dalam seperangkat konsep) yang dilakukan dengan membuat rangkuman inti dalam penelitian tersebut.kemudian dilakukan pengelolaan data dengan cara mengklasifikasikaan dalam bentuk uraian.Pengelolaan data penyajian data dilakukan setelah data terkumpul diklasifikasikan dengan beberapa kebutuhan.dengan cara mengedit data.Pengumpulan data.Dari penelitian ini.peristiwa tersebut.Dengan demikian proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersediadari berbagaisumber yang kemudian dilakukan reduksi 115 .Pengembangan dan pengambilan alternatif yaitu setelah data diolah maka diambil alternatif yang terbaik atau dijadikan dalam penyampaian informasi dalam mengambil keputusan.pengelolaan data dengan cara mengklasifikasikan dalam bentuk uraian.yaitu memeriksa data yang terkumpul berkenaan dengan kelengkapan-kelengkapan dan kebenaran sehingga siap untuk di proses lebih lanjut.Mengkode data. Dalam penelitian ini data dianalisis bersifat kualitatif dalam bentuk deskripsi atau uraian.

data dianalisis secara normatif melaui studi literatur dan hasil analisi secara normatif melaui studi literatur dan hasil analisis bersifat kualitatif dalam bentuk deskripsi atau uraian. Dalam upaya mendapatkan data yang valid atau sahih peneliti memperpanjang waktu kehadiran. 5.Dalam waktu peneliti tersebut peneliti lebih bisa menyelami bagaimana pertain politik dalam memberikan pendidikan politik agar dapar terkupas sedalam-dalamnya sehingga distorsi yang berupa subyektivitas peneliti sedikit demi sedikit berkurang.yang secara otomatis berdampak pada obyektivitas sebagian salah satu standar validitas data. Dalam penelitian ini.yang secara otomatis berdampak pada obyektivitas sebagian salah satu standar validitas data. b) Triangulasi 116 . Posisi peneliti sebagai instrument utama dalam proses pengumpulan data. data(menformulasikan teori ke dalam seperangkat konsep) yang dilakukan dengan membuat rangkuman inti penelitian tersebut.Dalam waktu peneliti tersebut peneliti lebih bisa menyelami kebijakan pemekaran daerah sedalam-dalamnya sehingga distorsi yang berupa subyektivitas peneliti sedikit demi sedikit berkurang.Metode ini sangat membantu peneliti untuk meminimalisir distorsi data.membuat peran serta untuk terjun langsung dalam komunitas masyarakatsangat membantu peneliti untuk meminimalisir distorsi data.Posisi peneliti sebagai instrumen utama dalam proses pengumpulan data.2 Pengecekan Keabsahan Data Dalam upaya mendapatkan data yang valid atau sahih peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut : a) Memperpanjang waktu kehadiran.membuat peran serta untuk terjun langsung dalam komunitas masyarakat.

diantaranya dengan. metode. Membedakan empat macam tringulasi. 117 . dan dokumen.Triangulasi adalah tekik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan.Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik kepercayaan suatu informasi yang diperoleh.pengecekan atau sebagai pembanding data. penyidik dan teori. peneliti mampu menarik kesimpulan tidak hanya dari satu cara pandang sehingga kebenaran data lebih diterima.memanfaatkan penggunaan sumber.Dari keempat macam triangulasi tersebut. peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan dengan memanfaatkan sumber. Hal ini merupakan cara paling popular dalam penelitian kualitatif. observasi. Dengan triangulasi. Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda (nasution. 2003: 115) yaitu wawancara.

Politik Islam In Indonesia. Jakarta.14 11 Ahmad Harianto Silaban. Gramedia. 5 Saiful Munjani.Malang.”Kuasa Rakyat”Mizan Publika.Aris.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.2003. Hlm 141- 142.Teraju. Jakarta.Go. Kencana Prenada Media Group. Lihat Http://Ahmadhariantosilaban. Memahami Ilmu Politik.15 8 File:///F:/Kota_ Malang. Jakarta. 1992.Marbun.UMM Press. Hlm180.Hlm.Blogspot.2000.2010.Hal.30 Wib 4 Anasurbaningrum.Com//2012//08/Sistem Kepartaian Dan-Sistem Pemilu.Kamus Politik.Hal . Pengantar Sosiologi Politik.48 2 Ibid:Partai Politik Teori Dan Praktik Di Indonesia. 12 Ibid. Hlm 14 Miriam Budiarjo.Opcit. Demokrasi Di Indonesia: Demokrasi Parlementer Dan Demokrasi Pancasila.Hal.Opcit. Pengantar Ilmu Politik.Closky.Takdirdemokrasi’ politik Untuk Kesejahteraan Rakyat.141 10 Ibid.Jakarta.Jakarta. 17 M.Htmdiakses Pada Selasa 15 November 2012 Pukul 11. International Encyclopaedia Of The Social Sciences.2009.Penelitian Dan Teori Komunikasi.Hal.2011.Hal. UMM Press. Hal 67 13 Deden Faturohman &Wawan Sobari.00 WIB 9 Hamidi. Malang. 2010.6 7 Sigit Pamungkas.Partai Politik Dalam Perkembangan Ketatanegaraan Indonesia. Gramedia.Hal 8 3 http/Www.306 6 Saiful Munjani.Html. Sistem Kepartaian Dan Sistem Pemilu Yang Ideal Di Indonesia .267.Id/Di Akses Pada Tanggal 26 September 2012 Jam 20.Hal .Hal.416 118 . Dalam Damsar. 16 Ramlan Surbakti.2002.1994.Undang-Undang Partai Politik . DAFTAR PUSTAKA 1 Ananta . HLM 183 15 Herbert Mc.

Dasar-Dasar Ilmu Politik.1998. Buku Obor.Hal. Malang.2010.PT.Opcit.Hal : 330 30 Ibid. Hal: 60 5) Ibid . UMM Press.Hal.77 27 Surachmad Winarno .Metodologi Penelitian Kualitatif.Hal. Jakarta.2000. Hlm 2 25 Moleong.2005. Mengelola Partai Politik.Bahasa Indonesia Untuk Karangan Ilmiah. Yogyakarta.397 4) Firmansyah. Hlm.Hal .107 23 Sanapiah Faisal.18 Ibid.4-5 26 Tim Dosen Bahasa Indonesia UMM. Gajah Mada University Press. 115 119 . Dimensi-Dimensi Riset Ilmiah.109 24 Endang Poerwanti.1988 (Cet 5).Hal.Remaja Rosdakarya.Hlm. Masalah-Masalah Pembangunan Politik.Bandung.Hal 43 29 Moeleong Lexev. 32 22 Sanapiah Faisal Ibid .Metodologipenelitian Kualitatif. 2008.6 6) Yahya Muhamimin & Colin Macandrews (Ed).Lexy J.Bandung :Remaja Rosdkaria.

SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 120 . 16102085 DOSEN PENGAJAR : DRS.13 DISUSUN OLEH : YOGA IRWANDA NIM. M. HUKUM ACARA PEMBUBARAN PARTAI POITIK PERTEMUAN KE. EDWARD MANDALA.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Arti politik terdiri dari dua kata, yaitu “partai” dan “politik”. Kata partai
menunjuk pada golongan sebagai pengelompokan masyarakat berdasarkan
kesamaan tertentu seperti tujuan, ideologi, agama, bahkan kepentingan.
Pengelompokan itu bentuknya adalah organisasi secara umum, yang dapat
dibedakan menurut wilayah aktivistasnya, seperti organisasi kemasyarakatan,
organisasi keagamaan, organisasi kepemudaan, serta organisasi politik. Dengan
atribut “politik” berarti pengelompokan yang bergerak di bidang politik.

Beberapa ahli memberikan konsep tentang partai politik secara berbeda-
beda, namun memiliki elemen-elemen yang hampir sama. MacIver menyatakan
“We may define a political party as an association organized in support of some
principle or policy which by constitutional means it endavour to make the
determinant of government”.Menurut Edmund Burke partai politik merupakan “a
body of men united for promoting by their joint endavour the national interest
upon some particular principle in which they are all aggree”. Setelah menganalisis
berbagai definisi partai politik, Ware merumuskan definisi partai politik sebagai
berikut. A political party is an institution that (a) seeks influence in a state, often
by attempting to occupy positions in government, and (b) usually consists of more
than a single interest in the society and so to some degree attempts to “aggregate
interest”.

Keberadaan partai politik menjadi salah satu ciri utama negara demokrasi
modern. Bahkan, partai politik merupakan salah satu pilar demokrasi modern,
yaitu demokrasi perwakilan. Untuk menjembatani antara pemerintah dan rakyat
diperlukan adanya partai politik. Peran partai politik adalah menata aspirasi rakyat
yang berbeda-beda, dijadikan “pendapat umum” sehingga dapat menjadi bahan
pembuatan keputusan yang teratur. Dalam negara modern, jumlah pemilihnya
sangat besar dan kepentingannya sangat bervariasi sehingga perlu dikelola untuk
menjadi suatu keputusan. Partai politiklah yang memilih prinsip-prinsip aspirasi
para pemilih yang akan diterjemahkan dalam proses legislasi.

Namun demikian, dengan semakin berkembangnya kehidupan politik dan
partai politik membutuhkan adanya pengaturan dari berbagai aspek. Pengaturan
partai politik diperlukan untuk mewujudkan sistem kepartaian yang sesuai dengan
tipe demokrasi yang dikembangkan dan kondisi suatu bangsa. Pengaturan tentang

121

partai politik juga dimaksudkan untuk menjamin kebebasan partai politik itu
sendiri, serta membatasi campur tangan berlebihan dari pemerintah yang dapat
memasung kebebasan dan peran partai politik sebagai salah satu institusi yang
diperlukan untuk melaksanakan kedaulatan rakyat. Bahkan, pengaturan juga
diperlukan untuk menjamin berjalannya demokrasi dalam tubuh organisasi dan
aktivitas partai politik itu sendiri.
Keberadaan partai politik memang merupakan manifestasi dari hak atas
kebebasan berserikat dan berkumpul serta hak menyatakan pendapat. Namun
demikian, hak dan kebebasan tersebut dapat dibatasi dengan melakukan
pengaturan, termasuk pembubaran partai politik. Kebebasan berserikat sebagai
hak asasi manusia memiliki batasan yang diperlukan dalam masyarakat
demokratis demi keamanan nasional dan keselamatan publik, untuk mencegah
kejahatan, untuk melindungi kesehatan dan moral, serta untuk melindungi hak dan
kebebasan lain. Pembatasan yang dibutuhkan dalam masyarakat demokratis
merupakan penyeimbang antara kepentingan publik dan privat. Namun agar tidak
memberangus kebebasan berserikat, pembatasan itu harus dilakukan secara ketat
yang meliputi
(1) Pembatasan harus diatur dalam aturan hukum
(2) Dilakukan semata-mata untuk mencapai tujuan dalam masyarakat demokratis
(3) Memang benar-benar dibutuhkan dan bersifat proporsional sesuai dengan
kebutuhan sosial.

Sam Issacharoff menyatakan bahwa salah satu bentuk pembatasan yang
dapat dibenarkan dan dibutuhkan dalam negara demokrasi, adalah pembatasan
terhadap kelompok yang mengancam demokrasi, kebebasan, serta masyarakat
secara keseluruhan. Negara dapat melarang atau membubarkan suatu organisasi,
termasuk partai politik, yang bertentangan dengan tujuan dasar dan tatanan
konstitusional. Negara demokratis tidak hanya memiliki hak, tetapi juga
kewajiban untuk menjamin dan melindungi prinsip-prinsip demokrasi
konstitusional.
Pada umumnya tujuan ketentuan pembubaran partai politik adalah untuk
melindungi :
(a)demokrasi,
(b) konstitusi,
(c) kedaulatan negara,
(d) keamanan nasional, dan
(e) ideologi negara.

Perlindungan terhadap demokrasi, dimaksudkan agar tatanan demokrasi
yang sedang berjalan tidak rusak dan digantikan dengan sistem lain yang tidak

122

demokratis. Pemerintahan yang demokratis harus mencegah bentuk-bentuk yang
mengancam demokrasi. Perlindungan tersebut diwujudkan dalam bentuk larangan
program dan kegiatan partai politik yang hendak menghancurkan tatanan
demokrasi, maupun dalam bentuk keharusan partai politik bersifat demokratis
baik organisasi maupun cara yang digunakan. Perlindungan terhadap konstitusi
diwujudkan dalam bentuk ketentuan yang melarang tujuan dan kegiatan partai
politik bertentangan dengan konstitusi atau hendak menghilangkan atau merusak
tatanan konstitusional. Perlindungan terhadap konstitusi juga diwujudkan dalam
bentuk ketentuan yang melarang partai politik secara paksa atau dengan jalan
kekerasan hendak mengubah tatanan negara konstitusional atau mengubah
konstitusi. Tujuan mengubah konstitusi yang dilakukan secara demokratis dan
damai tidak dapat dijadikan alasan pembubaran partai politik.

Perlindungan terhadap kedaulatan meliputi keharusan partai politik
menghormati prinsip kedaulatan nasional, larangan membahayakan eksistensi
negara, tidak melanggar kemerdekaan dan kesatuan atau kedaulatan nasional,
hingga larangan afiliasi dan memperoleh pendanaan dari pihak asing.
Perlindungan terhadap keamanan nasional diwujudkan melalui kewajiban
menghormati dan tidak mengganggu keamanan nasional, larangan menghasut atau
menasihatkan kekerasan atas dasar apapun, hingga larangan membentuk dan
menggunakan organisasi paramiliter.

Perlindungan terhadap ideologi negara adalah perlindungan terhadap
faham atau asas tertentu yang dipandang sebagai dasar negara, misalnya
pluralisme, ajaran agama tertentu, atau bahkan prinsip sekularisme. Perlindungan
ini juga diwujudkan dalam bentuk larangan partai politik menganut atau
menjalankan program berdasarkan ideologi atau faham tertentu yang dipandang
bertentangan dengan ideologi dan konstitusi negara.

2.1. Pengertian Pembubaran
Pembubaran dalam bahasa Inggris adalah dissolution. Menurut kamus
Black’s Law, dissolution berarti
(1) the act of bringing to an end; termination
(2) the cancellation or abrogation of a contract, with the effect of annuling the
contract’s binding force and restoring the parties to their original positions
(3) the termination of a corporation’s legal existence by expiration of its charter,
by legislative act, by bankruptcy, or by other means the event immediately
preceding the liquidation or winding-up process.

123

Di sisi lain. Selain itu. Hal itu dapat terjadi karena membubarkan diri atas keputusan sendiri. atau dibubarkan berdasarkan keputusan otoritas negara atau sebagai akibat dari adanya aturan baru atau kebijakan negara. hanya satu negara yang pembubarannya dilakukan oleh pemerintah terlebih dahulu sebelum diputuskan oleh Mahkamah Agung. yaitu di Pakistan. dan pengadilan yang fair. 124 .2 Wewenang Pembubaran Partai Politik Terkait dengan pengaturan pembubaran partai politik. atau memang wewenang tersebut tidak dimiliki oleh Mahkamah Konstitusi negara yang bersangkutan tetapi ada pada Mahkamah Agung atau pengadilan lainnya. Pembubaran kategori terakhir disebut sebagai pembubaran secara paksa (enforced dissolution). Pembubaran tidak dapat dilakukan atas dasar tindakan individu anggota tanpa mandat dari partai. paling tidak terdapat dua negara yang pembubarannya melalui pengadilan biasa. Pada umumnya. Pelarangan dan pembubaran paksa partai politik hanya dimungkinkan dalam kasus partai politik itu melakukan tindakan dengan menggunakan kekerasan sebagai alat politik untuk menghancurkan tatanan demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan. Venice Commission membuat pedoman bahwa pada prinsipnya negara harus mengakui hak setiap orang untuk berorganisasi secara bebas dalam partai politik. Terdapat dua kemungkinan terkait hal tersebut. misalnya undang-undang tentang partai politik. Pertama adalah wewenang itu diberikan atau diatur dalam undang-undang lain. pengadilan yang berwenang memutus pembubaran partai politik adalah Mahkamah Konstitusi atau Mahkamah Agung. Berdasarkan ketentuan di beberapa negara. 2. yaitu di Kamboja dan Yaman. keterbukaan. Hal itu terkait dengan putusan pembubaran yang bersifat final dan mengikat. serta khusus untuk alasan administratif di Rumania. tidak semua ketentuan yang mengatur Mahkamah Konstitusi di negara-negara yang memiliki Mahkamah Konstitusi menyebutkan wewenang memutus pembubaran partai politik. pembubaran partai politik lebih banyak merupakan wewenang Mahkamah Konstitusi. menggabungkan diri dengan partai politik lain. bubarnya suatu partai politik berarti berakhirnya eksistensi hukum partai politik tersebut.Berdasarkan pengertian tersebut. kecuali di Hungaria yang dapat diajukan kasasi kepada General Assembly of the College of Attorneys. Namun. Pelarangan atau pembubaran partai politik harus diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi atau lembaga yudisial lain dengan menjamin adanya due process of law.

Macedonia. Slovakia. Azerbaijan. Presiden Soekarno memandang partai politik menjadi penyakit yang lebih parah dari sekedar fanatisme kedaerahan dan kesukuan sehingga menyarankan para pemimpin partai politik untuk berunding guna mengubur partai-partai politik. Sebagai tindak lanjut dari Perpres tersebut. dan Chile. dan IPKI. Di dalam peraturan perundang-undang yang pernah berlaku di Indonesia. Di samping itu. Turki. peran pemerintah lebih besar dibanding lembaga peradilan. Pada 13 Desember 1959. Partai Indonesia. Pada masa Orde Lama dan Orde Baru. melalui Keppres 440 Tahun 1961 diakui pula Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Persatuan Tarbiyah Islam (Perti). Austria. 125 . Partai-partai yang ditolak pengakuannya adalah PSII Abikusno. Selain itu juga dikeluarkan Keppres Nomor 129 Tahun 1961 tentang Penolakan Pengakuan Partai-partai yang memenuhi Perpres Nomor 13 Tahun 1960. NU. Peraturan tersebut diikuti dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 128 Tahun 1961 tentang Pengakuan Partai-partai yang memenuhi Perpres Nomor 13 Tahun 1960. Cheznya. Kroasia. Partai Murba. Di dalam prosedur tersebut selalu melibatkan peran pemerintah dan lembaga peradilan. Thailand. yang dapat dikategorikan sebagai periode yang kurang demokratis. Portugal. dikeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 13 Tahun 1960 tentang Pengakuan. Moldova. Korea Selatan. Hungaria. Armenia. Jerman. juga telah terjadi pembubaran partai politik dalam berbagai bentuk. Taiwan. Partai Katolik. Georgia. Rumania. Pembubaran partai politik pertama kali terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959. dan Partai Rakyat Nasional Djodi Gondokusumo. sedangkan lembaga peradilan hanya memberikan pertimbangan. Spanyol. terdapat perbedaan prosedur pembubaran partai politik. Slovenia. Partai-partai yang diakui adalah PNI. Dalam perkembangan praktik politik di Indonesia. PKI. Pengawasan dan Pembubaran Partai-Partai531 yang selanjutnya diubah dengan Perpres Nomor 25 Tahun 1960532. Polandia. Penentu utama pembubaran partai politik adalah pemerintah. Partai Rakyat Nasional Bebasa Daeng Lalo. PSII. Saat itu. Beberapa negara yang memiliki konstitusi yang di dalam undang-undang tentang Mahkamah Konstitusinya mencantumkan wewenang pembubaran partai politik diantaranya adalah Albania. dikeluarkan Penetapan Presiden (Penpres) Nomor 7 Tahun 1959 tentang Syarat-syarat dan Penyederhanaan Kepartaian.

Partai-partai politik mendapatkan berbagai tekanan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan Orde Baru. Terhadap PNI misalnya. Sedangkan pada masa reformasi peran lembaga peradilan lebih besar di banding pemerintah. Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme. diwadahi dengan dua syarat. yaitu. Kebijakan penyederhanaan partai politik di awal masa Orde Baru menghasilkan 10 peserta pemilu 1971. PNI. sejumlah tokoh lama PNI disingkirkan serta beberapa cabang PNI di Sumatera dan Aceh dianjurkan secara sukarela membekukan diri. diterbitkan Keppres Nomor 200/1960 dan Keppres Nomor 201 Tahun 1960 yang memerintahkan kepada Partai Masjumi dan PSI agar dalam jangka waktu 30 hari membubarkan diri karena terlibat dalam pemberontakan PRRI Permesta. partai ini tidak diakui dan dipaksa mengganti Ketua Umumnya. Golkar. pembubaran partai politik terjadi pada 1966 terhadap Partai Komunis Indonesia. Di awal masa reformasi wewenang pembubaran 126 . Jika hal itu tidak dipenuhi. Akhirnya pimpinan Masjumi dan PSI membubarkan partai mereka. dan IPKI. PSII. Aspirasi pendirian partai politik berbasis masa Islam seperti Masjumi. Namun. Partai Katolik. Pada 17 Agustus 1960. Lembaga peradilanlah yang memutus pembubaran partai politik. Namun. Murba. 1. Sedangkan pemerintah berperan sebagai pemohon dan atau sebagai pelaksana putusan pengadilan. Pembubaran dan pernyataan sebagai partai terlarang dituangkan dalam TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia. NU. ketika Mohammad Roem terpilih menjadi ketua umum. pada masa awal Orde Baru terdapat kebijakan penyederhanaan partai politik karena partai politik dianggap sebagai sumber pertikaian yang mengganggu stabilitas. Perti. Pada masa Orde Baru. Parmusi. Partai Kristen Indonesia. Terbentuklah Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). akan dinyatakan sebagai partai terlarang. pada April 1966 dipaksa menyelenggarakan kongres. yaitu. Tokoh-tokoh lama tidak boleh duduk dalam kepengurusan partai 2. Dalam forum tersebut. Dalam perkembangannya. Masjumi harus mengganti nama sehingga terkesan sebagai partai baru. memang tidak terjadi pembubaran partai politik.

bukan tindakan. Kewenangan pembubaran yang saat itu dipegang oleh Mahkamah Agung dinilai tidak proporsional. Suatu partai politik dapat dibubarkan oleh Mahkamah Agung berdasarkan putusan yang memiliki kekuatan hukum yang tetap setelah mempertimbangkan keterangan dari pengurus pusat partai yang bersangkutan. Peraturan tersebutlah yang dapat dimintakan pembatalan dengan alat penguji UUD 1945. terkait erat dengan pelaksanaan kedaulatan rakyat. pembubaran partai politik menjadi bagian dari wewenang MK. pendapat itu telah bergeser. Sebelum pembubaran tersebut dilakukan. Harjono menyatakan bahwa wewenang utama Mahkamah Konstitusi adalah menguji undang-undang dan memutus pertentangan antar lembaga negara. Oleh karena itu. Partai politik. Jika dilihat dari proses pembahasan perubahan UUD 1945. dan juga pemilihan umum. 127 . dari sisi hakim yang menangani perkara. Pemberian wewenang itu menurut anggota Pataniari Siahaan karena perkara pembubaran partai politik menyangkut masalah politik sehingga dipandang lebih tepat menjadi wewenang Mahkamah Konstitusi dan kurang tepat jika dimasukkan dalam masalah hukum yang ditangani Mahkamah Agung. Selain itu. khususnya Pasal 24C ayat (1). Walaupun demikian. masalah pembubaran partai politik juga dipandang menyangkut masalah konstitusi sehingga menjadi wewenang Mahkamah Konstitusi. wewenang pengawasan partai politik ada pada Mahkamah Agung. wewenang memutus pembubaran partai politik sejak awal sudah mengemuka terkait dengan akan dibentuknya Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Agung dapat membekukan atau membubarkan suatu partai politik. Berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik. Selain itu juga dapat dilakukan melalui pengadilan terlebih dahulu yang terkait dengan pelanggaran yang dilakukan oleh partai politik yang dapat menjadi dasar pembubaran partai politik. Mahkamah Agung dinilai lebih banyak menangani perkara kasasi yang saat itu sudah menumpuk. Dengan adanya Perubahan UUD 1945. Anggota Harjono menyatakan bahwa yang menjadi wewenang Mahkamah Konstitusi adalah terkait dengan peraturan. bukan hanya norma. hakim konstitusi dinilai memiliki kualifikasi yang lebih baik untuk menangani perkara-perkara terkait dengan konstitusi. Mahkamah Agung memberikan peringatan tertulis sebanyak 3 kali berturut-turut dalam waktu 3 bulan. juga terdapat pendapat yang mempertanyakan masuknya wewenang memutus pembubaran partai politik kepada Mahkamah Konstitusi. Namun dalam persidangan berikutnya. Sedangkan memutus pembubaran partai politik adalah wewenang tambahan dengan pemeriksaan yang melibatkan isu fakta.partai politik ada pada Mahkamah Agung.

alat-alat bukti yang mendukung permohonan. uraian yang jelas tentang ideologi. Hal itu harus dihindarkan karena dalam demokrasi seharusnya sesama partai politik bersaing secara sehat. identitas lengkap pemohon dan kuasanya jika ada. Hanya disebutkan sebagai kewenangan lain yang diberikan oleh undang-undang. yang dilengkapi surat kuasa khusus untuk itu b. Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) PMK Nomor 12 Tahun 2008 dinyatakan bahwa Pemohon adalah Pemerintah yang dapat diwakili oleh Jaksa Agung dan/atau Menteri yang ditugasi oleh Presiden.3 Pemohon Dan Permohonan Pasal 68 ayat (1) UU MK menentukan bahwa pemohon dalam perkara pembubaran partai politik adalah pemerintah. wewenang Mahkamah Konstitusi memutus pembubaran partai politik dalam rancangan perubahan tidak disebutkan secara eksplisit. Menurut Jimly Asshiddiqie. apabila hak pengajuan pembubaran diberikan kepada pihak lain. harus ditunjuk dengan tegas partai politik yang dimohonkan untuk dibubarkan. Permohonan sekurang-kurangnya memuat: a. termasuk untuk memutus pembubaran partai politik. UU MK tidak ditentukan instansi mana yang mewakili pemerintah pusat tersebut. yaitu pemerintah pusat. asas. Pemberian hak mengajukan permohonan pembubaran partai politik hanya kepada pemerintah adalah untuk mencegah terjadinya saling menuntut pembubaran di antara partai politik yang ada. Oleh karena itu partai politik tidak boleh diberikan kedudukan sebagai pemohon dalam perkara pembubaran partai politik. Namun demikian MK telah menetapkan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 12 Tahun 2008 tentang Prosedur Beracara Dalam Pembubaran Partai Politik. Namun akhirnya disepakati wewenang tersebut dirinci. Pada awalnya. Hal itu juga dikemukakan oleh Tim Ahli Pah I BP MPR. termasuk partai politik. 2. Dalam permohonan pembubaran partai politik. berarti partai politik dibenarkan menuntut pembubaran saingannya sendiri. program dan kegiatan partai politik yang dimohonkan pembubaran yang dianggap bertentangan dengan UUD 1945 c. Permohonan harus ditandatangani oleh Pemohon atau Kuasanya. Hingga saat ini belum ada permohonan perkara pembubaran partai politik yang diterima oleh MK. 128 . tujuan.

atau tanda gambar. Dengan demikian kedudukan partai politik yang dimohonkan pembubaran adalah sebagai termohon. melanggar larangan mendirikan badan usaha dan/atau memiliki saham suatu badan usaha. pemeriksaan persidangan. atau huruf e Undang-Undang Nomor 27 129 . Permohonan perkara pembubaran partai politik yang diterima Mahkamah Konstitusi dicatat dalam Buku Registrasi perkara Konstitusi. Karena tidak diatur secara khusus. lambang. Apabila partai yang telah dibekukan tersebut melakukan kembali pelanggaran yang sama.4 Partai Politik yang Dimohonkan Pembubaran sebagai Termohon Partai politik yang dapat dimohonkan pembubaran ke MK meliputi baik partai politik lokal maupun partai politik nasional. huruf d. Salah satu bentuk sanksi yang diatur dalam UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik adalah pembekuan dan pembubaran. atau melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan negara. 3. dapat ditindaklanjuti dengan pembubaran oleh Mahkamah Konstitusi. 2. Selain melalui pembekuan sementara. Pembekuan tersebut disebut sebagai pembekuan sementara dan dilakukan paling lama satu tahun. Di dalam UU MK tidak disebutkan kedudukan partai politik yang dimohonkan pembubarannya. Pembekuan juga dapat dijatuhkan kepada organisasi partai politik jika melanggar larangan kegiatan yang bertentangan dengan UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan. Partai politik tersebut dapat didampingi atau diwakili oleh kuasa hukumnya. proses pemeriksaan persidangan selanjutnya mengikuti hukum acara Mahkamah Konstitusi yang meliputi pemeriksaan pendahuluan. dan putusan. Mahkamah konstitusi menyampaikan permohonan yang sudah dicatat tersebut kepada partai politik yang bersangkutan dalam waktu paling lambat 7 hari kerja sejak pencatatan dilakukan. pembubaran juga dapat dilakukan secara langsung apabila partai politik melakukan pelanggaran terhadap larangan menganut dan mengembangkan serta menyebarkan ajaran atau paham Komunisme/Marxisme-Leninisme. Sanksi pembekuan dapat dijatuhkan jika partai politik melanggar larangan terkait dengan nama.1 Alasan-alasan Pembubaran Partai Politik.556 Pembubaran juga diatur terkait dengan sanksi pidana dalam hal pengurus partai politik menggunakan partai politiknya untuk melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara sebagaimana diatur dalam Pasal 107 huruf c. Namun dalam PMK Nomor 12 Tahun 2008 dalam Pasal 3 ayat (2) dinyatakan bahwa Termohon adalah partai politik yang diwakili oleh pimpinan partai politik yang dimohonkan untuk dibubarkan.

557 Jika pengurus menggunakan partai politiknya untuk melakukan kejahatan tersebut. baik di dalam maupun di luar negeri. tetapi jika (a) ideologi.Tahun 1999. menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/Marxisme. dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun. Walau tidak secara khusus menyebutkan alasan pembubaran partai politik. Berdasarkan ketentuan UU MK.  Sedangkan Pasal 107e Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 menyatakan Dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun: a.  Pasal 107d Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 menyatakan Barang siapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan.  Pasal 107c Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 menyatakan Barang siapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan. asas. partai politiknya itu dapat dibubarkan. yang dianggap bertentangan dengan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. tulisan dan atau melalui media apapun. permohonan pembubaran partai politik dapat dilakukan tidak terbatas dengan tindakan yang terkait dengan ajaran atau paham Komunisme/Marxisme-Leninisme. Barang siapa yang mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga menganut ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme atas dalam segala bentuk dan perwujudannya b. tulisan dan atau melalui media apapun. dan kegiatan partai politik yang bersangkutan. atau menimbulkan korban jiwa atau kerugian harta benda. (b) asas. tujuan. menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat. yang diketahuinya berasaskan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme atau dalam segala bentuk dan perwujudannya dengan maksud mengubah dasar negara atau menggulingkan pemerintah yang sah. namun Pasal 68 Ayat (2) UU MK mewajibkan pemohon menguraikan dengan jelas dalam permohonannya tentang ideologi. Barang siapa yang mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada organisasi. program. (c) 130 .Leninisme dengan maksud mengubah atau mengganti Pancasila sebagai dasar Negara. dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.

Asas bertentangan dengan UUD 1945 c. Hakim wajib memberi nasihat kepada Pemohon untuk melengkapi dan/atau memperbaiki permohonan jika dipandang perlu. dan/atau b. Perkara pembubaran partai politik wajib diputus dalam jangka waktu selambat-lambatnya 60 hari kerja sejak permohonan diregistrasi. Di dalam pemeriksaan pendahuluan yang diperiksa adalah kelengkapan dan kejelasan permohonan. tujuan. sehingga proses pemeriksaan persidangan mengikuti hukum acara Mahkamah Konstitusi yang meliputi pemeriksaan pendahuluan. Ideologi. Dengan demikian alasan pengajuan permohonan pembubaran partai politik meliputi: a. mengembangkan. dapat dibagi menjadi dua tahap. 3. program partai politik bertentangan dengan UUD 1945. Ideologi bertentangan dengan UUD 1945 b. Menganut. asas. pemeriksaan persidangan. yaitu pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan persidangan. atau huruf e Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999. dan (d) programnya dipandang bertentangan dengan UUD 1945. Kegiatan partai politik bertentangan dengan UUD 1945 atau akibat yang ditimbulkannya bertentangan dengan UUD 1945. serta menyebarluaskan ajaran Komunisme/Marxisme – Leninisme h. Kegiatan bertentangan dengan UUD 1945 f. Proses persidangan. acara persidangan pembubaran partai politik tidak diatur secara khusus.2 Proses Persidangan dan Pembuktian Di dalam UU MK. Program bertentangan dengan UUD 1945 e.tujuan. Akibat dari kegiatan yang bertentangan dengan UUD 1945 g. Pemohon diberikan kesempatan untuk memperbaiki permononannya paling lambat 7 hari. Batasan waktu ini diperlukan untuk menjamin terselenggaranya prinsip peradilan yang cepat sehingga cepat pula diperoleh kepastian hukum. huruf d. Sedangkan dalam 131 . Pengurus partai politik menggunakan partai politiknya untuk melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara sebagaimana diatur dalam Pasal 107 huruf c. Hal ini juga ditegaskan dalam Pasal 2 PMK Nomor 12 Tahun 2008 tentang Prosedur Beracara Dalam Pembubaran Partai Politik yang menyatakan bahwa partai politik dapat dibubarkan oleh MK apabila: a. Tujuan bertentangan dengan UUD 1945 d. dan putusan.

Untuk permohonan pembubaran suatu partai politik yang diajukan oleh pemerintah atau anggota parlemen. AD dan ART. harus dibuktikan bahwa pemohon tersebut mewakili pemerintah pusat. Untuk melihat hal itu. 3. Terkait dengan pemohon. Namun demikian. apakah ideologi. atau bahkan tidak terbukti sama sekali. kewenangan MK.562 Pembuktian terhadap dokumen adalah pembuktian terkait dengan ideologi. serta dokumen dan keputusan-keputusan partai politik lainnya. alat bukti utama yang diperlukan adalah statuta pendirian partai politik. Pertama. asas. apakah partai politik sebagai termohon memiliki ideologi. dilanjutkan dengan pemerikasan pokok perkara. Pada proses selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap alat bukti serta mendengarkan keterangan saksi dan ahli. Pemohon harus menunjukan dan membuktikan kegiatan atau akibat dari kegiatan partai politik yang melanggar UUD 1945. asas. Platform. harus dibuktikan bahwa pemohon memang memiliki kedudukan hukum (legal standing). Untuk pemohon pemerintah.pemeriksaan persidangan akan dilakukan untuk mendengarkan keterangan pemohon. dan program partai politik. Program Kerja. maka proses pembuktian dilanjutkan pada fakta kegiatan yang dilakukan oleh partai politik dan akibat dari kegiatan tersebut. tujuan. Kedua. terdapat dua pertanyaan yang harus dijawab dalam persidangan. dapat terjadi bahwa bukti-bukti dari dokumen kurang meyakinkan. program dan/atau melakukan kegiatan yang dinilai oleh pemohon memenuhi klasifikasi sebagai alasan pembubaran partai politik. Hal yang utama dalam pemeriksaan pokok perkara ini adalah permohonan dan alasan permohonan. serta pihak terkait lainnya.3 Putusan dan Akibat Hukum Putusan 132 . program. tujuan. Pembuktian fakta kegiatan ini dapat dilakukan dari bentuk dan substansi atau materi kegiatan serta dari dampak atau akibat yang secara obyektif memang diinginkan dari pelaksanaan kegiatan partai politik. Setelah pemeriksaan legal standing. serta alasan permohonan. Pada proses persidangan ini pertanyaan hukum yang harus dijawab adalah kedudukan hukum (legal standing) pemohon. termohon. yaitu pembuktian terhadap dokumen dan pembuktian terhadap fakta. asas. dan/atau kegiatan dimaksud memang memenuhi klasifikasi sebagai alasan pembubaran partai politik. tujuan. Proses pembuktian dapat dibagi menjadi dua jenis.

2. Jika MK berpendapat bahwa pemohon dan permohonan tidak memenuhi syarat yang diatur dalam Pasal 68 UU MK. dan partai politik tersebut diputuskan dibubarkan. Hal itu berarti terbukti bahwa ideologi. Putusan tersebut diumumkan oleh pemerintah dalam berita Negara Republik Indonesia dalam jangka waktu 14 sejak putusan diterima. Apabila subyek pemohon dan obyek permohonan telah sesuai dengan ketentuan UU MK. pelaksanaannya dilakukan dengan membatalkan pendaftaran pada Pemerintah yang berarti pembatalan status badan hukumnya. Amar putusan dapat berupa putusan yang menyatakan permohonan tidak dapat diterima. Sesuai dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) PMK Nomor 12 Tahun 2008. atau permohonan dikabulkan. atau kegiatan partai politik bertentangan dengan UUD 1945. asas. maka amar putusannya menyatakan permohonan dikabulkan. jika diputuskan permohonan pembubaran partai politik dikabulkan. amar putusan menyatakan permohonan tidak dapat diterima. Sedangkan obyek perkara yang dimohonkan adalah pembubaran partai politik berdasarkan alasan-alasan antara lain: (a) ideologi (b) asas (c) tujuan (d) program (e) kegiatan yang dianggap bertentangan dengan UUD 1945. dalam hal permohonan dikabulkan. sesuai dengan ketentuan Pasal 68 tersebut. Artinya. masalah subyek dan obyek permohonan harus sesuai. Mengingat yang menangani pendaftaran 133 .menghapuskan partai politik yang dibubarkan dari daftar pada Pemerintah paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak putusan Mahkamah diterima. tujuan. Subyek adalah terkait dengan pemohon yang dalam hal ini harus mewakili Pemerintah Pusat. program.mengumumkan putusan Mahkamah dalam Berita Negara Republik Indonesia paling lambat 14 (empat belas) hari sejak putusan diterima. permohonan ditolak. Oleh karena itu. serta MK berpendapat permohonan beralasan. amar putusan berbunyi: a) Mengabulkan permohonan pemohon b) Menyatakan membubarkan dan membatalkan status badan hukum partai politik yang dimohonkan pembubaran c) Memerintahkan kepada Pemerintah untuk: 1.

selain pernyataan sebagai partai terlarang. Pertama adalah tidak dapat didirikan lagi partai pengganti baik dengan nama yang sama maupun nama lain tetapi memiliki ideologi. Hal itu berarti partai tersebut dinyatakan sebagai partai terlarang. DPR. dikenal adanya beberapa akibat hukum pembubaran partai politik. program. asas. The members. members. atau kegiatan partai politik yang bertentangan dengan UUD 1945. Polri. Hal itu di antaranya diatur pada Article 69 Para 9 Konstitusi Turki yang menyatakan. partai politik sebagai badan hukum tentu telah melakukan hubungan dan tindakan hukum. bahkan sebagai anggota partai politik. KPU. atau kegiatan yang sama dengan alasan dibubarkannya partai tersebut. Sanksi tersebut pada umumnya berupa larangan menjadi pendiri atau pengurus. Jerman. tujuan. Ketentuan ini di antaranya dapat dijumpai di Turki. serta terhadap harta kekayaan dan jabatan-jabatan yang dihasilkan dari hubungan dan tindakan hukum yang dilakukan sebelum dibubarkan. amar putusan menyatakan permohonan ditolak. 134 . Hal itu menimbulkan hak dan kewajiban. Aspek lain terkait dengan Putusan MK tentang pembubaran partai politik adalah akibat hukum dari pembubaran tersebut. asas. Berakhirnya eksistensi hukum partai politik karena pembubaran tentu berpengaruh terhadap hak dan kewajiban yang telah ada. tujuan. terutama untuk pembubaran karena alasan pelanggaran konstitusional. Putusan Mahkamah Konstitusi disampaikan kepada partai politik yang bersangkutan. Kedua. Selain itu. ketentuan Pasal 11 PMK Nomor 12 Tahun 2008 menyatakan bahwa putusan tersebut juga disampaikan kepada Pemerintah sebagai pemohon.partai politik adalah Kementerian Hukum dan HAM. dan Taiwan. kepemilikan berupa harta benda. maka pelaksanaan putusan Mahkamah Konstitusi adalah dalam bentuk pembatalan pendaftaran partai politik. Termohon. Sedangkan apabila Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa permohonan tidak beralasan. MA. Berdasarkan pengaturan di beberapa negara. Selain itu. serta hubungan dengan anggota partai politik yang menduduki jabatan- jabatan publik. terdapat pula negara yang memberikan sanksi kepada pengurus dan/atau anggota partai politik yang dibubarkan. program. including the founders of a political party whose acts or statements have caused the party to be dissolved permanently cannot be founders. Hal itu berarti tidak terbukti bahwa terdapat ideologi. dan Kejaksaan Agung. Sebelum dibubarkan. timbul pertanyaan apakah dapat dijatuhkan sanksi kepada anggota atau pengurus partai politik yang bersangkutan.

directors or supervisors in any other party for period of five years from the date of
publication in the official gazette of the Constitutional Court’s final decision and
its justification for permanently dissolving the party.

Sedangkan di Pakistan sanksi khusus diberikan kepada anggota parlemen
nasional dan provinsi dari partai yang dibubarkan. Di samping berhenti dari
keanggotaan lembaga perwakilan, mereka juga dilarang mengikuti pemilihan
umum selama empat tahun sejak pemberhentiannya. Dalam praktik pembubaran
Partai Thai Rak Thai dan Pattana Chart Thai di Tahiland, sejumlah pengurus
dikenakan sanksi tidak boleh melakukan kegiatan berpolitik termasuk memilih
dan dipilih selama lima tahun.

Ketiga, akibat hukum pembubaran partai politik adalah berakhirnya
keanggotaan lembaga perwakilan dari partai yang dibubarkan tersebut. Hal itu
misalnya diatur dalam Article 30-I Procedur Act Taiwan yang menyatakan,
The members of the elected bodies appointed to the dissolved party in accordance
with the proportional representative system shall be deprived of their membership
immediately upon the judgment’s becoming effective.

Di Jerman, walaupun dalam ketentuan konstitusi, undang-undang partai
politik, maupun undang-undang MK tidak terdapat ketentuan akibat hukum
terhadap wakil partai politik di lembaga perwakilan, namun dalam praktik
pembubaran Partai SRP575 dan KPD,576 keduanya otomatis kehilangan kursi di
lembaga perwakilan.

Keempat, adalah akibat hukum terhadap harta kekayaan partai politik. Di
Jerman, salah satu akibat hukum pembubaran partai politik yang diatur dalam
Bundesverfassungsgerichts-Gesetz adalah harta kekayaan partai politik dapat
disita negara untuk kepentingan publik. Hal itu diatur dalam Article 6 Para 3
sebagai berikut,
The declaration shall be accompanied by the dissolution of the party or the
independent section of the party and the prohibition of the establisment of
substitute organization. Morever, in this instance the Federal Constitutional Court
may direct that the property of the party or the independent section of the party be
confiscated for use by the Federation or the Land for public benefit.

135

Ketentuan mengenai akibat hukum terhadap harta kekayaan juga diatur
lebih jelas dalam Political Parties Act Bulgaria. Bahkan juga dinyatakan bahwa
negara bertanggungjawab atas hutang yang dimiliki oleh partai politik yang
dibubarkan. Article 24 Para 2 Political Parties Act Bulgaria menyatakan sebagai
berikut,
When a party is dissolved under Article 22, Para 4, its property is confiscated in
favour of the State. The State shall held liable for the debts of the dissolved party
up to the value of the property received.

Di dalam UU MK maupun UU Partai Politik tidak diatur tentang akibat
hukum pembubaran suatu partai politik. Ketentuan akibat hukum pembubaran
partai politik di Indonesia baru diatur di dalam PMK Nomor 12 Tahun 2008. Pasal
10 ayat (2) PMK itu menyatakan bahwa putusan pembubaran partai politik
menimbulkan akibat hukum antara lain:
a. Pelarangan hak hidup partai politik dan penggunaan simbol-simbol partai
tersebut di seluruh Indonesia
b. Pemberhentian seluruh anggota DPR dan DPRD yang berasal dari partai politik
yang dibubarkan
c. Pelarangan terhadap mantan pengurus partai politik yang dibubarkan untuk
melakukan kegiatan politik
d. Pengambilalihan oleh negara atas kekayaan partai politik yang dibubarkan.

136

DAFTAR PUSTAKA

MacIver, The Modern State, First Edition, (London: Oxford University Press,
1955), hal. 398
George H Sabine, A History of Political Thought, Third Edition, (New York –
Chicago – San Francisco – Toronto – London: Holt, Rinehart And Winston,
1961), hal. 611.
Kranenburg, R, dan Tk. B. Sabaroedin, Ilmu Negara Umum, Cetakan Kesebelas,
(Jakarta: Pradnya Paramita, 1989), hal. 115. Lihat pula Treg A Julander,
“Democracy Without Political Parties”, George Washington University Law
Review, hal. 8.
Hilaire Barnett, Constitutional & Administrative Law, Fifth Edition, (London-
Sydney-Portland, Oregon: Cavendish Publishing Limited, 2004), hal. 589.
Janusz Symonides, Human Rights: Concept and Standards, (Aldershot-Burlington
USA-Singapore-Sydney: UNESCO Publishing, 2000), hal. 91-92.

137

M.14 DISUSUN OLEH : YOGA IRWANDA NIM. PEMBUBARAN PARTAI POITIK PERTEMUAN KE. 16102085 DOSEN PENGAJAR : DRS.SI SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RAJA HAJI TANJUNGPINANG 2017/2018 138 . EDWARD MANDALA.

Menurut Prof Jimly Asshiddiqie. Wakil-wakil rakyat tersebut bertindak atas nama rakyat.1 LATAR BELAKANG Negara Indonesia adalah Negara yang berkedaulatan rakyat. dan perseorangan untuk calon anggota DPD. Pelaksanaan kedaulatan rakyat adalah dengan sistem perwakilan. Oleh karena itu.Undang Dasar”. Banyak orang berlomba mendirikan partai politik dengan tujuan untuk mendapatkan kedudukan dalam pemerintahan. Partai politik digunakan sebagai kendaraan politik bagi pengurus partai menuju puncak kekuasaan. Sebuah negara dengan penduduk banyak. Peserta pemilihan umum adalah partai politik untuk calon anggota DPR dan DPRD. BAB I PENDAHULUAN 1. wakil-wakil tersebut harus dipilih sendiri oleh rakyat. kedaulatan rakyat tidak mungkin dilaksanakan secara murni. Oleh karena itu. Itulah sebabnya diperlukan rambu-rambu hukum yang adil untuk mengatur tata cara pendirian dan pembubaran partai politik. Untuk memilih wakil-wakil rakyat dilakukan melalui pemilihan umum. wilayahnya luas seperti Indonesia. sebuah partai politik harus kuat dan kokoh agar demokrasi yang ditopangnya menjadi kokoh pula. yang kadang- 139 . Dalam Pasal 1 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 dinyatakan bahwa “ Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut : Undang. partai politik adalah pilar utama demokrasi.

perkataan kedaulatan itu sendiri dalam bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Arab. Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik tidak mengatur secara tegas mengenai alasan pembubaran partai politik. dan teori ketatanegaraan pada jaman sekarang. Jika diperhatikan dalam ayat pertama di atas. kata daulah ini dipergunakan hanya dua kali (dua tempat) yaitu dalam Qur’an Surat 3:140 (Ali Imran) yang mempergunakan bentuk kata kerja nudawiluha (ia kami pergantikan atau pergilirkan). Dalam berbagai literatur politik. peralihan. Meskipun demikian. terminologi kedaulatan (souvereignity) itu pada umumnya diakui sebagai konsep yang dipinjam dari bahasa latin. Untuk keperluan pendirian partai politik telah dibentuk Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik. makna kata daulat dipakai untuk pengertian pergantian kekuasaan dibidang politik. Mahkamah Kostitusi merupakan lembaga negara yang salah satu kewenagannya adalah memutus pembubaran partai politik. sedangkan ayat kedua menunjuk pengertian kekuasaan di lapangan perekonomian. Dalam Al-Qur’an yang mencerminkan penggunaan bahasa Arab klasik. soverain dan superanus. dan dalam Qur’an Surat 59:7 (Al Hasyr) yang mempergunakan kata kerja duulatan (beredar). maka seharusnya partai politik yang bersangkutan dibubarkan saja. hukum. partai politik yang telah didirikan harus dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. banyak partai politik yang berdiri tidak melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Dalam kenyataannya. Sampai saat sekarang inipun belum pernah ada pengajuan permohonan pembubaran partai politik yang masuk ke Mahkamah Konsitusi.1 Teori Kedaulatan Rakyat Dari segi bahasa. yang 140 . yaitu dari kata daulat dan daulatan yang dalam makna klasiknya berarti pergantian. atau peredaran (kekuasaan).kadang partai politik lupa akan fungsinya sebagai pilar utama demokrasi. 2. Partai politik yang dalam perjalanannya tidak melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik.

dan wilayahnya cukup luas. serta tujuan apa yang hendak dicapai baik dalam waktu yang relatif pendek. Wakil-wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat bertidak atas nama rakyat. dimana penduduknya sudah banyak. maka wakil-wakil itu harus ditentukan sendiri oleh rakyat. 2. demokrasi sebagai asas yang dipengaruhi keadaan kultural.2 Sistem Pemilihan Umum Sistem pemilihan umum dibedakan menjadi dua macam. dan demokrasi Pancasila. yaitu sistem pemilihan mekanis dan sistem pemilihan organis. Dalam teori kedaulatan rakyat berarti rakyatlah yang mempunyai kekuasaan yang tertinggi. Agar wakil-wakil rakyat tersebut benar-benar dapat bertindak atas nama rakyat. demokrasi yang berkaitan dengan sistem pemerintahan atau bagaimana caranya rakyat diikutsertakan dalam penyelenggaraan pemerintahan. dan yang kedua. dan wakil-wakil rakyat tersebutlah yang menentukan corak dan cara pemerintahan. adalah tidak mungkin untuk meminta pendapat rakyat seorang demi seorang untuk menentukan jalannya pemerintahan. demokrasi rakyat. Jadi pemilihan umum tidak lain adalah suatu cara untuk memilih wakil-wakil rakyat. Asas kedaulatan rakyat atau paham demokrasi mengandung 2 (dua) arti.kemudian menjadi sovereign dan sovereignity dalam bahasa Inggris yang berarti penguasa dan kekuasaan yang tertinggi. maupun dalam jangka waktu yang panjang. wakil-wakil rakyat yang duduk dalam badan perwakilan langsung 141 . dan rakyatlah yang menentukan tujuan apa yang hendak dicapai. Oleh karena itu. Dalam sistem pemilihan mekanis. yaitu : pertama. keadaan menghendaki bahwa kedaulatan rakyat dilaksanakan dengan perwakilan. rakyatlah yang menentukan corak dan cara pemerintahan. Untuk menentukannya biasanya dipergunakan lembaga pemilihan umum. historis suatu bangsa sehigga muncul istilah demokrasi konstitusional. Dalam negara modern sekarang ini.

3 Partai Politik Partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota- anggotanya mempunyai orientasi. yaitu sistem perwakilan distrik. dan cita-cita yang sama. dan DPRD Kabupaten/Kota adalah partai politik yang memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. wakil-wakil rakyat berdasarkan pada pengangkatan. Sedangkan pemilihan umum untuk memilih anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil banyak. kedua sistem pemilihan umum tersebut di atas diterapkan. sedangkan sistem pemilihan organis. Di Indonesia. Peserta pemilu untuk memilih anggota DPR. DPD.mempunyai kantor tetap untuk kepengurusan sebagaimana pada huruf b dan huruf c g.mangajukan nama dan tanda gambar partai politik kepada KPU.memiliki anggota sekurang-kurangnya 1000 (seribu) orang atau 1/1000 (satu perseribu) dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan partai politik sebagaimana dimaksud pada huruf b dan huruf c yang dibuktikan dengan kepemilikan kartu tanda anggota f. DPRD Provinsi. 2.berstatus badan hukum sesuai dengan Undang-Undang tentang Partai Politik b.memiliki kepengurusan di 2/3 (dua pertiga) jumlah provinsi c.menyertakan sekurang-kurangya 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai politik tingkat pusat e. Sistem pemilihan mekanis dilaksanakan dengan dua cara.memiliki kepengurusan di 2/3 (dua pertiga) jumlah kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan d.dipilih. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan 142 . nilai-nilai. dan sistem perwakilan proporsional. dan DPRD Kabupaten/Kota dilaksanakan dengan sistem proporsional dengan daftar calon terbuka. DPRD Provinsi. Pemilihan umum untuk memilih anggota DPR.

Teori situasi historik. mendirikan dan menjadi anggota partai politik yang secara universal diakui sebagai pilar utama demokrasi. Teori kelembagaan yang melihat ada hubungan antara parlemen awal dan timbulnya partai politik 2. Partai politik merupakan komponen yang sangat penting dalam sistem politik demokrasi.politik (biasanya) dengan cara konstitusional untuk melaksanakan kebijaksanaan- kebijaksanaan mereka. Oleh karena itu. Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik dinyatakan bahwa. adalah hak asasi bagi setiap orang yang dijamin oleh UUD Ada 3 (tiga) teori yang mencoba menjelaskan asal usul partai politik: 1. atau sistem multi partai. yang melihat timbulnya partai politik sebagai upaya suatu sistem politik untuk mengatasi krisis yang ditimbulkan dengan perubahan masyarakat secara luas 3. masyarakat. Ada berbagai jenis sistem kepartaian yang dapat dianut oleh suatu negara. Teori pembangunan yang melihat partai politik sebagai produk modernisasi sosial ekonomi. Kandidat yang mendapat suara terbanyak memenangkan pemilihan. bangsa dan negara. Sistem partai tunggal diterapkan apabila partai yang bersangkutan benar-bear merupakan satu-satunya partai dalam suatu negara. Sistem dua partai biasanya mendominasi sistem politik dimana pemilihan umumnya didasarkan pada aturan pemenang mengambil semua (the winner take all). sistem dua partai. tidak 143 . maupun partai yang mempunyai kedudukan yang dominan diantara beberapa partai yang lainnya. partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota. serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yaitu sistem partai tunggal.

Partai politik sebagai sarana komunikasi politik Salah satu tugas dari partai politik adalah menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga kesimpangsiuran pendapat dalam masyarakat berkurang. dimana dalam setiap daerah pemilihan hanya dapat dipilih satu wakil saja. Proses sosialisasi politik 144 . yang umumnya berlaku dalam masyarakat dimana ia berada. dan adanya kotinuitas sejarah (historical continuity). Sistem multi partai pada umumnya diperkuat oleh sistem pemilihan perwakilan berimbang (proporsional representation) yang memberi kesempatan luas bagi pertumbuhan partai-partai dan golongan-golongan kecil.12Sistem dua partai berjalan baik apabila terpenuhi tiga syarat. Sistem dua partai umumnya diperkuat dengan digunakannya sistem pemilihan single member constituency (sistem distrik). Sistem multi partai lebih mencerminkan keanekaragaman budaya dan politik. dan golongan penduduk sekarang ini menganut sistem multi partai. Partai politik sebagai pilar utama demokrasi mempunyai fungsi yang sangat penting dalam sebuah negara yang demokratis. yaitu komposisi masyarakat adalah homogen (social homogeinity).memandang proporsi perolehan suara secara keseluruhan. konsesus dalam masyarakat mengenai asas dan tujuan sosial yang pokok (political consensus) adalah kuat. ras. Partai politik sebagai sarana sosialisasi politik Sosialisasi politik diartikan sebagai proses melalui mana seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap phenomena politik. Sistem multi partai ini apabila dihubungkan dengan sistem pemerintahan parlementer mempunyai kecenderungan untuk menitikberatkan kekuasaan pada badan legislatif sehingga peranan badan eksekutif sering lemah dan ragu-ragu. 2. agama. Negara Indonesia dengan keanekaragaman suku. Beberapa fungsi partai politik adalah : 1.

partai politik berusaha untuk mengatasinya. Dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik mengatur pula tentang fungsi partai politik. berbangsa. dan bernegara. Jika sampai terjadi koflik. d) Partisipasi politik warga negara Idonesia e) Rekruitmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan jender. 2. Fungsi partai politik sebagai sarana rekruitmen politik. dan untuk membentuk pemerintahan. 4. kursus kader. Partai politik sebagai peserta pemilihan umum mempunyai kesempatan memperjuangkan kepentingan rakyat secara luas.4 Pendirian Partai Politik dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia 145 . 3. b) Penciptaan iklim yang kondusif serta sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa untuk menyejahterakan masyarakat. dalam hal ini partai politik adalah sebagai peserta pemilihan umum. Partai politik sebagai sarana rekruitmen politik Partai politik juga berfungsi untuk mencari dan mengajak orang yang bebakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik sebagai anggota partai (political recruitment). Dengan demikian. kursus penataran. penghimpun. dann penyalur aspirasi politik masyarakat secara konstitusional dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara. partai turut memperluas partisipasi politik. diselenggarakan melalui ceramah-ceramah penerangan. c) Penyerap. Partai politik sebagai sarana pengatur konflik (conflict management) Dalam suasana demokrasi. yaitu sebagai sarana : a) Pendidikan politik bagi anggotanya dan masyarakat luas agar menjadi warga Negara Republik Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat. mengisi lembaga-lembaga negara. persaingan dan perbedaan pendapat dalam masyarakat merupakan soal yang wajar. dan sebagainya.

dan Golkar menjadi pemenang pertama dengan disusul oleh tiga partai besar NU. Pada masa pemerintahan orde baru. semua organisasi. Pemilihan umum pada tahun 1955 membawa penyederhanaan dalam jumlah partai. Keberadaan partai politik merupakan salah satu indikator berjalannya sistem politik yang mengakui keberadaan rakyat dalam penyelenggaraan kekuasaan negara. Dalam suasana itu. Dengan demikian kepartaian kembali ke pola multi partai yang telah dimulai dalam zaman kolonial. dan PNI. 146 . Satu bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Di Indonesia. Akhirnya pada masa demokrasi terpimpin partai- partai dipersempit ruang geraknya. partai politik pertama-tama lahir dalam zaman kolonial sebagai manifestasi bangkitnya kesadaran nasional. partai politik diberi kesempatan untuk bergerak lebih leluasa. NU. Banyaknya partai tidak menguntungkan berkembangnya pemerintahan yang stabil. yaitu Masyumi. Akan tetapi partai-partai tetap tidak menyeleggarakan fungsinya sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi setelah diadakan pemilihan umum pada tahun 1971. Parmusi. Hal ini tidak terlepas dari beberapa fungsi yang dijalankan oleh partai politik sebagai representasi rakyat dalam proses politik (pembuatan kebijakan negara) meskipun bukan satu-satuya fungsi. apakah dia bertujuan sosial (seperti Budi Utomo dan Muhammadiyah) ataukah terang-terangan menganut asas politik/agama (seperti Sarikat Islam dan Partai Katolik) atau asas politik/sekuler (seperti PNI dan PKI). Pola kepartaian masa ini menunjukkan keanekaragaman. kesempatan dibuka lebar- lebar untuk mendirikan partai politik. dan PKI. PNI. dalam arti bahwa dengan jelas telah muncul empat partai besar. agaknya partai-partai harus menerima kenyataan bahwa peranan mereka dalam proses pengambilan keputusan untuk sementara akan tetap terbatas. pola mana diteruskan dalam masa merdeka dalam bentuk sistem multi partai. memainkan peranan penting dalam berkembangnya pergerakan nasional.

baik kebebasan untuk berpendapat maupun kebebasan untuk berserikat. dan Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) bergabung menjadi Partai Demokrasi Indonesia. Keran kebebasan terbuka lebar. Partai Muslimin Indonesia. Partai Syarikat Islam. Hal ini berakhir setelah runtuhnya pemerintahan orde baru. Dalam era reformasi. Setelah tahun 1977. Dengan demikian. Partai Kristen Indonesia. 147 . Dalam kebebasan berserikat ini. Lima partai lain yaitu Partai Nasional Indonesia. dalam pemilihan umum pada tahun 1977 diikuti oleh dua partai politik dan satu golongan karya. rezim yang otoriter berganti menuju era yang diharapkan lebih demokratis. Berpengalaman pada pemilihan umum tahun 1999. maka pendirian partai politik perlu diatur secara jelas dalam peraturan perundang-undangan. Dan akhirnya pada pemilihan umum tahun 1999. Untuk pendirian partai politik diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999. masyarakat menikmati kebebasannya. Empat partai Islam yaitu NU. menjelang dilangsungkannya pemilihan umum pada tahun 1999. Munculah partai politik-partai politik baru. partai politik tumbuh pesat ibarat jamur di musim hujan. Partai Katolik. tetapi hanya beberapa partai politik saja yang berhasil mendudukkan wakilnya di kursi dewan. Seperti burung yang lepas dari sangkarnya. dan Perti bergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan. Pada tahun 1973. untuk mengantisipasi berkembangnya jumlah partai politik. terjadi penyederhanaan partai. dan munculah era reformasi. ada 48 partai politik yang ikut dalam pemilihan umum. Pemerintah dan DPR pada waktu itu berusaha untuk menyusun paket undang-undang politik. setiap pemilihan umum hanya diikuti oleh dua partai politik dan satu golongan karya. Partai Murba. Sepanjang itu pula golongan karya selalu menjadi pemenangnya. Untuk itu pemerintah mengeluarkan Udang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik.

memiliki akta notaris pendirian partai politik.Berdasarkan Undang Undang Partai Politik Tahun 2002 tersebut. Pembentukan partai politik harus didaftarkan di Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia dengan syarat : 1. 50% dari jumlah kabupaten/kota pada setiap provinsi yang bersangkutan. 2. Kepengurusan partai politik tingkat pusat disusun dengan menyertakan paling rendah 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan. 3. dan 25% dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/kota pada daerah yang bersangkutan. Pada Pasal 2 Undang-Undang Partai Politik tersebut memuat bagaimana tata cara pembentukan partai politik. Pendirian dan pembentukan partai politik menyertakan 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan. dan tanda gambar yang tidak mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama. mempunyai kantor tetap 5. lambang. pemerintah dan DPR telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Memiliki rekening atas nama partai politik.Memiliki nama. Partai politik didirikan dan dibentuk oleh sekurang-kurangnya 50 orang warga negara Republik Indonesia yang telah berusia 21 tahun dengan akta notaris. 148 . lambang. yaitu bahwa pendirian partai politik harus dengan akta notaris. dann tanda gambar yang telah dipakai secara sah oleh partai politik lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan 4. pemilihan umum yang diseleggarakan pada tahun 2004 diikuti oleh 24 partai politik. Mempunyai kepengurusan paling sedikit 60% dari jumlah provinsi. Akta notaris harus memuat anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta kepengurusan partai politik tingkat pusat. Menjelang dilangsungkannya pemilihan umum pada tahun 2009.

kadang-kadang bertambah banyak. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul yang dijamin oleh UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mendorong berbagai pihak untuk mendirikan partai politik. Selama ini Mahkamah Konstitusi belum pernah menerima permohonan pembubaran partai politik. para pihak yang boleh mengajukan permohonan pembubaran partai politik di atur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Peraturan perundang-undangan melarang partai politik berideologi komunis atau marxisime-leninisme. Persyaratan mengenai pendirian partai politik telah dibahas dalam 149 . dalam perkembangannya sekarang yang ada adalah ideologi agama dan nasionalis. dan tidak melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. alasan-alasan. Dari sisi ideologi. Perkembangan partai politik tersebut dapat dilihat dari sisi jumlah partai politik maupun ideologi partai. Dilihat dari sisi jumlah. pada tiap-tiap pemilihan umum yang diselenggarakan. Menggabungkan diri dengan partai politik lain. ada kalanya berkurang. Dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi. Undang Undang Nomor 2 Tahun 2008 mengatur tentang pembubaran partai politik yaitu bahwa partai politik itu bubar apabila : a. 3. seharusnya dibubarkan saja. Membubarkan diri atas keputusan sendiri b. Sebuah partai politik yang tidak lagi memenuhi persyaratan. atau c. Partai politik yang telah didaftarkan disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia dengan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Azasi Mausia dan dimuat di Berita Negara Republik Indonesia.1 Pembubaran Partai Politik Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Perkembangan Partai Politik di Indonesia mengalami pasang surut seiring dengan dinamika politik dan ketataegaraan yang berubah. Tata cara atau prosedur pengajuan permohonan pembubaran partai politik.

c) nama. ataupun jasa dari pihak manapun tanpa mencatumkan identitas yang jelas. barang.melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang- undangan. b) lambang lembaga negara atau lambang Pemerintah. bendera. atau tanda gambar yang sama dengan : a) bendera atau lambang negara Republik Indonesia. Pelanggaran terhadap larangan dapat mengakibatkan sebuah partai politik dibubarkan. atau b) melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. partai politik mempunyai hak dan kewajiban. atau f) yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama. lambang. Disamping harus memenuhi prsyaratan. lambang. e) nama atau gambar seseorang. simbol organisasi gerakan separatis atau organisasi terlarang. atau gambar Partai Politik lain. b) menerima sumbangan berupa uang. (2) Partai Politik dilarang : a) a. lambang negara lain atau lembaga/badan internasional d) nama. (3) Partai Politik dilarang: a) menerima dari atau memberikan kepada pihak asing sumbangan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. 150 . bendera.sub bab terdahulu. Selain itu ada larangan-larangan tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh partai politik. Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik memuat larangan yang tidak boleh dilanggar yaitu dalam Pasal 40 : (1) Partai Politik dilarang menggunakan nama.

(4) Partai Politik dilarang mendirikan badan usaha dan/atau memiliki saham suatu badan usaha. Dewan Perwakilan Rakyat. atau e) menggunakan fraksi di Majelis Permusyawaratan Rakyat. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabuaten/Kota sebagai sumber pendanaan partai politik. Dewan Perwakila Rakyat Daerah Provinsi. Partai Politik yang telah memiliki badan hukum melanggar ketentuan Pasal 40 ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa pembekuan kepengurusan oleh pegadilan negeri. dan badan usaha milik desa atau dengan sebutan lainnya. tidak serta merta meyebabkan partai politik yang bersangkutan diancam dengan tindakan pembubaran. Bentuk-bentuk sanksi tersebut dapat ditafsirkan dari ketentuan Pasal 47 ayat (5) Undang Undang Nomor 2 Tahun 2008 yaitu bahwa pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf e dikenai sanksi administratif yang diterapkan oleh badan/lembaga yang bertugas untuk menjaga kehormatan dan martabat Partai Politik beserta anggotaya. (5) Partai Politik dilarang menganut dan mengembangkan serta menyebarkan ajaran atau paham komunisme/marxisme-leninisme. d) meminta atau menerima dana dari badan usaha milik negara. (6) Pelanggaran terhadap larangan tersebut. ada yang bersifat perdata. badan usaha milik daerah. b. Disamping ketentuan tersebut. Sanksi bagi partai plitik yang terbukti melanggar larangan- larangan tersebut ada yang bersifat administratif. dan ada pula sanksi yang bersifat pidana. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) dikenai saksi administratif berupa pembekuan sementara Partai Politik 151 . c) menerima sumbangan dari perseorangan dan/atau perusahaan/badan usaha melebihi batas yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. bentuk-bentuk sanksi juga terdapat dalam Pasal 48 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 yaitu : a.

Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5) dikenai sanksi pembubaran Partai Politik oleh Mahkamah Konstitusi. Jika putusan kasasi Mahkamah Agung mengukuhkan putusan pengadilan negeri. Partai Politik yang telah dibekukan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan melakukan pelanggaran lagi terhadap ketetuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) dibubarka dengan Putusan Mahkamah Konstitusi. Dari ketentuan tersebut di atas. Pembekuan tersebut adalah selama 1 (satu) tahun sejak berlakunya pembekuan oleh pegadilan negeri. Jika pemerintah atau partai politik yang diputus dibekukan tidak menerima putusan pengadilan negeri. yang bersangkutan sesuai dengan tingkatannya oleh pengadilan negeri paling lama 1 (satu) tahun. Pelaggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (4) dikenai sanksi administratif berupa pembekuan sementara kepengurusan Partai Politik yang bersangkutan sesuai dengan tingkatannya oleh pengadilan negeri serta asset dan sahamnya disita untuk negara. d. e. Dalam hal terjadi pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf a. maka pemerintah dapat mengajukan permohonan pembubaran partai politik ke Mahkamah Kostitusi. pengurus Partai Politik yang bersangkutan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda 2 (dua) kali lipat dari jumlah danna yang diterimanya. 152 . dan huruf d. maka perkara tersebut dapat diajukan kasasi ke Mahkamah Agung. g. huruf c. f. Dalam hal terjadi pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf b. pengurus Partai Politik yang bersagkutan dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda 2 (dua) kali lipat dari jumlah dana yang diterimanya. jika sebuah partai politik sesuai dengan hasil pengawasan pemerintah (Departemen Dalam Negeri atau Departemen Hukum dan HAM) diduga melakukan pelanggaran sebagaimana yang diatur dalam Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008. maka partai politik tersebut pertama-tama diajukan oleh pemerintah kepada pengadilan negeri untuk pembekuan sementara. c.

Sampai dengan saat sekarang ini. maka Mahkamah Konstitusi dapat membubarkan Partai Politik yang bersangkutan dengan putusan yang bersifat final dan mengikat. Jika salah satu dari ketiganya ditemukan bukti adanya hal-hal yang bertentangan dengan Undang –Undang Dasar. asas. karena pembubaran partai politik tidak hanya dapat dilakukan dengan permohonan kepada Mahkamah Konbstitusi tetapi 153 . Prosedur pengajuan pembubaran partai politik ke Mahkamah Kostitusi diatur dalam ketentuan Pasal 68 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Kostitusi yang menyatakan: (1) Pemohon adalah Pemerintah. anggaran dasar 2. yang diaggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. anggaran rumah tangga 3. karena permohonan untuk pembubaran partai politik belum pernah diajukan ke Mahkamah Konstitusi oleh Pemerintah. tujuan. Namun dapat ditafsirkan bahwa alat bukti surat yang dipakai untuk menilai permohonan yang diajukan oleh Pemerintah dalam hal ini adalah : 1. Putusan Mahkamah Konstitusi mengenai permohonan atas pembubaran partai politik wajib diputus dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puuh) hari kerja sejak permohonan dicatat dalam Registrasi Perkara Konstitusi. laporan kegiatan partai politik yang bersangkutan. program. Mahkamah Konstitusi belum pernah memutus perkara pembubaran partai politik. (2) Pemohon wajib menguraikan dengan jelas dalam permohonannya tentang ideologi. Dalam ketentuan Pasal 68 belum jelas mengenai jenis pelanggaran yang seperti apa yang dapat dijadikan dasar bagi Pemerintah untuk menuntut pembubaran sebuah partai politik. dan kegiatan partai politik yang bersangkutan. Hal ini dapat dimengerti.

dimulai dari masa demokrasi terpimpin. Pasal 41 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 hanya menentukan bahwa sebuah partai politik bubar apabila: a. Ketentuan 154 . Maklumat tersbut dicabut oleh Presiden Soekarno dengan Penetapan Presiden Nomor 7 Tahun 1959 Tentang Syarat-syarat Penyederhanaan Kepartaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 149 Tahun 1959. Demokrasi terpimpin adalah demokrasi yang dianut di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sampai kejatuhannya pada tahun 1966 seiring muculnya Orde Baru. membubarkan diri atas keputusan sediri b. Selama ini partai politik bubar dengan alasan membubarkan diri atas keputusan sendiri atau mengggabungkan diri dengan partai politik lain. Salah satu kebijakan politik Presiden Soekarno adalah menyederhanakan partai politik-partai politik yang begitu banyak di Indonesia yang merupakan warisan dari kebijakan politik kepartaian sebelumnya yang tercantum dalam Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 yang ditanda tangani oleh Wakil Presiden Mohamad Hatta. Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 merupakan regulasi pertama dibidang kepartaia di Indonesia sesudah kemerdekaan yang telah melahirkan system multi partai dengan multi ideologi.pembubaran partai politik dapat terjadi karena alasan-alasan lain sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008. dan Pembubaran Partai-partai. atau c. menggabungkan diri dengan partai politik lain. Pembubaran partai politik dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia. dibubarkan oleh Mahkamah Kostitusi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1916) yang pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 1960 Tentang Pengakuan. Pengawasan.

Programnya bermaksud merombak asas dan tujuan negara. b. Setelah menerima pertimbangan Mahkamah Agung.tentang pembubaran partai politik menurut Pasal 6 Penetapan Presiden Nomor 7 Tahun 1959 dan Pasal 9 Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 1960 adalah sebagai berikut :  Institusi yang berwenang melarang dan/atau membubarkan partai politik adalah Presiden setelah mendengar pertimbangan Mahkamah Agung.Tidak memenuhi syarat-syarat lai yag ditetukan dalam Penetapan Presiden (Penpres) ini. 155 . Dalam pemeriksaan. d.  Mekanisme pelarangan dan/atau pembubaran partai politik : a. Mahkamah Agung dapat mendengar keterangan saksi- saksi dan ahli-ahli di bawah sumpah. Mahkamah Agung menguji persoalan yang diajukan Presiden secara yuriidis dan obyektif dengan mengadakan pemeriksaan dengan acara bebas.Asas dan tujuannya bertetangan dengan asas dan tujuan negara. c.Sedang melakukan pemberontakan karena pemimpin-pemimpinnya turut serta dalam pemberontakan-pemberotakan atau telah jelas memberikan bantuan. b. Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden yang menyatakan pembubaran suatu partai yang selekas mugkin diberitahukan kepada pimpinan partai tersbut.  Alasan pelarangan dan/atau pembubaran partai politik adalah : a. sedangkan partai itu tidak dengan resmi menyalahkan perbuatan anggota- aggotanya itu. Presiden terlebih dahulu mendengar pertimbangan Mahkamah Agung dengan menyerahkan surat-surat dan lain-lain yang dapat dijadikan alat bukti yang menguatkan persangkaan bahwa suatu partai politik berada dalam keadaan sebagaimana dimaksudkan Pasal 9 ayat (1) Penetapan Presiden Nomor 7 Tahun 1959. e. d. Hasil pemeriksaan yang merupakan pendapat Mahkamah Agung diberitahukan kepada Presiden. c.

156 . Apabila teggat tersebut huruf f lewat tanpa pernyataan bubar partai dimaksud. serta pembubaran atas partai Masyumi dan PSI. Pada era demokrasi terpimpin telah dibubarka beberapa partai politik dengan Kepeutusan Presiden. alias bubar atau dibubarkan dengan Keputusan Presiden. Yang dapat diakui sebagai partai politik dengan berlakunya Penetapan Presiden Nomor 7 Tahun 1959 hanyalah partai politik yang sudah berdiri pada saat keluarnya Dekrit Presiden dan memenuhi syarat-syarat yang diatur dalam Penetapan Presiden. dan PRN-Djody. g. Sebagai akibat hokum pembubaran/pelarangan suatu partai. maka anggota partai yang menjadi anngota MPR.f. h. 17 Pada masa pemeritahan orde baru diawali dengan pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) termasuk bagian- bagian organisasinya dari tingkat pusat sampai ke daerah beserta semua organisasi yang seasas/berlindung/bernaung di bawahnya. seperti Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1961 yang menolak pengakuan atas PSII-Abikusno. i. DPR. sehingga tidak mungkin mendirikan partai politik baru dan ada kemungkinan ada partai politik yang tidak memenuhi syarat yang berarti ditolak atau tidak diakui. Dasar hukum yang digunakan dalam pembubaran PKI tersebut adalah Surat Perintah 11 Maret 1966. maka partai tersebut merupakan perkumpulan terlarang. PRI. Alasan pembubaran adalah sebagai berikut : 1) Bahwa pada waktu akhir-akhir ini makin terasa kembali aksi-aksi gelap dilakuka oleh sisa-sisa kekuatan kontra-revolusi “Gerakan 30 September”/Partai Komunis Indonesia. pada tanggal 12 Maret 1966 dengan Keputusan Presiden Nomor 1/3/1966. Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal berlakuya Keputusan Presiden tersebut huruf e di atas. pimpinan partai dimaksud harus menyatakan partainya bubar dan memberitahukannya kepada Presiden seketika itu juga. dan DPRD secara otomatis diaggap berhenti sebagai anggota badan-badan tersebut. PR-Bebasa. serta pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah kekuasaan Negara Republik Indonesia.

hingga kebijakan yang tidak megenal pembubaran partai politik lewat undang-undag partai politik dan golongan karya yag telah menetapkan hanya PPP. masyarakat sosialisme Indonesia. yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1985. Undang- undang tersebut tidak memuat aturan tentang pembubaran partai politik. anti kapitalisme. desas-desus. dan tegas terhadap Partai Komunis Indoesia. hasutan. 157 . dan usaha peyusunan kekuatan bersenjata yang mengakibatkan tergangguya kembali keamanan rakyat dan ketertiban. dan Golkar yag boleh hidup. Anti feodalisme. Pernyataan Sebagai Anggota Organisasi Terlarang Di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia Dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme.2) Bahwa aksi-aksi gelap itu berupa penyebaran fitnah. khususnya penanggulangan kesulita ekonomi dan pengganyangan proyek Nekolim “Malaysia”. anti Nekolim dan menuju terwujudnya masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila. bahwa pada masa pemerintahan Orde Baru kebijakan pembubaran/pelarangan partai politik berkembang dari pembubaran secara tidak langsung melalui fusi yang dikokohkan dengan undang- undang partai politik dan golongan karya. adu domba. Keputusan Presiden Nomor 1/3/1966 tanggal 12 Maret 1966 tersebut kemudian dikukuhkan dengan Ketatapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia. Pengaturan mengenai partai politik selanjutnya digantikan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975 Tentang Partai Politik dan Golongan Karya. 4) Bahwa demi tetap terkonsolidasinya persatuan dan kesatuan segenap kekuatan progresip-revolusioner rakyat Indonesia yang 17Ibid. perlu mengambil tindakan cepat. Dari uraian di atas dapat kita simpulkan. PDI. tepat. 3) Bahwa aksi-aksi gelap tersebut nyata-nyata membahayakan jalannya revolusi dewasa ini.

membekukan (dalam arti menghentikan untuk sementara kepengurusan dan atau kegiatan partai politik adalah Mahkamah Agung. Pada era reformasi. menerima sumbangan dan/atau bantuan dalam bentuk apapun. yaitu memegang teguh dan mengamalkan Pancasila dan UUD 1945. e. Politik hukum kepartaian orde baru adalah kebijakan multi partai terbatas tetap (jumlahnya dibatasi hanya tiga. dan jurdil. tidak boleh lebih tidak boleh kurang) yang disertai kebijakan “asas tunggal” dan kebijakan “massa mengambang”. keluar Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1999 Tentang Partai Politik yang mengatur bahwa : 1) Pengertian membubarkan partai politikadalah mencabut hak hidup dan keberadaan partai politik di seluruh wilayah Republik Indonesia 2) Institusi yang berwenang untuk membubarkan. mempertahakan keutuhan NKRI. dan melakukan kegiatan yang 158 . Membahayakan persatuan dan kesatuan nasional c. baik langsung maupun tidak langsung atau memberi sumbangan dan/atau bantuan dalam bentuk apapun kepada pihak asing. dengan logika kesalahan ada pada pengurus. memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. megembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam NKRI d. langsung atau tidak langsung yang dapat merugikan kepetingan bangsa dan Negara. melainkan pembekuan pengurus partai politik. Tujuan partai politik tidak sesuai dengan peraturan perudang-undangan. 3) Pembubaran partai politik dapat dilakukan dengan alasan : a. Tidak lagi memenuhi syarat b.Tidak menjalankan kewajiban partai. sehingga tidak dikenal pembubaran partai politik. bukan pada partainya. dan ajaran lain yang bertentangan dengan Pancasila. menyebarkan ajaran atau paham Komunisme/Marxisme-Leninisme.Tidak boleh menganut. luber. mengembangkan. yaitu harus mewujudkan cita-cita nasional yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945. serta menyukseskan pembangunan asional dan pemilu yang demokratis.

4) Mekanisme pembubaran partai politik adalah. Oleh karena itu. Ketentuan yang jelas tentang alasan pembubaran partai politik dapat ditemukan dalam ketentuan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 yaitu “ Pengurus Partai Politik yang menggunakan Partai Politiknya untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5) dituntut berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan Kejahatan Terhadap 159 . pelaksanaan pembekuan atau pembubaran partai politik dilakukan setelah adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hokum tetap dan diumumkan dalam Berita Negara RI oleh Menteri Kehakiman. Kedua. 3. pertama Mahkamah Agung memberikan peringatan secara tertulis kepada partai politik yang bersangkutan selama tiga kali berturut-turut dalam waktu tiga bulan sebelum proses peradila. tanpa menjalankan fungsi yang lain sesuai dengan perturan perundang-undangan dan rasa keadilan masyarakat. Mahkamah Agung lebih dahulu mendengar dan mempertimbangkan keterangan dari pengurus pusat partai politik yang bersangkutan. dalam proses peradilan. Alasan pembubaran partai politik belum diatur secara jelas di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik sebagaimana diuraikan di atas. bertentangan dengan kebijakan Pemerintah RI dalam memelihara persahabatan dengan Negara lain. Partai politik yang tidak menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik akan mengakibatkan demokrasi tidak berjalan dengan baik pula. Partai politik yang hanya bertujuan untuk meraih kekuasaan.2 Bagaimana Idealnya Partai Politik Dapat Dibubarkan Keadaan kepartaian seperti sekarang ini mengakibatkan kepercayaan rakyat terhadap partai politik semakin hilang. sebelum mendirikan partai politik harus merencanakan tujuan apa yang hendak dicapai. maka sebaiknya partai politik tersebut dibubarkan. Ketiga.

Tidak lagi memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh peraturan perundang- undangan 2. Kegiatan yang bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan 2. 4. huruf d. sebuah partai politik dapat dibubarkan pula karena : 1. Artinya sebuah partai politik dapat dibubarkan dengan alasan telah terbukti melakukan : 1.Tidak melaksanakan kewajibannya 3. dan huruf e berkaitan dengan larangan untuk menganut dan mengembangkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme. 160 . Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 107 huruf c. sehingga kepercayaan masyarakat terhadap partai poitik yang semakin luntur dapat tumbuh kembali. huruf d. maka alasan pembekuan sementara terhadanp partai politik dapat ditafsirkan pula sebagai alasan pembubaran partai politik. Partai politik sebagai pilar utama demokrasi harus dapat memberikan teladan bagi masyarakat dalam kehidupan berdemokrasi.Keamanan Negara dalam Pasal 107 huruf c.Tidak dapat menampung dan menyalurkan aspirasi rakyat.Tidak melaksanakan fungsinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. selain yang termuat di dalam ketentuan Undang-Undang. dan Partai Politiknya dapat dibubarkan. atau huruf e. Kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia Seharusnya. Selain menganut dan mengembangkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme.

Malang Jimly Asshiddiqie. Pengantar Ilmu Politik. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Kostitusi RI. Kedaulatan Rakyat Negara Hukum dan Konstitusi. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Miriam Budiardjo. Jakarta. Konstitusi dan Ketatanegaraan Indonesia Kontemporer. 161 . 1999. The Biography Institute. Jakarta. Hukum Konstitusi dan Mahkamah Konstitusi. Yogyakarta. 2006. Yogyakarta Deden Faturohman dan Wawan Sobari. Jakarta. 2007. 2004. Affan Gaffar. Moh. Dasar-dasar Ilmu Politik. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Jakarta. UMM. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. PT Gramedia. Konstitusi dan Kostitusionalitas Indonesia. 1983. DAFTAR PUSTAKA Abdul Mukthie Fajar. Dahlan Thaib. Kusnardi. 2006. Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. Liberty. Jakarta. Bekasi. Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UI dann CV “Sinar Bakti”. Harmaily Ibrahim. 2002. _______________. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia. 1985. _______________dan Para Pakar. 2006. Pustaka Pelajar.

Memahami Ilmu Politik. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 2 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4801). Dewan Perwakilan Rakyat. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 51 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4836). Undang Undang Dasar Negara Republik Indoesia Tahun 1945 Ketatapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1916). 1992. Ramlan Surbakti. PT Gramedia Sarana Indonesia. Keputusan Presiden Nomor 1/3/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia 162 . Pernyataan Sebagai Anggota Organisasi Terlarang Di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia Dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme. Penetapan Presiden Nomor 7 Tahun 1959 Tentang Syarat-syarat Penyederhanaan Kepartaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 149 Tahun 1959.

Mingchen. Modern Democracy In China. Negara dan Penjaja. Gould. Malang: Setara Press. Jakarta: PT. Fadjar. Paris. Bab VIII. Analisis Yuridis Normatif tentang Unsur-unsurnya. 1. Vol. Jakarta: UI Press. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Shanghai 1923 Miriam Budiarjo. Jakarta. Clifford. Paradigma Kedaulatan Rakyat Dalam Perubahan Undang – Undang Dasar 1945. Demokrasi Indonesia: Dari masa ke masa. (2004). Demokrasi Ditinjau Kembali. No. Jakarta: PT. Penerbit PT. 2010.Gramedia. Jurnal Legislasi Indonesia. 1998. DAFTAR PUSTAKA Buku : Azhary. Maret 2010. Harun Alrasid. Memahami Ilmu Politik. Geertz. Jurnal Administrasi Publik. 1980. 2008. 1995. Mr. Abdul Mukthie. 7.Jakarta: Grasindo. Surbakti. Charles. Bodin. H. Kuliah Hukum Tata Negara Prof. 163 . Partai Politik Dalam Perkembangan Ketatanegaraan Indonesia. Ramlan. Purnaweni. Negara Hukum Indonesia. Jakarta. 1982. 3(2). Commercial Press Ltd.Gramedia. HM. Jean. Laica Marzuki. Penerbit Ghalia Indonesia. 2012. 1576. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Joshua Bau. Djokosoetono. Les Six Livres de La Republique I.

Jakarta. 164 . Perihal Pemilu. Yogyakarta. LSI-Kepustakaan Populer Gramedia. Rukmana Amanwinata. Perkembangan Hak Asasi Manusia dan Keberadaan Peradilan Hak Asasi Manusia di Indonesia. 2002. 2008. Rozali Abdullah dan Syamsir. Abdul Gaffar. Dahlan Thaib.2007 Abdul Mukthie Fajar. Pekanbaru. Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. dalam Sigit Pamungkas. 2006. Kedaulatan Rakyat Negara Hukum dan Konstitusi. Liberty. 2002. Pengantar Ilmu Politik. _______________. Yogyakarta.Budiardjo. Jakarta:Ghalia Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. 1996 Yusuf Daeng. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Jakarta. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Kostitusi RI. Affan Gaffar. Karim. Malang Jimly Asshiddiqie. Hukum Konstitusi dan Mahkamah Konstitusi. 2009 Ambardi. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Bandung. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta. 1993. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: PT. 2006. Kuskridho. 2006. Konstitusi dan Kostitusionalitas Indonesia. 2008 Mukhlis R. Marwati dan Nugroho Notosusanto. Pekanbaru:2012. HAM dan Keadilan. Mengungkap Politik Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di Indonesia Era Reformasi. Alfa Riau. Jakarta. Dasar-dasar Ilmu Politik. 1999. UR Press. Yogyakarta Deden Faturohman dan Wawan Sobari. Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Pustaka Pelajar. “Pengaturan dan batas implementasi Kemerdekaan Berserikat dan Berkumpul dalam Pasal 28 UUD 1945” Disertasi. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Miriam. Universitas Padjajaran. Djoened Poesponegoro. UMM. 2004.

go.hukumonline. Harmaily Ibrahim. Bekasi. Suharso. Fiat Justisia.kpu. 2000. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia.No. 5(2). 1983. Erdiansyah. Hukum dan Demokrasi. Marzuki. Wacana Politik. Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UI dann CV “Sinar Bakti”. Ramlan Surbakti. 1985. Jakarta. Perlindungan HAM dan Pembangunan Demokrasi Di Indonesia. (2014). London: McMillan. 2007. Al Atok. 1992. The Biography Institute. Jakarta. The Democracy and Organization of Political Parties.com. NEGARA HUKUM INDONESIA. Konstitusi dan Konstitusionalisme.Vol. Moh. Http://masrizalmahmud. L.com/berita/baca/hol18498/iparliamentary-thresholdi-lebih- efektif-menjaring-parpol-berkualitas- http://kab-pangandaran. R. Yogyakarta: LkiS. Artikel Pada Jurmal Konstitusi. Jakarta.2 November 2010 Przeworski.III. PT Gramedia Sarana Indonesia. BKK Fakultas Hukum Universitas Riau Kerjasama dengan Mahkamah Konstitusi. A. Teori kebebasan Jhon Locke. Z. Negara Hukum Indonesia Kebalikan Nachtwachterstaat. Jurnal Konstitusi. Kusnardi. Dasar-dasar Ilmu Politik. 7(4). MiriamBudiardjo. Jurnal : Ridlwan. PT Gramedia. 1-8. Konstitusi dan Ketatanegaraan Indonesia Kontemporer. Website : Masrizal Mahmud. 1991. "Quo Vadis Demokrasi Indonesia" dalam Mahfud MD (eds). Memahami Ilmu Politik.multiply.id/2017/10/04/bimbingan-teknis-tata-cara- pendaftaran-partai-politik-peserta-pemilu-melalui-aplikasi-sipol-dan-verifikasi- partai-politik-tahun-2019/ 165 ._______________dan Para Pakar. M. terakhir dikunjungi tanggal 20 Februari 2015 http://www.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007. Bastian. Undang-Undang No. Partai politik Indonesia 1999-2019 Konsentrasi Dan Dekonsentrasi Kuasa.Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Peraturan KPU No. 2016. DUTA NUSINDO-SEMARANG “Verifikasi Sulit. Partai politik Indonesia 1999-2019 Konsentrasi Dan Dekonsentrasi Kuasa. 166 .LAINNYA : Nainggolan. CV. Dewan Perwakilan Rakyat. 2016. 8 Tahun 2012. 12 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan KPU No. 10 Tahun 2008 Undang Undang Dasar Negara Republik Indoesia Tahun 1945 Ketatapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia. Gramedia Jakarta Rahardjo. 2016. 2008. KPU Mengacu Undang-undang No. Pudji. 2 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 2 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4801). Gramedia Jakarta Nainggolan. Bastian. Partai politik Indonesia 1999-2019 Konsentrasi Dan Dekonsentrasi Kuasa. Pernyataan Sebagai Anggota Organisasi Terlarang Di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia Dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme. Bastian.Gramedia Jakarta Nainggolan. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 51 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4836).

Keputusan Presiden Nomor 1/3/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia 167 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1916).Penetapan Presiden Nomor 7 Tahun 1959 Tentang Syarat-syarat Penyederhanaan Kepartaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 149 Tahun 1959.