You are on page 1of 5

BAB 22

PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN
TEKNOLOGI

Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa. Sejalan
dengan paradigma baru di era globalisasi yaitu Tekno-Ekonomi (Techno-Economy Paradigm), teknologi
menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas hidup suatu
bangsa. Implikasi paradigma ini adalah terjadinya proses transisi perekonomian dunia yang semula
berbasiskan pada sumber daya (Resource Based Economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan
pengetahuan (Knowledge Based Economy/KBE). Pada KBE, kekuatan bangsa diukur dari kemampuan
iptek sebagai faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan daya
saing.

Pembangunan iptek merupakan sumber terbentuknya iklim inovasi yang menjadi landasan bagi
tumbuhnya kreativitas sumberdaya manusia (SDM), yang pada gilirannya dapat menjadi sumber
pertumbuhan dan daya saing ekonomi. Selain itu iptek menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi
proses transformasi sumberdaya menjadi sumberdaya baru yang lebih bernilai. Dengan demikian
peningkatan kemampuan iptek sangat diperlukan untuk meningkatkan standar kehidupan bangsa dan
negara, serta kemandirian dan daya saing bangsa Indonesia di mata dunia.

A. PERMASALAHAN
Lemahnya daya saing bangsa dan kemampuan iptek ditunjukkan oleh sejumlah indikator, antara
lain:

Rendahnya kemampuan iptek nasional dalam menghadapi perkembangan global menuju
KBE. Indeks Pencapaian Teknologi (IPT) dalam laporan UNDP tahun 2001 menunjukkan tingkat
pencapaian teknologi Indonesia masih berada pada urutan ke 60 dari 72 negara. Sementara itu,
menurut World Economic Forum (WEF) tahun 2004, indeks daya saing pertumbuhan (growth
competitiveness index) Indonesia hanya menduduki peringkat ke-69 dari 104 negara. Dalam indeks daya
saing pertumbuhan tersebut, teknologi merupakan salah satu parameter selain parameter ekonomi
makro dan institusi publik. Rendahnya kemampuan iptek nasional juga dapat dilihat dari jumlah
paten penemuan baru dalam negeri yang didaftar di Indonesia hanya mencapai 246 buah pada tahun
2002, jauh lebih rendah dibanding paten dari luar negeri yang didaftarkan di Indonesia yang
berjumlah 3.497 buah.

Rendahnya kontribusi iptek nasional di sektor produksi. Hal ini antara lain ditunjukkan
oleh kurangnya efisiensi dan rendahnya produktivitas, serta minimnya kandungan teknologi dalam
kegiatan ekspor. Pada tahun 2002, menurut indikator iptek Indonesia tahun 2003, ekspor produk
industri manufaktur didominasi oleh produk dengan kandungan teknologi rendah yang mencapai 60
persen; sedangkan produk teknologi tinggi hanya mencapai 21 persen. Sementara itu produksi
barang elektronik yang dewasa ini mengalami peningkatan ekspor, pada umumnya merupakan
kegiatan perakitan yang komponen impornya mencapai 90 persen.

Bagian IV.22 – 1

Kebijakan bidang pendidikan. yang tercermin dari rendahnya kualitas SDM dan kesenjangan pendidikan di bidang iptek. Disamping itu. Disamping itu kebijakan fiskal juga dirasakan belum kondusif bagi pengembangan kemampuan iptek. anomali iklim. lebih suka membuat daripada sekedar membeli. Belum optimalnya peran iptek dalam mengatasi degradasi fungsi lingkungan hidup. rasio anggaran iptek yang memadai adalah sebesar 2 persen. tidak berjalannya sistem transaksi. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh belum berkembangnya sistem manajemen dan teknologi pelestarian fungsi lingkungan hidup. kebakaran hutan. Kemajuan iptek berakibat pula pada munculnya permasalahan lingkungan. Wilayah Indonesia dalam konteks ilmu kebumian global merupakan wilayah yang rawan bencana. longsor. Rasio tenaga peneliti Indonesia pada tahun 2001 adalah 4. Kecilnya anggaran iptek berakibat pada terbatasnya fasilitas riset. unggul dan mandiri. Lemahnya sinergi kebijakan iptek. Kemampuan iptek nasional belum optimal dalam memberikan antisipasi dan solusi strategis terhadap berbagai permasalahan bencana alam seperti pemanasan global. Rasio tersebut jauh lebih kecil dibandingkan rasio serupa di ASEAN.000 penduduk. Budaya bangsa secara umum masih belum mencerminkan nilai-nilai iptek yang mempunyai penalaran obyektif.7 peneliti per 10. Selain itu rasio anggaran iptek terhadap PDB sejak tahun 2000 mengalami penurunan. Masalah ini dapat terlihat dari belum tertatanya infrastruktur iptek. yang antara lain berakibat pada minimnya keberadaan industri kecil menengah berbasis teknologi. Sistem tersebut akan mendorong pengembangan dan pemanfaatan iptek yang bernilai ekonomis. jauh lebih kecil dibandingkan Jepang sebesar 70. Lemahnya sumber daya iptek diperparah oleh tidak adanya lembaga keuangan modal ventura dan start-up capital yang diperlukan untuk sumber pembiayaan inovasi-inovasi baru. gempa bumi dan tsunami.7. seperti Malaysia sebesar 0.052 persen menjadi 0. Masih lemahnya peran iptek dalam mengantisipasi dan menanggulangi bencana alam. Belum optimalnya mekanisme intermediasi iptek yang menjembatani interaksi antara kapasitas penyedia iptek dengan kebutuhan pengguna. rasional. Bagian IV. Banyaknya korban akibat bencana alam merupakan indikator bahwa pembangunan Indonesia belum berwawasan bencana. Pola pikir masyarakat belum berkembang ke arah yang lebih suka mencipta daripada sekedar memakai. antara lain institusi yang mengolah dan menterjemahkan hasil pengembangan iptek menjadi preskripsi teknologi yang siap pakai untuk difungsikan dalam sistem produksi. ramah lingkungan dan mempertimbangkan nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat. kurangnya biaya untuk operasi dan pemeliharaan.22 – 2 . serta lebih suka belajar dan berkreasi daripada sekedar menggunakan teknologi yang ada. Masih terbatasnya sumber daya iptek. serta rendahnya insentif untuk peneliti. maju. industri. Belum berkembangnya budaya iptek di kalangan masyarakat.5 persen (tahun 2001) dan Singapura sebesar 1. masalah tersebut dapat dilihat dari belum efektifnya sistem komunikasi antara lembaga litbang dan pihak industri. dari 0. Sementara itu menurut rekomendasi UNESCO.89 persen (tahun 2000). dan iptek belum terintegrasi sehingga mengakibatkan kapasitas yang tidak termanfaatkan pada sisi penyedia. sehingga kegiatan iptek belum sanggup memberikan hasil yang signifikan.039 persen pada tahun 2002. banjir. dan belum tumbuhnya permintaan dari sisi pengguna yaitu industri.

Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1. 2. sumberdaya dan jaringan iptek di pusat dan daerah.22 – 3 . (ii) penciptaan dan pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan. Tumbuhnya penemuan iptek baru sebagai hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan bagi peningkatan nilai tambah dalam sistem produksi dan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara lestari dan bertanggung jawab. 4. ARAH KEBIJAKAN Arah kebijakan dalam Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah untuk: 1. meningkatnya kandungan teknologi dalam industri nasional. 4. pengetahuan lokal. yang dijabarkan ke dalam program- program pembangunan sebagai berikut : 1. (iv) pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. prasarana dan kelembagaan) iptek. serta sistem standarisasi nasional.B. dan teknologi sesuai dengan kompetensi inti dan kebutuhan pengguna. sistem pembinaan dan pengelolaan hak atas kekayaan intelektual. PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Tujuan program ini adalah meningkatkan fokus dan mutu kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan dasar. Tertatanya mekanisme intermediasi untuk meningkatkan pemanfaatan hasil litbang oleh dunia usaha dan industri. pengembangan dan rekayasa iptek yang berorientasi pada permintaan dan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha dengan roadmap yang jelas. 3. terapan. Terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kreativitas. Mempertajam prioritas penelitian. Meningkatnya ketersediaan. sarana. dan (vi) pengembangan teknologi kesehatan dan obat-obatan. 2. PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN Arah kebijakan Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi difokuskan pada enam bidang prioritas yaitu: (i) pembangunan ketahanan pangan. SASARAN Sasaran dari Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah: 1. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas iptek dengan memperkuat kelembagaan. (v) pengembangan teknologi pertahanan. hasil guna. D. (iii) pengembangan teknologi dan manajemen transportasi. dan daya guna sumberdaya (SDM. 3. serta tumbuhnya jaringan kemitraan dalam kerangka sistem inovasi nasional. C. Penelitian dan pengembangan riset dasar dalam rangka penguasaan ilmu pengetahuan. Menanamkan dan menumbuhkembangkan budaya iptek untuk meningkatkan peradaban bangsa. Menciptakan iklim inovasi dalam bentuk pengembangan skema insentif yang tepat untuk mendorong perkuatan struktur industri. Bagian IV.

industri dan masyarakat melalui penyediaan informasi iptek dan komersialisasi teknologi. dunia usaha dan lembaga pendukung) baik di dalam maupun luar negeri. di darat dan di laut. PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Tujuan program ini adalah mendorong proses diseminasi hasil litbang serta pemanfaatannya oleh dunia usaha. Penelitian dan pengembangan di bidang pengukuran. Optimalisasi kinerja Dewan Riset Daerah (DRD) dalam penentuan produk unggulan daerah dan perumusan kebijakan pengembangan iptek daerah. serta antar daerah. Bagian IV. 6. 4. 3. teknologi elektronika. 5. 2. dan aktualisasi peran unit inkubator dan unit pelayanan teknis dalam fungsi intermediasi. karakteristik ekosistem daratan dan perairan serta keragaman sumberdaya alam baik sumberdaya hayati maupun non-hayati.22 – 4 . antara lain melalui pengembangan techno-education. kesehatan. Penelitian dan pengembangan untuk peningkatan pemahaman terhadap fenomena alam. dan techno-preneurship serta pengembangan inovasi dan kreativitas iptek masyarakat. sosial dan budaya. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1. pengujian dan mutu. 7. teknologi transportasi. Peningkatan partisipasi pemerintah daerah dan pengembangan pola kemitraan iptek antara pusat dan daerah. mitigasi bencana. teknologi air bersih. hukum dan lain- lain sebagai masukan ilmiah dalam penyusunan kebijakan pemerintah (policy linked science). techno-exhibition. 3. Pengembangan dan pemanfaatan iptek berbasis kearifan tradisional (traditional knowledge) serta sumberdaya lokal. industri. teknologi kelautan. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1. standardisasi. 2. termasuk nuklir. 5. dan masyarakat. ekonomi. Pengembangan prasarana untuk mendukung penerapan standar dan penilaian kesesuaian atas mutu produk pelaku usaha. Penyediaan jasa konsultasi dan asistensi teknis antara lain melalui pengembangan liaison officer untuk membantu kebutuhan solusi teknologi bagi industri dan pemerintah daerah. sistem informasi spasial. teknologi pertahanan. 3. teknologi informasi. peternakan. Peningkatan apresiasi dan peran serta masyarakat dalam pembudayaan iptek. Pengembangan iptek tepat guna bagi pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup secara berkelanjutan. Penelitian dan pengembangan di bidang politik. 2. 4. teknologi dirgantara dan antariksa. 6. dan litbang bidang tematis lainnya. Pengembangan pusat-pusat iptek (science center) di pusat dan daerah. perguruan tinggi. Diseminasi hasil litbang ke dunia usaha. koordinasi dan pola kemitraan antar kelembagaan iptek (lembaga litbang.2. Revitalisasi dan optimalisasi kelembagaan iptek termasuk akreditasi pranata litbang. 8. energi baru dan terbarukan. PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Tujuan program ini adalah meningkatkan kapasitas dan kapabilitas lembaga iptek dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Penelitian dan pengembangan bioteknologi dalam pertanian. Pemanfaatan peta dan informasi spasial untuk penetapan batas antar negara dan antar daerah. 3. techno-entertainment. Pengembangan sistem komunikasi.

3. standar mutu. mendorong kemitraannya dengan industri besar. Kegiatan yang dilakukan antara lain adalah : 1. menengah. antara lain melalui usaha baru berbasis hasil litbang dengan wadah inkubator-teknologi. 7. dan lingkungan. Percepatan proses transformasi industri yang berbasis sumber daya lokal dan padat teknologi. 9. termasuk penyempurnaan peraturan yang mendukung komersialisasi hasil litbang. Peningkatan kemampuan industri kecil menengah dan koperasi yang berbasis teknologi melalui pemanfaatan jaringan sistem informasi teknologi dan asistensi teknis. 4. pelayanan masyarakat. pengembangan dan penerapan teknologi beresiko tinggi termasuk tenaga nuklir melalui pembinaan pengguna. 6. pencegahan kecelakaan maupun kesiapsiagaan nuklir. 5. serta membuat aturan kontrak riset yang kompatibel. Pengembangan technopreneur. Peningkatan peran pranata metrologi dan pengujian untuk perumusan pengembangan dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). pengelolaan hak atas kekayaan intelektual (HKI). serta optimalisasi dan mobilisasi potensi SDM iptek melalui kerjasama nasional maupun internasional. 5. penegakan hukum. Peningkatan kuantitas dan kualitas. PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI Tujuan program ini adalah mendorong peningkatan kapasitas teknologi pada sistem produksi di dunia usaha dan industri serta peningkatan sinergi antar berbagai komponen sistem inovasi. Penyempurnaan sistem insentif dan pola pembiayaan iptek. Peningkatan sistem manajemen iptek terpadu. dan mengembangkan berbagai sistem insentif. 2. pelatihan kerja. keamanan produksi. Bagian IV. Pengembangan dukungan pranata regulasi dan kebijakan yang kondusif dalam bentuk insentif pajak. 8. Peningkatan keterlibatan organisasi profesi ilmiah.4. asuransi teknologi bagi usaha kecil.22 – 5 . perguruan tinggi serta masyarakat dalam memperkuat landasan etika dalam perumusan kebijakan iptek. dan koperasi. Pengembangan lembaga keuangan modal ventura dan start-up capital. Penyusunan indikator dan statistik iptek nasional. Pembinaan dan pelaksanaan audit/assessment teknologi. 6. 7. Pengembangan dan penerapan fungsi pengawasan kegiatan penelitian. 4.