You are on page 1of 47

1

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Kamis, 15 Januari 2015
m.k. Nutrisi Lanjutan Dosen : Dr. M. Agus Suprayudi
Dr. Dedi Jusadi
Dr. Mia Setiawati
Dr. Nur Bambang P.

TINGKAT KECERNAAN, RETENSI PROTEIN, EKSRESI
AMONIA, UJI BIOLOGIS PERTUMBUHAN IKAN NILA
(Oreochromis niloticus) DAN IKAN MAS (Cyprinus carpio)
YANG DIBERI PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN
BERBEDA.

Oleh:

ARDANA KURNIAJI
C151140261

ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
berkah, rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan
Praktikum Nutrisi Ikan Lanjutan. Praktikum Nutrisi Ikan Lanjutan dilaksanakan di
Laboratorium Nutrisi Ikan Departemen BDP Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
keluarga tercinta yang senantiasa mendoakan kesuksesan bagi penulis dalam
penyelesaikan laporan ini. Terimakasih kepada dosen pengampuh mata kuliah
Nutrisi Ikan Lanjutan atas bimbingan dan ilmu yang diberikan selama praktikum,
tidak lupa penulis juga mengucapkan terimakasih untuk seluruh anggota
kelompok dan mahasiswa lainnya atas kerjasamanya dalam praktikum Nutrisi
Ikan Lanjutan ini.
Penulis sadar jika dalam penyusunan laporan ini masih terdapat banyak
sekali kekurangan dan salah, mohon kiranya dimaafkan dan diilhami sebagai
contoh yang baik agar di kemudian hari tidak di ulangi. Semoga laporan ini dapat
memberi manfaat bagi semua pihak yang membacanya. Terima kasih.

Bogor, Januari 2015

Ardana Kurniaji

3

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Ardana Kurniaji, dilahirkan pada
tanggal 9 Juni 1992 di Desa Woimenda Kabupaten Kolaka
Provinsi Sulawesi Tenggara. Penulis adalah anak pertama
dari dua bersaudara pasangan Abdul Kadir, A.Pi., M.Si
dan Nining Syamsinar. Penulis mengawalii pendidikan
formalnya di SDN 05 Mandonga dan selesai pada tahun
2004, kemudian melanjutkan studinya di SMP Negeri 3
Kendari pada tahun 2004 dan berhasil menyelesaikan
studinya pada tahun 2007. Pada tahun yang sama
melanjutkan studinya di SMA Negeri 4 Kendari dan
berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 2010. Penulis meraih gelar sarjana
pada tahun 2014 di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Program Studi Budidaya Perairan. Saat ini penulis tengah
melanjutkan studi magister di Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor
(IPB), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada Mayor Ilmu Akuakultur.
Selama mengenyam studinya, berbagai prestasi akademik dan non akademik
pernah diraih seperti meraih predikat juara satu umum siswa tahun 2003 hingga
meraih penghargaan mahasiswa dengan Indeks Prestasi (IP) tertinggi Semester I
hingga Semester VII. Selain itu penulis juga pernah mengikuti berbagai kompetisi
kejuaraan seperti Lomba Debat Bahasa Inggris Se-Sulawesi (2013), mendapat
juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah ajang PORSIAF (2011) dan menjadi utusan
Universitas Halu Oleo dalam ajang Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional
(2013). Sejak duduk dibangku sekolah dasar, penulis aktif diberbagai organisasi
diantaranya pernah menjadi pengurus OSIS 2005/2006 di bangku SMP, pengurus
Siswa Gemar Matematika (SIGMA) 2007/2008, Ketua Umum Kerohanian Islam
(ROHIS) 2008/2009 di bangku SMA, Sekretaris Ikatan Silaturahim Pelajar Islam
(ISPI) 2009/2010, Pengurus Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus
(BKLDK) 2010/2011, Ketua Umum Amphiprion Scientific Club (ASC)
2011/2012, Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FPIK UHO
2013/2014 dan Anggota Fisheries English Club (FEC) dan Langkoe Diving Club
(LDC) FPIK UHO, serta aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yakni
Yayasan Bina Laut Indonesia (YBLI). Selain mengikuti organisasi, penulis juga
aktif membimbing berbagai kegiatan penulisan karya tulis ilmiah sejak tahun
2011, seperti membimbing mahasiswa dalam pembuatan Proposal Program
Kreativitas Mahasiswa (2011-2012), membimbing mahasiswa dalam pembuatan
laporan praktikum mata kuliah Avertebrata Air dan Ekologi Perairan (2011),
Biologi Umum, Ikhtiologi dan Fisiologi Hewan Air (2012) serta Ikhtiologi (2013),
dan Fisiologi Hewan Air dan Penyakit Ikan (2014). Disamping itu, penulis juga
pernah aktif mengikuti International Project yang diselenggarakan Universitas
Halu Oleo bekerjasama dengan Australian AID tahun 2012-2013 serta aktif dalam
penulisan buku-buku ilmiah. Salah satu buku yang pernah ditulis adalah buku
“Membumikan Kreativitas Ilmiah” bersama Bapak La Ode Abdul Rajab Nadia,
S.Pi., M.Sc dan menulis salah satu artikel ilmiah pada Prosiding Seminar
Internasional The 8th CRISU-CUPT International Confrence tahun 2013.

4

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv

BAB I Pendahuluan ................................................................................... 1
BAB II Metode Paraktikum ........................................................................ 3
BAB III Hasil dan Pembahasan.................................................................... 15
BAB IV Kesimpulan dan Saran.................................................................... 37

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 38
LAMPIRAN

dalam disiplin ilmu yang ada pada nutrisi ikan. Olenya. pencernaan dan proses fisiologis lainnya. proses pencernaan dan kecernaan hingga pada tahap interaksi antara nutrien dengan berbagai bagian dari organisme hidup. Pemahaman dalam ilmu nutrisi ikan erat kaitannya dengan asupan nutrien melalui pemberian pakan. Pakan merupakan salah satu faktor terpenting dalam kegiatan produksi perikanan. 5 I. sintesis untuk pertahanan dan perawatan. Nutrisi ikan merupakan merupakan bidang ilmu yang mengkaji keterkaitan nutrien dengan ikan. Kebutuhan ikan terhadap nutrien merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi seutuhnya. Apabila energi yang digunakan berlebih maka akan digunakan untuk fungsi lainnya seperti beraktivitas dan reproduksi. pemanfaatan pakan oleh tubuh. hal ini karena fungsinya yang sangat vital dalam pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan. Pengetahuan akan nutrien ikan penting dalam menunjang kegiatan produksi budidaya perikanan. Ikan mengkonsumsi makanan dengan tujuan untuk memenuhi pembelanjaan energinya dan untuk menjalankan fungsi-fungsi maintanance tubuh seperti metabolisme. Kebutuhan ini juga menjadi kebutuhan mendasar yang akan mempengaruhi pertumbuhan ikan selama masa pemeliharaan. dan kontrol terhadap limbah yang dihasilkan. respirasi. Beberapa nutrient yang penting tercukupi dalam pakan ikan adalah . Pembahasan tersebut meliputi factor yang mempengaruhi kebutuhan dan keseimbangan nutrien pada ikan. lebih diarahkan pada kajian mengenai feed requirement dan feed ingredients. reproduksi. pelepasan energi yang diproduksi. Pada dasarnya pemenuhan nutrien tersebut dipengaruhi oleh komposisi/formulasi pakan yang dilakukan. PENDAHULUAN 1. pertumbuhan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ikan adalah pemenuhan nutiren ikan yang sesuai. termasuk komposisi pakan.1 Latar Belakang Pertumbuhan ikan merupakan faktor terpenting dalam pemeliharaan. Ikan mampu mencapai tahap pertumbuhan optimum saat seluruh komponen sesuai dengan kondisi habitat dimana ikan mampu untuk melakukan pertumbuhan secara optimal.

lemak/asam lemak. uji biologis pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) dan ikan mas (Cyprinus carpio) yang diberi pakan dengan kadar protein berbeda. Pengetahuan akan kebutuhan ikan terhadap suatu nutrien sangat penting untuk memaksimalkan pertumbuhan ikan. 1. retensi protein dan pertumbuhan ikan yang berbeda jenis penting untuk dilakukan. Protein merupakan zat organik yang terdiri dari berbagai jenis asam amino. umur dan kondisi habitatnya. 6 protein/asam amino. ukuran. Protein selain digunakan sebagai pertumbuhan. maka praktikum mengenai pengaruh pemberian kadar protein berbeda pada ikan untuk mengetahui nilai tingkat kecernaan. . Berdasarkan hal tersebut. karbohidrat/sakarida dan zat adiktif lain yakni vitamin dan mineral. retensi protein. juga digunakan sebagai sumber energi dan maintenance atau perbaikan jaringan serta transporter biologis.2 Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nilai tingkat kecernaan. Perbedaan ransum protein dalam pakan akan sangat mempengaruhi laju pertumbuhan ikan. Salah satu nutiren yang penting dalam kehadirannya di pakan ikan adalah protein. namun disisi lain setiap ikan memiliki kebutuhan protein yang berbeda yang dipengaruhi oleh jenis.

2. 2. mesin pembuat tepung. binder (PHB). air yang telah diaerasi 24 jam.1 Pembuatan Pakan (Repelleting) Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan adalah pakan komersial (pakan dengan kandungan protein tinggi dan protein rendah). plastik sampel dan kertas label.3 Proksimat Pakan dan Ikan Alat dan bahan yang digunakan dalam pengujian prosimat pakan yakni sebagai berikut: 1. 2.2 Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum nutrisi ikan lanjutan terbagi dalam beberapa alat berbeda disetiap tahapan praktikum.29 Desember 2014.2 Pemeliharaan Ikan Alat dan bahan yang digunakan dalam pemeliharaan ikan adalah pakan uji.6 Januari 2015 bertempat di Laboratorium Nutrisi Ikan.1 Waktu dan Tempat Paraktikum uji biologis dilaksanakan pada tanggal 24 November . timbangan dan spatula.2. oven. botol feses dan aerator. kromium (Cr2O3). Institut Pertanian Bogor. mesin pencetak pelet. baskom. uji proksimat dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 2014 . tissue dan aluminium foil. Kadar Air Alat yang digunakan pada prosedur kerja kadar air adalah cawan. oven. akuarium dimensi 60 cm x 30 cm x 40 cm. 7 II. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Adapun alat dan bahan yang digunakan tersebut adalah sebagai berikut: 2. selang sifon.2. ikan uji (ikan nila dan ikan mas). Bahan yang digunakan yakni sampel. METODE PRAKTIKUM 2. air. mixer.2. timbangan. eksikator. Depertemen Budidaya Perairan. timbangan. baskom. .

Adapun bahan yang digunakan adalah katalis. tabung reaksi dan rak tabung. H2SO4 0. granul dan H2SO4 pekat. bunsen dan spatula.5N. HNO3. 2. timbangan. vacuum pump. spektrofotometer. NaOH dan akuades. Kadar Protein Alat dan bahan yang digunakan dalam prosdur kerja protein baik pada tahapan oksidasi. timbangan. Sochlet. 8 2. spektrofotometer. Kadar Serat Kasar Alat dan bahan yang digunakan dalam prosdur kerja serat kasar adalah sampel bahan. penggiling daging. oven. petroleum benzene.4 Pengujian Eksresi Amoniak Alat dan bahan yang digunakan dalam prosedur kerja pengujian eksresi amoniak adalah sampel air. corong Buchner. Uji Krom (Uji Kecernaan) Alat dan bahan yang digunakan dalam uji krom adalah bahan sampel. sampel bahan. water bath 5. chloromethanol. . Phenate.. Erlenmeyer. NaOH 1. Clorox. Kadar Lemak Metode Sochlet Alat dan bahan yang digunakan dalam prosdur kerja lemak metode Sochlet adalah labu. homogenizer. HCl. selongsong. 4. kertas saring. pemberat. aceton. wadah. labu Kjeldhal. tanur. eksikator. saringan dan evaporator. MnSO4. timbangan dan pemanas (hotplate). 7.2. vacum pump. timbangan. cawan porselen. 3. alat destilasi dan alat titrasi. 6. dan bunsen. Kadar Abu Alat yang digunakan dalam prosedur kerja kadar abu yakni cawan. Kadar Lemak Metode Folch Alat dan bahan yang digunakan dalam prosdur kerja lemak metode Folch yakni sampel bahan yang telah dihaluskan. tissue dan aluminium foil. eksikator. destilasi maupun titrasi adalah timbangan. Bahan yang akan adalah sampel. MR-MB.3N. pemanas. pemanas (hotplate). Erlenmeyer. oven.

Persiapan wadah Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan ikan yaitu akuarium dengan dimensi 60 cm x 30 cm x 40 cm. Akuarium kemudian diisi air dengan ketinggian air 25 cm dan dilengkapi dengan airasi untuk menyuplai oksigen ke dalam air.3 Prosedur Kerja Prosedur yang dilakukan dalam praktikum nutrisi ikan lanjutan terbagi dalam beberapa prosedur kerja berbeda disetiap tahapan praktikum. . Sehingga untuk pengujian dengan pakan digunakan 4 akuarium berbeda dimana akuarium 1 untuk ikan nila dengan pakan A dan akuarium 2 ikan nila dengan pakan B. Setelah itu akuarium didesinfeksi dengan menggunakan larutan chlorin dengan konsentrasi 30 µl/L lalu dibilas dengan air hingga bersih. Bahan yang telah dicampur kemudian dimasukan dalam mesin pembuat pelet dan pelet yang telah dihasilkan kemudian dipanaskan dalam oven.3. Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut: 2.1 Pembuatan Pakan (Repelleting) Dalam praktikum ini digunakan dua jenis pakan. 2. carpio) dan ikan nila (O. yakni pakan A (protein rendah) dan pakan B (protein tinggi).3. kemudian tepung tersebut ditambahkan cromium (0. Pertama-tama akuarium disiapkan dengan cara sanitasi yaitu pembersihan akuarium dari partikel yang masih terdapat di dalamnya dengan cara penggosokan kaca sisi dan dasar lalu dibilas menggunakan air hingga bersih. Adapun prosedur kerja dalam peneliharaan ikan adalah sebagai berikut: 1. 9 2.2 Pemeliharaan Ikan Dalam praktikum ini digunakan dua jenis ikan berbeda yakni ikan mas (C. Pembuatan pakan (repelleting) dilakukan dengan pembuatan tepung pelet dari pelet komersial menggunakan mesin penepung. niloticus).6%) dan binder (1%) yang dicampur menggunakan mesin mixer dan dicampurkan dengan air (200 ml/kg). kemudian untuk akuarium 3 ikan mas dengan pakan A dan akuarium 4 ikan mas dengan pakan B.

Adapun aklimatisasi yang dilakukan adalah aklimatisasi suhu dan aklimatisasi kualitas air. Ikan kemudian ditebar di dalam akuarium.jumlah pakan setelah diberikan pada ikan (g) b. Setelah itu dilakukan aklimatisasi kualitas air dengan cara menambahkan air di dalam kantung dengan menggunakan air dari wadah pemeliharaan yang baru sedikit demi sedikit agar ikan dapat beradaptasi dengan perubahan kualitas air dalam wadah angkut dengan air pada wadah pemeliharaan yang baru. Setiap harinya ikan diberi pakan dengan frekuensi 3 kali per hari dengan metode sekenyangnya berdasarkan respon ikan terhadap pakan. Pemeliharaan ikan Ikan mulai diberi pakan 1 hari setelah penebaran. 10 2. Derajat kelangsungan hidup Kelangsungan hidup ikan diamati setiap hari hingga akhir perlakuan. Sebelum ditebar. Parameter pengamatan a. pada tahap awal ini dilakukan pengamatan terhadap tingkah laku ikan pasca tebar untuk melihat kondisi ikan terhadap lingkungan yang baru. selama pemeliharaan dilakukan pengelolaan air yaitu dengan pergantian air sebanyak 50 % per hari. Selain itu. 4. Perhitungan kelangsungan hidup dilakukan di akhir perlakuan dengan rumus sebagai berikut (Effendi 2004) : . dilakukan aklimatisasi yaitu pengadaptasian ikan pada media yang baru sehingga ikan tidak stress. Aklimatisasi suhu dilakukan dengan mengapungkan kantung plastik kemasan ikan dalam wadah pemeliharaan selama ± 10 menit hingga suhu di dalam kantung sama dengan suhu wadah pemeliharaan yang baru. Jumlah konsumsi pakan Jumlah konsumsi pakan (g) = jumlah pakan sebelum diberikanpada ikan (g). 3. Adaptasi ikan Ikan yang digunakan adalah ikan mas dan ikan nila dengan jumlah masing-masing 15 ekor/akuarium sebanyak 2 kali ulangan.

Persentase kadar air diperoleh dengan menggunakan rumus: ( X 1  A)  X 2 Kadar air (%)  x100% A . Efisiensi pakan Efisiensi pakan adalah pertambahan bobot per jumlah konsumsi pakan persatuan unit.3 Proksimat Pakan dan Ikan 1. bobot ikan ditimbang saat awal dan akhir perlakuan kemudian dihitung raatan bobotnya. Laju pertumbuhan harian (α) ikan dapat dihitung menggunakan rumus (Huisman 1987): Keterangan : Wt = bobot rataan akhir (gram) Wo = bobot rataan awal (gram) 2. Cawan dan bahan tersebut dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 4-5 jam. Efisiensi pakan dihitung dengan menggunakan rumus : EP (%) = { ((Bt + D)/F) – Bo]} x 100% Keterangan : EP = Konversi pakan F = Jumlah pakan kering yang diberikan Bt = Biomassa ikan pada waktu t (gram) Bo = Biomassa ikan pada awal pemeliharaan (gram) D = Bobot ikan yang mati selama pemeliharaan (gram) d. 11 Kelangsungan hidup (%) = Keterangan : Nt = Jumlah ikan akhir (ekor) No= Jumlah ikan awal (ekor) c. kemudian didinginkan di dalam eksikator dan ditimbang (X1). disimpan dalam eksikator dan ditimbang (X2). Bahan yang akan dianalisa ditimbang sebanyak 2-3 gram (A). Kadar Air Cawan dipanaskan pada suhu 105-110oC salama 1 jam. Laju Pertumbuhan Spesifik Untuk mengetahui laju pertumbuhan harian.3.

dimasukkan ke dalam labu Kjeldhal dan ditambahkan 10 ml NaOH 30%. Cawan dan bahan tersebut dipanaskan di atas pembakar bunsen sampai uapnya hilang. Kemudian disimpan dalam eksikator dan ditimbang (X2). Diambil 5 ml larutan hasil oksidasi. Tahap Oksidasi Bahan yang akan dianalisa ditimbang sebanyak 0. Persentase kadar abu dapat diperoleh dengan menggunakan rumus: (X 2  X1) Kadar abu (%)  x100% A Keterangan: X1 = berat cawan yang telah dipanaskan (g) A = berat sampel (g) X2 = berat sampel dan cawan yang telah dipanaskan 3. Setelah dingin diencerkan dengan akuades hingga volume 100 ml. kemudian didinginkan. b. dimasukkan ke dalam labu. 4 butir granul dan 10 ml H2SO4 pekat. sejak terjadi tetesan pertama. Tahap Destilasi 10 ml H2SO4 ditambah 2-3 tetes MR-MB dimasukkan ke dalam erlenmeyer 125 ml. kemudian disiapkan erlenmeyer di bawah alat destilasi. . ditambah 3 gram katalis. Dipanaskan hingga terjadi perubahan warna menjadi hijau bening. 12 Keterangan : A = berat cawan awal (g) B = berat sampel (g) C = berat cawan akhir (g) 2. Kadar Protein a. Kadar Abu Cawan dipanaskan selama 1 jam pada suhu 105-110oC. didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (X1). Panaskan lagi dalam tanur pada suhu 600oC sampai bahan berwarna putih semua (seperti abu). Bahan yang akan dianalisa ditimbang sebanyak 2-3 gram (A).5-1 gram (A). Dipanaskan hingga terjadi kondensasi (selama 10 menit).

hasil saringan diambil dan dibiarkan selama 24 jam agar lemak . Bahan yang akan dianalisa ditimbang sebanyak 2-3 gram (A). 0. Kadar Lemak Metode Folch Ikan yang akan dianalisa dicincang. dilarutkan dengan 20 ml chloromethanol. Labu dan lemak yang tersisa dipanaskan dalam oven ± 15 menit hingga 1 jam.05N hingga cairan berwarna hijau muda. Tahap Titirasi Hasil destilasi dititrasi dengan NaOH 0. kemudian digiling. Gilingan daging terdebut sebanyak A gram dimasukkan ke dalam wadah. Labu dilepaskan dan tetap dipanaskan hingga petroleum benzen menguap semua.25 x 20 Kadar Pr otein (%)  x100 % A Keterangan : Va = ml 0. dimasukkan ke dalam homogenizer selama 5 menit dengan kecepatan 5000 rpm.0007 x(Vb  Va) x6. dihitung volume titran yang digunakan (Va).05 N titran NaOH untuk sampel Vb = ml titran NaOH untuk blanko A = Bobot sampel 4. dilakukan prosedur yang sama terhadap blanko (Vb). wadah yang digunakan dibilas dengan menggunakan sisa chloromethanol sebanyak 20 ml. disimpan dalam eksikator dan ditimbang (X2). disimpan di dalam eksikator dan ditimbang (X1). 13 c. X 2  X1 Kadar Lemak (%)  x100% A Keterangan: A = berat sampel / bahan (g) X1 = berat labu awal (g) X2 = berat labu akhir (g) 5. kemudian masukkan ke dalam selongsong dan Sochlet serta letakkan pemberat di atasnya. Kadar Lemak Metode Sochlet Labu dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 1 jam. Hasil homogenisasi disaring dengan menggunakan vacum pump. dimasukkan petroleum benzen sebanyak 150-200 ml. Labu yang telah dihubungkan dengan Sochlet dipanaskan diatas water bath 70oC sampai cairan yang merendam bahan dalam Sochlet menjadi bening.

dan 25 ml aceton. disaring aadan dimasukkan ke dalam labu kemudian dievaporasi kemudian ditimbang (B gram). lemak diambil. Dipanaskan di atas bunsen dan selanjutnya pada tanur dengan suhu 600oC hingga berwarna putih.5N. 50 ml H2SO4 0. dipasang pada corong Buchner dan dihubungkan pada vacuum pump untuk mempercepat proses penyaringan. dipanaskan selama 30 menit.3N. dipanaskan pada suhu 105oC. Kadar Serat Kasar Sebanyak 0. 50 ml air panas. kertas saring dimasukan ke dalam cawan. Larutan dan bahan yang dipanaskan tersebut dituangkan ke dalam corong Buchner. simpan di eksikator dan ditimbang (X2).(kadar air+ serat kasar+ protein +abu+ lemak) . A Kadar Lemak (%)  x100 % B Keterangan: A = berat sampel awal B = berat labu akhir 6. kemudian didinginkan dan ditimbang (X3).5 gram bahan ditimbang (A) dimasukkan ke dalam erlenmeyer 350 ml dan ditambahkan 50 ml H2SO4 0. 14 mengendap. Kertas saring dipanaskan dan ditimbang (X1). Setelah 24 jam. Disiapkan cawan porselen yang sudah dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 1 jam.3N. (X 2  X1)  X 3 Serat kasar (%)   100% A Keterangan : X1 = berat awal kertas saring (g) X2 = berat kertas saring + cawan + bahan setelah dioven (g) X3 = berat kertas saring + cawan + bahan setelah ditanur (g) A = berat bahan / sampel (g) Adapun perhitungan nilai BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen) pada pengujian proksimat adalah BETN=100 %. kemudian bilas berturut-turut dengan 50 ml air panas. Erlenmeyer yang berisi bahan tersebut dipanaskan kemudian didinginkan dan ditambah lagi 25 ml NaOH 1.

2. pakan ikan diganti dengan pakan uji yang telah diberi Cromium oxyde dengan metode dan frekuensi yang sama. maka setelah pemberian pakan dilakukan penyifonan terlebih dahulu. Dimasukkan HCl sebanyak 3 ml sampai ada perubahan warnaa menjadi hijau. Agar tidak terjadi percampuran antara sisa pakan dan feses. Setelah itu larutan diangkat dan didinginkan. Pemeliharaan ikan dan pengumpulan feses Setelah 7 hari adaptasi. Pengumpulan feses tidak dilakukan dengan penyaringan pada ujung selang sifon melainkan feses disedot dan air pada selang sifon sedikit demi sedikit dikeluarkan lalu pada saat feses sudah berada pada ujung selang maka feses dimasukkan pada botol film sehingga volume air yang terbawa seminim mungkin. Kecernaan Total Kecernaan total dapat di hitung menggunakan rumus sebagai berikut (Cho et al 1982): . 15 7. Kemudian dipanaskan sampai ada perubahan warna menjadi orange dan ditunggu selama 10 menit. Adapun tahapan detailnya adalah sebagai berikut: 1. Larutan tersebut diencerkan menjadi 100 ml selanjutnya dispektrofotometri pada panjang gelombang 350 nm. Pengumpulan feses dilakukan dengan cara disifon lalu dikumpulkan pada botol film. kemudian ditambahkan HNO3 sebanyak 5 ml. Uji Krom (Uji Kecernaan) Uji krom ini dimulai dari bahan sampel ditimbang sebanyak 0. Pemeliharaan ikan dengan perlakuan ini dilakukan selama 30 hari pemeliharaan. Larutan sampel yang dibentuk kemudian dipanaskan hingga volumnya mencapai 1 ml.1 gram. dilakukan pengambilan feses selama pemeliharaan yaitu setiap ±30 menit setelah ikan diberi pakan. Pengelolaan air yang dilakukan selama pemeliharaan masih sama yaitu dilakukan penyifonan sisa pakan dan partikel tersuspensi yang mengendap serta dilakukan pergantian air sebanyak 50%/hari. Pada perlakuan pakan ini. Parameter pengamatan a.

Data Kualitas Pakan Komersial Praktikum Kode Kandungan Nutrisi (%) Pakan Protein Lemak Serat Kasar Abu Air A Min 28 Min 6 Maks 7 Maks 12 Maks 12 B Min 25 Min 5 Maks 7 Maks 12 Maks 12 2.3. 2. Laju Pertumbuhan Harian Pertumbuhan ikan selama penelitian dihitung berdasarkan selisih atara rataan bobot badan pada awal penelitian dengan rataan bobot badan pada akhir penelitian (Effendie. yaitu sebagai berikut Pertumbuhan Harian (g/ekor/hari) = (Wt – Wo) t Keterangan : Gw = pertambahan bobot (g) Wt = bobot (g) rata-rata ikan pada waktu t Wo = bobot (g) rata-rata ikan pada awal penelitian G = pertumbuhan harian t = jumlah hari percobaan . 1997). Kecernaan Protein Kecernaan protein dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Cho et al 1982): X ) X 100% Adapun data kualitas pakan komersial praktikum nutrisi ikan lanjutan yang digunakan dapat dilihat pada table berikut ini: Tabel 1. 16 b. Pada akhir percobaan. pakan yang telah diberikan dijumlahkan dan dikurangi sisa pakan yang telah dikeringkan menjadi data jumlah konsumsi pakan (JKP). Jumlah Konsumsi Pakan Jumlah konsumsi pakan ditentukan dengan menimbang jumlah pakan yang diberikan pada ikan uji selama percobaan dilakukan.4 Parameter Pengamatan Parameter yang diamati dalam praktikum nutrisi ikan lanjutan ini adalah sebagai berikut: 1.

17 3. Retensi Protein Retensi protein dapat dihitung berdasarkan rumus persamaan Takeuchi (1988): Keterangan: F = Kandungan protein tubuh pada akhir pemeliharaan (g) I = Kandungan protein pada awal pemeliharaan (g) P = Jumlah protein yang dikonsumsi ikan (g) 6. Kecernaan Total Nilai dari kecernaan total dapat dihitung berdasarkan rumus persamaan Takeuchi (1988): Kecernaan total = 100 –(100 x a/a’) Keterangan: a = % Cr2O3 dalam pakan (%) a’ = % Cr2O3 dalam feses (%) b = % nutrien (protein) dalam pakan (%) b’ = % nutrien (protein) dalam feses (%) 4. Efisisensi Pakan Nilai efisiensi pakan dihitung berdasarkan persamaan berikut (NRC 1993): [(Wt  D)  Wo] EP  x100% F Keterangan : Wt = bobot rata-rata individu pada waktu t (g) Wo = bobot rata-rata individu pada waktu awal (g) D = bobot total ikan yang mati selama pemeliharaan (g) F = jumlah pakan yang diberikan (g) . Kecernaan Protein Nilai dari kecernaan protein dapat dihitung berdasarkan rumus persamaan Takeuchi (1988): 5.

4.3. FCR (feed convertion ratio) Konversi Pakan atau feed convertion ration (FCR) dihitung dengan menggunakan rumus :  F  FCR     (Wt  D)  Wo  Keterangan: FCR = Konversi Pakan F = Jumlah pakan kering yang diberikan (gram) Wt = Biomassa ikan pada waktu t (gram) W0 = Biomassa ikan pada awal pemeliharaan (gram) D = Bobot ikan yang mati selama pemeliharaan (gram) 2. 1991) : Nt SR  x 100 % No Keterangan: SR = Kelangsungan hidup ikan Nt = Jumlah ikan pada akhir pemeliharaan N0 = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan .8 Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup dihitung berdasarkan persamaan (Zonneveld et al. 18 7.

79% dan pada kelompok 1 diperoleh kecernaan protein terendah yakni 75.70 g.78 76. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.00 89. Ikan mas yang diberi pakan B (protein tinggi) Berdasarkan table diatas menunjukkan bahwa jumlah konsumsi pakan (JKP) pada tiap kelompok pengujian berbeda-beda dan tertinggi pada kelompok 2 yakni 208.08 26. kecernaan total (KT). retensi protein (RP). Pada kelompok 2 diperoleh kecernaan total terendah yakni 39. 19 III. Ikan nila yang diberi pakan A (protein rendah) 2. Sedangkan pada laju pertumbuhan harian menunjukkan kelompok 3 memiliki laju pertumbuhan harian tertinggi dan pada kelompok 2 memiliki laju pertumbuhan harian terendah.59 KH(%) 100 90% 72. . kecernaan protein (KP).92 - RP(%) 63.54 EP (%) 11 38 18 7 FCR 9. efisiensi pakan (EP). Ikan nila yang diberi pakan B (protein tinggi) 3. kelangsungan hidup (KH) ikan nila dan ikan mas selama pemeliharaan 35 hari (5 minggu) Kelompok Parameter 1 2 3 4 JKP (g) 181.5 50 Keterangan: (-) : feses tidak didapatkan sehingga tidak dapat dianalisa dan dilakukan perhitungan 1.61 77.2 150 80.42 0.70 LPH(%) 0.50 14.83 0. Adapun kecernaan total dan kecernaan protein tertinggi pada kelompok 3 yakni 77.02 20.65 5. FCR. Retensi protein yang diperoleh berbanding lurus dengan efisiensi pakan dan berbanding terbalik dengan nilai dari FCR.61 KT(%) 51.2 g dan terendah pada kelompok 4 takni 80.92% untuk kecernaan total dan 26% untuk kecernaan protein.23 208.58 39.17 2.50 0.79 57. Sedangkan pada kelompok 4 tidak ditemukan feses sehingga tidak dapat dianalisa. Laju pertumbuhan harian (LPH). Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh dari kelompok 1 yakni mencapai 100% dan terendah pada kelompok 4 yakni 50%.1 Hasil Hasil pengamatan pada praktikum nutrisi ikan lanjutan ini dapat dilihat pada table berikut: Tabel 2 Jumlah konsumsi pakan (JKP). Ikan mas yang diberi pakan A (protein rendah) 4.78%.26 - KP (%) 75.

Ikan nila yang diberi pakan B (protein tinggi) 3.08 1. kemudian pada ikan akhir diperoleh 13. sedangkan pada ikan mas terjadi penurunan persentase.09 Kadar air (%) 76.94 5.18 Lemak (%) 3. terjadi penurunan komposisi lemak dari ikan awal. Pada pemeriksaan BETN.91% untuk kelompok 3 dan 13. ikan nila memiliki BETN awal 2.43 dan ikan mas 3. rata-rata menunjukkan peningkatan.26% untuk kelompok 1 dan 77.26 77. .12% pada kelompok 3 dan 78. Dengan data demikian menunjukkan adanya pemanfaatan protein yang diberikan melalui pakan yang efisiensinya dapat diketahui melalui feed convertion ratio.81%.28 1.09 untuk kelompok 1 dan 2.43 3. Pada proteinawal ikan nila yakni 12.12% pada akhir pengamatan diperoleh nilai tertinggi 14.44 0.48 4.06 2. Ikan nila yang diberi pakan A (protein rendah) 2.31 76.03 5.12 Kadar serat kasar (%) 0.28% pada kelompok 3 dan 1.12 78. dan pada kadar abu masing-masing ikan mengalami penurunan persentase. kemudian ikan mas 76.14 0. Pada kadar serar kasar terjadi peningkatan dari ikan nila awal dan ikan nila akhir.40 5.09 2.71 1.09 2.12% untuk kelompok 2 pada ikan nila.11 0.61 13.09% pada kelompok 4. kemudian menurun menjadi 1.24 Kadar abu 5.65 13. 20 Hasil pengujian proksimat. Adapun kadar air pada ikan nila awal adalah 76. komposisi nutrien seluruh ikan pada akhir pengamatan.71% dan ikan nila 3. Adapun ikan mas pada ikan awal diperoleh komposisi protein tubuh 11.69 2.12% pada kelompok 4.81 14. diperoleh data komposisi nutrient tubuh ikan sebagai berikut: Tabel 3 Komposisi nutrien tubuh ikan selama pemeliharaan 35 hari Ikan awal Kelompok Parameter Nila Mas 1 2 3 4 Protein (%) 12.78 76.78% pada kelompok 2. dan juga pada ikan mas yakni 2.30 76.18% untuk kelompok 4.12 2.06.09% pada ikan awal.12 11.31%.36 BETN 2. kemudian menurun pada ikan akhir.61% pada kelompok 2.72 0.91 13.40 0. Ikan mas yang diberi pakan B (protein tinggi) Berdasarkan tabel 2 diatas.01 Keterangan: 1. serta pada ikan mas akhir menjadi 76. Sedangkan pada lemak.30% dan pada ikan nila akhir menjadi 76.25 2.65% pada kelompok 1 dan terendah 13.67 5. Data yang diperoleh dari ikan mas yakni 2. Ikan mas yang diberi pakan A (protein rendah) 4.

24%.59 4.34% pada pakan B.91 11.59% pada pakan A dan 4.67 AIR 9.04 43.07 7.24 Abu 10. Untuk serat kasar pakan A yakni 6.34 Serat kasar 9.20 Keterangan: A) Pakan yang mengandung protein rendah B) Pakan yang mengandung protein tinggi Berdasarkan tabel 3 diatas.79 27.84 BETN 51.14 4.91 BETN 47. Sedangkan kadar abu pakan A yakni 10.34% pada pakan B.92%.91% dan pakan A hanya 9.20%. Hasil pengujian proksimat.86 Abu 5.70 Serat kasar 6. Untuk serat kasar pakan A yakni 9.07% dan pada pakan B 7.73 46.70% pada pakan B.04% pada pakan B. diperoleh data komposisi nutrient pakan perlakuan untuk bobot basah sebagai berikut: Tabel 4 Hasil proksimat pakan perlakuan (bobot basah) Perlakuan Komposisi Nutrien (%) A B Protein 22.86%.15 7.06 29.91% dan pada pakan B 11. data yang diperoleh dari hasil uji proksimat pakan perlakuan untuk bobot basah yakni untuk protein pakan sebesar 22.84%.59% dan pada pakan B 6.92 10.14% pada pakan A dan 4.34 Lemak 6. Selanjutnya untuk kadar lemak yakni 5.88 Keterangan: A) Pakan yang mengandung protein rendah B) Pakan yang mengandung protein tinggi Untuk komposisi nutrient pakan berat kering diperoleh data pada tabel 4 diatas yang menunjukkan kadar protein pakan A sebesar 25.67%. Sedangkan kadar abu pakan A yakni 5.04% dari pakan B yakni hanya 43.79% pada pakan A dan 27.15% dan pada pakan B 7.04 Lemak 5.06% dan 29. diperoleh data komposisi nutrient pakan perlakuan untuk bobot kering sebagai berikut: Tabel 5 Hasil proksimat pakan perlakuan (bobot kering) Perlakuan Komposisi Nutrien (%) A B Protein 25. Selanjutnya untuk kadar lemak yakni 6. 21 Hasil pengujian proksimat. kemudian pada kadar BETN pakan A lebih tinggi yakni 47. . Pada kadar air pakan B lebih tinggi yakni 10.59 6.

2471 2. Kemudian pada jam ke-8 rata-rata laju eksresi ammonia setiap kelompok mengalami penurunan.1176 3.1412) 1.8941 2.3647 5.6 III B .4000 III B (0.1529 2.8 III A .0941) 2.0353) 1. 28 27 26 28.6 IV A .7 IV B .7 IB .0588) 1.6941 2.73% dari pakan B yakni hanya 46.6706 2. Adapun hasil pengukuran suhu pada jam berbeda dapat dilihat pada Tabel 7 berikut: Tabel 7 Hasil pengukuran suhu pada jam berbeda Jam Ke- Perlakuan 0 2 4 6 8 IA .8 II B .0471 3.3529 4.1412 II B (0.7 Keterangan: I: Kelompok 1 pakan A ikan nila II: Kelompok 2 pakan B ikan nila III: Kelompok 3 pakan A ikan mas IV: Kelompok 4 pakan B ikan mas .88%.6706 3. 27 27 26 27. 27 27 26 27.8353 II A (0.1647) 1.4824 Keterangan: I: Kelompok 1 pakan A ikan nila II: Kelompok 2 pakan B ikan nila III: Kelompok 3 pakan A ikan mas IV: Kelompok 4 pakan B ikan mas Berdasarkan hasil penukuran konsentrasi TAN yang tersaji pada table 6 diperoleh data eksresi ammonia rata-rata setiap kelompok mengalami peningkatan tertinggi pada jam ke-6.1647) 2.4706 2.5294 2. 27 27 26 27.3176 2. 22 kemudian pada kadar BETN pakan A lebih tinggi yakni 51.6353 3.8118 4. Tabel 6 Hasil pengukuran konsentrasi TAN (mg/l) pada jam berbeda Jam Ke- Perlakuan 0 2 4 6 8 IA (0.3294 2.2235 IB (0. kecuali untuk kelompok IA dan IIA yang mengalami peningkatan tertinggi pada jam ke-4.1059 4.9176 IV B (0.0353) 2.2941 3.3412 3.9647 2.9412 2.4471 III A (0.5412 3. Berikut ini untuk hasil pengukuran TAN atau eksresi ammonia pada jam berbeda. 27 27 26 27. 27 27 26 27.1529 2. 27 27 26 27. 28 27 26 27.0235) 1.6471 IV A (0. Hasil perhitungan jumlah konsumsi pakan dan efisiensinya beserta uji proksimat didukung oleh data hasil ekskresi amoniak.1529 2.7 II A .

05 7.06 6.17 kemudian terus mengalami penurunan hingga pada pengamatan jam ke-8 kisaran pH dari setiap kelompok dari 6.44 6.49.8oC.34 6.58 6.22 II B 7.31 7.19 III A 7.50 6.09 6.43 6. Suhu pada dasarnya mempengaruhi laju eksresi ammonia dan pH di perairan.25 6.47 7.51 6.17 6.22 6. karena kandungan nutrien pakan akan .41 II A 8. Pemanfaatan protein dan pakan akan efisien bila diimbangi oleh energi dalam jumlah cukup sehingga sebagian besar protein pakan digunakan untuk pertumbuhan. sangat penting diketahui kebutuhan optimum ikan sebelum akhirnya diberikan pakan. Kisaran pH tertinggi ditunjukkan pada ikan mas pada pengamatan jam-8.49 7.34 IV A 8.43 6. Bagi ikan. 23 Berdasarkan data kisaran suhu pada Tabel 6 diatas menunjukkan kisaran suhu rata-rata semua kelompok dari jam ke-2 sampai ke-8 berkisar dari 26-28. rata-rata kisaran pH setiap kelompok dari pengamatan jam ke-2 sampai ke-8 berkisar antara 6. 3.2 Pembahasan Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan.41 6.15 7.19 hingga 7.31 hingga 7. oleh sebab itu dilakukan pula pengamatan pH air pada jam berbeda. protein merupakan sumber tenaga paling utama.81 6.12 7.01 6.09 7. Pada pengamatan awal kisaran pH dari 7.17 6.29 IB 7. Oleh sebab itu. Suhu tertinggi terjadi pada pengamatan jam ke-8 kelompok IIA dan rata-rata peningkatan suhu terjadi pada pengamatan jam ke-8.47 6.31 6.02 IV B 7.31 7. baik untuk menghasilkan tenaga maupun untuk pertumbuhan.28 III B 6.15 Keterangan: I: Kelompok 1 pakan A ikan nila II: Kelompok 2 pakan B ikan nila III: Kelompok 3 pakan A ikan mas IV: Kelompok 4 pakan B ikan mas Berdasarkan hasil pengukuran pH.12 6.54 6.58 6.44 6. Rata-rata data kisaran pH mengalami penurunan dari setiap jam pengamatan.15.01 hingga 8. Adapun hasil pengukuran pH pada jam berbeda dapat dilihat pada table berikut ini: Tabel 7 Hasil pengukuran nilai pH pada jam berbeda Jam Ke- Perlakuan 0 2 4 6 8 IA 7.56 6.37 6.

Hal ini diduga disebabkan karena ukuran ikan yang lebih besar dan kebutuhan pakannya tinggi. ditemukan jumlah konsumsi pakan tertinggi terdapat pada ikan nila dengan pemberian protein pakan tinggi.2 Laju Pertumbuhan Harian Laju pertumbuhan harian adalah persentase pertambahan berat ikan yang terjadi setiap harinya. komposisi pakan termasuk nutrient dan kualitas bahannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hoar (1979) bahwa faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi pada ikan adalah feeding habit.2. dan tingkat kesukaan. 24 mempengaruhi proses biologi ikan lain selain pertumbuhan termasuk reproduksi dan maintenance. ukuran ikan dan lingkungan pemeliharaan. Selain itu tingginya kadar protein pakan menyebabkan terjadi peningkatan energi ikan yang memicu peningkatan laju pengosongan lambung. 3. Sebagaimana diketahui bahwa protein merupakan sumber energi utama pada ikan. Hal ini bisa dilihat dari data awal yakni jumlah konsumsi pakan ikan yang menunjukkan perbedaan pada masing-masing perlakuan. konsentrasi oksigen. ukuran ikan. berat ikan. umur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Subandiyono (2009) bahwa tingkat konsumsi pakan ikan sangat dipengaruhi oleh jenis ikan. tingginya protein menyebabkan pasokan energi meningkat sehingga proporsi energi yang digunakan untuk mengkonsumsi pakan lebih tinggi yang pada akhirnya meningkatkan konsumsi pakan. Adanya perbedaan konsumsi pakan ikan sebagaimana yang . suhu. 3. sehingga jumlah pakan yang dikonsumsi juga semakin banyak karena diberikan dengan metode at satiation.1 Jumlah Konsumsi Pakan Konsumsi pakan merupakan faktor penentu pertumbuhan ikan seangkan konversi pakan merupakan istilah yang menunjukkan perbandingan antara jumlah pakan yang dikonumsi dengan pertumbuhan. Dalam praktikum ini pengaruh kadar protein berbeda mempengaruhi berbagai parameter yang keseluruhannya saling berhubungan.2. status fifiologi. Berdasarkan data hasil pengukuran konsumsi pakan. Perbedaan jumlah konsumsi pakan yang berbeda tersebut diduga karena adanya pengaruh dari beberapa faktor diantaranya perbedaan jenis.

Gambar 1 Grafik Laju Pertumbuhan Harian Hasil pengamatan menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian setiap ikan berbeda. dan penggunaan energi dilevel metabolisme yang lebih efisien. maka semakin tinggi energi yang diretensi untuk pertumbuhan. Pertambahan bobot harian pada ikan mas yang lebih tinggi namun dengan kadar protein rendah. secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap proses metabolisme dan ransum energi ikan yang pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lovell (1989) bahwa sebelum terjadi pertumbuhan. dan ikan mas yang diberikan protein rendah memiliki laju pertumbuhan harian yang lebih tinggi dibanding dengan perlakuan lain yakni 0. sehingga pertumbuhan harian ikan mas selama masa pemeliharaan lebih baik. kemudian kelebihan energi dalam pakan akan digunakan untuk pertumbuhan.83%. Semakin sedikit energi yang digunakan dalam level metabolisme. Ikan mas pada perlakuan kelompok 3 memiliki koefisien cerna atau kecernaan total yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain yakni 57. Berdasarkan hal tersebut. telah diketahui bersama bahwa terjadinya peningkatan pertumbuhan harian disebabkan oleh koefisien cerna dan efisiensi penggunaan energi yang terpakai dalam level metabolisme.06 bobot kering merupakan kebutuhan optimum .26%.79 % pada bobot basah dan 25. diduga karena pemberian pakan dengan kandungan protein 22. kebutuhan energi untuk maintenance harus terpenuhi terlebih dahulu. 25 diuraikan diakatas.

Dalam pakan terdapat zat-zat makanan yang jika dikonsumsi oleh ikan. perubahan protein menjadi asam lemak dan glukosa serta untuk aktifitas lainnya dan pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan.2. maka akan terbagi dalam dua bentuk yakni zat makanan yang tidak diekskresikan .3 Kecernaan Total Kecernaan merupakan kemampuan dari suatu bahan yang dimanfaatkan oleh ikan. 26 ikan akan kadar protein tubuh. Hal ini akan diikuti oleh nilai konversi pakan. sehingga nilai efisiensi juga meningkat. Data hasil pengukuran kecernaan protein juga menunjukkan bahwa kecernaan pada ikan mas lebih tinggi meskipun dengan protein yang rendah. Hal ini disebabkan karena protein yang berlebih lebih rendah sehingga energi yang diperlukan untuk aktifitas defisiensi protein juga lebih rendah dan pada akhirnya energi yang ada dalam tubuh lebih optimal digunakan untuk pertumbuhan. sehingga efisiensi protein yang berasal dari pakan lebih tinggi dimanfaatkan oleh ikan mas dibandingkan dengan ikan mas pada perlakuan kelompok 4 dan ikan nila. Lebih lanjut dijelaskan bahwa protein merupakan molekul kompleks yang terdiri dari asam amino esensial dan asam amino non esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Satpahty et al. Ikan yang diberikan pakan dengan kebutuhan protein yang optimum akan memberikan pengaruh positif pada peningkatan pertumbuhan secara maksimal. Kecernaan pakan ikan erat kaitannya dengan efisiensi pakan. (2003) bahwa nilai laju pertambahan bobot harian ikan erat hubungannya dengan nilai efisiensi pakan. sedangkan semakin baik efisiensi pakan maka nilai pertumbuhan ikan akan semakin meningkat. Menurut Pandian (1989) kebutuhan protein dan pertumbuhan ikan memiliki hubungan yang linear hingga pada dosis optimum. Kelebihan protein dalam tubuh justru akan menyebabkan meningkatnya aktifitas biologis tubuh yang memicu peningkatan penggunaan energi lebih banyak. baik untuk defisiensi. Dengan demikian. Pakan yang berkualitas baik dan dapat dicerna dengan baik oleh ikan mempunyai nilai efisiensi yang tinggi dan nilai konversi rendah. bila laju pertambahan bobot harian meningkat maka pakan yang diberikan dapat dimanfaatkan seefisien mungkin untuk pertumbuhan ikan. kadar protein dan rasio protein terhadap energi pakan harus sesuai dengan kebutuhan ikan agar pakan buatan dapat efisien dan memberikan pertumbuhan yang optimal. 3.

Tingginya nilai kecernaan pada ikan mas inilah yang menyebabkan ikan mas memiliki laju pertumbuhan harian yang lebih tinggi. sehingga kecernaan total pada ikan nila dan ikan mas yang diberikan pakan A lebih tinggi. dan lamanya pakan yang dimakan bereaksi dengan enzim pencernaan. Hal ini diduga karena pakan A memiliki komposisi serat yang lebih rendah dibanding dengan komposisi serat pakan B. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh kecernaan protein setiap ikan berbeda-beda. Hal ini diduga karena ikan mas memiliki saluran pencernaan yang sesuai dengan formulasi pakan yang diberikan baik secara fisik maupun kimiawi. yaitu : keberadaan enzim dalam saluran pencernaan ikan. Data juga menunjukkan bahwa kecernaan total tertinggi terdapat pada ikan mas dengan pemberian pakan protein rendah. Telah diketahui bersama bahwa factor-faktor yang mempengaruhi kecernaan adalah diantaranya jenis ikan dan umur ikan yang berkaitan dengan kondisi fisiologis saluran pencernaannya. (2008) menjelaskan bahwa kemampuan ikan untuk mencerna pakan yang dikonsumsi bergantung kepada ada atau tidaknya enzim yang sesuai dan kondisi yang dibutuhkan enzim tersebut untuk bereaksi dengan substrat dalam saluran pencernaan ikan. Masing-masing faktor tersebut akan dipengaruhi oleh faktor sekunder yang berhubungan dengan spesies ikan. Dalam praktikum ini digunakan perhitungan kecernaan total secara tidak langsung yakni dengan menggunakan bahan makanan yang tidak bisa tercerna (kromium). 27 ke dalam feses dan zat makanan yang dapat diserap oleh saluran pencernaan sehingga dapat digunakan lebih lanjut untuk proses metabolisme. dan komposisi serta jumlah pakan yang dikonsumsi (Hepher 1988). kondisi lingkungan pencernaan. tingkat aktivitas enzim-enzim pencernaan. umur dan ukuran ikan. Kecernaan dipengaruhi oleh tiga faktor. sehingga kecernaan nutrient pada ikan mas lebih baik dibandingkan dengan ikan nila. Kecernaan pada pakan dengan kadar protein rendah lebih tinggi dibandingkan dengan pakan yang memiliki kadar protein tinggi. Tinggi rendahnya kecernaan bahan pakan memberikan arti seberapa besar bahan pakan itu mengandung zat-zat makanan dalam bentuk yang dapat dicernakan ke dalam saluran pencernaan. Selisih antara zat makanan yang dikonsumsi dengan yang dieksresikan dalam feses merupakan jumlah zat makanan yang dapat dicerna. Aspek fisiologi . Haetami dkk.

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa kecernaan protein tertinggi pada ikan mas dengan pemberian pakan protein rendah yakni 77. yang formulasinya belum mengandung sumber nutrien yang tepat dan lengkap bagi ikan sehingga tidak dapat memacu pertumbuhan pada tingkat optimal. hidrogen. Persentase kecernaan protein pada ikan akan meningkat jika kecernaan total ikan juga meningkat. Nilai kecernaan menyatakan banyaknya komposisi nutrisi suatu bahan maupun energi yang dapat . lambatnya pertumbuhan diduga disebabkan dua faktor utama. Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. yaitu kondisi internal ikan sehubungan dengan kemampuan ikan dalam mencerna dan memanfaatkan pakan untuk pertambahan bobot tubuh. nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor (Desrizal. (1992) bahwa kecernaan adalah bagian pakan yang dikonsumsi dan tidak dikeluarkan menjadi feses.2. hal ini karena kecernaan protein akan mempengaruhi besaran protein tercerna yang kemudia akan mempengaruhi protein yang terbuang dan protein yang diretensi. Kecernaan protein sangat menentukan efisiensi pemanfaatkan protein oleh tubuh.4 Kecernaan Protein Lebih spesifik dijelaskan bahwa kecernaan protein merupakan kadar protein yang diperoleh dari hasil pengurangan protein intake dan protein yang terbuang dalam feses. 2011). Kemdian kondisi eksternal pakan. dkk (2000). sehingga ikan mas memiliki rasio protein yang lebih tinggi dimanfaatkan oleh tubuh ikan dalam level metabolisme. Karena pada dasarnya kecernaan total berpengaruh pada kecernaan protein. Diketahui bersama bahwa protein merupakan nutrient yang utama dalam penggunaannya sebagai energi dalam tubuh selain untuk fungsi biologis dan structural.97%. Kecernaan protein akan mempengaruhi rasio protein yang dimanfaatkan nantinya dalam proses metabolism. oksigen. 3. Menurut Affandi et al. Molekul protein mengandung karbon. 28 pencernaan dan pakan merupakan faktor penting untuk memacu pertumbuhan. karena menurut Wiadnya. Tingginya kecernaan protein pada ikan mas ini disebabkan tingginya kecernaan total.

5 Retensi Protein Retensi protein merupakan gambaran dari banyaknya protein yang diberikan. ukuran ikan juga mempengaruhi kemampuan ikan dalam mencerna protein. 3.. (1985) menyatakan serat kasar akan berpengaruh terhadap nilai kecernaan protein. dan cara pemberian pakan. Retensi protein itu sendiri merupakan hasil konsumsi protein yang dikurangi ekskresi protein dan protein endogenous. kecernaan komponen serat semakin baik. sementara menurut Silva (1989).2. Menurut NRC (1993) yaitu kecernaan protein oleh ikan secara umum sebesar 75-95%. yang dapat diserap dan dimamfaatkan untuk membangun ataupun memperbaiki sel-sel tubuh yang sudah rusak. 29 diserap dan digunakan oleh ikan (NRC. Komposisi pakan tersebut salah satunya adalah protein. nilai kecernaan dipengaruhi oleh komposisi pakan jumlah konsumsi. Retensi protein pada ikan nila diduga lebih tinggi dikarenakan jumlah protein yang diberikan dalam pakan lebih tinggi dibandingkan dengan pakan B. sehingga menyebabkan semakin berkurangnya masukan protein yang dapat dicerna. Retensi protein ini juga dipengaruhi oleh protein yang masuk ke dalam tubuh (protein intake) dan protein yang hilang dalam level metabolisme. empedu dan peluruhan sel saluran pencernaan. 1993). kecernaan merupakan suatu evaluasi kuantitatif dari pemanfaatan pakan maupun komponen nutrisi. et al. Berdasarkan hasil pengamatan retensi protein pada ikan nila yang diberikan pakan dengan kandungan protein tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Sedangkan protein endogenous ialah protein yang terkandung dalam ekskreta yang berasal dari selain bahan ransum yang terdiri dari peluruhan sel mukosa usus. Kecernaan protein ikan pada masing-masing perlakuan masih dalam kategori normal yakni berkisar antara 75%-77%. Oleh sebab itu diduga bahwa ikan nila lebih sedikit menggunakan protein dalam . Tingkat kecernaan pakan dibagi menjadi dua yaitu kecernaan total dan protein. Kecernaan protein pada pakan ikan berbeda-beda bergantung kandungan serat kasar. Cho. et al. status fisiologi. serta dimamfaatkan tubuh bagi metabolisme sehari-hari. Selain faktor ukuran ikan. (1980) semakin besar ukuran ikan. Serat kasar yang tinggi menyebabkan porsi ekskreta lebih besar. Selain itu. Menurut Wooton.

Sehingga semakin banyak protein intake ikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Satpathy et al. Sehingga diduga bahwa pemberian pakan yang efisien akan meningkatkan retensi pakan termasuk . yaitu pertambahan bobot tubuh yang cepat pada saat ikan diberi makan kembali setelah dipuasakan. (1989) menyatakan bahwa protein merupakan bagian terbesar dari daging ikan. 3. Kualitas protein pakan ditentukan oleh kandungan asam amino essensialnya (Lovell 1989). efisiensi penggunaan pakan mengalami peningkatan pada ikan yang mengalami pertumbuhan kompensasi. Nilai ini mengindikasikan bahwa retensi protein berhubungan dengan efisiensi pakan. Protein merupakan salah satu zat makanan yang dibutuhkan ikan dan perlu dipenuhi guna mencapai pertumbuhan yang optimum.6 Efisiensi Pakan dan Feed Convertion Ratio Efisiensi pakan merupakan persentase jumlah pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ikan selama masa pemeliharaan. energi dapat dicerna yang dikandung di dalam pakan dan kualitas proteinnya (Watanabe 1988).2. tingkat pemberian pakan. suhu air. protein adalah sumber energi utama untuk semua jenis ikan dan sayangnya ikan tidak mampu mengkonsentrasikan protein seefisien hewan berdarah panas. Sedangkan kebutuhan akan protein dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ukuran ikan. bahwa tingkat protein pakan optimal yang dibutuhkan untuk ikan adalah dua sampai tiga kali lebih tinggi daripada hewan berdarah panas. (2003) mengemukakan bahwa pertumbuhan ditentukan oleh input protein sedangkan menurut Zonneveld et al. Berdasarkan hasil pengamatan. (1991). 30 bentuk energi untuk proses metabolisme jika dibandingkan dengan ikan lainnya. Protein harus selalu tersedia cukup dalam pakan yang diberikan pada ikan. Halver et al. dalam menentukan kebutuhan nutrisi. Pada umumnya pertumbuhan dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas protein dalam pakan. maka retensi protein juga akan semaking tinggi. Diketahui sebelumnya bahwa retensi protein tertinggi adalah pada perlakuan kelompok 2 dengan pemberian pakan protein rendah. sehingga protein yang diretensi lebih tinggi. ditemukan bahwa efisiensi pakan berbeda setiap perlakuan. kebutuhan protein perlu diketahui terlebih dahulu. Jelaslah. ketersediaan dan kualitas pakan. Oleh karena itu. namun pada pemberian pakan dengan protein rendah memiliki efisiensi pakan yang tinggi pada ikan nila yakni sebesar 38%.

Sehingga lebih banyak sisa pakan yang terbuang diperairan yang menyebabkan tingkat kematian pada ikan mas kelompok 4 lebih tinggi. Sehingga limbah amonia tidak menjadi faktor yang menyebabkan kematian pada ikan. Menurut Satpahty et al. Pemanfaatan pakan yang lebih efisien ini menyebabkan limbah yang terbuang dimedia pemeliharaan tereduksi. Hal ini diduga bahwa pemberian protein rendah pada ikan nila dapat meminimalisir peningkatan kadar amonia dalam air yang berasal dari pakan. Berdasarkan hasil perhitungan feed convertion ratio menunjukkan bahwa nilai terendah adalah pada ikan nila dengan pemberian pakan protein rendah. Pakan yang berkualitas baik dan dapat dicerna dengan baik oleh ikan mempunyai nilai efisiensi yang tinggi dan nilai konversi rendah. pada ikan nila lebih tinggi dan nilai FCR nya lebih rendah. sedangkan yang teredah pada kelompok 4 dengan persentase tingkat kelansungan hidupnya 50%. hal ini bisa dilihat dari kecernaan proteinnya yang rendah dan efisiensi pakannya yang rendah. Hal ini akan diikuti oleh nilai konversi pakan. Sedangkan pada pemberian protein tinggi.7 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup ikan pada masa pemeliharaan 35 hari (5 minggu) menunjukkan bahwa perlakuan pada kelompok 1 yakni ikan nila dengan pemberian pakan protein rendah dapat mencapai tingkat kelangsungan hidup 100%. ikan mas pada perlakuan kelompok 4 lebih sukar memanfaatkan protein dalam pakan. 3. (2003) bahwa nilai laju pertambahan bobot harian ikan erat hubungannya dengan nilai efisiensi pakan. sehingga pemanfaatan pakan lebih baik. Sehingga hal ini dapat menunjukkan hubungan yang linear jika efisiensi pakan tinggi. FCR (Food Convertion Ratio) yaitu perbandingan (rasio) antara berat pakan yang telah diberikan dalam satu siklus periode budidaya dengan berat total (biomass) ikan yang dihasilkan pada saat itu. 31 retensi protein dan pemberian pakan dengan protein tinggi akan meningkatkan retensi protein jika kecernaan proteinnya normal. sehingga nilai efisiensi juga meningkat. protein yang diretensi juga tinggi sehingga pertumbuhan tinggi diikuti dengan nilai feed convertion ratio yang rendah. Selain itu jika dilihat dari nilai efisiensi pakan.2. . bila laju pertambahan bobot harian meningkat maka pakan yang diberikan dapat dimanfaatkan seefisien mungkin untuk pertumbuhan ikan.

pada tingkat konsentrasi 0. kekurangan makanan. ikan akan terlihat malas dan bernafas dengan mulut yang berada di permukaan air (Boynd 1990). 32 Amonia merupakan senyawa yang awalnya dilepaskan dari insang ikan sebagai kotoran dari hasil pencernaan protein. 3. kompetisi antar spesies. Jika protein tidak tercerna tinggi. Kadar Air Kadar air dalam pakan mempengaruhi daya apung pakan. Sumber lain Amonia dengan jumlah lebih sedikit dihasilkan dari reaksi bakteri pada kotoran padat dan urea (urin). maka akan dideaminasi ke lingkungan budidaya dan biasanya akan menyebabkan terganggunya fungsi fisiologis ikan bahkan menyebabkan kematian (Rust 2002). Menurut Nikolsky (1963) dalam Masiani (1997) menyatakan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh umur ikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wedemeyer (1996) bahwa pada budidaya ikan selain keberadaan oksigen. meningkatnya predator dan parasit. Fungsi utama protein adalah untuk pertumbuhan. Hal ini karena amonia dapat memutus transfer oksigen dari insang ke darah dan dapat menyebabkan kerusakan insang yang lama dan tiba-tiba.2. dalam pertumbuhan pengaruh utama penambahan berat adalah danging ikan. Hal ini disebabkan pakan apung memiliki kadar air . kemampuan ikan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. kelangsungan hidup juga diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni perbedaan spesies dan sistem imun ikan. Selain dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa kondisi lingkungan dan keberadaan patogen. Protein merupakan sumber amonia yang berpotensi menyebabkan kematian jika kadarnya terlalu tinggi di periran. Biasanya. sehingga mengurangi lapisan lendir luar dan merusak permukaan intestinal dalam.8 Proksimat Pakan dan Ikan a.18 mg/l dapat menghambat pertumbuhan ikan. sifat biologi lainnya yang berhubungan dengan daur hidup penanganan dan penangkapan. berdasarkan hasil penelitian pakan apung memiliki kadar air lebih rendah dibandingkan dengan pakan tenggelam. Mucous yang memproduksi membran dapat rusak. NH3 merupakan faktor penghambat pertumbuhan. Secara umum makanan yang baik diharapkan mempunyai protein yang optimum dan sesuai dengan kebutuhan ikan.

akan terjadi penguraian terlebih dahulu dipermukaan air sebelum akhirnya pakan dikonsumsi ikan. Apabila suatu sampel di dalam cawan abu porselen dipanaskan pada suhu tinggi . Sehingga untuk pemberiannya..92% untuk pakan A dan 10. Kelembapan relatif diruang penyimpanan berpengaruh terhadap kadar air pakan. maka kemampuan tenggelam akan semakin kecil (Gunadi. secara disengaja maupun tidak disengaja. dianjurkan pada ikan-ikan yang bergerak dikolom air dan dipermukaan. Semakin rendah kadar air. 33 sebesar 8.91 untuk pakan B. Oleh sebab itu. Pakan yang ditumbuhi jamur Aspergillus falvus sebaiknya tidak debrikan pada ikan karena mengandung racun. Kadar abu suatu bahan ditetapkan pula secara gravimetri. Selain itu. Penentuan kadar abu merupakan cara pendugaan kandungan mineral bahan pangan secara kasar. pakan akan memiliki daya simpan yang lama. diperoleh kadar air bobot basah sebesar 9. Kondisi ini juga akan mencegah terjadinya pertumbuhan jamur karena kadar air yang tinggi. Berdasarkan hasil uji proksimat pada pakan yang telah dibuat. Bobot abu yang diperoleh sebagai perbedaan bobot cawan berisi abu dan cawan kosong. Abu dan mineral dalam bahan pangan umumnya berasal dari bahan pangan itu sendiri (indigenous). sedangkan pakan tenggelam sebesar 13. abu terlarut dan abu tak larut. pakan akan lebih tahan terhadap jamur dan aman bila diberikan pada ikan. Kadar air yang demikian tergolong sedang dan membuat pakan akan melayang dan tenggelam. sebab jika ikan bergerak di dasar. Tetapi ada beberapa mineral yang ditambahkan ke dalam bahan pangan. pakan yang ditumbuhi jamur akan memiliki aroma yang tidak disukai (off flavor) dan perubahan warna (diskolorisasi). dkk.06%. Kadar Abu Abu merupakan residu anorganik yang didapat dengan cara mengabukan komponen-komponen organik dalam bahan pangan.27%. Abu dalam bahan pangan dibedakan menjadi abu total. Menurut Afrianto dan Evi (2005) bahwa jamur akan tumbuh apabila kadar air pakan buatan lebih dari 15%. Apabila kelembapan relatif lebih dari 65%. selain itu dengan konsentrasi kadar air demikian. pakan akan menyerap uap air dari lingkungan sekitarnya sehingga kadar air meningkat dan akan segera ditumbuhi jamurproduksi senyawa mikotoksin serta susut bobot. 2010). b. Jumlah dan komposisi abu dalam mineral tergantung pada jenis bahan pangan serta metode analisis yang digunakan.

Ti. dan lain-lain. kadar abu pada pakan berkisar 5.04 pada pakan B dengan bobot basah dan pada bobot kering mencapai 25. Bagi ikan. kandungan protein mencapai 22. Sedangkan sebaliknya rendahnya kadar abu dalam pakan mengindikasikan rendahnya kadar mineral pada pakan. Penelitian untuk mengevaluasi pengaruh level protein dan energi protein terhadap pertumbuhan calon induk ikan yang telah dilakukan (Pramono dkk. Ternyata di dalam abu tersebut dijumpai garam-garam atau oksida-oksida dari K. 1998). c.59%. Mn. Na. karena tingkat efektifitasnya sangat dipengaruhi oleh jenis ikan.79% pada pakan A dan 27. P. Kadar optimum yang biasanya dibutuhkan ikan adalah antara 30-36%. Hanya saja persentase kandungan protein 22-27% merupakan kandungan protein yang masih . ukuran ikan. (Yunizal. kecernaan pakan dan kondisi lingkungan. Pb. Ag. diperoleh persentase kandungan protein dalam pakan tinggi dibandingkan dengan lemak dan karbohidrat. Tingginya kadar abu dalam pakan merupakan indikasi bahwa pakan mengandung bahan mineral yang tinggi sehingga pada proses pemanasan. Li. 34 sekitar 650°C akan menjadi abu berwarna putih. Sr. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yunizal (1998) bahwa besarnya kadar abu dalam daging ikan umumnya berkisar antara 1 hingga 1. protein merupakan sumber tenaga paling utama. Menurut Rukmini (2012) Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan. Fe. baik untuk menghasilkan tenaga maupun untuk pertumbuhan. 2009). Kebutuhan protein dan rasio energi protein pada ikan senggaringan perlu dikaji untuk mendapatkan informasi kebutuhan optimum.al.34% pada pakan B. Hal ini menunjukkan bahwa kadar abu tersebut rendah. As. kualitas protein pakan. Mg.06% pada pakan A dan 29. Berdasarkan hasil uji proksimat. Ca. dan Cu. Kadar abu dipengaruhi oleh kandungan mineral pada pakan tersebut. et. umur. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis uji proksimat pada pakan. pakan mengalami perombakan senyawa- senyawa mineral yang mempengaruhi persentase kadar abu.. disamping itu terdapat dalam kadar yang sangat kecil seperti Al.. Ba.5 %. Protein Pemanfaatan protein dan pakan akan efisien bila diimbangi oleh energi dalam jumlah cukup sehingga sebagian besar protein pakan digunakan untuk pertumbuhan.

35 bisa mendorong pertumbuhan ikan. Lemak tersusun dari gliserol dan asam lemak atau zat lain. Sebagaimana diketahui bahwa protein yang dibutuhkan ikan erat dengan tingkat protein optimum (optimum protein level) dalam pakan ikan tersebut. Pada protein awal ikan nila yakni 12. yaitu sekitar 9 kcal/gram.81%. kemudian pada ikan akhir diperoleh 13.65% pada kelompok 1 dan terendah 13. komposisi nutrien seluruh ikan pada akhir pengamatan.18% untuk kelompok 4. Hal ini sesuai dengan pernyataan Afrianto dan Evi (2005) bahwa kandungan lemak pakan ikan yang diperlukan berkisar 4-9% dengan daya guna energi mencapai 85%. 2011). baik yang berasal dari tepung kepala ikan maupun tepung kepala udang dan bahan baku pakan . Kandungan ini tentu dipengaruhi oleh komposisi bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pakan.91% untuk kelompok 3 dan 13. Disamping itu lingkungan perairan juga mempengaruhi protein yang dibtuhkan ikan (Kordi. Adapun ikan mas pada ikan awal diperoleh komposisi protein tubuh 11. Lemak mengandung energi metabolisme lebih besar dari protein dan karbohidrat. d. Ikan karnivora membutuhkan tingkat protein yang lebih tinggi dari pada ikan herbivora (pemakan tumbuhan) dan ikan omnivora (pemakan hewan dan tumbuhan). Pada umumnya lemak mudah dicerna dan dimanfaatkan ikan.34% pada pakan B untuk berat basah serta untuk berat kering mencapai 6. Berdasarkan tabel 2 diatas. berdasarkan hasil pengamatan dari analisis uji proksimat.14% untuk pakan A dan 4. Dengan data demikian menunjukkan adanya pemanfaatan protein yang diberikan melalui pakan yang efisiensinya dapat diketahui melalui retensi protein tubuh.70 untuk pakan B.59% untk pakan A dan 4. 2012). Apabila protein dalam pakan kurang dari 6% (berat basah). dimana kadar lemak yang demikian merupakan kadar lemak yang optimal bagi pertumbuhan ikan.12% pada akhir pengamatan diperoleh nilai tertinggi 14. rata-rata menunjukkan peningkatan.61% pada kelompok 2. Ikan pada stadia larva membutuhkan protein yang lebih tinggi daripada ikan dewasa. dimana nilai persentase kandungan lemak mencapai 5. Lemak Lemak dalam pakan mempunyai peranan penting sebagai sumber energi. maka ikan tidak dapat tumbuh (Rukmini.

Karbohidrat ini berasal dari bahan pakan nabati.873 menjadikan pakan memiliki tingkat daya simpan yang tinggi. Sedangkan pada lemak ikan. cumi-cumi. karbohidrat memiliki kadar tertentu yang dibutuhkan ikan. asam linoleat dan asam linolenat. bergantung pada kompleksitas karbohidrat.09 untuk kelompok 1 dan 2. Sumber karbohidrat yang berbeda juga mempunyai nilai kecemaan yang berbeda pula. karena kelebihan pakan akan menyebabakan kerugian pada ikan. Oleh karena itu.20 untuk pakan B dalam .71% dan ikan nila 3. Karbohidrat merupakan sumber energi yang murah dan keberadaan karbohidrat dalam pakan dapat mempengaruhi pemanfaatan protein dan lemak untuk pertumbuhan ikan. kandungan lemak sekitar 4.09% pada kelompok 4. kebutuhan akan nutrisi lemak yang optimum menyebabkan komposisi lemak pada pakan tidak berlebihan. kemudian menurun menjadi 1. Akan tetapi pemanfaatan karbohidrat oleh ikan dari berbagai sumber karbohidrat bervariasi. Disamping itu.09% pada ikan awal. kadar karbohidrat mencapai 47.28% pada kelompok 3 dan 1.12% untuk kelompok 2 pada ikan nila. Bahan pakan hewani praktis tidak merupakan sumber karbohidrat. e. zat tepung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Masyamsir (2001) bahwa nilai gizi lemak dipengaruhi oleh kandungan asam lemak esensialnya yaitu asam-asam lemak tak jenuh atau PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) antara lain asam oleat.04% untuk pakan A dan 43. Asam lemak esensial ini banyak terdapat di tepung kepala udang. Penurunan kadar lemak pada ikan diduga karena terjadi pemanfaatan lemak yang optimal baik sebagai sumber energy non protein maupun juga untuk pengangkut biologis. Hal ini karena kandungan lemak termasuk rendah sehingga tidak menyebabkan peningkatan intensitas proses oksidasi lemak. dan juga pada ikan mas yakni 2. Berdasarkan hasil analisis uji proksimat yang dikandung pakan. Data yang diperoleh dari ikan mas yakni 2. terjadi penurunan komposisi lemak dari ikan awal. atau zat pati) yang tidak mengandung serat kasar. Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) BETN adalah jenis karbohidrat (hidrat arang. Sebagai sumber tenaga bagi ikan selain lemak dan protein. 36 komersial.

dan pada berat kering yakni 51. Serat Kasar Karbohidrat terdiri atas serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. (2003) bahwa pertumbuhan ikan melambat dapat disebabkan karena ikan tidak dapat mencerna serat kasar yang terlalu tinggi dan adanya rasio amilosa/amilopektin yang berbeda akan mempengaruhi nilai kecemaan pakan. Hal ini karena Hal ini karena menurut Mokonginta.07% untuk pakan A dan 7. sedangkan pada bobot kering adalah 6. Karbohidrat merupakan senyawa yang terdiri dari serat kasar dan bahan bebas nitrogen (nitrogent free extract). merupakan kadar karbohidrat yang dapat ditolerir oleh pertumbuhan dan kebutuhan ikan. Berdasarkan hasil pengujian proksimat menunjukkan bahwa serat kasar pada bobot basah pakan adalah 9. Pemberian serat kasar dalam pakan perlu diperhatikan. kandungan karbohidrat pada pakan. Selain kompleksitas molekul karbohidrta.73% untuk pakan A dan 46. Kandungan serat kasar di dalam pakan udang sebaiknya tidak lebih dari 8%. yakni untuk meningkatkan gerak peristaltik usus. Pemberian serat kasar dalam jumlah berlebihan dapat rnenyebabkan gangguan pada proses penyerapan pakan di dalam usus halus. Menurut Rukmini (2012) bahwa kadar karbohidrat dalam pakan berkisar 0-50% kemampuan ikan untuk memanfaatkan karbohdirat ini tergantung dari kemampuannya menghasilkan enzim amilase (pemecah karbohdirat).88% untuk pakan B. Kandungan karbohidrat yang demikian merupakan kandungan karbohidrat yang tinggi. semakin rendah serat kasar. maka pakan akan semakin mudah dicerna. 37 berat basah. teknik pengelolahan pakan bisa mempengaruhi tersedianya karbohidrat untuk ikan (Kordi.24% untuk pakan B. Namun karbohidrat yang tercerna dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pencernaan karbohdirat pada ikan sangat bervariasi tergantung kompleksitas molekulnya. namun ketiadaan atau terlalu rendahnya serat pakan.86 untuk pakan B. f. 2011). Karbohdirat dalam bentuk sederhana umunya lebih mudah larut dalam air daripada lemak atau protein. namun kehadirannya dalam pakan tetap diperlukan. Jika ditinjau kembali. akan mempermudah pakan terurai diair dan . Serat kasar mempengaruhi kecernaan suatu bahan. Serat kasar sangat sulit dicerna oleh ikan. dkk.15% untuk pakan A dan 7. Oleh karena itu.

pertumbuhan ikan mas lebih tinggi dan retensi proteinnya lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh peningakatan unsur N diperairan akan mengikat unsur H sehingga menaikkan nilai pH (basa). Ammonia yang bersifat toksik adalah ammonia dalam bentuk NH3 dan NH4OH.15%. yang berdissosiasi membentuk ion ammonium (NH4+) dan ion hidroksil (OH-). Secara kasarnya. sedangkan mobilitas ammonia lebih rendah daripada nitrat. 3. Ammonia pada konsentrasi 0.9 Kualitas Air Selama masa pemeliharaan hasil penukuran konsentrasi TAN rata-rata setiap kelompok mengalami peningkatan tertinggi pada jam ke-6. 38 memperlambat kerja otot peristaltic saluran pencernaan. Keseimbangan reaksi di atas sangat dipengaruhi oleh suhu dan pH. peningkatan nilai pH sebesar 1 (satu) satuan akan menyebabkan . Nilai pH yang tinggi (semakin basa) terjadi saat kadar TAN terus mengalami peningkatan. Kemudian pada jam ke-8 rata-rata laju eksresi ammonia setiap kelompok mengalami penurunan. dan laju oksidasi oleh bakteri. Oleh sebab itu. Ammonia dalam bentuk NH4+ ini tidak bersifat toksik.55% dari total ammonia berada dalam bentuk NH4OH.5 mg/l.2. sebanyak 0. Perubahan pH akan mengubah keseimbangan reaksi dissosiasi ammonia. Pada suhu 25oC dan pH 7. kecuali untuk kelompok IA dan IIA yang mengalami peningkatan tertinggi pada jam ke-4. Menurut Idris (2013) bahwa toksisitas ammonia jauh lebih tinggi daripada nitrat. Gas ammonia (NH3) cepat sekali larut dalam air. Peningakatan kadar TAN diperairan berbanding terbalik dengan kadar pH. sedangkan konsentrasi letal (LC50) adalah 0. sebagian besar lainnya berada dalam bentuk NH4+. Jumlah ammonia yang terdapat dalam suatu perairan pada suatu waktu tertentu tergantung pada laju ekskresi hewan. Hal ini berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa kecernaan pakan terbaik adalah pada ikan mas yang diberikan pakan protein rendah namun dengan serat kasar rendah yakni 6. dan membentuk ammonium hidroksida (NH4OH). hampir tidak ada dalam bentuk NH3.025 mg/l atau lebih dapat menyebabkan gangguan dalam pertumbuhan ikan. Toksisitas ammonia terhadap hewan dan tumbuhan adalah hal yang amat penting untuk diketahui. laju pemanfaatan oleh tumbuhan.

Tingkat daya racun ammonia menjadi meningkat jika konsentrasi oksigen terlarut rendah. Faktor lain yang berpengaruh terhadap ammonia adalah oksigen terlarut. yakni persentase jumlah ammonia yang tidak terionisasi meningkat dengan meningkatnya suhu. Konsentrasi NH3 terbesar biasanya terjadi setelah fitoplankton mati. Suhu tertinggi terjadi pada pengamatan jam ke-8 kelompok IIA dan rata-rata peningkatan suhu terjadi pada pengamatan jam ke-8. Daya racun ammonia terhadap ikan. Oleh karena itu.1 sampai 0. Ammonia adalah racun dalam tubuh (internal poison) ikan. Suhu mempunyai pengaruh besar terhadap proses-proses kimia dan biologi. Suatu hal yang menguntungkan.0 mg/l. oleh sebab itu dilakukan pula pengamatan pH air pada jam berbeda. yaitu pada saat pH rendah yang disebabkah oleh konsentrasi CO2 yang tinggi. 39 meningkatnya persentase ammonia yang tidak terionisasi (NH3) sebesar 10 kali lipat. berkisar antara 0. Prescod (1973) dalam Wardojo (1975) mengusulkan kriteria untuk perairan di daerah tropis. dan ikan akan mati karena sesak nafas. Sedangkan pada data kisaran suhu pada Tabel 6 diatas menunjukkan kisaran suhu rata-rata semua kelompok dari jam ke-2 sampai ke-8 berkisar dari 26-28. yakni kandungan ammonianya tidak boleh lebih dari 1 mg/l. Sebaliknya. Pengaruh suhu mirip dengan pH. Apabila konsentrasi ammonia cukup tinggi. persentase ammonia menurun dengan meningkatnya salinitas. Warm water fish (ikan yang hidup di daerah tropis atau daerah yang beriklim panas) paling baik berkembang pada suhu antara 25oC dan 32 oC. Secara umum kecepatan reaksi kimia dan biologi menjadi dua kali lipat untuk tiap kenaikan suhu sebesar 10 oC. bahwa konsentrasi ammonia jarang berada dalam konsentrasi yang cukup untuk mempengaruhi pertumbuhan ikan. Hasil pengukuran suhu menunjukkan kisaran suhu yang normal. insang ikan tertutup molekul-molekul ammonia.8oC. Tingkat daya racun ammonia yang tidak terionisasi (NH3) terhadap ikan. tergantung dari daya permeabilitas insang terhadap molekul-molekul beracun itu. oksigen terlarut yang . Hal ini berarti bahwa hewan-hewan air akan menggunakan oksigen terlarut dua kali lebih banyak pada temperatur 30 oC dibanding pada temperatur 20 oC. dan pengaruh-pengaruh sub letal bisa terjadi pada konsentrasi 0.3 mg/l.6 dan 2. Suhu pada dasarnya mempengaruhi laju eksresi ammonia dan pH di perairan.

40 dibutuhkan ikan akan lebih kritis pada air hangat/panas dibanding pada air dingin. Peningkatan kadar karbondioksida akan memicu peningkatan jumlah hidrogen di air sehingga pH semakin naik (nilai pH menurun). Fluktuasi pH tidaklah terlalu berbeda sehingga dapat dikatakan bahwa pada air yang mempunyai total alkalinitas yang lebih tinggi. Suhu yang tinggi terjadi pada pengamatan jam ke-2 meskipun tampak konstan dan naiknya kadar pH juga terjadi pada pengamatan jam ke-2 dan terus menurun. akan meningkatkan konsumsi oksigen karena memicu peningakatn laju metabolisme tubuh. Kisaran pH tertinggi ditunjukkan pada ikan mas pada pengamatan jam-8. nilai-nilai pH bisa meningkat selama periode-periode fotosintesis yang berlangsung cepat.19 hingga 7. Hal ini karena pada suhu yang tinggi. pH tersebut masih dalam kisaran pH normal. 2013).31 hingga 7. . rata-rata kisaran pH setiap kelompok dari pengamatan jam ke-2 sampai ke-8 berkisar antara 6.49.5 sampai 8 di saat fajar atau 9 maupun 10 di sore hari. Selain itu pula.15. Hasil pengukuran pH. pH adalah suatu ukuran besarnya konsentrasi ion hidrogen dan menunjukkan apakah air itu bersifat asam atau basa dalam reaksinya. Pada air hangat. rotenon daya racunnya menurun lebih cepat. dan kecepatan konsumsi oksigen untuk proses penguraian bahan organik menjadi lebih besar (Idris. Perubahan-perubahan kimiawi terhadap kolam juga dipengaruhi oleh suhu. Derajat keasaman atau pH air menunjukkan aktivitas ion hidrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion hodrogen (dalam mol per liter) pada suhu tertentu. Sehingga pelepasan ion Hidrogen (H) rendah di perairan dan menyebabkan keasaman menurun (pH naik).17 kemudian terus mengalami penurunan hingga pada pengamatan jam ke-8 kisaran pH dari setiap kelompok dari 6. Rata-rata data kisaran pH mengalami penurunan dari setiap jam pengamatan. Tingginya peningkatan konsumsi oksigen akan menurunkan kadar oksigen terlarut di air dan sebaliknya meningkatkan kadar karbondioksida. dimana nilai-nilai pH biasanya berkisar dari 7. herbisida bertindak lebih cepat. pupuk dilarutkan lebih cepat. Pada pengamatan awal kisaran pH dari 7.01 hingga 8. Hal ini sejalan dengan pernyataan Idris (2013) bahwa nilai pH dipengaruhi oleh jumlah unsur Hidrogen dalam perairan.

sedangkan pakan yang efisien akan menurunkan nilai feed convertion ratio yang mengindikasikan pemanfaatan pakan oleh ikan semakin efisien.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas. d. dan juga diduga karena perbedaan jenis ikan yang menyebabkan perbedaan saluran pencernaan secara fisiologis. Retensi protein tertinggi diperoleh dari pakan B (protein tinggi) pada ikan nila. Naiknya kecernaan total juga meningkatkan laju pertumbuhan harian dan kecernaan protein.15%). c. 41 IV. Nilai tingkat kecernaan total pada pakan ikan tertinggi adalah 57. Sehingga menyebabkan efisiensi pakan. 4. b. Hal ini disebabkan oleh komposisi pakan yang mengandung serat kasar rendah (6. KESIMPULAN DAN SARAN 4. Uji biologis pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) dan ikan mas (Cyprinus carpio) yang diberi pakan dengan kadar protein berbeda menunjukkan pertubuhan harian tertinggi pada ikan mas yakni 0. .26% pada pakan A (protein rendah) ikan mas. Rata-rata kisaran kualitas air yakni suhu dan pH pada masa pemeliharaan tergolong kisaran normal. Sedangkan peningkatan amonia diperairan berbanding terbalik dengan kadar pH.83% sedangkan kelangsungan hidup tertinggi pada kelompok 1 yakni 100% yang diduga karena waste rendah dan amonia rendah sehingga tidak menimbulkan toksik. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: a.2 Saran Saran yang dapat diajukan dalam praktikum selanjutnya sebaiknya dilakukan pula pengujian pemberian pakan dengan kadar lemak berbeda dan kadar karbohidrat yang berbeda untuk meninjau pengaruh nutrient non protein dalam pertumbuhan ikan.

B. Birmingham Publishing Co. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Ottawa. dan Sulistiono. 1985. Koordi. dn J. Published by Van Nostrand Reinhold. Yayasan Pustaka Nusantara. DS Sjafei. Hal 93-105. R. Mulayani. Water quality in pond for aquaculture. Aspergullus niger. 1997. 1989. Randall. Great Britain.F. California. Bioenergetic and Growth. Ika Susangka. . 1979. Analisis KandungaProksimat bahan Baku dan Pakan Buatan/pelet Untuk Kepiting Bakau (Scilla paramamosain). 2010. Manajemen Pemberian Pakan. Universitas Haluoleo. Hadadi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. 2008. Academic Press. dan Lamanto. M. Fisiologi Ikan Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Pakan Ikan. Y. 2011. Laporan Penelitian. Kiki. The Vitamins. 1988. Kanisius. USA.. Diktat Kuliah Manajemen Kualitas Air. Auburn University. Jurnal Teknologi Budidaya Air Tawar. Yogyakarta. Kendari. Lily Publisher. Cho. 32-102. Nutrition on pond fishes.J. Ed. pp. Afrianto. G. Ni Putu Ari Arsini. Haetami. IPB. 154 pp. Bogor.. Boyd AW. FPIK Universitas Diponegoro. Inc. Yogyakarta. C. Finfish Nutrition in Asia : Methodological approaches research Centre. Herwati.S.. 42 DAFTAR PUSTAKA Affandi. H.Y. 2008.. M. 1989.. B. Halver JE. Eddy dan Evi Liviawaty. Auburn University. Effendie. New York. K. Jurnal Teknologi Akuakultur. M. Biology Perikanan. Vivi Endar. and R. Laporan Penelitian. Marikultur. Yuli Andriani.R. DIKTI. Darsudi. Abn. Kebutuhan dan Pola makan Ikan Jambal Siam dari Berbagai Tingkat Pemberian Energi Protein Pakan dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan dengan Efisiensi. M. Nutrition and feeding of fish. Gunadi. Panduan Lengkap memelihara Ikan Air Tawar di Kolam Terpal. Kordi. Prinsip dan Praktik Budidaya Laut. C. Haetami. Hepher. 2013. Rahardjo. 823-829. 1992. Inc. Lily Publiser.E. Studi Pembuatan Probiotik bacillus lichenformis. Lovell. Rita Febrianti. D. Cowey. Bambang. 260p. In: Fish Nutrition. W. T. 786 hal. Bogor. Intitut Pertanian Bogor. Vol VIII.). Yogyakarta. J. Jurnal. 2007. 1990. Vol 7 (1) : 41-45. Pembuatan Pakan Ikan Nila. 2010. 2007. Cambridge University Press.. 2005. Keragaan Kecernaan Pakan Tenggelam dan Terapung Untuk Ikan Lele Dumbo Clarias gariepenus) dengan dan tanpa Aerasi. Idris. Alabama. Academc Press.I. Yogyakarta. dan Sacharomices cereviceae Sebagai Feed Suplement serta Implikasinya Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila Merah. et al. Fish Physiology. Halver (ed. Brett.. Semarang. Ghufran H. Jakarta. Watanabe. Ni Putu Ayu Kenak. Jurusan Perikana. Hoar. 2005.

An Elsevier Science Imprint. Laboratory Work – Chemical evaluation of Dietary nutrients. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. (Ed). Lembaga pengembangan Pendidikan Universitas Diponegoro Sunarto dan Sabariah. Hary Tjahja Soedibya P. J.) Fish Nutrition Research in Asia. 9: 17-24. 1993. 1977. 2(2): 79-83. Japan international Cooperation Agency (JICA).. 36-45. Pramono. 1989. Akbar dan M. fingerling. Asian Fisheris Society. 124 pp. USA. Setiawati. pp 368-452. S. Pandian. Jurnal Perikanan dan Kelautan UNSOED. Fish Nutrition and Mariculture JICA Textbook.Pemberian Pakan Buatan Dengan Dosis Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Konsumsi Pakan Benih Ikan Semah (Tor douronensis) Dalam Upaya Domestikasi. Third Edition. 43 Masyamsir. Manila. Mukherjee BD. Silva D. p. Pubhl. In: Watanabe.W.). Philippines. De Silva (Ed.D. Jurnal Akuakultur Indonesia. Dyahruri Sanjayasari. C. I. Asian Fisheries Society. 4. 78p. Washington D. T. Proceedings of the Third Asian Fish Nutrition network Meeting. Protein requirement of fish and prawns cultured in Asia. Departemen Pendidikan Nasional. VIII (1) : 67-76. Erik.S. 2012. Jepara. Philippines.E. Rust. National Research Council [NRC].) Fish Nutrition Research in Asia. Fish Nutrition. National Academies Press (USA). Utomo. . Special Publication. 2001. Jurnal Akuakultur Indonesia. Proceedings of the Third Asia Fish Nutrition Network Meeting. Buku Ajar Nutrisi ikan. T. National Academy of Science. 2002. Satpathy B. De Silva (ed. Karya Putra Darwati.nap. Teknologi Budidaya Biota Air. In S. National Research Council. 15 (2) : 153-157. 166 p.B.edu/catalog/2115. Asian Fish. Kanagawa international Fisheries Training Centre. Membuat Pakan Ikan Buatan. Subandiyono. Soc. T. Ray AK. Spec. and R. In S. National Research Council. P. In: Halver. 1989. Manila. N. Bandung. Aqua Nutr.2009.P. 2003. Takeuchi. Nutrient requirement of warm water fishes. Hardy (Eds. Nutritional Physiology. Taufik Budhi. Effect of dietary protein and lipid levels on growth. 179-233. 233 PP. 2003. fed conversion and body composition in rohu. Labeo rohita (Hamilton). M. J. 2009. P: 11-12.. Nutrient Requirements of Fish Subcomittee on Fish Nutrition. 2011. 1988. Konsep Dasar Nutrisi ikan. Jakarta. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. Penggunaan Tepung Singkong Sebagai Substitusi Tepung Terigu Pada Pakan Ikan Mas (Cyprinus carpio L. Modul Program Keahlian Budidaya Ikan. The General Aquaculture Course. Digestibility evaluations of natural and artificial diets. Academic Press. Pembuatan Pakan Buatan Ikan Bandeng. http://www. Optimasi Pakan Dengan Level Protein dan Energi Protein Untuk Pertumbuhan Calon Induk Ikan Senggaringan (Mystus nigriceps). A. Rukmini.). Sutikno. Mokoginta.4. 2002.

and S. Watanabe T. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 1980. Y. A.B.. Hartati.. Wedemeyer GA. R. 1991. Allen. Tokyo University of Fisheries. Effect the body weight and temperature on the maximum daily food consumption of Gasterosteus aculeatus L. Fish nutrition and mariculture.Hartadi. Selecting and appropriate model. 1986.M. Sri Pujiastuti. Japan. 6 (2):62-67. The general aquaculture course. 1996. Kajian Pembuatan Pakan Ikan untuk Memenuhi Kebutuhan Petanai Ikan. Periode Pemberian Pakan yang Mengandung Kitin untuk Memacu Pertumbuhan dan Produksi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac. Murtini. Abdulrokhim dan Carkipan.. Cole.G. Bonn. Department of Aquatic Bioscience.J. Purdiwoto. P2F LIPI. Sentana. ..J.J. Gramedia Pustaka Utama.R. 1998. Yunizal. 233 pp. Wooton. M. dan A. Bandung. Zonneveld. Dolaria.Suryanti. 2000. Physiology of Fishin Intansive Culture Sistem. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan. Suharwadji K. and J.. Huisman E. H. 1988. 44 Triyono. Wiadnya. 318hal. PT. Prosedur Analisa Kimiawi Ikan dan Produk Olahan Hasil- Hasil Perikanan. Agus. N.N..and Phoxinus phoxinus (L). Jakarta. A. Jakarta.).T. Subagyo. Lucia Indarti. Journal of fish biology. Z. Textbook. D. Instalasi Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Chapman and Hill. JICA.

61% .79 3.02% 2. Contoh Perhitungan Kecernaan total KT (%) = 39. Contoh Perhitungan Kecernaan protein. 45 Lampiran 1 Contoh Perhitungan 1. Contoh Perhitungan Nilai Retensi Protein Kelompok 2 x 100% x 100% x 100% RP (%) = 89. X ) X 100% X ) X 100% KP(%) = 76.

binder dan air. (B) Penimbangan tepung pakan. Repelleting pakan A B C Keterangan: (A) proses penghancuran pakan komersial menjadi tepung. (C) proses pencetakan pelet pakan. (B) pakan yang dipacking . (B) pencampuran dengan kromium. 46 Lampiran 2 Dokumentasi Praktikum 1. A B C Keterangan: (A) proses penimbangan kromium. (C) tepung pakan. A B Keterangan: (A) Proses pemanasan pakan dalam oven.

. abu. (B) penyiponan 3. Pemeliharaan Ikan A B Keterangan: (A) pergantian air. 47 2. protein. Uji Proksimat Keterangan: Uji Proksimat meliputi uji serat kasar. lemak dan BETN pada pakan uji. kadar air. ikan awal dan ikan akhir.