You are on page 1of 18

BAB 1

PENDAHULUAN

Paraparese merupakan hilangnya fungsi motorik kedua tungkai. Pada saat ini, istilah
paraparese umumnya dipakai untuk semua keadaan kelemahan kedua tungkai, baik yang
parsial maupun komplit (Satyanegara, 1998). Penyebab dari paraparese kebanyakan karena
kompresi yang hebat sehingga dapat menghancurkan korpus vertebra yang menyebabkan
kegagalan pada kolum vertebralis anterior dan pertengahan dalam mempertahankan posisinya.
Bagian posterior korpus vertebra hancur sehingga fragmen tulang dan diskus dapat bergeser ke
kanalis spinalis. Jika vertebra berkurang lebih dari 50%, gaya mekanik pada bagian depan
korpus vertebra akan menyebabkan terjadinya kolaps yang akhirnya dapat mengganggu fungsi
neurologik (Apley, 1995).

Kondisi tersebut di atas dapat membawa konsekuensi langsung maupun tidak langsung
terhadap penderitanya. Konsekuensi langsung seperti gangguan dalam mobilitas (duduk,
berdiri, berjalan dan lari), sedangkan yang tidak langsung dapat berupa gangguan terhadap
pribadinya yaitu bagaimana penderita mempersepsi kecacatannya yang dapat menimbulkan
reaksi kecewa, rendah diri dan merasa terisolir.

Peran fisioterapi dalam mengembalikan aktifitas fungsional seperti semula dengan
menerapkan metode terapi seperti pemberian Infra Merah, dan Terapi Latihan ditujukan agar
fungsi dan gerak menjadi tidak terganggu dan mencegah timbulnya komplikasi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Fisiologi
Vertebra dimulai dari cranium sampai pada apex coccigeus, membentuk
skeleton dari leher, punggung dan bagian utama dari skeleton (tulang cranium, costa
dan sternum). Fungsi vertebra yaitu melindungi medulla spinalis dan serabut syaraf,
menyokong berat badan dan berperan dalam perubahan posisi tubuh. Vertebra pada
orang dewasa terdiri dari 33 vertebra dengan pembagian 5 regio yaitu 7 cervical, 12
thoracal, 5 lumbal, 5 sacral, 4 coccigeal.

Atlas bersama dengan Axis (C2) membentuk sendi yang menghubungkan
tengkorak dan tulang belakang dan khusus untuk memungkinkan berbagai gerakan
yang lebih besar. C1 dan C2 bertanggung jawab atas gerakan mengangguk dan rotasi
kepala.
Atlas tidak memiliki tubuh. Terdiri dari anterior dan posterior sebuah
lengkungan dan dua massa lateral. Tampak seperti dua cincin. Dua massa lateral pada
kedua sisi lateral menyediakan sebagian besar massa tulang atlas. Foramina melintang
terletak pada aspek lateral.
Axis terdiri dari tonjolan tulang besar dan parsaticularis memisahkan unggulan
dari proses artikularis inferior. Prosesus yang mirip gigi (ondontoid) atau sarang adalah
struktur 2 sampai 3 cm corticocancellous panjang dengan pinggang menyempit dan
ujung menebal. Kortikal berasal dari arah rostral (kearah kepala) dari tubuh vertebra.
permukaan cranial corpus aksis memiliki tonjolan seperti gigi, dens yang
ujungnya bulat, aspek dentis.
Cervical III-V processus spinosus bercabang dua. Foramen transversarium
membagi processus transversus menjadi tuberculum anterior dan posterior. Lateral
foramen transversarium terdapat sulcus nervi spinalis, didahului oleh nervi spinalis.

Cervical servikal VI perbedaan dengan vertebra servikal I sampai dengan
servikal V adalah tuberculum caroticum, karena dekat dengan arteri carotico.
Cervical VII merupakan processus spinosus yang besar, yang biasanya dapat
diraba sebagai processus spinosus columna vertebralis yang tertinggi, oleh karena itu
dinamakan vertebra prominens (Syaifuddin, 2003).
Trauma tulang dapat mengenai jaringan lunak berupa ligament, discus dan faset,
tulang belakang dan medulla spinalis. Adapun beberapa ligamen yang terdapat pada
tulang servikal antara lain adalah :

ligamen’ta flavum : serangkaian pita dari jaringan elastis kuning melekat dan
memperluas antara bagian ventral lamina dari dua tulang yang berdekatan, dari sumbu
ke sacrum.. Namanya Latin untuk “ligamen kuning,” dan ini terdiri dari elastis jaringan
ikat membantu mempertahankan postur tubuh ketika seseorang sedang duduk atau
berdiri tegak.

Terletak posterior tubuh vertebra, tetapi anterior proses spinosus dari tulang
belakang, yang merupakan tulang Prongs memancing ke bawah dari belakang setiap
tulang belakang, yang flava ligamenta membentuk dua sejajar, bersatu garis vertikal
dalam kanalis vertebralis. Hal ini juga mencakup dari C2, vertebra servikalis kedua,
semua cara untuk S1 dari sacrum , tulang ditumpuk pada dasar tulang belakang di
panggul. Pada ujung atas, setiap flavum ligamentum menempel pada bagian bawah
lamina dari vertebra di atasnya. lamina ini adalah proyeksi horizontal pasangan tulang
yang membentuk dua jembatan mencakup ruang antara pedikel di kedua sisi tubuh
vertebral dan proses spinosus belakangnya. Mereka memperpanjang dari pedikel, setiap
proses yang kurus menonjol ke belakang dari kedua sisi dari tubuh vertebra, dan sudut
terhadap garis tengah tulang belakang, menggabungkan di tengah. Dalam
melakukannya, mereka membentuk melebar “V” yang mengelilingi aspek posterior
kanal tulang belakang .

nuchae adalah, padat bilaminar septum, segitiga intermuskularis fibroelastic
garis tengah. Ia meluas dari tonjolan oksipital eksternal ke punggung C7 dan menempel
pada bagian median dari puncak occipital eksternal, tuberkulum posterior C1 dan aspek
medial duri terpecah dua belah leher rahim, ligamen terbentuk terutama dari lampiran
aponeurotic dari otot leher rahim yang berdekatan dan yg terletak di bawah. Dari
dangkal sampai dalam, otot-otot ini adalah trapezius, genjang kecil, capitus splenius,
dan serratus posterior superior. Juga anatomi, dan mungkin penting secara klinis,
ligamen telah ditemukan memiliki lampiran berserat langsung dengan dura tulang
belakang antara tengkuk dan C1,
Ligamentum intertransversarium melekat antara processus transversus dua
vertebra yang berdekatan. Ligamentum ini berfungsi mengunci persendian sehingga
membentuk membuat tabilnya persendiaan.

Zygapophyseal adalah sendi sinovial sendi-sendi paling dasar dalam tubuh
manusia. Gabungan sinovial ditandai dengan memiliki kapsul sendi, cairan-cairan
sinovial sendi kapsul untuk melumasi bagian dalam sendi, dan tulang rawan pada
permukaan sendi di tengah atas dan bawah permukaan yang berdekatan dari setiap
tulang belakang untuk memungkinkan tingkat gerakan meluncur.

Atlantoaxial ligamentum anterior adalah membran yang kuat, untuk batas
bawah lengkung anterior dari atlas, bawah, ke depan tubuh sumbu . Hal ini diperkuat
di garis tengah dengan kabel bulat, yang menghubungkan tuberkulum pada lengkung
anterior dari atlas ke tubuh dari sumbu, dan merupakan kelanjutan ke atas dari
ligamentum longitudinal anterior .

Atlantoaxial ligamentum posterior adalah tipis, membran luas melekat, di atas,
untuk batas bawah lengkung posterior atlas , bawah, ke tepi atas dari lamina dari sumbu
Ligamentum longitudinal posterior terletak dalam kanalis vertebralis, dan membentang
sepanjang permukaan posterior tulang belakang tubuh, dari tubuh sumbu, di mana ia
terus-menerus dengan tectoria membrana, untuk sakrum. ligamentum ini lebih sempit
di badan vertebra dan lebih luas pada ruang disk intervertebralis. Hal ini sangat penting
dalam memahami kondisi patologis tertentu tulang belakang seperti lokasi khas untuk
herniasi cakram tulang belakang

Ligamentum transversal dari atlas adalah kuat, band tebal, yang lengkungan di
cincin dari atlas , dan mempertahankan proses yg mirip gigi di kontak dengan lengkung
anterior. Ligamentum transversal membagi cincin dari atlas menjadi dua bagian yang
tidak setara: ini, posterior dan lebih besar berfungsi untuk transmisi dari medula spinalis
dan membran dan saraf aksesori.

B. Patoligi trauma cervical
1. Definisi
Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas
tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC
(2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang.
Trauma cervikal adalah suatu keadaan cedera pada tulang belakang cervikal
dan medulla spinalis yang disebabkan oleh dislokasi, subluksasi, atau fraktur
vertebra cervikalis dan ditandai dengan kompresi pada medula spinalis daerah
cervikal..
2. Etiologi
Cedera Medula Spinalis disebabkan oleh trauma langsung yang mengenai
tulang belakang dimana trauma tersebut melampaui batas kemampuan tulang
belakang dalam melindungi saraf-saraf di dalamnya. Trauma langsung tersebut
dapat berupa :
1. Kecelakaan lalu lintas
2. Kecelakaan olaragah
3. Kecelakaan industri
4. Jatuh dari pohon atau bangunan
5. Luka tusuk
6. Luka tembak
Penyebab trauma tulang belakang adalah kecelakaan lalu lintas (44%),
kecelakaan olah raga(22%),terjatuh dari ketinggian(24%), kecelakaan kerja.
Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai
cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan.
3. Tanda dan gejala
Menurut menurut ENA (2000 : 426), tanda dan gejala adalah sebagai berikut:

1. Penggunaan otot assesori dengan pernapasan cepat dan dangkal dengan
pergerakan pada dinding dada
2. Hipotensi (sistole kurang dari 90 mmHg)
3. Kulit teraba hangat dan kering
4. Poikilotermi (Ketidak mampuan mengatur suhu tubuh, dimana suhu tubuh
bergantung pada suhu lingkungan)
5. kehilangan sebagian atau keseluruhan kemampuan bergerak
6. Kehilangan sensasi
7. adanya spasme otot, kekakuan
4. Proses patologi gangguan gerak dan fungsi
a. Definisi paraparese
paraparese adalah kelemahan otot kedua ekstremitas bawah pada fungsi
motorik dan sensorik pada segmen torakal, cervikal C5-C6, atau sacral medulla
spinalis.
Klasifikasi paraparese antara lain :
 Paraparese spastic
Paraparese spastik terjadi karena kerusakan yang mengenai upper motor
neuron (UMN), sehingga menyebabkan peningkatan tonus otot atau
hipertonus.
 Paraparese flaksid
Paraparese flaksid terjadi karena kerusakan yang mengenai lower
motor neuron (LMN), sehingga menyebabkan penurunan tonus otot atau
hipotonus.
b. Etiologi
a. Tulang belakang yang patah atau tulang lainnya di dalam kolumna spinalis
b. Ruptur pada satu atau beberapa diskus yang terletak diantara tulang belakang
c. Infeksi (abses medula spinalis)
d. Tumor pada kolumna spinalis.
Tekanan yang tiba-tiba biasanya berasal dari cedera atau perdarahan,
tetapi bisa juga disebabkan oleh infeksi atau tumor. Suatu pembuluh darah yang
abnormal (malformasi arteriovenosa) juga bisa menyebabkan penekanan pada
medula spinalis (Sudaryanto, 2012).
c. Tanda dan gejala
 Gejala sistemik : demam intermiten, keringat malam tanpa sebab yang jelas,
berat badan berkurang, cachexia.
 Gejala paru-paru : batuk berdahak ≥ 3 minggu, batuk berdarah, sesak napas,
nyeri dada
 Lesi servikal : nyeri daerah telinga atau nyeri menjalar ke tangan.
 Lesi torakal atas : nyeri di dada dan intercostal.
 Lesi torakal bawah : nyeri menjalar ke perut.
 Langkah kaki pendek untuk menghindari nyeri punggung.
 Lesi servikal : rigiditas pada leher

d. Patofisiologi
Mekanisme paraparese inferior karena adanya kompresi intervertebra
yang secara progresif dan kemudian terjadinya perubahan pada daerah
intervertebra dan ligament. Proses degenerasi sendiri dimulai dari nucleus, yang
menjadi mengeras dan berkurang elastisitasnya. Anulus fibrosus menjadi
mudah sobek dan menonjol keluar daridiskus intervertebralis . Sendi apofiseal
menjadi sempit, kartilago menipis atau hilang sama sekali, sehingga sendi
menjadi kaku (Caillet, 1978

C. Pendekatan intervensi fisioterapi
1. IR
Tujuan : melancarkan sirkulasi darah
2. Passive exercise
Tujan : untuk memelihara sifat fisiologi otot
3. Positioning
Tujuan : untuk mencegah luka borok atau dekubitus
4. Breathing exercise
Tujuan : memelihara fungsi respirasi
5. Stretchtening
Tujuan : untuk penguatan otot

BAB III

PROSES FISIOTERAPI

STATUS KLINIK

A. Laporan Status Klinik
Tanggal :
B. Data-data Medis
1. Diagnosa Medis : Paraparese et causa trauma cervical
2. Catatan klinis :
3. No. Rekam Medik : 828685
4. Ruang : Kamar 5 bed 1, Lontara 3 bedah saraf
C. Keterangan Umum Penderita
 Anamnesis Umum
Nama : Adrian Prazectio
Umur : 17 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pelajar
Agama : Islam
Alamat : Kalukunang jeneponto
 Anamnesis Khusus
a. Keluhan utama: Lumpuh pada kedua tungkai bawah
b. Letak keluhan : kedua tungkai bawah
c. Lama keluhan : 2 bulan
d. Sifat keluhan : kelemahan
e. Penyebab : Trauma (kecelakaan)
f. RPP : Dialami sejak 20 hari yang lalu akibat kecelakaan
lalulintas. Kelemahan kedua tungkai atas juga dialami pasien sejak 20 hari yang
lalu karena kecelakaan. Selnjutnya pasien dilarikan ke RSUD Takalar, lalu
dirujuk ke RSUP, Dr. Wahidin Sudirohusodo. Hasil rekam medis menyatakan
pasien mengalami trauma pada cervikal 5 yang menyebab kelumhan pada kedua
tungkai bawah ( paraparese ).
g. Rencana Operasi : Ada
h. Riwayat sekarang : BAB dan BAK tidak bisa dikontrol
i. Riwayat penyakit penyerta : Dekubitus
D. Pemeriksaan Vital sign
1) Tekanan darah : 112/60 mmHg
2) Denyut nadi : 62x/ menit
3) Pernapasan : 18x/ menit
4) Temperature : 36°C
E. Inspeksi
a. Statis
- Pasien tidur miring di bed dengan raut wajah lemas, posisi kiri fleksi elbow,
lengan kanan ekstensi elbow, dan fleksi ekstensi hip dan knee.
- Adanya decubitus
- Adanya atropi
- Terpasang cervical collar
- Terpasang katetter
b. Dinamis
- Pasien tidak mampu menggerakkan ke dua tungkai
F. Pemeriksaan Spesifik
 Palpasi :
 Suhu : normal
 Tes VAS : nilai 0
 Tes Tonus otot (menggunakan skala ASWORTH)
Grade Keterangan
0 Tidak ada peningkatan tonus otot

1 Ada prningkatan sedikit tonus otot,
ditandai dengan terusnya tahanan
minimal pada akhir ROM pada waktu
endi digerakkan fleksi atau ekstensi
2 (1+)
Ada peningkatan sedikit tonus otot,
ditandai dengan danya pemberhentian
gerakan pada pertengan ROM dan
3 (2) adanya tahanan minimal sepanjang sisa
ROM

4 (3) Peningkatan tonus otot lebih nyata
sepanjang sebagian besar ROM tapi
sendi masih mudah digerakkan
5(4)
Peningkatan tonus otot sangat nyata
sepanjang ROM, gerak pasif sulit
dilakukan

Sendi atau ekstremitas kaku/rigid pada
gerakan fleksi atau ekstensi

Prosedur : fisioterapi menggerakan persendian pada lengan dan tungkai kaki
pasien disertai melakukan palpasi
Hasil : 0
 Tes Refleks
 KPR dan APR
 KPR : pasien tidur terlentang, ketuk tendon patella dengan hammer.
 APR : pasien tidur terlentang, ketuk tendon Achilles dengan hammer.
Hasil :0
 Tes sensorik
- Tes tajam/ tumpul
Fisioterapi menyentukan benda tajam/tumpul pada ekstremitas atas dan bawah
pasien
Hasil : ekstremitas atas
o tangan kanan : terasa
o tangan kiri : terasa
Hasil : ekstremitas bawah
o kaki kiri dan kanan : tidak terasa
- Tes rasa sakit
Fisioterapi mencubit pada ekstremitas atas dan bawah pasien
Hasil : ekstremitas atas
o tangan kanan : sedikit terasa
o tangan kiri : lebih terasa
Hasil : ekstremitas bawah
o kaki kiri dan kanan : tidak terasa
- Tes diskriminasi dua titik
Fisioterapi memberi 2 atau 1 titk pada ekstremitas atas dan bawah pasien
Hasil :
o ekstremitas atas : terasa
o ekstremitas bawah : tidak terasa
 Tes kordinasi
- Heel to knee : tidak mampu
- Finger to nose : tidak mampu
- Finger to nose to finger terapis : tidak mampu
 Tes tonus otot
- Teknik : lakuakn gerak pasif pada setiap persendian pasien
- Hasil : flaccid
 Pemeriksaan kognitif
Pasien diajak berbicara dengan memberikan beberapa pertanyaan
Hasil : komunikasi baik
 MMT:
o Ekstremitas atas :2
o Ekstremitas bawah :0
 Pengukuran lingkar otot
Ekstremitas atas dan ekstremitas bawah : discus atrofi
 Pemeriksaan tambahan
o Hasil pemeriksaan Radiologi
- Spondylolisthesis CV C5 terhadap CV C6 keposterior
- Burst fraktur CV C5 dengan fragmen fraktur bagian posterior displace ke
posterior yang menekan thecal sac dan medulla spinalis serta neural foramen
dan kedua nervus root pada level tersebut disertai bone marrow edema pada
level tersebut
- Contusion medulla spinalis level C4-C6 Ligamentum longitudinal anterior tear
level CV C4-C5 dan ligamentum longitudinal posterior tear level CV C5-C6
disertai edema
- Bulging disc ke posterior level CV C6-C7 yang menekan thecal sac dan neral
foramen serta nerve root kiri
- MR Myelography : severe stenosis canalis spinalis level CV C5-C6
G. Diagnose fisioterapi dan problematik fisioterapi ( sesuai ICF) :
 Diagnosa
Kelemahan kedua anggota gerak bawah et cause trauma cervical C6 akibat
kecelakaan lalulintas.
 Proplematik
 Impairment (Body structure & function)
1. Terjadi kelemahan pada kedua tungkai
2. Mati rasa / numbnes
3. adanya gangguan keseimbangan
 Activity Limitation
1. Tidak mampu berjalan dengan kudua tungkai
2. Sulut makan, minum dan mengganti pakaian sendiri
3. belum bisa memposisikan duduk ke berdiri
4. pasien helum bisa jongkok ke berdiri dikarenakan
kedua tungkai lemah.
 Participation Retriction
1. Sulit melakukan aktivitas sehari-hari
2. adanya hambatan dalam melakukan aktivitas sosial antara pasien dengan
keluarga dan masyarakat.
H. Rencana Intervensi Fisioterapi
a. IR
b. Passive Exercise
c. Possitioning
d. Stretch tening
e. Breathing exercise
I. Intervensi Fisioterapi
1. IR
Tujuan : melancarkan sirkulasi darah
Teknik : posisi tidur terlentang, kemudian fisioterapi melakukan pemasangan
alat secara local pada kedua tungkai.
Time : 10 menit setiap hari
2. Passive exercise
Tujuan : upaya memelihara sifat fisiologis otot
Teknik : posisi tidur terlentang, kemudian fisioterapi memberikan latihan pasif
pada ke empat extremitas
3. Positioning
Tujuan : mencegah dekubitus
Teknik : fisioterapi memposisikan dan mengajarkan pasien melakukan
perubahan posisi (terlentang miring kiri,kanan)
4. Stretch tening
Kosentrik eksentrik
Tujuan : penguatan otot
Teknik : posisi tidur terlentang, kamudian fisioterapi mengfiksasi pada bagian
otot yang ingin diperkuat dan pasien melawan tahanan fisioterapi
5. Breathing exercise
Tujuan : memelihara fungsi respirasi
Teknik : fiksasi dengan tangan fiksasi dengan tangan fisioterapi dilateral atau
bilateral pada bagian lower dengan posisi kepala miring atau terlentang.
Kemudian berikan 1/3 pada akhir pernafasan.

J. Evaluasi

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Paraparese merupakan hilangnya fungsi motorik kedua tungkai. Pada saat ini,
istilah paraparese umumnya dipakai untuk semua keadaan kelemahan kedua
tungkai, baik yang parsial maupun komplit (Satyanegara, 1998). Penyebab dari
paraparese kebanyakan karena kompresi yang hebat sehingga dapat
menghancurkan korpus vertebra yang menyebabkan kegagalan pada kolum
vertebralis anterior dan pertengahan dalam mempertahankan posisinya.
Rencana intervensi rencana fisioterapi yang diberikan :
 IR
 Passive Exercise
 Possitioning
 Stretch tening
 Breathing exercise
Peran fisioterapi dalam mengembalikan aktifitas fungsional seperti semula
dengan menerapkan intervensi yang efektif dan Terapi Latihan yang diberikan
agar fungsi dan gerak menjadi tidak terganggu dan mencegah timbulnya
komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA

http://artikel-perawat.blogspot.co.id/2016/10/cedera-servikal-dan-tanda-tanda.html
https://narayihaa.wordpress.com/2013/04/27/cedera-medula-spinalis-bagian-servikal/
https://narayihaa.wordpress.com/2013/04/27/cedera-medula-spinalis-bagian-servikal/
http://eghidwijuli.blogspot.co.id/2017/01/laporan-pendahuluan-pada-klien-
dengan.html
https://ardiartana.wordpress.com/2015/04/10/trauma-tulang-leher-cervical/
ALGORHITMA ASSESSMEN PADA TRAUMA CERVIKAL

History Taking :
Dialami sejak 20 hari yang lalu akibat kecelakaan lalulintas. Kelemahan kedua
tungkai atas juga dialami pasien sejak 20 hari yang lalu karena kecelakaan

Inspeksi :
Kelemahan kedua tungkai

Pemeriksaan spesifik

Tes neurologis Tes tes tonus otot
Tes refleks Tes MMT Hasil : zero ( 0)
a. Tes sensorik
 KPR a. Extermitas atas
 Tes tajam tumpul
hasil : + positif  APR Hasil : 2
Hasil : zero ( 0 ) b. Extremitas bawah
 Tes diskriminasi Hasil : 0
dua titik
 Hasil : + positif
 Ter rasa sakit
Hasil : positif

Tes kordinasi
 Tumit ke lutut
 Finger to nose
 Finger to nose to
finger terapis

Diagnosa ICF :
Kelemahan kedua anggota
bawah et cause trauma cervical
C6 akibat kecelakaan
LEMBARAN BAGAN IFC

Nama pasien : adrian prazection
Umur : 17 tahun
Jenis kelamin : laki-laki

Kondi / penyakit

Kelemahan kedua anggota
bawah etcause trauma
cervical C6 akibat
kecelakaan

Impairment Participation retriction
 Sulit melakukan
 Terjadi kelamahan pada
aktivitas sehari- hari
kedua tungkainya Activity limitation
 Tidak mampu bekerja
 Mati rasa / numbnees  Tidak mampu berjalan
 Adanya hambatan dalam
 Adanya gangguan dengan kedua tungkai
melakukan aktivitas
keseimbangan  Kesulitan makan dan minum
sosial anatar pasien
dan mengganti pakain sendiri
dengan keluarga dan
 Belum bisa memposisikan
masyarakat
duduk ke berdiri
 Belum bisa jongkok ke
berdiri karena kedua tungkai
lemah

Makassar ...........................

Clinical educator,