You are on page 1of 46

BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. HA
Umur : 2 bulan 18 hari
Jenis kelamin : Laki-laki
TTL : Serang, 2 Desember 2017
Agama : Islam
Alamat : Kerahmatan
Masuk RS : 20 Februari 2018

IDENTITAS ORANG TUA PASIEN
Data orang tua Ibu Ayah
Nama Ny. M Tn. S
Agama Islam Islam
Pendidikan Tamat SLTP Tamat SD
Pekerjaan Ibu rumah tangga Buruh

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu pasien pada tanggal 20 Februari
2018
Keluhan utama :
Sesak nafas
Keluhan tambahan :
Demam, batuk, pilek, benjolan di dagu

Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dibawa oleh keluarganya ke RS Dr.Dradjat Prawiranegara pada
tanggal 20 Februari 2018 dengan keluhan sesak nafas sejak 6 hari SMRS dan
bertambah berat sejak 1 hari SMRS hingga mengganggu tidur pasien. Menurut

1

ibu pasien, sesak dirasakan pada posisi tidur maupun posisi tegak, baik pagi
maupun malam, dan semakin memberat bila pasien menangis. Ibu pasien juga
mengatakan bahwa pasien tiba-tiba sesak seperti ada dahak yang mengganjal
di bagian tenggorokan pasien, sehingga bunyi nafas pasien terdengar seperti
“grok- grok”. Sesak tidak disertai dengan bunyi mengi.
Keluhan sesak nafas juga disertai dengan keluhan demam sejak 6 hari
SMRS. Demam bersifat naik turun sepanjang hari, baik pagi maupun malam,
dan berkurang bila diberi obat penurun panas. Demam tidak disertai dengan
menggigil ataupun kejang. Selain itu, terdapat keluhan pilek, sekret berwarna
bening dan cair. Ibu pasien baru menyadari sejak 1 hari yang lalu bahwa
terdapat benjolan pada daerah dagu pasien. Riwayat trauma pada daerah dagu
disangkal.
Pasien sebelumnya sudah dibawa ke bidan dan diberikan obat berupa
puyer. Keluhan dirasa membaik setelah pasien diminumkan obat tersebut,
namun keluhan muncul kembali bila efek obat sudah habis. Akhirnya orangtua
pasien membawa pasien ke RS. X dan pasien mendapatkan terapi uap disana.
Ibu pasien mengatakan setelah pasien dilakukan terapi uap, muncul keluhan
batuk berdahak.

Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat sakit serupa : tidak ada
- Riwayat alergi obat/makanan : tidak ada
- Riwayat batuk lama : tidak ada
- Riwayat asma : tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga :
- Riwayat keluarga dengan penyakit serupa : tidak ada
- Riwayat alergi : tidak ada
- Riwayat batuk lama : tidak ada
- Riwayat asma : tidak ada

2

Riwayat Persalinan
Anak ke 3 dari 3 bersaudara
BBL : 2300 gr
PB :-
Persalinan oleh Bidan
Usia kehamilan : 9 bulan
Bayi tunggal, presentasi kepala
Tidak ada kelainan
Lahir tanpa bantuan alat
Langsung menangis

Riwayat imunisasi:
Hepatitis B :-
Polio :-
BCG :-
DPT :-
Hib :-
Kesan : Imunisasi dasar tidak lengkap

Riwayat Perkembangan :
- Belajar mengangkat kepala
- Belajar mengikuti objek dengan matanya
- Melihat ke muka orang dengan tersenyum
- Bereaksi terhadap suara/ bunyi
- Mengenal ibunya dgn penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak
- Menahan barang yang dipegangnya
- Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh

3

III. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : composmentis
Tanda Vital
- Nadi : 134 x/menit
- RR : 30 x/menit
- Suhu : 38,0 oC (axilla)
Antropometri
- BB : 5,1 kg
- PB : 60 cm
- Status gizi : Gizi baik ( -2 < SD < 2)

Status Generalis:
Kepala Bentuk : Normocephali (Lingkar Kepala : 36 cm)
Mata : Konjungtiva anemis (-), Sklera ikterik (-), edema
palpebra (-/-)
Telinga : Otorrhea (-/-)
Hidung : PCH (-), septum deviasi (-), epistaksis (-)
Mulut : Bentuk normal, labioschisis (-), terdapat bercak
keputihan pada rongga mulut terutama pada daerah
palatum

Leher Inspeksi : Bentuk normal, deviasi trakea (-)
Palpasi : Teraba massa pada daerah submentalis dengan
diameter ± 3,5 cm, permukaan rata, konsistensi
kenyal padat, berbatas tegas, warna sama dengan
sekitar

Thoraks Pulmo
Inspeksi : Bentuk simetris kanan dan kiri, retraksi (-), scar (-)

4

edema (-/-). Auskultasi : Vesikuler (+/+). Diagnosis Banding Pneumonia bakterial dd/ viral Suspek massa submandibula dd/ abses submandibula Oral thrush V. pelebaran vena (-). Gallop (-) Abdomen Inspeksi : Datar. edema (-/-). rhonki (+/+). Murmur (-). wheezing (-/-) Jantung Inspeksi : Tidak tampak ictus kordis Palpasi : Teraba ictus cordis di sekitar papilla mammae sinistra Auskultasi : Bunyi jantung I & II regular. sikatrik (-) Palpasi : Supel. CRT < 2 detik Inferior : deformitas (-). Pemeriksaan Anjuran  H2TL  Foto Thoraks  USG Thyroid 5 . sianosis (-) Palpasi : Turgor kulit baik (2-5 detik) IV. CRT < 2 detik Kulit Inspeksi : Ikterik (-). defans muscular (-) Auskultasi : bising usus (+) Ekstremitas Superior : deformitas (-).

00 Trombosit 881.Hilli normal .Corakan bronkovaskular bertambah .40 *) % 30.00 *) /µL 200. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah pada tanggal 19/02/2018 PARAMETER HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN Haemoglobin 9.000 GDS 147.Tampak infiltrat di perihiler kedua paru dan parakardial paru kanan Kesan : Bronkhopneumonia 6 .20 g/dL 9.000.000 Hematokrit 26.000 – 10.000 – 400.00 *) mg/dL Konsensus DM 2015 : Normal : < 140 Pre DM : 140 – 195 DM : ≥ 200 Pemeriksaan darah pada tanggal 21/02/2018 PARAMETER HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN Haemoglobin 9.00 – 46.00 Trombosit 610.000.20 – 13.60 Leuko 28.20 – 13.00 – 46.20 *) % 30.00 *) /µL 5.VI.800.000 Foto Thorax PA (20/02/18) Pulmo : .000 – 10.60 Leuko 11.00 *) /µL 5.00 *) /µL 200.000 – 400.70 g/dL 9.200.000 Hematokrit 26.

tekstur parenkim homogen Tampak bayangan lesi anehoik inhomogen berbatas tegas berukuran 2.8 x 2.5 cm dengan internal echo (+) Scan colli kanan : Tampak bayangan nodul hipoehoik multiple Scan colli kiri : Tampak bayangan nodul hipoehoik multiple Kesan : . Tidak tampak bayangan nodul/massa Submandibular kanan dan kiri : Tidak membesar.USG tiroid dan submandibula bilateral tidak tampak kelainan 7 .Abses pada submandibula disertai pembesaran KGB colli bilateral . tekstur parenkim homogen.USG Thyroid/Parathyroid (20/02/18) Tiroid kanan dan kiri : Tidak membesar.

2 x 2.USG Thyroid/Parathyroid (02/03/18) Submandibula : Tampak bayangan lesi anehoik inhomogen berbatas tegas berukuran 3.9 x 2.6 cm dengan internal echo (+) dengan multiple kalsifikasi di dalamnya Scan colli kanan : Tampak bayangan nodul hipoehoik multiple Scan colli kiri : Tampak bayangan nodul hipoehoik multiple Kesan : Lesi kistik inhomogen berbatas tegas disertai kalsifikasi multiple pada daerah submandibula disertai pembesaran KGB colli bilateral DD/ abses 8 .

Diagnosis Kerja Pnemonia bakterialis Abses submandibula Oral thrush 9 .Epiglottis dan valekula : normal Kesan : Perselubungan opak pada soft tissue submandibula yang menyempitkan kolom udara daerah hypopharynx VII. Foto Sof Tissue Leher AP Lateral (05/03/18) .Retropharyngeal dan retrolaryngeal space tidak melebar .Kolom udara dalam larynx : normal .Tampak perselubungan opak pada soft tissue submandibula yang menyempitkan kolom udara daerah hypopharynx .

Gentamycin 2 x 15 mg i.VIII. Paracetamol 3 x 60 mg i. Nystatin drop 4 x 1 ml IX.v.5 – 1 lpm IVFD 2A 430 cc/24 jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. Prognosis : Quo ad vitam : dubia ad bonam Quo ad functionam : dubia ad bonam Quo ad sanationam : dubia ad bonam 10 .v. Penatalaksanaan O2 0.v.

v.v. konsistensi kenyal padat. Paracetamol 3 x 60 mg i. Nystatin drop 4 x 1 ml Konsul spesialis bedah umum Tanggal Follow Up 22/02/2018 S/ Sesak(+). HR : 154 x/menit T : 37. Murmur – Pulmo : Ves +/+. PCH (-) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 3. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris.2 ºC RR : 30 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA: -/. retraksi - Cor : S1S2 reguler .v.5 – 1 lpm IVFD 2A 40 cc/24 jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. pilek (+) O/ Hari ke 2 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : . Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). Murmur – Pulmo : Ves +/+.. retraksi + Cor : S1S2 reguler . Rh +/+. pilek (+). epistaksis (-).Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0. batuk (+). epistaksis (-). warna sama dengan sekitar Thorax : simetris. stridor (+) O/ Hari ke 1 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : .. HR : 132 x/menit T : 37. Gallop . demam(-). SI: -/. stridor (+). SI: -/.. batuk (+)..1 ºC RR : 36 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA: -/.5 cm. Gentamycin 2 x 15 mg i.. Rh +/+ . Wh -/- 11 .. demam(+).FOLLOW UP Tanggal Follow up 21/2/2018 S/ sesak(+). Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). Gallop . konsistensi keras. PCH (+) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 3.5 cm.

Gentamycin 2 x 15 mg i.. konsistensi kenyal padat. Paracetamol 3 x 60 mg i. batuk (+). Nystatin drop 4 x 1 ml Fuson cream 3 x Ventolin 2 x ½ amp 12 . SI: -/. stridor (+). Nystatin drop 4 x 1 ml Tanggal Follow Up 23/02/2018 S/ Sesak(+). Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0. Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-).5 cm. PCH (+) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 3. Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0. pilek (+) O/ Hari ke 3 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : ..1 ºC RR : 36 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA: -/. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris. Gallop .v. Gentamycin 2 x 15 mg i.v.v. Rh +/+.5 – 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. retraksi + Cor : S1S2 reguler .v.. epistaksis (-).v. demam(-).5 – 1 lpm IVFD 2A 8 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. HR : 132 x/menit T : 37. Murmur – Pulmo : Ves +/+.

demam (-) O/ Hari ke 4 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : . PCH (+) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 3. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris.5 cm. PCH (-) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 3.stridor (+). Gallop .stridor (+). HR : 120 x/menit T : 36.v. SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). Gallop .v. epistaksis (-). pilek (+). Murmur – 13 .. epistaksis (-). Rh +/+. konsistensi kenyal padat.6 ºC RR : 34 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/. HR : 120 x/menit T : 36.5 cm.5 – 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. pilek (+). retraksi - Cor : S1S2 reguler . retraksi - Cor : S1S2 reguler . Gentamycin 2 x 15 mg i. SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). konsistensi kenyal padat. Murmur – Pulmo : Ves +/+. Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0.. demam (-) O/ Hari ke 5 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : .4 ºC RR : 28 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/.. Metronidazol 2 x 75 mg Nystatin drop 4 x 1 ml Fuson cream 3 x Ventolin 2 x ½ amp Tanggal Follow Up 25/02/2018 S/ Batuk (+).. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris.Tanggal Follow Up 24/02/2018 S/ Batuk (+).

Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0..v. Metronidazol 2 x 75 mg Nystatin drop 4 x 1 ml Fuson cream 3 x Ventolin 2 x ½ amp Tanggal Follow Up 26/02/2018 S/ Batuk (+). Gentamycin 2 x 15 mg i.v.9 ºC RR : 32 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/.v. HR : 120 x/menit T : 36.5 – 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. Rh +/+. pilek (+). warna sama dengan sekitar Thorax : simetris. Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0.v. Gentamycin 2 x 15 mg i. stridor (+). Metronidazol 2 x 75 mg Nystatin drop 4 x 1 ml 14 . Gallop . epistaksis (-).. Rh +/+. SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). demam (-) O/ Hari ke 6 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : .5 cm. konsistensi kenyal padat. Pulmo : Ves +/+.5 – 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. Murmur – Pulmo : Ves +/+. retraksi - Cor : S1S2 reguler . PCH (-) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 3.

.6 ºC RR : 32 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/. Metronidazol 2 x 75 mg Ventolin 2 x ½ amp Tanggal Follow Up 28/02/2018 S/ Batuk (+) berkurang. HR : 128 x/menit T : 36. demam (-) O/ Hari ke 7 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : . epistaksis (-). SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). retraksi - Cor : S1S2 reguler . epistaksis (-). demam (-) O/ Hari ke 8 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : . Gentamycin 2 x 15 mg i. retraksi - Cor : S1S2 reguler .5 cm. Gallop . pilek (-). stridor (+).v. pilek (-). HR : 118 x/menit T : 36. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris. Gallop . Rh +/+.2 ºC RR : 34 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/.stridor (+). PCH (-) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 3. konsistensi kenyal padat. Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0.. SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). konsistensi kenyal padat. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris.v. PCH (-) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 4 cm. Murmur – 15 . Murmur – Pulmo : Ves +/+.5 – 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i..Tanggal Follow Up 27/02/2018 S/ Batuk (+)..

pilek (-). Gentamycin 2 x 15 mg i. Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0. retraksi - Cor : S1S2 reguler . Gentamycin 2 x 15 mg i.v. Metronidazol 2 x 75 mg Nystatin drop 4 x 1 ml Ventolin 2 x ½ amp Fuson cream 16 . HR : 138 x/menit T : 36. demam (-) O/ Hari ke 9 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : . epistaksis (-). batuk (-). PCH (-) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 4 cm. Metronidazol 2 x 75 mg Nystatin drop 4 x 1 ml Ventolin 2 x ½ amp Fuson cream Tanggal Follow Up 1/03/2018 S/ Stridor (+). Pulmo : Ves +/+.. Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0.. Rh +/+. Murmur – Pulmo : Ves +/+.1 ºC RR : 30 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/.5 – 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. konsistensi kenyal padat.v. Gallop . Rh +/+.v.v.5 – 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris. SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-).

Tanggal Follow Up 2/03/2018 S/ Stridor (+). batuk (-). PCH (-) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 4 cm. Gallop . pilek (-).4 ºC RR : 33 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris. epistaksis (-). Metronidazol 2 x 75 mg Nystatin drop 4 x 1 ml Ventolin 2 x ½ amp Fuson cream Tanggal Follow Up 3/03/2018 S/ Stridor (+). konsistensi kenyal padat. Gentamycin 2 x 15 mg i. HR : 130 x/menit T : 36. Rh -/-. Rh -/-. demam (-) O/ Hari ke 11 KU : TSB KS : Compos Mentis TD : . Murmur – Pulmo : Ves +/+..v. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris. SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). retraksi + Cor : S1S2 reguler . pilek (-). Wh -/- 17 .. batuk (-).5 ºC RR : 30 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/. HR : 128 x/menit T : 36.. retraksi + Cor : S1S2 reguler . epistaksis (-). konsistensi kenyal padat. SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). Murmur – Pulmo : Ves +/+.. Gallop . Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0.v.5 – 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. demam (-) O/ Hari ke 10 KU : TSB KS : Compos Mentis TD : . PCH (-) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 4 cm.

9 ºC RR : 34 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/. pilek (-). SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). epistaksis (-). Gallop . HR : 130 x/menit T : 36.5 – 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0. demam (-) O/ Hari ke 12 KU : TSB KS : Compos Mentis TD : . konsistensi kenyal padat. Murmur – Pulmo : Ves +/+. Metronidazol 2 x 75 mg Nystatin drop 4 x 1 ml Ventolin 2 x ½ amp Fuson cream Tanggal Follow Up 4/03/2018 S/ Stridor (+)..5 – 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i.v.v. Metronidazol 2 x 75 mg Nystatin drop 4 x 1 ml Ventolin 2 x ½ amp Fuson cream 18 . warna sama dengan sekitar Thorax : simetris. Rh -/-. Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Abses submandibula P/ O2 0.. retraksi + Cor : S1S2 reguler . batuk (-). PCH (-) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 4 cm.

Gallop . pilek (-) O/ Hari ke 13 KU : TSB KS : Compos Mentis TD : . muntah setiap minum susu O/ Hari ke 14 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : .demam (+). HR : 144 x/menit T : 38 ºC RR : 35 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris. (ST) Metronidazol 3 x 40 mg Paracetamol drop 3 x 0.. PCH (+) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 4 cm. Ampicillin 4 x 150 mg i. SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). epistaksis (-). retraksi + Cor : S1S2 reguler . Rh -/-.6 ºC RR : 44 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/. SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-). Gallop .v..v. konsistensi kenyal padat.c. warna sama dengan sekitar Thorax : simetris. HR : 140 x/menit T : 36. Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Stridor e.. epistaksis (-). Murmur – 19 .6 ml Nystatin drop 4 x 1 ml Ventolin 2 x ½ amp → stop Rontgen soft tissue leher AP/Lat Tanggal Follow Up 6/03/2018 S/ Stridor (+). retraksi + Cor : S1S2 reguler .? Abses submandibula P/ O2 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Cefotaxime 3 x 200 mg i. Murmur – Pulmo : Ves +/+. PCH (+) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 4 cm.. konsistensi kenyal padat. batuk (-).Tanggal Follow Up 5/03/2018 S/ Stridor (+).

Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Stridor e. Rh -/-. (ST) Metronidazol 3 x 40 mg Paracetamol drop 3 x 0. Murmur – Pulmo : Ves +/+.6 ml Nystatin drop 4 x 1 ml Apialys 1 x 0. Gallop .4 ml Fuson cream 20 .7 ºC RR : 44 x/menit Kepala : normocephale Mata : CA -/.4 ml Fuson cream Rontgen soft tissue leher AP/Lat Tanggal Follow Up 7/03/2018 S/ Stridor (+) O/ Hari ke 15 KU : TSS KS : Compos Mentis TD : . retraksi + Cor : S1S2 reguler .v... Rh -/-.c.? Abses submandibula P/ Pro rujuk O2 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Ampicillin 4 x 150 mg i. PCH (+) Leher : Teraba massa pada daerah submentalis dengan diameter ± 4 cm.6 ml Nystatin drop 4 x 1 ml Apialys 1 x 0. Wh -/- Abdomen : Bu + Ekstermitas : Akral hangat A/ Pnemonia Stridor e. (ST) Metronidazol 3 x 40 mg Paracetamol drop 3 x 0.c.v. epistaksis (-). Pulmo : Ves +/+. HR : 138 x/menit T : 36. konsistensi kenyal padat Thorax : simetris. SI -/- Telinga : Otorrhea (-/-) Hidung : Septum deviasi (-).? Abses submandibula P/ Pro rujuk O2 1 lpm IVFD 2A 5 cc/ jam Ampicillin 4 x 150 mg i.

Gambar 1. Bronkopneumonia merupakan jenis pneumonia yang sering dijumpai pada anak – anak. serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius. atau reaksi inflamasi berupa alveolitis dan pengumpulan eksudat yang dapat ditimbulkan oleh berbagai penyebab dan berlangsung dalam jangka waktu yang bervariasi.Pneumonia 2.1. Pada pemeriksaan histologis terdapat pneumonitis. Bila proses tersebut tidak mencakup satu lobus dan hanya di bronkiolus dengan pola bercak – bercak yang tersebar bersebelahan maka disebut bronkopneumonia. dan alveoli. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Definisi Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru.1. Jenis-jenis pneumonia 21 .1.

prevalens pneumonia (berdasarkan pengakuan pernah didiagnosis pneumonia oleh tenaga kesehatan dalam sebulan terakhir sebelum survei) pada bayi di Indonesia adalah 0. perlu mendapat perhatian.2%) sedangkan provinsi lainnya di bawah 10% Bila dilihat proporsi pneumonia pada kelompok umur balita.8%. Hal ini menunjukkan bahwa bayi merupakan kelompok usia yang tinggi kejadian pneumonianya. Oleh karena itu pneumonia pada balita dan terutama pada bayi.2%) dan Bali (12.2. Prevalensi Pneumonia bayi (<1thn) Menurut Provinsi Tahun 2007 Sedangkan prevalensi pada anak balita (1-4 tahun) adalah 1.2. prevalensi tertinggi adalah provinsi Gorontalo (19. sedangkan provinsi lainnya di bawah 10%.2%. Epidemiologi Menurut data Riskesdas 2007. Seperti pada bayi.00% dengan rentang antar provinsi sebesar 0.9%) dan Bali (13. Untuk itu perlu dilakukan upaya pencegahan pneumonia pada 22 .9%). tampak proporsi pneumonia pada bayi dibandingkan balita sekitar 35% (Gambar.10).1% .1. Bila tidak ditangani dengan benar maka dikhawatirkan dapat menghambat upaya mencapai target MDGs menurunkan angka kematian pada bayi dan anak. Gambar 2. Prevalensi tertinggi adalah provinsi Gorontalo (13.14.76% dengan rentang antar provinsi sebesar 0-13.

Berdasarkan lokasi lesi di paru Pneumonia lobaris Pneumonia interstitialis Bronkopneumonia 2.bayi dan balita dengan perbaikan gizi dan imunisasi dan meningkatkan upaya manajemen tatalaksana pneumonia. Gambar 3. Berdasarkan mikroorganisme penyebab Pneumonia bakteri Pneumonia virus Pneumonia mikoplasma Pneumonia jamur 23 .1. Proporsi Pneumonia Menurut kelompok Umur bayi dan balita tahun 2007- 2009 2.3. Berdasarkan asal infeksi Pneumonia yang didapat dari masyarkat (community acquired pneumonia = CAP) Pneumonia yang didapat dari rumah sakit (hospital-based pneumonia) 3. Klasifikasi 1.

usia tua Pneumonia pada gangguan imun Pada pasien transplantasi. 4. muda atau orang tua Pneumonia Nosokomial Didahului perawatan di RS Pneumonia Rekurens Terdapat dasar penyakt paru kronik Pneumonia Aspirasi Alkoholik. Patogen penyebab pneumonia pada anak bervariasi tergantung : .1. Status lingkungan . onkologi. Berdasarkan lama penyakit Pneumonia akut Pneumonia persisten Klasifikasi Pneumonia Berdasarkan Lingkungan dan Pejamu Tipe Klinis Epidemiologi Pneumonia Komunitas Sporadis atau endemic.3 Etiologi Etiologi pneumonia sulit dipastikan karena kultur sekret bronkus merupakan tindakan yang sangat invasif sehingga tidak dilakukan. polusi udara) . 24 . malnutrisi) Pada awalnya. Hasil penelitian  44-85% CAP disebabkan oleh bakteri dan virus. Kondisi lingkungan (epidemiologi setempat. dan 25-40% diantaranya disebabkan lebih dari satu patogen. AIDS 3. Berdasarkan karakteristik penyakit Pneumonia tipikal Pneumonia atipikal 5. Faktor pejamu (penyakit penyerta. sebagian besar pneumonia bakteri didahului dulu oleh infeksi virus. Usia . Status imunisasi .

aeruginosa. Sumber infeksi lain : Pasase transplasental. Pneumonia dapat ditemukan pada 20% anak dengan pertusis 3. dan Mycoplasma pneumoniae (pneumonia atipikal)terbanyak Faktor yang meningkatkan risiko pneumonia bakterialis : . Kelainan anatomi bawaan . pneumonia. Chlamydia trachomatis  tersering Sifilis kongenital  pneumonia alba. H.pneumoniae. Usia sekolah dan remaja S. influenzae tipe B  tersering Staphylococcus aureus dan Streptokokus grup A  tidak sering tetapi fatal. Fistula trakeoesofageal . Status imunologi menurun akibat penyakit atau obat . Refluks gastroesofageal . CAP 2. E. Fibrosis kistik . Bayi baru lahir (neonatus – 2 bulan) Organisme saluran genital ibu : Streptokokus grup B. S. Usia 1 – 5 tahun Streptococcus pneumonia. Perawatan lama 25 . aspirasi mekonium. aureus  tersering Chlamydia pneumonia : banyak pada usia 5-14 th (disebut pneumonia atipikal) 4. Klebsiela. P. influenzae. Escheria coli dan kuman Gram negatif lain. Aspirasi benda asing . dibagi menjadi : 1. Stretococcus grup A.coli.Etiologi berdasarkan usia. Ventilasi mekanik . Streptokokus grup A. dan H. Listeria monocytogenes. S. Usia > 2 – 12 bulan Streptokokus grup B.

4. Patogenesis Normalnya. saluran pernafasan steril dari daerah sublaring sampai parenkim paru. dan jarang melalui hematogen.2. Virus dapat meningkatkan kemungkinan terjangkitnya infeksi saluran nafas bagian bawah dengan mempengaruhi mekanisme pembersihan dan respon imun. atau bila virulensi organisme bertambah. dan faktor imun lokal dan sistemik. Peningkatan aliran darah yamg melewati paru yang terinfeksi menyebabkan terjadinya pergeseran fisiologis (ventilation-perfusion missmatching) yang kemudian menyebabkan terjadinya hipoksemia. refleks batuk dan mukosilier aparatus. Selanjutnya desaturasi oksigen menyebabkan peningkatan kerja jantung. eksudasi cairan intra-alveolar. Pneumonia bakteri dimulai dengan terjadinya hiperemi akibat pelebaran pembuluh darah. supurasi intrapleura menyebabkan terjadinya empyema. Mekanisme pertahanan lanjut berupa sekresi Ig A lokal dan respon inflamasi yang diperantarai leukosit. penumpukan fibrin. Invasi bakteri ke parenkim paru menimbulkan konsolidasi eksudatif jaringan ikat paru yang bisa lobular (bronkhopneumoni). Diperkirakan sekitar 25-75 % anak dengan pneumonia bakteri didahului dengan infeksi virus. dan infiltrasi neutrofil. Resolusi dari reaksi pleura dapat berlangsung 26 . dan imunitas yang diperantarai sel. atau intersisial. resolusi konsolidasi terjadi setelah 8-10 hari dimana eksudat dicerna secara enzimatik untuk selanjutnya direabsorbsi dan dan dikeluarkan melalui batuk. Paru-paru terlindungi dari infeksi bakteri melalui mekanisme pertahanan anatomis dan mekanis. imunoglobulin. lobar. Mekanisme pertahanan awal berupa filtrasi bulu hidung. Konsolidasi jaringan menyebabkan penurunan compliance paru dan kapasitas vital. Apabila infeksi bakteri menetap dan meluas ke kavitas pleura. sitokin. makrofag alveolar. Infeksi paru terjadi bila satu atau lebih mekanisme di atas terganggu.1. komplemen. yang dikenal dengan stadium hepatisasi merah. Pada kebanyakan kasus. Stadium berikutnya terutama diikuti dengan penumpukan fibrin dan disintegrasi progresif dari sel-sel inflamasi (hepatisasi kelabu). Agen infeksius masuk ke saluran nafas bagian bawah melalui inhalasi atau aspirasi flora komensal dari saluran nafas bagian atas.

1. atau diare o Kadang – kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner  Gambaran gangguan respiratori: o Batuk yang awalnya kering kemudian menjadi produktif o Sesak nafas o Retraksi dada o Takipnea o Napas cuping hidung o Penggunaan otat pernafasan tambahan o Air hunger o Merintih 27 . seperti mual. muntah.5. mengancam kehidupan.secara spontan. gejala klinis yang tidak khas terutama pada bayi. mikroorganisme penyebab yang luas. dan faktor patogenesis. Manifestasi Klinis Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar dari ringan hingga sedang. dan mungkin terjadi komplikasi sehingga perlu dirawat. 2. etiologi noninfeksi yang relatif lebih sering. Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung berat ringannya infeksi. Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pada anak adalah imaturitas anatomik dan imunologik. tetapi secara umum adalah sebagai berikut:  Gambaran infeksi umum : o Demam: suhu bisa mencapai 39 – 40 oC o Sakit kepala o Gelisah o Malaise o Penurunan nafsu makan o Keluhan gastrointestinal. namun kebanyakan menyebabkan penebalan jaringan ikat dan pembentukan perlekatan. Hanya sebagian kecil yang berat. terbatasnya penggunaan prosedur diagnostik invasif.

terdapat gejala klinis ronki atau mengi. muntah. 2. umumnya pasien tidak demam. takikardi atau bradikardi. Iritasi pleura dapat mengakibatkan nyeri dada dan bila berat gerakan dada akan menurun waktu inspirasi. Pneumonia pada Balita dan Anak Pada anak-anak prasekolah. takipneu. takipnea. Anak 28 . faringitis. otitis media. dan dapat berlangsung hingga berminggu – minggu. dan laringitis. grunting. napas cuping hidung. Secara klinis ditemukan gejala respiratori seperti takipnea. dan napas cuping hidung. Pada kelompok anak sekolah dan remaja dapat dijumpai demam. retraksi subkosta (chest indrawing). ditandai dengan batuk staccato ( inspirasi diantara setiap satu kali batuk ). Gejala umum berupa gejala infeksi respiratori ringan – sedang. sakit kepala. menggigil. tidak mau minum. dan juga dehidrasi. Pada bayi BBLR sering terjadi hipotermi. tetapi jarang setelah usia 4 bulan. Pneumonia pada Neonatus dan Bayi Kecil Gambaran klinis pada neonatus dan bayi kecil tidak khas. retraksi subkosta. mencakup serangan apnea. Pada bayi yang lebih tua jarang ditemukan grunting. kadang – kadang disertai muntah. takipnea. Gejala timbul perlahan – lahan. Penyakit ini sering ditemukan bersamaan dengan konjungtivitis. keluhan meliputi demam. Ronki basah halus (fine crackles) khas pada anak besar dapat tidak dijumpai pada bayi. anoreksia. nyeri dada. letargi. Bila berkembang menjadi pneumonia berat yang juga dikenal sebagai sindroma pneumonitis. batuk (nonproduktif/produktif ). dan demam. batuk (nonproduktif/produktif). dan dispneu yang ditandai oleh retraksi dinding dada. dan sianosis. sianosis. Infeksi oleh Chlamydia trachomatis sering terjadi pada bayi berusia di bawah 2 bulan. o Sianosis 1. dan kadang – kadang keluhan gastrointestinal seperti mual atau diare. dimana gejala baru timbul pada usia 4 – 12 minggu dan pada beberapa kasus pada usia 2 minggu. sianosis.

Pneumonia Akibat Infeksi Mycoplasma pneumoniae Infeksi diperoleh melalui droplet dari kontak dekat.5 °C. seperti faringitis. dan otitis. Bula efusi pleura bertambah. pilek. Retraksi dan takipnea merupakan tanda klinis pneumonia yang bermakna. Abdomenn mengalami distensi akibat dilatasi lambung yang disebabkan oleh aerofagi atau ileus paralitik. Rasa nyeri dapat menjalar ke leher. gerakan ekskursi dada tertinggal di daerah efusi. tetapi nyeri pleura semakin berkurang dan berubah menjadi nyeri tumpul. tenggorokan gatal. Pneumonia Akibat Infeksi Clamidia pneumoniae Clamidia pneumoniae merupakan penyebab tersering infeksi saluran napas atas. tetapi dapat menyebakan pnumonia juga. Pada pemeriksaan auskultasi dada tidak ditemukan kelainan. Sputum mungkin berbercak darah dan batuk dapat menetap hingga berminggu – minggu. Gejala klinis awalnya berupa gejala seperti flu. malaise. Kadang – kadang timbul nyeri abdomen bila terdapat pneumonia lobus kanan bawah yang menimbulkan iritasi diafragma. atau memang membesar karena terjadi gagal jantung kongestif sebagai komplikasi pneumonia. dan perut. Ronki hanya ditemukan bila ada infiltrat alveolar. Suhu tubuh jarang mencapai 38. sesak napas akan semakin bertambah. sakit kepala. mialgia. rinosinusitis. 3. Leukosit darah tepi biasanya normal. Nyeri abdomen dapat menyebar ke kuadran kanan bawah dan menyerupai apendisitis. 4. Masa inkubasi kurang lebih 3 minggu. Gambaran klinis pneumonia atipik didahului dengan gejala menyerupai influenza (influenza like syndrome) seperti demam. yaitu batuk kering. bahu. sakit kepala. dan batuk. Batuk terjadi setelah awitan penyakit. 29 . Hati mungkin teraba karena tertekan oleh diafragma. dan demam tidak tinggi. mialgia. besar dengan pneumonia lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. awalnya tidak produktif tetapi kemudian menjadi produktif. malaise. Bila terjadi efusi pleura atau empiema. Gejala respiratori umumnya tidak mencolok.

Pemeriksaan Fisik Batuk dan atau kesulitan bernapas ditambah minimal salah satu hal berikut ini:  Kepala terangguk-angguk  Pernapasan cuping hidung  Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam Selain itu bisa didapatkan pula tanda berikut ini:  Napas cepat: o Anak umur < 2 bulan : ≥ 60 kali/menit o Anak umur 2 – 11 bulan : ≥ 50 kali/menit o Anak umur 1 – 5 tahun : ≥ 40 kali/menit o Anak umur ≥ 5 tahun : ≥ 30 kali/menit  Suara merintih (grunting) pada bayi muda  Pada auskultasi terdengar: o Crackles (ronki) o Suara pernapasan menurun o Suara pernapasan bronkial 30 . Gejalanya antara lain batuk. nyeri abdomen disertai muntah. kejang (pada bayi).6. sesak. 2. Diagnosis 1. Gambaran foto toraks menunjukan infiltrat difus atau gambaran peribronkial nonfokal yang jauh lebih berat dibandingkan gejala klinis. 2. Anak besar kadang mengeluh nyeri kepala. kebiruan sekitar mulut.1. menggigil (pada anak). demam tinggi terus-menerus. Anamnesis Gejala yang timbul biasanya mendadak tetapi dapat didahului dengan infeksi saluran nafas akut bagian atas. penurunan kesadaran. Biasanya anak lebih suka berbaring pada sisi yang sakit. dan nyeri dada. kejang atau kembung. Pada bayi muda sering menunjukkan gejala non spesifik seperti hipotermi.

atau memuntahkan semuanya  Kejang. 4. Pada infeksi Chlamydia kadang – kadang ditemukan eosinofilia.000/mm3). pengambilan spesimen dari paru sangat invasif dan tidak rutin diindikasikan. Kadang – kadang terdapat anemia ringan dan LED yang meningkat. 3.Dalam keadaan yang sangat berat dapat dijumpai:  Tidak dapat menyusu atau minum/makan.000/mm3. cairan pleura. Secara umum hasil peneriksaan darah perifer lengkap tidak dapat membedakan antara infeksi virus dan bakteri secara pasti. Dengan prdominan PMN. limfosit predominan. dan glukosa relatif lebih rendah daripada glukosa darah. letargis atau tidak sadar  Sianosis  Distres pernapasan berat. Diagnosis definitif pneumonia bakterial adalah isolasi mikroorganisme dari par. Pemeriksaan Penunjang a. Akan tetapi pada pneumonia bakteri didapatkan leukositosis (15. Foto PA dan lateral dibutuhkan untuk menentukan lokasi anatomik dalam paru. terutama pada pasien bayi.000 – 40. atau darah. Pemeriksaan radiologis Foto toraks (PA/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan diagnosis. Infiltrat tersebar paling sering dijumpai. protein > 2. Pemeriksaan Laboratorium Pada pneumonia virus umumnya ditemukan leukosit dalam batas normal atau sedikit meningkat (tidak melebihi 20. Leukopenia (<5000/mm3) menunjukkan prognosis yang buruk. Namun.5 g/dl.000/mm3). Pada efusi pleura didapatkan sel PMN pada cairan eksudat berkisar 300-100. Pada bronkopneumonia bercak-bercak infiltrat didapatkan pada satu atau 31 .

IL-1 dan tumor necrosis factor (TNF). b. terutama interleukin 6 (IL6). \ Gambar 4 : Foto toraks PA pada pneumonia lobaris: tampak bercak-bercak infiltrat pada paru kanan Gambar 5 : Foto toraks PA pada bronkopneumonia. produksi CRP distimulai oleh sitokin. atau infeksi 32 . beberapa lobus. Jika difus (merata) biasanya disebabkan oleh Staphylokokus pneumonia. C-Reactive Protein Adalah suatu protein fase akut yang disintesis oleh hepatosit. Secara klinis CRP digunakan sebagai diagnostik untuk membedakan antara faktor infeksi dan non infeksi. infeksi virus dan bakteri. Sebagai respon infeksi atau inflamasi jaringan.

Aspirasi benda asing Ada riwayat tersedak. Kadar CRP biasanya lebih rendah pada infeksi virus dan bakteri. inguinal yang spesifik. fungsi pleura. ronki nyaring halus pada auskultasi. sekresi nasopharing. dan falang. CRP kadang-kadang digunakan untuk evaluasi respon terapi antibiotik. pembengkakan kelenjar limfe leher. kimia darah menggambarkan asidosis respiratotik ataupun metabolik. Diagnosis Banding 1. demam 2 minggu atau lebih. superfisialis dan profunda. pertumbuhan buruk/kurus atau berat badan menurun. retraksi intercostal dan suprasternal. Sayangnya pemeriksaan ini banyak sekali kendalanya. sputum. terdengar wheezing. nafas cuping hidung. baik dari segi teknis maupun biaya. wheezing atau suara pernapasan yang menurun yang bersifat fokal. 4. Pemeriksaan mikrobiologi Diagnosis terbaik adalah berdasarkan etiologi. subfebris. pembengkakan tulang/sendi punggung. yaitu dengan pemeriksaan mikrobiologi spesimen usap tenggorok. Atelektasis 33 . panggulm lutut. Bronkioloitis Diawali infeksi saluran nafas bagian atas. batuk 3 minggu atau lebih. Bahkan dalam penelitianpun kuman penyebab spesifik hanya dapat diidentifikasi pada kurang dari 50% kasus. uji tuberkulin positif (>10mm atau pada keadaan imunosupresi > 5 mm ). Gambaran labarotorium dalam batas normal. 2. aksila. sesak nafas. dan dapat disertai nafsu makan menurun dan malaise yang dapat ditegakkan melalui skor TB. Tuberkulosis Pada TB. aspirasi trakhea. stridor atau distress pernapasan tiba – tiba. 3. d. terdapat kontak dengan pasien TB dewasa.

maka pemilihan antibiotik dipilih berdasarkan pengalaman empiris yang didasarkan pada kemungkinan etiologi penyebab dengan mempertimbangkan usia dan keadaan klinis pasien serta faktor epidiemiologis. misalnya toksis. Adalah pengembangan tidak sempurna atau kempisnya bagian paru yang seharusnya mengandung udara. dan terutama mempertimbangkan usia pasien. 1. Karena identifikasi dini mikroorganisme tidak umum dilakukan. Pengobatan suportif meliputi pemberian cairan intravena. Makrolid. dan gula darah. 34 . tidak mau makan/minum. Neonatus dan bayi kecil dengan kemungkinan klinis pneumonia harus dirawat inap. terapi oksigen. distres pernapasan. Dasar tatalaksana pada pnuemonia rawat inap adalah pengobatan kasual dengan antibiotik yang sesuai. Dispnoe dengan pola pernafasan cepat dan dangkal. Indikasi perawatan terutama berdasarkan berat – ringannya penyakit. baik eritromisin maupun makrolid baru. 2. dapat digunakan sebagai terapi alternatif beta – laktam untuk pengobatan inisial pneumonia. Terapi antibiotik harus segera diberikan pada anak dengan pneumonia yang diduga disebabkan oleh bakteri. Untuk nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik. Pneumonia Rawat Jalan Pada pneumonia ringan rawat jalan dapat diberikan antibiotik lini pertama secara oral. takikardia. Penggunaan antibiotik yang tepat merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan. Perkusi mungkin batas jantung dan mediastinum akan bergeser dan letak diafragma mungkin meninggi. atau bila ada penyakit dasar yang lain. koreksi terhadap gangguan keseimbangan asm – basa dan elektrolit. misalnya amoksisilin 25 mg/kgBB atau kotrimoksazol 4 mg/kgBB TMP dan 20 mg/kgBB sulfametoksazol dua kali sehari selama 3 hari. sianosis.1. dengan pertimbangan adanya aktivitas ganda terhadap S. serta tindakan suportif.7. pneumoniae dan bakteri atipik. komplikasi. Penatalaksanaan Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap.

Pada neonatus dan bayi kecil. antibiotik yang direkomendasikan adalah antibiotik beta – laktam dengan/tanpa klavulanat. Pneumonia Rawat Inap Terapi Antibiotik Pemilihan antibiotik lini pertama dapat menggunakan golongan beta – laktam atau kloramfenikol. atau sefalosporin. Bila anak memberi respons yang baik maka diberikan selama 5 hari. Jika ada tanda pneumonia berat. Selanjutnya terapi dilanjutkan di rumah atau di rumah sakit dengan amoksisilin oral 15 mg/kgBB/kali tiga kali sehari untuk 5 hari berikutnya. Antibiotik diteruskan selama 7 – 10 hari pada pasien dengan pneumonia tanpa komplikasi. 35 . terapi awal antibiotik intravena harus dimulai sesegera mungkin. Pada balita dan anak yang lebih besar. dapat diberikan antibiotik seperti gentamisin. rawat anak di rumah sakit dan tangani sesuai pedoman pneumonia berat. Nasihati ibu untuk membawa kembali anaknya setelah 2 hari atau lebih kalau keadaan anak memburuk atau tidak dapat minum atau menyusui. demam berkurang. Bila pernapasannya membaik ( melambat ). dan nafsu makan tidak ada perubahan. atau sefalosporin generasi ketiga. nafsu makan membaik. Setalah itu. demam. antibiotik yang direkomendasikan adalah antibiotik spektrum luas seperti kombinasi betalaktam / klavulanat dengan aminoglikosid. lanjutkan pengobatan sampai selesai 3 hari. ganti ke antibiotik lini kedua dan nasihati ibu untuk kembali 2 hari lagi. anjurkan ibu untuk memberi makan anak. 2. Oleh karena pada neonatus dan bayi kecil sering terjadi sepsis dan meningitis. sesuai dengan petunjuk etiologi yang ditemukan. WHO menganjurkan pemberian ampisilin/amoksisilin 25 – 50 mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 6 jam yang dipantau dalam 24 jam selama 72 jam pertama. amikasin. Pada pneumonia yang tidak responsif terhadap beta – laktam dan kloramfenikol. Jika frekuensi pernapasan.

beri bronkodilator kerja cepat. Pemberian oksigen setelah saat ini tidak berguna. Terapi Oksigen Beri oksigen pada semua anak dengan pneumonia berat. Hentikan pemberian oksigen bila saturasi tetap stabil > 90%. beri antipiretik seperti parasetamol. Bila tersedia pulse oksimeter. Bila keadaan anak membaik. Terapi Penunjang Bila anak disetai demam yang tampaknya menyebabkan distres. maka bila mungkin foto toraks. ganti antibiotik dengan gentamisin 7. Bila pasien sudah tidak demam atau keadaan sudah stabil. anak yang tidak stabil. Bila pasien datang dengan keadaan klinis yang berat segera berikan oksigen dan pengobatan kombinasi ampisilin – kloramfenikol atau ampisilin – gentamisin. lanjutkan kloksasilin atau diklokasilin secara oral 4 kali sehari sampai secara keseluruhan mencapai 3 minggu atau klindamisin oral selama 2 minggu. hilangkan dengan alat penghisap secara 36 . beri seftriakson 80 – 100 mg/kgBB IV atau IM sekali sehari. antibiotik diganti dengan antibiotik oral dan berobat jalan selama 10 hari. Bila terdapat sekret kental di tenggorokan yang tidak dapat dikeluarkan oleh anak. gunakan sebagai panduan untuk terapi oksigen ( berikan pada anak dengan saturaso < 90%. atau sefalosporin generasi ketiga.5 mg/kgBB IM sekali sehari dan klokasilin 50 mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam atau klindamisin 15 mg/kgBB/hari hingga 3 kali pemberian.pada kasus yang lebih berat diberikan beta – laktam/klavulanat dikombinasikan dengan makrolid baru intravena. Bila tidak membaik dalan 48 jam. Sebagai alternatif. Apabila diduga pneumonia stafilokokal. Bila ditemukaan adanya wheezing. Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 jam atau terdapat keadaan yang berat maka ditambahkan kloramfenikol 25 mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 8 jam.

Kecurigaan ke arah empiema apabila terdapat demam persisten. pekak pada perkusi. Jika asupan cairan oral mencukupi. pneumotoraks. Upaya yang dapat dilakukan antara lain: a. atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis purulenta dapat juga terjadi. Efusi pleura. Di 37 . tetapi hati – hati terhadap kelebihan cairan/overhidrasi. Jika oksigen diberikan bersamaan dengan cairan nasogastrik. 2. Empiema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteri. Miokarditis (tekanan sistolik ventrikel kanan meningkat. Pencegahan Pencegahan Primer Pencegahan primer bertujuan untuk menghilangkan faktor resiko terhadap kejadian pneumonia. pnemothoraks. kreatinin kinase juga meningkat.1. perikarditis purulenta. pasang keduanya pada lubang hidung yang sama. abses paru. ditemukan tanda klinis dan gambaran foto dada yang mendukung (bila masif terdapat tanda pendorongan organ intratorakal.9. Pastikan anak mendapatkan kebutuhan cairan runatan yang sesuai. 2. perikarditis purulenta. karena akan meningkatkan risiko pneumonia aspirasi. atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis purulenta.1. Anjurkan pemberian ASI dan cairan oral. jangan menggunakan pipa nasogastrik untuk meningkatkan asupan. gambaran foto dada menunjukkan adanya cairan pada satu atau kedua sisi dada ). Jika anak tidak dapat minum. dan gagal jantung) juga dilaporkan cukup tinggi pada seri pneumonia anak berusia 2-24 bulan. pasang pipa nasogastrik dan berikan cairan rumatan dalam jumlah sedikit tapi sering.8. Menjaga daya tahan tubuh anak dengan cara memberikan ASI pada bayi neonatal sampai berumur 2 tahun dan makanan yang bergizi pada balita. perlahan. Komplikasi Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis.

zat-zat gizi yang dikonsumsi bayi dan anak-anak juga perlu mendapat perhatian. Pneumonia : diberikan antibiotik kotrimoksasol oral. b. diberikan antibiotik parenteral dan penambahan oksigen. atau amoksisilin. beri penisilin dan dipantau selama 10 hari ke depan. Bukan pneumonia : perawatan di rumah saja. mengurangi kematian serta usaha rehabilitasinya. Upaya yang dilakukan dapat berupa : 38 . menghambat progresifitas penyakit. Jika anak mengalami nyeri tenggorokan. c. ampisilin. Pada pencegahan tingkat ini dilakukan upaya untuk mencegah proses penyakit lebih lanjut seperti perawatan dan pengobatan. Pencegahan Sekunder Tingkat pencegahan kedua ini merupakan upaya manusia untuk mencegah orang yang telah sakit agar sembuh. Bila demam tinggi diberikan paracetamol. Mengurangi kepadatan hunian rumah. dan mengurangi ketidakmampuan. Pencegahan Tersier Tujuan utama dari pencegahan tersier adalah mencegah agar tidak munculnya penyakit lain atau kondisi lain yang akan memperburuk kondisi balita. Pencegahan sekunder meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat sehingga dapat mencegah meluasnya penyakit dan ternjadinya komplikasi. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit. Bersihkan hidung pada anak yang mengalami pilek dengan menggunakan lintingan kapas yang diolesi air garam. c. Upaya yang dapat dilakukan antara lain: a. samping itu. b. Tidak diberikan terapi antibiotik. Mengurangi polusi lingkungan seperti polusi udara dalam ruangan dan polusi di luar ruangan. menghindari komplikasi.

b. Mortalitas dapa lebih tinggi didapatkan pada anak-anak dengan keadaan malnutrisi energi – protein dan datang terlambat untuk pengobatan. Melakukan perawatan yang ekstra pada balita di rumah. dasar mulut.1. maka segera bawa ke sarana kesehatan terdekat agar penyakit tidak bertambah berat dan tidak menimbulkan kematian. Definisi Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah. Sedangkan abses submandibula adalah abses yang terjadi di mandubila. Etiologi Kebanyakan abses disebabkan oleh banyak mikroba. Abses Submandibula 3. Kedua – duanya bekerja sinergis. a. infeksi dapat bersumber dari gigi. Pneumonia biasanya tidak mempengaruhi tumbuh kembang anak. dan kelenjar liur atau kelenjar limfe submandibula. Prognosis Pneumonia biasanya sembuh total dengan mortalitas kurang dari 1 %.1. sebagai contoh mereka mengandung flora campuran. sinus. beri antibiotik selama 5 hari.2.1. Infeksi berat dapat memperjelek keadaan melalui asupan makanan dan peningkatan hilangnya zat- zat gizi esensial tubuh. Mungkin juga 39 . 2. 3. maka malnutrisi bersama – sama dengan infeksi memberi dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan dampak oleh faktor infeksi dan malnutrisi apabila berdiri sendiri. Pada ruang submandibula. Sebaliknya malnutrisi ringan memberikan pengaruh negatif pada daya tahan tubuh terhadap infeksi.1. dan dalam studi didapatkan ada lebih dari 5 spesies yang dapat di isolasi dari satu kasus. 3.1. tonsil. faring. Bila anak bertambah parah. anjurkan ibu untuk tetap kontrol bila keadaan anak memburuk.10. Interaksi sinergis antara malnutrisi dan infeksi sudah lama diketahui.

sebagian kelanjutan infeksi ruang leher dalam lainnya.3.4. Manifestasi Klinis Secara umum. 3. gejala abses adalah :  Nyeri  Bengkak 40 . Kuman penyebab infeksi terbanyak adalah golongan Streptococcus. kuman anaerob Bacteroides atau kuman campur. Patofisiologi 3. Staphylococcus.1.1.

 Eritema pada jaringan  Trismus  Demam Pembengkakan pada abses biasanya :  Terasa nyeri  Panas  Kurang dari 2 minggu  Berkembang sangat cepat  Disertai sakit gigi atau terlihat karies gigi Gejala klinis abses submandibula meliputi demam tinggi. a. Dapat juga terjadi sakit pada dasr mulut. nyeri leher disertai pembengkakan di bawah mandibula dan atau di bawah lidah. dan pemeriksaan penunjang .5. mungkin berfluktuasi. 41 . Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan tanda vital biasa ditemukan demam. mengorek atau mencabut gigi atau adanya riwayat higiene gigi yang buruk. b. Bila di palpasi. dari anamnesis di dapatkan adanya riwayat sakit gigi. trismus. akan terasa kenyal dan terdapat pus. indurasi submandibula dan kulit di bawah dagu eritema dan oedem 3. Anamnesis Sesuai etiologi yang paling sering mengakibatkan abses submandibula.1. Selain itu juga ditemukan adanya pembengkakan di bawah dagu. Diagnosis dan Diagnosis Banding Diagnosis di tegakkan berdasarkan anamnesa. pemeriksaan fisik. Dari anamnesis juga didapatkan gejala berupa sakit pada dasar mulut dan sukar membuka mulut.

cepat dan dapat menilai lokasi dan perluasan abses. jika sudah terdapat komplikasi dapat dijumpai gambaran pneumotoraks dan juga dapat ditemukan gambaran pneumomediastinum. Tomografi Komputer (TK) dengan kontras merupakan standar untuk evaluasi infeksi leher dalam. 42 . Pada gambaran TK dengan kontras akan terlihat abses berupa daerah hipodens yang berkapsul. perluasan dan sumber infeksi. cairan di dalam jaringan lunak. TK dapat menentukan waktu dan perlu tidaknya operasi. Pada foto polos jaringan lunak leher anteroposterior dan lateral didapatkan gambaran pembengkakan jaringan lunak. Pemeriksaan ini dapat membedakan antara selulitis dengan abses. Analisis gas darah dapat menilai adanya sumbatan jalan nafas. udara di subkutis dan pendorongan trakea. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang sangat berperan dalam menegakkan diagnosis. maka pemeriksaan tomografi komputer idealnya dilakukan. Pemeriksaan darah rutin dapat melihat adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda infeksi. Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada kasus abses leher dalam yang diduga sumber infeksinya berasal dari gigi. menentukan lokasi dan perluasan abses. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah pemeriksaan pencitraan resonansi magnetik (Magnetic resonance Imaging / MRI) yang dapat mengetahui lokasi abses. Sedangkan Ultrasonografi (USG) adalah pemeriksaan penunjang diagnostik yang tidak invasif dan relatif lebih murah dibandingkan TK. dapat disertai udara di dalamnya.c. Jika hasil pemeriksaan foto polos jaringan lunak menunjukkan kecurigaan abses leher dalam. Pemeriksaan kultur dan resistensi kuman harus dilakukan untuk mengetahui jenis kuman dan antibiotik yang sesuai. Foto panoramik digunakan untuk menilai posisi gigi dan adanya abses pada gigi. Pada foto polos toraks. dan edema jaringan sekitar.

1. Hal yang paling penting adalah terjaganya saluran nafas yang adekuat dan drainase abses yang baik.3. Algoritma penatalaksanaan abses leher dalam 43 . Evakuasi abses dapat dilakukan dalam anastesi lokal untuk abses yang dangkal dan terlokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis bila letak abses dalam dan luas. Tatalaksana Antibiotik dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob harus diberikan secara parenteral. Sebelum hasil mikrobiologi ada. diberikan antibiotik kuman aerob dan anaerob. tetapi hasil biakan membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasilnya. Seharusnya pemberian antibiotik berdasarkan hasil biakan kuman dan tes kepekaan terhadap bakteri penyebab infeksi. sedangkan pengobatan harus segera diberikan.6.

Prognosis Pasien dengan infeksi leher dalam yang diobati dapat sembuh sempurna bila infeksi ditangani dengan baik dan tepat waktu. Sekali infeksi leher dalam ditangani secara sempurna.1. 44 . Pasien yang mendapat pengobatan yang terlambat dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi dan penyembuhan yang lama.3. maka tidak ada kecenderungan untuk kambuh lagi.7.

. Cefotaxime i. dapat diberikan antibiotik seperti gentamisin. dan alveoli. menandakan adanya suatu bentuk infeksi bakteri. amikasin. distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius. Pemilihan pengobatan antibiotik lini pertama dapat menggunakan golongan beta – laktam atau kloramfenikol. Abses submandibula adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah yang terjadi di mandubila. Pada pasien ini terlihat ada nya gejala sesak. atau sefalosporin. Paracetamol i. serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. dan terdapat benjolan pada daerah dagu. Pada pneumonia yang tidak responsif terhadap beta – laktam dan kloramfenikol.v.v. Pada pemeriksaan fisik pasien ini ditemukan adanya ronkhi pada kedua lapang paru. Pada pasien ini terapi yang diberikan berupa O2 . Gentamycin i. Dan pada pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan leukosit yang mencapai >20. Antibiotik diteruskan selama 7 – 10 hari pada pasien dengan pneumonia tanpa komplikasi. demam hingga 38 celsius. 45 . sesuai dengan petunjuk etiologi yang ditemukan.000/mm3 . dan Nystatin drop 4 x 1 ml.v. BAB III KESIMPULAN Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru. batuk dan pilek.

al. Philadelphia: JB. Kementrian Kesehatan RI. Jenson HB. Abses leher dalam. Jakarta. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Pneumonia Balita. et. 1st ed. 3. Edisi ke 7. 1st ed. [ e – book ]. Hadinegoro SRS. Jakarta: 2010. Infection of the deep Space of the neck. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Jhonson JT. Buku Ajar Respirologi Anak. Setyanto DB. Kohut RI et al editors. 185-8 Garna H. Guyton. Pudjadi AH. Dalam: Iskandar M. Kliegman RM. Tridjaja B.354. Philadelphia: Saunders Elsevier. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak edisi 3. Supriyatno B. 1997. 2005. DAFTAR PUSTAKA Fachruddin D. Hall. Behrman RE. Scott BA. Buku ajar ilmu penyakit telinga hidung tenggorok. Konsensus Pneumonia. 2007:p. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI. 2007 Pedoman Pelayan Medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Steinberg CM. Driscoll BP. Soepardi AE editor. 2010.701-15 46 . Nelson Textbook of Pediatrics. 18th ed. Pusponegoro HD. hal. 2000. In: Bailley BJ. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi Vol. Jakarta : Bagian Pulmonologi FKUI/RSUP Persahabatan. Bandung : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD. 351 . Jilid 1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Firmanda D. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. hal. Kosim MS.Lippincott Company 2001. Otolaryngology Head and neck surgery. Raharjoe NN. 2004. 350 -365. Stanton BF.p.