You are on page 1of 6

SITUASI LANSIA DI INDONESIA TAHUN 2017 Suatu

Hal ininegara
menunjukkan
dikatakan
bahwa
berstruktur
Indonesia
tuatermasuk
jika mempunyai
negara dengan
populasi
struktur
lansiapenduduk
di atas tujuh
menuju
persen
tua
(Soeweno).
(ageing population).
Gambar di bawah memperlihatkan persentase lansia di Indonesia tahun 2017 telah
Besarnya jumlah penduduk lansia di Indonesia di masa depan membawa dampak positif maupun mencapai 9,03% dari keseluruhan penduduk. Selain itu, terlihat pula bahwa persentase penduduk
negatif. Berdampak positif, apabila penduduk lansia berada dalam keadaan sehat, aktif dan GAMBAR
0-4 tahunII. lebih rendah dibanding persentase penduduk 5-9 tahun. Sementara persentase
produktif. Disisi lain, besarnya jumlah penduduk lansia menjadi beban jika lansia memiliki masalah penduduk UMUR
STRUKTUR PENDUDUK
produktif INDONESIA
10-44 tahun TAHUN
terbesar 2017
jika dibandingkan kelompok umur lainnya. Hal ini
penurunan kesehatan yang berakibat pada peningkatan biaya pelayanan kesehatan, penurunan menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan struktur penduduk menuju tua (ageing
pendapatan/penghasilan, peningkatan disabilitas, tidak adanya dukungan sosial dan lingkungan population).
yang tidak ramah terhadap penduduk lansia. 0-4 5-9 10-44 45-59 60+
GAMBAR
tahun II.tahun tahun tahun tahun

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2004, lanjut usia adalah STRUKTUR UMUR PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2017
9,11 9,06 56,18 16,62 9,03 100%
seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Komposisi penduduk tua
bertambah dengan pesat baik di negara maju maupun negara berkembang, hal ini disebabkan
oleh penurunan angka fertilitas (kelahiran) dan mortalitas (kematian), serta peningkatan angka Sumber : Pusat Data dan Informasi
harapan hidup (life expectancy), yang mengubah struktur penduduk secara keseluruhan. Proses Dari gambar di bawah menunjukkan bahwa belum seluruh provinsi Indonesia berstruktur tua. Ada
terjadinya penuaan penduduk dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya: peningkatan gizi, 19 provinsi (55,88%) provinsi Indonesia yang memiliki struktur penduduk tua. Dari gambar di
sanitasi, pelayanan kesehatan, hingga kemajuan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang bawah dapat dilihaat tiga provinsi dengan persentase lansia terbesar adalah DI Yogyakarta
semakin baik. Secara global populasi lansia diprediksi terus mengalami peningkatan seper tampak (13,81%), Jawa Tengah (12,59) dan Jawa Timur (12,25%). Sementara itu, tiga provinsi dengan
pada gambar di bawah. Dari gambar juga menunjukkan bahwa baik secara global, Asia dan persentase lansia terkecil adalah Papua (3,20%), Papua Barat (4,33%) dan Kepulauan Riau (4,35%).
Indonesia dari tahun 2015 sudah memasuki era penduduk menua (ageing population) karena
GAMBAR III.
Sumber : Pusat Data dan Informasi
jumlah penduduknya yang berusia 60 tahun ke atas (penduduk lansia) melebihi angka 7 persen.
PRESENTASE PENDUDUK LANSIA DI INDONESIA TAHUN 2017
GAMBAR I. Dari gambar di bawah menunjukkan bahwa belum seluruh provinsi Indonesia berstruktur tua. Ada
PERKEMBANGAN PENDUDUK DI
LANSIA
DUNIA
DI DUNIA 19 provinsi (55,88%) provinsi Indonesia yang memiliki struktur penduduk tua. Dari gambar di
bawah dapat dilihaat tiga provinsi dengan persentase lansia terbesar adalah DI Yogyakarta
2030
2025
12,9%
11,1%
Berdasarkan data proyeksi penduduk, (13,81%), Jawa Tengah (12,59) dan Jawa Timur (12,25%). Sementara itu, tiga provinsi dengan
2010 9,5% 60+ th diperkirakan tahun 2017 terdapat 23,66 juta persentase lansia terkecil adalah Papua (3,20%), Papua Barat (4,33%) dan Kepulauan Riau (4,35%).
INDONESIA

2015 8,1%
2030
2025
63,6%
63,9%
jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%).
2010 64,1% 15-59 th Diprediksi jumlah penduduk lansia tahun GAMBAR III.
2015 64%
2030
2025
23,4%
25%
2020 (27,08 juta), tahun 2025 (33,69 juta), PRESENTASE PENDUDUK LANSIA DI INDONESIA TAHUN 2017
2010 26,4% 0-14 th tahun 2030 (40,95 juta) dan tahun 2035
2015 27,9%

2030 17,1%
(48,19 juta).
2025 15%
2010 13,1% 60+ th
11,6%
2015
2030 61,8%
Suatu negara dikatakan berstruktur tua jika
ASIA

2025
2010
62,7%
15-59 th
63,4%
mempunyai populasi lansia di atas tujuh
63,8%
2015
21,1%
persen (Soeweno). Gambar di bawah
2030
2025
2010
22,4%
23,5% 0-14 th memperlihatkan persentase lansia di
2015 24,6%
Indonesia tahun 2017 telah mencapai 9,03%
2030 16,4%
14,9%
dari keseluruhan penduduk. Selain itu, terlihat
2025
2010 13,5% 60+ th pula bahwa persentase penduduk 0-4 tahun
Sumber
2015 : 12,3%
United Nations, Department of Economic and Social Affairs, Population Division (2017).
59,9% lebih rendah dibanding persentase penduduk
DUNIA

2030
World
2025Population Prospects: The 60,4%2017 Revision, custom data acquired via website.
15-59 th Sumber : Pusat Data dan Informasi, 2015
2010
2015
61%
61,6%
5-9 tahun. Sementara persentase penduduk
Berdasarkan
2030 data
23,7% proyeksi penduduk, diperkirakan tahun 2017 terdapat
produktif 10-44 23,66 jutaterbesar
tahun jiwa penduduk
jika Angka harapan hidup perempuan lebih tinggi daripada laki-laki, hal ini terlihat dengan
24,6%
2025
lansia
2010 di Indonesia
25,5% (9,03%). 0-14
Diprediksi th
jumlah penduduk lansia tahun 2020 (27,08
dibandingkan kelompok umur lainnya. juta), keberadaan penduduk lansia perempuan yang lebih banyak dari pada lansia laki-laki seperti
2015 26,1%
tahun 2025 (33,69 juta), tahun 2030 (40,95 juta) dan tahun 2035 (48,19 juta). tampak pada gambar di bawah ini.
Sumber: UN, Departement of Economic and Social Affairs, Population Division (2017).
World Population Prospects, the 2017 Revision, custom data acquired via website. Sumber : Pusat Data dan Informasi, 2015
GAMBAR IV. GAMBAR VI.
PRESENTASE PENDUDUK LANSIA MENURUT PRESENTASE PENDUDUK LANSIA MENURUT
JENIS KELAMIN TAHUN 2017 STATUS PERKAWINAN DI INDONESIA TAHUN 2015
STATUS Pola komposisi perkawinan yang
Angka harapan hidup perempuan lebih tinggi Belum Cerai Cerai
PERKAWINAN Kawin berkebalikan antara penduduk lansia
daripada laki-laki, hal ini terlihat dengan 2015 Kawin Hidup Mati
8,54% keberadaan penduduk lansia perempuan yang
laki-laki dan penduduk lansia
perempuan, yaitu pada status kawin
lebih banyak dari pada lansia laki-laki seperti
9,53% tampak pada gambar di samping.
0,68% 82,78% 1,44% 15,10% dan bercerai. Persentase lansia laki-
laki kawin lebih tinggi daripada
9,03% + persentase perempuan kawin, yaitu
82,78% disbanding 39,25%. Untuk
1,14% 39,25% 3,22% 56,39% kelompok cerai mati, persentasi laki-
Sumber : Pusat Data dan Informasi laki yang berstatus cerai mati lebih
rendah daripada persentase
Angka beban ketergantungan mencerminkan beban ekonomi yang harus ditanggung oleh perempuan yang cerai mati, yaitu
penduduk usia produktif untuk membiayai penduduk lansia dengan asumsi bahwa penduduk lansia + 0,92% 59,78% 2,38% 36,92% berturut turut 15,10% disbanding
tersebut secara ekonomi bukanlah lansia yang produktif. Rasio ketergantungan penduduk lansia 56,39%, hal ini mengindikasikan
Indonesia pada tahun 2015 sebesar 13,28 artinya bahwa setiap 100 orang penduduk usia bahwa penduduk lansia perempuan
produktif harus menanggung sekitar 14 orang penduduk lansia. Perkembangan rasio cenderung dapat hidup mandiri
ketergantungan penduduk lansia dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2015 tidak ada Sumber : Badan Pusat Statitik, SUSENAS 2015 dibanding penduduk lansia laki-laki.
perubahan yang signikan seperti tampak pada gambar di bawah ini. Peran penduduk lansia dalam rumah tangga pada dasarnya adalah sebagai agen transfer
pengetahuan kepada generasi berikutnya dan seyogyanya peran tersebut tidak membebani para
GAMBAR V. penduduk lansia. Dalam suatu rumah tangga penduduk lansia dapat berperan sebagai kepala
RASIO KETERGANTUNGAN PENDUDUK rumah tangga (KRT), istri/pasangan, orang tua KRT atau famili. Dari peran tersebut peran sebagai
LANSIA TAHUN 2012-2015 KRT adalah yang paling berat sebab KRT adalah orang yang bertanggung jawab atas pemenuhan
kebutuhan sehari-hari di rumah tangga. Kedudukan KRT juga sangat penting dalam menentukan
kelangsungan dan keberadaan rumah tangga. KRT harus bertanggung jawab secara ekonomi
untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota rumah tangga maupun harus mengatur, memimpin,
serta berperan sebagain mengambil keputusan. Sebagian besar penduduk lansia berperan sebagai
KRT yaitu 61,80% seperti tampak pada gambar di bawah ini.
GAMBAR VII.
PRESENTASE PENDUDUK LANSIA MENURUT STATUS KEANGGOTAAN RUMAH TANGGA
DI INDONESIA TAHUN 2015
90,99
+

61,8
Sumber : Badan Pusat Statitik, SUSENAS 2015
35,76 35,8
Keberadaan anggota rumah tangga lain utamanya pasangan hidup lansia sangat berarti untuk 25,59
19,1
menemani dan menghabiskan sisa perjalanan hidup. Pada tahun 2015 separuh lebih penduduk 17,05
7,48
lansia masih memiliki pasangan hidup, yaitu sebesar 59,78% penduduk lansia masih berstatus cerai 0,38 2,05 2,85 1,16

mati. Hanya sedikit penduduk lansia yang cerai hidup dan belum kawin (dibawah 5%). Kepala Rumah Tangga Istri/Suami Mertua/Orang Tua Lainnya

Sumber : Badan Pusat Statitik, SUSENAS 2015


Salah satu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan pelayanan kesehatan adalah GAMBAR IX.
penduduk lanjut usia. Penduduk lanjut usia secara biologis akan mengalami proses penuaan secara PRESENTASE PENDUDUK LANSIA SAKIT
terus menerus, dengan ditandai menurunnya daya tahan sik sehingga rentan terhadap serangan YANG DIRAWAT INAP DI INDONESIA TAHUN 2015
penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Sebagian besar penduduk lansia
penduduk lansia mengalami sakit

37,57

35,46
34,68
35,05
36,44
Jenis dari keluhan kesehatan dapat mencerminkan kondisi lingkungan tempat tinggal penduduk tidak lebih dari seminggu, yaitu

35,22
secara umum. Keluhan kesehatan adalah keadaan seseorang yang mengalami ganguan lama sakit 1-3 hari sebesar 36,44%
kesehatan atau kejiwaan, baik karena gangguan/penyakit yang sering dialami penduduk seperti + dan 4-7 hari sebesar 35,05%.

15,32
13,76
14,5
panas, pilek, diare, pusing, sakit kepala, maupun karena penyakit akut, penyakit kronis, Sementara itu, peduduk lansia

9,33
9,18
kecelakaan, kriminalitas atau keluhan lainnya. Keluhan kesehatan tidak selalu mengakibatkan yang menderita sakit lebih dari tiga

5,01
4,67
4,83
9
terganggunya aktivitas sehari-hari. minggu masih cukup besar
1-3 4-7 8-14 15-21 22+ (14,5%).
Keluhan kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, akan menghambat upaya peningkatan
kesejahteraan. Keluhan kesehatan yang mengganggu kegiatan sehari-hari inilah yang disebut
sebagai kondisi sakit akibat daya tahan tubuh yang menurun menyebabkan kondisi tubuh lebih Sumber : Badan Pusat Statitik, SUSENAS 2015
rentan terhadap penyakit.
Berbagai upaya dilakukan penduduk untuk menjaga kesehatan lansia, baik oleh lansia yang sakit
Pada tahun 2015 angka kesakitan lansia sebesar 28,62%, artinya bahwa dari setiap 100 orang secara mandiri maupun oleh keluarganya yang masih sehat. Upaya menjaga kesehatan yang dapat
lansia terdapat sekitar 28 orang diantaranya mengalami sakit. Bila dilihat berdasarkan tipe daerah, dilakukan di antaranya adalah dengan berobat sendiri, berobat jalan, maupun rawat inap. Masih
derajat kesehatan lansia yang tinggal di perkotaan cenderung lebih baik daripada lansia yang banyak lansia yang tidak berobat jalan yaitu sebesar 27,84%. Sebagian besar yang menjadi alasan
tinggal di perdesaan seperti tampak pada gambar di bawah ini. penduduk lansia tidak mau berobat jalan adalah dengan mengobati sendiri sebesar 54,06%.
GAMBAR X.
GAMBAR VIII.
PRESENTASE LANSIA SAKIT YANG TIDAK BEROBAT JALAN
ANGKA KESAKITAN LANSIA MENURUT TIPE DAERAH DI INDONESIA TAHUN 2013-2015
DAN ALASANNYA TAHUN 2015

PERKOTAAN PERDESAAN PERKOTAAN & PERDESAAN


Perkotaan &
Perkotaan Perdesaan Perdesaan
2015 2015 2015
26,89% 30,14% 28,62%
25,59% 29,6% 27,84%
2014 2014 2014
23,25% 26,59% 25,05%
2013 2013 2013 99,05
23,12% 26,24% 24,8% 19,22 51,12 Alasan :
57,11
Tidak ada biaya
26,06 54,06
Sumber : Badan Pusat Statitik, SUSENAS 2015 7,78 51,99 Mengobati sendiri
23,02 Merasa tidak perlu
Waktu yang diperlukan seseorang dalam rangka proses penyembuhan dari sakitnya bervariasi.
7,8
Tingkat keparahan penyakit dan daya tahan tubuh seseorang mempengaruhi lamanya menderita 20,97 Lainnya
sakit. Semakin lama seseorang menderita sakit menunjukkan bahwa sakit yang dideritanya cukup 7,81
parah, begitu pula sebaliknya.
Sumber : Badan Pusat Statitik, SUSENAS 2015
Berobat jalan dapat dilakukan dengan mendatangi tempat-tempat pelayanan kesehatan modern GAMBAR XII.
atau tradisonal tanpa menginap, termasuk mendatangkan petugas kesehatan. PRESENTASE PENDUDUK LANSIA YANG MEROKOK DALAM SEBULAN TERAKHIR
MENURUT TIPE DAERAH DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2015
Dari gambar di bawah terlihat tiga tempat yang paling banyak didatangi oleh penduduk lansia
untuk berobat jalan yaitu praktek dokter/bidan (43,11%), Puskesmas (25,97%) dan Rumah Sakit
Pemerintah (12,72%). Dari gambar di bawah juga tampak pola yang sama antara perkotaan dan
perdesaan dalam hal tempat/fasilitas berobat jalan yang diakses penduduk lansia, seperti tampak
pada tabel di bawah.
TABEL I.
PRESENTASE PENDUDUK LANSIA SAKIT YANG BEROBAT JALAN DAN TEMPAT BEROBAT JALAN
MENURUT TIPE DAERAH DI INDONESIA TAHUN 2015
Klinik/ Sumber : Badan Pusat Statitik, SUSENAS 2015
Lansia P r aktek
RS P r aktek P uskesmas/ P r aktek
T ipe Daer ah Ber obat
P emer intah
RS Swasta dokter /
Dokter P ustu
UKBM
Batr a
Lainnya Puskesmas Santun Lansia merupakan puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan lengkap
Jalan Bidan
Ber sama kepada penduduk lansia yang meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative. Tujuan
Perkotaan 74,41 17,55 11,24 36,44 13,22 23,72 1,65 2,97 1,66
program Puskesmas Santun Lansia adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu
kehidupan penduduk lanjut usia untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam
Perdesaan 70,40 8,72 4,68 48,63 7,66 27,83 3,93 3,39 2,63 kehidupan keluarga dan masyarakat. Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
Santun Lansia sebanyak 824 Puskesmas.
Perkotaan dan
72,16 12,72 7,65 43,11 10,17 25,97 2,90 3,20 2,19
Perdesaan
GAMBAR XIII.
Sumber : Badan Pusat Statitik, SUSENAS 2015 JUMLAH PUSKESMAS SANTUN LANSIA MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2015
Persentase penduduk lansia yang pernah di rawat inap dalam setahun terakhir hanya 7,17%. Pada
gambar di bawah terlihat bahwa persentase penduduk lansia di daerah perkotaan yang pernah
di rawat inap lebih tinggi daripada persentase lansia di daerah perdesaan.
GAMBAR XI.
ANGKA KESAKITAN LANSIA MENURUT TIPE DAERAH DI INDONESIA TAHUN 2013-2015

Sumber : Badan Pusat Statitik, SUSENAS 2015


Masa tua jika tidak dijaga dengan baik dapat mengakibatkan ancaman nyawa, sehingga segala
upaya memang harus dirubah, salah satunya dengan perilaku hidup sehat (PHBS), yang
merupakan program pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama
lansia adalah perilaku merokok. Persentase penduduk lansia yang merokok pada tahun 2015
masih cukup tinggi yaitu sebesar 26,04. Bila menurut tipe daerah, persentase merokok di daerah
Sumber : Kementerian Kesehatan Tahun 2015
perdesaan (29,11%) lebih tinggi disbanding perkotaan (22,54%). Sedangkan menurut jenis
kelamin, persentase penduduk lansia laki-laki yang merokok jauh lebih besar (52,47%) dari pada
lansia perempuan (2,47%).
INFOGRAFIS LANSIA Pusat Data dan Informasi, 2017

STRUKTUR UMUR PENDUDUK INDOONESIA 2017 (%) STATUS


Belum Cerai Cerai ANGKA KESAKITAN LANSIA INDONESIA
PERKAWINAN Kawin
2015 Kawin Hidup Mati
0-4 5-9 10-44 45-59 60+
tahun tahun tahun tahun tahun
Perkotaan &
Perkotaan Perdesaan Perdesaan
0,68% 82,78% 1,44% 15,10%
9,11 9,06 56,18 16,62 9,03 100% 2015 2015 2015
26,89% 30,14% 28,62%
PENDUDUK LANSIA INDONESIA 2017 (%) 2014 2014 2014
23,25% 26,59% 25,05%
1,14% 39,25% 3,22% 56,39%
TERBANYAK (%) 2013 2013 2013
23,12% 26,24% 24,8%
DIY 13,81
6,60
4,35
Jateng 12,59 LANSIA TIDAK BEROBAT JALAN
10,42 Jatim 12,25
5,26
Bali 10,71 + 0,92% 59,78% 2,38% 36,92% PERKOTAAN PERDESAAN PERKOTAAN & PERDESAAN
4,33
Sulut 10,42

5,58
TERKECIL (%) Sumber: Badan Pusat Statistik, SUSENAS 2015
5,58
13,81 3,20 Kalteng 25,59% 29,6% 27,84%
10,71 Riau
Kep. Riau 4,35
12,59 12,25 LANSIA SAKIT BEROBAT JALAN TAHUN 2015 (%)
Papbar 4,33 99,05 51,12
Papua 3,20 57,11 19,22 Alasan :
PERKOTAAN PERDESAAN PERKOTAAN & Tidak ada biaya
Sumber: Pusat Data dan Informasi PERDESAAN 26,06 54,06
7,78 51,99 Mengobati sendiri
23,02 Merasa tidak perlu
7,8
PROPORSI PENDUDUK LANSIA INDONESIA PENDUDUK LANSIA INDONESIA 2017 20,97 Lainnya
74,41% 70,4% 72,16% 7,81
2030 12,9%
2025
2010
11,1%
9,5% 60+ th 8,54% PERBANDINGAN JML PKM SANTUN LANSIA DAN PERSEN JML LANSIA
INDONESIA

2015 8,1%
2030 63,6%
63,9% PUSKESMAS SANTUN LANSIA 2015 JUMLAH LANSIA (%)
2025
2010 64,1% 15-59 th 9,53% 17,55
8,72 12,72 Tempat Berobat Jalan:
2015 64% 4,68 158 Jabar 8,1
2030 23,4% 7,65 RS Pemerintah
2025 25%
0-14 th 11,24 131 Jatim 11,5
2010
2015
26,4%
27,9%
9,03% + RS Swasta 100 DIY 13,4
48,63 Praktek Dokter/Bidan 96 Sumut 6,8
2030 17,1% Sumber: Pusat Data dan Informasi 43,11
2025 15%
60+ th 36,44 73 Jateng 11,8
2010 13,1% Klinik/Praktek Dokter
2015 11,6% 47 Banten 5,3
2030 61,8% Puskesmas/Pustu
7,66 32 Jambi 6,5
ASIA

2025
2010
62,7%
63,4% 15-59 th 13,22 10,17
2015 63,8% UKBM 29 NTB 7,7
2030 21,1% 27,83 25,97 26 Bengkulu 6,5
2025 22,4% Praktek Batra
2010 23,5% 0-14 th 23,72 20 Aceh 6,3
2015 24,6%
2,97 1,65 3,39 3,93 3,2 2,9
Lainnya 19 Kep.Riau 4,0
2030 16,4% 21,6 2,63 2,19 16 Bali 10,3
2025 14,9%
2010 13,5% 60+ th 13 Sulteng 7,3
2015 12,3%
59,9% 12 NTT 7,5
DUNIA

2030
2025 60,4% LANSIA SAKIT YANG PERNAH RAWAT INAP TAHUN 2015 (%)
2010 61% 15-59 th 10 Sulsel 8,8
2015 61,6%
23,7%
8 DKI Jkt 6,5
2030
2025 24,6%
0-14 th 7 Kaltara 5,3
2010 25,5%
2015 26,1% 7 Riau 4,8
LANSIA RAWAT INAP LAMANYA 6 Sulut 9,7

37,57
Sumber: UN, Departement of Economic and Social Affairs, Population Division (2017).

35,46
34,68
35,05
36,44
35,22
World Population Prospects, the 2017 Revision, custom data acquired via website. STATUS KEANGGOTAAN LANSIA SETAHUN TERAKHIR LANSIA SAKIT 6 kaltim 5,2
DALAM RUMAH TANGGA TAHUN 2015 (%) TAHUN 2015 TAHUN 2015 5 Maluku 6,6
90,99 2 Kep. Babel 6,8
+ 1 Papbar 4,0

15,32
13,76
14,5
61,8 Sumbar 8,8

9,33
9,18
Lampung 7,8

5,01
4,67
4,83
9
35,76 35,8
+
Gorontalo 7,1
25,59
19,1 17,05 Sumsel 7,0

0,38
7,48
2,05 2,85 1,16
1-3 4-7 8-14 15-21 22+ Kalbar 6,8

Kepala Rumah Tangga Istri/Suami Mertua/Orang Tua Lainnya


Kalsel 6,5

Sumber: Badan Pusat Statistik, SUSENAS 2015 Sumber: Badan Pusat Statistik, SUSENAS 2015
Sultra 6,3
Sulbar 6,3
Malut 5,5
Kalteng 5,2
Papua 2,8