You are on page 1of 12

A.

Master Formula Lengkap

1. Preformulasi

Aminofilin dengan nama resmi Aminophylinum, dengan nama

lain teofilin etilendiamin,mempunyai nama kimiawi dari senyawa

teofilin dengan etilendiamin (2:1)

Mempunyai rumus molekul C10H24N10O4/C10H24N10O4.2H2O dengan

berat molekul 420,43/456,46. Aminofilin adalah senyawa

anhidrat atau mengandung tidak lebih dari 2 molekul hidrat.

Mengandung tidak kurang dari 84,0% dan tidak lebih dari 87,4%

teofilin anhidrat C7H8N4O2, dihitung terhadap zat anhhidrat

(Dirjen POM, 1995: 90).

Sifat fisika kimia dari aminofilin yaitu pemberian

hablur atau serbuk putih atau agak kekuningan, bau amonia

lemah, rasa pahit. Jika dibiarkan diudara terbuka, perlahan-

lahan kehilangan etilendilamin dan menyerap karbon dioksida

dengan melepaskan teofilin. Larutan bersifat basa terhadap

kertas laknus (Dirjen POM, 1995: 90).

Kelarutan tidak larut dalam etanol dan dalam eter.

Larutan 1 gram dalam 25 ml air menghasilkan larutan jernih,

larutan 1 gram dalam 5 ml air menghablur jika didiamkan dan

larut kembali jika ditambah sedikit etilendiamin (Dirjen POM,

1995: 90).

Farmakokinetiknya yaitu teofilin cepat diserap dari

sediaan cair, kapsul, tablet penyerapan menurun oleh makanan,

dan makanan juga mempengaruhi izin teofilin, konsentrasi serum

teofilin. Puncak terjadi 1 sampai 2 jam setelah konsumsi

persiapan cair, kapsul, dan tablet. Teofilin dimetabolisme


dihati untuk 1,3 –dimethyluric asam, asam 1-methyluric
(melalui perantara 1-methylxantine) dan 3-methylxantin.

Demethylation 3-methylxantin (dan mungkin untuk 1-methyxantin)

dikatalisis ileh isoenzim sitokrom p450, demethylation dan

hidroksilasi jalur teofilin dimetabolisme dengan kapasitas

terbatas sehingga eliminasi non linear. Metabolit

diekskresikan dalam urin. Pada orang dewasa sekitar 10% dari

dosis teofilin dieskresikan tidak berubah pada urin tetapi

pada neonatus sekitas 50% dieskresikan tidak berubah dan

sebagian besar dieskresikan kafein (Marthindale, 2009: 1145-

1146).

pH aminofilin yaitu 8,6 sampai 9,0 (Dirjen POM, 1995:

92).

Injeksi aminofilin adalah larutan steril aminofilin

dalam API atau larutan steril teofilin dalam air untuk injeksi

yang dibuat dengan penambahan bahan etilendiamina. Tiap ml

mengandung aminofilin setara dengan tidak kurang 93,0% dan

tidak lebih dari 107,0% teofilin anhidrat, C7H8N4O2, dari jumlah

yang tertera pada etiket injeksi aminofilin boleh mengandung

etilendiamin berlebih, tetapi tidak boleh ditambah zat lain

untuk pengaturan pH (Dirjen POM, 1995: 92).

Aminofilin merupakan obat parenteral seperti agonis

beta, kortikosteroid dan aminofilin dapat diberikan melalui

suntikan pada asma berat akut ketika administrasi oleh

nebulization tidak memadai (BMJ Group, 2009: 148).

Teofilin diberikan melalui suntikan sebagai aminofilin,

sebuah campuran teofilin dengan etilendiamin, yang 20 kali

lebih larut dari teofilin saja. Aminofilin injeksi jarang

diperlukan untuk serangan asma parah. Ini harus diberikan


oleh intravena injeksi sangat lambat (selama setidaknya 20
menit), terlalu mengiritasi untuk penggunaan intramuskular

(BMJ Group, 2009: 158).

Aminofilin merupakan campuran dari teofilin (79%) dan

etilendiamin (13,5-15%). Teofilin secara langsung melemaskan

otot polos bronkus dan pembuluh darah pulmoner, jadi bekerja

sebagai bronkodilator dan pelemas otot polos. Mekanisme

kerjanya kemungkinan disebabkan penghambatan enzim

fosfodiestrase, sehingga meningkatkan siklin AMP intrasel.

Secara invivo, teofilin terbukti bekerja secara sinergis

dengan agonis beta dan sekarang ternyata ada data-data yang

menunjukkan adanya efek adiktif ini invivo (Purwanto, 2008:

434).

Indikasi aminofilin yaitu untuk mengobati dan atau

mencegah gejala asma dan bronkospasme reversibel akibat

bronkhitis kronis dan emfiseme (Purwanto, 2008: 434).

Kontraindikasi aminofilin yaitu hipersensitivitas

terhadap komponen obat termasuk etilendiamin. Ia juga

dikontaindikasikan pada pasien dengan penyakit tukak peptin

aktif dan individu yang mempunyai riwayat penyakit

kejang/kecuali yang mendapat pengobatan antikonvulsan yang

sesuai (Purwanto, 2008: 434).

Efek samping teofilin yaitu mual, muntah, diare, sakit

kepala, insomnia, palpitasi, takikardia, aritmia ventrikular,

bintik merah pada kulit dan hipoglikemia (Ritiasa Ketut, 2013:

232).

Interaksinya terhadap obat-obat seperti cimetidine,

erytromicin, oleandomycin, dan rifampisin (Ritiasa Ketut,

2013: 232).
2. Judul Formula Asli : Injeksi Ampul aminofilin
3. Rancangan Formula

Nama Produk : Askronik injeksi

Jumlah produk : 10 vial @ 10 ml

Tanggal formulasi : 01 juni 2015

Tanggal produksi : 01 juni 2016

No registrasi : DKL 1512301049 A3

No batch : 06011504

Komposisi :

Tiap 10 ml mengandung:

Aminofilin 240 mg

NaCl 2,5 mg

Carbon absorben 0,1%

Dapar fosfat:

NaHPO4 0,8%

Na2HPO4 0,942%

Aqua pro injeksi add 10 ml

4. Master Formula

Diproduksi Tanggal Tanggal Dibuat Disetujui

oleh Formulasi Produksi Oleh Oleh

PT 01 Juni 01 Juni 2016 Kelompok Muhammad

Isohydris 2015 III Irsyad

Farma

Kode Bahan Nama Bahan Kegunaan Perbotol Perbatch

01-Am Aminofilin Zat aktif 240 mg 2400 mg

02-NC NaCl Pengisotonis 2,5 mg 25 mg

03-Ca Carbon Pembebas 0,01 ml 0,1 ml

04-DF Dapar pirogen

fosfat Pendapar 0,06 mg 0,6 mg


NaHPO4 0,03 mg 0,3 mg

05-API Na2HPO4 10 ml 100 ml

Aqua Pro Pembawa

Injeksi

5. Alasan Pembuatan Produk

Sediaan obat suntik merupakan sediaan yang menenmpati

urutan utama pada pengobatan zama modern sekarang ini. Sediaan

obat suntik dibuat dengan melarutkan, mengemulsikan atau

menginjeksikan sejumlah obat kedalam pelarut atau dengan

mengisikan sejumlah obat kedalam wadah dosis tunggal atau

ganda (Natsir Djide, 2009: 81).

Sediaan obat suntik, sesuai dengan syarat-syarat seperti

diuraikan pada defenisi-defenisis menekankan sifat utama

sediaan obat suntik adalah steril, artinya bahwa obat suntik

tidak boleh mengandung mikroorganisme, baik dalam bentuk

vegetatif maupun dalam bentuk spora. Dengan demikian sediaan

obat suntik hanya ada kompromi dalam hal persyaratan, tidak

ada istilah setengah steril atau hampir steril tetapi hanya

ada dua syaratnya steril atau tidak steril (Natsir Djide,

2009: 82).

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi,

suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan

terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan

cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau

selaput lendir (Syamsuni, 2006: 194).

Bentuk sediaan injeksi dinyatakan sebagai pemasukan

parenteral obat (diluar usus) dan dari penerapan enteral yang

berlangsung melalui saluran lambung-usus. Terapi parenteral


memiliki beberapa keuntungan antara lain:
1. Kerja obat lebih cepat

2. Dapat digunakan pada pasien tidak sadar

3. Dapat dicapai keseimbangan awal sebagai akibat kehilangan

darah melalui pengisisan plasma dan kepada pasien dapat

disuplai bahan makanan secara parenteral dalam jaringan waktu

yang panjang

(Voight, 1994: 461-462)

Salah satu bentuk sediaan injeksi yaitu larutan dengan

menggunakan beberapa macam wadah antara lain ampul dan vial.

Botol kecil injeksi (vial, botol penusuk, botol kapsolut)

dapat berupa wadah takaran tunggal atau takaran ganda. Botol

tersebut digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat, larutan

atau suspensi dengan volume minimal sebanyak 5 ml, akan tetapi

diperdagangkan juga untuk volume yang lebih besar. Penggunaan

vial disamping kualitas gelas yang lebih baik. Juga disini

terdapat perbandingan yang lebih baik antara permukaan gelas

efektif terhadap satuan volume. Pada pengisian dengan cairan,

volume yang ditempati cairan dalam botol yang berukuran

seperti disebutkan, kira-kira 8% dan kandungan ruangannya.

Tingkat pengisian ini juga optimal, sehingga peristiwa letusan

wadah pada saat sterilisasi akibat munculnya tekanan dibagian

dalam tidak perlu dikhawatirkan. Tutup karet atau tutup

lempeng kecil bahan sintesis yang digunakan untuk menutupi

botol infus atau botol yang ditusuk tidak boleh melepaskan

bahan padat, bahan pewarna serta komponen toksik atau pirogen

kedalam larutan. Penggunaan tutup yang berulang kali tidak

diizinkan (Voight, 1994: 466).

Aminophyline injeksi adalah larutan steril aminofilin


dalam air untuk injeksi atau larutan steril teofilin dalam API
yang dibuat dengan penambahan etilendilamin (Dirjen POM, 1995:

92). Aminofilin merupakan campuran dari teofilin (79%) dan

etilendilamin (13,5-15%), teofilin secara langsung melemaskan

otot polos bronkus dan pembuluh darah pulmoner, jadi bekerja

sebagai bronkodilator dan pelemas otot polos. Mekanismenya

kemungkinan disebabkan penghambatan enzim fosfodiesterase,

sehingga meningkatkan siklik AMP intasel. Secara invitro,

teofilin terbukti bekerja secara sinergis dengan agonis beta

dan sekarang ternyata ada data-data yang menunjukkan adanya

efek adiktif ini invivo (Purwanto, 2008: 434).

Aminofilin digunakan untuk asma bronkhial dan asma,

jantung, kejang jantung, depresi napas (Ritiasa Ketut, 2013:

234). Indikasinya untuk mengobati dan atau mencegah gejala

asma dan bronkospasme reversibel akibat bronkhitis kronik dan

emfisema (Purwanto, 2008:434).

Adapun alasan penggunaan aminofilin dalam bentuk ampul

dengan volume 10 ml karena aminofilin adalah obat asama yang

membutuhkan kerja cepat, digunakan injeksi agar ketika pasien

terkena serangan, obat dapat bekerja cepat, volume yang

digunakan untuk pemakaian adalah dosis tunggal.

6. Alasan Penambahan Bahan

a. Zat aktif (Aminofilin)

Aminofilin adalah larutan steril aminofilin dalam air

untuk injeksi atau larutan steril teofilin dalam air untuk

injeksi yang dibuat dengan penambahan etilendiamin (Dirjen

POM, 1995: 92).

Aminofilin merupakan campuran dari teofilin (79%) dan

etilendiamin (13,5-15%). Teofilin secara langsung melemaskan


otot polos bronkus dan pembuluh darah pulmoner, jadi bekerja
sebagai bronkodilator dan pelemas otot polos (Purwanto, 2008:

434).

Aminofilin merupakan obat parenteral seperti aginis

beta, kortikosteroid dan aminofilin dapat diberikan melalui

suntikan diasma berat akut ketika administrasi oleh

nebulization memadai atau tidak (BMJ Group, 2009: 148).

Aminofilin merupakan kombinasi teofilin dan

ethylendiamin sehingga teofilin menjadi lebih stabil dan larut

dalam air (Ritiasa Ketut, 2013: 234).

b. Aqua Pro Injeksi

Air murni adalah air yang dimurnikan yang diperoleh

dengan destilasi, perlakuan menggunakan penukar ion, osmosis

balik atau proses lain yang sesuai. Air steril untuk injeksi

adalah air untuk injeksi adalah air untuk injeksi yang

disterilkan dan dikemas dengan cara yang sesuai. Tidak

mengandung antimikroa atau bahan tambahan lainnya (Dirjen POM,

1995: 12).

Air pengaplikasiannya terbagi atas beberapa tipe lain

air bacteriostatic untuk injeki yang digunakan untuk pembawa

dari optalmic dan berbagai dosis injeksi (Rowe, 2009: 766).

Air merupakan pelarut dan pembawa yang paling banyak

digunakan pada pembuatan sediaan obat suntik. Dalam farmakope

air yang digunakan sebagai pelarut dan pembawa sediaan obat

suntik diperoleh dengan cara penyulingan atau memakai penukar

ion. Disamping itu juga diuraikan tentang aqua pro injeksi

(Natsir Djide, 2013: 86-87).

c. Natrium klorida
Natrium klorida banyak digunakan dalam berbagai pentral

formulasi non parenteral, dimana penggunaan utama adalah untuk

menghasilkan solusi isotonik (Rowe, 2009: 637).

NaCl ditambahkan sebagai pengisotonis yaitu senyawa yang

membantu keisotonisan suatu produk mengurangi sakit pada

daerah injeksi yang berakhir kesaraf. Range NaCl yang

digunakan sebagai pengisotonis bervariasi (Lachman, 2008:

1299-1302).

Larutan isotonis kecuali dinyatakan lain, larutan yang

isotonis dengan darah dibuat dengan menambahkan NaCl atau zat

lain yang cocok (Dirjen POM, 1979: 15).

d. Carbon absorben

Pirogen adalah senyawa yang menimbulkan demam, berasal

dari pengotoran mikroba yang timbul pada penderita yang

menerima suntikan intra vena, zat yang biasanya umum digunakan

untuk mengatasi pirogen yaitu carbon aktif (Ansel, 1989: 399).

Karbon aktif dapat digunakan untuk menyaring dan

menghilangkan senyawa patogen yang terdapat terdapat pada air

(Rowe, 2009: 768).

e. Pendapar

pH dapat diatur dengan cara penambahan larutan dapar,

misalnya dapar fosfat untuk injeksi, dapar borat untuk obat

tetes mata (Syamsuni, 2006: 201).

1. Cara Kerja

a. Sterilisasi alat

1. Ruangan
a) Dibersihkan lantai, dinding dan langit-langit dari debu dan

kotoran dengan menggunakan cairan desinfektan hingga bebas

mikroorganisme

b) Dibersihkan udara dengan cara pengasapan (foging) yang

mengandung cairan air borne desinfektan of surfaces

c) Disinari ruangan dengan ultraviolet (uv) min selama 24 jam

d) Ditutup ruangan dan dialiri udara yang telah bebas

mikroorganisme sehingga didapatkan clean area untuk produk

steril

2. Alat

a) Pemanasan secara kering

1) Disiapkan alat-alat yang akan disterilkan berupa backer glass,

erlenmeyer, batang pengaduk, kaca arloji

2) Sebelum dimasukkan kedalam oven, alat-alat tersebut dibungkus

dengan menggunakan kertas untuk menghidari pecahnya alat

3) Dimasukkan semua alat kedalam oven, diatur suhu hingga 1500C

b) Pemanasan secara basah

1) Disiapkan alat yang akan disterilkan berupa spoit, labu ukur,

gelas ukur, kertas saring, pipet tetes

2) Dibersihkan udara yang terdapat pada autoklaf dengan cara

mengeluarkan udara yang lama, setelah udara bersih dimasukkan

alat-alat yang akan disterilisasi

3) Diatur suhunya yaitu 1200C selama 15 menit

4) Ditutup dan dikunci autoklaf

b. Sediaan

1. Pembuatan Aqua Pro Injeksi (API)

a) Didihkan aquades didalam erlenmeyer tertutup selama 30 menit

terhitung sejak mulai mendidih


b) Disaring larutan dengan penyaring asbes
c) Ditambahkan carbon adsorben 0,1% dan dipanaskan pada suhu 600C

selama 10 menit

d) Diaduk sesekali

e) Disaring kembali dengan kertas saring rangkap dua

2. Sediaan infus

a) Disiapkan alat dan bahan

b) Ditimbang aminofilin 240 mg dan natrium klorida 2,5 mg dengan

menggunakan kaca arloji sesuai perhitungan

c) Dimasukkan kedalam becker glass yang sudah ditimbang

d) Dimasukkan API untuk melarutkan zat sampai 10 ml

e) Dihangatkan larutan pada suhu 500C selama 15 menit sambil

diaduk sesekali dan pH dicek

f) Disaring larutan dengan menggunakan kertas saring

g) Disiapkan botol ampul yang telah disterilkan kemudian ujung

ampul dipataskan dengan pemotong kaca lalu dipanaskan ujungnya

kemudian ditempelkan patahannya

h) Dirapikan
i) Diberi wadah, etiket dan brosur

DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Ke 4.

Jakarta. UI Press

BMJ Group. 2009. British National Formulary 58. Germany: GGP Media

GmbH

Dirjen POM. 1975. Farmakope Indonesi Edisi III. Jakarta. DepKes RI

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesi Edisi IV. Jakarta. DepKes RI

Lachman Leon, dkk. 2008. Teori Dan Praktek Farmasi Industri.

Jakarta: UI press
Lee. 2006. British Pharmacopedia. London: The Stationery Office On

Behalf Of The Medicines And Healthcare Products Regulatory

Agency (MHRA)

Matlew J. Hauber. 2005. Remington’s: The Sciences And Practice Of

Pharmacy Philadelphia: University Of The Sciences

Natsir Djide, Rachman Latifa. 2009. Sediaan Farmasi Steril.

Makassar: LepHas

Raymond Rowe, dkk. Handbook Pharmaceutical Excipients. Washington:

APHA

Ritiasa Ketut, dkk. 2013. Info Obat Indonesia. Jakakrta: Parama

Abhipraya

Stephanus Lukas, 2011. Formulasi Steril Edisi Revisi. Yogyakarta:

ANDI

Sweetman. 2010. Martindale The Complete Drug References 36th.

Washington’s: Pharmaceutical Press

Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit EGC


Walter Lund. 1994. Pharmaceutical Codex. London. The Pharmaceutical Press

http://myindahpurnama22.blogspot.co.id/2015/07/rancangan-formula-aminofilin-ampul.html