You are on page 1of 10

POLARIMETRI

I. TUJUAN
- Menentukan rotasi optis suatu isomer optis aktif
- Menentukan konsentrasi suatu larutan isomer optis aktif
- Menentukan komposisi enantiomer dalam campuran rasemiknya

II. ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan:
- Polarimeter 1 set
- Labu ukur 100 ml
- Labu ukur 50 ml
- Gelas kimia 100 ml, 500 ml, 1000 ml
- Labu semprot
- Spatula
- Batang pengaduk
- Neraca analitik
- Corong kaca
- Kertas timbang
- Pipet ukur

Bahan yang digunakan:
- Sukrosa
- HCl pekat
- Pb asetat
- Sampel (madu)
- Aquadest
- Kertas saring

III. DASAR TEORI

Polarimeter merupakan suatu alat yang tersusun atas polarisator dan analisator.
Polarimeter adalah Polaroid yang dapat mempolarisasi cahaya, sedangkan anlisator adalah
Polaroid yang dapat menganalisa/mempolarisasikan cahaya. Polarimetri adalah suatu metoda
analisa yang berdasarkan pada pengukuran daya putaran optis dari suatu larutan. Daya putaran
optis adalah kemampuan suatu zat untuk memutar bidang getar sinar terpolarisir. Sinar

3. Panjang lajur larutan dan panjang tabung. Polarimeter dapat digunakan untuk : 1. Suhu. terpolarisir merupakan suatu sinar yang mempunyai satu arah bidang getar dan arah tersebut tegak lurus terhadap arah rambatannya. seperti pada glukosa. Masing – masing zat memberikan sudut putaran yang berbeda terhadap bidang getar sinar terpolarisir. jika konsentrasi dinaikkan maka putarannya semakin besar. Jenis zat. Menganalisa zat yang optis aktif 2. Memiliki struktur molekul tertentu atau biasanya dijumpai pada zat cair. Jenis sinar( panjang gelombang) Pada panjang gelombang yang berbeda zat yang sama mempunyai nilai putaran yang berbeda. 2. Pemutaran bidang getar sinar terpolarisir oleh senyawa optis aktif ada 2 macam. . 2. contoh :kuarsa ( SiO2 ). Prinsip dasar polarimetris ini adalah pengukuran daya putar optis suatu zat yang menimbulkan terjadinya putaran bidang getar sinar terpolarisir. Jika lajur larutan diperbesar maka putarannya juga makin besar. Dexro rotary (+). Mengukur kadar gula 3. Hal-hal yang dapat mempengaruhi sudut putar suatu larutan adalah sebagai berikut : 1. yaitu : 1. 4. Zat yang optis ditandai dengan adanya atom karbon asimetris atau atom C kiral dalam senyawa organik. hal ini disebabkan karena zat akan memuai dengan naiknya suhu sehingga zat yang berada dalam tabung akan berkurang. Struktur molekul adalah struktur yang asimetris. Pelarut Zat yang sama mempunyai nilai putaran yang berbeda dalam pelarut yang berbeda. 5. jika arah putarnya kekiri atau berlawanan dengan putaran jarum jam. Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dapat memutar bidang getar sinar terpolarisir. fruktosa. jika arah putarnya kekanan atau sesuai putaran jarum jam. Memiliki struktur bidang Kristal tertentu( dijumpai pada zat padat) 2. Makin tinggi suhu maka sudut putarannya makin kecil. Levo rotary (-). Penentuan antibiotic dan enzim Syarat senyawa yang bisa dianalisis dengan polarimetri adalah : 1. 6. Konsentrasi zat Konsentrasi sebanding dengan sudut putaran.

3 nm dan lampu UAP raksasa dengan panjang gelombang 546 nm. Skala lingkar Skala yang bentuknya melingkar. 3. Wadah sampel Berbentuk silinder yang terbuat dari kaca yang tertutup.2 dm. sedangkan di polarimeter lain dapat digunakan detector fotoeletrik. 6. Kedu aujungnya berukuran besar dan yang lain berukuran kecil.maka yang diteruskan hanya . 2. biasanya 0. Polisator dan analisator Fungsi Polisator untuk menghasilkan sinarter polarisir. Cahaya merupakan gelombang elektromagnit yang terdiri dari getaran medan listrik dan getaran medan magnit yang saling tegak lurus. Fungsi analisator untuk menganalisa sudut yang terpolarisasi.maka tak ada sinar yang diteruskan. Komponen-komponen polarimeter 1.Sumber cahayanya yaitu lampu Natrium dengan panjang gelombang 589. 4.Tetapi apabila arah transmisi polarisator tegak lurus terhadap arah analisator. Bila arah transmisi polarisator sejajar dengan arah transmisi analisator. Apabila sinar ini melalui suatu polarisator maka sinar yang diteruskan mempunyai getaran listrik yang terletak pada satu bidang saja dan dikatakan sinar terpolarisasi bidang (linear). Detector Pada polarimeter manual yang menjadi detector yaitu mata.1. 5. Sinar biasa secara umum dapat dikatakan gelombang elektromagnit yang vektor-vektor medan listrik dan medan magnitnya bergetar kesemua arah pada bidang tegak lurus arah rambatnya dan disebut sinar tak terpolarisasi. Bidang getar kedua medan ini tegak lurus terhadap arah rambatnya. Sumber cahaya monokromatis Yaitu sinar yang dapat memancarkan sinar monokromatis.maka sinar yang mempunyai arah getar yang sama dengan arah polarisator akan diteruskan seluruhnya.5.Apabila arahnya membentuk suatu sudut . Prismasetengahnikol Alat untuk menghasilkan bayangan setengah yaitu bayangan gelap dan gelap terang . Wadah harus dibersihkan secara hati- hati dan tidak boleh ada gelembung udara yang terperangkap di dalamnya. Yang digunakan ialah prismanikol.

Prisma Nicol ke dua yang disebut analisator akan membuat cahaya dapat melalui celah secara maksimum. sehingga dihasilkan sinar yang hanya mempunyai satu arah bidang getar yang disebut sebagai sinar terpolarisasi. Rotasi optis yang diamati/diukur dari suatu larutan bergantung kepada jumlah senyawa dalam tabung sampel. sedangkan senyawa yang diukurnya disebut senyawa dekstro (d). Cahaya dari lampu sumber. Akhirnya sinar yang keluar dari larutan adalah sinar yang terpolarisasi bidang. maka digunakan suatu filter atau sumber sinar tertentu. temperatur pengukuran. sebagian.Sinar terpolarisasi linear yang melalui suatu larutan optis aktif akan mengalami pemutaran bidang polarisasi. larutan itu akan meneruskan sinar atau komponen gelombang yang arah getarnya searah dengan larutan dan menyerap sinar yang arahnya tegak lurus dengan arah ini. terpolarisasi setelah melewati prisma Nicol pertama yang disebut polarisator. Sinar monokromatis ini akan melewati suatu prisma yang terdiri dari suatu kristal yang mempunyai sifat seperti layar yang dapat menghalangi jalannya sinar. Untuk mengukur rotasi optik. senyawanya disebut senyawa levo (l). Untuk menghasilkan sinar monokromatis. rotasi ini disebut putar kanan dan diberi tanda (+). dan panjang gelombang cahaya yang digunakan. panjang jalan/larutan yang dilalui cahaya. Rotasi optik yang termati dapat berupa rotasi yang searah jarum jam. Sinar mempunyai arah getar atau arah rambat kesegala arah dengan variasi warna dan panjang gelombang yang dikenal dengan sinar polikromatis. Cahaya dalam keadaan terpolarisasi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :  Gelombang ke semua arah dan tegak lurus arah rambatnya  Terdiri dari banyak gelombang dan banyak arah getar Rotasi spesifik disimbolkan dengan [α] sehingga dapat dirumuskan : [α] = α / dc Dimana : a = besar sudut yang terpolarisasi oleh suatu larutan dengan konsentrasi c gram zat terlarut per mL larutan. Cahaya terpolarisasi kemudian melewati senyawa optis aktif yang akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan arah tertentu. Jika suatu sinar dilewatkan pada suatu larutan. Di sini larutan digunakan sebagai suatu plat pemolarisasi atau polarisator. Rotasi yang berlawanan dengan arah jarum jam disebut putar kiri dan diberi tanda (-). . diperlukan suatu besaran yang disebut rotasi spesifik yang diartikan suatu rotasi optik yang terjadi bila cahaya terpolarisasi melewati larutan dengan konsentrasi 1 gram per mililiter sepanjang 1 desimeter.

7. Beberapa nlai rotasi spesifik untuk beberapa senyawa optis aktif terlihat pada tabel: Senyawa Senyawa d-Glukosa +52.5 g.5 g. Memasukkan larutan gula ke dalam labu ukur 50 ml dan mencukupkannya dengan aquadest sampai tanda batas. Mengetahui d dan l atau + dan – adalah melalui percobaan menggunakan alat polarimeter (Matsjeh. 1983).4 Asam tartarat +14. dan 12.5 d-Fruktosa -92.7 Sukrosa +66. maka [α]T ditulis menjadi [α]. Zat- zat yang mempunyai kemampuan memutar bidang polarisasi ialah zat-zat yang demikian disebut zat optis aktif (Tim Dosen Kimia Analitik. 10 g. 2007). Kadar larutan dapat ditentukan dengan rumus : % = 100 .1 Dengan menggunakan tabung yang sama maka konsentrasi dapat atau kadar senyawa dapat ditentuka dengan jalan membuat kurva standar.1 (semua senyawa Maltosa +130.3 nm yaitu garis D lampu natrium dan suhu standar 20oC. Beberapa zat mempunyai kemampuan memutar bidang polarisasi cahaya. Kemudian dilarutkan menggunakan aquadest yang kurang dari 50 ml 2. Menimbang sukrosa masing-masing 2. IV. PROSEDUR KERJA Larutan standar 1.4 ukur dalam air) (Khopkar. Molekul yang mempunyai atom C asimetris atau atom C kiral yang dapat memutar bidang polarisasi ke kanan diberi tanda d aau + dan ke kiri diberi tanda l atau -. . Kemudian larutan didiamkan selama 3 jam. 5 g. d = merupakan panjang lajur larutan (dm) c = merupakan konsentrasi (gram/mL) Karena panjang gelombang yang sering digunakan adalah 589.5 g. 2010).  () .

dan 12. Sebaliknya apabila cahaya terang berada dibagian kiri maka analyser diputar ke kanan. 7. Melarutkan sukrosa dengan 50 ml aquadest dan memasukkannya ke dalam labu ukur 100 ml kemudian diencerkan dengan aquadest sampai tanda batas 3. Menimbang 25 sukrosa 2. Memasukkan kuvet ke dalam polarimeter c. Memutar analyser hingga menunjukkan keadaan gelap kemudian membaca sudut putarnya Sampel (madu) 1. Melakukan pengukuran atau analisis menggunakan polarimeter setiap 15 menit selama 2 jam dengan cara: .5 g.5 ml HCl pekat kemudian diencerkan dengan aquadest sampai tanda batas 4. Menambahkan 2. Mengisi kuvet dengan larutan standar dan mengusahakan agar tidak ada gelembung yang terjadi b. Memutar analyser hingga menunjukkan keadaan gelap kemudian membaca sudut putarnya 4. Melakukan pengukuran atau analisis menggunakan polarimeter setiap 15 menit selama 2 jam dengan cara: a. 10 g.3. Melarutkan sukrosa dengan 50 ml aquadest dan memasukkannya ke dalam labu ukur 100 ml 3.5 g) kemudian melakukan pengukuran Larutan sukrosa dengan penambahan HCl pekat 1. apabila cahaya terang berada dibagian kanan maka analyser diputar ke kiri. Mengganti larutan dengan larutan sukrosa (larutan standar) dengan konsentrasi berbeda (pada sukrosa 5 g. Mengamati bentuk cahaya yang terbentuk pada analyser. Mengamati bentuk cahaya yang terbentuk pada analyser. Menimbang 25 sukrosa 2. Memasukkan kuvet ke dalam polarimeter c. Sebaliknya apabila cahaya terang berada dibagian kiri maka analyser diputar ke kanan. Mengisi kuvet dengan larutan standar dan mengusahakan agar tidak ada gelembung yang terjadi b. Melakukan pengukuran atau analisis menggunakan polarimeter dengan cara: a. apabila cahaya terang berada dibagian kanan maka analyser diputar ke kiri.

8 75 50.2 . Mengisi kuvet dengan larutan standar dan mengusahakan agar tidak ada gelembung yang terjadi d.9o .8 135 32. Larutan Standar Konsentrasi.7 100 30. C Sudut putar terukur. Sudut putar terukur (α) Sampel (madu) : 12. apabila cahaya terang berada dibagian kanan maka analyser diputar ke kiri.5 120 36. α (menit) (o) 15 77.3 45 57.4 60 56. Memasukkan kuvet ke dalam polarimeter e.4 30 68. α (g/L) (o) 50 21.7 105 40. t Sudut putar terukur.1 200 71.6 150 54. DATA PENGAMATAN . Larutan sukrosa dengan penambahan HCl pekat Waktu.8 90 43. a. Sebaliknya apabila cahaya terang berada dibagian kiri maka analyser diputar ke kanan.8 250 92. Mengamati bentuk cahaya yang terbentuk pada analyser. Memutar analyser hingga menunjukkan keadaan gelap kemudian membaca sudut putarnya V.5 .

180 200 71.217 100 30.1° = ∝ 2 𝑑𝑚 𝑥 150 𝑔/𝐿 [∝]𝑡𝐷 = 𝑙. 𝐶  C = 150 g/L 92.5 0. 𝐶  C = 100 g/L 71. [∝]𝒕𝑫 (g/L) (o) (odm2/g) 50 21.VI.180° 21.8 0. α Sudut putar relatif. 𝑙.185° 𝑔 Konsentrasi.5° = ∝ 2 𝑑𝑚 𝑥 250 𝑔/𝐿 [∝]𝑡𝐷 = 𝑙.6° 𝑔 = 2 𝑑𝑚 𝑥 100 𝑔/𝐿 𝑑𝑚2  C = 250 g/L = 0.179° 30. 𝐶 𝑑𝑚2 = 0.8° = ∝ 2 𝑑𝑚 𝑥 200 𝑔/𝐿 [∝]𝑡𝐷 = 𝑙.217° 𝑔 ∝ [∝]𝑡𝐷 = 𝑙.7° 𝑔 = 2 𝑑𝑚 𝑥 50 𝑔/𝐿 𝑑𝑚2  C = 200 g/L = 0.179 250 92. C Sudut putar terukur. 𝐶 𝑑𝑚2 = 0.7 0.185 Adapun kurva kalibrasinya yaitu: .6 0. 𝐶  C = 50 g/L 54. PERHITUNGAN .1 0. Larutan standar untuk kurva kalibrasi ∝= [∝]𝑡𝐷 . 𝐶 ∝ [∝]𝑡𝐷 = 𝑙.153 150 54. 𝐶 𝑑𝑚2 = 0.153° 𝑔 ∝ [∝]𝑡𝐷 = 𝑙.

5 120 36. C (g/L) .9858 70 60 50 40 30 20 10 0 0 50 100 150 200 250 300 konsentrasi.7 80 sudut putar.4 60 56.2 .8 75 50. SUDUT PUTAR VS KONSENTRASI 100 90 y = 0. Larutan sukrosa dengan penambahan HCl Waktu.3656x . t Sudut putar terukur.4 30 68.3 45 57. α (◦) R² = 0. α (menit) (o) 15 77.0.7 105 40.8 90 43.8 135 32.

𝑙 12. t (menit) .com/2016/02/laporan-praktikum-difraksi- frounhofer.com/2013/02/laporan-praktikum-polarimeter. 𝐶 ∝ 𝐶= [∝]𝑡𝐷 .108 𝑔/𝐿 VII.html http://syamsumarlinjepoters. SUDUT PUTAR VS WAKTU 90 80 70 sudut putar.9° = 𝑑𝑚2 60° 𝑥 2 𝑑𝑚 𝑔 = 0. Sampel (madu) ∝= [∝]𝑡𝐷 . DAFTAR PUSTAKA http://homesciencehealer.108 𝑔/𝑑𝑚3 = 0. KESIMPULAN IX.com/2012/10/laporan-praktikum-polarimetri.blogspot.html .blogspot. α (◦) 60 50 40 30 20 10 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu. 𝑙. PEMBAHASAN VIII.blogspot.html http://newalchemistupdate.