You are on page 1of 8

J.

Gizi Pangan, November 2017, 12(3):203-210


ISSN 1978-1059 EISSN 2407-0920 DOI: 10.25182/jgp.2017.12.3.203-210
Terakreditasi SK Menristek Dikti 12/M/Kp/II/2015 Tersedia daring: http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK SULUR BUAH NAGA PUTIH


(Hylocereus undatus) DENGAN METODE DPPH DAN RANCIMAT
(Antioxidant activity of dragon fruit vine extract [Hylocereus undatus] by DPPH and
Rancimat method)

Hasim1*, Dimas Andrianto1, Ella Deffi Lestari1, Didah Nur Faridah2,3


1
Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor,
Bogor 16680
2
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor,
Bogor 16680
3
Southeast Asian Food & Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center, Institut Pertanian Bogor,
Bogor 16680

ABSTRACT

The objectives of this study were to analyze phytochemical components, to determine total phenol
and flavonoid content, and to test the antioxidant activity of dragon fruit vine extract. The results of
phytochemical analysis showed acetone and ethyl acetate extracts contain alkaloids, flavonoids and
steroids, while methanol extracts contained alkaloids, flavonoids and triterpenoids. Total phenol and
flavonoid content determination results showed the highest concentration in acetone extract of 460.01
GAE mg / 100 g sample and 229.27 RUE mg/100 g sample. Extract of dragon fruit vine has a potencial
as antioxidant by inhibition of free radical of DPPH with best IC50 value on acetone extract 25.32 mg / L.
The results of antioxidant testing in lipid system using rancimat method obtained the highest protection
factor on methanol extract of 1.64.

Keywords: antioxidant, flavonoids, lipid oxidation, phenolic, vines of white dragon fruit

ABSTRAK

Penelitian bertujuan menganalisis komponen fitokimia, menentukan kadar total fenol dan flavonoid
serta menguji aktivitas antioksidan ekstrak sulur buah naga putih. Hasil analisis fitokimia menunjukkan
ekstrak aseton dan etil asetat mengandung alkaloid, flavonoid dan steroid, sedangkan ekstrak metanol
mengandung alkaloid, flavonoid dan triterpenoid. Hasil penentuan kadar total fenol dan flavonoid
menunjukkan kadar tertinggi pada ekstrak aseton sebesar 460,01 GAE mg/100 g sampel dan 229,27
RUE mg/100 g sampel. Ekstrak sulur buah naga berpotensi sebagai antioksidan melalui penghambatan
radikal bebas DPPH dengan nilai IC50 terbaik pada ekstrak aseton sebesar 25,32 mg/l. Hasil pengujian
antioksidan dalam sistem lipid menggunakan metode rancimat diperoleh faktor proteksi tertinggi pada
ekstrak metanol sebesar 1,64.

Kata kunci: antioksidan, fenolik, flavonoid, oksidasi lipid, sulur buah naga putih

PENDAHULUAN dikal bebas dapat bereaksi secara cepat dengan


atom lain untuk mengisi orbital yang tidak ber-
Antioksidan merupakan senyawa atau pasangan. Jika radikal bebas tidak diinaktivasi,
sistem yang dapat meredam reaktivitas radikal maka reaktivitasnya dapat merusak seluruh tipe
bebas dan menghentikan reaksi berantai yang makromolekul seluler, seperti karbohidrat, pro-
dapat merusak makromolekul dalam tubuh tein, lipid dan asam nukleat. Molekul yang ter-
(Oroian & Escriche 2015). Radikal bebas adalah ambil elektronnya akan menjadi radikal bebas
suatu atom atau molekul yang mempunyai satu yang baru (Marks et al. 2000).
elektron atau lebih yang tidak berpasangan pada Makromolekul yang paling rentan
orbital terluarnya dan bersifat sangat reaktif. Ra- terserang radikal bebas salah satunya adalah

*
Korespondensi: Telp: +6281319209692 , Surel: hasimdea@yahoo.com

J. Gizi Pangan, Volume 12, Nomor 3, November 2017 203


Hasim dkk.

lipid. Kerusakan makromolekul ini terjadi ketika diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap
radikal bebas bereaksi dengan asam lemak tak masyarakat dalam mengaplikasikan sulur sebagai
jenuh (PUFA) yang pada akhirnya menyebabkan alternatif pangan fungsional dan memberikan in-
peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid merupakan formasi ilmiah mengenai pengaruh pelarut terha-
reaksi berantai yang memberikan pasokan radi- dap aktivitas antioksidan sehingga dapat menjadi
kal bebas secara terus-menerus yang mengini- referensi untuk penelitian lebih lanjut atau pe-
siasi peroksidasi lebih lanjut. Peroksidasi lipid manfaatannya.
tersebut dapat menyebabkan penyakit degenera-
tif, seperti kanker, jantung koroner, diabetes dan METODE
sindrom metabolik lainnya. Peroksidasi lipid ini
juga sering terjadi pada bahan pangan seperti Desain, tempat, dan waktu
minyak. Peroksidasi lipid dalam pangan dapat Tahapan penelitian dimulai dengan prepa-
menyebabkan terbentuknya produk dekomposisi rasi sampel dan ekstraksi sulur buah naga putih.
volatil seperti aldehid dan keton yang menyebab- Setelah itu, dilakukan uji kadar total fenol dan
kan bau tengik (Shahidi & Ambigaipalan 2015). flavonoid, serta uji aktivitas antioksidan dengan
Kebutuhan antioksidan dapat diperoleh menggunakan metode DPPH dan rancimat. Pene-
dari senyawa yang memiliki aktivitas antiok- litian dilaksanakan di Laboratorium Biokimia
sidan, diantaranya vitamin C dan E, karotenoid dan Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB. Penelitian
(karoten dan xantofil), dan polifenol (flavonoid, dilakukan pada tahun 2016.
asam fenolik, lignan dan stilbenes) (Oroian &
Escriche 2015). Senyawa-senyawa tersebut dapat Bahan dan alat
dieksplorasi dari sumber alami yang dipercaya Bahan yang digunakan adalah daging sulur
lebih aman untuk kesehatan dibandingkan an- buah naga, aseton, etil asetat, metanol, akuades,
tioksidan sintesis. Banyak tanaman yang telah larutan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazin (DPPH),
dilaporkan memiliki potensi sebagai sumber an- asam askorbat (Sigma-Aldrich), larutan buffer
tioksidan alami, seperti ekstrak bekatul (Arab et fosfat pH 7,0, eter, HCl, amil alkohol, serbuk Mg,
al. 2011), ekstrak etanol daun serai (Hasim et al. kloroform, amoniak, H2SO4, FeCl3 1%, etanol
2015) dan buah naga (Cho & Yong 2011). Buah 30%, pereaksi Meyer, pereaksi Wagner, pereaksi
naga telah dikenal sebagai buah yang memiliki Dragendorf, pereaksi Lieberman-Buchard, Na2H-
aktivitas antioksidan dengan senyawa utamanya CO3 7,5%, reagen Folin-Ciocalteu, asam galat
adalah betalain (Thirugnanasambandham & Si- (Sigma-Aldrich), minyak kedelai, tween 80, ru-
vakumur 2015). Kulit buah naga mengandung tin, AlCl3 dan buffer Tris-HCl 0,1 M pH 7,4.
pektin (Muhammad et al. 2014) dan betasianin Alat yang digunakan adalah oven, neraca
yang menentukan pigmen warna merah serta ber- analitik, alat gelas, rotary shaker, rotary evapo-
potensi sebagai antioksidan (Priatni & Pradita rator, dan spektrofotometer UV-VIS, rancimat
2015). Bagian lain dari buah naga yang belum dan stirrer.
diteliti potensinya sebagai sumber antioksidan
adalah sulur, sulur ini harus diatur jumlahnya me- Tahapan penelitian
lalui pemangkasan untuk menjaga tanaman tetap Preparasi Sampel. Sulur buah naga dipe-
dalam kondisi ideal, tidak tercipta kondisi lem- roleh dari kebun Sabisa Farm IPB, jalan sindang
bap dan pertanaman yang rapi (Octaviani 2012). barang, Gedong Seng, RT/RW 03/05, kelurahan
Hasil pemangkasan sulur tersebut masih kurang Loji. Sulur dicuci bersih lalu dikupas bagian lilin-
termanfaatkan dengan optimal. nya. Bagian daging dipotong tipis-tipis kemudian
Penelitian ini bertujuan menganalisis kom- dioven selama 2 hari pada suhu 50 0C. Daging
ponen fitokimia, menentukan kadar total fenol sulur yang telah kering dihaluskan hingga beru-
dan flavonoid serta menguji aktivitas antioksidan kuran 100 mesh. Pengukuran kadar air simplisia
ekstrak sulur buah naga putih. Aktivitas antioksi- menggunakan metode gravimetri (AOAC 2000).
dan ekstrak sulur diuji dengan dua metode yaitu Ekstraksi sulur buah naga putih (Modi-
DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) dan Ranci- fikasi Lestari 2016). Simplisia sulur buah naga
mat. Metode DPPH digunakan untuk melihat ak- putih diekstraksi dengan metode maserasi meng-
tivitas antioksidan ekstrak melalui penghambatan gunakan 3 pelarut berbeda yaitu etil asetat, ase-
radikal bebas DPPH, sedangkan metode Rancimat ton dan metanol dengan perbandingan 1:10 (b/v).
digunakan untuk melihat aktivitas antioksidan Maserasi dilakukan selama 3x24 jam dengan
ekstrak dalam menghambat oksidasi lipid akibat penggantian pelarut setiap 1x24 jam. Proses
aliran udara dan suhu yang tinggi. Penelitian ini maserasi dilakukan sambil meletakkan sampel

204
Aktivitas antioksidan ekstrak sulur buah naga putih

dalam shaker dengan kecepatan 130 rpm. Mase- yang digunakan dalam pengujian kualitatif se-
rat selanjutnya disaring dengan kertas saring dan nyawa triterpenoid dan steroid adalah daun som
filtrat dipekatkan dengan menggunakan rotary jowo.
evaporator pada suhu 50 0C. Penentuan kadar total fenol (Vongsak et
Uji fitokimia (Harborne 1987). Identifikasi al. 2013). Sebanyak 200 μl ekstrak ditambahkan
tanin. Sebanyak 50 mg ekstrak dilarutkan dalam 500 μl reagen Follin Ciocalteu 10 % dan 800 μl
5 ml akuades dan dihomogenisasi. Selanjutnya, Na2HCO3 7,5%. Campuran tersebut selanjutnya
campuran dalam tabung dipanaskan 1000C se- diinkubasi selama 30 menit. Absorbansi diukur
lama 5 menit lalu disaring. Filtrat ditambahkan 5 pada panjang gelombang 765 nm. Standar yang
tetes FeCL3 1%. Hasil positif ditunjukkan dengan digunakan dalam penentuan kadar total fenol
munculnya warna hijau kehitaman. Kontrol posi- adalah asam galat.
tif yang digunakan dalam pengujian kualitatif se- Penentuan kadar flavonoid (Vongsak et
nyawa tanin adalah daun teh. al. 2013). Sebanyak 500 μl ekstrak ditambahkan
Identifikasi alkaloid. Sebanyak 50 mg 500 μl larutan AlCl3 2%. Campuran tersebut se-
ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi. lanjutnya diinkubasi selama 10 menit. Absorbansi
Setiap tabung ditambahkan 5 ml kloroform dan diukur pada panjang gelombang 415 nm. Blanko
5 tetes amonia pekat. Fraksi kloroform diambil didapat dari pengukuran absorbansi sampel tanpa
dan ditambahkan 3 tetes H2SO4 2M. Fraksi asam AlCl3, namun digantikan pelarut yang digunakan.
diambil dengan pipet tetes dan dibagi menjadi Standar yang digunakan dalam penentuan kadar
3 pada plat tetes untuk ditambahkan dengan flavonoid adalah senyawa rutin.
pereaksi Dragendorf, Wagner dan Meyer. Hasil Uji antioksidan dengan metode DPPH
positif alkaloid ditandai dengan terbentuknya (modifikasi Andrianto et al. 2015). Pembuatan
endapan merah oleh pereaksi Dragendorf, enda- campuran DPPH. Sebanyak 1,6 mg DPPH di-
pan coklat oleh pereaksi Wagner dan endapan larutkan ke dalam 10 ml metanol (0,4 mM) dan
putih oleh pereaksi Meyer. Kontrol positif yang dihomogenkan dengan stirer selama 30 menit.
digunakan dalam pengujian kualitatif senyawa Larutan DPPH yang telah homogen ditambahkan
alkaloid adalah daun tapak dara. 10 ml 0,1 M bufer tris HCl pH 7,4 dan 10 ml
Identifikasi flavonoid. Sebanyak 50 mg metanol 20%.
sampel ditambahkan 5ml akuades lalu dipanas- Pengujian aktivitas antioksidan. Seba-
kan selama 5 menit. Hasil pemanasan disaring nyak 6 tabung disiapkan lalu dimasukkan ma-
lalu filtrat yang diperoleh ditambahkan serbuk sing-masing 150 μl, 180 μl, 210 μl, 240 μl, 270
Mg, 1 ml HCl pekat dan 1 ml amil alkohol. Cam- μl dan 300 μl metanol 80%. Selanjutnya, setiap
puran dikocok dan adanya flavonoid ditandai tabung ditambahkan 0,9 ml campuran DPPH.
dengan munculnya warna merah, kuning atau Masing-masing tabung dimasukkan 150 μl, 120
jingga pada lapisan amil alkohol. Kontrol positif μl, 90 μl, 60 μl, 30 μl dan 0 μl larutan sampel
yang digunakan dalam pengujian kualitatif se- 100 ppm, sehingga konsentrasi akhir pada setiap
nyawa flavonoid adalah daun sirih merah. tabung adalah 12,5; 10; 7,5; 5; 2,5; dan 0 ppm.
Identifikasi saponin. Sebanyak 50 mg di- Setiap tabung diinkubasi 20 menit lalu diukur
larutkan dalam 5 ml akuades dan dihomogenisa- absorbansinya pada panjang gelombang 520 nm.
si. Setelah homogen, larutan dipanaskan pada Senyawa standar yang digunakan dalam pengu-
suhu 70 0C selama 5 menit lalu dikocok selama 5 jian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH
menit. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya adalah asam askorbat.
buih stabil selama 10 menit. Kontrol positif yang Uji antioksidan dengan metode Rancimat
digunakan dalam pengujian kualitatif senyawa (Tensiska et al. 2003). Sebanyak 10 ml minyak
saponin adalah biji lerak. kedelai ditambahkan 1 ml ekstrak dan tween 80
Identifikasi triterpenoid dan steroid. Se- sebanyak 3 ml. Larutan campuran kemudian di-
banyak 50mg ekstrak dilarutkan dalam 5 ml eta- timbang sebanyak 2,5 g dalam tabung reaksi dan
nol 30% dan dipanaskan 500C selama 5 menit, ditempatkan dalam heating block. Kecepatan
lalu disaring. Filtrat diuapkan hingga kering. Re- udara diatur 20 l/jam dan suhu 1200C. Pengu-
sidu yang terbentuk ditambah 2 ml eter dan dipin- kuran dilakukan selama waktu inkubasi terukur
dahkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan yaitu waktu saat terjadinya peningkatan konduk-
pereaksi Lieberman Burchard. Adanya triterpe- tivitas listrik secara cepat. Kontrol negatif dibuat
noid ditandai dengan terbentuknya warna merah tanpa penambahan ekstrak. Hasil uji dinyatakan
atau ungu, sedangkan adanya steroid ditandai dengan Fp (Faktor proteksi), yaitu waktu induksi
dengan warna hijau atau biru. Kontrol positif sampel dibagi waktu induksi blanko.

J. Gizi Pangan, Volume 12, Nomor 3, November 2017 205


Hasim dkk.

Pengolahan dan analisis data kadar air maksimal dari simplisia sebesar 10%.
Data penelitian dianalisis secara statistik Kadar air simplisia yang lebih dari 10% akan
menggunakan aplikasi SPSS 22. Jika terdapat menyebabkan terjadinya proses enzimatik dan
perbedaan yang nyata antara perlakuan yang kerusakan oleh mikroba (Manoi 2006). Kadar air
diberikan, maka analisa dilanjutkan dengan uji simplisia sulur yang didapat berbeda dan lebih
Duncan pada taraf nyata 5%. rendah dibandingkan dengan kadar air simplisia
daun lidah mertua yang dilaporkan oleh Komala
HASIL DAN PEMBAHASAN et al. (2012) yaitu sebesar 8,045%. Perbedaan
tersebut disebabkan oleh perbedaan waktu dan
Kadar air, rendemen dan kandungan fito- suhu pengeringan dengan menggunakan oven.
kimia Simplisia sulur buah naga putih yang telah
Kadar air simplisia sulur buah naga pu- memenuhi standar mutu diekstraksi mengguna-
tih yang didapat sebesar 6,34%. Hasil ekstraksi kan metode maserasi. Hasil ekstraksi mem-
menunjukkan ekstrak aseton memiliki nilai ren- peroleh nilai rendemen yang berbeda-beda untuk
demen paling tinggi dibandingkan ekstrak lain- setiap pelarut yang digunakan yaitu rendeman
nya yaitu sebesar 10,29%. Hasil uji statistik ekstrak etil asetat sebesar 1,87%, ekstrak ase-
menunjukkan faktor pelarut dapat memberikan ton sebesar 10,29% dan ekstrak metanol sebesar
pengaruh terhadap rendemen ekstrak yang di- 8,68%. Hasil uji statistik menunjukkan faktor
dapat. Ada perbedaan nyata nilai % rendemen pelarut mempengaruhi rendemen ekstrak yang
ekstrak etil asetat dengan kedua ekstrak lainnya, didapat (Tabel 1). Polaritas pelarut metanol dan
namun % rendemen ekstrak aseton dan metanol air juga berpengaruh terhadap nilai rendemen
tidak berbeda nyata (Tabel 1). Hasil pengujian ekstrak dari simplisia kulit buah manggis yang
kandungan fitokimia menunjukkan ekstrak etil diperoleh yaitu rendemen ekstrak metanol sebe-
asetat dan aseton mengandung alkaloid, flavo- sar 21% dan rendemen ekstrak air sebesar 12%
noid dan steroid, sedangkan ekstrak metanol (Dungir et al. 2012). Tingginya persentase (%)
mengandung alkaloid, flavonoid dan triterpenoid rendemen ekstrak aseton dibandingkan ekstrak
(Tabel 2). lainnya menunjukkan senyawa bioaktif pada su-
lur buah naga putih lebih bersifat semipolar se-
Tabel 1. Kadar air simplisia dan rendemen ekstrak hingga paling tinggi dan banyak terekstrak pada
sulur buah naga putih pelarut aseton yang bersifat semipolar.
Kadar air Rendemen Ekstrak selanjutnya diuji kandungan fito-
Sampel Ekstrak kimia secara kualitatif. Hasil pengujian kan-
simplisia (%) terkoreksi (%)
Etil asetat 1,87b dungan fitokimia menunjukkan ekstrak etil asetat
Daging
sulur 6,34 Aseton 10,29a dan aseton mengandung alkaloid, flavonoid dan
Metanol 8,68a steroid, sedangkan ekstrak metanol mengan-
Keterangan: a,b menunjukkan korelasi berbeda atau tidak berbe- dung alkaloid, flavonoid dan triterpenoid (Tabel
da nyata antar data rendemen pada tiap perlakuan
berdasarkan uji Duncan pada taraf nyata 5%. 2). Polaritas pelarut aseton dan asil asetat yang
digunakan untuk ekstraksi Hylocereus undatus
Tabel 2. Hasil uji fitokimia ekstrak sulur buah naga segar juga berpengaruh terhadap senyawa bio-
putih aktif yang terekstrak yaitu ekstrak aseton me-
Ekstrak ngandung fenolik, triterpenoid, steroid, flavo-
Jenis uji Etil
noid, dan saponin, sedangkan ekstrak asil asetat
Aseton Metanol mengandung fenolik, triterpenoid, steroid, dan
asetat
flavonoid (Firdiyani et al. 2015). Pelarut yang
Alkaloid + + + berbeda akan melarutkan senyawa-senyawa yang
Saponin - - - berbeda bergantung tingkat kepolarannya (Sala-
Tanin - - - mah et al. 2008). Hasil penelitian Susanti et al.
Flavonoid + + + (2012) menunjukkan ekstrak etanol daging buah
Triterpen - - + naga putih mengandung triterpenoid, alkaloid,
Steroid + + - flavonoid, dan saponin.
Keterangan: + = ada senyawa; - = tidak ada senyawa.
Kadar total fenol
Hasil penelitian menunjukkan kadar air Hasil pengukuran kadar total fenol ekstrak
simplisia sulur buah naga sebesar 6,34% (Tabel sulur buah naga putih menunjukkan ekstrak
1). Kadar air simplisia sulur tersebut sesuai stan- aseton memiliki kadar total fenol paling tinggi
dar mutu BPOM (2014) yang menyatakan nilai dibandingkan kedua ekstrak lainnya yaitu sebesar

206 J. Gizi Pangan, Volume 12, Nomor 3, November 2017


Aktivitas antioksidan ekstrak sulur buah naga putih

460,01 GAE mg/100 g sampel. Hasil uji statistik Kadar total flavonoid
menunjukkan faktor pelarut dapat mempengaruhi Hasil pengukuran kadar flavonoid ekstrak
konsentrasi fenol dalam ekstrak dan memberikan sulur buah naga putih dapat dilihat pada Gambar
perbedaan nyata untuk semua ekstrak (Gambar 2. Hasil uji statistik menunjukkan faktor pelarut
1). dapat mempengaruhi kadar flavonoid dan mem-
berikan perbedaan nyata untuk setiap ekstrak uji
dengan kadar flavonoid tertinggi pada ekstrak
aseton sebesar 229,27 RUE mg/100 g sampel.

Keterangan: Garis vertikal diatas tiap balok data menunjukkan galat


baku dan huruf-huruf di atas balok data pembandingan
nilai tengah konsentrasi fenol pada tiap perlakuan ber-
dasarkan uji Duncan pada taraf nyata 5%; n=3.
Keterangan: Garis vertikal di atas tiap balok data menunjukkan galat
Gambar 1. Hubungan pelarut ekstrak dan kosen- baku dan huruf-huruf di atas balok data pembandingan
trasi total fenol. nilai tengah konsentrasi flavonoid pada tiap perlakuan
berdasarkan uji Duncan pada taraf nyata 5%;n=3.

Hasil pengukuran kadar total fenol menun- Gambar 2. Hubungan pelarut ekstrak dan kon-
jukkan faktor pelarut dapat mempengaruhi kadar sentrasi total flavonoid.
total fenol dan memberikan perbedaan nyata un-
tuk semua ekstrak dengan kadar tertinggi pada Berdasarkan uji statistik, faktor pelarut
ekstrak aseton yaitu 460,01 GAE mg/100g sam- berpengaruh terhadap kadar flavonoid yang ter-
pel (Gambar 1). ekstrak dan memberikan perbedaan nyata untuk
Polaritas pelarut etanol 50% dan air yang semua ekstrak. Polaritas pelarut metanol, etanol
digunakan untuk ekstraksi biji melinjo pada suhu 96% dan etanol 70% juga berpengaruh secara
750C juga memberikan perbedaan nyata terhadap signifikan terhadap kadar flavonoid pada ekstrak
kadar total fenol yang didapat yaitu kadar total pegagan asal Lembang yaitu ekstrak metanol
fenol ekstrak etanol 50% sebesar 0,365 GAE sebesar 180,09 QE mg/g, ekstrak etanol 96%
mg/100 mg dan ekstrak air sebesar 0,172 GAE sebesar 225,46 QE mg/g dan ekstrak etanol 70%
mg/100 mg (Soehendro et al. 2015). Perbedaaan sebesar 295,37 QE mg/g (Artanti et al. 2014).
tingkat kepolaran pelarut menentukan struktur Pelarut yang berbeda akan melarutkan senyawa-
kimia senyawa fenolik yang terekstrak dan se- senyawa yang berbeda bergantung tingkat kepo-
nyawa fenolik yang mempunyai gugus fungsi larannya (Salamah et al. 2008). Hasil uji menun-
hidroksil yang banyak atau dalam kondisi bebas jukkan kadar flavonoid tertinggi terdapat pada
(aglikon) akan menghasilkan kandungan fenolik ekstrak aseton sebesar 229,27 RUE mg/100g
total yang tinggi (Ukieyanna 2012). sampel. Hal tersebut menunjukkan senyawa
Tingginya kadar total fenol dalam ekstrak flavonoid pada ekstrak sulur buah naga putih
aseton dibandingkan kedua ekstrak lainnya lebih bersifat semipolar sehingga paling tinggi
menunjukkan senyawa fenol pada ekstrak sulur kadarnya pada sulur yang di ekstrak dengan
buah naga putih lebih bersifat semipolar sehingga aseton yang bersifat semipolar. Kadar flavonoid
paling tinggi kadarnya pada sulur yang diekstrak- sulur buah naga putih lebih tinggi dibandingkan
si dengan pelarut aseton yang bersifat semipolar kadar flavonoid biji buah naga putih yang diek-
dibandingkan kedua pelarut lainnya. Kadar total traksi dengan etanol 50% sebesar 11,484 RUE
fenol pada ekstrak sulur buah naga putih lebih mg/100g (Le 2014).
tinggi dibandingkan pada buah (daging dan kulit)
atau daging buah segarnya yaitu sebesar 20,14 Aktivitas antioksidan dengan metode DPPH
GAE mg/100g dan 28,65 GAE mg/100g (Cho & Aktivitas antioksidan ekstrak sulur buah
Yong 2011). naga putih ditentukan menggunakan metode

J. Gizi Pangan, Volume 12, Nomor 3, November 2017 207


Hasim dkk.

DPPH dengan antioksidan pembandingnya dikatakan sangat kuat bila IC50 <50 mg/l, kuat
adalah asam askorbat. Hasil uji menunjukkan bila IC50 bernilai 50-100 mg/l, sedang bila IC50
bahwa asam askorbat memiliki aktivitas tertinggi bernilai 100-150 mg/l dan lemah bila IC50 berni-
dengan nilai IC50 sebesar 7,37 mg/l dan ada per- lai 150-200 mg/l (Kadji et al. 2013).
bedaan nyata IC50 asam askorbat dengan ketiga Hasil uji korelasi statistik menunjukkan
sampel ekstrak. Ekstrak aseton memiliki aktivi- nilai IC50 mempunyai hubungan berbanding ter-
tas tertinggi dibandingkan dengan kedua ekstrak balik atau aktivitas antioksidan berbanding lurus
lainnya yaitu sebesar 25,32 mg/l. Hasil uji statis- dengan kadar total fenol dan flavonoid. Aktivitas
tik menunjukkan faktor pelarut dapat memberi- antioksidan umumnya berbanding lurus dengan
kan pengaruh terhadap IC50. Ada perbedaan nyata keberadaan senyawa fenolik termasuk senyawa
nilai IC50 ekstrak aseton dengan kedua ekstrak flavonoid karena fenolik dapat menyumbang-
lainnya, namun IC50 ekstrak etil asetat dan meta- kan atom hidrogen untuk menetralkan reaktivi-
nol tidak berbeda nyata (Gambar 3). Hasil uji tas radikal bebas. Selanjutnya, radikal fenolik
korelasi statistik menunjukkan IC50 memiliki ko- yang terbentuk akibat dari proses tersebut akan
relasi negatif kuat dengan kadar fenol dan flavo- distabilkan oleh delokalisasi elektron tidak ber-
noid namun tidak signifikan. pasangan di seluruh cincin aromatiknya (Shahidi
& Ambigaipalan 2015).
Aktivitas antioksidan ekstrak sulur buah
naga putih dalam menghambat radikal bebas
DPPH lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol
daging buahnya dengan nilai IC50 sebesar 193
mg/l (Susanti et al. 2012). Aktivitas antioksidan
pada buah (daging dan kulit) dan daging buah
naga putih segar juga lebih rendah dibandingkan
ekstrak sulur yaitu masing-masing memiliki ni-
lai IC50 sebesar 14,61 mg/ml (14,61 x 103 mg/l)
dan 9,91 mg/ml (9,91 x 103 mg/l)6. Nilai IC50 dari
ekstrak sulur buah naga putih lebih besar dari ni-
Keterangan: Garis vertikal diatas tiap balok data menunjukkan galat lai IC50 asam askorbat yaitu sebesar 7,367 mg/l.
baku dan huruf-huruf di atas balok data pembandingan Nilai IC50 vitamin C tersebut lebih tinggi diban-
nilai tengah IC50 pada tiap perlakuan berdasarkan uji
Duncan pada taraf nyata 5%; n=3.
dingkan dengan penelitian Susanti et al. (2012)
yang mendapatkan nilai IC50 sebesar 4,3 μg/ml
Gambar 3. Nilai IC50 asam askorbat dan ekstrak (4,3 mg/l). Perbedaan tersebut diduga kerena per-
sulur buah naga putih. bedaan vitamin C dan metode yang digunakan.

Hasil uji statistik aktivitas antioksidan de- Aktivitas antioksidan dengan metode DPPH
ngan metode DPPH menunjukkan faktor pelarut Rancimat
dapat memberikan pengaruh nyata terhadap ak- Hasil pengukuran menunjukkan ekstrak
tivitas antioksidan antar ekstrak pada taraf nyata metanol memiliki Fp (faktor proteksi) paling
5%. Aktivitas antioksidan terkuat dalam meng- tinggi dibandingkan kedua ekstrak lainnya yaitu
hambat radikal bebas DPPH adalah ekstrak aseton sebesar 1,64. Hasil uji statistik menunjukkan fak-
yaitu ditandai dengan nilai IC50 terendah sebesar tor pelarut tidak memberikan nilai berbeda nyata
25,32 mg/l (Gambar 3). Nilai tersebut memberi- terhadap Fp dari hasil uji antioksidan dengan
kan indikasi bahwa ekstrak sulur buah naga putih metode Rancimat pada taraf nyata 5% (Gambar
aseton pada konsentrasi 25,32 mg/l dapat meng- 4). Hasil uji korelasi statistik menunjukkan ada
hambat 50% radikal bebas DPPH. Tingginya korelasi positif terhadap kadar flavonoid yang
aktivitas antioksidan ekstrak sulur aseton diban- signifikan pada taraf nyata 5% dan kadar fenol
dingkan ekstrak lainnya menunjukkan sebagian yang tidak signifikan.
besar senyawa antioksidan yang memiliki akti- Hasil pengujian aktivitas antioksidan de-
vitas tinggi pada sulur buah naga putih tergolong ngan metode Rancimat dapat dilihat pada Gambar
senyawa semipolar karena larut dalam pelarut ase- 4. Hasil pengujian menunjukkan ekstrak metanol
ton yang bersifat semipolar. Aktivitas antioksidan sulur memberikan nilai Fp terbaik dibandingkan
ekstrak lain dari penelitian ini digolongkan masih dengan ekstrak lainnya yaitu 1,64. Hasil uji statis-
sangat kuat yaitu ekstrak etil asetat memiliki IC50 tik Anova menunjukkan faktor pelarut tidak mem-
sebesar 45,764 mg/l dan ekstrak metanol memiliki berikan perbedaan nilai Fp yang nyata sehingga
IC50 sebesar 47,799 mg/l. Aktivitas antioksidan uji pelarut tidak memberikan pengaruh terhadap

208 J. Gizi Pangan, Volume 12, Nomor 3, November 2017


Aktivitas antioksidan ekstrak sulur buah naga putih

aktivitas antioksidan seperti triterpenoid (Artanti


et al. 2014) atau kurang murninya senyawa fenol
atau flavonoid dalam ekstrak, seperti senyawa
flavonoid banyak mengandung glikosida yang
dapat menurunkan aktivitas antioksidannya. Ak-
tivitas antioksidan pada flavonoid biasanya naik
dengan kenaikan jumlah gugus hidroksil dan
penurunan glikosilasi (Shahidi & Ambigaipalan
2015).

KESIMPULAN
Keterangan: Garis vertikal diatas tiap balok data menunjukkan galat
baku dan huruf-huruf di atas balok data pembandingan
nilai tengah konsentrasi flavonoid pada tiap perlakuan ber- Senyawa fitokimia ekstrak aseton dan etil
dasarkan uji Duncan pada taraf nyata 5%. asetat sulur buah naga putih adalah alkaloid, fla-
Gambar 4. Hubungan pelarut ekstrak dan Fp vonoid dan steroid, sedangkan ekstrak metanol
(faktor proteksi) dari uji rancimat. sulur buah naga putih adalah alkaloid, flavonoid
dan triterpenoid. Ekstrak aseton sulur buah naga
aktivitas antioksidan dalam mencegah oksidasi putih mengandung kadar fenol dan flavonoid ter-
lipid dengan metode ini. Hasil ini sama dengan tinggi dibandingkan ekstrak lainnya yaitu sebesar
penelitian Hasim et al. (2015) yang menyatakan 460,01 GAE mg/100 g sampel dan 229,27 RUE
faktor pelarut ekstrak tidak memberikan penga- mg/100 g sampel. Ekstrak sulur buah naga putih
ruh nyata terhadap aktivitas antioksidan ekstrak memiliki aktivitas antioksidan dalam mengham-
etanol daun serai dengan metode Rancimat yaitu bat radikal bebas DPPH dan mencegah oksidasi
ekstrak etanol 30% sebesar 1,05, ekstrak etanol lipid. Ekstrak aseton memiliki aktivitas antioksi-
70% sebesar 1,19 dan ekstrak etanol 96% sebe- dan tertinggi dalam menghambat radikal bebas
sar 1,11. Aktivitas antioksidan ekstrak sulur pada DPPH dengan nilai IC50 sebesar 25,32 mg/l dan
penelitian ini lebih tinggi dibandingkan ekstrak ekstrak metanol memiliki aktivitas antioksidan
etanol buah andaliman sebesar 1,18 (Tensiska et terbaik dalam menghambat oksidasi lipid dengan
al. 2003) dan ekstrak etanol 70% daun serai sebe- nilai Fp sebesar 1,64.
sar 1,19 (Hasim et al. 2015), namun lebih tinggi
dibandingkan ekstrak daun jambu biji sebesar DAFTAR PUSTAKA
1,72 (Zahidah et al. 2013).
Adanya aktivitas antioksidan dalam [AOAC] Association of Official Analytical
ekstrak sulur buah naga putih dikarenakan ada- Chemist. 2000. Official Methods of Analy-
nya kandungan senyawa fenol termasuk kelas sis. Ed 18. Washington DC: Association of
atau golongan dominannya yaitu senyawa flavo- Official Analytical Chemist.
noid. Senyawa fenolik diklasifikasikan sebagai [BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan.
antioksidan primer yang berperan sebagai free 2014. Peraturan Kepala Badan Pengawas
radical scavengers (FRS) untuk menunda atau Obat dan Makanan Republik Indone-
menginhibisi tahap inisiasi atau mengganggu sia Nomor 12 Tahun 2014 Tentang Per-
tahap propagasi oksidasi lipid sehingga mengu- syaratan Mutu Obat Tradisional. Jakarta:
rangi pembentukan produk dekomposisi volatil BPOM.
seperti aldehid dan keton yang menyebabkan Andrianto D, Katayama T, Suzuki T. 2015.
bau tengik. Fenolik radikal distabilkan oleh de- Screening of antioxidant and antihyperlip-
lokalisasi elektron tidak berpasangan di seluruh idemic potencies of Indonesian underuti-
cincin aromatik yang berpartisipasi dalam reaksi lized fruits. J For Biomass Utilization Soc
terminasi (Shahidi & Ambigaipalan 2015). An- 10(1):19-25.
tioksidan fenolik dapat menyumbangkan atom Arab F, Alamzadeh I, Maghsoudi V. 2011. Deter-
hidrogen untuk lipid radikal dan menghasilkan mination of antioxidant component and ac-
turunan lipid dan radikal antioksidan yang lebih tivity of rice bran extract. Scientia Iranica
stabil dan kurang kemampuannya untuk menye- C 18(6):1402-1406.
babkan autooksidasi. Hasil uji korelasi statistik Artanti N, Dewi RT, Maryani F. 2014. Pengaruh
menunjukkan tidak ada korelasi aktivitas anti- lokasi dan pelarut pengekstraksi terhadap
oksidan sebagai pencegah oksidasi lipid dengan kandungan fitokimia dan aktivitas antiok-
kadar total fenol dan flavonoid. Hal ini diduga sidan ekstrak pegagan (Centela asiatica L.
disebabkan adanya senyawa lain yang memiliki Urb). J Kim Terapan Indones 16(2):88-92.

J. Gizi Pangan, Volume 12, Nomor 3, November 2017 209


Hasim dkk.

Cho WS, Yong WK. 2011. Antioxidant properties Oroian M, Escriche I. 2015. Antioxidants: Char-
of two species of Hylocereus fruits. Adv in acterization, natural sources, extraction
Appl Sci Res 2(3):418-425. and analysis. Food Res Int 74:10-36.
Dungir SG, Katja DG, Kamu V.S. 2012. Aktivi- Priatni S, Pradita A. 2015. Stability study of be-
tas antioksidan ekstrak fenolik dari kulit tacyanin extract from red dragon fruit (Hy-
buah manggis (Garnicia mangostana L.). locereus polyrhizus) peels. Proced Chem.
J Mipa Unsrat Online 1(1):11-15. 16:438-444.
Firdiyani F, Agustini TW, Ma’ruf WF. 2015. Salamah E, Ayuningrat E, Purwaningsih S. 2008.
Ekstraksi senyawa bioaktif sebagai antio- Penapisan awal komponen bioaktif dari
ksidan alami Spirulina platensis segar den- kijing Taiwan (Anodonta woodiana Lea.)
gan pelarut yang berbeda. JPHPI 18(1):28- sebagai senyawa antioksidan. Bul Teknol
37. Hasil Perikanan 11(2):119-133.
Harborne JB. 1987. Phytochemical methods a Shahidi F, Ambigaipalan P. 2015. Phenolics and
guide to modern techniques of plant analy- polyphenolics in foods, beverages and
sis, Ed 2. London: Chapman and Hall. spices: Antioxidant activity and health ef-
Hasim, Falah S, Ayunda RD, Faridah DN. 2015. fects- A review. J Func Foods 18:820-897.
Potential of lemongrass leaves extract Soehendro AW, Manuhara GJ, Nurhartadi E.
(Cymbopogon citratus) as prevention for 2015. Pengaruh suhu terhadap aktivi-
oil oxidation. J Chem Pharm Res 7(10):55- tas antioksidan dan antimikroba ekstrak
60. biji melinjo (Gnetum gnemon L.) dengan
Kadji MH, Runtuwene MRJ, Citraningtyas G. pelarut etanol dan air. J Teknosains Pangan
2013. Uji fitokimia dan aktivitas antioksi- 4(4):15-24.
dan dari ekstrak etanol daun soyogik (Sau- Susanti E, Utomo SB, Syukri Y, Redjeki T.
rauia bracteosa DC). Pharmacon 2(2):13- 2012. Phytochemical screening and anal-
17. ysis polyphenolic antioxidant activity of
Komala O, Yulia I, Pebrianti R. 2012. Uji efek- methanolic extract of white dragon fruit
tivitas ekstrak etanol daun lidah mertua (Hylocereus undatus). Indones J Pharm
(Sansevieria trifasciata Prain) terhadap 23(1):60-64.
khamir Candida albicans. Fitofarmaka Tensiska, Wijaya CH, Andarwulan N. 2003. Ak-
2(2):146-152. tivitas antioksidan ekstrak buah andaliman
Le TTV. 2014. Study on bioactivities of Hylo- (Zanthoxylum acanthopodium DC) dalam
cereus undatus seed extracts: antioxidant beberapa sistem pangan dan kestabilan ak-
activities and determination of its essential tivitasnya terhadap kondisi suhu dan pH.
fatty acids [Tesis]. HCMC: Vietnam Na- JTIP 14(1):29-39.
tional University. Thirugnanasambandham K, Sivakumur V. 2015.
Lestari WA. 2016. Aktivitas antioksidan ekstrak Microwave assisted extraction process of
etanol daun murbei (Morus alba L.) den- betalain from dragon fruit and its antioxi-
gan metode Thiobarbituric Acid (TBA). dant activities. J Saudi Soc Agric Sci 2015:
[Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 1-8.
Manoi F. 2006. Pengaruh cara pengeringan ter- Ukieyanna E. 2012. Aktivitas antioksidan, ka-
hadap mutu simplisia sambiloto. Bul Lit- dar fenolik, dan flavonoid total tumbuhan
tro17(1):1-5. suruhan (Peperomia pellucida L. Kunth)
Marks DB, Marks AD, Smith CM. 2000. Basic [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Medical Biochemistry: A Clinical Ap- Vongsak B, Sithisarn P, Mangmool S, Thongpra-
proach. Philadelphia: William & Wilkins. ditchote S, Wongkrajang Y, Gritsanapan
Muhammad K, Mohd NI, Gannasin SP, Mohd N, W. 2013. Maximizing total phenolics, to-
Adzahan, Bakar J. 2014. High methoxyl tal flavonoids contents and antioxidant ac-
pectin from dragon fruit (Hycolocereus tivity of Moringa oliefera leaf extract by
polyrhizus) peel. Food Hydrocoll 42:289- the appropriate extration method. Indust
297. Crops Prod 44:566-671.
Octaviani RD. 2012. Hama dan penyakit tana- Zahidah WN, Noriham A, Zainon MN. 2013.
man buah naga (Hylocereus sp.) serta bu- Antioxidan and antimicrobial activities of
didayanya di Yogyakarta. [Skripsi]. Bogor: pink guava leaves and seeds. J Trop Agric
Institut Pertanian Bogor. Food Sci 41(1):53-62.

210 J. Gizi Pangan, Volume 12, Nomor 3, November 2017