You are on page 1of 11

LAPORAN PRAKTIKUM

FIFIOLOGI VETERINER II

SISTEM PENCERNAAN

OLEH :

1. ANASTASI IRRA ITAI BRIA (1509010001)


2. JEFRIYONO CHRISTIAN KANDI (1509010007)
3. YUSTINA PETRONELA (1509010027)
4. YANVITER SALMON HABA LAWA (1509010029)
5. PEDRO CHRISTOVEL YONATHAN NOPE (1509010037)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem pencernaan adalah serangkaian proses yang terjadi di dalam saluran


pencernaan yaitu memecah bahan makanan menjadi bagian atau partikel yang lebih kecil.
Pada organ mulut katak terdapat rambut getar yang berfungsi sebagai proses pemasukan
makanan. Rambut getar terdapat dalam rongga mulut katak dan berfungsi untuk
menimbulkan aliran dari cairan mulut dan permukaan dinding cavum oris. Untuk
memudahkan proses masuknya makanan kedalam esophagus ada rambut getar pada
jaringan epitel yang mengalirkan cairan atau benda partikel yang diarahkan ke suatu arah
diatas epitel.
Mulut katak mempunyai bagian-bagian yang sangat kompleks dan mempunyai
fungsi khusus dalam pencernaan seperti lidah sebagai alat untuk menangkap mangsa juga
sebagai alat untuk menelan. Saliva terdapat pada saluran pencernaan untuk memudahkan
masuknya makanan ke dalam esophagus, ada rambut getar pada jaringan epitel yang
dapat mengalirkan cairan atau partikel yang dialirkan ke arah epitel bersilia tersebut
(Azhar, 2009). Aktivitas rambut getar terbatas hanya pada medium yang basah, dan oleh
karenanya hanya ditemukan pada permukaan yang terendam atau paling tidak pada
permukaan yang berlapiskan selaput basah. Aktivitas rambut getar pada katak
menyerupai aktivitas rambut getar yang ditemukan pada sistem respirasi mamalia.
Gerakan rambut getar berbeda-beda jenisnya. Pada katak rambut getar di rongga
mulut dan kerongkongan bergerak seperti bandul lonceng yaitu bergerak bolak-balik dan
melentur hanya pada dasarnya. Dalam keadaan normal rambut getar biasanya diam saja
dan akan bergerak apabila diberi rangsangan serta pelekatan partikel-partikel asing
padanya dan baru akan berhenti bergerak setelah partikel-partikel tersebut telah tersapu
habis oleh gerakan rambut getar itu.

Kebanyakan proses mengunyah disebabkan oleh refleks mengunyah yang


menyebabkan rahang bawah turun. Penurunan ini kemudian menimbulkan refleks regan
pada otot-otot rahang bawah yang menibulkan kontraksi rebound. Keadaan ini secara
otomatis mengangkat rahang bawah yang menimbulkan pengatupan gigi, tetapi juga
menekan bolus melwan dinding mulut, yang menghambat otot.
Sekresi saliva merupakan suatu kerja refleks yang dalam keadaan normal
dirangsang oleh adanya makanan di dalam mulut. Apabila ada makanan yang kering di
mulut, salivanya bersifat encer dan berjumlah banyak. Apabila makanan basah, hanya
saliva yang agak kental saja yang disekresi untuk melumas makanan guna membantu
penelanan. Pada umumnya tahap menelan dibagi menjadi (1) tahap volunter, (2) tahap
faringeal, dan (3) tahap esophageal.
1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum ini adalah :


1. Mengamati aktivitas rambut getar mulut dan tenggorokan pada katak.
2. Mengetahui rentetan kejadian dari mastikasi hingga deglutisi
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan bolus.
BAB II

METODOLOGI

2.1 Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum adalah :

2.1.1 Aktivitas Rambut Getar

1. Sonde penusuk otak,


2. Alat-alat diseksi (skalpel, gunting, pinset, mistar);
3. Butir-butir gabus, stopwatch, kaca objek, kaca penutup;
4. Droppipet, papan fiksasi katak, jarum-jarum pentul, mikroskop.

2.1.2 Proses Mastikasi-Deglutisi

1. Sendok makan

2.2 Bahan

Bahan yang disiapkan adalah :

2.2.1 Aktivitas Rambut Getar

1. Katak
2. Larutan ringer/ NaCl fisiologis (0,65%)
3. Air dingin
4. Air panas

2.2.2 Proses Mastikasi-Deglutisi

1. Biskuit
2. Pudding
3. Air mineral

2.3 Cara Kerja

2.3.1 Aktivitas Rambut Getar

A. Pengamatan Gerakan Rambut Getar


1. Katak dimatikan dengan sonde penusuk otak.
2. Membuang seluruh rahang bawah katak dengan menggunakan gunting.
3. Membuka dinding perut katak agar visera dapat terlihat.
4. Menjepit lambung dengan pinset dan mengangkatnya.
5. Memotong antara leher katak agar tengkoraknya terpisah dari punggungnya, tanpa
mengganggu hubungan (pertautan) esofagus dan lambung pada kepalanya dengan
menggunakan gunting atau skalpel.
6. Memisahkan lambung dari duodenumnya.
7. Melakukan fiksasi kepala katak pada papan fiksasi.
8. Membuka esofagus dan lambungnya, kemudian juga difiksasi pada papan.
9. Mengambil sebutir gabus yang dibasahi dengan NaCl fisiologis/larutan ringer dan
meletakkan NaCl tersebut pada langit-langit rahang atas katak dan mencatat
waktunya.
10. Mengamati arah gerakan butir gabus tersebut mulai dari awal sampai tiba di dekat
esofagus dan mencatat waktunya.
11. Mengukur jarak rahang atas dan esofagus lalu menentukan waktu yang dibutuhkan
oleh butir gabus untuk bergerak dari rahang atas ke esofagus. Menghitung kecepatan
gerak gabus tersebut.
12. Mengulangi no.9 sampai no.11 dengan memiringkan papan ke kiri/kanan kemudian
ke kanan.
13. Memperhatikan apakah kemiringan papan katak dapat mempengaruhi arah gerakan
dari butir gabus.

B. Pengaruh suhu pada Gerakan Rambut Getar.


1. Mendinginkan preparat dengan merendamnya di dalam larutan ringer dingin selama 5
menit.
2. Mengeluarkan preparat dari larutan ringer dingin tadi dan dengan cepat meletakkan
sebutir gabus pada titik rahang atas. Menghitung kecepatan gabus bergerak
(mm/menit) dari rahang atas ke esofagus.
3. Mengembalikan preparat kedalam larutan ringer dingin selama 2 menit dan
mengulangi pengukuran seperti poin diatas.
4. Mengulangi percobaan tersebut pada larutan ringer panas.

C. Gerakan Rambut Getar di bawah Mikroskop.


1. Mengamati preparat selaput lendir (rambut getar) katak di bawah mikroskop dengan
perbesaran 10x, kemudian 40x.

2.3.2 Proses Mastikasi-Deglutisi

1. Praktikan 1 berbincang-bincang dengan sesorang, sambil berbincang ia mengambil


sepotong biskuit lalu menikmatinya.
2. Praktikan 2 mengambil biskuit kemudian mengunyah dan menelan biskuit tersebut
(dilakukan sesuai perintah).
3. Praktikan 2 mengambil puding kemudian mengunyah dan menelan puding tersebut
(dilakukan sesuai perintah).
4. Praktikan 3 mengunyah puding dalam keadaan bediri, lalu menelannya dalam keadaan
tidur terlentang.
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
3.1.1 Aktivitas Rambut Getar

Hasil Percobaan Gerakan Rambut Getar

Perlakuan Kecepatan Gerak Rambut Getar (mm/detik)


Posisi Datar  Waktu yang dibutuhkan gabus untuk mencapai
esofagus adalah : 1 menit 52 detik = 112 s.
 Panjang esofagus = 1,5 cm = 15 mm.
 Kecepatan gabus bergerak dari rahang atas ke esofagus
adalah :

𝑠 15
v=𝑡 v = 112 v = 0,133 mm/s

Miring Kiri  Waktu yang dibutuhkan gabus untuk mencapai


esofagus adalah : 3 menit 02 detik = 182 s.
 Panjang esofagus = 1,5 cm = 15 mm.
 Kecepatan gabus bergerak dari rahang atas ke esofagus
adalah :
𝑠 15
v= v= v = 0,082 mm/s
𝑡 182

Suhu Panas  Waktu yang dibutuhkan gabus untuk mencapai


esofagus adalah : 3 menit 59 detik = 239 s.
 Panjang esofagus = 1,5 cm = 15 mm.
 Kecepatan gabus bergerak dari rahang atas ke esofagus
adalah :

𝑠 15
v=𝑡 v = 239 v = 0,062 mm/s

Suhu Dingin  Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai esofagus


adalah : 2 menit 40 detik = 160 s.
 Panjang esofagus = 1,5 cm = 15 mm.
 Kecepatan gabus bergerak dari rahang atas ke esofagus
adalah :
𝑠 15
v=𝑡 v = 160 v = 0,093 mm/s
3.1.2 Proses Mastikasi-Deglutisi

Praktikan Mastikasi Produksi Saliva Deglutisi


Volunter Involunter Banyak Sedikit Volunter Involunter
1   
2 (Biskuit)   
2 (Puding)   
Gravitasi
Ya Tidak
3 (Berdiri) 
3 (Tidur) 

3.2 Pembahasan
3.2.1 Aktivitas Rambut Getar.
Pembahasan Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui pergerakan
makanan di saluran pencernaan khususnya rambut getar dan tenggorokan katak.
Saluran pencernaan makanan pada katak terdiri atas mulut, kerongkongan,
lambung, usus halus, usus besar, dan kloaka. Di dalam rongga mulut terdapat gigi,
lidah, dan kelenjar ludah. Kelenjar pencernaan terdiri dari kelenjar ludah, hati, dan
pankreas. Kelenjar ludah yang dihasilkan oleh mulut katak ini dilengkapi oleh
rambut getar yang memungkinkan proses pencernaan lebih mudah dilakukan. Hal
ini sesuai dengan referensi yang menyatakan bahwa untuk memudahkan proses
pencernaan pada katak maka dipergunakan dua macam ludah yaitu yang
berbentuk cair dan yang berbentuk lendir.
Rambut getar merupakan suatu selaput lendir yang terdapat dalam rongga
mulut katak dan berfungsi untuk menimbulkan aliran dari cairan mulut dan
permukaan dinding cavum oris. Kelenjar ludah yang dihasilkan oleh mulut katak
dilengkapi oleh rambut getar yang memungkinkan proses pencernaan lebih mudah
dilakukan. Pada pallatum terdapat sumsum rambut getar yang berfungsi untuk
menimbulkan aliran dari cairan saluran mulut dan pada permulaan dinding cavum
oris. Gerakan rambut getar didukung oleh adanya ATP. Rambut getar berperan
dalam transformasi bahan makanan di saluran pencernaan. Untuk memudahkan
proses masuknya makanan kedalam oesophagus ada rambut getar pada jaringan
epitel yang mengalirkan cairan atau benda partikel yang diarahkan ke suatu arah
diatas epitel. Mulut katak mempunyai bagian-bagian yang sangat kompleks dan
mempunyai fungsi khusus dalam pencernaan seperti lidah sebagai alat untuk
menangkap mangsa juga sebagai alat untuk menelan dan saliva pada saluran
pencernaan untuk memudahkan masuknya makanan ke dalam esophagus.
Dari hasil percobaan didapatkan hasil pada saat papan fiksasi rata, waktu
yang diperlukan butir gabus untuk mencapai esofagus adalah 1 menit 52 detik.
Pada saat papan fiksasi dimiringkan ke kiri, waktu yang diperlukan butir gabus
untuk mencapai esofagus adalah 3 menit 2 detik. Dari hasil ini dapat dilihat bahwa
keadaan papan fiksasi dapat mempengaruhi pergerak silia. Dapat disimpulkan
bahwa rambut getar/silia lebih cepat pergerakannya pada bidang rata daripada
bidang dimiringkan baik ke kiri maupun ke kanan.
Pada percobaan pengamatan suhu, pada suhu panas waktu yang diperlukan
butir gabus untuk mencapai esofagus adalah 3 menit 59 detik. Sedangkan pada
suhu dingin waktu yang diperlukan butir gabus untuk mencapai esofagus adalah 2
menit 40 detik. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa kecepatan pergerakan
rambut getar pada suhu panas dan dingin sangat berbeda. Pergerakan pada suhu
dingin lebih cepat. Hasil ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa semakin
tinggi suhu maka gerakan rambut getar akan semakin lambat. Oleh karena itu
rambut getar selalu berada di tempat yang terendam air atau di permukaan yang
basah agar suhunya rendah sehingga pergerakan rambut getar cepat.

3.2.2 Proses Mastikasi-Deglutisi

Berdasarkan percobaan diatas perbedaan yang terdapat pada praktikan 1


dan 2 dalam tahap mastikasi sampai deglutisi adalah praktikan 1 mengunyah
(mastikasi) makanan secara involunter karena proses mengunyah terjadi begitu
saja dan secara alam bawah sadar terjadi prioritas dalam melakukan suatu
kegiatan dimana yang menjadi prioritas merupakan proses berbicara yang
dilakukan secara sadar sehingga proses mengunyah terjadi tanpa sadar. Produksi
saliva yang dihasilkan pun banyak dikarenakan makanan yang dikunyah
bertekstur kering dan proses deglutisi dilakukan secara involunter.
Sedangkan praktikan 2 pada proses mengunyah (mastikasi) makanan
(biskuit) terjadi secara volunter karena mengunyah merupakan prioritas utama
oleh praktikan tanpa ada kegiatan lain yang dilakukan. Selain itu produksi saliva
yang dihasilkan banyak seperti pada praktikan 1 dikarenakan tekstur biskuit yang
kering membutuhkan saliva yang banyak untuk melumasi seluruh permukaan
biskuit sehingga proses deglutisi dapat berjalan dengan lancar dan pada proses
deglutisi terjadi secara sadar artinya sesuai kehendak praktikan. Pada proses
mastikasi dengan makanan (puding) yang bertekstur sedikit berair dilakukan
secara sadar, produksi saliva yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan
produksi saliva sebelumnya, ini dikarenakan makanan yang dimakan bertekstur
sedikit berair sehingga tidak memerlukan saliva yang begitu banyak untuk
melumasi makanan tersebut, lalu pada proses deglutisi terjadi secara sadar pula
atau sesuai kehendak praktikan.
Praktikan 3 melakukan percobaan mengunyah pudding dalam keadaan
berdiri dan mengunyah puding dalam keadaan tidur. Dalam keadaan berdiri,
proses mengunyah hingga menelan terjadi secara baik karena terdapat pengaruh
gaya gravitas. Sedangkan dalam keadaan tidur, proses menelan menjadi sulit
karena saat tidur makanan tidak dapat masuk dengan baik diakibatkan oleh posisi
alat pencernaan yang datar dan makanan tidak dapat turun.
BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Dari pengamatan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa
setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi pergerakan silia di dalam saluran
pencernaan katak, yaitu posisi tubuh katak dan suhu di dalam tubuhnya. Pada posisi
rata (normal), rambut getar bergerak lebih cepat daripada posisi tubuh yang miring.
Pada suhu yang tinggi pergerakan silia lebih lambat daripada pergerakannya di suhu
yang rendah.
DAFTAR PUSTAKA

Amalo, A. F. 2016. Modul Praktikum Fisiologi Veteriner II. Fakultas Kedokteran Hewan.
Universitas Nusa Cendana, Kupang.

Akoso, B. T. 2002. Kesehatan Unggas. Kanisius, Yogyakarta.

Blakely, J. dan Bade, D. H. 1994. Ilmu Peternakan Edisi Keempat. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.

Campbell, N. A. Reece, J. B. dan Nitchel, L. G. (2004). Biologi : Edisi Kelima Jilid 3.


Erlangga, Jakarta.
LAMPIRAN