A. Definisi Arbitrase Dalam suatu hubungan bisnis atau perjanjian, selalu ada kemungkinan timbulnya sengketa.

Sengketa yang perlu diantisipasi adalah mengenai bagaimana cara melaksanakan klausul-klausul perjanjian, apa isi perjanjian ataupun disebabkan hal lainnya.[2] Untuk menyelesaikan sengketa ada beberapa cara yang bisa dipilih, yaitu melalui negosiasi, mediasi, pengadilan dan arbitrase. Pengertian arbitrase termuat dalam pasal 1 angka 8 Undang Undang Arbitrase dan Alternatif penyelesaian sengketa Nomor 30 tahun 1999: ³Lembaga Arbitrase adalah badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu, lembaga tersebut juga dapat memberikan pendapat yang mengikat mengenai suatu hubungan hukum tertentu dalam hal belum timbul sengketa.´ Dalam Pasal 5 Undang-undang No.30 tahun 1999 disebutkan bahwa: ´Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa.´ Dengan demikian arbitrase tidak dapat diterapkan untuk masalah-masalah dalam lingkup hukum keluarga. Arbitase hanya dapat diterapkan untuk masalah-masalah perniagaan. Bagi pengusaha, arbitrase merupakan pilihan yang paling menarik guna menyelesaikan sengketa sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka.[3] Dalam banyak perjanjian perdata, klausula arbitase banyak digunakan sebagai pilihan penyelesaian sengketa. Pendapat hukum yang diberikan lembaga arbitrase bersifat mengikat (binding) oleh karena pendapat yang diberikan tersebut akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian pokok (yang dimintakan pendapatnya pada lembaga arbitrase tersebut). Setiap pendapat yang berlawanan terhadap pendapat hukum yang diberikan tersebut berarti pelanggaran terhadap perjanjian (breach of contract - wanprestasi). Oleh karena itu tidak dapat dilakukan perlawanan dalam bentuk upaya hukum apapun.[4] Putusan Arbitrase bersifat mandiri, final dan mengikat (seperti putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap) sehingga ketua pengadilan tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut.[5] Dalam jurisprudensi, kita mengetahui ada suatu kasus yaitu Arrest Artist de Labourer dimana perkara tersebut diajukan ke Pengadilan Negeri padahal sudah memuat klausul arbitrase untuk penyelesaian sengketanya. Pada praktek saat ini juga masih dijumpai pengadilan negeri yang melayani gugatan pihak yang kalah dalam arbitrase.

Pada dasarnya arbitrase dapat berwujud dalam 2 (dua) bentuk. atau 2. Suatu perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa (Akta Kompromis). the delay. B. the expense and vexation of ordinary litigation". Selain itu. Sebelum UU Arbitrase berlaku. maka timbul beberapa pertanyaan : 1. Sejarah Arbitrase Keberadaan arbitrase sebagai salah satu alternatif penyelesaian sengketa sebenarnya sudah lama dikenal meskipun jarang dipergunakan. instead of carrying it to establish tribunals of justice.Melihat permasalahan diatas. Ketentuan-ketentuan tersebut sekarang ini sudah tidak laku lagi dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 30 tahun 1999. C.Menurut Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada Perjanjian Arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. and is intended to avoid the formalities.14 Tahun 1970 tentang Pokok-PokokKekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa penyelesaian perkara di luarPengadilan atas dasar perdamaian atau melalui wasit (arbitrase) tetapdiperbolehkan. pada penjelasanpasal 3 ayat(1) Undang-Undang No. an arrangement for taking an abiding by the judgement of selected persons in some disputed matter. akan tetapi putusan arbiter hanya mempunyai kekuatan eksekutorial setelah memperoleh izin atau perintah untuk dieksekusi dari Pengadilan. Klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa (Factum de compromitendo). Arbitrase diperkenalkan di Indonesia bersamaan dengan dipakainya Reglement op de Rechtsvordering (RV) dan Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) ataupun Rechtsreglement Bitengewesten (RBg). ketentuan mengenai arbitrase diatur dalampasal 615 s/d 651 Reglemen Acara Perdata (Rv). Sejauh mana keterkaitan antara pengadilan dengan lembaga arbitrase? Menurut Black's Law Dictionary: "Arbitration. yaitu: 1. Dalam Undang Undang nomor 14 tahun 1970 (tentang Pokok Pokok Kekuasaan Kehakiman) keberadaan arbitrase dapat dilihat dalam penjelasan pasal 3 ayat 1 yang antara lain menyebutkan bahwa penyelesaian perkara di luar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui arbitrase tetap diperbolehkan. karena semula Arbitrase ini diatur dalam pasal 615 s/d 651 reglement of de rechtvordering. Apakah Pengadilan berwenang memeriksa perkara yang sudah dijatuhkan putusan arbitrasenya? 2. Objek Arbitrase Objek perjanjian arbitrase (sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan melalui lembaga arbitrase dan atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya) menurut Pasal 5 ayat 1 .

Standar klausul arbitrase UNCITRAL (United Nation Comission ofInternational Trade Law) adalah sebagai berikut. Pada umumnya arbitrase ad-hoc direntukan berdasarkan perjanjian yang menyebutkan penunjukan majelis arbitrase serta prosedur pelaksanaan yang disepakati oleh para pihak. Sementara itu Pasal 5 (2) UU Arbitrase memberikan perumusan negatif bahwa sengketa-sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata Buku III bab kedelapan belas Pasal 1851 s/d 1854. The Arbitration Rules dari The International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington. BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) memberi standar klausularbitrase sebagai berikut: "Semua sengketa yang timbul dari perjanjianini. Artinya ada atau tidaknya. penanaman modal.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa atau UNCITRAL Arbitarion Rules.Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 (³UU Arbitrase´) hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa. perbankan. Saat ini dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh badan-badan arbitrase seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). industri dan hak milik intelektual. Adapun kegiatan dalam bidang perdagangan itu antara lain: perniagaan. Arbitrase institusi adalah suatu lembaga permanen yang dikelola oleh berbagai badan arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang mereka tentukan sendiri. sah atau tidaknyaklausul arbitrase. . atau yang internasional seperti The Rules of Arbitration dari The International Chamber of Commerce (ICC) di Paris. Badan-badan tersebut mempunyai peraturan dan sistem arbitrase sendiri-sendiri. Priyatna menjelaskan bahwa bisa saja klausul atau perjanjian arbitrase dibuat setelah sengketa timbul. keuangan. C. Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sengaja dibentuk untuk tujuan arbitrase.sebagai keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir".´ Menurut Priyatna Abdurrasyid. "Setiap sengketa. yang diperiksa pertama kaliadalah klausul arbitrase. akan diselesaikan dan diputus oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur arbitrase BANI. pengakhiran atau sah tidaknya perjanjian akan diselesaikan melalui arbitrase sesuai dengan aturan-aturan UNCITRAL. akan menentukan apakah suatu sengketa akan diselesaikan lewat jalur arbitrase. Jenis-jenis Arbitrase Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan permanen (institusi). Ketua BANI. Penggunaan arbitrase Ad-hoc perlu disebutkan dalam sebuah klausul arbitrase. misalnya UU No. atau wan prestasi.yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. pertentangan atau tuntutan yang terjadi atau sehubungan dengan perjanjian ini.

serta jujur dan adil . mempunyai beberapa keuntungan yaitu bahwa dapat dilakukan dengan cepat. para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk penyelesaian masalahnya . penyelesaian sengketa lewat arbitrase atau perwasitan. Hubungan Arbitrase dan Pengadilan Lembaga arbitrase masih memiliki ketergantungan pada pengadilan. Subekti bagi dunia perdagangan atau bisnis. memiliki latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan. Para ahli juga mengemukakan pendapatnya mengenai keunggulan arbitrase. 3. kelemahan arbitrase adalah masih sulitnya upaya eksekusi dari suatu putusan arbitrase. III. dan secara rahasia. putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak melalui prosedur sederhana ataupun dapat langsung dilaksanakan. Ada keharusan untuk mendaftarkan putusan arbitrase di pengadilan negeri. oleh para ahli. Penyelesaian sengketa dapat dilakasanakan dengan cepat.D. Hal ini menunjukkan bahwa lembaga arbitrase tidak mempunyai upaya pemaksa terhadap para pihak untuk menaati putusannya. padahal pengaturan untuk eksekusi putusan arbitrase nasional maupun internasional sudah cukup jelas. Peranan pengadilan dalam penyelenggaraan arbitrase berdasar UU Arbitrase antara lain mengenai penunjukkan arbiter atau majelis arbiter dalam hal para pihak tidak ada kesepakatan . arbitrase juga memiliki kelemahan arbitrase. Disamping keunggulan arbitrase seperti tersebut diatas. Putusan peradilan wasit dirahasiakan. Keunggulan itu adalah : y y y y y kerahasiaan sengketa para pihak terjamin . sehingga umum tidak mengetahui tentang kelemahan-kelemahan perushaan yang bersangkutan. para pihak dapat memilih arbiter yang berpengalaman. Menurut Prof. Putusan akan lebih sesuai dengan perasaan keadilan para pihak. yang diharapkan mampu membuat putusan yang memuaskan para pihak. keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat dihindari . misalnya dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase. Keunggulan dan Kelemahan Arbitrase Keunggulan arbitrase dapat disimpulkan melalui Penjelasan Umum Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 dapat terbaca beberapa keunggulan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dibandingkan dengan pranata peradilan. para pihak dapat memilih tempat penyelenggaraan arbitrase . 4. 2. Para wasit terdiri dari orang-orang ahli dalam bidang yang diper-sengketakan. Sifat rahasia pada putusan perwasitan inilah yang dikehendaki oleh para pengusaha. Keterkaitan antara Arbitrase dengan Pengadilan A. Dari praktek yang berjalan di Indonesia. Sementara HMN Purwosutjipto mengemukakan arti pentingnya peradilan wasit (arbitrase) adalah: 1.

final ddan mengikat. terbatas pada pemeriksaan secara formal terhadap putusan arbitrase nasional yang dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase. dengan mendaftarkan dan menyerahkan lembar asli atau salinan autentik putusan arbitrase nasional oleh arbiter atau kuasanya ke panitera pengadilan negeri. Kewenangan Pengadilan Memeriksa Perkara yang Sudah Dijatuhkan Putusan Arbitrasenya Lembaga Peradilan diharuskan menghormati lembaga arbitrase sebagaimana yang termuat dalam Pasal 11 ayat (2) UU No. Tapi dalam prakteknya kesulitan-kesulitan masih ditemui dalam eksekusi putusan arbitrase asing. putusan tersebut harus diserahkan dan didaftarkan pada kepaniteraan pengadilan negeri. Putusan Arbitrase Nasional Pelaksanaan putusan arbitrase nasional diatur dalam Pasal 59-64 UU No. Dengan adanya Perma tersebut hambatan bagi pelaksanaan putusan arbitrase asing di Indonesia seharusnya bisa diatasi. Pelaksanaan Putusan Arbitrase 1. B. Pada tanggal 10 Juni 1958 di New York ditandatangani UN Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award.30 Tahun 1999. dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah putusan arbitase diucapkan. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. Putusan Arbitrase Internasional Semula pelaksanaan putusan-putusan arbitrase asing di indonesia didasarkan pada ketentuan Konvensi Jenewa 1927. Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York tersebut dengan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1981 pada 5 Agustus 1981 dan didaftar di Sekretaris PBB pada 7 Oktober 1981. Bagi arbitrase internasional mengembil tempat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Agar putusan arbitrase dapat dipaksakan pelaksanaanya. Berdasar Pasal 62 UU No. Pada 1 Maret 1990 Mahkamah Agung mengeluarkan Peraturan mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan arbitrase Asing sehubungan dengan disahkannya Konvensi New York 1958.(pasal 14 (3)) dan dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase nasional maupun nasional yang harus dilakukan melalui mekanisme sistem peradilan yaitu pendafataran putusan tersebut dengan menyerahkan salinan autentik putusan.[14] 2. Bila tidak memenuhi maka. C. Ketua Pengadilan Negeri dapat menolak permohonan arbitrase dan terhadap penolakan itu tidak ada upaya hukum apapun. Pada dasarnya para pihak harus melaksanakan putusan secara sukarela. Kewenangan memeriksa yang dimiliki Ketua Pengadilan Negeri.30 tahun 1999 yang menyatakan bahwa pengadilan negeri tidak .30 Tahun 1999 sebelum memberi perintah pelaksanaan . dan pemerintah Belanda yang merupakan negara peserta konvensi tersebut menyatakan bahwa Konvensi berlaku juga di wilayah Indonesia. final dan mengikat (seperti putusan yang mempunyai kekeuatan hukum tetap) sehingga Ketua Pengadilan Negeri tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. Ketua Pengadilan memeriksa dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi Pasal 4 dan pasal 5 (khusus untuk arbitrase internasional). Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri.

Didalam Polis dicantumkan klausula yang mengatakan. yang memenangkan Mayora.P/2000/PNJKT. menolak permohonan BT bagi pelaksanaan putusan Arbitrase London. NJ. karena keputusan tersebut tidak didasarkan kepada suatu penyelidikan yang teliti dan bahkan Dewan menganggap tidak perlu mendengar pihak penggugat.l.Int/Pdt/2000. dengan alasan pelanggaran ketertiban umum. Penggugat menuntut santunan ganti rugi dari Perusahaan Asuransi. telah mempertimbangkan : Setelah Pengadilan menyatakan dirinya wenang memeriksa perkara tersebut. Dewan Asuransi telah memutuskan untuk tidak membayar ganti rugi kepada penggugat. Pengadilan mengabulkan tuntutan uang santunan ganti ± rugi sampai sejumlah uang . Penolakan PN Jakarta Pusat tersebut dikuatkan oleh Putusan Mahkamah Agung No. PN Jakarta Selatan tetap menerima gugatan Mayora (walaupun ada klausul arbitrase didalamnya) dan menjatuhkan putusan No. Penggugat mengajukan gugatan dimuka Pengadilan. Arrest HR 9 Februari 1923. kecuali Dewan melimpahkan kewenangan tersebut kepada suatu arbitrage. tanggal 3 Februari 2000. bahwa Pengadilan tidak wenang untuk mengadili perkara ini. Sebelumnya telah jelas bahwa pengadilan tidak boleh mencampuri sengketa para pihak yang telah terikat perjanjian arbitrase. maka tergugat membantah dengan mengemukakan.G/1999 tanggal 9 Desember 1999. 676. karena menderita penyakit cornage. Ketua PN Jakarta Pusat dalam putusan No. 262 dsl. tanggal 5 September 2000.berwenang mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase. bahwa keputusan Dewan Asuransi harus disingkirkan. Arrest ³Artis de Laboureur´ (dimuat dalam Hoetink. Ternyata pada suatu pemeriksaan oleh Komisi Undang2 Kuda.[16] Kasus diatas adalah salah satu contoh dimana pengadilan menentang lembaga arbitrase. Seperti dalam kasus berikut : Dalam kasus Bankers Trust Company dan Bankers Trust International PLC (BT) melawan PT Mayora Indah Tbk (Mayora). bahwa sengketa mengenai Asuransi. akan diputus oleh Dewan Asuransi Perusahaan Asuransi. sehingga perjanjian itu tidak telah dilaksanakan dengan itikad baik. hal. bahkan ketika arbitrase itu sendiri sudah menjatuhkan putusannya.46/Pdt. pelanggaran ketertiban umum yang dimaksud adalah bahwa perkara tersebut masih dalam proses peradilan dan belum memiliki kekuatan hukum tetap.02 K/Ex¶r/Arb.PST juncto 02/Pdt. Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak ikut campur tangan dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase.Int/1999/PN.) Persatuan Kuda Jantan ( penggugat ) telah mengasuransikan kuda Pejantan bernama Artis de Laboureur terhadap suatu penyakit /cacad tertentu. Pengadilan µs Gravenhage a. dengan menyingkirkan Pengadilan. Lalu apakah ada alasan-alasan yang dapat membenarkan pengadilan memeriksa perkara para pihak yang sudah terikat dengan klausul arbitrase? Dalam jurisprudensi salah satu contoh adalah Arrest Artist de Labourer.001 dan 002/Pdt/Arb. 1923.[15] Dalam prakteknya masih saja ditemukan pengadilan yang menentang. maka Pengadilan menyatakan. Sudah tentu dengan alasan adanya klausula tersebut diatas. yang disebut cornage.JKT. kuda tersebut dinyatakan di-apkir.PST. Hal tersebut merupakan prinsip limited court involvement.

Berdasarkan pasal 1338 (3) suatu perjanjian harus didasarkan atas asas itikad baik. dimana Hof dan Hoge Raad kemudian menilai bahwa itikad baik yang objektif lah yang dipakai. bahwa itikad baik dipersangkakan dan tidak adanya itikad baik harus dibuktikan.tertentu. Itikad baik adalah suatu pengertian yang abstrak dan sulit untuk dirumuskan. sepanjang mengenai pengambilan keputusan oleh Dewan Asuransi. 1338 ayat 3 Ind ) dengan itikad baik dalam pelaksanaan perjanjian harus dinilai dengan patokan. dan bersifat mutlak. namun para pihak telah membuatnya menjadi undang-undang bagi mereka. telah menerima fakta-fakta yang disebutkan dalam keputusan Dewan sebagai benar. yang diambil dengan tanpa aturan main yang pasti. penj. sehingga permasalahannya adalah. bahwa berdasarkan Polis ybs. apakah ketentuan perjanjian itu.l.pen. tidak telah dilaksanakan dengan itikad baik. setelah mengemukakan patokan. mungkin saja ada keberatan-keberatan. Disini dipakai ukuran itikad baik yang obyektif Dalam Arrest Artist de Labourer ini pengadilan menyatakan berwenang memeriksa karena yang diperiksa bukanlah pokok perkaranya melainkan cara pengambilan keputusannya.) ««. apakah Dewan Asuransi sudah mengambil keputusan berdasarkan itikad baik yang sesuai dengan asas kepatutan dan kepantasan.suatu cara pelaksanaan. yang dikeluarkan oleh pihak yang tidak netral. oleh Dewan. :«««³ bahwa menurut pendapat Hof keputusan tersebut( maksudnya : keputusan Dewan. Pihak Asuransi naik banding. subyektif . Hof Amsterdam dalam keputusannya a. sehingga dapat dianggap tidak telah diberikan dengan itikad baik. sebagai pelaksanaan dari perjanjian Asuransi antara Penggugat dengan Perusahaan Asuransi. 1374 B. apakah isi keputusan Dewan Asuransi. apakah maksud ayat ke-3 Ps. Perjanjian harus dilaksanakan . Catatan : Pengadilan menganggap dirinya wenang untuk menangani perkara tersebut dan menyatakan keputusan Dewan tidak melanggar itikad baik Pokok pertanyaan dalam pemeriksaan kasasi ini ternyata adalah. yang tidak ternyata bertentangan dengan ketertiban umum atau kesusilaan.suatu sikap batin tertentu dari si pelaksana . dan bahwa itikad buruk pada pelaksaan perjanjian.. ( Ps. sehingga orang lebih banyak merumuskannya melalui peristiwa-peristiwa di pengadilan. karena telah terbentuk melalui kesepakatan para pihak. memenuhi kepantasan dan kepatutan menurut ukuran orang normal pada umumnya dalam masyarakat ybs. Hof. sebagaimana pendapat dari Pengadilan Amsterdam. tidak telah dibuktikan ³ atas dasar mana Hof menyatakan keputusan Dewan Asuransi tidak bisa dibatalkan oleh Hakim dan karenanya membatalkan keputusan Pengadilan Amsterdam.adalah tidak sedemikian rupa. para pihak sepakat untuk menyerahkan sengketa mengenai Asuransi tersebut kepada Dewan Asuransi Perusahaan Asuransi. pertanyaan mana menurut pendapat Hof. Persatuan Kuda Jantan naik kasasi. HR meninjau. Sekalipun terhadap keputusan Dewan. Itikad baik dalam pelaksanaan perjanjian berkaitan dengan masalah kepatutan dan kepantasan. memenuhi tuntutan itikad baik.l. karena mengenai pelaksanaan suatu perjanjian. untuk menjawab permasalahan tersebut.atau obyektif . adalah masuk dalam kewenangan Hakim.W. a. Itikad baik disini memiliki dua kemungkinan yaitu itikad baik objektif atau subjektif. telah mempertimbangkan : Bahwa memang benar.

Dalam hal ketertiban umum. yaitu apakah yang bersangkutan sendiri menyadari bahwa tindakannya bertentangan dengan itikad baik. . ´ suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalmnya tapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian diharuskan oleh kepatutan. 2.dengan menafsirkannya agar sesuai dengan kepatutan dan kepantasan. Ketertiban umum dijadikan dalih untuk menolak permohonan arbitrase. definisi ketertiban umum dijadikan legitimasi bagi salah satu pihak untuk meminta pembatalan eksekusi dari Pengadilan Negeri. Ketertiban umum sendiri adalah suatu sendi-sendi asasi dari hukum suatu negara.. sehingga pihak yang dirugikan bisa menggugat ke pengadilan negeri atas dasar perbuatan melawan hukum dalam hal pengambilan putusan arbitrase yang tidak berdasar itikad baik. sesuai dengan pasal 1339 B. putusan arbitrase melanggar prosedur arbitrase yang diatur dalam peraturan perundangan negara. misalnya kewajiban untuk mendaftarkan putusan arbitrase di pengadilan setempat tidak dilaksanakan . jika salah satu pihak tidak mendapat kesempatan untuk didengar argumentasinya sebelum putusan arbitrase dijatuhkan. Itikad baik subjektif. kecuali apabila ada perbuatan melawan hukum. Pada intinya terhadap perkara yang sudah memiliki klausul arbitrase tidak bisa diajukan ke pengadilan negeri. yang dimaksud ketertiban umum oleh hakim adalah perkara tersebut sedang dalam proses di pengadilan hukum di pengadilan. namun dapat digunakan kriteria sederhana sebagai berikut :[17] 1. Itikad baik dapat dibedakan menjadi itikad baik subjektif dan itikad baik objektif. dan untuk perkara yang sudah dijatuhkan putusan arbitrasenya tidak bisa diajukan lagi ke pengadilan. dan sayangnya Mahkamah Agung justru menguatkan putusan ini. tidak diajukan atas dasar adanya perbuatan melawan hukum. putusan arbitrase tidak memuat alasan-alasan. sedang itikad baik objektif adalah kalau pendapat umum menganggap tindakan yang demikian adalah bertentangan dengan itikad baik. menunjukkan bahwa Mayora tidak beritikad baik dalam pelaksanaan perjanjian tersebut. padahal peraturan perundang-undangan negara tersebut mewajibkannya. kebiasaan dan undang-undang´. alasan seperti ini seharusnya tidak bisa dijadikan alasan ketertiban umum. atau 3.W. UU Arbitrase pada bagian penjelasannya tidak mendefinisikan atau membatasi ketertiban umum. Seharusnya PN Jakarta Selatan menolak untuk memeriksa perkara tersebut karena bukan merupakan kewenangannya. yang menyatakan bahwa. Sulit untuk mengklasifikasikan putusan arbitrase yang bertentangan dengan ketertiban umum. dan dengan Mayora mengajukan perkara tersebut ke pengadilan negeri padahal saat itu arbitrase sedang berjalan. Dalam kasus Bankers Trust melawan Mayora sungguh aneh karena mengetengahkan ketertiban umum sebagai salah satu alasan. Akibatnya. Pengadilan Jakarta Selatan juga telah melakukan kesalahan karena memeriksa isi perkara dan bukan sekedar memeriksa penerapan hukumnya saja seperti dalam arrest Artist de Labourer.30 Tahun 1999. Apa yang telah dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah melanggar ketentuan Pasal 11 UU No. Ketertiban umum yang dijadikan dalih PN Jakarta Selatan untuk menolak permohonan Bankers Trust tidak termasuk ketertiban umum yang sudah diuraikan diatas.

. dan dalam pelaksanaan suatu putusan arbitrase masih diperlukan peran pengadilan. Pada prakteknya walaupun pengaturan arbitrase sudah jelas dan pelaksanaannya bisa berjalan tanpa kendala namun dalam eksekusinya sering mengalami hambatan dari pengadilan negeri.IV. dan apabila putusan arbitrase itu melanggar ketertiban umum. tidak turut campur. Peradilan harus menghormati lembaga arbitrase. Kesimpulan Pengadilan tidak berwenang memeriksa kembali perkara yang sudah dijatuhkan putusan arbitrasenya. untuk arbitrase asing dalam hal permohonan eksekuator ke pengadilan negeri. kecuali apabila ada perbuatan melawan hukum terkait dengan pengambilan putusan arbitrase dengan itikad tidak baik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful