You are on page 1of 167

STILISTETIKA

JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
Penanggung Jawab
Dekan FPBS IKIP PGRI Bali

Redaksi :

Ketua : Dr. Nengah Arnawa, M.Hum. (IKIP PGRI Bali)
Sekretaris : Drs. Nyoman Astawan, M.Hum. (IKIP PGRI Bali)
Bendahara : Dr. I Wayan Gunartha, M.Pd. (IKIP PGRI Bali)
Anggota : 1. Prof. Dr. Nyoman Suarka, M.Hum. (Unud)
2. Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. (Unand)
3. Prof. Dr. I Nengah Suandi, M.Hum. (Undiksha)
4. I Made Sujana, S.Sn., M.Si. (IKIP PGRI Bali)
5. Gusti Ayu Puspawati, S.Pd., M.Si.(IKIP PGRI Bali)
6. Dr. Anak Agung Gde Alit Geria, M.Si.(IKIP PGRI Bali)

Penyunting Bahasa Indonesia:

Drs. I Nyoman Suarsa, M.Pd.
Ida Ayu Agung Ekasriadi, S.Pd., M.Hum.

Penyunting Bahasa Inggris:

Ni Luh Gede Liswahyuningsih, S.S., M.Hum.
Komang Gede Purnawan, S.S.

Sirkulasi:

I Nyoman Sadwika, S.Pd., M.Hum.
Putu Agus Permanamiarta, S.S., M.Hum.

Administrasi :

Luh De Liska, S.Pd., M.Pd.
Ni Luh Purnama Dewi, S.Pd.
I Gusti Ngurah Okta Diana Putra, S.Pd.

Alamat : Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali
Jalan Akasia, Sumerta, Denpasar Timur
Email : stilistetika@yahoo.com
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Pengantar Redaksi

Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni merupakan salah satu institusi
akademik yang berkonsentrasi pada ilmu pendidikan bahasa dan seni. Dinamika
ilmu pendidikan bahasa dan seni amatlah pesat. Oleh karena itu diperlukan wadah
untuk menghimpun dan menyosialisasikan perkembangan ilmu pendidikan,
Bahasa, dan seni tersebut. Berdasarkan kesadaran dan komitmen civitas
akademika, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni berhasil mewujudkan idealisme
ilmiahnya melalui jurnal Stilistetika yang terbit dua kali setahun, yakni pada bulan
Mei dan November. Apa yang ada di tangan pembaca budiman saat ini
merupakan jurnal Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017.
Jurnal Stilistetika ini memiliki makna tersendiri. Penerbitan edisi ini selain
disebarkan secara internal dalam kampus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni,
juga didistribusikan pada komunitas akademik yang lebih luas. Jurnal Stilistetika
kali ini memuat delapan artikel ilmiah yang dihasilkan oleh dosen Fakultas
Pendidikan Bahasa dan Seni dan tiga artikel ilmiah yang dihasilkan oleh
mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni.
Semoga penerbitan jurnal Stilistetika ini menjadi wahana yang baik untuk
membangun atmosfer akademik. Akhirnya, sumbangan pemikiran, kritik, dan
saran dari pembaca diharapkan dapat memperbaiki terbitan edisi selanjutya.

Redaksi

i
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Halaman
Pengantar Redaksi ......................................................................................... i
Daftar Isi ....................................................................................................... ii

Konflik Batin Tokoh Utama dalam Cerpen Harian Bali Post Tahun 2015
Dan Relevansinya Pada Pembelajaran Sastra Di SMA
Ketut Yarsama ............................................................................................... 1

Bahasa sebagai Perefleksi Kekuasaan dalam Cerita Rakyat “Kisah Golek
Kencana”
Nyoman Astawan. ......................................................................................... 14

Peningkatan Menulis Permulaan Aksara Bali dengan Media Titik
Berpola Siswa Kelas III SD Negeri 2 Mas, Ubud, Gianyar Tahun
Pelajaran 2017/2018
I Nyoman Sadwika ........................................................................................ 28

Kepuasan Penonton Program Berita “Seputar Bali” (Studi Uses And
Gratification terhadap Khalayak Penonton Program Berita Seputar Bali
Yang ditayangkan Bali Tv)
Putu Dessy Fridayanthi ................................................................................ 46

Analisis Strukturalisme Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Cerpen-
Cerpen Karya I.B. Keniten sebagai Salah Satu Alternatif Bahan
Pembelajaran Cerpen Siswa Kelas XI SMA Negeri 4 Denpasar Tahun
Pelajaran 2014/2015
Gede Sidi Artajaya ........................................................................................ 63

Standar Profesional Guru
Luh De Liska. ................................................................................................ 82

Kemampuan Menulis Cerita Fabel dengan Penggunaan Media Komik
pada Siswa Kelas VII SMP Nasional Denpasar Tahun Pelajaran
2016/2017
Ni Made Suarni ............................................................................................. 96

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk
Meningkatkan Keterampilan Menarikan Tari Sekar Jempiring pada
Kegiatan Ekstrakurikuler Tari Siswa SMP Swadharma Tahun Pelajaran
2016/2017
Nonik Darmayanti ........................................................................................ 114

Kemampuan Membuat Komik Strip Siswa Kelas X Animasi SMK N 1
Sukawati Tahun Pelajaran 2016/2017
I Putu Pande Mahardika ............................................................................... 126

ii
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Gaya Bahasa Cerpen Karya Siswa pada Tabloid Wiyata Mandala Tahun
2016
Putu Dina Marianti ....................................................................................... 139

Eksplorasi Material Non Konvensional dalam Karya Seni Lukis
Agus Mediana Adiputra ................................................................................ 150

iii
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM CERPEN HARIAN
BALI POST TAHUN 2015 DAN RELEVANSINYA PADA
PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

Oleh :
Ketut Yarsama
Ni Wayan Yustina Wati

FPBS, IKIP PGRI Bali

Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap konflik batin tokoh
utama pada cerpen terbitan Bali Post tahun 2015 dan untuk mengetahui relevansi
dalam pembelajaran sastra di SMA kelas XI.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang menghasilkan data berupa
kata-kata tertulis, disajikan apa adanya tanpa ada perlakuan terhadap objek yang
diteliti dan dibantu dengan tabel sederhana. Pengumpulan data dalam penelitian
ini dilakukan dengan metode kepustakaan atau dokumentasi. Data yang
didapatkan dari metode kepustakaan dinalisis dengan teknik deskriptif-analisis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik batin tokoh utama dalam
kumpulan cerpen terbitan Bali Post Tahun 2015 meliputi id, ego, dan superego.
Id merupakan pententangan antara harapan dan kenyataan, iri dengan kehidupan
orang lain dan lari dari kenyataan. Ego adalah konfik batin yang dipicu oleh
keinginan yang tidak sesuai harapan, lingkungan sosial yang kurang mendukung,
kebimbangan dalam menghadapi masalah, dan melakukan hal yang
bertentangan dengan adat istiadat desa. Sedangkan superego yang dimaksud
dalam hal ini adalah konflik batin yang dapat mengenali hal yang baik, seperti
sifat istri yang baik terhadap keluarga dengan tetap menunjukan rasa kasih
sayang meskipun bertolak belakang dengan hati nuraninya, serta menjalani hidup
dengan tegar. Konflik id dan ego memiliki keseimbangan dan sama-sama
mendominasi pada cerpen ini. Hal tersebut dapat dilihat dari posisi tokoh utama
selalu berada dalam kedilemaan antara harapan dan kenyataan.
Cerpen terbitan Bali Post memiliki relevansi dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia di SMA kelas XI, dapat dibuktikan dengan terdapatnya cerpen pada
buku paket bahasa Indonesia, yang juga menggambarkan konflik batin tokoh
utama meliputi id, ego, dan superego. Kelima cerpen yang diteliti, semuanya
layak dipakai sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMA.
Karena selain memiliki pemahaman tentang unsur intrinsik cerpen, juga sarat
dengan nilai-nilai tentang kehidupan, yang dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Hasil penelitian ini penting untuk dipahami oleh guru bahasa dan
sastra Indonesia agar guru dapat menambah wawasannya yang berkaitan dengan
pendalaman materi keterampilan bersastra, khususnya karya sastra cerpen.

Kata-kata kunci : konflik batin, cerpen, dan relevansi pembelajaran bahasa
Indonesia

1
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Abstract
The purpose of this study is to uncover the inner conflicts of the main
characters in the short stories published by Bali Post in 2015 and to find out the
relevance in learning literature in high school class XI.
This study is a qualitative research, which produces word data written
words, presented as is without any treatment of the object under study and
assisted with a simple table. Data collection in this study by using the method of
literature or documentation. Data obtained from library method were analyzed
bydescriptive-analysistechnique.
The result of the research shows that there are inner conflicts in the
collection of short stories published by Bali Post Year 2015, id, ego, and
superego. Id is a contrast between hope and beauty, envy with another life and
run from. Konfik inner ego is driven by the desire that does not meet expectations,
the social environment is less supportive, indecision in the matter, and do things
that are contrary to the customs of the village. That superego that question in this
case is the inner conflict that can be locked up a good thing, as the nature of a
good wife to a family with a permanent show of affection contrary to his
conscience, and live with dignity. Conflict id and ego have balance and equally in
this short story. It can be seen from the position of the main character is always in
a dilemma between hope and a fact of life.
Bali Post published short stories have relevance in learning Indonesian in
class XI High School, can be evidenced by the number of short stories in the book
Indonesian package, which is also the hallmark of understanding, ego, and
superego. The five short stories studied, all worthy of use as a learning material
Indonesian language in high school. Because in addition to having an
understanding of the intrinsic elements of the short story, is also loaded with the
value of life, which can be in everyday life. The results of this study are important
to understand the Indonesian language and literature teacher so the teacher can
add insights related to the deepening of the course material compose, especially
literaryshortstories.

Keywords: inner conflicts, short stories, and the relevance of Indonesian
language learning

1 PENDAHULUAN
Sastra telah membudaya dalam kehidupan masyarakat dengan kata lain
sastra sudah lazim ditelinga masyarakat. Bahkan sastra sering dipakai dalam
kegiatan masyarakat untuk hiburan, petuah, serta mengajarkan kebajikan. Pada
zaman dahulu karya sastra berupa dongeng yang sering dituturkan dari mulut ke
mulut sebagai pengantar tidur. Melekatnya sastra dalam sendi-sendi kehidupan
manusia terus berkembang hingga pada era globalisasi ini. Masyarakat bisa
menikmati karya sastra dalam media elektronik maupun media masa.

2
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Salah satu media masa yang masih konsisten menerbitkan berbagai karya
sastra berupa puisi dan cerpen adalah Bali Post. Bali Post merupakan salah satu
nama surat kabar harian yang terbit di Bali. Adanya pemuatan topik tentang sastra
pada edisi mingguan Bali Post secara tidak langsung dapat memberikan
wawasan, pembelajaran, dan kritik kepada khalayak umum. Tidak hanya itu,
dengan adanya rubrik sastra dapat memicu generasi muda untuk menuangkan
gagasan dalam bentuk karya sastra dengan melihat fenomena yang terjadi di
masyarakat, kemudian ditautkan dengan imajinasi sehingga menghasilkan karya
yang bisa dijadikan bahan perenungan, peringatan, pembelajaran, pemecahan
masalah, serta hiburan.
Pada penelitian ini, data yang diambil bersumber dari harian Bali Post
edisi mingguan, karena pada edisi mingguan dipublikasikan berbagai karya sastra
yang salah satunya ialah cerpen. Menurut Karmini (2011:1), sastra adalah ciptaan
manusia dalam bentuk bahasa lisan maupun tulisan yang dapat menimbulkan rasa
bagus. Tulisan yang bernilai sastra, baik lisan maupun tulisan selalu menimbulkan
rasa haru bagi pembaca dan pendengarnya. Sastra juga dapat dijadikan sebagai
media untuk mengkomunikasikan ide, gagasan, dan pikiran seseorang tentang
sebuah masalah atau suatu topik yang hangat di masyarakat. Karya sastra
cenderung menggungkapkan masalah-masalah manusia dan kemanusiaan, tentang
makna hidup dan kehidupan.
Sastra tidak pernah terlepas dari masalah sosial. Dewasa kini potret
kehidupan bangsa Indonesia semakin marak disoroti karena bobroknya tindakan-
tindakan manusia yang tidak mencerminkan kemanusian. Sastra merupakan
pencerminan dari segi kehidupan manusia berupa, sikap, tingkah laku, pemikiran,
pengetahuan, tanggapan, perasaan, dan imajinasi. Sejatinya karya sastra
merupakan karya imajinatif tetapi tidak terlepas dari kehidupan atau masalah
yang terjadi di masyarakat.
Dalam karya sastra sering disajikan masalah-masalah yang dialami oleh
tokoh. Masalah yang dihadirkan pengarang dalam cerpen sering sekali ditautkan
dengan emosi pembaca. Sebagai makluk sosial hidup berdampingan sering
menimbulkan konflik. Konflik hadir dengan motif yang beraneka ragam. Konflik
terjadi ketika manusia perlahan kehilangan pengendalian diri ketika tingkat

3
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

peradaban mencapai suatu kemajuan sehingga memicu konflik (Ratna,
2011:342).
Berbicara tentang sastra juga dapat dikaitkan dengan psikologi. Menurut
Endraswara sebagai mana dikutip oleh Minderop (2013:59), menyatakan bahwa
psikologi sastra adalah interdisiplin antara psikologi dan sastra. Mempelajari
psikologi sastra sebenarnya sama halnya dengan mempelajari manusia dari sisi
dalam. Daya tarik psikologi sastra ialah pada masalah manusia yang melukiskan
potret jiwa. Tidak hanya jiwa sendiri yang muncul dalam sastra, tetapi juga bisa
mewakili jiwa orang lain.
Selain itu, psikologi sastra merupakan telaah karya sastra yang diyakini
mencerminkan proses dan aktivitas kejiwaan. Pada dasarnya psikologi sastra
dibangun atas asumsi-asumsi genesis dalam kaitannya dengan asal usul karya,
artinya psikologi sastra dianalisis dalam kaitannya dengan aspek-aspek kejiwaan
pengarang. Penelitian psikologi sastra memiliki peranan penting dalam
pemahaman sastra karena adanya beberapa kelebihan. Pertama, pentingnya
psikologi sastra untuk mengkaji lebih dalam aspek perwatakan. Kedua, dengan
pendekatan ini dapat memberi umpan balik kepada peneliti tentang masalah
perwatakan yang dikembangkan. Ketiga penelitian semacam ini sangat membantu
untuk menganalisis karya sastra yang kental dengan masalah-masalah psikologis
(Endraswara sebagaimana dikutip oleh Minderop, 2013:2).
Salah satu masalah yang berhubungan dengan psikologi sastra adalah
konflik batin. Istilah konflik berasal dari kata kerja bahasa Latin configure yang
berarti saling memukul (Wirawan dalam Emzir dan Saifur, 2015: 188). Konflik
diketahui sebagai salah satu esensi dari kehidupan dan perkembangan manusia
yang mempunyai karakteristik beragam. Dalam realitas, konflik adalah hal yang
harus ada dan kehadirannya tidak dapat ditawar lagi karena konflik merupakan
unsur dasar dalam kehidupan manusia.
Dalam ilmu psikologi sastra konflik dibagi menjadi tiga, yaitu konflik
dalam diri seseorang, kedua konflik antara orang-orang atau seseorang dan yang
ketiga konflik antara manusia dan alam. Dalam penelitian ini konflik yang
menonjol dalam karya sastra adalah konflik dalam diri seseorang atau dengan kata
lain konflik batin atau kejiwaan. Konflik ini terjadi karena terjadi suatu

4
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

pertarungan individual atau perjuangan seorang tokoh dalam melawan dirinya
sendiri, sampai pada akhirnya ia dapat mengatasi dan menentukan apa yang mesti
dilakukannya (Emzir dan Saifur, 2012:189-190).
Peristiwa dalam sebuah karya sastra sangat erat hubungannya dengan
konflik. Dalam karya sastra konflik menjadi dasar narasi yang kuat dan menjadi
bagian penting dalam pengembangan alur atau plot pada sebuah cerita. Konflik
terjadi apabila tidak adanya kesepakatan atau peraturan secara teratur antara
sebuah keinginan satu dengan keinginan lain. Bentuk konflik yang ada dalam
sebuah cerita, dapat berupa peristiwa batin. Peristiwa batin adalah sesuatu yang
terjadi dalam batin seseorang atau tokoh.
Konflik batin yang dimaksud adalah konflik batin yang dialami tokoh
dalam karya sastra. Salah satu bentuk karya sastra tercermin dalam bentuk cerpen.
Cerpen yang menjadi kajian dalam penelitian ini sebanyak lima cerpen khususnya
yang dimuat pada bulan Januari - Desember 2015. Cerpen adalah suatu cerita
yang menggambarkan sebagian kecil dari keadaaan, peristiwa kejiwaan, dan
kehidupannya (Karmini. 2011:102). Cerpen terdiri dari unsur intrinsik dan
ekstrinsik, salah satu unsur intrinsik yang dibahasa adalah tokoh. Menurut
Abrams sebagaimana dikutip oleh Nurgiyantoro (2007:165), tokoh adalah orang-
orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca
ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang
diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Tokoh
utama merupakan tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam karya sastra
bersangkutan dan juga merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik
sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian (Nurgiyantoro, 2007:176-
177). Sebagai tokoh yang banyak diceritakan dalam cerpen tentunya terdapat pula
konflik batin pada tokoh utama. Untuk mengetahui konflik batin yang terjadi pada
tokoh utama dalam cerpen perlu dilakukan penelitian.
Kurikulum merupakan desain dalam pembelajaran di sekolah. Kurikulum
disusun dan dikembangkan dengan memperhatikan segala aspek ilmu
pengetahuan maupun teknologi. Oleh karena itu rancangan kurikulum sudah
seharusnya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam
kurikulum 2013 pelajaran bahasa Indonesia terdapat materi menganalisis unsur

5
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

intrinsik yang meliputi, tema, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, tokoh,
penokohan, dan amanat. Guru harus mampu untuk menyampaikan gagasan-
gagasan tentang cara untuk memahami dan menganalisis unsur intrinsik cerpen.
Pelajar diajak untuk memecahkan masalah atau materi unsur intrinsik dengan
kegiatan menganalisis.Tentunya siswa dituntut mengarahkan kemampuan
inteltual, sikap, emosi, dan ketrampilan.
Penelitian ini mengungkapkan tentang konflik batin hubungan manusia
dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia dalam lingkungan sosial
dan pendidikan, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Tidak hanya itu
penelitian ini juga mengkaji ajaran moral yang terkandung dalam kumpulan
cerpen yaitu nilai kesabaran dan kerja keras .
Untuk menganalisis lebih jauh mengenai konflik batin dalam kumpulan
cerpen Bali Post, maka ditinjau dari analisis psikolgi sebagai wujud implementasi
materi ajar di SMA. Pengajaran sastra di SMA masih menghadapi berbagai
masalah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya keluhan dari para pendidik baik dari
jumlah maupun mutu buku yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang
berdampak pada hasil belajar siswa. Seharusnya para pengajar khususnya
pengajar Bahasa dan Sastra dalam mengajar sastra terutama cerpen dapat
memberikan contoh cerpen selain mempertimbangkan unsur kemenarikan,
menyesuaikan tingkat perkembangan peserta didik, juga memberikan cerpen
yang sarat dengan muatan edukatif. Pengajaran di SMA masih menitikberatkan
aspek kognitif atau pengetahuan saja sehingga siswa hanya tahu istilah-istilah
teoretis. Belajar sastra, misalnya siswa hanya menghafalkan judul dan nama
pengarang dalam karya sastra yang berupa nilai-nilai kehidupan yang penting bagi
anak, justru jarang bahkan dikatakan tidak tersentuh dalam pembelajaran sastra.
Dengan demikian, membaca karya sastra bagi siswa identik dengan menghafalkan
segala sesuatu yang terdapat dalam karya sastra, itu tanpa menjadi guru bagi anak
untuk memiliki kepekaan baik emosional atau estetika. Kumpulan cerpen Bali
Post itu pantas untuk diterapkan di dalam materi pembelajaran di SMA, alasannya
adalah kumpulan cerpen Bali Post tersebut mengandung banyak nilai positif bagi
peserta didik untuk dipelajari, memberi motivasi tinggi dalam belajar untuk

6
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

meraih sebuah cita-cita dan mengandung nilai-nilai kehidupan yang penting bagi
peserta didik untuk dipelajari.
Sehubungan dengan hal di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji konflik
batin tokoh utama dalam kumpulan cerpen Bali Post. Di dalam kumpulan cerpen
ini yang dinilai memiliki banyak nilai edukatif, sehingga nantinya bisa dijadikan
materi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA terutama kelas XI.
Dengan judul “Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Kumpulan Cerpen Terbitan
Bali Post Tahun 2015 dan Relevansinya dalam Pembelajaran Sastra di SMA”.
Peneliti memilih judul ini karena adanya beberapa alasan. Pertama, karena jarang
yang mengambil aspek konflik batin pada cerpen. Kedua, karena peneliti ingin
mengembangkan ilmu sastra dan psikologi melalui media massa, yaitu koran
untuk memberikan penerangan masyarakat luas. Ketiga, peneliti juga ingin
mengetahui bagaimana relevansinya pada pembelajaran di SMA.

2 METODE PENELITIAN
Adapun metode-metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah 1) jenis
penelitian, 2) sumber data penelitian, 3) metode dan teknik pengumpulan data, 4)
instrument penelitian, 5) metode analisis data, 6) metode penyajian analisis data.
(1) Jenis penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif
adalah metode penelitian yang bersifat naturalistik karena penelitiannya dilakukan
pada kondisi yang alamiah atau natural setting (Sugiyono, 2015:14).
Digunakannya jenis penelitian kualitatif karena data yang dikumpilkan dalam
penelitian ini berupa kata-kata bukan angka-angka dan disajikan apa adanya tanpa
ada perlakuan terhadap objek yang diteliti.
(2)sumber data penelitian
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lima buah cerpen
dengan judul Ibu Malin, Pekak, Stasiun Terakhir, Senja Ibu dan Perempuan
Dalam Lukisan. Cerpen tersebut terbit dari bulan Januari – Desember 2015 cerpen
yang dimuat pada koran Bali Post terbitan tahun 2015.

7
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

(3) metode dan teknik pengumpulan data
Pengumpulan data tidak lain dari suatu proses pengadaan data untuk
keperluan penelitian. Pengumpilan data dalam penelitian ilmiah adalah prosedur
yang sistematis untuk memperoleh data yang diperlukan. Metode dan teknik
pegumpulan data merupakan salah satu langkah utama dalam penelitian, karena
tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data.
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang
diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit dan
membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh peneliti atau orang lain
(Sugiyono, 2015:335).

(4) Instrument
Instrumen penelitian merupakan sarana atau alat yang digunakan dalam
penelitian. Penelitian kualitatif tidak bisa dipisahkan dari pengamatan sehingga
peneliti berperan dalam menentukan keseluruhan skenario penelitian (Moleong,
2014:163). Kedudukan peneliti dalam penelitian cukup rumit. Ia sekaligus
merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analis, penafsir data, dan
pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitian. Peneliti termasuk dalam
instrumen utama penelitian karena ia menjadi segalanya dari keseluruhan proses
penelitian.

(5) Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis data dengan analisis
heuristik dan hermeneutik. Analisis heuristik merupakan karya sastra pada sistem
semiotik tingkat pertama. Metode ini berupa pemahaman makna sebagaimana yng
dikonvensikan oleh bahasa yang bersangkutan (Nurgiantoro. 2015:46). Sedangkan
analisis hermeneutik diartikan sebagai penafsiran atau interprestasi (Bungin,
2014:189).
Metode analisis data ini diawali dengan langkah-langkah dalam
menganalisis adalah sebagai berikut.

8
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

1) Membaca secara heuristik, yakni pembacaan cerpen dari awal sampai
akhir cerita secara berurutan.
2) Membaca secara hermeneutik, yakni pembacaan ulang setelah pembacaan
heuristik. Dengan langkah sebagai berikut.
a. Memberian kode pada kartu data konflik batin tokoh utama yang
terdapat dalam cerpen terbitan Bali Post tahun 2015.
b. Mencatat konflik batin yang ada pada tokoh utama dalam kartu data.
c. Memaparkan konfik batin tokoh utama yang terdapat dalam cerpen
tersebut.
3) Menemukan dan menguraikan kerevansian konflik batin tokoh utama
cerpen terbitan Bali Post terhadap pembelajaran sastra di SMA. Dengan
cara membandingkan konflik batin tokoh utama cerpen terbitan Bali Post
Tahun 2015 dengan cerpen yang terdalam dalam buku pembelajaran di
SMA kelas XI. Dengan membandingakan konflik batin tersebut, akan
terlihat relevansi atau tidaknya cerpen terbitan Bali Post dengan cerpen
yang terdapat pada buku pembelajaran SMA kelas XI.
4) Menarik kesimpulan

(6) Metode Penyajian Analisis Data
Pada tahap ini metode yang digunakan adalah metode informal dan
formal. Menurut Sudaryanto (dalam Muhammad 2014:288) metode formal
adalah penyajian data dengan menggunakan tanda-tanda atau lambang berupa
tabel atau grafik sedangkan metode informal adalah cara penyajian melalui
kata-kata biasa yang memudahkan untuk dipahami. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode informal dan table sederhana.

3 HASIL PENELITIAN
Berdasarkah penelitian terhadap kumpulan cerpen terbitan Bali Post
Tahun 2015 dapat diketahui Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik batin
tokoh utama dalam kumpulan cerpen terbitan Bali Post Tahun 2015 meliputi id,
ego, dan superego. Id merupakan pententangan antara harapan dan kenyataan, iri
dengan kehidupan orang lain dan lari dari kenyataan. Ego adalah konfik batin

9
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

yang dipicu oleh keinginan yang tidak sesuai harapan, lingkungan sosial yang
kurang mendukung, kebimbangan dalam menghadapi masalah, dan melakukan
hal yang bertentangan dengan adat istiadat desa. Sedangkan superego yang
dimaksud dalam hal ini adalah konflik batin yang dapat mengenali hal yang baik,
seperti sifat istri yang baik terhadap keluarga dengan tetap menunjukan rasa
kasih sayang meskipun bertolak belakang dengan hati nuraninya, serta menjalani
hidup dengan tegar. Konflik id dan ego memiliki keseimbangan dan sama-sama
mendominasi pada cerpen ini. Hal tersebut dapat dilihat dari posisi tokoh utama
selalu berada dalam kedilemaan antara harapan dan kenyataan.
Cerpen terbitan Bali Post memiliki relevansi dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia di SMA kelas XI, dapat dibuktikan dengan terdapatnya cerpen pada
buku paket bahasa Indonesia, yang juga menggambarkan konflik batin tokoh
utama meliputi id, ego, dan superego. Kelima cerpen yang diteliti, semuanya
layak dipakai sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMA.
Karena selain memiliki pemahaman tentang unsur intrinsik cerpen, juga sarat
dengan nilai-nilai tentang kehidupan, yang dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Hasil penelitian ini penting untuk dipahami oleh guru bahasa dan
sastra Indonesia agar guru dapat menambah wawasannya yang berkaitan dengan
pendalaman materi keterampilan bersastra, khususnya karya sastra cerpen.

4 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan dan saran dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh mengenai konflik batin
tokoh utama dalam kumpulan cerpen terbitan Bali Post Tahun 2015 dan
relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA dapat disimpulkan
sebagai berikut.
1. Konflik batin yang terdapat dalam kumpulan cerpen Bali Post memuat secara
kompleks unsur konflik batin yaitu id, ego , dan superego. Konflik yang
mendomonasi dalam kelima cerpen ini yaitu id dan ego. Kedua konflik
tersebut, begitu jelas penggambarannya karena dalam setiap cerpen
menceritakan pertentangan antara harapan dan kenyataan yang selalu

10
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

berbanding terbalik. Selain itu banyak juga terdapat kebimbangan dalam
menghadapi masalah dalam kehidupan.
2. Cerpen terbitan Bali Post memiliki relevansi dengan pembelajaran sastra di
SMA kelas XI. Hal ini dapat dibuktikan dengan cerpen yang ada dalam buku
paket Bahasa Indonesia SMA kelas XI menggambarkan konflik batin tokoh
utama yang meliputi id, ego, dan superego. Kelima cerpen yang diteliti,
semuanya layak dipakai sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia di
tingkat SMA. Karena cerpen yang diterbitkan layak sebagai bahan pengajaran
sastra. Selain memiliki pemahaman yang sarat dengan nilai-nilai tentang
kehidupan, terdapat juga banyak pesan moral yang muncul dari konflik
tersebut.

4.2 Saran
Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, melalui tulisan
ini disampaikan beberapa saran yang diharapkan dapat meningkatkan mutu
pengajaran bahasa Indonesia khususnya dalam pengajaran menganalisis unsur
intrinsik. Adapun saran-saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut.
1. Saran untuk siswa
Siswa hendaknya dalam membaca cerpen memperhatikan juga unsur intrinsik
dari cerpen tersebut sehingga cerpen tidak hanya menjadi hiburan di kala
senggang, tetapi juga dapat membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan
dalam menganalisis konflik batin sehingga dapat dijadikan pelajaran dalam
kehidupan sehari-hari berdasarkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya..
2. Saran untuk guru bahasa dan sastra Indonesia
Guru hendaknya dapat memaksimalkan penggunaan bahan pembelajaran
sastra, dalam hal ini adalah cerpen. Kumpulan cerpen Bali Post ini misalnya,
di dalamnya memenuhi beberapa macam manfaat pembelajaran sastra, yaitu:
membantu keterampilan menganalisis, meningkatkan pengetahuan budaya, dan
mengembangkan cipta dan rasa. Lebih lanjut guru dapat memilih cerpen lain
yang sekiranya terdapat beberapa cakupan yang bisa memberikan manfaat
positif bagi siswa sehingga siswa tidak hanya memperoleh hiburan saja, tetapi
juga mendapatkan ilmu pengetahuan.

11
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

3. Saran untuk pembaca karya sastra
Pembaca karya sastra sebaiknya mengambil nilai-nilai positif dalam karya
sastra yang telah dibacanya dalam kehidupan di masyarakat. Kumpulan cerpen
Bali Post adalah kumpulan cerpen yang bagus dan berkualitas sehingga tidak
ada salahnya jika membaca kumpulan cerpen tersebut.
4. Saran untuk peneliti lain
Peneliti ingin melakukan penelitian yang sama agar dapat
mengembangkan penelitian ini dari aspek atau sudut pandang lain. Oleh
karena itu, peneliti lain sebaiknya terus meningkatkan penelitian dalam bidang
sastra, khususnya kumpulan cerpen Bali Post secara lebih mendalam dengan
bentuk analisis yang berbeda karena kumpulan cerpen tersebut termasuk
kumpulan cerpen yang bagus dan berkualitas.
5. Saran untuk pengarang
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pengarang muda juga merupakan
pengarang yang piawai dalam menulis konflik batin ataupun keutuhan cerpen.
Cerpen yang dihasilkan oleh pengarang mengandung banyak aspek-aspek nilai
sosial, dan moral dalam masyarakat dipelajari di SMA sehingga akan sangat
berguna bagi pembelajaran bahasa Indonesia jika pengarang menggunakan
kemampuannya untuk menulis lebih banyak cerpen yang dapat dianalisis oleh
siswa, khususnya di SMA, dalam karya berikutnya.

DAFTAR RUJUKAN

Aminuddin. 2010. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: Sinar Baru
Algensindo.

Antara. 1985. Bahasa Indonesia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Bungin, Burham. 2014. Penelitian Kualitatif. Jakarta :Prenada Media Group.

Emzir dan Saifur Rohman. 2016. Teoridan Pengajaran Sastra. Jakarta :PT
Rajagrafindo Persada.

Karmini, Ni Nyoman. 2011. Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama. Denpasar :
Pustaka Larsan.

12
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Minderop, Albertine. 2013. Psikologi Sastra. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor
Indonesia.

Moleong, Lexy J. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.

Muhammad, Djorin. 2014. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nurgiyantoro, Burham. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.

Ratna, Kutha Nyoman. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari
Struktualisme hingga Postruktualisme Perspektif Wacana Naratif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saryono. 2009. Teori sastra. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Tindakan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. Bandung : Alfabeta.

13
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

BAHASA SEBAGAI PEREFLEKSI KEKUASAAN
DALAM CERITA RAKYAT “KISAH GOLEK KENCANA”

oleh
Nyoman Astawan
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali

ABSTRAK
Berbahasa adalah suatu kegiatan sosial. Secara sosial, bahasa terikat,
dikonstruksi, dan direkonstruksi dalam kondisi khusus dan setting sosial tertentu.
Sebagai representasi dari hubungan-hubungan sosial tertentu, bahasa senantiasa
membentuk subjek-subjek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana tertentu. Bahasa
merupakan ruang bagi pergelaran kuasa-kuasa tertentu. Melalui bahasa, kekuasaan
seseorang dapat tergambarkan.
Terkait dengan uraian di atas, masalah yang dibahas dalam tulisan ini, yaitu
bentuk dan dasar pemilihan bahasa sebagai perefleksi kekuasaan. Sedangkan,
kerangka teori yang diacu adalah teori situasi kontekstual dan teori sapaan. Sebagai
hasil pembahasan, bahasa yang merefleksikan kekuasaan dalam cerita rakyat “Golek
Kencana” diklasifikasikan menjadi dua, yaitu dalam bentuk leksikal dan sintaksis.

ABSTRACT
Language is a social activity. Socially language is tied, construction, and
reconstructed special in a condition and certain social setting. As representation of
certain social relations, languageever form subjects, strategys, and certain discourse
themes. Language represent room to certain powers title. Through language, power
is one can depicted.
Related to breakdown of above, problem of which discussed in this article,
that is base and form election of language as represent of power. While, theory
framework which is situation theory of contextual and greeting theory. As result of
solution, language reflecting power in folklore "Golek Kencana" classified to become
two, that is in the form of syntax and leksikal.

1 PENDAHULUAN
Bahasa hadir bersamaan dengan sejarah sosial komunitas-komunitas yang
dalam pengertian modern disebut masyarakat atau bangsa. Pemahaman mengenai
bahasa menjadi hal pokok bagi setiap upaya penyelaman makna kenyataan hidup
masyarakat. Hal itu mengingatkan, kehidupan masyarakat sulit dibayangkankan kalau

14
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

tanpa ada bahasa. Praktikto dalam bukunya Lingkaran-lingkaran Komunikasi
mengemukakan bahwa peranan bahasa sangat menetukan untuk berlangsungnya
suatu komunikasi di antara manusia dalam mencapai tujuan (1982: 201). Peranan itu
sudah disadari sejak zaman Yunani kuno. Para filosof Yunani memandang bahasa
sebagai alat untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran, mengekpresikan hal-hal
yang bersifat artistik, juga untuk mempengaruhi atau mempersuasi (Latif dan
Ibrahim, 1996: 17).
Bahasa bukan semata-mata alat komunikasi atau sebuah sitem kode atau nilai
yang secara sewenang-wenang menunjuk sesuatu realitas monolitik. Bahasa adalah
suatu kegiatan sosial. Secara sosial ia terikat, dikonstruksi, dan direkonstruksi dalam
kondisi khusus dan setting sosial tertentu. Karenanya, sebagai representasi dari
hubungan-hubungan sosial tertentu, bahasa senantiasa membentuk subjek-subjek,
strategi-strategi, dan tema-tema wacana tertentu. Singkatnya, bahasa merupakan
ruang bagi pergelaran kuasa-kuasa tertentu. Melalui bahasa, kekuasaan seseorang
dapat tergambarkan. Penggambaran kekuasaan seseorang dalam komunikasi tidak
hanya dijumpai dalam dunia realitas, tetapi dapat juga ditemukan dalam suatu karya
fiksi, misalnya cerita rakyat.
Kajian yang dilakukan terhadap cerita rakyat tidak selalu untuk menemukan
atau mencari nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Tetapi ada aspek lain
yang juga dapat dikaji, misalnya bahasa. Penggunaan bahasa ini sangat terkait dengan
tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam sebuah cerita rakyat. Misalnya, Seorang raja
berbicara kepada abdinya akan berbeda bentuk bahasanya jika dibandingkan dengan
seorang abdi yang berbicara kepada rajanya.
Berdasarkan kenyataan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji sebuah cerita
rakyat dengan menekankan aspek kajian pada bentuk bahasa sebagai perefleksi
kekuasaan. Dengan demikian dapat dideskripsikan berbagi bentuk Bahasa yang
merefleksikan kekuasaan dalam cerita rakyat.
Sesuai dengan uraian di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai
berikut.

15
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

1) Bagaimanakah bentuk bahasa yang merefleksikan kekuasaan dalam cerita
rakyat Golek Kencana.
2) Apa yang mendasari pemilihan bentuk bahasa sebagai perefleksi kekuasaan
dalam cerita rakyat Golek Kencana.

2 KERANGKA TEORI
Kerangka teori yang dipakai dalam kajian ini adalah teori situasi kontektual
dan teori sapaan. Namun, sebelum membicarakannya terlebih dahulu akan dijelaskan
konsep tentang bahasa dan kekuasaan.

2.1 Konsep Bahasa dan Kekuasaan
Bahasa secara batasan sederhana dikatakan sebagai suatu sistem vokal simbul
yang bebas yang dipergunakan oleh anngota masyarakat untuk berhubungan (Jendra,
1991 : 20). Batasan yang senada dengan di atas dijelaskan oleh Moeliono dkk. (1990 :
66) bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi berartikulasi (yang dihasilkan alat-
alat ucap) yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai
alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Pendapat lain tentang
batasan bahasa muncul dari linguistik struktural dengan tokohnya Bloomfield.
Menurut Bloomfield, bahasa adalah lambang berupa bunyi yang bersifat sewenang-
wenang (arbriterel) yang dipakai oleh anngota-anggota masyarakat untuk saling
berhubungan dan berinteraksi.
Terkait dengan tulisan ini, konsep bahasa yang diterapkan merujuk ketiga
pendapat di atas. Dari ketiga pendapat tentang batasan bahasa di atas dapat penulis
simpulkan sebagai berikut.
Bahasa adalah suatu sistem vokal simbul atau lambang bunyi yang dipakai
oleh anggota masyarakat sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan
pikiran. Anggota masyarakat yang dimaksud adalah para tokoh yang berperan dalam
cerita rakyat Kisah Golek Kencana.
Di samping konsep bahasa, perlu juga dipaparkan konsep kekuasaan. Duranti
dalam buku Antropological Linguistics (2001) menyebutkan kekuasan adalah simbol-

16
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

simbol dominasi. Batasan senada dikemukakan oleh Faircllough dalam bukunya
Language and power. Di sana disebutkan bahwa kekuasaan adalah dominasi terhadap
orang-orang tertentu. Di sisi lain, Moeliono dkk. menjelaskan kekuasaan sebagai
kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain
berdasarkan kewibawaan, wewenang, kharisma, atau kekuatan fisik (1990: 468).
Kalau dicermati dari ke tiga batasan kekuasaan di atas, tampak adanya unsur
dominasi atau penguasaan seseorang kepada orang lain. Penguasaan seeorang kepada
orang lain tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi dapat dilakukan dalam bentuk
nonfisik. Dalam bentuk nonfisik, penguasaan seseorang kepada orang lain dapat
diamati dari penggunaan bahasanya. Misalnya, bahasa seorang atasan akan berbeda
dengan bawahan atau seorang raja akan berbeda bahasanya jika dibandingkan dengan
seorang abdi.

2.2 Teori Situasi Kontekstual
Teori situasi kontekstual didasari atas asumsi bahwa setiap ujaran (utterance)
atau variasi bahasa selalu terkait dengan situasi kontekstual dalam kehidupan
masyarakat. Tidak ada suatu pembicaraan yang bisa terjadi tanpa atau terlepas dari
situasi kontekstual. Berdasarkan hal tersebut, wujud dan makna suatu pembicaraan
harus dihubungkan dengan situasi kontekstual.
Teori situasi kontekstual itu dapat dirumuskan secara singkat sebagai berikut.
Aktivitas bahasa mempunyai tiga aspek, yaitu bunyi (substance), bentuk (form), dan
struktur makna (conten) (Halliday, 1977: Bell, 1976 dalam Jendra, 2002: 30). Dell
Hymes (1972: 10-4) memaparkan unsur-unsur yang membentuk situasi kontestual
menjadi delapan dengan membentuk akronim SPEAKING. Akronim tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut.
1) Setting and scene
Unsur ini dimaksudkan adalah tempat dan adegan atau waktu. Kedua unsur ini
membentuk situasi tindakan (act situation).
2) Participant

17
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Peserta wicara sebagai unsur kedua memegang peranan penting dalam
interaksi sosial.
3) Ends
Unsur ini adalah tujuan atau maksud serta hasil pembicaraan yang diharapkan.
4) Act sequence
Unsur ini merupakan bentuk dan isi pesan yang sering diistilahkan amanat. Isi
amanat ini dapat dituangkan dalam bentuk wicara, bergantung kepada peserta
wicara.
5) Key
Adalah cara penyampaian pesan
6) Instrumental
Unsur ini merupakan alat, media, atau saluran komunikasi.
7) Norms
Berupa norma atau kaidah yang sewajarnya dipakai dalam peristiwa wicara.
8) Genre
Unsur ini merupakan kategori-kategori bentuk percakapan yang dipakai dalam
peristiwa wicara.

2.3 Teori Sapaan
Kajian ini didasarkan atas teori sapaan yang disebut kaidah T-V (solidarity-
power) yang dikemukakan oleh Brown dan Gilman (1960), yang kemudian
dikembangkan oleh Braun (1988) menjadi Tn-Vn. Braun (1988:7) mendefinisikan
bentuk sapaan sebagai kata-kata atau frase yang digunakan untuk menyapa. Dia
mengelompokkan sapaan ke dalam kategori pronomina dan nomina. Konsep dasar
bentuk sapaan pronomina menurut Brown dan Gilman (1960:254) adalah bentuk
sapaan dengan pasangan kontras (T: hubungan simetris dan V: hubungan asimetris)
dari dua varian pronoun. Dua pembicara dikatakan menggambarkan sikap power jika
masing-masing menggunakan varian pronomina yang berbeda, yaitu T dan V.
Apabila disederhanakan kaidah T-V Brown dan Gilman (1960) adalah sebagai
berikut.

18
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Kaidah T : tu  tu = T  T = solidarity semantic
vous  vous = V  V = solidarity semantic

Kaidah V : tu  vous = T  V = power semantic

3 METODE DAN TEKNIK
Sudaryanto (1982 ) dalam bukunya yang berjudul Metode Linguistik
menyatakan bahwa metode adalah cara kerja dalam penelitian. Penjabaran metode
yang disesuaikan dengan alat dan sifat itu disebut dengan teknik.
Terkait dengan itu, dalam tulisan ini digunakan tiga macam metode, yakni (1)
metode pengumpulan data ; (2) metode analisis data ; dan metode penyajian hasil
analisis data.

3.1 Metode Pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode
kepustakaan. Metode ini digunakan karena data diambil dari bahan tertulis, yakni
cerita rakyat yang berjudul Kisah Golek Kencana oleh Joko Adi Sasmito.
Penggunaan metode ini dibantu dengan teknik catat, yaitu mencatat semua data pada
kartu data (Sudaryanto, 1982 : 2-3).

3.2 Metode Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode
deskriptif kualitatif. Maksudnya, data bentuk bahasa yang merefleksikan
kekuasaan diseleksi dan dideskripsikan secara kualitatif.

3.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Pada tahapan penyajian hasil analisis data, digunakan metode formal dan
informal. Metode formal adalah perumusan hasil analisis data dengan menggunakan
tanda dan lambang, sedangkan metode informal adalah perumusan hasil analisis data
dengan menggunakan kata-kata biasa. Metode ini dibantu dengan teknik induktif.
Teknik induktif adalah cara penyajian dengan mengemukakan hal-hal yang bersifat

19
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

khusus terlebih dahulu dan kemudian ditarik suatu simpulan yang bersifat umum
(Hadi, 1983: 43-44).

4 BAHASA YANG MEREFLEKSIKAN KEKUASAAN DALAM CERITA
RAKYAT “GOLEK KENCANA”
Berdasarkan data yang ada dalam cerita rakyat tersebut, terjadi fenomena
kebahasaan yang merefleksikan tentang kekuasaan. Adapun bentuk bahasa yang
menggambarkan kekuasaan dalam cerita rakyat tersebut dapat diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu bentuk leksikal dan sintaksis.

4.1 Bentuk Leksikal
Bentuk leksikal adalah bentuk bahasa yang berkaitan dengan kata atau
leksikon (Kridalaksana, 2001 : 126). Terkait dengan itu, bentuk leksikal yang
menggambarkan kekuasaan dalam cerita rakyat Kisah Golek Kencana dapat disajikan
kutipan sebagai berikut.
(1) Tumenggung Antru : “Ampun, Tuanku Raja, hamba ingin menyampaikan
surat dan persembahan dari tuanku Prabu Jenggala”
Memperhatikan bentuk bahasa teks (1) di atas, terjadi fenomena kebahasaan
yang merefleksikan kekuasaan. Bentuk bahasa yang merefleksikan kekuasaan dalam
teks tersebut ditandai atau dimarkahi dengan pemakaian bentuk leksikal berupa kata
hamba dan tuanku. Bentuk leksikal tuanku juga terdapat pada kutipan teks (2).
(2) Patih Darmaja : “Ya, Tuanku. Hadiah itu sangat bagus sekali.”
Pemarkah bahasa kekuasaan yang lain digunakannya bentuk leksikal
pronomina, seperti : aku, kamu, kau, engkau, dan penyebutan nama secara langsung.
Penggunaan bentuk pronomina aku terdapat dalam kutipan teks (3). Bentuk itu
digunakan oleh seorang raja saat berbicara dengan seorang tumenggung yang menjadi
utusan Prabu Jenggala.
(3) Prabu Daha : “… Aku akan selalu terbuka menerima putra Prabu
Jenggala , Raden Inukertapati, untuk meminang putriku.”
Penggunaan bentuk pronomina kau, kamu, dan engkau sebagai penanda
bentuk bahasa kekuasan, masing-masing terdapat pada kutipan teks sebagai berikut.
Pronomina kau digunakan oleh permaisuri saat memberi perintah kepada seorang

20
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

dayang dan putri yang menjadi anak tirinya. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan
teks (6 dan 7).
(6) Permaisuri : “Dayang Lumina, coba kau ambil boneka Candrakirana
itu.”I
(7) Permaisuri : “Ayo cepat dibuka kotak itu. Jangan kau pegangi saja.”
Bentuk pronomina kamu, digunakan oleh seorang permaisuri saat berbicara dengan
kedua anaknya, baik sebagai anak kandung (Kutipan 8) maupun anak tirinya (kutipan
(9).
(8) Permaisuri : “Tentu, kamu harus mendapat yang paling bagus. Bonekamu
pasti akan lebih bagus daripada milik Candrakirana.”
(9) Permaisuri : “kamu jangan nakal ya.”
Bentuk pronomina engkau digunakan pada pembicaraan yang dilakukan oleh
seorang permaisuri kepada seorang dayang. Di samping itu, bentuk ini juga
digunakan oleh seorang raja kepada permaisurinya. Pemakaian bentuk pronomina
engkau sebagai penanda bahasa kekuasaan tergambar pada kutipan teks (10) dan (11).
(10) Permaisuri : “Hey, Sumirah beraninya engkau melindungi asuhanmu.
Cepat minggir!”
(11) Prabu Daha : “ Jangan engkau lakukan itu, Dinda!”
Bentuk bahasa kekuasaan yang lain dilakukan dengan penyebutan nama
seseorang secara langsung. Penyebutan nama, “Sumirah” secara langsung ini hanya
dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kekuasan, seperti permaisuri. Hal
itu jelas terlihat pada pembicaraan yang dilakukan oleh seorang permaisuri kepada
salah satu dayang, seperti pada kutipan teks (10) di atas.
Kalau dicermati dari tuturan yang dipakai dalam cerita rakyat tersebut,
ternyata ada perbedaan dalam penggunaan pilihan kata. Perbedaan leksikal tampak
pada penggunaan pronomina. Pronomina yang dipakai dalam cerita rakyat ini, antara
lain : hamba, tuan, aku, kamu, kau, engkau. Pemakain pronomina seperti ini sangat
ditentukan oleh situasi kontektualnya. Situasi yang paling menentukan dalam
pemakaian bentuk tersebut oleh Dell Hymes disebut participant.
Participant atau peserta wicara adalah orang yang melakukan tindak
komunikasi. Pada kutipan teks (1) di atas participantnya terdiri atas seorang
tumenggung dengan raja. Dalam kutipan teks tersebut tampak adanya pemakaian
pronomina yang berbeda seperti, tumenggung tersebut akan menggunakan hamba

21
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

kalau menyebut dirinya dan tuan untuk sang raja. Pemakaian bentuk pronomina yang
berbeda, yaitu hamba dan tuan didasari oleh adanya perbedaan status yang dimiliki
oleh peserta wicara. Raja adalah seorang terhormat yang memiliki kekuasan tinggi
sedangkan temenggung adalah seorang abdi, yaitu seorang yang mengabdi kepada
raja. Kalau terjadi pembicaraan dengan raja, temenggung akan menggunakan kata
ganti hamba untuk merendahkan dirinya dan menggunakan kata tuan untuk
menghormati raja.
Adanya bentuk pemakaian pronomina yang lain, seperti aku untuk menunjuk
raja ( teks 3) ; kau untuk menunjuk dayang dan putri yang menjadi anak tirinya ( teks
6 dan 7) ; kamu untuk menunjuk kedua putrinya (8 dan 9) ; dan engkau yang
digunakan oleh seorang permasisuri untuk menunjuk seorang dayang (10) itu juga tak
terlepas dari participant atau peserta wicaranya. Hal ini sesuai juga dengan teori
sapaan yang dikemukakan oleh Brown dan Gilman (1960 : 254). Menurut kedua
pakar tersebut, pemakaian bentuk varian pronomina T mencerminkan solidarity
semantic, yaitu pemakaian varian sapaan pronomina yang bersifat resiprokal dan
simetris yang ditandai dengan adanya hubungan keakraban, menciptakan kesamaan
pandangan, keintiman, ketidakformalan, tanpa dipisahkan oleh perbedaan status.
Sebaliknya, penggunaan varian sapaan pronomina V mencerminkan power semantic,
yaitu pemakaian varian sapaan pronomina yang bersifat nonresiprokal dan asimetris
yang ditandai dengan adanya perbedaan status, menciptakan jarak sosial,
ketidakintiman, dan keformalan.
Merujuk pendapat Brown dan Gilman di atas, perbedaan bentuk pemakaian
pronomina dalam pembicaraan pada kutipan teks di atas disebabkan karena
participant atau peserta wicara memiliki perbedaan status. Adanya perbedaan ini akan
berpengaruh terhadap pemakaian bahasanya, yaitu participant yang memiliki status
lebih rendah akan menggunakan ragam bahasa yang lebih tinggi (halus), sebaliknya
participant yang mempunyai kedudukan lebih tinggi akan menggunakan ragam
bahasa yang lebih rendah (kasar). Hal itu juga tampak dalam pemakaian bentuk
pronomina di atas.

22
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Di samping menggunakan pronomina sebagai pemarkah kekuasaan, juga
dilakukan dengan penggunaan nomina. Penggunaan nomina sebagai pemarkah
kekuasaan dilakukan dengan cara menyebut nama lawan bicara secara langsung. Hal
itu terlihat sebagaimana yang dilakukan permaisuri kepada seorang dayang pada teks
(10). Dalam sosiobudaya masyarakat Bali, hal itu tentunya tidak dapat dibenarkan.
Penyebutan nama secara langsung kepada lawan bicara sangat ditabukan. Bisanya,
bagi yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, orang Bali memanggil atau
menyebut lawan bicara dengan menggunakan nama pada anaknya.

4.2 Bentuk Sintaksis
Bentuk sintaksis yaitu bentuk pemakaian bahasa berupa hubungan dengan
kata (Kridalaksana, 2001 : 199). Hubungan kata yang dimaksud dalam tulisan ini
adalah kalimat. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat dapat digolongkan
menjadi tiga golongan, yaitu 1) kalimat berita, 2) kalimat tanya, dan 3) kalimat suruh
(Ramlan, 1987 : 31- 49 ; Herusantosa, 1985 : 81-119).
Kalimat berita adalah kalimat yang berfungsi untuk memberitahukan sesuatu
kepada orang lain. Kalimat berita memiliki pola intonasi yang disebut pola intonasi
berita. Di samping itu, dalam kalimat berita tidak terdapat kata-kata, seperti apa,
siapa, di mana, mengapa kata-kata ajakan, seperti mari, ayo.
Contoh :
a) Menurut ilmu sosial konflik dapat terjadi karena penemuan-penemuan baru.
b) Jalan itu sangat gelap.
c) Belajarlah mereka dengan tekun.
Kalimat (a), (b), dan (c) di atas termasuk golongan kalimat berita karena ketiganya
mempunyai pola intonasi berita. Di samping itu, dalam ketiga kalimat tersebut tidak
terdapat kata-kata tanya, ajakan, persilahan, dan larangan.
kalimat tanya merupakan kalimat yang berfungsi untuk menanyakan sesuatu.
Kalimat ini memiliki pola intonasi yang berbeda dengan pola intonasi kalimat berita.
Perbedaanya terutama terletak pada nada akhirnya. Pola intonasi kalimat berita
bernada akhir turun, sedangkan pola intonasi kalimat tanya bernada akhir naik.

23
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Contoh :
d) Anak itu membaca buku apa?
e) Ia menyaksikan pertandingan apa?
f) Gedung yang tinggi itu gedung apa?
Dalam kalimat (d-f) di atas kata tanya apa menanyakan identitas. Kalimat (d)
menanyakan identitas buku ; kalimat (e) menanyakan identitas pertandingan ; dan
kalimat (f) menanyakan identitas gedung.
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat suruh mengharapkan
tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak berbicara. Berdasarkan ciri
formalnya, kalimat ini memiliki pola intonai yang berbeda dengan pola intonasi
kalimat berita dan kalimat tanya. Pola intonasi kalimat suruh ditandai dengan tanda
/!/.
Contoh :
g) datanglah engkau ke rumahku!
h) berangkatlah sekarang juga!
i) Beristirahatlah!
Berdasarkan klasifikasi kalimat di atas, bentuk kalimat yang digunakan untuk
menandai atau merefleksikan bentuk kekuasaan dalam cerita rakyat yang berjudul
kisah Golek Kencana adalah kalimat yang bentuk imperatif/suruh. Bentuk-bentuk
kalimat imperatif tersebut terdapat dalam kutipan-kutipan teks sebagai berikut.
(12) Permaisuri : Ayo kemari! Lihatlah dulu kedua kotak ini!
(13) Permaisuri : Kamu jangan nakal ya!
(14) Permaisuri : Candrakirana, ayo berikan boneka itu untuk
adikmu!
(15) Permaisuri : Dayang Lumina, coba kau ambil boneka
Candrakirana itu!
(16) Permaisuri : Hey, Sumirah beraninya engkau melindungi
asuhanmu. Cepat minggir ! Sebelum aku
memaksamu.
(17) Prabu Daha : Jangan engkau lakukan itu dinda! sambil
mengangkat tangannya.
(18) Prabu Daha : Ayo, Galuh Candrakirana dan Galuh Ajeng
mendekatlah padaku!
(19) Permaisuri : Kamu kan anak tertua. Jadi, kamu harus selalu
mengalah!
(20) Prabu Daha : Nah, sekarang dengarkan baik-baik,
Candrakirana! Sekali ini kamu harus

24
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

mengalah! Ayo berikan boneka itu kepada
adikmu!
(21) Prabu Daha : Sekarang rasakan hukumanku dan saat ini pula
serahkan boneka itu kepada adikmu!
(22) Prabu Daha : Sekarang tinggalkan tempat ini! Ayo cepat!

Pemakaian bentuk kalimat imperatif untuk menunjuk kekuasaan disebabkan
karena peran participant dalam proses komunikasi. Peran participant yang ada dalam
cerita rakyat Golek Kencana, adalah raja, permaisuri, temenggung, dayang dan
sebagainya. Raja dan permaisuri adalah orang yang memerintah suatu kerajaan.
Dalam melaksanakan tugasnya, raja akan memerintah bawahannya, dalam hal ini
tumenggung atau dayang yang menjadi abdinya. Perintah yang harus dilaksanakan
oleh abdinya tersebut akan dinyatakan dalam bentuk kalimat imperatif, seperti pada
kutipan teks (12-22) di atas.

5 SIMPULAN
Terkait dengan uraian di atas, dapat ditarik simpulan sebagai berikut.
1) Bentuk bahasa yang digunakan sebagai perefleksi kekuasaan dalam cerita
rakayat Kisah Golek Kencana dikelompokkan menjadi dua, yaitu secara
leksikal dan kalimat. Penanda kekuasaan secara leksikal dinyatakan dengan
pemakaian bentuk pronomina dan nomina. Bentuk pronomina yang
memarkahi kekuasan, antara lain : hamba, tuanku, aku, kau, kamu, dan
engkau. Di sisi lain bentuk nomina sebagai pemarkah kekuasaan dilakukan
dengan penyebutan nama seseorang secara langsung. Sedangkan, bentuk
kalimat sebagai penanda kekuasaan dalam cerita rakyat Kisah Golek Kencana
dinyatakan dalam bentuk kalimat imperatif.
2) Pemakaian bentuk pronomina yang berbeda dan kalimat imperatif sebagai
perefleksi kekuasan didasarkan atas situasi kontektualnya. Situasi kontektual
yang paling berperan di sini adalah participant. Perbedaan status participant
dalam komunikasi akan menentukan pemakaian bentuk bahasa. Bentuk
pronomina yang memarkahi kekuasan, antara lain : kau, kamu, dan engkau
digunakan oleh participant yang memiliki status superordinat kepada peserta

25
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

wicara yang subordinat. Sebaliknya, participant yang berkedudukan
subordinat akan menggunakan pronomina, seperti hamba, tuanku kepada
lawan bicara yang berkedudukan superordinat, seperti raja.

DAFTAR PUSTAKA

Brown, R. W. and A. Gilman. 1960. “The Pronouns of Power and Solidarity”. In
Pier Paolo Giglioli, ed. Language and Social Contexts. England: Pinguin
Books.

Brown, R. W. dan A. Gilman. 1960. “The Pronouns of Power and Solidarity”.
Dalam J. A. Fishman (ed.). Reading in Sociology of Language. Paris: Mouton.

Braun, Friederike. 1988. Terms of Address. Problems of Patterns and Usage in
Various Languages and Cultures. Berlin: Mouton de Gruyter.
Duranti, Alessandro (Edited). 2001. Linguistic Anthropology. Massachusetts :
Blackwell Publishers Inc.

Fairclough, Norman. 1989. language and Power. New York : Published in the United
States of america by Longman Inc.

Herusantosa, Suparman. 1985. Sintaksis I Memahami Kalimat Tunggal. Singaraja :
FKIP UNUD.

Jendra, I wayan. 1991. Dasar-Dasar Sosiolinguistik. Denpasar : Ikayana.

Jendra, I Wayan. 2002. Seni Mabebasan Sebagai Sumber Inspirasi Seni Budaya Bali
dan Pemakaian Bahasanya. Denpasar : Deva.

Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta : PT. Gramedia Utama.

Latif, Yudi dan Idi Subandy Ibrahim (Ed.). 1996. Bahasa dan Kekuasaan: Politik
Wacana di Panggung Orde Baru. Bandung : Penerbit Mizan.

Moeliono, Antom M. Dkk. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai
Pustaka.

Nababan, P.W.J. 1986. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta : PT Gramedia.

Ramlan, M. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta : CV. Karyono

26
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Suprapto, Riga Adiwoso. 2002. Politik Bahasa dan Bahasa Politik dalam Bangbang
Kaswanti Purwo (Penyunting). Pellba 15. Jakarta : Lembaga Bahasa Unika
Atma Jaya.

Sasmito, Joko Adi. 2002. Kisah Golek Kencana. Jakarta : Bagian Proyek Pembinaan
Buku Sastra Indonesia dan daerah Pusat Bahasa.

27
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

PENINGKATAN MENULIS PERMULAAN AKSARA BALI
DENGAN MEDIA TITIK BERPOLA SISWA KELAS III SD NEGERI 2 MAS,
UBUD, GIANYAR TAHUN PELAJARAN 2017/2018

oleh
I Nyoman Sadwika

Bahasa Bali merupakan salah satu budaya nasional yang perlu dilestarikan. Saat
ini banyak siswa yang menganggap pelajaran bahasa Bali itu membosankan dan sulit
khususnya dalam menulis aksara Bali. Karena itu banyak siswa yang kurang
merespon pelajaran bahasa Bali. Dari observasi awal yang telah dilakukan di SD N 2
Mas, ternyata masih banyak siswa yang belum paham tentang bentuk-bentuk aksara
Bali yang benar. Oleh sebab itu, peneliti mempunyai inisiatif untuk menggunakan
media titik berpola dalam proses pembelajaran. Dengan media ini dapat
mempermudah siswa dalam menulis aksara Bali serta dapat membangkitkan minat
belajar siswa.
Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui peningkatan kemampuan
menulis permulaan aksara Bali siswa kelas III SD N 2 Mas, Ubud, Gianyar tahun
pelajaran 2017/2018 terhadap penggunaan media titik berpola, (2) untuk mengetahui
respon siswa kelas III SD N 2 Mas, Ubud, Gianyar tahun pelajaran 2017/2018
terhadap penggunaan media titik berpola dalam proses pembelajaran menulis
permulaan aksara Bali.
Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) hakikat menulis
permulaan, (2) aksara Bali, (3) media pembelajaran, (4) media titik berpola. Metode
yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode tes dan metode observasi.
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini menggunakan dua siklus. Hasil
penelitian ini dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan nilai rata-rata dari
68,46 meningkat menjadi 84,23 pada siklus II. Dan respon siswa dari 63,46 menjadi
83,07. Dari analisis hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil tes kemampuan
dan respon siswa dalam pembelajaran menulis permulaan aksara Bali dengan
menggunakan media titik berpola dinyatakan berhasil dan dikategorikan baik.

Kata kunci: menulis aksara Bali pemula, media titik berpola

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mengingat pentingnya keterampilan menulis, maka diajarkanlah
keterampilan menulis tersebut melalui mata pelajaran bahasa Bali. Materi menulis
selalu dicantumkan sebagai pokok bahasan dalam setiap kurikulum, mulai dari

28
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

jenjang sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas. Keterampilan menulis
adalah salah satu keterampilan berbahasa, yaitu merupakan proses menggambarkan
suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan peneliti dapat dipahami pembaca.
Menulis dan tulisan bahasa Bali serta kebudayaan Bali telah dijadikan salah satu yang
terpenting dalam melestarikan bahasa dan budaya Bali. Melalui tulisan berbagai hal,
baik dalam budaya maupun bahasa dapat didokumentasikan sehingga terhindar dari
kepunahan.
Berdasarkan pengamatan dan observasi yang dilakukan peneliti di kelas III SD
Negeri 2 Mas, Ubud, Gianyar, diketahui pada tingkat penguasaan siswa menulis
aksara Bali dapat dikatakan rendah atau kurang karena dianggap sulit dalam
mempelajarinya. Selain itu, suasana kelas pasif, kurangnya perhatian dan rendahnya
motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini diduga karena setiap guru
mengajar siswa hanya diberikan tugas dan catatan tanpa mengetahui siswa tersebut
mengerti atau tidak, sehingga dalam pembelajaran dapat menyebabkan kurangnya
minat dan motivasi siswa untuk belajar. Selain itu, dalam proses belajar mengajar,
pola pembelajaran yang diterpkan masih kurang variatif. Guru masih cenderung
menggunakan alur pembelajaran konvensional yang belum mengikuti pola model
pembelajaran ataupun media pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Dengan kata lain, guru lebih banyak aktif memberikan penjelasan informasi terperinci
tentang bahan pengajaran, sedangkan siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dan
mencatat.
Atas dasar inilah peneliti akan mencoba melakukan penelitian tindakan kelas
(PTK) agar kemampuan menulis aksara Bali menjadi pembelajaran yang kreatif,
aktif, dan menyenangkan. Maka dari itu peneliti menggunakan media pembelajaran
titik berpola untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis permulaan aksara Bali.
Media titik berpola merupakan media yang digunakan dalam pembelajaran
anak-anak usia dini mulai dari TK sampai SD. Media ini digunakan untuk mengajak
anak-anak atau siswa melatih keterampilan motoriknya dengan memberikan pola
titik-titik yang sudah berbentuk huruf. Dengan begitu mereka dapat mengikuti pola
tersebut dan menebalkannya. Media ini sangat sederhana dan mudah dipahami oleh

29
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

siswa sebagai pemula dalam menulis, khususnya dalam menulis permulaan aksara
Bali (Nakita, 2011).
Berdasarkan uraian di atas, media titik berpola pada materi menulis permulaan
aksara Bali berpeluang besar untuk mengembangkan keterampilan siswa, dengan
alasan siswa akan berminat dan termotivasi bila apa yang dipelajari bermanfaat dan
dekat dengan dunia nyata. Dengan menggunakan media titik berpola maka siswa
akan lebih tertarik untuk mengikuti pelajaran karena selain dalam penggunaannya
mudah, siswa juga akan lebih mudah untuk mengingat apa yang mereka tulis atau apa
yang mereka pelajari.
Berdasarkan konsep di atas, peneliti melewati serangkaian diskusi akhirnya
disepakati untuk melakukan inovasi pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas
(PTK) dengan judul “Penggunaan Media Titik Berpola Untuk Meningkatkan
Kemampuan Menulis Permulaan Aksara Bali Siswa Kelas III SD Negeri 2 Mas,
Ubud, Gianyar Tahun Pelajaran 2017/2018".

Landasan Teori
Pada bab ini akan disajikan uraian teori-teori yang terkait langsung dengan
objek penelitian, dimana teori dapat diartikan yaitu alur logika atau penalaran yang
merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis
(Sugiyono, 2011:81). Dengan kata lain tanpa teori, keberhasilan sebuah penelitian
tidak akan akurat.
Keberhasilan dalam melaksanakan suatu penelitian sangat ditentukan
ketepatan dalam memilih dan menentukan suatu teori sebagai landasan kerja. Oleh
karena itu sebagai pedoman dalam langkah lebih lanjut dalam bab ini disajikan
beberapa teori yang menurut peneliti relevan untuk mendukung permasalahan yang
akan dibahas. Adapun teori yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) hakikat
menulis permulaan, (2) aksara Bali, (3) media pembelajaran, (4) media titik berpola.
Pengertian Menulis Permulaan
Menulis adalah melahirkan pikiran dalam perasaan kedalam tulisan. Menulis
atau mengarang adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang

30
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

disampaikan peneliti dapat dipahami pembaca. Selain itu, MMP juga merupakan
program pembelajaran yang diorientasikan kepada kemampuan membaca dan
menulis permulaan di kelas-kelas awal pada saat anak-anak mulai memasuki bangku
sekolah. Pada tahap awal anak memasuki bangku sekolah di kelas satu Sekolah
Dasar, MMP merupakan menu utama. Peralihan dari masa bermain TK atau dari
lingkungan rumah ke dunia sekolah merupakan hal baru bagi anak. Hal pertama yang
diajarkan kepada anak pada awal-awal masa persekolahan tersebut adalah
kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan ini akan menjadi landasan dasar
bagi pemerolehan bidang-bidang ilmu lainnya di sekolah (Bernati, 2012).
Dalam hal ini pembelajaran menulis lebih diorientasikan pada kemampuan yang
bersifat mekanik. Anak-anak dilatih untuk dapat menuliskan lambang-lambang tulis
yang jika dirangkaikan dalam sebuah struktur, lambang-lambang itu menjadi
bermakna. Selanjutnya dengan kemampuan dasar ini, secara perlahan anak-anak
digiring pada kemampuan menuangkan gagasan, pikiran, dan perasaan ke dalam
bentuk bahasa tulis melalui lambang-lambang tulis yang dikuasainya. Inilah
kemampuan menulis sesungguhnya (Bernati, 2012).

Metode dan Pembelajaran Menulis Permulaan
Adapun beberapa metode yang terdapat dalam pembelajaran menulis
permualaan, antara lain: metode eja, metode kata lembaga, metode global. Metode eja
didasarkan pada pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai
dari huruf-huruf yang dirangkaikan menjadi suku kata. Oleh karena itu pengajaran
dimulai dari pengenalan huruf-huruf. Demikian halnya dengan pengajaran menulis
dimulai dari huruf lepas yaitu menulis huruf lepas serta merangkainya menjadi suku
kata. Kemudian metode kata lembaga didasarkan atas pendekatan kata, yaitu cara
memulai mengajarkan membaca dan menulis permulaan dengan menampilkan kata-
kata. Selanjutnya metode global adalah belajar menulis permulaan dengan membaca
kalimat secara utuh. Adapun pendekatan yang dipakai dalam metode global ini adalah
pendekatan kalimat (Linda, 2012).

31
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan pada siswa kelas rendah di
Sekolah Dasar. Guru dianjurkan memilih salah satu metode yang cocok dan sesuai
untuk diterapkan pada siswa, sehingga dapat menyenangkan siswa, tidak menyulitkan
siswa untuk menyerapnya, bila dilaksanakan bisa lebih efektif dan efisien, serta tidak
memerlukan fasilitas atau sarana yang lebih rumit (Linda, 2012).

Jenis-jenis Aksara Bali
1. Aksara Wreastra
Aksara ini dipergunakan untuk menulis masalah kehidupan sehari-hari, seperti
menulis berbagai catatan, kesusastraan, ilmu, hukum, perjanjian, surat-menyurat dan
lain-lain. Jumlah aksara ini di Bali adalah 18 buah sedangkan di Jawa sebanyak 20
buah. Dengan membandingkan kedua kalimat hanacaraka versi Jawa dan Bali ini,
Para ahli sosiofilosofis tentunya sudah dapat menerka bagaimana perbedaan filsafat,
Sifat serta watak orang Jawa dibandingkan dengan orang Bali. Menurut versi Jawa
kesetiaan diakhiri dengan gugur, sedangkan versi Bali kesetiaan terus berlanjut
sepanjang zaman. Berdasarkan filosofi ini, maka para leluhur orang Bali, memilih
jumlah aksara Bali cuma 18 buah, dikurangi dua buah aksara yakni aksara tha latik
dan dha madu, sehingga orang Bali menjadi kurang mampu mengucapkan suku kata
tha (murdania) dan dha (dantia) seperti halnya pengucapan suku kata tersebut pada
orang Jawa. Aksara wreastra terdiri atas aksara suara (vokal) dan aksara wianjana
(konsonan). Uraian lebih lanjut mengenai aksara suara dan wianjana (Nala, 2006:7)
adalah sebagai berikut :
a. Aksara Suara
Aksara vokal atau suara dari aksara wreastra (tidak termasuk aksara vokal
dari aksara swalalita) yang dibentuk dari aksara wisarga diberi pengangge aksara
suara, terdiri atas 6 buah, yakni:

h, hi, hu, eh, eho, h),
ha, hi, hu, he, ho, he
(Nala, 2006:10)

32
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

b. Aksara Wianjana
Aksara konsonan atau wianjana dari aksara wreastra (tidak termasuk aksara
konsonan dari aksara swalalita), yang terdiri atas 18 buah, yakni:

ha = h ta = t ba = b

na = n sa = s nga = \

ca = c wa = w pa = p

ra = r la = l ja = j

ka = k ma = m ya = y

da = d ga = g nya = z

(Nala, 2006:10)
2. Pangangge Aksara Bali
Pangangge aksara Bali dibagi menjadi 3, antara lain:
1. Pangangge Suara

i
...., namanya ulu.

….I, namanya ulu sari.

...., namanya ulu candra.

...., namanya ulu ricem.

)
...., namanya pepet.

33
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

e
... , namanya taleng.

E
... , namanya taleng detya.

e..o, namanya taleng tedong.

E..o, namanya taleng marepa matedong.

…..u, namanya suku.

…..U, namanya suku ilut.

(Medra, 2003:7)

2. Pangangge Ardasuara
Aksara ardasuara (aksara tersebut diucapkan setengah suara, misalnya: ya, la,
wa, dan ra) dapat menjadi aksara wianjana (konsonan, huruf mati) atau aksara
suara (vokal, huruf hidup). Bila berfungsi sebagai aksara wianjana (konsonan)
bentuknya tetap seperti semula (Nala, 2006:17) misalnya:

na = n, ca = c, ka = k, ga = g, ta = t, dan seterusnya, kecuali:

ya = y, la = l, wa = w, ra = r,

Jikalau keempat aksara terakhir ini menjadi aksara suara bentuknya akan
berubah menjadi pangangge aksara, sebagai berikut:
Nania = ya Wangun Gantungnyane … ê

Guung cakra = ra Wangun Gantungnyane …É

Guung macelek = re Wangun Gantungnyane …Ê

Gantungan la = la Wangun Gantungnyane …Þ

34
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Suku kembung = wa Wangun Gantungnyane …Ù

3. Pangangge Tengenan
Tengenan adalah aksara wianjana yang terletak di belakang kata yang
tidak disambung oleh aksara suara dan aksara wianjana di belakang kata.
Yang dimaksud dengan pangangge tengenan (Medra, 2003:18), yaitu:
a. …* (cecek) c. …( (surang)

;
b. … (bisah) /
d. … (adeg-adeg)

Bentuk Gantungan dan Gempelan
1. Gantungan
Gantungan adalah suatu bentuk dari aksara Bali (kecuali aksara sa dan pa) bila
mengikuti konsonan (aksara wianjana) pada suku kata tertutup. Gantungan ini ditulis
di bawah suku kata atau aksara yang mendahuluinya. Untuk jelasnya, bentuk
gantungan tersebut adalah sebagai berikut:

h, Wangun Gantungnyane …À

n, Wangun Gantungnyane …Ã

c, Wangun Gantungnyane ...Ç

k, Wangun Gantungnyane …Ð

g, Wangun Gantungnyane …á

d, Wangun Gantungnyane …Ñ

t, Wangun Gantungnyane …Ó

35
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

q, Wangun Gantungnyane …Ô

\, Wangun Gantungnyane …å

l, Wangun Gantungnyane …Þ

œ, Wangun Gantungnyane …È

b, Wangun Gantungnyane …ã

j, Wangun Gantungnyane …à

f, Wangun Gantungnyane …â

v, Wangun Gantungnyane …ä

], Wangun Gantungnyane …Ö

z, Wangun Gantungnyane …ñ

`, Wangun Gantungnyane …Õ

x, Wangun Gantungnyane …Æ

a, Wangun Gantungnyane …Ò

(Nala, 2006:19)
2. Gempelan
Gempelan adalah bentuk aksara yang dirangkaikan pada aksara di depannya.
Antara lain:

36
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

p = pa = …æ Ï = ra repa = …»
s = sa = …Š [ = sa sapa = …×
(Nala, 2006:19)
Pengertian Media
Menurut Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2011:3) media adalah manusia, materi,
atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh
pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan
lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam
proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau
elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual
atau verbal.
Menurut Aqib (2013:50) media adalah perantara dan pengantar. Media
pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan
pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada si pembelajar. Makna media
pembelajaran lebih luas dari alat peraga, alat bantu mengajar, media audio visual.
Media berfungsi untuk tujuan instruksi dimana informasi yang terdapat dalam
media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak atau mental maupun dalam
bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat terjadi. Materi harus
dirancang secara lebih sistematis dan psikologis dilihat dari segi prinsip-prinsip
belajar agar dapat menyiapkan instruksi yang efektif. Di samping menyenangkan,
media pembelajaran harus dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan
memenuhi kebutuhan perorangan siswa (Arsyad, 2011:21).
Adapun manfaat dari media pembelajaran menurut Aqib (2013:51) adalah:
1. Menyeragamkan penyampaian materi
2. Pembelajaran lebih jelas dan menarik
3. Proses pembelajaran lebih interaksi
4. Efisiensi waktu dan tenaga
5. Meningkatkan kualitas hasil belajar
6. Belajar dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja

37
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

7. Menumbuhkan sikap positif belajar terhadap proses dan materi belajar
8. Meningkatkan peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.

Media Titik Berpola
Media titik berpola merupakan media yang digunakan dalam pembelajaran
anak-anak usia dini mulai dari TK sampai SD. Media ini digunakan untuk mengajak
anak-anak atau siswa melatih keterampilan motoriknya dengan membuatkan mereka
guratan ataupun pola titik-titik kecil hingga anak dapat mengikuti arah guratan
tersebut yang sudah berbentuk huruf. Menghubungkan ataupun menyambung titik-
titik kecil ini sehingga membentuk sebuah huruf yang jelas merupakan keterampilan
yang sederhana namun asyik. Aktivitas ini melatih keterampilan motorik halus anak
dan harus dilakukan secara berulang-ulang sampai anak bisa mengikutinya dengan
baik. Keterampilan ini biasanya dibutuhkan dalam kegiatan menulis dan menggambar
(Nakita, 2011).
Menurut (Djendra, 2011) dalam bukunya “Mengenal Aksara Bali” terdapat
beberapa keunggulan penggunaan media titik berpola di dalam penelitian aksara
Bali, yaitu:

1. Anak akan dapat mengenal aksara Bali h,n,c,r,k,dan dapat dengan mudah

menghafalnya.
2. Anak menjadi senang karena ditampilkan gambar-gambar yang menarik sebagai
alat peraga.
3. Gambar sebagai alat peraga yang telah diberi tes berbahasa Bali bertujuan untuk
memahami bahasa Bali dengan baik.
4. Berlatih menulis aksara Bali dengan cara menebalkan titik-titik yang ada.
5. Anak diberi latihan agar dapat menulis dan membaca aksara Bali.

METODE PENELITIAN
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap

38
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam
sebuah kelas secara bersama (Arikunto, 2010:139). Materi yang diberikan ialah
penggunaan media titik berpola untuk meningkatkan kemampuan menulis permulaan
aksara Bali pada siswa kelas III SD Negeri 2 Mas, Ubud, Gianyar tahun pelajaran
2017/2018. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam beberapa siklus
(n siklus), yang masing-masing siklus terdiri atas 4 tahapan, yaitu (1) perencanaan,
(2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi.
Dalam penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subjek penelitian adalah
seluruh siswa kelas III SD Negeri 2 Mas Ubud yang berjumlah 26 orang dengan
rincian laki-laki sebanyak 15 orang dan perempuan sebanyak 11 orang. Objek
penelitian ini adalah proses peningkatan kemampuan menulis permulaan aksara Bali
dengan menggunakan media pembelajaran yaitu media titik berpola.
Data yang dikumpulkan adalah data tentang hasil belajar siswa. Dalam
penelitian ini menggunakan dua metode pengumpulan data yaitu metode tes dan
metode observasi. Data yang diperoleh dari hasil observasi dan hasil tes dalam bentuk
kemampuan menulis diolah dengan metode statistik deskriptif. Statistika deskriptif
memiliki beberapa tujuan yang penting, di antaranya a) menggambarkan data atau
fenomena yang diperoleh dari lapangan dalam bentuk numerik, b) meringkas data
dalam bentuk gambaran, dan c) menampilkan data dalam bentuk tabel sehingga para
evaluator dapat dengan lebih mudah memahami fenomena yang muncul dari para
siswa. Dengan menganalisis secara deskriptif, guru dapat melihat gambaran distribusi
para siswa yang menjadi anak didiknya. Dari gambaran distribusi tersebut dapat
dilihat apakah materi yang diajarkan sudah dapat dikuasai oleh para siswanya atau
belum (Sukardi, 2008:145--146). Data yang diolah hanyalah data utama yaitu hasil
tes kemampuan menulis permulaan aksara Bali.
Sesuai dengan metode yang digunakan dalam mengolah data penelitian ini, maka
ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan Skor Maksimal Ideal (SMI)
2. Mengubah skor mentah menjadi skor standar
3. Menentukan kriteria predikat

39
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

4. Mencari skor rata-rata
5. Indikator keberhasilan
Dalam mengubah skor mentah menjadi skor standar digunakan norma absolut
skala seratus, yaitu suatu skala yang bergerak antara nol sampai seratus. Skala seratus
skala persentil. Untuk mengkonversi skor mentah menjadi skor standar dengan norma
absolut skala seratus dipergunakan rumus sebagai berikut.
X
P= x 100
SMI
Keterangan:
P = Persentil
X = Skor yang dicapai
SMI = Skor Maksimal Ideal
(Gunartha, 2007:74)
Tahap akhir dalam memperoleh data adalah mencari prestasi kemampuan
menulis aksara Bali melalui penggunaan media titik berpola siswa kelas III SD
Negeri 2 Mas Ubud tahun pelajaran 2017/2018. Rata-rata (mean) dapat diperoleh
dengan mengumpulkan skor standar kemudian dibagi jumlah subjek. Untuk
mengetahui peningkatan yang terjadi dapat dilihat dengan cara membandingkan skala
I dan skala II dengan cara mencari nilai rata-rata yang menunjukkan keberhasilan
siswa dalam pembelajaran. Untuk memperoleh data hasil belajar digunakan rumus
sebagai berikut:
∑fx
M=
N
Keterangan:
M = Mean (Nilai Rata-rata)
∑fx = Jumlah skor
N = Jumlah individu/subjek
(Nurkancana dan Sunartana, 1992:175)
Hasil yang didapat dari perhitungan di atas akan disesuaikan dengan skor
standar dan predikat kemampuan. Dengan demikian dapat diperoleh hasil dari

40
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

kemampuan menulis aksara Bali menggunakan media titik berpola siswa kelas III SD
Negeri 2 Mas Ubud tahun pelajaran 2017/2018.
Penelitian ini dikatakan berhasil jika telah memenuhi indikator keberhasilan,
yaitu 75% dari jumlah siswa di kelas memperoleh nilai 70 ke atas pada kemampuan
menulis aksara Bali. Apabila 75% dari jumlah siswa di kelas memperoleh nilai 70 ke
atas berarti tindakan dikatakan berhasil sehingga siklus dapat dihentikan. Siklus
berikutnya bisa dilaksanakan apabila hasil tes pada siklus sebelumnya di bawah skor
rata-rata.
Tabel 1. Perbandingan Data Hasil Tes Kemampuan Menulis Aksara Bali Siswa
Dari Refleksi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Refleksi
No Nama Siklus I Siklus II Ket
Awal
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Kt. Agus Ari Wiartana 60 70 90 Meningkat
2 I Wy. Adi Purnama Yasa 50 60 90 Meningkat
3 I Wy. Gede Ardian P. 70 80 80 Tetap
4 Ni Km.A.Rusmita Tri P. 70 70 80 Meningkat
5 I Kd. Ari Widityawan 50 50 80 Meningkat
6 I Kt. Bhanu Nandana 50 60 80 Meningkat
7 Ni Wy. Bhiniki Putri 60 60 80 Meningkat
8 Ni Km. Citra Oktaviani 60 80 90 Meningkat
9 Ni Kd. Dwi Putri M. 70 80 80 Tetap
10 Ni Kd. Kashita Cahayani 80 90 100 Meningkat
11 A.A.Gd.K.Kanaka Yuda 80 90 90 Tetap
12 Ni Kd. LinaDewi 70 70 80 Meningkat
13 I Kt. Nova Antara 50 60 80 Meningkat
14 I Wy.G.Odi Baskara A.P 60 70 80 Meningkat
15 Pande I Md. Angga P. 70 80 90 Meningkat
16 Ni Kd. Sukesti Dewi 60 70 80 Meningkat
17 I Wy. Suwintara 60 70 80 Meningkat
18 Ni Km. Santika Dewi 50 60 80 Meningkat
19 Ni Kd. Ayu Sintia Dewi 50 50 80 Meningkat
20 I Km. Sinar Santika 80 100 100 Tetap
21 I Made Tegar 60 80 80 Tetap
22 Ni Km. Trisia Dewi 50 50 80 Meningkat
23 A.A. Gede Tresna J. 50 50 90 Meningkat
24 Ni Pt. Uma Angelika 60 60 90 Meningkat
25 I Wy. Widira 40 50 80 Meningkat
26 I Km. Yogi Yustino 50 70 80 Meningkat
Jumlah 1560 1780 2190
Rata-rata 60 68,46 84,23

41
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Berdasarkan dari perbandingan data di atas menunjukkan bahwa adanya
peningkatan dari siklus I ke siklus II yang terlihat dari pemerolehan nilai rata-rata
yang meningkat. Bukti ini menunjukkan bahwa penggunaan media titik berpola
dalam pembelajaran menulis permulaan aksara Bali dapat dikatakan berhasil.
Selain adanya peningkatan pada hasil tes menulis aksara Bali siswa, terjadi
peningkatan juga pada respon siswa dari siklus I ke siklus II dalam pembelajaran
menulis aksara Bali melalui media titik berpola. Di bawah ini akan disajikan
perbandingan nilai respon siswa dari siklus I ke siklus II sebagai berikut.

Tabel 2. Perbandingan Data Hasil Respon dalam Pembelajaran Menulis
Permulaan Aksara Bali Siklus I dan Siklus II
No Nama Siklus I Siklus II Ket
1 Kt. Agus Ari Wiartana 50 70 Meningkat
2 I Wy. Adi Purnama Yasa 50 70 Meningkat
3 I Wy. Gede Ardian P. 60 70 Meningkat
4 Ni Km.A.Rusmita Tri P. 60 90 Meningkat
5 I Kd. Ari Widityawan 50 90 Meningkat
6 I Kt. Bhanu Nandana 60 90 Meningkat
7 Ni Wy. Bhiniki Putri 70 75 Meningkat
8 Ni Km. Citra Oktaviani 60 70 Meningkat
9 Ni Kd. Dwi Putri M. 70 85 Meningkat
10 Ni Kd. Kashita Cahayani 80 95 Meningkat
11 A.A.Gd.K.Kanaka Yuda 80 95 Meningkat
12 Ni Kd. LinaDewi 75 85 Meningkat
13 I Kt. Nova Antara 75 90 Meningkat
14 I Wy.G.Odi Baskara A.P 75 85 Meningkat
15 Pande I Md. Angga P. 80 95 Meningkat
16 Ni Kd. Sukesti Dewi 50 70 Meningkat
17 I Wy. Suwintara 60 85 Meningkat
18 Ni Km. Santika Dewi 60 80 Meningkat
19 Ni Kd. Ayu Sintia Dewi 65 85 Meningkat
20 I Km. Sinar Santika 80 95 Meningkat
21 I Made Tegar 50 70 Meningkat
22 Ni Km. Trisia Dewi 60 80 Meningkat
23 A.A. Gede Tresna J. 60 80 Meningkat
24 Ni Pt. Uma Angelika 70 90 Meningkat
25 I Wy. Widira 50 85 Meningkat
26 I Km. Yogi Yustino 50 85 Meningkat
Jumlah 1650 2160

42
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

No Nama Siklus I Siklus II Ket
Rata-rata 63,46 83,07

Berdasarkan perbandingan data di atas menunjukkan bahwa adanya peningkatan
respon siswa dari siklus I ke siklus II, yang terlihat pada pemerolehan nilai rata-rata
siklus I adalah 63,46 yang meningkat menjadi 83,07.

Pembahasan
Berdasarkan pada refleksi siklus I ditemukan kendala mengenai pembelajaran
menulis aksara Bali pada siswa kelas III SD N 2 Mas, Ubud. Hal ini terlihat dari hasil
refleksi awal dengan rata-rata 60 ketuntasan klasikal 30,76% dikatakan kurang. Pada
siklus I yang tergolong masih rendah dengan rata-rata 68,5 dengan jumlah klasikal
57,7% dan hasil respon siswa rata-rata 63,46. Dari hasil yang diperoleh pada siklus I
peneliti membuat perencanaan yang lebih baik dengan memperbaiki berbagai aspek
pendukung berupa rancangan perencanaan pembelajaran yang akan digunakan pada
pedoman saat mengajar.
Dari hasil tes siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil yang diperoleh
siswa. Setelah proses pembelajaran pada siklus II terlaksana, terlihat adanya
peningkatan nilai rata-rata siswa yaitu 84,23 dengan jumlah klasikal 100% dan terjadi
peningkatan terhadap respon siswa dengan rata-rata 83,07. Keberhasilan ini tidak
terlepas dari penggunaan strategi dan pemanfaatan media pembelajaran yang tepat.
Jadi, dengan penggunaan media titik berpola kemampuan menulis permulaan aksara
Bali siswa kelas III SD N 2 Mas, Ubud, Gianyar tahun pelajaran 2017/2018 dapat
meningkat. Hal ini terlihat dengan adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II.
Selain itu hasil penelitian ini menunjukkan adanya reaksi positif siswa terhadap
penggunaan media titik berpola.

Simpulan dan Saran
Sehubungan dengan hasil penelitian yang terdapat pada bab IV, maka dapat
ditarik simpulan sebagai berikut.

43
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

1. Penggunaan media titik berpola dapat meningkatkan kemampuan menulis
permulaan aksara Bali siswa kelas III SD N 2 Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar
tahun pelajaran 2017/2018. Hal ini dapat dilihat dari pemerolehan nilai rata-rata
siswa pada refleksi awal mencapai 60 dengan ketuntasan 30,8%, pada siklus I
mencapai 68,46 dengan ketuntasan klasikal 57,7%, dan pada siklus II mencapai
84,23 dengan ketuntasan klasikal 100%. Memperhatikan nilai rat-rata tersebut,
prestasi siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan. Berdasarkan
tingkat keberhasilan belajar siswa pada siklus II, maka dari 26 orang siswa yang
mengikuti tes, seluruhnya atau 100% tuntas.
2. Respon siswa terhadap penggunaan media titik berpola dalam pembelajaran
menulis permulaan aksara Bali siswa kelas III SD N 2 Mas, Kecamatan Ubud,
Gianyar tahun pelajaran 2017/2018 termasuk dalam kategori baik. Hal ini terbukti
dari nilai respon siswa pada siklus I ke siklus II yang meningkat. Pada siklus I
nilai rata-rata respon siswa mencapai 63,46 dengan ketuntasan respon 42,30%
meningkat menjadi 83,07 dengan ketuntasan respon 100% pada siklus II.

Saran
Dalam melaksanakan sesuatu harus disertai dengan usaha agar segala sesuatu
yang dikerjakan dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan hal
tersebut, maka pada tulisan ini akan disampaikan beberapa saran yang perlu
dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam pelajaran
menulis aksara Bali, yang dinyatakan sebagai berikut.
1. Penggunaan media titik berpola terbukti dapat meningkatkan kemampuan
menulis permulaan aksara Bali siswa kelas III, maka disarankan kepada guru
agar menggunakan media titik berpola dalam proses pembelajaran untuk dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa dalam menulis permulaan aksara Bali.
2. Penggunaan media titik berpola dapat meningkatkan respon siswa dari yang
pasif menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga guru
bidang studi bahasa Bali disarankan untuk menggunakan media atau teknik-

44
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

teknik pembelajaran bahasa Bali lainnya, khususnya dalam pelajaran menulis
permulaan aksara Bali agar motivasi siswa semakin meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2013. Model-model media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual.
Bandung: Yrama Widya.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Bernati, Rhapsona Indi. 2012. Membaca Menulis Permulaan. Avaiable at
http//www.scribd.com. Cited tgl 28 september.

Djendra, I Nyoman. 2011. Mengenal Aksara Bali. Denpasar: Dharma Pura.

Gunartha, I Wayan. 2007. Evaluasi Hasil Belajar. Denpasar: IKIP PGRI Bali

Linda. 2012. Pengertian Menulis Permulaan. Available at http//www. Scribd.
com. Cited tgl 28 september.

Medra, I Nengah. 2003. Pedoman Pasang Aksara Bali. Denpasar: Dinas Kebudayaan
Propinsi Bali

Nakita, Nurul. 2011. Main Sambil Mengasah Motorik Halus. Available at http//
seba.comxa.com. Cited tgl 23 Juli.

Nala, Ngurah. 2006. Aksara Bali Dalam Usada. Surabaya: Paramita.

Nurkancana dan Sunartana. 1992. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha
Nasional.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sukardi. 2010. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

45
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

KEPUASAN PENONTON
PROGRAM BERITA “SEPUTAR BALI”
(Studi Uses and Gratification Terhadap Khalayak Penonton Program Berita
SEPUTAR BALI yang ditayangkan BALI TV)

Oleh:
Putu Dessy Fridayanthi, S.T., M.I.Kom.
NIDN 0819128001

ABSTRAK
Media massa memberikan informasi tentang perubahan, bagaimana hal itu
bekerja dan hasil yang dicapai atau yang akan dicapai. Televisi merupakan salah
satu media massa yang mempunyai daya tarik yang kuat. Jika radio mempunyai
daya tarik yang kuat disebabkan unsur kata-kata, musik dan sound effect, maka
TV selain ketiga unsur tersebut juga memiliki unsur visual berupa gambar. Dan
gambar ini bukan gambar mati, melainkan gambar hidup yang mampu
menimbulkan kesan mendalam pada pemirsa.
Penelitian uses and gratification dilakukan dengan mengetahui motif
seseorang dalam menggunakan media, disamping itu peneliti juga dapat
mengungkapkan tingkat kepuasan seseorang setelah mengkonsumsi media
tertentu. Seperti yang dilakukan Philip Palmgreen dalam mengembangkan konsep
Gratification Sought (GS) yaitu kepuasan yang diinginkan atau diharapkan
individu dalam menggunakan jenis media, serta Gratification Obtained (GO)
yaitu kepuasan nyata yang diperoleh setelah individu menggunakan atau
mengkonsumsi suatu media tertentu. Penelitian uses and gratification dilakukan
dengan mengetahui motif seseorang dalam menggunakan media, disamping itu
peneliti juga dapat mengungkapkan tingkat kepuasan seseorang setelah
mengkonsumsi media tertentu.
Dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang disebar kepada
sejumlah responden untuk pengumpulan data, seningga diperlukan tabel distribusi
frekuensi untuk pengolahan datanya. Langkah yang akan dilakukan pertama
adalah mengkoding data, dimana jawaban dari kuesioner diberi simbol berupa
angka. Simbol ini kita sebut dengan kode. Pengkodingan dilakukan secara manual
dengan menggunakan coding sheet. Langkah berikutnya adalah
mengklasifikasikan data, kemudian menginterpretasikannya.

Kata Kunci: kepuasan, penonton, program berita

ABSTRACT
The mass media provides information about the changes, how they work
and the outcomes that reach or will be achieved. Television is one of the mass
media that has a strong appeal. If the radio has a strong appeal according to
elements of words, music and sound effects, then the TV other than this element
also has a visual element. And this picture is not a dead image, the vibrant image
of life that can create an impression on.

46
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Useful and satisfactory research is done by knowing the motive of a
person in using the media, in addition, researchers can also increase one's
satisfaction after consuming certain media. As did Philip Palmgreen in
developing the concept of Gratification Sought (GS) is the desired or expected
satisfaction of individuals in using media type, and Gratification Obtained (GO)
is the real satisfaction generated after the individual uses or consume a particular
media. Useful and satisfactory research is done by knowing the motive of a person
in using the media, in addition, researchers can also increase one's satisfaction
after consuming certain media.
In this study using questionnaires distributed to several respondents for
data, so it required the frequency distribution table for data processing. The first
step will be to coding the data, where the answer from the questionnaire is given a
number symbol. This symbol we call by code. Coding is done manually using a
coding sheet. The next step is to classify the data, then interpret it.

Keywords: satisfaction, audience, news program

1 PENDAHULUAN
Bali TV adalah stasiun televisi swasta siaran gratis berjaringan terestrial di
Indonesia yang berpusat di Bali, berdiri dibawah kepemimpinan Bapak Satria
Naradha yang merupakan pemimpin Kelompok Media Bali Post. Dengan motto
Matahari Dari Bali, Bali TV hadir sebagai program yang memfokuskan terhadap
kebudayaan, adat istiadat, dan keunikan yang khas dari Pulau Bali.
Sebagai salah satu stasiun televisi lokal di Bali, Bali TV memiliki salah
satu program berita yang menawarkan mengenai peristiwa dan kejadian teraktual
dari wilayah Bali dalam sebuah berita SEPUTAR BALI, yang ditayangkan setiap
pukul 18.05 WITA berdurasi 55 menit. Stasiun televisi ini berdiri di Denpasar
sehingga memiliki kedekatan demografis dan psikologis terhadap audience
masyarakat kota Denpasar dan seluruh audience jangkauan coverage Bali TV. Hal
inilah yang memperkuat positioning Program Berita Seputar Bali.
Dalam penelitian ini, penulis ingin melihat motif apa saja yang mendorong
khalayak untuk menyaksikan Seputar Bali, dan bagaimana pola penggunaan
media, serta tingkat kepuasan yang diperoleh setelah mengkonsumsi tayangan
Seputar Bali. Dimana Seputar Bali selalu memberikan berita teraktual dan selalu
baru di wilayah Bali. Untuk itu, dengan menggunakan pendekatan Uses and
Gratification dilakukan sebuah penelitian untuk melihat seberapa besar pengaruh
Motif Menonton Seputar Bali terhadap kepuasan penonton atau khalayak dalam

47
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

memperoleh informasi yang dibutuhkan. Pendekatan ini menganggap bahwa
khalayak mempunyai sifat aktif dalam mencari serta menggunakan media sesuai
dengan kebutuhannya. Motif-motif tertentu yang ada pada khalayak menimbulkan
sikap selektif terhadap media yang digunakannya. Media dianggap berusaha
memenuhi motif khalayak. Jika motif ini terpenuhi maka kebutuhan khalayak
akan terpenuhi. Pada akhirnya, media mampu memenuhi kebutuhan khalayak
disebut media yang efektif.
Menurut Dennis McQuail dalam bukunya yang berjudul Teori Komunikasi
Massa (2002: 388) menyatakan bahwa “ada empat kategori motif
pengkonsumsian media secara umum yaitu motif informasi (survaillance), motif
identitas pribadi (personal identity), motif integrasi dan interaksi sosial (personal
relationship) dan motif hiburan (diversion)”.
Dalam penelitian ini berusaha menjawab apa sebenarnya motif dari
audience menonton program berita Seputar Bali. Motif atau pengharapan ini akan
mendorong seseorang mengkonsumsi suatu media, yang akhirnya memungkinkan
seseorang terkena terpaan (mediaexposure). Besar kecilnya terpaan media
tergantung bagaimana pola penggunaan media. Setelah mengkonsumsi media
tertentu seseorang akan memperoleh kepuasan nyata sebagai efek dari terpaan
media. Efek media dapat dioperasionalisasikan sebagai evaluasi kemampuan
media untuk memberikan kepuasan.
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka rumusan masalah dari
penelitian ini adalah:
1) Bagaimana motif masyarakat Kelurahan Dauh Puri, Kecamatan Denpasar
Barat terhadap Program Berita Seputar Bali di Bali TV?
2) Bagaimana frekuensi penggunaan media masyarakat Kelurahan Dauh Puri,
Kecamatan Denpasar Barat terhadap Program Berita Seputar Bali di Bali
TV?
3) Bagaimana kepuasan masyarakat Kelurahan Dauh Puri, Kecamatan
Denpasar Barat terhadap Program Berita Seputar Bali di Bali TV?

3 TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

48
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

1) Untuk mengetahui motif masyarakat Kelurahan Dauh Puri, Kecamatan
Denpasar Barat terhadap Program Berita Seputar Bali di Bali TV.
2) Untuk mengetahui frekuensi penggunaan media masyarakat Kelurahan
Dauh Puri, Kecamatan Denpasar Barat terhadap Program Berita Seputar
Bali di Bali TV.
3) Untuk mengetahui kepuasan masyarakat Kelurahan Dauh Puri, Kecamatan
Denpasar Barat terhadap Program Berita Seputar Bali di Bali TV.

4 MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat penelitian ini antara lain:
1) Manfaat Akademis
Dengan penelitian ini diharapkan untuk menambah wacana
kepustakaan bagi mahasiswa komunikasi yang memiliki bidang studi yang
sama, yang berkaitan dengan program televisi dengan teori komunikasi
dan menggunakan metode Uses and Gratification.
2) Manfaat Praktis
Dengan penelitian ini diharapkan peneliti dapat menambah
wawasan seputar dunia broadcasting terutama televisi.Dan penelitian ini
diharapkan dapat memberi masukan pada pertelevisian untuk lebih
meningkatkan kualitas tayangannya.

5 KAJIAN TEORI
5.1 Televisi Sebagai Media Massa
Media massa memberikan informasi tentang perubahan, bagaimana hal itu
bekerja dan hasil yang dicapai atau yang akan dicapai. Fungsi utama media massa
adalah untuk memberikan informasi pada kepentingan yang menyebar luas dan
mengiklankan produk. Ciri khas dari media massa yaitu tidak ditujukan pada
kontak perseorangan, mudah didapatkan, isi merupakan hal umum dan merupakan
komunikasi satu arah. Peran utama yang diharapkan dihubungkan dengan
perubahan adalah sebagai pengetahuan pertama. Media massa merupakan jenis
sumber informasi yang disenangi oleh petani pada tahap kesadaran dan minat
dalam proses adopsi inovasi (Fauziahardiyani, 2009).

49
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Sadar atau tidak sadar media massa telah menjadi bagian penting dari
kehidupan masyarakat. Melalui media massa kita dapat belajar banyak hal yang
bisa di jadikan pelajaran. Berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar
negeri maupun dalam negeri dapat diketahui dengan cepat dan mudah melalui
media massa. Hal ini karena media massa memiliki kemampuan untuk
memberikan informasi-informasi secara efektif.
Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan
dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat
komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, TV. Media menampilkan diri
sendiri dengan peranan yang diharapkan, dinamika masyarakat akan terbentuk,
dimana media adalah pesan. Jenis media massa yaitu media yang berorientasi
pada aspek penglihatan (verbal visual) misalnya media cetak, pendengaran
(audio) misalnya (radio, tape recorder), dan pada pendengaran dan penglihatan
(televisi, film, video) yang bersifat verbal visual vokal, media massa digunakan
dalam komunikasi apabila komunikasi berjumlah banyak dan bertempat tinggal
jauh. Media massa yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari
umumnya adalah surat kabar, radio, televisi, dan film bioskop, yang beroperasi
dalam bidang informasi, edukasi dan rekreasi, atau dalam istilah lain penerangan,
pendidikan, dan hiburan. Keuntungan komunikasi dengan menggunakan media
massa adalah bahwa media massa menimbulkan keserempakan artinya suatu
pesan dapat diterima oleh komunikan yang jumlah relatif banyak. Jadi untuk
menyebarkan informasi, media massa sangat efektif yang dapat mengubah sikap,
pendapat dan perilaku komunikasi.
Televisi merupakan salah satu alat media masa yang mempunyai daya
tarik yang kuat. Jika radio mempunyai daya tarik yang kuat disebabkan unsur
kata-kata, musik dan sound effect, maka TV selain ketiga unsur tersebut juga
memiliki unsur visual berupa gambar. Dan gambar ini bukan gambar mati,
melainkan gambar hidup yang mampu menimbulkan kesan mendalam pada
pemirsa. Daya tarik ini selain melebihi radio, juga melebihi film bioskop, sebab
segalanya dapat dinikmati di rumah dengan aman dan nyaman. Selain itu, TV juga
dapat menyajikan berbagai program lainnya yang cukup variatif dan menarik
untuk dinikmati masyarakat.

50
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Pengaruh televisi terhadap sistem komunikasi tidak pernah lepas dari
pengaruh terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Acara televisi
pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan perasaan bagi para
penontonnya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh psikologis dari televisi itu sendiri,
di mana televisi seakan-akan menghipnotis pemirsa, sehingga mereka telah hanyut
dalam keterlibatan akan kisah atau peristiwa yang disajikan oleh televisi.
Menurut Frank Jefkins (2003: 105), televisi memiliki sejumlah
karakteristik khusus dan program acara, yaitu “(a) Selain menghasilkan suara,
televisi juga menghasilkan gerakan, visi dan warna; (b) Pembuatan program
televisi lebih mahal dan lama; (c) Karena menghandalkan tayangan secara visual,
maka segala sesuatu yang tampak haruslah dibuat semenarik mungkin”.
Sedangkan program acara televisi, terdiri dari:
a. Buletin berita nasional, seperti: siaran berita atau bulletin berita regional
yang dihasilkan oleh stasiun-stasiun televisi swasta lokal.
b. Liputan-liputan khusus yang membahas tentang berbagai masalah aktual
secara lebih mendalam.
c. Program-program acara olahraga, baik olahraga di dalam atau di luar
ruangan, yang disiarkan langsung atau tidak langsung dari dalam negeri
atau luar negeri.
d. Program acara mengenai topik khusus yang bersifat informatif, seperti:
acara memasak, berkebun, dan acara kuis.
e. Acara drama, terdiri dari: sinetron, sandiwara, komedi, film, dan lain
sebagainya.
f. Acara musik, seperti konser musik pop, rock, dangdut, klasik, dan lain
sebagainya.
g. Acara bagi anak-anak, seperti: film kartun.
h. Acara keagamaan, seperti: siraman rohani, acara ramadhan, acara natal,
dan lain sebagainya.
i. Program acara yang membahas tentang ilmu pengetahuan dan pendidikan.
j. Acara bincang-bincang atau sering disebut talkshow.

51
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

5.2 Teori Uses and Gratification
Model Uses and Gratification menunjukkan bahwa yang menjadi
permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku
khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial
khalayak. Jadi bobotnya ialah pada khalayak yang aktif, yang sengaja
menggunakan media untuk mencapai tujuan khusus (Effendy, 1993: 289).
Teori uses and gratification digambarkan Swanson sebagai a dramatic
breakwith effect tradition of the past. Model ini tidak tertarik pada apa yang
dilakukan media pada diri orang, tetapi ia tertarik pada apa yang dilakukan orang
terhadap media. Setiap khalayak dianggap aktif menggunakan media untuk
memenuhi kebutuhannya. Dari hal inilah timbul istilah uses and gratification,
penggunaan dan pemenuhan kebutuhan (Rakhmat, 2001: 65).
Dalam asumsi ini tersirat pengertian bahwa komunikasi massa berguna
(utility), bahwa konsumsi media diarahkan oleh motif (intentionality); bahwa
perilaku media mencerminkan kepentingan dan preferensi (selectivity); dan
bahwa khalayak sebenarnya kepala batu (stubborn). Karena penggunaan media
hanyalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan psikologis, efek media
dianggap sebagai situasi ketika kebutuhan itu terpenuhi. (Rakhmat, 2001: 65).
Dalam hal ini, tidak semua khalayak dianggap aktif dalam mencari atau
memenuhi kebutuhan akan berita dengan menonton semua berita secara utuh pada
media. Ini dikarenakan khalayak aktif adalah khalayak yang memperhatikan
dengan seksama media yang menjadi sumber pemenuhan kebutuhannya, dalam
hal ini berita Seputar Bali, kalau khalayak merasa kurang puas dengan berita yang
diinformasikan, tentu mereka akan memberikan semacam keberatan kepada
redaksi, yang bisa disampaikan melalui surat pembaca, e-mail, bahkan telpon
langsung kepada redaksi.
Berkaitan dengan pendekatan uses and gratification dan sifat khalayak
yang aktif, Littlejohn menyatakan bahwa “…. pendekatan ini melihat anggota-
anggota khalayak secara aktif menggunakan isi-isi media, daripada bertindak pasif
terhadap media …” (Littlejohn, 1996: 345).
Menurut Kart, Blumer, dan Gurrevitch teori uses and gratification
diasumsikan bahwa sebagai berikut :

52
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

(1) Khalayak dianggap aktif, artinya sebagian penting dari
penggunaan media massa diasumsikan tidak mempunyai tujuan;
(2) Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk
mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media
terletak pada anggota khalayak; (3) Media massa harus bersaing
dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya.
Kebutuhan yang dipenuhi media hanyalah bagian dari rentangan
kebutuhan manusia yang lebih luas. Bagaimana kebutuhan ini
terpenuhi melalui konsumsi media amat bergantung kepada
perilaku khalyak yang bersangkutan; (4) Banyak tujuan pemilih
media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota
khalayak, artinya orang dianggap cukup mengerti untuk
melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu;
(5) Penilaian tentang arti cultural dari media massa harus
ditangguhkan sebelumditeliti lebih dahulu orientasi khalayaknya.
(Rakhmat, 2001: 205).

Berkaitan dengan jenis media dan isi yang dipilih, konsep khalayak aktif
memiliki kaitan dengan motif dan juga berarti bahwa khalayak mempunyai
kecenderungan untuk mengolah makna atas informasi yang diperoleh. Dalam hal
ini khalayak dapat memilih siaran berita mana yang akan ditontonnya, yang
tentunya dapat semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan sosial khalayaknya
demi terciptanya kepuasan.
Pendekatan uses and gratification menekankan riset komunikasi massa
pada konsumen, pesan atau komunikasi, dan tidak begitu memperhatikan
mengenai pesannya. Kajian yang dilakukan dalam ranah uses and gratification
mencoba untuk menjawab pertanyaan, “mengapa orang menggunakan media dan
apa yang mereka gunakan untuk media?” (McQuail, 2002: 388).
Pada model ini yang diteliti adalah sumber sosial dan psikologis dari
kebutuhan yang menimbulkan harapan-harapan dari media massa atau sumber-
sumber lain, yang menyebutkan perbedaan pola terpaan media (atau keterlibatan
dalam kegiatan lain),dan menghasilkan kebutuhan dan akibat-akibat lain, bahkan
sering kali akibat-akibat yang tidak dikehendaki. (Rakhmat, 2001: 65).

5.3 Pengertian dan Pemahaman Motif
Motif berasal dari kata “motive” yang berarti secara obyektif merupakan
dorongan dari dalam diri individu untuk menentukan pilihannya dari berbagai
perilaku tertentu, sesuai dengan tujuan. Sedangkan definisi subyektif motif

53
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

merupakan dasar bagi seseorang untuk bergerak, berperilaku, dan bertindak
menurut tujuan atau kegiatan membangkitkan daya gerak yang terdapat pada diri
sendiri agar melaksanakan tindakan tertentu dalam rangka mencapai tujuan
ataupun kepuasan. (Rakhmat, 2001: 23).
Dengan demikian motif timbul karena adanya suatu kebutuhan. Menurut
Dennis McQuail dalam bukunya yang berjudul Teori Komunikasi Massa (2002:
388),ada empat kategori motif pengkonsumsian media secara umum yaitu :
a. Motif Informasi (Survaillance)
Adalah berkenaan dengan kebutuhan individu akan informasi
dan eksplorasi sosial.
b. Motif Identitas Pribadi (Personal Identity)
Adalah referensi diri, eksplorasi realitas, penguatan nilai, motif
yang ditujukan untuk memperkuat atau menonjolkan sesuatu
yang penting dalam kehidupan atau situasi khalayak yang
bersangkutan.
c. Motif Integrasi dan Interaksi Sosial (Personal Relationship)
Adalah motif yang meliputi interaksi dan integrasi sosial,
merujuk pada kelangsungan hubungan individu tersebut
dengan orang lain, persahabatan, kegunaan sosial.
d. Motif Hiburan (Diversion)
Adalah motif yang meliputi kebutuhan untuk melepaskan diri
dari rutinitas,tekanan, dan masalah; sarana pelepasan emosi;
kebutuhan akan hiburan.

5.4 Kepuasan Khalayak
Definisi kepuasan sangatlah sederhana. Seorang pelanggan merasa puas
jika kebutuhannya, secara nyata atau hanya anggapan, terpenuhi atau melebihi
harapannya. Lalu, bagaimana bisa mengetahui kebutuhan, keinginan, dan harapan
pelanggan? Bertanya kepada pelanggan! Tepat sekali. Sangat sederhana, cukup
bertanya, kemudian penuhi apa yang diinginkan pelanggan dan usahakan untuk
melampauinya. (Gerson,2004: 5).
Selanjutnya kepuasan dalam penelitian ini lebih dimaksudkan pada
terpenuhinya kebutuhan audience dalam kegiatan menggunakan media massa
berdasarkan tujuan dan motif tertentu. Untuk mencapai kepuasan tersebut setiap
individu bersifat aktif dan selektif dalam menggunakan atau memilih jenis media
yang sesuai dengan kebutuhan agar tercipta kepuasan.
Penelitian uses and gratification dilakukan dengan mengetahui motif
seseorang dalam menggunakan media, disamping itu peneliti juga dapat

54
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

mengungkapkan tingkat kepuasan seseorang setelah mengkonsumsi media
tertentu. Seperti yang dilakukan Philip Palmgreen dalam mengembangkan konsep
Gratification Sought (GS) yaitu kepuasan yang diinginkan atau diharapkan
individu dalam menggunakan jenis media,serta Gratification Obtained (GO) yaitu
kepuasan nyata yang diperoleh setelah individu menggunakan atau mengkonsumsi
suatu media tertentu.
Bila mengukur kepuasan pelanggan, pengukuran harus dilakukan pada
kebutuhan, keinginan, persyaratan, dan harapannya serta mengapa demikian.
Banyak sekali kesenjangan yang ada antara pelanggan dan penyedia produk.
Mengukur kesenjangan tersebut merupakan satu-satunya cara untuk menutupnya.
Semua kesenjangan berdasarkan pada pebedaan persepsi antara penyedia dengan
pelanggan mengenai apa yang seharusnya diterima oleh pelanggan. Berikut adalah
daftar berbagai macam kesenjangan yang telah diidentifikasikan melalui
penelitian (Gerson, 2004: 27-28):
(a) Kesenjangan antara pandangan perusahaan tehadap keinginan
pelanggan dengan keinginan pelanggan yang sesungguhnya; (b)
Kesenjangan antara pandangan perusahaan tehadap perusahan
atau jasa yang telah dibeli pelanggan dan pandangan pelanggan
terhadap barang atau jasa yang diterimanya; (c) Kesenjangan
antara pandangan perusahaan dengan pandangan pelanggan
terhadap mutu pelayanan yang diberikan; (d) Kesenjangan antara
harapan pelanggan terhadap mutu pelayanan dengan kinerja
pelayanan yang sesungguhnya; (e) Kesenjangan antara janji
pemasaran dengan pelayanan yang sesungguhnya.

Dengan mengetahui kesenjangan (discrepancy) antara GS dan GO, peneliti
dapat memahami tingkat kepuasan yang diperoleh seseorang setelah
mengkonsumsi media tertentu.
a. Gratification Sought (GS)
Palmgreen dan kawan-kawannya mendefinisikan Gratification Sought
(GS) dalam kaitannya dengan kepercayaan seseorang mengenai apa yang media
dapat berikan dan evaluasi seseorang mengenai isi media. Sebagai contoh, jika
seseorang percaya bahwa komedi situasi memberikan hiburan dan orang tersebut
mengevaluasi hiburan itu bagus, maka ia mencari kepuasan dari kebutuhan
hiburan dengan menonton komedi situasi. Disisi lain, jika seseorang percaya

55
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

bahwa komedi situasi memberikan pandangan mengenai kehidupan yang tidak
realistis dan mengevaluasi isi seperti itu jelek, maka ia menghindari untuk
menonton komedi situasi. (Winarso, 2005: 111).
Gratification Sought (GS) adalah kepuasan yang diharapkan individu
dalam menggunakan media tertentu (Subiakto, 2000: 3). Individu menggunakan
atau tidak menggunakan suatu media dipengaruhi sebab-sebab tertentu, yaitu
didasari motif pemenuhan kebutuhan yang ingin dipenuhi.
Motif yang melatar belakangi individu satu dengan individu lain dalam
mengkonsumsi media tidaklah sama. Jadi dapat disimpulkan Gratification Sought
(GS) adalah motif kepuasan yang diharapkan individu dalam menggunakan media
tertentu. Dalam penelitian ini yang dimaksud adalah motif individu dalam
menonton berita Seputar Bali.
Pada penelitian ini, kategori motif individu dalam menonton Berita
Seputar Bali yang dijadikan acuan adalah kategori motif pengkonsumsian menurut
McQuail.
Adapun kategori motif menurut McQuail (2002: 70-71) adalah :
1) Motif Informasi
Adalah motif yang berkenaan dengan kebutuhan individu
akan informasi dan eksplorasi sosial.
2) Motif Identitas Pribadi
Adalah motif yang berhubungan dengan referensi diri,
eksplorasi realitas, penguatan nilai, motif yang ditujukan
untuk memperkuat atau menonjolkan sesuatu yang penting
dalam kehidupan atau situasi khalayak yang bersangkutan.
3) Motif Integrasi dan Interaksi Sosial
Adalah motif yang meliputi integrasi dan interaksi sosial,
merujuk pada kelangsungan hubungan individu tersebut
dengan orang lain, persahabatan, kegunaan sosial.
4) Motif Hiburan
Adalah motif yang meliputi kebutuhan untuk melepaskan diri
dari rutinitas, tekanan, dan masalah; sarana pelepasan emosi;
kebutuhan akan hiburan.

b. Gratification Obtained (GO)
Gratification Obtained (GO) adalah kepuasan yang nyata yang diperoleh
setelah menggunakan media (Subiakto, 2000 :3). Gratification Obtained juga
diartikan sebagai jumlah kebutuhan yang diperoleh atas terpenuhinya kebutuhan-

56
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

kebutuhan tertentu setelah menggunakan media. Arti dari Gratification Obtained
(kepuasan yang diperoleh) dalam penelitian ini adalah kebutuhan yang dapat
dipenuhi setelah proses penggunaan media yaitu setelah menggunakan menonton
berita Seputar Bali.
Indikator untuk mengukur Gratification Obtained (GO) sama dengan
indikator untuk mengukur Gratification Sought (GS). Ketegori kepuasan yang
diperoleh diukur dengan ketegori sebagai berikut (McQuail, 2002: 72-73) :
a. Kepuasan Informasi
Adalah kepuasan yang berkenaan dengan kebutuhan individu
akan informasi dan eksplorasi sosial.
b. Kepuasan Identitas Pribadi
Adalah kepuasan yang berhubungan dengan referensi diri,
eksplorasi realitas, penguatan nilai, motif yang ditujukan
untuk memperkuat atau menonjolkan sesuatu yang penting
dalam kehidupan atau situasi khalayak yang bersangkutan.
c. Kepuasan Interaksi dan Integrasi Sosial
Adalah kepuasan yang meliputi integrasi dan interaksi social,
merujuk pada kelangsungan hubungan individu tersebut
dengan orang lain, persahabatan, kegunaan sosial.
d. Kepuasan Hiburan
Adalah kepuasan yang meliputi kebutuhan untuk melepaskan
diri dari rutinitas, tekanan, dan masalah; sarana pelepasan
emosi; kebutuhan akan hiburan.

6. Definisi Konseptual
6.1 Gratification Sought (GS)
Gratification Sought (GS) diukur dengan menggunakan beberapa
pertanyaan tentang kepuasan yang dicari dari menyaksikan film televisi di televisi.
Pertanyaan tersebut didasarkan pada motif responden dalam menonton film
televisi yang terdiri dari 4 kelompok kebutuhan (berdasarkan teori Denis Mc
Quail) yang dioperasionalisasikan dalam 11 item pertanyaan pencarian kepuasan,
yaitu seperti berikut:
1) Motif Memenuhi Kebutuhan Informasi
a. Mengetahui peristiwa terkini dari wilayah Bali
b. Mengetahui informasi ekonomi dari wilayah Bali
c. Mengetahui situasi politik dari wilayah Bali
d. Mengetahui kebijakan baru yang dibuat pemerintah kota, kabupaten
dari wilayah Bali

57
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

e. Mengetahui event/kegiatan budaya Bali
2) Motif Identitas Diri
a. Untuk mengetahui perkembangan Bali
b. Menambah kecintaan terhadap Bali
3) Motif Integrasi dan Interaksi Sosial
a. Mendapatkan bahan perbincangan dengan rekan
b. Memberikan informasi kepada orang lain mengenai peristiwa terkini
dari Bali

4) Motif Hiburan
a. Untuk mengisi waktu luang
b. Untuk mendapatkan hiburan (relaksasi)

6.2 Penggunaan Media (Media Used)
Media used merupakan perilaku khalayak dalam menggunakan media.
Tingkat penggunaan media pada responden dalam penelitian ini dihitung
berdasarkan tingkat perhatian, frekuensi, dan curahan waktu rata-rata yang
diberikan responden pada tayangan berita Seputar Bali.
a. Frekuensi
Yaitu tingkat keseringan responden dalam menonton tayangan
dimaksud. Dalam penelitian ini adalah berapa kali responden menonton
Seputar Bali dalam waktu seminggu.
b. Intensitas
Kedalaman responden saat menonton Seputar Bali, dibagi menjadi
tiga tahapan antara lain:
1) Before exposure (Sebelum terpaan)
Menunjukkan aktivitas responden sebelum menggunakan media
massa televisi,hal ini digambarkan dengan aktivitas pencarian
informasi. Dalam penelitian ini audience diasumsikan tidak
melakukan aktivitas sebelum terkena terpaan media. Sehingga tidak
diukur.
2) During exposure (Saat terpaan)

58
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Menunjukkan aktivitas responden saat menggunakan media televisi.
Digambarkan oleh perilaku responden saat mengikuti tayangan
tersebut.
3) After exposure (Setelah terpaan)
Menunjukkan aktivitas responden setelah terpaan media atau setelah
menyaksikan program berita Seputar Bali yang digambarkan oleh
aktivitas responden membicarakan dengan orang lain.
c. Durasi
Merupakan waktu yang digunakan responden untuk menyaksikan
Seputar Bali.

6.3 Gratification Obtained (Kepuasan yang diperoleh)
Dalam penelitian ini variabel kepuasan yang diperoleh (GO) diukur
dengan mengajukan kembali sejumlah pertanyaan yang dioperasionalkan dari 11
item pertanyaan kebutuhan dalam 3 kelompok yang berkaitan dengan jenis
kebutuhan manusia seperti GS, tetapi lebih dikhususkan lagi dalam arti telah
menunjuk pada media televisi tertentu yaitu, Seputar Bali yang ditayangkan di
Bali TV. Langkah ini untuk mengetahui besarnya nilai GO yang diperoleh untuk
tayangan Seputar Bali.

6.4 Discrepancy (Kesenjangan Kepuasan)
Kesenjangan kepuasan (Gratification Discrepancy) adalah perbedaan
perolehan kepuasan yang terjadi antara skor GS dan GO dalam mengkonsumsi
media tertentu. Semakin kecil discrepancy nya, semakin memuaskan media
tersebut. Diukur dengan menyilangkan nilai GS dan nilai GO yang diperoleh,
sehingga akan nampak kesenjangan kepuasan yang dialami responden setelah
menonton Seputar Bali.

7. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang disebar kepada
sejumlah responden untuk pengumpulan data, seningga diperlukan tabel distribusi
frekuensi untuk pengolahan datanya. Langkah yang akan dilakukan pertama

59
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

adalah mengkoding data, dimana jawaban dari kuesioner diberi simbol berupa
angka. Simbol ini kita sebut dengan kode. Pengkodingan dilakukan secara manual
dengan menggunakan coding sheet. Langkah berikutnya adalah
mengklasifikasikan data, kemudian menginterpretasikannya.

8. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner
kepada para responden didapatkan bahwa motif terbanyak dari masyarakat /
khalayak menonton tayangan program berita Seputar Bali di stasiun televisi lokal
BaliTV adalah dalam memenuhi kebutuhan informasi untuk mengetahui peristiwa
terkini dari wilayah Bali dan mengetahui kebijakan baru yang dibuat pemerintah
kota, kabupaten dari wilayah Bali, motif identitas untuk mengetahui perkembangan
Bali dan menambah kecintaan akan Pulau Bali serta motif integrasi dan interaksi
sosial yaitu memberikan informasi kepada orang lain mengenai peristiwa terkini di
Bali. Dan tingkat kepuasan khalayak dalam menyaksikan program berita Seputar
Bali di stasiun TV lokal BaliTV, Gratification Obtained (kepuasan yang diperoleh)
adalah cukup puas.

LAMPIRAN
Tabel 1
Kisi-kisi Kuisioner Tingkat Kesenjangan Kepuasan dan Kemampuan
Pemenuhan Kebutuhan dari Program Seputar Bali di Bali TV
JENIS-JENIS TINGKAT TINGKAT
NO KATEGORI
KEBUTUHAN KESENJANGAN PEMENUHAN
Memenuhi Kebutuhan
Informasi
1. Mengetahui peristiwa
terkini dari Wilayah Bali

Mengetahui informasi
2.
ekonomi
dari wilayah Bali

3. Mengetahui situasi politik
dari wilayah Bali

4. Mengetahui kebijakan baru
yang dibuat Pemerintah
Kota maupun daerah di

60
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

JENIS-JENIS TINGKAT TINGKAT
NO KATEGORI
KEBUTUHAN KESENJANGAN PEMENUHAN
wilayah Bali
5.
Mengetahui event/kegiatan
budaya wilayah Bali
Motif Identitas Diri
6. Mengetahui perkembangan
daerah Peneliti yaitu
wilayah Bali

Menambah kecintaan
7. terhadap daerah Peneliti
yaitu wilayah Bali

Motif Intregasi dan
Interaksi Sosial
8. Mendapatkan bahan
perbincangan dengan rekan

Memberikan informasi
9. kepada
orang lain mengenai
peristiwa
terkini diwilayah Bali
Motif Hiburan
10. Untuk mengisi waktu
luang
Untuk mendapatkan
11.
hiburan

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung:
Simbosa
Rekatama Media.

Cangara, Hafid. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo,
Persada.

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya.

_____________________. 1986. Dimensi-dimensi Komunikasi, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.

____________________. 1991. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.

61
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Hamidi.2007. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi.UMM. Malang.

Iskandar Muda, Deddy. 2003. Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter Profesional,
Bandung: Rosda Karya.

Jefkins, Frank, 2003. Public Relations. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kriyantono, Rakhmat. 2006. Riset Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Group.

Kuswandi.1996. Komunikasi Massa (Sebuah Analisis Media TV). Jakarta: Ineka
Cipta.

Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication.Edisi ke-5,
Belmont-California, Wadsworth.

McQuail, Dennis. 2002. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Erlangga.

Mulyana, Deddy. 2003. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Purwanto, N. M. 2000. Psikologi Pendidikan. Cetakan ke-13. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.

Rakhmat, Jalaluddin. 1996. Teori-teori Komunikasi. Bandung: PT. Remaja.
Rosdakarya.
_________________. 1991. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Rosdakarya.

Rumanti, Asssumpta Maria. 2005. Dasar-Dasar Public Relatios, Teori dan
Praktik.Jakarta: PT. Grasndo.
Singarimbun, Masri. 1989. Sofian Effendi, ed, Metode Penelitian Survai LP3ES.
Jakarta

Subiakto, Henry. 2000. Obyektifitas Pemberitaan Pers Nasional, Peranan Pers
dalamPolitik di Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Sukadji, Soetarlinah & Evita E. Singgih-Salim 2001.Sukses di Perguruan Tinggi
(EdisiKhusus). Depok: Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia

Susanto, Astrid. 1994. Filsafat Komunikasi. Bandung: Bina Cipta.

Wiryanto.2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka

Winarso, Herupuji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta: Prestasi Pustaka.

62
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

ANALISIS STRUKTURALISME NILAI-NILAI PENDIDIKAN
KARAKTER PADA CERPEN CERPEN KARYA I.B. KENITEN
SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF
BAHAN PEMBELAJARAN CERPEN SISWA KELAS XI SMA NEGERI 4
DENPASAR TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Gede Sidi Artajaya
Program Studi Pendidikan Seni Rupa
FPBS IKIP PGRI Bali
Email: sidiartajayagede@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan 1) struktur formal yang
terkandung pada cerpen-cerpen karya I.B. Keniten, 2) nilai-nilai pendidikan
karakter pada cerpen-cerpen karya I.B. Keniten, dan 3) pendapat siswa kelas XI
SMAN 4 Denpasar mengenai nilai-nilai pendidikan karakter pada cerpen-cerpen
karya I.B. Keniten.Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif.
Subjek penelitian adalah kumpulan cerpen karya I.B. Keniten dan 72 siswa kelas
XI SMAN 4 Denpasar. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah
1) metode dokumentasi dan 2) metode angket/kuesioner. Data dianalisis dengan
tahapan, di antaranya 1) reduksi data, 2) penyajian data, dan 3) penyimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) struktur formal yang terkandung pada
cerpen-cerpen karya I.B. Keniten, terdapat 11 cerpen dengan tema yang
mengandung nilai pendidikan karakter. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dominan
protagonis sehingga memberikan nilai-nilai positif bagi pembaca. Alur yang
ditampilkan adalah alur maju. Selain itu, antara alur dan latar juga memiliki
relevansi yang mendukung nilai-nilai pendidikan karakter, 2) cerpen-cerpen karya
I.B. Keniten mengandung 17 nilai dari 18 nilai karakter bangsa, yaitu relegius,
jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu,
semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,
bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan dan sosial, serta tanggung
jawab. Dari 17 nilai pendidikan karakter di atas, nilai agama dan kejujuran yang
paling dominan karena 12 dari 14 cerpen yang dianalisis terkandung nilai agama
dan kejujuran, dan 3) siswa berpendapat nilai-nilai pendidikan karakter pada
cerpen-cerpen karya I.B. Keniten mudah dipahami dengan bahasa yang sederhana,
mengandung tema pendidikan, dan dapat dijadikan bahan pengayaan
pembelajaran sastra di SMA.

Kata kunci: analisis strukturalisme, nilai karakter, cerpen.

ABSTRACT

The purposes of this research are; 1) to describe the formal structure
included in a short story compilation written by I. B. Keniten; 2) to describe the
Values of Character Education in Short Story Compilation written by I.B Keniten;
and 3) to describe the opinions of students in grade XI SMAN 4 Denpasar toward
the Values of Character Education in Short Story Compilation written by I.B

63
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Keniten. This research used a descriptive qualitative research method. The
subject of this study is short story compilation written by I.B. Keniten and 72
students in grade XI SMAN 4 Denpasar. The method used this research is 1)
documentation method and questionnaires method. Data are analyzed by
following some stages namely 1) data reduction, 2) data presentation, and 3) data
interpretation. The result of this research revealed that: 1) the short stories
written by I B. Keniten contains a good quality of literature value. This can be
seen from the presence of a good and solid unity among the elements constructing
those short stories. Moreover, this can be proved as the themes used by I.B
Keniten mostly contain Values of Character Education. 2) Short Story
Compilation written by I.B Keniten contains values of 18 National Character
Values such as religious, honest, tolerant, discipline, hard working, creative,
autonomous, democratic, curious, nationalism, loving country, appreciating
achievement, friendly/communicative, loving peace, caring social and
environment, and responsible. Among all those values of character education,
Religious and honest are the most dominating values appear in the short story
compilation by I.B Keniten. 3) Mostly, students assumed that the values of
character education in the short story compilation written by I.B. Keniten is easy
to understand with simple language, educational theme, and can also be used as
enrichment material for literature in high school.

Keywords: structuralisme analyses, values of character, short story

1 PENDAHULUAN
Strukturalisme pada dasarnya merupakan cara berpikir tentang dunia yang
terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Dalam
pandangan ini karya sastra diasumsikan sebagai fenomena yang memiliki struktur
yang saling terkait satu sama lain. Kodrat struktur itu akan bermakna apabila
dihubungkan dengan struktur lain. Struktur tersebut memiliki bagian yang
kompleks, sehingga pemaknaan harus diarahkan ke dalam hubungan antar unsur
secara keseluruhan. Keseluruhan akan lebih berarti dibanding bagian atau fragmen
struktur.
Menurut Junus (1990 : 1) strukturalisme memang sering dipahami sebagai
bentuk. Karya sastra adalah bentuk. Karena itu, strukturalisme sering dianggap
sekadar formalisme moderen. Memang ada kesamaan antara strukturalisme
dengan formalisme, yang sama-sama mencari arti dari teks itu sendiri.
Strukturalisme mampu menggambarkan pula pemikiran pemilik cerita. Hal ini
berarti bahwa strukturalisme baik dalam sastra moderen maupun sastra tradisonal,
tetap akan berhubungan dengan hal-hal di luar struktur. Oleh karena itu,

64
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

strukturalisme menjadi hal yang prinsip dan tidak mungkin diabaikan. Atas dasar
itulah strukturalisme perlu dianalisis secara komprehensif guna memperoleh
pemahaman yang memadai dalam bidang pendidikan, khususnya belajar sastra.
Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya
manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya
(Atar Semi dalam Sutresna: 2006). Sastra sebagai karya kreatif yang mengandung
emosi, imajinasi, dan budi. Keberadaan sastra di tengah peradaban manusia
sebagai realitas sosial yang dapat memberi kepuasan estetik dan intelektual
masyarakat peminat sastra. Karya sastra membicarakan manusia dengan segala
kompleksitas persoalan hidupnya. Maka antara karya sastra dengan menusia
memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Sastra merupakan pencerminan
dari segi kehidupan manusia yang didalamnya tersurat sikap, tingkah laku,
pemikiran, pengetahuan, tanggapan, perasaan, imajinasi serta spekualiasasi
mengenai manusia itu sendiri.
Sejalan dengan itu, dalam kurikulum yang baru yaitu Kurikulum 2013, yang
lebih menekankan pada teks pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada jenjang
Pendidikan Menengah Atas (SMA/MTs) masih menuntut agar subjek didik
memiliki kemampuan (kompetensi) berbahasa dan bersastra. Kompetensi
berbahasa dan bersastra mencangkup empat aspek keterampilan berbahasa, seperti
yang dijelaskan Keraf (1994). Kompetensi bersastra harus diajarkan sesuai dengan
pembelajaran yang bersifat apresiatif, artinya pembelajaran sastra tersebut
ditujukan ke arah apresiasi sastra, bukan diberikan pengetahuan tentang
kesastraan, seperti teori sastra, sejarah sastra, dan sebagainya yang berhubungan
dengan teori-teori belaka. Dengan kata lain siswa diharapkan mampu melakukan
apresiasi terhadap sastra. Namun demikian, kenyataan di lapangan masih sangat
memprihatinkan terutama pembelajaran sastra. Sastra belum mampu memberikan
pencerahan bagi siswa. Hasil Ujian Nasional (2012) menunjukkan hampir
sebagian besar ketidaklulusan siswa atau sebagai mesin pembunuh disebabkan
oleh bahasa Indonesia, yaitu soal tentang apresiasi sastra.
Realitas yang terjadi di lapangan sangat menyedihkan. Pengajaran sastra di
sekolah pada beberapa dekade terakhir ini, lebih banyak memberikan teori tentang
sastra khususnya cerpen daripada menganalisis dan menciptakan karya sastra. Hal

65
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

ini sudah tentu tidak sesuai dengan harapan atau tuntutan yang ada dalam
kurikulum. Dalam kurikulum 2013 pengajaran bahasa dan sastra berbasis pada
teks. Hal ini berarti siswa bukan hanya memahami dan mendalami teks, tetapi
juga mampu memproduksi atau mengahsilkan teks. Namun, kondisi pengajaran
sastra yang “terlunta-lunta” tampaknya belum juga mengalami perubahan dan
kemajuan yang signifikan. Tetap saja pengajaran sastra di sekolah mengalami
peminggiran, bahkan seolah-olah tereliminasi dari habitatnya.
Hal ini sudah tentu membawa dampak terhadap karakter anak. Dewasa ini
telah terjadi degradasi moral yang dialami anak bangsa. Fenomena ini dibuktikan
dengan ditemukannya anak-anak sekolah yang sering membolos, ugal-ugalan di
jalan, melanggar tata tertib, dan tidak patuh kepada orang tua. Orang tua siswa
sering mengeluh bahwa anaknya jarang mau belajar dan berdoa. Gejala ini tidak
boleh dibiarkan begitu saja. Guru mempunyai tugas yang sangat strategis di dalam
mengatasi degradasi moral yang dialami anak didik. Salah satu alternatif yang
bisa dilakukan guru adalah mengajak siswa agar mengapresiasi karya sastra.
Sastra sebagai produk kehidupan mengandung nilai-nilai sosial, etika,
estetika, religius, budaya, filosofis, dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut ada yang
bertolak dari pengekspresian kembali ataupun penyodoran konsep baru. Sastra
tidak dapat dilepaskan dengan tata nilai kehidupan manusia dan perubahan sosial
yang menyertainya. Dalam perspektif kehidupan manusia yang disebut
kebudayaan maka sastra menempati posisi yang sangat urgen. Peneliti
berpendapat bahwa semakin akrab seseorang dengan sastra maka semakin halus
kepribadian dan lebih utuh rasa kemanusiaannya. Untuk membaca dan memahami
sastra diperlukan pengetahuan yang kompleks. Artinya, pembaca bukan hanya
sekadar memiliki pengetahuan kebahasaan, melainkan dia harus mempunyai
pengetahuan yang lain, misalnya etika dan sosial. Dalam sastra, kita berhadapan
dengan sistem komunikasi sastra dan kode estetik lainnya yang menarik
(Roehayah dan Suhayati, 1996: 86). Kode estetik terkait erat dengan penggunaan
bahasa sebagai media komunikasi yang digunakan untuk mengeksplorasi
ide/gagasan pengarang.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Effendi dalam (Aminuddin, 2002)
mengemukakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra

66
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan,
kepekaan kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra. Juga
disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca
mampu menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra yang diapresiasinya,
menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta melaksanakan kegiatan apresiasi itu
sebagai bagian dari hidupnya, dan sebagai suatu kebutuhan yang mampu
memuaskan rohaniahnya.
Belajar apresiasi sastra pada hakikatnya adalah belajar tentang hidup dan
kehidupan. Melalui karya sastra, manusia akan memperoleh gizi batin, sehingga
sisi-sisi gelap dalam hidup dan kehidupannya bisa tercerahkan lewat kristalisasi
nilai yang terkandung dalam karya sastra. Teks sastra tak ubahnya sebagai layar
tempat diproyeksikan pengalaman psikis manusia. Seiring dengan dinamika
peradaban yang terus bergerak menuju proses globalisasi, sastra menjadi makin
penting dan urgen untuk disosialisasikan dan “dibumikan” melalui institusi
pendidikan. Karya sastra memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk
watak dan kepribadian seseorang. Dengan bekal apresiasi sastra yang memadai,
diharapkan mampu bersaing pada era global dengan sikap arif, matang, dan
dewasa.
Berdasarkan pendapat para pakar di atas, apresiasi sastra dapat diartikan
sebagai upaya memahami karya sastra, di antaranya upaya bagaimana cara untuk
mengerti sebuah karya sastra yang dibaca, mengerti maknanya, dan mengerti
seluk-beluk strukturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Teeuw (1980: 24) yakni
apresiasi sastra merupakan upaya “merebut makna” karya sastra sebagai tugas
utama seorang pembaca.
Analisis strukturalisme sangat urgen dimiliki oleh seorang apresiator di
dalam mengungkap makna intrinsik dan ekstrinsik yang terkandung dalam karya
sastra, khususnya cerpen. Karya sastra yang berbentuk cerpen mempunyai makna
yang sangat kompleks. Salah satu makna yang terkandung dalam cerpen adalah
pendidikan karakter. Nilai pendidikan karakter ini sangat kental tertuang dalam
kumpulan cerpen karya I.B. Keniten. Cerpen yang ditulis Keniten sangat urgen
diapresiasi oleh siswa kelas XI SMAN 4 Denpasar. Siswa dituntut bukan hanya
sekadar memahami nilai pendidikan karakter, tetapi yang jauh lebih penting

67
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

adalah siswa diharapkan melaksanakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari
di sekolah maupun di masyarakat. Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh
suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada
kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang
mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon
sesuatu. Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik
tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang dan biasanya berkaitan dengan
sifat-sifat yang relatif tetap. Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu,
religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa
ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,
bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli
sosial, dan tanggung jawab.
Analisis strukturalisme nilai-nilai pendidikan karakter dalam kumpulan
cerpen karya I.B. Keniten sangat penting diteliti untuk memberikan sumbangan
pemikiran kepada guru bahasa Indonesia di SMAN 4 Denpasar agar kreatif dan
inovatif di dalam pembelajaran sastra. Berdasarkan aspek penerimaan pembaca
terhadap karya sastra maka penulis menekankan pada kajian hermeneutik yang
dikaitkan dengan salah satu genre sastra yaitu cerpen. Pada sisi lain, penggunaan
pendekatan strukturalisme dengan nilai-nilai pendidikan karakter dalam kumpulan
cerpen karya I.B. Keniten akan berimplikasi pada pendapat siswa kelas XI SMAN
4 Denpasar dalam menanamkan nilai pendidikan karakter dalam belajar sastra
khusunya cerpen. Cerpen dipilih karena memiliki potensi strategis dalam
pengajaran, selain sebagai bagian mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
Kelebihan lain yang dimiliki cerpen dibandingkan dengan jenis karya sastra yang
lain ialah dilihat dari aspek waktu dan ruang. Pengajaran cerpen dapat
berlangsung dalam jangka waktu yang relatif pendek atau singkat. Cerpen yang
dipilih pun memiliki tema yang tidak jauh dari realitas sosial masyarakat
Indonesia sekarang. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: (1)
struktur formal yang terkandung pada cerpen cerpen karya I.B. Keniten, (2) nilai-
nilai pendidikan karakter yang terkandung pada cerpen cerpen karya I.B. Keniten,
(3) pendapat siswa kelas XI SMAN 4 Denpasar mengenai nilai-nilai pendidikan

68
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

karakter yang terkandung pada cerpen cerpen karya I.B. Keniten sebagai salah
satu alternatif materi pembelajaran sastra.
Sudah merupakan keharusan bagi setiap peneliti untuk memiliki konsep dan
teori yang kuat dan benar, sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam
penelitian. Masalah dalam penelitian tidak akan dapat dipecahkan dengan baik
apabila tidak didukung oleh teori yang relevan. Landasan teori sangat penting di
dalam memecahkan masalah yang akan diteliti. Sehubungan dengan hal tersebut,
landasan teori yang dipakai dalam penelitian ini, yaitu : (1) Karya Sastra, (2)
Konsep Analisis Strukturalisme, (3) Nilai Pendidikan Karakter, (4) Cerpen, dan
(5) Pembelajaran Sastra di Sekolah.

2 METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian
ini adalah kumpulan cerpen karya I.B. Keniten dan siswa kelas XI SMAN 4
Denpasar. Peneliti mengambil subjek kumpulan cerpen, karena cerpen ini yang
mempunyai kedudukan yang paling sentral dan data tentang variabel yang diteliti
berada dalam cerpen. Objek penelitian adalah struktur formal, nilai-nilai
pendidikan karakter, dan pendapat siswa terhadap nilai-nilai karakter yang
terkandung pada cerpen-cerpen karya I.B. Keniten. Cerpen yang peneliti
kumpulkan berjumlah 14 judul cerpen. Objek penelitian ini adalah struktur yang
terkandung pada kumpulan cerpen karya I.B. Keniten, analisis hermeneutik nilai-
nilai pendidikan karakter yang terkandung pada kumpulan cerpen karya I.B.
Keniten, dan implikasi nilai-nilai pendidikan karakter pada kumpulan cerpen I.B.
Keniten sebagai alternatif materi pembelajaran Sastra Indonesia kelas XI SMAN 4
Denpasar.
Sumber data yang diperoleh adalah kumpulan cerpen karya I.B. Keniten
yang diterbitkan setiap hari Minggu halaman 7 tahun 2010-2013 oleh Denpost.
Adapun judul-judul cerpen tersebut yaitu: Ayah, Guru Kita, Anakku Polisi,
Rembulan Masih Bersinar, Akimura, Merdeka, Baju Putih, Ayahku Buaya,
Perempuan di Tengah Kabut, Catatan Harian, Maafkan Aku Istriku, Perempuan
Malam, Galungan, dan Derai-Derai Mimpi. Sumber data kedua yaitu mengenai
pendapat siswa kelas XI SMAN 4 Denpasar dalam menganalisis nilai-nilai

69
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

pendidikan karakter cerpen yang berjudul Anakku Polisi dan Galungan. Siswa
yang dijadikan subjek dalam penelitian ini diambil dengan teknik sampel, yakni
purposive sampling. Dengan teknik ini siswa yang dijadikan sumber data adalah
siswa kelas XI MIA 1 dan XI IIS 1 SMAN 4 Denpasar. Alasan peneliti memilih
sumber data kedua kelas tersebut karena memiliki tingkat kemampuan yang
hampir sama. Peneliti memilih sumber data tersebut, karena data-data itu yang
memberikan informasi bagi peneliti terkait dengan masalah yang diteliti.
Metode dokumentasi menjadi metode utama dalam penelitian ini, karena
peneliti memperoleh data dengan mencatat bagian-bagian pada kumpulan cerpen
karya I.B. Keniten yang menunjukkan adanya nilai-nilai pendidikan karakter yang
terkandung dan struktur yang terkandung pada cerpen tersebut. Metode kedua
yang digunakan adalah angket/kuesioner. Penyebaran angket atau kuesioner ini
bertujuan untuk mengetahui pendapat siswa kelas XI SMAN 4 Denpasar
mengenai nilai-nilai pendidikan karakter pada kumpulan cerpen I.B. Keniten
sebagai alternatif materi pembelajaran Sastra Indonesia.
Dalam penelitian ini ada tiga jenis data yang dicari, yaitu petikan-petikan
yang memiliki nilai-nilai pendidikan karakter dan struktur yang terkandung pada
kumpulan cerpen karya I.B. Keniten, dan implikasinya terhadap pembelajaran
sastra di sekolah. Untuk mecari data pertama dan kedua, peneliti menggunakan
metode dokumentasi, sedangkan data ketiga digunakan metode angket/ kuesioner.
Data ketiga adalah implikasi mengenai pendapat siswa terhadap cerpen sebagai
alternatif pembelajaran sastra di sekolah.
Data dianalisis dengan tahapan, di antaranya 1) reduksi data, 2) penyajian
data, dan 3) penyimpulan.

3 HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembangunan pendidikan semetara ini, lebih fokus pada kecerdasan
intelektual (hard skill) daripada kecerdasan lainnya (soft skill). Sirikit (2011 : 35),
menyatakan bahwa sspek karakter dalam proses pembelajaran sering sekali
dikesampingkan. Karakter lebih sering dianggap sebagai efek pengiring
(nurturant effets) bukan efek pembelajaran (instructional effect). Kondisi ini
cenderung menghasilkan insan-insan yang egoistis, superior, dan kurang humaniti

70
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

sehingga mereka kurang berhasil dalam kehidupannya. Hal ini ditunjukkan oleh
hasil penelitian Heckman dkk, kecerdasan intelektual seseorang (verbal dan logis
matematis) hanya berkontribusi 20% saja dari keberhasilan seseorang di
masyarakat. Yang 80% lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional atau
kualitas karakter seseorang.
Pendidikan karakter yang merupakan kemampuan soft skill, adalah proses
tuntutan kepada anak didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter
dalam dimensi hati, pikir, raga serta rasa dan karsa. Karakter individual dimaknai
sebagai hasil keterpaduan antara olah hati, olah pikir, dan olah raga serta
perpaduan olah rasa dan karsa.
Dalam kaitan dengan pendidikan, maka masyarakat yang menjunjung tinggi
nilai kesantunan akan menjadikan sastra sebagai bagian penting dari proses
pendidikan. Untuk menumbuhkan karakter bangsa yang bermartabat, seharusnya
pendididkan budaya dan karakter bangsa segera dilaksanakan dan
diimplementasikan dalam semua bidang termasuk mata pelajaran khususnya
sastra (cerpen) atau mata kuliah, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi.
Dalam konteks itu guru sastra harus mampu membaca apa yang diinginkan
atau diminati siswa. Artinya, guru harus menggunakan perspektif siswa, bukan
perspektifnya sendiri yang sering berbeda dengan siswa. Dengan demikian, guru
sastra akan dapat menyajikan karya sastra yang memenuhi kemampuan imajinatif
para siswa, yang dekat dengan dunianya. Oleh karena itu, perlu dipilih karya
sastra dengan latar belakang budaya sendiri. Sebagai ilustrasi, jelas latar belakang
budaya Bali berbeda dengan luar Bali seperti Jawa, Lombok, Jakarta, Kalimantan,
dan sebagainya.
Bahan ajar yang inovatif tidak hanya didapatkan dari buku paket, LKS, atau
modul yang dimiliki guru. Bahan ajar juga bisa diambil dari media yang lain,
seperti koran. Pendidik bisa mulai mencari alternatif yang lain terkait inovasi
pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan kumpulan cerpen karya I.B.
Keniten dalam pembelajaran sastra, khususnya cerpen. Kumpulan cerpen karya
I.B. Keniten sangat relevan digunakan karena mengandung banyak sekali nilai-
nilai pendidikan karakter.

71
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Mengingat penelitian ini merupakan usaha untuk menggambarkan
bagaimana struktur yang terkandung pada kumpulan cerpen karya I.B. Keniten,
nilai-nilai pendidikan karakter pada kumpulan cerpen karya I.B. Keniten, dan
implikasinya terhadap pembelajaran sastra di kelas XI SMA Negeri 4 Denpasar
maka penelitian ini tidak melakukan atau memberikan perlakuan khusus atau
pengkondisian terhadap subjek dan objek yang diteliti. Dengan demikian,
penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan
subjek dan objek apa adanya, kemudian data yang diperoleh diolah dengan gaya
pemaparan yang menggunakan bahasa verbal.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat ditemukan berbagai hal sebagai
berikut. Pertama, struktur formal yang terkandung pada kumpulan cerpen karya
I.B. Keniten lebih menekankan pada nilai pendidikan. Hal ini dibuktikkan
berdasarkan tema yang diangkat dalam cerpen sebagian besar mengandung nilai
pendidikan karakter. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dominan protagonis dengan
teknik dramatik sehingga memberikan nilai-nilai positif bagi pembaca. Selain itu
antara alur dan latar memiliki relevansi yang mendukung nilai-nilai pendidikan
karakter. Alur yang dominan digunakan adalah alur maju. Beberapa cerpen yang
sudah dianalisis karya I.B. Keniten memiliki kualitas sastra yang baik. Hal ini
terlihat dari adanya satu kesatuan yang utuh antar unsur yang membangun cerpen
tersebut. Di samping itu pula tema cerpen yang diangkat oleh I.B. Keniten lebih
banyak membicarakan tentang pendidikan. Hal ini tentu sesuai dengan latar
belakang pengarang yakni seorang pendidik, I.B. Keniten berprofesi sebagai
seorang pengajar dan pengawas di Karangasem. Beberapa cerpen yang berjudul
Guru Kita, Galungan, Akimura, Ayah, Anakku Polisi, dan Derai-Derai Mimpi
banyak sekali mengangkat tema pendidikan. (Jakob, 2007:99) menyatakan,
sebuah cerpen yang baik adalah cerpen yang merupakan suatu kesatuan bentuk,
utuh, menunggal (tidak ada bagian-bagian yang tidak perlu), tetapi juga tidak ada
sesuatu yang terlalu banyak, semuanya pas, integral dan mengandung arti.
Menurut Esten (1984: 87), kehadiran sebuah karya sastra sudah pasti
menyajikan sebuah cerita yang dapat menimbulkan kenikmatan tersendiri pada
pembacanya. Seorang pengarang tidak sekadar merangkai sebuah cerita, tetapi
lebih dari itu pengarang ingin menyampaikan sebuah pesan kepada pembacanya

72
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

melalui persoalan yang dimunculkannya di dalam karya sastranya. Persoalan
inilah yang disebut tema. Sudjiman (1990: 74) mengemukakan bahwa tema adalah
gagasan, ide, atau pikiran utama dalam sebuah karya sastra. Tema dapat terwujud
secara eksplisit ataupun implisit.
Dalam menganalisis tema sebuah karya sastra ada tiga langkah dalam
menentukannya, yaitu (1) dengan melihat persoalan yang paling menonjol, (2)
dengan melihat persoalan yang menimbulkan konflik yang melahirkan peristiwa-
peristiwa, dan (3) mencatat waktu penceritaan, yaitu waktu yang dipergunakan
untuk menceritakan peristiwa-peristiwa atau tokoh-tokoh dalam cerita
(Esten,1989: 88). Selain itu, judul karya sastra merupakan kunci utama bagi
penafsiran keseluruhan karya sastra (Sutrisno, 1983: 129).
Salah satu contoh cerpen yang berjudul Anakku Polisi menyiratkan tema
bahwa selain memberikan petuah yang terkait dengan mensyukuri hidup dalam
keadaan apapun juga tersirat makna implisit. Makna tersebut mengandung proses
penanaman nilai-nilai pendidikan karakter kerja keras, kejujuran dan kasih
sayang. Kerja keras ditunjukkan dari sikap Gede Wijawan dalam menggapai cita-
cita orang tua untuk menjadi polisi. Dalam melaksanakan tugasnya pun ia sangat
jujur, bersahabat, dan selalu memegang teguh aturan yang berlaku.
Tokoh yang paling berperan dalam cerpen Anakku Polisi adalah Gede
Wijawan. Tokoh ini merupakan tokoh sentral dan menjadi pusat pencitraan.
Perwatakan dari masing-masing tokoh memberikan nilai-nilai karakter yang
sangat positif bagi pembaca. Hal ini memang menyiratkan bahwa tokoh utama
dalam cerpen bertindak sebagai tokoh protagonis.
Tokoh-tokoh yang paling dominan dalam kumpulan cerpen karya I.B.
Keniten lebih banyak mengangkat tokoh protagonis. Tokoh ini merupakan tokoh
sentral dan menjadi pusat pencitraan. Perwatakan dari masing-masing tokoh
memberikan nilai-nilai karakter yang sangat positif bagi pembaca. Hal ini
memang menyiratkan bahwa tokoh utama dalam cerpen bertindak sebagai tokoh
protagonis. Esten (1989: 27) mengemukakan bahwa penokohan adalah bagaimana
cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam
sebuah cerita rekaan. Ada beberapa cara dalam menggambarkan tokoh-tokoh,
yaitu secara analitik dan dramatik. Secara analitik, pengarang langsung

73
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

menceritakan bagaimana watak tokoh ceritanya, sedangkan secara dramatik
pengarang tidak langsung menceritakan bagaimana watak tokoh-tokoh ceritanya.
Misalnya, melalui penggambaran tempat dan lingkungan tokoh, bentuk-bentuk
fisik (potongan tubuh dan sebagainya), melalui percakapan (dialog), atau melalui
perbuatan sang tokoh. Penokohan dalam kumpulan cerpen karya I.B. keniten lebih
banyak menggambarkan tokoh secara dramatik.
Latar adalah penggambran situasi tempat dan waktu serta suasana
terjadinya peristiwa. Latar pada kumpulan cerpen karya I.B. Keniten berfungsi
sebagai pendukung alur dan perwatakan. Gambaran situasi yang tepat akan
membantu memperjelas peristiwa yang sedang dikemukakan. Untuk dapat
melukiskan latar yang tepat, pengarang harus mempunyai pengetahuan yang
memadai tentang keadaan atau waktu yang akan digambarkan. Hal itu dapat
diperoleh melalui pengamatan langsung atau melalui bacaan-bacaan atau
informasi dari orang lain.
Secara tradisional, pola alur kumpulan cerpen karya I.B. Keniten disusun
berdasarkan urutan, yaitu perkenalan, pertikaian, perumitan, klimaks, dan
penyelesaian. Apabila pengarang mengikuti pola tradisional, biasanya pada bagian
permualaan, pengarang menggambarkan situasi dan memperkenalkan tokoh-
tokohnya. Pada bagian ini, pengarang melukiskan keadaan alam dan situasi
lingkungan hidup yang melatarbelakangi ceritanya, misalnya di sekolah, tempat
suci, dan di rumah masing-masing tokoh utama. Pada bagian ini pula, pengarang
menampilkan watak tokoh, kebiasaan hidup, dan perilakunya.
Alur yang dominan ditampilkan oleh I.B. Keniten dalam kumpulan cerpen
yang peneliti analisis adalah menampilkan alur maju. Alur adalah jalan cerita
yang berupa peristiwa-peristiwa yang disusun dan saling berkaitan menurut
hukum sebab akibat dari awal sampai akhir cerita. Dari pengertian tersebut jelas
bahwa tiap peristiwa tidak berdiri sendiri. Peristiwa yang satu akan menimbulkan
peristiwa yang lain, peristiwa yang lain itu akan menjadi sebab bagi timbulnya
peristiwa berikutnya dan terus sampai cerita berakhir.
Kedua, kumpulan cerpen karya I.B. Keniten mengandung 17 nilai yang
terkandung dalam 18 karakter bangsa, yaitu relegius, jujur, toleransi, disiplin,
kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan,

74
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli
lingkungan dan sosial, serta tanggung jawab.
Konsep di atas ditindaklanjuti dengan penelitian yang menelaah mengenai
nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam kumpulan cerpen karya I.B
Keniten dengan fokus struktur, nilai-nilai, dan tanggapan siswa terkait dengan
nilai yang terkandung di dalam cerpen. Dari hasil penelitian dapat dirumuskan
beberapa nilai selain 18 nilai karakter bangsa, yaitu kemampuan memberi
pandangan dan pertimbangan moral, mengenal/memahami diri sendiri, work
(pandangan terhadap pekerjaan), katahati/hati nurani, harga diri, empati, cinta
pada kebaikan, pengendalian diri, rendah hati, compassion (rasa terharu), honesty
(kejujuran), loyalty (loyalitas), faith (keyakinan/ kepercayaan). Selain itu, juga
terdapat kompetensi moral, kemauan, kebiasaan, self-discipline,responsibility,
friendship (persahabatan), courage (keberanian dan keteguhan hati), dan
perseverance (ketekunan).
Dari beberapa komponen nilai pendidikan karakter di atas nilai agama dan
kejujuran yang paling dominan terdapat pada kumpulan cerpen karya I.B.
Keniten. Hal ini disebabkan karena manusia sebagai makhluk yang beragama
sangat percaya dengan kebesaran Tuhan. Agama diyakini sebagai penuntun dan
pencerahan bagi manusia di dalam berpikir, berkata, dan berprilaku yang baik.
Ketiga hal tersebut seharusnya dilaksanakan secara harmonis. Di dalam kehidupan
sehari hari manusia berbuat yang tidak sesuai dengan pikiran dan perkataannya.
Contoh, seorang anak ditanyai oleh orang tuanya apakah sudah sembahyang tiga
kali sehari (beragama Hindu). Mereka menjawab iya, namun kenyataannya
mereka sembahyang hanya sekali dan bahkan sama sekali tidak.
Berdasarkan hasil wawancara melalui telepon pada hari Selasa tanggal 23
September 2014 pukul 19.15 wita diperoleh informasi bahwa pengarang (I.B.
Keniten) setuju nilai agama dan kejujuran yang dominan ditemukan dalam
kumpulan cerpen tersebut. Beliau menyatakan cerpen yang sangat menonjol
mengandung nilai agama adalah cerpen yang berjudul Galungan. Pada saat
Galungan diharapkan manusia mampu melakukan pengendalian diri. Pada saat
melakukan upacara agama seperti Galungan umat Hindu seharusnya menjalankan
ajaran-ajaran dharma tetapi masih juga ditemukan umat Hindu yang melanggar

75
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

ajaran agama tersebut seperti berjudi, minum-minuman keras, dan perkelahian
antar banjar. Pengarang juga berpendapat bahwa kumpulan cerpen tersebut sangat
cocok diapresiasi oleh siswa. Hal ini disebabkan kumpulan cerpen tersebut
mengandung nilai-nilai pendidikan karakter. Peneliti berpendapat hasil
wawancara yang diperoleh setelah dikomparasikan dengan biografi pengarang
ditemukan adanya kesesuaian tema-tema cerpen yang ditulis dengan profesi
pengarang. Pengarang menjadi guru SMPN 3 Abang, guru SMAN 2 Amlapura,
dan yang terakhir sebagai pengawas Dikmen Disdikpora Karangasem.
Analisis struktur ekstrinsik berupa nilai-nilai terlihat pada salah satu
contoh cerpen yang berjudul Galungan terkandung makna kehidupan sebuah
keluarga yang hidup seadanya dan selalu bersyukur merupakan hal yang paling
berharga seperti yang tampak dalam kutipan….Meskipun hidup kita pas-pasan
kita mesti bersyukur. Kalau tidak pernah bersyukur, kita sudah kalah meskipun
masih bernapas. Masih banyak saudara-saudara kita yang berada di bawah kita.”
Makna yang lain juga ditemukan adalah orang yang memiliki harta belum tentu
akan menjadi pilihan seorang wanita. Hal ini tampak dalam kutipan….”Yang
naksir ibumu orang-orang berada. Lucunya bapa yang dipilih. Padahal bapa
waktu itu sekadar coba-coba.” Makna tersirat laiinya yang ditemukan dalam
cerpen adalah tokoh yang bekerja keras sehingga mengeluarkan keringat yang
bercucuran. Tampak dalam kutipan….”Ah, kau mulai nakal juga.”Kami tertawa.
Keringat kami berlomba-lomba membasahi tubuh. Tapi hati kami merasa damai.
Makna selanjutnya adalah kekayaan yang diperoleh secara tidak benar (hasil
korupsi) yang sudah melekat di kalangan pejabat seperti pada kutipan…Kekayaan
yang dikumpulkannya selama ini hasil dari menilep uang rakyat yang sudah
mendarah daging. Makna implisit terakhir yaitu melaksanakan yadnya berupa
sedekah (membantu orang miskin) merupakan salah satu bagian dari kemenangan
hati. Tampak pada kutipan berikut… Aku keluar rumah. Di jalan kutemui
peminta-minta dengan dua orang anaknya. Anaknya menangis. Ia mengatakan
sudah dua hari tidak makan. Tubuhnya kurus kering. Pakaiannya tak kelihatan
warnanya. Sudah kusam, bau badan jangan ditanya lagi. Hatiku tak sampai hati.
Kurogoh sakuku. Aku tak jadi membeli daging. Aku pulang, Ayahku menanyaiku.

76
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Kukatakan yang kualami. Beliau tak marah dan memeluk tubuhku. “Nyoman, kau
sudah megalungan.” Aku tak mengerti maksud perkataan ayahku.
Ketiga, siswa berpendapat nilai-nilai pendidikan karakter pada cerpen-
cerpen karya I.B. Keniten mudah dipahami dengan bahasa yang sederhana,
mengandung tema pendidikan, dan dapat dijadikan bahan pengayaan
pembelajaran sastra di SMA.
Dapat diketahui bahwa rata-rata pendapat siswa terhadap nilai-nilai pendidikan
karakter pada kumpulan cerpen karya I.B. Keniten dalam pembelajaran cerpen
adalah sesuai dengan bahan pembelajaran sastra, yaitu berdasarkan hasil
angket/kuesioner kelas XI MIA 1 dengan rata-rata 79,79% dan kelas XI IIS 1
dengan rata-rata 76,92% sesuai pedoman konversi skor siswa yaitu skor 70-84
(sesuai). Hal ini berarti kumpulan cerpen karya I.B. Keniten dapat dijadikan salah
satu alternatif pembelajaran cerpen di sekolah khusunya pada siswa kelas XI
SMA. Penyusunan bahan ajar yang didasari oleh nilai pendidikan karakter
memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap penanaman pengetahuan peserta
didik tentang nilai pendidikan karakter.
Wagiran (2012), menyatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang
memiliki karakter kuat bersumber dari nilai-nilai yang digali dari budaya
masyarakatnya. Salah satu penanaman budaya dan karakter bangsa yang dapat
diterapkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah ialah melalui materi
dalam buku pelajaran, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Isi materi
yang bertema pembinaan budaya dan karakter bangsa yang baik akan dapat
membentuk budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Materi pelajaran dapat
dijadikan batu loncatan untuk menonjolkan nilai pendidikan karakter. Penyajian
komponen-komponen bahan ajar yang apik, terstruktur, dan secara eksplisit
menekankan nilai pendidikan karakter memberi arah yang jelas tentang materi
yang akan diajarkan.
Nilai-nilai pendidikan karakter tercermin dari keberadaan materi yang
dimuati oleh nilai-nilai pendidikan karakter. Bahan ajar itu tidaklah sekadar
memberikan pemahaman tetapi juga harus mampu menanamkan nilai dalam diri
peserta didik. Dalam konteks demikian, menjadi menarik ketika pendidik mampu
menginjeksikan nilai-nilai berwawasan pendidikan karakter ke dalam bahan ajar.

77
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Bahan ajar yang inovatif tidak hanya didapatkan dari buku paket, LKS, atau
modul yang dimiliki guru. Bahan ajar juga bisa diambil dari media yang lain,
seperti koran. Pendidik bisa mulai mencari alternatif yang lain terkait inovasi
pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan kumpulan cerpen karya I.B.
Keniten dalam pembelajaran sastra, khususnya cerpen. Kumpulan cerpen karya
I.B. Keniten sangat relevan digunakan karena mengandung banyak sekali nilai-
nilai pendidikan karakter.
Peneliti memperoleh data angket/kuesioner pada saat akhir pelajaran di
kelas. Namun, siswa dalam mengisi angket tetap berada di kelas. Hal ini dapat
dilakukan karena sebelumnya peneliti sudah melakukan koordinasi dengan guru
bahasa Indonesia untuk menyisakan waktu 45 menit dari dua jam pelajaran.
Waktu 45 menit tersebut peneliti gunakan untuk menyebar angket dan
memperoleh data mengenai tanggapan siswa terhadap dua buah cerpen yang
berjudul Galungan dan Anakku Polisi. Peneliti menyebar sebanyak 72 buah
angket di kelas XI MIA 1 dan XI IIS 1 pada akhir pengambilan data.
Berdasarkan data angket/kuesioner, dapat dinyatakan bahwa dari dua kelas
yaitu XII MIA 1 dan XI IIS 1 yang berjumlah 72 siswa yang mengisi angket, ada
20 siswa yang menyatakan respons sangat sesuai dan 47 siswa yang menyatakan
respons sesuai serta 5 siswa yang menyatakan cukup sesuai terhadap nilai-nilai
pendidikan karakter yang terkandung pada dua buah cerpen berjudul Galungan
dan Anakku Polisi. Dari 72 siswa yang dijadikan sampel, tidak ada satu pun siswa
yang menyatakan kurang sesuai, bahkan sangat kurang sesuai terhadap nilai-nilai
pendidikan karakter yang terkandung pada cerpen yang berjudul Galungan dan
Anakku Polisi karya I.B. Keniten.
Dari data di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata pendapat siswa terhadap
nilai-nilai pendidikan karakter pada cerpen dalam pembelajaran adalah sesuai
dengan bahan pembelajaran sastra. Dalam konteks demikian, menjadi menarik
ketika pendidik mampu menginjeksikan nilai-nilai berwawasan pendidikan
karakter ke dalam bahan ajar. Pendidik bisa mulai mencari alternatif yang lain
terkait inovasi pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan kumpulan
cerpen karya I.B. Keniten.

78
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

4 SIMPULAN DAN SARAN
Pertama, struktur formal yang terkandung pada kumpulan cerpen karya
I.B. Keniten lebih menekankan pada nilai pendidikan. Hal ini dibuktikkan
berdasarkan tema yang diangkat dalam cerpen sebagian besar mengandung nilai
pendidikan karakter. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dominan protagonis dengan
teknik dramatik sehingga memberikan nilai-nilai positif bagi pembaca. Selain itu
antara alur dan latar memiliki relevansi yang mendukung nilai-nilai pendidikan
karakter. Alur yang dominan digunakan adalah alur maju.
Kedua, kumpulan cerpen karya I.B. Keniten mengandung 17 nilai yang
terkandung dalam 18 karakter bangsa, yaitu relegius, jujur, toleransi, disiplin,
kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan,
cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli
lingkungan dan sosial, serta tanggung jawab. Dari 17 komponen nilai pendidikan
karakter di atas, nilai agama dan kejujuran yang paling dominan terdapat pada
kumpulan cerpen karya I.B. Keniten. Makna yang tersurat atau eksplisit lebih
banyak terkandung dalam kumpulan cerpen I.B. Keniten daripada makna secara
tersirat atau implisit.
Ketiga, siswa berpendapat nilai-nilai pendidikan karakter pada cerpen-
cerpen karya I.B. Keniten mudah dipahami dengan bahasa yang sederhana,
mengandung tema pendidikan, dan dapat dijadikan bahan pengayaan
pembelajaran sastra di SMA. Dapat diketahui bahwa rata-rata tanggapan siswa
terhadap nilai-nilai pendidikan karakter pada kumpulan cerpen karya I.B. Keniten
dalam pembelajaran cerpen adalah sesuai dengan bahan pembelajaran sastra,
yaitu kelas XI MIA 1 dengan rata-rata 79,79% dan kelas XI IIS 1 dengan rata-rata
76,92% sehingga kumpulan cerpen karya I.B. Keniten dapat dijadikan salah satu
alternatif pembelajaran cerpen di sekolah.
Berdasarkan temuan penelitian yang telah disimpulkan, berikut
disampaikan beberapa saran yang berkaitan dengan manfaat penelitian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata pendapat siswa terhadap
nilai-nilai pendidikan karakter pada kumpulan cerpen karya I.B. Keniten dalam
pembelajaran cerpen adalah sesuai, sehingga kumpulan cerpen karya I.B. Keniten
dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran cerpen di sekolah. Untuk itu

79
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

cerpen karya I.B. Keniten perlu diperkenalkan dan dikembangkan lebih lanjut
kepada guru dan praktisi pendidikan lainnya sebagai salah satu alternatif dalam
pemilihan media pembelajaran khususnya sastra (cerpen).
Kepada guru pengajar Bahasa Indonesia sebaiknya menggunakan media
yang inovatif dalam pembelajaran sastra agar siswa dan siswi tidak merasa bosan,
seperti memberikan media cerpen dari karya I.B. Keniten untuk meningkatkan
keterampilan berpikir kreatif dan prestasi belajar siswa secara optimal, khususnya
dalam bidang sastra.
Bagi peneliti lain yang ingin melaksanakan penelitian yang sejenis
diharapkan lebih dapat mengembangkan penelitian ini dengan melibatkan sampel
yang lebih luas.

DAFTAR RUJUKAN

Aminuddin. 1990. Sekitar Masalah Sastra. Malang : Yayasan Asah Asih Asuh.

Dantes, Nyoman. 2008. “Pendidikan Teknohumanistik (Suatu Rangkian
Persspektif dan Kebijakan Pendidikan Mengahadapi Tantangan Global)”
(Makalah). Disampaikan Pada Seminar Pendidikan Diselenggarakan oleh
S2 Pendas PPs Undiksha 22 Juli 2008.

Endraswara. Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka
Widyatama.

Esten, Mursal. 1984. Kesusastraan. Bandung : Angkasa.

Junus, Umar. 1985. Resespsi Sastra:Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Keniten, I.B.W. 2013.Kumpulan Cerpen dalam Denpost yang Terbit Setiap
Minggu pada Halaman 7.

Keraf, Gorys. 1998. Komposisi. Flores : ND Pustaka.

Moleang, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja
Karya.

Nursito.2000. Ikhtisan Kesusastraan Indonesia. Yogyakarta: Adicipta Karya.

Pradopo, Rachmad Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra. Metode Sastra dan
Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

80
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta :
Gama Media.
Rochayah dan Suhayati, 1996. Saussure. Jakarta : Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa. Depdikbud.

Sudiati, Vero dan Widya Martaya. 1995. Kiat Menulis Cerita. Yogyakarta:
yayasan pustaka Nusantara.

Sudjiman, Panuti. 1990. Kamus Istilah Sastra. Jakarta : University Indonesia.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1991. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta:
Gramedia.

Sutresna, Ida Bagus. 2006. Modul Sejarah Sastra Indonesia. Singaraja: Undiksha.
Sutrisno, Sulastin. 1983. Hikayat Hang Tuah: Analisis Struktur dan Fungsi.
Yogyakarta: Gadjahmada University Press.

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra : Pengantar teori sastra. Jakarta:
Pustaka Jaya.

Wagiran. 2012. “Pengembangan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Hamemayu
Hayuning Bawana (Identifikasi Nilai-Nilai Karakter Berbasis Budaya)”
dalam Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun II, Nomor 3, Oktober 2012
hlm. 329.

81
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

STANDAR PROFESIONAL GURU

Oleh
Luh De Liska, S.Pd., M.Pd.

ABSTRAK
Standar profesionalitas guru adalah sesuatu ukuran yang resmi yang
dijadikan sebagai dasar untuk menentukan keprofesionalan guru. Pelaksanaan
standar profesionalitas guru sudah dilaksanakan dibeberapa Negara. Dalam
pelaksanaannya, untuk memenuhi standar profesionalitas guru, setidaknya seorang
guru dituntut untuk memiliki lima hal yaitu guru mempunyai komitmen pada
siswa dan proses belajarnya, guru menguasai secara mendalam bahan atau mata
pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada siswa, guru
bertanggungjawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi,
guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari
pengalamannya. Standar Profesionalisme Guru di Beberapa Negara Asia
kebanyakan mempunyai 9-14 standar, Standar Profesionalitas Guru di Indonesia
yaitu kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi. Upaya dalam meningkatkan
profesionalitas guru antara lain merespon tuntutan yuridis, memantapkan
komitmen, meningkatkan tanggung jawab profesi, memberikan yang terbaik
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan penguasaan ilmu
pengetahuan dan keterampilan melaksanakan pembelajaran, meningkatkan kontak
akademik, mendorong kerja sama kolega, mengembangkan kemampuan secara
sistematis dan melakukan refleksi, meingkatkan kepimpinan guru.
Kata kunci : standar profesional

ABSTRACT
The standard of teacher professionalism is an official measure that serves
as a basis for determining teacher professionalism. Implementation of
professional standards of teachers has been implemented in several countries. In
practice, to meet teacher professionalism standards, at least one teacher is
required to have five things: the teacher is committed to the students and the
learning process, the teacher master in depth the material or subjects taught and
how to teach to the students, the teacher is responsible for monitoring student
learning outcomes through various ways of evaluation, teachers are able to think
systematically about what it does and learn from experience. Teacher
Professionalism Standards in Some Asian Countries Most have 9-14 standards,
Teacher Professional Standards in Indonesia that are qualification, competence,
and certification. Efforts to improve teachers 'professionalism include responding
to juridical demands, strengthening commitments, increasing professional
responsibilities, providing the best for the intellectual life of the nation, enhancing
the mastery of science and learning skills, increasing academic contacts,
encouraging colleagues collaboration, developing systematic and do reflection,
improve teacher leadership.

Keywords: standard professional

82
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

1. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah.
Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu
keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang
berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Adapun
guru yang profesional itu sendiri adalah guru yang berkualitas, berkompeten, dan
guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu
mempengaruhi proses belajar siswa yang nantinya akan menghasilkan prestasi
belajar siswa yang lebih baik.
Dalam kasus dunia pendidikan di Indonesia, seringkali standar bagi
pemula atau guru baru belum dapat dipenuhi. Namun setelah mereka aktif sebagai
guru, kemudian ada langkah-langkah memenuhi standar tersebut. Misalnya para
guru yang masih under-standard tadi melakukan upaya sungguh-sungguh untuk
meningkatkan kualitas diri, baik dengan cara melanjutkan studi atau kegiatan lain
yang misalnya semisal. Untuk dapat melaksanakan tugasnya sebagai guru yang
baik, pemerintah Indonesia bersama berbagai lembaga terkait telah merumuskan
dan menyusun butir penting yang harus dipenuhi oleh para guru yang kemudian
disebut dengan standar profesionalitas guru.

2. PEMBAHASAN
A. Hakikat Standar Profesionalitas Guru
1. Pengertian Standar Profesionalitas Guru
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, standar berarti sesuatu yang dipakai
sebagai contoh atau dasar yang sah bagi ukuran, takaran, dan timbangan. Standar
dapat berarti juga dipahami sebagai kriteria minimal yang harus dipenuhi.
Pengertian lain menurut Wikipedia, standar adalah suatu norma atau persyaratan
yang biasanya berupa suatu dokumen formal yang menciptakan kriteria, metode,
proses, dan praktik rekayasa atau teknis yang seragam.

83
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Profesionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan
harus dilakukan oleh orang yang profesional. Istilah profesional aslinya adalah
kata sifat dari kata ”profession” (pekerjaan ) yang berarti sangat mampu
melakukan pekerjaan. Sebagai kata benda, profesional lebih berarti orang yang
melaksanakan sebuah profesi dengan menggunakan profesi sebagai mata
pencaharian. (Mc. Leod,1989). Dalam kamus bahasa Indonesia edisi kedua
(1991), guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya)
mengajar.
Jadi standar profesionalitas guru adalah sesuatu ukuran yang sah atau
resmi yang dijadikan sebagai dasar untuk menentukan keprofesionalan guru. Guru
yang memenuhi standar adalah guru yang memenuhi kualifikasi yang
dipersyaratkan dan memahami benar apa yang harus dilakukan, baik ketika di
dalam maupun di luar kelas. Di samping tugas mengajar sebagai tugas pokok
seorang guru, ada juga beberapa persoalan atau tugas prinsip yang semua guru
harus mengetahui dan menguasainya sebagai bagian dari tugas seorang guru yang
profesional yakni tugas administrasi kurikulum dan pengembangannya,
pengelolaan peserta didik, personel, prasarana, keuangan, layanan khusus, dan
hubungan sekolah-masyarakat.
2. Pelaksanaan Standar Profesionalitas Guru
Pelaksanaan standar profesionalitas guru sudah diterapkan di beberapa
Negara. Di bidang kurikulum, berkaitan dengan profesionalitasnya, seorang guru
harus benar-benar memahaminya, mampu mengembangkannya dan
menjadikannya sebagai pedoman proses belajar mengajarnya. Keberhasilan
lulusan sangat bergantung kepada isi kurikulum dan efektifitas pelaksanaanya.
Guru harus menguasai konsep dasar pengelolaan kurikulum, guru juga harus
memahami bagaimana menyikapi dan melakukan pengembangan kurikulum baik
dalam teori maupun praktik. Guru juga diminta memahami makna kurikulum baik
arti sempit, yakni sebagai sejumlah mata pelajaran yang disusun dan diberikan
disekolah dalam kelas, maupun dalam arti luas, yakni semua pengalaman belajar
yang diberikan kepada peserta didik selama belajar di sekolah tertentu mulai dari
masuk sekolah sampai tamat dari sekolah tersebut.

84
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Guru profesional tidak akan merasa lelah dan tidak mungkin
mengembangkan sifat iri hati, munafik, suka menggunjing, menyuap, malas,
marah-marah dan berlaku kasar terhadap orang lain, apalagi terhadap anak
didiknya. Guru sebagai pendidik dan murid sebagai anak didik dapat saja
dipisahkan kedudukannya, tetapi mereka tidak dipisahkan dalam mengembangkan
diri murid dalam mencapai cita-citanya. Di sinilah kemanfaatan guru kepada
orang lain atau murid benar-benar dituntut.
Dalam pelaksanaannya, untuk memenuhi standar profesionalitas guru,
setidaknya seorang guru dituntut untuk memiliki lima hal, yaitu:
a. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya.
b. Guru menguasai secara mendalam bahan atau mata pelajaran yang
diajarkannya serta cara mengajarnya kepada siswa.
c. Guru bertanggungjawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara
evaluasi.
d. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar
dari pengalamannya.
e. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam
lingkungan profesinya.
B. Standar Profesionalitas Guru di Beberapa Negara Asia
Di beberapa negara Asia proses pengembangan standarisasi sedang
berjalan untuk para guru dalam meningkatkan mutu pendidikan secara
keseluruhan. Diketahui guru adalah sebagai media perubahan karena perilaku,
sikap dan metode mereka yang dapat meningkatkan bahkan menghambat
kemampuan anak dalam belajar. Kebanyakan negara memiliki 9-14 standar.
Berikut beberapa contoh standar dan indikator yang dikumpulkan dari negara
yang berbeda.

1. Standar 1: Isi / Muatan Pengetahuan
Guru memahami konsep pokok, metode penelitian dan struktur dari mata
pelajaran dan mengetahui bagaimana menciptakan pengalaman belajar yang
berarti bagi siswa yang berbeda, serta menghubungkannya pada perkembangan

85
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

terkait dalam teori kependidikan. Guru menunjukkan perkembangan terkini dalam
teori kependidikan dan pedagogi khusus mata pelajaran berbasis penelitian. Guru
menunjukkan pengetahuan kebutuhan kurikulum sekolah.
2. Standar 2: Penyampaian Instruksi
Guru memiliki pengetahuan yang baik dalam strategi instruksi beragam dan
menggunakannya untuk mendorong perkembangan siswa dalam berpikir kritis,
menyelesaikan masalah, kemampuan belajar mandiri berdasar pengetahuan
tentang kedisiplinan, siswa yang beragam, masyarakat dan tujuan kurikulum.
Guru tahu bagaimana meningkatkan pembelajaran untuk siswa dengan beragam
karakteristik belajar melalui penggunaan materi, sumber daya manusia dan
teknologi yang beragam. Guru mengkombinasikan perannya selama proses
belajar-mengajar sebagai instruktur, fasilitator, penasehat atau pendengar
kaitannya dengan isi dan tujuan instruksi dan kebutuhan siswa. Guru
menunjukkan pengetahuan dan memahami proses akuisisi bahasa kedua dan
strategi untuk mendukung pembelajaran siswa dengan bahasa ibu yang berbeda.
3. Standar 3: Pelaksanaan dan Pengembangan Pribadi dan Profesionalisme
Guru terus-menerus merefleksikan dan mengevaluasi bagaimana pilihan dan
tindakan mempengaruhi siswa, dan mencari kesempatan secara aktif untuk
mengembangkan profesionalisme dan pribadi. Guru menunjukkan rasa
menghargai terhadap kebudayaan, agama, gender dan orientasi seksual masing-
masing siswa dan keluarga mereka. Guru menggunakan observasi kelas, informasi
tentang siswa, pengetahuan dan penelitian pedagogi sebagai sumber bagi
intropeksi aktif, evaluasi dan revisi praktis.
4. Standar 4: Pembelajaran dan Pengembangan
Guru memahami bagaimana individu tumbuh, berkembang dan belajar. Guru
menyediakan kesempatan belajar yang mendukung perkembangan intelektual,
sosial dan pribadi dari semua siswa.
a. Guru menunjukkan pengetahuan gaya dan kebutuhan pembelajaran yang
berbeda serta strategi untuk mengajar siswa dengan kebutuhan yang beragam
b. Guru memahami prinsip dan strategi manajemen kelas yang efektif,
disamping selalu mengingat aturan dan kebijakan resmi

86
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

c. Guru menggunakan informasi tentang keluarga, kebudayaan dan lingkungan
masyarakat siswa dalam menghubungkan instruksi terhadap pengalaman
siswa dan pelajaran sebelumnya.
d. Guru mengenalkan konsep dan prinsip pada tingkat kesulitan yang berbeda
sehingga hal ini dapat dimengerti bagi para siswa di tingkat perkembangan
yang bervariasi.
5. Standar 5: Kemampuan Komunikasi
Guru menggunakan pengetahuan yang efektif, tertulis, lisan, non-lisan, dan tehnik
komunikasi visual untuk membantu perkembangan mengekspresikan diri,
berkolaborasi dan interaksi yang mendukung di dalam kelas. Guru memahami
teori komunikasi, perkembangan bahasa, dan peran bahasa dalam pembelajaran.
Guru menggunakan tehnik kuisioner yang efektif dan menstimulasi diskusi dalam
cara yang berbeda untuk tujuan instruksional tertentu. Guru menerapkan
kemampuan mendengarkan yang efektif, penyelesaian konflik dan fasilitasi
kelompok.
6. Standar 6: Asesmen, Pengawasan dan Penyediaan Umpan-Balik yang Efektif
Guru mempunyai jangkauan yang luas dalam strategi asesmen formatif dan
sumatif yang efektif serta menggunakannya untuk mendukung kelanjutan hasil
perkembangan intelektual, sosial, fisik dan emosional bagi semua siswa. Guru
memahami tujuan, karakteristik dan keterbatasan dari jenis asesmen yang berbeda
(misalnya formatif, sumatif dan asesmen berbasis otentik dan kurikulum), Guru
memahami bagaimana menggunakan hasil asesmen dalam merefleksikan, dan
memodifikasi pendekatan belajar-mengajar, Guru mengetahui metode
pengawasan kemajuan siswa dengan kesulitan belajar atau dengan cacat
ringan/sedang.

C. Standar Profesionalitas Guru di Indonesia
Standar profesionalitas guru di Indonesia mengacu pada beberapa landasan
yuridis yang ada di Indonesia, antara lain sebagai berikut:
1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal
42 pada ayat (1), (2), dan (3), Berbunyi:

87
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

(1) Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan
jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
(2) Pendidik untuk pendidikan formal pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi dihasilkan oleh perguruan
tinggi yang terakreditasi.
(3) Ketentuan mengenai kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun
2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
a. Kualifikasi Akademik Guru SD/MI
Guru pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki
kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV)
atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan SD/MI (D-IV/S1
PGSD/PGMI) atau psikologi yang diperoleh dari program studi
yang terakreditasi.
b. Standar Kompetensi Guru
Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat
kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan
profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.
3. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Bab IV Bagian
Satu
BAB IV
GURU

Bagian Kesatu
Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi

Pasal 8
Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat
jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.
Pasal 9
Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui
pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat.

Pasal 10

88
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

(1) Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi guru sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 11
(1) Sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diberikan kepada guru
yang telah memenuhi persyaratan.
(2) Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki
program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh
Pemerintah.
(3) Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 12
Setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan
yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu.

Pasal 13
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran untuk
peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan
yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, dan masyarakat.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai anggaran untuk peningkatan kualifikasi
akademik dan sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru pada Bab II

BAB II
KOMPETENSI DAN SERTIFIKASI

Pasal 2
Guru wajib memiliki Kualifikasi Akademik, kompetensi, Sertifikat Pendidik,
sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.

Bagian Kesatu
Kompetensi
Pasal 3
(1) Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 merupakan seperangkat
pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai,
dan diaktualisasikan oleh Guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
(2) Kompetensi Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

89
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

(3) Kompetensi Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat holistik.
(4) Kompetensi pedagogik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan
kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang
sekurangkurangnya meliputi:
a. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
b. pemahaman terhadap peserta didik;
c. pengembangan kurikulum atau silabus;
d. perancangan pembelajaran;
e. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
f. pemanfaatan teknologi pembelajaran;
g. evaluasi hasil belajar; dan
h. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya.
(5) Kompetensi kepribadian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-
kurangnya mencakup kepribadian yang:
a. beriman dan bertakwa;
b. berakhlak mulia;
c. arif dan bijaksana;
d. demokratis;
e. mantap;
f. berwibawa;
g. stabil;
h. dewasa;
i. jujur;
j. sportif;
k. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;
l. secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri; dan
m. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
(6) Kompetensi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kemampuan
Guru sebagai bagian dari Masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi
kompetensi untuk:
a. berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun;
b. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;
c. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga
kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik;
d. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma
serta sistem nilai yang berlaku; dan
e. menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.
(7) Kompetensi profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan
kemampuan Guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan,
teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya
meliputi penguasaan:
a. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program
satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan
diampu; dan
b. konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang
secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan,
mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.

90
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

(8) Kompetensi Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (4) sampai dengan ayat (7)
dirumuskan ke dalam:
a. standar kompetensi Guru pada satuan pendidikan di TK atau RA, dan pendidikan
formal bentuk lain yang sederajat;
b. standar kompetensi Guru kelas pada SD atau MI, dan pendidikan formal bentuk
lain yang sederajat;
c. standar kompetensi Guru mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran pada SMP
atau MTs, SMA atau MA, SMK atau MAK dan pendidikan formal bentuk lain
yang sederajat;
d. dan standar kompetensi Guru pada satuan pendidikan TKLB, SDLB, SMPLB,
SMALB dan pendidikan formal bentuk lain yang sederajat.
(9) Standar kompetensi Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dikembangkan
oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan dengan Peraturan
Menteri.

Bagian Kedua
Sertifikasi
Pasal 4
(1) Sertifikat Pendidik bagi Guru diperoleh melalui program pendidikan profesi yang
diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga
kependidikan yang terakreditasi, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah
maupun Masyarakat, dan ditetapkan oleh Pemerintah.
(2) Program pendidikan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diikuti
oleh peserta didik yang telah memiliki Kualifikasi Akademik S-1 atau D-IV sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Pasal 5
(1) Kualifikasi Akademik Guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2)
ditunjukkan dengan ijazah yang merefleksikan kemampuan yang dipersyaratkan
bagi Guru untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik pada jenjang, jenis, dan
satuan pendidikan atau mata pelajaran yang diampunya sesuai dengan standar
nasional pendidikan.
(2) Kualifikasi Akademik Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh
melalui pendidikan tinggi program S-1 atau program D-IV pada perguruan tinggi
yang menyelenggarakan program pendidikan tenaga kependidikan dan/atau
program pendidikan nonkependidikan.
(3) Kualifikasi Akademik Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bagi calon Guru
dipenuhi sebelum yang bersangkutan diangkat menjadi Guru.
(4) Kualifikasi Akademik Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bagi Guru
Dalam Jabatan yang belum memenuhinya, dapat dipenuhi melalui:
a. pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2); atau
b. pengakuan hasil belajar mandiri yang diukur melalui uji kesetaraan yang
dilaksanakan melalui ujian komprehensif oleh perguruan tinggi yang terakreditasi.

5. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan bab VI

91
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Pendidikan harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen
pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan beberapa landasan yuridis
di atas, dapat disimpulkan bahwa standar profesionalitas guru di Indonesia yaitu
guru harus memiliki kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi. Kualifikasi akademik
yang dimaksud adalah S1 atau D-IV, sedangkan kompetensi yang dimaksud
adalah kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Sertifikasi
adalah sertifikat pendidik guru yang diperoleh melalui program pendidikan profesi
yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan
tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan Pemerintah. Sertifikasi
pendidik diselenggarakan oleh Pemerintah dan dilaksanakan secara objektif,
transparan, dan akuntabel.

D. Upaya Peningkatan Profesionalitas Guru
Dalam pelaksanaannya, tidak semua guru memenuhi standar profesionalitas
yang telah ditentukan. Hal demikian membuat pelaksanaan pendidikan menjadi
kurang maksimal, misalnya dikarenakan seorang guru yang kurang memiliki
kompeten. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya yang dilakukan untuk
mengatasi hal tersebut, antara lain yaitu: Merespon tuntutan yuridis,
Memantapkan komitmen, Meningkatkan tanggung jawab profesi, Memberikan
yang terbaik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, Meningkatkan penguasaan
ilmu pengetahuan dan keterampilan melaksanakan pembelajaran, Meningkatkan
kontak akademik, Mendorong kerja sama kolega, Mengembangkan kemampuan
secara sistematis dan melakukan refleksi, Meningkatkan kepimpinan guru,
Penetapan peraturan yang dijadikan dasar hukum bagi posisi legalitas guru
professional, Peningkatan kompetensi guru dalam jabatan melalui pelatihan dan
atau pendidikan lanjut untuk memenuhi persyaratan guru professional sesuai
ketentuan, Pemberlakuan sertifikat profesi pendidik sebagai persyaratan formal
guru professional, Pengangkatan guru baru yang memenuhi persyaratan formal
guru profesional secara bertahap, Pemberian tunjangan profesi bagi guru
profesional yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan,
Profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau

92
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya, Profesionalisme bukan
sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap,
pengembangan professionalism lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki
keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.

3. SIMPULAN
Standar profesionalitas guru adalah sesuatu ukuran yang sah atau resmi
yang dijadikan sebagai dasar untuk menentukan keprofesionalan guru.
Pelaksanaan standar profesionalitas guru sudah dilaksanakan dibeberapa Negara.
Dalam pelaksanaannya, untuk memenuhi standar profesionalitas guru, setidaknya
seorang guru dituntut untuk memiliki lima hal, yaitu: Guru mempunyai komitmen
pada siswa dan proses belajarnya, Guru menguasai secara mendalam bahan atau
mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada siswa, Guru
bertanggungjawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi,
Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari
pengalamannya, Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar
dalam lingkungan profesinya. Standar Profesionalisme Guru di Beberapa Negara
Asia kebanyakan mempunyai 9-14 standar, antara lain (a) Standar 1: Isi/Muatan
Pengetahuan, (b) Standar 2: Penyampaian Instruksi, (c) Standar 3: Pelaksanaan
dan Pengembangan Pribadi dan Profesionalisme, (d) Standar 4: Pembelajaran dan
Pengembangan, (e) Standar 5: Kemampuan Komunikasi, dan (f) Standar 6:
Asesmen, Pengawasan dan Penyediaan Umpan-Balik yang Efektif.
Standar Profesionalitas Guru di Indonesia yaitu kualifikasi, kompetensi,
dan sertifikasi. Kualifikasi akademik yang dimaksud adalah S1 atau D-IV,
sedangkan kompetensi yang dimaksud adalah kompetensi pedagogik, kepribadian,
sosial, dan profesional. Sertifikasi adalah sertifikat pendidik guru yang diperoleh
melalui program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi
yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan
ditetapkan Pemerintah. Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh Pemerintahdan
dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Upaya dalam
meningkatkan profesionalitas guru antara lain: Merespon tuntutan yuridis,
Memantapkan komitmen, Meningkatkan tanggung jawab profesi, Memberikan

93
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

yang terbaik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, Meningkatkan penguasaan
ilmu pengetahuan dan keterampilan melaksanakan pembelajaran, Meningkatkan
kontak akademik, Mendorong kerja sama kolega, Mengembangkan kemampuan
secara sistematis dan melakukan refleksi, Meningkatkan kepimpinan guru.
Dengan memperhatikan peran guru dan tugas guru sebagai salah satu faktor
determinan bagi keberhasilan pendidikan, maka keberadaan dan peningkatan
profesi guru menjadi wacana yang sangat penting. Oleh karena itu, bagi pendidik
maupun calon pendidik hendaknya lebih memperhatikan standar profesionalitas
guru khususnya bagi pendidik yang ada di Indonesia. Dengan demikian,
pelaksanaan pendidikan akan maksimal dan kualitas pendidikan pun juga akan
meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Supervisi, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004.

Burhanuddin, Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Konsep Pendekatan dan
Penerapan Pembinaan Profesional, Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang, 2007.

Dharma, Surya, Penilaian Kinerja Guru, Jakarta: Direktorat Tenaga
Kependidikan Ditjen PMPTK, 2008.

E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan,Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru.

Rahardi, R. Kunjana, “Profesionalisme: Tuntutan Era Globalisasi”, Arena
Almamater, No. 42 Tahun XII, Januari – Maret 1997.

Sahertian, Piet A., Konsep-Konsep dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam
Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta,
2000.

Supriadi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Yogyakarta: Adicita Karya
Nusa, 1999.

Suryasubrata, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 1997.

Syaiful Sagala. 2008. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan.
Bandung: Alfabeta, CV.

94
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

95
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

KEMAMPUAN MENULIS CERITA FABEL DENGAN PENGGUNAAN
MEDIA KOMIK PADA SISWA KELAS VII SMP NASIONAL DENPASAR
TAHUN PELAJARAN 2016/2017

oleh
Ni Made Suarni
FPBS IKIP PGRI Bali

ABSTRAK
Penulisan kreatif adalah salah satu wujud kegiatan apresiasi sastra.
Penulisan kreatif bisa dilakukan dengan menulis teks cerita fabel. Kepaduan
merangkai kata dan daya khayal seseorang adalah salah satu yang diperlukan
dalam penulisan sebuah cerita fabel. Kemampuan menulis teks cerita fabel siswa
terlihat masih rendah. Hal ini bisa dilihat dari rendahnya nilai siswa yang belum
memenuhi KKM. Berdasarkan hal tersebut, rumusan masalah pada penelitian ini
adalah ; (1) Apakah penggunaan media komik dapat meningkatkan kemampuan
menulis teks cerita fable pada siswa VII SMP Nasional Denpasar Tahun Pelajaran
2016/2017, (2) Bagaimanakah respon siswa terhadap pemanfaatan media komik
untuk meningkatkan kemampuan menulis teks cerita fabel pada siswa VII SMP
Nasioanal Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017. Penelitian ini bertujuan (1)
Untuk mengetahui efektifitas pemanfaatan media komik dalam meningkatkan
kemampuan menulis cerita fabel pada siswa SMP Nasional Denpasar Tahun
Pelajaran 2016/2017, (2) Untuk mengetahui respon siswa terhadap pemanfaatan
media komik dalam meningkatkan kemampuan menulis cerita fabel pada siswa
VII SMP Nasional Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017.
Landasan teori penelitian ini meliputi: (1) pengertian apresiasi sastra, (2)
manfaat pembelajaran apresiasi sastra, (3) tahap-tahap apresiasi sastra, (4)
pengertian media, (5) media komik, (6) pengertian menulis kreatif, (7) pengertian
cerita rakyat, (8) pengertian fabel. (9) struktur teks cerita fabel. Pengumpulan data
dengan metode tes dan observasi, sedangkan analisis data metode analisis statistik
deskriptif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan media komik dapat
meningkatkan kemampuan menulis cerita fabel pada siswa kelas VII SMP
Nasional Denpasar. Hal ini dibuktikan nilai rata-rata pada siklus I dengan nilai
rata-rata 70,19 dan meningkat lagi pada siklus II dengan nilai rata-rata 83,65.
Guru disarankan untuk menerapkan media komik dalam upaya meningkatkan
kemampuan menulis teks cerita fabel.

Kata kunci: media komik, menulis cerita fabel

96
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

ABSTRACT

Creative writing is one manifestation of literary appreciation activities.
Creative writing can be done by writing text fable stories. The combination of
words and the imagination of a person is one that is necessary for writing a fable
story. Ability to write a text of fable students story looks still low. This can be seen
from the low value of students who have not met the KKM. Based on this, the
problem formulation in this research is; (1) Is the use of comic media can improve
the ability to write fable story text on VII students of SMP Nasional Denpasar
Lesson Year 2016/2017, (2) How student response to the use of comic media to
improve the ability to write fable story text on student VII SMP Nasional
Denpasar Lesson Year 2016/2017. This study aims to (1) To know the
effectiveness of the use of comic media in improving the ability to write fable story
text on VII students of SMP Nasional Denpasar Lesson Year 2016/2017, (2) To
know the student's response to the use of comic media in improving the ability to
write story text fable on student VII SMP Nasional Denpasar Lesson Year
2016/2017.

The foundations of this research theory include (1) understanding of
literary appreciation, (2) learning benefits of literary appreciation, (3) literary
appreciation stages, (4) understanding of media, (5) comic media, (6) 7)
understanding of folklore, (8) understanding fable. (9) the text structure of fable
stories. Data collection by test method and observation, while data analysis
method of descriptive statistical analysis.

The results showed that the use of comic media can improve the ability to
write fable text stories on the seventh-grade students of SMP Nasional Denpasar.
This is evidenced by the average value in cycle I with an average value of 70.19
and increased again in cycle II with an average value of 83.65. Teachers are
encouraged to apply comic media in an effort to improve the ability to write fable
stories.

Keywords: comic media, writing fable story text

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan
untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang
lain (Tarigan, 1994:3). Terkadang, makna menulis sebagai suatu keterampilan
disepadankan dengan pengertian mengarang karena pada dasarnya menulis adalah
mengarang atau merangkai kalimat.

97
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Karya sastra hadir ditengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi
pengarang serta refleksinya tentang kejadian atau peristiwa yang terjadi di
sekitarnya. Isi karya sastra mampu meningkatkan emosional pembaca dan peka
terhadap keadaan. Melalui karya sastra juga, seseorang mampu menghargai karya
orang lain. Riris K. Toha-Sarumpaet (dalam Winarni , 2014 : 2 ) menyatakan
sastra anak merupakan karya yang dari segi bahasa mempunyai nilai estetis dari
segi isi mengandung nilai-nilai pendidikan moral yang dapat memperkaya
pengalaman jiwa bagi anak. Namun pembelajaran sastra di sekolah sering
mendapat sorotan bahwa pembelajaran tersebut telah gagal. Siswa kurang
berminat terhadap sastra. Padahal sastra memberi dan memiliki kemungkinan
siswa lebih banyak untuk memahami arti hidup dan kehidupan.
Bertahannya pengajaran sastra di sekolah disebabkan oleh nilai penyajian sastra
mempunyai peranan dalam mencapai berbagai aspek pendidikan dan pengajaran,
seperti aspek susila, sosial, perasaan, sikap, dan keagamaan.
Sehubungan dengan hal itu, menulis sastra dan nonsastra seharusnya
diseimbangkan di sekolah. Akan tetapi, pada kenyataannya, menulis sastra
dinomorduakan dibandingkan dengan menulis nonsastra seperti menulis surat,
opini, menulis kalimat, dan menulis paragraf. Padahal, menulis sastra juga sama
pentingnya dengan menulis nonsastra, karena dengan menulis sastra siswa mampu
melatih imajinasi serta menuangkan ide-ide dengan gaya tulis yang indah.
Sastra penting dipelajari dan dipahami sebagai sarana berbagai
pengalaman (sharring). Jadi pengajaran sastra juga penting diajarkan. Tidak
hanya membaca dan menelaah, tetapi juga menulis karya sastra. Selain itu, dalam
kurikulum 2013 juga ditegaskan bahwa pembelajaran sastra akan menjadi lebih
bermakna bagi siswa, apabila pembelajaran tersebut lebih ditujukan ke arah
apresiasi sastra, bukan diberikan pengetahuan tentang kesastraan seperti, teori
sastra dan sejarah sastra. Dengan kata lain, siswa juga diharapkan mampu
melakukan apresiasi terhadap sastra.
Salah satu wujud kegiatan apresiasi sastra adalah melakukan upaya
penulisan kreatif. Upaya penulisan kreatif dapat dilakukan dengan menulis teks
cerita fabel. Dalam menulis fabel, perlu adanya kepaduan antara kemampuan
merangkai kata dan daya khayal seseorang. Selain itu, seseorang dapat pula

98
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

menulis teks cerita fabel karena pada hakikatnya, sastra tidak akan lahir dari
kekosongan atau kevakuman dalam masyarakat.
Tujuan menulis teks cerita fabel diajarkan di sekolah-sekolah adalah untuk
melatih imajinasi siswa dengan mengungkapkan atau menceritakan kejadian yang
dialami di kehidupannya dalam bentuk tulisan. Hal seperti ini diharapkan mampu
dimanfaatkan oleh siswa kelak jika mereka menentukan jalan hidupnya sebagai
seorang penulis.
Menulis teks cerita fabel adalah seni dalam menyajikan cerita. Sebuah teks
cerita tidak menceritakan watak dengan lengkap. Yang dikemukakan hanya
watak, yaitu keserakahan, kesombongan, dan kebaikan. Padahal dalam
kenyataannya, watak bisa berubah dari berbagai macam aspek. Dengan menulis
teks cerita fabel, diharapkan siswa tidak hanya mengembangkan kemampuan
membuat karangan, tetapi juga kecermatan dalam mengembangkan informasi
tentang suatu kejadian atau peristiwa yang terjadi kepada pembaca menggunakan
bahasa yang baik dan benar.
Di sisi lain, keterampilan menulis teks cerita fabel cukup kompleks karena
dalam menulis teks cerita fabel ini, seseorang diharapkan mampu
mengembangkan karangan. Pengembangan teks cerita fabel ini bertujuan
membentuk alur cerita dengan memperhatikan keterpaduan judul dengan isi,
ketepatan penokohan, ketepatan latar dan ketepatan penggunaan gaya bahasa,
karena itu pengembangan dan peningkatan kemampuan menulis dalam
pembelajaran memiliki peluang besar terjadi hambatan. Dalam penelitian ini
media yang digunakan adalah media komik. Adapun bentuk komik yang
digunakan adalah bentuk komik strip dan komik tanpa gambar. Komik strip
merupakan suatu rangkaian gambar yang terpisah, tetapi saling berkaitan
membentuk suatu cerita disertai dengan teks sebagai penjelasan gambar.
Sedangkan komik tanpa gambar adalah suatu teks cerita yang tidak disertai
rangkaian gambar.
Hambatan dalam pengembangan dan peningkatan kemampuan menulis
teks cerita fabel sebagaimana digambarkan, juga terjadi di kelas VII SMP
Nasional Denpasar. Berdasarkan observasi awal, diperoleh fakta bahwa
khususnya keterampilan menulis teks cerita fabel siswa kelas VII di sekolah

99
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

tersebut belum cukup memadai dan belum mencapai tujuan yang dikehendaki
dalam kurikulum. Siswa belum mampu menuangkan idenya dalam bentuk tulisan,
selain itu siswa sulit menentukan kalimat yang digunakan untuk memulai
tulisannya. Selain itu, siswa terkendala oleh sarana dan prasarana sehingga
pembelajaran belum maksimal yang mengakibatkan hasil pembelajaran pun tidak
maksimal.
Berdasarkan hasil pengamatan langsung terhadap siswa kelas VII SMP
Nasional Denpasar, peneliti menemukan permasalahan tentang kurangnya
kemampuan siswa dalam menulis, terutama menulis teks cerita. Hal tersebut
dibuktikan dengan nilai siswa yang belum sepenuhnya memenuhi kriteria
ketuntasan minimal (KKM) yang diharapkan. Ketuntasan siswa tersebut berpijak
pada ketentuan KKM mata pelajaran bahasa Indonesia yang telah ditetapkan
sebesar 75. Apabila siswa mendapatkan nilai kurang dari 75, siswa belum
dikatakan tuntas.
Dalam menulis teks cerita fabel dituntut kecermatan guru dalam
menentukan dan menerapkan metode dan strategi pengajaran yang sesuai dengan
pembelajaran. oleh karena itu, guru dituntut mampu menggunakan metode
pengajaran yanag bervariasi agar siswa memiliki keantusiasan dalam mengikuti
pembelajaran. Selain itu, penggunaan metode dan strategi yang tepat akan
mempengaruhi pencapaian ketuntasan hasil belajar siswa yang telah ditentukan.
Untuk mengatasi masalah yang dihadapi guru dalam menulis teks cerita
fabel di kelas VII SMP Nasional Denpasar, siswa hendaknya diarahkan untuk
menulis teks cerita fabel dengan cara-cara yang mudah. Guru dapat menerapkan
pembelajaran menulis teks cerita menggunakan beberapa media yang dapat
mendukung peningkatan keterampilan menulis teks cerita fabel. Media yang
sesuai dengan karakteristik sebagai karangan yang paling dekat dengan siswa,
yaitu hal-hal yang bersentuhan langsung dengan siswa dalam kehidupan sehari-
hari. Pembelajaran yang dimaksud adalah dengan memanfaatkan media komik.
Media komik dipandang sesuai untuk meningkatkan keterampilan siswa di dalam
menulis teks cerita fabel. Karena komik dapat merangsang imajinasi siswa dan
siswa secara langsung dapat melihat apa yang diceritakan didalam komik tersebut

100
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

melalui gambar yang ada, jadi siswa dapat secara konkret melihat peristiwa yang
terjadi di dalam komik tersebut.
Melalui media komik, anak-anak diharapkan mampu terpancing untuk
menumbuhkan minat dan menuangkan ide serta kreatifitas untuk menulis cerita.
Selain itu, komik merupakan salah satu media visual yang cukup komunikatif.
Komik sudah sangat dikenal dalam kehidupan anak-anak dan remaja sebagai
bahan bacaan. Komik memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai media penghibur
sekaligus media pembelajaran. Dengan komik, kita diajak untuk mengenal
lingkungan di samping meningkatkan imajinasi, fantasi, dan jiwa kreatif.
Sekarang ini, komik banyak diminati oleh masyarakat kita karena keberhasilannya
mengungkapkan cerita dan gagasan kepada pembaca secara menarik dan mudah
dimengerti melalui ungkapan-ungkapan visual yang beruntun. Oleh karena itu,
dengan media komik ini, diharapkan mampu menumbuhkan keantusiasan siswa
dalam mengikuti pembelajaran menulis teks cerita fabel. Dengan menggunakan
media komik dalam pembelajaran menulis teks cerita fabel, siswa akan
termotivasi untuk aktif karena siswa tidak hanya belajar, tetapi juga mendapatkan
hiburan dengan membaca komik tersebut.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, ada beberapa permasalahan
yang akan dikaji dalam penelitian ini sebagai berikut.
1) Apakah pemanfaatan media komik dapat meningkatkan kemampuan menulis
teks cerita fabel pada siswa kelas VII SMP Nasional Denpasar Tahun
Pelajaran 2016/2017?
2) Bagaimanakah respon siswa terhadap pemanfaatan media komik untuk
meningkatkan kemampuan menulis teks cerita fabel pada siswa kelas VII
SMP Nasional Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017?
2. LANDASAN TEORI

Suatu penelitian akan dapat mencapai hasil yang optimal apabila
didukung oleh teori yang relevan dengan objek yang dibahas. Ini berarti semakin
kuat teori yang mendukung penelitian tersebut, semakin kuat pula hasil yang
dicapai. Landasan teori memiliki arti penting dalam mendukung sebuah
penelitian.

101
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

2.1 Pengertian Apresiasi Sastra

Menurut pendapat Sumardjo & Saini K.M (1991 : 3), sastra adalah
ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide,
semangat, keyakinan, dalam suatu bentuk gambaran, konkret yang
membangkitkan pesona dengan alat bahasa.

2.2 Tujuan Pengajaran Apresiasi Sastra

Tujuan pengajaran apresiasi sastra secara umum bukan hanya pengenalan
semata saja, tetapi dapat menanamkan rasa peka dan cinta terhadap karya sastra
dan meningkatkan mutu hasil sastra, sehingga siswa bisa menjadi apreasiator yang
baik. Tujuan pengajaran apresiasi sastra menurut Sumardjo (1995 : 32) adalah
agar para siswa mencintai dan menggemari karya sastra.

2.3 Manfaat Pengajaran Apresiasi Sastra

Karya sastra ditulis dan dikembangkan dari waktu ke waktudengan tujuan
agar dapat dibaca oleh para pembaca atau penikmat sastra. Kegunaan sastra,
termasuk drama dapat mendidik manusia agar memahami kehidupan lebih baik,
sehingga dapat menempa hidup dan semakin tahu tentang hidupnya.

Drama menjadi wahana bagi pendidikan bangsa. Pendidikan terbagi
menjadi dua hal, yaitu (a) pendidikan akhlak, dan (b) pendidikan kecerdasan.
Keduanya ada dalam pentas drama ( Endraswara, 2011 : 289).

2.4 Tahap-Tahap Apresiasi Sastra

Keberhasilan pengajaran sastra juga harus didasarkan atas tahapan atau
tingkatan yang terdapat dalam metode pengajaran sastra. Tahap-tahap apresiasi
yang dipakai patokan pengajaran pembinaan sastra yaitu :

1. Tahap Penikmatan
2. Tahap Penghargaan

102
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

3. Tahap Pemahaman
4. Tahap Penghayatan
5. Tahap Implikasi

2.5 Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti
‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’. Dalam bahasa arab, media adalah perantara
atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Menurut Gerlach dan
Ely (dalam Arsyad,2013:3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara
garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang
membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.
Dalam pengertian ini, guru, buku teks dan lingkungan sekolah merupakan media.
Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung
diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap,
memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Manfaat Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar Siswa menurut Sudjana dan
Rivai (dalam Arsyad 2013 : 28) yaitu :

1. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar.
2. Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami
oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan
pembelajaran.
3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal
melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru
tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam
pelajaran.
4. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya
mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,
melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain.

103
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

2.6 Media Komik
Dalam media komik, akan dibahas beberapa hal diantaranya sebagai
berikut : (1) Pengertian komik, (2) komik secara global, (3) komik sebagai media
grafis yang efektif.

2.7 Pengertian Menulis Kreatif

Bila dilihat dari bentuk katanya, menulis kreatif berasal dari dua kata yaitu
menulis dan kreatif. Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa
menyatakan bahwa, menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan
ekspresif. Keterampilan menulis tidak datang secara otomatis, tetapi harus melalui
latihan dan praktek yang banyak dan teratur serta memiliki pemahaman tentang
struktur bahasa dan kosa kata yang lebih banyak (Tarigan, 1994:4).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menulis kreatif merupakan
kegiatan menulis sebuah karya sastra yang terlebih dahulu harus melalui proses
latihan dalam menciptakan sebuah tulisan-tulisan baik dalam bentuk prosa,puisi
maupun drama.

2.8 Pengertian Cerita Rakyat

Menurut Rampan (2014:1) cerita rakyat adalah cerita yang hidup di dalam
lingkungan kolektif tertentu. Diangkat darai istilah bahasa inggris folktale. Dalam
kancah keilmuan, cerita rakyat dikenal dalam sebutan inggrisnya sebagai folklore
yang merujuk bahwa cerita rakyat merupakan milik suatu masyarakat tertentu
yang berbeda dari masyarakat lainnya. Folklore bukan hanya berupa cerita rakyat
yang disimpan di dalam berbagai hal lainnya seperti berbagai isyarat, alat
pembantu pengingat, nyanyian, permainan anak-anak, peribahasa, cerita, teka-
teki, dan sebagainya yang dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal.

2.9 Pengertian Fabel

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, fabel yang berasal dari bahasa
Inggris fable adalah cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang
pelakunya diperankan oleh binatang.

104
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Dongeng binatang (fabel) adalah dongeng yang ditokohi binatang
peliharaan dan binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, binatang melata
(reptillia), ikan, dan serangga. Binatang-binatang itu dalam cerita jenis ini dapat
berbicara dan berakal budi seperti manusia.
Dengan demikian dongeng binatang menyimbolkan binatang dalam setiap ceritanya,
dimana binatang-binatang itu memiliki watak seperti manusia, berbicara, dan berakal
budi. Seolah-olah binatang itu hidup dan memiliki kebudayaan masyarakat.

2.10 Struktur Teks Cerita Fabel

Menurut, Wahono, dkk (2013 : 6) fabel memiliki struktur sebagai berikut :

1. Judul (Kepala karangan yang berfungsi mengarahkan pikiran pembaca tentang
gambaran umum isi fabel)

2. Perkenalan (memperkenalkan para pelaku, hal yang dialami pelaku, dan tempat
peristiwa terjadi)

3. Komplikasi (konflik muncul dan para pelaku mulai beraksi terhadap konflik,
kemudian konflik meningkat)
4. Klimaks (konflik mencapai puncaknya)
5. Penyelesaian (konflik terpecahkan dan menemukan penyelesaiannya)
6. Amanat/pesan moral (amanat dapat ditulis secara tersurat atau tersirat)

3. METODE PENELITIAN
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2016:1).
Penelitian ini menggunakan empat macam metode yaitu: (1) metode penentuan
subjek penelitian, (2) metode pendekatan subjek penelitian, (3) metode
pengumpulan data, (4) metode pengolahan data.

3.1 Metode Penentuan Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Nasional
Denpasar tahun pelajaran 2016/2017. Jumlah siswa dikelas ini sebanyak 28 siswa.

105
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

3.2 Metode Pendekatan Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah setiap individu yang akan diteliti. Dalam
menentukan subjek penelitian, ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan.
Pertama, meneliti semua subjek yang ada, yang dikenal dengan penelitian
populasi.Kedua meneliti sebagian subjek dari jumlah populasi yang ada disebut
penelitian sampel.

3.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian yang dilakukan terdapat dua jenis data yang diteliti
adalah sebagai berikut.
(1) Data tentang kemampuan menulis teks cerita fabel siswa kelas VII SMP
Nasional Denpasar. Dalam pengumpulan data mengenai kemampuan
menulis teks cerita fabel tersebut akan digunakan tes unjuk kerja.
(2) Data tentang respon siswa di dalam penerapan media komik untuk
meningkatkan pembelajaran menulis teks cerita fabel akan digunakan
metode observasi di dalam pengumpulan data.

3.4 Metode Pengolahan Data
Setelah semua data terkumpul, langkah selanjutnya adalah pengolahan
data. Metode pengolahan data adalah suatu cara yang digunakan untuk
menganalisis data mentah, yang didapat dari sumber penelitian agar menjadi data
yang sesuai dari tujuan penelitian.

3.4.1 Menentukan Kriteria Predikat
Untuk menentukan kriteria predikat kemampuan siswa dalam menganalisis
naskah drama, maka skor standra yang diperoleh harus dikonversikan dengan
kriteria predikat. Adapun kriteria predikat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut.

106
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Tabel 3.1 Kriteria Predikat Kemampuan Menulis Teks Cerita Fabel dengan
Menggunakan Media Komik pada Siswa Kelas VII SMP Nasional
Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017
Skor Standar Predikat
86-100 A (Baik Sekali)
75-85 B (Baik)
65-74 C (Cukup)
58-64 D (Kurang)

3.4.2 Mencari Skor Rata-Rata
Setelah skor standar kriteria pemberian predikat, maka data tersebut
diubah menjadi skor rata-rata. Untuk mencari skor rata-rata digunakan rumus
seperti berikut ini.

(Nurkancana & Sunartana, 1992:175)

Keterangan:
M = Mean (nilai rata-rata)
∑fx = Jumlah semua skor
N = Jumlah sampel

4. PENYAJIAN HASIL PENELITIAN
Pada bab ini akan disajikan data hasil penelitian mengenai
Kemampuan Menulis Teks Cerita Fabel dengan Menggunakan Media Komik
pada Siswa Kelas VII SMP Nasional Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017.
Secara garis besar penyajian hasil penelitian ini mencakup : (1) hasil
pengumpulan data, (2) analisis data hasil tes, (3) simpulan data hasil tes, (4)
hasil pengumpulan data kuesioner, (5) data hasil wawancara, dan (6) simpulan
analisis data wawancara. Hasil tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

Tabel 4.1 Skor Standar dan Predikat Kemampuan menulis Teks Cerita Fabel
Siswa Kelas VII SMP Nasional Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017
pada Siklus I

107
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Skor Skor
No Nama Siswa Predikat KKM
Mentah Standar
1. Ade Melinia Putri, Luh 16 80 Baik Tuntas
Belum
2. Trisna Dewi, Ni Kadek 13 65 Cukup
Tuntas
Adinda Adhelia Maharani,
3. 16 80 Baik Tuntas
Made
4. Wahyu Waidika, I Made 16 80 Baik Tuntas
Belum
5. Priska Resanti, Ni Kadek 13 65 Cukup
Tuntas
Cristiani Kilapong,
6. 17 85 Baik Tuntas
Komang
Agus Surya Adnyana, I Belum
7. 13 65 Cukup
Made Tuntas
Dewi Pradnyani Putri, Ni Belum
8. 13 65 Cukup
Putu Tuntas
Belum
9. Alit Febriani, Ni Komang 13 65 Cukup
Tuntas
Belum
10. Yogi Reynal, Kadek 13 65 Cukup
Tuntas
Putri Ayu Amelia, Ni Belum
11. 13 65 Cukup
Made Tuntas
Belum
12. Melly Delvina, Komang 13 65 Cukup
Tuntas
Belum
13. Nabila Agatha Muthya 13 65 Cukup
Tuntas
Ari Mas Dinda Pertiwi, Ni Belum
14. 14 70 Cukup
Putu Tuntas
Ari Triwahyuda, I Belum
15. 14 70 Cukup
Nyoman Tuntas
Belum
16. Agus Ariwibawa, I Kadek 13 65 Cukup
Tuntas
Belum
17. Al Halim Kristan Nashir 14 70 Cukup
Tuntas
Mathew Refaifle Belum
18. 13 70 Cukup
Talomanafe Tuntas
Dhanendra Bhagaskara Belum
19. 13 70 Cukup
Purnama Tuntas
Belum
20. Deni Eka Purwanto 13 70 Cukup
Tuntas
Belum
21. Edwin Permana, Gede 14 70 Cukup
Tuntas
Giorgio Putra Yana Naghi,
22. 16 80 Baik Tuntas
Made
Belum
23. Naomi Rachelia Sianturi 14 70 Cukup
Tuntas
24. Lina Wahyuni 13 70 Cukup Belum

108
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Skor Skor
No Nama Siswa Predikat KKM
Mentah Standar
Tuntas
Maratus Febrianti Mina Belum
25. 14 70 Cukup
Adha Tuntas
Rachel Ruth Calvina Belum
26. 13 70 Cukup
Sianturi Tuntas
Jumlah 360 1.825
Rata-rata 13,84 70,19
Dari hasil konversi skor mentah menjadi skor standar seperti pada tabel
diatas, dapat diketahui bahwa nilai yang dicapai siswa adalah berpredikat baik
sekali, baik, cukup, dan kurang.

Selanjutnya, untuk dapat menyajikan kemampuan siswa, maka perlu
dihitung skor rata-rata menggunakan rumus :

Rumus :

Keterangan :

M = Mean (nilai rata-rata)
∑fx = Jumlah semua skor
N = Jumlah peserta tes
Berdasarkan data tersebut skor rata-rata siswa dapat dihitung sebagai
berikut :

M
 fx jumlahnilai 
N ( jumlahsisw a)

= 1.825  70,19
26

Tabel 4.2 Skor Standar dan Predikat Kemampuan menulis Teks Cerita Fabel
Siswa Kelas VII SMP Nasional Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017
pada Siklus II

Skor Skor
No Nama Siswa Predikat KKM
Mentah Standar
Sangat
1. Ade Melinia Putri, Luh 18 90 Tuntas
baik
2. Trisna Dewi, Ni Kadek 16 80 Baik Tuntas

109
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Skor Skor
No Nama Siswa Predikat KKM
Mentah Standar
Adinda Adhelia Maharani,
3. 16 80 Baik Tuntas
Made
4. Wahyu Waidika, I Made 16 80 Baik Tuntas
Belum
5. Priska Resanti, Ni Kadek 14 70 Baik
tuntas
Cristiani Kilapong, Sangat
6. 17 85 Tuntas
Komang baik
Agus Surya Adnyana, I
7. 16 80 Baik Tuntas
Made
Dewi Pradnyani Putri, Ni
8. 16 80 Baik Tuntas
Putu
Sangat
9. Alit Febriani, Ni Komang 17 85 Tuntas
baik
Belum
10. Yogi Reynal, Kadek 14 80 Baik
tuntas
Putri Ayu Amelia, Ni
11. 16 80 Baik Tuntas
Made
Sangat
12. Melly Delvina, Komang 17 85 Tuntas
baik
13. Nabila Agatha Muthya 16 80 Baik Tuntas
Ari Mas Dinda Pertiwi, Ni Sangat
14. 17 85 Tuntas
Putu baik
Sangat
15. Ari Triwahyuda, I Nyoman 17 85 Tuntas
baik
16. Agus Ariwibawa, I Kadek 16 80 Baik Tuntas
Sangat
17. Al Halim Kristan Nashir 17 85 Tuntas
baik
Mathew Refaifle Sangat
18. 17 85 Tuntas
Talomanafe baik
Dhanendra Bhagaskara Sangat
19. 18 90 Tuntas
Purnama baik
Sangat
20. Deni Eka Purwanto 18 90 Tuntas
baik
Sangat
21. Edwin Permana, Gede 19 95 Tuntas
baik
Giorgio Putra Yana Naghi, Sangat
22. 19 95 Tuntas
Made baik
Sangat
23. Naomi Rachelia Sianturi 17 85 Tuntas
baik
24. Lina Wahyuni 16 80 Baik Tuntas
Maratus Febrianti Mina Sangat
25. 17 85 Tuntas
Adha Baik
Rachel Ruth Calvina
26. 16 80 Baik Tuntas
Sianturi
Jumlah 433 2175

110
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Skor Skor
No Nama Siswa Predikat KKM
Mentah Standar
Rata-rata 16,65 83,65

Berdasarkan data tersebut skor rata-rata siswa dapat dihitung sebagai
berikut :

M
 fx jumlahnilai 
N ( jumlahsisw a)

= 2.175  83,65
26

4.1 Simpulan Hasil Tes

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui hasil penelitian pemanfaatan media
komik untuk meningkatkan kemampuan menulis teks cerita fabel siswa kelas VII
SMP Nasional Denpasar tahun pelajaran 2016/2017 sesuai dengan pelaksanaan
siklus I dan siklus II adalah sebagai berikut :
1) Hasil tes penelitian menunjukkan tindakan yang dilakukan pada siklus I
mengalami peningkatan dibandingkan prasiklus dan siklus II mengalami
peningkatan dibandingkan siklus I.
2) Hasil rata-rata penelitian tindakan siklus I dan II meningkat sebesar 13,46
dari skor rata-rata siklus I adalah 70,19 meningkat menjadi 83,65
Berdasarkan data tersebut diatas, hasil penelitian terhadap siswa kelas VII
SMP Nasional DenpasarS tahun pelajaran 2016/2017 dalam menulis teks cerita
fabel telah memenuhi indikator keberhasilan yang ditentukan hal ini ditunjukkan
dengan hasil penelitian tindakan siklus II dengan jumlah yang tuntas di atas 75%
sehingga penelititan ini dikatakan cukup dengan dua siklus saja atau penelititan
ini dapat di hentikan pada siklus II.

5. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian upaya meningkatkan kemampuan menulis
teks cerita fabel pada siswa kelas VII SMP Nasional Denpasar tahun pelajaran

111
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

2016/2017 dapat ditarik simpulan bahwa pemanfaatan media komik terbukti dapat
meningkatkan kemampuan menulis teks cerita fabel. Hal ini diketahui dari hasil
nilai rata-rata pada siklus I dan siklus II meningkat dengan hasil tes rata-rata
siklus I adalah 70,19 dan hasil nilai tes rata-rata siklus II adalah 83,65 serta
mengalami peningkatan 13,46. Selain itu, dari 26 jumlah siswa terdapat 25 orang
atau 96,15% siswa yang tuntas atau berhasil (75 ke atas) dan 1 orang atau 3,84%
siswa yang belum tuntas

5.2 Saran-saran

Sebagai tindak lanjutan hasil yang telah diperoleh dalam penelitian ini,
maka melalui kesempatan ini akan dikemukakan beberapa buah saran. Saran-
saran ini berkenaan bagi guru dan siswa. Adapun saran-saran yang dimaksud
sebagai berikut.

1. Bagi siswa yang dinyatakan berhasil dalam pembelajaran menulis teks cerita
fabel dengan memanfaatkan media komik disarankan untuk mempertahankan
prestasinya.

2. Bagi siswa yang dinyatakan belum berhasil dan memperoleh nilai di bawah
KKM, disarankan untuk menempuh remedial dan lebih giat belajar

3. Bagi guru diharapkan menggunakan media komik dalam mengajarkan menulis
teks cerita fabel karena sudah terbukti berhasil meningkatkan kemampuan
menulis teks cerita fabel dan dapat meningkatkan respon siswa.

4. Disarankan pada lembaga-lembaga pendidikan untuk lebih memperhatikan
pengajaran di sekolah dalam usaha pembinaan, pelestarian, dan
pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia.

DAFTAR RUJUKAN
Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta: Grafindo.

Nurkancana, Wayan dan Sunartana,PPN. 1992. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya
: Usaha Nasional.

112
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Rampan , Korrie Layun. 2014.Teknik Menulis Cerita Rakyat. Bandung: Yrama
Widya.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Alfabeta

Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa.
Bandung : Angkasa.
Wahono, dkk. 2013. Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga
Winarni, Retno. 2014. Kajian Sastra Anak. Yogyakarta : Graha Ilmu.

113
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENARIKAN TARI SEKAR
JEMPIRING PADA KEGIATAN EKSTRAKURIKULER TARI SISWA SMP
SWADHARMA TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Oleh
Nonik Darmayanti, 2013.II.4.0016
Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik

ABSTRAK
Pendidikan seni tari di tingkat sekolah menengah pertama merupakan slaah
satu upaya untuk menumbuhkan kreativitas siswa sejak dini. Seni tari yang termasuk
dalam pelajaran seni budaya, bertujuan untuk melatih dan mengembangkan potensi
bakat seni dan menumbuhkan kreativitas agar dapat dimanfaatkan dalam kehidupan
sehari – hari, baik untuk siswa sendiri maupun untuk lingkungannya. Sama halnya
dengan SMP Swadharma Denpasar, yang dalam pelajaran seni budaya tidak hanya
memberikan pembelajaran dalam bentuk teori, melainkan juga mampu memberikan
pembelajaran dalam bentuk praktik, seperti halnya tari Sekar Jempiring.
Pokok permasalahan dalam penelitin ini adalah apakah penerapan metode
pembelajaran koopertif tipe Jigsaw dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam
menarikan tari Sekar Jempiring dan apakah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
dapat meningkatkan respon siswa dalam menarikan tari Sekar Jempiring pada
kegiatan ekstrakurikler tari siswa SMP Swadharma, Denpasar tahun pelajaran
2016/2017?
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam menarikan tari Sekar Jempiring. Proses
pelaksanaan tindakan dilaksanakan secara bertahap dengan beberapa siklus sampai
penelitian ini berhasil. Prosedur tindakan dimulai dari: (1) perencanaan tindakan, (2)
pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Data dikumpulkan dengan
metode tes dan observasi. Data dilakukan dengan metode analisis statistik deskritif.
Hasil penelitian menunjukan sebelum penerapan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
nilai rata – rata 62,50 dengan ketuntasan klasikal 30% setelah penerapan
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw nilai rata – rata menjadi 82,50 dengan ketuntasan
klasikal 80%. Hasil observasi untuk mengetahui respon siswa dalam menarikan tari
Sekar Jempiring meningkat. Terbukti hasil observasi respon siswa memperoleh skor
56,00 kemudian pada siklus I skor rata – rata meningkat menjadi 80,56. Dengan
demikian maka penelitian ini dihentikan pada siklus I. Guru disarankan menggunakan
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk meningkatkan keterampilan menarikan tari
Sekar Jempiring.

Kata Kunci : Tari Sekar Jempiring dan Metode Pembelajaran Kooperatf Tipe Jigsaw

114
ABSTRACT
The education of dance at the junior high school level is an attempt to
foster students' creativity early on. The dance that was included in the culture and art
lessons, aims to train and develop the potential of artistic talent and nurture
creativity in order to be used in daily life - today, both for the students themselves as
well as for the environment. Similarly, the SMP Swadharma Denpasar, which is the
subject of art and culture not only provide learning in the form of the theory but also
able to provide learning in the form of practice, as well as dance Sekar Jempiring.
The main problem in this experiment is whether the application of learning
methods koopertif Jigsaw can improve students' skills in dance Sekar Jempiring and
whether the type of cooperative learning of Jigsaw can improve the response of
students in dance Sekar Jempiring on activities extracurricular dance school students
Swadharma, Denpasar academic year 2016 / 2017?
This research is a classroom action research conducted to improve
students' ability in dance Sekar Jempiring. The implementation process of the action
is carried out in stages with several cycles until the research succeeds. Procedures
action starts from (1) planning the action, (2) action, (3) observation, and (4)
reflection. The data were collected by the method of testing and observation. Data is
done by descriptive statistical analysis method.
The results showed prior to the implementation of cooperative learning of
Jigsaw value-average 62.50 with classical completeness 30% after the
implementation of cooperative learning of Jigsaw value - average is 82.50 with
classical completeness 80%. The result of observation to know student response in
dance Sekar Jempiring increase. Proven result of observation student response get
score 56,00 then in cycle I average score increase to 80,56. Thus, this study was
discontinued in cycle I. Teachers are encouraged to use Jigsaw type cooperative
learning to improve dancing skills of Sekar Jempiring dance.

Keywords: Sekar Jempiring Dance and Cooperative Learning Method Jigsaw Type

1. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. (Citrawan,2006;8)
Pendidikan adalah upaya atau kegiatan yang bertujuan mengembangkan
potensi peserta didik. Pendidikan juga dipandang sebagai suatu proses untuk
membina dan mengantarkan peserta didik agar dapat menemukan kemandirian,

115
sehingga pendidikan diartikan sebagai proses yang didalamnya seseorang
mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di
lingkungan dimana dia berada
Berdasarkan pengertian pendidikan diatas yang menekankan peserta didik
untuk mengembangkan potensi dirinya, maka pendidikan seni tari sangat perlu
diberikan kepada siswa, karena pendidikan seni tari berpengaruh pada perkembanagn
moral siswa dan mampu menjadikan siswa lebih mengembangkan nilai-nilai
kebudayaan, khususnya seni tari.
Seorang guru harus mempunyai komitmen yang tinggi terhadap tugas-tugas
keguruan. Komitmen tinggi itu antara lain ditunjukakan oleh sikap yang selalu ingin
menjalankan tugas-tugas pembelajaran dengan baik dan maksimal demi keberhasilan
dan kesuksesan anan didik. Hanya dengan sikap yang demikianlah peranan dalam
dunia pendidikan akan Nampak (Muslich,2011:1)
Salah satu lembaga pendidikan formal adalah SMP ( Sekolah Menengah
Pertama). Mata pelajaran yang diajarkan di SMP adalah mata pelajaran seni budaya
dalam kurikulum seni budaya 2013 adalah Seni Tari. Pelajaran seni tari cocok
diberikan pasa jenjang pendidikan SMP karena peserta didik sedang beranjak remaja
yang memiliki potensi mengembangkan minat dan bakat pada pelajaran seni tari.
Kegiatan ekstrakulikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran
dan pelayanan konseling guna untuk membantu perkembangan peserta didik yang
sesuai kebutuhan, potensi, bakat dan minat. Kegiatan yang secara khusus
diselenggarakan oleh pendidik yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah.
Melalui kegiatan ekstrakulikuler guru yang membina sesuai dengan bakatnya baik di
bidang sastra, olahraga, maupun bidang kesenian . Dalam kegiatan ekstrakulikuler di
SMP Swadharma Denpasar guru ekstrakulikuler memberikan tari Maskot Kota
Denpasar yaitu tari “Sekar Jempiring” hal ini bertujuan untuk lebih memperkenalkan
dan meningkatkan keterampilan siswa di dalam menarikan tari Sekar Jempiring.
Seni tari merupakan bagian dari kebudayaan manusia, yang gerak atau isyarat
( verbal ) sebagai unsur utama, yang difungsikan sebagai media komunikasi manusia.
Tari adalah konsepsi ciptaan manusia dalam mewujudkan gerak, melalui cipta, rasa,

116
dan karsa yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan dalam tuganya sebagai seorang
peñata tari (koreografer). Tari dalam bentuknya merupakan gerak dari tubuh beserta
anggotanya, yang menyatakan suatu maksud tertentu, dalam pola gerak yang
dilakukan penuh kesadaran dan tekanan gerak yang teratur (ritme) ( Arini 2012 : 10 ).
Dalam proses pembelajaran ini, media pembelajaran merupakan salah satu hal yang
berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam sistem pembelajaran, adanya suatu
masalah yang terjadi pada peningkatan ketrampilan siswa menarikan Tari Sekar
Jempiring yaitu munculnya beberapa hambatan yang dirasakan oleh siswa saat
menarikan tari Sekar Jempiring.
Selain karena Tari Sekar Jempiring ini adalah Tari Kreasi baru yang memiliki
ragam gerak dan komposisi cukup rumit, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam
belajar menarikan tari kreasi penyambutan. Berdasarkan observasi yang dilakukan
peneliti, hal ini disebabkan karena adanya kurangnya pengetahuan dan pemahaman
tentang tehnik dasar tari, khususnya tari bali yang meliputi agen, tandang, dan
tangkep. Kecenderungan guru mrngajar dengan menerapkan metode demonstrasi ini
dimana guru memberikan contoh ragam gerak dan siswa menirukan dari belakang.
Dengan demikian kemampuan dan kreatifitas siswa kurang optimal dan mereka
kurang memahami bagian demi bagian dari ragam gerak dan komposisi tari Sekar
Jempiring, sehingga mempengaruhi perolehan nilai siswa masih rendah. Diketahui
bahwa rata-rata siswa yang memilih ekstrakurikuler tari ini kemampuannya standar
yaitu 65, dimana standar KKM yang harus dicapai adalah 75. Hal ini dibuktikan
dengan masih ada siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Sehingga terjadinya
hambatan didalam menarikan tari Sekar Jempiring.
Dari masalah tersebut dan setelah berdiskusi dengan guru pengajar tari, maka
diputuskan memakai model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw untuk
meningkatkan kemampuan menarikan tari Sekar Jempiring. Penulis menggunakan
pembelajaran kooperatif karena tari Sekar Jempiring ini adalah tari yang dibawakan
secara kelompok dengan lima orang penari. Pembelajaran kooperatif adalah
rangkaian siswa melalukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan
siswa lain untuk mencapai tujuan bersama (Rusman, 2013:217). Pembelajaran

117
kooperatif tipe jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitikbertakan
pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil (Rusman, 2013:218).
Dalam pembelajaran ekstrakulikuler tari Sekar Jempiring, siswa dibagi
menjadi beberapa kelompok, yang dimana masing-masing kelompok terdiri atas 5
orang siswa. Pada kelompok pertama, siswa dibagikan subtopik yang berbeda,
kemudian membentuk kelompok kedua denga subtopik yang sama dan menjadi ahli
dalam subtopiknya. Dalam pembelajaran teori subtopik ini berupa potongan dari
materi yang dberikan, namun dalam penelitian tari subtopik tersebut berupa
pemisahan antara bagian posisi tari satu dengan yang lainnya. Kemudian kembali ke
kelompok awal dan berlatih bersama sehingga membetuk tari Sekar Jempiring. Jadi
guru tidak lagi menjelaskan tari itu berkali-kali dengan letak penari yang berbeda
posisi dan berbeda gerak dalam masing-masing posisi tersebut. Sehingga siswa akan
mampu lebih baik dalam menguasai tari Sekar Jempiring.
Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat
permasalahan ini dan dijadikan sebagai sebuah penelitian dalam bentuk Penelitian
Tindak Kelas dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
untuk Meningkatkan Keterampilan Menarikan Tari Sekar Jempiring pada Kegiatan
Ekstra Kurikuler Tari SMP Swadharma Tahun Ajaran 2016/2017”. Hasil penelitrian
ini dapat dimanfaatkan oleh guru Seni Tari dalam meningkatkan prestasi belajar
siswa.

Tujuan Penelitian

A. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum penelitian ini sebagai berikut.
1. Untuk meningkatkan kemampuan siswa di dalam bidang seni tari.
2. Untuk memotivasi siswa agar mencintai dan melestarikan seni daerah Bali.
B. Tujuan Khusus
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan khusus penelitian ini dapat di
rumuskan sebagai berikut.

118
1. Untuk meningkatkan efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe Jigsaw dalam menarikan tari Sekar Jempiring pada kegiatan
ekstrakurikuler tari oleh siswa SMP Swadharma tahun ajaran 2016-2017 ?
2. Untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsawdalam meningkatkan keterampilan menarikan tari Sekar
Jempiring pada kegiatan ekstrakurikuler tari oleh siswa SMP Swadharma
tahun ajaran 2016/2017

2. Metode Penelitian
Tabel 01 Tabel Aspek-aspek yang dinilai
Aspek yang Dinilai
Nama Tari Agem Tandang Tangkep Kekompakan Jumlah

Sekar Jempiring 1 – 25 1 - 25 1 - 25 1 - 25 100

Membuat Pedoman Konversi
Pedoman Konversi yang digunakan dalam mengubah skor mentah menjadi
skor standar adalah dengan norma absolute skala seratus, yaitu skala yang brgerak
dari nol sampai seratus. Untuk mengkorvensikan skor mentah menjadi skor standar
dengan norma absolute skala seratus dengan bentuk rumus sebagai berikut:

P= X x 100
SMI
Keterangan :
P = Persentil
X = Skor yang dicapai
SMI = Skor maksimal ideal
(Nurkancana dan Sunartana, 1992 : 99)

119
Tabel 02 : Membuat Kriteria Predikat Kemampuan Siswa
Skor Standar Kategori / predikat
90 – 100 Baik sekali
80 – 89 Baik
65 – 79 Cukup
55 – 64 Kurang
0 – 54 Sangat kurang
(sumber: Gunartha,2009:68)

Mencari Skor Rata- Rata
Untuk mencari skor rata-rata kemampuan menarikan tari kreasi Paksi Lila
Harsa dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :
 fx
M=
N
Keterangan :
M = Mean / angka rata-rata
 fx= Jumlah skor standar

N = Jumlah sampel
(Nurkancana, 1992: 174)
Berdasarkan skor rata-rata yang diperoleh akan diketahui kemampuan belajar
siswa secara umum.

Penyajian Hasil Penelitian
Cara mencari skor mentah menjadi skor standar dengan rumus normal
absolute skala seratus yaitu:
X
P= x 100
SMI
Diketahui:
X = ( skor mentah ) = 90
SMI = ( skor maksimal ideal ) = 100

120
Selanjutnya mengubah skor mentah menjadi skor standar dengan rumus:
X
P= x 100
SMI
90
= x 100
100
= 90
Jadi skor standarnya adalah = 90

Selanjutnya untuk Untuk mencari skor nilai rata-rata yaitu Kemampuan
Menarikan Tari Sekar Jempiring Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Tari Siswa SMP
Swadharma denpasar tahun pelajaran 2016/2017, digunakan rumus sebagai berikut:

⅀𝑓𝑥
𝑀=
𝑁
Keterangan :
M = Mean (nilai rata-rata)

 fx = ( Jumlah Nilai ) = 1250
N = ( Jumlah Individu ) = 20
Selanjutnya untuk mencari nilai skor rata – rata dengan rumus :
⅀𝑓𝑥
𝑀=
𝑁
= 1250 x 100
20
= 62,50

Tabel 03 : Presentase Tingkat Kemampuan Menarikan Tari Kreasi Paksi Lila
harsa Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Tari Siswa Di SMK Negeri 1
Gianyar Tahun Ajaran 2015/2016
Skor Jumlah
No Predikat Presentase Keterangan
Standar Siswa
1. 92,5 Sangat baik 4 2% Tuntas
2. 90 Sangat baik 1 5% Tuntas
3. 87,5 Sangat baik 3 15% Tuntas

121
4. 85 Baik 2 1% Tuntas
5. 82,5 Baik 3 15% Tuntas
6. 80 Baik 1 5% Tuntas
7. 77,5 Baik 1 5% Tuntas
8. 75 Baik 1 5% Tuntas
9. 72,5 Baik 1 5% Belum
Tuntas
10. 70 Cukup 2 1% Belum
Tuntas
11. 65 Cukup 1 5% Belum
Tuntas

Simpulan Analisis Data Hasil Tes
Berdasarkan data tersebut, secara klasikal dapat dikatakan bahwa penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw telah berhasil meningkatkan keterampilan
menarikan tari Sekar Jempiring pada kegiatan ekstrakurikuler tari siswa SMP
Swadharma, Denpasar tahun pelajaran 2016/2017. Hal tersebut disebabkan oleh 80%
siswa telah mencapai nilai KKM. Ini. Dari simpulan di atas, populasi siswa yang
dijadikan subjek penelitian berjumlah 20 orang, dinyatakan tuntas atau berhasil
sebanyak 17 orang dan yang belum tuntas sebaanyak 3 orang .

4. PENUTUP
Bab ini adalah bagian terakhir dari keseluruhan laporan hasil penelitian. Pada
bab penutup ini akan dikemukakan dua hal yaitu kesimpilan dan saran yang sesuai
dengan hasil penelitian mengenai peberapan model pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw dalam meningkatkan keterampilan menarikan tari Sekar Jempiring pada
kegiatan ekstrakurikuler tari SMP Swadharma, Denpasar tahun pelajaran 2016/2017.

4.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitain dan pembahsan pada bab IV, dapat disimpilkan
sebagai berikut.

122
1. Penerapan model pembelajaran kooperati tipe jigsaw dapat meningkatkan
keteraampilan menarikan tari Sekar Jempiring pada kegiatan ekstrakurikuler
tari siswa SMP Swadharma, Denpasar tahun pelajaran 2016/2017. Hal ini
dibuktikan dengan skor rata-rata pada prasiklus sebesar 62,50 meningkat
menjadi 82,50 pada sikulus I. Ketuntasan belajar klasikal pada prasiklus dari
20 siswa hanya 30% siswa yang tuntas, namun pada siklus I meningkat
menjadi 80% siswa yang tuntas. Ini disebabakan oleh siswa lenih mudah dan
cepat memahami materi yang diajarkan dengan menggunakan metode
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Metode pembelajaran ini bertujuan untuk
meningkatkan prestasi anak dari sisi kognitif. Hasil penelitian ini
menunjukan bahwa metode ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan
prestasi anak dari praktik dalam pengajaran tari berkelompok. Dalam
penelitian ini, penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw bukan
hanya menunjuk peningkatan anak dibidang prestasi tetapi juga mempecepat
waktu pengajaran 50% dari 8 X 45 menit menjadi 4 X 45 menit.
2. Penggunaan metode pembejaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan
respon siswa dalam keterampilan menarikan tari Sekar Jempiring pada
kegiatan ekstrakurikuler tari siswa SMP Swadharma, Denpasar pada tahun
pelajaran 2016/2017. Hal ini dibuktikan dari nilai rata – rata yang diperoleh
pada prasiklus yakni, 56,00 meningkat pada siklus I menjadi 80,65. Hal ini
menunjukan adanya peningkatan sebesar 24,65.

4.2 Saran-saran

Dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran seni tari khususnya
pembejaran tari Sekar Jempiring siswa tingkat SMP, penulis menyampaikan beberapa
saran sebagai berikut.

1. Siswa diharapkan jangan cepat bosan dalam berlatih menari. Siswa yang telah
dinyatakan tuntas agar teap mempertahankan prestasinya dan lebih

123
ditingkatkan lg untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sedangkan siswa
yang belum tuntas harus belajar lebih giat, jangan malu bertanya pada guru
dan teman untuk meningkatkan pemahaman dalam menarikan tari Sekar
Jempiring.
2. Bagi guru, dalam mengajar tari kelompok khususnya tari Sekar Jempiring
diharapkan dapat menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jogsaw
untuk memudahkan siswa dalam memahami gerak-gerak tari dan komposisi
yang harus dihafal sehingga siswa lebih cepat dapat membawakan tarian yang
telah diajarakan. Guru diharapkan dapat swelalu memotivasi siswa agar tidak
cepat bosan dan malas saat belajar menari, sepertimengajak mereka menonton
video tari agar lebih tertarik untuk bisa menarikannya.
3. Bagi pihak sekolah, metode pembelajaran kooperatif tipe jogsaw dapat
dijadikan bahan pertimbangan untuk diterapkan pada pelajaran lain yang
memang membutuhkan metode tersebut dan dapat memfasilitasi instrument
pendukung yang diperlukan. Untuk pembelajaran tari, sekolah diharapkan
memperhatikan alat pendukung proses pembelajaran seperti alat elektronik
berupa tape dan kaset yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
Arini, Ni Ketut. 2012. “Teknik Tari Bali”. Denpasar : Yayasan Tari Bali Warini.
Citrawan, I Wayan. 2006. “Profesi Pendidikan”. Denpasar : IKIP PGRI Bali.
Cerita, I Wayan dan Isitri Putra Padmini. 2009. “Analisis Tari dan Gerak. Denpasar :
ISI Denpasar.
Djayus, Nyoman. 1979. “Teori Tari Bali”. : CV Sumber Mas Bali.
Dibia, I Wayan. 2012. “Ilen – Ilen Seni Pertunjukan Bali”. Denpasar : Bali Mangsi.
Gunartha, I Wayan. 2009. “Evaluasi Pembelajaran”. Denpasar. Fakultas Pendidikan
Bahasa Dan Seni Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI
Bali.

124
Lestari, Ni Luh Ayu Feisca Lusiana. 2014. “Meningkatkan Keterampilan Menarikan
Tari Semara Adhi Guna Dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif
Tipe Jigsaw Siswa Kelas XII T2 SMK Negeri 3 Sukawati, Gianyar Tahun
Pelajaran 2014/2015”. Skripsi (tidak diterbitkan). Denpasar : FPBS, IKIP
PGRI Bali.
Murniati, Sagung Rai. 2015. “Penerapan Model Pembelajaran koopertif Tipe STAD
Untuk Meningklatkan Prestasi Belajar Menarikan Tari Bungan Sandat
Serasi Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Tari Oleh Siswa Kelas IX SMP
Negeri 2 Kerambitan, Tabanan, Tahun Pelajaran 2014/2015”. Skripsi (tidak
diterbitkan). Denpasar : FPBS, IKIP PGRI Bali.
Muslich, Masnur. 2009. KTSP. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Muslich, Masnur. 2011. “Melaksanakan PTK Itu Mudah”. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Punaji, Setyosari. 2010. “Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan”. Jakarta:
Kencana.
Paizaluddin dan Ermalinda. 2013. “Penelitian Tindakan Kelas”. Bndung : Alfabeta.
Rusman. 2013. “Model-Model Pembelajaran, Mengembangkan Profesionalisme
Guru, Edisi Kedua. Jakarta: Rajawali Pers.
Senita, Ni Nyoman Gian. 2015. “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD Dalam Meningkatkan Keterampilan Menarikan Tari Sekar Jagat
Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Tari Siswa VII SMP N 3 Sukawati Tahun
Pelajaran 2014/2015. Skripsi (tidak diterbitkan). Denpasar : FPBS, IKIP
PGRI Bali.
Suteja, I Ketut. 2002. “Persentasi Realitas Dalam Seni Tari” dalam Jurnal Seni
Budaya Agem. Denpasar : Sekolah Tinggi Seni Indonesia.
Sukardi. 2003. “Metedologi Penelitian Pendidikan”. Jakarta : PT Bumi Aksara.

125
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

KEMAMPUAN MEMBUAT KOMIK STRIP SISWA KELAS X ANIMASI
SMK N 1 SUKAWATI TAHUN PELAJARAN 2016/2017

oleh
I Putu Pande Mahardika, NIM 2013.II.3.0003
Program Studi Pendidikan Seni Rupa

ABSTRAK
Di dalam dunia pendidikan komik dapat menjadi media pembelajaran yang
baik dan menarik bagi siswa. Di SMK N 1 Sukawati sendiri komik strip erat
kaitannya dengan jurusan animasi, khususnya untuk pelajaran praktik membuat
story board yang berfungsi sebagai rancangan awal sebuah karya animasi.
Berdasarkan hal tersebut ditambah melihat minat dan ketertarikan siswa yang baik
terhadap komik strip menjadi latar belakang peneliti untuk meneliti kemampuan
membuat komik strip siswa kelas X animasi SMK N 1 Sukawati tahun pelajaran
2016/2017.
Adapun permasalahan yang diketengahkan dalam penelitian ini adalah
bagaimanakah kemampuan membuat komik strip siswa kelas X yang memilih
jurusan animasi di SMK N 1 Sukawati tahun pelajaran 2016/2017. Diharapkan
dengan melakukan penelitian lapangan ini dapat diketahui kemampuan siswa
dalam membuat komik strip dan kendala apa saja yang menghambat siswa dalam
membuat komik strip, khusus untuk siswa kelas X jurusan animasi SMK N 1
Sukawati tahun pelajaran 2016/2017.
Metode yang digunakan adalah metode populasi karena jumlah sampel
kurang dari 100 orang. Sampel penelitian dalam hal ini adalah siswa kelas X
animasi SMK N 1 Sukawati tahun pelajaran 2016/2017, adapun jumlah sampel
dari penelitian ini adalah 5 orang. Dalam mengadakan pendekatan terhadap subjek
penelitian digunakan metode empiris karena gejala yang diteliti sudah ada secara
wajar. Metode pendekatan subjek penelitian digunakan metode tes tindakan.
Metode pengolahan data digunakan metode analisis statistik deskriptif. Dari hasil
analisis yang dilakukan dengan jumlah sampel 5 orang diperoleh hasil nilai rata-
rata sebesar 75. Prestasi pencapaian nilai yang diperoleh siswa tersebut yaitu: satu
orang siswa mendapatkan nilai 90 dengan persentase 20%, 2 orang siswa
mendapat nilai 85 dengan persentase 40%, satu orang siswa mendapat nilai 65
dengan persentase 20%, dan satu orang siswa mendapat nilai 50 dengan
persentase 20%. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan bahwa tingkat prestasi
membuat komik strip oleh siswa kelas X animasi tahun pelajaran 2016/2017
tergolong baik.

Kata-kata kunci : Kemampuan Menggambar Komik strip

126
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

ABSTRACT
In the world of education, a comic can be a good and interesting learning media
for students. In SMK N 1 Sukawati own comic strip closely related to the
animation majors, especially for practice lessons to make a storyboard that serves
as the initial design of an animation work. Based on that, plus see the interest and
interest of good students to the comic strips into the background of researchers to
examine the ability to create comic strips students class X animation SMK N 1
Sukawati academic year 2016/2017.
The problems presented in this study is how the ability to make a comic strip
class X students who choose animation majors at SMK N 1 Sukawati academic
year 2016/2017. It is expected that by doing this field research can be known the
ability of students in making comic strips and obstacles what hinders students in
making comic strips, especially for X class students majoring in animation SMK N
1 Sukawati academic year 2016/2017.
The method used is the population method because the sample size is less than
100 people. The sample of research, in this case, is the class X animation students
SMK N 1 Sukawati academic year 2016/2017, while the number of samples from
this study is 5 people. In approaching the subject of research used the empirical
method because the symptoms studied already exist naturally. Research subject
approach method used action test method. Data processing method used
descriptive statistical analysis method. From the results of the analysis conducted
with the number of samples, 5 people obtained the average score of 75.
Achievement of the achievement of the value obtained by students are: one student
gets the value of 90 with percentage of 20%, 2 students get the value 85 with
percentage 40% One student gets a score of 65 with a percentage of 20%, and
one student gets 50 with a percentage of 20%. Based on predetermined criteria
that the level of achievement to make a comic strip by students X class animation
lesson year 2016/2017 quite good.

Keywords: Ability to Draw Comic strips

1 PENDAHULUAN
Dalam dunia pendidikan media bisa diartikan sebagai perantara atau alat
bantu dalam proses belajar mengajar. Selain membantu guru menyederhanakan
materi untuk mencapai pesan dari bahan pelajaran, media juga mempunyai fungsi
untuk mengatasi kebosanan dan kelelahan yang diakibatkan dari penjelasan guru
yang sulit dimengerti.
Media dapat dibagi menurut jenisnya, salah satu yaitu media visual. Media
visual adalah media yang mengandalkan indra pengelihatan. Media visual
menampilkan gambar diam seperti rangkaian foto, gambar atau lukisan, dan juga
menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu dan film kartun
atau animasi.

127
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Media visual yang kiranya menarik dan sering dijumpai peserta didik
dalam kesehariannya adalah komik. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, komik
adalah cerita bergambar (di majalah, surat kabar atau berbentuk buku) yang
umumnya mudah dicerna dan lucu. Komik adalah cerita yang menekankan pada
gerak dan tindakan yang ditampilkan lewat urutan gambar yang dibuat secara khas
dengan paduan kata-kata. Jadi secara sederhana komik dapat diartikan sebagai
cerita bergambar yang berisi gelembung-gelembung atau balon suara.
Banyak pelajaran yang bisa didapat dari komik, dari belajar membaca,
belajar memahami cerita dalam bentuk visual, sampai belajar mengenal warna.
Sebagai media pembelajaran komik dapat dirancang sesuai dengan materi yang
akan disampaikan. Dalam hal ini komik berfungsi sebagai penyampai pesan
pembelajaran dengan media visual yang dikemas menarik agar siswa atau peserta
didik lebih tertarik untuk belajar.
Jenis komik yang mudah dan sering ditemui berkaitan dengan dunia
pendidikan adalah komik strip. Komik strip adalah komik yang dibuat satu
halaman sebagai cerita utuh, biasanya terdiri dari 2 sampai 6 panel. Komik strip
mudah ditemukan diberbagai media cetak seperti koran dan majalah, bahkan
seiring berkembangnya teknologi dan informasi kini komik strip banyak ditemui
di media sosial baik bertujuan untuk hiburan, kritik sosial atau sebagai media
iklan. Di lingkungan pendidikan, komik strip juga sering dijumpai seperti pada
mading (majalah dinding) sekolah atau sebagai ajang lomba tengah semester.
Banyaknya komik strip yang bertujuan sebagai hiburan atau kritik sosial
belakangan ini sangat mudah menarik perhatian dan dapat menimbulkan respon
positif bagi generasi muda. Khususnya di sekolah SMK N 1 Sukawati komik strip
menjadi pengisi mading sekolah dan dijadikan sebagai kegiatan lomba tengah
semester yang banyak menarik minat siswa. Selain itu komik juga erat
hubungannya dengan jurusan animasi di SMK N 1 Sukawati. Pada pembelajaran
animasi siswa diajarkan untuk membuat story board. Story board merupakan
rancangan awal sebuah film animasi yang serupa dengan komik, story board
berisi gambar sketsa yang digunakan sebagai perencanaan untuk menunjukkan
secara visual bagaimana aksi dari sebuah cerita. Dapat dikatakan bahwa bentuk
story board seperti komik namun tanpa balon dialog dan beda fungsi. Tujuan

128
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

utama story board adalah untuk menjelaskan tentang alur narasi dari sebuah
cerita. Story board juga berperan dalam pewaktuan pada sebuah sequence, sudut
pandang kamera, perpindahan dan kesinambungan anatara elemen dalam satu
frame.

Berdasarkan pengamatan minat membuat komik siswa di SMK N 1
Sukawati sangat baik dan bahwa komik erat hubungannya dengan pembelajaran
animasi pada bidang ilmu membuat story board, timbul ketertarikan peneliti
untuk meneliti sejauh mana kemampuan membuat komik strip siswa jurusan
animasi SMK N 1 Sukawati. Diharapkan dalam penelitian ini dapat memberikan
alternatif belajar menggambar komik bagi siswa sehingga siswa dapat
mengembangkan kreativitas membuat rancangan story board untuk animasi.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat dibuat rumusan
masalah, yaitu: bagaimanakah kemampuan membuat komik strip oleh siswa kelas
X Animasi SMK N 1 Sukawati tahun pelajaran 2016/2017? Dan kendala apakah
yang ditemukan dalam membuat komik strip oleh siswa kelas X Animasi SMK N
1 Sukawati tahun pelajaran 2016/2017?

2 Metode Penelitian

Metode penelitian dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapat data
yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan dan dibuktikan, suatu
pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami,
memecahkan dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan (Sugiono,
2016:6). Dalam penelitian ini dirancang suatu metode penelitian yang berguna
untuk membantu dalam penelitian ini.

2.1 Metode Penentuan Subjek Penelitian

Metode penentuan subjek penelitian merupakan metode yang dilakukan
peneliti untuk menentukan setiap individu yang diteliti baik berwujud manusia,
hewan, tumbuhan maupun benda. Dalam menentukan subjek penelitian ada dua
alternatif prosedur yang dapat dilakukan, yaitu penelitian populasi dan penelitian
sampel. Penelitian populasi merupakan penelitian yang meneliti semua subjek

129
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

yang ada, sedangkan penelitian sampel merupakan penelitian yang meneliti
sebagian subjek dari keseluruhan jumlah populasi.
Berdasarkan penjelasan diatas maka subjek dalam penelitian peneliti adalah
seluruh siswa kelasX Animasi SMK N 1 Sukawati tahun pelajaran 2016/2017.
Diantara alternatif penentuan subjek penelitian, peneliti menggunakan alternatif
penelitian populasi dikarenakan subjek yang akan diteliti memiliki jumlah
populasi kurang dari 100.

2.2 Populasi penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono 2015:117). Populasi
biasanya berupa semua individu yang memiliki pola kelakuan tertentu dari
kelompok itu. Jadi setiap anggota populasi harus mempunyai karakteristik tertentu
dan sama yang akan diteliti. Hasil penelitian diharapkan dapat dapat mewakili
keseluruhan populasi penelitian yang telah ditetapkan pada awal penelitian.
Berdasarkan uraian diatas maka, yang dijadikan populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh jumlah siswa kelas X SMK N 1 Sukawati tahun pelajaran
2016/2017 beranggotakan lima orang yang terdiri dari satu kelas, dengan rincian
yang akan tertuang dalam tabel dibawah ini

2.3 Metode Pendekatan Subjek Penelitian
Metode pendekatan subjek penelitian merupakan cara yang digunakan
untuk mengetahui gejala dari subjek penelitian. Metode pendekatan subjek
penelitian dibagi menjadi dua yaitu metode empiris dan metode eksperimental.
Metode empiris merupakan suatu cara pendekatan gejala dimana gejala yang akan
diselidiki sudah ada secara wajar, sedangkan metode eksperimental merupakan
pendekatan dimana gejala penelitian ditimbulkan dengan sengaja.
Berdasarkan uraian diatas dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk
pendekatan subjek penelitian yaitu metode empiris dimana objek yang diteliti
sudah ada secara wajar. Gejala yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
kemampuan membuat komikstrip. Komikstrip yang senada dengan storyboard,

130
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya merupakan gejala yang sudah
ada secara wajar di SMK N 1 Sukawati pada jurusan Animasi sebagai salah satu
pelajaran.

2.4 Metode Pengumpulan data

Sugiyono (2016 : 193) menyatakan, metode pengumpulan data adalah
salah satu hal yang mempengaruhi kualitas hasil penelitian, selain kualitas
instrumen penelitian. Untuk memperoleh kualitas hasil pnelitian yang baik maka
digunakan seperangkat metode untuk pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian peneliti. Metode yang dipergunakan dalam penelitian kemampuan
membuat komikstrip siswa kelas X Animasi SMK N 1 Sukawati tahun pelajaran
2016/2017 adalah metode tes.

Tes adalah jenis alat ukur yang digunakan untuk memperoleh gambaran
kuantitatif tentang perilaku seseorang. Berdasarkan suatu tes guru mendapatkan
informasi tentang hasil belajar siswa (Gunartha, 2009:5).
Dalam penelitian peneliti tes yang diberikan kepada siswa berupa penugasan
membuat karya komikstrip sesuai imajinasi siswa dan dibatasi dengan tema
kehidupan sekolah. Tes yang peneliti lakukan bisa dikategorikan sebagai tes hasil
belajar (achievement test), dimana tes ini akan mengukur apa yang telah dipelajari
siswa pada pelajaran animasi sehubungan dengan pembuatan storyboard yang erat
kaitannya dengan komik. Adapun variabel yang dinilai dalam tes ini adalah ide,
ilustrasi, desain karakter, dan camera view.

2.5 Metode Pengolahan Data
Setelah dilakukan pengumpulan data, dan data telah terkumpul berikutnya
dilakukan pengolahan data. Pengolahan data merupakan proses mengatur,
mengurutkan, mengelompokan, memberi kode dan mengkatagorikan data
(Sugiyono, 2006 : 36). Pengolahan data dalam penelitian amat penting karena
dengan ini data yang telah terkumpul tersebut dapat diberi arti dan makna yang
berguna dalam memecahkan masalah penelitian.

131
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Langkah-langkah yang peneliti tempuh dalam mengolah data penelitian ini
yaitu, mencari Skor Maksimal Ideal (SMI), membuat pedoman konversi,
menentukan kriteria predikat dan mencariencari nilai rata-rata.
Dalam membuat komikstrip, kriteria predikat dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.4 Kriteria predikat kemampuan membuat komikstrip siswa kelas X
Animasi SMKN 1 Sukawati tahun pelajaran 2016/2017.

No. Skor Standar Kategori
1 86-100 Baik Sekali
2 71-85 Baik
3 56-70 Cukup
4 41-55 Kurang
5 0-40 Sangat Kurang
(Sumber : Depdiknas, tahun : 2001)

2.6 Mencari Nilai Rata-rata
Setelah skor standar diperoleh lang selanjutnya adalah mencari nilai atau
angka rata-rata kemampuan membuat komikstrip menggunakan rumus berikut:

Me =

Keterangan :
Me = Mean (nilai rata-rata)
∑ = Epsilon (baca jumlah)
xi = Nilai X ke I sampai ke n
N = Jumlah individu
(Sugiyono, 2016:49)

3 HASIL PENELITIAN
3.1 Data Skor
Setelah pengambilan data dengan melakukan kegiatan penelitian, maka
diperoleh data hasil skor mentah. Perolehan bobot yang dicapai siswa seluruhnya
tidak sama atau bervariasi berdasarkan kemampuan mereka masing-masing pada
setiap aspek yang dinilai. Data yang diperoleh selanjutnya direkap dalam dalam
tabel tabulasi dimana di dalam tabel tersebut melampirkan perolehan bobot yang
dapat dicapai oleh masing-masing siswa.

132
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Tabel Data Hasil Tes atau Rekapitulasi Skor mentah Kemampuan
Membuat Komik Strip Siswa Kelas X Animasi SMK N 1 Sukawati Tahun
Pelajaran 2016/2017

Aspek yang dinilai
No. Nama Desain Camera Jumlah
Ide Ilustrasi
karakter view
1 Debi Ramadan 5 4 4 4 17
Luh Putu Leoni
2 5 4 5 4 18
Pramesti
Ngakan Wahyu
3 4 3 2 4 13
Suryantara
Ni Made Shri Hari
4 4 2 2 2 10
Mahayoni
Dewa Ayu Sri Puji
5 4 5 5 3 17
Utari
Jumlah 22 18 18 17 75
Rata-rata 4,4 3,6 3,6 3,4 15
Setelah data skor mentah tersebut di atas disajikan, langkah selanjutnya
data mentah tersebut diolah menjadi skor standar menggunakan norma absolut
skala dengan rumus sebagai berikut:

P = × 100

Keterangan :
P = Persentil
X = Skor yang dicapai
SMI = Skor maksimal ideal

3.2 Analisa Data Hasil Tes

Tabel Hasil Analisis Data Tes Kemampuan Membuat Komik Strip Siswa
Kelas X Animasi SMK N 1 Sukawati Tahun Pelajaran 2016/2017

Skor Skor
No. Nama Predikat
Mentah Standar
1 Debi Ramadan 17 85 Baik
2 Luh Putu Leoni Pramesti 18 90 Baik Sekali

133
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

3 Ngakan Wahyu Suryantara 13 65 Cukup
4 Ni Made Shri Hari Mahayoni 10 50 Kurang
5 Dewa Ayu Sri Puji Utari 17 85 Baik

3.3 Persentase Tingkat Prestasi Siswa

Langkah selanjutnya adalah menjelaskan data agar mendapat gambaran
tentang kriteria prestasi membuat komik strip oleh siswa kelas X animasi SMK N
1 Sukawati tahun pelajaran 2016/2017. Dapat diamatai pencapaian skor masing-
masing siswa bervariatif, bila diamati lebih lanjut pengelompokan skor standar
dalam membuat komik strip dapat diamati dalam tabel berikut.
Tabel Pengelompokan Skor Standar Kemampuan Membuat Komik Strip Siswa
Kelas X Animasi SMK N 1 Sukawati Tahun Pelajaran 2016/2017
No. Skor Standar Jumlah Siswa
1 90 1
2 85 2
3 65 1
4 50 1
Jumlah 5

Perolehan nilai standar membuat komik di kelas X animasiSMK N 1
Sukawati tahun pelajaran 2016/2017 dapat diklasifikasikan menjadi empat
kategori yaitu:
1. Kategori baik sekali (siswa yang memperoleh skor di antara 86-100)
2. Kategori baik (siswa yang memperoleh skor di antara 71-85)
3. Kategori cukup (siswa yang memperoleh skor di antara 56-70)
4. Kategori kurang (siswa yang memperoleh skor di antara 41-55)
Selanjutnya data siswa X animasi dalam membuat komik strip tersebut dapat
dihitung dalam bentuk persentase sebagai berikut:
1. Nilai 90 (baik sekali) sebanyak 1 orang, maka persentase kemampuan
membuat komik strip oleh siswa X animasi SMK N 1 Sukawati adalah 1/5
x 100 = 20%

134
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

2. Nilai 85 (baik) sebanyak 2 orang, maka persentase kemampuan membuat
komik strip oleh siswa X animasi SMK N 1 Sukawati adalah 2/5 x 100 =
40%
3. Nilai 65 (cukup) sebanyak 1 orang, maka persentase kemampuan membuat
komik strip oleh siswa X animasi SMK N 1 Sukawati adalah 1/5 x 100 =
20%
4. Nilai 50 (kurang) sebanyak 1 orang, maka persentase kemampuan
membuat komik strip oleh siswa X animasi SMK N 1 Sukawati adalah 1/5
x 100 = 20%
Dari penjelasan diatas ada 3 siswa yang telah mencapai kriteria ketuntasan
minimal, sedangkan siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal
berjumlah 2 orang.

3.4 Menghitung Nilai Rata-rata
Analisis data tes tindakan dimaksudkan untuk mencari atau menghitung
dan menentukan skor rata-rata kemampuan siswa dalam membuat komik strip.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari data diatas, maka akan dihitung
skor rata-rata siswa. Untuk menghitung skor rata-rata siswa dimuat dalam tabel
berikut.
Tabel Persiapan Menghitung Skor Rata-rata Kemampuan Membuat
Komik Strip Siswa Kelas X Animasi SMK N 1 Sukawati Tahun Pelajaran
2016/2017

No. X F FX

1 90 1 90
2 85 2 170
3 65 1 65
4 50 1 50
Jumlah 5 375

Keterangan:
X = Skor standar
F = Jumlah populasi (frekuensi)
Fx = Skor standar dikalikan dengan jumlah populasi

135
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Berdasarkan skor yang dicapai oleh masing-masing siswa seperti yang
dimuat dalam tabel 4.6 diatas, maka dapat dihitung nilai rata-ratanya dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
∑Fx
M= _____
N

Keterangan:
M` = Nilai rata-rata
∑Fx = Jumlah skor dikalikan jumlah frekuensi
N = Jumlah populasi

Diketahui:
∑Fx = 375
N =5
M =?
Dengan rumus tersebut langkah selanjutnya adalah menghitung skor rata-
rata dengan memasukan jumlah ∑Fx dan N yang sudah diketahui.

∑Fx
M= _____
N

375
M= ____
5

M = 75

Jadi skor rata-rata kemampuan membuat komik strip oleh siswa X animasi
SMK N 1 Sukawati tahun pelajaran 2016/2017 adalah 75.

4. Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti mengenai
kemampuan membuat komik strip siswa kelas X animasi SMK N 1 Sukawati
tahun pelajaran 2016/2017 dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

136
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

1) Kemampuan membuat komik strip siswa kelas X animasi SMK N 1
Sukawati tahun pelajaran 2016/2017 tergolong dalam kriteria baik dengan
nilai rata-rata 75. Jika diamati dari kriteria ketuntasan minimal (KKM)
SMK N 1 Sukawati dalam pelajaran praktik yaitu 75, maka 3 dari 5 orang
siswa kelas X animasi telah mencapai atau memenuhi KKM dengan
persentase 60%. Sedangkan siswa yang belum mencapai KKM berjumlah 2
orang dengan persentase 40%.
2) Nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 90 dan nilai terendah adalah 50.
Aspek yang paling dikuasai siswa dalam membuat komik strip adalah
aspek ide dengan nilai rata-rata 88. Sedangkan aspek yang kurang dikuasai
siswa adalah aspek camera view dengan nilai rata-rata 68.
3) Kendala yang dihadapi rata-rata siswa kelas X animasi dalam membuat
komik strip adalah bagaimana menerapkan ide karya yang sudah baik agar
terwujud menjadi karya yang baik. Hal ini paling terlihat pada aspek
camera view, terlihat siswa kurang berani untuk mengambil sudut pandang
yang tidak biasa, kendala ini disebabkan karena kurangnya pengalaman
siswa dalam berkarya serta kurangnya pengamatan siswa terhadap karya-
karya yang sudah ada sebelumnya yang sudah diakui di masyarakat.

Dalam upaya peningkatan prestasi siswa terutama dalam membuat komik
strip melalui tulisan ini perlu dikemukakan saran-saran sebagai tindak lanjut dari
penelitian yang telah dilaksanakan sebagai berikut:
1) Untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar membuat komik strip
hendaknya pihak sekolah atau perpustakaan memperbanyak serta
memperbaharui koleksi buku yang berkaitan dengan pelajaran seni rupa.
2) Keterampilan membuat komik tidak terjadi secara otomatis, untuk
menjadikan siswa lebih terampil diharapkan lebih banyak memberikan
latihan membuat komik strip.
3) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi sekolah
atau guru terutama dalam pelajaran praktik animasi, karena komik erat
kaitannya dengan pelajaran membuat story board dalam pembuatan
sebuah film animasi.

137
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

4) Untuk meningkatkan gairah siswa dalam menerima pelajaran, guru
memegang peranan dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru
hendaknya dapat memilih materi ajar yang menyenangkan dan menarik
minat siswa, seperti dalam membuat komik guru dapat membahas komik-
komik yang sudah diakui dimasyarakat kepada siswa.
5) Dalam rangka menguji keterampilan siswa, guru diharapkan lebih aktif
mencari informasi tentang kompetisi-kompetisi atau perlombaan yang ada
lalu mengajak siswa berpartisipasi, seringkali kurangnya pengalaman
siswa dalam mengikuti kompetisi dikarenakan minimnya informasi yang
dimiliki siswa tentang kompetisi-kompetisi yang ada.
6) Agar kendala-kendala membuat komik strip bisa diselesaikan hendaknya
pihak sekolah atau guru lebih aktif memanfaatkan media pembelajaran
yang tersedia, seperti memanfaatkan proyektor untuk menampilkan dan
melakukan pembahasan bersama siswa mengenai karya-karya komik yang
terkenal beserta sejarahnya.

Daftar Rujukan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka

M.S. Gumelar. 2004. Comic Making. Pt Indeks, Jakarta.

Munadi Yudhi, 2013. Media Pembelajaran; Sebuah Pendekatan Baru. Referensi
(GP Press Droup), Jakarta

Nurkencana, I Wayan. Suwartana, P.P.N. 1986. Evaluasi Pendidikan. Singaraja:
Usaha Nasional

Sugiyono, 2015/2016. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta

Sugiyono, 2016. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta

138
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

GAYA BAHASA CERPEN KARYA SISWA
PADA TABLOID WIYATA MANDALA TAHUN 2016

Oleh
Putu Dina Marianti, NIM 2013.II.1.0002
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah
Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

ABSTRAK
Penelitian ini mengungkap gaya bahasa cerpen karya siswa yang dimuat
pada tabloid Wiyata Mandala tahun 2016. Style atau gaya bahasa merupakan cara
yang digunakan pengarang untuk mengungkapkan gagasannya. Kajian stilistika
digunakan untuk menganalisis penggunaan unsur gaya bahasa yang digunakan
pengarang. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah penggunaan
gaya kata dan gaya kalimat cerpen siswa pada tabloid Wiyata Mandala tahun
2016. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penggunaan gaya kata dan gaya
kalimat cerpen pada tabloid Wiyata Mandala tahun 2016, memberikan apresiasi,
serta meningkatkan kualitas penulisan sastra kreatif karya siswa.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) sastra remaja, (2)
stilistika, (3) cerpen, dan (4) tabloid Wiyata Mandala. Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode
pustaka. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik catat. Metode
analisis data penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Cerpen karya siswa yang
diteliti sebanyak 24 buah. Hasil analisis data disajikan dengan metode informal
berupa uraian singkat dan metode formal berupa tabel untuk menjaring data-data
yang diperlukan, menyajikan data secara jelas, sederhana, dan mudah dipahami.
Berdasarkan hasil penelitian, cerpen karya siswa tidak terlepas dari gaya
bahasa. Gaya bahasa yang terdapat pada cerpen siswa mencakup gaya kata dan
gaya kalimat. Pada gaya kata cerpen siswa ditemukan penggunaan bahasa asing
dan bahasa prokem. Penggunaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris,
digunakan mengingat bahasa tersebut diajarkan di sekolah. Penggunaan bahasa
prokem mencerminkan ciri khas siswa di usia remaja yang didapat dari
pergaulannya. Akan tetapi, bahasa asing dan bahasa prokem yang ditemukan
dalam jumlah wajar atau rendah, yaitu 5%.
Gaya kalimat cerpen siswa memanfaatkan ragam gaya bahasa. Dari 42
gaya bahasa yang ada, gaya bahasa yang ditemukan sebanyak 14 gaya bahasa
berarti ragam gaya bahasa yang digunakan kurang dari 50% yaitu 33,3%. Dari
sekian ragam gaya bahasa, simile atau persamaan dan personifikasi lebih dominan
digunakan siswa masing-masing sebanyak 7 buah (15%) dalam menulis cerpen
karena gaya bahasa tersebut lebih sering diajarkan di sekolah.

Kata kunci: stilistika, gaya bahasa, cerpen

139
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

ABSTRACT
This research revealed the language style in short stories written by
students which were included in Wiyata Mandala tabloid in the year of 2016.
Language style is the way used by the writers to reveal their ideas. Stylistic study
is used to analyze the usage of language style element being used by the writers.
Problems being discussed in this research is the usage of word style and sentence
style in short stories written by students in Wiyata Mandala tabloid in the year of
2016. The aim of this research is to find out the usage of word style and sentence
style in short stories at Wiyata Mandala tabloid in the year of 2016, to give an
appreciation, as well as to increase the quality of creative literature writing by
students.
Theories being used in this research were (1) teenage literature, (2)
stylistic, (3) short stories, and (4) Wiyata Mandala tabloid. This research was a
qualitative study. Data sampling method being used was literature method. Data
sampling technique being used was recording technique. Data analysis method in
this study was descriptive qualitative. Short stories written by students being
studied were 24 stories. The result of data analysis was presented with the
informal method in the form of brief description and formal method in the form of
the table to encompass required data, presenting data clearly, simple, and easy to
understand.
Based on the result of research, short stories written by students are not
separated from language style. Language style contained in short stories by
students encompassing word style and sentence style. Word style in short stories
by students was found to use foreign language and jargon. The use of foreign
language, in particular, English, is being used given that the language is taught in
school. The use of jargon is reflecting the identity of students in teenage getting it
from their association. However, foreign language and jargon was found in fair
quantities or low, at 5%.
Sentence style in short stories by students is utilizing various styles of
language. From 42 existing language styles, language style found are as many as
14 styles, it means that the varieties being used are less than 50% that is 33.3%.
From those existing varieties of language styles, simile or similarity and
personification is more dominant used by students as many as 7 (15%) in writing
a short story due to it being more frequent taught in school.

Keywords: Stylistic, language style, short stories.

PENDAHULUAN
Perkembangan sastra remaja di Indonesia sangat pesat. Sastra remaja
sering disejajarkan dengan sastra populer. Meski tidak terekam dalam periodisasi
sejarah sastra Indonesia, kenyataannya sastra populer banyak ditulis dan
dikonsumsi masyarakat pembaca, khususnya dari kalangan anak muda. Menjelang
2004, sebagaimana dilansir Riau Pos tanggal 1 Februari 2015, tren fiksi populer
yang lebih dikenal dengan chick lit dan teen lit mengemuka. Pada masa-masa ini,
sejumlah penulis baru muncul, seperti Dyan Nuranindya yang meroket lewat

140
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

novel Dealova, Rahmania Arunita yang populer lewat novelnya Eiffel I’m in
Love. Kesuksesan dua penulis yang waktu itu berusia belasan tahun itu pun diikuti
oleh beberapa penulis lain yang juga menerbitkan buku dengan genre sejenis
(Riau Pos, 2015).
Karya bergenre chick lit dan teen lit banyak dikonsumsi kaum muda,
terutama perempuan di kota besar. Chick lit adalah karya sastra yang bercerita
tentang wanita muda. Definisi yang lebih populer dari chick lit adalah karya sastra
populer yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari seorang wanita lajang kota
modern, dan diarahkan pada pasar gadis dewasa berusia 17—26 tahun. Sementara
teen lit diarahkan pada kaum yang lebih belia, seusia murid SMP-SMA (Dewojati,
2015: 25). Kedua genre tersebut mengisahkan dunia remaja dengan mengangkat
kisah percintaan, persahabatan, dan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan
remaja. Gaya penyajian yang ringan, bercerita tentang hal-hal sepele, menghibur,
dan bertutur dengan bahasa tidak formal membuat chick lit dan teen lit mudah
diterima masyarakat.
Dalam laporan Riau Pos (2015), Asisten Manajer Toko Buku Gramedia
Matraman, Dewi Ratnasari, mengatakan bahwa dalam satu bulan ada 1.000—
2.000 judul buku baru yang masuk. Banyaknya jumlah judul buku tersebut
membuat waktu pajang buku-buku di toko semakin berkurang. Kondisi tersebut
mengharuskan penulis dan penerbit buku khususnya chick lit dan teen lit mencari
berbagai cara, salah satunya memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi.
Selain chick lit dan teen lit, ada pula karya sastra remaja dimuat pada
sejumlah media massa seperti surat kabar, majalah, tabloid, dan media daring
(online). Kehadiran karya sastra, salah satunya cerpen, pada media massa menjadi
fenomena unik di Indonesia. Fenomena ini hadir abad ke-19 yang membuka
kemungkinan interaksi yang unik antara penulis dan pembaca. Hubungan
keduanya tidak hanya sekadar berkreasi dan mengapresiasi, namun lebih jauh
terbukti meregenerasi pengarang. Akan tetapi, pemuatan ruang sastra pada media
cetak memang terbatas. Terbit seminggu sekali dengan maksimal 52 edisi dalam
setahun menimbulkan kompetisi tingkat tinggi. Tulisan yang berhasil lolos tak
ayal dianggap sebagai kelas tersendiri (Tempo, 2016). Berbeda halnya dengan
media daring, karya sastra remaja jumlahnya tak terbatas. Setiap orang dapat

141
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

mempublikasikan karyanya. Akan tetapi, dipandang agak remeh karena tidak
melewati tahap seleksi seperti pada media cetak.
Banyaknya karya sastra remaja tersebut belum mendapat perhatian lebih
dari pemerhati dan peneliti sastra. Sastra remaja masih kurang diperhatikan dalam
khazanah kesusastraan Indonesia. Hal ini terjadi karena sastra remaja dianggap
remeh dan rendah bila dibandingkan dengan sastra dewasa. Selama ini, penelitian
sastra lebih banyak dilakukan pada karya sastra orang dewasa.
Sastra remaja dapat dikaji dari berbagai aspek. Selain struktur penceritaan
maupun tematik, salah satu aspek penting yang perlu dikaji adalah bahasanya.
Dari aspek bahasa, dapat diukur keterampilan siswa dalam berbahasa. Bahasa
adalah aspek penting dalam sastra, mengingat bahasa ialah medium utama karya
sastra. Dalam karya sastra, bahasa yang digunakan bertujuan untuk melahirkan
keindahan. Pengarang mengungkapkan idenya menggunakan pilihan bahasa
tertentu untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu pula. Ada alasan tertentu
pengarang memakai satu kata dan tidak memakai kata yang lain. Hal yang
diungkapkan sama, tetapi bentuk pengungkapan dapat berbeda atau bervariasi,
sesuai selera pengarang yang biasa disebut gaya bahasa.
Kualitas suatu karya sastra dapat dilihat dari penggunaan gaya bahasa.
Tiap pengarang memiliki kekuatan tersendiri dalam penggunaan gaya bahasa
sehingga dapat ditemukan berbagai ragam gaya bahasa. Gaya bahasa itulah yang
membuat karya sastra menjadi lebih menarik, memiliki nilai estetika, bermakna,
dan didayagunakan secermat mungkin sehingga dapat diungkapkan setepat-
tepatnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran pengarang.
Salah satu karya sastra yang tak terlepas dari gaya bahasa ialah cerpen.
Cerpen adalah jenis karya sastra yang paling banyak dibaca orang dengan
pemahaman yang cukup memadai. Cerpen memiliki beberapa ciri, yakni panjang
kisahnya lebih singkat daripada novel, alur ceritanya rapat, berfokus pada satu
klimaks, memusatkan cerita pada tokoh tertentu, waktu tertentu, dan situasi
tertentu, serta pertikaiannya dramatik. Cerpen diciptakan dari realitas yang ada di
sekitar pengarang tentunya melalui proses kreatif. Namun demikian, bukan hal
yang tak mungkin bila sesuatu yang mustahil bisa terjadi dalam cerpen jika itu
sesuai keyakinan pengarang, mengingat cerpen bersifat imajiner.

142
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah atas (SMA)
berdasarkan Kurikulum 2013 terdapat materi tentang cerpen. Pembelajaran cerpen
diajarkan mulai dari membaca cerpen, membedah struktur cerpen, memahami
cerpen, menginterpretasi cerpen, mengabstraksi dan mengonversi cerpen, hingga
memproduksi cerpen. Memproduksi sama dengan menghasilkan, berarti siswa
dituntut membuat atau menulis cerpen. Dalam pembelajaran menulis cerpen,
justru aspek gaya bahasa terlebih dahulu penting untuk diperhatikan secara serius
karena gaya bahasa menjadikan karya sastra lebih menarik, mengandung nilai
estetika, dan makna cerita tersampaikan dengan baik kepada pembaca. Oleh
karena itu, perlu ditanamkan pemahaman siswa akan gaya bahasa untuk
menghasilkan karya sastra yang berkualitas.
Pembinaan keterampilan menulis siswa tidak saja dapat dilakukan dalam
kegiatan pembelajaran di kelas, dapat pula di luar kelas. Salah satu upaya itu
adalah melalui media massa yang memuat karya-karya pelajar atau remaja. Media
massa yang menampung kreativitas remaja dalam bersastra salah satunya tabloid
Wiyata Mandala. Tabloid yang terbit di Kota Denpasar ini hadir sebagai tempat
siswa untuk menuangkan karya-karyanya. Selain itu, tabloid Wiyata Mandala
yang dikenal pula dengan sebutan koran pelajar ini sebagai wadah untuk
meningkatkan minat membaca, menulis, dan apresiasi siswa dalam bidang sastra.
Melalui media tabloid Wiyata Mandala, siswa akan lebih leluasa menuangkan
pikiran, pendapat, dan gagasannya. Hal ini sangat bermanfaat untuk mengasah
keterampilan berbahasa siswa. Secara tidak langsung, tabloid Wiyata Mandala
membina keterampilan berbahasa tentang bagaimana menulis kata, menyusun
kalimat, memilih topik karangan, ejaan bahasa Indonesia, dan gaya bahasa yang
dipergunakan sesuai kreativitas kepengarangan siswa dalam membuat karya
sastra. Siswa dapat berunjuk karya melalui tabloid Wiyata Mandala dengan
berbagai jenis tulisan, salah satunya cerpen.
Pada setiap edisi, tepatnya halaman 11, sebuah cerpen karya siswa
senantiasa hadir menyapa pembaca pada rubrik cerpen. Secara tidak langsung,
remaja Bali berebut laman pemuatan tersebut. Sejauh ini, tidak ada batasan tema
cerpen, namun yang terpilih tentu melalui tahap seleksi. Wiyata Mandala belum

143
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

banyak diteliti. Padahal, tabloid ini tidak hanya diperuntukkan bagi siswa, namun
juga bagi masyakarat luas.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini mengkaji penggunaan gaya
bahasa pada cerpen dengan kajian stilistika. Penelitian mengenai gaya bahasa
penting diteliti menggunakan kajian stilistika karena kajian tersebut membahas
tentang bagaimana unsur gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang. Mengingat
penggunaan gaya bahasa dalam cerpen pada tabloid Wiyata Mandala belum
pernah dilakukan sebelumnya, maka peneliti merancang satu penelitian yang
berjudul “Gaya Bahasa Cerpen Karya Siswa pada Tabloid Wiyata Mandala Tahun
2016”. Pemilihan cerpen pada tabloid Wiyata Mandala didasari beberapa faktor.
Pertama, tabloid Wiyata Mandala merupakan media massa pendidikan. Kedua,
Wiyata Mandala dekat dengan siswa karena sasaran pembacanya merupakan
siswa di Bali. Ketiga, Wiyata Mandala menjadi wadah untuk menampung
kreativitas siswa serta menjadi sarana komunikasi atau bertukar informasi
antarsekolah melalui bahasa tulis.
Landasan teori dalam penelitian ini yaitu (1) Sastra Remaja, (2) Stilistika,
(3) Cerpen, (4) Tabloid Wiyata Mandala. Permasalahan yang diangkat dalam
penelitian ini ada dua yakni, (1) bagaimanakah penggunaan gaya kata cerpen
karya siswa pada tabloid Wiyata Mandala tahun 2016? (2) bagaimanakah gaya
kalimat cerpen karya siswa pada tabloid Wiyata Mandala tahun 2016?

METODE PENELITIAN

Penelitian ini mengungkap gaya bahasa cerpen menggunakan kajian
stlistika. Kajian stilistika merupakan ilmu yang meneliti penggunaan gaya bahasa
di dalam teks sastra (Satoto, 2012: 54). Kajian stilistika digunakan karena sejalan
dengan tujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa cerpen karya siswa pada
tabloid Wiyata Mandala tahun 2016. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif
kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang mengungkap
situasi sosial tertentu dengan mendeskripsikan kenyataan secara benar, dibentuk
oleh kata-kata berdasarkan teknik pengumpulan dan analisis data yang relevan

144
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

yang diperoleh dari situasi alamiah. Langkah kerja untuk mendeskripsikan suatu
objek, fenomena, atau setting social dalam suatu tulisan yang bersifat naratif.
Sumber data penelitian sangat diperlukan dan salah satu komponen yang penting.
Sumber data penelitian adalah subjek darimana data diperoleh (Arikunto, 2014:
172). Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder yaitu kumpulan rubrik
cerpen tabloid Wiyata Mandala tahun 2016 yang diperoleh dari Perpustakaan Bali
Post atas persetujuan redaktur Wiyata Mandala.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode pustaka.
Menurut Priyono (2011), metode pustaka adalah teknik yang menggunakan
sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Sumber tertulis dalam penelitian
ini adalah kumpulan rubrik cerpen tabloid Wiyata Mandala tahun 2016. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan teknik catat. Priyono (2011)
menyatakan bahwa, teknik catat berarti peneliti sebagai instrumen kunci
melakukan pencatatan secara cermat, terarah, dan teliti terhadap sumber data.
Sumber data sebagai sasaran penelitian menggunakan teknik catat ini berupa
cerpen karya siswa pada tabloid Wiyata Mandala tahun 2016.
Penelitian ini digunakan metode analisis data yang diawali dengan
langkah-langkah menganalisis sebagai berikut. Pertama, membaca secara
heuristik, yakni pembacaan tingkat pertama karya sastra berdasarkan struktur
kebahasaan atau kode bahasa. Kedua, membaca secara hermeneutik, yakni
pembacaan tingkat lanjut karya sastra berdasarkan kode sastra, budaya, dan
penafsiran dengan langkah yaitu: (1) menganalisis gaya bahasa yang terdapat
dalam cerpen tabloid Wiyata Mandala tahun 2016, (2) mengelompokkan gaya
bahasa yang terdapat dalam cerpen tabloid Wiyata Mandala tahun 2016, (3)
memaparkan dengan jelas gaya bahasa disertai kutipan-kutipan yang terdapat
dalam cerpen tabloid Wiyata Mandala tahun 2016, (4) menyimpulkan hasil
analisis.
Metode penyajian analisis data ialah tahap yang ditempuh setelah
mengolah atau menganalisis data. Metode penyajian data dalam penelitian
kualitatif dapat dilakukan dalam berbagai bentuk seperti tabel, grafik, dan
sejenisnya. Lebih dari itu, penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian

145
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

singkat, bagan, hubungan antarkategori, dan sejenisnya (Satori dan Komariah,
2014: 219).
Menurut Sudaryanto (2015: 240—241), metode penyajian analisis data
yang dikenal sebagai metode penyajian kaidah dibagi menjadi dua, yaitu metode
penyajian informal dan formal. Metode penyajian informal adalah perumusan
dengan kata-kata biasa, sedangkan metode penyajian formal adalah perumusan
bersifat umum dikenal sebagai tanda dan lambang-lambang.
Berdasarkan pemaparan di atas, dalam penelitian ini disajikan data dengan
metode penyajian informal dan formal. Metode penyajian informal dalam
penelitian ini berupa uraian singkat menggunakan kata-kata, sedangkan metode
penyajian formal penelitian ini digunakan tabel-tabel untuk menjaring data-data
yang diperlukan, menyajikan analisis data secara jelas, sederhana dan mudah
dipahami. Data yang terkumpul dianalisis melalui langkah-langkah
pengindentifikasian dan pengklasifikasikan sampai menemukan verifikasi data
yang berupa simpulan data.

HASIL PEMBAHASAN
Tabloid terbitan Kelompok Media Bali Post ini menyediakan rubrik
cerpen yang bertujuan untuk memberi wadah kreasi dan apresiasi dalam bidang
sastra. Tiap edisi pada halaman 11, sebuah cerpen senantiasa menyapa
pembacanya. Cerpen pada tabloid Wiyata Mandala merupakan karya sastra
remaja di Bali yang lolos seleksi redaktur. Ruang lingkup pembacanya yang
utama adalah pelajar dengan rentang usia 13—18 tahun. Penelitian ini
menemukan 24 cerpen karya siswa yang dimuat pada rubrik cerpen tabloid
Wiyata Mandala tahun 2016. Dari 24 cerpen ada tiga judul cerpen menggunakan
bahasa asing, 21 judul cerpen lainnya menggunakan bahasa Indonesia.
Cerpen-cerpen karya siswa tersebut memiliki tema beragam. Ada yang
mengambil tema percintaan, persahabatan, sosial, dan penyesalan. Cerpen tersebut
ditulis oleh siswa dari berbagai latar belakang sekolah. Ada sekolah menengah
pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), dan sekolah menengah kejuruan
(SMK). Cerpen Wiyata Mandala tahun 2016 merupakan karya 18 siswa dari 14
sekolah. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa ada siswa menulis cerpen lebih dari

146
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

satu, yakni Dea Pradnya Dewi (4 cerpen), Ni Putu Anandha Swari (3 cerpen),
Kiki Kristika Aristya (2 cerpen).
Penggunaan gaya kata ditemukan kata menggunakan bahasa asing dan
bahasa prokem. Berdasarkan data yang ditemukan, gaya bahasa asing dan gaya
bahasa prokem yang digunakan dalam cerpen karya siswa menunjukkan bahwa
siswa sudah mampu menggunakan ragam gaya bahasa, baik bahasa asing maupun
bahasa prokem. Bahasa asing menunjukkan ciri khas siswa yang mengikuti
perkembangan dunia luar. Bahasa prokem juga menghiasi cerpen karya siswa
yang menunjukkan ciri khas siswa yang berada di usia remaja. Akan tetapi, gaya
kata bahasa asing dan bahasa prokem yang ditemukan dalam jumlah wajar atau
rendah, yaitu 5%.
Penggunaan gaya kalimat dapat dibedakan atas (1) gaya bahasa
berdasarkan pilihan kata, (2) gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung
dalam wacana, (3) gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, dan (4) gaya bahasa
berdasarkan langsung tidaknya makna. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata
dalam cerpen karya siswa, yaitu (a) gaya bahasa tak resmi dan (b) gaya bahasa
percakapan. Gaya bahasa berdasarkan nada dalam cerpen karya siswa terdiri atas
(1) gaya sederhana, (2) gaya mulia dan bertenaga, dan (3) gaya menengah. Gaya
bahasa berdasarkan struktur kalimat dalam cerpen karya siswa mencakup: (1)
klimaks, (2) antitesis, dan (3) repetisi (perulangan kata dan frasa). Gaya bahasa
berdasarkan langsung tidaknya makna terdapat (1) gaya bahasa retoris, yaitu
anastrof, asindeton, polisindeton, pleonasme dan tautologi, erotesis atau
pertanyaan retoris, dan hiperbola; (2) gaya bahasa kiasan, yaitu simile atau
persamaan, metafora, personifikasi, alusi, dan sinekdoke.
Dari 42 gaya bahasa yang ada, ditemukan sebanyak 14 (33,3%) gaya
bahasa berarti ragam gaya bahasa yang digunakan siswa kurang dari 50%. Dari
sekian ragam gaya bahasa, simile atau persamaan dan personifikasi lebih dominan
digunakan siswa sebanyak masing-masing 7 buah (15%) dalam menulis cerpen
karena gaya bahasa tersebut sering diajarkan di sekolah.

147
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

SIMPULAN
Cerpen karya siswa pada tabloid Wiyata Mandala merupakan sastra
remaja yang tak terlepas darigaya bahasa. Penggunaan gaya kata pada cerpen
karya siswa ditemukan (1) bahasa asing dan (2) bahasa prokem. Gaya kata bahasa
asing dan bahasa prokem dalam jumlah wajar atau rendah, yaitu 5%.
Penggunaan gaya kalimat yang ditemukan tidak terlepas dari gaya bahasa.
Dari 42 gaya bahasa yang ada, ditemukan sebanyak 14 (33,3%) gaya bahasa
berarti ragam gaya bahasa yang digunakan siswa kurang dari 50%. Dari sekian
ragam gaya bahasa, simile atau persamaan dan personifikasi lebih dominan
digunakan siswa sebanyak masing-masing 7 buah (15%) dalam menulis cerpen
karena gaya bahasa tersebut sering diajarkan di sekolah.
Saran bagi siswa merujuk hasil penelitian yang menggambarkan bahwa
tidak keseluruhan gaya bahasa dimanfaatkan oleh siswa, maka siswa dalam
menulis karya sastra, khususnya cerpen, hendaknya lebih menyempurnakan lagi
penggunaan gaya bahasa dengan mempelajari jenis-jenis gaya bahasa dan lebih
banyak membaca karya sastra orang lain sehingga ke depannya lebih berkualitas
dan nilai estetis karya sastra siswa dapat lebih dinikmati oleh pembaca. Guru juga
disarankan untuk menambah wawasan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia
dalam rangka memperkenalkan dan melatih siswa menggunakan ragam gaya
bahasa dalam penciptaan karya sastra. Selain itu, menambah wawasan pula
dengan membaca karya sastra orang lain sehingga mendapat pengetahuan
penggunaan gaya bahasa dari karya yang dibaca kemudian diajarkan kepada
siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Dewojati, Cahyaningrum. 2015. Sastra Populer Indonesia. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.

Priyono, Yakub. 2011. “Proposal Penelitian Sastra”. Tersedia di
http://jacoeb73.blogspot.co.id/2011/04/proposal-penelitian-sastra.html
(diunduh 28 Desember 2016).

148
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Riau Pos. 2015. “Buku dan Media Sosial”. Riau. Tersedia di
http://riaupos.co/2400-spesial-buku-dan-media-
sosial.html#.WRaaJtzxpLN (diunduh 18 Februari 2016).
Satoto, Soediro. 2012. Stilistika. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Sudaryanto. 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar
Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Sanata
Dharma University Press.

Tempo. 2016. ”Senja Kala Ruang Sastra di Media?”. Jakarta. Tersedia di
https://indonesiana.tempo.co/read/74142/2016/05/15/Senja-Kala-Ruang-
Sastra-di-Media? (diunduh 26 Februari 2016)

.

149
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

EKSPLORASI MATERIAL NON KONVENSIONAL
DALAM KARYA SENI LUKIS

oleh
Agus Mediana Adiputra S,Sn., M,Sn
Program Studi Pendidikan Seni Rupa, FPBS, IKIP PGRI Bali

Abstrak
Secara umum eksplorasi merupakan proses pencarian atau penjelajahan
yang bertujuan untuk menemukan sesuatu. Eksplorasi menjadi sebuah kegiatan
dalam berkesenian, pemikiran tersebut selalu menjadi alasan untuk mendapatkan
kepuasan batin seorang seniman dalam menuangkan ide ke dalam bentuk karya
seni. Dalam ruang lingkup seni rupa pengolahan material, media, gagasan ataupun
ide menjadi kegiatan eksplorasi untuk mendapatkan kemungkinan baru. Kegiatan
eksplorasi juga dapat menimbulkan bentuk, gejala, ataupun hal-hal yang
takterduga yang dapat dieksplorasi kembali untuk mendapatkan sebuah karya seni
yang unik.
Material merupakan sebuah sarana atau bahan yang diolah melalui teknis
tertentu dalam penciptaan karya seni rupa. Material merupakan bahan yang
menentukan perwujudan secara visual maupun secara kontekstual melalui
pengolahan teknis dari seorang seniman, penggunaan material non konvensional
dalam hal ini lebih merujuk pada teknis dan visual yang ingin diwujudkan, sebuah
material memiliki kekuatan kontekstual yang mampu membawa konsep sebuah
karya seni pada konteks dari material itu sendiri. Disamping itu tampilan visual
sebuah material juga mendukung perwujudan sebuah karya seni yang bersifat
eksploratif sehingga pengolahan teknis dan visual yang dapat diwujudkan menjadi
lebih beragam seperti, sehingga mampu mengikuti kehendak pencipta secara
menyeluruh.
Seni Lukis merupakan salah satu media ungkap dalam perwujudan
pengolahan material, perwujudan karya seni lukis dengan menggunakan
eksplorasi material non konvensional menjadi hal yang menarik dieksplorasi pada
era perkembangan seni rupa sekarang. Pengungkapan karya seni dengan teknis
konvensional menjadi sebuah kemandegan atau kejenuhan dalam berkarya seni,
eksplorasi material ini menjadi hal yang menarik dilakukan disamping itu juga
dapat memunculkan hal-hal yang tidak terduga dalam proses perwujudannya
sehingga mampu memberi perwujudan baru yang dapat diolah kembali.

Kata-kata kunci: eksplorasi, material, dan media seni lukis

Abstract
In general, exploration is a search or exploration process that aims to
find something. Exploration become an activity in art, that perception is always
being a reason to get an artist's inner satisfaction in pouring ideas into the form

150
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

of art. In the scope of fine art material processing, media, thought or ideas into
exploration activities to get new possibilities. Exploration activities can also lead
to unexpected forms, symptoms, or things that can be explored to get a unique
work of art.
Material is an ingredients or equipment that is processed through
certain technical in the creation of artwork. Material is an ingredient that
determines the visual and contextual manifestation through the technical
processing of an artist, the use of non-conventional material in this case refers
more to the technical and visual wants to be realized, a material has the
contextual power that is able to bring the concept of a work of art in the context of
the material itself. Besides that, the visual appearance of a material also supports
the embodiment of an artwork which is explorative so that the technical and
visual processing becomes more diverse as, so being able to follow the creator
itself.

Painting is one of the media in the material embodiment of
materialization, the embodiment of painting by using the exploration of non-
conventional materials into interesting things to be explored in this era.
Disclosure of artwork with conventional engineering becomes a stagnancy in the
work of art, the exploration of this material is an interesting thing to be done, so
can bring things unexpected to provide a new embodiment that can be
reprocessed.

Keywords: exploration, material, and media of painting

Pendahuluan
Proses kreatif dalam perwujudan karya seni merupakan hal yang penting
dalam pencapaian akhir sebuah karya seni, pengalamam pengolahan teknis
perwujudan menjadi modal bagi seorang perupa dalam mewujudkan gagasannya
dan imajinasinya kedalam sebuah karya seni. Perkembangan seni rupa era
sekarang sudah sangat banyak hal yang dapat mempengaruhi, karena dipengaruhi
oleh dunia global yang segala berita dan hal yang berkembang di berbagai temapt
dapat diakses dengan mudah. Hal tersebut juga tentunya dapat mempengaruhi
imajinasi seorang perupa dalam segi ide baik secara objek, konteks dan juga
perwujudannya. Perkembangan jaman tentunya faktor utama yang menjadi alasan
untuk perubahan termasuk dalam dunia senirupa. Jaman dapat merubah pola pikir,
perkembangan bentuk objek, fungsi sebuah objek dan lain sebagainya.
Seorang seniman merupakan sosok yang memiliki idiologi estetik yang
tinggi, pola berfikir, sudut pandang terhadap jaman dari seniman satu dengan yang
lain tentunya sangat berbeda, disamping itu pengaruh lingkungan atau ruang

151
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

lingkup juga menjadi hal yang penting dalam proses kreatif seorang seniman,
seperti seniman yang berkembang pada jaman klasik, mereka memanfaatkan
secara maksimal bahan media dan isu yang berkembang pada era tersebut,
sehingga perkembangan seni dari setiap eranya dapat dilihat sebuah
perkembangan teknologi juga, dapat dilihat dari penemuan lukisan pada goa-goa
prasejarah, kemudian terdapat seni yang berkembabg di Mesir, Yunani dan
romawi yang tergolong seni tradisi dan munculnya masa atau zaman Renesans
yang puncak kejayaannya dianggap sebagai kesenian yang visioplastik (enak
dipandang mata) sempurna, yang bisa menangkap dan menerjemahkan dengan
baik hasil tangkapan optik, hingga perkembangan seni rupa modern
berkembangnya aliran atau isme yang membedakan dari masa ke masanya
ataupun senimannya. Salah satunya dapat dikatakan bahwa sebuah pencapaian
seorang seniman ialah ketika seorang seniman menemukan jati dirinya, dan hal itu
menjadi penemuan yang dijadikan gaya pribadi seorang seniman.
Perkembangan seni rupa yang begitu pesat menjadikan seorang seniamn
berkompotisi untuk dapat mewujudkan karya terbaik mereka, sehingga karya seni
yang merak wujudkan dapat muncul kepermukaan, hal tersebut menjadi sebuah
kekuatan kompotitif seorang seniamn dalam mewujudkan karya-karya terbaiknya,
dalam proses perwujudannya tentunya seorang seniman memiliki banyak
pertimbangan, baik dari segi teknis, visualisai, maupun konteks yang dibicarakan
oleh seniman sehingga, tidak jarang seniman yang memanfaatkan sebuah
teknologi yang berkembang dalam mewujudkan karyanya.

Latar Belakang Penciptaan
Perwujudan sebuah karya seni memiliki berbagai pertimbangan seperti,
teknis, visual, dan juga konteks yang dibicarakan. Didalam perkembangan jaman
globalisasi ini banyak hal yang dapat kita akses terkait dengan teknis perwujudan
sebuah karya seni, konteks yang akan dibicarakan. Sehingga kadang sebuah alat
komunikasi global secara tidak langsung dapat mempengaruhi proses kreatif dari
seorang seniman.
Ruang lingkup seorang seniman merupakan hal yang penting selanjutnya
yang berpengaruh terhadap perwujudan karya seni, terutama pada pengambilan

152
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

sisi objek yang diangkat dalam sebuah karya seni. Objek merupakan slah satu
unsur yang dalam sebuah karya seni yang digunakan untuk mempetakan konteks
yang akan dibicarakan oleh seniman, terkadang objek juga banyak dipegaruhi oleh
ketertarikan tertentu oleh senimanya tenang menilai sebuah objek, baik dari segi
kontekstual maupun visualisasinya, seperti pengolahan objek ikan dalam
perwujudan karya seni sebagai subjek mater untuk mengungkap gagasan menjadi
sebuah ketertarikan tersendiri. Hal tersebut menjadi kegiatan yang menarik ketika
dieksplorasi melalui pendekan teknik seni rupa.
Ketertarikan terhadap objek ikan berawal dari kegiatan keseharian yang
sederhana yaitu memasak ikan segar, dalam proses pengolahan maskan tersebut
tentunya terdapat kegiatan membersihkan sisik dan bagian dalam dari tubu ikan,
ketertariak terhadap pengolahan tersebut mulai muncul ketika melihat kilauan
teksur tubuh ikan yang seperti logam, kemuadian mulailah muncul keinginan
untuk mencoba mengolah dan mengeksplorasi objek ini lebih lanjut, kegiatan
eksplorasi yang dilakukan beragam yaitu menggabungkan potongan ikan dengan
media atau material yang memiliki karakter berbeda, menyambungkn potongan
ikan yang satu dengan potongan ikan yang lainya, hal tersebut menjadi awal
kegiatan yang menarik yang dapat memunculkan keinginan untuk mengeksplorasi
objek ikan lebih jauh.
Berawal dari sebuah ketertarikan terhadap tekstur ikan dan warna yang
begitu artistik menyerupai sebuah logam, timbuh keinginan untuk mengobservasi
objek ini yaitu dengan melakukan penelitian kecil dari sebuah ikan yang utuh
hingga terurai habis, ketertarikan ini berdasarkan keingin tahuan perubahan
bentuk dan warna yang terjadi pada tubuh ikan. Dalam proses tersebut banyak
terdapat hal yang menarik yang dapat memberikan inspirasi dalam perwujudan
karya seni baik dari segi visual maupun dampak yang terjadi pada tubuh ikan.
Seperti halnya perubahan tektsur dan warna pada tubuh ikan yang mulai
membusuk dan terurai yang terlihat seperti sebuah proses korosi logam seakan
mulai terkikis oleh karat pada proses alamiah yang terjadi pada logam, kemudian
perubahn pembusukan yang terlihat mengerikan dari bentuk ikan yang utuh
hingga yang tersisa hanya tulang belulangnya saja. Kegiatan observasi tersebut

153
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

tentunya banyak memberi ilham atau inspirasi untuk perwujudan karya dari segi
visualisasi maupun kesan psikologi yang muncul setelah penelitian kecil itu.
Material atau bahan dalam seni rupa merupakan hal yang pentig dalam
perwujudan ide maupun gagasan kedalam sebuah karya seni, kemampuan
pengolahan bahan atau material menjadi kekuatan seorang seniman dalam
mengungkapkan idenya, bahan konvensional yang digunakan dalam ilmu seni
lukis ialah cat yang berupa cat minyak ataupun cat yang berbasik air, ataupun
bahan kering seperti pastel, pensil warna dan sebagainya. Ketika berhadapan
dengan era global banyak berkembang karya-karya seni rupa yang menggunakan
media non konvensional hingga terkadang sangat sulit membedakan antara
batasan seni rupa yaitu seni lukis, seni patung ataupun grafis, dalam mewujudkan
karyanya banyak seniman yang menggunakan dan menggabungkan teknik yang
digunakan dalam berbagai kosentrasi seni rupa, berbagai macam teknik yang
dimiliki masing-masing konsentrasi seni tersebut terkadang tidak mampu untuk
mewujudkan gagasan dari seniman, hal tersebut menjadi alasan untuk
menggunakan atau mengkombinasikan teknik dan media dalam perwujudan karya
seni.
Proses observasi yang dilakukan terhadap objek ikan memberikan
imajinasi atau inspirasi terhadap ide dalam perwujudan karya seni, dalam hal ini
ketertarikan tertuju pada kesan logam atau metal dan terdapat pa tekstur tubuh
ikan, selain itu beberapa perubahan bentuk dan warna dari ikan yang mulai
membusuk juga memberikan inspirasi tentang perwujdan warna yang begitu
menarik yaitu kesan kecoklatan yang bisa ditemukan pada media atau material
besi, sehingga memperbesar keinginan untuk mengolah material logan dalam
pewujudan karya seni lukis. Selain itu tentunha hal tersebut juga banyak
dipengruhi oleh perkembangan senirupa pada dewasa ini, perkembangan teknik
dan pengolahan material banyak memberikan ketertarikan tersendiri tentang
visualisasi yang lebih menarik.
Beranjak dari pengalaman tersebut ketertarikan untuk mewujudkan karya
seni menggunakan material logam menjadi semakin tinggi sehingga
memunculkan keinginan untuk mengeksplorasi objek ikan dengan mencoba
mencari perwujudan yang unik. Hal tersebut dilakukan dengan beberapa

154
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

eksplorasi yaitu dengan memotong baian tubuh ikan yang kemutian digabungkan
dengan beberapa materia logam dan beberapa material lainnya. Dari pengamatan
terhadap eksplorasi tersebut dapat memberikan ilham atau rangsangan yang
estetik yang sangat menarik yaitu memang terdapat kesamaan karakteristik bentuk
ikan dan kesan tekstur ikan dengan material logam. Sehingga munculah
ketertarikan untuk mewujudkan sebuah karya seni dengan pengolahan
penggabungan unsur seni lukis dengan penggabungan material logam tentunya
dengan teknis yang berbeda.
Rumusan masalah
Setiap penciptaan suatu karya seni menghadirkan permasalahan yang
menjadi dasar pijakan dalam proses penciptaan. Adapun permasalahan dalam
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah memvisualisasikan dan menggabungkan ide ikan dan ide
logam kedalam karya seni lukis?
1. Melalui teknik apa ide di atas diwujudkan?
Tujuan :
1. Memvisualisasikan ide ikan dan mengeksplorasi media logam ke dalam
karya seni lukis.
2. Mewujudkannya melalui teknik las dan kolase dan beberapa teknik
dalam seni lukis.
Manfaat :
1. Memberikan pengalaman eksplorasi dalam seni lukis.
2.Dapat membuka peluang-peluang yang tidak diduga dalam penciptaan
karya seni.
Ide penciptaan
Gagasan muncul secara alami dari pribadi penulis/perupa, suatu
pengalaman batin/pengalaman pribadi banyak memberikan pembelajaran
sekaligus sumbangan ide dalam berkarya, pengalaman tentang teknis dan
eksperimen dalam berkarya dan pengalaman visual yang memberi banyak
inspirasi.
Berkembangnya seni rupa kontemporer merupakan gambaran salah satu
gerakan pendobrakan, walaupun pada saat ini masih banyak perdebatan wacana

155
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

tentang kontemporer sendiri, dalam perkembangan seni rupa kontemporer
seniman mulai mengeksplorasi bahan atau medium-medium yang memang dapat
mewakilkan ide atau gagasan yang ingin disampaikan, misalkan dalam seni lukis
konvensianal medium tersebut seperti kanvas, cat, beserta teknis yang dapat
dicapai dalam bidang dua dimensional dianggap sudah tidak mampu mewakilkan
ide dari perupa. Hal tersebut yang mempengaruhi mulai berkembangnya seni
lukis. Dan dapat dilihat ketika medium bukan lagi sebuah permasalahan dalam
seni rupa disana terlihat bagaimana kreatifitas dan kecerdasan seorang seniman
mengolah dan memaknai sebuah medium.
Eksplorasi terhadap media diluar seni lukis konvensional merupkan
gagasan penulis yang ingin diwujudkan kedalam seni lukis, pemanfaatan beberapa
media logam merupakan sarana untuk mewujudkan ide maupun gagasan dengan
alasan adanya karakter visual sejenis dalam hal ini yang dimagsud adalah karakter
atau tekstur ikan yang dapat dieksplorasi dan dicapai oleh media logam disamping
juga penggunaan teknis lukis konvensional dan teknis las ataupun etsa untuk
membentuk gagasan yang berwujud tiga dimensional dan pengolahan media
logam.
Refrensi karya
Dalam mewujudkan ide dan gagasan menjadi sebuah bentuk banyak
mengacu/diperkaya oleh visual dari sumber-sumber referensi berupa buku,
majalah, download internet dan lain-lainnya. Bentuk perbendaharaan visual dari
karya - karya seni lukis yang penulis ciptakan banyak melihat/mengacu pada
karya seniman diantaranya yaitu entang wiharso, setelah membaca biografi entang
wiharso dalam buku menempa quanta, mengurai seni, M. dwi marianto yaitu:
Entang wiharso adalah seorang seniman yang selalu mencoba-coba berbagai
cara, teknis, sudut pandang, material, teknologi dan media dalam berolah seni. Ia
belajar seni lukis di isi Yogyakarta karirnya diawali dengan aktifitas pameran
lukisan lalu dalam pengembangannya dia mencoba berperformance art, media
baru dengan video, seni grafis, seni patung dan media gabungan, ia selalu
mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru untuk membuka potensi dan aspek
baru dari media yang sedang digeluti melalui berbagai macam eksperimen dan
eksplorasi. Diantaranya adalah eksplorasi yang dilakukan dengan media plat

156
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

aluminium berketebalan 4mm. Dan terinspirasi oleh bentuk-bentuk wayang kulit
klasik. Pilihan atas medium, material, teknis, dan cara pemaknaan yang
didasarkan pada pengamatannya yang mendalam secara tidak langsung
membangkitkan daya levitasional. Daya ini telah memancing keluar imajinasi
kreatifnya untuk terus berkesenian dan menghasilkan karya yang juga
menstimulasi antusiasme dan imajinasi kreatif pemirsa.
Dalam pemaknaan dan estetis secara visual pemilihan dan pengolahan
sebuah objek dan juga dapat menjadi sebuah simbol atau pemaknaan menjadi
pertimbangan yang penting bagi penulis walaupun terkadang penulis juga
memaknai sebuah objek dengan pengalaman pribadi yang menjadi imajinasi
Untuk itu, peranan Ernst Cassirer dalam memaparkan teori-teori simbol menjadi
lebih penting.
Ernst Cassier adalah seorang filsuf kebudayaan yang terkenal dengan
karyanya Philosofy of Symbolic Form. Cassirer adalah seorang Yahudi yang
kemudian diangkat menjadi guru besar di Yale University. Cassirer berpendapat
bahwa dengan adanya simbol, manusia dapat menciptakan suatu dunia kultural
yang didalamnya terdapat bahasa, mitos, agama, kesenian, dan ilmu pengetahuan.
Manusia tidak bisa diartikan sebagai substansi, tetapi harus dimengerti melalui
gagasan-gagasannya yang amat fungsional.
Gagasan-gagasan Cassier tentang bentuk simbolis adalah bahwa karya
estetis bukanlah semata-mata reproduksi dari realitas yang “selesai”. Seni
merupakan salah satu jalan kearah pandangan objektif atas benda-benda dan
kehidupan manusia. Seni bukannya imitasi realitas, melainkan penyingkapan
realitas. Tentu saja, alam yang disingkapkan melalui seni tidak sama artinya
dengan kata “alam” sebagaimana digunakan oleh ilmuwan. (Ernst Cassirer,1987
:18)
Simbol dalam kajian semiotika adalah tanda yang berhubungan penanda
dan petandanya bersifat arbiter(sewenang-wenang). Menurut Ferdinan D.
Saussure, sewenang-wenang artinya tidak ada hubungan alamiah antara bentuk
atau penanda dengan makna atau petanda. Sebagai contoh, kata gelas, adalah
sebuah tempat air untuk minum, bukan untuk tidur. Maka dari sistem pertandaan
tersebut, simbol telah dikontruksi oleh sistem sosial masyarakat. Maka dari itu

157
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

suatu bentuk simbol yang sama akan berbeda makna apabila berada di territorial
yang berbeda. Misal, ular disuatu tempat menyimbolkan kejahatan atau setan,
tetapi di tempat lain ular dapat berkonotasi sebagai keberanian atau sifat dewa.
(Rh Widada, 2009: 36)

Landasan Penciptaan
Dalam perkembangan seni rupa saat ini pengertian media atau medium
merupakan salah satu alasan untuk berkembangnya seni rupa, dalam hal ini
tuntutan untuk mengeksplorasi medium menjadi tuntutan pribadi dalam
mewujudkan gagasan penulis disamping untuk memperkaya pengalaman teknis,
seperti halnya senirupa kontemporer yang sampai sekarang masih diperdebatkan
dalam dunia seni rupa. Melihat kembali sejarah seni rupa Indonesia yaitu GSRB
(gerakan seni rupa baru) yang memacu kemungkinan adanya perkembangan
terhadap seni rupa hingga sekarang. Dalam perkembangan atau pendobrakan
GSRB yang dilakukan terhadap kemandekan kreativitas dalam seni rupa
merupakan pintu untuk mengapresiasi seni rupa lebih jauh dari berbagai
kemungkinan ide, gagasan dan visual di luar batas-batas seni konvensional.
Sejarah GSRB memberi banyak keberanian berekspresi bagi penulis
disamping adanya tantangan dan tuntutan untuk memahami dan menggali lebih
jauh lagi sebuah ide, gagasan serta pengetahuan untuk dapat mengolah medium-
medium yang baru, dalam hal ini penulis meyakini gagasan ini merupakan
langkah yang tepat untuk dilakukan dan dieksplorasi.

Konsep Bentuk
Dalam tulisan ini penulis mengartikan konsep bentuk sebagai uraian
bagaimana sebuah gagasan diwujudkan, berkaitan dengan usaha menampilkan
secara visual ide atau gagasan pada penciptaan karya seni lukis. Pemikiran,
pengetahuan, perasaan akan keindahan kemudian didukung oleh kemampuan
teknis dalam mewujudkan karya seni. Menurut Aristide Maillol bentuk adalah
sarana untuk mengekspresikan ide-ide (Soedarso Sp, 2000:150) dengan tetap
mempertimbangkan keharmonian, sudut pandang dan aspek tata rupa dalam

158
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

perwujudan ini wujud yang akan ditampilkan dalam hal ini penulis
mengeksplorasi objek ikan.
Ikan dalam karya penulis merupakan sebuah objek interpretasi dan
metaphor yang yang dikomposisikan kedalam sebuah suasana imajinasi, yang
kemudian beberapa pengolahan visualnya melalui eksplorasi media plat
aluminium yang memanfaatkan media menjadi nilai interpretasi dan imajinasi
bagi perupa maupun penikmatnya. Dalam proses kreatif pemunculan ide yang
paling penting ialah kekuatan imajinasi seorang perupa. Proses mengimajinasikan
itu selalu membentuk gambaran tertentu, dan ini terjadi secara mental. Artinya,
gambaran tersebut tidak secara visual (tampak oleh mata) dan tekstural (terasa
serta teraba oleh tangan dan kulit). Sebuah karya seni adalah hasil imajinasi
seorang seniman. (H. Tedjoworo, 2001:21)
Kemudian dalam pengolahan media seorang perupa juga harus mengetahui
dan memahami karakter dari media itu sendiri sehingga pengolahan dan
pencapaian visual dapat dihasilkan dengan maksimal, dimulai dari teknis dan juga
pengolahan gagasan yang mendukung. Semua gagasan bisa tersampaikan secara
visual, disamping pengetahuan tentang elemen-elemen seni dua dimensi, juga
diperlukan kepekaan dalam memilih dan memadukannya. Tentang pentingnya
elemen tersebut dalam buku Ide Seni menyatakan pengetahuan elemen-elemen
seni ini adalah menentukan, tidak hanya sebagaimana supaya lebih bisa mengerti
dan menghargai karya-karya seni rupa saja, tetapi juga bisa untuk menentukan
dengan sadar, merencanakan sesuatu sehingga bisa mencapai tujuan yang
diinginkan. (Fadjar Sidik, 1984:4)

Deskripsi Karya dan Karya Seni

Ikan Berkarat, 60x180 cm, cat minyak, besi, kanvas pada penel

159
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Deskripsi
Karya ini terinspirasi dari visual yang muncul dalam kegiatan eksplorasi
yaitu, penyusunan terhadap potongan tubuh ikan. Perwujudan karya ini melalui
proses yang spontan dan improvisasi terhadap penggunaan teknis dan juga
material. Dalam proses perwujudan banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang tak
terduga. Hal tersebut dapat memberikan visual dan kesan yang menarik dan multi
interpretatif.
Penggunaan material besi berawal dari melihat sebuah besi kotak yang
sudah rusak dan berkarat. Pada material tersebut terlihat beberapa efek lekukan
dan goresan akibat dari benturan dan gesekan. Efek visual tersebut terlihat
menarik, secara spontan muncul keinginan untuk menggunakan dan mengolah
material besi untuk merepresentasikan potongan tubuh ikan dan sekaligus untuk
memunculkan kesan imajinatif dan kontradiktif.
Bentuk representasi tersebut diwujudkan dengan penyusunan plat besi
dengan besi pipa kotak sebagai konstruksi dengan ketebalan 2 mm. Bentuk
tersebut direkatkan dengan teknis las listrik dengan pengelasan yang rapat.
Penggunaan material besi dengan ketebalan 2 mm dan teknik pengelasan yang
rapat bertujuan untuk dapat memvisualkan lekukan sekaligus untuk menguatkan
konstruksi. Di samping itu material besi yang digunakan adalah material besi yang
berkarat, hal tersebut dimanfaatkan sebagai representasi motif ikan.
Untuk memvisualkan lekukan pada material dilakukan pengolahan dengan
teknik kenteng menggunakan palu. Motif karat pada material dimunculkan dengan
cara mengosok permukaan material menggunakan amplas. Kemudian untuk
memunculkan visual efek kilau digunakan gerinda, pemunculan efek kilau atau
metalik dilakukan pada bagian tertentu yang dianggap perlu dalam artian
menyesuaikan visual material.
Agar mendapatkan kesan visual objek ikan yang terpotong-potong
dibutuhkan bentuk representatif dari potongan bagian kepala dan bagian ekor
objek ikan. hal tersebut dapat mengidentifikasi kesan visual yang diharapkan yaitu
potongan objek ikan yang imajinatif. Perwujudan potongan bagian kepala dan
ekor objek ikan divisualkan dengan lukisan. Penggabungan perwujudan material
besi dan lukisan terkesan kontras, namun hal tersebut menjadi sebuah kesan yang

160
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

menarik untuk “ditabrakkan” atau dipadukan. Dari perpaduan tersebut juga
diharapkan untuk dapat memunculkan kesan multi interpretatif.
Perwujudan lukisan mengikuti ukuran material besi yaitu 20x20 cm,
kemudian komposisi objek pada bidang kanvas juga mengikuti material besi agar
terkesan harmonis. Material besi yang bertemu dengan potongan ekor ikan berupa
lukisan dibuat mengecil agar mengesankan transisi bentuk tubuh ikan, sehingga
komposisi objek lukisan juga mengikuti lekukan material besi. Proses pemunculan
dan teknik yang digunakan untuk mewujudkan objek berupa lukisan
menggunakan teknik lukis yang tlah dipaparkan pada proses perwujudan. Untuk
membedakan objek ikan dengan latar belakang dalam bentuk lukisan diberikan
aksen gelap dengan goresan yang terkesan sembarangan. Hal tersebut dapat
mendukung visual penggabungan dengan material besi. Kemudian untuk
memunculkan kesan basah atau lembab digunakan clear glossy untuk melapisi
pemukaan material besi, hal tersebut sekaligus dapat memunculkan motif pada
material besi.
Material besi dan lukisan kemudian disajikan pada sebuah panel yaitu papan
yang dilapisi kain. Penyusunan dibuat dua baris agar dapat memberi kesan yang
imajinatif. Untuk dapat menempelkan material besi pada panel digunakan
konstruksi berupa baut yang direkatkan di belakang material menggunakan teknik
las. Kemudian untuk menempel lukisan digunakan baut yang dipasang dari
belakang hingga menembus papan dan kayu yang digunakan merentangkan
kanvas.
Kemudian dilanjutkan pemberian aksen-aksen pada panel, yaitu berupa efek
cipratan yang mengesankan darah dari potongan tubuh ikan. efek cipratan tersebut
divisualkan dengan cat minyak berwarna merah yang dibuat cair dicampur dengan
oli bekas. Pencampuran menggunakan oli bekas dilakukan dengan spontan, yang
bertujuan untuk dapat menimbulkan sebuah relasi terhadap material besi, sehingga
dapat menimbulkan kesan multi interpretasi sekaligus dapat memunculkan kesan
dramatis pada penyajian karya secara keseluruhan.
Karya ini berjudul Ikan Berkarat. Judul Ikan Berkarat ini didapat dengan
spontan ketika melihat visual karya secara keseluruhan. Pemilihan judul Ikan
Berkarat bertujuan untuk mendapatkan atau memunculkan kesan kontras antara

161
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

ikan dan material besi. Di samping itu judul ini juga diharapkan dapat
menimbulkan kesan yang multi interpretatif sekaligus menjadi hal yang unik dan
menarik. Untuk pemajangan karya memanfaatkan dinding. Pemilihan pemajangan
pada dinding mempertimbangkan kenyamanan dan jarak pandang.

Penutup
Karya seni merupakan media ekspresi dari penulis, sehingga dalam
mewujudkannya tidak bisa memisahkan antara aspek ide dan visualisasi dalam
penciptaannya. Karya seni adalah sebuah ungkapan perasaan ke dalam bidang dua
dimensional ataupun tiga dimensional untuk mengungkapkan dan
mengekspresikan perasaan batin maupun kebutuhan spiritual, dituntut adanya
pemikiran dan perenungan ide yang akan diungkapkan sesuai dengan perasaan.
Untuk memahami dan menyelami maupun menghayati hal tersebut, sehingga
tercapai hasil yang diharapkan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
perwujudan sebuah karya seni yaitu faktor latar belakang, lingkungan dan
pendidikan yang tidak bisa terpisahkan sebagai sumber inspirasi dan juga media
bacaan maupun elektronik lainnya, selain itu ingatan masa lalu yang masih
dikenang maupun sedang berlangsung, serta segala kegelisahan yang ada maupun
interaksi di luar diri masing-masing.
Dalam hal ini dapat disimpulkan juga bahwa media merupakan sarana
yang penting untuk menuangkan ide dari seorang perupa bagaimana kecerdasan
seorang perupa untuk mekeksplorasi sebuah media agar bisa divisualkan menurut
ide dari perupa itu sendiri merupakan sebuah tantangan bagi seorang perupa,
begitu juga dapat dilihat dari sejarah dan pasca GSRB dari peristiwa itu publik
dapat belajar menerima atau mengapresiasi berbagai kemungkinan bahasa
ekspresi senirupa.

Daftar Pustaka

Cassirer, Ernst, Manusia dann Kebudayaan, Sebuah Esesnsi Tentang Manusia,
Jakarta : Gramedia, 1987

Http://www.benbrownfinearts.com (diakses oleh penulis pada tanggal 21, mei,
2013 jam 21:34 WIB)

162
Stilistetika Tahun VI Volume 11, November 2017
ISSN 2089-8460

Marianto, M. Dwi. menempa quanta mengurai seni, Yogyakarta : Badan Penerbit
Institut Seni Yogyakarta, 2011.

Sidik, Fadjar, “Ide Seni”, SANI, FSRD ISI Yogyakarta. Edisi XXRI, 1984.

SP, Soedarso, Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, Jakarta: CV. Studio
Delapan Puluh Interprise, 2000.

SP, Soedarso, Trilogi Seni, Penciptaan Eksistensi Dan Kegunaan Seni,
Yogyakarta : Institut Seni Yogyakarta, 2006.

Sugianto, Wardoyo, Diktat Kuliah Pengetahuan Bahan Seni Lukis, Yogyakarta :
FSRD ISI, 1999.

Sutrisno, Midji. Hendar Purtanto (ed.), Teori teori Kebudayaan, Yogyakarta :
Kanisius, 2005.

Tedjoworo, H., Imaji dan Imajinasi, Yogyakarta : Kanisius, 2001.

Widada, Rh, Saussure Untuk Sastra, Bandung&Yogyakarta : Jalasutra, 2009

163