You are on page 1of 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sektor pariwisata sebagai salah satu sumber devisa negara dan dalam
upaya meningkatkan penghasilan masyarakat Indonesia dewasa ini dan dimasa
yang akan datang disadari akan semakin menjadi penting. Oleh karena itu,
setiap upaya yang bertujuan untuk menunjang pertumbuhan dan
perkembangan disektor ini perlu didukung dan digalakan.
Salah satu sektor yang erat kaitannya dan cukup menentukan bagi
pertumbuhan dan perkembangan sektor pariwisata adalah sektor kesehatan.
Telah banyak contoh dan pengalaman baik di luar maupun di dalam negeri
tentang dampak positif terhadap pertumbuhan pariwisata bila pengelolaan
sektor kesehatan dilaksanakan dengan baik. Sebaliknya, dampak negatif
terhadap perkembangan pariwisata akan segera terjadi bila muncul suatu
“outbreak” penyakit, atau pengelolaan pelayanan kesehatan dan sanitasi
lingkungan tidak dilakukan dengan memadai.
Sehubungan dengan hal diatas, telah muncul disiplin ilmu yang
mempelajari dan mengaplikasikan aspek kedokteran dan kesehatan dalam
kegiatan pariwisata yang dikenal dengan nama “Travel Medicine”. Ditingkat
internasional telah muncul organisasi yang menghimpun para peminat baik
perorangan maupun perkumpulan di bidang ini dari berbagai negara, yang
bernama “International Society of Travel Mecine (ISTM), sedangkan di
tingkat regional muncul Asia Pasific Society of Travel Health (APTH). Pada
tanggal 1 Agustus 1997 didirikan di Jakarta suatu organisasi yang bernama
Perhimpunan Kesehatan Wisata Indonesia (PKWI) atau dalam bahasa Inggris
disebut Indonesia Travel Health Society (ITHS).
Pada tahun 1997, organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) memperkirakan
bahwa lebih dari 30 juta orang melakukan perjalanan (wisata) dari negara-
negara industri ke negaranegara berkembang. Penelitian menunjukkan bahwa
antara 50 – 75% yang melakukan kunjungan singkat ke negara tropis dan
subtropis mengalami gangguan kesehatan ringan dan 5% dan memerlukan
penanganan medis dan kurang dari 1% memerlukan perawatan di rumah sakit.

1
Industri pariwisata Indonesia meningkat dengan pesat. Pada awal Pelita VI
yang sekaligus awal pembangunan jangka panjang II, yaitu pada tahun 1994,
jumlah wisatawan mancanegara telah mencapai 4.006.312 jiwa, suatu
kenaikkan yang cukup besar yaitu 17,7% dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Jumlah penerimaan devisa negara dari wisatawan tahun 1995
sebanyak 5,23 milyard dollar US, merupakan saham 19,8% dari pendapatan
devisa negara. Bahkan untuk tahun 2005 sektor pariwisata diharapkan menjadi
sumber devisa terbesar di Indonesia akan mampu menarik 11 juta jiwa
wisatawan dengan masa tinggal 10 hari yang berarti pemasukan pendapatan
sebesar US$ 15 milyard. Selain wisatawan, perkembangan dunia usaha serta
globalisasi telah menyebabkan peningkatan jumlah arus traveler termasuk
business travelers di Indonesia.
Pada tahun 1996 terdapat 600 juta jiwa wisatawan di seluruh dunia,
termasuk 5 juta wisatawan Indonesia. Sehingga untuk mencapai target tahun
2005, dalam jawangka waktu kurang dari 1 windu diperlukan pendayagunaan
segala usaha dalam bidang yang terkait dengan wisata agar dapat dicapai
lebih dari 2 kali wisatawan di Indonesia dan mereka merasa senang untuk
tinggal selama 10 hari.
Kesehatan adalah salah satu faktor yang penting dalam menunjang usaha
peningkatan arus wisata. Jika kesehatan makanan dalam perjalanan kurang
terjamin dan kesehatan lingkungan di tempa tujuan tidak memenuhi standar,
maka wisatawan tidak akan memperpanjang lama tinggalnya. Bila ada
wisatawan yang terkena penyakit dapat timbul masalah seperti terjadinya issue
wabah diarre di Bali pada tahun 1992, maka jumlah kunjungan akan menurun
sekali. Hal ini perlu dicegah dan ditanggulangi dengan cepat dan tepat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kesehatan pariwisata dimulai sejak
berangkat dari rumah untuk melakukan wisata, selama perjalanan, sampai di
tempat tujuan, dan kembali dengan aman dan nyaman ke tempat asalnya,
sehingga wisatawan tersebut tidak jera untuk kembali mengunjungi daerah
wisata yang telah dikunjunginya. Dalam siklus perjalanan wisata itu,
kesehatan wisata termasuk upaya pencegahan, tindakan pengobatan jika
diperlukan dan kesiapan repratiasi ke tempat yang memadai / ke negara
asalnya.

2
Upaya pencegahan dimulai sebelum melakukan perjalanan. Wisatawan
diberi informasi dan petunjuk oleh biro wisata/klinik wisata melalui brosur
yang disediakan di biro perjalanan mengenai kesehatan dalam perjalanan dan
di daerah tujuan. Misalnya pemberian vaksinasi seperlunya, dan memakan pil
untuk pencegahan malaria, jika di tujuan masih ada malaria. Untuk
mempertahankan keadaan yang baik serta meningkatkan kesehatan
lingkungan, diperlukan kerjasama instansi yang terkait dalam pariwisata, baik
Pemerintsah (Departemen Kesehatan, Pariwisata, Kimpraswil) maupun pihak
swasta dalam bidang perhotelan serta jasa makanan, dll.
Oleh sebab itu perlunya peran perawat dalam mengatasi hal – hal yang
tidak diinginkan oleh wisatawan misalnya ketika wisatawan ingin berpergian
ke suatu wilayah yang berisiko mengalami ancaman wabah penyakit maka
disinilah peran serta perawat dalam meminimalisir penyebaran wabah tersebut
kepada wisatawan sehingga wisatawan yang berkunjung merasa aman dan
nyaman hingga kembali ke negara asalnya. Perawat juga saling bekerja sama
dengan tenaga kesehatan lain untuk mencegah penularan wabah penyakit
tentunya sesuai dengan sistem dan prosedur yang sudah ditetapkan.

1.2 Rumusan Masalah


 Bagaimana konsep Keperawatan Pariwisata dalam konteks lintas budaya?

1.3 Tujuan Penulisan


 Mengetahui konsep Keperawatan Pariwisata dalam konteks lintas budaya.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keperawatan Pariwisata


Pengertian perawat adalah orang yang mengasuh dan merawat orang
lain yang mengalami masalah kesehatan. Namun pada perkembangannya,
pengertian perawat semakin meluas. Pada saat ini, pengertian perawat
merujuk pada posisinya sebagai bagian dari tenaga kesehatan yang
memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional.
Pengertian Ilmu Keperawatan adalah ilmu yang mempelajari segala
hal tentang cara merawat seseorang. Ruang lingkup ilmu keperawatan
mencukup ilmu-ilmu dasar seperti ilmu alam, ilmu sosial, ilmu dasar
keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu aplikatif seperti ilmu
perilaku, ilmu biomedik dan lain-lain.
Menurut Institute of Tourism in Britain (sekarang Tourism Society in
Britain) di tahun 1976 merumuskan: ”Pariwisata adalah kepergian orang-
orang sementara dalam jangka waktu pendek ke tempat-tempat tujuan di luar
tempat tinggal dan bekerja sehari-harinya serta kegiatan-kegiatan mereka
selama berada di tempat- tempat tujuan tersebut: mencakup kegiatan untuk
berbagai maksud, termasuk kunjungan seharian atau darmawisata/ekskursi”
(dalam Pendit, 1999: 30).
Dalam pengertian kepariwisataan terdapat beberapa faktor penting
yang mau tidak mau harus ada dalam batasan suatu defenisi pariwisata.
Faktor-faktor yang dimaksud menurut Yoeti, (1995 : 109) antara lain :
1. Perjalanan itu dilakukan untuk sementara waktu
2. Perjalanan itu dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain
3. Perjalanan itu, walaupun apa bentuknya, harus selalu dikaitkan dengan
pertamasyaan atau rekreasi
4. Orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak mencari nafkah di tempat
yang dikunjunginya dan semata-mata sebagai konsumen di tempat
tersebut.

4
Berdasarkan faktor-faktor tersebut diatas, beliau memberikan defenisi
pariwisata sebagai berikut :
Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara
waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan
maksud bukan untuk berusaha atau bisnis atau mencari nafkah di tempat yang
dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna
pertamasyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka
ragam.
Berdasarkan definisi tersendiri dari keperawatan dan pariwisata yang
dijelaskan di atas, maka dapat diketahui bahwa keperawatan pariwisata
adalah suatu pendekatan secara ilmiah, ditujukan untuk mempertahankan dan
meningkatkan terpenuhinya kebutuhan dasar manusia khususnya kebutuhan
psikologi serta pokok bahasan pemberian asuhan secara langsung kepada
klien untuk mencegah dan menanggulangi masalah fisik maupun mental saat
seseorang melakukan suatu rekreasi.

2.2 Kesehatan Pariwisata


Kesehatan wisata dimulai sejak berangkat dari rumah untuk melakukan
wisata, selama perjalanan sampai di tempat tujuan dan kembali dengan aman
dan nyaman ke tempat asalnya sehingga wisatawan tersebut `tidak jera untuk
kembali mengunjungi daerah wisata yang telah dikunjunginya.
Dalam siklus perjalanan wisata itu, kesehatan wisata termasuk upaya
pencegahan penyakit, tindakan pengobatan jika diperlukan dan kesiapan
repatriasi ke tempat yang memadai/ke negara asalnya.
Upaya pencegahan dimulai sebelum melakukan perjalanan. Wisatawan
diberi informasi dan petunjuk oleh biro wisata/klinik wisata melalui brosur
yang disediakan di biro perjalanan mengenai kesehatan dalam perjalanan dan
di daerah tujuan. Misalnya pemberian vaksinasi seperlunya, dan memakan pil
untuk pencegahan malaria, jika di tujuan masih ada malaria. Untuk
mempertahankan keadaan yang baik serta meningkatkan kesehatan
lingkungan, diperlukan kerjasama instansi yang terkait dalam pariwisata, baik
Pemerintsah (Departemen Kesehatan, Pariwisata, Kimpraswil) maupun pihak
swasta dalam bidang perhotelan serta jasa makanan, dll.

5
Upaya pengobatan dimulai dalam perjalanan dan di daerah tujuan
diusahakan memadai, sesuai dengan standar yang diperlukan, dan mudah serta
cepat didapat. Jika wisatawan jatuh sakit atau mendapat kecelakaan di suatu
tempat dimana pengobatan kurang memadai, disediakan sarana untuk
melakukan repratiasi secepat mungkin ke rumah sakit terdekat atau tempat
rujukan lainnya.

2.3 Ruang Lingkup Pariwisata


Kesehatan pariwisata sendiri sebenarnya dapat dibagi dua yaitu
kesehatan pariwisata fisik dan psikis. Kesehatan parwisata fisik meliputi
sarana untuk penyembuhan penyakit kulit, relaxation, dan kecantikan
sementara kesehatan psikis terdiri dari penyembuhan akibat obat-obat
terlarang, depresi, dan gangguan mental. Kesehatan pariwisata psikis biasanya
dilakukan di rumah peristirahatan, rumah sakit dan pesantren serta hanya
terbatas pada pengunjung yang memang menderita penyakit dan tidak dapat
dinikmati oleh rekan, keluarga, dan sanak keluarga walaupun pada masa
sekarang sudah mulai dikembangkan untuk bisa pula dinikmati oleh keluarga
terdekat.
Jenis kesehatan pariwisata fisik yang berkaitan dengan kecantikan
biasanya berupa spa, salon kecantikan dan pemandian air panas. Jenis
kesehatan pariwisata ini lebih bisa dinikmati oleh segala lapisan masyarakat
karena relatif lebih murah, banyak pilihan, dapat dilakukan kapan saja dan di
mana saja sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.

2.4 Faktor Pendukung Kesehatan Pariwisata


Pariwisata dapat mempengaruhi tidak hanya kesehatan pengunjung tetapi juga
kesehatan masyarakat penjamu. Hal-hal yang berpengaruh terhadap kesehatan
pariwisata diantaranya :
a. Kondisi lingkungan: Kondisi lingkungan tempat wisata memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap kesehatan wisatawan. Wisatawan umumnya
rentan tehadap mikroorganisme, dan juga kondisi lingkungan fisik yang
berbeda dari daerah asal mereka. Lingkungan yang bersih dijadikan

6
indikator kualitas oleh wisatawan karena menunjukkan perhatian otoritas
setempat terhadap masalah kesehatan lingkungan.
b. Makanan dan minuman: Kejadian yang muncul umumnya berhubungan
dengan konsumsi makanan atau minuman yang tidak higienis yang
mengakibatkan gangguan saluran pencernaan. Namun masalah tersebut
bisa dikontrol melalui penerapan prosedur standar untuk pengelolaan
makanan dan sanitasi lingkungan.
c. Upaya pencegahan, pendidikan dan promosi kesehatan masyarakat: Hal ini
termasuk kesehatan lingkungan adalah fundamental dan dapat membawa
perubahan sikap dan perilaku yang dapat mengurangi risiko-risiko
terjadinya pemerosotan kesehatan pariwisata.

2.5 Upaya Perlindungan Kesehatan terhadap Wisatawan


Kesehatan tidak hanya berarti sehat secara fisik tetapi juga sehat secara
mental, sosial dan spiritual. Dengan demikian upaya perlindungan keseharan
terhadap wisatawan meliputi empat faktor tersebut, antara lain :
1. Makanan dan minuman yang sehat sehingga tidak menimbulkan gangguan
pencernaan (diare).
2. Tempat wisata yang aman sehingga tidak menimbulkan kecelakaan
(masuk di lumpur panas di Lahendong, tenggelam di taman laut bunaken).
3. Wisatawan merasa aman dan tidak di teror dalam istirahatnya / suasana
yang nyaman (tidak bisa tidur, ditakut-takuti, ditonton, dsb).
4. Wisatawan perlu keamanan sosial, tidak dirampok/dicuri barang-
barangnya.
5. Wisatawan dapat melakukan ibadahnya sesuai dengan kepercayaan/agama
masing-masing.
6. Dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memenuhi standar
pelayanan bila mereka jatuh sakit.
7. Bila diperlukan dapat melakukan evakuasi secara cepat ke negara tempat
asalnya.
Pedoman bagi usaha pariwisata dalam mengupayakan kesehatan wisata di
tempat usaha :
a. Obyek Wisata
1. Mengupayakan lingkungan yang bersih setiap waktu, demikian juga
fasilitas restoran dan WC umum.

7
2. Menyediakan tempat-tempat pembuangan sampah dalam jumlah
memadai di tempat-tempat strategis.
3. Menyediakan fasilitas pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan.
4. Pemberian papan-papan peringatan pada tempat-tempat yang rawan
kecelakaan yang dapat membahayakan pengunjung.
b. Akomodasi, Hotel dan Restoran
1. Menjaga kebersihan kamar hotel, ruangan restoran, seluruh fasilitas
dan perlengkapan.
2. Mengupayakan lingkungan yang bebas lalat, nyamuk, tikus dan
binatang pengganggu lainnya.
3. Mengupayakan semua fasilitas yang ada seperti : salon, kolam renang
dalam keadaan bersih dan bebas hama.
4. Menyediakan pakaian seragam yang bersih, sopan dan menarik untuk
petugas pelayanan.
5. Menciptakan lingkungan yang bersih dan suasana asri sehingga tamu
dapat menikmati hidangan penuh selera.
6. Menciptakan standar kebersihan untuk badan dan pengolahan
makanan dan minuman termasuk peralatan.
7. Selalu menggunakan sarung tangan plastik bila mencuci peralatan
dapur dan juga pakaian tamu.
8. Bertindaklah yang bijaksana bila menjumpai tamu yang kurang sehat,
berikan informasi yang benar mengenai apa yang harus dilakukan.
c. Biro Perjalanan Wisata
1. Menjaga agar armada angkutan yang dimiliki beserta perlengkapannya
dalam kondisi bersih dan berfungsi dengan baik.
2. Bis wisata harus tersedia perlengkapan: tong sampah dan kotak P3K
(Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan).
3. Meletakkan pesan-pesan untuk tidak merokok dalam bis pada
tempattempat yang mudah terlihat.
4. Mewaspadai mereka yang kelihatan kurang sehat dalam perjalanan.
Berikan saran simpatik untuk mengatasi kondisi kurang sehat tersebut.
5. Mengupayakan penampilan yang bersih, baik fisik maupun pakaian
para petugas dan pramuwisata.
d. Imunisasi Untuk Wisatawan
Bila bermaksud mengadakan perjalanan ke luar negeri, selain
rencanakan terlebih dahulu, misalnya 2 bulan sebelumnya, khususnya
untuk kebutuhan vaksinasi, karena ada negara-negara tertentu yang
merekomendasikan untuk divaksinasikan dahulu, seperti vaksinasi

8
menginitis bagi yang akan pergi ke Saudi Arabia (Jemaah Haji), vaksinasi
yellow fever untuk yang akan pergi ke Afrika.
Ada 3 jenis imunisasi:
1. Routinel Immunization: DPT, POLIO, CAMPAK, INFLUENZA.
2. Required Immunization: Yellow Fever, Cholera, Meningococcal
Meningitis.
3. Recommended Immunization: Hepatitis A & B, Typhoid Fever,
Japanese Encephalitis, Cholera, Rabies.

2.6 Perkembangan Medical Tourism di Indonesia

Medical tourism atau yang sering juga disebut dengan medical travel,
health tourism atau global healthcare adalah sebuah terminologi yang digagas
oleh biro perjalanan wisata dan media massa untuk menjelaskan pesatnya
pertumbuhan satu perjalanan lintas negara untuk mendapatkan pelayanan
medis. Terminologi ini juga menyatakan sebaliknya bagi healthcare provider
yang melakukan perjalanan lintas negara untuk memberikan layanan
kesehatan.

Layanan kesehatan di luar negeri yang dicari oleh para pasien umumnya
adalah mulai dari sekedar general check-up hingga sebuah operasi bedah yang
rumit entah bedah jantung, gigi atau bedah plastik (cosmetic surgeries).
Bagaimanapun juga semua jenis layanan kesehatan termasuk layanan
kejiwaan, metoda penyembuhan alternatif dan bahkan hingga layanan
pemakaman juga tersedia.

Lebih dari 50 negara telah menetapkan medical tourism sebagai satu


industri nasional. Namun kendala akreditasi dan beragam tolok ukur terhadap
kualitas layanan kesehatan yang diberikan oleh masing-masing negara masih
amatlah bervariasi, selain dari resiko-resiko dan pertimbangan etis yang
menyebabkan medical tourism bagi sebagian pihak dipandang sebagai satu hal
yang kontroversial. Selain tentunya tidak semua negara mampu memberikan
sebuah layanan medis yang qualified.

9
Negara Indonesia mempersiapkan strategi medical tourism, hal ini dengan
ditandainya pembentukan tim wisata kesehatan yang dikukuhkan dengan SK
Menkes pada tahun 2012, dan dilanjutkan dengan MoU antara menteri
kesehatan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam surat keputusan
bersama nomor 412/Menkes/SKB/XI/2012 dan nomor
NK/30/PW.202/MPEK/2012 pada bulan November 2012 di hotel bidakara.

Pada tahun 2013 dibuat Perjanjian Kerja Sama antar Kementerian


Kesehatan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tentang
Pengembangan Wisata Kesehatan Nomor: HK.05.01/IV/295/2013. Nomor :
PK11/KS.001/SEKJEN/KPEK/2013. Berdasarkan Nota Kesepahaman tersebut
Tugas Dan Tanggung Jawab Kemenkes adalah Menyusun standar pedoman
fasilitas dan SDM dalam hal pelayanan kesehatan, Melakukan penelitian dan
pengembangan wisata kesehatan dan Menetapkan fasilitas pelayanan
kesehatan dan/atau griya sehat dalam hal wisata kesehatan.

health tourism itu sendiri adalah sebuah Wisata dengan tujuan


meningkatkan kesehatan perorangan Kebijakan wisata kesehatan yang
berkesinambungan yang merupakan strategi pembangunan nasional sektor
pariwisata dan kesehatan secara terpadu serta berkesesuaian dengan potensi
nasional, karakterisitik lingkungan, dan sosio kultural.

Dalam pelayananannya health tourism dibagi menjadi dua bagian, yang


pertama medical tourism dan yang kedua wellness tourism. Di dalam medical
tourism sendiri ada dua pengertian yaitu sebagai medical tourism dimana
wisatawan datang ke Indoneisa untuk mencari pengobatan dan Medical
traveling dimana wisatawan yang datang untuk berwisata tetapi membutuhkan
pelayanan medis karena sesuatu hal. Misalnya kecelakaan atau sakit,
selanjutnya wellness tourism mengedepankan pelayanan kesehatan promotif
dan prefentif dimana SPA dan Jamu yang merepresentasikan kearifan budaya
bangsa dikedepankan menjadi produk unggulan yang akan ditawarkan.

Direktorat Bina Pelayanan Tradisional, Alternatif dan Komplementer


berperan aktif dalam mendukung program ini, Dan pada tahun ini program

10
health tourism sudah mendekati babak final dimana Pedoman Pelayanan Spa
sudah ditetapkan dalam Permenkes No. 8 Tahun 2014, dan menunggu
Pedoman Wellness Tourism dan Medical Tourism sedang dalam proses
penyusunan.

Perawat sebagai salah satu tenaga medis juga sangat berperan pentig
dalam kemajuan medical tourism, adapun peran perawat adalah sebagai
berikut :
1. Membantu klien menemukan tempat yang tepat untuk memperoleh
perawatan kesehatan yang diinginkan dan sesuai kebutuhan, baik di dalam
ataupun di luar negeri
2. Memberikan peringatan kepada klien terkait kemungkinan adanya resiko
dan dilema kode etik/legal.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Perkembangan pariwisata global yang demikian pesat saat ini tidak
saja berdampak terhadap peningkatan perekonomian nasional tetapi juga
sekaligus berdampak negatif karena begitu terbukanya peluang masuk
keluarnya wabah penyakit yang dibawa oleh wisatawan dari suatu negara ke
negara yang lain yang meliputi penyakit-penyakit yang sedang berjangkit saat
ini, penyakit menular baru (New Emerging Diseases).
Kesehatan wisata dimulai sejak berangkat dari rumah untuk melakukan
wisata, selama perjalanan sampai di tempat tujuan dan kembali dengan aman
dan nyaman ke tempat asalnya sehingga wisatawan tersebut `tidak jera untuk
kembali mengunjungi daerah wisata yang telah dikunjunginya.
Kesehatan pariwisata sendiri sebenarnya dapat dibagi dua yaitu
kesehatan pariwisata fisik dan psikis. Kesehatan parwisata fisik meliputi
sarana untuk penyembuhan penyakit kulit, relaxation, dan kecantikan
sementara kesehatan psikis terdiri dari penyembuhan akibat obat-obat
terlarang, depresi, dan gangguan mental.

11
Kesehatan pariwisata psikis biasanya dilakukan di rumah
peristirahatan, rumah sakit dan pesantren serta hanya terbatas pada
pengunjung yang memang menderita penyakit dan tidak dapat dinikmati oleh
rekan, keluarga, dan sanak keluarga walaupun pada masa sekarang sudah
mulai dikembangkan untuk bisa pula dinikmati oleh keluarga terdekat.

12
DAFTAR PUSTAKA

Junior Udara. 2011. Kesehatan Pariwisata. (online). Available:


http://udarajunior.blogspot.co.id/2012/09/kesehatan-pariwisata.html
(27 Februari 2016, 14.00 WITA)

Nisya Rifiani dan Hartanti Sulihandari, 2013. Prinsip-Prinsip Dasar


Keperawatan. Penerbit Dunia Cerdas : Jakarta.

Oksfriani. 2011. Konsep Umum Kesehatan Wisata. (online). Available:


https://okshealthenv.wordpress.com/2011/08/05/kesehatan-wisata/ (27
Februari 2016, 20.54 WITA)

Pendit. S, Nyoman. 1999, Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana, Jakarta:


Pradnya Paramita.

Soekadijo. R. G. 2000, Anatomi Pariwisata, Memahami Pariwisata Sebagai


Sistematic Linkage, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Yana Kresna, 2013. Peran Keperawatan dalam Medical Tourism (online).


Available: https://www.scribd.com/doc/187149510/Peran-Keperawatan-
Dalam-Medical-Tourism (27 Februari 2016, 21.10 WITA)

Yoeti, Oka. A. 1995, Pengantar Ilmu Pariwisata, Jakarta : Angkasa.

13