You are on page 1of 5

Cekungan di Indonesia

Konvergensi lempeng-lempeng Hindia-Australia, Pasifik, dan Eurasia telah
menyebabkan terbentuknya beberapa busur kepulauan di Indonesia. Proses
konvergensi antar lempeng yang berlangsung terus hinggat saat ini mempengaruhi
evolusi busur-busur yang ada, termasuk adanya rotasi busur, pembentukan struktur
regional, dan pembentukan cekungan sedimen.
Di Indonesia, terdapat kurang lebih 128 cekungan sedimen. Cekungan
sedimen adalah semacam depresi yang memiliki kapabilitas untuk menjadi tempat
terakumulasinya endapan sedimen. Subsidens dari kerak bumi bagian atas harus
terjadi sehingga depresi yang sedemikian rupa bisa terbentuk. Mekanisme yang dapat
menghasilkan subsidens yang cukup untuk membentuk cekungan antara lain
mencakup proses penipisan kerak, pembebanan tektonik, pembebanan subkrustal,
aliran astenosferik, dan densifikasi krustal (Dickinson, 1993). Berdasarkan umur
sedimen pengisinya, cekungan sedimen dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
 Cekungan Tersier
 Cekungan Pra-Tersier
 Cekungan yang berkembang sejak Pra-Tersier hingga Tersier
di mana masing-masing cekungan tersebut mendominasi daerah tertentu di Indonesia.
Cekungan tersier mendominasi bagian barat Indonesia, cekungan pra-tersier banyak
dijumpai di daerah Kalimantan bagian utara, dan untuk jenis cekungan yang
berkembang sejak pra tersier banyak ditemukan di daerah Indonesia bagian timur (di
daerah Papua dan Sulawesi bagian timur) (Badan Geologi, 2009).

Gambar 1. Peta Cekungan Sedimen Berdasarkan Umur di Indonesia

pada tahun Nayoan dkk. dan migrasi hidrokarbon merupakan aspek-aspek dari suatu ”cekungan sedimen”. Berdasarkan hasil beberapa diskusi dan pemetaan yang ada. dataran tinggi. Cekungan sedimen menjadi tempat sedimen-sedimen di lingkungan sungai.Cekungan pra-tersier di Indonesia bagian timur merupakan cekungan alokton yang berasar dari lempeng Australia. atau laut dalam diendapkan. Dalam petroleum system. Seluruh aktivitas migas baik eksplorasi maupun produksi terjadi di dalam cekungan sedimen. maupun peristiwa pemekaran telah mempengaruhi pola sebaran cekungan sedimen di Indonesia. di laut dangkal sampai laut dalam. Selat Makassar. Pada tahun 1976. pegunungan. perangkap. danau. (1979) memperbaiki jumlah cekungan menjadi 40 cekungan yang terbagi ke dalam lima jenis cekungan. di dataran rendah. Cekungan sedimen yang terbukti menghasilkan migas dapat disebut sebagai cekungan minyak. iii. laut dangkal. batuan reservoir.Cekungan pra-tersier hingga tersier mulanya terbentuk di Indonesia. dan keduanya merupakan cekungan otokton. di wilayah tropika sampai di wilayah kutub.Cekungan-cekungan tersier yang berpola semikonsentris di bagian barat Busur Sunda hingga meliputi Kalimantan Barat Daya diyakini merupakan cekungan yang tertindihkan di atas cekungan pra-tersier. sesar transform. batuan induk (dapur migas). Sebaran cekungan-cekungan sedimen di kerak Bumi juga tidak acak. dan berlanjut pengendapannya selama tersier setelah memasuki wilayah Indonesia. tetapi mengikuti hukum- hukum geologi yang terjadi di suatu wilayah yang disebut tektonik. pantai. yaitu:  Foreland. Penyebaran jalur minyak Indonesia secara regional pertama kali dikemukakan oleh Reinout Willem van Bemmelen (ahli geologi Belanda) pada tahun 1949. iv. dan tidak didahului pembentukan cekungan pra- tersier. yaitu lebih muda dari 65 juta tahun. ii. Cekungan sedimen terdapat baik di darat maupun di bawah laut. yaitu cekungan depan benua . sekitar lengan utara Sulawesi dan beberapa di wilayah Papua diyakini terbentuk pada tersier.Cekungan-cekungan tersier di selatan Sumatera hingga Jawa. dapat diketahui bahwa keberadaan sistem tunjaman. Kemudian. batuan penyekat. i. Fletcher dan Soeparjadi menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 28 cekungan sedimen berumur tersier.

dari 40 cekungan menjadi 60 cekungan. pada tahun 2007. Gambar 2. Badan Geologi dengan menggunakan pendekatan data gaya berat (gravitasi) memetakan cekungan-cekungan sedimen dan mengidentifikasi keberadaan 128 cekungan sedimen di Indonesia yang diklasifikasikan berdasarkan umur sedimen pengisinya. BP Migas (Badan Pelaksana Migas) bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi memetakan kembali cekungan-cekungan sedimen Indonesia pada tahun 2008 dan mengidentifikasi sebanyak 86 cekungan sedimen yang diklasifikasikan berdasarkan status pekerjaannya. yaitu cekungan yang tipenya belum ditentukan lebih lanjut. Lembaga Minyak dan Gas (LEMIGAS) memetakan kembali cekungan-cekungan sedimen dan mengidentifikasi keberadaan 63 cekungan yang diklasifikasikan berdasarkan status pekerjaannya. pada tahun 2010. yaitu cekungan di depan jalur gunung api seperti di Sumatera- Jawa  Interior cratonic. IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) pada tahun 1985 menerbitkan perbaikan jumlah cekungan sedimen. yaitu hampir 25 tahun. Hingga. yaitu cekungan yang berada di wilayah laut dangkal  Unspecified basin. Klasifikasi yang dilakukan IAGI merupakan klasifikasi resmi yang berlangsung cukup lama. Cekungan Hidrokarbon Indonesia pada Tahun 2007 . yaitu cekungan yang berada di dalam belakang benua)  Open Shelf.  Outer arc. Kemudia.

Sumber daya migas nonkonvensional itu antara lain gas metana batubara. Menurut Howes (2000). Sala Bangka 19. dari semua data yang ada diketahui bahwa volume minyak dan/atau gas yang akan ditemukan masih berpotensi besar. Weber 9. Obi Selatan 2. Halmahera Utara 4. sehingga berdasarkan informasi adanya 128 cekungan. Ketungau 12. maka produksi migas di Indonesia makin baik. yang belum sampai 10 tahun ini dieksplorasi. juga biaya eksplorasi yang mahal terutama di daerah- daerah rintisan atau pelosok. Indonesia memiliki sumber daya migas nonkonvensional yang besar pula. dapat diketahui bahwa cekungan sedimen (hidrokarbon) yang sudah dan menghasilkan migas di Indonesia tidak sampai 18 cekungan dari seluruh cekungan sedimen yang ada. serpih minyak. Halmahera Selatan 6. Bila 20% dari 110 cekungan tersebut bisa menjadi cekungan produksi. berdasarkan pembelajaran petroleum system untuk wilayah Indonesia. Gorontalo 18. Tukang Besi 16. Buru 22. Perizinan yang panjang dan rumit pun sering menjadi kendala atau melambatkan operasi perminyakan di . Halmahera Timur 5. Berdasarkan data yang terkumpul dan pada Gambar 2 di atas. Weber Barat 8. Flores 15. masih ada 110 cekungan sedimen yang belum berproduksi bahkan belum dieksplorasi secara rinci melalui survei seismik dan pengeboran sumur eksplorasi. Potensi migas Indonesia tersebut baru berdasarkan sumber daya konvensional. Minahasa 17. Buru Barat 21. baik di daratan maupun di laut. Obi Utara 3. Data yang diperoleh dari Kementerian ESDM mengemukakan bahwa terdapat 22 cekungan migas yang terletak di daerah frontier (daerah milik wilayah geografi NKRI yang terletak berbatasan langsung dengan negara tetangga). Lombok Bali 14. Tantangan lainnya adalah isu lingkungan. Seram Selatan 7. atau gas hidrat di laut dalam yang total sumber dayanya sangat besar. Tanimbar 10. Tantangan eksplorasi migas di Indonesia terletak pada sulitnya melaksanakan operasi di lapangan karena masalah tumpang tindih tataguna lahan di area operasi perminyakan. proses perizinan yang terlalu panjang dan rumit. South Sula 20. Pembuang 13. 22 cekungan migas tersebut yaitu : 1. Waropen 11. Jayapura Tidak adanya prioritas pembangunan menyebabkan terjadinya tumpang tindih berbagai kepentingan yang menyulitkan banyak pihak.

esdm.esdm. tetapi sulit diwjudkan menjadi cadangan produksi yang disebabkan berbagai faktor dan kendala yang telah disebutkan. [Diakses pada: 7 April 2017] [Online] http://geomagz. 1 November 2013] [Online] http://migas.id/post/read/22-Cekungan-di-Indonesia-Terletak-di- Daerah-Frontier-.G. dan Indonesia masih memiliki potensi migas yang masih sangat besar. [Diakses pada: 7 April 2017] . [Dipublikasikan pada: J.M Vol 14 No. Daftar Referensi S Bachri.id/menyigi-geologi-mencari-migas- indonesia/. Peran Sistem Tunjaman.lapangan. di saat minyak bumi di Indonesia produksinya kritis dan konsumsinya terus meningkat. Kini. 2013. Sebuah paradoks sebenarnya telah terjadi di Indonesia. Sesar Mendatar Transform dan Pemekaran terhadap Sebaran Cekungan Sedimen di Indonesia.S.go.geologi.go.