You are on page 1of 11

A.

DEFINISI
Luka bakar merupakan ruda paksa yang disebakan oleh tehnis. Kerusakan yang terjadi pada penderita
tidak hanya mengenai kulit saja, tetapi juga organ lain. Penyebab ruda paksa tehnis ini berupa api, air,
panas, listrik, bahkan kimia radiasi, dll.
Luka bakar adalah suatu keadaan dimana integritas kulit atau mukosa terputus akibat trauma api, air
panas, uap metal, panas, zat kimia dan listrik atau radiasi.
Luka bakar adalah luka yang disebabkan kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas, bahkan
kimia dan radiasi, juga sebab kontak dengan suhu rendah (frosh bite). (Mansjoer 2000 : 365)
Jenis – jenis luka bakar
1. Luka bakar listrik
Disebabkan oleh kontak dengan sumber tenaga bervoltage tinggi akibat arus listrik dapat terjadi
karena arus listrik mengaliri tubuh karena adanya loncatan arus listrik atau karena ledakan tegangan
tinggi antara lain akibat petir. Arus listrik menimbulkan gangguan karena rangsangsan terhadap saraf
dan otot. Energi panas yang timbul akibat tahanan jaringan yang dilalui arus menyebabkan luka bakar
pada jaringan tersebut. Energi panas dari loncatan arus listrik tegangan tinggi yang mengenai tubuh
akan menimbulkan luka bakar yang dalam karena suhu bunga api listrik dapat mencapai 2500oC, arus
bolak – balik menimbulkan rangsangan otot yang hebat berupa kejang – kejang.
Urutan tahanan jaringan dimulai dari yang paling rendah yaitu saraf, pembuluh darah, otot, kulit,
tendo dan tulang. Pada jaringan yang tahanannya tinggi akan lebih banyak arus yang melewatinya,
maka panas yang timbul akan lebih tinggi. Karena epidermisnya lebih tebal, telapak tangan dan kaki
mempunyai tahanan listrik lebih tinggi sehingga luka bakar yang terjadi juga lebih berat bila daerah
ini terkena arus listrik.
2. Luka bakar kimia
Luka bakar kimia dapat disebabkan oleh zat asam, zat basa dan zat produksi petroleum. Luka bakar
alkali lebih berbahaya daripada oleh asam, karena penetrasinya lebih dalam sehingga kerusakan yang
ditimbulkan lebih berat. Sedang asam umumnya berefek pada permukaan saja.
Zat kimia dapat bersifat oksidator sepert kaporit, kalium permanganate dan asam kromat. Bahan
korosif seperti fenol dan fosfor putih juga larutan basa seperti kalium hidroksida dan natrium
hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Denaturasi akibat penggaraman dapat disebabkan oleh
asam formiat, asetat, tanat, flourat, dan klorida. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik
air. Beberapa bahan dapat menyebabkan keracunan sistemik. Asam florida dan oksalat dapat
menyebabkan hipokalsemia. Asam tanat, kromat, pikrat dan fosfor dapat merusak hati dan ginjal
kalau diabsorpsi tubuh. Lisol dapat menyebabkan methemoglobinemia.

B. ETIOLOGI
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ketubuh. Panas tersebut mungkin
dipindankan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab
luka bakar. Beratnya luka bakar juga dipengaruhi oleh cara dan lamanya kontak dengan sumber panas
(misal suhu benda yang membakar, jenis pakaian yang terbakar, sumber panas : api, air panas dan
minyak panas), listrik, zat kimia, radiasi, kondisi ruangan saat terjadi kebakaran dan ruangan yang
tertutup.
Faktor yang menjadi penyebab beratnya luka bakar antara lain :
1. Keluasan luka bakar
2. Kedalaman luka bakar
3. Umur pasien
4. Agen penyebab
5. Fraktur atau luka – luka lain yang menyertai
6. Penyakit yang dialami terdahulu seperti diabetes, jantung, ginjal, dll

Manifestasi sistemik tubuh terhadap kondisi ini (Burgess 1991) adalah berupa : 1. Banyak kehilangan reseptor sensori Luka bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga air. Retensi air. PATOFISIOLOGI Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Seluruh sistem tubuh menunjukkan perubahan reaksi fisiologis sebagai respon kompensasi terhadap luka bakar. air dan protein plasma serta edema jaringan yang diikuti dengan penurunan curah jantung. keluarnya elektrolit dan protein dari pembuluh darah. Cairan tubuh terbuang 3. Diantaranya adalah 1. cairan masuk kebula yang terbentuk pada luka bakar derajat III dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat III. 3. maka cairan interstitial dapat ditarik kembali ke intravaskuler dan akan terjadi fase diuresis. maka aliran plasma ke ginjal dan GFR (laju filtrasi glomelular) mengakibatkan haluaran urine akan menurun. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Jika resusitasi cairan untuk kebutuhan intravaskuler tidak adekuat atau terlambat diberikan. Respon renalis Dengan menurunnya volume intravaskuler. Dengan resusitasi cairan yang adekuat. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas tinggi. Ekskresi kalium 2. Peningkatan mineralo kortikoid a. Obesitas 8. fungsi kulit yang hilang berakibat terjadi perubahan fisiologi. Peningkatan permeabilitas pembuluh darah . Hilang daya lindung terhadap infeksi 2. Burn shock (syok hipovolemik) Burn shock atau shock luka bakar merupakan komplikasi yang sering dialami pasien dengan luka bakar luas karena hipovolemik yang tidak segera diatasi. Respon kardiovaskuler Perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler melalui kebocoran kapiler yang mengakibatkan kehilangan Na. . Perbedaan tekan osmotik intra dan ekstrasel. natrium. Sel darah yang ada didalamnya ikut rusak sehingga dapat menjadi anemia. hemokonsentrasi sel darah merah. Hilang kemampuan mengendalikan suhu 4. yang luas (mayor) tubuh tidak mampu lagi untuk mengkompensasi sehingga timbul berbagai macam komplikasi. klorida dan protein akan keluar dari sel dan menyebabkan terjadinya edema yang dapat berlanjut pada keadaan hipovolemia dan hemo konsentrasi. Donna (1991) menyatakan bahwa kehilangan cairan tubuh pada pasien luka bakar dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : 1. maka akan memungkinkan terjadinnya gagal ginjal akut. penurunan perfusi pada organ mayor dan edema menyeluruh. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebakan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebihan. 2. Luka bakar akan mengakibatkan tidak hanya kerusakan kulit tetapi juga mempengaruhi sistem tubuh pasien. natrium dan klorida b. Akibat luka bakar. Kelenjat keringat dan uap 5.7. Kehilangan volume cairan akan mempengaruhi nilai normal cairan dan elektolit tubuh yang selanjutnya akan terlihat dari hasil laboratorium. Adanya trauma inhalasi C. Mengingat permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula dengan serta elektrolit.

lepuh. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolenik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukaan luas. Penanganan keperawatan a. avaskuler.3. Derajat I Tampak merah dan agak menonjol dari kulit normal disekitarnya. dimana hanya kelenjar keringat saja yang utuh. 2) Buka pakaian dan perhiasan yang dikenakan korban 3) Kaji kelancaran jalan nafas korban. anjurkan korban untuk berguling – guling atau bungkus tubuh korban dengan kain basah dan pindahkan segera korban ke ruangan yang cukup berventilasi jika kejadian luka bakar berada diruangan tertutup. siram korban dengan air sebanyak – banyaknya untuk menghilangkan zat kimia dari tubuhnya 6) Kaji kesadaran. Pemasangan NGT akan mencegah distensi abdomen. lama sembuh ± 7 – 14 hari dan hasil kulit kembali normal atau pucat. Respon imunologi a. 2. E. Penanganan awal ditempat kejadian Tindakan yang dilakukan terhadap luka bakar : 1) Jauhkan korban dari sumber panas. dimana folikel rambut dan kelenjar keringat utuh disertai rasa nyeri dan warna lesi merah atau kuning. luas dan kedalaman luka bakar serta cedera lain yang menyertai luka bakar . Respon imun seluler D. aktifitas gastrointestinal akan kembali normal pada 24 – 48 jam setelah luka bakar. PENATALAKSANAAN 1. luka basah. beri bantuan pernafasan korbam dan oksigen bila diperlukan 4) Beri pendinginan dengan merendam korban dalam air bersih yang bersuhu 200C selama 15 – 20 menit segera setelah terjadinya luka bakar 5) Jika penyebab luka bakar adalah zat kimia. muntah dan potensi aspirasi. Derajat III Jaringan yang rusak seluruh epidermis dan dermis. Dengan resusitasi yang adekuat. sangat nyeri dan sering disertai sensasi “menyengat”. Respon barier mekanik Kulit berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri yang penting dari organisme yang mungkin masuk. kulit kering. Lama sembuh >21hari dan hasil kulitnya menjadi cikatrik dan hipertropi. Hasil kulit pucat. Derajat II a) Derajat IIa Jaringan yang rusak sebagian epidermis. sering dengan bayangan trombosis vena. Terjadi gangguan integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam tubuh. Jaringan yang rusak hanya epidermis. Kulit tampak pucat. jangan biarkan korban berlari. lama sembuh ± 5 hari dan hasil kulit kembali normal. b) Derajat IIb Jaringan yang rusak sampai epidermis. 3. Tanda klinis sama dengan derajat Iia. jika penyebabnya api. 4. lama sembuh ±14-21 hari. tampak retak – retak atau kulit tampak terkelupas. mengkilap. Respon gastro intestinal Respon umum yang biasa terjadi pada pasien luka bakar >20% adalah penurunan aktifitas gastrointestinal. tidak disertai rasa nyeri. MANIFESTASI KLINIK Derajat luka bakar 1. b. kadang ada cikatrix atau hipertrofi. abu – abu gelap atau hitam. keadaan umum.

Perhatikan A : Airway (jalan nafas).7) Segera bawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut b. Penanganan luka bakar di unit gawat darurat Tindakan yang harus dilakukan terhadap pasien pada 24 jam pettama yaitu : 1) Penilaian keadaan umum pasien. C : Circulation (sirkulasi) 2) Penilaian luas dan kedalaman luka bakar 3) Kaji adanya kesulitan menelan atau bicara dan edema saluran pernafasan 4) Kaji adanya faktor – faktor lain yang memperberat luka bakar seperti adanya fraktur. hipertensi. B : Breathing (pernafasan). Kaji apakah pasien mengadakan perlawanan terhadap ventilator 2) Observasi tanda – tanda vital. jika luka bakar >20% derajat II / III biasanya dipasang CVP (kolaborasi dengan dokter) 6) Pasang kateter urin 7) Pasang NGT jika diperlukan 8) Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan 9) Berikan suntikan ATS / toxoid 10) Perawatan luka : • Cuci luka dengan cairan savlon 1% (savlon : NaCl = 1 : 100) • Biarkan lepuh utuh (jangan dipecah kecuali terdapat pada sendi yang mengganggu pergerakan • Selimuti pasien dengan selimut steril 11) Pemberian obat – obatan (kolaborasi dokter) • Antasida H2 antagonis • Roborantia (vitamin C dan A) • Analgetik • antibiotik 12) Mobilisasi secara dini 13) Pengaturan posisi Keterangan : • Pada 8 jam I diberikan ½ dari kebutuhan cairan • Pada 8 jam II diberikan ¼ dari kebutuhan cairan • Pada 8 jam III diberikan sisanya c. tekanan darah. riwayat penyakit sebelumnya (seperti diabetes. nadi. dll) 5) Pasang infus (IV line). kateter dan tube setiap hari . gagal ginjal. Penanganan luka bakar di unit perawatan intensif Hal yang perlu diperhatikan selama pasien dirawat di unit ini meliputi : 1) Pantau keadaan pasien dan setting ventilator. pernafasan. setiap jam dan suhu setiap 4 jam 3) Pantau nilai CVP 4) Amati neurologis pasien (GCS) 5) Pantau status hemodinamik 6) Pantau haluaran urin (minimal 1ml/kg BB/jam) 7) Auskultasi suara paru setiap pertukaran jaga 8) Cek asalisa gas darah setipa hari atau bila diperlukan 9) Pantau status oksigen 10) Penghisapan lendir (suction) minimal setiap 2jam dan jika perlu 11) Perawatan tiap 2jam (beri boraq gliserin) 12) Perawatan mata dengan memberi salep atau tetes mata setiap 2jam 13) Ganti posisi pasien setiap 3jam (perhatikan posisi yang benar bagi pasien) 14) Fisoterapi dada 15) Perawatan daerah invasif seperti daerah pemasangan CVP.

ureum/kreatinin. perineum. beri salep antibiotika) 11) Tutup dengan kasa steril (perawatan tertutup atau biarkan terbuka (gunakan cradle bed) . kecuali jika di daerah sendi / pergerakan boleh dipecahkan dengan menggunakan spuit steril dan kemudian lakukan nekrotomi 5) Mandikan pasien tiap hari jika mungkin 6) Jika banyak pus. proteim (albumin). dll 2) Lakukan nekrotomi jaringan nekrosis 3) Lakukan escharotomy jika luka bakar melingkar (circumferential) dan eschar menekan pembuluh darah. dan lipat paha Keuntungan : • Waktu yang dibutuhkan lebih singkat • Lebih praktis dan efisien • Bila terjadi infeksi mudah terdeteksi Kerugian : • Pasien merasa kurang nyaman • Dari segi etika kurang 2) Perawatan tertutup Yakni penutupan luka dengan balutan kasa steril setelah dibeikan obat topical. bersihkan dengan betadin sol 2% 7) Perhatikan ekspresi wajah dan keadaan umum pasien selama merawat luka 8) Bilas savlon 1% dengan menggunakan cairan NaCl 0.9% 9) Keringkan menggunakan kasa steril 10) Beri salep silver sulfadiazine (SSD) setebal 0. aksila. Perawatan luka bakar di unit perawatan luka bakar Terdapat dua jenis perawatan luka selama dirawat di bangsal yaitu : 1) Perawatan terbuka Yakni luka yang telah diberi obat topical dibiarkan terbuka tanpa balutan dan diberi pelindung cradle bed. AGD. Biasanya juga dilakukan untuk daerah yang sulit dibalut seperti wajah. Eskartomi dilakukan oleh dokter 4) Bullae (lepuh) dibiarkan utuh sampai hari ke 5 post luka bakar. dan gula darah (kolaborasi dokter) 20) Perawatan luka bakar sesuai protokol rumah sakit 21) Pemberian medikasi sesuai dengan petunjuk dokter d. pubis.5cm pada seluruh daerah luka bakar (kecuali wajah hanya jika luka bakar dalam [derajat III] dan jika luka bakar pada wajah derajat I/II. Keuntungan : • Luka tidak langsung berhubungan dengan udara ruangan (mengurangi kontaminasi) • Pasien merasa lebih nyaman Kerugian : • Balutan sering membatasi gerakan pasien • Biaya perawatan bertambah • Butuh waktu perawatan lebih lama • Pasien merasa nyeri saat balutan dibuka Urutan prosedur tindakan perawatan luka pada pasien luka bakar antara lain : 1) Cuci / bersihkan luka dengan cairan savlon 1% dan cukur rambut yang tumbuh pada daerah luka bakar sperti pada wajah.16) Ganti kateter dan NGT setiap minggu 17) Observasi letak tube (ETT) setiap shift 18) Observasi setiap aspirasi cairan lambung 19) Periksa laboratorium darah : elektrolit.

Penentuan kebutuhan energi pasien luka bakar menurut CURRERI : Dewasa (18tahun) : (25kcal x BB ideal) + (40kcal x % luka bakar) Anak – anak : (kalori basal menurut umur x BB ideal) + (40kcal x % luka bakar) Berat badan yang digunakan adalah berat badan ideal yaitu : Dewasa : BB ideal (kg) = TB (cm) – 100 – 10% dari (TB – 100) Anak – anak : BB ideal (kg) = (umur dalam bulan : 2) + 4 atau (umur dalam tahun x 2) = 8 Energi basal untuk bayi dan anak menurut umur Umur (tahun) Energi basal Laki – laki (kcal) Perempuan (kcal) 0–1 1–3 . diharapkan terjadinya kecacatan dapat dicegah atau dinminimalkan. Dengan pemberian latihan sedini mungkin dan pengaturan posisi yang sesuai dengan keadaan luka bakar. namun bukan berarti menggantikan peran perawat dalam memberikan support dan empati. dll tapi terutama juga dalam hal pemenuhan makanan dan cara penyajian yang menarik karena hal ini akan sangat mempengaruhi nafsu makan pasien. lemak. Hal ini akan mengakibatkan berbagai komplikasi terhadap pasien diantaranya yaitu terjadi kontraktur dan defisit fungsi tubuh. Dengan pemberian nutrisi yang kuat serta menu yang variatif. Hal lain yang perlu diingat bahwa sering kali pasien mengalami luka bakar karena upaya bunuh diri atau mencelakakan dirinya sendiri dengan latar belakang gangguan mental atau depresi yang dialaminya sehingga perlu terapi lebih lanjut oleh psikiatris. Terapi psikiater Mengingat pasien dengan luka bakar mengalami masalah psikis maka perawat perlu bekerja sama dengan psikiatri untuk membantu pasien mengatasi masalah psikisnya. Untuk mencegah terjadinya kontraktur. Pasien luka bakar akan mendapatkan latihan yang sesuai dengan kebutuhan fisiknya. g. perawat memerlukan kerjasama dengan anggota tim kesehatan lain yaitu fisioterapis. Terapi nutrisi Ahli gizi diharapkan dapat membantu pasien dalam pemenuhan nutrisi yang tidak hanya memenuhi kecukupan jumlah kalori. Pasien juga mengalami nyeri yang hebat sehingga pasien tidak berani untuk menggerakkan anggota tubuhnya terutama ynag mengalami luka bakar. f. Terapi fisioterapis Pasien luka bakar mengalami trauma bukan hanya secara fisik namun secara psikis juga. protein.e. deformitas dan kemunduran fungsi tubuh. Hal yang dapat dilakukan oleh perawat adalah dengan memberi posisi. diharapkan pasien dapat mengalami proses penyembuhan luka secara optimal. Rehabilitasi dini dapat dilakukan sejak pasien mengalami luka bakar. Ahli gizi bertugas memberikan penyuluhan tentang gizi pada pasien dan dengan dukungan perawat dan keluarga dalam memberikan motivasi untuk meningkatkan intake nutrisinya maka diharapkan kebutuhan nutrisi yang adekuat bagi pasien terpenuhi. sehingga diharapkan pasien dapat dapat menerima keadaan dirinya dan dapat kembali kemasyarakat tanpa perasaan terisolasi.

Ada beberapa cara untuk menghitung kebutuhan cairan ini. a. Kemudian jumlah cairan infus yang akan diberikan dihitung.8 1. Pemberian cairan intravena Tiga macam cairan diperlukan dalam kalkulasi kebutuhan pasien : 1) Koloid termasuk plasma dan plasma expander seperti dextran 2) Elektolit seperti NaCl. larutan ringer. Kebutuhan karbohidrat untuk pasien luka bakar menurut CURRERI adalah 60 – 70% dari total energi dengan keadaan atau lokasi luka bakar yang dialami. Penanganan medis Tindakan yang dilakukan dalam pelaksanaan pasien luka bakar antara lain terapi cairan dan terapi obat – obatan topical.4–6 6–9 10 – 14 14 – 18 55 – 60 50 45 40 – 45 25 – 25 20 – 25 55 – 60 50 45 30 – 40 20 – 55 20 Kecukupan protein untuk bayi dan anak menurut umur Golongan umur (Tahun) Kecukupan protein (gr/kg BB) 0–1 1–3 4–6 6 – 10 10 – 18 2.5 2 1.5 1 – 1.5 Perhitungan kebutuhan protein untuk pasien luka bakar dengan rumus DAVIEZ dan LILIJEDAHL Dewasa (18 tahun) (1gr x kg BB ideal) + (3gr x % total luas luka bakar) Anak – anak (Kebutuhan protein menurut umur x kg BB ideal) + (3gr x % total luka bakar) Kebutuhan lemak bagi pasien luka bakar menurut GOODENOUGH dan WOLFE adalah sebesar 30% dari total energi. . larutan Hartman atau larutan tirode 3) Larutan non elektrolit seperti glukosa 5% Sebelum infus diberikan. luas dan dalamnya luka bakar harus ditentukan secara teliti. 2.

5cc x BB kg x % luka bakar • Koloid : 0.Dewasa : 2000cc . 2) Formula Evans • Cairan yang diberikan adalah saline • Elektrolit dosis : 1cc x BB kg x % luka bakar • Koloid dosis : 1cc x Bb kg x % luka bakar • Glukosa : . candida albican dan jamur. mudah digunakan dengan sarung tangan steril. jangan dibalut karena dapat merngurangi efektifitas dan menyebabkan macerasi. 2) Silver Nitrat Indikasi : Efektif sebagai spectrum luas pada luka pathogen dan infeksi candida.Anak : 1000cc 3) Formula Brook • Cairan yang diberikan adalah Ringer Laktat • Elektrolit : 1. Terapi obat – obatan topical Ada berbagai jenis obat topical yang dapat digunakan pada pasien luka bakar antara lain : 1) Mafenamid Acetate (sulfamylon) Indikasi : Luka dengan kuman pathogen gram positif dan negatif.5% balutan basah 2 – 3 kali per hari. Keterangan : Berikan 1 – 2 kali per hari dengan sarung steril. menimbulkan nyeri partial thickness burn selama 30 menit. mempunyai kecenderungan untuk menjadi kerak dan menimbulkan nyeri. diharapkan dapat mengurangi terjadinya infeksi luka dan mencegah sepsis yang seringkali masih menjadi penyebab kematian pasien. Keterangan : Tersedia dalam bentuk solution. Keterangan : Berikan 1 – 2 kali per hari dengan sarung tangan steril. terapi pilihan untuk luka bakar listrik dan pada telinga.Pemberian cairan ada beberapa formula : 1) Formula Baxter hanya memakai cairan RL dengan jumlah : % luas luka bakar x BB (kg) x 4cc diberikan ½ 8 jam I dan ½ nya 16 jam berikut untuk hari ke 2 tergantung keadaan. Keterangan : Berikan 0. iritasi. yakinkan balutan tetap lembab dengan membasahi setiap 2 jam.Anak : 1000cc 4) Formula farkland • Cairan yang diberikan adalah Ringer Laktat • Elektrolit : 4cc x BB kg x % luka bakar b. 4) Povidone Iodine (Betadine) Indikasi : Efektif terhadap kuman gram positif dan negatif.Dewasa : 2000cc . 3) Silver Sulfadiazine Indikasi : Spektrum luas untukmicrobial pathogen . sabun dan salep. biarkan luka terbuka atau tertutup dengan kasa steril. digunakan pada pasien yang alergi sulfa atau tosix epidermal nekrolisis. .5cc x Bb kg x % luka bakar • Dektros : . mengganggu pergerakan dan dapat menyebabkan asidosis metabolik. gunakan dengan hati – hati pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati. Dengan pemberian obat – obatan topical secara tepat dan efektif.

Analisa gas darah (jika perlu lakukan tiap 12 jam atau minimal tiap hari) 7. Hb. Gula darah 6. Intervensi : a. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui rute abnormal 2. Awasi haluaran urin dan berat jenis.F. feses hitam. trombosit 2. pembentukan edema B. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratoriyum darah yang meliputi : 1. Ureum dan kreatinin 4. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN 1. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan. Protein total (albumin dan globulin) 3. pada kerusakan otot massif sehubungan dengan adanya darah dan keluarnya mioglobin. c. d. Elektrolit 5. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui rute abnormal Tujuan dan kriteria hasil : Menunjukkan perbaikan dibuktikan oleh haluaran urin individu adekuat. b. minimum haluran urin harus 75 – 100 ml/jam untuk mencegah kerusakan atau nekrosis tubulus. Hemates drainase NG dan feses secara periodic . khususnya selama 24 – 72 jam pertama setelah terbakar. perpindahan protein. Tes fungsi hati / LFT BAB II ASUHAN KEPERAWATAN A. kerusakan perlindungan kulit 4. Bila terjadi mioglobinuria menyolok. proses inflamsi dan kehilangan melalui evaporasi besar mempengaruhi volume sirkulasi dan haluaran urin. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. perlu berhati – hati dalam mengawasi dan merawat sisi inversi. Karboksihaemoglobin 8. Resiko tinggi terhadap perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan atau interupsi aliran darah arterial atau vena 3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat. tanda vital stabil dan membran mukosa lembab. Urin dapat tampak merah sampai hitam. Awasi tanda – tanda vital Memberi pedoman untuk penggantian cairan dan mengkaji respon kardiovaskuler. penggantian cairan harus dititrasi untuk menyakinkan rata – rata haluaran urin 30 – 50 ml/jam (pada orang dewasa). hematemesis. Observasi warna urin dan hemates sesuai indikasi Secara umum. Catatan pemngamtan infasif diindikasikan untuk pasien dengan luka bakar mayor inhalasi asap atau penyakit jantung sebelumnya meskipun terdapat hubungan peningkatan resiko infeksi. Ht. Observasi distansi abdomen. Perkirakan drainase luka dan kehilangan yang tak tampak Peningkatan permeabilitas kapiler.

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat. Intervensi : a. menurunkan resiko infeksi. Bandingkan dengan hasil pada tungkai yang tidak sakit. Pancuran meningkatkan inspeksi luka dan mencegah kontaminasi dari debris yang mengapung. kerusakan perlindungan kulit Tujuan dan kriteria hasil : Mencapai penyembuhan luka tepat waktu. Meningkatkan sirkulasi lokal dan sistemik. 3. Pembentukan edema dapat secara cepat menekan pembuluh darah. sarung tangan. Lepaskan perhiasan / jam tangan. 2. sehingga mempengaruhi sirkulasi dan peningkatan statis vena / edema. Intervensi : a. Ganti balutan dan bersihkan area terbakar dalam bak hidroterapi atau pancuran dengan kepala. pengisian kapiler dan warna kulit normal pada area yang cedera. c. b.80C. Bersihkan jaringan nekrotik / yang lepas (termasuk pecahnya lepuh) dengan gunting dan forsep. Mencegah kontaminasi silang. Cuci area dengan agen pembersih ringan atau sabun bedah. jangan pengaruhi fungsi sendi dan jangan pajankan luka yang terinfeksi. Hindari memplester sekitar ektremitas / jari yang terbakar. Meningkatkan penyembuhan. gerakan. Kaji warna. Resiko tinggi terhadap perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan atau interupsi aliran darah arterial atau vena Tujuan dan kriteria hasil : Mempertahankan nadi perifer teraba dengan kualitas atau kekuatan sama . Air melembutkan dan membantu membuang balutan dan jaringan parut (lapisan kulit mati atau jaringan). c. d. Tekankan pentingnya tehnik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dengan pasien. sensasi. Tinggikan ekstremitas yang sakit dengan tepat. Dorong latihan rentang gerak aktif pada bagian tubuh yang tak sakit. Jangan gaggu lepuh yang utuh bila lebih kecil dari 2 – 3 cm. masker dan tehnik aseptik ketat selama perawatan luka langsung dan berikan pakaian steril / baju juga linen / pakaian. . Meningkatkan sirkulasi sistemik / aliran balik vena dan dapat menurunkan edema atau pengaruh gangguan lain yang mempengaruhi konstruksi jaringan edema. Air mandi mempunyai keuntungan memberi dukungan untuk latihan ekstremitas tetapi dapat meningkatkan kontaminasi silang pada luka. pancuran dapat dipegang. Gunakan skort. bebas eksudat purulen dan tidak demam. Mencegah autokontaminasi. Lepuh yang kecil membantu melindungi kulit dan meningkatkan kecepatan repitelisasi kecuali luka bakar akibat dari kimia (dimana kasus cairan lepuh mengandung zat yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan). Pertahankan suhu air pada 37. Peninggian yang lama dapat mengganggu perfusi atrial bila TD turun atau tekanan jaringan meningkat secara berlebihan. nadi perifer (melalui dopler) dan pengisian kapiler pada ekstremitas luka bakar melingkar. Perbedaan dengan tungkai yang tak sakit membantu membedakan masalah sistemik dengan lokal (contoh hipovolemia / penurunan curah jantung) b. Mencegah terpajan pada organisme infeksius. Sumbernya bervariasi dari kamar mandi atau pancuran.Stres (curling) ulkus terjadi pada setengah dari semua pasien yang luka bakar berat (dapat terjadi pada awal minggu pertama).

Berpartisipasi dalam aktifitas dan tidur / istirahat dengan tepat. Kekurangan tidur dapat meningkatkan persepsi nyeri / kemampuan koping menurun. Dorong ekspresi perasaan tentang nyeri Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping. pembentukan edema Tujuan dan kriteria hasil : a. Menunjukkan ekspresi wajah / postur tubuh rileks. contoh relaksasi progresif. b.4. . nafas dalam. meningkatkan relaksasi dan ras control yang dapat menurrunkan ketergantungan farmakologis. c. Melaporkan nyeri berkurang / terkontrol. Intervensi : a. Kaji keluhan nyeri. c. b. Dorong penggunaan tehnik manajemen stres. d. Nyeri hampir selalu ada pada beberapa derajat beratnya keterlibatan jaringan / kerusakan tetapi biasanya paling berat selama penggantian balutan dan debridemen. Perubahan lokasi / karakter / intensitas dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi (contoh iskemia tungkai) atau perbaikan / kembalinya fungsi saraf / sensasi. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan. bimbingan imajinasi dan visualisasi. Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan. Memfokuskan kembali perhatian. perhatikan lokasi / karakter dan intesitas (skala 0 – 10).