You are on page 1of 19

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Definisi
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh energi panas atau bahan
kimia atau benda-benda fisik yang menghasilkan efek baik memanaskan atau mendinginkan.
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang
mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam.
Luka bakar merupakan luka yang unik diantara bentuk-bentuk luka lainnya karena luka tersebut
meliputi sejumlah besar jaringan mati (eskar) yang tetap berada pada tempatnya untuk jangka waktu
yang lama. (Smeltzer, 2001 : 1911)
Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis yang berasal dari
internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu. (Lazarus, 1994 dalam Potter & Perry,
2006;1853).

2. Epidemiologi
Kurang lebih 2,5 juta orang mengalami luka bakar di Amerika Serikat setiap tahunnya. Dari
kelompok ini, 200.000 pasien memerlukan penanganan rawat jalan dan 100.000 pasien dirawat di
rumah sakit. Sekitar 12.000 meninggal setiap tahunnya. Anak kecil dan orang tua merupakan populasi
yang beresiko tinggi untuk mengalami luka bakar. Kaum remaja laki-laki dan pria dalam usia kerja
juga lebih sering menderita luka bakar (Smeltzer, 2001 : 1911)
Di rumah sakit anak di Inggris, selama satu tahun terdapat sekitar 50.000 pasien luka bakar dimana
6400 diantaranya masuk ke perawatan khusus luka bakar. Antara 1997-2002 terdapat 17.237 anak di
bawah 5 tahun mendapat perawatan di gawat darurat di 100 rumah sakit di amerika.

3. Penyebab / Faktor Predisposisi
Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh melalui
hantaran atau radiasi elektromagnetik (Smeltzer, 2001;1911). Berikut ini adalah beberapa penyebab
luka bakar, antara lain :
a. Panas (misal api, air panas, uap panas)
b. Radias
c. Listrik
d. Petir
e. Bahan kimia (sifat asam dan basa kuat)
f. Ledakan kompor, udara panas
g. Ledakan ban, bom
h. Sinar matahari
i. Suhu yang sangat rendah (frost bite)

4. Patofisologi Terjadinya Penyakit
Luka bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga air, klorida dan
protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan edema yang dapat berlanjut pada keadaan
hipovolemia dan hemokonsentrasi. Burn shock (shock Hipovolemik) merupakan komplikasi yang
sering terjadi, manisfestasi sistemik tubuh terhadap kondisi ini adalah :

1. Respon kardiovaskuiler
Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah terlihat dengan
jelas. Karena berlanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume vaskuler, maka curah jantung
akan terus turun dan terjadi penurunan tekanan darah. Keadaan ini merupakan awitan syok luka bakar.
Sebagai respon, sistem saraf simpatik akan melepaskan katekolamin yang meningkatkan resistensi
perifer (vasokontriksi) dan frekuensi denyut nadi. Selanjutnya vasokontriksi pembuluh darah perifer
menurunkan curah jantung.
2. Respon Renalis
Ginjal berfungsi untuk menyaring darah jadi dengan menurunnya volume intravaskuler maka aliran
ke ginjal dan GFR menurun mengakibatkan keluaran urin menurun dan bisa berakibat gagal ginjal.

Kulit kering. tidak dijumpai bullae. nyeri . Semua tanda ini menunjukkan erosi lambung atau duodenum (ulkus curling).3. klorin. Respon Pulmoner Pada luka bakar yang berat.Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi .Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (surperficial). dan halogen.Tidak dijumpai bulae . muntah dan aspirasi. sianida.Luka bakar karena air panas . Komplikasi pulmoner yang dapat terjadi akibat cedera inhalasi mencakup kegagalan akut respirasi dan ARDS (adult respiratory distress syndrome). 4. nitrogen oksida. Gambaran luka bakar derajat 1 Kulit masih infark. kulit sebagai mekanisme pertahanan dari organisme yang masuk. 5. Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah penurunan aktivitas gastrointestinal. Sebagian basis mekanik. tidak ditemukan bullae. Respon Gastro Intestinal Ada 2 komplikasi gastrointestinal yang potensial. (Smeltzer. Perdarahan lambung yang terjadi sekunder akibat stres fisiologik yang masif dapat ditandai oleh darah dalam feses atau vomitus yang berdarah.Luka bakar karena api . 1913) 5. senyawa aldehid. Pemasangan NGT mencegah terjadinya distensi abdomen. Klasifikasi a) Berdasarkan penyebab . terasa nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukan luas. 1993) . hiperemi berupa eritema . Berkurangnya peristaltik usus dan bising usus merupakan manifestasi ileus paralitik yang terjadi akibat luka bakar.Luka bakar karena bahan kimia . benzena. amonia. 2001. kulit hipermik berupa eritem. sulfur oksida. Cedera pulmoner dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori yaitu cedera saluran napas atas terjadi akibat panas langsung.Laka bakar karena listrik . Respon Imonologi Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah akibat luka bakar. Penyembuhan terjadi secara spontan tanpa pengobatan khusus.Luka bakar karena suhu rendah (frost bite). konsumsi Oksigen oleh jaringan akan meningkat dua kali lipat sebagai akibat dari keadaan hipermetabolisme dan respon lokal (White.Terjadinya gangguan integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk ke dalam luka.Luka bakar karena radiasi . kemerahan. Distensi lambung dan nausea dapat mengakibatkan vomitus kecuali jika segera dilakukan dekompresi lampung (dengan pemasangan sonde lambung).Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis . yaitu ileus paralitik (tidak adanya peristaltik usus) dan ulkus curling. cedera inhalasi di bawah glotis terjadi akibat menghirup produk pembakaran yang tidak sempurna atau gas berbahaya seperti karbon monoksida. fosgen. b) Berdasarkan kedalaman jaringan yang rusak • Luka bakar derajat I .

kelenjar sebasea mengalami kerusakan. yaitu :  Derajat II dangkal (superficial) . dan perineum. berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. . nyeri hebat terutama pada derajat IIA Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2 (dua).Organ-organ kulit seperti folikel rambut. . kelenjar keringat. dasar luka kemerahan (derajat IIA). oleh karena ujung. . kelenjar keringat.Nyeri karena ujung-ujung saraf teriritasi.Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis. .Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis. tampak kulit yang nekrosis.Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari. mata. sering terletak lebih tinggi diatas kulit normal Gambaran luka bakar derajat II Tampak bullae. . Karena kering letaknya lebih rendah dibanding kulit sekitar. mata. Biasanya penyembuhan terjadi lebih dari sebulan.Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat.Luka bakar fullthickness lebih dari 20%. tulang. .Dijumpai bulae.Luka bakar derajat II . Gambaran luka bakar derajat III Terdapat bullae.Terdapat luka bakar pada tangan.ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian.Organ-organ kulit seperti folikel rambut. dasar pucat keputihan (derajat IIB). . . . yaitu: • Luka bakar mayor .Terdapat luka bakar listrik bertegangan tinggi.Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.Dasar luka berwarna merah atau pucat. kaki. . . telinga. .Tidak terdapat luka bakar pada tangan. . muka. . .Tidak dijumpai bulae. kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa memperhitungkan derajat dan luasnya luka. dll) c) Berdasarkan tingkat keseriusan luka American Burn Association menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori. kelenjar sebasea masih utuh. telinga. kelenjar keringat. . • Luka bakar moderat . muka.  Derajat II dalam (deep) .Luka bakar dengan luas 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada anak-anak. .Luka bakar fullthickness kurang dari 10%. . tergantung epitel yang tersisa. kaki.Luka bakar dengan luas lebih dari 25% pada orang dewasa dan lebih dari 20% pada anak-anak.Organ-organ kulit seperti folikel rambut. dan perineum.Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi. dasar luka kehitaman.Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi proses epitelisasi spontan dari dasar luka. .Penyembuhan terjadi lebih lama.Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan lapisan yang lebih dalam. . Luka bakar derajat III . terkadang terlihat jaringan di bawah kulit (otot.Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis. kurang nyeri hebat.

5 PAHA KI.5 KELAMIN 1 1 1 1 1 LENGAN ATAS KA. 4 4 4 4 4 LENGAN BAWAH KA 3 3 3 3 3 LENGAN BAWAH KI.5 2.5 9. .5 2. fraktur.5 8.5 3.5 2.5 2.5 6 7 KAKI KANAN 3.5 PAHA KA.Abdomen depan dan belakang : 18% . .5 2.5 TANGAN KI 2. .5 6. 4 4 4 4 4 LENGAN ATAS KI. dan kaki. 5.5 3.5 2.5 8. Diagram Penentuan luas luka bakar secara lebih lengkap dijelaskan dengan diagram Lund dan Browder sebagai berikut: LOKASI USIA (Tahun) 0-1 1-4 5-9 10-15 DEWASA KEPALA 19 17 13 10 7 LEHER 2 2 2 2 2 DADA & PERUT 13 13 13 13 13 PUNGGUNG 13 13 13 13 13 PANTAT KIRI 2.Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah. (Hudak & Gallo.Luka bakar fullthickness kurang dari 2%. 5 tahun dan 1 tahun.5 9.Kaki kanan dan kiri : 18% .5 2. Pada anak-anak dipakai modifikasi Rule of Nine menurut Lund and Brower.5 2.Tidak terdapat trauma inhalasi.5 6 7 TUNGKAI BAWAH KI 5 5 5. tangan.5 2.Luka tidak sirkumfer. yaitu ditekankan pada umur 15 tahun. 1996.kepala dan leher : 9% .5 3.5 3.5 .5 3.5 2.5 6.5 PANTAT KANAN 2.5 2.5 8.5 KAKI KIRI 3.Genital : 1% Skema pembagian luas luka bakar dengan Role Of Nine Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas telapak tangan penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya.Tangan kanan dan kiri : 18% . .Paha kanan dan kiri : 18% .5 2.5 TUNGKAI BAWAH KA 5 5 5.• Luka bakar minor .5 2. 542) Ukuran luas luka bakar Dalam menentukan ukuran luas luka bakar kita dapat menggunakan beberapa metode yaitu : • Rule of nine . 5.5 2. 3 3 3 3 3 TANGAN KA 2.5 2.5 3.5 8. elektrik.Luka bakar minor seperti yang didefinisikan oleh Trofino (1991) dan Griglak (1992) adalah : Luka bakar dengan luas kurang dari 15% pada orang dewasa dan kurang dari 10 % pada anak-anak.5 2.5 3.5 3.Dada depan dan belakang : 18% .

Bahkan perlu dengan operasi penambalan kulit (skin graft).Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis.keperawatan medikal bedah  Zona Kerusakan jaringan Setiap daerah yang terbakar memiliki tiga zona cedera yaitu :  Zona Koagulasi Daerah sebelah dalam yang langsung mengalami kerusakan akibat pengaruh panas. Pada daerah ini terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan leukosit sehingga terjadi gangguan perfusi diikuti perubahan permebilitas kapiler dan respon inflamasi lokal. Luka bakar derajat III . sering terletak lebih tinggi diatas kulit normal. kelenjar keringat. c.Penyembuhan spontan dalam waktu 10-14 hari. . Luka bakar derajat I: .Organ-organ kulit seperti folikel rambut.Kerusakan hampir seluruh bagian dermis.Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi.Contohnya adalah luka bakar akibat sengantan matahari b.Organ-organ kulit seperti folikel rambut. .Penyembuhan terjadi lebih lama. oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian.Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan dari dasar luka. . Biasanya penyembuhan lebih dari satu bulan. . 2001. .Dasar luka berwarna merah atau pucat. tanpa skin graft • Derajat II dalam (deep). .  Zona Stasis Daerah yang berada langsung diluar zona koagulasi. . . . . karena kering lebih rendah dibanding kulit sekitar. .Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.2003: Smeltzer. Luka bakar derajat II . .Dijumpai bullae.Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. tergantung biji epitel yang tersisa. . kelenjar sebasea mengalami kerusakan.Sumber: smeltzer(2001). .6.Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat.Organ-organ kulit seperti folikel rambut. . . . Zona Hiperemia Daerah diliuar zona statis yang mengalami reaksi berupa vasodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi seluler. Gejala Klinis a. berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. • Derajat II dangkal (superficial). kelenjar keringat. Zona ketiga ini dapat mengalami penyembuhan secara spontan atau berubah ke zona kedua bahkan zona pertama.Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-10 hari.Tidak dijumpai bulae.1916) .Kulit kering. hiperemik berupa eritema. terdapat proses koagulasi protein pada luka dan kematian seluler.Kerusakan terbakar pada lapisan epidermis (superficial). . kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh. kelenjar keringat. . kelenjar sebasea masih utuh.Tidak dijumpai bullae. . .Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis.Kerusakan meliputi seluruh tebal dermis dan lapisan yang lebih dalam.(Moenadjat.Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.

Auskultasi bunyi nafas pada paru . akan berubah menurut pertumbuhan Metode Telapak Tangan Pada banyak pasien dengan luka bakar yang menyebar. Adapun prosentasenya adalah sebagai berikut: . • Fotografi luka bakar : memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya. 2000.Dada dan perut : 18% .Mukosa bibir kering .Tanda-tanda inflamasi Dalam menentukan ukuran luas luka bakar kita dapat menggunakan beberapa metode yaitu : Rule of nine Merupakan cara yang tepat untuk menghitunng luas daerah yang terhadap luas permukaan tubuh. ulkus.Kaki kanan: 18% . . Pemeriksaan Penunjang • Hitung darah lengkap : peningkatan Ht awal menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan dengan perpindahan/kehilangan cairan.Menentukan derajat luka . dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan dalam dan kehilangan protein.Punggung dan bokong: 18% .4 Skema pembagian luas luka bakar dengan Rule of Nine Metode lund dan Browder Metode ini lebih tepat dalam memperkirakan luas permukaan tubuh yang terbakar.Area kulit yang tidak terbakar mungkin dingin dan pucat . • Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein pada edema cairan. Hb. Natrium awalnya menurun pada kehilangan air. khususnya kepala dan tungkai.Tangan kanan dan kiri : 18% . nekrosis. Lebar telapak tangan pesien kurang lebih sebesar 1 % LPTT. (Doenges. Menyatakan bahwa prosentase luka bakar pada berbagai bagian anatomi.Area kulit yang terbakar akan melepuh. • Foto rontgen dada : untuk memastikan cedera inhalasi • Skan paru : untuk menentukan luasnya cedera inhalasi • EKG untuk mengetahui adanya iskemik miokard/disritmia pada luka bakar listrik.Kaki kiri : 18% .Suhu pada luka • Auskultasi: . • BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal. • Elektrolit serum : kalium meningkat karena cedera jaringan /kerusakan SDM dan penurunan fungsi ginjal. kuat lemahnya) . • Alkalin fosfat : peningkatan sehubungan dengan perpindahan cairan interstitiil/ganguan pompa natrium. atau jaringan parut tebal. Pemeriksaan Fisik • Inspeksi: .kepala dan leher : 9% . 804) . • Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap. metode yang dipakai memperkirakan prosentase luka bakar adalah metode telapak tangan ( palm methode). • Urine : adanya albumin.Denyut nadi (frekuensi.7.Auskultasi bising usus 8.Genital : 1% Gambar 2. • Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi. • Palpasi: .

Comforting : dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri. Dengan membuang jaringan yang sudah mati. Cairan merupakan komponen penting karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui penguapan karena kulit yang berfungsi sebagai proteksi sudah rusak dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan dari pembuluh darah ke jaringan sekitar pembuluh darah yang mengakibatkan timbulnya pembengkakan (edema). proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang. oli atau larutan lainnya. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning. dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. kemudian ditentukan derajatnya dengan rule of nine’s untuk mengetahui luas daerah yang terbakar. Bila hal ini terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan maka volume cairan dalam pembuluh . cleaning. Jangan berikan mentega.M-intramuskular) 0. dahak berwana jelaga (black sputum).2mg/kg Selanjutnya pertolongan diarahkan untuk mengawasi tanda-tanda bahaya dari ABC (airway. minyak.Cooling : Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit. Dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar.20-30mg/kg • Morphine (IV-intra vena) 0. bengkak pada wajah. perempuan hamil. . breathing. berupa • Paracetamol dan codein (PO-per oral). Penatalaksanaan Secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing. Bila kurang dari itu dapat diberikan cairan melalui mulut. menghambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi. covering and comforting (contoh pengurang nyeri). bulu hidung yang terbakar. Luka bakar pada daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana intubasi (pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea/batang tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang adekuat/tetap terbuka. Tidak boleh diberikan pada wajah.Cleaning : pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi rasa sakit. suara serak.] . dan kimia . Pastikan luas luka bakar untuk perhitungan pemberian cairan. Diagnosis / kriteria diagnosis Apabila terjadi kerusakan kulit akibat agen-agen thermal. .Clothing : singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Cara ini efektif samapai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar – Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi – Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia – Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata. Circulation) Airway and breathing Perhatikan adanya stridor (mengorok). Intubasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap.Chemoprophylaxis : pemberian anti tetanus. Untuk pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling. . dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial. Circulation Penilaian terhadap keadaan cairan harus dilakukan. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk. Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. bayi baru lahir. riwayat alergi sulfa.thickness (dapat dilihat pada tabel 4 jadwal pemberian antitetanus). ibu menyususi dengan bayi kurang dari 2 bulan . maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir. Pemberian cairan intravena (melalui infus) diberikan bilaluas luka bakar >10%. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya. Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan infeksi. siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih. hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal. baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan . gagal napas. terutama pada anak dan orang tua). chemoprophylaxis.9. 10.Covering : penutupan luka bakar dengan kassa. cooling.1mg/kg diberikan dengan dosis titrasi bolus • Morphine (I.

Cairan Jika luas area luka bakar >10% maka lakukan resusitasi cairan dan lakukan penghitungan cairan dari saat waktu kejadian luka bakar.9%/normal Saline). Cairan formula parkland (3-4ccx kgBB x %TBSA) diberikan setengahnya dalam 8 jam pertama dan setengah sisanya dalam 16 jam berikutnya. Tatalaksana luka bakar superfisial / dangkal Dapat dibiarkan terbuka. Kristaloid dengan dekstrosa (gula) di dalamnya dipertimbangkan untuk diberikan pada bayi dengan luka bakar. Kemungkinan timbulnya jaringan parut yang berlebihan (scar hipertrofik) harus dipikirkan apabila dalam waktu 3 minggu luka bakar belum juga menyembuh. Jumlah cairan yang diberikan berdasarkan formula dari Parkland : 3-4 cc x berat badan (kg) x %TBSA + cairan rumatan (maintenance per 24 jam). Cairan yang keluar dari luka bakar menentukan frekuensi penggantian balutan Gelembung cairan (blister) memiliki fungsi untuk proteksi dan mengurangi rasa sakit bila tetap dibiarkan utuh selama beberapa hari. 2cc/kgBB dalam 10 kg ke 2 (11-20kg) dan 1cc/kgBB untuk tiap kg diatas 20 kg.1% lalu dengan salin. Jika gelembung cairan kecil. Pada bayi yang menunjukakan kecenderungan terbentuknya gelembung cairan atau penggarukan dapat ditutup perban untuk proteksi.darah dapat berkurang dan mengakibatkan kekurangan cairan yang berat dan mengganggu fungsi organ-organ tubuh. . Pasang kateter urin jika luka bakar>15% atau luka bakar daerah perineum NGT-pipa nasogastrik dipasang jika luka bakar>10% berupa deep partial thickness atau full thickness. dan mulai untuk pemberian makanan antara 6-18 jam. Pada anak-anak dapat membutuhkan morfin sebelum penilaian luka bakar dan pembalutan awal. NaCl 0. Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari produksi urin yaitu 1cc/kgBB/jam. Tatalaksana luka bakar sebagian (partial thicknes) • Dilakukan pembersihan luka dan sekelilingnya dengan salin (larutan yang mengandung garam- steril). • Pada luka bakar mengenai anggota gerak atas disarankan imobilisasi denga balut dan bidai • Pemeriksaan status tetanus pasien • Pembalutan tertutup disarankan untuk luka bakar partial thickness. Luka bakar mayor Airway and breathing (jalan napas dan pernapasan) Apabila ada tanda-tanda luka bakar pada saluran napas atau cedera pada paru-paru maka intubasi dilakukan secepatnya sebelum pembengkakan pada jalan napas terjadi. Cairan infus yang diberikan adalah cairan kristaloid (ringer laktat. Jika luka kotor dapat dibersihkan dengan clorhexidine 0. atau menunjukkan tanda-tanda terinfeksi atau ternyata lebih dalam maka rujukan sebaiknya dilakukan. Gelembung cairan yang berubah menjadi opak/keruh setelah beberapa hari menandakan proses infeksi sehingga perlu untuk dibuka dan dibalut. Gelembung cairan yang besar dan yang meliputi daerah persendian harus dipecah dan dibersihkan. • Luka bakar superfisial partial thickness dapat ditutup dengan kasa yang tidak menempel lalu dibalut atau di plester • Luka bakar deep partial thickness dilakukan penutupan dengan kasa yang tidak lengket dan diberikan antimikroba krim silverdiazin Follow up Bila luka bakar dangkal tidak menyembuh dalam 7-10 hari. Cairan rumatan adalah 4cc/kgBB dalam 10 kg pertama. tidak berada di dekat sendi dan tidak menghalangi pembalutan maka dapat tidak perlu dipecahkan. Tatalaksana luka bakar minor • Pemberian pengurang rasa nyeri harus adekuat.

3. lokasi. Fokus perhatian terus berlanjut pada pemeliharaan keseimbangan cairan dan elekrolit serta perbaikan status nutrisi. Graft Pada Luka Bakar Adalah pencacokan kulit. 5.Alami : jaringan mati akan memisahkan diri secara spontan . usia. 1918) 11. Pembersihan Luka Hidroterapi dengan perendaman total dan bedside bath adalah terapi rendaman disamping tempat tidur. . bau. perawat harus menggunakan APD. Fase Rehabilitasi Meskipun aspek jangka panjang pada perawatan luka bakar berada pada tahap akhir. dan mafenide asetat. dan kulit yang mati. 2. 4. dan pada dewasa dengan usia kurang dari 40 tahun. Debridemen Tujuannya adalah untuk menghilangkan jaringan yang terkontaminasi oleh bakteri dan benda asing sehingga pasien dilindungi dari invasi bakteri dan untuk menghilangkan jaringan yang sudah mati. 6. Kemudian luka dibersihkan dan didebridemen untuk menghilangkan debris. Berat ringan luka bakar tergantung pada: kedalaman luka bakar. Selama berendam. dukungan psikososial dan pemulihan aktifitas fungsional tetap menjadi prioritas. Terapi Antibiotik Topikal Ada tiga preparat topikal yang sering digunakan yaitu silver sulfadiazin. membentuk barier yang merintangi bakteri dan berfungsi sebagai dasar untk pertumbuhan sel epitel. Selama penggantian balutan ini.Mekanis : penggunaan gunting bedah dan forsep untuk memisahkan dan mengangkat jaringan mati. ukuran. 2001. Komplikasi • Gagal ginjal akut • Gagal respirasi akut • Syok sirkulasi • Sindrom kompartemen • Ilius paralitik • Ulkus curling 12.Bedah : tindakan operasi dengan melibatkan eksisi primer seluruh tebal kulit sampai mengupas kulit yang terbakar. Fase ini difokuskan pada perubahan citra diri dan gaya hidup yang dapat terjadi. tetapi proses rehabilitasi harus segera dimulai segera setelah terjadinya luka bakar sama seperti periode darurat. Hidroterapi merupakan media yang sangat baik untuk melatih ekstremitas dan membersihkan luka seluruh tubuh. Prognosis Prognosis lebih baik pada anak dengan usia di atas 5 tahun. agent. dan trauma. harus dicatat mengenai warna.Fase Akut atau Intermediet Perawatan Luka Bakar Pada fase akut ini dilakukan perawatan luka umum seperti : 1. . Balutan atau kasa yang menempel pada luka dapat dilepas tanpa menimbulkan sakit jika sebelumnya dibasahi dengan larutan salin atau bial pasien dibiarkan berandam selama beberapa saat dalam bak rendaman. Debridemen ada 3 yaitu . Untuk perawatan lanjutan dapat bekerjasama dengan fisioterapi agar dapat melatih rentang gerak. Penggantian Balutan Dalam mengganti balutan. setiap preparat topikal yang tersisa. (Smeltzer. Dukungan Nutrisi Nutrisi yang diberikan adalah TKTP untuk membantu mempercepat penyembuhan luka. silver nitrat. eksudat. Selama proses penyembuhan luka akan terbentuk jaringan granulasi. luas. Jarinagn ini akan mengisi ruangan ditimbulkan oleh luka. riwayat penyakit. Pembedahan rekonstruksi pada bagian anggota tubuh dan fungsinya yang terganggu mungkin diperlukan. pasien didorong agar sedapat mungkin bergerak aktif. Pembalut sisanya dapat dilepas dengan hati-hati memakai forseps atau tangan yang menggunakan sarung tangan steril. dan karakteristik lain dari luka. Kesembuhan luka.

sementara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf. laserasi korneal. h) Pernafasan Adanya keluhan terkurung dalam ruang tertutup dan terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi). keuangan. b) Sirkulasi (dengan cedera luka bakar LPTT >20%) Hipotensi (syok).KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. pembentukan edema jaringan (semua luka bakar). bunyi nafas: gemericik (edema paru). . genetalia = 1%. kulit putih dan dingin (syok listrik). takikardia (syok/ansietas/nyeri). luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri. perubahan tonus. luka bakar derajat tiga tidak nyeri. kerusakan retinal. khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltic gastrik. anoreksia. dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok. edema lingkar mulut dan atau lingkar nasal. gangguan massa otot. c) Integritas ego Pengungkapan masalah tentang keluarga. indikasi cedera inhalasi. dan marah. paralisis (cedera listrik pada aliran saraf). mukosa hidung dan mulut kering. Adanya perubahan orientasi. tangan kanan-kiri =18%. dan punggung = 18% • Infant : kepala = 18%. dada dan perut = 18%. batuk mengi. Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada. ketergantungan. menangis. afek. kaki kanan-kiri = 28%. kaki kanan-kiri = 28%. aktifitas kejang (syok listrik). penurunan reflex tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas. misalnya. stridor (edema laryngeal). diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi). Pengkajian Luas Luka Bakar Metode Rule of Nine’s Sistem ini menggunakan prosentase kelipatan sembilan terhadap luas permukaan tubuh. sianosis. ruptur membran timpanik (syok listrik). pekerjaan. Pengkajian Sistem Tubuh a) Aktifitas/istirahat Penurunan kekuatan dan tahanan otot. penurunan bising usus/tak ada. sekret jalan nafas dalam (ronki). perilaku. jalan nafas atas stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme. penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera. menyangkal. warna mungkin hitam. e) Makanan/cairan Edema jaringan umum. penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik). pucat. menarik diri. Adanya tanda suara serak. d) Eliminasi Haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat. luka bakar derajat pertama secara ekstrem sensitive untuk disentuh. keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit. Adanya ansietas. • Dewasa : kepala = 9 %. Bulu hidung gosong. kemerahan bila terjadi mioglobin. f) Neurosensori Adanya keluhan area batas dan kesemutan. tangan kanan-kiri = 18%. Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab. gerakan udara dan perubahan suhu. dan punggung = 18% ii. i) Keamanan Kulit umum : destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses thrombus mikrovaskuler pada beberapa luka. g) Nyeri/kenyamanan Keluhan berbagai nyeri. disritmia (syok listrik). vasokonstriksi perifer umum dengan kehilangan nadi. edema laryngeal). kecacatan. Cedera api : terdapat area cedera campuran dalam sehubungan dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar. dan punggung = 18% • Child : kepala = 18%. mengindikasikan kerusakan otot dalam. Pengkajian i. tangan kanan-kiri = 18% . lepuh pada faring posterior. kaki kanan-kiri = 36%. ditekan. dada dan perut = 18%. merah. mual/muntah. dada dan perut = 18%.

Defisit perawatan diri b/d penurunan ketahanan dan kekuatan otot. ulkus. Bersihan jalan napas b/d Obstruksi trakeobronkial. ada retraksi dada. Defisit volume cairan b/d output yang berlebihan ditandai dengan . 11. obstruksi saluran nafas atas. Kerusakan mobilitas fisik b/d edema. atau jaringan parut tebal. 8. DS : pasien mengeluh nyeri. Pola nafas tidak efektif b/d kebutuhan oksigen meningkat ditandai dengan . terapi pembatasan. Cedera kimia : tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab. nekrosisi. DS : DO : turgor kulit menurun. Gangguan integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit ditandai dengan nekrosis jaringan. Kerusakan pertukaran gas b/d keracunan karbon monoksida. tampak cairan keluar dari luka.  Pasien mengeluh sering menggigil. Gangguan citra tubuh b/d kecacatan. Data Objektif  Pasien tampak meringis  ↑ TD  Penurunan suhu tubuh  Terdapat bullae  Lesi  Kulit bersisik atau kering  Kulit memerah  Kulit melepuh  Adanya oedema. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif). Nyeri akut b/d kerusakan ujung-ujung saraf karena luka bakar ditandai dengan . Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan atau interupsi aliran darah arteri / vena ditandai dengan perubahan jaringan. Cedera listrik : cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit dibawah nekrosis. Data Subjektif  Pasien mengeluh sesak nafas  Pasien mengeluh nyeri pada daerah sekitar luka  Pasien mengeluh jantung berdebar-debar. nyeri. penurunan ketahanan dan kekuatan otot. 6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d peningkatan katabolisme. 4. nadi meningkat sampai 120 x/ mnt. kehilangan barier kulit ditandai dengan perasaan negatif tentang diri sendiri. Cedera secara umum lebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera. pasien terlihat sesak napas. DO : frekuensi napas 32 x/mnt. Diagnosa keperawatan 1. Gangguan cardiac output b/d penurunan curah jantung ditandai dengan pasien tampak gelisah. 7.  Nafas mengi. 2. 12. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d katabolisme protein dan lemak ditandai dengan penurunan berat badan. Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seperti kulit samak halus. 3. kontraktur persendian. 13. 10.  Pasien mengeluh haus. 16. skala nyeri : 7. Kerusakan integritas jaringan b/d trauma atau kerusakan jaringan ditandai dengan adanya jaringan-jaringan yang mati. ketakutan/penolakan berinteraksi dengan orang lain. 9. b. 15. DO : wajah pasien tampak meringis. luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar. mual dan muntah. lepuh. 2. 5. a. inhalasi asap. DS : pasien mengeluh susah bernafas. . Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d kehilangan cairan ditandai dengan turgor kulit menurun. 14. Hipertermi b/d reaksi inflamasi ditandai dengan peningkatan suhu tubuh.

gelisah. Siapkan/bantu intubasi atau trakeostomi sesuai indikasi R/ : intubasi atau dukungan mekanikal dibutuhkan bila jalan nafas edema atau luka bakar mempengaruhi fungsi paru atau oksigenasi. 18. PK syok hipovolemik ditandai dengan kulit dingin. 26. 2. setelah . PK hiperglikemia. Nyeri akut b/d kerusakan ujung-ujung saraf karena luka bakar Tujuan : setelah diberikan askep selama … x 24jam diharapkan nyeri pasien berkurang dengan kriteria hasil :  Pasien mengatakan nyeri berkurang  Pasien tampak relax  Skala nyeri = 3  nadi = 80-100 x/mnt Intervensi : Mandiri : 1. Risiko infeksi b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. kerusakkan kulit. Risiko kerusakan integritas kulit b/d oedema sel. bantal dapat menghambat pernafasan. Intervensi 1. 27. PK asidosis metabolik. Perhatikan adanya pucat atau warna buah ceri merah pada kulit yang cedera. tutup luka sesegera mungkin kecuali perawatan luka bakar metode pemajanan pada udara terbuka R/ : suhu berubah dan gerakan udara dapat menybabkan nyeri hebat pada pemajanan ujung saraf 2. Tinggikan kepala tempat tidur dan hindari penggunaan bantal dibawah kepala sesuai indikasi. Pelembab merupakan pengeringan saluran pernafasan dan menurunkan visikositas sputum. PK gagal ginjal akut 25. seperti masker wajah. PK ileus paralitik. 3. Berikan pelembab oksigen melalui cara yang tepat. 23. perasaan putus asa. PK anemi ditandai dengan pasien tampak pucat dan lemas. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi. Kaji ulang seri ronsen R/ : perubahan menunjukkan atelektasis/edema paru tidak dapat terjadi selama 2-3 hari setelah terbakar. tinggikan ekstremitas luka bakar secara periodik R/ : peninggian mungkin diperlukan pada awal untuk menurunkan pembentukan edema. tidak ada retraksi dada  Pasien tidak mengeluh sesak napas Intervensi : Mandiri : 1. 21. 30. PK gagal napas akut.17. Bila kepala/leher terbakar. R/ : oksigen memperbaiki hipoksemia/asidosis. rauma jaringan prosedur invasive 20. 28. 19. PK tukak curling. 3. 22. R/ : meningkatkan ekspansi paru optimal/fungsi pernafasan. R/ : Dugaan adanya hipoksemia atau karbon monoksida 2. Risiko aspirasi b/d penurunan kesadaran. 24. 4. PK hiponatremia. menyebabkan nekrosis pada kartilago telinga yang terbakar dan meningkatkan kontriktur leher. 29. 5. Pola nafas tidak efektif b/d kebutuhan oksigen meningkat Tujuan : setelah diberikan askep selama … x 24jam diharapkan pola napas pasien efektif dengan kriteria hasil :  Menunjukkan frekuensi pernafasan dengan rentang normal (16-20/ menit)  Pasien tampak tidak sesak. Ansietas b/d krisis situasi dan kejadian traumatik ditandai dengan ketakutan.

5. R/ : mulut/palatum bersih meningkatkan rasa dan napsu makan yang baik. pengobatan. 9. 7. contoh relaksasi progresif. 8. 2. R/ : metode IV sering digunakan pada awal untuk memaksimalkan efek otot. Lakukan pemeriksaan glukosa strip jari. 4. penutup tubuh hangat. Dorong ekpresi perasaan tentang nyeri. berikan lampu penghangat. Perhatikan jumlah kalori. Berikan makan dan makanan kecil sedikit dan sering. pertahankan suhu linhkungan nyaman. persentase area luka bakar dievaluasi untuk menghitung bentuk diet yang diberikan dan penilaian yang tepat dibuat. Pasang/pertahankan makanan sedikit melalui selang enterik/tambahan bila dibutuhkan. 7. R/ : meningkatkan rasa kontrol pasien dan kekuatan mekanisme koping. perhatikan hipoaktif/tak ada bunyi. R/ : memberikan makanan kontinu/tambahan bila pasien tidak mampu untuk menkonsumsi kebutuhan kalori total harian. R/ : pertanyaan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping. R/ : ileus sering berhubungan dengan periode pasca luka bakar tetapi biasanya dalam 36-48 jam dimana makanan oral dapat dijumpai. Berikan bersihan oral sebelum makan. . pemberian obat. 11. R/ : indikator kebutuhan nutrisi dan keadekuatan diet/terapi. Sesuai penyembuhan luka. kaji keluhan nyeri. R/ : memfokuskan kembali perhatian. meningkatkan relaksasi dan meningkatkan rasa kontrol yang dapat menurunkan ketergantungan farmakologis. klinites/asetes sesuai indikasi. Dorong pasien untuk memandang diet sebagai pengobatan dan membuat pilihan makanan/ minuman tinggi kalori/protein. ubah posisi dengan sering dan rentang gerak pasif dan aktif sesuai indikasi R/ : gerakan dan latihan menurunkan kekakuan sendi dan kelelahan otot tetapi tipe latihan tergantung pada lokasi dan luas cedera 5.kreatinin. 6. kaji ulang persen area permukaan tubuh terbuka/luka tiap minggu. Berikan analgesik sesuai indikasi. R/ : dukungan empati dapat membantu menghilangkan nyeri atau meningkatkan relaksasi. bimbingan imajinasi. 3. dan meningkatkan penyembuhan. Libatkan pasien dalam penentuan jadwal aktivitas. Perubahan lokasi/ karakter/ intensitas nyeri dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi atau perbaikan kembalinya fungsi saraf. contoh albumin serum.perubahan posisi dan peninggian menurunkan ketidaknyamanan serta risiko kontraktur sendi 3. R/ : mengawasi terjadinya hiperglikemia sehubungan dengan perubahan hormonal/kebutuhan atau penggunaan hiperalimentasi untuk memenuhi kebutuhan kalori. 8. Dorong penggunaan teknik manajemen stres. Awasi pemeriksaan laboraturium. R/ : membantu mencegah distensi gaster/ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukan. nitrogen urea urine. Sumber panas eksternal untuk mencegah menggigil 6. nafas dalam. R/ : pedoman tepat ntuk pemasukan kalori tepat. berikan tempat tidur ayunan sesuai indikasi R/ : peninggian linen dari luka membantu menurunkan nyeri 4. dan visualisasi. R/ : kalori dan protein diperlukan untuk mempertahankan berat badan. Auskultasi bising usus. R/ : pengaturan suhu dapat hilang karena luka bakat mayor. Kekurangan volume cairan b/d output yang berlebihan Tujuan : setelah diberikan askep selama …x 24 jam diharapkan intake dan output cairan dalam tubuh pasien seimbang dengan kriteri hasil :  Turgor kulit normal  Intake dan output cairan tubuh pasien seimbang Intervensi : Mandiri : 1. transferin. 10. perubahan posisi dengan sering. 3. Berikan tindakan kenyamanan dasar contoh pijatan pada area yang tidak sakit. perhatikan lokasi atau karakter (skala 0-10) R/ : nyeri hampir selalu ada pada beberapa derajat beratnya keterlibatan jaringan atau kerusakan tetapi paling berat selama penggantian balutan dan debridemen.kebutuhan memenuhi metabolik.

warna kulit normal pada area yang cedera Intervensi : Mandiri : 1. gerakan. 4. diharapkan aliran darah pasien ke jaringan perifer adekuat dengan kriteria hasil : . Tinggikan ekstremitas yang sakit. pemasukan tinggi kalori. Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan atau interupsi aliran darah arteri / vena Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x 24 jam. Menciptakan lingkungan yang nyaman saat makan R/ : Lingkungan yang kondusif dapat meningkatkan nafsu makan 5. Dorong pasien untuk memandang diet sebagai pengobatan dan untuk membuat pilihan makanan/minuman tinggi kalori/protein R/ : Kalori dan protein diperlukan untuk mempertahankan berat badan. kaji ulang persen area permukaan tubuh terbuka /luka tiap minggu. Rujuk kepada ahli gizi . Dorong latihan gerak aktif R : untuk meningkatkan sirkulasi darah lokal dan sistemik Kolaborasi 5. R : untuk meningkatkan aliran balik vena dan dapat menurunkan edema 3. kalium. kelelahan pankreas. dan kalsium R : mengawasi terjadinya penurunan curah jantung 7. Sesuai penyembuhan luka. Pertahankan penggantian cairan R : untuk meningkatkan volume sirkulasi dan perfusi jaringan 6. Berikan insulin sesuai indikasi. sensasi. Intervensi : Mandiri: 1. R/ : Pedoman tepat untuk pemasukan kalori tepat. R : pembentukan edema dapat terjadi secara cepat menekan PD sehingga mempengaruhi sirkulasi PD ke jaringan perifer 2. dengan kriteria hasil : • Berat badan meningkat • Pasien mengatakan tidak mual lagi • Pasien mengatakan nafsu makannya meningkat (habis 1 porsi). 2. 4. persentase area luka bakar di evaluasi untuk menghitung bentuk diet yang diberikan dan penilaian yang tepat dibuat. dan meningkatkan penyembuhan. mual dan muntah Tujuan : setelah diberikan askep selama …x 24 jam diharapkan intake nutrisi pasien adekuat. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d katabolisme protein dan lemak ditandai dengan penurunan berat badan. kebutuhan metabolik.9. Pertahankan jumlah kalori tetap dan timbang BB tiap hari. Ukur TD pada ektremitas yang mengalami luka bakar (untuk mengetahui kekuatan aliran darah ke daerah yang mengalami luka bakar) 4.pengisian kapiler baik . Kaji warna. Awasi elektrolit terutama natrium. Hindari injeksi IM atau SC R : perubahan perfusi jaringan dan pembentukan edema mengganggu absorpsi obat 5.nadi perifer teraba dengan kualitas dan kekuatan yang sama . Berikan makanan sedikit tapi sering R/: Membantu mencegah distensi gaster/ ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukan nutrisi 3. R/ : peningkatan kadar glukosa serum dapat terjadi sehungan dengan respon stres terhadap cedera. dan nadi perifer. Anjurkan kebersihan oral sebelum makan R/ : Meningkatkan rasa dan nafsu makan Kolaborasi : 1.

Auskultasi bising usus R : sebagai indikator adanya ileus paralitik 2. Pasang NGT R : memberikan makan melalui selang agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi jika pasien tidak bisa mengkonsumsi secara oral 7. Berikan diet TKTP R/ : Membantu mempercepat proses penyembuhan luka 3. Pasang NGT R/ : Memberikan makan melalui selang agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi jika pasien tidak bisa mengkonsumsi secara oral 6. Rujuk kapada ahli gizi R : berguna dalam membuat kebutuhan nutrisi pasien 8. untuk menutup luka terbuka secara cepat setelah eskarotomi untuk melindungi jaringan granulasi. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit. Ukur massa otot R : sebagai indikator keefektifan terapi 4. Kaji/catat ukuran. 2. Berikan perawatan luka bakar yang tepat dan tindakan kontrol infeksi. Berikan diet TKTP R : membantu mempercepat proses penyembuhan luka 9. R/ : menyiapkan jarinagan untuk penanaman dan menurunkan risiko infeksi/kegagalan graft. contoh: 1. homograft (allograft) R/ : graft kulit diambil dari kulit orang itu sendiri atau orang yang sudah meninggal (donor mati) digunakan untuk penutupan sementara pada luka bakar luas sampai kulit orang itu siap ditanam (test graft).warna. Pertahankan kalori tetap dan timbang BB tiap hari R : menunjukkan keadekuatan nutrisi yang diberikan ke pasien 3. Berikan makanan sedikit tapi sering R : mencegah distensi gaster dan meningkatkan pemasukan 5. diharapkan nutrisi pasien adekuat dengan kriteria hasil :  BB normal sesuai dengan usia  Menunjukkan nutrisi yang adekuat ditunjukkan dengan massa otot terukur Intervensi : Mandiri : 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d katabolisme protein Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x 24 jam. Berikan kebersihan oral sebelum makan R : meningkatkan rasa dan nafsu makan Kolaborasi : 7. . Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x 24 jam. diharapkan pasien menunjukkan regenerasi jaringan dengan kriteria hasil :  Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka bakar. kedalaman luka. Ciptakan lingkungan yang nyaman saat makan R : lingkungan yang kondusif dapat meningkatkan nafsu makan 6. perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar Kulit R/ : memberikan informasi dasar tentang kebutuhan penanaman kulit dan kemungkinan petunjuk tentang sirkulasi pada area graft. Kolaborasi : Siapkan/bantu prosedur bedah/balutan biologis. Intervensi : Mandiri : 1.R/ : Berguna dalam membuat kebutuhan nutrisi individu 2.

3. pemantauan oksimetri dan analisa gas darah R/ : peningkatan pCO2 dan penurunan pO2 serta saturasi O2 dapat menunjukkan perlunya ventilasi mekanik. 10. Kerusakan mobilitas fisik b/d edema.penurunan bunyi nafas) R/ : obstruksi jalan nafas/ distress pernafasan dapat terjadi cepat atau lambat selama 48 jam paska luka bakar. 8. Heterograft (xenogratf. kontraktur persendian. penggunaan otot bantu nafas dan sianosis R/ : Takipnea . obstruksi saluran nafas atas. tidak terjasi kontraktur.nyeri. Intervensi Mandiri : 1. inhalasi asap. tidak sianosis. diharapkan pertukaran gas pasien menjadi adekuat dengan kriteria hasil : Tidak ada dispnea.gelisah) R/ : perubahan kesadaran menunjukkan terjadinya atau memburuknya hipoksia Kolaborasi : 1. dorong partisipasi pasien sehari-hari sesuai kemampuan individu R/ : meningkatkan kemandirian. penggunaan otot bantu nafas dan adanya sianosis menunjukkan distress pernafasan /edema paru dan membutuhkan intervensi medik 3. nilai oksimetri>96%. beri obat sebelum beraktivitas /latihan R/ : menurunkan kekuatan otot/jaringan dan tegangan sehingga memampukan pasien lebih aktif dan mampu partisipasi 3. Hipertermi b/d peningkatan metabolisme tubuh Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama … x 24 jam diharapkan suhu dalam batas normal. frekuensi respirasi 12-20x/menit. dengan kriteria hasil :  Suhu pasien 36-37  Pasien tidak kedinginan . Awasi adanya perubahaan perilaku/mental ( agitas. penggunaan otot bantu tidak ada. Autograft R/ : kulit graft diambil dari bagian pasien yang tak cedera. perhatikan adanya suara nafas abnormal ( mengi.2. edema berkurang /tidak ada. mungkin ketebalan penuh atau ketebalan parsial. Awasi adanya dispne dan auskultrasi paru. kaji adanya edema dan perhatikan sirkulasi. gerakan dan sensansi jari secara sering. auskultasi paru bersih. kadar analisa gas darah dalam keadaan normal. pemberian oksigen R/ : memberikan kelembaban pada jaringan yang cedera. tidak ada tanda gelisah dan agitasi. porcine) R/ : kulit graft diambil mungkin dari binatang denganpenggunaan yang sama untuk homograft atau untuk autograft yang berlubang. 2. penurunan ketahanan dan kekuatan otot. diharapkan pencapaian mobilitas fisik yang optimal dengan kriteria hasil : pasien mampu beraktivitas.stridor. Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x 24 jam. terapi pembatasan. R/ : edema dapat mempengaruhi sirkulasi pada ekstremitas mempotensialkan nekrosis jaringan / terjadinya kontraktur 2. meningkatkan harga diri dan membantu proses perbaikan . Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x 24 jam. 9. Kerusakan pertukaran gas b/d keracunan karbon monoksida. turut beraktivitas sehari-hari sesuai kemampuan. Intervensi : Mandiri : 1. Awasi frekuensi pernafasan. 2.

Defisit perawatan diri b/d penurunan ketahanan dan kekuatan otot Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x 24 jam. Penggunaan air es atau alkohol mungkin menyebabkan kedinginan. perubahan yang terjadi. R/ igunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39. 4. Kolaborasi 1. Kaji makna kehilangan/perubahan pada pasien/orang terdekat R/ : Traumatik mengakibatkan perubahan tiba-tiba.Berikan selimut pendingin. kaji kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan yang terjadi R/: mengidentifikasi masalah utama terjadinya gangguan mobi. ganti posisi tiap 2 jam sekali R/: Penekanan terus-menerus menimbulkan dekubitus 12. dan meningkatkan autodestruksi dari sel-sel yang terinfeksi 2. Tidak ada komplikasi Intervensi : Mandiri : 1. Monitor fungsi motorik dan sensorik setiap hari. asetaminofen (tylenol) R/ igunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.40 C pada waktu terjadi kerusakan atau gangguan pada otak 11. dengan kriteria hasil :  Bicara dengan keluarga/orang terdekat tentang situasi. Intervensi : Mandiri : 1. Ini memerlukan dukungan dalam perbaikan optimal. tidak diantisipasi. batasi atau tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi R/ : suhu ruangan atau jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal 3. misalnya ASA (aspirin) .9 C 2. Berikan antipiretik. Gangguan citra tubuh b/d kecacatan. peningkatan suhu secara aktual. .litas fisik 2.5.  Membuat tujuan realitas/rencana untuk masa depan. diharapkan pasien menyatakan penerimaan situasi diri. Pantau suhu pasien.1o C menunjukkan proses penyakit infeksius akut. Penggunaan antipiretik mengubah pola demam dan dapat dibatasi sampai diagnosis dibuat atau bila demam tetap lebih besar dari 38. R/: Menentukan kemampuan mobilisasimengidentifikasi masalah utama terjadinya gangguan mobilitas fisik 3. Berikan kompres mandi hangat. meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme. kesadaran. perhatikan menggigil / diaforesis R/ : suhu 38. Bersikap realistis dan positif selama pengobatan. diharapkan rasi jaringan pasien dapat melakukan aktivitas secara mandiri dengan kriteria hasil :  Pasien mampu melakukan ADL secara mandiri Intervensi : Mandiri : 1. pada penyuluhan kesehatan dan menyusun tujuan dalam keterbatasan. Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x 24 jam. hindari penggunaan alkohol R/ apat membantu mengurangi demam. 2. membuat perasaan kehilangan pada kehilangan aktual/yang dirasakan. lakukan latihan ROM R/: Mencegah terjadinya kontraktur. R/ : Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara pasien dan perawat. Pola demam dapat membantu dalam diagnosis.8 – 41.kehilangan barier kulit ditandai dengan perasaan negatif tentang diri sendiriketakutan/penolakan berinteraksi dengan orang lain.Selain itu alkohol dapat mengeringkan kulit. Pantau suhu lingkungan.

Suhu tubuh dalam batas normal . Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan melaporkan kepada petugas perwatan ketika terdapat tanda dan gejala infeksi. R: WBC merupakan salah satu data penunjang yang dapat mengidentifikasi adanya bakteri di dalam darah. 6. Inpeksi kondisi luka/bekas operasi. Anjurkan intake nutrisi yang cukup. Inpeksi kulit dan membrane mukosa selama kemerahan. panas tinggi atau drainase R/: apabila kulit kembali kemerahan dan terdapat drainase purulen menandakan terjadi prosesinflamasi bakteri.tanda infeksi R : mengetahui dini terjadinya infeks 2.dan hasil normal. psikologis sesuai kebutuhan R/:Membantu dalam identifikasi cara/alat untuk meningkatkan/mempertahankan kemandirian. Jaga asepsis selama pasien berisiko. dengan kriteria hasil : . 3. R : Mencegah terjadinya infeksi yang lebih luas 7. diharapkan risiko infeksi tidak menjadi aktual.3. Monitor absolute granulosit. 8. R : Meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga Kolaborasi : 11. Berikan antibiotic sesuai indikasi. Dorong istirahat R : Mencegah kelelahan/ terlalu lelah dan dapat meningkatkan koping terhadap ketidaknyamanan 10. WBC .hasil aspirasi lambung dan feses tidak mengandung darah. Konsul ke psikiatrik. Pasien dapat memerlukan bantuan lanjut untuk mengatasi masalah emosi. Intervensi .9 10^3/UL Intervensi : Mandiri : 1. 14. Batasi jumlah pengunjung. Risiko infeksi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … x 24 jam. R : mengurangi kontaminasi silang. R : meminimalkan kesempatan untuk kontaminasi 4. Dorong intake cairan. Berikan penguatan positif terhadap kemajuan dan dorongan usaha untuk mengikuti tujuan rehabilitasi. R: mempertahankan keseimbangan nutrisi untuk mendukung perpusi jaringan dan memberikan nutrisi yang perlu untuk regenerasi selular dan penyembuhan jaringan 9. R : mempertahankan keseimbangan cairan untuk mendukung perfusi jaringan. Sediakan perawatan kulit pada area yang edema R : perawatan kulit pada area yang edema dapat membantu mencegah terjadinya infeksi yang lebih luas. Kaji tanda. 13.Tidak terjadi tanda-tanda infeksi . contoh klinik spesialis perawat psikiatrik.Kadar WBC dalam batas normal (4. R/ : Kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif. Pk : tukak curling Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi distensi abdomen pada pasien dengan kriteria hasil : Tidak Terjadi distensi abdomen . 5.10-10. Kolaborasi : 1. R : antibiotic dapat menghambat proses infeksi 12. Sel darah putih akan meningkat sebagai kompensasi untuk melawan bakteri yang mnginvasi tubuh. bising usus yang normal dalam waktu 48 jam .

kaji aspirasi lambung untuk menentukan pH dan adanya darah R/ : pHnya yang asm menunjukkan perlunya pemberian preparat antasid atau penyekat histamin keberadaan darah menunjukkan kemungkinan pendrahaan. R/ : pengobatan semacam itu akan mengurangi keasaman lambung dan resiko terjadinya ulserasi. Pemberian larutan gula melalui IV atau NGT R/ :Untuk mencukupi kebutuhan glukosa pasien 2. Lakukan konsultasi dengan ahli diet R/ :Sangat barmanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien Implementasi Implementasi dilaksanakan berdasarkan intervensi yang telah dibuat dalam rencana perawatan.Mandiri : 1. Pk : gagal ginjal akut Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan gagal ginjal akut tidak terjadi /teratasi dengan kriteria hasil :  haluaran urine memadai ( 0. 3. berikan preparat penyekat histamin dan entasid sesui program medik. 2. Linda Jual. warna urin dan kadar BUN dan kretinin R/ : nilai ini menunjukkan fungsi ginjal. pemberian cairan dengan jumlah yang ditingkatkan. DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. 2. 15. warna urin kuning jernih. pantau haluaran urin. Keperawatan Medikal Bedah Vol. dengan criteria hasil :  blood sugar pasien dalam rentang normal 80-100 mg/dl puasa. 2002. Pantau gula darah sewaktu pasien tiap jam R/ :Untuk mengetahui kadar gula darah dan menentukan intervensi selanjutnya Kolaborasi : 1. PK hipoglikemia Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama … x 24 jam diharapkan kebutuhan glukosa pasien terpenuhi. laporkan penurunan haluaran urin dan warna urin merah sampai kehitaman atau peningkatan BUN dan kreatinin. 3. 2006. kadar BUN dan kretinin dalam batas normal. kaji feses untuk mendeteksi darah R/ : darah dalam feses dapat menunjukkan luka pada lambung atau duodenum. Jakarta: EGC Carpenito-Moyet. 100-120 2 jam PP  Menunjukkan peningkatan kesadaran pasien Intervensi : Mandiri : 1. 15. Evaluasi Evaluasi yang dibuat bisa dalam bentuk formatif dan sumatif ( SOAP) evaluasi yang dilakukan berdasarkan pencapaian yang dilakukan sesuai kriteria hasil / kriteria evaluasi yang dibuat dalam rencana perawatan. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 10. R/ : nilai laboratorium ini menunjukkan gagal ginjal. 2.5-1 ml/kgBB/jam ). R/ : cairan membantu mebilas pengeluaran hemoglobin serta bioglobin dari dalam tubulus renal dan mengurangi kemungkinan terjadi gagal ginjal. Intervensi : Mandiri : 1. Jakarta : EGC .