You are on page 1of 18

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien : Ny. KA
No. RM : 284206
Masuk RS : 28 Februari 2018
Nama : KA
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/tanggal lahir : Jawa/17 Agustus 1971
Agama : Islam
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Warga Negara : Indonesia
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat/No.telp : BTN Pao-pao Permai blok C14 No. 27 Gowa/081241745965
Dikirim Oleh : Dokter Penyakit Dalam
Dokter Pemeriksa : dr. Ham F Susanto, M.Kes, Sp.KJ
Diagnosa Sementara : Gangguan Anxietas Menyeluruh
Gejala-gejala utama : Sering merasa cemas, ketakutan, sulit tidur dan nafsu makan
menurun.

LAPORAN PSIKIATRIK :
I. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan utama
Sering merasa cemas dan ketakutan
B. Riwayat gangguan sekarang
 Keluhan dan gejala
Seorang pasien wanita datang ke poliklinik jiwa RS Bhayangkara
untuk pertama kali dengan keluhan sering merasa cemas dan ketakutan
sejak 2 bulan yang lalu. Perasaan cemas pertama kali muncul pada saat

1

pasien menjaga suaminya yang sakit. Pasien memiliki 2 anak perempuan yang sedang kuliah dan selalu pulang sore. Pasien juga mengeluhkan telapak tangannya berkeringat banyak dan dingin. Pasien sekarang beraktifitas seperti biasanya. Pasien lebih suka tinggal di rumah dan mengobrol dengan tetangganya. Pasien sulit tidur karena takut jika tertidur pasien tidak bisa bangun lagi. Pasien tidak memiliki riwayat mendengar suara atau hal-hal yang mengomentari tentang dirinya ataupun merasa seperti ada yang memerintah atau mengendalikan dari luar dirinya. tapi tidak membuka salon dan tokonya seperti dulu semenjak adanya keluhan. Sebelumnnya suami pasien juga menderita diabetes dan kolesterol tinggi. nafsu makan menurun. pasien mengaku salah satu penyebab kecemasannya yang lain yaitu takut jika anaknya telat pulang dan terjadi “sesuatu” dijalan sehingga pasien sering menghubungi anaknya jika sore. Pasien juga merasa cemas dan takut jika berada pada suasana sepi dan di rumah sendirian. leher terasa tegang. jantung berdebar-debar serta gemetaran jika ketakutan dan kecemasannya muncul. suaminya ini sakitnya parah hingga dibawa ke UGD rumah sakit dan diagnosis oleh dokter dengan penyakit GERD.  Hendaya/disfungsi Hendaya dalam bidang sosial : Tidak ada 2 . Sering sakit kepala. Sejak saat itu pasien akan merasa cemas dan ketakutan saat mendengar berita suaminya sakit berhubung suaminya pelaut jadi jarang dirumah. Menurut pasien. Sebulan yang lalu pasien masuk UGD rumah sakit lagi dan akhirnya di konsulkan ke bagian jiwa. Sejak pasien mengalami kecemasan dan ketakutan pertama kali pasien langsung masuk UGD rumah sakit dan gejalanya sudah mulai berkurang tapi pasien tetap ketakukan jika mendengar berita suaminya sakit.

Riwayat gangguan sebelumnya Tidak ada riwayat gangguan psikiatri sebelumnya D. ibu pasien dikatakan dalam keadaan sehat. pasien mulai masuk SD dan menyelesaikan sekolahnya.  Riwayat Masa Pertengahan (4-11 tahun) Pada umur 7 tahun.  Riwayat Masa Kanak Awal (1-3 tahun) Pasien mendapat ASI hingga berusia 2 tahun. cukup bulan dan di rumah sakit di bantu oleh bidan. 3 . Riwayat kehidupan pribadi  Riwayat Prenatal dan Perinatal Pasien lahir normal. Alkohol : - Merokok : . Selama mengandung. Kejang : - C. Hendaya dalam aspek pekerjaan : Ada Hendaya dalam penggunaan waktu senggang : Tidak ada  Faktor stressor psikososial o Pasien mengkhawatirkan jika suaminya sakit o Pasien cemas jika anaknya telat pulang o Pasien takut jika tidur dan tidak bisa bangun lagi  Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan psikis sebelumnya Infeksi : . Trauma : - NAPZA : . Pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan anak seusianya.

nampak sehat dan perawatan diri baik. Riwayat kehidupan keluarga Pasien adalah anak ke-4 dari 6 bersaudara (♀.  Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja.♂. ( 12-18 tahun) Pasien melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang S1. G.  Riwayat Masa Dewasa  Riwayat Perkerjaan Pasien mempunyai usaha sendiri yaitu toko yang menjual bahan bangunan. E. kulit kuning langsat.♀).♀. Riwayat keluarga dengan gejala yang sama tidak ada. II. memakai baju terusan panjang sampai kaki. STATUS MENTAL A. perawakan normal. Deskripsi umum o Penampilan Seorang wanita. wajah sesuai umur (47 tahun).♂ . berjilbab warna pink. Mempunyai 2 orang anak (♀&♀). Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya Pasien merasakan dirinya sakit dan perlu berobat. F. 4 .  Riwayat Pernikahan Pasien sudah menikah. salon serta menyewakan busana pengantin. Hubungan dengan keluarga baik. Pasien seorang yang pandai bergaul.♀. Situasi sekarang Pasien sekarang tinggal di BTN pao-pao permai bersama suami dan kedua anaknya.

keserasian dan empati o Mood : cemas o Afek : cemas o Keserasian : appropriate o Empati : dapat diraba rasakan C. intonasi sedang. sesuai pertanyaan. Fungsi intelektual (kognitif) o Taraf pendidikan Pengetahuan dan kecerdasan sesuai taraf pendidikannya o Daya konsentrasi : Baik o Orientasi Waktu : baik Tempat : baik Orang : baik o Daya ingat Jangka pendek : Baik Jangka sedang : Baik Jangka panjang : Baik o Pikiran abstrak : Baik o Bakat kreatif : Tidak ada o Kemampuan menolong sendiri : Baik 5 . o Sikap terhadap pemeriksa Kooperatif. banyak bicara. ada kerja sama dan partisipasi B. Keadaan afektif (mood). o Kesadaran Jernih o Perilaku dan aktivitas psikomotor Baik o Pembicaraan Spontan menjawab. cepat dan lancar.

Gangguan persepsi o Halusinasi : Tidak ada o Ilusi : Tidak ada o Depersonalisasi: Tidak ada o Derealisasi : Tidak ada E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT Pemeriksaan fisik : Keadaan umum : Sakit sedang Kesadaran : Compos mentis Gizi : Baik Tensi : 120/80 mmHg Nadi : 80x/menit 6 . D. Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya III. Pengendalian impuls : Baik G. Daya nilai o Norma sosial : Baik o Uji daya nilai : Baik o Penilaian Realitas : Baik H. Tilikan (insight) Derajat 6 (sadar kalau dirinya sakit dan perlu pengobatan) I. Proses berfikir Arus pikiran : o Produktivitas : Baik o Kontinuitas : Relevan o Hendaya berbahasa : Tidak ada Isi Pikiran o Preokupasi : Tidak ada o Gangguan isi pikiran : Tidak ada F.

Pada pemeriksaan status mental didapatkan pasien berbicara lancar. perawatan diri baik 2. banyak bicara. Keluhan utama yaitu sering merasa cemas dan ketakutan sejak 2 bulan yang lalu. sesuai pertanyaan. spontan menjawab.sikap pasien terhadap pemeriksa positif (kooperatif). leher terasa tegang. Mood cemas. tidak ditemukan hendaya berat dalam menilai realitas maka pasien digolongkan dalam gangguan jiwa non psikotik. serta pemeriksaan status. Dari pemeriksaan status mental. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA 1. ditemukan gejala klinis utama sering cemas dan ketakutan yang menimbulkan ketidaknyamanan. empati dapat dirabarasakan. afek cemas. intonasi sedang. Faktor stressor psikososial berupa . V. Dari hasil 7 . Pernafasan : 24x/menit Pem. terganggu dan menimbulkan penderitaan sehingga dikatakan gangguan jiwa.lab dan penunjang lainnya : Tidak ditemukan hasil bermakna. jantung berdebar- debar dan nafsu makan menurun. Seorang wanita usia 47 tahun. cepat dan lancar. gemetaran jika ketakutan dan kecemasannya muncul. 5. fungsi kognitif dalam batas normal dan tidak ada gangguan pengendalian impuls. pasien cemas jika anaknya telat pulang dan pasien takut jika tidur dan tidak bisa bangun lagi. Keluhan lain pasien berupa gejala ketegangan motorik yaitu sering sakit kepala. EVALUASI MULTIAKSIAL (SESUAI PPDGJ-III)  Aksis I : Berdasarkan autoanamnesis. 3. Serta gejala overaktivitas otonomik yaitu telapak tangannya berkeringat banyak dan dingin. IV. 4. pasien mengkhawatirkan jika suaminya sakit.

Psikologik Ditemukan adanya kecemasan dan ketakutan yang mengganggu pikiran pasien sehingga pasien memerlukan psikoterapi. DAFTAR PROBLEM Organobiologik Tidak ditemukan kelainan fisik yang bermakna. Namun diduga terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter. dll). Sosiologik Tidak ditemukan masalah hidup dalam bidang sosial dan ekonomi. jantung berdebar. tidak didapatkan adanya disfungsi otak. VI. 8 . disabilitas ringan dalam social. pasien cemas jika anaknya telat pulang dan pasien takut jika tidur dan tidak bisa bangun lagi. pekerjaan. Anamnesis didapatkan gejala umum cemas/ansietas yaitu ketakutan akan bernasib buruk.  Aksis V GAF scale 75 (gejala sementara dan dapat diatasi. sekolah.1 gangguan cemas menyeluruh  Aksis II Tidak ditemukan adanya gangguan kepribadian  Aksis III Tidak ditemukan penyakit organobiologik pada pasien. maka pasien memerlukan farmakoterapi. hiperaktivitas otonom (berkeringat. maka digolongkan sebagai gangguan jiwa psikotik non organik. pemeriksaan fisik dan neurologik. ketegangan motorik (gemetaran). pasien termasuk kedalam gangguan F41.  Aksis IV Stressor psikososial : pasien mengkhawatirkan jika suaminya sakit.debar) sehingga berdasarkan kriteria diagnostik PPDGJ III.

PROGNOSIS Prognosis pasien ini adalah dubia ad bonam Faktor pendukung  stressor psikologis yang jelas  riwayat premorbid social dan pekerjaan baik  kepatuhan meminum obat  dukungan keluarga yang baik VIII. Alprazolam 0.1 2. RENCANA TERAPI  Psikofarmakoterapi : 1. IX. Konseling : Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien tentang pe nyakitnya agar pasien memahami kondisi dirinya. Ventilasi : Memberi kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa lega. serta memotivasi pasien agar tetap minum obat secara teratur c. selain itu menilai efektivitas dan kemungkinan efek samping. dan memahami cara menghadapinya.5 mg 0 – 1/2 .VII. b. 9 . FOLLOW UP Memantau keadaan umum pasien serta perkembangan penyakitnya. Fluoxetin 20 mg 1-0-0  Psikoterapi suportif: a. Sosioterapi: Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang terdekat pasein tentang keadaan pasien agar tercipta dukungan sosial sehingga membantu proses penyembuhan pasien sendiri.

biasanya bersifat tidak menyenangkan. antara lain dapat berupa : rasa nyeri. makan. berpakaian. 3. Sebagian besar perubahan tubuh yang terjadi pada anxietas disebabkan oleh peningkatan reaksi pelepasan sistem saraf adrenergic simpatis. dll). Tilikan (insight) biasanya dipertahankan. Gejala klinis tersebut menimbulkan “ penderitaan “ (distress). Anxietas adalah suatu mood. Neurosis dapat didefinisikan sebagai reaksi psikogenik (disebabkan secara psikologis) abnormal. disfungsi organ tubuh. tidak nyaman. terganggu. 10 . Suatu neurosis anxietas atau gangguan cemas menyeluruh merupakan status anxietas atau reaksi anxietas. yaitu reaksi fight or flight dari Cannon. Gejala klinis tersebut menimbulkan “disabilitas” (disability) dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk perawatan diri dan kelangsungan hidup (mandi. disertai sensasi di tubuh (somatik) dan terjadi dengan rasa ketidakpastian dan ancaman akan masa depan secara subjektif. Pikiran) 2. PEMBAHASAN/TINJAUAN PUSTAKA Berdasarkan PPDGJ-III dikatakan gangguan jiwa apabila ditemukan : 1. gangguan ini “mengambang bebas (free-floating)”. ada jangka waktu dan berulang (tidak hanya sekali dirasakan pasien) Gejala klinis bermaksa tersebut berupa :  Sindrom atau Pola Perilaku  Sindrom atau Pola Psikologik (Perasaan. dan ditandai dengan anxietas berlebih atau tidak realistic serta kekhawatiran yang bersifat menyeluruh dan menetap serta tidak terbatas pada keadaan lingkungan tertentu. Adanya gejala klinis yang bermakna. kebersihan diri. Psikoneurosis mempunyai gejala-gejala yang dapat dimengerti (berdasarkan realita) dan dapat diempati. yang menyebabkan pelepasan adrenalin dan katekolamin lain. dll. tidak tentram.X.

-). tidak dapat santai). sakit kepala. mulut kering.  Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan (reassurance) serta keluhan-keluhan somatik berulang yang menonjol. merasa seperti di ujung tanduk.-). tidak membatalkan diagnosis utama Gangguan Anxietas Menyeluruh. yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja (sifatnya “free floating” atau “mengambang”)  Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut: a) Kecemasan (khawatir akan nasib buruk. khususnya depresi. atau gangguan obsesif-kompulsif (F42.1). gangguan anxietas fobik (F40. Benzodiazepin 11 . Penatalaksanaan anxietas dapat dilakukan dengan a. Farmakoterapi 1. Pedoman Diagnostik Gangguan Cemas Menyeluruh (F41.0). gemetaran. keluhan lambung. dsb). sulit konsentrasi. yaitu:  Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan. sesak napas. dsb) b) Ketegangan motorik (gelisah.-). berkeringat. Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III). pusing kepala. jantung berdebar-debar. selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari episode depresif (F32.  Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari). dan c) Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan. gangguan panik (F41.

. broadspectrum c) Lorazepam. Non-benzodoazepin (Buspiron) Buspiron efektif pada 60-80% penderita GAD. dosis anjuran oral = 2-3 x 2-5 mg/hari. lebih efektif sebagai anti- anxietas. f) Alprazolam. dosis anti-anxietas dan anti-insomnia berjauhan (dose-related). antikonvulsan. Lama pengobatan rata-rata 2-6 minggu.1 Spektrum klinis Benzodiazepin meliputi efek anti-anxietas. injeksi = 5-10 mg 9im/iv). dosis anjuran 3x 1. psychomotor performance paling kurang terpengaruh. broadspectrum b) Chlordiazepoxide. Pemberian benzodiazepine dimulai dengan dosis terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respons terapi. dosis anjuran 2-3 x 10 mg/hari. Buspiron lebih efektif dalam memperbaiki gejala kognitif dibanding gejala somatik. dosis anjuran 3 x 0. . 2. untuk pasien dewasa dan usia lanjut yang masih ingin tetap aktif e) Bromazepam. dosis anjuran 2-3x 5-10 mg/hari. untuk pasien-pasien dengan kelainan hati dan ginjal d) Clobazam. dosis anti-anxietas dan anti-insomnia berjauhan (dose-related).5 mg/hari. 12 . dan premedikasi tindakan operatif. Merupakan pilihan obat pertama. lebih efektif sebagai anti-anxietas.5 mg/hari. dilanjutkan dengan masa tapering off selama 1-2 minggu. efektif untuk anxietas tipe antisipatorik. dosis anti-anxietas dan anti-insomnia berjauhan (dose-related). dosis anjuran 2-3x 1 mg/hari. Penggunaan sediaan dengan waktu paruh menengah dan dosis terbagi dapat mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan. anti-insomnia.25 – 0. lebih efektif sebagai anti- anxietas. “onset of action” lebih cepat dan mempunyai komponen efek anti-depresi. Adapun obat-obat yang termasuk dalam golongan Benzodiazepin antara lain2 a) Diazepam.

kecemasan. SSRI bertindak pada otak untuk meningkatkan kadar neurotransmitter serotonin tanpa meningkatkan norepinefrin. paroxetine. Kekurangannya adalah.7 Pengobatan akut pasien dengan gangguan kecemasan menyeluruh bersama-sama memberikan bukti substansial untuk manfaat banyak obat antidepresan . panic. dan OCD. SNRIs (duloxetine. 13 . termasuk peningkatan gugup awal. Hal ini dianggap sebagai manfaat pengobatan depresi. venlafaxine).6 SSRI memiliki 'spektrum luas' keberhasilan dalam pengobatan baik jangka pendek dan jangka panjang. Tidak menyebabkan withdrawal. mual dan disfungsi seksual.4 3. disaat efek terapi Buspiron sudah mencapai maksimal. Terdapat bukti bahwa penderita GAD yang sudah menggunakan Benzodiazepin tidak akan memberikan respon yang baik dengan Buspiron. insomnia. fobia. escitalopram. dan umumnya dapat ditoleransi dengan baik. diperkenalkan pada tahun 1988 untuk penanganan depresi. Namun SSRI memiliki efek samping yang berpotensi merepotkan. Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) SSRI dapat efektif terutama untuk pasien-pasien dengan komorbid depresi. sertraline). efek klinisnya baru terasa setelah 2-3 minggu. Dosis anjuran 2-3x 10 mg/hari. obat tersebut masuk kedalam golongan selektif serotonin reuptake inhibitor ke empat. Kerugian SSRI yang menonjol yaitu obat ini dapat meningkatkan anxietas sesaat (secara sementara).5 Fluoxetine (Prozaz di AS).3. dan untuk alasan ini banyak dianggap sebagai lini pertama pendekatan farmakologis pada pasien dengan gangguan kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif. Dapat dilakukan penggunaan bersama antara Benzodiazepin dengan Buspiron kemudian dilakukan tapering Benzodiazepin setelah 2-3 minggu.termasuk SSRI (citalopram.

dan agomelatine. SSRI dapat menghasilkan sindrom putus obat ditandai dengan pusing. trisiklik imipramine dan opipramol. insomnia dan gejala seperti flu. Terapi kognitif perilaku Penelitian telah menunjukkan bahwa bentuk psikoterapi yang dikenal sebagai Terapi Kognitif-Perilaku (CBT) dapat sangat efektif dalam mengobati gangguan kecemasan. Teknik utama yang digunakan pada pendekatan behavioral adalah relaksasi dan biofeedback. Ini biasa tampak pada penggunaan paroxetine dan paling sering dengan penggunaan fluoxetine. trazodone. dan pernapasan dangkal yang sering menyertai gangguan kecemasan. Fluoxetine dan paroxetine adalah inhibitor beberapa enzim sitokrom P450 dan dapat berinteraksi dengan beberapa obat psikotropika lainnya dan juga dapat dikombinasikan untuk pengobatan penyakit fisik. Terapi perilaku melibatkan teknik untuk mengurangi atau menghentikan perilaku yang tidak di inginkan terkait dengan gangguan anxietas.7 b. Sebagai contoh.4 Pendekatan kognitif mengajak pasien secara kangsung mengenali distorsi kognitif dan pendekatan perilaku. mengenali gejala somatik secara langsung. Ketika berhenti tiba-tiba. Psikoterapi 1. Psikolog menggunakan CBT untuk membantu pasien mengidentifikasi dan belajar untuk mengelola faktor-faktor yang berkonstribusi pada kecemasan mereka. salah satu pendekatan melibatkan pasien untuk berlatih relaksasi dan mendalami teknik pernapasan untuk mengatasi gejala agitasi.3 2. Terapi suportif 14 .

Dalam menentukan prognosis dari gangguan cemas menyeluruh. onset. serta keutuhan self pasien. juga dapat mengalami gangguan depresi mayor. Keadaan 15 . Karena tingginya insidensi gangguan mental komorbid pada pasien dengan gangguan kecemasan menyeluruh. Sebanyak 25% penderita akhirnya mengalami gangguan panik. bila tidak tercapai. Menurut definisinya. Namun demikian. digali potensi- potensi yang ada dan belum tampak. perlu diingat bahwa banyak segi yang harus dipertimbangkan. perjalanan klinis dan prognosis gangguan cemas menyeluruh sukar untuk ditentukan. Hal ini berhubungan dengan dinamika terjadinya gangguan cemas serta terapinya yang begitu kompleks. Terjadinya beberapa peristiwa kehidupan yang negatif secara jelas meningkatkan kemungkinan akan terjadinya gangguan cemas menyeluruh. agar lebih bisa beradaptasi optimal dalam fungsi sosial dan pekerjaannya. Dari pemahaman akan komponen-komponen tersebut. Psikoterapi Berorientasi Tilikan Terapi ini mengajak pasien ini untuk mencapai penyingkapan konflik bawah sadar. relasi objek. gangguan kecemasan umum adalah suatu keadaan kronis yang mungkin seumur hidup.3 3. Prognosis dipengaruhi oleh usia. Pasien diberikan re-assurance dan kenyamanan. durasi gejala dan perkembangan komorbiditas gangguan cemas dan depresi. minimal kita memfasilitasi agar pasien dapat beradaptasi dalam fungsi sosial dan pekerjaannya PROGNOSIS Gangguan anxietas menyeluruh merupakan suatu keadaan kronis yang mungkin berlangsung seumur hidup. didukung egonya. menilik egostrength. beberapa data menyatakan bahwa peristiwa kehidupan berhubungan dengan onset gangguan kecemasan umum. kita sebagai terapis dapat memperkirakan sejauh mana pasien dapat diubah untuk menjadi lebih matur.

integrasi perasaan dengan perbuatan. semakin pasien merasa nyaman dan cocok dengan situasinya. Mengenai hubungan dengan terapi. maka prognosis akan lebih baik karena penderita akan lebih mampu mengatasinya. Kalau dilihat dari lingkungan hidup penderita. Sikap yang mengejek akan memperberat penyakitnya. Jika stres yang menjadi penyebab timbulnya gangguan cemas menyeluruh relatif ringan. Demikian pula dengan situasi tempat pengobatan. maka prognosisnya menjadi lebih baik. sikap orang-orang di sekitarnya juga berpengaruh terhadap prognosis. semakin cepat dilakukan terapi pada gangguan kecemasan menyeluruh. Pengobatan sebaiknya dilakukan sebelum gejala-gejala menjadi alat untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan sampingan misalnya untuk mendapatkan simpati. perhatian. Semakin matang kepribadian premorbidnya. kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan lain sebagainya. Jika gejala-gejala sudah merupakan alat untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tersebut. keseimbangan dalam memadukan keinginan-keinginan pribadi dengan tuntutan-tuntutan masyarakat. dan mempunyai sifat tergantung pada orang lain.penderita. maka prognosis gangguan cemas menyeluruh juga semakin baik. dan peringanan dari tanggung jawabnya. maka prognosisnya lebih baik daripada penderita yang sebelumnya banyak menemui kesulitan dalam pergaulan. sedangkan sikap yang membangun akan meringankan 16 . jika penderita sebelumnya telah menunjukkan kepribadian yang baik di sekolah. Ditinjau dari kepribadian premorbid. maka hasilnya akan lebih baik dan akan mempengaruhi prognosisnya. lingkungan penderita. di tempat kerja atau dalam interaksi sosialnya. maka kemauan pasien untuk sembuh berkurang dan prognosis akan menjadi lebih jelek. Faktor stres juga ikut menentukan prognosis dari gangguan cemas menyeluruh. dan dokter yang mengobatinya ikut mengambil peran dalam menentukan prognosis gangguan cemas menyeluruh. Kematangan kepribadian juga dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam menanggapi kenyataan-kenyataan. uang. kurang percaya diri.

penderita. kemunduran finansial yang besar akan memperjelek prognosisnya. 17 . Demikian juga peristiwa atau masalah yang menimpa penderita misalnya kehilangan orang yang dicintai. rumah tangga yang kacau.

Jakarta : EGC 6) Koen Nastassja. 8) Baldwin S David. 455. Rusdi. Pharmacotherapy of Anxiety Disorders. Hal 36-41. 2010. 7) American Psychological Association. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. Jakarta : Badan Penerbit Universitas Indonesia. 2013. South Africa: Department of Psychiatry and Mental Health. Stein J Dan. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi 3. Elvira. Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi Kedua. post-traumatic stress disorder and obsessive- compulsive disorder: A revision of the 2005 guidelines from the British Association for Psychopharmacology. Hadkikusanto. et al. 2013. 4) Sylvia. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas Dari PPDGJ-III. Gitayanti. 253-257. Surabaya: Airlangga University Press. Buku Ajar Psikiatri Klinis Kaplan & Sadock. Edisi 2. 2) Maramis WF. Edisi kedua. 2007. Hal. Journal of Pshychopharmacology.458 3) Maslim. Journal Review. DAFTAR PUSTAKA 1) Maslim Rusdi. University of Cape Town. 2009. D. Buku Ajar Psikiatri. 2011. Hal. Maramis AA. Evidence-based pharmacological treatment of anxiety disorders. Understanding Anxiety Disorders and Ef fective Treatment. 2014. Anderson M Ian. 2010. Washington DC: A Publication of the American Psychological Association. 5) Sadock Benjamin. 18 . Sadock Virginia. Jakarta: PT Nuh Jaya.