You are on page 1of 13

LAPORAN PENDAHULUAN

GAGAL GINJAL KRONIK

A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian

Gagal ginjal kronik atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan
fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan
uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).

Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat sisten dan
irreversible. Gangguan fungsi ginjal adalah penurunan laju filtrasi glomerulus yang
dapat digolongkan ringan, sedang dan berat. Azotemia adalah peningkatan BUN dan
ditegakkan bila konsentrasi ureum plasma meningkat. Uremia adalah sindrom akibat
gagal ginjal yang berat. Gagal ginjal terminal adalah ketidakmampuan renal berfungsi
dengan adekuat untuk keperluan tubuh (harus dibantu dialysis atau transplantasi)

2. Etiologi
Penyebab GGK menurut Marilynn E. Doenges seperti :
a. Glumerulofritis
b. Infeksi kronis
c. Penyakit vaskuler (nefrosklerosis)
d. Proses obstraktif (kalkuli)
e. Penyakit kolagen (lupus sistemik)
f. Agen nefrotik (aminoglikosida)
g. Penyakit endokrin (diabetes)

3. Patofisiologi

Pada ginjal kronik fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein yang
normalnya diekskresikan kedalam urin tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan
mempengaruhi setiap sistem tubuh, semakin banyak timbunan produk sampah, maka
gejala akan semakin berat. Penurunan jumlah glumerulus yang normal menyebabkan
penurunan klirens substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. Dengan
menurunnya glumerulo filtrat rate (GFR) mengakibatkan penurunan klirens kreatinin

Dengan menurunnya filtrasi melalui glumerulus ginjal terjadi peningkatan kadar fosfat serum dan penurunan kadar serum kalsium. terutama pada neurosesnsori. Sistem Integumen / Kulit 1) Warna pucat 2) Gatal-gatal 3) Ekimosis bekas garukkan .terjadi penurunan produksi eritropoentin yang mengakibatkan terjadinya anemia. Semakin menurunnya fungsi renal terjadi asidosis metabolik akibat ginjal mengekskresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. Sistem Gastrointestinal 1) Anoreksia 2) Nausea 3) Vomitus 4) Stomatitis 5) Gastritis b. Selain itu Blood Ureum Nitrogen (BUN) biasanya juga meningkat. Dengan tertahannya natrium dan cairan bisa terjadi edema dan ascites. Manifestasi Klinis a. Penderita dapat menjadi sesak nafas. Laju penurunan fungsi ginjal dan perkembangan gagal ginjal kronis berkaitan dengan gangguan yang mendasar. Hal ini menimbulkan resiko kelebihan volume cairan dalam tubuh. Peningkatan ureum kreatinin sampai ke otak mampengaruhi fungsi kerja. nausea maupun volnitus yang menimbulkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. dan peningkatan kadar kreatinin serum. Natrium dan cairan tertahan meningkatkan resiko gagal jantung kongresif. akibat ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan ssekresi parathohormon dari kelenjar paratiroid. sehingga perlu dimonitor balance cairannya. 4. urin tidak dapat dikonsentrasikan atau diencerkan secara normal sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan elektrolit. Hal ini menimbulkan gangguan metabolisme protein dalam usus yang menyebabkan anoreaksia. Sehingga pada penderita dapat timbul keluhan adanya kelemahan dan kulit terlihat pucat menyebabkan tubuh tidak toleran terhadap aktifitas. Pada penyakit ginjal tahap akhir. meningkatkan ganggaun pada saraf. ekskresi protein dalam urin dan adanya hipertensi.

Mungkin agak menurun 6) Natrium . Kadar kreatinium 10 mg/dl di duga tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5) 2) Hitung Darah Lengkap . partikel koloid. 2) Warna . Derajat tinggi proteinuria (3-4) secara kuat menunjukkan kerusakan glumerulus bila SDM dan fragmen juga tidak b. Darah 1) BUN / kreatinin .dan rasio urine/serum sering 1:1. Urine 1) Volume . mioglobin. 4) Osmolitas . 5) Klirens kreatinin . porfitin. HB: biasanya kurang dari 7 sampai 8 g/dl. c. 3) Berat jenis . Secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus. . lemak. Lebih besar dari 40 mEg/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium 7) Protein . Sistem Endokrin 1) Gangguan seksual 2) Toleransi glukosa 3) Metabolisme lemak 4) Gangguan metabolisme vitamin D 5. kecoklatan menunjukkan adanya darah.010 menunjukkan kerusakan ginjal berat). Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan tubular. biasanya meningkat dalam proporsi.015 (menetap pada 1. bakteri. Sistem Saraf dan Otot 1) Pegal ditungkai bawah 2) Rasa kesemutan dan terbakar ditelapak kaki 3) Lemah 4) Tidak bisa tidur 5) Tremor e. Kurang dari 1. Hb. Meningkat. Sistem Kardiovaskuler 1) Hipertensi 2) Nyeri dada dan sesak nafas 3) Gangguan irama jantung 4) Edema f. fosfat atau urat. Sedimen kotor. Hb : menurun pada adanya amenia. Biasanya kurang dari 400ml/jam (oliguria) atau urin tidak ada (anaria). Test Diagnostik a. Sistem Hematologik 1) Anemia 2) Gangguan fungsi trombosit dan leukosit d.

Biopsi Ginjal . Endoskopi Ginjal.5 mEg atau lebih besar. perubahan EKG mungkin tidak terjadi sampai kalium 6. PCO2 menurun. c. Mungkin dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk diagnosis histologist. Intervensi diit. e. telur.2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekskresikan hydrogen dan ammonia atau hasil akhir katabolisme protein. hematuria. atau penurunan sintesis karena kurang asam amino esensial. pH : penurunan asidosis metabolit (kurang dari 7. a. Ultrasono Ginjal . Bikarbonat menurun. Mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam/basa. 3) SDM . EKG . perpindahan cairan. 6) Kalium . penurunan pemasukan. Protein dibatasi karena urea. dan pengangkatan tumor selektif. f. d. obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas. Mungkin rendah (bila ginjal kehabisan natrium atau normal menunjukkan status dilusi hepertemia). Kalori untuk mencegah kelemahan dari . Kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urin. 5) Natrium Serum . Peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai dengan perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis SDM). Dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal . Manajemen Terapi Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. Nefroskopi . kista. Waktu hidup menurun pada definiensi eritropoetin seperti pada azotenzia. daging) di mana makanan tersebut dapat mensuplai asam amino untuk perbaikan dan pertumbuhan sel. 6. Pada tahap akhir. Menentukan ukuran ginjal dan adanya massa ginjal dan adanya massa. Protein yang dikonsumsi harus bernilai biologis (produk susu. 4) GDA . keluar batu. 7) Magnesium / fosfat meningkat 8) Kalsium menurun 9) Proton (khususnya albumin) . Biasanya cairan diperbolehkan 300-600 ml/24 jam. asam urat dan asam organik merupakan hasil pemecahan protein yang akan menumpuk secara cepat dalam darah jika terdapat gangguan pada klirens renal.

Terapi pengganti : HD. . Meliputi identitas klien yaitu : nama lengkap. tidak selera makan (anoreksia). diagnose medis. obat-obat local&sistemik. keletihan umum dan penurunan toleransi aktivitas. Terapi simptomatik : Suplemen alkali. Identitas . gelisah sampai penurunan kesadaran. diit rendah natrium. apa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi keluhan. sakit kepala. pekerjaan. Keluhan utama . tanggal pengkajian. status perkawinan. b. mulai dari urine output sedikit sampai tidak dapat BAK. kalium. Pengkajian a. pekerjaan. c. umur. karbohidrat dan lemak. napas berbau ( ureum ). Asidosis metabolik pada pasien CKD biasanya tanpa gejala dan tidak perlu penanganan. cairan b. CAPD. pendidikan. No. Gagal jantung kongestif dan edema pulmoner perlu pembatasan cairan. Keluhan utama yang didapat biasanya bervariasi. RM. Hipertensi ditangani dengan medikasi antihipertensi kontrol volume intravaskule. tempat tanggal lahir. Anemia pada CKD ditangani dengan epogen (erytropoitin manusia rekombinan). golongan darah. digitalis atau dobitamine dan dialisis. b. rasa lelah. tanggal masuk RS. namun suplemen natrium bikarbonat pada dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis. bagaimana terjadinya. apakah secara tiba-tiba atau berangsur-angsur. transplantasi B. mulut terasa kering. dan gatal pada kulit. Kapan keluhan mulai berkembang. dan alamat. obat apa yang digunakan?. pendidikan. transfusi. agama. Anemia pada pasaien (Hmt < 30%) muncul tanpa gejala spesifik seperti malaise. natrium. Penatalaksanaan konservatif : Pengaturan diet protein. Pada prinsipnya penatalaksanaan Terdiri dari tiga tahap : a. mual. Pasien dilindungi dari kejang. anti hipertensi c. diuretik. dellirium atau aktivitas kejang. suku/bangsa. jenis kelamin. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Pemberian vitamin juga penting karena pasien dialisis mungkin kehilangan vitamin larut air melalui darah sewaktu dialisa. agama. muntah. Identitas penanggung jawab : nama. jenis kelamin. dan alamat. Abnormalitas neurologi dapat terjadi seperti kedutan. hubungan dengan klien.

e. dll. provocative. penggunaan obat-obat nefrotoksik. Riwayat Psikososial . area lingkungan rumah. Lamanya perawatan. Adanya perubahan fungsi struktur tubuh dan adanya tindakan dialysis akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. radiaton. adanya perubahan kulit. Kaji adanya riwayat penyakit batu saluran kemih. Mengkaji ada atau tidak salah satu keluarga yang mengalami penyakit yang sama. penyakit diabetes mellitus. tekanan darah terjadi perubahan dari hipertensi ringan sampai berat . Bagaimana pola hidup yang biasa di terapkan dalam keluarga. penyakit hereditas dan penyakit menular pada keluarga. gangguan konsep diri ( gambaran diri ) dan gangguan peran pada keluarga. Kaji pula sudah kemana saja klien meminta pertolongan untuk mengatasi masalahnya dan mendapat pengobatan apa. g. perubahan pola nafas. kelemahan fisik. quantity. severity scala dan time. Mengkaji lingkungan tempat tinggal klien. Benign prostatic hyperplasia. adanya nafas berbau ammonia. d. Riwayat Kesehatan Sekarang ( PQRST ) . dan perubahan pemenuhan nutrisi. Penting untuk dikaji mengenai riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat kemudian dokumentasikan. Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan umum dan TTV Keadaan umum : Klien lemah dan terlihat sakit berat Tingkat Kesadaran : Menurun sesuai dengan tingkat uremia dimana dapat mempengaruhi system saraf pusat TTV : Sering didapatkan adanya perubahan RR meningkat. dan penyakit hipertensi pada masa sebelumnya yang menjadi predisposisi penyebab. quality. Kaji adanya penyakit gagal ginjal akut. payah jantung. f. infeksi system prkemihan yang berulang. banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan. Riwayat Penyakit Dahulu . dan prostektomi. penurunan kesadaran. Untuk kasus gagal ginjal kronis. ada atau tidaknya riwayat infeksi system perkemihan yang berulang dan riwayat alergi. kaji onet penurunan urine output. region. infeksi saluran kemih. Lingkungan dan tempat tinggal . Riwayat Kesehatan Keluarga . mengenai kebersihan lingkungan tempat tinggal. h.c. Mengkaji keluhan kesehatan yang dirasakan pasien pada saat di anamnesa meliputi palliative.

Sebab lain juga dihubungkan dengan metabolic tertentu. disfungsi serebral. efusi pericardial.angiostensin. resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. adanya neuropati perifer. . penyakit jantung koroner akibat aterosklerosis yang timbul dini. Didapatkan penurunan tingkat kesadaran. Klien bernafas dengan bau urine (fetor uremik). gangguan ovulasi sampaiamenorea. CRT > 3 detik. biasanya dari saluran GI. dan gagal jantung akibat penimbunan cairan dan hipertensi. nyeri dada dan sesak nafas. Pada wanita timbul gangguan menstruasi. seperti perubahan proses berfikir dan disorientasi. dan kehilangan darah.aldosteron. Pada system hematologi sering didapatkan adanya anemia. dan gangguan kondisi elektrikal otot ventikel. Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam atau peningkatan aktivitas system rennin. Pada gagal ginjal yang lanjut (klirens kreatinin < 15 ml/menit) terjadi penuruna klirens metabolic insulin menyebabkan waktu paruh hormon aktif memanjang.2) Sistem Pernafasan . gangguan irama jantung. Didapatkan tanda dan gejala gagal jantung kongestif. Anemia sebagai akibat dari penurunan produksi eritropoetin. TD meningkat. dan nyeri otot. burning feet syndrome. palpitasi. Gangguan metabolisme glukosa. 6) Sistem Endokrin . Keadaan ini dapat menyebabkan kebutuhan obat penurunan glukosa darah akan berkurang. 5) Sistem Kardiovaskuler . edema penurunan perfusiperifer sekunder dari penurunan curah jantungakibat hiperkalemi. penurunan usia sel darah merah. kram otot. respon uremia didapatkan adanya pernafasan kussmaul. Gangguan seksual : libido. 4) System Neuromuskular . dan gangguan metabolism vitamin D. lesi gastrointestinal uremik. kecenderungan mengalami perdarahan sekunder dari trombositopenia. Gangguan metabolic lemak. akral dingin. Klien sering didapatkan adanya kejang. Pola nafas cepat dan dalam merupakan upaya untuk melakukan pembuangan karbon dioksida yang menumpuk di sirkulasi 3) Sistem Hematologi . fertilisasi dan ereksi menurun pada laki-laki akibat produksi testosterone dan spermatogenesis yang menurun. Pada kondisi uremia berat tindakan auskultasi akan menemukan adanya friction rub yang merupakan tanda khas efusi pericardial. Nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditis. restless leg syndrome.

d kurangnya informasi kesehatan. Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum sekunder dari anemia dan penurunan perfusi perifer dari hipertensi. muntah. Pola nafas tidak efektif b. pneumonitis. Kelebihan volume cairan b. 2. keterbatasan gerak sendi.. kram otot. Intoleransi aktivitas b.. fraktur tulang. e.d jam Klien dapat Tentukan penyebab intoleransi aktivitas ketidakseimbangan menoleransi aktivitas & & tentukan apakah penyebab dari fisik. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b. perikarditis c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. ada/ berulangnya infeksi. retensi cairan dan natrium. anoreksia. area ekimosis pada kulit.d penurunan haluan urin. 7) Sistem Perkemihan . Didapatkan adanya mual dan muntah. kulit gatal. dehidrasi ). Risiko infeksi b.d edema paru. nyeri kaki (memburuk saat malam hari). peradangan mukosa mulut. retensi produk sampah dan prosedur dialysis. f. petekie. dan ulkus saluran cerna sehingga sering di dapatkan penurunan intake nutrisi dari kebutuhan.NIC: Toleransi aktivitas B. dan diare sekunder dari bau mulut ammonia. penyakitnya.d intake makanan yang inadekuat (mual. Di dapatkan adanya nyeri panggul. Diagnosa Keperawatan a. terjadi penurunan libido berat 8) Sistem pencernaan .d kelemahan. b. Penurunan urine output < 400 ml/ hari sampai anuri. anemia. 9) Sistem Muskuloskeletal . suplai & kebutuhan melakukan ADL dgn psikis/motivasi O2 baik . d. demam ( sepsis. pruritus. Rencana Keperawatan No Diagnosa Tujuan/KH Intervensi 1 Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan askep . sakit kepala. PK: Insuf Renal h. asidosis metabolic. tindakan invasive g. PK : Anemia i. deposit fosfat kalsium pada kulit jaringan lunak dan sendi.d keletihan/kelemahan. 3.d penurunan daya tahan tubuh primer. Sindrom defisit self care b. anoreksia dll).

 Monitor adanya indikasi Kriteria hasil: overload/retraksi  Bebas dari edema Kaji daerah edema jika ada anasarka..hangat&kering  Pastikan klien mengubah posisi secara  Memverbalisasikan bertahap. pengertian pentingnya gangguan kesadaran&tanda vital keseimbangan latihan & Lakukan latihan ROM jika klien tidak istirahat dapat menoleransi aktivitas  ↑toleransi aktivitas 2 Pola nafas tidak Setelah dilakukanMonitor Pernafasan: efektif b. kelemahan kriteria :  Auskultasi bunyi nafas  Tidak ada dispnea  Monitor peningkatan ketdkmampuan  Kedalaman nafas istirahat.. kedalaman dan frekuensi hiperventilasi. efusi  Suara paru bersih Fluit monitoring:  Tanda vital dalam batas Monitor intake/output cairan normal  Monitor serum albumin dan protein total  Monitor RR.. jam pasien Monitor status hidrasi (kelembaban pengaturan melemah mengalami membran mukosa.d askep .d. jam pola nafas Monitor irama. mekanisme askep .. HR  Monitor turgor kulit dan adanya kehausan .. nadi adekuat) keseimbangan cairan dan Monitor tnada vital elektrolit.  Warna kulit berpindah&perawatan diri normal.. pucat. Monitor gejala intoleransi pentingnya aktivitas aktivitas secara bertahap  Ketika membantu klien berdiri. ↑ aktivitas secara bertahap.. pusing. Kriteria Hasil:  Kaji kesesuaian aktivitas&istirahat klien  Berpartisipasi dalam sehari-hari aktivitas fisik dgn TD. kecemasan dan seseg nafas. RR yang sesuai berpartisipasi dapat perubahan posisi. normal  Tidak ada retraksi dada /Pengelolaan Jalan Nafas penggunaan otot bantuan Atur posisi tidur klien untuk maximalkan pernafasan ventilasi  Lakukan fisioterapi dada jika perlu  Monitor status pernafasan dan oksigenasi sesuai kebutuhan  Auskultasi bunyi nafas  Bersihhkan skret jika ada dengan batuk efektif / suction jika perlu. observasi  Mengekspresikan gejala intoleransi spt mual. 3 Kelebihan volume Setelah dilakukanFluit manajemen: cairan b. klien menunjukkan pernafasan. ventilasi yg adekuat dg Perhatikan pergerakan dada. biarkan klien HR.. penurunan energi.

 Monitor warna. tingkat energi klien. bengkak dsb. identifikasi kemungkinan  Menjelaskan kembali penyebab. jam klien kaji pola makan klien kebutuhan tubuh menunjukan status Kaji adanya alergi makanan. dibuktikan dengan BB Kolaborasi dg ahli gizi untuk penyediaan stabil tidak terjadi mal nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan nutrisi.d. penjelasan yang Jelaskan kondisi klien diberikan  Jelaskan tentang program pengobatan  Mengenal kebutuhan dan alternatif pengobantan perawatan dan Diskusikan perubahan gaya hidup yang pengobatan tanpa cemas mungkin digunakan untuk mencegah  Klien / keluarga komplikasi kooperatif saat dilakukan Diskusikan tentang terapi dan pilihannya tindakan  Eksplorasi kemungkinan sumber yang bisa digunakan/ mendukung .  Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan.  Monitor adanya mual muntah.. kualitas dan BJ urine 4 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan askepManajemen Nutrisi nutrisi kurang dari ….  Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien Monitor Nutrisi  Monitor BB setiap hari jika memungkinkan. nutrisi adekuat Kaji makanan yang disukai oleh klien. adekuat. masukan nutrisi Anjurkan klien untuk meningkatkan adekuat asupan nutrisinya. klien / keluarga penyakitnya kurangnya sumber meningkat dg KH:  Jelaskan tentang proses penyakit (tanda informasi Pasien mampu: dan gejala).  Monitor lingkungan selama makan. 5 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan askep Pendidikan : proses penyakit tentang penyakit dan … jam Pengetahuan  Kaji pengetahuan klien tentang pengobatannya b.  Monitor adanya gangguan dalam proses mastikasi/input makanan misalnya perdarahan.  Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan.  Monitor intake nutrisi dan kalori.  Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi.

letargi)  Kolaborasi dengan timkes lain dalam therapinya  Pantau perdarahan.  Pantau tanda dan gejala insuf renal jam Perawat akan ( peningkatan TD.  Instruksikan kapan harus ke pelayanan  Tanyakan kembali pengetahuan klien tentang penyakit. pospat dari insuf renal dan amonia.. menangani atau peningkatan BJ urine. jam risiko infeksi Ajarkan tehnik mencuci tangan penurunan daya tahan terkontrol dg KH:  Ajarkan tanda-tanda infeksi tubuh primer  Bebas dari tanda-tanda Laporkan dokter segera bila ada tanda infeksi infeksi  Angka leukosit normal  Batasi pengunjung  Ps mengatakan tahu  Cuci tangan sebelum dan sesudah tentang tanda-tanda dan merawat ps gejala infeksi  Tingkatkan masukan gizi yang cukup  Anjurkan istirahat cukup  Pastikan penanganan aseptic daerah IV  Berikan PEN-KES tentang risk infeksi Proteksi infeksi:  Monitor tanda dan gejala infeksi  Pantau hasil laboratorium  Amati faktor-faktor yang bisa meningkatkan infeksi  Monitor VS 7 PK: Insuf Renal Setelah dilakukan askep . urine <30 cc/jam. prosedur perawatan dan pengobatan 6 Resiko infeksi b/d Setelah dilakukan askep . peningkatan mengurangi komplikasi natrium urine. anemia. kalium. .  Timbang BB jika memungkinkan  Catat balance cairan  Sesuaikan pemasukan cairan setiap hari = cairan yang keluar + 300 – 500 ml/hr  Berikan dorongan untuk pembatasan masukan cairan yang ketat : 800-1000 cc/24 jam. Atau haluaran urin / 24 jam + 500cc  Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet.. BUN Creat. rendah natrium (2-4g/hr)  Pantau tanda dan gejala asidosis metabolik ( pernafasan dangkal cepat. sakit kepala... Ph rendah.Kontrol infeksi tindakan invasive. mual muntah. edema).

. berpakaian. hipoalbuminemia  Kolaborasi untuk hemodialisis 8 PK: Anemia Setelah dilakukan Monitor tanda-tanda anemia askep . DAFTAR PUSTAKA Carpenito. (2000). kebersihan.  Hb >/= 10 gr/dl.. HMT. toileting dan makan kriteria :  Beri bantuan sampai klien mempunyai  Pasien dapat melakukan kemapuan untuk merawat diri aktivitas sehari-hari Bantu klien dalam memenuhi (makan. Anjurkan klien untuk melakukan ambulasi) aktivitas sehari-hari sesuai  Kebersihan diri pasien kemampuannya terpenuhi  Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin  Evaluasi kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Edisi 8. Lynda Juall. kebutuhannya. dkk. Edisi 3.  Berikan reinforcement atas usaha yang dilakukan.. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Retic. berpakaian. jam perawat Anjurkan untuk meningkatkan asupan akan dapat nutrisi klien yg bergizi meminimalkan  Kolaborasi untuk pemeberian terapi terjadinya komplikasi initravena dan tranfusi darah anemia :  Kolaborasi kontrol Hb. (1999). jam klien mampu Monitor kemampuan pasien terhadap Perawatan diri perawatan diri Self care :Activity Daly Monitor kebutuhan akan personal Living (ADL) dengan hygiene. status Fe  Konjungtiva tdk anemis  Observasi keadaan umum klien  Kulit tidak pucat  Akral hangat 9 Sindrom defisit self Setelah dilakukan askepBantuan perawatan diri care b/d kelemahan …. Marilynn. Jakarta : EGC Doenges E. toileting. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC .

Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan NANDA. Edisi 4. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Long. (1995).Jakarta : Balai Penerbit FKUI . Jakarta :EGC Doenges. Edisi 8. (1996). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. ( 2001 ). B C. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3. Jakarta : EGC Supartondo. Price. Philadelphia: North American Nursing Diagnosis Association. 2012. Marilynn E. Sylvia A dan Lorraine M Wilson. Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC Smeltzer. Rencana Asuhan Keperawatan. (1999). Nursing Diagnosis: Definition and Classification. Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001).