You are on page 1of 34

asuhan keperawatan tumor wilm

ASUHAN KEPERAWATAN TUMOR WILMS

A. Konsep Penyakit

1. Definisi

Tumor wilms (Nefroblostoma) adalah tumor ginjal yang

tumbuh dari sel embrional primitive diginjal. Tumor wilms biasanya

ditemukan pada anak–anak yang berumur kurang dari 5 tahun,

tetapi kadang ditemukan pada anak yang lebih besar atau orang

dewasa. Tumor wilms merupakan tumor ganas intraabdomen yang

tersaring pada anak–anak.

Tumor wilm adalah tumor ginjal campuran ganas yang tumbuh

dengan cepat, terbentuk dari unsur embrional, biasanya mengenai

anak-anak sebelum 5 tahun (kamus kedokteran Dorland).

2. Etiologi

Penyebabnya tidak diketahui pasti, tetapi diduga melibatkan

faktor genetic. Tumor wilms berasal dari poliferasi patologik

blastema meta nefron akibat tidak adanya stimulasi yang normal

dari duktus metanefron untuk menghasilkan tubuli dan glomeruli

yang berdiferensiasi baik. Perkembangan blastema renalis untuk

membentuk struktur ginjal terjadi pada umur kehamilan 8-34 minggu.

Sehingga diperkirakan bahwa kemampuan blastema primitive untuk

merintis jalan kearah pembentukan tumor wilms, apakah sebagai

mutasi germinal atau somatic, itu terjadi pada usia kehailan 8-34

minggu.

Sekitar 1,5% penderita mempunyai saudara atau anggota lain yang

juga menderita tumor wilms. Hampir semua kasus unilateral tidak

bersifat keturunan yang berbeda dengan kasus tumor bilateral.

Sekitar 7-10% kasus tumor wilms diturunkan secara autosomal

dominan.

3. Penentuan Stadium Tumor Wilms

a. Stdium I

Tumor terbatas pada ginjal dan dapat disekresi total.

b. Stadium II

Tumor meluas hingga diluar ginjal tetapi masih dapat disekresi

total

c. Stadium III

Tumor non hematogen yang tersisa terbatas pada daerah

abdomen

d. Stadium IV

Metastasis hematogen, adanya deposit tumor diluar stadium III

yaitu pada paru, hati, tulang dan otot

e. Stadium V

Tumor sudah mengenai kedua ginjal (lesi, bilateral). Pada saat

diagnosis.

4. Patofisiologi

Terlampir

5. Tanda dan Gejala

Keluhan utama biasanya hanya benjolan perut, jarang dilaporkan

adanya nyeri perut dan hematuria, nyeri perut dapat timbul bila

terjadi infasi tumor yang menembus ginjal sedangkan hematuria

terjadi karena infasi tumor yang menembus system velveo kalises.

Demam dapat terjadi sebagai reaksi anafilaksis tubuh terdapat

protein tumor dan gejala lain yang bisa muncul adalah:

a. Adanya massa dalam perut (tumor abdomen)

b. Hematuri akibat infiltrasi tumor ke dalam sistem kaliks

c. Hipertensi diduga karena penekanan tumor atau hematom pada

pembuluh- pembuluh darah yang mensuplai darah ke ginjal,

sehingga terjadi iskemi jaringan yang akan merangsang

pelepasan renin atau tumor sendiri mengeluarkan rennin

d. Anemia

e. Penurunan berat badan

f. Infeksi saluran kencing

g. Demam

h. Malaise

i. Anoreksia

Ultrasonografi . Pada 10-25% kasus. hemihiperttofi. hematuria mikroskopik memberi kesan tumor ginjal. akibat adanya gumpalan darah dalamsaluran kencing Tumor Wilms tidak jarang dijumpai bersama kelainan kongenital lainnya. b. j. Nyeri perut yang bersifat kolik.seperti aniridia. anomali saluran kemih atau genitalia danretardasi mental 6. Pemeriksaan Penunjang Tumor Wilms harus dicurigai pada setiap anak kecil dengan massa di abdomen. Foto thoraks (Rontgen) Merupakan pemeriksaan untuk mengevaluasi ada tidaknya metastasis ke paru-paru. c. IVP Dengan pemeriksaan IVP tampak distorsi sistem pielokalises (perubahan bentuk sistem pielokalises) dan sekaligus pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui fungsi ginjal. Arteriografi khusus hanya diindikasikan untuk pasien dengan tumor Wilms bilateral atau termasuk horseshoe kidney. a.

penentuan perluasan tumor. USG juga dapat digunakan sebagai pemandu pada biopsi. e. lebih predominan digambarkan sebagai massa hiperechoic dan menampakkan area yang echotekstur heterogenus. Ini meliputi konfirmasi mengenai asal tumor intrarenal yang biasanya menyingkirkan neuroblastoma. CT scan dengan level yang lebih tinggi lagi menunjukkan metastasishepar multipel dengan thrombus tumor di dalam vena porta. tumor Wilms nampak sebagai tumor padat di daerah ginjal. Magnetic Resonance Imaging (MRI) MRI dapat menunjukkan informasi penting untuk menentukan perluasan tumor di dalam vena cava inferior termasuk perluasan ke daerah intarkardial. Pada potongan sagital USG bagian ginjal yang terdapat tumor akan tampak mengalami pembesaran. Merupakan pemeriksaan non invasif yang dapat membedakan tumor solid dengan tumor yang mengandung cairan. Dengan pemeriksaan USG. deteksi massa multipel. CT scan memperlihatkan massa heterogenus di ginjal kiri danmetastasis hepar multiple. Pada MRI tumor . d. CT-Scan Memberi beberapa keuntungan dalam mengevaluasi tumor Wilms. termasuk keterlibatan pembuluh darah besar dan evaluasi dari ginjal yang lain.

Dengan terapi kombinasi ini dapat diharapkan hasil yang memuaskan. Laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium yang penting yangmenunjang untuk tumor Wilms adalah kadar lactic dehydro genase (LDH) meninggi dan Vinyl mandelic acid (VMA) dalam batas normal. radioterapi dan kemoterapi. Masing-masing jenis ditangani secara berbeda. Penatalaksanaan Medis Tujuan pengobatan tumor Wilms adalah mengusahakan penyembuhan dengan komplikasi dan morbiditas serendah mungkin. Urinalisis juga dapat menunjukkan bukti hematuria. LED meningkat. Pasien dengan metastasis di hepar dapat menunjukkan abnormalitas pada analisa serum. 7. Wilms akanmemperlihatkan hipointensitas (low density intensity) dan hiperintensitas (high density intensity). Jika secara klinis tumor masih berada dalam stadium dini dan ginjal di sebelah kontra lateral normal. Biasanya dianjurkan kombinasi pembedahan. tetapi tujuannya adalah menyingkirkan tumor dan memberikan kemoterapi atau terapi radiasi yang sesuai. f. dan anemia dapat juga terjadi. Ukuran tumor pada saat datang menentukan cara pengobatan. terlebih pada pasien dengan perdarahan subkapsuler. Apabila tumor besar maka pembedahan definitive mungkin harus di tunda sampai . dilakukan nefrektomiradikal.

Farmakologi 1) Kemoterapi Tumor Wilms termasuk tumor yang paling peka terhadap obatkemoterapi. Kemoterapi dapat memperkecil tumor dan memungkinkan reaksi yang lebih akurat dan aman. Ada lima macam obat sitostatika yang terbukti efektif dalam pengobatan tumor Wilms. yaitu Aktinomisin D. 2) Aktinomisin D . jika diberikan prabedah selama 4– 8 minggu. Biasanya. Mekanisme kerja obat tersebut adalah menghambat sintesa DNA sehingga pembentukan protein tidak terjadi akibat tidak terbentuknya sintesa RNA di sitoplasma kanker. a. Jadi tujuan pemberian terapi adalah untuk menurunkan resiko ruptur intraoperatif dan mengecilkan massa tumor sehingga lebih midah direseksi total.Terapi sitostatika dapat diberikan pra maupun pasca bedah didasarkan penelitian sekitar 16-32% dari tumor yang mudah ruptur.kemoterapi atau radiasi selesai. Adriamisin. Vinkristin. Prinsip dasar kemoterpai adalah suatu cara penggunaan obat sitostatika yang berkhasiat sitotoksik tinggi terhadap sel ganas danmempunyai efek samping yang rendah terhadap sel yang normal. Cisplatin dan siklofosfamid. sehingga pembelahan sel-sel kanker tidak terjadi.

Vinkristin dapat dikombinasi dengan obat lain karena jarang menyebabkan depresi hematologi. hindarkan agar tidak terjadi ekstravasasi pada waktu pemberian secara intravena.5 mg/m2setiap minggu secara intravena (tidak lebihdari 2 mg/m2). 4) Adriamisin Golongan antibiotika antrasiklin diisolasi dari streptomyces pencetius. bersifat iritatif. obat ini tidak dapat melewati sawar otak dapat menimbulkan toksisitas pada miokard bila melebihidosis. 3) Vinkristin Golongan alkaloid murni dari tanaman Vina rossa. sedangkan bila digunakan sebagai obat tunggal dapat menyebab relaps. diberikan secara intravena dengan dosis 20 mg/m2/hari selama tiga hari berturut-turut. Bila melebihi dosis dapat menimbulkan neurotoksis. Dosis maksimal 250 mg/m2. diberikan lima hari berturut-turut dengan dosis 15 mg/KgBB/hari secara intravena. Aktinomisin D bersama dengan vinkristin selalu digunakan sebagai terapi prabedah. Dosis total tidak melebihi 500 mikrogram. biasanya diberikan dalam satu dosis 1. Dapat dikombinasi dengan Aktinomisin . Golongan antibiotika yang berasal dari spesies Streptomyces.

Pasien di letakkan dalam posisi telentang dengan sebuah gulungan di bawah sisi yang terkena. Gambaran histologik lesi merupakan suatu indikator penting untuk prognosis. Non Farmakologi 1) Pembedahan Keperawatan Perioperatif Karena banyak anak dengan tumor wilms mungkin mendapat obatkemoterapi kardiotoksik. 5) Cisplatin Dosis yang umum digunakan adalah 2-3 mg/KgBB/hari atau 20mg/m2/hari selama lima hari berturut-turut. Mereka perlu menjalani pemeriksaan jantung yang menyeluruh untuk menentukan status fungsi jantung. . Hasil akhir pada pasien pasca operatif Pasien tumor wilms menerima kemoterapi dan terapi radiasi yang sesuai dengan lesi. Dosis peroral 100-300mg/m2/hari. maka mereka harus diperiksa oleh ahli onkologidan di izinkan untuk menjalani operasi. 6) Siklofosfamid Dari nitrogen mustard golongan alkilator. Dosis 250-1800 mg/m2/hari secara intravena dengan interval 3-4 mg. b. Tumor wilms jangan di palpasi untuk menghindari rupture dan pecahnya sel-sel tumor. Seluruh abdomen dan dada di bersihkan.

tumor tersebut harus diangkat. maka memiliki prognosis buruk. Pada pembedahan perlu diperhatikan ginjal kontra lateral karena kemungkinan lesi bilateral cukup tinggi.karena gambaran tersebut menentukan derajat anaplasia. otak. . hati dan paru. Nefrektomi radikal dilakukan bila tumor belum melewati garis tengah dan belum menginfiltrasi jaringan lain. Jika ada sisa tumor pasca bedah juga diberikan radioterapi. Tumor Wilms dikenal sebagai tumor yang radiosensitif. Maka memiliki prognosis baik. Apabila ditemukan penjalaran tumor ke vena kava. Anak yang histologiknya relative baik. Sedangkan anak yang gambaran histologiknya buruk. tapiradioterapi dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menimbulkan penyulit jantung. Radioterapi dapat juga digunakan untuk metastase ke paru. karena terapi yang lebih sedikit menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik dengan lebih sedikit efek sampingnya. hepar serta tulang. Pengeluaran kelenjar limferetro peritoneal total tidak perlu dilakukan tetapi biopsi kelenjar di daerah hilus dan para aorta sebaiknya dilakukan. Terapi dibuat sespesifik mungkin untuk masing-masing anak. Karena itu radioterapi hanya diberikan pada penderita dengan tumor yang termasuk golongan patologi prognosis buruk atau stadium III dan IV.

B. c. Pemeriksaan Fisik Melakukan pemeriksaan TTV pada klien. Tumor dapat memproduksi rennin atau menyebabkan kompresi vaskuler sehingga mengakibatkan hipertensi pada anak. melakukan pemeriksaan secara head to toe yang harus diperhatikan adalah palpasi abdomen yang cermat dan pengukuran tekanan darah pada klien. bengkak sekitar perut. d. Identitas b. 2) Riwayat kesehatan dahulu Apakah klien pernah mengeluh kelainan pada ginjal sebelumnya. Badan panas hanya 1 hari pertama sakit. atau gejala-gejala tumor wilms. 3) Riwayat kesehatan keluarga Apakah ada riwayat keluarga klien pernah mengidap kanker atau tumor sebelumnya. Riwayat kesehatan 1) Riwayat kesehatan sekarang Klien mengeluh kencing berwarna seperti cucian daging. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Analisa Data Data Etiologi Masalah . muntah dan diare. Pengkajian a. Tidak nafsu makan. mual.

vena renal ↓ Disfungsi ginjal . Data objektif : menembus kapsul  Terjadi penurunan ginjal berat bada ↓  Makanan tidak di Berdiferensiasi habiskan ↓ Tumor menembus kapsul ginjal (perineal.  Takikardi dan vena renal takipnea ↓ Nyeri Data subjektif : Tumor wilms Perubahan nutrisi:  Anak mengatakan ↓ kurang dari tidak mau makan Tumor belum kebutuhan tubuh. Pre Operasi Data subjektif : Tumor wilms Nyeri  Anak mengatakan ↓ nyeri di daerah Tumor belum perutnya menembus kapsul Data objektif : ginjal  Anak tampak ↓ memegangdaera Berdiferensiasi h perutnya Nyeri ↓ akut Tumor menembus  Tekanan darah kapsul ginjal 140/110mmHg (perineal. hilus. hilus.

↓ Gangguan keseimbangan asam dan basa ↓ Asidosis metabolic ↓ Mual dan muntah ↓ Nafsu makan berkurang Data Subjektif: Tumor wilms Kecemasan  Keluarga klien ↓ selalu bertanya Pre operasi tentang ↓ kesehatan Kurang anaknya pengetahuan Data Objektif: Keluarga dan anak  Orang tua terlihat ↓ cemas dan Kecemasan gelisah dengan keadaan anaknya  TTV meningkat Data subjektif : Tumor wilms Intoleransi aktivitas  Anak mengatakan ↓ lemas dan lelah Tumor belum Data objektif : menembus kapsul  Terbaring lemas ginjal .

serotin) ↓ Nyeri Data Objektif: Tumor wilms Resiko Tinggi Infeksi  Adanya tanda ↓ infeksi (bengkak. vena renal Post Operasi Data subjektif: Tumor wilms Nyeri  Klien mengeluh ↓ nyeri Sayatan operasi Data Objektif ↓  Wajah tampah Terputusnya meringis kontinuitas jaringan  Skala nyeri 0-10 ↓  TTV meningkat Merangsang  Gangguan Tidur pengeluaran zat proteolitik (bradikinin. Sayatan operasi kemerahan. ↓ nyeri. hilus. di tempat tidur ↓  Anak kurang Berdiferensiasi bersemangatdala ↓ m beraktivitas Tumor menembus  Malaise kapsul ginjal (perineal. histamine. demam) Adanya luka  Peningkatan suhu operasi tubuh ↓ .

Pasca operasi 1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi . kehilangan protein dan penurunan intake 3) Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit dan prosedur pembedahan 4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kurangnya nutrisi tubuh b. Luka terbuka ↓ Resiko tinggi infeksi 2. Pre operasi 1) Nyeri akut berhubungan dengan efek fisiologis dari neoplasia 2) Perubahan Nutrisi : Kurang dari Kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolime. Diagnosa Keperawatan a.

Kaji tingkat nyeri 1. 3. hipoproteinemia.. Untuk dengan kriteria: ketentuan nyeri  Nyeri hilang 4. Men intake penurunan berat keciltapi sering menjad badan . Berikanan analgesik sesuai 4. Beri diet yang bergizi kehilangan protein  Anak mau makan status n 4. Karen  Tekanan darah dalam batas preventif kecend normal 5.3. Mengu anak. Dalam waktu : . Lakukan teknik selanju dengan efek atau nyeri menurun fisiologis dari sampai tingkat pengurangan nyeri 2. Beri makanan dalam porsi dan penurunan  Tidak Terjadi 4. Diare Letargi. Catat intake dan output 1.. Rencana Asuhan Keperawatan Pre Operasi Diagnosa Tujuan Intervensi Keperawatan Nyeri Pasien tidak 1. kebutuhan kriteria: intestin metabolime. peningkatan terpenuhi dengan 3.. Sebag neoplasia yang dapat diterima nonfarmakologis 3. 3.. Berikan obat dengan jadwal 5.x24 jam. makanan secara akurat tubuh dari Kebutuhan kebutuhannutrisi 2. Hindari aspirin atau  Tidak Takikardi dan takipnea senyawanya Perubahan Dalam waktu …x 1. M berhubungan mengalami nyeri 2. Gangg berhubungan dengan tubuh dapat secara perubahan nutrisi : Anoreksi. Kaji adanya tanda-tanda 2. Monito Nutrisi :Kurang 24 jam.

Untuk aktivitas bila ambulasi nutrisi tubuh istirahat dengan 3. Meng berhubungan selama …x 24 jam.  Porsi makan 5. Untuk prosedur dengan kriteria: tindakan pada o pembedahan  Keluarga klien 4. menjelaskan mengenai dirasak pengetahuan pasiecemas penyakit 2. yang diberikan dan prosedur 3. U orang tua tentang berkurang sampai 3. Jelaskan tentang pengobatan pemah penyakit dan dengan hilang. Mem habis besi sesuai instruksi metabo Kecemasan Setelah dilakukan 1. Intrusikan pada anak untuk adekuat dengan istrahat bila anak merasa lelah . Untu tidak bertanya mengungkapkan perasaan kecema tentang dan dengarkan dengan penuh membe kesehatan anaknya perhatian kecema  Orang tua terlihat tenang dengan keadaan anaknya  TTV dalam batas normal Intoleransi Setelah dilakukan 1. Seimbangkan istrahat dan pasien dengan kurangnya pasiendapat 3. Men energy aktivitas perawatan terjadi edema berat 2. Gunakan media untuk besar dengan kurangnya selama …x24 jam. Dorong orang tua untuk 4. 2. Beri suplemen vitamin dan 5. Pertahankan tirah baring bila 1. Kaji tingkat kecemasan klien 1. Untuk berhubungan perawatan 2.

Karen  Nyeri hilang preventif kecend  Tekanan darah 5.x24 jam.x24 jam. Kolaborasi pemberian mempe  Tidak Adanya antibiotic penyem tanda infeksi 4... Lakukan tehnik selanju iatau nyeri dengan pengurangan nyeri 2. kriteria:  Anak tampak segar bersemangat dalam beraktivitas Pasca Operasi Nyeri Pasien tidak 1. Sebag menurunsampai inkontinuitas tingkat yang dapat nonfarmakologis 3... Berikan obatdengan jadwal 5. Mengi berhubungsn infeksi Dalam 3. dengan kriteria: 4. Kaji tanda-tanda infeksi 2. Peraw insisi pembedahan dengan kriteria: 4.. Berikanan algesik sesuai 4. Mengu diterima jaringan 3. Untuk anak.. Lakukan perawatan luka lebih d dengan adanya waktu : . Peni mengid infeksi mengalami resiko 2. Kaji tingkat nyeri 1.Dalam ketentuan nyeri waktu : .. dengan tekhnik aseptic diatasi 3.. Hindariaspirin atau dalam batas normal senyawanya  Tidak Takikardi dan takipnea Resiko tinggi Pasien tidak 1. Men . Pantau tanda-tanda vital 1. M mengalami nyer berhubungan 2.

nyeri. demam)  Suhu dalam batas normal Diposkan 23rd January 2014 oleh eka fajarsari 0 Tambahkan komentar ASUHAN KEPERAWATAN  Klasik  Kartu Lipat  Majalah  Mozaik  Bilah Sisi  Cuplikan  Kronologis ASKEP PADA PASIEN ASMA asuhan keperawatan tumor wilm ASKEP PADA PASIEN ASMA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ASMA BRONKIAL 1. PENGARTIAN . (bengkak. bakteri kemerahan.

Infeksi : parainfluenza virus. bulu-bulu binatang) b. Faktor Ekstrinsik (asma imunologik / asma alergi) . PENYEBAB a. serbuk-serbuk. cemas dan tegang . Faktor Intrinsik (asma non imunologi / asma non alergi) . Reaksi antigen-antibodi . 2002 : 611) Asma adalah obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel. Polusi udara : CO. pneumonia. Fisik : cuaca dingin. Emosional : takut. Asma Bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spame akut otot polos bronkiolus. reversibel dimana trakea dan bronchi berspon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. parfum . ( Smeltzer. Iritan : kimia . terjadi ketika bronkus mengalami inflamasi/peradangan dan hiperresponsif. (Reeves. mycoplasmal . ( Huddak & Gallo. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus. 2001 : 48) 2. asap rokok. Inhalasi alergen (debu. perubahan temperatur . 1997 ) Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten.

Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.Belum ada kelainan bentuk thorak e. Stadium dini Faktor hipersekresi yang lebih menonjol a. 2001 : 7) 3. sifatnya hilang timbul c. Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E f. Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum b. (Suriadi. Ronchi basah bila terdapat hipersekresi d. TANDA DAN GEJALA 1. . BGA belum patologis Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan a. Whezing belum ada d. Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek b. Whezing c. Rochi basah halus pada serangan kedua atau ketiga. Penurunan tekanan parsial O2 2. Stadium lanjut/kronik .

BGA Pa O2 kurang dari 80% i. Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest) e. Batuk. PATOFISIOLOGO / PATHWAYS Spasme otot Sumbatan Edema Inflamasi . Thorak seperti barel chest f. Sianosis h. 2000. a. ronchi b. Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus g. Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik (Halim Danukusumo. Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan d. Sesak nafas berat dan dada seolah –olah tertekan c. hal 218-229) 4. Ro paru terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan kiri j.

bronchus mukus dinding bronchus Mk : Tak efektif Obstruksi sal nafas Alveoli tertutup bersihan ( bronchospasme ) jalan nafas Hipoksemia Mk : Gg Pertuka .

ran gas Penyempitan jalan Asidosis metabolik nafas Peningkatan kerja Mk : Kurang pengetahuan pernafasan Peningkatan kebut Penurunan oksigen mas ukan oral .

TANDA DAN GEJALA Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan/tanpa stetoskop Batuk produktif. Hyperventilasi Mk : Perub nutrisi kurang dari kebutuhan tbh Retensi CO2 Asidosis respiratorik 5. ekspirasi memanjang . sering pada malam hari Nafas atau dada seperti tertekan.

Perpanjangan ekspirasi mengi . Sesak nafas . PEMERIKSAAN PENUNJANG Spirometri Uji provokasi bronkus Pemeriksaan sputum Pemeriksaan cosinofit total Uji kulit Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam sputum Foto dada Analisis gas darah 7.6. Krekels b. tidak terdengar . Penggunaan otot-otot aksesori . Awitan distres pernafasan tiba-tiba . Bunyi nafas : mengi. PENGKAJIAN a. Perpendekan periode inpirasi . menurun. Restraksi interkostral dan esternal .

d penurunan masukan oral . Diaforesis e. takut mati 8. Hipotensi k. kering : batuk produktif sulit h. Sianosis : area sirkumoral.d bronkospasme : peningkatan produksi sekret. sekresi kental : penurunan energi/kelemahan Kerusakan pertukaran gas b. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN TIMBUL Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b. kerusakan alveoli Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. Batuk keras. c. Pulsus paradoksus > 10 mm l. dasar kuku g. sekresi tertahan.d gangguan suplai oksigen. Distensi vera leher f. Dehidrasi m. Peningkatan anseitas : takut menderita. Perubahan tingkat kesadaran i. Hipokria j. Duduk dengan posisi tegak : bersandar kedepan d. tebal.

distres pernafasan. basah . ronki  Kaji/pantau frekuensi pernafasan  Catat adanya/derajat diespnea mis : gelisah. penggunaan otot bantu  Kaji pasien untuk posisi yang nyaman mis : peninggian kepala tempat tidur. Kurang pengetahuan b.Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas . INTERVENSI KEPERAWATAN DP : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas Tujuan : Bersihan jalan nafas efektif KH : . mengi. duduk pada sandaran tempat tidur  Pertahankan polusi lingkungan minimum  Dorong/bantu latihan nafas abdomen/bibir  Observasi karakteristik batuk mis : menetap. batuk pendek. mis. ansietas.d kurang informasi/tidak mengenal sumber informasi 9. krekels. catat adanya bunyi nafas.Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas mis : batuk efektif dan mengeluarkan sekret Intervensi  Auskultasi bunyi nafas.

. nafas bibir. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hr ss toleransi jantung dan memberikan air hangat. anjurkan masukkan cairan sebagai ganti makanan  Berikan obat sesuai indikasi  Awasi/buat grafik seri GDA. foto dada DP : Kerusakan pertukaran gas Tujuan : Pertukaran gas efektie dan adekuat KH : -Menunjukkan perbaikan vertilasi dan oksigen jaringan adekuat dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernafasan -Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan /situasi Intervensi  Kaji frekuensi. dorong nafas dalam perlahan / nafas bibir sesuai kebutuhan / toleransi individu. ketidak mampuan bicara/berbincang  Tingguikan kepala tempat tidur.  Auskultasi bunyi nafas. kedalaman pernafasan. catat area penurunan aliran udara dan / bunyi tambahan. pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas.  Dorong mengeluarkan sputum : penguapan bila diindikasikan. catat penggunaan otot aksesori. nadi oksimetri.

DP : Perubahan nutrisi kurang dari tubuh Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kh : . buang sekret. Berikan perawatan oral sering.  Awasi / gambarkan seri GDA dan nadi oksimetri.  Awasi tingkat kesadaran / status mental. 1jam sebelum dan sesudah makan berikan makan porsi kecil tapi sering. . Menunj ukan perilaku / perubahan pada hidup untuk meningkatkan dan / mempertahanka berat yang tepat. Menunjukan peningkatan BB . Dorong periode istirahat.  Awasi tanda vital dan irama jantung. selidiki adanya perubahan. masukan makanan.  Evaluasi tingkat toleransi aktivitas. C.  Berikan oksigen yang ssi idikasi hasil GDA dan toleransi pasien. catat derajat kesulitan makan. Avskultasi bunyi usus. evaluasi BB. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat. Intervensi : Kaji kebiasaan diet.

efek samping. dan reaksi yang tidak diinginkan Beritahu tehnik pengguanaan inhaler ct : cara memegang.serum. ex : alb. Melaku kan perubahan pola hidup dan berparisipasi dalam program pengobatan. Kaji pemeriksaan laboratorium. . Hindari maknan yang sangat panas / dingin. cara membersihkan. Intervensi: Jelaskan proses penyakit individu dan keluarga Instrusikan untuk latihan nafas dan batuk efektif. DP : Kurang pengetahuan Tujuan : Pengetahuan miningkat KH : . Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan tindakan. Mengid entifikasi hubungan tanda / gejala yang ada dari proses penyakit dan menghubung dengan faktor penyebab. Timbang BB sesuai induikasi. . D. . interval semprotan. Diskusikan tentang obat yang digunakan.

. Tekankan pentingnya perawatan oral/kebersihan gigi Beritahu efek bahaya merokok dan nasehat untuk berhenti merokok pada klien atau orang terdekat Berikan informasi tentang pembatasan aktivitas.

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. Tucker. Jilid I. Heru Sundaru(2001). Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Keperawatan Kritis Edisi VI Vol I. Hudack&gallo(1997). Jakarta. Jakarta. Jakarta. FKUI. EGC. EM(2000). Jakarta. Doenges. Standar Perawatan Pasien. DAFTAR PUSTAKA Arif Mansyoer(1999). EGC. Diposkan 14th August 2015 oleh eka fajarsari 0 Tambahkan komentar . Jakarta. Rencana Asuhan Keperawatan. BalaiPenerbit FKUI. SM(1998). EGC. Media Acsulapius.

.Memuat julzmy. Diberdayakan oleh Blogger. Tema Tampilan Dinamis.