You are on page 1of 56

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teori dasar yang diberikan didalam perkuliahan pada umumnya bersifat ideal

sehingga lebih mudah dimengerti dan dibayangkan. Namun pada kenyataannya di

lapangan, apa yang diamati tidaklah semudah yang penulis bayangkan. Sehingga,

diperlukan suatu penelitian lebih lanjut secara langsung mengenai kenampakan objek-

objek geologi mineral dan batuan agar didapatkan suatu pemahaman yang

diharapkan.Penelitian secara langsung ini dapat dilakukan melalui kuliah lapangan

(fieldtrip).

Latar belakang diadakannya kuliah lapangan (fieldtrip) geologi ini adalah untuk

meningkatkan pemahaman mahasista tentang materi-materi geologi (secara teori)

yang telah diberikan dalam perkuliahan, yaitu tentang batuan. Sehingga, diharapkan

mahasiswa dapat mengetahui bagaimana bentuk-bentuk fisik dari suatu singkapan,

bagaimana karakteristik suatu batuan serta bagaimana proses terjadinya batuan dan

mineral itu sendiri dialam.

Selain itu, penelitian di lapangan merupakan penelitian yang sesungguhnya.

Karena pada dasarnya, sebuah teori terlahir karena adanya penelitian dari alam.

Sehingga untuk membuktikan dan membansingkan kebenaran dari hasil teori yang

telah ada, maka kuliah lapangan (fieldtrip) ini perlu dan mutlak untuk dilakukan.

Sehingga, mahasiswa tidak hanya memahami teori dengan menerima materi tersebut

secara mentah saja. Namun, mahasiswa dituntut untuk mampumenganalisa dengan

baik apanila dihadapkan secara langsung dilapangan

1
1.2 Maksud dan Tujuan

maksud dan tujuan dari kuliah lapangan ini yaitu:

1.2.1 Maksud

Kegiatan lapangan fieldtrip ini bertujuan untuk member wawasan pengetahuan

dengan melihat secara langsung jenis-jenis struktur di tempat pengamatan dan

pembuatan rekontruksinya, sehingga teori-teori yang telah didapatkan selama kegiatan

perkuliahan dapat teraplikasikan di lapangan.

1.2.2 Tujuan

Tujuan diadakannya fieldtrip ini yaitu sebagai berikut.

1. Mengetahui struktur geologi yang terdapat pada batuan.

2. Mengetahui cara mengukur strike dan dip dari struktur geologi dan penyebaran

batuan.

3. Mendeskripsi singkapan batuan dan mineral yang terdapat pada daerah dan

memberikan nama batuan atau mineral tersebut.

1.3 Lokasi dan Kesampaian Daerah

Kabupaten Toraja Utara merupakan salah satu kabupaten dari 24 kabupaten di

Provinsi Sulawesi Selatan, letaknya berada di sebelah utara dan terletak antara

2°35”LS-3°15” LS dan 119°-120° BT dengan luas wilayah 1.151,km², yang terdiri dari

hutan lindung 47.900Ha, hutan rakyat 5.260Ha, 12.790,93Ha, kebun 14.620Ha.

Permukiman 9.865Ha dan berada pada ketinggian 704-1.646 meter di atas muka laut.

2
Gambar 1.1 Peta Tunjuk Lokasi Kuliah Lapangan

Untuk tiba didaerah penelitian kami berangkat dari tempat pertama pada jam

08.00, setelah berapa lama kami tiba di stasiun pertama yaitu di Bungoro (Pangkep)

pada jam 11.25 selama kurang lebih 20 menit, kemudian berlanjut lagi dan tiba di

Kabupaten Barru untuk melaksanakan sholat jumat jam 12.25, setelah sholat jumat

kami melanjutkan perjalanan ke stasiun 2 yang terletak di Kabupaten Enrekang pada

jam 17.30 selama kurang lebih 15 menit, kemudian berlanjut lagi ke stasiun 3 terletak

di Kabupaten Enrekang tepatnya di lokasi Gunung Nona pada jam 17.46 selama

kurang lebih 30 menit sekalian untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib, kemudian

kami melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Toraja dan tiba pada jam 10.45.

Pada keesokan harinya kami berkumpul di tempat penginapan pada jam 07.00

kemudian berangkat ke stasiun ke 4 di Toraja pada jam 08.08 selama kurang lebih 20

menit, kemudian berlanjut ke stasiun 5 di Tondon (Toraja) pada jam 08.59 selama

kurang lebih 20 menit, kemudian berlanjut lagi ke stasiun 6 di Tondon (Toraja) pada

3
jam 09.45 selama kurang lebih 20 menit, kemudian kami berangkat dari Tondon ke

Sangkaropi (stasiun 7) dan sampai jam 13.08 selama kurang lebih 2 jam. Kemudian

kembali ke penginapan pada jam 17.10

1.4 Peneliti Terlebih Dahulu

1. Embang Popang Samuel, tahun 1996, Geologi dan Zonasi Biostratigrafi satuan

Tufa daerah Tumonga Kecamatan Sesean Kabupaten Tana Toraja

2. Sapta Ika Yunita, tahun 1996, Geologi dan Zonasi Biostratigrafi batugamping

daerah Suaya Kecamatan Sesean Kabupaten Tana Toraja

3. Van Bemmelen, tahun 1949 sdan 1970, mambahas mengenai kondisi geologi

Pulau Sulawesi

4. Sartono dan Astadireja, tahun 1981, mengemukakan suatu laporan pemetaan

geologi kwarter Sulawesi Selatan

5. De Koning Knijff, tahun 1914, melakukan penelitian tentang Formasi serpih

tembaga

6. Brower, tahun 1922, menyelidikihi hubungan antara Formasi serpih tembaga

dengan batugamping eosin pada kaki Gunung Latimojong bagian Barat

7. Djuri dan Sudjadmiko, tahun 1974, membuat peta geologi lembar Majene dan

bagian Barat Palopo dengan skala 1:25.000

8. Jumhani dan Hillman, tahun 1979, meneliti tentang urutan statigrafi daerah

Tanah Toraja dan sekitarnya.

9. Sakae Ichihara, Ir. Yahya Sunarya dan Ir. Koswara Yudawinata, tahun 1979,

meneliti tentang endapan bijih di daerah Sangkaropi dan Rumanga

10. Tetsuo Yoshida, Chaerullah Hasbullah, dan Tohru Ohtagaki, tahun 1982,

meneliti tentang endapan tipe Kuroko di daerah Sangkaropi

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Batuan Dan Mineral

2.1.1 Siklus Batuan

Siklus batuan menggambarkan seluruh proses yang dengannya batuan

dibentuk, dimodifikasi, ditransportasikan, mengalami dekomposisi, dan dibentuk

kembali sebagai hasil dari proses internal dan eksternal Bumi. Siklus batuan ini berjalan

secara kontinue dan tidak pernah berakhir. Siklus ini adalah fenomena yang terjadi di

kerak benua (geosfer) yang berinteraksi dengan atmosfer, hidrosfer, dan biosfer dan

digerakkan oleh energi panas internal Bumi dan energi panas yang datang dari

Matahari.

Kerak bumi yang tersingkap ke udara akan mengalami pelapukan dan

mengalami transFormasi menjadi regolit melalui proses yang melibatkan atmosfer,

hidrosfer dan biosfer. Selanjutnya, proses erosi memindahkan regolit dan kemudian

mengendapkannya sebagai sedimen. Setelah mengalami deposisi, sedimen tertimbun

dan mengalami kompaksi dan kemudian menjadi batuan sedimen. Kemudian, proses-

proses tektonik yang menggerakkan lempeng dan pengangkatan kerak bumi

menyebabkan batuan sedimen mengalami deFormasi. Penimbunan yang lebih dalam

membuat batuan sedimen menjadi batuan metamorik, dan penimbunan yang lebih

dalam lagi membuat batuan metamorfik meleleh membentuk magma yang dari magma

ini kemudian terbentuk batuan beku yang baru.Pada berbagai tahap siklus batuan ini,

tektonik dapat mengangkat kerak bumi dan menyingkapkan batuan sehingga batuan

tersebut mengalami pelapukan dan erosi. Dengan demikian, siklus batuan ini akan

terus berlanjut tanpa henti.

5
Dari kesimpulan diatas, jika kita hubungkan siklus batuan dengan

sedimentologi, maka batuan sedimen itu bisa berasal dari batuan apa saja, baik itu

batuan beku, batuanmetamorf, ataupun batuan sedimen itu sendiri.

2.1.2 Batuan Beku

Batuan beku adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin

dan mengeras dengan atau tanpa proses kritalisasi baik di bawah permukaan sebagai

batuan instrusif maupun di atas permukaan bumi sebagai ekstrutif. Batuan beku dalam

bahasa latin dinamakan ignis yang artinya api. Berdasarkan teksturnya batuan beku ini

bisa dibedakan lagi menjadi batuan beku plutonik dan vulkanik.

Batuan beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang relatif

lebih lambat sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar. Contoh batuan beku

plutonik ini seperti gabro, diorit, dan granit (yang sering dijadikan hiasan rumah).

Sedangkan batuan beku vulkanik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang

sangat cepat (misalnya akibat letusan gunung api) sehingga mineral penyusunnya

lebih kecil. Contohnya adalah basalt, andesit (yang sering dijadikan pondasi rumah),

dan dacit. Batuan beku insteusif atau instrusi atau plutonik adalah batuan beku yang

telah menjadi kristal dari sebuah magma yang meleleh di bawah permukaan Bumi.

Magma yang membeku di bawah tanah sebelum mereka mencapai permukaan bumi

disebut dengan nama pluton. Nama Pluto diambil dari nama Dewa Romawi dunia

bawah tanah. Batuan dari jenis ini juga disebut sebagai batuan beku plutonik atau

batuan beku intrusif. Sedangkan batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang

terjadi karena keluarnya magma ke permukaan bumi dan menjadi lava atau meledak

secara dahsyat di atmosfer dan jatuh kembali ke bumi sebagai batuan. Magma ini

dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di

mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan dapat terjadi karena salah

6
satu dari proses-proses berikut ini; penurunan tekanan, kenaikan temperatur, atau

perubahan komposisi.Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan,

dan sebagian besar batuan beku tersebut terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.

Berdasarkan keterangan dari para ahli seperti Bapak Turner dan Verhoogen tahun

1960, Bapak F.F Groun Tahun 1947, Bapak Takeda Tahun 1970, Magma didefinisikan

atau diartikan sebagai cairan silikat kental pijar yang terbentuk secara alami, memiliki

temperatur yang sangat tinggi yaitu antara 1.500 sampai dengan 2.500 derajat celcius

serta memiliki sifat yang dapat bergerak dan terletak di kerak bumi bagian bawah.

Dalam magma terdapat bahan-bahan yang terlarut di dalamnya yang bersifat volatile

atau gas (antara lain air, CO2, khlor, fluor, besi, sulfur dan bahan lainnya) yang magma

dapat bergerak, dan non-volatile atau non gas yang merupakan pembentuk mineral

yang umumnya terdapat pada batuan beku. Dalam perjalanan menuju bumi magma

mengalami penurunan suhu, sehingga mineral-mineral pun akan terbentuk. Peristiwa

ini disebut dengan peristiwa penghabluran. Tekstur Batuan Beku Tekstur pada batuan

beku umumnya ditentukan oleh tiga hal utama, yaitu kritalinitas, Granularitas dan

bentuk kristal.

A. Tekstur Batuan Beku

1. Kritalinitas

Kristalinitas merupakan derajat kristalisasi dari suatu batuan beku pada waktu

terbentuknya batuan tersebut. Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk

menunjukkan berapa banyak yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal,

selain itu juga dapat mencerminkan kecepatan pembekuan magma. Apabila magma

dalam pembekuannya berlangsung lambat maka kristalnya kasar. Sedangkan jika

pembekuannya berlangsung cepat maka kristalnya akan halus, akan tetapi jika

pendinginannya berlangsung dengan cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf.

Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu:

7
 Holokristalin, Holokristalin adalah batuan beku dimana semuanya

tersusun oleh kristal.

 Hipokristalin, Hipokristalin adalah apabila sebagian batuan terdiri dari

massa gelas dan sebagian lagi terdiri dari massa kristal.

 Holohialin, Holohialin adalah batuan beku yang semuanya tersusun dari

massa gelas.

2. Granularitas

Granularitas dapat diartikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan beku.

Pada umumnya dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu:

a. Fanerik atau fanerokristalin, Besar kristal-kristal dari golongan ini dapat

dibedakan satu sama lain secara megaskopis dengan mata telanjang. Kristal

kristal jenis fanerik ini dapat dibedakan menjadi:

 Halus (fine), apabila ukuran diameter butir kurang dari 1mm.

 Sedang (medium), apabila ukuran diameter butir antara 1–5mm.

 Kasar (coarse), apabila ukuran diameter butir antara 5–30mm.

 Sangat kasar (very coarse), apabila ukuran diameter butir lebih dari

30mm.

b. Afanitik, Besar kristal-kristal dari golongan ini tidak bisa dibedakan dengan

mata telanjang sehingga diperlukan bantuan mikroskop. Batuan dengan

tekstur afanitik dapat tersusun oleh kristal, gelas atau keduanya. Dalam

analisis mikroskopis dibedakan menjadi tiga yaitu:

 Mikrokristalin, Jika mineral-mineral pada batuan beku bisa diamati dengan

bantuan mikroskop dengan ukuran butiran sekitar 0,1–0,01mm.

 Kriptokristalin, jika mineral-mineral dalam batuan beku terlalu kecil untuk

diamati meskipun dengan bantuan mikroskop. Ukuran butiran berkisar

antara 0,01–0,002mm.

8
 Glassy, apabila batuan beku tersusun oleh gelas.

3. Bentuk Kristal

Bentuk kristal merupakan sifat dari suatu kristal dalam batuan, jadi bukan sifat

batuan secara keseluruhan.

a. Ditinjau dari pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal, yaitu:

 Euhedral, jika batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal.

 Subhedral, jika sebagian dari batas kristalnya sudah tidak terlihat lagi.

 Anhedral, jika mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.

b. Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, dikenal empat bentuk kristal, yaitu:

 Equidimensional, jika bentuk kristal ketiga dimensinya sama panjang.

 Tabular, jika bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari satu dimensi

yang lain.

 Prismitik, jika bentuk kristal satu dimensi lebih panjang dari dua dimensi

yang lain.

 Irregular, jika bentuk kristal tidak teratur.

4. Hubungan Antar Kristal

Hubungan antar kristal atau disebut juga relasi diartikan sebagai hubungan

antara kristal atau mineral yang satu dengan yang lain dalam suatu batuan. hubungan

antar kritak dapat dibagi menjadi beberapa jenis antara lain sebagai berikut:

a. Equigranular

Yaitu jika secara relatif ukuran kristalnya yang membentuk batuan berukuran

sama besar. Berdasarkan keidealan kristal-kristalnya, maka equigranular dibagi

menjadi tiga, yaitu:

 Panidiomorfik granular, yaitu jika sebagian besar mineral-mineralnya

terdiri dari mineral - mineral yang euhedral.

9
 Hipidiomorfik granular, yaitu jika sebagian besar mineral-mineralnya

terdiri dari mineral - mineral yang subhedral.

 Allotriomorfik granular, yaitu jika sebagian besar mineral-mineralnya

terdiri dari mineral-mineral yang anhedral.

b. Inequigranular

yaitu jika ukuran butir kristalnya sebagai pembentuk batuan tidak sama besar.

Mineral yang besar disebut fenokris dan yang lain disebut massa dasar atau matrik

yang bisa berupa mineral atau gelas. Struktur batuan beku sebagian besar hanya

dapat dilihat di lapangan saja, misalnya, pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur

paling khas dari batuan vulkanik bawah laut, membentuk struktur seperti bantal.

 Joint struktur, merupakan struktur yang ditandai adanya kekar-kekar yang

tersusun secara teratur tegak lurus arah aliran. Sedangkan struktur yang

dapat dilihat pada contoh-contoh batuan (hand speciment sample), yaitu:

 Masif, yaitu jika tidak menunjukkan adanya sifat aliran, jejak gas (tidak

menunjukkan adanya lubang-lubang) dan tidak menunjukkan adanya

fragmen lain yang tertanam dalam tubuh batuan beku.

 Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang-lubang yang disebabkan oleh

keluarnya gas pada waktu pembekuan magma. Lubang-lubang tersebut

menunjukkan arah yang teratur.

 Skoria, yaitu struktur yang sama dengan struktur vesikuler tetapi lubang-

lubangnya besar dan menunjukkan arah yang tidak teratur. Amigdaloidal,

yaitu struktur dimana lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral

sekunder, biasanya mineral silikat atau karbonat

 Xenolitis, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya fragmen/pecahan

batuan lain yang masuk dalam batuan yang mengintrusi. Pada umumnya

batuan beku tanpa struktur (masif), sedangkan struktur-struktur yang ada

10
pada batuan beku dibentuk oleh kekar (joint) atau rekahan (fracture) dan

pembekuan magma, misalnya: columnar joint (kekar tiang), dan sheeting

joint (kekar berlembar).

B. Batuan Beku Berdasarkan Tempat Terjadinya

1. Batuan beku Intrusif

Batuan ini terbentuk di bawah permukaan bumi, sering juga disebut batuan

beku dalam atau batuan beku plutonik. Batuan beku intrusif mempunyai karakteristik

diantaranya, pendinginannya sangat lambat (dapat sampai jutaan tahun),

memungkinkan tumbuhnya kristal-kristal yang besar dan sempurna bentuknya,

menjadi tubuh batuan beku intrusif. Batuan beku intrusi selanjutnya dapat dibagi lagi

menjadi batuan beku intrusi dalam dan batuan beku intrusi permukaan.berdasarkan

kedudukannya terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya, struktur tubuh batuan

beku intrusif terbagi menjadi dua yaitu konkordan dan diskordan.

2. Batuan Beku Ekstrusif

Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya

berlangsung dipermukaan bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang memiliki

berbagai struktur yang memberi petunjuk mengenai proses yang terjadi pada saat

pembekuan lava tersebut. Struktur ini diantaranya:

 Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan

 Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah

poligonal seperti batang pensil.

 Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpal-

gumpal. Hal ini diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan

air.

11
 Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan

beku. Lubang ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat pembekuan.

 Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral

lain seperti kalsit, kwarsa atau zeolit Struktur aliran, yaitu struktur yang

memperlihatkan adanya kesejajaran mineral pada arah tertentu akibat

aliran.

Struktur Batuan Beku adalah pembagian batuan beku berdasarkan bentuk

batuan beku dan proses kejadiannya, yang terbagi menjadi:

1. Struktur Bantal (pillow structure)

Struktur Bantal adalah struktur yang dinyatakan pada batuan ekstrusi tertentu

yang dicirikan oleh massa batuan yang berbentuk bantal, berukuran antara 30 – 60 cm

dan biasanya jarak antar bantal berdekatan dan terisi oleh bahan-bahan dari sedimen

klastik, terbentuk di dalam air dan umumnya terbentuk di laut dalam.

2. Struktur Vesikular

Struktur Vesikular adalah struktur pada batuan ekstrusi yang terdapat rongga-

rongga yang berbentuk elip, silinder maupun tidak beraturan. Terbentuknya rongga-

rongga terjadi akibat keluarnya atau dilepaskannya gas-gas yang terkandung di dalam

lava setelah mengalami penurunan tekanan.

3. Struktur Aliran

Struktur Aliran terjadi akibat lava yang disemburkan tidak ada yang dalam

keadaan homogen, karena saat lava menuju ke permukaan selalu terjadi perubahan

komposisi, kadar gas, kekantalan, dan derajat kristalisasi. Struktur aliran dicerminkan

dengan adanya goresan berupa garis-garis yang sejajar, perbedaan warna dan

teksturnya.

12
4. Struktur Kekar

Struktur Kekar adalah bidang-bidang pemisah/retakan yang terdapat dalam

semua jenis batuan, biasanya disebabkan oleh proses pendinginan tetapi ada yang

disebabkan oleh gerakan-gerakan di dalam bumi yang berlaku sesudah batuan

mengalami pembekuan. Retakan-retakan yang memotong sejajar dengan permukaan

bumi menghasilkan struktur perlapisan, sedang yang tegak lurus dengan permukaan

bumi akan menghasilkan struktur bongkah. Berikut adalah contoh-contoh dari batuan

beku:

 Granit adalah batuan beku dalam, mineralnya berbutir kasar hingga

sedang, berwarna terang, mempunyai banyak warna umumna putih,

kelabu, merah jambu atau merah.

 Granodiorit adalah batuan beku dalam, mineralnya berbutir kasar hingga

sedang, berwarna terang, menyerupai granit.

 Diorit adalah batuan beku dalam, mineralnya berbutir kasar hingga

sedang, warnanya agak gelap.

 Andesit adalah batuan leleran dari diorit, mineralnya berbutir halus,

komposisi mineralnya sama dengan diorit, warnanya kelabu.

 Gabro adalah batuan beku dalam yang umumnya berwarna hitam,

mineralnya berbutir kasar hingga sedang.

 Basal adalah batuan leleran dari gabro, mineralnya berbutir halus,

berwarna hitam.

 Batuapung dibentuk dari cairan lava yang banyak mengandung gas

2.1.3 Batuan Sedimen

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil

perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun

13
organisme, yang di endapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian

mengalami pembatuan.

A. Sedimen berdasarkan proses terjadinya:

1. Sedimen klastik yaitu diangkut dari tempat asal kemudian diendapkan tanpa

harus mengalami proses kimiawi. contohnya: breksi (kerikil dengan sudut

tajam), konglomerat (kerikil dengan sudut tumpul), pasir.

2. Sedimen kimiawi, endapan hasil pelarutan kimiawi misal: gips, batugaram.

3. Sedimen organik, dipengaruhi unsur organik. sebagai contoh batubara dan

batugamping.

B. Sedimen berdasarkan tenaga pengangkutnya:

1. Sedimen aquatis, diendapkan oleh air. Contoh batupasir dan lumpur

2. Sedimen aeolis, sedimen yang diendapkan oleh angin, tanah los dan pasir

3. Sedimen glasial, terbentuk karena tenaga gletser. Misal morena, tanah lim.

4. Sedimen marine, terbentuk oleh air laut, misal delta.

5. Sedimen fluvial, berada di dasar sungai, contoh pasir

6. Sedimen marine, didasar laut.misal batu karang, batugaram.

7. Sedimen palludal atau limnis, berada dirawa atau danau, contoh gambut,

tanah lim.

8. Sedimen glasial, contoh batu morena yang terjadi daerah es.

9. Sedimen marginal, berada di pantai.

C. Sifat–sifat utama batuan sedimen:

Adanya bidang perlapisan yaitu struktur sedimen yang menandakan adanya

proses sedimentasi.

1. Sifat klastik yang menandakan bahwa butir-butir pernah lepas, terutama

pada golongan detritus.

14
2. Sifat jejak adanya bekas-bekas tanda kehidupan (fosil). Jika bersifat hablur,

selalu monomineralik, misalnya: gypsum, kalsit, dolomit dan rijing.

Menurut R.P. Koesoemadinata, 1981 batuan sedimen dibedakan menjadi enam

golongan yaitu:

1. Golongan Detritus Kasar

Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis. Termasuk dalam

golongan ini antara lain adalah breksi, konglomerat dan batupasir. Lingkungan tempat

pengendapan batuan ini di lingkungan sungai dan danau atau laut.

2. Golongan Detritus Halus

Batuan yang termasuk kedalam golongan ini diendapkan di lingkungan laut

dangkal sampai laut dalam. Yang termasuk kedalam golongan ini adalah batulanau,

serpih, batulempung dan nepal.

3. Golongan Karbonat

Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, algae dan

foraminifera atau oleh proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan

yang terbentuk lebih dahulu dan di endpkan disuatu tempat.

4. Golongan Silika

Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara pross organik dan

kimiawi untuk lebih menyempurnakannya.

5. Golongan Evaporit

Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan kimia

yang cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut

yang tertutup, sehingga sangat memungkinkan terjadi pengayaan unsur - unsur

tertentu. Batuan-batuan yang termasuk ke dalam batuan ini adalah gip, anhidrit,

batugaram.

15
6. Golongan Batubara

Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur-unsur L. Berdasarkan atas kandungan

fosilnya, menunjukan kisaran umur Eosen Awal sampai Miosen Tengah dan lingkungan

neritik dangkal hingga dalam dan laguna, tebal Formasi diperkirakan tidak kurang dari

3000m, menindih selaras batuan Formasi Mallawa dan tertindih tidak selaras oleh

Formasi Camba, diterobosi oleh sill, retas dan stok batuan beku yang bersusunan

basalt, trakit dan diorit.

2.1.4 Batuan Metamorf

Batuan metamorf atau yang disebut juga dengan nama batuan malihan adalah

sekelompok batuan yang merupakan hasil dari ubahan atau transFormasi dari suatu

tipe batuan yang sudah ada sebelumnya (protolith) oleh suatu proses yang dinamakan

metamorfosis atau perubahan bentuk. Batuan metamorf dapat dibedakan menjadi tiga,

yaitu:

A. Batuan Metamorf Kontak

Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya suhu yang

sangat tinggi (sebagai akibat dari aktivitas magma). Contohnya batu kapur (gamping)

menjadi marmer.

B. Batuan Metamorf Dinamo

Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya tekanan yang

tinggi (berasal dari tenaga endogen) dalam waktu yang lama. Contohnya batu lumpur

(mud stone) menjadi batu tulis (slate).

C. Batuan Metamorf Kontak Pneumatolistis

Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya pengaruh

gas-gas yang ada pada magma. Contohnya kwarsa dengan gas fluorium berubah

menjadi topas.

16
Batuan metamorf terjadi karena adanya perubahan yang disebabkan oleh

proses metamorfosa. Proses metamorfosa merupakan suatu proses pengubahan

batuan akibat perubahan tekanan, temperatur dan adanya aktifitas kimia fluida atau

gas atau variasi dari ketiga faktor tersebut. Proses metamorfosa merupakan proses

isokimia, dimana tidak terjadi penambahan unsur-unsur kimia pada batuan yang

mengalami metamorfosa. Temperatur berkisar antara 2000oC–8000oC, tanpa melalui

fase cair

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya metamorfosa adalah perubahan

temperatur, tekanan dan adanya aktifitas kimia fluida atau gas (Huang, 1962).

Perubahan temperatur dapat terjadi oleh karena berbagai macam sebab, antara lain

oleh adanya pemanasan akibat intrusi magmatit dan perubahan gradien geothermal.

Panas dalam skala kecil juga dapat terjadi akibat adanya gesekan atau friksi selama

terjadinya deFormasi suatu massa batuan. Pada batuan silikat batas bawah terjadinya

metamorfosa pada umumnya pada suhu 1500oC+500oC yang ditandai dengan

munculnya mineral-mineral Karpholit, Glaukophane, Lawsonit, Paragonit, Prehnit atau

Slitpnomelan. Sedangkan batas atas terjadinya metamorfosa sebelum terjadi pelelehan

adalah berkisar 6500oC-11000oC, tergantung pada jenis batuan asalnya

Tekanan yang menyebabkan terjadinya suatu metamorfosa bervariasi

dasarnya. Metamorfosa akibat intrusi magmatik dapat terjadi mendekati tekanan

permukaan yang besarnya beberapa bar saja. Sedangkan metamorfosa yang terjadi

pada suatu kompleks ofiolit dapat terjadi dengan tekanan lebih dari 30-40kBar (Bucher

& Frey, 1994).

17
2.1.5 Bowens Reaction Series

Seri Reaksi Bowen merupakan suatu skema yang menunjukan urutan kristalisasi

dari mineral pembentuk batuan beku yang terdiri dari dua bagian. Mineral-mineral

tersebut dapat digolongkan dalam dua golongan besar yaitu:

A. Golongan mineral berwarna gelap atau mafik mineral, Terdiri dari:

1. Ultramafik

2. Mafik

3. Intermedit

4. Felsik

B. Golongan mineral berwarna terang atau felsik mineral.

Dalam proses pendinginan magma dimana magma itu tidak langsung semuanya

membeku, tetapi mengalami penurunan temperatur secara perlahan bahkan mungkin

cepat. Penurunan tamperatur ini disertai mulainya pembentukan dan pengendapan

mineral-mineral tertentu yang sesuai dengan temperaturnya Pembentukan mineral

dalam magma karena penurunan temperatur telah disusun oleh Bowen.

Sebelah kiri mewakili mineral-mineral mafik, yang pertama kali terbentuk dalam

temperatur sangat tinggi adalah Olivin. Akan tetapi jika magma tersebut jenuh oleh

SiO2 maka Piroksenlah yang terbentuk pertama kali. Olivin dan Piroksen merupakan

pasangan”Incongruent Melting”; dimana setelah pembentukkannya Olivin akan

bereaksi dengan larutan sisa membentuk Piroksen. Temperatur menurun terus dan

pembentukkan mineral berjalan sesuai dangan temperaturnya. Mineral yang terakhir

tarbentuk adalah Biotit, ia dibentuk dalam temperatur yang rendah.

18
Gambar 2.1 Bowen Reaction Series

Mineral disebelah kanan diwakili oleh mineral kelompok Plagioklas, karena

mineral ini paling banyak terdapat dan tersebar luas.Anortit adalah mineral yang

pertama kali terbentuk pada suhu yang tinggi dan banyak terdapat pada batuan beku

basa seperti gabro atau Basalt. Andesin terbentuk peda suhu menengah dan terdapat

batuan beku Diorit atau Andesit. Sedangkan mineral yang terbentuk pada suhu rendah

adalah albit, mineral ini banyak tersebar pada batuan asam seperti granit atau rhiolit.

Reaksi berubahnya komposisi lagioklas ini merupakan deret:“Solid Solution” yang

merupakan reaksi kontinue, artinya kristalisasi Plagioklas Ca-Plagioklas Na, jika reaksi

setimbang akan berjalan menerus. Dalam hal ini Anortit adalah jenis Plagioklas yang

kaya Ca, sering disebut Juga "Calcic Plagioklas", sedangkan Albit adalah Plagioklas

kaya Na ("Sodic Plagioklas / Alkali Plagioklas").

Mineral sebelah kanan dan sebelah kiri bertemu pada mineral Potasium

Feldspar ke mineral Muscovit dan yang terakhir mineral Kwarsa, maka mineral Kwarsa

merupakan mineral yang paling stabil diantara seluruh mineral Felsik atau mineral

Mafik, dan sebaliknya mineral yang terbentuk pertama kali adalah mineral yang sangat

tidak stabil dan mudah sekali terubah menjadi mineral lain.

19
2.2 Geomorfologi Regional Pangkep

2.2.1 Geomorfologi Regional

Pada Lembar Pangkajene dan Watampone bagian Barat (Rab. Sukamto,1982)

pada pegunungan bagian barat menempati hampir setengahnya luas daerah, yang

melebar dibagian selatan (50km) dan menyempit dibagian Utara (22km) dengan

puncak tertingginya 1694m dan ketinggian rata–ratanya 1500m dari permukaan laut.

Pembentuknya sebagian besar batuan gunung api. Di lereng barat dan di beberapa

tempat di lereng Timur terdapat topografi karst yang mencerminkan adanya

batugamping. Di antara topografi karst pada lereng Barat terdapat perbukitan yang

dibentuk oleh batuan pada zaman Pra-Tersier. Pegunungan ini dibatasi oleh dataran

Pangkajene – Maros yang luas, dan sebagian merupakan lanjutan di dataran

sekitarnya.

Pegunungan yang di Timur relatif lebih sempit dan lebih rendah, dengan

puncaknya rata–rata setinggi 700m dari permukaan air laut, sedangkan yang tertinggi

adalah 787m dimana sebagian besar pegunungan ini tersusun dari batuan gunung api.

Di bagian selatannya selebar 20km dan lebih tinggi, tetapi ke Utara menyempit dan

merendah dan akhirnya menunjam ke bawah batas antara lembah Walanae dan

dataran Bone. Pada bagian Utara pegunungan ini mempunyai topografi karst yang

permukaanya sebagian berkerucut.Batasnya pada bagian Timur Laut adalah dataran

Bone yang luas dan menempati hampir sepertiga bagian Timur.

Lembah Walanae yang memisahkan kedua pegunungan tersebut dibagian Utara

selebar 35km, tetapi di bagian Selatan hanya 10km. Ditengah terdapat Sungai Walanae

yang mengalir ke Utara. Sedangkan bagian Selatan berupa berbukitan rendah dan

dibagian Utara terdapat dataran alluvium yang sangat luas yang mengelilingi Danau

Tempe.

20
2.2.2 Stratigrafi Regional

Untuk Stratigrafi Regional daerah penelitian disusun oleh berbagai jenis litologi

dari berbagai Formasi yang ergolongke dalam satuan batuan tertentu berikut akan

dibahas mengenai stratigrafi regional daerah penelitian berdasarkan batuan tertua ke

yang termuda.

A. Kompleks Basement

Kompleks basement terdiri atas dua satuan batuan berdasarkan proses

pembentukanya, antara lain :

1. Satuan Sekis (Batuan Malihan)

Sebagian besar terdiri atas sekis dan sedikit gneiss, dimana secara megaskopis

terlihat mineral-mineral diantaranya glaikopan, garnet, epidot, mika dan klorit. Batuan

malihan ini umumnya berpandanan miring ke arah Timur-Laut, sebagian besar

trebreksikan dan tersesarnaikan ke arah Barat-Daya, satuan ini tebalnya tidak kurang

dari 2000m dan bersentuhan dengan sebagian batuan disekitarnya. Penarikan kalium

atau argon diperoleh umur 111 juta tahun (Obradovich, 1974).

2. Satuan Ultrabasa

Peridotit, sebagian besar terserpentinitkan, berwarna hijau tua sampai

kehitaman, sebagian besar terbreksikan dan tergerus melalui sesar naik kea rah Barat-

daya. Pada bagian yang pejal terlihat terlihat struktur berlapis dan beberapa tempat

mengandung lensa kromit.Satuan ini tebalnya tidak kurang dari 2500 meter, dan

mempunyai sentuhan sesar dengan batuan disekitarnya.

3. Satuan intrusi Trakit

Terobosan trakit berupa stok, sill dan retas. Bertekstur porfiri kasar dengan

fenokris sanidin dengan warna putih keabuan sampai sampai kelabu muda. Di Tanete

Riaja Trakit menerobos batugamping Formasi Tonasa dan di Utara Soppeng

21
menerobos batuan gunung api Soppeng Penarikan Kalium trakit menghasilkan umur

10,9 juta tahun.

B. Formasi Balangbaru

Sedimen tipe Flysch, dimana batupasir berselingan dengan batulanau,

batulempung, serpih bersisipan konglomerat, Tufa dan lava, dibeberapa tempat

konglomerat dengan susunan basalt, andesit, diorit, serpih, sekis kwarsa dan basemen

batupasir, pada umumnya padat dan sebagian serpih terkesikan, Formasi ini

mempunyai ketebalan sekitar 2000m tertindih tidak selaras Formasi Mallawa dan

batuan gunung api terpropilitkan, dan menindih tidak selaras kompleks tektonik

Bantimala.

C. Formasi Tonasa

Terdiri atas batugamping koral pejal, sebagian terhablurkan, berwarna putih

dan kelabu muda, batugamping bioklastika dan kalkarenit, berwarna putih coklat muda

dan kelabu muda, sebagian berlapis dan berselingan dengan napal globigerina tufaan,

bagian bawahnya mengandung batugamping berbitumen, setempat bersisipan breksi

batugamping dan batugamping pasiran. Di daerah Ralla ditemukan batugamping yang

mengandung banyak serpihan sekis dan batuan ultramafik. Batugamping berlapis

sebagian mengandung banyak foraminifera kecil dan dan beberapa lapisan napal

pasiran mengandung banyak kerang (pelecipoda) dan siput (gastropoda) besar.

Batugamping pejal pada umumnya terkekarkan kuat, di daerah Tanete Riaja, terdapat

tiga jalur napal yang berselingan dengan jalur batugamping berlapis.

Berdasarkan atas kandungan fosilnya, menunjukan kisaran umur Eosen Awal

sampai Miosen Tengah, dan lingkungan neritik dangkal hingga dalam dan laguna, tebal

Formasi diperkirakan tidak kurang dari 3000m, menindih selaras batuan Formasi

Mallawa dan tertindih tidak selaras oleh Formasi Camba, diterobosi oleh sill, retas dan

stok batuan bekuyang bersusunan basalt, trakit dan diorit.

22
Batugamping Formasi Tonasa oleh Wilson (1995) dibagi menjadi lima bagian

berdasarkan fasiesnya. Biru area Kabupaten Bone, Ralla area Kabupaten Barru, Central

area Kabupaten Pangkep, Pattunuang Asuearea Kabupaten Maros dan Nasara Area

Kabupaten Jeneponto. Daerah lokasi penelitian disusun oleh fasies redeposit terdiri dari

batugamping fragmental berselingan dengan napal, dibeberapa tempat menunjukan

batugamping dengan komponen foram besar, algae serta koral.

D. Formasi Camba

Terdiri atas batuan sediment laut berselingan dengan batuan gunung api,

batupasir tufa berselingan dengan tufa, batupasir, batulanau, batulempung,

konglomerat dan breksi gunung api, dan setempat dengan batubara berwarna

beraneka, putih, coklat, kuning, kelabu muda sampai kehitaman umunya mengeraas

kuat dan sebagian kurang padat, berlapis dengan tebal antara 4cm-100cm.

Tufanya berbutir halus hingga lapilli, tufa lempungan berwarna merah

mengandung banyak mineral Biotit, Konglomerat dan breksinya terutama komponen

andesit dan basal dengan ukuran antara 2cm-40cm. Batugamping pasiran dan

batupasir gampingan mengandung pecahan koral dan molusca. Batulempung

gampingan kelabu tua dan napal mengandung pecahan foram kecil dan molusca.Fosil-

fosil yang ditemukan pada satuan ini menunjukan kisaran umur Miosen Tengah-Miosen

Akhir (N.9-N.15) pada lingkungan neritik. Ketebalan satuan sekitar 5000m. Menindih

tidak selaras batugamping Formasi Tonasa dan Formasi Mallawa. Mendatar berangsur

berubah menjadi bagian bawah dari Formasi Walanae. Diterobos oleh retas, sill dan

stock bersusunan basalt piroksin, andesit dan diorit.

E. Anggota Batuan Gunung api

Batuan gunung api bersisipan sedimen laut, breksi gunung api, lava,

konglomerat gunung api dan tufa, berbutir halus hingga lapili, bersisipan batupasir

tufaan, batupasir gampingan, batulempung mengandung sisa tumbuhan batugamping

23
dan napal. Batuannya bersusunan basalt dan diorit, berwarna kelabu muda, kelabu tua

dan coklat. Penarikan kaluim/argon pada batuan basalt oleh Indonesian Golf Oil

berumur 17,7 juta tahun dasit dan andesit berumur 8,93 juta tahun dan 9,92 juta

tahun (Obradovich, 1972) dan basalt dari Barru menghasilkan 6,2 juta tahun (Leewen

1978).

Batuannya diendapkan kedalam lingkungan neritik sebagai fasies gunung api

Formasi Camba, menindih tidak selaras batugamping Formasi Camba dan batuan

Formasi Mallawa, sebagian terbentuk dalam lingkungan darat, setempat breksi gunung

api mengandung sepian batugamping tebal diperkirakan sekitar 4000m.

F. Endapan Undak

Terdiri atas kerikil, pasir dan lempung membentuk datarn rendah bergelombang

disebelah Utara Pangkajene. Satuan ini dapat dibedakan secara morfologi dari endapan

alluvium yang lebih muda.

G. Endapan Alluvium Danau dan Pantai

Terdiri atas lempung, Lanau, Lumpur pasir dan kerikil disepanjang sungai-

sungai besar dan pantai. Endapan pantai setempat mengandung sisa kerang dan

batugamping koral.

2.2.3 Struktur Geologi Regional

Lengan Selatan Pulau Sulawesi secara struktural dibagi atas dua bagian yaitu

Lengan selatan bagian Utara dan Lengan Selatan bagian Selatan yang sangat berbeda

struktur geologinya. Lengan Selatan bagian Utara berhubungan dengan orogen,

sedangkan Lengan Selatan bagian Selatan memperlihatkan hubungan ke arah jalur

orogen yang merupakan sistem pegunungan Sunda. Perkembangan struktur Lengan

Selatan bagian Utara pulau Sulawesi di mulai pada zaman Kapur, yaitu terjadinya

perlipatan geosinklin disertai dengan kegiatan vulkanik bawah laut dan intrusi gabro.

24
Bukti adanya intrusi ini terlihat pada singkapan disepanjang pantai Utara – Selatan

Teluk Bone. (Van Bemellen, 1949).

Batuan tua yang masih dapat diketahui kedudukan struktur stratigrafi dan

tektonikanya adalah sedimen flysch Formasi Balangbaru dan Formasi Marada, bagian

bawah tidak selaras menindih batuan yang lebih tua, dan bagian atasnya ditindih tak

selaras oleh batuan yang lebih muda. Batuan yang lebih tua merupakan masa yang

terimfikasi melalui sejumlah sesar sungkup, terbreksikan, tergerus dan sebagian

mencampur dengan malange.Berdasarkan himpunan batuannya diperkirakan Formasi

Balangbaru dan Formasi Marada merupakan endapan lereng didalam sistem busur

palung pada zaman Kapur Akhir, dan gejala ini menunjukkan bahwa Malange di daerah

Bantimala terjadi sebelum Kapur Akhir.

Pada kala Palaeosen kegiatan gunung api bawa laut yang hasil erupsinya dapat

terlihat di timur Bantimala dan daerah Barru (Lembar Ujung Pandang, Benteng dan

Sinjai). Pada bagian barat berupa tepi dataran yang dicirikan oleh endapan darat dan

batubara pada Formasi Mallawa, sedangkan di daerah timur, berupa cekungan laut

dangkal tempat pengendapan batuan klastik bersisipan Karbonat Formasi

Salokalupang. Pengendapan Formasi Mallawa mungkin hanya berlangsung selama awal

Pliosen, sedangkan Formasi Salokalupang berlangsung hingga Oligosen akhir.

Sejak Eosen Akhir sampai Miosen Awal di daerah Barat terendapkan batuan

karbonat yang luas. Dimana hal ini menunjukkan bahwa daerah ini merupakan

paparan laut dangkal yang luas, yang kemudian berangsur – angsur menurun atau

mengalami pendangkalan sejalan dengan adanya proses pengendapan yang terjadi.

Sedangkan pada daerah bagian Timur terjadi proses gunung api yang dimulai

sejak Miosen Akhir dimana hal ini ditunjukkan pada daerah Kalamiseng dan Soppeng.

Akhir kegiatan gunung api ini diikuti oleh tektonik yang menyebabkan terjadinya

permulaan terban Walanae yang kemudian menjadi cekungan tempat pembentukan

25
Formasi Walanae. Peristiwa ini kemungkinan besar berlangsung sejak awal Miosen

Tengah, dan mengalami penurunan perlahan-lahan selama terjadi proses sedimentasi

sampai Kala Pliosen. Proses menurunnya Terban Walanae dibatasi oleh dua sistem

sesar normal, yaitu sesar Walanae yang seluruhnya nampak hingga sekarang disebelah

Timur, dan sesar Soppeng yang hanya tersingkap tidak menerus di sebelah barat.

Selama terbentuknya Terban Walanae, ditumur kegiatan gunung api yang

hanya terjadi dibagian sealatan sedangkan di bagian barat terjadi kegiatan gunung api

yang hampir merata dari selatan ke utara, dan ini berlangsung dari Miosen Tengah

sdampai Pliosen. Dimana hal ini, bentuk kerucutnya masih dapat diamati di daerah

sebelah barat yang diantaranya Puncak Maros dan Gunung Tondongkarambu serta

tebing melingkar yang mengelilingi gunung Benrong yang berada di utara gunung

Tondongkarambu dan ini mungkin merupakan sisa kaldera.

Sejak Miosen Tengah terjadi sesar utama yang mempunyai arah Utara – Barat

Laut dan tumbuh sampai setelah Pliosen.Perlipatan besar yang berarah hampir sejajar

dengan sesar utama diperkirakan terbentuk sehubungan adanya tekanan mendatar

yang kira–kira berarah Timur–Barat pada waktu sebelum Akhir Pliosen. Tekanan ini

mengakibatkan pula adanya sesar sungkup lokal yang menyesarkan batuan pra–Kapur

Akhir di daerah Bantimala ke atas batuan Tersier. Perlipatan penyesaran yang relatif

lebih kecil dibagian timur Lembah Walanae dan dibagian barat timur Lembah Walanae

dan dibagian barat pegunungan Barat, yang berarah Barat Laut–Tenggara dan

merencong, kemungkinan besar terjadi oleh gerakan mendatar ke kanan sepanjang

sesar besar..

26
2.3 Geologi Regional Enrekang

2.3.1 Geomorfologi

Geologi di daerah penyelidikan terdapat dalam zona Mandala Sulawesi Barat,

terletak diantara dua buah patahan naik yang berarah hampir Utara-Selatan berupa

perbukitan kapur sangat terjal dari Formasi Makale yang terdapat pada bagian Barat,

dan perbukitan tinggi Gunung Latimojong yang terdapat pada bagian Timur daerah

penyelidikan. Pada bagian Tengah yaitu diantara kedua tinggian tersebut terdapat

aliran sungai yang umumnya mengalir anak-anak sungai dari arah Timur dan Timur

Laut menuju kearah Selatan dengan pola aliran dendritik dan semi parallel menuju

sungai utama yaitu Sungai Mataallo yang mengalir dari arah Utara ke Selatan.

Umumnya aliran-aliran sungai yang terdapat di daerah penyelidikan tersebut dikontrol

oleh adanya patahan-patahan naik dan mendatar, sehingga pola-pola struktur yang

ada didaerah penyelidikan tersebut dapat dilacak dengan mudah

2.3.2 Morfologi Daerah Penyelidikan.

Morfologi daerah penyelidikan umumnya dapat dikelompokkan menjadi tiga

satuan morfologi yaitu:

A. Satuan morfologi dataran.

B. Satuan morfologi perbukitan bergelombang

C. Satuan morfologi perbukitan terjal.

Satuan morfologi dataran, umumnya terdapat pada bagian Tengah dan sedikit

pada bagian Utara, Selatan dan Timur, yang menempati sekitar 10% daerah

penyelidikan, umumnya merupakan lahan persawahan dan tempat pemukiman

penduduk. Mempunyai rata-rata ketinggian sekitar 250 meter sampai 500 meter dari

permukaan laut.

27
Satuan morfologi perbukitan bergelombang sedang, umumnya terdapat pada

bagian Utara, Timurlaut, dan Tengah daerah penyelidikan yang menyebar hampir

berarah Utara-Selatan, menempati sekitar 50% daerah penyelidikan, umumnya berupa

lahan hutan industri dan sedikit perkebunan serta pemukiman penduduk. Mempunyai

rata-rata ketinggian sekitar 500m sampai 1000m dari permukaan laut.

Satuan morfologi perbukitan terjal, umumnya terdapat pada bagian Timur,

Barat, Barat Laut dan Utara, yang menyebar tidak merata, menempati sekitar 40%

daerah penyelidikan, umumnya berupa hutan lindung dan hutan konservasi, kurang

ditempati penduduk, mempunai rata-rata ketinggian antara 1000 meter sampai lebih

dari 2000 meter dari permukaan laut.

2.3.3 Stratigrafi Daerah Penyelidikan.

Batuan tertua yang tersingkap di daerah penyelidikan adalah batuan-batuan

dari Formasi Latimojong yang berumur Kapur Akhir. Secara umum batuan formasi ini

telah mengalami pemalihan lemah sampai sedang, yang terdiri dari batuan serpih, filit,

rijang, marmer, kwarsit dan breksi terkersikkan. Tebal formasi ini diperkirakan lebih

dari 1000m dan diendapkan pada lingkungan laut dalam.

Formasi Toraja, diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Latimojong.

Pada bagian bawah formasi ini berupa batuan serpih yang berwarna cokelat

kemerahan (ungu tua) dengan sisipan lapisan batupasir kwarsa 20cm sampai 100cm

yang berstruktur sedimen turbidit halus dan tidak bereaksi terhadap cairan HCl 10%.

Pada bagian atas formasi ini berupa batuan serpih napalan yang berwarna secara

berangsur menjadi cokelat sampai abu-abu gelap, dan terdapat sisipan-sisipan

batugamping kelabu hingga putih yang berupa lensa-lensa besar mengandung

Numulites dari Anggota Batugamping Toraja. Diduga umur dari Formasi Toraja

28
tersebut adalah Eosen sampai Miosen dan diendapkan pada lingkungan Laut Dalam

sampai Laut Dangkal. Tebal formasi ini diperkirakan lebih dari 1000m.

Formasi Date, diendapkan secara selaras diatas Formasi Toraja. Pada bagian

bawah terdiri dari batuan serpih yang berwarna abu-abu muda sampai cokelat muda,

napalan, sedangkan pada bagian atas diselingi batu lanau, batugampingan dan

batupasir gampingan, juga terdapat sisipan lapisan batubara 20cm sampai 80cm.

Kandungan fosil Foraminifera menunjukkan umur Oligosen Tengah sampai Miosen

Tengah dengan lingkungan pengendapan laut dangkal sampai rawa-rawa. Pada

Formasi Date tersebut diendapkan pula batugamping terumbu dari Formasi Makale.

Formasi Makale, yang diendapkan secara berjari-jemari terhadap Formasi Date,

berupa batugamping terumbu yang terbentuk dalam lingkungan laut dangkal, diduga

berumur Miosen Awal sampai Miosen Tengah.

Formasi Loka, yang diendapkan secara selaras terhadap Formasi Date, tapi

tidak selaras terhadap Formasi Toraja, yang berupa batuan epiklastik gunung api,

terdiri dari batupasir andesitan, batulanau, konglomerat dan breksi. Berlapis hingga

massif yang merupakan endapan darat hingga delta dan laut dangkal. Fosil-fosil

Foraminifera menunjukkan umur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir. Tebal Formasi

ini diperkirakan hingga mencapai ratusan meter.

Batuan Gunung api Walimbong, yang diendapkan secara tidak selaras di atas

Formasi Loka dan Formasi Date, berupa endapan lava bersusunan basal sampai

andesit, sebagian lava bantal, breksi andesit piroksin, breksi andesit trakit,

mengandung feldspatoit, yang diendapkan dalam lingkungan laut. Batuan Gunung api

Walimbong tersebut diperkirakan berumur Mio-Pliosen, dengan dugaan ketebalan

lapisan hingga ratusan meter.

Pengamatan lingkungan pengendapannya yang diawali dari diendapkannya

batuan Formasi Toraja pada lingkungan Laut Dalam hingga diendapkannya batuan

29
Formasi Date pada lingkungan Laut Dangkal dan rawa-rawa, yang akhirnya

diendapkannya batuan dari Formasi Loka pada lingkungan delta sampai darat, maka

disimpulkan bahwa siklus sedimentasi di daerah penyelidikan tersebut telah mengalami

siklus regresi.

2.3.4 Struktur Geologi.

Secara tektonik geologi, bahwasannya daerah penyelidikan terletak dalam Zona

Mandala Sulawesi Barat, yang mana terdapat sekitar dua buah patahan naik yang

hampir berarah Utara-Selatan dan membusur ke arah Barat serta patahan normal yang

berarah Barat Laut-Tenggara, sedangkan patahan mendatar umumnya terletak pada

bagian Timur dan Barat daerah penyelidikan, yang umumnya hampir berarah Barat-

Timur dan Barat Laut-Tenggara yang umumnya memotong motong patahan naik. Arah

jurus lapisan batuan umumnya berarah Barat Laut-Tenggara, yaitu searah dengan

lipatan antiklin dan sinklin, sedangkan besarnya kemiringan lapisan batuan yaitu

sangat bervariasi, berkisar dari 200o sampai 750o, hal ini disebabkan oleh adanya

kemiringan blok faulting yang tidak merata akibat dari adanya patahan-patahan naik

dan patahan geser karena tektonik

2.4 Geologi Regional Toraja

2.4.1 Geomorfologi Regional

Daerah penelitian merupakan salah satu daerah paling utara dari propinsi

Sulawesi Selatan ,menurut Bemlen (1946) daerah Tanah Toraja ini termasuk lengan

Selatan Sulawesi Selatan yang secara fisiografi terbagi dua bagian yaitu lengan

Selatan bagian Utara dan lengan Selatan bagian Selatan. Lengan Selatan bagian Utara

meliputi daerah poros Tenggara barat laut yaitu Palopo sampai ke pantai Barat muara

sungai Karama dan cekungan Tempe pada sisi yang lain, kemudian dilanjutkan dengan

30
proses Tenggara–Barat Laut dari muara Sungai Cenrana melalui danau Tempe sampai

muara sungai Sa’dan.

Pada umumnya daerah Tanah Toraja adalah berupa perbukitan, pegunungan

dan hanya sebagian kecil yang merupakan pedataran dan lembah sempit. Daerah

Tanah Toraja berada pada ketinggian sekitar 600m–2600m dari muka laut. Letak

topografi daerah ini di kontrol oleh jenis batuan, struktur geologi dan proses geologi

muda seperti erosi dan pelapukan. Daerah perbukitan dan pegunungan di kontrol oleh

batuan yang kompak dan resisten dan topografi karst yang penyebarannya sempit

mengikuti kontak sesar. Pada perbukitan yang disusun batuan sedimen piroklastik,

tidak begitu terjal dan relatif tumpul akihat proses eksogen aktif berupa erosi yang

bekerja cukup tinggi.

Daerah penelitian termasuk dalam satuan pedataran tinggi yang terletak di

bagian tengah mengarah ke timur, tepatnya di Rantepao. Penyebarannya mengikuti

dataran banjir sungai Saddan, diapit perbukitan dengan ketinggian 800m–900m dari

muka laut. Kemiringan lereng antara 0o- 10o, lapisan penutup berupa soil hasil residual

batuan sekitar dan hasil longsoran.

2.4.2 Stratigrafi regional

Menurut Rab Sukamto daearah Sulawesi ini dapat dibagi mejadi tiga Mandala

Geologi, yaitu Mandala Sulawesi Barat, Mandala Sulawesi Timur serta Mandala Banggai

Sula. Daerah Tanah Toraja yang merupakan daerah di Sulawesi Selatan termasuk

kedalam Mandala Sulawesi Barat.

Secara umum stratigrafi daerah Tanah Toraja tersusun oleh bebberapa jenis

batuan seperti batuan sedimen, batuan gunung api batuan terobosan dan batuan

metamorf yang berumur kuarter–tersier. Ketebalannya belum dapat diketahui sebab

adanya pengaruh metamorfisme yang kuat pada batuan sehingga terjadi perlipatan

31
yang rumit. Umur batuan tersebut berumur Kapur, serta termasuk dalam Formasi

Latimojong.

Batuan tertuanya adalah Formasi Latimojong, lalu Formasi Toraja, dengan

anggota Rantepao yang menindih tidak selaras dengan Formasi Latimojong dengan

batuan penyusun seperti Serpih, Serpih Napal, Batupasir Kwarsa, Konglomerat, serta

Batubara, Tetl dengan batfan penyusun Batugamping, berdasarkan kandungan maka

formasi ini diduga berumur Eosen. Formasi Toraja tertindih tidak selaras dengan

batuan gunung api yang bersisipan dengan Batugamping, tertindih tidak selaras

dengan Formasi Riau. Formasi Riau tertindih tidak selaras dengan batuan unung api

Talaya menjemari dengan batuan Gunung api Adang. Di bagian tengah lembar Tanah

Toraja tersingkap tufa Barufu, dengan batuan termuda berupa Endapan sungai dan

Endapan kipas alluvium

2.4.3 Struktur Geologi

Struktur di lembar Tana Toraja adalah sesar normal dan sesar naik yang

berarah utama Timur–Selatan Barat Daya, Barat-Timur dan Barat Laut–Selatan

Menenggara. Pada kala Miosen Bagian Tengah–Miosen Akhir Bagian Atas terjadi

tektonik disertai kegiatan gunung api yang menghasilkan batuan gunung api Talaya,

Tufa Barufu. Batuan gunung api Talaya tersusun oleh andesit – basalt yang keatas

susunannya berubah menjadi leucit basalt hingga terbentuk batuan Gunung api Adang.

Pada kala Miosen Tengah Bagian Akhir kegiatan gunung api di sertai terobosan batholit

granit Mamasa dan Granit Kambuno menerobos batuan yang lebih tua

32
BAB III

METODE PENGAMBILAN DATA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Peralatan Kelompok

1. Kompas Geologi

Alat ini berfungsi sebagai alat pengukur arah pada suatu titik ataupun

kelurusan struktur, mengukur kemiringan lereng, dan mengukur jarak pengambilan

gambar

Gambar 3.1 Kompas geologi

2. Palu Geologi

Alat ini digunakan untuk memecahkan batuan yang akan dijadikan sampel.

Bagian runcing untuk memecahkan batuan beku, sedangkan bagian tumpul untuk

memecahkan batuan sedimen dan metamorf

Gambar 3.2 Palu geologi

33
3. Lup

Lup adalah alat ini digunakan untuk mengamati sampel dilapangan, baik itu

mineral, butir, tekstur, dan lain-lain

Gambar 3.3 Lup

4. Peta Topografi

Alat ini digunakan untuk memberikan inFormasi mengenai keadaan, lokasi,

stasiun, rute perjalanan dan komunikasi

Gambar 3.4 Peta Topografi

5. Roll Meter

Alat ini digunakan untuk mengukur dimensi suatu singkapan, yang diukur ialah

panjang lebar dan tinggi

Gambar 3.5 Roll Meter

34
3.1.2 Peralatan Individu

1. Tas Carrier

Alat ini digunakan untuk menyimpan alat-alat yang dibutuhkan saat melakukan

pengambilan sampel dan untuk menyimpan sampek sampel batuan individu

Gambar 3.7 Tas Carrier

2. Jas Hujan

Jas hujan adalah Aaat ini digunakan untuk melindungi barang bawaan yg

mudah rusak terkena air saat hujan turun

Gambar 3.8 Jas Hujan

3. Sepatu Gunung

Alat ini digunakan untuk melindungi kaki ketika berpijak, agar terhindar dari

cidera pada saat fieldtrip

Gambar 3.9 Sepatu Gunung

35
4. Helm Proyek

Alat ini digunakan untuk melindungi kepala pada saat pengambilan sampel

yang dihancurkan menggunakan palu geologi

Gambar 3.10 Helm Proyek

5. Kantong Sampel

Alat ini dugunakan untuk menyimpan sampel batuan para praktikan agar tidak

tercampur dengan sampel lain

Gambar 3.11 Kantong Sampel

6. Buku Lapangan

Alat ini digunakan untuk menuliskan semua data sementara yang diperoleh saat

berada dilapangan. Mulai dari data hasil pengukuran, sketsa, deskripsi, dan lain-lain

Gambar 3.12 Buku Lapangan

36
7. Pita Meter

Pita meter digunakan untuk mengukur singkapan batuan baik geometri maupun

jarak antara titik pengambilan gambar dengan singkapan

Gambar 3.13 Pita Meter

8. Papan Pengalas

Alat ini digunakan dilapangan sebagai pengalas saat menulis data data laporan

sementara, dan juga dijadikan untuk alat untuk mengukur strike dan dip suatu lereng

Gambar 3.14 Papan Pengalas

9. Celana Kargo

Alat ini digunakan sebagai pelindung diri pada saat dilapangan sekaligus tempat

menyimpan alat-alat yang dibutuhkan.

Gambar 3.15 Celana Kargo

37
10. Pakaian Lapangan

Digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari sinar matahari ketika

pengamatan berlangsung

Gambar 3.16 Baju Lapangan

3.1.3 Bahan

1. Larutan HCl

Alat ini di gunakan untuk membantu dalam mendeskripsi batuan dengan

meneteskannya ke jenis batuan yang mengandung karbonat

Gambar 3.17 Larutan HCl

2. Kertas HVS A4 70 Gsm

Alat ini digunakan untuk menuliskan data-data laporan sementara selama

fieldtrip dilaksanakan

Gambar 3.18 Kertas HVS

38
3. Pulpen

Pelpen merupakan alat ini digunakan sebagai alat untuk menulis data data

laporan sementara

Gambar 3.19 Pulpen

4. Pensil

Pensil merupakan alat ini digunakan sebagai alat untuk menulis data data

laporan sementara

Gambar 3.20 Pensil

5. Pensil Warna

Pelpen merupakan alat ini digunakan sebagai alat untuk menulis data data

laporan sementara

Gambar 3.21 Pensil Warna

39
6. Spidol Permanent

Alat ini digunalan untul menuliskan keterangan keterangan pada kantong

sampel dan digunakan juga untuk memberikan tanda pada pengukuran strike

Gambar 3.22 Spidol Permanent

7. Stapler

Alat ini digunakan untuk menyatukan kertas-kertas yang berisikan data-data

pada setiap stasiun di lapangan

Gambar 3.23 Stapler

3.2 Metode pengambilan data

3.2.1 Pengambilan Data Lokasi

A. Penjelasan

Pengambilan data lokasi dilakukan dengan plotting. Plotting adalah

menggambar atau membuat titik, membuat garis dan tanda tanda tertentu dipeta.

Tanda-tanda tersebut kemudian di letakkan pada peta.

40
B. Alat yang digunakan:

1. GPS

2. pera topografi

3. pulpen atau pensil

C. Tahapan

Pertama tentukan posisi pada saat ingin menentukan lokasi pada GPS, lalu

mulailah menentukan wilayah, jika sudah berikan nomor atau kode pada peta

topografi.

3.2.2 Pengambilan Data Singkapan

A. Penjelasan

Singkapan atau outcrop adalah bagian dari batuan dasar yang masih utuh

(belum terubah oleh pelapukan) yang tersingkap, sebagai akibat adanya pengikisan

oleh gaya-gaya yang bekerja pada lapisan penutupnya.

B. Alat yang digunakan:

1. Roll meter

2. Kamera

3. Pembanding

4. Buku lapangan

5. Pensil

6. Kompas Geologi

41
C. Tahapan

Pertama lakukan pengukuran terhadap dimensi singkapan yang mana

menggunakan roll meter, kedua membuat sketsa dengan pensil pada buku lapangan,

sketsa yang dibuat sketsa keseluruhan serta secara langsung memberi keterangan

gambarnya, ketiga ambil gambar dengan kamera handphone dan berikan pembanding

pada singkapan yang ingin dipotret, kemudian ukur jarah pengambilan arah

menggunakan kompas geologi, kemudian mendeskripsikan singkapan dengan

memberikan gambaran umum atas apa yang dilihat.

42
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Stasiun 1

Pada pengamatan tanggal 25 November 2016 tepatnya pukul 11.25 bertempat

di Kelurahan Samalewa, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep yg dijadikan sebagai

stasiun pertama. Stasiun 1 terletak pada kordinat X = 4o 47’ 51,29”, Y = 119o 32’

30,19”, Elevasi 3,3m

Gambar 4.1 singkapan batugamping daerah Pangkep beserta sketsanya

43
Pada stasiun 1, ditemukan batuan yang vegetasinya tertutupi oleh tumbuhan

menjalar. Ketika telah dibersihkan, terlihat jelas sebuah batuan berwarna hijau

kecoklatan yang yang permukaannya tidak rata. Lingkungan di sekitar singkapan

terlihat lembab karena berada di bawah kaki gunung serta tepat di pinggir jalan poros.

Dikarenakan banyaknya tanaman menjalar, maka dilakukan terlebih dahulu

pembersihan tanaman dari singkapan tersebut. Saat ingin mengambil sampel, hal

yang pertama dilakukan yaitu mengambil foto singkapan. Didapatlah arah

pengambilan gambar N 142o E dengan jarak pengambilan gambar 2,1m.

Dari pengamatan yang dilakukan, didapatkan karakteristik batu tersebut ialah

memiliki warna segar putih dan warna lapuk hijau kecoklatan, bentuk butir trigonal

berukuran < 1/16, tekstur klastik dengan struktur massif, sortasi buruk, kemas

terbuka dan ketika ditetesi larutan HCl akan mengeluarkan asap. Dari data tersebut,

dapat disimpulkan bahwa batu ini adalah batugamping karbonat

4.2 Stasiun 2

Pengamatan kedua dilakukan pada tanggal 25 November 2016 (hari pertama)

pada pukul 17:29, cuaca sedikit mendung, bertempat di Kotu, Kabupaten Enrekang

yang dijadikan sebagai stasiun 2. Stasiun 2 terletak pada kordinat X = 3o 29’ 19”, Y =

119o 47” 39,56”, Elevasi 520m

Pada stasiun 2, ditemukan singkapan yang klihatan berlapis searah vertical dari

atas ke bawah, memiliki struktur geologi yaitu perlipatan dengan yang kami amati

hanyalah salah satu sayap perlipatannya. Sebelum mengambil sampel, hal yang

pertama dilakukan yaitu mengambil foto singkapan. Didapatlah arah pengambilan

gambar N 142o E dengan jarak pengambilan gambar 2,1 meter. Selanjutnya diukur

geometri singkapan dan hasilnya yaitu 35,5 meter. Setelah itu dengan menggunakan

44
kompas geologi, kami melakuka pengukuran terhadap strike dan dip, hasil yang

didapat yaitu N 111o E / 79o

Gambar 4.2 singkapan Tufa daerah Kotu, Kab. Enrekang beserta sketsanya

Hasil pengamatan yang didapat yaitu batuan ini memiliki warna lapuk coklat

kehitaman yang ketika digores akan berwarna abu-abu. Strukturnya massif dengan

tekstur fragmental. Komposisi batuan tersebut ialah Plagioclass dan Olivine, sortasinya

45
well, kemas tertutup. Jadi dari data-data tersebut, dapat disimpulkan bahwa batuan ini

adalah batuan sedimen dengan nama Tufa.

4.3 Stasiun 3

Pengamatan dilakukan pada hari Jumat, 25 November 2016 tepatnya pukul

17:46 dengan lokasi pada lereng di enrekang yang mempunyai tempat pengamatan

terhadap Gunung Nona. Stasiun 3 terletak pada kordinat X = 3o 28’ 29,27”, Y = 119o

47’ 33,13”, Elevasi 545m

Pada stasiun ini, tidak dilakukan pengambilan sampel namun hanya

pengamatan dan pendeskripsian sketsa dikarenakan yang menjadi objek pengamatan

itu adalah Gunung Nona yang jaraknya cukup jauh. Hal yang pertama dilakukan yaitu

pengambilan gambar dari posisi bidik. Selanjutnya mengukur sasaran bidik dengan

bantuan kompas geologi serta pensketsaan objek tersebut.

Gambar 4.3 Gunung Nona daerah Kab. Enrekang beserta sketsanya

46
Jadi, karena adanya suatu patahan tersebutlah yang menyebabkan

terbentuknya bukit segitiga yang sejajar tersebut (Gunung Nona).

4.4 Stasiun 4

Pengamatan dilakukan pada hari Sabtu, 26 November 2016 (hari kedua)

tepatnya pukul 08:08 WITA dengan lokasi Tondon, Toraja Utara yang dijadikan

sebagai stasiun 4. Dalam pendeskripsiannya, daerah tempat batuan tersebut terbilang

cerah, dengan keadaan sekitar singkapan tempat batuan tersebut yang basah

ditumbuhi beberapa vegetasi-vegetasi liar, tanah merah dengan bentuk singkapan

berupa tebing. Singkapan ini terletak di pinggir jalan. Vegetasi pohon bambu juga

cukup banyak disekitar singkapan pada stasiun ini. Udara pada saat itu cukup dingin

karena posisi pengambilan sampel pada saat itu berada di dataran tinggi. Kondisi

medan pada saat itu cukup becek dikarenakan turunnya hujan beberapa menit

sebelum dilakukannya pengambilan sampel. Stasiun 4 terletak pada kordinat X = 2o 57’

26,27”, Y = 119o 57’ 2,08”, Elevasi 839m

Sebelum pengambilan sampel, seperti biasa dilakukan pengukuran terhadap

arah sasaran bidik sehingga didapatkan arah sasaran N 135o E dengan jarak

pengambilan gambar terhadap singkapan yaitu 5,27, panjang singkapan dan tinggi

singkapan berturut-turut yaitu 6,6 meter dan 9,06 meter. Ketika singkapan it di lihat

secara langsung, terlihat terdapat urat mineral dan terlihat juga struktur yang

berfoliasi. Foliasi ini terbentuk akibat tekanan yang tidak terlalu tinggi sehingga batuan

ini tergolong dalam batuan metamorf. Selanjutnya dilakukan pengukuran strike dan dip

dari singkapan dengan bantuan kompas geologi dan didapat hasil yaitu N 281o E / 54o.

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan palu geologi dan kaca mata

safety, Lalu sampel dimasukkan ke dalam kantung sampel.

47
Gambar 4.4 singkapan Batusabak daerah Tondon,Kab. Toraja Utara beserta sketsanya

Ketika sampel diamati, terlihat karakteristiknya yaitu warna segar abu-abu

dengan warna lapuk coklat. Tekstur foliasi dengan struktur Hornfelic sehingga dari

cirri-ciri tersebut, dapat disimpulkan bahwa batuan ini adalah Batusabak

48
4.5 Stasiun 5

Pada pengamatan harikedua, tepatnya hari Sabtu, 26 November 2016 pukull

08:59 dengan cuaca cerah, letak stasiun atau tempat pengamatan yaitudaerah

Tondon, Kab. Toraja Utara. Stasiun 5 terletak pada kordinat X = 2o 57’ 14,90”, Y =

119o 57’ 30,59”, Elevasi 829m

Gambar 4.5 singkapan perlipatan dan perlaapisan beserta sketsanya

Lingkungan sekitar berlumpur, singkapan ini terlihat dikarenakan adanya

kontruksi jalan. Jika dilihat secara langsung, terlihat bahwa terdapat struktur perlipatan

lengkap dengan 2 sayap dan terdapat juga struktur perlapisan. Saat pengamatan

49
singkapan, Hal yang pertama dilakukan yaitu pengambilan arah sasaran bidik sehingga

didapat hasil yaitu N 181o E, lalu pendeskripsian dalam bentuk sketsa. Selanjutnya

dengan menggunakan kompas, kami mengukur 3 pasang strike dip sayap kanan,

sayap kiri, dan perlapisan sehingga didapat data berturut-turut N 198o E / 35o, N 181o

E / 125o, N 186o E / 44o. Langkah selanjutnya yaitu melakukan pengambilan sampel

dan yang kami pilih yaitu sampel dari perlipatan. Pengambilan sampel dilakukan

dengan menggunakan palu geologi.

Ketika pengamatan terhadap batuan dilakukan, karakteristik yang diketahui

yaitu jenis batuan adalah sedimen karena mengalami perlipatan dan perlapisan,

teksturnya clay dengan struktur stratifield. Sortasi well , kemas tertutup. Data tersebut

dapat menyimpulkan bahwa batuan ini adalah Batulempung.

4.6 Stasiun 6

Pada stasiun 6, Sabtu 26 november 2016 pukul 09:47 waktu daerah setempat

tepatnya pada daerah Toraja Utara, kami melakukan pengambilan sampel batuan.

Dalam pendeskripsiannya, daerah tempat batuan tersebut terbilang cerah, dengan

keadaan sekitar singkapan tempat batuan tersebut yang basah ditumbuhi banyak

vegetasi-vegetasi liar, seperti rumput teki dan pepohonan rindang, terletak di sungai.

Stasiun 6 terletak pada kordinat X = 2o 57’ 17,87”, Y = 119o 57’ 3,17”, Elevasi 887m

Adapun dalam kegiatan pengambilan sampel, kami menggunakan palu geologi

untuk mengambil sampel tersebut dengan alat safety seperti kacamata dan helm

digunakan sebagai alat pelindung diri dalam kegiatan pengambilan sampel. Selain itu,

kami juga melakukan kegiatan pengambilan data yang diawali dengan penentuan

koordinat arah gambar dengan menggunakan kompas geologi (adapun arah yang kami

dapat yaitu N 157˚ E), selanjutnya dilakukan pengambilan foto pada singkapan dengan

50
jarak foto sesuai dengan letak koordinat yang sudah ditentukan dengan menggunakan

kompas geologi sebelumnya,

Selanjutnya dilakukan penggambaran sketsa. Objek yang akan di sketsa adalah

karakteristik dari singkapan tersebut maupun bentuk dari singkapan tersebut, setelah

pengsketsaan selesai, ukur jarak dari singkapan terhadap titik koordinat arah

pengambilan gambar dengan menggunakan roll meter (jaraknya 2,1m) kemudian

mengukur strike dan dip dengan menggunakan kompas geologi (strike dan dipnya N

246˚ E / 53˚)

Gambar 4.6 singkapan batu Grandbiorite beserta sketsanya

51
Adapun karakteristik dari sampel batuan yang kami ambil, diantaranya memiliki

warna segar kelabu bercampur putih dengan warna lapuk coklat, dengan tekstur

kristalinitas hipokristalin, granularitas faneroporifiritik, bentuk euhedral-anhedral, relasi

inequigranular, dengan struktur masif. Jadi berdasarkan pendeskripsian di atas, bisa

disimpulkan bahwa batuan tersebut tergolong batuan bekuf jenis grandbiorit.

4.7 Stasiun 7

Pada stasiun 7 pengambilan sampel ke tujuh di daerah Sangkaropi, Tanah

Toraja. Stasiun 6 terletak pada kordinat X = 2° 51’ 40,70”, Y = 119° 57’ 10,11”,

Elevasi 1157m Stasiun ini merupakan lahan pertambangan dengan nama PT. Makale

Toraja Mining yang sudah 2 tahun tidak dioperasikan. Pada stasiun ini kami mencari

sampel batuan yang berisi 2 atau lebih mineral didalamnya. Sampel yang saya ambil

memiliki 1 mineral didalamnya.

Gambar 4.7 sampel mineral Azurite beserta sketsanya

52
Mineral yang kami ambil memiliki warna lapuk wiru walaupun dalam skala kecil,

setelah digores tetap menghasilkan warna biru. Kilap yang Nampak merupakan kilap

tanah, Ceratnya berwarna biru, berat jenis antara 3,77-3,89 gram/cm3. Ketika di tetesi

HCl, akan menghasilkan uap air. Sistem kristalnya prismatic. Komposisi mineralnya

yaitu Cu3(CO3)2(OH)2. Jadi mineral ini adalah Azurite yang termasuk dalam golongan

mineral karbonat.

53
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat saya tarik dari laporan ini adalah

1. Ditemukan beberapa batuan di daerah Kab. Pangkep, Enrekang, dan Toraja

yang mempunyai beberapa manfaat dalam kehidupab sehari-hari. Batuan

tersebut memiliki karakteristik yang berbeda menurut tempat asal

terbentuknya, prosesn terjadinya serta komposisinya. Sehingga mengakibatkan

cirri fisik yang berbeda pada warna segar, warna lapuk, tekstur, dan sruktur.

Untuk mengetahui bagaimana cara mendeskripsikan jenis batuan yang terdapat

dialam, dilakukan dengan pengamatan secara langsung, mengambil sampel dan

pengujian di dalam lab

2. Pengukuran strike dan dip dilakukan dengan bantuan kompas geologi dimana

strike atau arah penyebaran singkapan berpatokan pada arah timur dan dip

atau kemiringan suatu singkapan pada arah barat.

3. Mengidentifikasi atau mendeskripsikan batuan secara langsung tidaklah

semudah yang diperkirakan. Pengambilan sampel menggunakan beberapa alat

sehingga diperlukan bimbingan dari dosen dan asisten serta beberapa alat

untuk memudahkan pengambilan sampel

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Dosen

Diharapkan bahwa dosen pembimbing memberikan bimbingan lebih banyak lagi

dalam menyelesaikan pembahasan baik batuan maupun mineral.

54
5.2.2 Saran untuk Asisten

Sebaiknya sebagai seorang asisten yang selain tugas utamanya adalah

mendampingi peserta dia juga harus biasa mencairkan suasana sewaktu waktu agar

peserta tidak terlalu kaku atau tegang saat kuliah berlangsung dan hasil yang didapat

juga mungkin akan lebih maksimal.

55
DAFTAR PUSTAKA

Djoko. 1986. Mineralogi. Nur Cahaya. Yogyakarta.

Geografi. 2013. Bowen’s Reaction Series.

Hamilton, 1979, Tectonics of the Indonesian Region, United States Government
Printing Office, Washington.

Hutchitson, S.C, 1989, Geological Evolution of South East Asia, Oxford Monographs on
Geology and Geophysics no. 13, Oxford.

Lutgens. 2006. Essenstial of geology. Pearson Prentice Hall. New Jerwey.

Magetsari, N. A.dkk.2004. Geologi fisik. ITB: Bandung.

Ratman, N. dan S. Atmawinata, 1993, Peta Geologi Lembar Mamuju, Sulawesi, skala
1:250.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Rosidi dkk., 1998, Peta Geologi Lembar Majene dan Palopo Bagian Selatan, Sulawesi,
skala 1:250.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Sukamto, R., 1978, The Structure of Sulawesi in the light of plate tectonics,
Proc.Reg.Conf.Geol.. Min. Res. Southeast Asia, Manila.

Sukamto, R. and T.O. Simanjuntak, 1983, Tectonic Relationship Between Geologic
Provines of Western Sulawesi, Eastern Sulawesi and Banggai-Sula in the light
of Sedimentological Aspects, Bull. Geol. Res. and Dev. Centre, no. 7, Bandung.

Sukido, D. Satria dan S. Koesoemadinata, 1997, Peta Geologi Lembar Enrekang,
Sulawesi Selatan, skala 1:100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi, Bandung.

56