You are on page 1of 25

PRESENTASI KASUS

BRONKOPNEUMONIA

Tugas Kepanitraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Anak RST Dr. Soedjono, Magelang
Periode 2 Januari – 10 Maret 2017

Pembimbing:
dr. Roedi Djatmiko, Sp.A

Disusun oleh :
Putra Mahardika
1620221172

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2018

1

LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS

BRONKOPNEUMONIA

Disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas
Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Tk. II dr. Soedjono, Magelang

Oleh :
Putra Mahardika
1620221172

Magelang, 8 Maret 2018
Telah dibimbing dan disahkan oleh,

Pembimbing,

dr. Roedi Djatmiko, Sp.A

2

Laporan kasus ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Anak. dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca guna perbaikan yang lebih baik. Magelang. Semoga laporan ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri. Roedi Djatmiko selaku pembimbing dan seluruh teman kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Anak atas kerjasamanya selama penyusunan laporan ini. 8 Maret 2018 Penulis 3 . pembaca maupun bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “BRONKOPNEMONIA”. Untuk itu. Penyusunan laporan ini terselesaikan atas bantuan dari banyak pihak yang turut membantu terselesaikannya laporan ini.

.................................................................................................................................... 24 DAFTAR PUSTAKA ..................................................... 5 BAB II PENDAHULUAN ..................................................................................................................................................... 10 BAB III TINJAUAN PUSTAKA ......................................... DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ......................................................... 4 BAB I LAPORAN KASUS . 3 DAFTAR ISI .......................................................................................................... 2 KATA PENGANTAR .................................................................... 11 BAB IV KESIMPULAN ............................................................................................................................... 25 4 ..........................................................................

Pasien BAK sedikit. Pasien juga menderita batuk dan pilek. Pasien muntah sebanyak 3 kali. Soedjono Magelang tanggal 4 Maret 2018 dengan keluhan sesak dan nafas cepat. FZ Umur : 5 bulan Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Pakis. dan burung berada di dalam rumah. b. BAB 2 kali dengan tinja normal. Pasien sudah diberikan MP-ASI berupa bubur cerelac 2 kali sehari sejak 2 hari yang lalu. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat penyakit serupa : disangkal Riwayat asma : disangkal Riwayat alergi : disangkal d. Ayah pasien perokok dan mengaku dirumah memelihara banyak burung. c. Pasien demam sejak 2 hari yang lalu dan naik turun. Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien usia 5 bulan datang diantar ibunya ke IGD RST dr. BAB I LAPORAN KASUS I. ANAMNESA a. IDENTITAS PASIEN Nama : An. Keluhan Utama: Demam naik turun sejak 2 hari yang lalu. Riwayat Penyakit Keluarga: Riwayat keluhan yang sama di keluarga : disangkal Riwayat asma keluarga : disangkal Riwayat alergi keluarga : disangkal 5 . Magelang Tanggal Periksa : 4 Maret 2018 II.

gallop (-) Paru : SN vesikuler +/+. reflex pupil +/+ isokor Hidung : sekret (+) tidak keluar. murmur (-). Status Generalis Kepala : normocephali Mata : konjungtiva anemis -/-. SpO2: 94% c. rh +/+. g. Tanda Vital a. Riwayat Kelahiran Pasien dilahirkan prematur dengan usia kehamilan 6 bulan dan BB lahir 1600 gram. retraksi (+) minimal Cor : BJ I-II reg. nyeri tekan (-). edema -/- Bawah : akral hangat +/+. Suhu: 38. NCH (+) Mulut : mukosa bibir kering.6oC d. III. edema -/- 6 . PEMERIKSAAN FISIK a. Nadi: 194 x/menit b. BU (+) normal Ekstremitas Atas : akral hangat +/+. e. sklera ikterik -/-. Riwayat Pengobatan Sudah dibawa ke bidan dan diberi obat penurun panas. wh -/- Abdomen : cembung. CM Aktivitas: Normoaktif Kooperatif: Kooperatif Status gizi: Baik b. sariawan (-) Leher : pembesaran KGB (-) Thorax : dinding dada simetris. f. CRT<2detik +/+. CRT<2detik +/+. RR: 72 x/menit c. Status Umum KU: sakit berat. Riwayat Imunisasi Pasien telah diberikan vaksin BCG dan DTP 2.

5 MID% 6.5 – 5. BAB (+) 3 kali Object KU: berat.0 LYM 4.5 ml plus NaCl 2 ml nebulizer 4 x/hari O2 2 lpm IV.6 – 11.0 – 15. nafas cepat. SpO2: 94% PF: Mulut: mukosa bibir kering Hidung: sekret (+) tidak keluar Paru: SN ves +/+.1 2.0 MCHC 35.5 ml Fartholin 0.0 – 16. Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi 04/03/2018 BB: 5 kg Subject Sesak (+). d.0 GRA% 58.4 26.0 GRA 7. pilek (+). T: 38. rh +/+.2 – 8.6oC.0 – 35.4 15.0 7 . retraksi (+) minimal Assessment Bronkopneumonia Planning D5 ¼ NS 300 mg Cefotaxim 3 x 150 mg Praxion 3 x 0. kes: CM HR: 194x/m.1 – 1. RR: 72x/m.0 MCH 27. batuk bulan (+).2 0.0 1.5 35.9 3. demam (+) Flamboyan Usia koreksi: 3 sejak 2 hari lalu naik turun.0 31. muntah (+) 3 kali.0 MID 0.0 LYM% 35.7 0. PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah Lengkap (4 Maret 2018) WBC 11.0 – 80. BAK (+) sedikit.0 – 36.0 – 50.5 12. wh -/-.0 HGB 12.

99 LPCR 15.0 – 150. perifokal edema (+).0 RDW 12.2 8.5 0.1 – 99. DIAGNOSA BANDING Pneumonia Bronchitis Asma VI.0 RDWa 51.50 MCV 78.0 0. curiga massa • Tak tampak oedem cerebri • Tak tampak lateralisasi Saran: HCTS dengan kontras Dx klinis: Status Epileptikus V. RBC 4.00 CT Scan kepala tanpa kontras (13 Januari 2018) Kesan: • Lesi isodens lobus parietalis (slice 9-10).90 – 5.0 – 100.0 PDW 11.0 – 11.0 – 16.2 30.00 – 170.0 HCT 35.9 11.1 – 99.33 0.01 – 9.9 Gula Darah Sewaktu (9 Januari 2018) Gula Sewaktu 167 mg/dL 70. DIAGNOSA KERJA Bronkopneumonia 8 .8 35. mass effect (+).1 80.0 – 47.0 PLT 400 150 – 440 MPV 8.9 PCT 0.58 3.

TERAPI D5 ¼ NS 300 mg Cefotaxim 3 x 150 mg Praxion 3 x 0.5 ml Fartholin 0.5 ml plus NaCl 2 ml nebulizer 4 x/hari O2 2 lpm 9 .VII.

27. penatalaksanaan dan prognosisnya. lebih kurang dua juta anak balita.8% kematian balita di Indonesia disebabkan oleh penyakit resporatori.8 Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan yang mencolok walaupun ada berbagai kemajuan dalam bidang antibiotic. TUJUAN PENULISAN Untuk memahami bronkopneumonia berdasarkan definisi. sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. dan bronkopneumonia.7 Bronkopneumonia lebih sering menyerang bayi dan anak kecil. Diperkirakan hamper seperlima kematian anak di seluruh dunia. pneumonia interstisialis. Adanya organisme-organisme baru dan penyakit seperti AIDS (Acquired Immunideficiency Syndrome) yang semakin memperluas spektrum dan derajat kemungkinan terjadinya bronkopneumonia ini. gejala klinis. Hal ini dikarenakan respon imunitas mereka masih belum berkembang dengan baik. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia dibawah lima tahun (balita). BAB II PENDAHULUAN I. pemeriksaan fisik. Menurut anatomis pneumonia pada anak dibedakan menjadi pneumonia lobaris. etiologi. Menurut survey kesehatan nasional (SKN) 2001. klasifikasi. Pneumonia hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah kesehatan utama pada anak di negara berkembang. meninggal setiap tahun akibat pneumonia. pemeriksaan penunjang.3 Bronkopneumonia sebagai penyakit yang menimbulkan gangguan pada sistem pernafasan. epidemiologi. patogenesis. 10 . Hal di atas disebabkan oleh munculnya organisme nosocomial (didapat dari rumah sakit) yang resisten terhadap antibiotic. diagnosis. Tercata bakteri sebagai penyebab tersering bronkopneumonia pada bayi dan anak adalah Streptococcus pneumoniae dan Heamophilus influenzae. terutama pneumonia. merupakan salah satu bentuk pneumonia yang terletak pada alveoli paru.6% angka kematian bayi dan 22.7 II. LATAR BELAKANG Pneumonia adalah infeksi saluran akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru.

Laporan WHO 1999 menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi di dunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia dan influenza. Penyebab pneumonia sulit ditemukan dan memerlukan waktu beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya. DEFINISI Bronkopneumonia adalah peradangan pada paru dimana proses peradangannya ini menyebar membentuk bercak-bercak infiltrate yang berlokasi di alveoli paru dan dapat pula melibatkan bronkiolus terminal. Di amerika dengan cara ivasif pun penyebab pneumonia hanya ditemukan 50%. Bronkopneumonia II.7 Gambar 1. EPIDEMIOLOGI Insidens penyakit saluran napas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatan yang tinggi di seluruh dunia. Angka kematian akibat pneumonia di Amerika adalah 10%. baik di negara yang sedang berkembang maupun yang sudah maju. 11 . Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum berhubungan dengan infeksi saluran napas yang terjadi di masyarakat (PK) atau di dalam rumah sakit/pusat perawatan (pneumonia nosocomial/PN). Insidensi pneumonia komuniti di Amerika adalah 12 kasus per 1000 orang per tahun dan merupakan penyebab kematian utama akibat infeksi pada orang dewasa di negara itu. BAB III TINJAUAN PUSTAKA I.8 Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan.

Patogen penyebab pneumonia pada anak bervariasi tergantung: a. Gambar 2. Status lingkungan d. Pada bayi yang lebih besar dan balita pneumonia sering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae. sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumoniae. Kondisi lingkungan (epidemiologi setempat. Status imunisasi f. atau Klebsiella sp. Pseudomonas sp. aureus. Status imunologis c. malnutrisi) 4 Usia pasien merupakan peranan penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak. gambaran klinis dan strategi pengobatan. S. colli Gambar 3. sedangkan pneumonia dapat menyebabkan kematian bila tidak segera diobati. H. polusi udara) e. colli. Usia b. Fator pejamu (penyakit penyerta. selain bakteri tersebut.6 III. maka pada pengobatan awal pneumonia diberikan antibiotika secara empiris. ETIOLOGI Etiologi pneumonia sulit dipastikan karena kultur sekret bronkus merupakan tindakan yang sangat invasive sehingga tidak dilakukan. influenzae. terutama dalam spektrum etiologi. E. sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja. Etiologi pneumonia pada neonates dan bayi kecil meliputi Streptococcus grup B dan bakteri gram negative seperti E.. Pseudomonas sp 12 . Streptococcus grup A.

colli Bakteri anaerob Streptococcus grup B Streptococcus grup D Listeria monocytogenes Haemophillus influenzae Streptococcus pneumoniae Virus CMV HMV 3 minggu – 3 bulan Bakteri Bakteri Chlamydia trachomatis Bordetella pertussis Streptococcus pneumoniae Haemophillus influenzae tipe B Virus Moraxella catharalis Adenovirus Staphylococcus aureus Influenzae Virus Parainfluenzae 1. 2. Etiologi Pneumonia Usia Etiologi yang sering Etiologi yang jarang Lahir – 20 hari Bakteri Bakteri E. Gambar 4.4 Tabel 1. Klebsiella sp Daftar etiologi pneumonia pada anak sesuai dengan usia yang bersumber dari data di negara maju dapat dilihat di tabel 1. 3 CMV 4 bulan – 5 tahun Bakteri Bakteri Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae tipe B 13 .

KLASIFIKASI Pembagian pneumonia sendiri pada dasarnya tidak ada yang memuaskan. Berdasarkan asal infeksi: Pneumonia yang didapat dari masyarakat (community acquired pneumonia = CAP) Pneumonia yang didapat dari rumah sakit (hospital-based pneumonia) 14 . Berdasarkan lokasi lesi di paru: Pneumonia lobaris Pneumonia lobularis (bronkopneumonia) Pneumonia interstisialis b. dan pada umumnya pembagian berdasarkan anatomi dan etiologi. Beberapa ahli telah membuktikan bahwa pembagian pneumonia berdasarkan etiologi terbukti secara klinis dan memberikan terapi yang lebih relevan. Mycoplasma pneumoniae Moraxella catharalis Streptococcus pneumoniae Staphylococcus aureus Virus Neisseria meningitides Adenovirus Virus Rhinovirus Varicella zoster Influenzae Parainfluenzae 5 tahun – remaja Bakteri Bakteri Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae Mycoplasma pneumoniae Lehionella sp Streptococcus pneumoniae Staphylococcus aureus Virus Adenovirus Epstein-Barr Rinovirus Varicella zoster Influenza Parainfluenza IV.4 a.

Jenis pneumonisa yang umum adalah pneumonia bakterialis yang paling sering disebabkan oleh pneumokous. Penyakit ini dimulai dengan infeksi dalam alveoli. Berdasarkan lama penyakit: Pneumonia akut Pneumonia persisten Klasifikasi pneumonia berdasarkan lingkungan dan pejamu: Tabel 2. usia tua Pneumonia pada gangguan imun Pada pasien transplantasi. PATOGENESIS Istilah pneumonia mencakup setiap keadaan radang paru dimana beberapa atau seluruh alveoli terisi dengan cairan dan sel-sel darah. muda atau orang tua Pneumonia Nosokomial Didahului perawatan di RS Pneumonia Rekurens Terdapat dasar penyakit paru kronik Pneumonia Aspirasi Alkoholik. onkologi. AIDS V. c. Dengan demikian alveoli yang terinfeksi secara progresif menjadi terisi dengan cairan dan sel-sel. dan infeksi disebarkan oleh perpindahan bakteri dari alveolus ke alveolus. Berdasarkan mikroorganisme penyebab: Pneumonia bakteri Pneumonia virus Pneumonia mikoplasma Pneumonia jamur d. Klasifikasi berdasarkan lingkungan dan pejamu Tipe Klinis Epidemiologi Pneumonia Komunitas Sporadic atau endemik. membrane paru mengalami peradangan dan berlubang-lubang sehingga cairan dan bahkan sel darah merah dan sel darah putih keluar dari darah masuk kedalam alveoli. Berdasarkan karakteristik penyakit: Pneumonia tipikal Pneumonia atipikal e.2 15 .

edema interstisial. cairan edema. Infeksi viral pada traktus respiratoriu juga dapat meningkatkan resiko terhadap infeksi bakteri sekunder dengan mengganggu 16 . eritrosit. yaitu terjadi sebukan sel PMN. Sitem bronkopulmoner jaringan paru yang tidak terkena akan tetap normal. dan ditemukannya kuman di alveoli. saluran respiratorik mulai dari area sublaring sampai parenkim paru dalam keadaan steril. terdapat fibrin dan leukosit PMN di alveoli dan terjadi proses fagositosis yang cepat.4 Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer melalui saluran respiratori. dan ventilation-perfusion mismatch menyebabkan hipoksemia yang sering disertai obstruksi jalan napas.4 Pneumonia viral biasanya berasal dari penyebaran infeksi di sepanjang dalan napas atas yang diikuti oleh kerusakan epitel respiratorius. menyebabkan obstruksi jalan napas akibat bengkak. Atelectasis. dan debris seluler. jumla makrofag meningkat di alveoli. Stadium ini disebut stadium hepatisasi kelabu. Saluran napas bawah ini dijaga tetap steril oleh mekanisme pertahanan bersihan mukosiliar. Selanjutnya. Gambaran alveoli pada pneumonia Pada keadaan normal. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi. depossi fibrin semakin bertambah. sel akan mengalami degenerasi. IgA sekretori. sekresi abnormal. fibrin menipis. Selanjutnya. Stadium ini disebut stadium hepatisasi merah. Mekanisme pertahanan imunologik yang membatasi invasi mikroorganisme patogen adalah makrofag yang terdapat di alveolus dan bronkiolus. Diameter jalan napas yang kecil pada bayu menyebabkan bayi rentan terhadap infeksi berat. kuman dan debris menghilang. Gambar 5. dan immunoglobulin lain. sekresi immunoglobulin A. Stadium ini disebut stadium resolusi. Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. fibrin. dan batuk.

pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosis dengan pemeriksaan fisik. Penyakit ini sering ditemukan bersamaan dengan konjungtivitis. mengubah sekresi normal.1 VI. Lesi terdiri atas nekrosis mukosa trakeobronkial dengan pembentukan ulkus yang compang- camping dan sejumlah besar eksudat. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit. proses patologik bervariasi tergantung organisme yang menginvasi. aureus adalah berat dan infeksi dengan cepat memburuk yang disertai dengan morbiditas yang lama dan mortalitas yang tinggi. mungkin terdapat batuk setelah beberapa hari mula-mula kering kemudian menjadi produktif. mekanisme pertahanan normal pejamu. Proses ini dapat meluas ke sekat interalveolar dan melibatkan fasa limfatika. pneumoniae menempel pada epitel respiratorius. GEJALA KLINIS Riwayat klasik dingin menggigil yang disertai dengan demam tinggi. otitis media. dan laryngitis.1.6 Infeksi Streptococcus grup A pada saluran napas bawah menyebabkan infeksi yang lebih difus dengan pneumonia interstisial. edema. batik dan nyeri dada.3. seperti pada pneumonia viral. S. dengan penyebaran infeksi terjadi di sepanjang cabang-cabang bronkial.4 Ketika infeksi bakteri terjadi pada parenkim paru. menghambat kerja silier. biasanya menghasilkan karakteristik sebagai bercak-bercak konsoidasi merata di seluruh lapangan paru. Pneumonia lobar tidak lazim. pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar mulut dan hidung bari dipikirkan kemungkinan pneumonia.4. kecuali bila diobati lebih awal. dan mucus menyebabka obstruksi jalan napas. dispneu. Pneumonia yang disebabkan S. dan menyebabkan destruksi seluler dan memicu respon inflamasi. Anak sangat gelisah. Staphylococcus menyebabkan penggabungan bronkopneumonia yang sering unilateral atau lebih mencolok pada satu sisi ditandai adanya daerah nekrosis perdarahan yang luas dan kaverna tidak teratur. pernapasan cepat dan dangkal disertai pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut. Anak besar dengan pneumonia lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk dengan nyeri dada. dan perdarahan terlokalisasi. dan memodifikasi flora bacterial. pneumoniae menyebabkan edema lokal yang membantu proliferasi mikroorganisme dan penyebarannya ke bagian paru lain. faringitis. Kadang-kadang disertai muntah dan diare. tetapi dengan adanya nafas cepat dan dangkal.5. M.8 17 .

5oC. • Takipneu berdasarkan WHO: Usia < 2 bulan ≥ 60 x/menit Usia 2-12 bulan ≥ 50 x/menit Usia 1-5 tahun ≥ 40 x/menit Usia 6-12 tahun ≥ 28 x/menit • Pada palpasi ditemukan vocal fremitus menurun. Fine crackles (ronki basah halus) yang khas pada anak besar bisa tidak ditemukan pada bayi. C-Reactive Protein (CRP) Secara klinis CRP digunakan sebagai alat diagnostic untuk membedakan antara faktor infeksi dan noninfeksi. Secara umum. • Pada setiap napas terdapat retraksi otot epigastric.1. infeksi virus dan bakteri. Kadar CRP biasanya lebih rendah pada infeksi virus dan infeksi bakteri superfisialis daripada infeksi bakteri profundal.4 2. intercostal. suprasternal.000/mm3 dengan predominan PMN. Pemeriksaan Laboratorium Pada pneumonia virus dan mikoplasma umumnya leukosit dalam batas normal. Pada pneumonia bakteri didapatkan leukositosis yang berkisar antara 15.4 18 . Kadang terdengar juga suara bronkial. atau bakteri superfisialis dan profundal.000 – 40.VII. CRP kadang digunakan untuk evaluasi respons terhadap terapi antibiotik. dan pernapasan cuping hidung.4 VIII. • Pada perkusi lapangan paru redup pada daerah paru yang terkena. Kadang-kadang terdapat anemia ringan dan laju endap darah (LED) yang meningkat. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.1. PEMERIKSAAN FISIK Dalam pemeriksaan fisik ditemukan hal-hal sebagai berikut: • Suhu tubuh ≥ 38. • Pada auskultasi dapat terdengar suara pernafasan menurun. hasil pemeriksaan darah perifer lengkap dan LED tidak dapat membedakan antara infeksi virus dan bakteri secara pasti.

Bila berat terjadi pachy consolidation karena atelectasis. 19 . Untuk pemeriksaan mikrobiologik.1. sekret nasofaring tidak memiliki nilai yang berarti.4. ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular. Pemeriksaan Serologis Uji serologic untuk mendeteksi antigen dan antibody pada infeksi bakteri tipik mempunyai sensitivitas dan spesifitas yang rendah.4.6 5. cairan pleura. uji serologic IgM dan IgG antara fase akut dan konvalesan pada anak dengan infeksi pneumonia oleh Chlamydia pneumonia dan Mycoplasma pneumonia memiliki hasil yang memuaskan tetapi tidak bermakna pada keadaan pneumonia berat yang memerlukan penanganan yang cepat. Pemeriksaan Mikrobiologis Pemeriksaan mikrobiologik untuk diagnosis pneumonia anak tidak rutin dilakukan kecuali pada pneumonia berat. Diagnosis dikatakan definitive bila kuman ditemukan dari darah. atau aspirasi paru.6 Secara umum gambaran foto thoraks terdiri dari: • Infiltrate interstisial. Pemeriksaan CRP dan prokalsitonin juga dapat menunjang pemeriksaan radiologi untuk mengetahui spesifikasi pneumonia karena pneumokokus dengan nilai CRP ≥ 120mg/L dan prokalsitonin ≥ 5 mg/ml. dan peningkatan suara pernapasan. Pemeriksaan Roentgenografi Foto rontgen thoraks proyeksi posterior-anterior merupakan dasar diagnosis utama pneumonia. streptozim. Lynch dkk mendapatkan bahwa tambahan posisi lateral pada foto rontgen thoraks tidak meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas penegakan diagnosis. ronki.4 4. Umumnya pemeriksaan yang diperlukan untuk menunjang diagnosis pneumonia hanyalah pemeriksaan posisi AP. Tetapi tidak rutin dilakukan pada pneumonia ringan. specimen dapat berasal dari usap tenggorok. akan tetapi. atau anti-DNAse B. Kelainan foto roentgen thoraks pada pneumonia tidak selalu berhubungan dengan gambaran klinis. batuk.6 3. peribronchial cuffing dan overaeration. diagnosis infeksi Streptococcus grup A dapat dikonfirmasi dengan peningkatan titer antibody seperti antistreptolisin O. hanya direkomendasikan pada pneumonia berat yang dirawat dan timbul gejala klinis berupa takipneu. dan jarang didapatkan hasil yang positif.

Foto rontgen dapat juga menunjukkan adanya kompliaksi seperti pleuritis atelectasis. dan peningkatan suara pernapasan dapat menyingkirkan dugaan pneumonia.6 Tingginya angka morbiditas dan mortalitas pneumonia pada balita. Penebalan peribronkial. menetapkan klasifikasi penyakit. bronkopneumonia dan air bronchogram sangat mungkin disebabkan oleh bakteri. kesadaran menurun. Terdapatnya retraksi epgastrik. Foto rontgen tidak dapat menentukan jenis infeksi bakteri. Tidak ada gejala distress pernafasan. bercak-bercak infiltrate didapati pada satu atau beberapa lobus. Tujuannya ialah menyederhanakan kriteria diagnosis berdasarkan gejala klinis yang dapat dideteksi. Tanda bahaya pada anak berusia 2 bulan – 5 tahun adalah tidak dapat minum. ronki. Pada bayi-bayi jumlah leukosit dapat berada dalam batas yang normal. upaya penanggulangannya WHO mengembangkan pedoman diagnosis dan tatalaksana yang sederhana.4 20 . dan menentukan penatalaksanaan. penemuan bakteri penyebab tidak selalu mudah karena memerlukan laboratorium penunjang yang memadai. • Bronkopneumonia ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru berupa bercak-bercak infiltrate yang dapat meluas hingga daerah perifer paru disertai dengan peningkatan coracan peribronkial. atau virus. pneumotoraks.4.4 IX. mengi. berbentuk sferis. atipik. Tetapi gambaran foto rontgen thoraks dapat membantu mengarahkan kecenderungan etiologi. berbatas yang tidak terlalu tegas dan menyerupai lesi tumor paru disebut sebagai round pneumonia. batuk. kejang. Pada bronkopneumonia. DIAGNOSIS Diagnosis etiologic berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis dan/atau serologis merupakan dasar terapi yang optimal. infiltrate interstisial merata dan hiperinflasi cenderung terlihat pada pneumonia virus. Gambaran kea rah sel polimorfonuklear juga dapat dijumpai. demam. dan suprasternal merupakan indikasi tingkat keparahan. Infiltrate alveolar berupa konsolidasi segmen atau lobar. Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris atau terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar. Akan tetapi. intercostal. atau menggigil. • Infiltrate alveolar. Kadar hemoglobin biasanya normal atau sedikit menurun. abses paru. takipneu. atau pericarditis. stridor. merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram.

usia 1- 5 tahun ≥ 40 x/menit o Adanya retraksi o Anak perlu dirawat dan berikan terapi antibiotik Bayi berusia dibawah 2 bulan: Pada bayi berusia dibawah 2 bulan. Klasifikasi pneumonia pada kelompok usia ini adalah sebagai berikut: • Pneumonia o Bila ada nafas cepat ≥ 60 x/menit atau sesak nafas o Harus dirawat dan diberikan antibiotik • Bukan pneumonia o Tidak ada nafas cepat atau sesak nafas o Tidak perlu dirawat. perjalanan penyakit lebih bervariasi. usia 1- 5 tahun ≥ 40 x/menit o Adanya retraksi o Sianosis o Anak tidak mau minum o Tingkat kesadaran yang menurun dan merintih (pada bayi) o Anah harus dirawat dan di terapi dengan antibiotik • Pneumonia o Frekuensi pernapasan pada anak umur 2-12 bulan ≥ 50 x/menit. cukup diberikan pengobatan simptomatik X. Klasifikasi pneumonia berdasarkan pedoman tersebut. Di wilayah resistensi penisilin yang tinggi dosis dapat dinaikkan sampai 80-90 mg/kgBB 21 . PENATALAKSANAAN 1. Bayi dan anak berusia 2 bulan – 5 tahun: • Pneumonia berat o Frekuensi pernapasan pada anak umur 2-12 bulan ≥ 50 x/menit. Penatalaksanaan antibiotika Pemberian antibiotika berdasarkan derajat penyakit: • Pneumonia ringan o Amoksisilin 25 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis sehari selama 3 hari.

Penatalaksanaan suportif • Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit → sampai sesak nafas hilang atau PaO2 pada analisis gas darah ≥ 60 torr.000 U/kgBB setiap 6 jam. azitromisin) o Tetrasiklin (pada anak usia > 8 tahun 2. klaritromisin. dan gentamisin 7.5 mg/kgBB sehari sekali o Benzilpenisilin 50.5 mg/kgBB sehari sekali o Pemberian antibiotic diberikan selama 10 hari pada pneumonia tanpa komplikasi.m. sehari empat kali. setiap 12 jam o Ampisilin 50 mg/kgBB i. dan gentamisin 7. o Kotrimoksazol (trimethoprim 4 mg/kgBB – sulfametoksazol 20 mg/kgBB) dibagi dalam 2 dosis sehari selama 5 hari • Pneumonia berat o Kloramfenikol 25 mg/kgBB setiap 8 jam o Seftriakson 50 mg/kgBB i. • Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.v. 22 . sampai saat ini tidak ada studi control mengenai lama terapi antibiotic yang optimal Pemberian antibiotika berdasarkan umur: • Neonates dan bayi muda (<2 bulan): o Ampisilin + aminoglikosid o Amoksisilin-asam klavulanat o Amoksisilin + aminoglikosid o Sefalosporin generasi ke-3 • Bayi dan anak usia pra sekolah (2 bulan – 5 tahun) o Beta lactam amoksisilin o Amoksisilin-amoksisilin klavulanat o Golongan sefalosporin o Kotrimksazol o Makrolid (eritromisin) • Anak usia sekolah (> 5 tahun) o Amoksisilin/makrolid (eritromisin.

Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu tinggi.5 x 0. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang datang terlambat menunjukkan mortalitas yang lebih tinggi. abses paru yang menyebabkan seolah-olah antibiotic tidak efektif). takikardi. Penatalaksanaan bedah Pada umumnya tidak ada tindakan bedah kecuali bila terjadi komplikasi pneumothoraks atau pneumomediastinum.7 XI.5 3. • Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena dengan dosis awal 0. atau penderita kelainan jantung.3 x deficit basa x BB (kg). Bila analisis gas darah tidak bisa dilakukan maka dosis awal bikarbonat 0. selanjutnya periksa ulang analisis gas darah setiap 4-6 jam. PROGNOSIS Dengan pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat.1 23 . mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1%. Bila penyakit bertambah berat atau tidak menunjukkan perbaikan yang nyata dalam 24-72 jam → ganti dengan antibiotic lain yang lebih tepat sesuai dengan kuman penyebab yang diduga (sebelumnya perlu diyakinkan dulu ada tidaknya penyulit seperti emfisema.5 x 2-3 mEq x BB (kg). • Obat penurun panas dan Pereda batuk sebaiknya tidak diberikan pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan interpretasi reaksi antibiotic awal.

Penyakit ini dimulai dengan infeksi dalam alveoli.7 24 . kondisi lingkungan (epidemiologi setempat. pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar mulut dan hidung baru dipikirkan kemungkinan pneumonia. status imunologis. polusi udara). faktor pejamu (penyakit penyerta.4. status imunisasi.4 Jenis pneumonia yang umum adalah pneumonia bakterialis yang paling sering disebabkan oleh pneumokokus. dan infeksi disebarkan oleh perpindahan bakteri dari alveolus ke alveolus. penatalaksanaan suportif dan penatalaksanaan bedah. alveoli yang terinfeksi secara progresif menjadi terisi dengan cairan dan sel-sel. Dengan demikia. BAB IV KESIMPULAN Bronkopneumonia adalah peradangan pada paru dimana proses peradangannya ini menyebar membentuk bercak-bercak infiltrate yang berlokasi di alveoli paru dan dapat pula melibatkan bronkiolus terminal. tetapi dengan adanya nafas cepat dan dangkal.1.5. membrane paru mengalami peradangan dan berlubang-lubang sehingga cairan dan bahkan sel darah merah dan sel darah putih keluar dari darah masuk kedalam alveoli.7 Patogen penyebab pneumonia pada anak bervariasi tergantung pada usia (menentukan jenis bakteri dan virus).4.6 Penatalaksanaan pneumonia yaitu dengan pemberian antibiotic.3. status lingkungan.2 Pada stadium permulaan akut dibuat diagnosis dengan pemeriksaan fisik.1. Pada umumnya tidak ada tindakan bedah kecuali bila terjadi komplikasi pneumothoraks atau pneumomediastinum. malnutrisi).8 Umumnya pemeriksaan yang diperlukan untuk menunjang diagnosis pneumonisa hanyalah pemeriksaan posisi AP.

Ilmu Penyakit Dalam. Price SA. Jilid 1. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Jilid II. 5. Vaughan VC. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Pedoman Diagnosis dan Terapi Kesehatan Anak. hal: 883-889. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Wilson LM. Bagian II. Jakarta: 2000. Behrman RE. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Bandung: 2005. hal: 804. Balai Penerbit FKUI. Jakarta: 2005. Jakarta: 2010. Edisi 15. hal 554. 6. hal: 695-705. Jakarta: 2006. Soeparman. Edisi 3. Edisi 2. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 4. UNPAD. hal 465. Penerbit EGC. EGC. EGC. Jakarta: 2000. 7. Pedoman Pelayanan Medis. Guyton. Waspadji S. 3. 25 . 8. Jakarta: 1999. Edisi 6. Jilid 2. DAFTAR PUSTAKA 1. Bandung: 2005. Hall. 2. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.