You are on page 1of 14

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ALIRAN JABARIYAH DAN KODARIYAH

1.Pengertian Aliran Jabariyah

Secara bahasa jabariyah berasal dari jabara yang mengandung
arti memaksa dan mengharuskannya untuk melakukan sesuatu . Dalam istilah
ilmu kalam jabariyah adalah aliran teologi islam yang berpendirian bahwa
manusia dalam segala kehendak atau perbuatannya tak ubah nya seperti ranting
kayu yang brgerak lantaran terpaksa belaka {segalanya atas kodrat tuhan
semata }. Jabara, menurut as –Syahrastani dapat diartikan ‘’meniadakan
perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada allah.”
Dengan demikian,nama jabariyah digunakan untuk salah satu aliran dalam islam
yang mempunyai keyakinan bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan untuk
berbuat sesuatu, manusia adalah mahkluk yang lemah dan seluruh perbuatannya
merupakan paksaan dari allah.perbuatan manusia menurut mereka laksana bulu
ayam yang terbang dihempaskan oleh angin.oleh sebab itu,mereka disebut kaum
jabariyah.1
Jabariyah menurut Harun Nasution adalah paham yang menyebutkan
bahwa: Segala perbuatan manusia telah ditentukan dari semula 0leh Qadha dan
Qadar Alloh.2
2} Dasar Ajaran

Dasar pemahaman pada aliran jabariyah ini di jelaskan al- Qur’an
diantaranya :
َ‫ءوءماَتءءشاَءءنوءن االلاءنن يءءشاَءءا‬

1 Santri Lirboyo, Aliran-aliran teologi islam,[lirboyo Kediri jatim],133.

2 .akidah akhlak kurikulum 2013 ,[Jakarta],31
“Kamu tidak menghendaki ,kecuali allah menghendakinya”

[ Q.S. al Insan:30]

‫ءواَء ءخلءقءءكنم اوءماَتءنعءمءلوُنن‬

“Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”

[Q.S. ash-Shaffat:963}
3.Asal-Usul Kemunculan Jabariyah

Kemunculan dan perkembangan faham al- Jabar pertama kali di
perkenalkan oleh Jahm bin shafwan dari khurasan. Dalam teologi islam , Jahm
tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran Jahmiyah dalam kalangan Murji’ah.
Ia adalah sekretaris Suraih bin al- Haris dan selalu menemaninya dalam gerakan
melawan kekuasaan Bani umayah. Namun, dalam perkembangannya, faham al-
Jabar juga di kembangkan oleh tokoh lainnya diantaranya al- Husain bin
Muhammad al- Najjar dan Ja`ad bin dirar.3

Mengenai kemunculan faham al- Jabar ini, para ahli sejarah
pemikiran mengkajinya melalui pendekatan geokultural bangsa arab. Diantara
para ahli yang di maksud adalah Ahmad Amin. Ia menggambarkan bahwa
kehidupan bangsa arab yang di kungkung oleh gurun pasir sahara memberikan
pengaruh besar ke dalam cara hidup mereka. Ketergantungan mereka kepada alam
sahara yang ganas telah memunculkan sikap penyerahan diri terhadap alam.

Lebih lanjut, Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi
demikian, masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling
mereka sesuai dengan keinginannya sendiri. Mereka merasa lemah dalam
menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Akhirnya, mereka banyak bergantung
pada kehendak alam. Hal ini membawa mereka kepada sikap fatalism.4

3 Abdul Rozak,Rosihon Anwar,ilmu kalam,[PS:surabaya,2006],64

4 Ibid…64.
Benih pemikiran jabariyah sebenarnya sudah ada pada beberapa
orang sahabat sejak masa Nabi saw masih hidup. Diceritakan bahwa suatu hari
Nabi saw menjumpai para sahabatatnya yang sedang menbicarakan masalah
qodhar . Nabi pun marah seraya mengatakan : untuk inikah kalian diperintahkan ?
ummat sebelum kamu binasa karna mereka berbuat seperti kamu ini, saling
mempertentangkan ayat yang satu dengan yang lain. Perhatikan apa yang di
perintah kan kepadamu lalu kerjakanlah , dan apa yang di larang atas kamu
jahuilah.

Nabi sendiri sudah pernah menyatakan bahwa di antara umat nya
akan ada orang- orang yang berpaham semacam jabariyah atau qodariyah.
Dikisahkan bahwa pada suatu hari ada seorang laki-laki dari persi datang kepada
nabi saw lalu berkata : aku melihat orng persi menikah dengan anak-anak
perempuan dan dan saudara perempuan mereka. Kalau mereka ditanya mengapa
berbuat demikian? Mereka menjawab: demikianlah qodha dan qodhar allah lalu
nabi bersabda: diantara ummat ku aka ada orang-orang yang berkata demikian ,
dan mereka itulah orang-oran majusi dari umat ku .5

Pada pemerintah Bani umayah, pandangan tentang al- jabar
semakin mencuat kepermukaan. Abdulloh bin abbas melalui surat nya
memberikan reaksi keras kepada penduduk syiria yang diduga berpaham
jabariyah.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa
awal mula kemunculan paham jabariyah adalah sejak awal periode awal. Namun
al- jabar sebagai suatu pola piker aliran yang di anut, di pelajari dan di
kembangkan, baru pada masa pemerintahan Daulah bani umayah.

Faham jabariya secara nyata menjadi yang disebarkan kepada
orang lain pada masa pemerintahan bani umayyah.dan yang di anggap sebagai
pendiri utama adalah al Ja`ad bin dirham diperoleh berita bahwa pemahaman

5 Tim penyusun MKD,ilmu kalam,[iain sunan ampel press,2012],
Ja`ad didapat dari Banan bin sam`an dari talut bin ukhtu lubait bin a`sam tukang
sihir dan memusuhi Nabi saw.

Kemunculan jabariyah berdasarkan geokultural bangsa
arab.kehidupan bangsa arab yang didukung oleh gurun pasir sahara memberikan
pengaruh besar kedalam cara dan pola hidup mereka.ketergantungan mereka
kepada alam sahara yang ganas telah memunculkan sikap penyerahan diri
terhadap alam.

Sebenarnya benih-benih faham al-Jabar sudah muncul jauh sebelum
kedua tokoh di atas. Benih- benih itu terlihat dalam peristiwa sejarah berikut:

a. masalah taqdir tuhan , Nabi melarang mereka untuk
memperdebatkan persoalan tersebut ,agar terhindar dari
kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai taqdir.
b. }Khalifah Umar bin al –Khattab pernah menangkap seorang
pencuri. Ketika di introgasi, pencuri itu berkata’’ Tuhan telah
menentukan aku pencuri’’. Mendengar itu umar kemudian marah
sekali dan menganggap orang itu telah berdusta . oleh karna itu umar
memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu, yaitu: hukuman
potongan tangan karna mencuri dan hukuman dera karena
menggunakan taqdir tuhan.
c. Ketika kholifah Ali bin abu Tholib ditanya tentang qodar Tuhan
dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. Orang itu tua itu bertanya,’’
apabila perjalanan {menuju perang siffin } itu terjadi dengan qodha
dan qodar tuhan , tidak ada pahala sebagai balasannya’’. Kemudian Ali
menjelaskan bahwa qodha dan qodhar Tuhan bukanlah sebuah
paksaan . pahala dan siksa akan di dapat berdasarkan atas amal
perbuatan manusia. Kalau itu sebuah paksaan, maka tidak ada pahala
dan siksa, gugur pula janji dan ancaman alloh, dan tidak ada pujian
bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi 0rang yang berbuat
dosa.

4} Tokoh Jabariyah dan Doktrin-doktrinnya
Menurut asy-Syahratsani, Jabariyah dapat.dikelompokkan menjadi
dua bagian:

1} Jabariyah ekstrim

Diantara doktrin jabariyah ekstrim adalah pendapatnya bahwa
segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari
kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang di paksakan atas dirinya. Misalnya,
kalau seseorang mencuri, perbuatan mencuri itu bukanlah terjadi atas kehendak
sendiri, tetapi timbul karena qadha dan qadhar Tuhan yang menghendaki
demikian. Diantara pemuka Jabariyah ekstrim adalah sebagai berikut:

a} Jahm bin Shofwan

Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan. Ia
berasal dari khurasan, bertempat tinggal di Khufah: Ia seorang da`’i yang fasih
dan lincah {[orator} ]: Ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais, seorang
mawali yang menentang pemerintah Bani Umayah di Khurasan. Ia ditawan
kemudian di bunuh secara politis tanpa ada kaitannya dengan agama.

Sebagai seorang penganut dan penyebar faham jabariyah ,banyak
usaha yang dilakukan Jahm yang tersebar keberbagai tempat, seperti ke Timidz
dan Balk. Pendapat Jahm yang berkaitan dengan persoalan teologi adalah sebagai
berikut.:

1. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya,
tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat
Jahm tentang keterpaksaan ini lebih terkenal di banding dengan meniadakan
sifat Tuhan {nahyu as- sifat}, dan melihat Tuhan di akhirat.
2. Surga dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain Tuhan.
3. Iman adalah ma`rifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini,
pendapatnya sama dengan konsep iman yang dimajukan kaum Murji`ah.
4. Kalam Tuhan adalah mahkluk Alloh maha suci dari segala sifat dan
keserupaan dengan manusia seperti berbicara, mendengar dan melihat. Begitu
pula Tuhan tidak dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak.
b. Ja`ad bin Dirham

Al- ja`ad adalah seorang maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus. Ia di
besarkan di dalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan teologi.
Semula ia di percayai untuk mengajar di lingkungan pemerintah Bani Umayah,
tetapi setelah tampak pemikiran- pemikirannya yang kontroversial Bani Umayyah
menolknya. kemudian al Jaad lari ke kufah dan disana bertemu dengan Jahm serta
mentransfer pikirannya kepada Jahm untuk di kembangkan dan di sebar luaskan.
Doktrin pokok Ja`ad secara umum sama dengan pikiran Jahm Al-
Ghuraby menjelaskanya sebagai berikut.
1. Al-Quran itu adalah mahkluk. Oleh karena itu, dia baru. Sesuatu yang baru
itu tidak disifatkan kepada Alloh.
2. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan mahkluk seperti
berbicara, melihat , dan mendengar.
3. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala galanya.

2. Jabariyah Moderat

Jabariyah moderat mengatakan bahwa Tuhan memang menciptakan
perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun maupun perbuatan baik, tetapi
manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri
manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Inilah yang di
maksud dengan kasab{ acquisition}. Menurut faham kasab, manusia tidaklah
majbur {di paksa oleh tuhan}, tidak seperti wayang yang di kendalikan oleh
dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh
perbuatan yang di ciptakan Tuhan.

Yang termasuk tokoh jabariyah moderat sebagai berikut:

a. An-najjar

Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar {[wafat230]
}. Para pengikutnya di sebut an- Najjariyah atau al- Husainiyah. Diantara
pendapat-pendapatnya adalah:
1. .Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia
mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan- pebuatan
itu. Itulah yang di sebut kasab dalam teori al-Asy`ary. Dengan demikian,
manusia dalam pandangan an Najjar tidak lagi seperti wayang yang
digerakannya bergantung pada dalang, sebab tenaga yang diciptakan
Tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatan-
perbuatannya.
2. Tuhan tidak dapat di lihat di akhirat. Akan tetapi, An-Najjar
menyatakanbahwa tuhan dapat saja memindahkan potensi hati {ma`rifat}
pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan.

b. Adh-Dhirar

Nama lengkapnya adalah Dhirar bin Amr. Pendapatnya tentang
penbuatan manusia sama dengan Husaen an-Najjar, yakni bahwa manusia tidak
hanya merupakan wayang yang di gerakkan dalang. Manusia mempunyai bagian
dalam mewujudkan perbuatannya dan tidak semata-mata di paksa dalam
melakukan perbuatannya. Secara tegas, Dhihar mengatakan bahwa perbuatan
dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, artinya perbuatan manusia
tidak hanya di timbulkan oleh tuhan, tetapi juga oleh manusia itu sendiri Manusia
turut berperan dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya.

Mengenai ru`yat Tuhan di akhirat, Dhirar mengatakan bahwa
Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indera keenam. Ia juga bependapat bahwa
hujjah dapat diterima setelah Nabi adalah ijtihad. Hadis ahad tidak dapat di
jadikan sumber dalam menetapkan hukum.

2.} Pengertian Aliran Qadariyah

Pengertian qadariyah secara etemologi, berasal dari bahasa Arab,
yaitu dari kata qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan. Adapun menurut
pengertian terminologi, Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala
tindakan manusia tidak diintervensi oleh tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa
tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya; Ia dapat berbuat sesuatu
atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Berdasarkan pengertian tersebut,
dapat difahami bahwa qadariyah di pakai untuk nama suatu aliran yang memberi
penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-
perbuatannya. dalam hal ini, Harun Nasution menegaskan bahwa kaum qadariyah
berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk
melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia
terpaksa tunduk pada qodar tuhan. Kaum sunni berpendapat: bahwa manusia
mempunyai kebebasan berkehendak.

B. Asal- Usul Munculnya Qadariyah dan Tokoh-Tokohnya

Menurut Ahmad Amin, ada ahli teologi yang mengatakan bahwa
qadariyah pertama di munculkan oleh Ma’bad al-Jauhani Ghailan ad-Dimasyqy.
Ma’bab adalah seorang taba’i yang dapat di percaya dan pernah berguru pada
Hasan al-Basri. Adapun Ghailan adalah seorang orator berasal dari damaskus dan
ayahnya menjadi maulana Usman bin affan. 6

Ibnu Nabata dalam kitabnya syarh al- uyun, seperti di kutip ahmad
amin, memberi informasi lain bahwa yang pertama memunculkan faham
qadariyah adalah orang irak yang semula beragama Kristen kemudian masuk
islam dan balik lagi masuk Kristen. Dari inilah, ma’bab dan ghailan mengambil
faham ini. Orang irak yang di maksud, sebagaimana di katakana Muhammad Ibnu
Syu’ib yang memperoleh informasi dari al-auza’I, adalah susan .

Sementara itu, w. Montgomery watt menemukan dokumen lain
melalui tulisan hellmut ritter dalam bahasa jerman yang di publlikasikan melalui
majalah der islam pada tahun 1933. Artikel ini menjelaskan bahwa faham
qadariyah terdapat dalam kitab risalah dan di tulis untuk khalifah abdul malik oleh
hasan al-basri sekitar tahun 700 m. hasan al-basri (642-728) adalah anak seorang
tahanan di irak . ia lahir di madinah, tetapi pada tahun 657, pergi ke basrah dan
tinggal di sana sampai akhir hayatnya. Aapakah hasan al-Basri termasuk orang
qadariyah atau bukan, hal ini memang menjadi perdebatan. Namun, yang jelas,

6 Abdul Rozak,Rosihon Anwar,ilmu kalam,[PS,Bandung,2006],71.
berdasarkan catatannya yang terdapat dalam kitab Risalah di percayai bahwa
manusia dapat memilih secara bebas antara baik dan buruk. Hasan yakin bahwa
manusia bebas memilih antara berbuat baik atau berbuat buruk.

Ma’bab al-jauhani dan ghailan ad-dimasyqi, menurut watt ,
adalah penganut qadariyah yang hidup setelah hasan al- basri. Kalau di
hubungkan dengan keterangan adz- dzahabi dalam mizan al-I’tidal, seperti di
kutip ahmad ami yang menyatakan bahwa ma’bab al- jauhani pernah belajar
pada hasan al- bashri, maka sangat mungkin faham qadariyah ini mula-mula di
kembangkan hasan al- bashri. Dengan uyun bahwa faham qadariyah berasal dari
orang irak Kristen yang masuk islam dan kemudian dan kemudian kemk tbali ke
agama Kristen, adalah hasil rekayasa orang yang tidak sependapat dengan faham
ini agar orang-orang tidak tidak tertarik dengan fikirah qadariyah. Lagi pula
menurut kremer, seperti di kutip goldziher, di kalangan gereja timur ketika itu
perdebatan tentang butir doktrin qadariyah yang mencengkam para teolognya.

Berkaitan dengan persoalan pertama kalinya qodariyah muncul,
ada baiknya bila meninjau kembali pendapat Ahmad Amin yang menyatakan
kesulitan untuk menentukannya. Para peneliti sebelumnya pun belum sepakat
mengenai hal ini karena penganut qadariyah ketika itu banyak sekali. Sebagian
terdapat di irak dengan bukti bahwa gerakan ini terjadi pada pengajian Hasan al-
Bashri. Pendapat ini di kuatkan oleh Ibn Nabatah bahwa yang mencentuskan
pendapat pertama tentang masalah ini adalah seorang Kristen dari irak yang telah
masuk islam pendapatnya itu di ambil oleh Ma’ bab dan Ghailah. Sebagian lain
berpendapat bahwa faham ini muncul di damaskus. Di duga di sebabkan oleh
pengaruh orang-orang kristen yang banyak di perkerjakan di istana-istana
khalifah.

Faham qadariyah mendapat tantangan keras dari umat islam ketika
itu. Ada beberapa hal yang mengakibatkan terjadinya reaksi keras ini, pertama
seperti pendapat Harun Nasution, karena masyarakat arab sebelum islam
kelihatannya di pengaruhi oleh faham fatalis. Kehidupan bangsa arab ketika itu
serba sederhana dan jauh dari pengetahuan. Mereka selalu terpaksa mengalah
kepada keganasan alam, panas yang menyengat, serta tanah dan gunungya yang
gundul mereka merasa dirinya yang lemah dan tidak mampu menghadapi
kesukaran hidup yang di timbulkan oleh alam sekelilingnya. Faham itu trus di
anut kendatipun mereka sudah beragama islam karena itu, ketika faham qadariyah
di kembangkan mereka tidak dapat menerimanya. Faham qadariyah itu di anggap
bertentangan dengan doktrin islam.

KATA PENGANTAR

Hamdan wa syukron atas limpahan nikmat yang tiada terhingga
kehadirat allah rabbul ‘izzati,shalawat ma’assalam semoga senantiasa mengalir
kepada junjungan kita, kekasih sejati Ibni Abdillah Muhammad saw.
Biidznillah kami dapat menyelesaikan makalah ini,kami sebagai
insan dhaif menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Untuk
itu,kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk
melengkapi dan menyempurnakan kekurangan makalah ini,

Bangkalan,13 oktober 2016

penyusun

BAB 1

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Jabariyah faham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan dan
tindakan manusia telah ditentukan qadha dan qadar allah.Adapun yang
menyebabkan munculnya aliran jabariyah para ahli sejarah berbeda pendapat
mereka menkajinya melalui pendekatan geokultural bangsa arab sebagaimana
pendapat Ahmad Amin : ia mengtakan bahwa kehidupan bangsa arab yang
dikungkung oleh gurun pasir sahara memberikan pengaruh besar kedalam cara
hidup mereka.Karna ketergantungan mereka kepada alam sahara yang ganas telah
memunculkan sikap penyerahan diri terhadap alam.Dan mereka tidak mempunya
keinginan untuk mengubah keadaan yang ada di sekelilingnya .mereka hanya
bergantung pada kehenda alam.

Qadariyah suatualiran yang mengatakan bahwa manusia mempunyai
kehendak .dalam artian manusia mempunyai kebebasan dalam mewujudkan
perbuatannya.

B.Rumusan Masalah

1. Apa pengrtian Jabariyah dan Qadariyah

2.Apa dasar Qadariyah dan Jabariayah?

3. Apa doktrin Qadariyah dan Jabariyan?

4. Siapakah tokoh-tokoh Qadariyah dan Jabariyah?

C. Tujuan Masalah

1.Memahami pengertian Jabariyah dan Qadariyah.

2.Memahami dasar-dasar Qadariyah dan Jabariyah.

3. Memahami doktrin –doktrin Jabariyah dan Qadariyah.

4.Mengetahui tokoh – tokoh Qadariyah dan Jabariyah

BAB III
A. KESIMPULAN

Jabariyah adalah aliran yang mengatakan bahwa manusia dalam
melakukan setiap tindakannya karna terpaksa atau dipaksa.Adapun dasar-dasar
qadariyah adalah “allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”.(QS. Ash
Shaffat:37). Sedangkan tokoh-tokoh jabariyah diantaranya : Jahm bin Shafwan
dan Ja’d bin Dirham.

Qadariyah adalah golongan yang mengatakan bahwa manusia
mempunyi kebebasan mutlak dalam setiap perbuatannya .Sedangkan doktrin
qadariyh menrut Ghailan bahwa manusia memiliki kuasa atas perbuatannya
sendiri. Adapun tokoh qadariyah menurut Ahmad Amin adalah Ma’bad al Jauhani
dan Ghailan Ad Dimasyqy.

DAFTAR PUSTAKA

Rozak,Abdul,Rosihon Anwar. Ilmu kalam. Bandung:Pustaka
Setia.2006.
Tim Penyusun MKD,Ilmu kalam.IAIN Sunan Ampel Press Surabay:2012.

Akidah Aklak.Jakarta:2013

Santri Lirboyo, Aliran-aliran teologi islam, Lirboyo, Kediri jatim:2008