You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Musim ini pergeseran pola penyakit saat ini terus terjadi, dari penyakit infeksi
ke penyakit degeneratif. Hiperglikemi adalah penyakit degeneratif yang angka
kejadiannya cukup tinggi di berbagai negara dan merupakan salah satu penyakit yang
menjadi masalah kesehatan masyarakat. World health organization (WHO)
memperkirakan jumlah penderita hiperglikemi mencapai lebih dari 180 juta jiwa
diseluruh dunia. Kejadian ini akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030
(WHO 2006). Menurut survei yang dilakukan who, indonesia menempati urutan ke-4
dengan jumlah penderita hiperglikemi terbesar di dunia setelah india, cina, dan
amerika serikat.
Menurut data depkes, jumlah pasien hiperglikemi rawat inap dan rawat jalan
di rumah sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin. Jumlah
orang yang menderita hiperglikemi diperkirakan akan meningkat dengan cepat dalam
25 tahun, dengan perkiraan peningkatan sebesar 42 persen terjadi pada negara
berkembang. Perkiraan ini didasarkan pada perubahan demografi pada masyarakat,
tanpa mempertimbangkan perubahan gaya hidup. Di negara berkembang angka
kejadian kelebihan berat badan dan kegemukan terus meningkat dengan cepat karena
menurunnya aktivitas fisik dan banyak makan. Kejadian ini meningkat dengan cepat
pada angka kejadian hiperglikemi(glumer et al. 2003). Hiperglikemi merupakan salah
satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan
mutu sumber daya manusia.
Dengan terjadinya peningkatan jumlah penderita dm, maka jumlah
peningkatan penyakit hiperglikemia bisa dikatakann meningkat sesuai dengan angka
kejadian diabetes mellitus atau bahkan lebih. Peningkatan dapat diturunkan dengan
melakukan pencegahan, penanggulangan baik secara medis maupun non medis, baik
oleh pemerintah maupun masyarakat sesuai dengan porsinya masing-masing. Perawat
sebagai salah satu tim kesehatan mempunyai peran yang sangat besar dalam
mengatasi hiperglikemi. Diperlukan peran perawat sebagai pelaksana dan pendidik
dengan tidak mengabaikan kolaboratif. Pentingnya peran perawat sebagai pendidik
agar penderita hiperglikemi mau dan mampu untuk melakukan latihan jasmani secara
teratur dan mengatur pola makannya yang dapat mencegah terjadinya komplikasi dari
hiperglikemi.
1

B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang menjadi pokok bahasan pada masalah ini yaitu:
1. Bagaimana konsep dasar penyakit hiperglikemia?
2. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan hiperglikemia?

C. TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai yaitu:
1. Umum : memahami tentang ruang lingkup penyakit hiperglikmia
2. Khusus :
a. Mengetahui dan memahami tentang konsep dasar penyakit hiperglikemia
b. Mengetahui dan memahami tentang konsep dasar asuhan keperawatan
hiperglikemia
c. memenuhi syarat mata kuliah sistem endokrin

2

Polifagia.0-5. Pengangkatan pancreas d. atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi di mana jumlah yang berlebihan glukosa beredar dalam plasma darah. Hiperglikemia merupakan keadaan peningkatan glukosa darah daripoada rentang kadar puasa normal 80 – 90 mg / dl darah.0 mmol/ liter). Poliuri. Faktor herediter yang memegang peranan penting c. Faktor imunologi pada penderita hiperglikemia khususnya DM terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Etiologi Penyebab dari hiperglikemia belum diketahui dengan pasti tapi umumnya diketahui karena : a. gatal-gatal. B. Kekurangan insulin adalah penyebab utama b. Kelainan kulit. e. BAB II KONSEP DASAR PENYAKIT HIPERGLIKEMIA A. Gejala awal umumnya yaitu : a. Faktor-faktor predisposisi yaitu obesitas. kulit kering akibat kurangnya nutrisi dari sel kulit 3 . ( Elizabeth J. f. Corwin. 2001 ). Respon ini mereupakan repon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggap sebagai jaringan asing. kondisi penderita akan memiliki keinginan banyak makan akibat lapar yang diakibatkan oleh tingginya kadar gula darah b. Polidipsi. Disimpulkan bahwa. adalah kondisi penderita akan mengalami banyak kencing akibat dari banyak minum (polidipsi) namun air/cairan yang dikonsumsi tidak adaap diseraap oleh tubu kedalam sel d. hiperglikemia. Definisi/Pengertian Menurut Christine hancock (1999) berpendapat bahwa hiperglikemia adalah terdapatnya glukosa dengan kadar yang tinggi didalam darah (rentang normal kadar glukosa darah adalah 3. Manifestasi Klinis Banyak gejala yang akan dialami oleh penderita hiperglikemia yang biasanya tidaak disadari oleh sipenderita bila gejala baru dialami. Hiperglikemi merupakan tanda yang biasanya menunjukan penyakit diabetes mellitus. Pengrusakan secara kimiawi sel beta pulau langerhans. atau rentang non puasa sekitar 140 – 160 mg /100 ml darah . kondisi dimana penderitaa mengalami kehausan yang tinggi maka ia akan ingin banyak minum c. C.

4 . Selain itu tubuh akan menurunkan penggunaan glukosa oleh otot. Kelemahan tubuh dan luka yang tidak sembuh-sembuh akibat dari aliran darah dan nutrisi yang kurang D. missal cerebral dapat menyebabkan stroke. g. Patofisiologi Hiperglikemia dapat disebabkan defisiensi insulin yang dapat disebabkan oleh proses autoimun. e. nafas bau keton dan mual (nausea) hingga terjadi asidosis. Kompensasi tubuh dengan meningkatkan glucagon sehingga terjadi proses glukoneogenesis. Dengan menurunnya insulin dalam darah asupan nutrisi akan meningkat sebagai akibat kelaparan sel. Rasa kesemutan. lemak dan hati serta peningkatan produksi glukosa oleh hati dengan pemecahan lemak terhadap kelaparan sel. jantung dapat menyebabkan miocard infark. ginjal dapat menyebabkan gagal ginjal. kram otot juga merupakan akibat dari tingginya kadar gula darah yang mengganggu proses dalam tubuh f. Hiperglikemia dapat meningkatkan jumlah urin yang mengakibatkan dehidrasi sehingga tubuh akan meningkatkan rasa haus (polydipsi). dan herediter. Thrombus ini dapat menutup aliran darah yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit lain (tergantung letak tersumbatnya. mata dapat menyebabkan retinopati) bahkan kematian. Gula darah yang tinggi dapat menyebabkan penimbunan glukosa pada dinding pembuluh darah yang membentuk plak sehingga pembuluh darah menjadi keras (arterisklerosis) dan bila plak itu telepas akan menyebabkan terjadinya thrombus. Penggunaan lemak untuk menghasilkan glukosa memproduksi badan keton yang dapat mengakibatkan anorexia (tidak nafsu makan). Insulin yang menurun mengakibatkan glukosa sedikit yang masuk kedalam sel. Penurunan berat badan diakibatkan karena adanya pembongkaran dari pembakaran bahan metabolism yang berlebih akibat ketidakmampuan insulin mengikat glukosa untuk masuk kedalam sel. Hal itu bisa menyebabkan lemas dengan kadar glukosa dalam darah meningkat. Menurunnya glukosa intrasel menyebabkan sel mudah terinfeksi. kerja pancreas yang berlebih.

Pathway proses autoimun kerja pancreas meningkat merusak sel beta pankreas kerja pancreas meningkat produksi insulin menurun glukosa tidak masuk kesel pengikat glukosa menurun proses glukoneogeneis meningkat dihati glukosa darah meningkat HIPERGLIKEMIA glukosa darah meningkat pemecahan bahan lain untuk perubahan osmolaritas metabolisme permeable tubuluas pemahaman penyakit kurang peningkatan kebutuhan menurun bahan metabolism tidak dapat menentukan (karbohidrat) difusi H2O dalam ginjal timndakan pencegahan ingin banyak makan menurun (polifagia) kurang pengetahuan urine banyak keluar nutrisi sel tidak terpenuhi (poliuria) risiko infeksi BB menurun sel tidak mendapat cairan ketidakseimbangan nutrisi rasa haus meningkat kurang dari kebutuhan tubuh (polidipsi) kekurangan volume cairan 5 .

Penatalaksanaan Hiperglikemia penatalksanaan hiperglikemia memiliki Tujuan utama terapi yaitu untuk menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dan untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropati. Insulin darah e. hiperkoagulasi darah Terdapat beberapa prinsip dalam melakukan latihan. artinya selang-seling antara gerak cepat dan lambat (jalan cepat diselingi jalan lambat. artinya berkesinambungan. yaitu: 1) Continuous . yaitu : a) Karbohidrat = 60 % – 70 % b) Protein = 10 % – 15 % c) Lemak = 20 % – 25 % 2) Jumlah kalori perhari yaitu (1100 -2300 kkal) a) Kebutuhan kalori basal : laki – laki : 30 kkal / kg BB. Glukosa darah b. Hb c. Latihan jasmani Tujuan dilakukan latihan jasmani seperti olahraga yaitu: 1) Menurunkan kadar glukosa darah (mengurangi resistensi insulin. terus-menerus tanpa henti. Gas darah arteri d. jogging diselingi jalan) 6 . jogging. Urinalisis Selain itu dapat melakukan ultrasonografi F. bersepeda. misal 30 menit jogging tanpa henti 2) Rhytmic. Elektrolit darah f. gangguan lipid darah. Ada 4 komponen dalam penatalaksanaan hiperglikemia terutama pada penderita DM. peningkatan tekanan darah. sedangkan Perempuan : 25 kkal / kg BB b. mendayung. yaitu : a. Main golf. Diet 1) Komposisi makanan pokok. meningkatkan sensitivitas insulin) 2) Menurunkan berat badan 3) Mencegah kegemukan 4) Mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi aterogenik. tenis. Pemerikaan Diagnostic Hiperglikemia Pemriksaan-pemeriksaan yang dapt dilakukan untuk menegakkan diagnmosa medis hiperglikemia yaitu terutama dengan pemeriksaan laboratorium diantaranya: a. artinya berirama yaitu kontraksi dan relaksasi secara teratur (jalan kaki. atau badminton tidak memenuhi syarat karena banyak berhenti)) 3) Interval.E. berenang. berlari.

artinya bertahap sesuai kemampuan dari intensitas ringan sampai sedang hingga mencapai 30-60 menit 5) Endurance. b) Insulin reaksi panjang Jenis insulin yang mulai bekerja 1 hingga 2 jam setelah disuntikkan ke dalam tubuh seseorang. dan bersepeda. 4) Progressive. seperti jalan (jalan santai/cepat. glukosa plasma puasa derange / GPPT : > 100 mg/dl dan < 126 mg/dl) d. dan berakhir setelah 10-16 jam setelahnya. contohnya Humulin m3. glikosit. b) Biguanid ( metformin ) c) Hon su insulin secretagogue ( repakglinide. Bekerja secara maksimal selama 1 sampai 3 jam dalam aliran darah penderita. Tetapi obat insulin ini tidak memiliki masa reaksi puncak. dan segera menghilang setalah 6-8 jam kemudian. Penyuluhan Dilakukan pada kelompok resiko tinggi seperti: 1) Umur diatas 45 tahun 2) Seseorang dengan kegemukan lebih dari 120 % BB idaman atau IMT > 27 kg/m 3) Hipertensi > 140 / 90 mmHg 4) Riwayat keluarga DM/herediter/genetic 5) Dislipidemia. d) Insulin reaksi cepat 7 . contohnya Levemir dan Lantus. sehingga ia bekerja secara stabil dalam waktu yang lama yaitu 24 sampai 36 jam di dalam tubuh penderita diabetes. dan Insuman. Obat Terkait Hipoglikemia 1) Obat hipoglikemi oral (OHO). HDL 250 mg/dl 6) Seseorang setelah pemeriksaan lab dengan Parah TGT atau GPPT ( TGT : > 140 mg/dl – 2200 mg/dl). c. berenang. artinya latihan daya tahan untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi. Obat ini bereaksi secara maksimal selama 6-10 jam. glimeperide. jogging. natliglinide ) d) Inhibitor glucosidase e) Tiosolidinedlones 2) Insulin a) Clear insulin (insulin reaksi pendek) Jenis obat insulin yang memiliki sifat transparan dan mulai bekerja dalam tubuh dalam waktu 30 menit sejak dimasukkan ke dalam tubuh. Hypurin. sesuai umur). seperti: a) Sulfoniluria : Glibenglamida. glipizid. gliguidon. c) Insulin reaksi menengah Insulin yang mulai efektif bekerja menurunkan gula darah sejak 1 sampai 2 jam setelah disuntikkan ke dalam tubuh.

G. stroke. Komplikasi akut Komplikasi akut yang bisa terjadi. Ia memiliki tingkat reaksi maksimal selama 30-90 menit. dan Velosulin. dan pengaruhnya akan segera menghilang setelah 3-5 jam kemudian. yaitu: 1) Ketoasidosis diabetic 2) Hipoglikemia 3) Asidosis laktat 4) Koma hiperglikemik hiperosmoler non ketotik 5) Infeksi berat b. terdapat beberapa komplikasi yang dikategorikan menjadi komplikasi akut dan kronis. Insulin ini akan langsung bekerja 5-15 menit setelah masuk ke dalam tubuh penderita. Actrapid. nefropati b. Komplikasi Hiperglikemia Banyak komplikasi yang akn terjadi akibat dari tingginya kaar glukosa dalam darah. yaitu: a. Contoh obat insulin ini berupa Lispro. Komplikasi Kronik komplikasi kronik yang dialami itu biasanya terjadi pada organ lain dalam tubuh. gangguan pembuluh darah perifer 2) Mikrovaskuler : retinopati. Komplikasi Vaskuler 1) Makrovaskuler : Penyakit Jantung Kronik. Komplikasi neuropati yang berpengaruh dengan kejadian infeksi saat luka yang dialami tidak diraskan oleh penderita 8 . yaitu: a. Novorapid.

Aktivitas / istirahat Gejala : Lemah. ada tidaknya sputum atau benda asing yang menghalangi jalan nafas b. ulkus pada kaki. bunyi nafas. disritmia. penyembuhan yang lama. hipertensi. Pernapasan Gejala : Merasa kekurangan oksigen. poliuria) melalui pola-pola kesehatan yang merupakan Pengkajian Sekunder. polifagia. frekuensi pernapasan meningkat 9 . kebas dan kesemutan pada ekstremitas. ada tidaknya penggunaan otot bantu pernafasan c. kering. biasanya nadi menurun. yaitu: a. bola mata cekung. kulit panas. klaudikasi. letih. Breathing : kaji frekuensi nafas. BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN HIPERGLIKEMIA A. Sirkulasi Gejala : Adanya riwayat hipertensi. letargi /disorientasi. distensi vena jugularis. batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi/tidak) Tanda : Lapar udara. yaitu: a. koma b. nadi yang menurun/tidak ada. batuk dengan/tanpa sputum purulen. IM akut. tonus otot menurun. Pengkajian selanjutnya yang dilihat selain tanda gejala utama (polidipsi. Pengkajian Pengkajian yang dilakukan secara awal dengan mengecek ABCD sebagai pengkajian primer. c.sulit bergerak. dan kemerahan. Tanda : Perubahan tekanan darah postural. d. kram otot. Disability : Lemah.gangguan istirahat tidur. takikardia. krekels.letih. gangguan istrahat/tidur Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istrahat atau aktifitas. sulit bergerak/berjalan. Circulation : kaji nadi. Airway : kaji kepatenan jalan nafas pasien.

rasa nyeri/terbakar. Eliminasi Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria). hiperaktif (diare) f. kekakuan/distensi abdomen. adanya asites. tergantung pada orang lain. Nutrisi/Cairan Gejala : Hilang nafsu makan. stroke. Penyembuhan yang lambat. kesulitan berkemih (infeksi). lesi / ulserasi i. poliuri ( dapat berkembang menjadi oliguria/anuria. diare. mual/muntah. kesemutan. Neurosensori Gejala : Pusing/pening. nokturia. Penggunaan obat seperti steroid. sakit kepala. tampak sangat berhati-hati. tidak mematuhi diet. Nyeri/kenyamanan Gejala : abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat). kacau mental. Mungkin atau tidak memerlukan obat diabetik sesuai pesanan. 10 . Integritas/ Ego Gejala : Stress. peka rangsang e. DM. urin berkabut. bau busuk (infeksi). diuretik (tiazid). turgor jelek. kulit kering. ISK baru/berulang. refleks tendon dalam menurun (koma). peningkatan masukan glukosa/karbohidrat. Tanda : wajah meringis dengan palpitasi. masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi Tanda : Ansietas.d. kebas. kelemahan pada otot. ulkus kulit. penggunaan diuretik (Thiazid) Tanda : Kulit kering/bersisik. kuning. jika terjadi hipovolemia berat). penyakit jantung. alergi. haus. parestesi. h. gatal . Dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah). abdomen keras. demam. aktifitas kejang (tahap lanjut dari DKA). Tanda : Urine encer. hipertensi. nyeri tekan abdomen. diaforesis. bau halisitosis/manis. muntah. gangguan memori (baru. masa lalu). bau buah (napas aseton) g. Kulit rusak. gangguan penglihatan Tanda : Disorientasi. mengantuk. stupor/koma (tahap lanjut). bising usus lemah dan menurun. pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah). Penyuluhan / pembelajaran Gejala : Faktor resiko keluarga . penurunan berat badan lebih dari beberapa hari/minggu. pucat.

Glukosa darah arteri : Biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik. i. h. merupakan respon terhadap stress atau infeksi. g. Amilase darah : Mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pankretitis akut sebagai penyebab dari DKA. Insulin darah :Mungkin menurun / bahkan sampai tidak ada (pada tipe 1) atau normal sampai tinggi ( tipe II ) yang mengindikasikan insufisiensi insulin/gangguan dalam penggunaannya ( endogen /eksogen ). j. leukositiosis. Glukosa darah : Meningkat 200 – 100 mg/dl. Kultur dan sensitivitas : Kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih. Elektrolit 1) Natrium : Mungkin normal. infeksi pernapasan dan infeksi pada luka. 3) Fospor : Lebih sering menurun. Ureum / kreatinin : Mungkin meningkat atau normal (dehidrasi/ penurunan fungsi ginjal). selanjutnya akan menurun. Trombosit darah : Ht mungkin meningkat ( dehidrasi ). c. Aseton plasma : Positif secara mencolok. (auto antibodi). Pemeriksaan fungsi tiroid : Peningkatan aktifitas hormon tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin. 2) Kalium : Normal atau peningkatan semu (perpindahanseluller). meningkat atau menurun. e. l. B. Diagnosa Diagnosa keperawatan yang sering muncul : 11 . k. Pemeriksaan selanjutnya yang dilakukan yaitu dengan mengecek kondisi dengan uji laboratorium. berat jenis dan osmolalitas mungkin menigkat. n. atau lebih b. m. Hemoglobin glikosilat : Kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir ( lama hidup SDM ) dan karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan DKA dengan kontrol tidak adekuat Versus DKA yang berhubungan dengan insiden. Asam lemak bebas : Kadar lipid dan kolesterol meningkat. f. hemokonsentrasi. yaitu : a. d. Urine : Gula dan aseton positif. Osmolalitas serum : Meningkat tetapi biasanya kurang dari 330mOsm/l. Resisiten insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan antibodi.

peningkatan konsentrasi urine b. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi ditandai dengan pertanyaann/meminta informasi.a. Risiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis (hiperglikemi/DM) 12 . Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis ditandai dengan penurunan berat badan dengan asupan adekuat. Kurang pengetahuan (belajar) mengenai penyakit. terjadinya komplikasi yang dapat dicegah d. peningkatan Ht. prognosis. membrane mukosa pucat c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif ditandai dengan kulit kering.

Pantau tanda-tanda vital 1. Memberikan hasil pengkajian yang terbaik lembab. Memberikan perkiraan kebutuhan akan 6.C. warna kulit dan kelembapannya menyebabkan pola frekuensi pernafasan rentang normal. Kemungkinan hipovelemia dapat keperawatan …x 24 jam dimanifestasikan oleh hipotensi dan diharapkan adanya 2. fungsi ginjal. BJ urine dalam 4. kompensasi alkalosis respiratory terhadap 1. Ht dalam mendekati normal 5. tidak ada rasa dari status cairan yang sedang berlangsung haus yang berlebihan dan selanjutnya dalam memberikan cairan 7. Demam dengan kulit kemerahan. Tidak ada tanda dehidrasi. peningkatan konsentrasi urine Tujuan dan KH Intervensi Rasional Setelah dilakukan tindakan 1. Koreksi hiperglikemia dan asidosis akan periode apnea serta sianosis dan BB. nadi. suhu jenis urine mungkin menjadi cermin dari dehidrasi dalam batas normal 5. Pantau pola nafas (kusmaul atau bau keton) takikardi. Pantau frekuensi dan kualitas pernafasan. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif ditandai dengan kulit kering. kering 2. Mempertahankan urine penggunaan otot bantu pernafasan dan ketoasidosis output sesuai dengan usia 3. dan elastisitas turgor kulit baik. catat berat rentang normal 4. Kaji suhu. Rencana Perawatan a. Pantau masukan dan keluaran. keefektifan terapi yang diberikan membrane mukosa 6. Tekanan darah. peningkatan Ht. Pertahankan memberikan cairan paling pengganti sedikit 2500cc/hari dalam batas yang 7. Mempertahankan hidrasi dan volume 13 . 2. Ukur berat badan setiap hari 3. Paru-paru mengeluarkan asam karbonat keseimbangan cairan dengan melalui pernafasan yang menghasilkan criteria hasil : 3. cairan pengganti.

Adanyanaya peningkatan terjadi berat badan sesuai tujuan 3. 8. 2. dnyut nadi cepat. Berikan kalium atau elektrolit yang melalui derajat kekurangan cairan dan respon pasien IV da/atau melalui oral sesui indikasi secara individual 10. (gula darah berkurang dan semetara tetap hasil: cemas akibat dari hipoglikemia diberikan insulit maka hipoglikemia dapat 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis ditandai dengan penurunan berat badan dengan asupan adekuat. Berat badan ideal abdomen. Hiperglikemiaa dan ganggan keseimbangan 2. dll 3. Tingkatkan lingkungan yang dapat menimbulkan rasa nyaman. Timbang berat badan setiap hari atau sesuai 1. mual. lapar. kembung. Tidak terjadi penurunan elektrolit dapat menurunkan motilitas/fungsi berat badan yang berarti lambung 14 . Menghindari pemanasan yang berlebihan 9. Observasi perubahan tingkat kesadaran. Kalium harus ditambah pada IV (segera aliran urine adekuat) untuk mencegah hipokalemia (nacl bila IV) b. muntah. Karena metabolism karbihidrat mulai terjadi BB terkontrol dengan criteria Kulit lembab/dingin. Menggkaji pemasukan makanan yang selama …x24 jam diharapkan dengan indikasi adekuat 2. Tipe dan jumlah cairan tergantung pada normal salin dengan/tanpa dektrosa 10. membrane mukosa pucat Tujuan dan KH Intervensi Rasional Setelah dilakukan perawatan 1. ditoleransi jantung sirkulasi 8. catat bila ada mnyeri 3. Auskultasi bising usus. Kolaborasi/delehasi berikan terapi cairan terhadap pasien lebih lanjut akan dapat sesuai indikasi : normal salin atau setengah menimulkan kehilangan cairan 9.

Ciptakan lingkungan saling percaya dengan 1. Kurang pengetahuan (belajar) mengenai penyakit. Partisipasi dalam perencanaan mengungkapkan pemahaman belajar yang diharapkan meningkatkan antusiasme dalam bekrja tentang penyakitnya dengan sama pasien dengan prinsip yang dipelajari criteria hasil: 3. Bekerja dengan pasien untuk menata tujuan 2. prognosis. 4. c. Libatkan keliarga pasien dalam perencanaan 4. Analisa ditempat tidur terhadap gula darah dengan finger stick lebih akurat dari pada memantau gula darah dalam urine yang tidak cukup akurat untuk mendeteksi fluktuasi kadar gula darah 6. Diskusi topic utama seperti kadar glukosa 15 . Sangat bermanfaat dalam perhitungan dan gizi mengenai diit hiperglikemia (DM) penyesuaian diet untuk memen uhi kebutuhaan nutrisi pasien. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi ditandai dengan pertanyaann/meminta informasi. terjadinya komplikasi yang dapat dicegah Tujuan dan KH Intervensi Rasional Setelag dilakukan perawatan 1. Menanggapi dan memperhatikan perlu selama …x24jam diaharapkan mendengarkan penuh perhatian dan selalu diciptakan sebelum pasien bersedia pasien mampu ada untuk pasien mengambil bagian dalam proses belajar 2. Kolaborasi lakukan konsultasi dengan ahli sel 7. Delegasi berikat pengobatan isulin secara 6. Delegasi pemeriksaan gula daraah rutin 5. Meningkatkan rasa keterlibatannya : makanan ini sesuai dengan indikasi memberikan informasi kepada keluarga unntuk memahami kebutuhan nutrisi pasien 5. Insulin regular memiliki awitan cepat dan teratur dengaan metode UV serta intermiten karenanya dengan cepat pula dapt atau continui membantu memindahkan glukosa kedalam 7.

meningkatkan control kadar program pengobatan melakukan makan diluar rumah gula darah dengan ketat` 16 . Diskusikan rencana diit. penggunaan harisnya memungkinkan fleksibelitas dalam berpartisipasi dalam makanan tinggi serat dan cara untuk perawatan diri. Mengidentifikasi normal dengan kadar glukosa pasien 3.1. Demostrasi cara pemeriksaan gula darah memilih gaya hidup 4. Memberikan pengetahuan dasar dimana hubungan tanda/gejala pasien dapat membuat pertimbangan dengan proses penyakit 4. Melakukan pemeriksaan gula darah oleh diri dan faktor penyabab dengan finger stick dan beri kesempatan 2. Melakukan perubahan sendiri 4 kali atau lebih dalam setiap pasien mendemonstrasikan gauay hidup dan 5.

Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang selama …x24 jam diharapkan peradangan seperti demam. Berikan perawatan kulit dengan teratur dan 3. Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis 17 . Observasi tanda-tanda infeksi dan 1. Tingkatkan upaya pencegahan dengan criteria hasil : silang/nosokomial melakukan cuci tangan yang baik pada 1. Meningkatkan aliran urine untuk mencegah urine statis dan membantu dalam mempertahankan ph/keasaman urine yang 5. d. Menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi. Anjurkan untuk makan dan minum adekuat 4. ketoasidosis atau infeksi nosokomial pengontrolan infeksi dengan urine keruh atau berkabut 2. kemerahan biasanya telah mencetuskan keadaan pasien mampu mengetahui adanya pus pada luka (DM). massage daerah tulang menempatkan pasien pada peningkatan untuk mencegah terjadinya yang tertekan. Sirkulasi perifer bisa terganggu yang 2. Delegasi pemberian obat antibiotik yang menurun akibat banteri sesuai 5. Menunjukkan kemampuan sungguh-sungguh. Mencegah timbulnya infeksi 2. jaga kulit tetap kering. Risiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis (hiperglikemi/DM) Tujuan dan KH Intervensi Rasional Setelah dilakukan perawatan 1. Klien bebas dari tanda semua orang gejala infeksi 3. linen resiko terjadinya kerusakan integritas infeksi kering dan tetap kencang kulit/iritasi kulit 4. sputum purulen.

dicari jalan keluarnya. serta apakah perlu dilakukan perubahan intervensi. Jika tujuan tidak tercapai. E. 18 .D. maka perlu dikaji ulang letak kesalahannya. Implementasi Implementasi keperawatan merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan yang mencakup tindakan tindakan independen (mandiri) dan kolaborasi. kemudian catat apa yang ditemukan. Evaluasi Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak.

kekurangan volume cairan. Pemeriksaan laboratorium glukosa darah digunakan sebagai penegak diagnosa. KESIMPULAN Hiperglikemia. dan kebutuhan pengobatan dan risiko infeksi 19 . ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. penyuluhan. BAB IV PENUTUP A. Diagnosa keperawatan yang sering muncul yaitu. Ada 4 komponen dalam penatalaksanaan hiperglikemia yaitu. polidipsi. prognosis. latihan. obat terkait hipoglikemia. atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi di mana jumlah yang berlebihan glukosa beredar dalam plasma darah. kurang pengetahuan (belajar) mengenai penyakit. Gejala awal umumnya yaitu polifagia. diet. Penyebab dari hiperglikemia belum diketahui dengan pasti tapi umumnya diketahui karena kekurangan insulin dan faktor herediter. poliuri.

Jakara:Mediaction Corwin. Bare. 2012. Edisi 3 Jilid 2. 2001. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:EGC Smeltzer. 1999. Suzanne C & Brenda G. Buku Saku Patofisiologi. 2000. Vol 2. 2013. NANDA NIC-NOC. 2000. Jakarta : EGC Doengoes. Jakarta : EGC 20 . DAFTAR PUSTAKA Armin & Hardhi. Keperawatan Medical-Bedah Brunner & Suddarth. Marilynn E. Jakarta : media aesculopius NANDA Internasional. Elizabeth J. Arif. Rencana Asuhan Keperawatan.