You are on page 1of 33

TUGAS

DOKUMENTASI KEPERAWATAN

Akhmad Jamil

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMA

YOGYAKARTA

2017

1
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar belakang ................................................................................ 3
B. Tujuan ............................................................................................ 5
BAB II KONSEP DASAR KEPERAWATAN
A. Pengertian ....................................................................................... 6
B. Etiologi ........................................................................................... 6
C. Tanda dan gejala ............................................................................. 7
D. Klasifikasi Stadium ........................................................................ 7
E. Patofisiologi ................................................................................... 8
F. Penatalaksanaan Medik .................................................................. 9
BAB III DOKUMENTASI KEPERAWATAN
A. Gambaran Kasus ............................................................................. 12
B. Pengkajian ...................................................................................... 12
C. Analisis Data .................................................................................. 13
D. Diagnosa Keperawatan ................................................................... 28
E. Nussing Cara Plane ........................................................................ 29
F. Catatan Perkembangan ................................................................... 28
BAB IV PENUTUP
Kesimpulan ................................................................................................ 31

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut kabo (2010) hipertensi adalah suatu kondisi medis yang kronis
di mana tekanan darah meningkat di atas tekanan darah yang disepakati
normal.
Hipertensi adalah factor penyebab utama kematian karena stroke dan factor
yang memperberat infark miokard(serangan jantung). Kondisi tersebut
merupakan gangguan yang paling umum pada tekanan darah. Hiper
merupakan gangguan asimptomatik yang sering terjadi dengan peningkatan
tekanan darah secra persisten.diagnosa hipertensi pada orang dewasa dibuat
saat bacaan diastolic rata-rata dua atau lebih,paling sedikit dua kunjungan
berikut adalah 90mmHg atau lebih tinggi atau bila tekanan darah multiple
sistolik rerata pada dua atau lebih kunjungan berikutnya secara konsisten
lebih tinggi dari 140mmHg. (Potter & Perry, 2005).
Di Amerika atau sekitar 60 juta individu dan hampir 1 milyar penduduk
dunia menderita hipertensi, dengan mayoritas dari populasi ini mempunyai
risiko yang tinggi untuk mendapatkan komplikasi kardiovaskuler. Data yang
diperoleh dari Framingham Heart Study menyatakan bahwa prevalensi
hipertensi tetap akan meningkat meskipun sudah dilakukan deteksi dini
dengan dilakukan pengukuran tekanan darah (TD) secara teratur.(Joint
National Committee, JNC VII). Di Indonesia banyaknya penderita Hipertensi
diperkirakan 15 juta orang tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi
terkontrol. Prevalensi 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak
menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk
menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui
factor risikonya, dan 90% merupakan hipertensi esensial.Saat ini penyakit
degeneratif dan kardiovaskuler sudah merupakan salah satu masalah

3
kesehatan masyarakat di Indonesia. Hasil survey Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) tahun 1972, 1986, dan 1992 menunjukkan peningkatan prevalensi
penyakit kardiovaskuler yang menyolok sebagai penyebab kematian dan
sejak tahun 1993 diduga sebagai penyebab kematian nomor satu. Penyakit
tersebut timbul karena berbagai factor risiko seperti kebiasaan merokok,
hipertensi, disiplidemia, diabetes melitus, obesitas, usia lanjut dan riwayat
keluarga. Dari faktor risiko diatas yang sangat erat kaitannya dengan gizi
adalah hipertensi, obesitas, displidemia, dan diabetes melitus
(http://ridwanamiruddin.com/2007/12/08/hipertensi) .Medical record
rumahsakitislam samarinda,2011 menggatakan Dewasa ini, penyakit infeksi
telah menggalami pergeseran oleh penyakit degenerative. Hal ini memberikan
perhatian kepada tenaga kesehatan khususnya keperawatan untuk
meningkatkan pengetahuan yang mendalaam terhadap penyakit degenerative,
penyakit hipertensi merupakan penyakit yang banyak di alami masyarakat
dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data diruang perawatan penyakit
dalam khususnya ruang jabal rahmah rumah sakit islam samarinda selama
enam bulan terakhir tahun 2011. Hipertensi menempati urutan pertama, yaitu
190 kasus,dengan jumlah pasien laki-laki 88 orang dan perempuan 102
orang.
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat dibedakan menjadi dua
golongan yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder.Hipertensi primer
meliputi lebih kurang 90% dari seluruh pasien hipertensi dan 10% lainnya
disebabkan oleh disebabkan oleh hipertensi sekunder. Hanya 50% dari
golongan hipertensi sekunder dapat di ketahui penyebabnya dan dari
golongan ini hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki kelainannya. Oleh
karena itu upaya penaggulanan hipertensi terhadap hipertensi primer baik
menggenai pathogenesis maupun tentang penggobatannya. Hipertensi tidak
boleh di anggap penyakit yang ringan karena jika terlambat memberikan
pertolongan penyakit ini akan merenggut nyawa penderita.(www.askep
hipertensi.com). Saat ini banyak penderita hipertensi yang tidak tahu/tidak
mengerti penyakitnya bahkan banyak yang tidak tahu resiko dari penderita

4
hipertensi apabila tidak di atasi. Beberapa komplikasi penyakit yang sering
terjadi akibat penyakit hipertensi yang tidak cepat di atasi adalah stroke,
insomnia, fertigo.
Mengingat berbagai masalah yang bisa terjadi kepada penderita
hipertensi, maka penulis menggambarkan studi kasus pada penderita
hipertensi melalui proses keperawatan. Sehingga dapat membantu para
pelaksana kesehatan dalam menangani kasus hipertensi yang di harapkan
nantinya dapat berguna bagi seluruh masyarakat maupun para penderita
hipertensi.

B. Tujuan
Dapat memberikan gambaran tentang hipertensi
Tujuan Khusus
Setelah menggambaran Asuhan Keperawatan ,diharapkan akan dapat :
1. Melakukan pengkajian pada klien dengan Hipertensi Melakukan
pengkajian pada klien dengan Hipertensi secara benar di secara benar
2. Merumuskan masalah keperawatan yang mungkin timbul pada klien
dengan Hipertensi.
3. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Hipertensi
4. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Hipertensi
5. Membuat evaluasi dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada
klien dengan Hipertensi
6. Melakukan pendokumentasian secara baik dan benar sesuai dengan
rencara tindakan dan evaluasi.

5
BAB II

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengertian
Hipertensi adalah factor penyebab utama kematian karena stroke
dan factor yang memperberat infark miokard(serangan jantung). Kondisi
tersebut merupakan gangguan yang paling umum pada tekanan darah.
Hiper merupakan gangguan asimptomatik yang sering terjadi dengan
peningkatan tekanan darah secra persisten.diagnosa hipertensi pada orang
dewasa dibuat saat bacaan diastolic rata-rata dua atau lebih,paling sedikit
dua kunjungan berikut adalah 90mmHg atau lebih tinggi atau bila tekanan
darah multiple sistolik rerata pada dua atau lebih kunjungan berikutnya
secara konsisten lebih tinggi dari 140mmHg (Potter & Perry, 2005).
Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140mmHg dan teknan diastolic di atas 90 mmHg
(smelz&bare, 2002).
Pada manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan darah distolik 90mmHg.(suddrath and brunner,2002).

B. Etiologi

Etiologi
hipertensi tidak dapat memiliki sebab yang di ketahui (essensial, idiopatik,
atau primer) atau berkaitan dengan penyakit lain(sekunder).(Dorlan,1998).
Berdasarkan penyebab hipertensi di bagi menjadi dua golonagan yaitu :
1. Hipertensi essensial dan hipertensi primer yang tidak diketahui
penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik.terdapat sekitar 95% kasus.
Banyak faktor yang mempengaruhi nya seperti genetic, lingkungan,
hiperaktivitas susunan saraf simpatis,system reninangiotensin,efek dalam
ekskersi Na, peningkatan Na dan Ca ekstrseluler dan factor-faktor yang
meningkatkan resiko eperti obesitas, alcohol, merokok serta polisitemia.

6
2. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus.
Penyebab spesifikny dikietahui seperti gangguan estrogen, penyakit ginjal,
hipertensi vascular renal, hiperaldosteronisme promer, dan sindrom cushing,
feokromositoma, koarksasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan
kehamilan (mansjoer A dkk,2001).

C. Tanda dan Gejala
 Tekanan darah meningkat,tachikardi
 Palpitasi, berkeringat dingin, pusing, nyeri kepala bagian suboccipital,mati
rasa(kelemahan salah satu anggota tubuh).
 Kecemasan,depresi, dan cepat marah.
 Diplodia(penglihatan ganda).
 Mual dan muntah
 Sesak nafas, tachipne.

D. Klasifikasi/Stadium Jika ada
Klasifikasi sesuai WHO
Klasifikasi pada klien dengan hipertensi berdasarkan standart WHO
Klasifikasi Sistolik Distolik
Normotonesi < 140 mmHg <90mmHg
Hipertensi ringan 140-180 mmHg 90-105 mmHg
Hipertensi perbatasan 140-160 mmHg 90-95 mmHg
Hipertensi sedang dan >180 mmHg >105 mmHg
berat >140 mmHg <90 mmHg
Hipertensi sistolik 140-160 mmHg <90 mmHg
terisolasi
Hipertensi sistolik
perbatasan

7
Tekanan Darah Pada Dewasa menurut JNC VII

Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Distolik

Normal < 120 mmHg (dan) < 80 mmHg
Pre-hipertensi 120-139 mmHg (atau) 80-89 mmHg
Stadium 1 140-159 mmHg (atau) 90-99 mmHg
Stadium 2 >= 160 mmHg (atau) >= 100 mmHg

E. Patofisiologi
Hipertensi sebagai suatu penyakit dimana terjadi peningkatan tekanan
darah sistolik dan /atau diastolic yang tidk normal.Batas yang tepat dari
kelainan ini tidak pasti. Nilai yang dapat dan diterima berbeda sesuai usia dan
jenis kelamin(sistolik 140-160mmHg ;diastolic 90-95mmHg). Tekanan darah
dipengengaruhi oleh curah jantung tekanan perifer dan tekanan atrium kanan.
Didalam tubuh terdapat system yang berfungsi mencegah perubahan tekanan
darah secara akut yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi, yang berusaha
untuk mempertahankan kestabilan tekanan darah dalam jangka panjang reflek
kardiovaskuler melalui system saraf termasuk system control yang beraksi
segera.Kestabilan tekanan darah jangka panjang dipertahankan oleh system
yang menggatur jumlah cairan tubuh yang melibtkan berbagai organ terutama
ginjal.
Berbagai factor seperti factor genetic yang menimbulkan perubahan
pada ginjal dan membrane sel,aktivitas saraf simpatis dan system rennin-
angiotensin yang mempenggaruhi keadaan hemodinamik, asupan natrium dan
metabolism kalium dalam ginjal, serta obesitas dan factor endotel mempunyai
peran dalam peningkatan tekanan darah. Strees dengan peninggian saraf
simpatis menyebabkan kontruksi fungsional dan hipertensi structural.

8
F. Penatalaksanaan Medik dan prinsip Keperawatan
Tujuan dari pada penatalaksaan hipertensi adalah menurunkan resiko
penyakit kardiovaskuler dan morbilitas yang berkaitan. Sedangkan tujuan
terapi pada penderita hpertensi adalah mencapai dan mempertahankan
tekanan sistolik di bawah 140mmHg dan tekanan distolikdi bawah 90mmHg
dan mengontrol adanya resiko. Hal ini dapat dicapai melalui modifikasi gayaa
hidup saja atau dengan obat antihipertensi (mansjoer A,dkk,2001).
Kelompok resiko di katagorikan menjadi :
1. Pasien dengan tekanan darah perbatasan atau tingkat 1,2,3 tanpa sengaja
penyakit kardiovaskuler, kerusakan organ atau fakor resiko lainnya. Bila
dengan modifikasi gaya hidup tekanan darah belum dapat di turunkan maka
harus di turunkan obat anti hipertensi.
2. Pasien Tanya penyakit kardiovaskular atau kerusakn organ lainnya, tetapi
memiliki satu tau lebih factor resiko yang terera di atas, namun bukan
diabetes mellitus. Jika terdapat beberapa factor maka harus langsung di
berikan obat anti hipertensi.
3. Pasien dengan gejala klinis penyakit kardiovaskular atau kerusakan organ
yang jelas, factor resiko : usia lebih dari 60 tahun, merokok, dislipedemia,
diabetes mellitus, jenis kelamin (pria dan wanita menopause), riwayat
penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Kerusakan organ : penyakit jantung
( hipertrofi ventrikel kiri, infark miokard, angina pectoris, gagal jantung,
riwayat revaskularisai korener, stroke, transientischemic attack,
nefropati,penyakit arteri perifer dan retinopati) (mansjoer A, dkk,2001).

9
Penatalaksanaan berdasarkan klisifikasi resiko klien dengan
hipertensi

Tekanan Kelompok resiko Kelompok Kelompok resiko C
darah A resiko
B

130-139 / Modifikasi gaya Modifikasi gaya Dengan obat
85-89 hidup hidup

140-159 / Modifikasi gaya Modifikasi gaya Dengan obat
90-99 hidup hidup

>160 / > 100 Dengan obat Dengan obat Dengan obat
Sumber : Mansjoer, dkk, 2001

Modifikasi gaya hidup cukup efektif, dapat menurunkan resiko kardio
vaskuler dengan biaya sedikit dan resiko minimal. Tatalaksanan ini tetap di
anjurkan meski harus di sertai obat anti hipertensi karena dapat menurunkan
jumlah dan dosis, langkah-langkah yang dianjurkan :
A. Menurunkan BB bila terdapat kelebihan (indek masa tubuh > 27)
B. Membatasi alcohol
C. Meningkatkan aktifitas fisik aerobic, (30-45 menit per hari)
D. Mengurangi asupan natrium ( 100 mmol Na/gram NaCl perhari )
Mempertahankan asupan kalsium yang adekuat ( 90 mmol per hari)
Mempertahankan asupan kalsium dan mengurangi asupan lemak jenuh dan
kolesterol dalam makanan (Masjoer, dkk, 2001)
Jenis-jenis obatan hipertensi antara lain :
Diuretik : HCT, Higroton, lasik
Betabloker : Propanolol (inderal)
Alfabloker : Phentolamin, prozazine (minipres)

10
Siphatolik : Catapres, reseptin
Fasodilator : hidralazine, dizoxide, nitruprusdide, catopril
Ca antagonis : nefidipine (adalat)

11
BAB III

DOKUMENTASI KEPERAWATAN

A. Gambaran Kasus
Menurut kabo (2010) hipertensi adalah suatu kondisi medis yang kronis di
mana tekanan darah meningkat di atas tekanan darah yang disepakati normal.
Hipertensi adalah factor penyebab utama kematian karena stroke dan factor yang
memperberat infark miokard(serangan jantung). Kondisi tersebut merupakan
gangguan yang paling umum pada tekanan darah. Hiper merupakan gangguan
asimptomatik yang sering terjadi dengan peningkatan tekanan darah secra
persisten.diagnosa hipertensi pada orang dewasa dibuat saat bacaan diastolic rata-
rata dua atau lebih,paling sedikit dua kunjungan berikut adalah 90mmHg atau
lebih tinggi atau bila tekanan darah multiple sistolik rerata pada dua atau lebih
kunjungan berikutnya secara konsisten lebih tinggi dari 140mmHg. (Potter &
Perry, 2005).

B. Pengkajian

Identitas klien

Nama : Ny. U

Umur : 60 tahun

Jenis kelamin : perempuan

Agama : islam

Pekerjaan : ibu rumah tangga

Alamat : Brebah, Sleman, Yogakarta,

No. medrek : 055347

Ruangan : Dalam

Dx. Medis : hipertensi

12
Tanggal masuk : 28 Setember 2017

Tanggal pengkajian : 28 September 2017

Identitas penanggung jawab

Nama : Tn. E

Umur : 40 tahun

Jenis kelamin : laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Brebah, Sleman,Yogyakata

Hubungan dengan klien : anak

Keluhan utama

Pusing / sakit kepala

Riwayat kesehatan sekarang

sebeumnya klien sedang beraktivitas seperti biasa, beberapa saat kemudian klien
merasakan sakit kepala, pada saat yang bersamaan klien sedang flu. Kemudian
sakit kepala yang dirasakan semakin berat setelah klien mandi dengan
mengguanakan air dingin. mengatakan pada malam harinya klien tidak bias tidur
karena sakit kepala yang dirasakannya, ditambah juga klien merasa sakit perut.
Selama dirawat klien agak terbatas memenuhi ADL sehingga untuk memenuhinya
dibantu sebagian oleh keluarga.

e. Riwayat kesehatan dahulu

Keluarga klien mengatakan klien mempunyai riwayat hiperteni 5 tahun yang lalu
sejak usia klien 55 tahun, klien rutin mengontrol tekanan darahnya karena klien
mempumyai alat pengukur tekanan darah sendiri dirumahnya, terakhir sebelum

13
dibawa ke rumah sakit tekanan darahnya 170/100 mmHg. Klien juga mempunyai
penyakit maag karena pola makan yang tidak teratur.

f. Riwayat kesehatan keluarga

Keluarga klien mengatakan di keluarga hanay klien yang mempunyai riwayat
hipertensi, dan di keluarga juga tidak mempunyai riwayat penyakit kronis lainnya,
seperti TBC, DM, asma dan lain-lain.

g. Aspek psikologis

keluarga klien mengatakan klien mudah panic dan gelisah jika mendengar sesuatu
yang mengejutkan dan setelah itu tekanan darahnya akan naik.

Aspek social

Hubungan klien dengan keluarga sangat baik, terbukti anaknya bergantian
menjaganya selama di Rumah Sakit. Hubungan klien dengan lingkungan juga
sangat baik, terbukti banyak yang menjenguknya,

i. Aspek spiritual

Klien dan keluarga beragama islam menurut keluarga selama sehatnya klien rajin
beribadah, begitu juga selama dirawat di rumah sakit

B. Pemeriksaan fisik

a. Pemeriksaan umum

– Keadaan umum : lemah

– Kesadaran : compos mentis

Nilai GCS : 15

Respon membuka :4

Respon motorik :6

14
Repon verbal :5

– TD : 180/100 mmHg

– R : 25x/menit

– N : 85x/menit

– S : 36oC

b. System pengindraan

1) Sistem penglihatan

Inspeksi : bentuk mata dan bola mata simetris, reflek pupil klien baik, saat ada
rangsangan cahaya miosis, konjungtiva tak anemis, sclera tidak ikterik, gerakan
bola mata baik.

Palpasi : tidak terdapat lesi atau oedema, tidak dirasakan nyeri tekan.

2) System pendengaran

Bentuk dan letak simetris, tidak ada serumen, fungsi pendengaran cukup baik
karena klien mampu mengerjakan apa saja yang diperintahkan.

3) System penciuman

Bentuk dan letak simetris, klien di tes dengan mengguanakan alcohol dan kopi
disertai dengan tulisan alcohol dan kopi, klien dapat menunjuk dengan tepat bau
yang dirasakan.

4) System pengecapan

Keadaan lidah sedikit kotor, klien dites dengan menggunakan garam dan gula
disertai tulisan garam dan gula, klien dapat menunjuk dengan tepat apa yang
dirasakan.

15
5) System integument

Gastisitas/turgor kulit baik walaupun saat di tarik kulit klien kembali ke semuala
+/- 3-5 detik karena proses penuaan, tidak ada lesi, warna kulit putih,tidak ada
masa, tampilan umum kulit bersih, kulit kepala bersih, distribusi rambut merata.

6) System pencernaan

Bentuk mulut simetris, gigi tidak utuh beberapa sudah tanggal, jumlah gigi sudah
tanggal, jumlah gigi susu dan gigi taring 4, geraham premolar 2, gerakan motor
12, jumlah gigi 26, mukosa bibir kering, reflek menelan ada, auskultasi pada
bising usus 10x/menit.

7) System pernafasan

Bentuk hidung simetris, tidak tampak polip, tidak aa pernafasan cuping hidung,
retraksi dada negative, tidak ada nyeri tekan pada adda, tidak ada benjolan pada
dada, terdengar suara sonor pada dada sebelah kiri dan kanan, tidak ada wheezing.

8) System kardiovaskuler

Tachicardi, cyanotic negative pada akral bibir klien, tidak terdapat peningakatan
vena juularis, tidak ada bunyi tambahan.

9) System perkemihan

Eliminasi urine tidak sering, ketok CVA tidak dirasaka nyeri, tidak ada nyeri pada
aderah supra pubis, blas tidak teraba keras dan saat di palpasi tidak terasa nyeri.

10) System persarafan

N1 (olfaktorius) : klien dapat membedakan bau minyak kayu putih

N2 (optikus) : lapang pandang klien agak berkurang behubungan
dengan penuaan,

16
N3 (okulomotorius) : normal (bila terkena cahaya miosis dan midriasis bila
tidak terkena cahaya)

N4 (trakelis) : mata masih terkoordinasi sesuai perintah.

N5 (trigeminus) : reflek mengunyah ada, kelopak mata(+), rahang dapat
mengatup secara simetris

N6 (abdusen) : klien dapat menggerakan bola mata ke kiri dan ke
kanan.

N7 (fasialis) : klien dapat menggerakan muka.

N8 (cochlealis) : pendengaran baik.

N9 (glosopharingeus) : ada reflek menelan.

N10 (vagus) : kemampuan menelan baik.

N11 (accesorius) : kedua bahu masih mampu mengatasi tahanan dengan
cukup baik.

N12 (hipoglosus) : pergerakan lidah normal.

11) System musculoskeletal

Tidak ada kelumpuhan pada ekstermitas, kekuatan otot penuh, tidak ada nyeri dan
tidak ada luka.

Kebiasaan sehari-hari

ADL(Activity Daily
No. Sebelum Masuk Puskesmas Di Puskesmas
Living)
1. Nutrisi 3x/hari Kalori

1. Makan Nasi dan lauk-pauk (sayur, ikan, Diet rendah garam
1.500 kall/hari

17
– Frekuensi tempe, dll)

– Jenis Tidak Ada

– Porsi/Jumlah 6-7 gls/hari

– Makanan ± 1.500 – 1.750 ml/hari
pantangan

1. Minum

– Frekuensi

– Jumlah
2. Eliminasi 1-2 x/hari 1 x/hari

1. BAB Lembek Lembek

– Frekuensi 1
/2 -1 cc/kg berat badan/jam Tidak tentu

– Konsistensi ± 900 – 1.000 ml/hari ± 900 – 1.000
ml/hari
1. BAK Jernih
Jernih
– Frekuensi Tidak
Ya
– Jumlah urine
output

– Warna

– Terpasang kateter
3. Istirahat Tidur 21.00 – 05.00 WIB 21.00 – 05.00 WIB

– Waktu Tidur : 12.00 – 13.00 WIB 11.30 – 13.30 WIB
Malam
± 8 jam ± 8 jam
Siang
± 1 jam ± 2 jam
– Lama Tidur :
Malam Tidak Tidak

Siang

– Masalah tidur

18
4. Personal Hygiene 2x sehari 2x sehari

1. Mandi Ya Ya

– Frekuensi Sendiri Sendiri

– Penggunaan 2x sehari Tidak
Sabun
Ya Tidak
– Cara
Sendiri –
1. Oral Hygiene
2x Seminggu Belum cuci rambut
– Frekuensi
Ya –
– Penggunaan pasta
gigi Sendiri –

– Cara melakukan Tidak tentu Tidak tentu

1. Pemeliharaan sendiri –
Rambut

– Frekuensi

– Penggunaan
shampoo

– Cara melakukan

1. Pemeliharaan
Kuku

– Frekuensi

– Cara melakukan
5. Aktivitas Klien mengatakan mulai Klien melakukan
beraktivitas pada jam 05.30 – aktivitasnya
16.30 WIB sebagai Petani Sendiri

19
Pemeriksaan penunjang

Laboratorium 08-04-2011

Hb = 11,5 gr/dl (13,5 – 18 gr/dl)

L = 5.900/mm3 (4.500 – 10.000/mm3)

T = 155.000/mm3 (150.000 – 400.000/mm3)

Ht = 30 % (40 – 48 %)

GD puasa = 105 mg/dl (75 – 105 mg/dl)

Kalium = 4,05 (3,5 – 5,1 mmol/l)

Natrium = 146 (135 – 148 mmol/l)

1. b. Terapi 08-04-2011

Clorotiazid 2×1

Ctm 3×1

Antasida doen 3×1

Pct 3×1

B1 3×1

C. Analisa data

No. Data fokus Etiologi masalah
1. DS: Medulla Peningkatan TD

– Keluarga klien Saraf simpatis
mengatakan klien
mempunyai riwayat Ganglia simpatis
hipertensi
Tekanan darah

20
DO: Kontriksi

– TD klien Peningkatan tekanan darah
meningkat
2. DS: Saraf simpatis Sakit kepala

– Keluarga klien Ach
mengatakan klien merasa
sakit kepala yang sangat Saraf pasca ganglion
hebat
Aorepinefrine
DO:
Konriksi
– Klien meringis
sampai menangis Sakit kepala
menahan sakit kepala
yang dirasakan

– TD: 170/100
mmHg

– ADL klien sedikit
terhambat

3. DS: Peningkatan tekanan vaskular Gangguan pola
serebral istirahat
– Keluarga klien
mengatakan klien tidak Saraf simpatis
tidur semalaman dan
terus merasakan sakit Tidak mampu mengatasi nyeri
kepala nya.
Gangguan pola istirahat
DO:
insomnia
– TD: 170/100
mmHg

– Mata klien tampak
cekung
4. DS: Tidak ada makanan masuk ke Nyeri
lambung abdomenalis
– Keluarga klien
mengatakan klien merasa Tidak ada proses pencernaan
sakit perut karena klien

21
tidak makan apapun dan Peningakatan asam lambung
hanya minum saja sejak
sakit kepala dirasakan. Peningkatan peristaltik usus

DO: Nyeri abdomenalis

– Peristaltik usus
12x/menit

– Terpasang infus

D. Diagnose keperawatan berdasarkan prioritas masalah

Peningkatan TD berhubungan dengan penurunan curah jantung

Nyeri/sakit kepala berhubungan dengan peningkatan vascular serebral

Insomnia berhubungan dengan ketidakmampuan mengatasi nyeri

Nyeri abdomenalis berhubungan dengan tidak terpenuhinya kebutuhan
nutrisi

E. Perencanaan Nursing Care Plane

N Dx Tujuan Intervensi Rasional
o.
1. Peningakatan Setelah 1. Pantau TD klien
TD dilakukan
berhubunagn tindakan
dengan keperawatan
penurunan selama 1×24 jam
curah jantung TD klien dapat
kembali normal
DS:
1. Adanya
– pucat,
Keluarga Tupan: dingin, kulit
klien lembab, dan
mengatakan Berpartisipasi masa
klien dalam aktivitas pengisian
mempunyai yang kapiler

22
riwayat menurunkan lambat
hipertensi TD/beban kerja mungkin
jantung berkaitan
DO: dengan
vasokontrik
TD klien si atau
meningkat Tupen: mencermin
kan
– Keluarga deskompens
klien mengatakan asi /
sakit kepala yang 1. Amati warna kulit, penurunan
dirasakna klien kelembaban , suhu, CO.
berkurang dan masa
pengisian. Membantu untuk
menurunkan
rangsangan
simpatis;
berikan lingkungan meningkatkan
tenang, nyaman, kurangi relaksasi.
aktivitas/ keributan
lingkungan. Batasi jumlah
pengunjung dan lamanya
tinggal. Menurunkan
stresss dan
Pertahankan pembatasan ketegangan yang
aktivitas, spt. Istirahat di mempengaruhi
tempat tidur/kursi; jadwal tekanan darah dan
periode istirahat tanpa perjalanan penyakit
gangguan; bantu klien hipertensi
melakukan aktivitas
perawatan diri sesuai
kebutuhan.

Mengurangi
1. Lakukan tindakan- ketidaknyamanan
tindakan yang dan dapat
nyaman seperti menurunkan
pijatan punggung rangsangan
dan leher, simpatis.
meninggikan kepla
tempat tidur

23
1. Kolaborasi dalam
pemberian tiazid,
mis. Klorotiazid
(diuril);
hidroklorotiazi(esi
drix/hidroDIURIL)
2. Perbandingan dari 1. Tiazid
tekanan mungkin
memberikan digunakan
gambaran yang sendiri atau
lebih lengkap dicampur
tentang dengan obat
keterlibatan/ lain untuk
bidang masalah menurunka
vascular n TD pada
pasien
dengan
fungsi
ginjal
relative
normal.

2. Nyeri/ sakit Setelah 1. Mempertahankan
kepala dilakukan tirah baring selama
berhubungan tindakan fase akut
dengan keperawatan
peningkatan selama 1×24 jam 1. Tindakan
vascular dengan criteria: yang
serebral 1. Berikan tindakan menurunka
nonfarmakologis n tekanan
DS: untuk vascular
Tupan: menghilangkan serebral dan
– sakit kepala, mis. yang
Keluarga Klen dapat Kompres dingin memperlam
klien kembali pada dahi pijat bat/
mengatakan beraktifitas punggung bdan memblok
klien merasa dengan normal leher, redupkan respon
sakit kepala lampu kamar, simpatis
yang sangat teknik relaksasi, efektif
hebat dan aktivitas di dalam
Tupen: waktu senggang menghilang
DO: kan sakit
– Keluarga kepala dan
– Klien klien mengatakan komplikasin

24
meringis sakit kepala yang 1. Kolaborasi dalam ya.
sampai dirasakan klien pemberian
menangis berkurang. analgesic
menahan 2. Meminimalkan
sakit kepala stimulasi/meninga
yang katkan relaksasi
dirasakan

– TD:
170/100
mmHg

– ADL
klien sedikit
terhambat

1. Menurunka
n/
mengontrol
nyeri dan
menurunka
n rangsang
system saraf
simpatis

3. Insomnia Setelah 1. Batasi jumlah
berhubungan dilakukan pengunjung dan
dengan tindakan lamanya tinggal
ketidakmamp keperawatan
uan selam 1×24 jam,
mengatasi dengan criteria:
nyeri 1. Kolaborasi dalam 1. Vasodilatasi
pemberian pada system
DS: antihistamin saraf
Tupan: simpatis

Keluarga Tidak mengalami
klien lagi gangguan 1. Membacakan aya
mengatakan pola aktifitas suci al-quran
klien tidak sebelum waktu
tidur tidur 1. Memberika
semalaman 2. Agar klien dapat n
dan terus Tupen: istirahat ketenangan
merasakan batin pada
sakit kepala – Keluarga klien dan
klien mengatakan memperkua

25
nya. klien tidak t keimanan
terbangun lagi klien
DO: pada malam hari. sebagai
umat islam.
– TD:
170/100
mmHg

Mata klien
tampak
cekung
4. Nyeri Setelah klien 1. Kolaborasi dalam
abdomenalis diberikan Pemberian
berhubungan tindakan antasida dan 1. Merangsang
dengan tidak keperawatan antimual peristaltic
terpenuhinya selama 1×24 jam, usus
kebutuhan dengan criteria: sehingga
nutrisi. gerakan
1. Memberikan peristaltikn
DS: ko,pres hangat di ya kembali
Tupan: nagian perut klien normal

Keluarga Nutrisi terpenuhu
klien sehingga
mengatakan metabolism 1. Memenuhi
klien merasa tubuh kembali kebutuhan
sakit perut normal 1. Berikan makanan nutrisi klien
karena klien sesuai dengan diet
tidak makan yang disarankan
apapun dan 2. Menirmalkan
hanya minum Tupen: kadar asam
saja sejak lambung sehingga
sakit kepala – Keluarga dapat mengurangi
dirasakan. klien mengatakan kembung dan mual
klien sudah mau
DO: makan kembali
sesuai diet yang
– disarankan
Peristaltik
usus
12x/menit

Terpasang
infuse

26
Implementasi

No. Hari/tgl/jam Dx Implementasi Paraf
1. Rabu I T = mengakaji TTV,

27-09-2017 TD:170/100 mmHg

07.30 WIB R = klien kooperatif
T = mengamati warna kulit (sedikit
pucat), kelembaban(berkeringat
sehingga lembab), dan suhu (36oC)

R = klien kooperatif
08.00 WIB III T = memberikan kompres hangat di perut
klien

R = klien mau dikompres
T = memberikan antasida dan antimual ½
jam sebelum makan

R = klien mau minum obat
08.30 WIB T = menyajikan dan memberikan makana
rendah garam

R = klien mau makan
08.45 WIB I T = memberikan obat oral klorotiazid 2×1

R = klien mau minum obat
II T = memberikan obat oral pct 3×1

R = klien mau minum obat
IV T = memberikan obat oral Ctm 3×1

R = klien mau minum obat
11.30 WIB I T = meninggikan kepala tempat tidur dan
menganjurkan klien untuk ROM

R = klien kooperatif dan mau melakukan
apa yang disuruh

I T = melakukan pijitan di punggung dan
leher klien

R = klien mau dipijit dan merasa nyaman

27
sampai tertidur
12.00 WIB III T = menyajikan dan membari makanan
rendah garam dan menyajikan obat sesuai
resep

R = klien kooperatif
13.00 WIB I T = mengaji TTV klien

TD: 150/95 mmHg

R = klien kooperatif
16.00 WIB I T = menyarankan pada klien untuk
membatasi jumlah pengunjung dan
lamanya tinggal

R = klien kooperatif
18.30 WIB I T = mengkaji TTV klien

TD: 140/90 mmHg

R = klien kooperatif
20.00 WIB IV T = menganjurkan keluarga untuk
membacakan ayat suci al-qur’an kepada
klien

R = keluarga kooperatif
2. Kamis I T = mengkaji TTV klien

28-9-2017 TD: 140/80 mmHg

R = klien kooperatif
III T = menyaajikan dan memberikan makanan
rendah garam dan menyiapkan obat sesuai
resep

R = klien kooperatif
10.00 WIB I T = memberikan penyuluhan kepada klien
dan keluarga sebelum pulang

R + klien dan keluarga kooperatif

28
1. I. Evaluasi

No. Hari/tgl/jam Dx Catatan perkembangan Paraf
1. 10.30 WIB I S : keluarga klien mengatakan TD klien
Rabu sudah normal

27-09-2017 O : TD: 140/90 mmHg

A : masalah teratasi

P:–

I:–

E : terapi cukup berhasil dan klien pulang
II S : keluarga klien mengatakan klien tidak
mengeluj sakit kepala lagi

O : TD: 140/90 mmHg

A : masalah teratasi

P:–

I:–

E : terapi cukup berhasil dan klien pulang
III S : keluarga klien mengatakan kliem tidak
lagi susah tidur

O : TD: 140/90 mmHg

Mata klien tidak cekumg.

A : masalah teratasi

P:–

I:–

E : terapi cukup berhasil dan klien pulang
IV S :keluarga klien mengatakan klien tidak
mengeluh sakit perut lagi

29
O : perut tidak kembung

Peristaltic usus 8x/menit]

A : masalah teratasi

P:–

I:–

E : terapi cukup berhasil dank lien pulang.

30
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Hipertensi adalah meningkatnya tekanan sistolik sedikitnya 140 mmHg
dan diastolik sedikitnya 90 mmHg.
Hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: Faktor genetik,
Usia, keadaan emosi seseorang, konsumsi Na terlalu tinggi, Obat, Hormonal,
Neurologik

Orang yang sugah terkena hipertensi dapat juga mengalami banyak
komplikasi yang diderita, diantaranya Stroke, kebutaan, angina pectoris,
CHF, gagal ginjal, infark miokard, dll.
Saran
Untuk menghindari terjadinya hipertensi, maka sebaiknya kita selaku
petugas medis sebaiknya memberi contoh masyarakat untuk menerapkan
perilaku hidup bersih dan sehat, dan juga tidak mengkonsumsi makanan
sembarangan yang belum teruji kesehatannya

Daftar Pustaka

31
Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit
Buku Kedokteran, EGC, 2000

Gunawan, Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit
Kanisius, 2001

Sobel, Barry J, et all. Hipertensi : Pedoman Klinis Diagnosis dan Terapi,
Jakarta, Penerbit Hipokrates, 1999

Kodim Nasrin. Hipertensi : Yang Besar Yang Diabaikan, @
tempointeraktif.com, 2003

Smith Tom. Tekanan darah Tinggi : Mengapa terjadi, Bagaimana
mengatasinya ?, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995

Semple Peter. Tekanan Darah Tinggi, Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa
Jakarta, Penerbit Arcan, 1996

Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2,
Jakarta, EGC, 2002

Chung, Edward.K. Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Edisi III,
diterjemahkan oleh Petrus Andryanto, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1995

32
33