You are on page 1of 4

BAB 3

PEMBAHASAN DAN HASIL JURNAL

3.1 PEMBAHASAN JURNAL
Meskipun penggantian volume diterima sebagai pengobatan andalan untuk anak-
anak dengan demam berdarah shock syndrome, dua studi sebelumnya, mengenai
perbandingan antara penggunaan kristaloid dan koloid tidak dapat menunjukkan hasil
klinis yang berbeda dan relevan. Dalam penelitian ini menetapkan cairan ringer laktat
sebagai cairan yang temurah dan teraman sebagai salah satu dari koloid yang efektif
digunakan sebagai resusitasi awal pada anak dengan shock moderat berat. Menurut study
investigasi Saline versus Albumin Fluid Evaluatin (SAFE) menunjukkan bahwa albumin
dan normal salin sama-sama efektif untuk resusitasi, hal tersebut diperdebatkan mengenai
keefektifan penggunaan kristaloid dan koloid yang dilakukan pada pasien heterogen di
ICU. Uji coba dalam penelitian ini lebih fokus pada penyakit tunggal yang mebutuhkan
resusitasi cairan sebagai intervensi tunggal, menunjukkan bahwa pasien dengan
kebocoran pembuluh darah, larutan kristaloid isotonic sangatlah efektif sebagai solusi
pemberian koloid pada mayoritas pasien.
Pada pasien dengan keadaan shock berat lebih banyak dilakukan penyelamatan
dengan menggunakan koloid. terlihat manfaat kecil dalam pemberian pati selama
resusitasi awal, ukuran molekul pada pati yang relatif besar dibandingkan dengan
dekstran tidak menghasilkan pemenuhan cairan pada intravascular yang lebih lama. Pada
penelitian ini tidak ditemukan bukti efek samping dari koloid yaitu koagulopati intrinsic atau
manifestasi klinis berupa perdarahan pada tingkat keparahan overload cairan.
Pengukuran hematokrit seri mencerminkan kombinasi efek pengobatan cairan dan
kebocoran pembuluh darah yang kemungkinan terjadi. Data menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan hematokrit berupa rebound vascular beberapa jam setelah pemberian koloid.
Berdasarkan Teori, mikrovaskuler Ultrafiltrasi mendukung prinsip dasar starling
yaitu keseimbangan antara onkotik dan tekanan hidrostatik, namun pendapat tentang
glycocalyx, yang merupakan sel-sel endotel sendiri, adalah regulator utama dari aliran
cairan (starling EH, 1986; Michel CC and Curry FE, 1999). Menurut penelitian bahwa

Albumin mungkin dicuci dari lapisan ini selama infeksi dengue. penelitian ini tidak memeriksa kematian sebagai hasil. terjadi peningkatan demam pada penerima dekstran. Efek dari koloid bersifat sementara. Dalam penelitian ini. koloid mungkin sebentar akan mengubah permeabilitas selektif dari penghalang. Selain relevansinya dengan demam berdarah. tujuan utama dalam penelitian ini adalah secara acak di membandingkan antara pemberian kristaloid dan koloid dari proses penyakit yang memiliki dasar dalam pemberian intervensi terapeutik resusitasi cairan. yang dikenal untuk menyerap glycocalyx pada tingkat yang berbeda. respon demam dikaitkan dengan pemberian cairan tertentu. terutama albumin. namun rebound hematokrit terlihat pada anak yang menerima koloid. Dekstran dihasilkan oleh proses yang melibatkan degradasi bakteri. dan pemurnian dari pirogen memungkinkan untuk menginduksi respon demam. hasil utama kami adalah intervensi didasarkan pada keadaan klinis klien. kelompok anak-anak menunjukkan keadaan kompromi kardiovaskular yang cukup baik. endotel akan mengurangi fluksi luar dan menunggu rendahnya tekanan hidrostatik kapiler meningkat hingga molekul koloid dicuci sendiri dan pasukan starling justru akan mendukung kebocoran dari tekanan hidrostatik. namun tetap lebih baik dalam pemberian ringer laktat. Meskipun mekanisme patofisiologi mendasari kebocoran vaskular yang berhubungan dengan sepsis berat yang mungkin keadaanya berbeda dengan virus dengue. kurang peka terhadap residu positif dalam lapisan glycocalyx dan membatasi Ultrafiltrasi (Haraldsson B and Rippe B. Dalam penelitian ini. 1987). tidak ada manfaat yang jelas pada penggunaan koloid yang diberikan pada anak dengan kondisi syok akibat sindrom kebocoran vascular. Namun. Dalam hal ini disimpulkan akan pentingnya penanganan dan pengelolaan efek samping pada demam berdarah. Berbeda dengan SAFE. tapi mungkin akan digantikan sementara oleh koloid sintetik. tergantung pada ukuran molekul (Vink H and Duling B. Sebaliknya. solusi crystalloid equilibrate lebih cepat di seluruh intravascular dan ruang cairan interstisial serta tidak memiliki efek pada fungsi dari penghalang. Selama studi. SAFE menyarankan dalam pengobatan yang menguntungkan adalah pemberian albumin yang dapat diberikan pada pasien sepsis berat yang terjadi komplikasi yang cenderung terjadi sindrom kebocoran vascular (The SAFE Study Investigators. kami menemukan tidak ada perbedaan antara berbagai cairan dalam keseluruhan keparahan kelebihan cairan saat diberikan infuse selama 48-72 jam. 2004). .protein plasma. Dengan cara ini. 2000).

meskipun kurangnya suatu bukti pendukung yang baik.penelitian kami berlangsung di bangsal yang dikelola oleh kelompok inti dokter secara keseluruhan dan sehingga perbedaan tidak terlihat secara nyata pada kelompok anak yang menerima berbagai cairan. Berdasarkan Pengamatan. Selain itu. akses langsung ke hematokrit berbasis pengukuran lingkungan dan kebijakan intervensi konservatif memastikan bahwa pasien menerima volume cairan intravena yang dititrasi secara hati-hati sesuai dengan kebutuhan. intervensi pertama kali dengan pemberian koloid tidak diindikasikan. Keuntungan kecil dalam pemulihan awal ditunjukkan oleh cairan yang mengandung pati. Faktor-faktor yang mungkin berperan dalam kurang tepatnya pemberian cairan antara lain: situasi yang kurang jelas. serta keterbatasan peralatan. bekerja untuk lebih menentukan mekanisme patofisiologi mendasari pada proses vaskularisasi yang berguna pada studi masa depan. pemberian koloid merupakan pedoman yang diajukan WHO dalam resusitasi dengue shock syndrome. teliti dalam memberikan perawatan khusus kepada klien. dan upaya untuk meningkatkan manajemen harus terus dilakukan. keterlibatan produk yang kurang sesuai. Dalam penelitian. Secara umum. Penelitian lebih lanjut diperlukan yang fokus pada kelompok-kelompok berisiko tinggi. didapatkan hasil keseluruhan yang cukup baik (satu kematian di antara 641 anak dengan syok dengue sindrom dirawat selama masa percobaan) mencerminkan perawatan medis dan keperawatan keseluruhan. dan reaksi buruk secara signifikan . Sebagai kesimpulan. pengalaman pribadi tenaga kesehatan yang salah. Regimen cairan ringer laktat pada 25 ml per kilogram selama dua jam (dosis anak) kini harus didukung oleh prospektif bukti yang kuat untuk anak-anak dengan syok berat. kita tidak membahas isu penggunaan kristaloid pada pasien dengan keadaan syok berulang. Studi ini dapat membantu untuk memberikan jaminan untuk masa depan. Meskipun tidak terbukti adanya kematian. kondisi lingkungan. kebanyakan anak dengan syok dengue sindrom merespon dengan baik terhadap pengobatan berupa pemberian larutan kristaloid isotonik. tingkat kematian 1 sampai 5 persen bertahan. Untuk alasan etik. sehingga memberikan cairan yang cukup untuk mempertahankan fungsi vital selama periode kebocoran sistemik vaskular. dua situasi di mana larutan koloid dianggap menguntungkan. dan pemberian koloid dianggap oleh dokter di daerah endemik menjadi penanda prognosis yang buruk. Kompromi pernapasan sekunder pada kelebihan cairan merupakan penyumbang utama terjadinya kematian pada beberapa klien. di kawasan Asia Tenggara. dan biaya.

.dikaitkan dengan pemberian dekstran. jadi jika penggunaan koloid dianggap perlu. pati merupakan cairan yang direkomendasikan.