You are on page 1of 10

Drama Bawang Merah Bawang Putih

NARATOR : Nisa

BAWANG MERAH : Putri

BAWANG PUTIH : Aliyah

IBU BAWANG MERAH : Alma

IBU BAWANG PUTIH : Shabrina

Narator :

Di sebuah desa, ada dua keluarga yaitu Keluarga Bawang Putih dan
Keluarga Bawang Merah. Ibu Bawang Putih adalah adik Ibu
Bawang Merah. Kalau dilihat biasanya mereka sangat akur tapi
sebenarnya Ibu Bawang Merah iri kepada Ibu Bawang Putih
karena hartanya lebih banyak dari Ibu bawang Merah.

Ibu Bawang Merah: “Bawang Putih.. ini ibu bawakan makanan untuk
kamu” seru ibu sambil berjalan ke arah bawang putih sambil
membawakan makanan.

sehingga Ibu Bawang Putih harus dibawa ke Rumah Sakit. Ibu Bawang Merah : “Akhirnya Ibu Bawang Putih sakit juga. sebentar lagi kita akan kayaa. terima kasih banyak bu sudah membawakan makanan untuk Bawang Putih” bawang putih menyahuti ibu sambil tersenyum Ibu Bawang merah : “iya.” Narator : “Hari demi hari Sakit yang dialami Ibu Bawang Putih pun semakin bertambah parah.Bawang Putih: “wah. Salah satunya dengan cara meracuni Ibu Bawang Putih.” Bawang Merah : “hahaha iya bu.” .” Narator : karena Ibu Bawang merah iri terhadap Ibu bawang putih akhirnya Ibu Bawang Merah berusaha mencari cara agar ibu bawang putih menderita. hahahaha. sebentar lagi ia akan meninggal dan kekayaannya bisa kita ambil nak. sama-sama Bawang Putih.

aku titip anakku ya” berbicara ke Ibu Bawang Merah.” Ibu Bawang Putih : “jadi anak yang baik ya nak. Bawang Putih : “enggak bu… Putih masih sayang sama Ibu” sambil menangis. Ibu Bawang Putih : “kak.” Ibu Bawang Merah : “PUTIH!!! Cepat cuci bajukuuu!!!” Bawang Merah : “PUTIH!!! Cepat cepat bereskan kamarku!!!” .Ibu Bawang putih : “Nak. Ibu sudah tidak kuat lagi” sambil merintih kesakitan. dik aku akan selalu menjaga Bawang Putih sampai kapanpun.” Bawang Putih : “Ibuuuuu jangan tinggalin Putihhhh ” Narator : “Ibu Bawang putihpun meninggal dunia karena telah diracuni oleh Ibu Bawang Merah. Dan Bawang Putih tinggal bersama Ibu Bawang Merah dan Bawang Merah.” Ibu Bawang Merah : “Iya.

Dia sudah harus bangun sebelum subuh.” Bawang Putih : “tapi. Kemudian dia harus memberi makan ternak. Lalu dia masih harus menyetrika. Keluarga Bawang Merah sangat kejam terhadap Bawang Putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Bawang Putih : “bu. bawang Putih yakin suatu saat nanti Ibu Bawang Merah akan sayang kepadaku. Putih kangen sama ibu. dan masih banyak pekerjaan lainnya. dan masih banyak pekerjaan lainnya. Disini Putih diperlakukan dengan kejam Putih harus mempersiapkan air mandi dan sarapan untuk Bawang merah dan ibunya. Kemudian aku harus memberi makan ternak. membereskan rumah. membereskan rumah. Lalu aku masih harus menyetrika. untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya.” . menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai.Bawang Putih : “Baiklah bu…baiklah kak…” Narator : Semenjak Ibu Bawang Putih meninggal. menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai.

jangan pulang sebelum kau menemukannya. Bawang Putih mencoba untuk meraih kembali pakaina miliki ibu tirinya tersebut. Dengan sedih dan putus asa ia kembali kerumah dan menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya.” Ibu Bawang Merah : “PUTIH!!! Cepat cuci baju-bajuku dan Bawng Merah dan Ingatlah jangan sampai ada baju yang hilang!!. Tiba-tiba pakaian warna merah milik ibunya terhanyut. aku mengerti. ia tidak bisa membawanya kembali.” Narator : “Pada suatu ketika Bawang Putih sedang mencuci pakaian di pinggir sungai.” Bawang Putih : “Ibu Maafkanlah aku. Saat ia menyadarinya. tiba-tiba Bawang Putih dipanggil Ibunya untuk mencuci bajunys Ibu Bawang Merah dan baju Bawang merah di sungai. Namun sayang.” NARATOR : .” Bawang Putih : “Baiklah bu. aku tidak sengaja menghanyutkan pakaian yang berwarna merah milik ibu.” Ibu bawang merah : “Apa katamu dasar anak tak tahu diri! Cepat cari baju itu.Narator : “saat sedang mengingat Ibunya Bawang Putih.

hari sudah mulai gelap dan Bawang Putih harus menginap di Rumah Nenek tua itu. bawang putih terpaksa melakukan keinginan ibu tirinya. ia mencari di pinggir-pinggir sungai.” Bawang Putih : “mari ikut nenek. pakaian yang ku temukan di pinggir sungai itu milikmu ?.” Narator : saat berjalan ke rumah nenek itu.” Nenek : “ooh jadi. tetapi itu punya Ibuku.” .Dengan hati yang sedih. Bawang Putih : “nek. apakah nenek melihat ada pakaian berwarna merah yang terhanyut di sungai tadi?.” Bawang Putih : “itu bukan milikku nek. tetapi ada syaratnya. Bolehkah aku mengambilnya sekarang?.” Nenek : “boleh. Lalu tiba-tiba Bawang Putih melihat ada seorang nenek tua yang sepertinya hendak pergi ke pasar. apa syarat-syarat yang harus kupenuhi?” Nenek : “kamu harus membereskan seluruh pekerjaan rumahku. Bawang Putih : “baiklah nek.

dan pergilah!. Keesokan harinya.oiya sebagai tanda teimakasih.” Narator : “karena Bawang Putih setuju dengan syarat itu.” Bawang Putih : “nek.” Ibu : “Bawakan kemari. Putih ambil yang ini saja nek. maka Bawang Putih mengerjakannya dengan ikhlas.” .tetapi jangan buka labunya kalau kamu belum sampai di rumah ya……” Bawang Putih : “terimakasih nek. Bawang Putih :”Ibunda. aku akan membukanya dirumah. pilihlah 1 labu dari 2 labu yang ada disini.” Narator : Bawang putih pun pulang ke rumah dan begitu sampai di rumah.” Bawang Putih : “emmmm…….apakah aku boleh meminta pakaian berwarna merah milik ibuku?” Nenek : “baiklah. aku sudah memenuhi syarat-syarat darimu.ini sudah kutemukan bajunya.” Nenek : “baiklah. ini dia pakaiannya.Bawang Putih : “baiklah. Bawang Putih menyerahkan baju merah itu kepada ibu tirinya. aku setuju.

Bawang Putih :’’ Baik.” Narator : “Mengetahui hal tersebut. Aku beres-beres dulu. bu." Narator : tersebut terdapat emas permata yang begitu banyak. Ibu bawang merah dan bawang merah langsung merebut emas yang ada pada bawang putih.ini emas. begitu terkejutnya Bawang Putih ketika mengetahui dalam labu.Ibu aku menemukan emas setelah membelah buah labu ini.” Bawang Putih : “aku memperoleh emas permata ini dari dalam buah labu yang diberikan oleh seorang nenek di tengah hutan ketika aku mencari pakaian ibu. Bawang Putih : “emas….” . Ketika bawang putih pergi ke dapur untuk mengupas labu kuning pemberian dari nenek tadi. dari mana kau mendapatkan emas ini?.” Bawang Merah: “Hai bawang putih.

apa nenek melihat bajuku yang beberapa saat yang lalu hanyut di sungai?. ambillah buah labu ini untukmu. Aku akan memberikannya untukmu. Mana imbalan buatku? Nenek : Baiklah. aku menemukan baju mu beberapa saat yang lalu dan sedang ku simpan. Bawang Merah : “Permisi nenek tua.” . setelah itu ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh bawang putih. Selama ia bersama nenek.” Bawang Merah: “Baiklah nek.” Nenek : “Oh. aku telah menginap di sini bersamamu selama beberapa hari.Narator : Keesokan paginya Bawang Merah menghanyutkan pakaiannya dengan sengaja ke sungai. hal yang ia kerjakan hanyalah bermalas-malasan saja dan tidak ada hal baik yang ia lakukan. Ketika tiba saat Bwang Merah hendak pulang… Bawang Merah: “Nek.” Narataor : Beberapa hari sudah Bawang Merah tinggal bersama nenek tersebut. aku akan menuruti kata-katamu. Tapi dengan syarat bahwa kamu harus tinggal denganku beberapa waktu.

” Bawang Putih : “Iya.NARATOR : begitu mengambil labu yang besar. . Ibu bawang merah dan bawang merah merasa takut jika Bawang Putih melihat. ia akan meminta bagian. Maka Ibu bawang merah menyuruh Bawang Putih untuk mencuci baju di sungai. Bawang Merah segera memanggil ibunya dan dengan senang hati menunjukkan buah labu tersebut. cepet cuci bajuku dan baju anakku. Ibu bawang merah dan putrinya membuka labu tersebut. namun ternyata yang keluar dari buah tersebut bukanlah emas dan permata melainkan seekor binatang ular yang besar dan amat berbisa. bu.” Narator : Begitu Bawang Putih sudah tak berada di rumah. Bawang Merah langsung pergi Narator : Begitu sampai di rumah. Ular tersebut langsung menyerang Ibu bawang merah dan Bawang Merah hingga akhirnya mereka meninggal dunia. Ibu : “Hei Bawang Putih.